Anda di halaman 1dari 9

I.

PENDAHULUAN
Banyak yang berpendapat bahwa belajar filsafat itu sulit atau susah karena filsafat
dianalogikan pada suatu perenungan yang tidak ada ujungnya. Namun jika ditilik lebih
mendalam filsafat boleh dikatakan sebagai mater scientiarum, yakni induk semua ilmu
pengetahuan. Setiap orang yang ingin belajar pengertian hidup dan kehidupan harus
mengetahui ilmu filsafat, sebab berfilsafat tidak lain adalah hidup berpikir dan
pemikiran sedalam-dalamnya tentang hidup dan kehidupan itu (living thought and
toughtfull living).
Pada awalnya cakupan objek filsafat lebih luas dibandingkan ilmu, ilmu hanya terbatas
pada persoalan empiris saja, sedangkan filsafat mencangkup objek empiris dan nonempiris. Namun pada perkembangannya, filsafat berkembang menjadi bagian dari ilmu
itu sendiri (terspelisiasi), sperti filsafat agama, filsafat hukum dan filsafat ilmu.
Alasannya, filsafat tidak bisa terus berada di awang-awang, tetapi ia juga harus
membimbing ilmu.
Pada kesempatan ini maka pemakalah akan mengulas sedikit tentang filosofi manusia,
ilmu pengetahuan dan hubungan antara manusia dengan ilmu pengetahuan pada masa
dulu dan sekarang, yang merupakan sebuah pengantar dasar filsafat ilmu.

RUMUSAN MASALAH
A. Bagaimana Filosofi Manusia?
B. Seperti apa Ilmu Pengetahuan itu?
C. Bagaimana Hubungan Antara Manusia dan Ilmu pengetahuan: dulu dan sekarang?

PEMBAHASAN
A. Filosofi Manusia
Filosofi manusia terdiri dari dua kata yaitu filosofi dan manusia. Filosofi secara
etimologi istilah filosofi atau filsafat merupakan padanan kata falsafah (bahasa Arab)
dan philosophy (bahasa Inggris), yang berasal dari bahasa Yunani philosophia. Kata
philosophia adalah kata majemuk yang terdiri dari dua kata, philos dan sophia. Kata
philos berarti cinta (love) atau sahabat, dan shopia berarti kebijaksanaan (wisdom),
kearifan dan pengetahuan. Sehingga secara etimologi filsafat berarti love of wisdom
atau cinta kebijaksanaan, cinta kearifan, cinta pengetahuan, atau sahabat
kebijaksanaan, sahabat kearifan dan sahabat pengetahuan.[1] Sedangkan menurut
terminologi terdapat beberapa definisi, antara lain:

a. Aristoteles
Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang senantiasa berupaya mencari
prinsip-prinsip dan penyebab-penyabab dari realitas yang ada.
a

Rene descartes
Filsafat adalah himpunan dari segala pengetahuan yang pangkal
penyelidikannya adalah mengenai Tuhan, alam, dan manusia.

William james
Filsafat adalah suatu upaya yang luar biasa hebat untuk berfikir yang jelas
dan terang.

R.F. beerling
Filsafat adalah mempertanyakan tentang seluruh kenyataan atau tentang
hakikat, asas, prinsip dan kenyataan. Beerling juga mengatakan bahwa
filsafat adalah usaha untuk mencapai akar terdalam kenyataan dunia
wujud, juga akar terdalam pengetahuan tentang diri sendiri.

Louis O. Kattsoff
Filsafat merupakan suatu analisis secara hati-hati terhadap penalaranpenalaran mengenai suatu masalah, dan penyusunan secara sengaja serta
sistematis suatu sudut pandang yang menjadi dasar suatu tindakan.[2]
Dari serangkaian definisi di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa filolofi manusia
adalah proses berfikir secara radikal, sistematik, dan universal terhadap manusia itu
sendiri. Dengan kata lain filosofi manusia adalah berfikir secara radikal (mendasar,
dalam, sampai keakar-akarnya tentang manusia), sistematik (teratur, runtut, logis, dan
tidak serampangan) untuk mencapai kebenaran universal (umum, terintegral, dan tidak
khusus tidak parsial).
Berbicara mengenai apa manusia itu, ada empat aliran yaitu aliran serba zat, aliran
serba ruh, aliran dualisme, dan aliran eksistensialisme.
Aliran serba zat mengatakan bahwa yang sungguh-sungguh ada itu hanyalah zat atau
materi. Zat atau materi itulah hakikat dari sesuatu. Alam ini adalah zat atau materi dan
manusia adalah unsur dari alam. Maka dari itu hakikat dari manusia itu adalah zat atau
materi.
Manusia sebagai makhluk materi, maka pertumbuhannya berproses dari materi juga.
Sel telur dari sang ibu bergabung dengan sperma dari sang ayah, tumbuh menjadi janin,
yang akhirnya kedunia sebagai manusia. Adapun apa yang disebut ruh atau jiwa,
pikiran perasaan (tanggapan, kemauan, kesadaran, ingatan, khayalan, asosiasi,
penghayatan, dan sebagainya) dari zat atau materi yaitu sel-sel tubuh. Oleh karena itu

manusia sebagai materi, maka keperluan-keperluannya juga bersifat materi, ia


mendapatkan kebahagiaan, kesenangan, dan sebagainya juga dari materi, maka
terbentuklah suatu sikap atau pandangan yang materialistis. Oleh karena materi itu
adanya di dunia ini, maka pandangan materialistis itu identik dengan pandangan hidup
yang bersifat duniawi, sedangkan hal-hal yang bersifat ukhrawi (akhirat) dianggap
sebagai khayalan belaka.[3]
Di antara tokoh aliran ini adalah Anaximenes (585-525 SM), Anaximandros (610-545
SM), Thales (625-545 SM), Thomas Hobbes (1588-1679 M), Lamettrie (1709-1715
M), Feuerbach (1804-1877 M), Spencer (1820-1903 M), dan Karl Marx (1818-1883
M).[4]
Aliran serba ruh berpendapat bahwa segala hakikat sesuatu yang ada di dunia ialah
ruh. Juga hakikat manusia adalah ruh. Adapun zat itu adalah manifestasi dari pada
ruh di dunia ini.
Ruh adalah sesuatu yang tidak menempati ruang, sehingga tak dapat disentuh atau
dilihat oleh panca indra. Jadi berlawanan dengan zat yang menempati ruang betapapun
kecilnya zat itu.
Istilah-istilah lain dari ruh yang artinya hampir sama ialah jiwa, sukma, nyawa,
semangat dan sebagainya. Materi adalah penjelmaan ruh. Fichte berkata bahwa segala
sesuatu yang lain (selain dari ruh) yang rupanya ada dan hidup hanyalah suatu jenis,
perupaan, perubahan atau penjelmaan dari pada ruh.
Dasar pikiran dari aliran ini ialah bahwa ruh itu lebih berharga, lebih tinggi nilainya
dari pada materi. Hal ini dapat kita buktikan sendiri dalam kehidupan seharihari.misalnya seorang wanita atau seorang pria yang kita cintai, kita tak mau pisah
dengannya. Tetapi kalau ruh dari wanita atau pria yang kita cintai tadi tidak ada pada
badannya, berarti dia meninggal dunia, mau tidak mau kita harus melepaskan dia untuk
dikuburkan. Kecantikan, kejelitaan, kemolekan, kebagusan yang dimiliki oleh wanita
atau pria tadi tak akan ada artinya tanpa ruh meskipun badannya masih utuh, masih
lengkap anggota badannya, tetapi kita mengatakan dia sudah tidak ada, dia sudah
pergi, dia sudah menghadap tuhannya. Demikian aliran ini menganggap bahwa ruh itu
ialah hakikat, sedang badan adalah penjelmaan atau bayangannya saja.
Aliran dualisme mencoba untuk mengawinkan kedua aliran tersebut di atas. Aliran ini
menganggap bahwa manusia itu pada hakikatnya terdiri dari dua substansi yaitu
jasmani dan rohani, badan dan ruh. Kedua substansi ini masing-masing merupakan
unsur asal yang adanya tidak tergantung satu sama lain. Jadi badan tidak berasal dari
ruh juga sebaliknya ruh tidak berasal dari badan. Hanya dalam perwujudannya, manusia
itu serba dua, jasad dan ruh, yang keduanya berintegrasi membentuk yang disebut
manusia. Antara badan dan ruh terjalin hubungan yang bersifat kausal, sebab akibat.
Artinya antara keduanya saling pengaruh mempengaruhi. Sebagai contoh, orang cacat
jasmaninya akan berpengaruh pada perkembangan jiwanya. Sebaliknya orang yang
jiwanya kacau atau cacat, akan berpengaruh pada fisiknya.[5]
Tokoh-tokoh aliran ini antara lain adalah Plato (427-347 SM) Aristoteles (384-322
SM), Descartes (1596-1650 M), Fechner (1802-1887 M), Arnold Gealinex, Leukippos,
Anaxagoras, Hc. Daugall dan A. Schopenhauer (1788-1860 M).[6]

Ahli-ahli filsafat modern dengan tekun berfikir lebih lanjut tentang hakikat manusia
mana yang merupakan eksistensi atau wujud sesungguhnya dari manusia itu, mereka
yang memikirkan bagaimana eksistensi manusia atau wujud disebut kaum eksistensialis
dan alirannya disebut aliran eksistensialisme.[7]
Eksistensialisme adalah aliran filsafat yang menekankan eksistensia. Para pengamat
eksistensialisme tidak mempersoalkan esensia dari segala yang ada. Karena memang
sudah ada dan tak ada persoalan. Kursi adalah kursi. Pohon mangga adalah pohon
mangga. Harimau adalah harimau. Manusia adalah manusia. Namun, mereka
mempersoalkan bagaimana segala yang ada berada dan untuk apa berada. Oleh karena
itu, mereka menyibukkan diri dengan pemikiran tentang eksistensia. Dengan mencari
cara berada dan eksis yang sesuai, esensia pun akan ikut terpengaruhi.
Dengan pengolahan eksistensia secara tepat, segala yang ada bukan hanya berada,
tetapi berada dalam keadaan optimal. Untuk manusia, ini berarti bahwa dia tidak
sekedar berada dan eksis, tetapi berada dan eksis dalam kondisi ideal sesuai dengan
kemungkinan yang dapat dicapai.
Tokoh-tokoh aliran ini adalah: Immanuel Kant, Jean-Paul Sartre, S. Kierkegaard (18131855 M), Friedrich Niezsche (1844-1900 M), Karl Jaspers (1883-1969 M), Martin
Heidegger (1889-1976 M), Gabriel Marcel (1889-1973 M), Ren Le Senne dan M.
Merleau-Ponty (1908-1961 M).[8]
Penjelasan yang terbaik tentang hakikat manusia ialah penjelasan dari pencipta manusia
itu sendiri. Penjelasan oleh rasio manusia mempunyai kelemahan karena akal itu
terbatas kemampuannya. Bukti terbaik tentang keterbatasan akal ialah akal itu tidak
mengetahui apa akal itu sebenarnya.
Berikut dijelaskan hakikat manusia menurut Al-Quran. Al-Quran adalah kitab yang
secara ilmiah terbukti memuat firman Tuhan dan masih asli.
Menurut Al-Quran manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan. Jadi, manusia itu berasal
dan datang dari Tuhan. Bila ada argumen yang kuat untuk membuktikan bahwa
manusia bukan ciptaan Tuhan dan argumen itu lebih kuat ketimbang argumen bahwa
manusia adalah ciptaan Tuhan, maka yang akan kita ambil ialah pendapat yang
mengatakan bahwa manusia bukan ciptaan Tuhan. Dan bila itu yang diambil maka
harus juga dijelaskan bagaimana cara munculnya manusia itu. Kemungkinan ini
(manusia bukan ciptaan Tuhan) sangat tidak mungkin.
Al-Quran menyatakan bahwa manusia itu mempunyai unsur jasmani (material).
Sebagaimana diisyaratkan dalam Al-Quran.
Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu
(kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagiamu
dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain)
sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu
berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang
yang berbuat kerusakan. (QS. Al-Qashash: 77)

Di dalam surat al-Araf ayat 31 Tuhan mengatakan bahwa makan dan minum bagi
manusia adalah suatu keharusan. Ini suatu indikasi bahwa manusia itu memiliki unsur
jasmani. Al-Syaibani mengutif tiga hadits Nabi Muhammad saw yang menerangkan
bahwa manusia itu mempunyai aspek jasmani.[9]
Akal adalah salah satu aspek penting dalam hakikat manusia. Ini dijelaskan dalam
banyak tempat di dalam Al-Quran. Harun Nasution menjelaskan bahwa ada tujuh kata
yang digunakan Al-Quran untuk mewakili konsep akal. Pertama adalah kata nazara,
seperti di dalam surat Qaaf ayat 6-7, surat al-Thaariq ayat 5-7, al-Ghasiyah 17-20.
Kedua kata tadabbara, seperti dalam surat Shaad ayat 29, surat Muhammad ayat 24.
Ketiga kata tafakkara, seperti di dalam surat al-Nahl ayat 68-69, al-Jatsiyah ayat 12-13.
Keempat kata faqiha, kelima kata tadzakkara, keenam kata fahima, dan ketujuh adalah
kata aqala. Kata-kata itu semua menunjukan bahwa Al-Quran mengakui akal adalah
aspek penting dalam hakikat manusia.
Aspek lainnya ialah ruh atau ruhani. Penjelasan Al-Quran tentang aspek ini terdapat di
dalam Al-Quran antara lain dalam surat al-Hijr ayat 29, dan surat Shaad ayat 72. Ayatayat ini menjelaskan bahwa manusia memiliki ruh. Dan ruh adalah unsur hakiki pada
manusia. Jadi hakikat manusia menurut Al-Quran ialah bahwa manusia itu terdiri atas
unsur jasmani, akal, dan ruhani. ketiganya sama pentingnya untuk dikembangkan.
Konsekuensinya, pendidikan harus didesain untuk mengembangkan jasmani, akal, dan
ruhani manusia.[10]

A Ilmu Pengetahuan
Ilmu pengetahuan terdiri dari dua kata yakni ilmu dan pengetahuan. Ilmu merupakan
salah satu dari hasil usaha manusia untuk memperadab dirinya. [11] dalam
Encyclopedia Americana, dijelaskan bahwa ilmu (science) adalah pengetahuan yang
bersifat positif. The Liang Gie mengutip Paul Freedman dari buku The Principles of
Scientific Research memberi batasan ilmu sebagai berikut:
Ilmu adalah suatu bentuk aktivitas manusia yang dengan melakukannya umat
manusia memperoleh suatu pengetahuan dan senantiasa lebih lengkap dan
lebih cermat tentang alam di masa lampau, sekarang dan kemudian hari, serta
suatu kemampuan yang meningkat untuk menyesuaikan dirinya pada dan
mengubah lingkungannya serta mengubah sifat-sifatnya sendiri.[12]
Sedangkan pengetahuan adalah semua milik atau isi pikiran. Dengan demikian
pengetahuan merupakan hasil proses dari usaha manusia untuk tahu. Dalam kamus
filsafat dijelaskan bahwa pengetahuan adalah proses kehidupan yang diketahui
manusia secara langsung dari kesadarannya sendiri. Dalam peristiwa ini yang
mengetahui (subjek) memiliki yang diketahui (objek) di dalam dirinya sendiri
sedemikian aktif sehingga yang mengetahui itu menyusun yang diketahui pada dirinya
sendiri dalam kesatuan aktif.[13]
Manusia adalah satu-satunya makhluk yang mengembangkan pengetahuan ini secara
sungguh-sungguh. Binatang juga mempunyai pengetahuan, namun pengetahuan ini
terbatas untuk kelangsungan hidupnya (survival). Seekor kera tahu mana buah jambu

yang enak. Seekor anak tikus tahu mana kucing yang ganas. Anak tikus ini tentu saja
diajari induknya untuk sampai pada pengetahuan bahwa kucing itu berbahaya. Tetapi
juga dalam hal ini, berbeda dengan tujuan pendidikan manusia, anak tikus hanya diajari
hal-hal yang menyangkut kelangsungan hidupnya.
Manusia mengembangkan pengetahuannya mengatasai kebutuhan kelangsungan hidup
ini. Dia memikirkan hal-hal baru, menjelajah ufuk baru, karena dia hidup bukan
sekedar untuk kelangsungan hidup, namun lebih dari itu. Manusia mengembangkan
kebudayaan, manusia memberi makna kepada kehidupan, manusia memanusiakan
diri dalam hidupnya, dan masih banyak lagi pernyataan semacam ini. Semua itu pada
hakikatnya menyimpulkan bahwa manusia itu dalam hidupnya mempunyai tujuan
tertentu yang lebih tinggi dari sekedar kelangsungan hidupnya.ini lah yang
menyebabkan manusia mengembangkan pengetahuannya, dan pengetahuan ini jugalah
yang mendorong manusia menjadi makhluk yang bersifat khas di muka bumi ini.
Pengetahuan ini mampu dikembangkan manusia disebabkan dua hal utama yakni,
pertama, manusia mempunyai bahasa yang mampu mengkomunikasikan informasi dan
jalan pikiran yang melatarbelakangi informasi tersebut. Kedua, yang menyebabkan
manusia mampu mengembangkan pengetahuannya dengan cepat dan mantap, adalah
kemampuan berpikir menurut suatu alur kerangka berpikir tertentu. Secara garis besar
cara berpikir seperti ini disebut penalaran. Dua kelebihan inilah yang memungkinkan
manusia mengembangkan pengetahuannya yakni bahasa yang bersifat komunikatif dan
pikiran yang mampu menalar.[14]
Penalaran merupakan suatu proses berpikir dalam menarik suatu kesimpulan yang
berupa pengetahuan. Penalaran menghasilkan pengetahuan yang dikaitkan dengan
kegiatan berpikir dan bukan dengan perasaan. Meskipun seperti yang dikatakan Pascal,
hati pun mempunyai logika tersendiri. Meski demikian patut kita sadari bahwa tidak
semua kegiatan berpikir yang mempunyai karakteristik tertentu dalam menemukan
kebenaran.
Pengetahuan juga dapat kita tinjau dari sumber yang memberikan pengetahuan tersebut.
Dalam hal wahyu dan intuisi, maka secara implisit kita mengakui bahwa wahyu (atau
dalam hal ini Tuhan yang menyampaikan wahyu) dan intuisi adalah sumber
pengetahuan. Dengan wahyu maka kita mendapatkan pengetahuan lewat keyakinan
(kepercayaan) bahwa yang diwahyukan itu adalah benar demikian juga dengan intuisi,
di mana kita percaya bahwa intuisi adalah sumber pengetahuan yang benar, meskipun
kegiatan berpikir intiutif tidak mempunyai logika atau pola berpikir tertentu. Jadi dalam
hal ini bukan saja kitra berbicara mengenai pola penemuan kebenaran melainkan juga
sudah mencakup materi pengetahuan yang berasal dari sumber kebenaran tertentu.[15]
Masalah terjadinya pengetahuan adalah masalah yang amat penting dalam
epistemologi, sebab jawaban terhadap terjadinya pengetahuan maka seseorang akan
berwarna pandangan atau paham filsafatnya. Jawaban yang paling sederhana tentang
terjadinya pengetahuan ini apakah berfilsafat apriori atau aposteriori. Pengetahuan
apriori adalah pengetahuan yang terjadi tanpa adanya atau melalui pengalaman. Baik
pengalaman indra maupun pengalaman batin. Adapun pengetahuan aposteriori adalah
pengetahuan yang terjadi karena adanya pengalaman. Dengan demikian, pengetahuan
ini bertumpu pada kenyataan objektif.[16]

A Hubungan Manusia dan Ilmu Pengetahuan: Dulu dan Sekarang


Perbedaan antara situasi ilmu pengetahuan dulu dan sekarang tentu tidak terbatas pada
kesatuan lebih besar yang menandai ilmu pengetahuan di masa lampau. Terdapat juga
perbedaan-perbedaan lain. Antara lain cukup menyolok mata bahwa tempat yang
diduduki ilmu pengetahuan dalam hidup sehari-hari dulu sama sekali berbeda, kalau
dibandingkan dengan situasi modern sekarang. Dulu ilmu pengetahuan praktis tidak
mempengaruhi hidup sehari-hari. Dan dianggap biasa saja, bila ilmu pengetahuan tidak
mempunyai konsekuensi dalam hidup kemasyarakatan, karena maknanya sama sekali
lain. Dalam konteks ini misalnya terdapat suatu perkataan Aristoteles yang cukup
menarik umat manusia menjamin urusannya untuk hidup sehari-hari barulah dapat ia
arahkan perhatiannya kepada ilmu pengetahuan. Jadi, rupanya kegiatan ilmiah tidak
bertujuan mempermudah urusan ini atau meningkatkan taraf hidup jasmani. Apalagi,
pada waktu itu tidak mungkin orang berpikir mau meningkatkan taraf hidup, karena
tingginya taraf hidup dianggap telah ditentukan oleh alam kodrat dan manusia tidak
sanggup mengubah alam kodrat.[17] Pada ketika itu ilmu pengetahuan mempunyai
tujuan yang sama sekali lain. Ilmu pengetahuan bertujuan memperingatkan manusia
bahwa sekain makhluk alamiah (makhluk yang tersimpul dalam tata susunan alam) ia
masih merupakan suatu yang lain, yaitu makhluk yang mengetahui tentang dirinya dan
dengan demikian juga dengan perbedaannya dengan alam. Ilmu pengetahuan
bermaksud mendalami tentang diri manusia dan alam itu, supaya secara rohani manusia
dapat sampai pada inti dirinya. Karena itu pula ilmu pengetahuan tidak berguna,
dalam arti bahwa ilmu pengetahuan tidak berusaha mencapai sesuatu yang lain. Ilmu
pengetahuan itu dipraktekkan demi ilmu pengetahuan itu sendiri, karena hanya dengan
dan ilmu pengetahuan manusia bisa menjadi manusia sungguh-sungguh, yaitu makhluk
yang menyadari dirinya dan kedudukannya yang unik dalam kosmos.
Kini fungsi manusia dari ilmu pengetahuan telah berubah secara radikal. Barangkali
masih ada sisa sedikit dari fungsi aslinya (harus kita selidiki lagi nanti), tetapi yang
pasti ialah bahwa ilmu pengetahuan sekarang ini melayani kehidupan sehari-hari
menurut segala aspeknya. Kegiatan ilmiah dewasa ini didasarkan pada dua keyakinan
berikut ini:
1. Segala sesuatu dalam realitas dapat diselidiki secara ilmiah, bukan saja untuk
mengerti realitas dengan lebih baik, melainkan juga untuk menguasainya lebih
mendalam menurut segala aspeknya.
2. Semua aspek realitas membutuhkan juga penyelidikan seperti itu. Kebutuhankebutuhan yang paling primer, seperti air, makanan, udara, cahaya, kehangatan,
tempat tinggal tidak akan cukup tanpa penyelidikan itu. Dan banyak hal lain dapat
disebut lagi.
Tentu saja, dapat dikatakan juga bahwa kita sekarang ini berada dalam semacam gerak
spiral: di satu pihak kita harus menggunakan ilmu pengetahuan untuk menjamin
kebutuhan-kebutuhan kita yang paling elementer dan di lain pihak keharusan itu
sebagian disebabkan karena kita telah mempengaruhi dan mengubah keadaan hidup
kita yang natural. Kita sendiri telah menciptakan suatu situasi yang cukup ganjil. Lebih
dahulu kita telah merusak lingkungan hidup yang natural (air, udara, tanah) dan kita

harus membersihkan lagi lingkungan itu. Namun demikian, kitasepatutnya hati-hati


dulu dan tidak terlanjur cepat melontarkan penilaian kita. Lingkungan yang natural
mengandung sekurang-kurangnya sama banyak persoalan seperti lingkungan artifisial
yang diciptakan dengan bantuan ilmu pengetahuan. Bagaimanapun juga, dulu hanya
sejumlah kecil orang sanggup memanfaatkan sumber-sumber alamiah dan dengan
berbuat demikian mereka selalu merugikan serta mengorbankan orang lain.[18]

KESIMPULAN
Filosofi secara etimologi mempuyai arti cinta kebijaksanaan, cinta pengetahuan atau
cinta kearifan. Sedangkan secara terminologi filsafat adalah proses berfikir secara
radikal, sistematik, dan universal terhadap manusia itu sendiri.
Ada empat aliran yang membicarakan hakikat manusia, yakni aliran serba zat, aliran
serba ruh, aliran dualisme, dan aliran eksistensialisme. Keempat aliran tersebutt
membicarakan hakikat manusia dengan argumennya masing-masing, sedangkan hakikat
manusia menurut Al-Quran ialah bahwa manusia itu terdiri atas unsur jasmani, akal,
dan ruhani.
Ilmu pengetahuan terdiri dari dua kata yakni ilmu dan pengetahuan. Ilmu merupakan
salah satu dari hasil usaha manusia untuk memperadab dirinya. Sedangkan pengetahuan
adalah hasil proses dari usaha manusia untuk tahu. Pengetahuan ini mampu
dikembangkan manusia disebabkan dua hal utama yakni, pertama, manusia mempunyai
bahasa yang mampu mengkomunikasikan informasi dan jalan pikiran yang
melatarbelakangi informasi tersebut. Kedua, yang menyebabkan manusia mampu
mengembangkan pengetahuannya, adalah kemampuan berpikir menurut suatu alur
kerangka berpikir tertentu. Selain kedua penyebab di atas manusia juga mampu untuk
menalar apa yang sedang diusahakannya, penalaran sendiri adalah suatu proses
berpikir dalam menarik suatu kesimpulan yang berupa pengetahuan. Hal ini yang tidak
dimiliki oleh makhluk lain selain manusia.
Dulu ilmu pengetahuan praktis tidak mempengaruhi hidup sehari-hari. Dianggap
sesuatu yang tidak penting dan dianggap biasa saja, bila ilmu pengetahuan tidak
mempunyai konsekuensi dalam hidup kemasyarakatan, karena maknanya sama sekali
lain. Pada masa lampau kegiatan ilmiah tidak bertujuan untuk memperbaiki atau
meningkatkan taraf hidup jasmani. Karena manusia pada masa itu menganggap bahwa
taraf hidup sudah ditentukan oleh kodrat.
Namun, Kegiatan ilmiah sekarang ini didasarkan pada dua keyakinan yaitu: pertama
segala sesuatu dalam realitas dapat diselidiki secara ilmiah, bukan saja untuk mengerti
realitas dengan lebih baik, melainkan juga untuk menguasainya lebih mendalam
menurut segala aspeknya. Kedua Semua aspek realitas membutuhkan juga penyelidikan
seperti itu. Kebutuhan-kebutuhan yang paling primer, seperti air, makanan, udara,
cahaya, kehangatan, tempat tinggal tidak akan cukup tanpa penyelidikan itu.

PENUTUP
Demikian makalah ini kami buat. Semoga dapat memberikan manfaat baik kepada
pembaca maupun penyusun. Pastinya dalam penyusunan makalah ini tidak luput dari
kesalahan dan kekhilafan, oleh karena itu kritik dan saran yang konstruktif dari
pembaca sangatlah diharapkan demi kesempurnaan makalah ini dan selanjutnya. Dan
semoga bermanfaat bagi kita semua. Amiiinn