Anda di halaman 1dari 16

UMKM Batik Penunjang Perekonomian Keluarga

Oleh :
Tiolina Evi N.P
Dosen Tetap IKPIA Perbanas
Jl. Perbanas, Karet Kuningan
Setiabudi, Jakarta 12940
te_evi_p@yahoo.com,

Abstrak
Perekonomian Nasional merupakan sektor yang sangat penting dan menjadi
salah satu fokus utama pemerintahan dalam membuat berbagai kebijakan untuk
mencapai kesejahteraan bangsa. Sehingga sektor perekonomian ini di dalam setiap
kebijakan yang dibuat oleh Pemerintah juga harus mempertimbangkan segala
aspek baik yang bersifat positif maupun yang bersifat negatif. Salah satu
kebijakan

Pemerintah

dalam

menunjang

perekonomian

bangsa

adalah

menggalakkan program Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM).


Pengembangan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Indonesia
merupakan salah satu prioritas utama dalam pembangunan perekonomian
nasional. Ini disebabkan selain karena UMKM merupakan tulang punggung
sistem ekonomi kerakyatan yang tidak hanya ditujukan untuk mengurangi
masalah kesenjangan sosial antar golongan si kaya dan si miskin, ataupun
pengentasan kemiskinan dan penyerapan tenaga kerja.
Salah satu gagasan pemberdayaan UMKM di era perekonomian sekarang
adalah usaha batik. Usaha batik ini digunakan untuk menopang kebutuhan
keluarga sehari - hari. Usaha batik ini juga banyak yang dibiayai oleh program
Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang telah digalakkan oleh Pemerintah saat ini untuk
memberikan modal yang cukup.
Kata Kunci : Perekonomian, UMKM, Indonesia, KUR, Batik

1. Pendahuluan
Pembangunan ekonomi Indonesia tidak bisa dilepaskan dari peranan
Pemerintah, lembaga-lembaga di sektor keuangan dan pelaku-pelaku usaha.
Pemerintah sebagai pembuat dan pengatur kebijakan diharapkan dapat

memberikan iklim yang kondusif bagi dunia usaha, sehingga lembaga keuangan
baik perbankan maupun bukan perbankan serta pelaku usaha di lapangan mampu
memanfaatkan kebijakan dan melaksanakan kegiatan usaha dengan lancar, yang
pada

akhirnya

dapat

mendorong

percepatan

pembangunan

ekonomi.

Pembangunan pada hakekatnya adalah proses perubahan yang terus menerus yang
menuju kearah perbaikan cita-cita yang ingin dicapai oleh suatu bangsa, atau
pembangunan ekonomi suatu bangsa ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan
hidup masyarakat.
Pembangunan Ekonomi yang dicanangkan oleh Pemerintah saat ini salah
satunya sektor Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Salah satu pelaku usaha
yang memiliki eksistensi penting namun kadang dianggap terlupakan dalam
percaturan kebijakan di negeri ini adalah Usaha Mikro, Kecil dan Menengah
(UMKM). Padahal jika kita mengenal lebih jauh dan dalam, peran UMKM
bukanlah sekedar pendukung dalam kontribusi ekonomi nasional. UMKM dalam
perekonomian nasional memiliki peran yang penting dan strategis.
Pada umumnya usaha mikro, kecil dan sebagian besar sangat lemah dalam
bidang administrasi. Sementara usaha menengah lebih baik, mereka jarang
mendasarkan diri pada rencana yang sistematis karena mereka kurang mampu
dalam menuangkan pikiran-pikiran mereka dan juga belum sadar akan penting
artinya rencana. Awal tahun merupakan moment yang sering dimanfaatkan
banyak orang untuk membuat rencana dan menentukan target baru yang ingin
mereka capai. Baik dalam hal karir, keluarga, kehidupan, termasuk juga
merencanakan peluang bisnis yang memungkinkan untuk dicoba.
Tiap keluarga dalam memutuskan untuk memulai usaha memang tidak
mudah, banyak orang takut untuk memulainya karena alasan modal. Padahal jika
memiliki tekad dan niat yang kuat, sebenarnya banyak peluang usaha yang bisa
dijalankan dengan modal kecil, misalnya saja bisnis rumahan. Memanfaatkan
segala potensi yang ada di rumah untuk menjalankan bisnis, menjadi alternatif
tepat menekan modal usaha yang dibutuhkan dan terbatas.
Mengingat hal-hal tersebut, beberapa lembaga keuangan seperti Bank
bank oleh Pemerintah meluncurkan program Kredit Usaha Rakyat (KUR) untuk

membantu para pengusaha kecil dan menengah mendapatkan modal yang cukup,
bunga ringan dan dapat mengembalikan pinjaman dengan lunak.

2. Usaha Mikro Kecil Mengah (UMKM)


Sesuai dengan Undang- Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro,
Kecil dan Menengah (UMKM) :
a. Pengertian UMKM
o

Usaha Mikro adalah usaha produktif milik orang perorangan dan/atau badan
usaha perorangan yang memenuhi kriteria Usaha Mikro sebagaimana diatur
dalam Undang-Undang ini.

Usaha Kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang
dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan
anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau
menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dari usaha menengah
atau usaha besar yang memenuhi kriteria Usaha Kecil sebagaimana dimaksud
dalam Undang-Undang ini.

Usaha Menengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang
dilakukan oleh orang perseorangan atau badan usaha yang bukan merupakan
anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau
menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dengan Usaha Kecil
atau usaha besar dengan jumlah kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan
sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini.

b. Kriteria UMKM :
No.
1
2
3

Uraian
Usaha Mikro
Usaha Kecil
Usaha Menengah

Kriteria
Aset
Omzet
Maks. 50 juta
Maks. 300 juta
> 50 Juta - 500 Juta
> 300 Juta - 2,5 Miliar
> 500 Juta - 10 Miliar > 2,5 Miliar - 50 Miliar

UMKM menjadi tumpuan bagi 99,45% tenaga kerja di Indonesia selama periode
2005-2008, UMKM ternyata mampu membuka lapangan kerja baru bagi 9,6 juta
orang, sementara usaha besar hanya mampu membuka lapangan kerja baru bagi
55.760 orang. Selain itu konstribusi UMKM terhadap eksport non migas nasional
sebesar 19,9%.
2.1 Stakeholder / Pihak-pihak yang berkepentingan dengan UMKM :
1. Bank Indonesia, sebagai Bank Sentral selama ini mempunyai program untuk
pengembangan sektor riil dan UMKM melalui bidang ekonomi dan moneter .
2. Lembaga Keuangan Bank, Bank Umum, BPR/BPRS, menyediakan dana
untuk permodalan UMKM melalui kredit program pemerintah (KUR, KKPE
dan lainnya) serta kredit komersial untuk investasi dan modal kerja yang
dapat dimanfaatkan oleh UMKM.
3. Lembaga Keuangan Bukan Bank (PNPM, PNM, Pegadaian, Asuransi, dll).
PNPM Mandiri merupakan program nasional pemberdayaan masyarakat juga
menyalurkan dana modal untuk UMKM.
4. Lembaga Penjaminan (Askrindo, Jamkrindo, dll) adalah lembaga penjaminan
yang berfungsi membantu UMKM yang sudah feasible (layak usaha) namun
belum bankable dari sisi tidak ada jaminan kredit.
5. Lembaga Keuangan Mikro (BMT, Koperasi, dll) adalah pihak yang dapat
membantu UMKM untuk mendapatkan modal dengan cepat karena memiliki
jaringan hingga ke pelosok dan prosedur pinjaman yang ringkas dan
sederhana.
6. Instansi Terkait (DKP, Kop/UKM, Pertanian, Industri & Perdagangan, dll).
Dinas teknis yang memiliki program dan dana dalam pengembangan UMKM,
terutama dalam meningkatkan kemampuan manajemen teknis produksi
melalui program pelatihan.
7. Pemda (Pemprov, Pemko, Pemkab) adalah instansi yang mengatur kebijakan
di daerah, dapat diharapkan melakukan kegiatan riil di setiap daerah.
8.

KADIN, sangat peduli dengan usaha kecil dan menengah.

9. PINBUK. Pusat inkubasi bisnis usaha kecil, membawahi BMT (baitul mal
wattanwil) di seluruh Indonesia.
10. Perguruan Tinggi (Negeri/Swasta) di setiap perguruan tinggi banyak kita
jumpai pusat inkubator bisnis, yang memiliki UMKM binaan terutama yang
ada di sekitar wilayah kampus.
11. BDSP/ KKMB. Konsultan Keuangan Mitra Bank adalah program nasional
pemerintah dalam rangka membantu UMKM untuk akses permodalan kepada
perbankan.
12. SATGASDA KKMB., adalah wadah yang dibentuk melalui SK Gubernur
KDH Tingkat I di setiap propinsi. Didalamnya terdapat unsur Bank
Indonesia, Perbankan, Dinas Terkait dan Pemerintah Daerah.
13. BUMN, Program PKBL memiliki dana CSR hasil penyisihan keuntungan
BUMN. Program Kemitraan menyediakan pinjaman modal hingga lima puluh
juta.
14. Swasta Nasional banyak perusahaan ingin menyalurkan dana CSR kepada
UMKM dalam rangka tanggung jawab sosial mereka kepada masyarakat.
15. Organisasi Profesi

hingga terdapat banyak organisasi profesi seperti

Asosiasi Pengusaha Indonesia, HIPMI, Aosiasi Pedagang Pasar dan lainnya.


Semuanya sangat berkepentingan dalam pengembangan UMKM.

2.2 Tantangan UMKM


1. Para Pengusaha Kecil dengan omset kurang dari Rp 50 juta umumnya
mempunyai tantangan yaitu bagaimana menjaga kelangsungan hidup
usahanya. Bagi mereka, umumnya asal dapat berjualan dengan aman sudah
cukup. Mereka umumnya tidak membutuhkan modal yang besar untuk
ekspansi produksi; biasanya modal yang diperlukan sekedar membantu
kelancaran cashflow saja. Bisa dipahami bila kredit dari BPR-BPR, BKK,
TPSP (Tempat Pelayanan Simpan Pinjam-KUD) amat membantu modal kerja
mereka.
2. Pengusaha Kecil dengan omset antara Rp 50 juta hingga Rp 1 milyar, tantangan
yang dihadapi jauh lebih kompleks. Umumnya mereka mulai memikirkan

untuk melakukan ekspansi usaha lebih lanjut. Berdasarkan pengamatan Pusat


Konsultasi Pengusaha Kecil UGM, urutan prioritas permasalahan yang
dihadapi oleh PK jenis ini adalah :
(1) Masalah belum dipunyainya sistem administrasi keuangan dan manajemen
yang baik karena belum dipisahkannya kepemilikan dan pengelolaan
perusahaan;
(2) Masalah bagaimana menyusun proposal dan membuat studi kelayakan untuk
memperoleh pinjaman baik dari bank maupun modal ventura karena
kebanyakan PK mengeluh berbelitnya prosedur mendapatkan kredit, agunan
tidak memenuhi syarat, dan tingkat bunga dinilai terlalu tinggi;
(3) Masalah menyusun perencanaan bisnis karena persaingan dalam merebut pasar
semakin ketat;
(4) Masalah akses terhadap teknologi terutama bila pasar dikuasai oleh
perusahaan/grup bisnis tertentu dan selera konsumen cepat berubah;
(5) Masalah memperoleh bahan baku terutama karena adanya persaingan yang
ketat dalam mendapatkan bahan baku, bahan baku berkulaitas rendah, dan
tingginya harga bahan baku;
(6) Masalah perbaikan kualitas barang dan efisiensi terutama bagi yang sudah
menggarap pasar ekspor karena selera konsumen berubah cepat, pasar
dikuasai perusahaan tertentu, dan banyak barang pengganti;
(7) Masalah tenaga kerja karena sulit mendapatkan tenaga kerja yang terampil.

2.3 Permasalahan UMKM:


1. Permasalahan yang bersifat klasik dan mendasar pada UMKM (basic
problems), antara lain berupa permasalahan modal, bentuk badan hukum yang
umumnya non formal, SDM, pengembangan produk dan akses pemasaran;
2. Permasalahan lanjutan (advanced problems), antara lain pengenalan dan
penetrasi pasar ekspor yang belum optimal, kurangnya pemahaman terhadap
desain produk yang sesuai dengan karakter pasar, permasalahan hukum yang
menyangkut hak paten, prosedur kontrak penjualan serta peraturan yang
berlaku di negara tujuan ekspor;

3. Permasalahan antara (intermediate problems), yaitu permasalahan dari instansi


terkait untuk menyelesaikan masalah dasar agar mampu menghadapi persoalan
lanjutan secara lebih baik. Permasalahan tersebut antara lain dalam hal
manajemen keuangan, agunan dan keterbatasan dalam kewirausahaan. Dengan
pemahaman atas permasalahan di atas, akan dapat ditengarai berbagai problem
dalam UMKM dalam tingkatan yang berbeda, sehingga solusi dan
penanganannya pun seharusnya berbeda pula.
Sementara itu, dari hasil survei tentang profil UMKM yang dilakukan oleh Bank
Indonesia, terdapat permasalahan maupun kendala UMKM yang dilihat dari
perspektif UMKM itu sendiri maupun dari perbankan.

3. Pembiayaan Perbankan ke Sektor UMKM


Sejalan dengan kondusifnya makro ekonomi dan perubahan paradigma
perbankan dalam memandang UMKM dalam beberapa tahun belakangan ini kita
mencermati adanya perubahan perilaku bisnis perbankan yang lebih mengarah
pada segmen UMKM. Kondisi ini sangat berbeda dengan era masa lalu di mana
orientasi penyaluran kredit perbankan terlalu memusatkan pada korporasi yang
dianggap lebih memberikan keuntungan besar secara ekonomis. Sedangkan sektor
UMKM kerap kali mengalami hambatan dalam memperoleh akses dana dan
sering dibiayai melalui program pemerintah yang cenderung bersifat subsidi atau
sumber dana relatif murah dari para donor. Dalam perkembangannya, penyaluran
kredit UMKM semakin lama semakin meningkat sejalan dengan meningkatnya
portofolio perbankan untuk pemberian kredit UMKM.
Perkembangan kredit

UMKM

yang bersumber dari kredit

bank,

menunjukkan debet pada akhir Juni 2007 telah mencapai Rp. 462,12 trilyun atau
52,5% kredit perbankan dengan komposisi:
1. usaha mikro sebesar Rp. 186,52 trilyun atau 40,4%;
2. usaha kecil sebesar Rp. 131,95 trilyun atau 28,6%;
3. usaha menengah sebesar Rp. 143,69 trilyun atau 31,1%.
Secara keseluruhan terdapat pertumbuhan sebesar 18,4% bila dibandingkan
dengan posisi yang sama pada tahun 2006 yaitu Rp. 427,99 trilyun. Sementara net

NPLs kredit UMKM 3,19% dan total kredit perbankan sebesar 2,61%. Sementara
itu hingga Juni 2007 nett ekspansi kredit perbankan yangmdisalurkan ke sektor
UMKM sebesar Rp. 34,2 trilyun atau 48,1% dari total business plan tahun 2007
telah mencapai lebih dari 19,1 juta rekening dibandingkan pada Juni 2006 yang
berjumlah 18,2 juta.
Berdasarkan jenis penggunaan kredit, prosentase terbesar penggunaan kredit
UMKM adalah untuk kredit konsumsi dimana per Juni 2007 adalah sebesar
66,7%, yang diikuti oleh kredit modal kerja sebesar 22% dan kredit investasi
sebesar 11,3%. Besarnya prosentase kredit konsumsi tersebut juga menunjukkan
bahwa penyaluran kredit UMKM ke sektor usaha yang produktif masih perlu
ditingkatkan.

4. Kebijakan Bank Indonesia Dalam Pemberdayaan UMKM


Bank Indonesia dalam pengembangan UMKM berubah menjadi tidak
langsung. Pendekatan yang digunakan kepada UMKM bergeser dari development
role menjadi promotional role. Pendekatan yang memberikan subsidi kredit dan
bunga murah sudah bergeser kepada pendekatan yang lebih menitikberatkan pada
kegiatan pelatihan kepada petugas bank, penelitian dan penyediaan informasi.
Dengan kondisi seperti itu, Bank Indonesia masih tetap memberikan
dukungan, namun kebijakan BI baik dari sisi supply maupun sisi demand lebih
difokuskan dalam rangka mendorong peningkatan fungsi intermediasi perbankan
serta untuk mendukung sistem perbankan yang sehat. Dari sisi supply, Bank
Indonesia

mengeluarkan

berbagai

kebijakan

perbankan

sehingga

dapat

meningkatkan pemberian kredit kepada UMKM namun tetap prudent.


Kebijakan tersebut antara lain dengan mengeluarkan Peraturan Bank
Indonesia (PBI) Nomor 3/2/PBI/2001 tentang Pemberian Kredit Usaha Kecil yang
menganjurkan bank memberikan sebagian kreditnya kepada usaha kecil; PBI
Nomor 6/25/PBI/2004 dan SE Nomor 6/44/DPNP perihal Rencana Bisnis Bank
Umum Dalam Penyaluran Kredit UMKM, sehingga diketahui komitmen bank
dalam menyalurkan kredit UMKM; dan SE nomor 8/3/DPNP, dimana dalam
perhitungan aktiva tertimbang menurut risiko (ATMR) bobot risiko untuk KUK

dikenakan sebesar 85%. Dari sisi demand, kebijakan Bank Indonesia lebih
difokuskan pada penguatan lembaga pendamping UMKM melalui peningkatan
capacity building dalam bentuk pelatihan dan kegiatan penelitian yang menunjang
pemberian kredit kepada UMKM.
Beberapa upaya yang dilakukan antara lain:
a. Pelatihan-pelatihan kepada lembaga pendamping UMKM, dalam rangka
meningkatkan kemampuan kredit UMKM. Pada periode Januari-Juni 2007,
Bank Indonesia telah memberikan pelatihan kepada 819 orang pendamping
UMKM atau konsultan keuangan mitra bank (KKMB) dengan jumlah kredit
yang berhasil dihubungkan dengan bank mencapai lebih dari Rp. 155 miliar
untuk 2.582 UMKM;
b. Pendirian Pusat Pengembangan Pendamping UKM (P3UKM), sebagai pilot
project di Bandung. P3UKM antara lain bertugas melakukan pelatihan dan
akreditasi pendamping UKM. Pada bulan Juli 2007 lembaga sejenis telah
didirikan di Kalimantan Selatan dan pada bulan September ini lembaga sejenis
direncanakan juga didirikan di Sulawesi Selatan;
c. Pengembangan Sistem Informasi Terpadu Pengembangan Usaha Kecil
(SIPUK) sebagai sarana untuk lebih menyebarluaskan secara cepat hasil-hasil
penelitian dan berbagai informasi lainnya. SIPUK terdiri dari Sistem Informasi
Baseline Economic Survey (SIB), Sistem Informasi Agroindustri Berorientasi
Ekspor (SIABE), Sistem Informasi Pola Pembiayaan/ lending model Usaha
Kecil (SILMUK), Sistem Penunjang Keputusan Untuk Investasi (SPKUI); dan
Sistem Informasi Prosedur Memperoleh Kredit (SIPMK).
d. Berbagai penelitian dalam rangka memberikan informasi untuk mendukung
pengembangan UMKM. Kegiatan penelitian terutama diarahkan untuk
mendukung penetapan arah dan kebijakan Bank Indonesia dalam rangka
pemberian bantuan teknis dan juga dalam rangka penyediaan informasi yang
berguna dalam rangka pengembangan UMKM.

5. Program Pengembangan Sistem Pendukung Usaha Bagi UMKM


Kegiatan-kegiatan pokok dari program ini antara lain mencakup:
1. Penyediaan fasilitasi untuk mengurangi hambatan akses UMKM terhadap
sumber daya produktif, termasuk sumber daya alam;
2. Peningkatan peran serta dunia usaha/masyarakat sebagai penyedia jasa layanan
teknologi, manajemen, pemasaran, informasi dan konsultan usaha melalui
penyediaan sistem insentif, kemudahan usaha serta peningkatan kapasitas
pelayanannya;
3. Peningkatan kapasitas kelembagaan dan kualitas layanan Lembaga Keuangan
Mikro (LKM) dan koperasi simpan pinjam/usaha simpan pinjam (KSP/USP)
antara lain melalui pemberian kepastian status badan hukum, kemudahan
dalam perijinan, insentif untuk pembentukan sistem jaringan antar LKM dan
antara LKM dan Bank, serta dukungan terhadap peningkatan kualitas dan
akreditasi KSP/USP/LKM sekunder;
4. Perluasan sumber pembiayaan bagi koperasi dan UMKM, khususnya skim
kredit investasi bagi koperasi dan UMKM, dan peningkatan peran lembaga
keuangan bukan bank, seperti perusahaan modal ventura, serta peran lembaga
penjaminan kredit koperasi dan UMKM nasional dan daerah, disertai dengan
pengembangan jaringan informasinya;
5. Peningkatan efektivitas dan efisiensi penyelenggaraan dana pengembangan
UMKM yang bersumber dari berbagai instansi pemerintah pusat, daerah dan
BUMN;
6. Dukungan terhadap upaya mengatasi masalah kesenjangan kredit (kesenjangan
skala, formalisasi, dan informasi) dalam pendanaan UMKM;
7. Pengembangan sistem insentif, akreditasi, sertifikasi dan perkuatan lembagalembaga pelatihan serta jaringan kerjasama antarlembaga pelatihan;
8. Pengembangan dan revitalisasi unit pelatihan dan penelitian dan pengembangan
(litbang) teknis dan informasi milik berbagai instansi pemerintah pusat dan
daerah untuk berperan sebagai lembaga pengembangan usaha bagi UMKM;
9.

Dukungan terhadap upaya penguatan jaringan pasar produk UMKM dan


anggota koperasi, termasuk pasar ekspor, melalui pengembangan lembaga

pemasaran, jaringan usaha termasuk kemitraan usaha, dan pengembangan


sistem transaksi usaha yang bersifat on-line, terutama bagi komoditas
unggulan berdaya saing tinggi.
10. Pemberian bantuan dana bahi pengusaha UMKM yang kurang modal oleh
Bank Indonesia di sektor perbankan dengan meluncurkan program Kredit
Usaha Rakyat (KUR).

Tujuan diluncurkannya KUR adalah :


(i) untuk mempercepat pengembangan sektor riil dan pemberdayaan UMKM;
(ii) untuk meningkatkan akses pembiayaan kepada UMKM dan Koperasi;
(iii) untuk penanggulangan kemiskinan dan perluasan kesempatan kerja.

Tahun 2011 rencananya pemerintah akan menaikkan anggaran Kredit Usaha


Rakyat (KUR) menjadi Rp 25 triliun. Tahun 2010, dana KUR yang disiapkan
pemerintah sebesar Rp 20 triliun. Rencana kenaikan dana KUR nasional didorong
oleh tingginya minat masyarakat dalam menggunakan dana KUR. Menurutnya,
KUR banyak diminati karena memang di desain untuk memfasilitasi masyarakat
yang memiliki usaha tetapi terkendala dana. Skema yang disiapkan juga cukup
ringan. Misalnya, pinjam Rp 20 juta ke bawah tidak perlu ada jaminan. Skema
lain, misalnya ada bunga rendah lima persen per tahun. Menggunakan skema
KUR pun yang tanpa jaminan itu mencapai 22 persen. UMKM yang memakai
jaminan juga masih tinggi di 14 persen sampai 16 persen. Target penyaluran
Kredit Usaha Rakyat (KUR) sepanjang tahun 2011 naik sekira 16,09 persen
dibanding realisasi penyaluran KUR tahun 2010 sebesar Rp17,228 triliun.
Pemerintah terus mengarahkan penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) ke
sektor-sektor produktif di hulu, seperti sektor pertanian, perikanan dan industri
merupakan tulang punggung perekonomian nasional, yang selama ini masih
menerima alokasi kredit relatif kecil.
Realisasi KUR tersebut sekitar 67 persen dari target penyaluran KUR 13
BPD pada tahun 2011. Di posisi berikutnya, PT Bank Negara Indonesia Tbk

(BNI) telah menyalurkan KUR sekira 65 persen dari target atau senilai Rp1,61
triliun dengan jumlah debitor 18.490.
Sementara, Bank Mandiri menyalurkan KUR sebesar Rp1,56 triliun atau
sekira 52 persen dari target, dengan jumlah debitur sebanyak 26.926. Selanjutnya,
Bank Syariah Mandiri (BSM) menyalurkan KUR sebesar Rp370,1 miliar atau 62
persen dari target dengan jumlah debitur sebanyak 3.863.
Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) merealisasikan KUR sekira 32 persen
atau sebesar Rp254,8 miliar dengan jumlah debitur sebanyak 1.948 dan Bank
Bukopin Tbk baru merealisasikan penyaluran KUR sepanjang setengah tahun
2011 sekira 29 persen dari target atau Rp102,6 miliar dengan jumlah debitur 794.
Realisasi total penyaluran kredit usaha rakyat (KUR) enam bank dan 13
Bank Pembangunan daerah (BPD) sepanjang semester pertama tanggal 01 Juli
2011 telah mencapai 72,3 persen mencapai Rp 14,45 triliun dari target total
penyaluran KUR hingga akhir tahun 2011. Adapun target penyaluran KUR hingga
akhir 2011 sebesar Rp 20 triliun. Penyaluran KUR pada enam bulan pertama
tahun 2011 sebesar Rp14,45 triliun diberikan kepada 989.157 debitur. Sementara
itu, realisasi penyaluran KUR selama enam bulan pertama tahun 2011 terbesar
terjadi pada bulan Juni 2011. Pada Juni 2011, realisasi KUR mencapai Rp3,15
triliun dengan jumlah debitur 203.622, pada Mei realisasi KUR sebesar Rp2,44
triliun dengan jumlah debitur 164.638, realisasi KUR pada April sebesar Rp2,39
triliun dengan jumlah debitor 156.479. Penyaluran KUR pada Maret mencapai
Rp2,67 triliun dengan jumlah kreditur 164.428, penyaluran KUR pada Februari
Rp1,92 triliun dengan 148.232 kreditor dan pada penyaluran KUR pada Januari
Rp1,87 triliun dengan 151.758 debitur.
Landasan operasional KUR adalah Inpres No.6 tanggal 8 Juni 2007 tentang
Kebijakan Percepatan Pengembangan Sektor Riil dan Pemberdayaan UMKM dan
Nota Kesepahaman Bersama antara Departemen Teknis, Perbankan, dan
Perusahaan Penjaminan yang ditandatangani pada tanggal 9 Oktober 2007 sebagai
berikut:

Para Pihak
Pemerintah (6 Menteri)
Departemen Keuangan

Fungsi
a. Membantu dan mendukung pelaksanaan
pemberian kredit/pembiayaan berikut penjaminan
kredit/pembiayaannya kepada UMKM dan Koperasi.
b. Mempersiapkan UMKM dan Koperasi yang
melakukan usaha produktif yang bersifat individu,
kelompok, kemitraan dan/atau cluster untuk dapat
dibiayai dengan kredit/pembiayaan.
c. Menetapkan kebijakan dan prioritas bidang usaha
yang akan menerima penjaminan kredit/pembiayaan.

Departemen Pertanian
Departemen Kehutanan
Departemen Kelautan dan
Perikanan
Departemen Perindustrian
Kementerian
Negara
KUKM

d. Melakukan pembinaan dan pendampingn selama


masa kredit/pembiayaan.
e. Memfasilitasi hubungan antara UMKM dan
Koperasi dengan pihak lainnya seperti perusahaan
inti/off taker yang memberikan kontribusi dan
dukungan kelancaran usaha.

Perbankan (6 bank)
Bank BRI, Bank Mandiri, Melakukan penilaian kelayakan usaha dan
BNI,
Bank
BTN, memutuskan pemberian kredit/pembiayaan sesuai
Bukopin, Bank Syariah ketentuan yang berlaku
Mandiri
Perusahaan Penjaminan Kredit
PT Askrindo dan Perum Memberikan
persetujuan
penjaminan
atas
Sarana
Pengembangan kredit/pembiayaan yang diberikan perbankan sesuai
Usaha
ketentuan asuransi.

6. Contoh Usaha Batik menggunakan Kredit Usaha Rakyat (KUR)


Usaha Batik Toko. X berdiri 01 Oktober 2003 dengan modal pertama hanya
Rp 10 juta dan masih berjualan di rumah jadi memasarkan usaha batik dari rumah
ke rumah atau antar teman, tetangga saja. Pertama kali mengambil batik hanya
dari kota Solo.
Dengan perkembangan waktu dan zaman persaingan usaha batik Toko X
sudah tidak usaha rumah tapi sudah mempunyai toko sewa di Cempaka Putih
mulai 1 toko tahun 2005 lalu berkembang menjadi 3 4 toko tahun 2007. Untuk

memperkaya dan bersaing model batik yang dijual juga sudah berkembang dari 5
daerah yaitu Kota Solo, Pekalongan, Cirebon, Madura dan Lasem (Rembang)
langsung dari pengrajin sehingga mendapatkan harga yang murah. Cara kerjasama
dengan para pemasok daerah usaha batik yaitu bila pengambilan batik di bawah
Rp 10 juta pembayaran tunai atau tempo kredit 1 minggu, tetapi bila pengambilan
batik antara Rp 10 20 juta maka sistem pembayaran tempo 1 3 bulan sesuai
perjanjian. Sistem kepercayaan juga sangat mendukung usaha batik Toko X ini.
Pemasaran usaha batik juga mengikuti tren teknologi dengan menggunakan
website sendiri dan bersifat on line dengan pengiriman barang setelah pembayaran
dilakukan melalui transfer bank. Website itu bisa dilihat melalui internet yang
berisi gambar gambar baju batik jadi dan kain batik dengan berbagai bentuk dan
corak serta harga yang tertera. Sehingga pembeli tidak usah datang ke Toko X lagi
tapi dapat memesan dan melihat berbagai model jualan melalui website itu. Tetapi
banyak juga yang datang ke Toko X untuk melihat langsung berbagai batiknya.
Toko X juga memasarkan usahanya dengan mengikuti pameran-pameran seperti
di JCC, Gedung Umum Smesco, Gedung Arsip, BNI Pusat, Hotel Four
Season,dll.
Dengan diluncurkannya Kredit Usaha Rakyat (KUR) oleh Pemerintah maka
Toko X juga mengunakan fasilitas ini untuk menambah modal usaha dan fasilitas.
Tahun 2010 Toko X diproses oleh BNI Jatinegara sebagai mitra bina KUR
dengan kerjasama Departemen Koperasi dengan meminjam Rp 200 juta bunga
menurun 14 persen sesuai perjanjian di depan notaris. Tidak dikenakan biaya
provisi dan administrasi. Minimal usaha batik yang dapat dibina oleh BNI
minimal 3 tahun usaha. Tahun 2010 Toko X juga sudah dapat membeli 2 toko
dan sewa 3 toko. Toko X juga sudah dapat membayar cicilan kepada 5 daerah
pemasok usaha batiknya dengan lancar, Profit usaha batik Toko X tahun 2010
sudah mencapai 20 - 50 persen per bulan. Dan mencapai omzet Rp 100 juta /
bulan. Terlihat dengan adanya KUR dapat membantu UMKM khususnya usaha
batik Toko X. Usaha Batik ini merupakan usaha pokok bagi keluarga sebagai
penghasilan keluarga yang membiayai kebutuhan pokok dan kebutuhan tambahan.

7. Kesimpulan
1. Dalam perekonomian Indonesia Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM)
merupakan kelompok usaha yang memiliki jumlah paling besar.
2. Penyediaan kredit perbankan untuk mendukung pengembangan UMKM
sebenarnya sudah cukup besar, karena telah mencapai separuh dari alokasi total
kredit perbankan.
3. Penetrasi bank-bank kepada sektor UMKM tersebut bukan hanya sekedar
mengikuti trend, melainkan suatu strategi yang mendasari keputusan bisnis
yang mengukuhkan bahwa UMKM merupakan sektor yang prospektif sehingga
layak untuk dibiayai dan menguntungkan.
4. Bank Indonesia dalam pengembangan dan pemberdayaan UMKM adalah dalam
rangka mendorong peningkatan fungsi intermediasi perbankan serta untuk
mendukung sistem perbankan yang sehat, sehingga dapat mendukung
pertumbuhan ekonomi nasional.
5. Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang diluncurkan pemerintah juga sangat
membantu

para

pengusaha

UMKM

dalam

menambah

modal

dan

pengembangan fasilitas usaha contoh : usaha Batik Toko X.

8. Daftar Pustaka
Abdullah, Maskur. 2005. Lilitan Masalah Usaha Mikro kecil, Menengah
(UMKM) dan Kontroversi Kebijakan. Badan Penerbit Bitra Indonesia, Medan.
Anoraga, Panji. 2002. Koperasi, Kewirausahaan, dan Usaha Kecil. Badan
Penerbit Rineka Cipta, Jakarta.
Bobo, Julius. 2003.

Transformasi Ekonomi Rakyat. Badan Penerbit PT.

Pustaka, Jakarta.
www.bi.go.id website Bank Indonesia mengenai SIPUK.
http://www.scribd.com/doc/52427686/2/Pengertian-UMKM
www.sentrakukm.com/index.php/kur -Informasi Seputar KUR
economy.okezone.com/.../pemerintah-akan-tambah-anggaran-ku..Pemerintah
akan tambah anggaran KUR menjadi 25 Trilyun
www.bni.co.id/Portals/0/Document/Ulasan%20Ekonomi/.../KUR.pdf KUR

www.depkop.go.id/index.php?option=com_content...article..

Kriteria

Usaha

Mikro, Kecil Dan Menengah Menurut Uu No. 20 Tahun 2008 Tentang UMKM
infoukm.wordpress.com/2008/.../keragaman-definisi-ukm-di-ind..-Keragaman
Definisi UKM di Indonesia Agustus 11, 2008
www.depkop.go.id