Anda di halaman 1dari 21

Menu

Ahmad Noor Saputra


Ilmu Hanya Akan Berguna Jika Kita Membaginya Dengan Orang Lain
Makalah Basalioma
Basalioma
BAB II
TINJAUAN TEORITIS

A. Anatomi Fisiologi Kulit


Kulit merupakan pembungkus yang elastis yang melindungi tubuh dari pengaruh
lingkungan.( Marwali,1998).
Kulit adalah lapisan jaringan yang terdapat pada bagian luar menutupi dan
melindungi permukaan tubuh, berhubungan dengan selaput lendir yang melapisi
rongga-rongga, lubang-lubang yang masuk. Pada permukaan kulit bermuara
kelenjar keringat dan kelenjar mukosa.( syaifudin,1997).
Kulit adalah organ tubuh yang terletak paling luar dan membatasinya dari
lingkungan hidup manusia.(syarif M.Wasitaatmadja, 1993).
Kulit terbagi atas 3 lapisan pokok yaitu epidermis, dermis atau korium, dan
jaringan subkutan atau subkutis.
Lapisan kulit
1. Epidermis
Epidermis merupakan lapisan terluar pada kulit.
Terdiri dari beberapa lapisan sel, yaitu:
a. Stratum korneum adalah lapisan kulit yang paling luar dan terdiri dari
beberapa lapis sel-sel gepeng yang sudah mati, tidak mempunyai inti sel, inti
selnya sudah mati, dan protoplasmanya telah berubah menjadi zat keratin (zat
tanduk).
b. Stratum lusidum terdapat langsung di bawah lapisan korneum, merupakan
lapisan sel-sel gepeng tanpa inti dengan protoplasma yang berubah menjadi
protein yang disebut eleidin. Selnya pipih, bedanya dengan stratum granulosum
ialah sel-sel sudah banyak yang kehilangan inti dan butir-butir sel-sel sudah
banyak yang kehilangan inti dan butir-butir sel telah menjadi jernih sekali dan
tembus sinar.

Lapisan ini hanya terdapat pada telapak tangan dan telapak kaki. Dalam lapisan
ini terlihat seperti suatu pita yang bening. Batas-batas sel sudah tidak begitu
terlihat disebut stratum lusidum.
c. Stratum granulosum. Stratum ini terdiri dari sel-sel pipih seperti kumparan, selsel tersebut terdapat hanya 2-3 lapis yang sejajar dengan permukaan kulit.
Dalam sitoplasma terdapat butir-butir yang disebut keratohialin yang merupakan
fase dalam pembentukan keratin oleh karena banyaknya butir-butir stratum
granulosum.
d. Stratum spinosum/stratum akantosum. Lapisan ini merupakan lapisan yang
paling tebal dan dapat mencapai 0,2 mm terdiri dari 5-8 lapisan. Sel-selnya
disebut spinosum karena jika kita lihat dibawah mikroskop bahwa sel-selnya
terdiri dari sel yang bentuknya polygonal/banyak sudut dan mempunyai tanduk
(spina). Disebut akantosum sebab sel-selnya berduri.
e. Stratum basal/germinativum. Disebut stratum basal karena sel-selnya terletak
dibagian basal/basis, stratum germinativum menggantikan sel-sel yang diatasnya
dan merupakan sel-sel induk.
2. Dermis
Dermis merupakan lapisan kedua dari kulit, batas dengan epidermis dilapisi oleh
membrane basalis dan disebelah bawah berbatasan dengan subkutis tapi batas
ini tidak jelas hanya kita ambil sebagai patokan ialah mulainya terdapat sel
lemak.
Dermis terdiri dari 2 lapisan, yaitu;
a. Bagian atas, pars papilaris (stratum papilar), yaitu bagian yang menonjol ke
epidermis, berisi ujung serabut saraf dan pembuluh darah.
b. Bagian bawah, retikularis ( statum retikularis), yaitu bagian di bawahnya yang
menonjol ke arah subkutan.

Batas antara pars papilaris dengan pars retikularis adalah bagian bawahnya
sampai ke subkutis.
Baik pars papilaris maupun pars retikularis terdiri dari jaringan ikat longgar yang
tersusun dari serabut-serabut; serabut kolagen, serabut elastis,dan serabut
retikulus.
Serabut ini saling beranyaman dan masing-masing mempunyai tugas yang
berbeda.
Serabut kolagen, untuk memberikan kekuatan pada kulit, serabut elastis,
memberikan kelenturan pada kulit, dan retikulus, terdapat terutama disekitar
kelenjar dan folikel rambut dan memberikan kekuatan pada alat tersebut.

3. Subkutis
Adalah kelanjutan dermis, Subkutis terdiri dari kumpulan-kumpulan sel lemak dan
diantara gerombolan ini berjalan-jalan serabut jaringan ikat dermis. Sel-sel lemak
ini bentuknya bulat dengan intinya terdesak ke pinggir, sehingga membentuk
seperti cincin.
Lapisan lemak ini disebut penikulus adiposus, yang tebalnya tidak sama pada
tiap-tiap tempat dan juga pembagian antara laki-laki dan perempuan tidak sama.
Guna penikulus adiposus adalah sebagai shock breker = pegas/bila tekanan
trauma mekanis yang menimpa pada kulit. Isolator panas atau mempertahankan
suhu, penimbunan kalori, dan tambahan untuk kecantikan tubuh.

Fisiologi kulit
Kulit mempunyai banyak fungsi. Secara umum fungsi kulit adalah sebagai
berikut;
1. Sebagai proteksi
Kulit menjaga bagian dalam tubuh terhadap gangguan fisis atau mekanis
misalnya tekanan, gesekan, tarikan, gangguan kimiawi, misalnya zat-zat kimia
terutama yang bersifat iritan, contohnya lisol, karbol, asam, dan lain-lain.
2. Sebagai pengatur panas
Suhu tubuh tetap stabil meskipun terjadi perubahan suhu lingkungan. Hal ini
disebabkan karena adanya penyesuaian antara panas yang dihasilkan oleh pusat
pengatur panas, medulla oblongata. Suhu normal dalam tubuh yaitu suhu
visceral 36-37,5 derajat untuk suhu kulit lebih rendah.
Pengendalian persarafan dan vasomotorik dari arterial kutan ada 2 cara yaitu;
1) Vasodilatasi, kapiler melebar, kulit menjadi panas dan kelebihan panas
dipancarkan ke kelenjar keringat sehingga terjadi penguapan cairan pada
permukaan tubuh.
2) Vasokonstriksi, pembuluh darah mengkerut, kulit menjadi pucat dan dingin,
hilangnya kelenjar dibatasi dan panas suhu tubuh tidak dikeluarkan.

Cara pelepasan panas dari kulit


a. Penguapan dengan banyaknya darah mengalir melalui kapiler kulit
b. Pancaran panas dari udara sekitarnya.
c. Panas dialirkan ke benda yang disentuh seperti pakaian.

d. Pengaliran udara panas.

3. Sebagai indera peraba


Rasa sentuhan disebabkan rangsangan pada ujung saraf, dikulit berbeda-beda
menurut ujung saraf yang dirangsang, panas, dingin, dan sakit ditimbulkan
karena tekanan yang dalam dan rasa yang berat dari suatu benda misalnya
mengenai otot dan tulang.
Panca indera peraba terdapat pada kulit disamping itu kulit juga sebagai pelepas
panas yang ada pada tubuh, kulit menutupi dan berhubungan dengan selaput
lendir yang melapisi rongga-rongga dan lubang-lubang. Kulit mempunyai banyak
ujung-ujung saraf peraba yang menerima rangsangan dari luar diteruskan ke
pusat saraf pusat di otak.
Ujung-ujung reseptor serabut pada kulit memungkinkan tubuh untuk memantau
secara terus-menerus keadaan lingkungan di sekitarnya. Fungsi utama reseptor
pada kulit adalah untuk mengindera suhu, rasa nyeri, sentuhan dan tekanan
(atau sentuhan yang berat). Berbagai ujung saraf bertanggung jawab untuk
bereaksi terhadap setiap stimuli yang berbeda. Meskipun tersebar diseluruh
tubuh, ujung-ujung saraf lebih terkonsentrasi pada sebagian daerah
dibandingkan bagian lainnya. Sebagai contoh, ujung-ujung jari tangan jauh lebih
terinervasi ketimbang kulit pada bagian punggung tangan.

4. Sebagai absorpsi
Kulit yang sehat tidak mudah menyerap air, larutan dan benda padat, tetapi
cairan yang mudah menguap lebih mudah diserap.
5. Produksi Vitamin
Kulit yang terpajan sinar ultraviolet dapat mengubah substansi yang diperlukan
untuk mensintesis vitamin D. Vitamin D merupakan unsur esensial untuk
mencegah penyakit riketsia, suatu keadaan yang terjadi akibat defisiensi vitamin
D, kalsium serta fosfor dan yang menyebabkan deformita tulang

B. Konsep dasar penyakit Basalioma ( Karsinoma Sel Basal )


1. Pengertian
Basalioma adalah suatu tumor ganas kulit (kanker) yang berasal dari
pertumbuhan neoplastik sel basal epidermis dan apendiks kulit ( Marwali,2000).
Basalioma adalah merupakan tumor ganas yang berasal dari sel lapisan basal
epidermis bersifat invasive, destruktif lokal, dan sangat jarang bermetastasis
(Nila,2000).

Basalioma adalah merupakan kanker kulit yang timbul dari lapisan sel basal
epidermis atau folikel rambut ; yang paling umum dan jarang bermetastasis ;
kekambuhan umum terjadi (Brunner and Suddarth, 2000).
Basalioma merupakan jenis kanker kulit dan tumor ganas pada manusia yang
paling sering terjadi dan lebih banyak mengenai orang kulit putih dan jarang
terjadi pada orang kulit hitam.( Shirley, 2005).
Basalioma adalah keganasan sel basal epidermis.( Beth Goldstein, 2001).

2. Etiologi
Penyebabnya belum pasti diketahui. Lebih dari 90% penyebab basalioma yaitu
terpapar sinar matahari atau penyinaran ultraviolet lainnya. Lokalisasi kanker
kulit lebih banyak terdapat di daerah kulit yang terbuka, terpapar sinar matahari
misalnya kulit muka. Paling sering muncul pada usia diatas 40-70 tahun dan lebih
di jumpai pada pria dengan perbandingan 2 : 1, mungkin di karenakan kaum pria
lebih banyak ke luar rumah dan perpapar sinar matahari.
Faktor resiko lainnya yaitu:
a. Faktor genetik (sering terjadi pada kulit terang, mata biru atau hijau dan
rambut pirang.
b. Pemaparan sinar X yang berlebihan.
c. Senyawa kimia arsen, trauma dan ulkus kronis.

3. Patofisiologi
Basalioma merupakan kanker kulit yang paling sering ditemukan. Basalioma
berasal dari sel epidermis sepanjang lamina basalis. Kanker sel basal terjadi pada
daerah terbuka yang biasanya terpapar sinar matahari, seperti wajah, kepala,
dan leher. Untungnya tumor ini jarang sekali bermetastasis. Pasien dengan
kanker sel basal tunggal lebih mudah mendapat kanker kulit.
Spektrum sinar matahari yang bersifat karsinogen adalah sinar yang panjang
gelombangnya, berkisar antara 280 samapi 320 mm. Spektrum inilah yang
membakar dan membuat kulit menjadi cacat. Selain itu, pasien yang memiliki
riwayat kanker sel basal harus menggunakan tabir surya atau pakaian pelindung
untuk menghindari sinar karsinogen yang terdapat di dalam sinar matahari.
Penyebab lain basalioma adalah riwayat pengobatan, radiologi, sebelumnya
untuk menyembuhkan penyakit kulit lain. Sinar ultraviolet panjang (UVA) yang
dipancarkan oleh alat untuk membuat kulit kecoklatan seperti terbakar sinar
matahari juga merusak epidermis dan di anggap sebagai karsinogen.

Tumor ini ditandai oleh nodul eritromatosa, halus dan seperti mutiara, bagian
tengah mengalami ulserasi dan perdarahan, meninggi dan memiliki pembuluh
telangiektatik pada permukannya.

Pathway
Penyebab (externa)

Zat karsinogenik

Pertumbuhan neoplastik sel basal epidermis dan apendiks kulit

Basalioma

Tindakan medis : operasi Basalioma

Kurang informasi

Bertanya tentang penyakitnya

Penurunan status kesehatan

Kebutuhan akan belajar


Kurang pengetahuan

Terputusnya jaringan

Rangsangan terhadap reseptor nyeri di korteks serebri

Nyeri dipersepsikan

Nyeri akut
Eksisi bedah/luka

Media masuknya mikroorganisme

Infeksi

Resiko infeksi
Tindakan medis invasive

Struktur kulit terputus

Perubahan terhadap fungsi kulit

Kerusakan integritas kulit

(Price and Wilson, 2005)

4. ManifestasiKlinis
Tanda dan gejala yang menyertai penyakit basalioma adalah presileksinya
terutama pada wajah (pipi, dahi, hidung, lipat nasolabial, daerah periorbital),
leher. Meskipun jarang dapat pula dijumpai pada lengan, tangan, badan, tungkai,
kaki dan kulit kepala.
Gambaran klinik basalioma berdasarkan histopatologi terbagi menjadi 5 bentuk :
a. Nodulo-ulseratif, termasuk ulkus rodens
Merupakan jenis yang paling sering di jumpai. Lesi biasanya tampak sebagai lesi
tunggal. Paling sering mengenai wajah, terutama pipi, lipat nasolabial, dahi, dan

tepi kelopak mata. Pada awalnya tampak papul atau nodul kecil, transparan
seperti mutiara, berdiameter kurang dari 2 cm, dengan tepi meninggi.
Permukaannya tampak mengkilat sering dijumpai adanya teleangiektasia dan
kadang-kadang dengan skuama yang halus atau kusta tipis. Berwarna seperti
mutiara, kadang-kadang seperti kulit normal sampai eritem yang pucat. Lesi
membesar secara perlahan dan suatu saat bagian tengah lesi menjadi cekung,
meninggalkan tepi yang meninggi, keras. Jika terabaikan, lesi-lesi ini akan
mengalami ulserasi dengan destruksi jaringan disekitarnya.
b. Berpigmen
Gambaran klinisnya sama dengan yang tipe nodulo-ulseratif. Bedanya, pada jenis
ini berwarna cokelat atau hitam berbintik-bintik atau homogen yang secara klinis
dapat menyerupai melanoma.

c. Morfea atau fibrosing atau sklerosine


Biasanya terjadi pada kepala dan leher. Lesi tampak sebagai plak sklerotik yang
cekung, berwarna putih kekuningan dengan batas tidak jelas. Lesi tampak
sebagai bercak sklerodermatosa dan tidak memberi kesan basalioma bila dilihat
oleh mata yang tidak berpengalaman. Pertumbuhan perifer di ikuti oleh
perluasan sklerosis di tengahnya.
d. Superfisial
Lesi biasanya multiple, mengenai badan. Secara klinis tampak sebagai plak
transparan, eritematosa sampai berpigmen terang berbentuk oval sampai
ireguler dengan tepi berbatas tegas, sedikit meninggi, seperti benang atau
kawat. Biasanya dihubungkan dengan ingesti arsenic kronis.
e. Fibroepitelioma
Paling sering terjadi pada punggung bawah. Secara klinis lesi berupa papul kecil
yang tidak bertangkai atau bertangkai pendek dengan permukaan halus atau
noduler dengan warna yang bervariasi.

Disamping itu terdapat pula 3 sindroma klinis, dimana epitelioma sel basal
berperan penting, yaitu :

a. Sindroma epitelioma sel basal nevoid


Dikenal pula sebagai sindrom Gorlin Goltz. Merupakan kelainan autosomal
dominan dengan penetrasi yang bervariasi, ditandai oleh 5 gejala mayor yaitu:
1) Basalioma multiple yang terjadi pada usia muda.

2) Cekungan-cekungan pada telapak kaki.


3) Kelainan pada tulang, terutama pada tulang rusuk.
4) Kista pada tulang rahang.
5) Kalsifikasi ektopik dari falks serebri dan struktur lainnya.

b. Nevus sel basal unilateral linier


Merupakan jenis yang sangat jarang di jumpai. Lesi berupa nodul dan komedo,
dengan daerah atrofi bentuk striae, distribusi zosteriformis atau linier, unilateral.
Lesi biasanya di jumpai sejak lahir dan lesi ini tidak meluas dengan
meningkatnya usia.

c. Sindroma bazex
Sindrom ini digambarkan pertama kalinya oleh Bazex, diturunkan secara dominan
dengan cirri khas sebagai berikut:
1) Atrofoderma folikuler, yang ditandai oleh folikuler yang terbuka lebar, seperti
ice-pick marks, terutama pada ekstremitas.
2) Epitelioma sel basal kecil, multiple pada wajah, biasanya timbul pertama kali
pada saat remaja atau awal dewasa. Namun kadang-kadang dapat juga timbul
pada masa akhir anak-anak.

5. Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksaan diagnostik yang biasa dilakukan pada penderita basalioma adalah :
a. Anamnesis, keluhan utama adalah adanya benjolan atau borok di kulit
terutama di daerah terbuka seperti muka, lengan, dan kaki.
b. Pemeriksaan fisik, lesi terbanyak di daerah muka, tungkai, lengan, berupa
nodul atau ulkus iduratif, pinggir dan dasar ulkus teratur dan kotor.
c. Evaluasi histologis
d. Biopsi, sebelum dilakukan terapi selalu dilakukan biopsi untuk konfirmasi
histopatologi sebelum terapi. Tumor yang berukuran kecil dapat dilakukan biopsi
eksisi, sedang ukuran besar biasanya biopsi insisi.

6. Penatalaksanaan

Dalam memilih metode pengobatan yang tepat untuk karsinoma sel basal
( basalioma) perlu diperhatikan beberapa faktor berikut:
a. Faktor penderita
Keadaan umum dan usia penderita.
Sosio-ekonomi penderita.
b. Faktor tumor
Lokasi dan hubungannya dengan jaringan sekitarnya (perlekatan dengan tulang
rawan, tulang, daerah mata, bibir).
Ukuran tumor.
Jenis histology.
Riwayat tumor (rekurensi, pengobatan sebelumnya).
Terjadinya metastasis.
c. Faktor fasilitas
Peralatan yang ada.
Pengalaman dan keahlian dokter yang mengobati.
d. Faktor metode yang akan digunakan.
Mempertimbangkan kemungkinan komplikasi yang terjadi, terutama daerah
wajah.
Memilih metode yang telah dikuasai dengan angka kesembuhan yang tinggi.
Adapun berbagai jenis penatalaksanaan untuk karsinoma sel basal itu antara
lain:
a. Kuretase dan Elektrodesikasi
Biasanya kanker diangkat melalui pengorekan lalu dibakar dengan jarum listrik
atau dipotong dengan pisau bedah. Sebelumnya diberikan suntukan anestesi.
b. Bedah Eksisi
Tujuan utamanya adalah untuk mengangkat keseluruhan tumor. Ukuran insisi
tergantung pada ukuran dan lokasi tumor.

c. Radioterapi
Terapi ini hanya di kerjakan pada pasien yang berusia lanjut karena perubahan
akibat sinar x dapat terlihat sesudah 5-10 tahun kemudian dan perubahan

malignan pada sikatriks dapat timbulkan oleh sinar x setelah 15-30 tahun
kemudian.

d. Bedah beku
Bedah beku menghancurkan tumor dengan cara dreep freezing, yaitu dengan
cara jaringan tumor di beku dinginkan,dibiarkan melunak dan kemudian di beku
dinginkan kembali kemudian mengalami gelatinisasi dan sembuh spontan.
e. Bedah mikrografik Mohs
Merupakan metode pembedahan untuk mengangkat lesi kulit yang malignan.
Metode ini paling akurat dan menyelamatkan jaringan normal.
f. Beberapa cara pengobatan baru meliputi 5 fluorourasil yang dikombinasikan
dengan kuretase ringan, retinoat, interferon,terapi fotodinamik.

7. Komplikasi
Adapun komplikasi yang dapat di timbulkan dari penyakit kanker kulit ini yaitu:
a. Akibat pembedahan dan terapi radiasi:
Jaringan yang di buat tergores/ terluka.
Perubahan warna kulit.
Timbulnya perubahan pada kulit dari alat-alat kosmetik.
Luka kulit yang kronis.
Keterbatasan anggota badan jika pengobatan luas.
b. Akibat kemoterapi dan bioterapi:
mual dan muntah.
syndrome flulike.
mielosupresi.
paresthesia
fibrosis pulmonary.
hipersensivitas.
alopesia.
reaksi alergi.

c. Umum:
Timbulnya perubahan pada kulit dari alat-alat kosmetik dan citra tubuh.
Kehilangan fungsi pada ekstremitas.
Perlukaan dan perubahan warna kulit.
Proses hasil metastase penyakit pada paengobatan invasif dan potensial
kematian terakhir.

8. Pencegahan
Untuk mencegah kekambuhan, hindari hal-hal yang dapat menimbulkan penyakit
basalioma, antara lain:
Lindungi kulit dari cahaya matahari dengan menggunakan topi, kemeja lengan
panjang, celana panjang atau rok panjang.
Sinar matahari yang paling kuat adalah pada tengah hari, karena itu sebaiknya
hindari sinar matahari pada tengah hari.
Gunakan tabir surya berkualitas tinggi, minimal dengan SPF ( Solar Protection
Factor)15, yang menghambat sinar UV( Ultra Violet) A dan UV ( Ultra Violet) B.
Oleskan tabir surya minimal setengah jam sebelum bepergian dan oleskan
sesering mungkin.
Periksalah kulit secara teratur untuk mengetahui adanya berbagai perubahan
yang mengarah kepada keganasan (pertumbuhan baru di kulit yang membentuk
tukak, mudah berdarah, sukar sembuh, berubah warna, ukuran, struktur, terasa
nyeri, meradang atau gatal).

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

A.Pengkajian
1. Data Dasar
a. Identitas
Kajian ini meliputi nama, inisial, umur, jenis kelamin, agama, suku, pendidikan,
pekerjaan yang terpapar sinar matahari misalnya: petani,buruh bangunan dan
lain-lain dan tempat tinggal klien. Selain itu perlu juga dikaji nama dan alamat
penanggung jawab serta hubungannya dengan klien.

b. Riwayat penyakit dahulu


Berupa penyakit dahulu yang pernah diderita yang berhubungan dengan keluhan
sekarang.
c. Riwayat penyakit sekarang
Meliputi alasan masuk rumah sakit, kaji keluhan klien, kapan mulai tanda dan
gejala. Faktor yang mempengaruhi, apakah ada upaya-upaya yang dilakukan.
d. Riwayat kesehatan keluarga
Terdapat anggota keluarga yang menderita penyakit basalioma atau kanker
(Engram, 1998).
e.Riwayat pemakaian obat-obatan dan kosmetik
Kajian ini meliputi pemakaian obat-obatan yang terjual bebas dan pemakaian
kosmetik yang salah.
f. Data biologis
1). Pola nutrisi : klien mengalami anoreksia, dan ketidakmampuan untuk makan.
2). Pola minum : Masukan cairan klien adekuat, pasca operasi, klien puasa total
24 jam (Doenges, et, al, 2002).
3). Pola eliminasi : Terjadi konstipasi dan berkemih tergantung masukan cairan
(Brunner & Suddarth, 2002).
4). Pola istirahat dan tidur : Tidak dapat tidur dalam posisi baring rata pasca
operasi (Doenges, et, al, 1999).
5). Pola kebersihan : Penurunan kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari
disebabkan pasca operasi.
6). Pola aktivitas : Keletihan melakukan aktivitas sehari-hari (Brunner and
Suddarth, 2000).

g. Data Psikologis
1). Status emosi
2). Klien dapat merasa terganggu dan malu dengan kondisi yang dialaminya atau
tidak (Brunner and Suddarth, 2002).
3). Gaya komunikasi : kesulitan berbicara dalam kalimat panjang/perkataan yang
lebih dari 4 atau 5 sekaligus (Doenges, et, al, 1999).
4). Pola interaksi : tidak ada sistem pendukung, pasangan, keluarga, orang
terdekat. Keterbatasn hubunan dengan orang lain, keluarga atau tidak (Doenges,
et, al, 1999).

5). Pola koping : Klien marah, cemas, menarik diri atau menyangkal.
h. Data sosial
1). Pendidikan dan pekerjaan : tingkat pengetahuan tentang operasi minim.
2). Hubungan social : kurang harmonisnya hubunan sosial merupakan stressor
emosional pernafasan tidak teratur (Brunner & Suddarth, 2002).
3). Gaya hidup : kebiasan merokok, minum minuman berakohol, sering
bergadang (Brunner & Suddarth, 2002).
i. Data spiritual
Keterbatasan melakukan kegiatan spiritual (Brunner & Suddarth, 2002).

2. Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan umum lemah
b. Kesadaran composmentis sampai koma, tergantung tingkat efek pembedahan
dan anestesi.
c. Tanda-tanda vital meningkat disebabkan adanya infeksi.
d. Kepala, leher, axilla : ekspresi wajah meringis, takut.
e. Hidung : pernafasan cuping hidung
f. Dada : berpengaruh apabila tingkatan infeksi tinggi akan mempengaruhi
pernafasan cepat sampai retraksi.
g. Ekstremitas : ekstremitas berkeringat
(Brunner & Suddarth, 2002)

B. Diagnosa Keperawatan
1. Diagnosa keperawatan pre-operatif
a. Ansietas berhubungan dengan perubahan pada status kesehatan, kematian,
nyeri.
b. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan kecacatan karena penyakit atau
penanganan kanker kulit seperti reseksi pembedahan, agen kemoterapi topical,
dan atau terapi radiasi
c. Kurang pengetahuan berhubungan dengan penanganan kanker kulit seperti
pembedahan dan kemoterapi topical.
2. Diagnosa keperawatan post-operatif

a. Nyeri akut berhubungan dengan eksisi pembedahan.


b. Kerusakan integritas kulit/jaringan berhubungan dengan eksisi.
c. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan luka post operasi.

C.Intervensi Keperawatan
1.Diagnose keperawatan pre operatif
a. Ansietas berhubungan dengan perubahan pada status kesehatan, kematian,
nyeri
Tujuan : klien dan keluarga tidak cemas lagi.
Kriteria evaluasi :rasa takut dan cemas berkurang sampai hilang.
Intervensi :
1) .Kaji status mental termasuk ketakutan pada kejadian isi pikir.
Rasional :pada awal pasien dapat menyangkal dan represi untuk menurunkan
dan menyaring informasi keseluruhan.(Doenges, 2000).
2). Jelaskan informasi tentang prosedur perawatan.
R:pengetahuan apa yang diharapkan menurunkan
3). Bantu kelurga untuk mengekspresikan rasa cemas dan takut.
Rasional :keluarga mungkin bermasalah dengan kondisi pasien atau merasa
bersalah.(Doenges, 2000).

b. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan kecacatan karena penyakit atau


penanganan kanker kulit seperti reseksi pembedahan, agen kemoterapi topical,
dan atau terapi radiasi.
Tujuan: klien bisa menerima keadaannya.
Criteria evaluasi: mendiskusikan strategi untuk mengatasi perubahan pada citra
tubuh.
Intervensi :
1). Kaji pengetahuan pasien trehadap adanya potensi kecacatan yang
berhubungan dengan pembedahan dan atau perubahan kulit.
R: memberikan informasi untuk menformulasikan perencanaan.
2). Pantau kemampuan pasien untuk melihat perubahan bentuk dirinya.

R: ketidakmampuan untuk melihat bagian tubunhya yang terkena mungkin


mengindikasikan kesulitan dalam kopping.
3). Dorong pasien untuk mendiskusikan perasaan mengenai perubahan
penampilan dari pembedahan.
R: memberikan jalan untuk mengekspesikan emosinya.
4). Berikan kelompok pendukung untuk orang terdekat.
R: meningkatkan perasaan dan memungkinkan respons yang lebih membantu
pasien.

c. Kurang pengetahuan berhubungan dengan penanganan kanker kulit seperti


pembedahan dan kemoterapi topical.
Tujuan : klien bisa mengetahui penanganannya.
Kriteria hasil : menyatakan tindakan perawatan diri untuk menurunkan insiden
dan bertambah beratnya gejala yang berhubungan dengan pengobatan.
Intervensi :
1). Beritahu kapan pembedahan/terapi radiasi akan dilakukan.
R: memberikan informasi yang diperlukan.
2). Jelaskan tujuan dari penanganan
R: meningkatkan pemahaman terhadap pengobatan.
3). Ajarkan untuk menggunakan kemoterapi topical.
R: meningkatkan perawatan diri sendiri
4). Beritahu kemungkinan efek samping dari pemberian obat topical seperti iritasi
kulit dan pemakaian yang tidak tepat mungkin dapat menyebabkan kulit
terkelupas atau melepuh.
R: Meningkatkan keamanan dari pemberian obat topical tanpa adnya komplikasi.
5). Beritahu adanya efek samping dari terapi radiasi dan tindakan keperawatan
diri untuk mengatasinya.
R : meningkatkan perawatan diri.

2. Diagnosa keperawatan post-operatif.


a. Nyeri akut berhubungan dengan eksisi pembedahan.
Tujuan : nyeri berkurang sampai hilang.

Kriteria evaluasi :Klien akan melaporkan penurunan rasa nyeri dan peningkatan
aktivitas setiap hari. Luka eksisi bedah sembuh setelah post operasi tanpa
komplikasi.
Intervensi :
1). Observasi skala nyeri, lama intensitas nyeri.
Rasional :Membantu dalam mengidentifikasi derajat nyeri kebutuhan untuk
analgesik (Doenges, 1999).
2). Berikan posisi yang nyaman tidak memperberat nyeri.
Rasional:Mengurangi tekanan pada insisi, meningkatkan relaksasi dalam istirahat
(Doenges, 1999).
3). Beri obat analgesik (diazepam, paracetamol) sesuai terapi medik.
Rasional:Membantu mengurangi nyeri untuk meningkatkan kerjasama dengan
aturan terapeutik (Brunner and Suddarth, 2001).

b. Kerusakan integritas kulit/jaringan berhubungan dengan eksisi pembedahan.


Tujuan : meningkatkan penyembuhan luka tepat waktu dan bebas tanda infeksi.
Kriteria evaluasi : luka bersih tidak tanda-tanda infeksi.
Intevensi :
1). Observasi luka, catat karakteristik drainase.
Rasional:Perdarahan pasca operasi paling sering terjadi selama 48 jam pertama,
dimana infeksi dapat terjadi kapan saja. Tergantung pada tipe penutupan luka
(misal penyembuhan pertama atau kedua), penyembuhan sempurna
memerlukan waktu 6-8 bulan (Doenges, 1999).
2). Ganti balutan sesuai kebutuhan, gunakan tehnik steril.
Rasional:Sejumlah besar cairan pada balutan luka operasi , menuntut pergantian
dengan sering menurunkan iritasi kulit dan potensial infeksi (Doenges, 1999).
3) .Bersihkan luka sesuai indikasi, gunakan cairan isotonic Normal Saline 0,9 %
atau larutan antibiotik.
Rasional:Diberikan untuk mengobati inflamasi atau infeksi post operasi atau
kontaminasi interpersonal (Doenges, 1999).

c. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan luka post operasi.

Tujuan : meningkatkan waktu penyembuhan dengan tepat, bebas dari infeksi


serta tidak ada tanda demam.
Kriteria evaluasi : pertahankan lingkungan aseptik
Intervensi :
1). Perhatikan kemerahan disekitar luka operasi.
Rasional:Kemerahan paling umum disebabkan masuknya infeksi ke dalam tubuh
di area insisi (Doenges, 1999).
2). Ganti balutan sesuai indikasi.
Rasional:Balutan basah bertindak sebagai sumbu untuk media untuk
pertumbuhan bakterial.
3). Awasi tanda-tanda vital.
Rasional:Peningkatan suhu menunjukkan komplikasi insisi (Doenges, 1999).
D. Evaluasi
1. Pasien tidak cemas lagi.
2. Pengetahuan klien bertambah.
3. Nyeri akut berkurang.
4. Kerusakan integritas kulit dapat sembuh.
5. Resiko tinggi infeksi tidak terjadi

About these ads

Share this:
TwitterFacebook

Terkait
Makalah Herpes Simpleks Dan Tinea
dalam "Makalah Keperawatan"
Makalah kanker Servik
dalam "Makalah Keperawatan"
Makalah Sirosis Hepatis

dalam "Makalah Keperawatan"


September 9, 2012Leave a reply
Sebelumnya
Berikutnya
Berikan Balasan
Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *
Nama *
Surel *
Situs web
Komentar

Beri tahu saya komentar baru melalui email.

Blog Stats

74,119 hits
Makalah Keperawatan
Makalah Konsep Nyeri November 1, 2012
Makalah Hernia Oktober 23, 2012
Makalah Trauma Thorak Oktober 23, 2012
Makalah Gagal Ginjal Akut Oktober 12, 2012
Makalah Gagal Ginjal Kronik (GGK) Oktober 11, 2012
Makalah Cedera Kepala September 26, 2012
Makalah Katarak Dan Glaukoma September 19, 2012
Makalah ISPA September 19, 2012
Makalah Gastritis September 19, 2012
Makalah Basalioma September 9, 2012
Makalah Dislokasi Juli 31, 2012

Makalah Amputasi Juli 31, 2012


Makalah Fraktur Juli 31, 2012
Makalah TBC Juli 26, 2012
Makalah Trauma Kepala (Cedera Kepala) Juli 26, 2012
Makalah Sirosis Hepatis Juli 24, 2012
Makalah kanker Servik Juli 24, 2012
Makalah Kanker Paru-Paru Juli 24, 2012
Makalah Pneumonia Juli 22, 2012
Makalah Herpes Simpleks Dan Tinea Juni 25, 2012
Makalah Keperawatan Jiwa halusinasi pendengaran Juni 25, 2012
Makalah Autisme Juni 25, 2012
Makalah Diare Pada Anak Juni 25, 2012
Makalah Sindrom Nefrotik Pada Anak Juni 25, 2012
Makalah Aterosklerosis Juni 25, 2012
Makalah Infark Miokard Akut Juni 23, 2012
Makalah Miokarditis Juni 23, 2012
Makalah Poliomyelitis Juni 23, 2012
Makalah Epilepsi Juni 23, 2012
Makalah Stroke Juni 23, 2012
Arsip

November 2012
Oktober 2012
September 2012
Juli 2012
Juni 2012
Kategori

Makalah Keperawatan
Nursing Student

SEPTEMBER 2012
S

Jul

Okt
1

10

11

12

13

14

15

16

17

18

19

20

21

22

23

24

25

26

27

28

29

30

View Full Site

Blog di WordPress.com.

Now Available! Download WordPress for Android