Anda di halaman 1dari 191

UNDANG UNDANG KEHUTANAN

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS PADJADJARAN
BANDUNG
2014

Oleh:

Undang Undang No. 5 Tahun 1990


Tentang : Konservasi Sumberdaya Alam Hayati
Dan Ekosistemnya

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA


Presiden Republik Indonesia,
Menimbang:
a.

bahwa sumber daya alam hayati Indonesia dan ekosistemnya yang mempunyai
kedudukan serta peranan penting bagi kehidupan adalah karunia Tuhan Yang Maha
Esa, oleh karena itu perlu dikelola dan dimanfaatkan secara lestari, selaras, serasi dan
seimbang bagi kesejahteraan masyarakat Indonesia pada khususnya dan umat
manusia pada umumnya, baik masa kini maupun masa depan;

b.

bahwa pembangunan sumber daya alam hayati dan ekosistemnya pada hakikatnya
adalah bagian integral dari pembangunan nasional yang berkelanjutan sebagai
pengamalan Pancasila;

c.

bahwa unsur-unsur sumber daya alam hayati dan ekosistemnya pada dasarnya saling
tergantung antara satu dengan yang lainnya dan saling mempengaruhi sehingga
kerusakan dan kepunahan salah satu unsur akan berakibat terganggunya ekosistem;

d.

bahwa untuk menjaga agar pemanfaatan sumber daya alam hayati dapat
berlangsung dengan cara sebaik-baiknya, maka diperlukan langkah-langkah
konservasi schingga sumber daya alam hayati dan ekosistemnya selalu terpelihara
dan mampu mewujudkan keseimbangan serta melekat dengan pembangunan itu
sendiri;

e.

bahwa peraturan perundang-undangan yang ada dan masih berlaku merupakan


produk hukum warisan pemerintah kolonial yang bersifat parsial, sehingga perlu
dicabut karena sudah tidak sesuai dengan perkembangan hukum dan kepentingan
nasional;

f.

bahwa peraturan perundang-undangan produk hukum nasional yang ada belum


menampung dan mengatur secara menyeluruh mengenai konservasi sumber daya
alam hayati dan ekosistemnya;

g.

bahwa sehubungan dengan hal-hal di atas, dipandang perlu menetapkan ketentuan


mengenai konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya dalam suatu
Undang-undang;

Mengingat:
1.
Pasal 5 ayat (1), Pasal 20 ayat (1), dan Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945;
2.

Undang-undang Nomor 5 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok


Kehutanan (Lembaran Negara Tahun 1967 Nomor 8, Tambahan Lembaran Negara
Nomor 2823);

3.

Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok


Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1982 Nomor 12,
Tambahan Lembaran Negara Nomor 3215);

4.

Undang-undang Nomor 20 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok


Pertahanan Keamanan Negara Republik Indonesia (Lembaran Negara Tahun 1982
Nomor 51, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3234) sebagaimana telah diubah
dengan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1988 (Lembaran Negara Tahun 1988
Nomor 3, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3368);

5.

Undang-undang Nomor 9 Tahun 1985 tentang Perikanan (Lembaran Negara


Tahun 1985 Nomor 46, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3299);
Dengan persetujuan
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

MEMUTUSKAN:
Menetapkan:
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG KONSERVASI SUMBER
DAYA ALAM HAYATI DAN EKOSISTEMNYA.
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam Undang-undang ini yang dimaksud dengan:
a.
Sumber daya alam hayati adalah unsur-unsur hayati di alam yang
terdiri dari sumber daya alam nabati (tumbuhan) dan sumber
daya alam hewani
(satwa) yang bersama dengan unsur nonhayati di sekitarnya secara keseluruhan
membentuk ekosistem.
b.
Konservasi sumber daya alam hayati adalah pengelolaan sumber
daya alam hayati yang pemanfaatannya dilakukan secara bijaksana
untuk menjamin kesinambungan persediaannya dengan tetap
memelihara dan meningkatkan kualitas keanekaragaman dan
nilainya.
c.
Ekosistem sumber daya alam hayati adalah sistem hubungan
timbal balik antara unsur dalam alam, baik hayati maupun
nonhayati yang saling tergantung dan pengaruh mempengaruhi.
d.
Tumbuhan adalah semua jenis sumber daya alam nabati, baik
yang hidup di darat maupun di air.
e.
Satwa adalah semua jenis sumber daya alam hewani yang hidup
di darat dan/atau di air, dan/atau di udara.
f.
Tumbuhan liar adalah tumbuhan yang hidup di alam bebas
dan/atau dipelihara, yang masih mempunyai kemurnian jenisnya.
g.
Satwa liar adalah semua binatang yang hidup di darat, dan/atau di air,

h.

dan/atau di udara yang masih mempunyai sifat-sifat liar, baik yang


hidup bebas maupun yang dipelihara oleh manusia.
Habitat adalah lingkungan tempat tumbuhan atau satwa dapat
hidup dan berkembang secara alami.

i.

13.

14.
15.

16.

Kawasan suaka alam adalah kawasan dengan ciri khas tertentu,


baik di darat maupun di perairan yang mempunyai fungsi pokok
sebagai kawasan pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan
satwa serta ekosistemnya yang juga berfungsi sebagai wilayah
sistem penyangga kehidupan.
j.
Cagar alam adalah kawasan suaka alam yang karena keadaan
alamnya mempunyai kekhasan tumbuhan, satwa, dan
ekosistemnya atau ekosistem tertentu yang perlu dilindungi dan
perkembangannya berlangsung secara alami.
k.
Suaka margasatwa adalah kawasan suaka alam yang mempunyai
ciri khas berupa keanekaragaman dan/atau keunikan jenis satwa
yang untuk kelangsungan hidupnya dapat dilakukan pembinaan
terhadap habitatnya.
l.
Cagar biosfer adalah suatu kawasan yang terdiri dari ekosistem
asli, ekosistem unik, dan/atau ekosistem yang telah mengalami
degradasi yang keseluruhan unsur alamnya dilindungi dan
dilestarikan bagi kepentingan penelitian dan pendidikan.
Kawasan pelestarian alam adalah kawasan dengan ciri khas tertentu, baik di darat
maupun di perairan yang mempunyai fungsi perlindungan sistem penyangga
kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa, serta
pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.
Taman nasional adalah kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem
asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian,
ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata, dan rekreasi.
Taman hutan raya adalah kawasan pelestarian alam untuk tujuan koleksi tumbuhan
dan/atau satwa yang alami atau buatan, jenis asli dan atau bukan asli, yang
dimanfaatkan bagi kepentingan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan,
menunjang budidaya, budaya, pariwisata, dan rekreasi.
Taman wisata alam adalah kawasan pelestarian alam yang terutama dimanfaatkan
untuk pariwisata dan rekreasi alam.
Pasal 2

Konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya berasaskan pelestarian


kemampuan dan pemanfaatan sumber daya alam hayati dalam ekosistemnya secara serasi
dan seimbang.
Pasal 3
Konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya bertujuan mengusahakan
terwujudnya kelestarian sumber daya alam hayati serta keseimbangan ekosistemnya
sehingga dapat lebih mendukung upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat dan
mutu kehidupan manusia.
Pasal 4
Konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya merupakan tanggung jawab dan
kewajiban Pemerintah serta masyarakat.
Pasal 5
Konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya dilakukan melalui kegiatan :

a.
b.
c.

perlindungan sistem penyangga kehidupan;


pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta
ekosistemnya;
pemanfaatan secara lestari sumber daya alami hayati dan
ekosistemnya.

BAB II
PERLINDUNGAN SISTEM PENYANGGA KEHIDUPAN
Pasal 6
Sistem penyangga kehidupan merupakan satu proses alami dari berbagai unsur hayati dan
nonhayati yang menjamin kelangsungan kehidupan makhluk.
Pasal 7
Perlindungan sistem penyangga kehidupan ditujukan bagi terpeliharanya proses ekologis
yang menunjang kelangsungan kehidupan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat
dan mutu kehidupan manusia.
Pasal 8
(1)

Untuk mewujudkan tujuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7, Pemerintah


menetapkan :
a.
wilayah tertentu sebagai wilayah perlindungan sistem penyangga
kehidupan;
b.
pola dasar pembinaan wilayah perlindungan sistem penyangga kehidupan;
c.
pengaturan cara pemanfaatan wilayah perlindungan sistem penyangga
kehidupan.

(2)

Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur dengan
Peraturan Pemerintah.
Pasal 9

(1)

Setiap pemegang hak atas tanah dan hak pengusahaan di perairan dalam wilayah
sistem penyangga kehidupan wajib menjaga kelangsungan fungsi perlindungan
wilayah tersebut.

(3)

Dalam rangka pelaksanaan perlindungan sistem penyangga kehidupan,


Pemerintah mengatur serta melakukan tindakan penertiban terhadap penggunaan
dan pengelolaan tanah dan hak pengusahaan di perairan yang terletak dalam
wilayah perlindungan sistem penyangga kehidupan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 8. Tindakan penertiban sebagaimana dimaksud dalam ayat (2)
dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Pasal 10

Wilayah sistem penyangga kehidupan yang mengalami kerusakan secara alami dan/atau oleh
karena peinanfaatannya serta oleh sebab-sebab lainnya diikuti dengan upaya rehabilitasi
secara berencana dan berkesinambungan.

BAB III
PENGAWETAN KEANEKARAGAMAN JENIS TUMBUHAN
DAN SATWA BESERTA EKOSISTEMNYA
Pasal 11
Pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya, dilaksanakan
melalui kegiatan :
a.
pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa beserta
ekosistemnya;
b.
pengawetan jenis tumbuhan dan satwa.
Pasal 12
Pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya, dilaksanakan
dengan menjaga keutuhan kawasan suaka alam agar tetap dalam keadaan asli.
Pasal 13
(1)

Pengawetan jenis tumbuhan dan satwa dilaksanakan di dalam dan di luar kawasan
suaka alam.

(2)

Pengawetan jenis tumbuhan dan satwa di dalam kawasan suaka alam dilakukan
dengan membiarkan agar populasi semua jenis tumbuhan dan satwa tetap seimbang
menurut proses alami di habitatnya.

(3)

Pengawetan jenis tumbuhan dan satwa di luar kawasan suaka alam dilakukan dengan
menjaga dan mengembangbiakkan jenis tumbuhan dan satwa untuk menghindari
bahaya kepunahan.
BAB IV
KAWASAN SUAKA ALAM
Pasal 14

Kawasan suaka alam sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 terdiri dari:


a.
cagar alam;
b.
suaka margasatwa.
Pasal 15
Kawasan suaka alam selain mempunyai fungsi pokok sebagai kawasan pengawetan
keanekaragaman tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya, juga berfungsi sebagai
wilayah perlindungan sistem penyangga kehidupan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8
ayat (1).

Pasal 16
(1)

Pengelolaan kawasan suaka alam dilaksanakan oleh Pemerintah sebagai upaya


pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya.

(2)

Ketentuan lebih lanjut yang diperlukan bagi penetapan dan pemanfaatan


suatu wilayah sebagai kawasan suaka alam dan penetapan wilayah yang
berbatasan dengannya sebagai daerah penyangga diatur dengan Peraturan
Pemerintah.
Pasal 17

(1)

Di dalam cagar alam dapat dilakukan kegiatan untuk kepentingan penelitian dan
pengembangan, ilmu pengetahuan, pendidikan, dan kegiatan lainnya yang
menunjang budidaya.

(2)

Di dalam suaka margasatwa dapat dilakukan kegiatan untuk kepentingan


penelitian dan pengembangan, ilmu pengetahuan, pendidikan, wisata terbatas,
dan kegiatan lainnya yang menunjang budidaya.

(3)

Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat
(2) diatur dengan Peraturan Pemeritah.
Pasal 18

(1)

Dalam rangka kerja saina konservasi internasional, khususnya dalam kegiatan


sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17, kawasan suaka alam dan kawasan tertentu
lainnya dapat ditetapkan sebagai cagar biosfer.

(2)

Penetapan suatu kawasan suaka alam dan kawasan tertentu lainnya sebagai cagai
biosfer diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.
Pasal 19

(1)

Setiap orang dilarang melakukatn kegiatan yang dapat mengakibatkan perubahan


terhadap keutuhan kawasan suaka alam.

(2)

Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat ( 1) tidak termasuk kegiatan


pembinaan Habitat untuk kepentingan satwa di dalam suaka marga satwa.

(3)

Perubahan terhadap keutuhan kawasan suaka alam sebagaimana dimaksud dalam


ayat (1) meliputi mengurangi, menghilangkan fungsi dan luas kawasan suaka alam,
serta menambah jenis tumbuhan dan satwa lain yang tidak asli.

BAB V
PENGAWETAN JENIS TUMBUHAN DAN SATWA
Pasal 20
(1)

Tumbuhan dan satwa digolongkan dalam jenis:


a.
tumbuhan dan satwa yang dilindungi;
b.
tumbuhan dan satwa yang tidak dilindungi.

(2)

Jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi sebagaimana dimaksud dalam ayat
(1) digolongkan dalam :
a.
tumbuhan dan satwa dalam bahaya kepunahan;
b.
tumbuhan dan satwa yang populasinya jarang.

(3)

Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) diatur dengan
Peraturan Pemerintah.

Pasal 21
1)

Setiap orang dilarang untuk :


a.
mengambil, menebang, memiliki, merusak, memusnahkan, memelihara,
mengangkut, dan memperniagakan tumbuhan yang dilindungi atau
bagian-bagiannya dalam keadaan hidup atau mati;
b.
mengeluarkan tumbuhan yang dilindungi atau bagian-bagiannya dalam
keadaan hidup atau mati dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di
dalam atau di luar Indonesia.

(2)

Setiap orang dilarang untuk :


a.
menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara,
mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam
keadaan hidup;
b.
menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan meperniagakan
satwa yang dilindungi dalam keadaan mati;
c.
mengeluarkan satwa yang dilindungi dari suatu tempat di Indonesia
ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia;
d.
memperniagakan, menyimpan atau memiliki kulit, tubuh atau bagian-bagian
lain satwa yang dilindungi atau barang-barang yang dibuat dari bagianbagian satwa tersebut atau mengeluarkannya dari suatu tempat di Indonesia
ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia;
e.
mengambil, merusak, memusnahkan, memperniagakan, menyimpan
atau memiliki telur dan/atau sarang satwa yang dilindungi.

Pasal 22
(1)

Pengecualian dari larangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 hanya dapat


dilakukan untuk keperluan penelitian, ilmu pengetahuan, dan/atau penyelamatan
jenis tumbuhan dan satwa yang bersangkutan.

(2)

Termasuk dalam penyelamatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) adalah


pemberian atau penukaran jenis tumbuhan dan satwa kepada pihak lain di luar negeri
dengan izin Pemerintah.

(3)

Pengecualian dari larangan menangkap, melukai, dan membunuh satwa yang


dilindungi dapat pula dilakukan dalam hal oleh karena suatu sebab satwa yang
dilindungi membahayakan kehidupan manusia.

(4)

Ketentuan lebih lanjut sebagaimana diinaksud dalam ayat (1), ayat (2), dan ayat
(3) diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Pasal 23
(1)

Apabila diperlukan, dapat dilakukan pemasukan tumbuhan dan satwa liar dari luar
negeri ke dalam wilayah Negara Republik Indonesia.

(2)

Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur dengan
Peraturan Pemerintah.
Pasal 24

(1)

Apabila terjadi pelanggaran terhadap larangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal


21, tumbuhan dan satwa tersebut dirampas untuk negara.

(2)

Jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi atau bagian-bagiannya yang dirampas
untuk negara dikembalikan ke habitatnya atau diserahkan kepada lembagalembaga yang bergerak di bidang konservasi tumbuhan dari satwa, kecuali
apabila keadaannya sudah tidak memungkinkan untuk dimanfaatkan sehingga
dinilai lebih baik dimusnahkan.
Pasal 25

(1)

Pengawasan jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi hanya dapat dilakukan
dalam bentuk pemeliharaan atau pengembangbiakan oleh lembaga-lembaga yang
dibentuk untuk itu.

(2)

Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur dengan
Peraturan Pemerintah.

BAB VI
PEMANFAATAN SECARA LESTARI
SUMBER DAYA ALAM HAYATI DAN EKOSISTEMNYA
Pasal 26
Pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya dilakukan
melalui kegiatan :
a.
pemanfaatan kondisi lingkungan kawasan pelestarian alam;
b.
pemanfaatan jenis tumbuhan dan satwa liar.
Pasal 27
Pemanfaatan kondisi lingkungan kawasan pelestarian alam dilakukan dengan tetap menjaga
kelestarian fungsi kawasan.
Pasal 28
Pemanfaatan jenis tumbuhan dan satwa liar dilakukan dengan memperhatikan
kelangsungan potensi, daya dukung, dan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa liar.
BAB VII
KAWASAN PELESTARIAN ALAM
Pasal 29
(1)

Kawasan pelestarian alam sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 13


terdiri dari :
a.
taman nasional;
b.
taman hutan raya;
c.
taman wisata alam.

(2)

Ketentuan lebih lanjut mengenai penetapan suatu wilayah sebagai kawasan


pelestarian alam dan penetapan wilayah yang berbatasan dengannya sebagai
daerah penyangga diatur dengan Peraturan Pemerintah.
Pasal 30

Kawasan pelestarian alam mempunyai fungsi perlindungan sistem penyangga kehidupan,


pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa, serta pemanfaatan secara lestari
sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.
Pasal 31
(1)

Di dalam taman nasional, taman hutan raya, dan taman wisata alam dapat
dilakukan kegiatan untuk kepentingan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan,
menunjang budidaya, budaya, dan wisata alam.

(2)

Kegiatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus dilakukan tanpa


mengurangi fungsi pokok masing-masing kawasan.

Pasal 32
Kawasan taman nasional dikelola dengan sistem zonasi yang terdiri dari zona inti, zona
pemanfaatan, dan zona lain sesuai dengan keperluan.
Pasal 33
(1)

Setiap orang dilarang melakukan kegiatan yang dapat mengakibatkan perubahan


terhadap keutuhan zona inti taman nasional.

(2)

Perubahan terhadap keutuhan zona inti taman nasional sebagaimana dimaksud


dalam ayat (1) meliputi mengurangi, menghilangkan fungsi dan luas zona inti
taman nasional, serta menambah jenis tumbuhan dan satwa lain yang tidak asli.

(3)

Setiap orang dilarang melakukan kegiatan yang tidak sesuai dengan fungsi zona
pemanfaatan dan zona lain dari taman nasional, taman hutan raya, dan taman
wisata alam.
Pasal 34

(1)

Pengelolaan taman nasional, taman hutan raya, dan taman wisata alam
dilaksanakan oleh Pemerintah.

(2)

Di dalam zona pemanfaatan taman nasional, taman hutan raya, dan taman wisata
alam dapat dibangun sarana kepariwisataan berdasarkan rencana pengelolaan.

(3)

Untuk kegiatan kepariwisataan dan rekreasi, Pemerintah dapat


memberikan hak pengusahaan atas zona pemanfaatan taman nasional,
taman hutan raya, dan taman wisata alam dengan mengikutsertakan rakyat.

(4)

Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), ayat (2),dan ayat
(3) diatur dengan Peraturan Pemerintah.
Pasal 35

Dalam keadaan tertentu dan sangat diperlukan untuk mempertahankan atau memulihkan
kelestarian sumber daya alam hayati beserta ekosistemnya, Pemerintah dapat menghentikan
kegiatan pemanfaatan dan menutup taman nasional, taman hutan raya, dan taman wisata
alam sebagian atau seluruhnya untuk selama waktu tertentu.

BAB VIII
PEMANFAATAN JENIS TUMBUHAN DAN SATWA LIAR
Pasal 36
(1)

Pemanfaatan jenis tumbuhan dan satwa liar dapat dilaksanakan dalam bentuk :
a.
pengkajian, penelitian dan pengembangan;
b.
penangkaran;
c.
perburuan;
d.
perdagangan;
e.
peragaan;
f.
pertukaran;
g.
budidaya tanaman obat-obatan;
h.
pemeliharaan untuk kesenangan.

(2)

Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur dengan
Peraturan Pemerintah.

BAB IX
PERAN SERTA RAKYAT
Pasal 37
(1)

Peranserta rakyat dalam konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya
diarahkan dan digerakkan oleh Pemerintah melalui berbagai kegiatan yang
berdaya guna dan berhasil guna.

(2)

Dalam mengembangkan peranserta rakyat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1),


Pemerintah menumbuhkan dan meningkatkan sadar konservasi sumber daya alam
hayati dan ekosistemnya di kalangan rakyat melalui pendidikan dan penyuluhan.

(3)

Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat
(2) diatur dengan Peraturan Pemerintah.

BAB X
PENYERAHAN URUSAN DAN TUGAS PEMBANTUAN
Pasal 38
(1)

Dalam rangka pelaksanaan konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya,


Pemerintah dapat menyerahkan sebagian urusan di bidang tersebut kepada
Pemerintah Daerah sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 5
Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah.

(2)

Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur dengan
Peraturan Pemerintah.

BAB XI
PENYIDIKAN
Pasal 39
(1)

Selain Pejabat Penyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia, juga pejabat


Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan departemen yang lingkup tugas dan
tanggung jawabnya meliputi pembinaan konservasi sumber daya alam hayati dan
ekosistemnva, diberi wewenang khusus sebagai penyidik sebagaimana dimaksud
dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana, untuk
melakukan penyidikan tindak pidana di bidang konservasi sumber daya alam hayati
dan ekosistemnya.

(2)

Kewenangan penyidik sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), tidak mengurangi


kewenangan penyidik sebagaimana diatur dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun
1983 tentang Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia dan Undang-undang Nomor 9
Tahun 1985 tentang Perikanan.
Penyidik sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), berwenang untuk:
a.
melakukan pemeriksaan atas kebenaran laporan atau keterangan
berkenaan dengan tindak pidana di bidang konservasi sumber daya
alam hayati dan ekosistemnya;
b.
melakukan pemeriksaan terhadap orang yang diduga melakukan tindak
pidana di bidang konservasi sumber daya alam hayati dan
ekosistemnya;
c.
memeriksa tanda pengenal seseorang yang berada dalam kawasan
suaka alam dan kawasan pelestarian alam;
d.
melakukan penggeledahan dan penyitaan barang bukti tindak pidana di
bidang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya;
e.
meminta keterangan dan bahan bukti dari orang atau badan sehubungan
dengan tindak pidana di bidang konservasi sumber daya alam hayati dan
ekosistemnya;
f.
membuat dan menandatangani berita acara;
g.
menghentikan penyidikan apabila tidak terdapat cukup bukti tentang adanya
tindak pidana di bidang konservasi sumber daya alam hayati dan
ekosistemnya.

(3)

(4)

Penyidik sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) memberitahukan dimulainya


penyidikan dan melaporkan hasil penyidikannya kepada Penuntut Umum melalui
Pejabat Penyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia sesuai dengan ketentuan
Pasal 107 Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana.

BAB XII
KETENTUAN PIDANA
Pasal 40
(1)

Barangsiapa dengan sengaja melakukan pelanggaran terhadap ketentuan


sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1) dan Pasal 33 ayat (1) dipidana
dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp
200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah).

(2)

Barangsiapa dengan sengaja melakukan pelanggaran terhadap ketentuan


sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (1) dan ayat
(2) serta Pasal 33 ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5
(lima) tahun dan denda paling banyak Rp 100.000.000,00(seratusjuta rupiah).

(3)

Barangsiapa karena kelalaiannya melakukan pelanggaran terhadap ketentuan


sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1) dan Pasal 32 ayat (1) dipidana
dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp.
100.000.000,00 (seratusjuta rupiah).

(4)

Barangsiapa karena kelalaiannya melakukan pelanggaran terhadap ketentuan


sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (1) dan ayat
(2) serta Pasal 33 ayat (3) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu)
tahun dan denda paling banyak Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah).

(5)

Tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) adalah
kejahatan dan tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dan ayat (4)
adalah pelanggaran.
BAB XIII
KETENTUAN PERALIHAN
Pasal 41

Hutan suaka alam dan taman wisata yang telah ditunjuk dan ditetapkan berdasarkan
peraturan perundang-undangan yang berlaku sebelum berlakunya Undang-undang ini
dianggap telah ditetapkan sebagai kawasan suaka alam dan taman wisata alam
berdasarkan Undang- undang ini.
Pasal 42
Semua peraturan pelaksanaan dari peraturan perundang-undangan di bidang konservasi
sumber daya alam hayati dan ekosistemnya yang telah ada sepanjang tidak bertentangan
dengan Undang-undang ini, tetap berlaku sampai dengan dikeluarkannya peraturan
pelaksanaan yang barti berdasarkan Undang-undang ini.

BAB XIV
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 43
Pada saat mulai berlakunya Undang-undang ini maka:
1.
Ordonansi Perburuan (Jachtordonnantie 1931 Staatsblad 1931 Nummer
133);
2.
Ordonansi Perlindungan Binatang-binatang Liar
(Dierenbeschermingsordonnantie 1931 Staatsblad 1931 Nummer 134);
3.
Ordonansi Perburuan Jawa dan Madura (Jachtcrdonnantie Java en Madoera
1940 Staatsblad 1939 Nummer 733);
4.
Ordonansi Perlindungan Alam (Natuurbeschermingsordonnantie 1941 Staatsblad
1941 Nummer 167);
dinyatakan tidak berlaku lagi.
Pasal 44
Undang-undang ini dapat disebut Undang-undang Konservasi Hayati.
Pasal 45
Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Undang-undang ini


dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.
Disahkan di Jakarta
pada tanggal 10 Agustus 1990
PRESIDEN REPUBLIK
INDONESIA
SOEHARTO
Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 10 Agustus 1990
MENTERI/SEKRETARIS
NEGARA REPUBLIK
INDONESIA
MOERDIONO

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA


NOMOR 41 TAHUN 1999
TENTANG
KEHUTANAN
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
a. Menimbang : bahwa hutan, sebagai karunia dan amanah Tuhan Yang Maha Esa
yang dianugerahkan kepada Bangsa Indonesia, merupakan kekayaan yang dikuasai
oleh Negara, memberikan manfaat serbaguna bagi umat manusia, karenanya wajib
disyukuri, diurus, dan dimanfaatkan secara optimal, serta dijaga kelestariannya
untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat, bagi generasi sekarang maupun generasi
mendatang;
b. bahwa hutan, sebagai salah satu penentu sistem penyangga kehidupan dan sumber
kemakmuran rakyat, cenderung menurun kondisinya, oleh karena itu keberadaannya
harus dipertahankan secara optimal, dijaga daya dukungnya secara lestari, dan diurus
dengan akhlak mulia, adil, arif, bijaksana, terbuka, profesional, serta bertanggunggugat;
c.

bahwa pengurusan hutan yang berkelanjutan dan berwawasan mendunia, harus


menampung dinamika aspirasi dan peran serta masyarakat, adat dan budaya, serta
tata nilai masyarakat yang berdasarkan pada norma hukum nasional;

d. bahwa Undang-undang Nomor 5 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok


Kehutanan (Lembaran Negara Tahun 1967 Nomor 8) sudah tidak sesuai lagi
dengan prinsip penguasaan dan pengurusan hutan, dan tuntutan perkembangan
keadaan, sehingga perlu diganti;
bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a, b, c, dan d
perlu ditetapkan undang-undang tentang Kehutanan yang baru
e.

bahwa hutan, sebagai karunia dan amanah Tuhan Yang Maha Esa yang
dianugerahkan kepada Bangsa Indonesia, merupakan kekayaan yang dikuasai oleh
Negara, memberikan manfaat serbaguna bagi umat manusia, karenanya wajib
disyukuri, diurus, dan dimanfaatkan secara optimal, serta dijaga kelestariannya untuk
sebesar-besar kemakmuran rakyat, bagi generasi sekarang maupun generasi
mendatang;

f.

bahwa hutan, sebagai salah satu penentu sistem penyangga kehidupan dan sumber
kemakmuran rakyat, cenderung menurun kondisinya, oleh karena itu keberadaannya
harus dipertahankan secara optimal, dijaga daya dukungnya secara lestari, dan diurus
dengan akhlak mulia, adil, arif, bijaksana, terbuka, profesional, serta bertanggunggugat;

g. bahwa pengurusan hutan yang berkelanjutan dan berwawasan mendunia, harus


menampung dinamika aspirasi dan peran serta masyarakat, adat dan budaya, serta
tata nilai masyarakat yang berdasarkan pada norma hukum nasional;
h. bahwa Undang-undang Nomor 5 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok
Kehutanan (Lembaran Negara Tahun 1967 Nomor 8) sudah tidak sesuai lagi
dengan prinsip penguasaan dan pengurusan hutan, dan tuntutan perkembangan

keadaan, sehingga perlu diganti;


i.

bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a, b, c, dan


d perlu ditetapkan undang-undang tentang Kehutanan yang baru.

Mengingat :
1. Pasal 5 ayat (1), Pasal 20 ayat (1), Pasal 27, dan Pasal 33 Undang-Undang Dasar
1945;
2. Ketetapan MPR RI Nomor XV/MPR/1998 tentang Penyelenggaraan Otonomi
Daerah; Pengaturan, Pembagian, dan Pemanfaatan Sumber Daya Nasional yang
Berkeadilan; serta Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah dalam Kerangka
Negara Kesatuan Republik Indonesia;
3. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria
(Lembaran Negara Tahun 1960 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Nomor
2034);
4. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam
Hayati dan Ekosistemnya (Lembaran Negara Tahun 1990 Nomor 49, Tambahan
Lembaran Negara Nomor 3419);
5. Undang-undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang (Lembaran
Negara Tahun 1992 Nomor 115, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3501);
6. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup
(Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Nomor
3699);
7. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah
(Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 60, Tambahan Lembaran Negara
Nomor 3839);

Dengan Persetujuan
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT
REPUBLIK INDONESIA,
MEMUTUSKAN :
Menetapkan :
UNDANG-UNDANG TENTANG KEHUTANAN.

BAB I
KETENTUAN UMUM
Bagian Kesatu
Pengertian
Pasal 1
Dalam undang-undang ini yang dimaksud dengan:
a. Kehutanan adalah sistem pengurusan yang bersangkut paut dengan hutan,
kawasan hutan, dan hasil hutan yang diselenggarakan secara terpadu.
b. Hutan adalah suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya
alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya,
yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan.
c. Kawasan hutan adalah wilayah tertentu yang ditunjuk dan atau ditetapkan
oleh Pemerintah untuk dipertahankan keberadaannya sebagai hutan tetap.
d. Hutan negara adalah hutan yang berada pada tanah yang tidak dibebani hak atas
tanah.
e. Hutan hak adalah hutan yang berada pada tanah yang dibebani hak atas tanah.
f. Hutan adat adalah hutan negara yang berada dalam wilayah masyarakat hukum adat.
g. Hutan produksi adalah kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok memproduksi
hasil hutan.
h. Hutan lindung adalah kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok sebagai
perlindungan sistem penyangga kehidupan untuk mengatur tata air, mencegah
banjir, mengendalikan erosi, mencegah intrusi air laut, dan memelihara kesuburan
tanah.
i. Hutan konservasi adalah kawasan hutan dengan ciri khas tertentu, yang
mempunyai fungsi pokok pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta
ekosistemnya.
j. Kawasan hutan suaka alam adalah hutan dengan ciri khas tertentu, yang mempunyai
fungsi pokok sebagai kawasan pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa
serta ekosistemnya, yang juga berfungsi sebagai wilayah sistem penyangga
kehidupan.
k. Kawasan hutan pelestarian alam adalah hutan dengan ciri khas tertentu, yang
mempunyai fungsi pokok perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan
keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa, serta pemanfaatan secara lestari
sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.
l. Taman buru adalah kawasan hutan yang ditetapkan sebagai tempat wisata berburu.
m. Hasil hutan adalah benda-benda hayati, nonhayati dan turunannya, serta jasa
yang berasal dari hutan.
n. Pemerintah adalah Pemerintah Pusat.
o. Menteri adalah menteri yang diserahi tugas dan bertanggung jawab di bidang
kehutanan.

Bagian Kedua
Asas dan Tujuan
Pasal 2
Penyelenggaraan kehutanan berasaskan manfaat dan lestari, kerakyatan,
keadilan, kebersamaan, keterbukaan, dan keterpaduan.
Pasal 3
Penyelenggaraan kehutanan bertujuan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat
yang berkeadilan dan berkelanjutan dengan:
a. menjamin keberadaan hutan dengan luasan yang cukup dan sebaran yang
proporsional;
b. mengoptimalkan aneka fungsi hutan yang meliputi fungsi konservasi, fungsi
lindung, dan fungsi produksi untuk mencapai manfaat lingkungan, sosial, budaya,
dan ekonomi, yang seimbang dan lestari;
c. meningkatkan daya dukung daerah aliran sungai;
d. meningkatkan kemampuan untuk mengembangkan kapasitas dan keberdayaan
masyarakat secara partisipatif, berkeadilan, dan berwawasan lingkungan sehingga
mampu menciptakan ketahanan sosial dan ekonomi serta ketahanan terhadap
akibat perubahan eksternal; dan
e. menjamin distribusi manfaat yang berkeadilan dan berkelanjutan.
Bagian Ketiga
Penguasaan Hutan
Pasal 4
a. Semua hutan di dalam wilayah Republik Indonesia termasuk kekayaan alam
yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara untuk sebesar-besar
kemakmuran rakyat.
b. Penguasaan hutan oleh Negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
memberi wewenang kepada Pemerintah untuk:
(2) mengatur dan mengurus segala sesuatu yang berkaitan dengan hutan, kawasan
hutan, dan hasil hutan;
(3) menetapkan status wilayah tertentu sebagai kawasan hutan atau kawasan hutan
sebagai bukan kawasan hutan; dan
(4) mengatur dan menetapkan hubungan-hubungan hukum antara orang dengan
hutan, serta mengatur perbuatan-perbuatan hukum mengenai kehutanan.
0 Penguasaan hutan oleh Negara tetap memperhatikan hak masyarakat hukum adat,
sepanjang kenyataannya masih ada dan diakui keberadaannya, serta tidak
bertentangan dengan kepentingan nasional.

BAB II
STATUS DAN FUNGSI HUTAN
Pasal 5
(1) Hutan berdasarkan statusnya terdiri dari:
a. hutan negara, dan
b. hutan hak.
(2) Hutan negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, dapat berupa
hutan adat.
(3) Pemerintah menetapkan status hutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan
ayat (2); dan hutan adat ditetapkan sepanjang menurut kenyataannya masyarakat
hukum
adat yang bersangkutan masih ada dan diakui keberadaannya.
(4) Apabila dalam perkembangannya masyarakat hukum adat yang bersangkutan
tidak ada lagi, maka hak pengelolaan hutan adat kembali kepada Pemerintah.
Pasal 6
(1) Hutan mempunyai tiga fungsi, yaitu:
a. fungsi konservasi,
b. fungsi lindung, dan
c. fungsi produksi.
(2) Pemerintah menetapkan hutan berdasarkan fungsi pokok sebagai berikut:
a. hutan konservasi,
b. hutan lindung, dan
c. hutan produksi.
Pasal 7
Hutan konservasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2) huruf a terdiri dari :
c. kawasan hutan suaka alam,
d. kawasan hutan pelestarian alam, dan
e. taman buru.

Pasal 8
(1) Pemerintah dapat menetapkan kawasan hutan tertentu untuk tujuan khusus.
(3) Penetapan kawasan hutan dengan tujuan khusus, sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) diperlukan untuk kepentingan umum seperti:
a. penelitian dan pengembangan,
b. pendidikan dan latihan, dan
c. religi dan budaya.
(3) Kawasan hutan dengan tujuan khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1), tidak
mengubah fungsi pokok kawasan hutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6.
Pasal 9
(4) Untuk kepentingan pengaturan iklim mikro, estetika, dan resapan air, di setiap kota
ditetapkan kawasan tertentu sebagai hutan kota.
(5) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (1), diatur dengan Peraturan
Pemerintah.
BAB III
PENGURUSAN HUTAN
Pasal 10
(1) Pengurusan hutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (2) huruf a, bertujuan
untuk memperoleh manfaat yang sebesar-besarnya serta serbaguna dan lestari untuk
kemakmuran rakyat.
(2) Pengurusan hutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), meliputi kegiatan
penyelenggaraan:
a. perencanaan kehutanan,
b. pengelolaan hutan,
c. penelitian dan pengembangan, pendidikan dan latihan, serta penyuluhan
kehutanan, dan
d. pengawasan.

BAB IV
PERENCANAAN KEHUTANAN
Bagian Kesatu
Umum
Pasal 11
(1) Perencanaan kehutanan dimaksudkan untuk memberikan pedoman dan arah yang
menjamin tercapainya tujuan penyelenggaraan kehutanan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 3.
(2) Perencanaan kehutanan dilaksanakan secara transparan, bertanggung-gugat,
partisipatif, terpadu, serta memperhatikan kekhasan dan aspirasi daerah.
Pasal 12
Perencanaan kehutanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (2) huruf a, meliputi:
a. inventarisasi hutan,
b. pengukuhan kawasan hutan,
c. penatagunaan kawasan hutan,
d. pembentukan wilayah pengelolaan hutan, dan
e. penyusunan rencana kehutanan.
Bagian Kedua
Inventarisasi Hutan
Pasal 13
(1) Inventarisasi hutan dilaksanakan untuk mengetahui dan memperoleh data dan
informasi tentang sumber daya, potensi kekayaan alam hutan, serta lingkungannya
secara lengkap.
(2) Inventarisasi hutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan survei
mengenai status dan keadaan fisik hutan, flora dan fauna, sumber daya manusia, serta kondisi
sosial masyarakat di dalam dan di sekitar hutan.
(3) Inventarisasi hutan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terdiri dari:
a. inventarisasi hutan tingkat nasional,
b. inventarisasi hutan tingkat wilayah,
c. inventarisasi hutan tingkat daerah aliran sungai, dan
d. inventarisasi hutan tingkat unit pengelolaan.
(4) Hasil inventarisasi hutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (3)
antara lain dipergunakan sebagai dasar pengukuhan kawasan hutan, penyusunan neraca
sumber daya hutan, penyusunan rencana kehutanan, dan sistem informasi kehutanan.

(5) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (3)
diatur dengan Peraturan Pemerintah.
Bagian Ketiga
Pengukuhan Kawasan Hutan
Pasal 14
(1) Berdasarkan inventarisasi hutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13,
Pemerintah menyelenggarakan pengukuhan kawasan hutan.
(2) Kegiatan pengukuhan kawasan hutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilakukan
untuk memberikan kepastian hukum atas kawasan hutan.
Pasal 15
(1) Pengukuhan kawasan hutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 dilakukan
melalui proses sebagai berikut:
a. penunjukan kawasan hutan,
b. penataan batas kawasan hutan,
c. pemetaan kawasan hutan, dan
d. penetapan kawasan hutan.
(2) Pengukuhan kawasan hutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan
dengan memperhatikan rencana tata ruang wilayah.
Bagian Keempat
Penatagunaan Kawasan Hutan
Pasal 16
(3) Berdasarkan hasil pengukuhan kawasan hutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14
dan Pasal 15, Pemerintah menyelenggarakan penatagunaan kawasan hutan.
(4) Penatagunaan kawasan hutan meliputi kegiatan penetapan fungsi dan penggunaan
kawasan hutan.
(5) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur
dengan Peraturan Pemerintah.

Bagian Kelima
Pembentukan Wilayah Pengelolaan Hutan
Pasal 17
c. Pembentukan wilayah pengelolaan hutan dilaksanakan untuk tingkat:
0 propinsi,
1 kabupaten/kota, dan
2 unit pengelolaan.
d. Pembentukan wilayah pengelolaan hutan tingkat unit pengelolaan dilaksanakan dengan
mempertimbangkan karakteristik lahan, tipe hutan, fungsi hutan, kondisi daerah aliran
sungai,
sosial budaya, ekonomi, kelembagaan masyarakat setempat termasuk masyarakat hukum
adat dan batas administrasi Pemerintahan.
(3) Pembentukan unit pengelolaan hutan yang melampaui batas administrasi
Pemerintahan karena kondisi dan karakteristik serta tipe hutan, penetapannya diatur
secara khusus oleh Menteri.
Pasal 18
(1) Pemerintah menetapkan dan mempertahankan kecukupan luas kawasan hutan dan
penutupan hutan untuk setiap daerah aliran sungai dan atau pulau, guna optimalisasi
manfaat lingkungan, manfaat sosial, dan manfaat ekonomi masyarakat setempat.
(2) Luas kawasan hutan yang harus dipertahankan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
minimal 30 % (tiga puluh persen) dari luas daerah aliran sungai dan atau pulau dengan
sebaran yang proporsional.
Pasal 19
(1) Perubahan peruntukan dan fungsi kawasan hutan ditetapkan oleh Pemerintah
dengan didasarkan pada hasil penelitian terpadu.
(2) Perubahan peruntukan kawasan hutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang
berdampak penting dan cakupan yang luas serta bernilai strategis, ditetapkan oleh
Pemerintah dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat.
(3) Ketentuan tentang tata cara perubahan peruntukan kawasan hutan dan perubahan
fungsi kawasan hutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan
Peraturan
Pemerintah.

Bagian Keenam
Penyusunan Rencana Kehutanan
Pasal 20
(1) Berdasarkan hasil inventarisasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13, dan
dengan mempertimbangkan faktor-faktor lingkungan dan kondisi sosial masyarakat,
Pemerintah menyusun rencana kehutanan.
(3) Rencana kehutanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disusun menurut jangka
waktu perencanaan, skala geografis, dan menurut fungsi pokok kawasan hutan.
(4) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur
dengan Peraturan Pemerintah.
BAB V
PENGELOLAAN HUTAN
Bagian Kesatu
Umum
Pasal 21
Pengelolaan hutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (2) huruf b, meliputi kegiatan:
(4)

tata hutan dan penyusunan rencana pengelolaan hutan,

(5)

pemanfaatan hutan dan penggunaan kawasan hutan,

(6)

rehabilitasi dan reklamasi hutan, dan

(7)

perlindungan hutan dan konservasi alam.


Bagian Kedua
Tata Hutan dan Penyusunan Rencana Pengelolaan
Pasal 22

(5) Tata hutan dilaksanakan dalam rangka pengelolaan kawasan hutan yang
lebih intensif untuk memperoleh manfaat yang lebih optimal dan lestari.
(6) Tata hutan meliputi pembagian kawasan hutan dalam blok-blok
berdasarkan ekosistem, tipe, fungsi dan rencana pemanfaatan hutan.
(7) Blok-blok sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dibagi pada petak-petak
berdasarkan intensitas dan efisiensi pengelolaan.
(8) Berdasarkan blok dan petak sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat
(3), disusun rencana pengelolaan hutan untuk jangka waktu tertentu.
(9) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (2), ayat (3), dan ayat
(4) diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Bagian Ketiga
Pemanfaatan Hutan dan Penggunaan Kawasan Hutan
Pasal 23
Pemanfaatan hutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 huruf b, bertujuan untuk
memperoleh manfaat yang optimal bagi kesejahteraan seluruh masyarakat secara
berkeadilan dengan tetap menjaga kelestariannya.
Pasal 24
Pemanfaatan kawasan hutan dapat dilakukan pada semua kawasan hutan kecuali pada
hutan cagar alam serta zona inti dan zona rimba pada taman nasional.
Pasal 25
Pemanfaatan kawasan hutan pelestarian alam dan kawasan hutan suaka alam serta taman
buru diatur sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Pasal 26
(3) Pemanfaatan hutan lindung dapat berupa pemanfaatan kawasan, pemanfaatan jasa
lingkungan, dan pemungutan hasil hutan bukan kayu.
(4) Pemanfaatan hutan lindung dilaksanakan melalui pemberian izin usaha pemanfaatan
kawasan, izin usaha pemanfaatan jasa lingkungan, dan izin pemungutan hasil hutan bukan
kayu.
Pasal 27
(1) Izin usaha pemanfaatan kawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 ayat (2) dapat
diberikan kepada:
a. perorangan,
b. koperasi.
(2) Izin usaha pemanfaatan jasa lingkungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 ayat (2),
dapat diberikan kepada:
a. perorangan,
b. koperasi,
c. badan usaha milik swasta Indonesia,
d. badan usaha milik negara atau badan usaha milik daerah.

(3) Izin pemungutan hasil hutan bukan kayu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 ayat (2),
dapat diberikan kepada:
a. perorangan,
b. koperasi.
Pasal 28
(3) Pemanfaatan hutan produksi dapat berupa pemanfaatan kawasan, pemanfaatan jasa
lingkungan, pemanfaatan hasil hutan kayu dan bukan kayu, serta pemungutan hasil hutan
kayu dan bukan kayu.
(4) Pemanfaatan hutan produksi dilaksanakan melalui pemberian izin usaha
pemanfaatan kawasan, izin usaha pemanfaatan jasa lingkungan, izin usaha pemanfaatan
hasil hutan kayu, izin usaha pemanfaatan hasil hutan bukan kayu, izin pemungutan
hasil hutan kayu, dan izin pemungutan hasil hutan bukan kayu.
Pasal 29
(1) Izin usaha pemanfaatan kawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (2) dapat
diberikan kepada:
a. perorangan,
b. koperasi.
2 Izin usaha pemanfaatan jasa lingkungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28
ayat
(5) dapat diberikan kepada:
a perorangan,
b koperasi,
c badan usaha milik swasta Indonesia,
d badan usaha milik negara atau badan usaha milik daerah.
(6) Izin usaha pemanfaatan hasil hutan bukan kayu sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 28 ayat (2) dapat diberikan kepada:
a perorangan,
b koperasi,
c badan usaha milik swasta Indonesia,
d badan usaha milik negara atau badan usaha milik daerah.

(7) Izin usaha pemanfaatan hasil hutan kayu sebagaimana dimaksud dalam Pasal
28 ayat (2) dapat diberikan kepada:
a perorangan,
b koperasi,
c badan usaha milik swasta Indonesia,
d badan usaha milik negara atau badan usaha milik daerah.
(8) Izin pemungutan hasil hutan kayu dan bukan kayu sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 28 ayat (2) dapat diberikan kepada:
a perorangan,
b koperasi.
Pasal 30
Dalam rangka pemberdayaan ekonomi masyarakat, setiap badan usaha milik negara,
badan usaha milik daerah, dan badan usaha milik swasta Indonesia yang memperoleh
izin usaha pemanfaatan jasa lingkungan, izin usaha pemanfaatan hasil hutan kayu dan
bukan kayu, diwajibkan bekerja sama dengan koperasi masyarakat setempat.
Pasal 31
(1) Untuk menjamin asas keadilan, pemerataan, dan lestari, maka izin usaha pemanfaatan
hutan dibatasi dengan mempertimbangkan aspek kelestarian hutan dan aspek kepastian
usaha.
(2) Pembatasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan
Pemerintah.
Pasal 32
Pemegang izin sebagaimana diatur dalam Pasal 27 dan Pasal 29 berkewajiban untuk
menjaga, memelihara, dan melestarikan hutan tempat usahanya.
Pasal 33
(1) Usaha pemanfaatan hasil hutan meliputi kegiatan penanaman, pemeliharaan,
pemanenan, pengolahan, dan pemasaran hasil hutan.
(2) Pemanenan dan pengolahan hasil hutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak
boleh melebihi daya dukung hutan secara lestari.
(3) Pengaturan, pembinaan dan pengembangan pengolahan hasil hutan sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) diatur oleh Menteri.

Pasal 34
Pengelolaan kawasan hutan untuk tujuan khusus sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8
dapat diberikan kepada:
a. masyarakat hukum adat,
b. lembaga pendidikan,
c. lembaga penelitian,
d. lembaga sosial dan keagamaan.
Pasal 35
(1) Setiap pemegang izin usaha pemanfaatan hutan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 27 dan Pasal 29, dikenakan iuran izin usaha, provisi, dana reboisasi, dan
dana jaminan kinerja.
(2) Setiap pemegang izin usaha pemanfaatan hutan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 27 dan Pasal 29 wajib menyediakan dana investasi untuk biaya pelestarian
hutan.
(3) Setiap pemegang izin pemungutan hasil hutan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 27 dan Pasal 29 hanya dikenakan provisi.
(4) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan ayat
(3) diatur dengan Peraturan Pemerintah.
Pasal 36
(1) Pemanfaatan hutan hak dilakukan oleh pemegang hak atas tanah
yang bersangkutan, sesuai dengan fungsinya.
(2) Pemanfaatan hutan hak yang berfungsi lindung dan konservasi dapat
dilakukan sepanjang tidak mengganggu fungsinya.
Pasal 37
(1) Pemanfaatan hutan adat dilakukan oleh masyarakat hukum adat yang
bersangkutan, sesuai dengan fungsinya.
(2) Pemanfaatan hutan adat yang berfungsi lindung dan konservasi dapat
dilakukan sepanjang tidak mengganggu fungsinya.
Pasal 38
(1) Penggunaan kawasan hutan untuk kepentingan pembangunan di luar kegiatan
kehutanan hanya dapat dilakukan di dalam kawasan hutan produksi dan kawasan
hutan lindung.
(2) Penggunaan kawasan hutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat
dilakukan tanpa mengubah fungsi pokok kawasan hutan.

(3) Penggunaan kawasan hutan untuk kepentingan pertambangan dilakukan melalui


pemberian izin pinjam pakai oleh Menteri dengan mempertimbangkan batasan luas
dan jangka waktu tertentu serta kelestarian lingkungan.
(4) Pada kawasan hutan lindung dilarang melakukan penambangan dengan
pola pertambangan terbuka.
(5) Pemberian izin pinjam pakai sebagaimana dimaksud pada ayat (3) yang
berdampak penting dan cakupan yang luas serta bernilai strategis dilakukan oleh
Menteri atas persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat.
Pasal 39
Ketentuan pelaksanaan tentang pemanfaatan hutan dan penggunaan kawasan hutan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27, Pasal 29, Pasal 34, Pasal 36, Pasal 37, dan Pasal 38
diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.
Bagian Keempat
Rehabilitasi dan Reklamasi Hutan
Pasal 40
Rehabilitasi hutan dan lahan dimaksudkan untuk memulihkan, mempertahankan, dan
meningkatkan fungsi hutan dan lahan sehingga daya dukung, produktivitas, dan
peranannya dalam mendukung sistem penyangga kehidupan tetap terjaga.

Pasal 41
(1) Rehabilitasi hutan dan lahan diselenggarakan melalui kegiatan:
a. reboisasi,
b. penghijauan,
c.

pemeliharaan,

d.

pengayaan tanaman, atau

e. penerapan teknik konservasi tanah secara vegetatif dan sipil teknis, pada lahan kritis
dan tidak produktif.
(2) Kegiatan rehabilitasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan di semua hutan dan
kawasan hutan kecuali cagar alam dan zona inti taman nasional.
Pasal 42
(1) Rehabilitasi hutan dan lahan dilaksanakan berdasarkan kondisi spesifik biofisik.
(2) Penyelenggaraan rehabilitasi hutan dan lahan diutamakan pelaksanaannya melalui
pendekatan partisipatif dalam rangka mengembangkan potensi dan memberdayakan
masyarakat.

(3) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur
dengan Peraturan Pemerintah.
Pasal 43
(1) Setiap orang yang memiliki, mengelola, dan atau memanfaatkan hutan yang kritis atau
tidak produktif, wajib melaksanakan rehabilitasi hutan untuk tujuan perlindungan dan
konservasi.
(2) Dalam pelaksanaan rehabilitasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), setiap orang
dapat meminta pendampingan, pelayanan dan dukungan kepada lembaga swadaya
masyarakat, pihak lain atau Pemerintah.
Pasal 44
(1) Reklamasi hutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 huruf c, meliputi usaha untuk
memperbaiki atau memulihkan kembali lahan dan vegetasi hutan yang rusak agar dapat
berfungsi secara optimal sesuai dengan peruntukannya.
(2) Kegiatan reklamasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi inventarisasi
lokasi, penetapan lokasi, perencanaan, dan pelaksanaan reklamasi.
(3) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur
dengan Peraturan Pemerintah.
Pasal 45
(1) Penggunaan kawasan hutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38 ayat (1) yang
mengakibatkan kerusakan hutan, wajib dilakukan reklamasi dan atau rehabilitasi sesuai
dengan pola yang ditetapkan Pemerintah.

(2) Reklamasi pada kawasan hutan bekas areal pertambangan, wajib dilaksanakan oleh
pemegang izin pertambangan sesuai dengan tahapan kegiatan pertambangan.
(3) Pihak-pihak yang menggunakan kawasan hutan untuk kepentingan di luar kegiatan
kehutanan yang mengakibatkan perubahan permukaan dan penutupan tanah, wajib
membayar dana jaminan reklamasi dan rehabilitasi.
(4) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (3)
diatur dengan Peraturan Pemerintah.
Bagian Kelima
Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam
Pasal 46
Penyelenggaraan perlindungan hutan dan konservasi alam bertujuan menjaga hutan,
kawasan hutan dan lingkungannya, agar fungsi lindung, fungsi konservasi, dan fungsi
produksi, tercapai secara optimal dan lestari.

Pasal 47
Perlindungan hutan dan kawasan hutan merupakan usaha untuk:
a. mencegah dan membatasi kerusakan hutan, kawasan hutan, dan hasil hutan yang
disebabkan oleh perbuatan manusia, ternak, kebakaran, daya-daya alam, hama,
serta penyakit; dan
b. mempertahankan dan menjaga hak-hak negara, masyarakat, dan perorangan atas
hutan, kawasan hutan, hasil hutan, investasi serta perangkat yang berhubungan
dengan pengelolaan hutan.
Pasal 48
(1) Pemerintah mengatur perlindungan hutan, baik di dalam maupun di luar kawasan hutan.
(2) Perlindungan hutan pada hutan negara dilaksanakan oleh Pemerintah.
(3) Pemegang izin usaha pemanfaatan hutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal
27 dan Pasal 29, serta pihak-pihak yang menerima wewenang pengelolaan hutan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34, diwajibkan melindungi hutan dalam areal
kerjanya.
(4) Perlindungan hutan pada hutan hak dilakukan oleh pemegang haknya.
(5) Untuk menjamin pelaksanaan perlindungan hutan yang sebaik-baiknya,
masyarakat diikutsertakan dalam upaya perlindungan hutan.
(6) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), ayat (3),
ayat (4), dan ayat (5) diatur dengan Peraturan Pemerintah.
Pasal 49
Pemegang hak atau izin bertanggung jawab atas terjadinya kebakaran hutan di areal kerjanya.
Pasal 50
(1) Setiap orang dilarang merusak prasarana dan sarana perlindungan hutan.
(2) Setiap orang yang diberikan izin usaha pemanfaatan kawasan, izin usaha pemanfaatan
jasa lingkungan, izin usaha pemanfaatan hasil hutan kayu dan bukan kayu, serta izin
pemungutan hasil hutan kayu dan bukan kayu, dilarang melakukan kegiatan yang
menimbulkan kerusakan hutan.
(3) Setiap orang dilarang:
a. mengerjakan dan atau menggunakan dan atau menduduki kawasan hutan secara tidak
sah;
b. merambah kawasan hutan;
c. melakukan penebangan pohon dalam kawasan hutan dengan radius atau jarak sampai
dengan:
1. 500 (lima ratus) meter dari tepi waduk atau danau;

2. 200 (dua ratus) meter dari tepi mata air dan kiri kanan sungai di
daerah rawa;
3. 100 (seratus) meter dari kiri kanan tepi sungai;
4. 50 (lima puluh) meter dari kiri kanan tepi anak sungai;
5. 2 (dua) kali kedalaman jurang dari tepi jurang;
6. 130 (seratus tiga puluh) kali selisih pasang tertinggi dan pasang
terendah dari tepi pantai.
d. membakar hutan;
e. menebang pohon atau memanen atau memungut hasil hutan di dalam hutan tanpa
memiliki hak atau izin dari pejabat yang berwenang;

f.

menerima, membeli atau menjual, menerima tukar, menerima titipan, menyimpan, atau
memiliki hasil hutan yang diketahui atau patut diduga berasal dari kawasan hutan yang
diambil atau dipungut secara tidak sah;

g. melakukan kegiatan penyelidikan umum atau eksplorasi atau eksploitasi bahan tambang
di dalam kawasan hutan, tanpa izin Menteri;
h. mengangkut, menguasai, atau memiliki hasil hutan yang tidak dilengkapi bersama-sama
dengan surat keterangan sahnya hasil hutan;
i.

menggembalakan ternak di dalam kawasan hutan yang tidak ditunjuk secara khusus
untuk maksud tersebut oleh pejabat yang berwenang;

j.

membawa alat-alat berat dan atau alat-alat lainnya yang lazim atau patut diduga akan
digunakan untuk mengangkut hasil hutan di dalam kawasan hutan, tanpa izin pejabat
yang berwenang;

k. membawa alat-alat yang lazim digunakan untuk menebang, memotong, atau membelah
pohon di dalam kawasan hutan tanpa izin pejabat yang berwenang;
l.

membuang benda-benda yang dapat menyebabkan kebakaran dan kerusakan serta


membahayakan keberadaan atau kelangsungan fungsi hutan ke dalam kawasan hutan;
dan

m. mengeluarkan, membawa, dan mengangkut tumbuh-tumbuhan dan satwa liar yang tidak
dilindungi undang-undang yang berasal dari kawasan hutan tanpa izin pejabat yang
berwenang.
(4) Ketentuan tentang mengeluarkan, membawa, dan atau mengangkut tumbuhan dan
atau satwa yang dilindungi, diatur sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang
berlaku.

Pasal 51
(1) Untuk menjamin terselenggaranya perlindungan hutan, maka kepada pejabat
kehutanan tertentu sesuai dengan sifat pekerjaannya diberikan wewenang kepolisian
khusus.
(2) Pejabat yang diberi wewenang kepolisian khusus sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) berwenang untuk:
a. mengadakan patroli/perondaan di dalam kawasan hutan atau wilayah hukumnya;
b. memeriksa surat-surat atau dokumen yang berkaitan dengan pengangkutan hasil hutan
di dalam kawasan hutan atau wilayah hukumnya;
c. menerima laporan tentang telah terjadinya tindak pidana yang menyangkut hutan,
kawasan hutan, dan hasil hutan;
d. mencari keterangan dan barang bukti terjadinya tindak pidana yang menyangkut hutan,
kawasan hutan, dan hasil hutan;
e. dalam hal tertangkap tangan, wajib menangkap tersangka untuk diserahkan kepada yang
berwenang; dan
f.

membuat laporan dan menandatangani laporan tentang terjadinya tindak pidana yang
menyangkut hutan, kawasan hutan, dan hasil hutan.
BAB VI
PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN, PENDIDIKAN DAN
LATIHAN SERTA PENYULUHAN KEHUTANAN
Bagian Kesatu
Umum
Pasal 52
(1) Dalam pengurusan hutan secara lestari, diperlukan sumber daya manusia berkualitas
yang bercirikan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang didasari dengan iman
dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, melalui penyelenggaraan penelitian dan
pengembangan, pendidikan dan latihan, serta penyuluhan kehutanan yang
berkesinambungan.
(2) Dalam penyelenggaraan penelitian dan pengembangan, pendidikan dan latihan serta
penyuluhan kehutanan, wajib memperhatikan ilmu pengetahuan dan teknologi, kearifan
tradisional serta kondisi sosial budaya masyarakat.
(3) Dalam penyelenggaraan penelitian dan pengembangan, pendidikan dan latihan, serta
penyuluhan kehutanan, Pemerintah wajib menjaga kekayaan plasma nutfah khas
Indonesia dari pencurian.

Bagian Kedua
Penelitian dan Pengembangan Kehutanan
Pasal 53
(1) Penelitian dan pengembangan kehutanan dimaksudkan untuk mengembangkan
kemampuan nasional serta budaya ilmu pengetahuan dan teknologi dalam pengurusan
hutan.
(2) Penelitian dan pengembangan kehutanan bertujuan untuk meningkatkan kemampuan
pengurusan hutan dalam mewujudkan pengelolaan hutan secara lestari dan peningkatan nilai
tambah hasil hutan.
(3) Penyelenggaraan penelitian dan pengembangan kehutanan dilakukan oleh
Pemerintah dan dapat bekerja sama dengan perguruan tinggi, dunia usaha, dan
masyarakat.
(4) Pemerintah mendorong dan menciptakan kondisi yang mendukung peningkatan
kemampuan untuk menguasai, mengembangkan, dan memanfaatkan ilmu pengetahuan dan
teknologi kehutanan.
Pasal 54
(1) Pemerintah bersama-sama dengan dunia usaha dan masyarakat mempublikasikan hasil
penelitian dan pengembangan kehutanan serta mengembangkan sistem informasi dan
pelayanan hasil penelitian dan pengembangan kehutanan.
(2) Pemerintah wajib melindungi hasil penemuan ilmu pengetahuan dan teknologi di
bidang kehutanan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
(3) Izin melakukan penelitian kehutanan di Indonesia dapat diberikan kepada peneliti
asing dengan mengacu kepada peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Bagian Ketiga
Pendidikan dan Latihan Kehutanan
Pasal 55
(1) Pendidikan dan latihan kehutanan dimaksudkan untuk mengembangkan dan
meningkatkan kualitas sumber daya manusia kehutanan yang terampil, profesional,
berdedikasi, jujur serta amanah dan berakhlak mulia.
(2) Pendidikan dan latihan kehutanan bertujuan untuk membentuk sumber daya manusia
yang menguasai serta mampu memanfaatkan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan
teknologi dalam pengurusan hutan secara adil dan lestari, didasari iman dan taqwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa.
(3) Penyelenggaraan pendidikan dan latihan kehutanan dilakukan oleh Pemerintah,
dunia usaha, dan masyarakat.

(4) Pemerintah mendorong dan menciptakan kondisi yang mendukung terselenggaranya


pendidikan dan latihan kehutanan, dalam rangka meningkatkan kuantitas dan kualitas
sumber daya manusia.
Bagian Keempat
Penyuluhan Kehutanan
Pasal 56
(1) Penyuluhan kehutanan bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan
keterampilan serta mengubah sikap dan perilaku masyarakat agar mau dan mampu
mendukung pembangunan kehutanan atas dasar iman dan taqwa kepada Tuhan Yang
Maha Esa serta sadar akan pentingnya sumber daya hutan bagi kehidupan manusia.
(2) Penyelenggaraan penyuluhan kehutanan dilakukan oleh Pemerintah, dunia
usaha, dan masyarakat.
(3) Pemerintah mendorong dan menciptakan
terselenggaranya kegiatan penyuluhan kehutanan.

kondisi

yang

mendukung

Bagian Kelima
Pendanaan dan Prasarana
Pasal 57
(1) Dunia usaha dalam bidang kehutanan wajib menyediakan dana investasi
untuk penelitian dan pengembangan, pendidikan dan latihan, serta penyuluhan
kehutanan.
(2) Pemerintah menyediakan kawasan hutan untuk digunakan dan mendukung
kegiatan penelitian dan pengembangan, pendidikan dan latihan, serta penyuluhan
kehutanan.
Pasal 58
Ketentuan lebih lanjut tentang penelitian dan pengembangan, pendidikan dan latihan,
serta penyuluhan kehutanan diatur dengan Peraturan Pemerintah.
BAB VII
PENGAWASAN
Pasal 59
Pengawasan kehutanan dimaksudkan untuk mencermati, menelusuri, dan menilai
pelaksanaan pengurusan hutan, sehingga tujuannya dapat tercapai secara maksimal dan
sekaligus merupakan umpan balik bagi perbaikan dan atau penyempurnaan pengurusan hutan
lebih lanjut.

Pasal 60
(1) Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib melakukan pengawasan kehutanan.
(2) Masyarakat dan atau perorangan berperan serta dalam pengawasan kehutanan.
Pasal 61
Pemerintah berkewajiban melakukan pengawasan terhadap pengurusan hutan
yang diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah.
Pasal 62
Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan masyarakat melakukan pengawasan terhadap
pengelolaan dan atau pemanfaatan hutan yang dilakukan oleh pihak ketiga.
Pasal 63
Dalam melaksanakan pengawasan kehutanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 60 ayat
(1), Pemerintah dan Pemerintah Daerah berwenang melakukan pemantauan, meminta
keterangan, dan melakukan pemeriksaan atas pelaksanaan pengurusan hutan.
Pasal 64
Pemerintah dan masyarakat melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan pengelolaan
hutan yang berdampak nasional dan internasional.
Pasal 65
Ketentuan lebih lanjut tentang pengawasan kehutanan diatur dengan Peraturan Pemerintah.
BAB VIII
PENYERAHAN KEWENANGAN
Pasal 66
(1) Dalam rangka penyelenggaraan kehutanan, Pemerintah menyerahkan
sebagian kewenangan kepada Pemerintah Daerah.
(2) Pelaksanaan penyerahan sebagian kewenangan sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) bertujuan untuk meningkatkan efektivitas pengurusan hutan dalam
rangka pengembangan otonomi daerah.
(3) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2)
diatur dengan Peraturan Pemerintah.

BAB IX
MASYARAKAT HUKUM ADAT
Pasal 67
(1) Masyarakat hukum adat sepanjang menurut kenyataannya masih ada dan
diakui keberadaannya berhak:
a. melakukan pemungutan hasil hutan untuk pemenuhan kebutuhan
hidup sehari-hari masyarakat adat yang bersangkutan;
b. melakukan kegiatan pengelolaan hutan berdasarkan hukum adat yang
berlaku dan tidak bertentangan dengan undang-undang; dan
c. mendapatkan
pemberdayaan
kesejahteraannya.

dalam

rangka

meningkatkan

(2) Pengukuhan keberadaan dan hapusnya masyarakat hukum adat sebagaimana


dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan Peraturan Daerah.
(3) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur
dengan Peraturan Pemerintah.
BAB X
PERAN SERTA MASYARAKAT
Pasal 68
(1) Masyarakat berhak menikmati kualitas lingkungan hidup yang dihasilkan hutan.
(2) Selain hak sebagaimana dimaksud pada ayat (1), masyarakat dapat:
a. memanfaatkan hutan dan hasil hutan sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku;
b. mengetahui rencana peruntukan hutan, pemanfaatan hasil hutan, dan
informasi kehutanan;
c. memberi informasi, saran, serta pertimbangan dalam pembangunan
kehutanan; dan
d. melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan pembangunan kehutanan baik
langsung maupun tidak langsung.
(3) Masyarakat di dalam dan di sekitar hutan berhak memperoleh kompensasi karena
hilangnya akses dengan hutan sekitarnya sebagai lapangan kerja untuk memenuhi
kebutuhan hidupnya akibat penetapan kawasan hutan, sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.
(4) Setiap orang berhak memperoleh kompensasi karena hilangnya hak atas tanah miliknya
sebagai akibat dari adanya penetapan kawasan hutan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.

Pasal 69
(1) Masyarakat berkewajiban untuk ikut serta memelihara dan menjaga kawasan hutan dari
gangguan dan perusakan.
(2) Dalam melaksanakan rehabilitasi hutan, masyarakat dapat meminta pendampingan,
pelayanan, dan dukungan kepada lembaga swadaya masyarakat, pihak lain, atau
Pemerintah.
Pasal 70
(1) Masyarakat turut berperan serta dalam pembangunan di bidang kehutanan.
(2) Pemerintah wajib mendorong peran serta masyarakat melalui berbagai kegiatan di
bidang kehutanan yang berdaya guna dan berhasil guna.
(3) Dalam rangka meningkatkan peran serta masyarakat Pemerintah dan Pemerintah
Daerah dapat dibantu oleh forum pemerhati kehutanan.
(4) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur
dengan Peraturan Pemerintah.
BAB XI
GUGATAN PERWAKILAN
Pasal 71
(1) Masyarakat berhak mengajukan gugatan perwakilan ke pengadilan dan atau
melaporkan ke penegak hukum terhadap kerusakan hutan yang merugikan
kehidupan masyarakat.
(2) Hak mengajukan gugatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terbatas pada
tuntutan terhadap pengelolaan hutan yang tidak sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.
Pasal 72
Jika diketahui bahwa masyarakat menderita akibat pencemaran dan atau kerusakan hutan
sedemikian rupa sehingga mempengaruhi kehidupan masyarakat, maka instansi Pemerintah
atau instansi Pemerintah Daerah yang bertanggung jawab di bidang kehutanan dapat
bertindak untuk kepentingan masyarakat.
Pasal 73
(1) Dalam rangka pelaksanaan tanggung jawab pengelolaan hutan, organisasi bidang
kehutanan berhak mengajukan gugatan perwakilan untuk kepentingan pelestarian
fungsi hutan.
(2) Organisasi bidang kehutanan yang berhak mengajukan gugatan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi persyaratan:
a. berbentuk badan hukum;

b. organisasi tersebut dalam anggaran dasarnya dengan tegas menyebutkan


tujuan didirikannya organisasi untuk kepentingan pelestarian fungsi hutan;
dan
c. telah melaksanakan kegiatan sesuai dengan anggaran dasarnya.
BAB XII
PENYELESAIAN SENGKETA KEHUTANAN
Pasal 74
(1) Penyelesaian sengketa kehutanan dapat ditempuh melalui pengadilan
atau di luar pengadilan berdasarkan pilihan secara sukarela para pihak
yang bersengketa.
(2) Apabila telah dipilih upaya penyelesaian sengketa kehutanan di luar
pengadilan, maka gugatan melalui pengadilan dapat dilakukan setelah
tidak tercapai kesepakatan antara para pihak yang bersengketa.

Pasal 75
(1)Penyelesaian sengketa kehutanan di luar pengadilan tidak berlaku terhadap tindak
pidana sebagaimana diatur dalam undang-undang ini.
(2)Penyelesaian sengketa kehutanan di luar pengadilan dimaksudkan untuk mencapai
kesepakatan mengenai pengembalian suatu hak, besarnya ganti rugi, dan atau mengenai
bentuk tindakan tertentu yang harus dilakukan untuk memulihkan fungsi hutan.
(3) Dalam penyelesaian sengketa kehutanan di luar pengadilan sebagaimana dimaksud pada
ayat (2) dapat digunakan jasa pihak ketiga yang ditunjuk bersama oleh para pihak dan atau
pendampingan organisasi nonPemerintah untuk membantu penyelesaian sengketa
kehutanan.
Pasal 76
(1) Penyelesaian sengketa kehutanan melalui pengadilan dimaksudkan untuk memperoleh
putusan mengenai pengembalian suatu hak, besarnya ganti rugi, dan atau tindakan tertentu
yang harus dilakukan oleh pihak yang kalah dalam sengketa.
(2) Selain putusan untuk melakukan tindakan tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
pengadilan dapat menetapkan pembayaran uang paksa atas keterlambatan pelaksanaan
tindakan tertentu tersebut setiap hari.

BAB XIII
PENYIDIKAN
Pasal 77
(1) Selain Pejabat Penyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia, Pejabat Pegawai
Negeri Sipil tertentu yang lingkup tugas dan tanggung jawabnya meliputi pengurusan
hutan, diberi wewenang khusus sebagai penyidik sebagaimana dimaksud dalam Kitab
Undang-undang Hukum Acara Pidana.
(2) Pejabat Penyidik Pegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
berwenang untuk:
a. melakukan pemeriksaan atas kebenaran laporan atau keterangan yang berkenaan
dengan tindak pidana yang menyangkut hutan, kawasan hutan, dan hasil hutan;
b. melakukan pemeriksaan terhadap orang yang diduga melakukan tindak
pidana yang menyangkut hutan, kawasan hutan, dan hasil hutan;
c. memeriksa tanda pengenal seseorang yang berada dalam kawasan hutan atau
wilayah hukumnya;
d. melakukan penggeledahan dan penyitaan barang bukti tindak pidana yang
menyangkut hutan, kawasan hutan, dan hasil hutan sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan yang berlaku;
e. meminta keterangan dan barang bukti dari orang atau badan hukum sehubungan
dengan tindak pidana yang menyangkut hutan, kawasan hutan, dan
hasil hutan;
f. menangkap dan menahan dalam koordinasi dan pengawasan penyidik
Kepolisian Negara Republik Indonesia sesuai Kitab Undang-undang Hukum
Acara Pidana;
g. membuat dan menandatangani berita acara;
h. menghentikan penyidikan apabila tidak terdapat cukup bukti tentang adanya
tindak pidana yang menyangkut hutan, kawasan hutan, dan hasil hutan.
(3) Pejabat Penyidik Pegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
memberitahukan dimulainya penyidikan dan menyerahkan hasil penyidikannya kepada
penuntut umum, sesuai Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana.

BAB XIV
KETENTUAN PIDANA
Pasal 78
(1) Barang siapa dengan sengaja melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal
50 ayat (1) atau Pasal 50 ayat (2), diancam dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh)
tahun dan denda paling banyak Rp 5.000.000.000,00 (lima milyar rupiah).
(2) Barang siapa dengan sengaja melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal
50 ayat (3) huruf a, huruf b, atau huruf c, diancam dengan pidana penjara paling lama 10
(sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima milyar rupiah).
(3) Barang siapa dengan sengaja melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal
50 ayat (3) huruf d, diancam dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas)
tahun dan denda paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima milyar rupiah).
(4) Barang siapa karena kelalaiannya melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 50 ayat (3) huruf d, diancam dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan
denda paling banyak Rp1.500.000.000,00 (satu milyar lima ratus juta rupiah).
(5) Barang siapa dengan sengaja melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal
50 ayat (3) huruf e atau huruf f, diancam dengan pidana penjara paling lama 10
(sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima milyar rupiah).
(6) Barang siapa dengan sengaja melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal
38 ayat (4) atau Pasal 50 ayat (3) huruf g, diancam dengan pidana penjara paling lama 10
(sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima milyar rupiah).
(7) Barang siapa dengan sengaja melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal
50 ayat (3) huruf h, diancam dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda
paling banyak Rp10.000.000.000,00 (sepuluh milyar rupiah).
(8) Barang siapa yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 ayat
(3) huruf i, diancam dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) bulan dan denda
paling banyak Rp10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah).
(9) Barang siapa dengan sengaja melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal
50 ayat (3) huruf j, diancam dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda
paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima milyar rupiah).
(10) Barang siapa dengan sengaja melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal
50 ayat (3) huruf k, diancam dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda
paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu milyar rupiah).
(11) Barang siapa dengan sengaja melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal
50 ayat (3) huruf l, diancam dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda
paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu milyar rupiah).
(12) Barang siapa dengan sengaja melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal
50 ayat (3) huruf m, diancam dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan denda
paling banyak Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah).

(13) Tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), ayat (3), ayat (4), ayat
(5), ayat (6), ayat (7), ayat (9), ayat (10), dan ayat (11) adalah kejahatan, dan tindak
pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (8) dan ayat (12) adalah pelanggaran.
(14) Tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 ayat (1), ayat (2), dan ayat
(3) apabila dilakukan oleh dan atau atas nama badan hukum atau badan usaha, tuntutan dan
sanksi pidananya dijatuhkan terhadap pengurusnya, baik sendiri-sendiri maupun bersamasama, dikenakan pidana sesuai dengan ancaman pidana masing-masing ditambah dengan 1/3
(sepertiga) dari pidana yang dijatuhkan.
(15) Semua hasil hutan dari hasil kejahatan dan pelanggaran dan atau alat-alat termasuk alat
angkutnya yang dipergunakan untuk melakukan kejahatan dan atau pelanggaran sebagaimana
dimaksud dalam pasal ini dirampas untuk Negara.
Pasal 79
(1) Kekayaan negara berupa hasil hutan dan barang lainnya baik berupa temuan dan atau
rampasan dari hasil kejahatan atau pelanggaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 78
dilelang untuk Negara.
(2) Bagi pihak-pihak yang berjasa dalam upaya penyelamatan kekayaan Negara
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan insentif yang disisihkan dari hasil lelang
yang dimaksud.
(3) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur oleh Menteri.
BAB XV
GANTI RUGI DAN SANKSI ADMINISTRATIF
Pasal 80
(1) Setiap perbuatan melanggar hukum yang diatur dalam undang-undang ini, dengan
tidak mengurangi sanksi pidana sebagaimana diatur dalam Pasal 78, mewajibkan
kepada penanggung jawab perbuatan itu untuk membayar ganti rugi sesuai dengan
tingkat kerusakan atau akibat yang ditimbulkan kepada Negara, untuk biaya
rehabilitasi, pemulihan kondisi hutan, atau tindakan lain yang diperlukan.
(2) Setiap pemegang izin usaha pemanfaatan kawasan, izin usaha pemanfaatan jasa
lingkungan, izin usaha pemanfaatan hasil hutan, atau izin pemungutan hasil hutan
yang diatur dalam undang-undang ini, apabila melanggar ketentuan di luar ketentuan
pidana sebagaimana diatur dalam Pasal 78 dikenakan sanksi administratif.
(3) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dan ayat (2)
diatur dengan Peraturan Pemerintah.

BAB XVI
KETENTUAN PERALIHAN
Pasal 81
Kawasan hutan yang telah ditunjuk dan atau ditetapkan berdasarkan peraturan
perundang-undangan yang berlaku sebelum berlakunya undang-undang ini dinyatakan
tetap berlaku berdasarkan undang-undang ini.
Pasal 82
Semua peraturan pelaksanaan dari peraturan perundang-undangan di bidang kehutanan
yang telah ada, sepanjang tidak bertentangan dengan undang-undang ini, tetap berlaku
sampai dengan dikeluarkannya peraturan pelaksanaan yang berdasarkan undang-undang ini.
BAB XVII
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 83
Pada saat mulai berlakunya undang-undang ini maka dinyatakan tidak berlaku:
1. Boschordonnantie Java en Madoera 1927, Staatsblad Tahun 1927 Nomor 221,
sebagaimana telah diubah dengan Staatsblad Tahun 1931 Nomor 168, terakhir
diubah dengan Staatsblad Tahun 1934 Nomor 63;
2. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok
Kehutanan (Lembaran Negara Tahun 1967 Nomor 8, Tambahan Lembaran Negara
Nomor 2823).
Pasal 84
Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Agar semua orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan undang-undang ini
dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.

Disahkan di Jakarta,
pada tanggal 30 September 1999
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
ttd
BACHARUDIN JUSUF HABIBIE
Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 30 September 1999
MENTERI NEGARA SEKRETARIS
NEGARA REPUBLIK INDONESIA,
ttd
M U LAD I

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1999 NOMOR


167

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA


NOMOR 19 TAHUN 2004
TENTANG
PENETAPAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANGUNDANG NOMOR 1 TAHUN 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS
UNDANG-UNDANG NOMOR 41
TAHUN 1999
TENTANG KEHUTANAN MENJADI UNDANG-UNDANG
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
Menimbang

:
a. bahwa di dalam Undang-undang Nomor 41 Tahun 1999
tentang Kehutanan tidak mengatur kelangsungan perizinan
atau perjanjian pertambangan yang telah ada sebelum
berlakunya Undang-undang tersebut;
b. bahwa hal tersebut menimbulkan ketidakpastian hukum
dalam berusaha di bidang pertambangan yang di kawasan
hutan terutama bagi investor yang telah memiliki izin atau
perjanjian sebelum berlakunya Undang-undang tersebut,
sehingga dapat menempatkan Pemerintah dalam posisi yang
sulit dalam mengembangkan iklim investasi;
c. bahwa dalam rangka terciptanya kepastian hukum dalam
berusaha di bidang pertambangan yang berada di kawasan
hutan, dan mendorong minat serta kepercayaan investor untuk
berusaha

di

Indonesia,

Pemerintah

telah

menetapkan

Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 1


Tahun 2004 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor
41 Tahun 1999 tentang Kehutanan;
d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud
dalam huruf a, b, dan c dipandang perlu menetapkan
Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 1
Tahun 2004 tentang Perubahan atas Undang- undang Nomor
41 Tahun 1999 tentang Kehutanan menjadi Undang-undang;

Mengingat

: 1. Pasal 5 ayat (1), Pasal 20 ayat (1), Pasal 22 ayat (1) dan ayat
(2) Undang-Undang Dasar 1945 sebagaimana telah
diubah dengan Perubahan Keempat Undang-Undang
Dasar 1945;
2. Undang-undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor
167, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3888);

Dengan persetujuan
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA
MEMUTUSKAN :
Menetapkan : UNDANG-UNDANG TENTANG PENETAPAN PERATURAN
PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG NOMOR
1 TAHUN 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANGUNDANG

NOMOR

41

TAHUN

1999

TENTANG

KEHUTANAN MENJADI UNDANG-UNDANG.

Pasal 1
Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 1
Tahun 2004 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 41
Tahun 1999 tentang Kehutanan (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2004 Nomor 29, Tambahan Lembaran Negara
Nomor

4374)

ditetapkan

menjadi

Undang-undang,

dan

melampirkannya sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari


Undang-undang ini.
Pasal 2
Undang-undang ini mulai berlaku sejak tanggal diundangkan.
Agar

setiap

orang

mengetahuinya,

memerintahkan

pengundangan Undang-undang ini dengan penempatannya


dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.

Disahkan diJakarta
pada tanggal 13 Agustus 2004
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
ttd.
MEGAWATI SOEKARNOPUTRI
Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 13 Agustus 2004
SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA,
ttd.
BAMBANG KESOWO

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2004 NOMOR 86

Salinan sesuai dengan aslinya,


Deputi Sekretaris Kabinet
Bidang Hukum dan
Perundang-undangan

Lambock V. Nahattands

PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG


REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 1 TAHUN 2004
TENTANG
PERUBAHAN ATAS
UNDANG-UNDANG NOMOR 41 TAHUN 1999
TENTANG KEHUTANAN
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang

: a.

bahwa di dalam Undang-undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang


Kehutanan tidak mengatur mengenai kelangsungan perizinan atau
perjanjian pertambangan yang telah ada sebelum berlakunya Undangundang tersebut;

b.

bahwa hal tersebut menimbulkan ketidakpastian hukum dalam


berusaha di

bidang pertambangan di kawasan hutan terutama bagi

investor yang telah

memiliki izin atau perjanjian sebelum

berlakunya Undang-undang tersebut,

sehingga dapat menempatkan

Pemerintah dalam posisi yang sulit dalam

mengembangkan

iklim investasi;
c. bahwa dalam rangka terciptanya kepastian hukum dalam berusaha di
bidang pertambangan yang berada di kawasan hutan, dan mendorong
minat serta

kepercayaan investor untuk berusaha di Indonesia,

dipandang perlu untuk melakukan

perubahan

terhadap

Undang-

undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan dengan Peraturan


Pemerintah Pengganti Undang-undang;
Mengingat

: 1.

Pasal 22 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 sebagaimana telah


diubah dengan Perubahan Keempat Undang-Undang Dasar 1945;

2.

Undang-undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan (Lembaran


Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 167, Tambahan
Lembaran Negara Nomor 3888);

MEMUTUSKAN :
Menetapkan

PERATURAN

PEMERINTAH

PENGGANTI

UNDANG-UNDANG

TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 41


TAHUN 1999 TENTANG KEHUTANAN.

Pasal I
Menambah ketentuan baru dalam Bab Penutup yang dijadikan Pasal 83A
dan Pasal 83B, yang berbunyi sebagai berikut :

Pasal 83A
Semua perizinan atau perjanjian di bidang pertambangan di kawasan hutan
yang telah ada sebelum berlakunya Undang-undang Nomor 41 Tahun 1999
tentang Kehutanan dinyatakan tetap berlaku sampai berakhirnya izin atau
perjanjian dimaksud.

Pasal 83B
Pelaksanaan lebih lanjut ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal
83A ditetapkan dengan Keputusan Presiden.

Pasal II
Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang ini mulai berlaku pada
tanggal diundangkan.
Agar

setiap

Peraturan

orang

mengetahuinya,

Pemerintah

Pengganti

memerintahkan

pengundangan

Undang-undang

penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.

ini

dengan

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 11 Maret 2004
PRESIDEN REPUBLIK
INDONESIA,
Ttd
MEGAWATI SOEKARNOPUTRI
Diundangkan di Jakarta pada tanggal 11 Maret 2004
SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA,
ttd
BAMBANG KESOWO

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2004 NOMOR 29

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN


2009 TENTANG PERLINDUNGAN DAN PENGELOLAAN
LINGKUNGAN HIDUP
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN
REPUBLIK INDONESIA,
Menimbang :

a. bahwa lingkungan hidup yang baik dan sehat merupakan


hak asasi setiap warga negara Indonesia sebagaimana
diamanatkan dalam Pasal 28H Undang- Undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
b. bahwa

pembangunan ekonomi nasional sebagaimana


diamanatkan oleh Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945 diselenggarakan berdasarkan
prinsip pembangunan
berkelanjutan dan berwawasan
lingkungan;

c. bahwa semangat otonomi daerah dalam penyelenggaraan

pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia telah


membawa perubahan hubungan dan kewenangan antara
Pemerintah dan pemerintah daerah, termasuk di bidang
perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup;
d. bahwa kualitas lingkungan hidup yang semakin menurun

telah mengancam kelangsungan perikehidupan manusia


dan makhluk hidup lainnya sehingga perlu dilakukan
perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup yang
sungguh- sungguh dan konsisten oleh semua pemangku
kepentingan;
e. bahwa

pemanasan global yang semakin meningkat


mengakibatkan
perubahan
iklim
sehingga memperparah penurunan kualitas lingkungan
hidup karena itu perlu dilakukan perlindungan dan
pengelolaan lingkungan hidup;

f. bahwa agar lebih

menjamin
kepastian hukum dan
memberikan perlindungan terhadap hak setiap orang
untuk mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan
sehat sebagai bagian dari perlindungan terhadap
keseluruhan ekosistem, perlu dilakukan pembaruan
terhadap Undang- Undang Nomor 23 Tahun 1997
tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup;

g.

bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana


dimaksud dalam huruf a, huruf b, huruf c, huruf d,
huruf e, dan huruf f, perlu membentuk Undang-

Undang tentang Perlindungan


Lingkungan Hidup;

dan

Pengelolaan

Mengingat : Pasal 20, Pasal 21, Pasal 28H ayat (1), serta Pasal 33 ayat (3)
dan ayat (4) Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945;

Dengan Persetujuan Bersama


DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA
dan
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

MEMUTUSKAN:
Menetapkan :
UNDANG-UNDANG TENTANG PERLINDUNGAN
DAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP.

BAB I
KETENTUAN
UMUM
Pasal 1
Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan:

1.

2.

Lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua


benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk
manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi alam itu
sendiri, kelangsungan perikehidupan, dan kesejahteraan
manusia serta makhluk hidup lain.
Perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup adalah
upaya sistematis dan terpadu yang dilakukan untuk

melestarikan fungsi lingkungan hidup dan mencegah


terjadinya pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan
hidup
yang
meliputi
perencanaan,
pemanfaatan,
pengendalian, pemeliharaan, pengawasan, dan penegakan
hukum.

3.

Pembangunan berkelanjutan adalah upaya sadar dan


terencana yang memadukan aspek lingkungan hidup,
sosial, dan ekonomi ke dalam strategi pembangunan
untuk menjamin
keutuhan lingkungan hidup serta
keselamatan, kemampuan, kesejahteraan, dan mutu hidup
generasi masa kini dan generasi masa depan.

4.

Rencana perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup


yang selanjutnya disingkat RPPLH adalah perencanaan
tertulis yang memuat potensi, masalah lingkungan hidup,
serta upaya perlindungan dan pengelolaannya dalam
kurun waktu tertentu.

5.

Ekosistem adalah tatanan unsur lingkungan hidup yang


merupakan
kesatuan
utuh-menyeluruh dan saling
mempengaruhi
dalam
membentuk
keseimbangan,
stabilitas, dan produktivitas lingkungan hidup.

6.

Pelestarian fungsi lingkungan hidup adalah rangkaian


upaya untuk memelihara kelangsungan daya dukung dan
daya tampung lingkungan hidup.

7.

Daya dukung lingkungan hidup adalah kemampuan


lingkungan hidup untuk mendukung perikehidupan
manusia, makhluk hidup lain, dan keseimbangan
antarkeduanya.

8.

Daya tampung lingkungan hidup


adalah kemampuan
lingkungan hidup untuk menyerap zat, energi, dan/atau
komponen lain yang masuk atau dimasukkan ke
dalamnya.

9.

Sumber daya alam adalah unsur lingkungan hidup yang


terdiri atas sumber daya hayati dan nonhayati yang secara
keseluruhan membentuk kesatuan ekosistem.

10. Kajian lingkungan hidup strategis, yang

selanjutnya
disingkat KLHS, adalah rangkaian analisis yang
sistematis, menyeluruh, dan partisipatif untuk memastikan
bahwa prinsip pembangunan berkelanjutan telah menjadi
dasar dan terintegrasi dalam pembangunan suatu wilayah
dan/atau kebijakan, rencana, dan/atau program.

11. Analisis mengenai dampak lingkungan hidup,


selanjutnya disebut Amdal, adalah kajian

yang
mengenai

dampak penting suatu usaha dan/atau kegiatan yang


direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan
bagi
proses
pengambilan
keputusan
tentang
penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan.

12. Upaya

pengelolaan lingkungan hidup dan upaya


pemantauan lingkungan hidup, yang selanjutnya disebut
UKL-UPL,
adalah
pengelolaan
dan pemantauan
terhadap usaha dan/atau kegiatan yang tidak berdampak
penting terhadap lingkungan hidup yang diperlukan bagi
proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan
usaha dan/atau kegiatan.

13. Baku mutu lingkungan hidup adalah ukuran batas atau


kadar makhluk hidup, zat, energi, atau komponen yang
ada atau harus ada dan/atau unsur pencemar yang
ditenggang keberadaannya dalam suatu sumber daya
tertentu sebagai unsur lingkungan hidup.

14. Pencemaran

lingkungan hidup adalah masuk atau


dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan/atau
komponen lain ke dalam
lingkungan hidup oleh
kegiatan manusia sehingga melampaui baku mutu
lingkungan hidup yang telah ditetapkan.

15. Kriteria baku kerusakan lingkungan hidup adalah ukuran


batas perubahan sifat fisik, kimia, dan/atau hayati
lingkungan hidup yang dapat ditenggang oleh lingkungan
hidup untuk dapat tetap melestarikan fungsinya.

16. Perusakan lingkungan hidup adalah tindakan orang yang


menimbulkan perubahan langsung atau tidak langsung
terhadap sifat fisik, kimia, dan/atau hayati lingkungan
hidup sehingga
melampaui kriteria baku kerusakan
lingkungan hidup.

17. Kerusakan lingkungan hidup adalah perubahan langsung


dan/atau tidak langsung terhadap sifat fisik, kimia,
dan/atau hayati lingkungan hidup yang melampaui
kriteria baku kerusakan lingkungan hidup.

18. Konservasi sumber daya alam adalah pengelolaan sumber


daya
alam
untuk
menjamin
pemanfaatannya
secara
bijaksana
serta kesinambungan ketersediaannya dengan
memelihara dan meningkatkan kualitas nilai
keanekaragamannya.

tetap
serta

19. Perubahan

iklim adalah berubahnya iklim yang


diakibatkan langsung atau tidak langsung oleh aktivitas
manusia sehingga menyebabkan perubahan komposisi
atmosfir secara global dan selain itu juga berupa
perubahan variabilitas iklim alamiah yang teramati pada
kurun waktu yang dapat dibandingkan.

20.

Limbah adalah sisa suatu usaha dan/atau kegiatan.

21. Bahan

berbahaya dan beracun yang selanjutnya


disingkat B3 adalah zat, energi, dan/atau komponen
lain yang karena sifat, konsentrasi, dan/atau jumlahnya,
baik secara langsung maupun tidak langsung, dapat
mencemarkan dan/atau merusak
lingkungan hidup,
dan/atau membahayakan lingkungan hidup, kesehatan,
serta kelangsungan hidup manusia dan makhluk hidup
lain.

22. Limbah bahan berbahaya dan beracun, yang selanjutnya


disebut Limbah B3, adalah sisa suatu usaha dan/atau
kegiatan yang mengandung B3.

23. Pengelolaan limbah B3 adalah kegiatan yang meliputi


pengurangan,
pengangkutan,
penimbunan.

penyimpanan,
pengumpulan,
pemanfaatan, pengolahan, dan/atau

24. Dumping (pembuangan) adalah kegiatan membuang,


menempatkan, dan/atau memasukkan limbah dan/atau
bahan dalam jumlah, konsentrasi, waktu, dan lokasi
tertentu
dengan
persyaratan tertentu ke media
lingkungan hidup tertentu.

25. Sengketa lingkungan hidup adalah perselisihan antara


dua pihak atau lebih yang timbul dari kegiatan yang
berpotensi dan/atau telah berdampak pada lingkungan
hidup.

26. Dampak lingkungan hidup adalah pengaruh perubahan


pada lingkungan hidup yang diakibatkan oleh suatu usaha
dan/atau kegiatan.

27. Organisasi lingkungan hidup adalah

kelompok orang
yang terorganisasi dan terbentuk atas kehendak sendiri
yang
tujuan
dan kegiatannya berkaitan dengan
lingkungan hidup.

28. Audit lingkungan hidup adalah evaluasi yang dilakukan


untuk menilai ketaatan
penanggung jawab usaha
dan/atau kegiatan
terhadap persyaratan hukum dan
kebijakan yang ditetapkan oleh pemerintah.

29. Ekoregion adalah wilayah geografis yang

memiliki

kesamaan ciri iklim, tanah, air, flora, dan fauna asli,


serta pola interaksi manusia dengan alam yang
menggambarkan integritas sistem alam dan lingkungan
hidup.

30. Kearifan lokal adalah nilai-nilai luhur yang berlaku dalam


tata kehidupan masyarakat untuk antara lain melindungi
dan mengelola lingkungan hidup secara lestari.

31. Masyarakat hukum adat adalah kelompok masyarakat


yang secara turun
temurun
bermukim di wilayah
geografis tertentu karena adanya ikatan pada asal usul
leluhur, adanya hubungan yang kuat dengan lingkungan
hidup, serta adanya sistem nilai yang menentukan pranata
ekonomi, politik, sosial, dan hukum.

32. Setiap orang adalah orang perseorangan atau

badan
usaha, baik yang berbadan hukum maupun yang tidak
berbadan hukum.

33. Instrumen ekonomi lingkungan hidup adalah seperangkat


kebijakan ekonomi untuk mendorong Pemerintah,
pemerintah daerah, atau setiap orang ke arah pelestarian
fungsi lingkungan hidup.

34. Ancaman serius adalah ancaman yang berdampak luas


terhadap lingkungan hidup dan menimbulkan keresahan
masyarakat.

35. Izin lingkungan adalah izin yang diberikan kepada setiap


orang yang melakukan usaha dan/atau kegiatan yang
wajib
amdal
atau
UKL-UPL
dalam
rangka
perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup sebagai
prasyarat untuk memperoleh izin usaha dan/atau
kegiatan.

36. Izin

usaha dan/atau kegiatan adalah izin yang


diterbitkan oleh instansi teknis untuk melakukan usaha
dan/atau kegiatan.

37. Pemerintah pusat, yang selanjutnya disebut Pemerintah,


adalah Presiden Republik Indonesia yang memegang
kekuasaan pemerintahan Negara Republik Indonesia
sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

38. Pemerintah daerah adalah gubernur, bupati, atau walikota,


dan perangkat daerah sebagai
pemerintah daerah.

unsur penyelenggara

39. Menteri adalah menteri yang menyelenggarakan urusan


pemerintahan di bidang perlindungan dan pengelolaan
lingkungan hidup.

BAB II
ASAS, TUJUAN, DAN RUANG LINGKUP
Bagian
Kesatu Asas
Pasal 2
Perlindungan

dan
pengelolaan
lingkungan
hidup dilaksanakan berdasarkan asas:

a. tanggung jawab negara;


b. kelestarian dan keberlanjutan;
c. keserasian dan keseimbangan;
d. keterpaduan;
e. manfaat;
f.

kehati-hatian;

g. keadilan;
h. ekoregion;
i.

keanekaragaman hayati;

j.

pencemar membayar;

k. partisipatif;
l.

kearifan lokal;

m. tata kelola pemerintahan yang baik; dan


n. otonomi daerah.

Bagian
Kedua
Tujuan
Pasal 3

Perlindungan

dan
pengelolaan
lingkungan
hidup bertujuan:
a. melindungi wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia
dari pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup;

b. menjamin keselamatan, kesehatan, dan kehidupan


manusia;

c. menjamin kelangsungan kehidupan makhluk hidup dan


kelestarian ekosistem;

d. menjaga kelestarian fungsi lingkungan hidup;


e. mencapai keserasian, keselarasan, dan keseimbangan
lingkungan hidup;

f. menjamin terpenuhinya keadilan generasi masa kini dan


generasi masa depan;

g. menjamin

pemenuhan dan perlindungan hak atas


lingkungan hidup sebagai bagian dari hak asasi manusia;

h. mengendalikan

pemanfaatan
alam secara bijaksana;

sumber

i. mewujudkan pembangunan berkelanjutan; dan


j. mengantisipasi isu lingkungan global.

Bagian
Ketiga
Ruang
Lingkup
Pasal 4

Perlindungan
meliputi:
a. perencanaan;

dan

b. pemanfaatan;
c. pengendalian;
d. pemeliharaan;
e. pengawasan; dan
f. penegakan hukum.

pengelolaan

lingkungan

hidup

daya

BAB III
PERENCAN
AAN
Pasal 5
Perencanaan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup
dilaksanakan melalui tahapan:

a. inventarisasi lingkungan hidup;


b. penetapan wilayah ekoregion; dan
c. penyusunan RPPLH.

Bagian Kesatu
Inventarisasi Lingkungan Hidup

Pasal 6

(1) Inventarisasi lingkungan hidup sebagaimana dimaksud


dalam Pasal 5 huruf a terdiri atas inventarisasi lingkungan
hidup:
a. tingkat nasional;

b. tingkat pulau/kepulauan; dan


c. tingkat wilayah ekoregion.
(2) Inventarisasi

lingkungan hidup dilaksanakan untuk


memperoleh data dan informasi mengenai sumber daya
alam yang meliputi:
a. potensi dan ketersediaan;

b.
c.
d.
e.
f.

jenis yang dimanfaatkan;


bentuk penguasaan;
pengetahuan pengelolaan;
bentuk kerusakan; dan
konflik dan penyebab konflik yang timbul akibat
pengelolaan.

Bagian Kedua
Penetapan
Wilayah Ekoregion
Pasal 7

(1) Inventarisasi lingkungan hidup sebagaimana dimaksud


dalam Pasal 6 ayat (1) huruf a dan huruf b menjadi dasar
dalam penetapan wilayah ekoregion dan dilaksanakan oleh
Menteri setelah berkoordinasi dengan instansi terkait.

(2) Penetapan wilayah ekoregion sebagaimana dimaksud pada


ayat
(1)
dilaksanakan
dengan mempertimbangkan kesamaan:
a. karakteristik bentang alam;

b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.

daerah aliran sungai;


iklim;
flora dan fauna;
sosial budaya;
ekonomi;
kelembagaan masyarakat; dan
hasil inventarisasi lingkungan hidup.

Pasal 8
Inventarisasi lingkungan hidup di tingkat wilayah ekoregion
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) huruf c
dilakukan untuk menentukan daya dukung dan daya tampung
serta cadangan sumber daya alam. Bagian Ketiga Penyusunan
Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup
Pasal 9

(1) RPPLH sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5


huruf c terdiri atas:
a. RPPLH nasional;

b. RPPLH provinsi; dan


c. RPPLH kabupaten/kota.
(2) RPPLH nasional sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) huruf
nasional.

disusun

berdasarkan inventarisasi

(3) RPPLH

provinsi
sebagaimana
dimaksud
pada ayat (1) huruf b disusun berdasarkan:
a. RPPLH nasional;

b. inventarisasi tingkat pulau/kepulauan; dan


c. inventarisasi tingkat ekoregion.
(4) RPPLH kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) huruf c disusun berdasarkan:

a. RPPLH provinsi;
b. inventarisasi tingkat pulau/kepulauan; dan
c. inventarisasi tingkat ekoregion.
Pasal 10

(1) RPPLH sebagaimana dimaksud dalam Pasal

9
disusun oleh Menteri, gubernur, atau bupati/walikota
sesuai dengan kewenangannya.

(2) Penyusunan RPPLH sebagaimana

dimaksud pada
ayat (1) memperhatikan:
a. keragaman karakter dan fungsi ekologis;

b.
c.
d.
e.
f.

sebaran penduduk;
sebaran potensi sumber daya alam;
kearifan lokal;
aspirasi masyarakat; dan
perubahan iklim.

(3) RPPLH diatur dengan:


a. peraturan pemerintah untuk RPPLH nasional;
b. peraturan
daerah
provinsi
untuk
RPPLH provinsi; dan
c. peraturan
daerah
kabupaten/kota
untuk RPPLH kabupaten/kota.

(4) RPPLH memuat rencana tentang:


a. pemanfaatan dan/atau pencadangan sumber daya
alam;

b. pemeliharaan

dan
perlindungan
kualitas dan/atau fungsi lingkungan hidup;
c. pengendalian,
pemantauan,
serta pendayagunaan dan pelestarian sumber daya
alam; dan

d. adaptasi

dan mitigasi
perubahan iklim.

terhadap

(5) RPPLH menjadi dasar penyusunan dan dimuat dalam


rencana pembangunan jangka panjang dan rencana
pembangunan jangka menengah.
Pasal 11
Ketentuan lebih lanjut mengenai inventarisasi lingkungan
hidup sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6, penetapan
ekoregion sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 dan Pasal
8, serta RPPLH sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 dan
Pasal 10 diatur dalam Peraturan Pemerintah.

BAB IV
PEMANFAAT
AN

Pasal 12

(1) Pemanfaatan

sumber
berdasarkan RPPLH.

daya

alam

dilakukan

(2) Dalam hal RPPLH sebagaimana dimaksud pada ayat


(1) belum tersusun, pemanfaatan sumber daya alam
dilaksanakan berdasarkan daya dukung dan daya
tampung lingkungan hidup dengan memperhatikan:

a. keberlanjutan proses dan fungsi

lingkungan
hidup;
b. keberlanjutan produktivitas lingkungan hidup;
dan

c. keselamatan, mutu hidup, dan

kesejahteraan

masyarakat.

(3) Daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup


sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan
oleh:

a. Menteri untuk daya dukung dan daya tampung


lingkungan hidup nasional dan pulau/kepulauan;

b. gubernur untuk daya dukung dan daya tampung


lingkungan hidup provinsi dan
kabupaten/kota; atau

ekoregion

lintas

c. bupati/walikota

untuk daya dukung dan daya


tampung lingkungan hidup kabupaten/kota dan
ekoregion di wilayah kabupaten/kota.

(4) Ketentuan

lebih lanjut mengenai tata cara


penetapan daya dukung dan daya tampung
lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada
ayat (3) diatur dalam peraturan pemerintah.

BAB V

PENGENDALI
AN

Bagian Kesatu
Umum

Pasal 13

(1) Pengendalian

pencemaran
dan/atau
kerusakan
lingkungan hidup dilaksanakan dalam rangka
pelestarian fungsi lingkungan hidup.

(2) Pengendalian

pencemaran
dan/atau
kerusakan
lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) meliputi:

a. pencegahan;
b. penanggulangan; dan
c. pemulihan.
(3) Pengendalian

pencemaran
dan/atau
kerusakan
lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) dilaksanakan oleh Pemerintah, pemerintah daerah,
dan penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan
sesuai dengan kewenangan, peran, dan tanggung
jawab masing-masing.

Bagian
Kedua
Pencegahan

Pasal 14
Instrumen
terdiri atas:

pencegahan
pencemaran
dan/atau kerusakan lingkungan hidup

a. KLHS;
b. tata ruang;
c. baku mutu lingkungan hidup;
d. kriteria baku kerusakan lingkungan hidup;
e. amdal;
f. UKL-UPL;
g. perizinan;
h. instrumen ekonomi lingkungan hidup;
i. peraturan
perundang-undangan
berbasis lingkungan hidup;
j. anggaran berbasis lingkungan hidup;

k. analisis risiko lingkungan hidup;


l. audit lingkungan hidup; dan
m. instrumen
lain
sesuai
dengan
kebutuhan dan/atau perkembangan ilmu pengetahuan.

Paragraf 1
Kajian Lingkungan Hidup Strategis
Pasal 15

(1) Pemerintah dan pemerintah daerah wajib membuat


KLHS
untuk
memastikan
bahwa
prinsip
pembangunan berkelanjutan telah menjadi dasar dan
terintegrasi dalam pembangunan suatu wilayah
dan/atau kebijakan, rencana, dan/atau program.

(2) Pemerintah

dan
pemerintah
daerah
wajib
melaksanakan KLHS sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) ke dalam penyusunan atau evaluasi:

a. rencana tata ruang wilayah (RTRW)

beserta
rencana rincinya, rencana pembangunan jangka
panjang (RPJP), dan rencana pembangunan jangka
menengah (RPJM) nasional, provinsi, dan
kabupaten/kota; dan

b. kebijakan,

rencana, dan/atau program yang


berpotensi menimbulkan dampak dan/atau risiko
lingkungan hidup.

(3) KLHS dilaksanakan dengan mekanisme:


a. pengkajian pengaruh kebijakan, rencana, dan/atau

program terhadap
suatu wilayah;

kondisi lingkungan hidup di

b. perumusan

alternatif
penyempurnaan
kebijakan, rencana, dan/atau program; dan

c. rekomendasi

perbaikan
untuk
pengambilan
keputusan kebijakan, rencana, dan/atau program
yang mengintegrasikan prinsip pembangunan
berkelanjutan.

Pasal 16
KLHS memuat kajian antara lain:
a. kapasitas
daya
dukung
dan
daya
tampung lingkungan hidup untuk pembangunan;

b. perkiraan

mengenai
risiko lingkungan hidup;

dampak

dan

c. kinerja layanan/jasa ekosistem;


d. efisiensi pemanfaatan sumber daya alam;
e. tingkat

kerentanan
dan
kapasitas
adaptasi terhadap perubahan iklim; dan

f.

tingkat ketahanan dan potensi keanekaragaman hayati.


Pasal 17

(1) Hasil KLHS sebagaimana dimaksud dalam Pasal


15 ayat (3) menjadi dasar bagi kebijakan, rencana,
dan/atau program pembangunan dalam suatu wilayah.

(2) Apabila hasil KLHS sebagaimana dimaksud pada ayat


(1) menyatakan bahwa daya dukung dan daya
tampung sudah terlampaui,
a. kebijakan,
rencana,
dan/atau
program
pembangunan tersebut wajib diperbaiki sesuai
dengan rekomendasi KLHS; dan

b. segala

usaha dan/atau kegiatan yang telah


melampaui daya dukung dan daya tampung

lingkungan hidup tidak diperbolehkan lagi.


Pasal 18

(1) KLHS sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat


(1) dilaksanakan dengan melibatkan masyarakat dan
pemangku kepentingan.

(2) Ketentuan

lebih
lanjut
mengenai
tata
cara
penyelenggaraan KLHS diatur dalam Peraturan
Pemerintah.
Paragraf
2 Tata
Ruang

Pasal 19

(1) Untuk menjaga kelestarian fungsi lingkungan hidup


dan keselamatan masyarakat, setiap perencanaan tata
ruang wilayah wajib didasarkan pada KLHS.

(2) Perencanaan

tata ruang wilayah sebagaimana


dimaksud pada ayat (1) ditetapkan
dengan
memperhatikan daya dukung dan daya tampung
lingkungan hidup.
Paragraf 3

Baku Mutu Lingkungan Hidup

Pasal 20

(1) Penentuan terjadinya pencemaran lingkungan hidup


diukur melalui baku mutu lingkungan hidup.

(2) Baku mutu lingkungan hidup meliputi:


a. baku mutu air;
b. baku mutu air limbah;
c. baku mutu air laut;
d. baku mutu udara ambien;
e. baku mutu emisi;
f.

baku mutu gangguan; dan

g. baku mutu lain sesuai dengan perkembangan ilmu


pengetahuan dan teknologi.

(3) Setiap orang diperbolehkan untuk membuang limbah


ke media lingkungan hidup dengan persyaratan:

a. memenuhi

baku mutu
hidup; dan

lingkungan

b. mendapat izin dari Menteri, gubernur, atau


bupati/walikota

sesuai
dengan

kewenangannya.

(4) Ketentuan

lebih lanjut mengenai baku mutu


lingkungan hidup sebagaimana
dimaksud pada
ayat (2) huruf a, huruf c, huruf d, dan huruf g diatur
dalam Peraturan Pemerintah.

(5) Ketentuan

lebih lanjut mengenai baku mutu


lingkungan hidup sebagaimana
dimaksud pada
ayat (2) huruf b, huruf e, dan huruf f diatur dalam
peraturan menteri.

Paragraf 4
Kriteria Baku Kerusakan Lingkungan Hidup
Pasal 21

(1) Untuk menentukan terjadinya kerusakan lingkungan

hidup, ditetapkan kriteria baku kerusakan lingkungan


hidup.

(2) Kriteria baku kerusakan lingkungan hidup meliputi


kriteria baku kerusakan ekosistem dan kriteria baku
kerusakan akibat perubahan iklim.

(3) Kriteria baku kerusakan ekosistem meliputi:


a. kriteria
baku
kerusakan
tanah
untuk produksi biomassa;

b. kriteria baku kerusakan terumbu karang;


c. kriteria baku kerusakan lingkungan hidup yang
berkaitan dengan kebakaran hutan dan/atau lahan;

d. kriteria baku kerusakan mangrove;


e. kriteria baku kerusakan padang lamun;
f.

kriteria baku kerusakan gambut;

g. kriteria baku kerusakan karst; dan/atau


h. kriteria baku kerusakan ekosistem lainnya sesuai
dengan perkembangan
teknologi.

ilmu pengetahuan dan

(4) Kriteria baku kerusakan akibat perubahan iklim


didasarkan pada paramater antara lain:

a. kenaikan temperatur;
b. kenaikan muka air laut;
c. badai; dan/atau
d. kekeringan.

(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai kriteria

baku
kerusakan lingkungan hidup sebagaimana dimaksud
pada ayat (3) dan ayat (4) diatur dengan atau
berdasarkan Peraturan Pemerintah.

Paragraf 5
Amdal

Pasal 22

(1) Setiap usaha dan/atau kegiatan yang berdampak


penting terhadap lingkungan hidup wajib memiliki
amdal.

(2) Dampak penting ditentukan berdasarkan kriteria:


a. besarnya jumlah penduduk yang akan terkena
dampak rencana usaha dan/atau kegiatan;

b. luas wilayah penyebaran dampak;


c. intensitas

dan
lamanya
dampak berlangsung;

d. banyaknya komponen lingkungan

hidup lain

yang akan terkena dampak;

e. sifat kumulatif dampak;


f.

berbalik
dan/atau

atau

tidak

berbaliknya

dampak;

g. kriteria lain sesuai dengan perkembangan ilmu


pengetahuan dan teknologi.

Pasal 23

(1) Kriteria

usaha
dan/atau
kegiatan
yang
berdampak penting yang wajib dilengkapi
dengan amdal terdiri atas:

a. pengubahan bentuk lahan dan bentang alam;


b. eksploitasi sumber daya alam, baik yang
terbarukan maupun yang tidak terbarukan;
c. proses
dan
potensial

kegiatan
dapat

yang
secara
menimbulkan
pencemaran
dan/atau
kerusakan
lingkungan
hidup serta pemborosan dan kemerosotan
sumber daya alam dalam pemanfaatannya;

c. proses dan kegiatan yang hasilnya dapat


mempengaruhi
lingkungan
alam, lingkungan buatan, serta lingkungan
sosial dan budaya;

d. proses dan kegiatan yang hasilnya akan


mempengaruhi
pelestarian
konservasi sumber daya alam
perlindungan cagar budaya;

kawasan
dan/atau

e. introduksi jenis tumbuh-tumbuhan, hewan,


dan jasad renik;

f. pembuatan dan

penggunaan

bahan hayati

dan nonhayati;

g. kegiatan yang mempunyai risiko

tinggi
dan/atau mempengaruhi pertahanan negara;
dan/atau

h. penerapan

teknologi yang diperkirakan


mempunyai
potensi
besar
untuk
mempengaruhi lingkungan hidup.

(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai

jenis usaha
dan/atau kegiatan yang wajib dilengkapi dengan
amdal sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
diatur dengan peraturan Menteri.
Pasal 24

Dokumen amdal sebagaimana

dimaksud dalam

Pasal 22 merupakan dasar penetapan keputusan


kelayakan lingkungan hidup.
Pasal 25
Dokumen amdal memuat:
a. pengkajian mengenai dampak
dan/atau kegiatan;

rencana usaha

b. evaluasi kegiatan di sekitar lokasi rencana usaha


dan/atau kegiatan;

c. saran

masukan serta tanggapan masyarakat


terhadap rencana usaha dan/atau kegiatan;

d. prakiraan terhadap besaran dampak serta sifat


penting dampak yang terjadi jika rencana usaha
dan/atau kegiatan tersebut dilaksanakan;

e. evaluasi secara holistik terhadap dampak yang


terjadi
untuk
menentukan kelayakan
ketidaklayakan lingkungan hidup; dan

f. rencana

pengelolaan
lingkungan hidup.

dan

atau

pemantauan

Pasal 26

(1) Dokumen amdal sebagaimana dimaksud dalam


Pasal 22 disusun oleh
melibatkan masyarakat.

pemrakarsa

dengan

(2) Pelibatan

masyarakat
harus
dilakukan
berdasarkan prinsip pemberian informasi yang
transparan dan lengkap serta diberitahukan
sebelum
kegiatan dilaksanakan.

(3) Masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat


(1) meliputi:

a. yang terkena dampak;


b. pemerhati lingkungan hidup; dan/atau
c. yang

terpengaruh
atas
segala
bentuk keputusan dalam proses amdal.

(4) Masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat


(1) dapat mengajukan
dokumen amdal.

keberatan

terhadap

Pasal 27
Dalam

menyusun
dokumen
amdal,
pemrakarsa
sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 26 ayat (1) dapat meminta
bantuan kepada pihak lain.

Pasal 28

(1) Penyusun amdal sebagaimana dimaksud dalam


Pasal 26 ayat (1) dan Pasal 27 wajib memiliki
sertifikat kompetensi penyusun amdal.

(2) Kriteria untuk memperoleh sertifikat kompetensi


penyusun amdal
ayat (1) meliputi:

sebagaimana dimaksud pada

a. penguasaan metodologi penyusunan amdal;


b. kemampuan

melakukan
pelingkupan,
prakiraan, dan evaluasi dampak serta
pengambilan keputusan; dan

c. kemampuan

menyusun
rencana pengelolaan dan
pemantauan lingkungan hidup.

(3) Sertifikat

kompetensi
penyusun
amdal
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diterbitkan
oleh lembaga sertifikasi kompetensi penyusun
amdal yang ditetapkan oleh Menteri sesuai
dengan ketentuan peraturan
perundang- undangan.

(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai sertifikasi dan


kriteria kompetensi penyusun
dengan peraturan Menteri.

amdal diatur

Pasal 29

(1) Dokumen amdal dinilai oleh Komisi Penilai


Amdal yang dibentuk oleh Menteri, gubernur,
atau
bupati/walikota
sesuai
dengan
kewenangannya.

(2) Komisi Penilai Amdal wajib memiliki lisensi dari


Menteri,

gubernur,

atau
sesuai
kewenangannya.

(3) Persyaratan
dimaksud pada
Peraturan Menteri.

bupati/walikota
dengan
dan
lisensi
ayat

tatacara
sebagaimana
(2) diatur dengan

Pasal 30

(1) Keanggotaan

Komisi
Penilai
Amdal
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 terdiri
atas wakil dari unsur:
a. instansi lingkungan hidup;

b. instansi teknis terkait;


c. pakar di bidang pengetahuan

yang terkait
dengan jenis usaha dan/atau kegiatan yang
sedang dikaji;
d. pakar di bidang pengetahuan yang terkait
dengan dampak yang timbul dari suatu usaha
dan/atau kegiatan yang sedang dikaji;

e. wakil

dari masyarakat
terkena dampak; dan

yang

berpotensi

f. organisasi lingkungan hidup.

(2) Dalam melaksanakan tugasnya, Komisi Penilai


Amdal dibantu oleh tim teknis yang terdiri atas
pakar independen yang melakukan kajian
teknis dan sekretariat yang dibentuk untuk itu.

(3) Pakar

independen
dan
sekretariat sebagaimana dimaksud
pada ayat (3) ditetapkan oleh Menteri, gubernur,
atau bupati/walikota
sesuai
dengan kewenangannya.
Pasal 31

Berdasarkan hasil penilaian Komisi Penilai Amdal,


Menteri,
gubernur,
atau bupati/walikota menetapkan
keputusan
kelayakan
atau
ketidaklayakan
lingkungan hidup sesuai dengan kewenangannya.

Pasal 32

(1) Pemerintah dan pemerintah daerah membantu


penyusunan amdal bagi usaha dan/atau kegiatan
golongan ekonomi lemah yang berdampak
penting terhadap lingkungan hidup.

(2) Bantuan

penyusunan
amdal
sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) berupa fasilitasi, biaya,
dan/atau penyusunan amdal.

(3) Kriteria

mengenai usaha dan/atau kegiatan


golongan ekonomi lemah diatur dengan peraturan
perundang-undangan.
Pasal 33

Ketentuan lebih lanjut mengenai amdal sebagaimana


dimaksud dalam Pasal 22 sampai dengan Pasal 32
diatur dalam Peraturan Pemerintah.

Paragra
f6
UKLUPL
Pasal 34

(1) Setiap usaha dan/atau kegiatan yang tidak


termasuk
dalam
kriteria
wajib
sebagaimana dimaksud dalam Pasal
(1) wajib memiliki UKL-UPL.

amdal
23 ayat

(2) Gubernur

atau
bupati/walikota
menetapkan jenis usaha
dan/atau kegiatan
yang wajib dilengkapi dengan UKL-UPL.
Pasal 35

(1) Usaha dan/atau kegiatan yang tidak wajib


dilengkapi

UKL-UPL
sebagaimana
dimaksud
dalam Pasal 34 ayat (2) wajib membuat surat
pernyataan kesanggupan pengelolaan
dan

pemantauan lingkungan hidup.

(2) Penetapan

jenis usaha dan/atau kegiatan


sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan
berdasarkan kriteria:

a. tidak termasuk dalam kategori berdampak


penting sebagaimana dimaksud dalam Pasal
23 ayat (1); dan

b. kegiatan usaha mikro dan kecil.


(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai UKL-UPL dan
surat pernyataan kesanggupan pengelolaan dan
pemantauan lingkungan hidup diatur dengan
peraturan Menteri.
Paragraf 7
Perizinan
Pasal 36

(1) Setiap usaha dan/atau kegiatan yang wajib


memiliki amdal atau UKL-UPL wajib memiliki
izin lingkungan.

(2) Izin lingkungan sebagaimana

dimaksud pada
ayat (1) diterbitkan berdasarkan keputusan
kelayakan lingkungan
hidup sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 31 atau rekomendasi
UKL-UPL.

(3) Izin lingkungan sebagaimana

dimaksud pada
ayat (1) wajib mencantumkan persyaratan yang
dimuat dalam keputusan kelayakan lingkungan
hidup atau rekomendasi UKL-UPL.

(4) Izin

lingkungan diterbitkan oleh Menteri,


gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan
kewenangannya.
Pasal 37

(1) Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai


dengan
kewenangannya
wajib
menolak
permohonan izin lingkungan apabila permohonan
izin tidak dilengkapi dengan amdal atau UKLUPL.

(2) Izin lingkungan sebagaimana dimaksud dalam


Pasal 36 ayat (4) dapat dibatalkan apabila:
a. persyaratan
yang
diajukan
dalam
permohonan
izin
mengandung
cacat
hukum, kekeliruan, penyalahgunaan, serta
ketidakbenaran
dan/atau
pemalsuan
data,
dokumen,
dan/atau informasi;

b. penerbitannya

tanpa
memenuhi
syarat
sebagaimana
tercantum
dalam keputusan komisi tentang kelayakan
lingkungan hidup atau rekomendasi UKLUPL; atau

c. kewajiban yang ditetapkan dalam dokumen


amdal atau UKL-UPL tidak dilaksanakan
oleh penanggung jawab usaha dan/atau
kegiatan.
Pasal 38
Selain ketentuan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 37 ayat (2), izin lingkungan dapat dibatalkan
melalui keputusan pengadilan tata usaha negara.
Pasal 39

(1) Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai


dengan kewenangannya wajib mengumumkan
setiap
permohonan
dan
keputusan
izin
lingkungan.

(2) Pengumuman

sebagaimana dimaksud pada


ayat (1) dilakukan dengan cara yang mudah
diketahui oleh masyarakat.

Pasal 40

(1) Izin lingkungan merupakan persyaratan untuk


memperoleh izin usaha dan/atau kegiatan.

(2) Dalam hal izin lingkungan dicabut, izin usaha


dan/atau kegiatan dibatalkan.

(3) Dalam hal usaha dan/atau kegiatan mengalami


perubahan,

penanggung
jawab
dan/atau
kegiatan
wajib
memperbarui

usaha
izin

lingkungan.

Pasal 41
Ketentuan lebih lanjut mengenai izin sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 36 sampai dengan Pasal 40
diatur dalam Peraturan Pemerintah.

Paragraf 8
Instrumen Ekonomi Lingkungan Hidup
Pasal 42

(1) Dalam rangka melestarikan fungsi lingkungan


hidup, Pemerintah dan pemerintah daerah wajib
mengembangkan dan menerapkan instrumen
ekonomi lingkungan hidup.

(2) Instrumen

ekonomi
lingkungan
hidup
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:

a. perencanaan pembangunan dan kegiatan


ekonomi;

b. pendanaan lingkungan hidup; dan


c. insentif dan/atau disinsentif.
Pasal 43

(1) Instrumen

perencanaan
pembangunan
dan
kegiatan ekonomi sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 42 ayat (2) huruf a meliputi:

a. neraca sumber daya alam dan lingkungan


hidup;

b. penyusunan

produk

domestik

bruto

dan

produk
domestik
regional
bruto yang
mencakup penyusutan sumber daya alam dan
kerusakan lingkungan hidup;

c. mekanisme

kompensasi/imbal
jasa lingkungan hidup

antardaerah; dan

d. internalisasi biaya lingkungan hidup.


(2) Instrumen

pendanaan
lingkungan
hidup
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 ayat
(2) huruf b meliputi:

a.

dana
jaminan
lingkungan hidup;

b.

dana penanggulangan pencemaran dan/atau


kerusakan dan pemulihan lingkungan hidup;
dan

c.

dana amanah/bantuan untuk konservasi.

pemulihan

(3) Insentif dan/atau disinsentif sebagaimana dimaksud


dalam Pasal 42 ayat (2) huruf c antara lain
diterapkan dalam bentuk:

a. pengadaan

dan

b. penerapan

retribusi,

barang
lingkungan hidup;
pajak,
lingkungan hidup;

jasa

yang
dan

ramah
subsidi

c. pengembangan sistem lembaga keuangan dan


pasar modal yang ramah lingkungan hidup;

d. pengembangan

sistem
perdagangan
pembuangan limbah dan/atau emisi;

e. pengembangan

sistem

pembayaran

izin
jasa

lingkungan hidup;

f. pengembangan asuransi lingkungan hidup;


g. pengembangan sistem label ramah lingkungan
hidup; dan

h. sistem

penghargaan
kinerja
di
bidang
perlindungan dan pengelolaan lingkungan
hidup.

(4) Ketentuan
ekonomi

lebih lanjut mengenai instrumen


lingkungan
hidup
sebagaimana

dimaksud dalam Pasal 42 dan Pasal 43 ayat (1)


sampai dengan ayat (3) diatur dalam Peraturan
Pemerintah.
Paragraf 9
Peraturan Perundang-undangan Berbasis Lingkungan Hidup
Pasal 44
Setiap penyusunan peraturan perundang- undangan
pada tingkat nasional dan daerah wajib memperhatikan
perlindungan fungsi lingkungan hidup dan prinsip
perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup sesuai
dengan ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang
ini.
Paragraf 10
Anggaran Berbasis Lingkungan Hidup
Pasal 45
(1) Pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat
Republik Indonesia serta pemerintah daerah dan
Dewan
Perwakilan
Rakyat
Daerah
wajib
mengalokasikan anggaran yang memadai untuk
membiayai:
a. kegiatan
perlindungan
dan
pengelolaan lingkungan hidup; dan

b. program pembangunan yang berwawasan


lingkungan hidup.

(2) Pemerintah wajib mengalokasikan anggaran dana


alokasi khusus lingkungan hidup yang memadai
untuk diberikan kepada daerah yang memiliki
kinerja perlindungan dan pengelolaan lingkungan
hidup yang baik.

Pasal 46
Selain ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal
45, dalam rangka pemulihan kondisi lingkungan hidup
yang
kualitasnya telah mengalami pencemaran
dan/atau kerusakan pada saat undang-undang ini

ditetapkan, Pemerintah dan pemerintah daerah wajib


mengalokasikan anggaran untuk pemulihan lingkungan
hidup.
Paragraf 11
Analisis Risiko Lingkungan Hidup

Pasal 47

(1) Setiap usaha dan/atau kegiatan yang berpotensi


menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan
hidup,
ancaman terhadap ekosistem dan
kehidupan, dan/atau kesehatan dan keselamatan
manusia
wajib
melakukan
analisis
risiko
lingkungan hidup.

(2) Analisis risiko lingkungan hidup sebagaimana


dimaksud pada ayat (1) meliputi:

a. pengkajian risiko;
b. pengelolaan risiko; dan/atau
c. komunikasi risiko.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai analisis risiko
lingkungan
Pemerintah.

hidup

diatur

dalam

Peraturan

Paragraf 12
Audit Lingkungan Hidup
Pasal 48
Pemerintah mendorong penanggung jawab usaha
dan/atau
kegiatan
untuk
melakukan audit
lingkungan hidup dalam rangka meningkatkan
kinerja lingkungan hidup.

Pasal 49

(1) Menteri

mewajibkan

audit

lingkungan

hidup

kepada:

a. usaha dan/atau kegiatan tertentu yang berisiko


tinggi terhadap lingkungan hidup; dan/atau

b. penanggung jawab usaha

dan/atau kegiatan
yang menunjukkan ketidaktaatan terhadap
peraturan perundang-undangan.

(2) Penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan wajib


melaksanakan audit lingkungan hidup.

(3) Pelaksanaan audit lingkungan hidup terhadap


kegiatan tertentu yang berisiko tinggi dilakukan
secara berkala.

Pasal 50

(1) Apabila

penanggung jawab usaha dan/atau


kegiatan
tidak
melaksanakan
kewajiban
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49 ayat (1),
Menteri dapat melaksanakan atau menugasi pihak
ketiga yang independen untuk melaksanakan audit
lingkungan hidup atas beban biaya penanggung
jawab usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan.

(2) Menteri mengumumkan hasil audit lingkungan


hidup.
Pasal 51

(1) Audit lingkungan hidup sebagaimana dimaksud


dalam Pasal 48 dan Pasal 49 dilaksanakan oleh
auditor lingkungan hidup.

(2) Auditor

lingkungan
hidup
sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) wajib memiliki sertifikat
kompetensi auditor lingkungan hidup.

(3) Kriteria untuk memperoleh sertifikat kompetensi


auditor lingkungan hidup sebagaimana
pada ayat (2) meliputi kemampuan:

dimaksud

a. memahami prinsip, metodologi, dan tata


laksana audit lingkungan hidup;

b. melakukan audit lingkungan hidup yang

meliputi
pengambilan
dan

tahapan
perencanaan,
pelaksanaan,
kesimpulan, dan pelaporan;

c. merumuskan rekomendasi langkah perbaikan


sebagai
hidup.

tindak

lanjut

audit

lingkungan

(4) Sertifikat kompetensi auditor lingkungan hidup


sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diterbitkan
oleh lembaga sertifikasi kompetensi auditor
lingkungan
hidup sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
Pasal 52
Ketentuan lebih lanjut mengenai audit lingkungan
hidup sebagaimana dimaksud dalam Pasal 48 sampai
dengan Pasal 51 diatur dengan Peraturan Menteri.
Bagian Ketiga
Penanggulanga
n

Pasal 53

(1) Setiap

orang yang melakukan pencemaran


dan/atau perusakan lingkungan hidup wajib
melakukan penanggulangan pencemaran dan/atau
kerusakan lingkungan hidup.

(2) Penanggulangan pencemaran dan/atau kerusakan


lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) dilakukan dengan:

a. pemberian

informasi
peringatan pencemaran
dan/atau
kerusakan lingkungan hidup
kepada masyarakat;

b. pengisolasian

pencemaran
dan/atau kerusakan lingkungan hidup;

c. penghentian sumber pencemaran dan/atau


kerusakan lingkungan hidup; dan/atau

d. cara lain yang sesuai dengan perkembangan


ilmu pengetahuan dan teknologi.

(3) Ketentuan

lebih

lanjut

mengenai

tata

cara

penanggulangan pencemaran dan/atau kerusakan


lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) diatur dalam Peraturan Pemerintah.
Bagian
Keempat
Pemulihan

Pasal 54

(1) Setiap

orang yang melakukan pencemaran


dan/atau perusakan lingkungan
hidup wajib
melakukan pemulihan fungsi lingkungan hidup.

(2) Pemulihan fungsi lingkungan hidup sebagaimana


dimaksud
tahapan:

pada

ayat

(1) dilakukan

dengan

a. penghentian

sumber
pencemaran
dan pembersihan unsur pencemar;

b. remediasi;
c. rehabilitasi;
d. restorasi; dan/atau
e. cara lain yang sesuai dengan perkembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi.

(3) Ketentuan

lebih lanjut mengenai tata cara


pemulihan fungsi lingkungan hidup sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) diatur dalam Peraturan
Pemerintah.

Pasal 55

(1) Pemegang

izin
lingkungan
sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 36 ayat (1) wajib
menyediakan dana penjaminan untuk pemulihan
fungsi lingkungan hidup.

(2) Dana penjaminan disimpan di

bank pemerintah
yang ditunjuk oleh Menteri, gubernur, atau
bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya.

(3) Menteri, gubernur, atau

bupati/walikota sesuai
dengan kewenangannya dapat menetapkan pihak
ketiga
untuk
melakukan pemulihan
fungsi
lingkungan hidup dengan menggunakan dana

penjaminan.

(4) Ketentuan

lebih
lanjut
mengenai
dana
penjaminan sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) sampai
dengan
ayat (3) diatur
dalam Peraturan Pemerintah.

Pasal 56
Ketentuan
lebih
lanjut
mengenai pengendalian
pencemaran dan/atau kerusakan
lingkungan hidup
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 sampai dengan
Pasal 55 diatur dalam Peraturan Pemerintah.

BAB VI
PEMELIHARA
AN

Pasal 57

(1) Pemeliharaan lingkungan hidup dilakukan melalui


upaya:

a.

konservasi sumber daya alam;

b.

pencadangan
alam; dan/atau

c.

pelestarian fungsi atmosfer.

(2) Konservasi
dimaksud
kegiatan:

sumber

sumber daya
pada ayat (1)

daya

alam sebagaimana
huruf a meliputi

a. perlindungan sumber daya alam;


b. pengawetan sumber daya alam; dan
c. pemanfaatan secara lestari sumber daya
alam.
(3) Pencadangan sumber daya alam sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) huruf b merupakan sumber
daya alam yang tidak dapat dikelola dalam jangka
waktu tertentu.

(4) Pelestarian fungsi atmosfer sebagaimana dimaksud

pada ayat (1) huruf c meliputi:

a. upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim;


b. upaya perlindungan lapisan ozon; dan
c. upaya perlindungan terhadap hujan asam.
(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai konservasi dan
pencadangan sumber daya alam serta pelestarian
fungsi atmosfer sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) diatur dengan Peraturan Pemerintah.

BAB VII
PENGELOLAAN BAHAN BERBAHAYA DAN
BERACUN SERTA LIMBAH BAHAN BERBAHAYA
DAN BERACUN
Bagian
Kesatu
Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun
Pasal 58

(1) Setiap

orang yang memasukkan ke dalam


wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia,
menghasilkan,
mengangkut,
mengedarkan,
menyimpan, memanfaatkan, membuang, mengolah,
dan/atau
menimbun
B3
wajib
melakukan
pengelolaan B3.

(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai pengelolaan B3


sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam
Peraturan Pemerintah.

Bagian
Kedua
Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun
Pasal 59

(1) Setiap

orang

yang

menghasilkan

limbah B3

wajib melakukan pengelolaan limbah B3 yang


dihasilkannya.

(2) Dalam hal B3 sebagaimana dimaksud dalam Pasal


58 ayat (1) telah
mengikuti
limbah B3.

kedaluwarsa, pengelolaannya
ketentuan
pengelolaan

(3) Dalam hal setiap orang tidak mampu melakukan


sendiri pengelolaan limbah B3, pengelolaannya
diserahkan kepada pihak lain.

(4) Pengelolaan limbah B3 wajib mendapat izin dari


Menteri, gubernur, atau
dengan kewenangannya.

bupati/walikota sesuai

(5) Menteri, gubernur, atau bupati/walikota

wajib
mencantumkan persyaratan lingkungan hidup yang
harus dipenuhi dan kewajiban yang harus
dipatuhi pengelola limbah B3 dalam izin.

(6) Keputusan pemberian izin wajib diumumkan.


(7) Ketentuan lebih lanjut mengenai

pengelolaan
limbah B3 diatur dalam Peraturan Pemerintah.

Bagian Ketiga
Dumping

Pasal 60
Setiap orang dilarang melakukan dumping limbah
dan/atau bahan ke media lingkungan hidup tanpa
izin.
Pasal 61

(1) Dumping sebagaimana dimaksud dalam Pasal 60


hanya dapat dilakukan dengan izin dari Menteri,
gubernur, atau
bupati/walikota sesuai dengan
kewenangannya.

(2) Dumping sebagaimana dimaksud pada ayat


(1) hanya dapat dilakukan di lokasi yang telah
ditentukan.

(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata

cara dan

persyaratan dumping limbah


dalam Peraturan Pemerintah.

atau bahan diatur

BAB VIII
SISTEM
INFORMASI

Pasal 62

(1) Pemerintah

dan
pemerintah
daerah
mengembangkan sistem informasi lingkungan
hidup
untuk
mendukung pelaksanaan
dan
pengembangan
kebijakan
perlindungan dan
pengelolaan lingkungan hidup.

(2) Sistem informasi lingkungan hidup


secara terpadu dan terkoordinasi
dipublikasikan kepada masyarakat.

dilakukan
dan wajib

(3) Sistem informasi lingkungan hidup paling sedikit


memuat informasi mengenai status lingkungan
hidup, peta rawan lingkungan hidup, dan informasi
lingkungan hidup lain.

(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai sistem informasi


lingkungan
Menteri.

hidup

diatur

dengan

Peraturan

BAB IX
TUGAS DAN WEWENANG PEMERINTAH DAN PEMERINTAH
DAERAH

Pasal 63

(1) Dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan


hidup, Pemerintah bertugas dan berwenang:

a. menetapkan kebijakan nasional;


b. menetapkan norma, standar, prosedur, dan
kriteria;

c. menetapkan

dan
melaksanakan
kebijakan mengenai RPPLH nasional;

d. menetapkan

dan
mengenai KLHS;

melaksanakan

kebijakan

dan melaksanakan
mengenai amdal dan UKL-UPL;

kebijakan

e. menetapkan
f.

menyelenggarakan inventarisasi sumber daya


alam nasional dan emisi gas rumah kaca;

g. mengembangkan standar kerja sama;


h. mengoordinasikan

dan
melaksanakan
pengendalian
pencemaran
dan/atau
kerusakan lingkungan hidup;

i.

menetapkan dan melaksanakan kebijakan


mengenai sumber daya alam hayati dan
nonhayati, keanekaragaman
hayati, sumber
daya genetik, dan keamanan hayati produk
rekayasa genetik;

j.

menetapkan
mengenai

dan

melaksanakan kebijakan
pengendalian
dampak perubahan iklim
dan perlindungan lapisan ozon;

k. menetapkan

dan melaksanakan kebijakan


mengenai B3, limbah, serta limbah B3;

l.

menetapkan dan melaksanakan kebijakan


mengenai perlindungan lingkungan laut;

m. menetapkan

dan

melaksanakan kebijakan
pencemaran
dan/atau
kerusakan
lingkungan hidup lintas batas negara;
mengenai

n. melakukan
terhadap
peraturan
daerah;

pembinaan dan pengawasan


pelaksanaan
kebijakan
nasional,
daerah, dan peraturan kepala

o. melakukan

pembinaan dan pengawasan


ketaatan penanggung jawab usaha dan/atau
kegiatan
terhadap ketentuan perizinan
lingkungan
dan
peraturan
perundangundangan;

p. mengembangkan dan menerapkan instrumen


lingkungan hidup;

q. mengoordinasikan dan memfasilitasi kerja


sama
dan
penyelesaian
antardaerah serta

perselisihan
penyelesaian

sengketa;

r.

mengembangkan
dan
kebijakan
pengelolaan
masyarakat;

melaksanakan
pengaduan

s. menetapkan standar pelayanan minimal;


t. menetapkan kebijakan mengenai

tata cara
pengakuan keberadaan masyarakat hukum
adat, kearifan lokal, dan hak masyarakat
hukum
adat
yang
terkait
dengan
perlindungan dan pengelolaan lingkungan
hidup;

u. mengelola

informasi

lingkungan

hidup

nasional;

v.

mengoordinasikan,
mengembangkan, dan
menyosialisasikan pemanfaatan teknologi
ramah lingkungan hidup;

w. memberikan

pendidikan,
pembinaan, dan penghargaan;

pelatihan,

x. mengembangkan

sarana
dan
laboratorium lingkungan hidup;

y.

standar

menerbitkan izin lingkungan;

z. menetapkan wilayah ekoregion; dan


aa.melakukan

penegakan

hukum
lingkungan hidup.

(2) Dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan


hidup,
pemerintah
berwenang:

provinsi

bertugas

dan

a. menetapkan kebijakan tingkat provinsi;


b. menetapkan

dan
tingkat provinsi;

melaksanakan

KLHS

c. menetapkan

dan
melaksanakan
kebijakan mengenai RPPLH provinsi;

d. menetapkan

dan melaksanakan
mengenai amdal dan UKL-UPL;

kebijakan

e. menyelenggarakan inventarisasi sumber daya


alam dan emisi gas rumah kaca pada tingkat
provinsi;

f.

mengembangkan dan
sama dan kemitraan;

melaksanakan kerja

g. mengoordinasikan

dan
melaksanakan
pengendalian
pencemaran
dan/atau
kerusakan
lingkungan
hidup
lintas
kabupaten/kota;

h. melakukan

pembinaan dan pengawasan


terhadap pelaksanaan kebijakan, peraturan
daerah, dan peraturan kepala daerah
kabupaten/kota;

i.

melakukan pembinaan dan


pengawasan
ketaatan penanggung jawab usaha dan/atau
kegiatan
terhadap
ketentuan perizinan
lingkungan
dan
peraturan
perundangundangan
di
bidang
perlindungan
dan
pengelolaan
lingkungan hidup;

j.

mengembangkan
dan
instrumen lingkungan hidup;

k.

mengoordinasikan dan memfasilitasi kerja


sama
dan
penyelesaian
perselisihan antarkabupaten/antarkota serta
penyelesaian sengketa;

l.

melakukan pembinaan, bantuan teknis, dan


pengawasan kepada
kabupaten/kota di
bidang program dan kegiatan;

m.

melaksanakan
pelayanan minimal;

n.

menetapkan kebijakan mengenai tata cara


pengakuan keberadaan
masyarakat
hukum adat,
kearifan lokal, dan hak
masyarakat hukum adat yang terkait dengan
perlindungan dan pengelolaan lingkungan
hidup pada tingkat provinsi;

o.

mengelola informasi
tingkat provinsi;

p.

mengembangkan
dan
menyosialisasikan

menerapkan

standar

lingkungan

hidup

pemanfaatan teknologi ramah lingkungan


hidup;

s.

melakukan
lingkungan
provinsi.

q.

memberikan
pendidikan,
pembinaan, dan penghargaan;

r.

menerbitkan izin lingkungan pada tingkat


provinsi; dan

penegakan
hidup
pada

pelatihan,

hukum
tingkat

(3) Dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan


hidup, pemerintah
berwenang:

kabupaten/kota

bertugas

dan

a. menetapkan

kebijakan
tingkat kabupaten/kota;

b. menetapkan

dan
melaksanakan
tingkat kabupaten/kota;

KLHS

c. menetapkan

dan
melaksanakan
kebijakan
mengenai
RPPLH kabupaten/kota;

d. menetapkan

dan melaksanakan
mengenai amdal dan UKL-UPL;

kebijakan

e. menyelenggarakan inventarisasi sumber daya


alam dan emisi gas rumah kaca pada tingkat
kabupaten/kota;

f.

mengembangkan dan
sama dan kemitraan;

melaksanakan kerja

g. mengembangkan dan menerapkan instrumen


lingkungan hidup;

h. memfasilitasi penyelesaian sengketa;


i.

melakukan pembinaan dan pengawasan


ketaatan penanggung jawab usaha dan/atau
kegiatan
terhadap ketentuan perizinan
lingkungan
dan
peraturan
perundangundangan;

j.

melaksanakan
pelayanan minimal;

standar

k. melaksanakan kebijakan mengenai tata cara


pengakuan keberadaan masyarakat hukum
adat, kearifan lokal, dan hak masyarakat
hukum
adat
yang
terkait
dengan
perlindungan dan pengelolaan lingkungan
hidup pada tingkat kabupaten/kota;

l.

mengelola
informasi
tingkat kabupaten/kota;

lingkungan

hidup

m. mengembangkan dan melaksanakan kebijakan


sistem informasi
kabupaten/kota;

lingkungan hidup tingkat

n. memberikan

pendidikan,
pembinaan, dan penghargaan;

pelatihan,

o. menerbitkan izin lingkungan pada tingkat


kabupaten/kota; dan

p. melakukan

penegakan
hukum lingkungan hidup pada
kabupaten/kota.

tingkat

Pasal 64
Tugas dan
wewenang
Pemerintah sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 63 ayat (1) dilaksanakan dan/atau
dikoordinasikan oleh Menteri.

BAB X
HAK, KEWAJIBAN, DAN LARANGAN

Bagian Kesatu
Hak

Pasal 65

(1) Setiap orang berhak atas lingkungan hidup yang


baik dan sehat sebagai bagian dari
manusia.

hak asasi

(2) Setiap orang berhak mendapatkan

pendidikan
lingkungan hidup, akses informasi,
akses
partisipasi, dan akses keadilan dalam memenuhi
hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat.

(3) Setiap orang berhak mengajukan usul dan/atau


keberatan terhadap rencana usaha dan/atau
kegiatan yang diperkirakan dapat menimbulkan
dampak terhadap lingkungan hidup.

(4) Setiap

(5)

orang berhak untuk berperan dalam


perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup
sesuai
dengan
peraturan
perundangundangan.
Setiap orang berhak melakukan pengaduan akibat
dugaan
pencemaran
dan/atau
perusakan
lingkungan hidup.

(6)

Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara


pengaduan sebagaimana dimaksud pada ayat
(5) diatur dengan Peraturan Menteri.
Pasal 66

Setiap orang yang memperjuangkan hak atas lingkungan


hidup yang baik dan sehat tidak dapat dituntut secara
pidana maupun digugat secara perdata.

Bagian
Kedua
Kewajiban

Pasal 67
Setiap orang berkewajiban memelihara kelestarian fungsi
lingkungan hidup serta mengendalikan pencemaran
dan/atau kerusakan lingkungan hidup.

Pasal 68

Setiap orang yang melakukan usaha dan/atau kegiatan


berkewajiban:

a.

memberikan informasi yang terkait dengan


perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup
secara benar, akurat, terbuka, dan tepat waktu;

b.

menjaga keberlanjutan fungsi lingkungan hidup;


dan

c.

menaati ketentuan tentang baku mutu lingkungan


hidup dan/atau kriteria baku kerusakan lingkungan
hidup.
Bagian
Ketiga
Larangan

Pasal 69

(1) Setiap orang dilarang:


a. melakukan perbuatan yang mengakibatkan
pencemaran
dan/atau
perusakan lingkungan hidup;

b. memasukkan

B3 yang dilarang menurut


peraturan perundang-undangan ke dalam
wilayah
Negara
Kesatuan
Republik
Indonesia;

c. memasukkan limbah yang berasal dari luar


wilayah
Negara
Kesatuan
Republik
Indonesia ke media lingkungan hidup Negara
Kesatuan Republik Indonesia;

d. memasukkan limbah B3 ke dalam wilayah


Negara Kesatuan Republik Indonesia;

e. membuang

limbah

ke

media lingkungan

hidup;

f.

membuang B3 dan
lingkungan hidup;

limbah B3 ke

media

g. melepaskan produk rekayasa genetik ke


media
lingkungan
hidup yang
bertentangan
dengan
peraturan perundang-undangan atau izin
lingkungan;

h. melakukan pembukaan lahan dengan cara


membakar;

i.

menyusun amdal tanpa memiliki sertifikat


kompetensi penyusun amdal; dan/atau

j.

memberikan
informasi
palsu,
menyesatkan,
menghilangkan
informasi,
merusak
informasi,
atau
memberikan keterangan yang tidak benar.

(2) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat


(1) huruf h memperhatikan dengan sungguhsungguh
masing.

kearifan

lokal

di

daerah

masing-

BAB XI
PERAN MASYARAKAT

Pasal 70

(1) Masyarakat memiliki hak dan kesempatan yang


sama dan seluas-luasnya untuk berperan aktif
dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan
hidup.

(2) Peran masyarakat dapat berupa:


a. pengawasan sosial;
b. pemberian saran, pendapat, usul, keberatan,
pengaduan; dan/atau

c. penyampaian informasi dan/atau laporan.


(3) Peran masyarakat dilakukan untuk:
a. meningkatkan

kepedulian
dalam
perlindungan
dan
pengelolaan
lingkungan hidup;

b. meningkatkan

kemandirian,
masyarakat, dan kemitraan;

c. menumbuhkembangkan

keberdayaan

kemampuan

kepeloporan masyarakat;

d. menumbuhkembangkan ketanggapsegeraan
masyarakat
untuk melakukan
pengawasan sosial; dan

dan

e. mengembangkan dan menjaga budaya dan


kearifan lokal dalam rangka
fungsi lingkungan hidup.

pelestarian

BAB XII
PENGAWASAN DAN SANKSI ADMINISTRATIF

Bagian Kesatu
Pengawasan

Pasal 71

(1) Menteri, gubernur, atau

bupati/walikota sesuai
dengan
kewenangannya
wajib
melakukan
pengawasan terhadap ketaatan penanggung jawab
usaha dan/atau kegiatan atas ketentuan yang
ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan
di
bidang
perlindungan
dan
pengelolaan
lingkungan hidup.

(2) Menteri, gubernur, atau bupati/walikota dapat


mendelegasikan
kewenangannya
dalam
melakukan pengawasan kepada pejabat/instansi
teknis yang bertanggung jawab di bidang
perlindungan
dan pengelolaan lingkungan
hidup.

(3) Dalam

melaksanakan pengawasan, Menteri,


gubernur, atau bupati/walikota menetapkan pejabat
pengawas lingkungan hidup yang merupakan
pejabat fungsional.
Pasal 72

Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan


kewenangannya wajib melakukan pengawasan ketaatan
penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan terhadap
izin lingkungan.

Pasal 73

Menteri dapat melakukan pengawasan terhadap


ketaatan penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan
yang izin lingkungannya diterbitkan oleh pemerintah
daerah jika Pemerintah menganggap terjadi pelanggaran
yang serius di bidang perlindungan dan pengelolaan
lingkungan hidup.
Pasal 74

(1) Pejabat pengawas lingkungan hidup sebagaimana


dimaksud dalam Pasal 71 ayat
(3) berwenang:

a. melakukan pemantauan;
b. meminta keterangan;
c. membuat salinan dari dokumen dan/atau
membuat catatan yang diperlukan;

d. memasuki tempat tertentu;


e. memotret;
f. membuat rekaman audio visual;
g. mengambil sampel;
h. memeriksa peralatan;
i. memeriksa instalasi dan/atau alat
transportasi; dan/atau

j. menghentikan pelanggaran tertentu.


(2) Dalam melaksanakan tugasnya, pejabat pengawas
lingkungan hidup dapat melakukan koordinasi
dengan pejabat penyidik pegawai negeri sipil.

(3) Penanggung

jawab usaha dan/atau kegiatan


dilarang menghalangi pelaksanaan tugas pejabat
pengawas lingkungan hidup.

Pasal 75
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengangkatan
pejabat pengawas lingkungan hidup dan tata cara
pelaksanaan pengawasan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 71 ayat (3), Pasal 73, dan Pasal 74 diatur dalam
Peraturan Pemerintah.

Bagian Kedua
Sanksi
Administratif

Pasal 76

(1) Menteri,

gubernur,
atau
bupati/walikota
menerapkan
sanksi
administratif
kepada
penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan jika
dalam
pengawasan ditemukan
pelanggaran
terhadap izin lingkungan.

(2) Sanksi administratif terdiri atas:


a. teguran tertulis;
b. paksaan pemerintah;
c. pembekuan izin lingkungan; atau
d. pencabutan izin lingkungan.

Pasal 77
Menteri
dapat
menerapkan
sanksi administratif
terhadap penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan jika
Pemerintah menganggap pemerintah daerah secara
sengaja tidak menerapkan sanksi administratif terhadap
pelanggaran yang serius di bidang perlindungan dan
pengelolaan lingkungan hidup.

Pasal 78
Sanksi administratif sebagaimana dimaksud dalam Pasal
76 tidak membebaskan penanggung jawab usaha
dan/atau kegiatan dari tanggung jawab pemulihan dan
pidana.

Pasal 79

Pengenaan sanksi administratif berupa pembekuan atau


pencabutan izin lingkungan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 76 ayat (2) huruf c dan huruf d dilakukan apabila
penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan tidak
melaksanakan paksaan pemerintah.

Pasal 80

(1) Paksaan pemerintah sebagaimana dimaksud dalam


Pasal 76 ayat (2) huruf b berupa:

a. penghentian

sementara

kegiatan produksi;

b. pemindahan sarana produksi;


c. penutupan saluran pembuangan air limbah
atau emisi;

d. pembongkaran;
e. penyitaan terhadap barang
berpotensi

f.

atau alat yang


menimbulkan pelanggaran;

penghentian sementara seluruh kegiatan; atau

g. tindakan

lain
yang
bertujuan
menghentikan
pelanggaran
dan tindakan
memulihkan
fungsi lingkungan hidup.

untuk

(2) Pengenaan

paksaan
pemerintah
dapat
dijatuhkan tanpa didahului teguran apabila
pelanggaran yang dilakukan menimbulkan:

a. ancaman yang sangat serius

bagi manusia

dan lingkungan hidup;

b. dampak yang lebih besar dan lebih luas jika


tidak segera dihentikan pencemaran dan/atau
perusakannya; dan/atau

c. kerugian yang lebih besar bagi lingkungan


hidup
jika
tidak
segera
dihentikan
pencemaran dan/atau perusakannya.
Pasal 81
Setiap penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan
yang tidak melaksanakan paksaan pemerintah dapat
dikenai denda atas setiap keterlambatan pelaksanaan
sanksi paksaan pemerintah.

Pasal 82

(1) Menteri, gubernur, atau bupati/walikota berwenang


untuk memaksa
penanggung jawab usaha
dan/atau kegiatan untuk melakukan pemulihan
lingkungan hidup akibat pencemaran dan/atau
perusakan lingkungan hidup yang dilakukannya.

(2) Menteri, gubernur, atau bupati/walikota berwenang


atau dapat
menunjuk pihak
ketiga untuk
melakukan pemulihan lingkungan hidup akibat
pencemaran dan/atau perusakan lingkungan
hidup yang dilakukannya atas beban biaya
penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan.

Pasal 83
Ketentuan
lebih
lanjut
mengenai
administratif
diatur
dalam
Peraturan Pemerintah.

sanksi

BAB XIII
PENYELESAIAN SENGKETA LINGKUNGAN
Bagian
Kesatu
Umum
Pasal 84

(1) Penyelesaian sengketa lingkungan hidup


ditempuh melalui
pengadilan.

pengadilan

atau

di

dapat
luar

(2) Pilihan penyelesaian sengketa lingkungan hidup


dilakukan secara suka rela oleh para pihak yang
bersengketa.

(3) Gugatan melalui pengadilan hanya dapat ditempuh


apabila upaya
penyelesaian sengketa di luar
pengadilan yang dipilih dinyatakan tidak berhasil
oleh salah satu atau para pihak yang bersengketa.

Bagian Kedua
Penyelesaian Sengketa Lingkungan Hidup di Luar Pengadilan

Pasal 85

(1) Penyelesaian sengketa lingkungan hidup di luar


pengadilan
dilakukan
kesepakatan mengenai:

untuk

mencapai

a. bentuk dan besarnya ganti rugi;


b. tindakan

pemulihan
dan/atau perusakan;

akibat

pencemaran

c. tindakan tertentu untuk menjamin tidak akan


terulangnya pencemaran dan/atau perusakan;
dan/atau

d. tindakan untuk mencegah timbulnya dampak


negatif terhadap lingkungan hidup.

(2) Penyelesaian sengketa di luar pengadilan tidak


berlaku terhadap tindak pidana lingkungan hidup
sebagaimana diatur dalam Undang- Undang ini.

(3) Dalam penyelesaian sengketa lingkungan hidup


di luar pengadilan dapat digunakan jasa
mediator dan/atau arbiter untuk membantu
menyelesaikan
sengketa lingkungan hidup.

Pasal 86

(1)

Masyarakat
penyedia

dapat
membentuk
lembaga
jasa
penyelesaian
sengketa
lingkungan hidup
yang bersifat bebas dan

tidak berpihak.

(2) Pemerintah

dan
pemerintah
daerah
dapat
memfasilitasi pembentukan lembaga penyedia jasa
penyelesaian sengketa lingkungan hidup yang
bersifat bebas dan tidak berpihak.

(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai lembaga penyedia


jasa penyelesaian sengketa lingkungan hidup
diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Bagian Ketiga
Penyelesaian Sengketa Lingkungan Hidup Melalui Pengadilan

Paragraf 1
Ganti Kerugian dan Pemulihan Lingkungan

Pasal 87

(1) Setiap

penanggung jawab usaha dan/atau


kegiatan yang melakukan perbuatan melanggar
hukum berupa pencemaran dan/atau perusakan
lingkungan hidup yang menimbulkan kerugian
pada orang lain atau lingkungan hidup wajib
membayar ganti rugi dan/atau
melakukan
tindakan tertentu.

(2) Setiap

orang
yang
melakukan pemindahtanganan, pengubahan sifat
dan bentuk usaha, dan/atau kegiatan
dari
suatu badan usaha yang melanggar hukum
tidak melepaskan tanggung jawab hukum
dan/atau kewajiban badan usaha tersebut.

(3) Pengadilan dapat menetapkan pembayaran uang


paksa terhadap setiap hari keterlambatan atas
pelaksanaan putusan pengadilan.

(4)

Besarnya

uang

paksa

diputuskan

berdasarkan
undangan.

peraturan

perundang-

Paragraf 2
Tanggung Jawab
Mutlak

Pasal 88
Setiap orang yang tindakannya, usahanya, dan/atau
kegiatannya menggunakan B3, menghasilkan dan/atau
mengelola limbah B3, dan/atau yang menimbulkan
ancaman
serius
terhadap
lingkungan
hidup
bertanggung jawab mutlak atas kerugian yang terjadi
tanpa perlu pembuktian unsur kesalahan.
Paragraf 3
Tenggat Kedaluwarsa untuk Pengajuan Gugatan
Pasal 89

(1) Tenggat kedaluwarsa untuk mengajukan gugatan


ke
pengadilan
mengikuti
tenggang waktu
sebagaimana diatur dalam ketentuan Kitab
Undang-Undang Hukum Perdata dan dihitung
sejak diketahui adanya pencemaran dan/atau
kerusakan lingkungan hidup.

(2) Ketentuan mengenai tenggat kedaluwarsa tidak


berlaku terhadap pencemaran dan/atau kerusakan
lingkungan
hidup
yang
diakibatkan oleh usaha dan/atau kegiatan yang
menggunakan dan/atau mengelola B3 serta
menghasilkan dan/atau mengelola limbah B3.

Paragraf 4
Hak Gugat Pemerintah dan Pemerintah Daerah
Pasal 90

(1) Instansi pemerintah dan pemerintah daerah yang


bertanggung jawab di bidang lingkungan hidup
berwenang mengajukan gugatan ganti rugi dan
tindakan tertentu terhadap usaha dan/atau
kegiatan
yang
menyebabkan
pencemaran
dan/atau
kerusakan
lingkungan hidup yang mengakibatkan kerugian
lingkungan hidup.

(2)

Ketentuan lebih lanjut mengenai kerugian


lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri.

Paragraf 5
Hak Gugat
Masyarakat Pasal 91

(1) Masyaraka berhak


mengajukan
tdirinya sendiri
perwakilan
kelompo
untuk
dan/atau untuk kepentingan
kepentingan
masyarakat apabila mengalami kerugian akibat
pencemaran
dan/atau kerusakan lingkungan
hidup.

(2) Gugatan dapat diajukan apabila terdapat kesamaan


fakta atau peristiwa, dasar hukum, serta jenis
tuntutan di antara wakil kelompok dan anggota
kelompoknya.

(3) Ketentuan

mengenai hak gugat masyarakat


dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundangundangan.

Paragraf 6
Hak Gugat Organisasi Lingkungan Hidup

Pasal 92

(1) Dalam

rangka pelaksanaan tanggung jawab


perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup,
organisasi lingkungan hidup berhak mengajukan
gugatan untuk kepentingan pelestarian fungsi
lingkungan hidup.

(2) Hak mengajukan gugatan terbatas pada tuntutan


untuk melakukan tindakan tertentu tanpa adanya
tuntutan ganti rugi, kecuali biaya atau pengeluaran
riil.

(3) Organisasi

lingkungan
dapat mengajukan gugatan
persyaratan:

hidup
apabila memenuhi

a. berbentuk badan hukum;


b. menegaskan di dalam anggaran

dasarnya
bahwa organisasi tersebut didirikan untuk
kepentingan pelestarian fungsi lingkungan
hidup; dan

c. telah melaksanakan kegiatan nyata sesuai


dengan anggaran dasarnya
(dua) tahun.

paling singkat 2

Paragraf 7
Gugatan Administratif

Pasal 93

(1) Setiap orang dapat mengajukan gugatan terhadap


keputusan tata usaha negara apabila:

a. badan

atau pejabat tata usaha negara


menerbitkan izin lingkungan kepada usaha
dan/atau kegiatan yang wajib amdal tetapi
tidak dilengkapi dengan dokumen amdal;

b. badan

atau pejabat tata usaha negara


menerbitkan izin lingkungan kepada kegiatan
yang wajib UKL-UPL, tetapi tidak dilengkapi
dengan dokumen UKL-UPL; dan/atau

c. badan atau pejabat tata usaha negara yang


menerbitkan izin usaha dan/atau kegiatan
yang
tidak
dilengkapi
dengan
izin
lingkungan.

(2)

Tata
cara
keputusan

pengajuan
gugatan
terhadap
tata
usaha
negara
mengacu
pada Hukum Acara Peradilan Tata Usaha
Negara.

BAB XIV
PENYIDIKAN DAN
PEMBUKTIAN

Bagian
Kesatu
Penyidikan

Pasal 94

(1) Selain penyidik pejabat polisi Negara Republik


Indonesia, pejabat pegawai negeri sipil tertentu di
lingkungan instansi pemerintah yang lingkup tugas
dan tanggung jawabnya di bidang perlindungan
dan
pengelolaan lingkungan
hidup
diberi
wewenang
sebagai
penyidik
sebagaimana
dimaksud dalam Hukum Acara Pidana untuk
melakukan penyidikan tindak pidana lingkungan
hidup.

(2) Penyidik pejabat pegawai negeri sipil berwenang:

a. melakukan

pemeriksaan
atas kebenaran
laporan atau keterangan berkenaan dengan
tindak pidana di bidang perlindungan dan
pengelolaan lingkungan hidup;

b. melakukan

pemeriksaan
terhadap setiap
orang yang diduga melakukan tindak pidana di
bidang
perlindungan
dan
pengelolaan
lingkungan hidup;

c. meminta keterangan dan bahan bukti dari


setiap orang berkenaan dengan peristiwa tindak
pidana di bidang perlindungan dan pengelolaan
lingkungan hidup;

d. melakukan

pemeriksaan atas pembukuan,


catatan, dan dokumen lain berkenaan dengan
tindak pidana di bidang perlindungan dan
pengelolaan lingkungan hidup;

e. melakukan pemeriksaan di tempat tertentu


yang
diduga
terdapat
bahan
bukti,
pembukuan, catatan, dan dokumen lain;

f.

melakukan penyitaan terhadap bahan dan


barang hasil pelanggaran yang dapat dijadikan
bukti dalam perkara tindak pidana di bidang
perlindungan dan pengelolaan lingkungan
hidup;

g. meminta

bantuan
ahli
dalam
rangka
pelaksanaan tugas penyidikan tindak pidana di
bidang
perlindungan
dan
pengelolaan
lingkungan hidup;

h. menghentikan penyidikan;
i.

memasuki tempat tertentu, memotret, dan/atau


membuat rekaman audio visual;

j.

melakukan penggeledahan terhadap badan,


pakaian, ruangan, dan/atau tempat lain yang
diduga
merupakan tempat dilakukannya
tindak pidana; dan/atau

k. menangkap

dan

menahan

pelaku

tindak

pidana.

(3) Dalam melakukan penangkapan dan penahanan


sebagaimana dimaksud pada ayat
(2) huruf k, penyidik pejabat pegawai negeri sipil
berkoordinasi dengan penyidik pejabat polisi
Negara Republik Indonesia.

(4) Dalam hal penyidik pejabat pegawai negeri sipil

melakukan penyidikan, penyidik pejabat pegawai


negeri sipil memberitahukan kepada penyidik
pejabat polisi Negara Republik Indonesia dan
penyidik pejabat polisi Negara Republik Indonesia
memberikan bantuan guna kelancaran penyidikan.

(5) Penyidik

pejabat
pegawai
negeri
sipil
memberitahukan dimulainya penyidikan kepada
penuntut
umum
dengan
tembusan kepada
penyidik pejabat polisi Negara Republik Indonesia.

(6) Hasil penyidikan yang telah dilakukan oleh penyidik


pegawai negeri sipil disampaikan kepada penuntut
umum.

Pasal 95

(1) Dalam

rangka penegakan hukum terhadap


pelaku tindak pidana lingkungan hidup, dapat
dilakukan penegakan hukum terpadu antara
penyidik pegawai negeri sipil, kepolisian, dan
kejaksaan di bawah koordinasi Menteri.

(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai

pelaksanaan
penegakan hukum terpadu diatur dengan peraturan
perundang-undangan.

Bagian
Kedua
Pembuktian
Pasal 96
Alat

bukti
yang sah dalam
tuntutan
tindak pidana lingkungan hidup terdiri atas:

a.

keterangan saksi;

b.

keterangan ahli;

c.

surat;

d.

petunjuk;

e.

keterangan terdakwa; dan/atau

f.

alat bukti lain, termasuk alat bukti yang diatur


dalam peraturan perundang- undangan.

BAB XV
KETENTUAN
PIDANA

Pasal 97
Tindak

pidana
dalam
undang-undang
ini merupakan kejahatan.

Pasal 98

(1) Setiap orang yang dengan

sengaja melakukan
perbuatan yang mengakibatkan dilampauinya
baku mutu udara ambien, baku mutu air, baku
mutu air laut, atau kriteria baku kerusakan
lingkungan hidup, dipidana dengan pidana
penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling
lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling sedikit
Rp3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah) dan
paling banyak Rp10.000.000.000,00 (sepuluh
miliar rupiah).

(2) Apabila perbuatan sebagaimana dimaksud pada


ayat (1) mengakibatkan orang luka dan/atau
bahaya kesehatan manusia, dipidana dengan
pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan
paling lama 12 (dua belas) tahun dan denda paling
sedikit Rp4.000.000.000,00 (empat miliar rupiah)
dan paling banyak Rp12.000.000.000,00 (dua
belas miliar rupiah).

(3) Apabila perbuatan sebagaimana dimaksud pada


ayat (1) mengakibatkan orang luka berat atau
mati, dipidana dengan pidana penjara paling
singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 15 (lima
belas)
tahun
dan
denda
paling
sedikit
Rp5.000.000.000,00
(lima miliar rupiah) dan
paling banyak Rp15.000.000.000,00 (lima belas
miliar rupiah).

Pasal 99

(1) Setiap

orang
yang
karena
kelalaiannya
mengakibatkan dilampauinya baku mutu udara
ambien, baku mutu air, baku mutu air laut,
atau kriteria baku kerusakan lingkungan hidup,
dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1
(satu) tahun dan paling lama 3 (tiga) tahun dan
denda paling sedikit Rp1.000.000.000,00 (satu
miliar rupiah)
dan
paling
banyak Rp3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah).

(2) Apabila perbuatan sebagaimana dimaksud pada


ayat (1) mengakibatkan orang luka dan/atau
bahaya kesehatan manusia, dipidana dengan
pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun dan
paling lama 6 (enam) tahun dan denda paling
sedikit Rp2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah)
dan paling banyak Rp6.000.000.000,00 (enam
miliar rupiah).

(3) Apabila perbuatan sebagaimana dimaksud pada


ayat (1) mengakibatkan orang luka berat atau
mati, dipidana dengan pidana penjara paling
singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 9
(sembilan) tahun dan denda paling sedikit
Rp3.000.000.000,00
(tiga miliar rupiah) dan
paling banyak Rp9.000.000.000,00 (sembilan
miliar rupiah).
Pasal 100

(1) Setiap orang yang melanggar baku mutu air


limbah, baku mutu emisi, atau baku mutu
gangguan dipidana, dengan pidana penjara
paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling
banyak Rp3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah).

(2) Tindak

pidana sebagaimana dimaksud pada


ayat (1) hanya dapat dikenakan apabila sanksi
administratif
yang telah dijatuhkan tidak
dipatuhi atau pelanggaran dilakukan lebih dari
satu kali.
Pasal 101

Setiap orang yang


melepaskan
dan/atau
mengedarkan produk rekayasa genetik ke media
lingkungan
hidup yang bertentangan
dengan
peraturan perundang-undangan atau izin lingkungan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal
69 ayat (1) huruf g, dipidana dengan pidana penjara

paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 3 (tiga)


tahun dan denda paling sedikit Rp1.000.000.000,00
(satu
miliar
rupiah)
dan paling banyak
Rp3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah).

Pasal 102
Setiap orang yang melakukan pengelolaan limbah B3
tanpa izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59 ayat
(4), dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1
(satu) tahun dan paling lama 3 (tiga) tahun
dan
denda
paling
sedikit
Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah) dan paling
banyak Rp3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah).

Pasal 103
Setiap orang yang menghasilkan limbah B3 dan tidak
melakukan pengelolaan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 59, dipidana dengan pidana penjara paling singkat
1 (satu) tahun dan paling lama 3 (tiga) tahun dan
denda paling sedikit Rp1.000.000.000,00 (satu miliar
rupiah) dan paling banyak Rp3.000.000.000,00 (tiga
miliar rupiah).

Pasal 104
Setiap orang yang melakukan dumping limbah
dan/atau bahan ke media lingkungan hidup tanpa izin
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 60, dipidana
dengan pidana penjara paling lama
3
(tiga)
tahun
dan
denda
paling
banyak
Rp3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah).

Pasal 105
Setiap orang yang memasukkan limbah ke dalam
wilayah
Negara
Kesatuan
Republik
Indonesia
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 69 ayat (1) huruf c
dipidana dengan pidana penjara paling singkat 4
(empat) tahun dan paling lama 12 (dua belas) tahun

dan denda paling sedikit Rp4.000.000.000,00 (empat


miliar
rupiah)
dan
paling
banyak
Rp12.000.000.000,00 (dua belas miliar rupiah).

Pasal 106
Setiap orang yang memasukkan limbah B3 ke dalam
wilayah
Negara
Kesatuan
Republik
Indonesia
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 69 ayat (1) huruf d,
dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima)
tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan
denda paling sedikit Rp5.000.000.000,00 (lima
miliar
rupiah)
dan
paling
banyak
Rp15.000.000.000,00 (lima belas miliar rupiah).

Pasal 107
Setiap orang yang memasukkan B3 yang dilarang
menurut peraturan perundangundangan ke dalam
wilayah
Negara
Kesatuan
Republik
Indonesia
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 69 ayat (1) huruf b,
dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima)
tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan
denda paling sedikit Rp5.000.000.000,00 (lima
miliar
rupiah)
dan
paling
banyak
Rp15.000.000.000,00 (lima belas miliar rupiah).

Pasal 108
Setiap orang yang melakukan
pembakaran lahan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 69 ayat (1)
huruf h, dipidana dengan pidana penjara paling
singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 10 (sepuluh)
tahun dan denda paling sedikit Rp3.000.000.000,00
(tiga
miliar
rupiah)
dan
paling
banyak
Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah).

Pasal 109
Setiap orang yang melakukan usaha dan/atau kegiatan
tanpa memiliki izin lingkungan sebagaimana dimaksud

dalam Pasal 36 ayat (1), dipidana dengan pidana penjara


paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 3 (tiga)
tahun dan denda paling sedikit Rp1.000.000.000,00 (satu
miliar
rupiah)
dan
paling
banyak Rp3.000.000.000,00 (tiga miliar
rupiah).

Pasal 110
Setiap orang yang menyusun amdal tanpa memiliki
sertifikat
kompetensi
penyusun
amdal sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 69 ayat (1) huruf i, dipidana dengan pidana
penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling
banyak Rp3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah).

Pasal 111

(1) Pejabat

pemberi
izin
lingkungan
yang
menerbitkan izin lingkungan
tanpa dilengkapi
dengan amdal atau UKL-UPL sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 37 ayat
(1) dipidana dengan pidana penjara paling lama
3 (tiga) tahun dan denda
paling banyak
Rp3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah).

(2) Pejabat pemberi izin usaha

dan/atau kegiatan
yang menerbitkan izin usaha dan/atau kegiatan
tanpa
dilengkapi
dengan izin lingkungan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 ayat (1)
dipidana dengan pidana penjara paling lama 3
(tiga) tahun dan
denda
paling
banyak Rp3.000.000.000,00 (tiga
miliar rupiah).

Pasal 112
Setiap pejabat berwenang yang dengan sengaja tidak
melakukan
pengawasan
terhadap
ketaatan
penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan terhadap
peraturan perundang-undangan dan izin lingkungan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 71 dan Pasal 72,

yang mengakibatkan terjadinya pencemaran dan/atau


kerusakan
lingkungan
yang
mengakibatkan
hilangnya nyawa manusia, dipidana dengan pidana
penjara paling lama 1 (satu) tahun atau denda paling
banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

Pasal 113
Setiap orang yang memberikan informasi palsu,
menyesatkan, menghilangkan
informasi,
merusak
informasi,
atau
memberikan keterangan yang tidak
benar yang diperlukan dalam kaitannya dengan
pengawasan dan penegakan hukum yang berkaitan
dengan perlindungan dan pengelolaan lingkungan
hidup sebagaimana dimaksud dalam Pasal 69 ayat (1)
huruf j dipidana dengan pidana penjara paling lama 1
(satu)
tahun
dan
denda
paling
banyak
Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).
Pasal 114
Setiap penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang
tidak melaksanakan paksaan pemerintah dipidana
dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun
dan denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu
miliar rupiah).
Pasal 115
Setiap orang yang
menghalang-halangi,

dengan sengaja
mencegah,
atau
menggagalkan
pelaksanaan tugas pejabat pengawas lingkungan hidup
dan/atau pejabat penyidik pegawai negeri sipil dipidana
dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan
denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta
rupiah).
Pasal 116

(1) Apabila tindak pidana lingkungan hidup dilakukan


oleh, untuk, atau atas nama badan usaha,
tuntutan pidana dan sanksi pidana dijatuhkan
kepada:

a. badan usaha; dan/atau

b. orang yang memberi perintah untuk melakukan


tindak pidana tersebut atau orang yang
bertindak sebagai pemimpin kegiatan dalam
tindak pidana tersebut.

(2) Apabila

tindak
pidana
lingkungan
hidup
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan
oleh orang, yang berdasarkan hubungan kerja atau
berdasarkan hubungan lain yang bertindak dalam
lingkup kerja badan usaha, sanksi pidana
dijatuhkan
terhadap pemberi perintah atau
pemimpin dalam tindak pidana tersebut tanpa
memperhatikan tindak pidana tersebut dilakukan
secara sendiri atau bersama-sama.

Pasal 117
Jika tuntutan pidana diajukan kepada pemberi
perintah atau pemimpin tindak pidana sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 116 ayat (1) huruf b, ancaman
pidana yang dijatuhkan berupa pidana penjara dan denda
diperberat dengan sepertiga.

Pasal 118
Terhadap tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 116 ayat (1) huruf a, sanksi pidana dijatuhkan
kepada badan usaha yang diwakili oleh pengurus
yang berwenang mewakili di dalam dan di luar
pengadilan sesuai dengan peraturan perundangundangan selaku pelaku fungsional.

Pasal 119
Selain pidana sebagaimana dimaksud dalam UndangUndang ini, terhadap badan usaha dapat dikenakan
pidana tambahan atau tindakan tata tertib berupa:

a.
b.

perampasan keuntungan yang diperoleh dari tindak


pidana;
penutupan seluruh atau sebagian
tempat usaha
dan/atau kegiatan;

c.
d.
e.

perbaikan akibat tindak pidana;


pewajiban mengerjakan apa yang dilalaikan
tanpa hak; dan/atau
penempatan
perusahaan
di
bawah pengampuan paling lama
3 (tiga) tahun.
Pasal 120

(1) Dalam

melaksanakan
ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal
119 huruf a, huruf b, huruf c, dan huruf d,
jaksa berkoordinasi dengan instansi yang
bertanggung jawab di bidang perlindungan dan
pengelolaan
lingkungan
hidup
untuk
melaksanakan eksekusi.

(2) Dalam

melaksanakan ketentuan sebagaimana


dimaksud dalam Pasal 119 huruf e, Pemerintah
berwenang untuk mengelola badan usaha yang
dijatuhi
sanksi penempatan
di bawah
pengampuan
untuk melaksanakan
putusan
pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap.

BAB XVI
KETENTUAN
PERALIHAN
Pasal 121
(1) Pada saat berlakunya Undang-Undang ini, dalam
waktu paling lama 2 (dua) tahun, setiap usaha
dan/atau kegiatan yang telah memiliki izin usaha
dan/atau kegiatan tetapi belum memiliki dokumen
amdal wajib menyelesaikan audit lingkungan
hidup.

(2) Pada saat berlakunya Undang-Undang ini, dalam


waktu paling lama 2 (dua) tahun, setiap usaha
dan/atau kegiatan yang telah memiliki izin usaha
dan/atau kegiatan tetapi belum memiliki UKLUPL wajib membuat dokumen pengelolaan
lingkungan hidup.

Pasal 122

(1) Pada saat berlakunya Undang-Undang ini, dalam


waktu paling lama 1 (satu) tahun, setiap penyusun
amdal wajib memiliki sertifikat kompetensi
penyusun amdal.

(2) Pada saat berlakunya Undang-Undang ini, dalam


waktu paling lama 1 (satu) tahun, setiap auditor
lingkungan hidup wajib
memiliki sertifikat
kompetensi auditor lingkungan hidup.

Pasal 123
Segala izin di bidang pengelolaan lingkungan hidup
yang telah dikeluarkan oleh Menteri, gubernur, atau
bupati/walikota
sesuai
dengan kewenangannya wajib diintegrasikan
ke dalam izin lingkungan paling lama 1 (satu) tahun
sejak Undang-Undang ini ditetapkan.

BAB XVII
KETENTUAN
PENUTUP

Pasal 124
Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku, semua
peraturan
perundang-undangan
yang
merupakan
peraturan pelaksanaan dari Undang- Undang Nomor 23
Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997
Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 3699) dinyatakan masih tetap berlaku
sepanjang tidak bertentangan atau belum diganti
dengan peraturan yang baru berdasarkan UndangUndang ini.

Pasal 125
Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku,
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang
Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 68,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 3699) dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.

Pasal 126
Peraturan pelaksanaan yang diamanatkan dalam
Undang-Undang ini ditetapkan paling lama 1 (satu)
tahun
terhitung
sejak
Undang-Undang
ini
diberlakukan.

Pasal 127
Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal
diundangkan.Agar
setiap
orang
mengetahuinya,
memerintahkan pengundangan Undang-Undang ini
dengan penempatannya dalam Lembaran Negara
Republik Indonesia.

Disahkan di Jakarta
pada tanggal 3 Oktober 2009
PRESIDEN REPUBLIK
INDONESIA,

ttd

DR. H. SUSILO BAMBANG


YUDHOYONO

Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 3 Oktober 2009
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI
MANUSIA REPUBLIK
INDONESIA,

ttd

ANDI MATTALATTA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2009 NOMOR 140


Salinan sesuai dengan aslinya
SEKRETARIAT NEGARA REPUBLIK
INDONESIA

Kepala Biro Peraturan Perundang-undangan Bidang


Perekonomian dan Industri,

SETIO SAPTO NUGROHO

UNDANG-UNDANG REPUBLIK
INDONESIA NOMOR 18
TAHUN 2013
TENTANG
PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN
PERUSAKAN HUTAN DENGAN RAHMAT TUHAN
YANG MAHA ESA
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
Menimbang

a. bahwa hutan, sebagai karunia dan anugerah Tuhan


Yang Maha Esa yang diamanatkan kepada bangsa Indonesia,
merupakan kekayaan yang dikuasai oleh negara dan
memberikan manfaat bagi umat manusia yang wajib disyukuri,
dikelola, dan dimanfaatkan secara optimal serta dijaga
kelestariannya untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat
sebagaimana dinyatakan dalam Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945;

b. bahwa pemanfaatan dan penggunaan kawasan hutan harus


dilaksanakan
secara
tepat
dan berkelanjutan dengan
mempertimbangkan fungsi ekologis, sosial, dan ekonomis serta
untuk menjaga keberlanjutan bagi kehidupan sekarang dan
kehidupan generasi yang akan datang;

c. bahwa telah terjadi perusakan hutan yang disebabkan oleh


pemanfaatan hutan dan penggunaan kawasan hutan yang tidak
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;

d. bahwa perusakan hutan, terutama berupa pembalakan liar,


penambangan tanpa izin, dan perkebunan tanpa izin telah
menimbulkan kerugian negara, kerusakan kehidupan sosial
budaya dan lingkungan hidup, serta meningkatkan pemanasan
global yang telah menjadi isu nasional, regional, dan
internasional;

e. bahwa

perusakan hutan sudah menjadi kejahatan yang


berdampak luar biasa, terorganisasi, dan lintas negara yang
dilakukan dengan modus operandi yang canggih, telah
mengancam kelangsungan kehidupan masyarakat sehingga
dalam rangka pencegahan dan pemberantasan perusakan hutan
yang efektif dan pemberian efek jera diperlukan landasan hukum
yang kuat dan yang mampu menjamin efektivitas penegakan
hukum;

f. bahwa peraturan perundang-undangan yang ada sampai


saat ini tidak memadai dan belum mampu menangani
pemberantasan secara efektif terhadap perusakan hutan yang
terorganisasi; dan

g. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam


huruf a, huruf b, huruf c, huruf d, huruf e, dan huruf f perlu
membentuk
Undang-Undang
tentang
Pencegahan
dan
Pemberantasan Perusakan Hutan.

Mengingat

1. Pasal 20, Pasal 21, Pasal 28H ayat (1), dan Pasal 33 ayat
(3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
dan

2. Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan


(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 167,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3888)
sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 19
Tahun 2004 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti
Undang- Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perubahan atas
Undang-undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan
Menjadi Undang-Undang (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2004 Nomor 86, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4412).

Dengan Persetujuan Bersama


DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA
dan
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
MEMUTUSKAN:

Menetapkan

: UNDANG-UNDANG
TENTANG
PENCEGAHAN
PEMBERANTASAN PERUSAKAN HUTAN.

BAB I
KETENTUAN
UMUM
Pasal 1

DAN

Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan:

1. Hutan adalah suatu kesatuan ekosistem

berupa hamparan
lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi
pepohonan dalam komunitas alam lingkungannya yang tidak
dapat dipisahkan antara yang satu dan yang lainnya.

2. Kawasan hutan adalah wilayah tertentu yang ditetapkan oleh


Pemerintah untuk
hutan tetap.

dipertahankan keberadaannya sebagai

3. Perusakan hutan adalah proses, cara, atau perbuatan


merusak hutan melalui kegiatan pembalakan
liar,
penggunaan kawasan hutan tanpa izin atau penggunaan izin
yang bertentangan dengan maksud dan tujuan pemberian
izin di dalam kawasan hutan yang telah ditetapkan, yang
telah ditunjuk, ataupun yang sedang diproses penetapannya
oleh Pemerintah.

4. Pembalakan liar adalah semua kegiatan pemanfaatan hasil


hutan kayu secara tidak sah yang terorganisasi.

5. Penggunaan

kawasan hutan secara tidak sah adalah


kegiatan terorganisasi yang dilakukan di dalam kawasan
hutan untuk perkebunan dan/atau pertambangan tanpa izin
Menteri.

6. Terorganisasi adalah kegiatan yang dilakukan oleh suatu


kelompok yang terstruktur, yang terdiri atas 2 (dua) orang
atau lebih, dan yang bertindak secara bersama- sama pada
waktu tertentu dengan tujuan melakukan perusakan hutan,
tidak termasuk kelompok masyarakat yang tinggal di dalam
atau di sekitar kawasan hutan yang melakukan perladangan
tradisional dan/atau melakukan penebangan kayu untuk
keperluan sendiri dan tidak untuk tujuan komersial.

7. Pencegahan perusakan hutan adalah segala upaya yang


dilakukan untuk menghilangkan kesempatan
perusakan hutan.

terjadinya

8. Pemberantasan perusakan hutan adalah segala upaya yang


dilakukan untuk menindak secara hukum terhadap pelaku
perusakan hutan baik langsung, tidak langsung, maupun
yang terkait lainnya.

9. Pemanfaatan hutan adalah kegiatan

untuk memanfaatkan
kawasan hutan, jasa lingkungan, hasil hutan kayu dan
bukan kayu, serta memungut hasil hutan kayu dan bukan
kayu secara optimal dan adil untuk kesejahteraan
masyarakat dengan tetap menjaga kelestariannya.

10. Pemanfaatan hasil hutan kayu adalah kegiatan untuk


memanfaatkan dan mengusahakan hasil hutan berupa kayu
melalui kegiatan penebangan, permudaan, pengangkutan,
pengolahan dan pemasaran dengan tidak merusak

lingkungan dan tidak mengurangi fungsi pokoknya.

11. Izin Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu adalah izin usaha yang
diberikan oleh Menteri untuk memanfaatkan hasil hutan
berupa kayu pada hutan produksi
melalui kegiatan
pemanenan atau penebangan, pengayaan, pemeliharaan, dan
pemasaran.

12. Surat keterangan sahnya hasil hutan adalah dokumendokumen yang merupakan bukti legalitas hasil hutan pada
setiap segmen kegiatan dalam penatausahaan hasil hutan.

13. Hasil hutan kayu adalah hasil hutan berupa kayu bulat,
kayu bulat kecil, kayu olahan, atau kayu pacakan yang
berasal dari kawasan hutan.

14. Pohon adalah tumbuhan yang batangnya berkayu dan dapat


mencapai ukuran diameter 10 (sepuluh) sentimeter atau
lebih yang diukur pada ketinggian 1,50 (satu koma lima
puluh) meter di atas permukaan tanah.

15. Polisi Kehutanan adalah pejabat tertentu dalam lingkup


instansi kehutanan pusat dan/atau daerah yang sesuai dengan
sifat
pekerjaannya
menyelenggarakan
dan/atau
melaksanakan usaha pelindungan hutan yang oleh kuasa
undang-undang diberikan wewenang kepolisian khusus di
bidang kehutanan dan konservasi sumber daya alam hayati
dan ekosistemnya yang berada dalam satu kesatuan
komando.

16. Pejabat adalah orang yang diperintahkan atau orang yang


karena jabatannya memiliki kewenangan dengan suatu tugas
dan tanggung jawab tertentu.

17. Pejabat Penyidik Pegawai Negeri Sipil, yang selanjutnya


disingkat PPNS adalah pejabat pegawai negeri sipil
tertentu dalam lingkup instansi kehutanan pusat dan
daerah yang oleh undang-undang diberi wewenang khusus
dalam penyidikan di bidang kehutanan dan konservasi
sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.

18. Saksi adalah orang yang dapat memberikan keterangan guna


kepentingan penyelidikan, penyidikan, penuntutan, dan
peradilan tentang suatu perkara pidana yang didengar,
dilihat, dan dialami sendiri.

19. Pelapor

adalah orang yang memberitahukan adanya


dugaan, sedang, atau telah terjadinya perusakan hutan
kepada pejabat yang berwenang.

20. Informan adalah orang yang menginformasikan

secara
rahasia adanya dugaan, sedang, atau telah terjadinya
perusakan hutan kepada pejabat yang berwenang.

21. Setiap orang adalah orang perseorangan dan/atau korporasi

yang melakukan perbuatan perusakan hutan secara


terorganisasi di wilayah hukum Indonesia dan/atau berakibat
hukum di wilayah hukum Indonesia.

22. Korporasi adalah kumpulan orang dan/atau kekayaan yang


teroganisasi, baik berupa badan hukum
badan hukum.

maupun bukan

23. Pemerintah Pusat, yang selanjutnya disebut Pemerintah


adalah Presiden Republik Indonesia yang memegang
kekuasaan Pemerintahan Negara Republik Indonesia
sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

24. Pemerintah Daerah adalah gubernur, bupati atau walikota


dan perangkat
daerah sebagai
penyelenggara pemerintahan daerah.

unsur

25. Menteri adalah menteri yang menyelenggarakan urusan


pemerintahan di bidang kehutanan.

BAB II
ASAS, TUJUAN, DAN RUANG
LINGKUP
Pasal 2
Pencegahan

dan
pemberantasan
hutan berasaskan:

perusakan

a. keadilan dan kepastian hukum;


b. keberlanjutan;
c. tanggung jawab negara;
d. partisipasi masyarakat;
e. tanggung gugat;
f.

prioritas; dan

g. keterpaduan dan koordinasi.

Pasal 3
Pencegahan dan pemberantasan perusakan hutan bertujuan:

a. menjamin

kepastian hukum dan memberikan efek jera


bagi pelaku perusakan hutan;

b. menjamin keberadaan hutan secara berkelanjutan dengan


tetap menjaga kelestarian dan tidak merusak lingkungan
serta ekosistem sekitarnya;

c. mengoptimalkan pengelolaan dan pemanfaatan hasil hutan


dengan memperhatikan keseimbangan
terwujudnya masyarakat sejahtera; dan

fungsi hutan guna

d. meningkatnya kemampuan dan koordinasi aparat penegak


hukum dan pihak-pihak terkait
dalam menangani
pencegahan dan pemberantasan perusakan hutan.
Pasal 4
Ruang lingkup pencegahan dan pemberantasan perusakan hutan
meliputi:

a. pencegahan perusakan hutan;


b. pemberantasan perusakan hutan;
c. kelembagaan;
d. peran serta masyarakat;
e. kerja sama internasional;

f.

pelindungan saksi, pelapor, dan informan;

g. pembiayaan; dan
h. sanksi.
BAB III
PENCEGAHAN PERUSAKAN
HUTAN
Pasal 5
Pemerintah

dan/atau
Pemerintah
Daerah
berkewajiban melakukan pencegahan perusakan

hutan.

Pasal 6
(1) Dalam rangka pencegahan perusakan hutan, Pemerintah
membuat kebijakan berupa:
a. koordinasi lintas sektor dalam pencegahan dan
pemberantasan perusakan hutan;

b. pemenuhan

kebutuhan
pengamanan hutan;

sumber

daya

aparatur

c. insentif bagi para pihak yang berjasa dalam menjaga


kelestarian hutan;

d. peta penunjukan kawasan hutan dan/atau koordinat


geografis sebagai dasar yuridis batas kawasan hutan;
dan

e. pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana pencegahan


dan pemberantasan perusakan hutan.

(2) Pemerintah

dan Pemerintah Daerah sesuai dengan


kewenangannya menetapkan sumber kayu alternatif dengan
mendorong pengembangan hutan tanaman yang produktif
dan teknologi pengolahan.

(3) Selain membuat kebijakan sebagaimana dimaksud pada ayat


(1), upaya pencegahan perusakan hutan dilakukan melalui
penghilangan kesempatan dengan meningkatkan peran serta
masyarakat.

(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai penetapan sumber kayu


alternatif sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dalam
Peraturan Menteri.
Pasal 7
Pencegahan

perusakan

hutan

dilakukan

oleh masyarakat,

badan hukum, dan/atau korporasi yang memperoleh


pemanfaatan hutan.

izin

BAB IV
PEMBERANTASAN PERUSAKAN
HUTAN
Bagian
Kesat
u
Umu
m
Pasal 8

(1) Pemerintah

dan
Pemerintah
Daerah
melakukan pemberantasan perusakan hutan.

berkewajiban

(2) Pemberantasan perusakan hutan dilakukan dengan cara


menindak secara hukum pelaku perusakan hutan, baik
langsung, tidak langsung, maupun yang terkait lainnya.

(3) Tindakan secara hukum sebagaimana dimaksud pada ayat


(2) meliputi penyelidikan, penyidikan,
pemeriksaan di sidang pengadilan.

penuntutan, dan

Pasal 9
Penyelidikan, penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan di
sidang pengadilan dalam perkara tindak pidana perusakan
hutan dilakukan berdasarkan hukum acara pidana yang
berlaku, kecuali ditentukan lain dalam Undang-Undang ini.
Pasal 10
Perkara perusakan hutan harus didahulukan dari perkara lain
untuk diajukan ke sidang pengadilan guna penyelesaian
secepatnya.
Bagian Kedua
Ketentuan Perbuatan Perusakan Hutan
Pasal 11

(1) Perbuatan perusakan hutan sebagaimana dimaksud dalam


Undang-Undang ini meliputi

kegiatan pembalakan liar

dan/atau penggunaan kawasan hutan secara tidak sah yang


dilakukan secara terorganisasi.

(2) Perbuatan perusakan hutan secara terorganisasi merupakan


kegiatan yang dilakukan oleh suatu kelompok yang
terstruktur, yang terdiri atas 2 (dua) orang atau lebih, dan
yang bertindak secara bersama- sama pada waktu tertentu
dengan tujuan melakukan perusakan hutan.

(3) Kelompok terstruktur sebagaimana dimaksud pada ayat


(2) tidak termasuk kelompok masyarakat yang bertempat
tinggal di dalam dan/atau di sekitar kawasan hutan yang
melakukan perladangan tradisional dan/atau melakukan
penebangan kayu di luar kawasan hutan konservasi dan
hutan lindung untuk keperluan sendiri dan tidak untuk
tujuan komersial.

(4) Masyarakat yang bertempat tinggal di dalam dan/atau di


sekitar kawasan hutan yang melakukan penebangan kayu
di luar kawasan hutan konservasi dan hutan lindung
untuk keperluan sendiri dan tidak untuk tujuan
komersial harus mendapat izin dari pejabat yang
berwenang
sesuai
dengan
ketentuan
peraturan
perundang-undangan.

(5) Ketentuan mengenai penebangan kayu di luar kawasan


hutan konservasi dan hutan lindung untuk keperluan
sendiri dan tidak untuk tujuan komersial diatur lebih lanjut
dengan Peraturan Pemerintah.
Pas
al 12 Setiap orang
dilarang:

a. melakukan penebangan pohon dalam kawasan hutan yang


tidak sesuai dengan izin pemanfaatan hutan;

b. melakukan penebangan pohon dalam kawasan hutan tanpa


memiliki izin
berwenang;

yang

dikeluarkan

oleh

pejabat

yang

c. melakukan penebangan pohon dalam kawasan hutan secara


tidak sah;

d. memuat,

membongkar, mengeluarkan,
mengangkut,
menguasai, dan/atau memiliki hasil penebangan di
kawasan hutan tanpa izin;

e. mengangkut, menguasai, atau memiliki hasil hutan kayu


yang tidak dilengkapi secara bersama surat keterangan
sahnya hasil hutan;

f.

membawa alat-alat yang lazim digunakan untuk menebang,


memotong, atau membelah pohon di dalam kawasan hutan
tanpa izin pejabat yang berwenang;

g. membawa alat-alat berat dan/atau alat-alat lainnya yang


lazim atau patut diduga akan digunakan untuk mengangkut
hasil hutan di dalam kawasan hutan tanpa izin pejabat
yang berwenang;

h. memanfaatkan hasil hutan kayu yang diduga berasal dari


hasil pembalakan liar;

i.

mengedarkan kayu hasil pembalakan liar melalui darat,


perairan, atau udara;

j.

menyelundupkan kayu yang berasal dari atau masuk ke


wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia melalui
sungai, darat, laut, atau udara;

k. menerima, membeli, menjual, menerima tukar, menerima


titipan, dan/atau memiliki hasil hutan
berasal dari pembalakan liar;

l.

yang diketahui

membeli, memasarkan, dan/atau mengolah hasil hutan


kayu yang berasal dari kawasan hutan yang diambil atau
dipungut secara tidak sah; dan/atau

m. menerima, menjual, menerima tukar, menerima titipan,


menyimpan, dan/atau memiliki hasil hutan kayu yang
berasal dari kawasan hutan yang diambil atau dipungut
secara tidak sah.

Pasal 13

(1) Penebangan pohon dalam kawasan hutan secara tidak sah


sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 huruf c merupakan
penebangan pohon yang dilakukan dalam kawasan hutan
dengan radius atau jarak sampai dengan:

a. 500 (lima ratus) meter dari tepi waduk atau danau;


b. 200 (dua ratus) meter dari tepi mata air dan kiri kanan
sungai di daerah rawa;

c. 100 (seratus) meter dari kiri kanan tepi sungai;


d. 50 (lima puluh) meter dari kiri kanan tepi anak sungai;
e. 2 (dua) kali kedalaman jurang dari tepi jurang;
dan/atau

f.

130 (seratus tiga puluh) kali selisih pasang tertinggi


dan pasang terendah dari tepi pantai.

(2) Penebangan pohon yang dilakukan dalam kawasan hutan


sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dikecualikan
untuk kegiatan yang mempunyai tujuan strategis yang tidak
dapat dihindari dengan mendapat izin khusus dari Menteri.

Pas
al 14 Setiap orang
dilarang:

a. memalsukan surat keterangan sahnya hasil hutan kayu;


dan/atau

b. menggunakan surat keterangan sahnya hasil hutan kayu


yang palsu.
Pasal 15
Setiap orang dilarang melakukan penyalahgunaan dokumen
angkutan hasil hutan kayu yang diterbitkan oleh pejabat yang
berwenang.
Pasal 16
Setiap orang yang melakukan pengangkutan kayu hasil
hutan wajib memiliki dokumen yang merupakan surat
keterangan sahnya hasil hutan sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.

Pasal 17

(1) Setiap orang dilarang:


a. membawa alat-alat berat dan/atau alat-alat lain yang
lazim atau patut diduga akan digunakan untuk
melakukan
kegiatan
penambangan
dan/atau
mengangkut hasil tambang di dalam kawasan hutan
tanpa izin Menteri;

b. melakukan kegiatan penambangan di dalam kawasan


hutan tanpa izin Menteri;

c. mengangkut dan/atau menerima titipan hasil tambang


yang berasal dari kegiatan penambangan di dalam
kawasan hutan tanpa izin;

d. menjual,

menguasai,
memiliki,
dan/atau menyimpan hasil tambang yang berasal dari
kegiatan penambangan di dalam kawasan hutan
tanpa izin; dan/atau

e. membeli,

memasarkan, dan/atau mengolah hasil


tambang dari kegiatan penambangan di dalam kawasan
hutan tanpa izin.

(2) Setiap orang dilarang:


a. membawa alat-alat berat dan/atau alat-alat lainnya yang
lazim atau patut diduga akan digunakan untuk
melakukan kegiatan perkebunan dan/atau mengangkut
hasil kebun di dalam kawasan hutan tanpa izin
Menteri;

b. melakukan kegiatan perkebunan tanpa izin Menteri di


dalam kawasan hutan;

c. mengangkut

dan/atau
menerima
titipan
hasil
perkebunan yang berasal dari kegiatan perkebunan di
dalam kawasan hutan tanpa izin;

d. menjual,

menguasai,
memiliki,
dan/atau menyimpan hasil perkebunan yang berasal
dari kegiatan perkebunan di dalam kawasan hutan
tanpa izin; dan/atau

e. membeli,

memasarkan, dan/atau mengolah hasil


kebun dari perkebunan yang berasal dari kegiatan
perkebunan di dalam kawasan hutan tanpa izin.
Pasal 18

(1) Selain dikenai sanksi pidana, pelanggaran terhadap


ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12
huruf a, huruf b, huruf c, Pasal 17 ayat (1) huruf b,
huruf c, huruf e, dan Pasal 17 ayat (2) huruf b, huruf
c, dan huruf e yang dilakukan oleh badan hukum atau
korporasi dikenai sanksi administratif berupa:

a. paksaan pemerintah;
b. uang paksa; dan/atau
c. pencabutan izin.
(2) Ketentuan

mengenai mekanisme dan tata cara


penerapan sanksi administratif sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Pasal 19
Setiap orang yang berada di dalam atau di luar wilayah
Indonesia dilarang:

a. menyuruh,

mengorganisasi,
atau
menggerakkan
pembalakan liar dan/atau penggunaan kawasan hutan
secara tidak sah;

b. ikut serta melakukan atau membantu terjadinya


pembalakan liar dan/atau penggunaan kawasan hutan
secara tidak sah;

c. melakukan

permufakatan jahat untuk melakukan


pembalakan liar dan/ atau penggunaan kawasan
hutan secara tidak sah;

d. mendanai

pembalakan liar dan/atau penggunaan


kawasan hutan secara tidak sah secara langsung atau
tidak langsung;

e. menggunakan dana yang diduga berasal dari hasil


pembalakan liar dan/atau penggunaan kawasan hutan
secara tidak sah;

f.

mengubah status kayu hasil pembalakan liar dan/ atau


hasil penggunaan kawasan hutan secara tidak sah,
seolah-olah menjadi kayu yang sah, atau hasil
penggunaan kawasan hutan yang sah untuk dijual
kepada pihak ketiga, baik di dalam maupun di luar
negeri;

g. memanfaatkan kayu hasil pembalakan liar dengan


mengubah bentuk, ukuran, termasuk pemanfaatan
limbahnya;

h. menempatkan,

mentransfer,
membayarkan, membelanjakan,

menghibahkan,
menyumbangkan,
menitipkan,
membawa ke luar negeri, dan/atau menukarkan uang
atau surat berharga lainnya serta harta kekayaan
lainnya
yang diketahuinya atau patut diduga
merupakan hasil pembalakan liar dan/atau hasil
penggunaan kawasan hutan secara tidak sah; dan/atau

i.

menyembunyikan atau menyamarkan asal usul harta


yang diketahui atau patut diduga berasal dari hasil
pembalakan liar dan/atau hasil penggunaan kawasan
hutan secara tidak sah sehingga seolah- olah menjadi
harta kekayaan yang sah.

Pasal 20
Setiap orang dilarang mencegah, merintangi, dan/atau
menggagalkan secara langsung maupun tidak langsung
upaya pemberantasan pembalakan liar dan penggunaan
kawasan hutan secara tidak sah.
Pasal 21
Setiap orang dilarang memanfaatkan kayu
hasil
pembalakan liar dan/atau penggunaan kawasan hutan
secara tidak sah yang berasal dari hutan konservasi.
Pasal 22
Setiap orang dilarang menghalang-halangi dan/atau
menggagalkan penyelidikan, penyidikan, penuntutan, atau
pemeriksaan di sidang pengadilan tindak
pidana
pembalakan liar dan penggunaan kawasan hutan secara
tidak sah.
Pasal 23
Setiap orang dilarang melakukan intimidasi dan/atau
ancaman terhadap keselamatan petugas yang melakukan
pencegahan
dan
pemberantasan pembalakan liar dan
penggunaan kawasan hutan secara tidak sah.
Pasal
24 Setiap orang
dilarang:

a. memalsukan surat izin pemanfaatan hasil hutan kayu


dan/atau penggunaan kawasan hutan;

b. menggunakan surat izin palsu pemanfaatan hasil


c.

hutan kayu dan/atau penggunaan kawasan hutan;


dan/atau
memindahtangankan
atau
menjual
izin
yang
dikeluarkan oleh pejabat yang berwenang kecuali
dengan persetujuan Menteri.
Pasal 25

Setiap orang dilarang merusak sarana dan


pelindungan hutan.

prasarana

Pasal 26
Setiap orang dilarang merusak, memindahkan, atau
menghilangkan pal batas luar kawasan hutan, batas
fungsi kawasan hutan, atau batas kawasan hutan yang
berimpit dengan batas negara yang mengakibatkan
perubahan bentuk dan/atau luasan kawasan hutan.
Pasal 27
Setiap pejabat yang mengetahui terjadinya perbuatan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12, 13, 14, 15, 16,
17, dan 19 wajib melakukan tindakan sesuai dengan
kewenangannya.
Pasal
28 Setiap pejabat
dilarang:
a. menerbitkan izin pemanfaatan hasil hutan kayu
dan/atau penggunaan kawasan hutan di dalam
kawasan
hutan
yang
tidak
sesuai
dengan
kewenangannya;

b. menerbitkan izin pemanfaatan di dalam kawasan


hutan dan/atau izin penggunaan kawasan hutan yang
tidak sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan;

c. melindungi

pelaku
pembalakan
liar
penggunaan kawasan hutan secara tidak sah;

dan/atau

d. ikut serta atau membantu kegiatan pembalakan liar


dan/atau penggunaan kawasan hutan secara tidak sah;

e. melakukan permufakatan untuk terjadinya pembalakan


liar dan/atau penggunaan kawasan hutan secara tidak
sah;

f.

menerbitkan surat keterangan sahnya hasil hutan tanpa


hak;

g. dengan

sengaja melakukan
melaksanakan tugas; dan/atau

h. lalai dalam melaksanakan tugas.

pembiaran

dalam

Bagian Ketiga
Penyidikan, Penuntutan, dan Pemeriksaan di Sidang Pengadilan
Paragraf 1
Penyidikan dan Penuntutan
Pasal 29
Selain Penyidik Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia,
PPNS diberi wewenang khusus sebagai penyidik
sebagaimana dimaksud dalam Kitab Undang- Undang
Hukum Acara Pidana.
Pasal 30
PPNS
sebagaimana
berwenang:

dimaksud

dalam

Pasal

29

a. melakukan pemeriksaan atas kebenaran laporan atau


keterangan berkenaan dengan tindak pidana perusakan
hutan;

b. melakukan pemeriksaan terhadap orang atau badan


hukum yang diduga
perusakan hutan;

melakukan

tindak

pidana

c. meminta keterangan dan barang bukti dari orang atau


badan hukum sehubungan dengan peristiwa tindak
perusakan hutan;

d. melakukan pemeriksaan atas pembukuan, catatan, dan


dokumen lain berkenaan
perusakan hutan;

dengan

tindak

pidana

e. melakukan pemeriksaan di tempat tertentu yang


diduga
terdapat
barang
bukti,
pembukuan,
pencatatan, dan dokumen lain serta melakukan
penyitaan terhadap bahan dan barang hasil kejahatan
yang dapat dijadikan bukti dalam perkara tindak
pidana perusakan hutan;

f.

melakukan
penangkapan,
penahanan, penggeledahan, dan penyitaan;

g. meminta bantuan ahli dalam rangka pelaksanaan tugas


penyidikan tindak pidana perusakan hutan;

h. menghentikan

penyidikan apabila tidak terdapat


bukti tentang adanya tindakan perusakan hutan;

i.

memanggil orang untuk didengar


sebagai tersangka atau saksi;

dan

diperiksa

j.

membuat dan menandatangani berita acara dan


surat-surat lain yang menyangkut penyidikan perkara
perusakan hutan; dan

k. memotret dan/atau merekam

melalui alat potret


dan/atau alat perekam terhadap orang, barang, sarana
pengangkut, atau apa saja yang dapat dijadikan bukti
tindak pidana yang menyangkut hutan, kawasan
hutan, dan hasil hutan.
Pasal 31

Wilayah hukum atau wilayah kerja PPNS sebagaimana


dimaksud dalam Pasal 29 meliputi seluruh wilayah
Negara Kesatuan Republik Indonesia termasuk wilayah
kepabeanan.

Pasal 32
PPNS
sebagaimana
dimaksud
dalam
Pasal
29
memberitahukan
dimulainya
penyidikan
dan menyampaikan hasil penyidikannya kepada penuntut
umum setelah berkoordinasi dengan Penyidik Pejabat
Polisi Negara Republik Indonesia.
Pasal 33
Untuk memperoleh bukti permulaan yang cukup, penyidik
dapat menggunakan laporan yang berasal dari masyarakat
dan/atau instansi terkait.
Pasal 34

(1) Berdasarkan

bukti
permulaan
yang
cukup
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33, penyidik
berwenang meminta kepada lembaga penyelenggara
komunikasi untuk:

a. membuka, memeriksa, dan menyita surat atau


kiriman melalui pos serta jasa pengiriman lainnya
yang mempunyai hubungan dengan pembalakan
liar yang sedang diperiksa; dan/atau

b. meminta informasi pembicaraan melalui telepon


atau
alat
komunikasi
lain
yang
diduga
digunakan
untuk
mempersiapkan,
merencanakan, dan melakukan perusakan hutan.

(2) Tindakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf


b, hanya dapat dilakukan atas izin ketua pengadilan
negeri setempat atas
permintaan penyidik untuk
jangka waktu paling lama 1 (satu) tahun.

(3) Ketua pengadilan negeri setempat wajib memberikan


izin untuk meminta informasi sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) dalam waktu paling lama 7 (tujuh) hari
kerja setelah diterimanya permintaan dari penyidik.

(4) Tindakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan


ayat (2) dilaporkan serta
kepada atasan penyidik.

dipertanggungjawabkan

Pasal 35

(1) Untuk

kepentingan penyidikan, penuntutan, atau


pemeriksaan di sidang pengadilan, penyidik, penuntut

umum, atau hakim berwenang meminta keterangan


kepada bank tentang keadaan keuangan tersangka atau
terdakwa.

(2) Permintaan keterangan kepada bank

sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) diajukan kepada Pimpinan
Otoritas Jasa Keuangan.

(3) Pimpinan Otoritas Jasa Keuangan wajib memenuhi


permintaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dalam
waktu paling lama 3 (tiga) hari kerja terhitung sejak
surat permintaan diterima.

(4) Penyidik, penuntut umum, atau hakim berwenang


meminta kepada bank untuk memblokir rekening
simpanan milik tersangka atau terdakwa yang diduga
sebagai hasil pembalakan liar selama proses
penyidikan,
penuntunan,
dan/atau
pemeriksaan
berlangsung.

(5) Dalam hal hasil pemeriksaan terhadap tersangka atau


terdakwa tidak diperoleh bukti yang cukup, atas
permintaan penyidik, penuntut umum, atau hakim,
pimpinan bank harus mencabut pemblokiran.

Pasal 36
Untuk
kepentingan
penyidikan,
penuntutan,
atau
pemeriksaan di sidang pengadilan, penyidik, penuntut
umum, atau hakim berwenang:

a. meminta data kekayaan dan data perpajakan tersangka


atau terdakwa kepada unit kerja terkait;

b. meminta bantuan kepada Pusat Pelaporan dan Analisis


Transaksi Keuangan untuk melakukan penyelidikan
atas data keuangan tersangka;

c. meminta kepada instansi yang terkait untuk melarang


seseorang berpergian ke luar negeri;

d. menetapkan

seseorang sebagai tersangka


dan
dimasukkan dalam daftar pencarian orang; dan/atau

e. meminta kepada pimpinan atau atasan tersangka untuk


memberhentikan
jabatannya.

sementara

tersangka

dari

Pasal 37
Alat bukti
meliputi:

pemeriksaan

perbuatan

perusakan

hutan

a. alat

bukti sebagaimana dimaksud dalam Kitab


Undang-Undang Hukum Acara Pidana; dan/atau

b. alat bukti lain berupa:


1. informasi elektronik;
2. dokumen elektronik; dan/atau
3. peta.
Pasal 38

(1) Penyidik melakukan penangkapan terhadap orang yang


diduga keras melakukan tindak pidana perusakan
hutan berdasarkan bukti
permulaan yang cukup
untuk paling lama 2 x 24 (dua kali dua puluh empat)
jam.

(2) Dalam hal waktu untuk pemeriksaan sebagaimana


dimaksud pada ayat (1) belum mencukupi, atasan
langsung penyidik dapat memberi izin untuk
memperpanjang penangkapan tersebut untuk paling
lama 3 x 24 (tiga kali dua puluh empat) jam.

Pasal 39
Untuk mempercepat penyelesaian perkara perusakan
hutan:

a. penyidik wajib menyelesaikan dan menyampaikan


berkas perkara kepada penuntut umum paling lama
60 (enam puluh) hari sejak dimulainya penyidikan dan
dapat diperpanjang paling lama 30 (tiga puluh) hari;

b. dalam hal hasil penyidikan belum lengkap, penuntut


umum wajib melakukan penyidikan paling lama 20
(dua puluh) hari dan dapat diperpanjang paling lama
30 (tiga puluh) hari;

c. penuntut

umum wajib melimpahkan perkara ke


pengadilan paling lama 25 (dua puluh lima) hari
terhitung sejak selesai penyidikan;

d. untuk daerah yang sulit terjangkau karena faktor alam


dan geografis atau transportasi dan tingginya biaya
dalam rangka penjagaan dan pengamanan barang
bukti, terhadap barang bukti kayu cukup dilakukan
penyisihan barang bukti yang disertai dengan berita
acara penyisihan barang bukti; dan

e. instansi teknis kehutanan wajib menunjuk ahli penguji


dan pengukur kayu yang diminta penyidik dengan
mempertimbangkan kecepatan untuk penyidikan.

Pasal 40

(1) Penyidik yang melakukan penyitaan barang bukti hasil


tindak pidana perusakan hutan, baik berupa barang
bukti temuan maupun barang bukti sitaan, wajib
melakukan penyegelan dan membuat berita acara
penyitaan pada hari penyitaan dilakukan yang
sekurang-kurangnya memuat:

a. nama, kelompok jenis, sifat, dan jumlah;


b. keterangan tempat, jam, hari, tanggal, bulan, dan
tahun dilakukan penyitaan;

c. keterangan

mengenai
pemilik
atau
yang
menguasai kayu hasil pembalakan liar; dan/atau

d. tanda

tangan dan identitas lengkap


penyidik yang melakukan penyitaan.

pejabat

(2) Penyidik bertanggung jawab atas penyimpanan barang


bukti sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang berada
di bawah penguasaannya.

(3) Penyidik yang melakukan penyitaan barang bukti


temuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib:

a. melaporkan dan meminta izin sita;


b. meminta

izin
peruntukan
kepada
ketua
pengadilan negeri setempat dalam waktu paling
lama 3 x 24 (tiga kali dua puluh empat) jam sejak
dilakukan penyitaan; dan

c. menyampaikan tembusan kepada kepala kejaksaan


negeri setempat.

(4) Penyidik yang melakukan penyitaan barang bukti


sitaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib:

a. melaporkan dan meminta izin sita;


b. meminta izin lelang bagi barang yang mudah rusak
kepada ketua pengadilan negeri setempat dalam
waktu paling lama 3 x 24 (tiga kali dua puluh
empat) jam sejak dilakukan penyitaan; dan

c. menyampaikan tembusan kepada kepala kejaksaan


negeri setempat.

(5) Batas waktu pelaporan sebagaimana dimaksud pada


ayat (4), untuk daerah yang sulit terjangkau karena
faktor alam, geografis, atau transportasi, dapat

diperpanjang menjadi paling lama 14 (empat belas)


hari.

(6) Ketua pengadilan negeri wajib menerbitkan atau


menolak izin/persetujuan sita yang diajukan oleh
penyidik paling lambat 2 x 24 (dua kali dua puluh
empat) jam sejak permintaan diterima.

Pasal 41
Ketua pengadilan negeri setempat, dalam waktu paling
lama 7 (tujuh) hari setelah menerima permintaan
penyidik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 ayat (3),
wajib menetapkan peruntukan pemanfaatan barang bukti.
Pasal 42
Setiap pejabat yang tidak melaksanakan kewajiban
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 39, Pasal 40, dan Pasal
41 dikenai sanksi administratif sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.

Pasal 43
Peruntukan pemanfaatan barang bukti sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 41 ditujukan:

a. untuk kepentingan pembuktian perkara;


b. untuk

pemanfaatan
bagi
kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan;

c. untuk dimusnahkan; dan/atau


d. untuk kepentingan publik atau kepentingan sosial.
Pasal 44

(1) Barang bukti kayu hasil pembalakan liar dan/atau hasil


dari penggunaan kawasan hutan secara tidak sah yang
berasal dari hutan konservasi dimusnahkan, kecuali
untuk kepentingan pembuktian perkara dan penelitian.

(2) Barang bukti kayu temuan hasil pembalakan liar yang


berasal dari luar hutan konservasi dimanfaatkan
untuk kepentingan publik atau kepentingan sosial.

(3) Barang bukti kayu sitaan hasil pembalakan liar yang


berasal dari luar hutan konservasi dapat dilelang karena
dapat cepat rusak atau biaya penyimpanannya terlalu
tinggi yang pelaksanaannya sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang- undangan.

(4) Hasil lelang kayu sitaan sebagaimana dimaksud pada


ayat (3) disimpan di bank pemerintah sebagai barang
bukti perkara di pengadilan.

(5) Peruntukan

barang bukti perkara


sebagaimana
dimaksud pada ayat (4) dilaksanakan sesuai dengan
putusan pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum
tetap.
Pasal 45

(1) Barang bukti temuan hasil kebun dan/atau hasil


tambang beserta sarana prasarana pendukungnya dari
hasil tindak pidana penggunaan kawasan hutan secara
tidak sah dapat dilelang dan hasilnya dimanfaatkan
untuk kepentingan publik atau kepentingan sosial.

(2) Barang bukti sitaan hasil kebun dan/atau hasil


tambang beserta sarana prasarana pendukungnya dari
hasil tindak pidana penggunaan kawasan hutan secara
tidak sah dapat dilelang karena dapat cepat rusak atau
biaya penyimpanannya terlalu tinggi.

(3) Hasil lelang barang bukti sitaan hasil kebun dan/atau

hasil tambang beserta sarana prasarana pendukungnya


sebagaimana dimaksud pada ayat (2) disimpan di bank
Pemerintah sebagai barang bukti perkara di
pengadilan.

(4) Peruntukan

barang bukti perkara


sebagaimana
dimaksud pada ayat (3) dilakukan sesuai dengan
putusan pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum
tetap.
Pasal 46

(1) Barang bukti berupa kebun dan/atau tambang dari


penggunaan kawasan hutan secara tidak sah yang telah
mendapat putusan pengadilan berkekuatan hukum
tetap dikembalikan kepada
Pemerintah untuk
dihutankan kembali sesuai dengan fungsinya.

(2) Barang bukti berupa kebun sebagaimana dimaksud


pada ayat (1) dimanfaatkan paling lama 1 (satu) daur
sampai selesainya proses pemulihan kawasan hutan.

(3) Dalam

hal barang bukti kebun dimanfaatkan


sebagaimana dimaksud pada ayat (2), Pemerintah dapat
memberikan penugasan kepada badan usaha milik
negara yang bergerak di bidang perkebunan.

(4) Barang bukti berupa tambang sebagaimana dimaksud


pada ayat (1) dapat diberikan izin sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pasal 47

(1) Untuk kepentingan penyidikan yang terkait dengan


kuantitas barang bukti yang berada dalam kapal atau
alat angkut air lainnya dapat
digunakan metode
survei daya muat, metode pemeriksaan pembacaan
skala angka kapal, atau metode lain yang lazim
digunakan dalam bidang pelayaran.

(2) Metode

sebagaimana dimaksud pada ayat (1)


dilaksanakan oleh lembaga yang telah mempunyai
kualifikasi di bidangnya sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.

Pasal 48
Ketentuan mengenai tata cara penyimpanan barang bukti
hasil perusakan hutan yang disita sebagaimana dimaksud

dalam Pasal 40 ayat (2) dan tata cara peruntukan barang


bukti sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44, Pasal 45,
dan Pasal 46 diatur dengan Peraturan Menteri.
Pasal 49

(1) Penyidik mengajukan permohonan lelang kepada ketua


pengadilan negeri setempat terhadap barang bukti sitaan
berupa kayu hasil pembalakan liar sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 44 ayat (3) dan barang bukti
temuan serta barang bukti sitaan berupa hasil kebun
dan/atau hasil tambang beserta sarana prasarana
pendukungnya dari hasil tindak pidana penggunaan
kawasan hutan secara tidak sah sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 45 ayat (1) dan ayat (2).

(2) Pelaksanaan lelang terhadap barang bukti sebagaimana


dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Badan Lelang
Negara dalam jangka waktu paling lama 14 (empat
belas) hari kerja.

(3) Pelaksanaan

lelang oleh Badan Lelang


Negara
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan secara
terbuka setelah selesainya pengujian, penghitungan, dan
penetapan nilai barang bukti oleh lembaga.

(5) Terhadap pihak terafiliasi, tersangka kasus perusakan


hutan dilarang mengikuti lelang sebagaimana dimaksud
pada ayat (3).

(6) Pengujian, penghitungan, atau penetapan nilai barang


bukti sebagaimana dimaksud pada ayat (3) harus
dilakukan oleh orang yang memiliki keahlian dan
bersertifikat dari lembaga yang terakreditasi.

Pasal 50
Pengembalian kerugian akibat perusakan hutan tidak
menghapus pidana pelaku perusakan hutan.
Paragraf 2
Pemeriksaan di Sidang
Pengadilan
Pasal 51

(1) Dalam hal terdakwa telah dipanggil secara sah tetapi

tidak hadir di sidang pengadilan tanpa alasan yang sah,


maka perkara dapat diperiksa dan diputus tanpa
hadirnya terdakwa.

(2) Putusan yang dijatuhkan tanpa kehadiran terdakwa


diumumkan oleh penuntut umum pada papan
pengumuman pengadilan, kantor pemerintah daerah,
dan/atau diberitahukan kepada terdakwa atau kuasanya.

(3) Terdakwa atau kuasanya dapat mengajukan upaya


hukum atas putusan sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) dalam jangka waktu paling lama 14 (empat belas)
hari sejak putusan dijatuhkan, diumumkan, atau
diberitahukan kepada terdakwa yang tidak hadir.

Pasal 52

(1) Perkara perusakan hutan wajib diperiksa dan diputus


oleh pengadilan negeri dalam jangka waktu paling lama
45 (empat puluh lima) hari kerja terhitung sejak tanggal
penerimaan pelimpahan perkara dari penuntut umum.

(2) Dalam hal putusan pengadilan sebagaimana dimaksud


pada ayat (1) dimohonkan banding, perkara perusakan
hutan wajib diperiksa dan diputus dalam jangka waktu
paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja terhitung sejak
tanggal berkas perkara diterima oleh Pengadilan Tinggi.

(3) Dalam hal putusan Pengadilan Tinggi dimohonkan


kasasi, perkara pembalakan liar wajib diperiksa dan
diputus dalam jangka waktu paling lama 50 (lima puluh)
hari kerja terhitung sejak tanggal berkas perkara
diterima oleh Mahkamah Agung.
Pasal 53

(1) Pemeriksaan perkara perusakan hutan

sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 52 ayat (1), pada pengadilan
negeri, dilakukan oleh majelis hakim yang berjumlah
3 (tiga) orang yang terdiri dari satu orang hakim karier
di pengadilan negeri setempat dan dua orang hakim ad
hoc.

(2) Pengangkatan hakim ad hoc sebagaimana dimaksud


pada ayat (1) dilakukan oleh Presiden atas usulan Ketua
Mahkamah Agung Republik Indonesia.

(3) Setelah

berlakunya
Undang-Undang
ini
ketua
Mahkamah
Agung
Republik
Indonesia
harus
mengusulkan calon hakim ad hoc yang diangkat
melalui Keputusan Presiden untuk memeriksa perkara
perusakan hutan.

(4) Dalam mengusulkan calon hakim ad hoc sebagaimana


dimaksud pada ayat (3), Ketua Mahkamah Agung wajib
mengumumkan kepada masyarakat.

(5) Untuk dapat diangkat menjadi hakim ad hoc, harus


terpenuhi syarat sebagai berikut:

a. warga negara Indonesia;


b. bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa;
c. berusia paling rendah 40 (empat puluh) tahun pada
saat pengangkatan;

d. berijazah sarjana hukum atau sarjana lain yang


memiliki keahlian dan pengalaman sekurangkurangnya 10 (sepuluh) tahun dalam bidang
kehutanan;

e. tidak pernah dijatuhi hukuman pidana penjara


berdasarkan putusan pengadilan yang
telah
memperoleh kekuatan hukum tetap
karena
melakukan tindak pidana yang diancam pidana 5
(lima) tahun atau lebih;

f.

tidak pernah melakukan perbuatan tercela;

g. cakap, jujur, serta memiliki integritas moral yang


tinggi dan memiliki reputasi yang baik;

h. tidak menjadi pengurus salah satu partai politik; dan


i.

melepaskan jabatan struktural dan


selama menjadi hakim ad hoc.

jabatan lainnya

BAB V
LEMBAGA PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN PERUSAKAN
HUTAN
Pasal 54

(1) Dalam

rangka pelaksanaan pencegahan


dan
pemberantasan
perusakan
hutan,
Presiden
membentuk lembaga yang menangani pencegahan
dan pemberantasan perusakan hutan.

(2) Lembaga sebagaimana dimaksud pada ayat (1)


berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab
kepada Presiden.

(3) Lembaga sebagaimana dimaksud pada ayat (1)


terdiri atas:

a. unsur Kementerian Kehutanan;


b. unsur Kepolisian Republik Indonesia;
c. unsur Kejaksaan Republik Indonesia; dan
d. unsur lain yang terkait.
(4) Pelaksanaan tugas lembaga sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dilakukan berdasarkan ketentuan
dalam Undang-Undang ini.
Pasal 55

(1) Lembaga dipimpin seorang kepala dan dibantu oleh


seorang sekretaris dan beberapa orang deputi.

(2) Sekretaris sebagaimana dimaksud pada ayat (1)


berasal dari unsur Pemerintah dan bertugas
menyelenggarakan dukungan administratif terhadap
pelaksanaan tugas dan tanggung jawab lembaga.

(3) Deputi sebagaimana pada ayat (1) membidangi:


a. bidang pencegahan;
b. bidang penindakan;
c. bidang hukum dan kerja sama; dan
d. bidang pengawasan internal dan pengaduan
masyarakat.

(4) Dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya,


lembaga dapat membentuk satuan tugas sebagai
unsur pelaksana.

(5) Satuan

tugas
melaksanakan
pemberantasan
perusakan hutan yang bersifat strategis sejak
penyelidikan sampai dengan penuntutan di seluruh
wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia,
termasuk wilayah kepabeanan atas perintah kepala
lembaga dan/atau deputi.

(6) Ketentuan lebih lanjut mengenai pembentukan,


susunan organisasi, dan tata kerja lembaga diatur
dalam Peraturan Presiden.
Pasal 56

(1) Lembaga

yang menangani pencegahan


dan
pemberantasan perusakan hutan sebagaimana

dimaksud dalam Pasal 54 ayat (1) bertugas:

a. melakukan

penyelidikan
dan
penyidikan tindak pidana perusakan hutan;

b. melaksanakan administrasi penyelidikan dan


penyidikan terhadap perkara perusakan hutan;

c. melaksanakan kampanye antiperusakan hutan;


d. membangun

dan mengembangkan sistem


informasi pencegahan dan
pemberantasan
perusakan hutan yang terintegrasi;

e. memberdayakan
pencegahan
hutan;

f.

masyarakat dalam upaya


dan pemberantasan perusakan

melakukan kerja sama


dan
koordinasi
antarlembaga
penegak
hukum
dalam
pemberantasan perusakan hutan;

g. mengumumkan hasil pelaksanaan tugas dan


kewenangannya
secara
berkala
kepada
masyarakat sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan; dan

h. memberi izin penggunaan terhadap barang


bukti kayu temuan hasil operasi pemberantasan
perusakan hutan yang berasal dari luar
kawasan hutan konservasi untuk kepentingan
sosial.

(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan tugas


sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam
Peraturan Presiden.
Pasal 57
Dalam melaksanakan pencegahan dan
pemberantasan perusakan hutan, lembaga
melaporkan hasil kerjanya kepada Dewan
Perwakilan Rakyat Republik Indonesia paling
sedikit 6 (enam) bulan sekali.

BAB VI
PERAN SERTA MASYARAKAT
Pasal 58

(1) Masyarakat berhak atas:


a. lingkungan hidup yang baik dan sehat, termasuk
kualitas lingkungan hidup yang dihasilkan oleh
hutan;

b. pemanfaatan hutan sesuai dengan ketentuan


peraturan perundang-undangan;

c. upaya pemberdayaan masyarakat; dan


e. penyuluhan tentang pentingnya kelestarian
hutan dan dampak negatif perusakan hutan.

(2) Selain hak sebagaimana dimaksud pada ayat (1),


dalam rangka pencegahan dan pemberantasan
perusakan hutan, masyarakat berhak:

a. mencari dan memperoleh informasi adanya


dugaan telah terjadinya perusakan hutan;

b. mendapat

pelayanan
dalam
mencari,
memperoleh, dan memberikan informasi adanya
dugaan telah terjadi perusakan hutan dan
penyalahgunaan izin kepada penegak hukum;

c. mencari dan memperoleh informasi terhadap


izin pengelolaan hutan yang telah dikeluarkan
oleh pemerintah daerah setempat;

d. menyampaikan

saran dan pendapat secara


bertanggung jawab kepada penegak hukum; dan

e. memperoleh pelindungan hukum dalam:


1. melaksanakan

haknya
sebagaimana
dimaksud dalam huruf a, huruf b, dan
huruf c; dan

2. proses

penyelidikan, penyidikan,
dan
persidangan sebagai saksi pelapor, saksi,
atau saksi ahli sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.

Pasal 59
Masyarakat berkewajiban:

a. menjaga dan memelihara kelestarian hutan; dan


b. mengelola hutan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.

Pasal 60
Masyarakat berkewajiban memberikan informasi, baik
lisan maupun tulisan kepada pihak yang berwenang
apabila mengetahui atau adanya indikasi perusakan
hutan.
Pasal 61
Masyarakat berperan serta dalam pencegahan
pemberantasan perusakan hutan dengan cara:

dan

a. membentuk dan membangun jejaring sosial gerakan


anti perusakan hutan;

b. melibatkan

dan
menjadi
mitra
lembaga
pemberantasan perusakan hutan dalam kegiatan
pencegahan dan pemberantasan perusakan hutan;

c. meningkatkan

kesadaran
tentang
pentingnya
kelestarian hutan dan dampak negatif perusakan
hutan;

d. memberikan informasi, baik lisan maupun tulisan


kepada pihak yang berwenang berkaitan dengan
pencegahan dan pemberantasan perusakan hutan;

e. ikut

serta
melakukan
pengawasan
dalam
penegakan hukum pemberantasan perusakan hutan;
dan/atau

f.

melakukan kegiatan lain yang bertujuan untuk


pencegahan dan pemberantasan perusakan hutan.
Pasal 62

Lembaga yang menangani pemberantasan perusakan


hutan melakukan kemitraan dengan organisasi atau
lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang
kehutanan atau di bidang lingkungan hidup serta
organisasi sosial kemasyarakatan dalam melakukan
pendampingan, pelayanan, dan dukungan kepada
masyarakat.

Pasal 63
Hak dan kewajiban sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 58 sampai dengan Pasal 60 dilaksanakan
dengan berpegang teguh pada asas atau ketentuan
peraturan perundang-undangan.

BAB VII
KERJA SAMA INTERNASIONAL
Pasal 64

(1) Pemerintah

dapat
melakukan
kerja
sama
internasional dengan negara lain dalam rangka
pencegahan dan pemberantasan perusakan hutan
dengan
mempertimbangkan
dan
menjaga
kepentingan nasional.

(2) Kerja sama internasional dalam rangka pencegahan


dan pemberantasan perusakan
dilakukan dalam bentuk:

hutan

dapat

a. kerja sama bilateral;


b. kerja sama regional; atau
c. kerja sama multilateral.
Pasal 65

(1) Kerja sama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 64


dapat dilakukan berdasarkan suatu perjanjian.

(2) Dalam hal belum ada perjanjian sebagaimana


dimaksud pada ayat (1), kerja sama dapat dilakukan
atas dasar hubungan baik berdasarkan prinsip
timbal balik (resiprositas).
Pasal 66

(1) Pemerintah melakukan kerja sama internasional


dalam rangka mencegah
pencucian kayu tidak sah.

perdagangan

dan/atau

(2) Pemerintah

berkewajiban
melakukan
pengembalian kerugian atas hasil tindak
perusakan hutan.

upaya
pidana

(3) Upaya

pengembalian
kerugian
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa:

a. pemblokiran atau pembekuan sementara harta


kekayaan dengan tujuan untuk mencegah
dialihkan atau dipindahtangankan agar orang
tertentu atau semua orang tidak berurusan
dengan harta yang telah diperoleh atau mungkin
telah diperoleh dari kegiatan perusakan hutan;

dan/atau

b. perampasan
keuntungan

hak
yang

atas
kekayaan
atau
telah
diperoleh
atau
mungkin telah diperoleh dari hasil kegiatan
perusakan
hutan
berdasarkan
putusan
pengadilan di Indonesia atau di negara asing.
Pasal 67

(2) Kerja sama internasional dalam rangka pencegahan


perusakan hutan dapat dilakukan dalam hal:

a. manajemen

pengelolaan

hutan

yang

berkelanjutan;

b. kerja sama konservasi dan restorasi kawasan


hutan;

c. pemberdayaan masyarakat; dan


d. permerkuatan sistem verifikasi dan sertifikasi
legalitas kayu yang diakui secara internasional.

(3) Kerja sama internasional sebagaimana dimaksud


pada ayat (1) ditujukan untuk mengurangi
kerusakan hutan akibat perusakan hutan dan
kelestarian hutan.
Pasal 68
Pemerintah mendorong kerja sama internasional dalam
hal pendanaan dari masyarakat internasional dan
investasi
swasta
internasional
dalam
rangka
pencegahan perusakan hutan.

Pasal 69

(1) Untuk

melaksanakan kerja sama internasional


dalam rangka pencegahan dan pemberantasan
pembalakan liar sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 64, Menteri dapat bertindak untuk dan atas
nama Pemerintah Republik Indonesia melakukan
kerja sama internasional dengan negara lain,
organisasi
internasional,
dan/atau
lembaga
keuangan
asing,
khususnya
menyangkut
penanganan pemberantasan pembalakan liar.

(2) Kerja sama internasional sebagaimana dimaksud


pada ayat (1) dilakukan sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan, konvensi, dan
kebiasaan internasional yang berlaku secara umum.
Pasal 70
Dalam rangka penyelidikan, penyidikan, penuntutan,
dan pemeriksaan di sidang pengadilan terhadap
perkara perusakan hutan, Pemerintah dapat melakukan
kerja sama regional dan internasional melalui forum
bilateral atau multilateral
sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
Pasal 71
Kerja sama internasional dalam rangka melakukan
penyelidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 70
meliputi:

a. identitas

keberadaan dan kegiatan dari setiap


orang, baik nasional maupun asing yang disangka
terlibat dalam perusakan hutan;

b. pemindahan hasil kejahatan atau kekayaan yang


berasal dari perusakan hutan;

c. pemindahan kekayaan, perlengkapan, atau alat


pembantu
lainnya
yang
digunakan
atau
dimaksudkan untuk digunakan dalam melakukan
perusakan hutan;

d. seluruh

mata rantai terjadinya tindak pidana


pencucian kayu tidak sah sampai dengan pencucian
uang;

e. identitas dan kegiatan dari negara yang melakukan


pencucian kayu tidak sah yang merupakan hasil
perusakan hutan di Indonesia; dan/atau

f.

melacak,
membekukan,
mengembalikan
aset
hasil
perusakan hutan.

menyita,
tindak

dan
pidana

Pasal 72
Kerja sama dalam rangka penyelidikan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 70 dilakukan melalui kerja sama
interpol negara masing-masing.

Pasal 73
Pemerintah
dapat
membuat
perjanjian
atau
kesepakatan dengan negara asing untuk mendapat
penggantian biaya dan bagi hasil atas pemanfaatan kayu
dari perusakan hutan.
BAB VIII
PEMBIAYAAN
Pasal 74
Biaya yang diperlukan untuk pelaksanaan UndangUndang ini dibebankan kepada anggaran pendapatan
dan belanja negara.
Pasal 75
Perencanaan
dan
pengajuan
usulan
anggaran
pemberantasan perusakan hutan dilakukan oleh lembaga
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 54.
BAB IX
PELINDUNGAN SAKSI, PELAPOR, DAN
INFORMAN
Pasal 76

(1) Setiap orang yang menjadi saksi, pelapor, dan


informan
dalam
upaya
pencegahan
dan
pemberantasan pembalakan liar, wajib diberi
pelindungan khusus oleh Pemerintah.

(2) Pelindungan khusus sebagaimana dimaksud pada


ayat (1) bertujuan untuk menghindari kemungkinan
ancaman yang membahayakan diri, jiwa, dan/atau
harta, termasuk keluarganya dan dilaksanakan
sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan.

Pasal 77
Pelindungan keamanan
informan berupa:

bagi

saksi,

pelapor, dan

a. pelindungan atas keamanan pribadi, keluarga,


dan harta bendanya, serta bebas dari ancaman
yang berkenaan dengan laporan dan informasi
yang akan, sedang, atau telah diberikan;

b. pemberian

informasi
pengadilan; dan/atau

mengenai

putusan

c. pemberitahuan dalam hal terpidana dibebaskan.


Pasal 78

(1) Pelapor dan informan tidak dapat dituntut secara


hukum, baik pidana maupun perdata atas laporan
dan kesaksian yang akan, sedang, atau telah
diberikannya.

(2) Pelindungan hukum tidak berlaku terhadap pelapor


dan informan yang memberikan keterangan tidak
dengan itikad baik.
Pasal 79
Seorang saksi yang juga tersangka dalam kasus
yang sama tidak dapat dibebaskan dari tuntutan pidana
apabila ia ternyata terbukti secara sah dan meyakinkan
bersalah,
tetapi
kesaksiannya dapat dijadikan
pertimbangan hakim dalam meringankan pidana yang
akan dijatuhkan.
Pasal 80
Mekanisme pelindungan hukum pelapor dan informan:

a. pelapor

dan informan mendapat pelindungan


hukum
dengan
mempertimbangkan
syarat
sebagai berikut:

1. sifat

pentingnya
informan;

keterangan

pelapor

dan

2. tingkat ancaman yang membahayakan pelapor


dan informan;

3. hasil analisis tim medis atau psikolog terhadap


pelapor dan informan; dan

4. rekam jejak kejahatan yang pernah dilakukan


oleh pelapor dan informan.

5. tata cara memperoleh pelindungan bagi pelapor


dan informan, baik atas inisiatif sendiri maupun
atas permintaan pejabat yang berwenang,
dilakukan dengan mengajukan permohonan
secara tertulis sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
Pasal 81

(1) Pejabat

yang berwenang wajib memberikan


pelindungan sepenuhnya kepada pelapor dan
informan,
termasuk
keluarganya,
sejak
ditandatanganinya pernyataan kesediaan.

(2) Pelindungan atas keamanan pelapor dan informan


dihentikan berdasarkan alasan:

a. pelapor

dan
informan
meminta
agar
pelindungan terhadapnya dihentikan dalam
permohonan diajukan atas inisiatif sendiri;

b. atas permintaan pejabat yang berwenang dalam


hal permintaan pelindungan terhadap pelapor
dan informan berdasarkan atas permintaan
pejabat yang bersangkutan;

c. pelapor dan informan melanggar ketentuan


yang tertulis dalam perjanjian;

d. instansi yang berwenang berpendapat bahwa


pelapor dan informan tidak lagi memerlukan
pelindungan berdasarkan bukti-bukti yang
meyakinkan; atau

e. penghentian pelindungan keamanan seorang


pelapor dan informan harus dilakukan secara
tertulis.

BAB X
KETENTUAN PIDANA

Pasal 82

(1) Orang perseorangan yang dengan sengaja:


a. melakukan penebangan pohon dalam kawasan
hutan
yang
tidak
sesuai
dengan izin
pemanfaatan hutan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 12 huruf a;

b. melakukan penebangan pohon dalam kawasan


hutan tanpa memiliki izin yang dikeluarkan oleh
pejabat
yang
berwenang
sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 12 huruf b; dan/atau

c. melakukan penebangan pohon dalam kawasan


hutan secara tidak sah sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 12 huruf c
dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1
(satu) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun serta
pidana denda paling sedikit Rp500.000.000,00
(lima ratus juta rupiah) dan paling banyak
Rp2.500.000.000,00 (dua miliar lima ratus juta
rupiah).

(2) Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud


pada ayat (1) dilakukan oleh orang perseorangan
yang bertempat tinggal di dalam dan/atau di
sekitar kawasan hutan, pelaku dipidana dengan
pidana penjara paling singkat 3 (tiga) bulan dan
paling lama 2 (dua) tahun dan/atau pidana
denda paling sedikit Rp500.000,00 (lima ratus ribu
rupiah)
dan
paling
banyak
Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

(3) Korporasi yang:


a. melakukan penebangan pohon dalam kawasan
hutan
yang
tidak
sesuai
dengan izin
pemanfaatan hutan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 12 huruf a;

b. melakukan penebangan pohon dalam kawasan


hutan tanpa memiliki izin yang dikeluarkan oleh
pejabat
yang
berwenang
sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 12 huruf b; dan/atau

c. melakukan penebangan pohon dalam kawasan


hutan secara tidak sah sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 12 huruf c
dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5
(lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun
serta
pidana
denda
paling
sedikit
Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah) dan
paling banyak Rp15.000.000.000,00 (lima belas
miliar rupiah).

Pasal 83

(1) Orang perseorangan yang dengan sengaja:


a. memuat,

membongkar,
mengeluarkan,
mengangkut, menguasai, dan/atau memiliki
hasil penebangan di kawasan hutan tanpa
izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12
huruf d;

b. mengangkut, menguasai, atau memiliki hasil


hutan kayu yang tidak dilengkapi secara
bersama surat keterangan sahnya hasil hutan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 huruf
e; dan/atau

c. memanfaatkan hasil hutan kayu yang diduga


berasal
dari
hasil
pembalakan
liar
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 huruf h
dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1
(satu) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun serta
pidana denda paling sedikit Rp500.000.000,00
(lima ratus juta rupiah) dan paling banyak
Rp2.500.000.000,00 (dua miliar lima ratus juta
rupiah).

(2) Orang perseorangan yang karena kelalaiannya:


a. memuat,

membongkar,
mengeluarkan,
mengangkut, menguasai, dan/atau memiliki
hasil penebangan di kawasan hutan tanpa
izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12
huruf d;

b. mengangkut, menguasai atau memiliki hasil


hutan kayu yang tidak dilengkapi secara
bersama surat keterangan sahnya hasil hutan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 huruf
e; dan/atau

c. memanfaatkan hasil hutan kayu yang diduga


berasal
dari
hasil
pembalakan
liar
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 huruf h
dipidana dengan pidana penjara paling singkat 8
(delapan) bulan dan paling lama 3 (tiga) tahun serta
pidana
denda
paling
sedikit Rp10.000.000,00 (sepuluh juta
rupiah) dan paling banyak Rp1.000.000.000,00
(satu miliar rupiah).

(3) Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud


pada ayat (1) huruf c dan ayat (2) huruf c
dilakukan oleh orang perseorangan yang bertempat
tinggal di dalam dan/atau di sekitar kawasan hutan,
pelaku dipidana dengan pidana penjara paling
singkat 3 (tiga) bulan dan paling lama 2 (dua)
tahun dan/atau pidana denda paling sedikit
Rp500.000,00 (lima ratus ribu rupiah) dan
paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta
rupiah).

(4) Korporasi yang:


a. memuat,

membongkar,
mengeluarkan,
mengangkut, menguasai, dan/atau memiliki
hasil penebangan di kawasan hutan tanpa
izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12
huruf d;

b. mengangkut, menguasai, atau memiliki hasil


hutan kayu yang tidak dilengkapi secara
bersama surat keterangan sahnya hasil hutan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 huruf
e; dan/atau

c. memanfaatkan hasil hutan kayu yang diduga


berasal
dari
hasil
pembalakan
liar
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 huruf h
dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5
(lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas)
tahun serta pidana denda paling sedikit
Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah) dan
paling banyak Rp15.000.000.000,00 (lima belas
miliar rupiah).
Pasal 84

(1) Orang

perseorangan yang dengan


sengaja
membawa alat-alat yang lazim digunakan untuk
menebang, memotong, atau membelah pohon di
dalam kawasan hutan tanpa izin pejabat yang
berwenang sebagaimana dimaksud dalam Pasal
12 huruf f dipidana dengan pidana penjara
paling singkat 1 (tahun) tahun dan paling lama 5
(lima) tahun serta pidana denda paling sedikit
Rp250.000.000,00 (dua ratus lima puluh juta
rupiah) dan paling banyak Rp5.000.000.000,00
(lima miliar rupiah).

(2) Orang perseorangan yang karena kelalaiannya


membawa alat-alat yang lazim digunakan untuk
menebang, memotong, atau membelah pohon di
dalam kawasan hutan tanpa izin pejabat yang
berwenang sebagaimana dimaksud dalam Pasal
12 huruf f dipidana dengan pidana penjara
paling singkat 8 (delapan) bulan dan paling lama 2
(dua) tahun serta pidana denda paling sedikit
Rp10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah) dan paling
banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).

(3) Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud


pada ayat (1) dan ayat (2) dilakukan oleh orang
perseorangan yang bertempat tinggal di dalam
dan/atau di sekitar kawasan hutan dipidana
dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) bulan
serta paling lama 2 (dua) tahun dan/atau pidana
denda paling sedikit Rp500.000,00 (lima ratus ribu
rupiah) dan paling banyak Rp500.000.000,00
(lima ratus juta rupiah).

(4) Korporasi yang membawa alat-alat yang lazim


digunakan untuk menebang, memotong, atau
membelah pohon di dalam kawasan hutan tanpa
izin pejabat yang berwenang sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 12 huruf f dipidana
dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun
dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan pidana
denda paling sedikit Rp2.000.000.000,00 (dua
miliar
rupiah)
dan
paling
banyak
Rp15.000.000.000,00 (lima belas miliar rupiah).
Pasal 85

(1) Orang

perseorangan yang dengan


sengaja
membawa alat-alat berat dan/atau alat-alat lainnya
yang lazim atau patut diduga akan digunakan
untuk mengangkut hasil hutan di dalam kawasan
hutan tanpa izin pejabat
yang berwenang
sebagaimana dimaksud dalam Pasal
12 huruf g dipidana dengan pidana penjara
paling singkat 2 (dua) tahun dan paling lama 10
(sepuluh) tahun dan pidana denda paling sedikit
Rp2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah) dan paling
banyak Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar
rupiah).

(2) Korporasi yang membawa alat-alat berat dan/atau


alat-alat lainnya yang lazim atau patut diduga akan
digunakan untuk mengangkut hasil hutan di
dalam kawasan hutan tanpa izin pejabat yang
berwenang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12
huruf g dipidana dengan pidana penjara paling
singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 15 (lima
belas) tahun serta pidana denda paling sedikit
Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah) dan
paling banyak Rp15.000.000.000,00 (lima belas
miliar rupiah).
Pasal 86

(1) Orang perseorangan yang dengan sengaja:


a. mengedarkan

kayu hasil pembalakan liar


melalui darat, perairan, atau udara sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 12 huruf i; dan/atau

b. menyelundupkan kayu yang berasal dari atau


masuk ke wilayah Negara Kesatuan Republik
Indonesia melalui sungai, darat, laut, atau
udara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12
huruf j
dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1
(satu) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun serta
pidana denda paling sedikit Rp500.000.000,00
(lima ratus juta rupiah) dan paling banyak
Rp2.500.000.000,00 (dua miliar lima ratus juta
rupiah).

(2) Korporasi yang:


a. mengedarkan kayu hasil pembalakan liar
melalui
darat,
perairan,
atau
udara
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 huruf
i; dan/atau

b. menyelundupkan kayu yang berasal dari atau


masuk
ke
wilayah
Negara Kesatuan
Republik Indonesia melalui sungai, darat,
laut, atau udara sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 12 huruf j
dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5
(lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun
serta
pidana
denda
paling
sedikit
Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah) dan
paling banyak Rp15.000.000.000,00 (lima belas
miliar rupiah).

Pasal 87

(1) Orang perseorangan yang dengan sengaja:


a. menerima, membeli, menjual, menerima tukar,
menerima titipan, dan/atau memiliki hasil
hutan yang diketahui berasal dari pembalakan
liar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12
huruf k;

b. membeli, memasarkan, dan/atau mengolah


hasil hutan kayu yang berasal dari kawasan
hutan yang diambil atau dipungut secara
tidak sah sebagaimana dimaksud
dalam
Pasal 12 huruf l; dan/atau
c. menerima, menjual, menerima
tukar,
menerima titipan, menyimpan,
dan/atau
memiliki hasil hutan kayu yang berasal dari
kawasan hutan yang diambil atau dipungut
secara tidak sah sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 12 huruf m
dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1
(satu) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun dan
pidana denda paling sedikit Rp500.000.000,00
(lima ratus juta rupiah) dan paling banyak
Rp2.500.000.000,00 (dua miliar lima ratus juta
rupiah).

(2) Orang perseorangan yang karena kelalaiannya:


a. menerima, membeli, menjual, menerima tukar,
menerima titipan, dan/atau memiliki hasil
hutan yang diketahui berasal dari pembalakan
liar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12
huruf k;

b. membeli, memasarkan, dan/atau mengolah


hasil hutan kayu yang berasal dari kawasan
hutan yang diambil atau dipungut secara
tidak sah sebagaimana dimaksud
dalam
Pasal 12 huruf l; dan/atau

c. menerima,

menjual,
menerima
tukar,
menerima titipan, menyimpan,
dan/atau
memiliki hasil hutan kayu yang berasal dari
kawasan hutan yang diambil atau dipungut
secara tidak sah sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 12 huruf m

dipidana dengan pidana penjara paling singkat 8


(delapan) bulan dan paling lama 3 (tiga) tahun serta
pidana
denda
paling
sedikit Rp250.000.000,00 (dua ratus
lima puluh juta rupiah) dan paling banyak
Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).

(3) Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud


pada ayat (1) dan ayat (2) dilakukan oleh orang
perseorangan yang bertempat tinggal di dalam
dan/atau di sekitar kawasan hutan, pelaku dipidana
dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga)
bulan dan paling lama 2 (dua) tahun dan/atau
pidana denda paling sedikit Rp500.000,00 (lima
ratus
ribu
rupiah)
dan
paling
banyak
Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

(4) Korporasi yang:


a. menerima, membeli, menjual, menerima tukar,
menerima titipan, dan/atau memiliki hasil
hutan yang diketahui berasal dari pembalakan
liar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12
huruf k;

b. membeli, memasarkan, dan/atau mengolah


hasil hutan kayu yang berasal dari kawasan
hutan yang diambil atau dipungut secara
tidak sah sebagaimana dimaksud
dalam
Pasal 12 huruf l; dan/atau

c. menerima,

menjual,
menerima
tukar,
menerima titipan, menyimpan,
dan/atau
memiliki hasil hutan kayu yang berasal dari
kawasan hutan yang diambil atau dipungut
secara tidak sah sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 12 huruf m

dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5


(lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun
serta
pidana
denda
paling
sedikit
Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah) dan
paling banyak Rp15.000.000.000,00 (lima belas
miliar rupiah).

Pasal 88

(1) Orang perseorangan yang dengan sengaja:


a. melakukan pengangkutan kayu hasil hutan
tanpa memiliki dokumen yang merupakan
surat keterangan sahnya hasil hutan sesuai
dengan ketentuan peraturan perundangundangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal
16;

b. memalsukan surat keterangan sahnya hasil


hutan kayu dan/atau menggunakan surat
keterangan sahnya hasil hutan kayu yang
palsu sebagaimana dimaksud dalam Pasal
14; dan/atau

c. melakukan

penyalahgunaan
dokumen
angkutan hasil hutan kayu yang diterbitkan
oleh pejabat yang berwenang sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 15

dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1


(satu) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun serta
pidana denda paling sedikit Rp500.000.000,00
(lima ratus juta rupiah) dan paling banyak
Rp2.500.000.000,00 (dua miliar lima ratus juta
rupiah).

(2) Korporasi yang:


a. melakukan pengangkutan kayu hasil hutan
tanpa memiliki dokumen yang merupakan
surat keterangan sahnya hasil hutan sesuai
dengan ketentuan peraturan perundangundangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal
16;

b. memalsukan surat keterangan sahnya hasil


hutan kayu dan/atau menggunakan surat
keterangan sahnya hasil hutan kayu yang
palsu sebagaimana dimaksud dalam Pasal
14; dan/atau

c. melakukan

penyalahgunaan
dokumen
angkutan hasil hutan kayu yang diterbitkan
oleh pejabat yang berwenang sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 15

dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5


(lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun
serta
pidana
denda
paling
sedikit
Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah) dan
paling banyak Rp15.000.000.000,00 (lima belas
miliar rupiah).

Pasal 89

(1) Orang perseorangan yang dengan sengaja:


a. melakukan kegiatan penambangan di dalam
kawasan
hutan
tanpa
izin
Menteri
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat
(1) huruf b; dan/atau

b. membawa alat-alat berat dan/atau

alat-alat
lainnya yang lazim atau patut diduga akan
digunakan
untuk
melakukan
kegiatan
penambangan dan/atau mengangkut hasil
tambang di dalam kawasan hutan tanpa izin
Menteri sebagaimana dimaksud dalam Pasal
17 ayat (1) huruf a

dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3


(tiga) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun
serta
pidana
denda
paling
sedikit
Rp1.500.000.000,00 (satu miliar lima ratus juta
rupiah) dan paling banyak Rp10.000.000.000,00
(sepuluh miliar rupiah).

(2) Korporasi yang:


a. melakukan kegiatan penambangan di dalam
kawasan
hutan
tanpa
izin
Menteri
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat
(1) huruf b; dan/atau

b. membawa alat-alat berat dan/atau

alat-alat
lainnya yang lazim atau patut diduga akan
digunakan
untuk
melakukan
kegiatan
penambangan dan/atau mengangkut hasil
tambang di dalam kawasan hutan tanpa izin
Menteri sebagaimana dimaksud dalam Pasal
17 ayat (1) huruf a

dipidana dengan pidana penjara paling singkat 8


(delapan) tahun dan paling lama 20 (dua puluh)
tahun serta pidana denda paling
sedikit
Rp20.000.000.000,00 (dua puluh miliar rupiah)
dan paling banyak Rp50.000.000.000,00 (lima
puluh miliar rupiah).

Pasal 90

(1) Orang

perseorangan yang dengan


sengaja
mengangkut dan/atau menerima titipan hasil
tambang yang berasal dari kegiatan penambangan
di dalam kawasan hutan tanpa izin sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 17 ayat
(1) huruf c dipidana dengan pidana penjara
paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 10
(sepuluh) tahun serta pidana denda paling sedikit
Rp1.500.000.000,00 (satu miliar lima ratus juta
rupiah) dan paling banyak Rp5.000.000.000,00
(lima miliar rupiah).

(2) Korporasi yang mengangkut dan/atau menerima


titipan hasil tambang yang berasal dari kegiatan
penambangan di dalam kawasan hutan tanpa
izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat
(1) huruf c dipidana dengan pidana penjara
paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 15
(lima belas) tahun serta pidana denda paling
sedikit Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah)
dan paling banyak Rp15.000.000.000,00 (lima
belas miliar rupiah).
Pasal 91

(1) Orang perseorangan yang dengan sengaja:


a. menjual,

menguasai, memiliki,
dan/atau
menyimpan hasil tambang yang berasal dari
kegiatan penambangan di dalam kawasan
hutan tanpa izin sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 17 ayat (1) huruf d; dan/atau

b. membeli, memasarkan, dan/atau mengolah


hasil tambang dari kegiatan penambangan di
dalam kawasan hutan tanpa izin sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 17 ayat
(1) huruf e
dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3
(tiga) tahun dan paling lama 10 (sepuluh) tahun
serta
pidana
denda
paling
sedikit Rp1.500.000.000,00 (satu miliar
lima ratus juta rupiah) dan paling banyak
Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).

(2) Korporasi yang:


a. menjual, menguasai,

memiliki,
dan/atau
menyimpan hasil tambang yang berasal dari
kegiatan penambangan di dalam kawasan
hutan tanpa izin sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 17 ayat (1) huruf d; dan/atau

b. membeli, memasarkan, dan/atau mengolah


hasil tambang dari kegiatan penambangan di
dalam kawasan hutan tanpa izin sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 17 ayat
(1) huruf e
dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5
(lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun
serta
pidana
denda
paling
sedikit
Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah) dan
paling banyak Rp15.000.000.000,00 (lima belas
miliar rupiah).
Pasal 92

(1) Orang perseorangan yang dengan sengaja:


a. melakukan kegiatan perkebunan tanpa izin
Menteri di dalam kawasan hutan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 17 ayat (2) huruf b;
dan/atau

b. membawa alat-alat berat dan/atau alat-alat


lainnya yang lazim atau patut diduga akan
digunakan
untuk
melakukan
kegiatan
perkebunan dan/atau mengangkut hasil kebun
di dalam kawasan hutan tanpa izin Menteri
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (2)
huruf a
dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3
(tiga) tahun dan paling lama 10 (sepuluh) tahun
serta
pidana
denda
paling
sedikit Rp1.500.000.000,00 (satu miliar
lima ratus juta rupiah) dan paling banyak
Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).

(2) Korporasi yang:


a. melakukan kegiatan perkebunan tanpa izin
Menteri di dalam kawasan hutan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 17 ayat (2) huruf b;
dan/atau

b. membawa alat-alat berat dan/atau alat-alat


lainnya yang lazim atau patut diduga akan
digunakan
untuk
melakukan
kegiatan
perkebunan dan/atau mengangkut hasil kebun
di dalam kawasan hutan tanpa izin Menteri
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (2)
huruf a
dipidana dengan pidana penjara paling singkat 8
(delapan) tahun dan paling lama 20 (dua puluh)
tahun serta pidana denda paling
sedikit
Rp20.000.000.000,00 (dua puluh miliar rupiah)
dan paling banyak Rp50.000.000.000,00 (lima
puluh miliar rupiah).
Pasal 93

(1) Orang perseorangan yang dengan sengaja:


a. mengangkut dan/atau menerima titipan hasil
perkebunan yang berasal dari
kegiatan
perkebunan di dalam kawasan hutan tanpa izin
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (2)
huruf c;

b. menjual,

menguasai,
memiliki, dan/atau
menyimpan hasil perkebunan yang berasal
dari kegiatan perkebunan di dalam kawasan
hutan tanpa izin sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 17 ayat (2) huruf d; dan/atau

c. membeli, memasarkan, dan/atau mengolah hasil


kebun dari perkebunan yang berasal dari
kegiatan perkebunan di dalam kawasan hutan
tanpa izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal
17 ayat (2) huruf e
dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3
(tiga) tahun dan paling lama 10 (sepuluh) tahun
serta
pidana
denda
paling
sedikit Rp1.500.000.000,00 (satu miliar
lima ratus juta rupiah) dan paling banyak
Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).

(2) Orang perseorangan yang karena kelalaiannya:


a. mengangkut dan/atau menerima titipan hasil
perkebunan yang berasal dari
kegiatan
perkebunan di dalam kawasan hutan tanpa izin

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (2)


huruf c;

b. menjual,

menguasai,
memiliki
dan/atau
menyimpan hasil perkebunan yang berasal
dari kegiatan perkebunan di dalam kawasan
hutan tanpa izin sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 17 ayat (2) huruf d; dan/atau

c. membeli, memasarkan dan/atau mengolah hasil


kebun dari perkebunan yang berasal dari
kegiatan perkebunan di dalam kawasan hutan
tanpa izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal
17 ayat (2) huruf e
dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1
(satu) tahun dan paling lama 3 (tiga) tahun dan
pidana denda paling sedikit Rp100.000.000,00
(seratus juta rupiah) dan paling
banyak
Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).

(3) Korporasi yang:


a. mengangkut dan/atau menerima titipan hasil
perkebunan yang berasal dari
kegiatan
perkebunan di dalam kawasan hutan tanpa izin
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (2)
huruf c;

b. menjual,

menguasai,
memiliki
dan/atau
menyimpan hasil perkebunan yang berasal
dari kegiatan perkebunan di dalam kawasan
hutan tanpa izin sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 17 ayat (2) huruf d; dan/atau

c. membeli, memasarkan dan/atau mengolah hasil


kebun dari perkebunan yang berasal dari
kegiatan perkebunan di dalam kawasan hutan
tanpa izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal
17 ayat (2) huruf e

dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5


(lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun
serta
pidana
denda
paling
sedikit
Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah) dan
paling banyak Rp15.000.000.000,00 (lima belas
miliar rupiah).

Pasal 94

(1) Orang perseorangan yang dengan sengaja:


a. menyuruh, mengorganisasi, atau menggerakkan
pembalakan liar dan/atau penggunaan kawasan
hutan secara tidak sah sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 19 huruf a;

b. melakukan

permufakatan
jahat
untuk
melakukan
pembalakan
liar
dan/atau
penggunaan kawasan hutan secara tidak sah
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 huruf c;

c. mendanai pembalakan liar dan/atau penggunaan


kawasan hutan secara tidak sah secara langsung
atau tidak langsung sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 19 huruf d; dan/atau

d. mengubah status kayu hasil pembalakan liar


dan/atau hasil penggunaan kawasan hutan
secara tidak sah, seolah-olah menjadi kayu
yangsah atau hasil penggunaan
kawasan hutan yang sah untuk dijual kepada
pihak ketiga, baik di dalam maupun di luar
negeri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19
huruf f dipidana dengan pidana penjara paling
singkat 8 (delapan) tahun dan paling lama 15
(lima belas) tahun serta pidana denda paling
sedikit Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar
rupiah)
dan
paling
banyak
Rp100.000.000.000,00 (seratus miliar rupiah).

(2) Korporasi yang:


a. menyuruh,
menggerakkan

mengorganisasi,

atau

pembalakan
liar
dan/atau
penggunaan kawasan hutan secara tidak sah
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 huruf
a;

b. melakukan

permufakatan
jahat
untuk
melakukan
pembalakan
liar
dan/atau
penggunaan kawasan hutan secara tidak sah
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 huruf
c;

c. mendanai

pembalakan
liar
dan/atau
penggunaan kawasan hutan secara tidak sah,
secara
langsung
atau
tidak
langsung
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 huruf d;

dan/atau

d. mengubah status kayu hasil pembalakan liar


dan atau hasil penggunaan kawasan hutan secara
tidak sah, seolah-olah menjadi kayu yang sah
atau hasil penggunaan kawasan hutan yang
sah untuk dijual kepada pihak ketiga, baik di
dalam maupun di luar negeri sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 19 huruf f
dipidana dengan pidana penjara paling singkat
10 (sepuluh) tahun dan paling lama seumur
hidup serta pidana denda paling
sedikit
Rp20.000.000.000,00 (dua puluh miliar rupiah)
dan paling banyak
Rp1.000.000.000.000,00
(satu triliun rupiah).
Pasal 95

(1) Orang perseorangan yang dengan sengaja:


a. memanfaatkan kayu hasil pembalakan liar
dengan mengubah bentuk, ukuran, termasuk
pemanfaatan
limbahnya
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 huruf g;

b. menempatkan,

mentransfer,
membayarkan,
membelanjakan,
menghibahkan, menyumbangkan, menitipkan,
membawa ke luar negeri dan/atau menukarkan
uang atau surat berharga lainnya serta harta
kekayaan lainnya yang diketahuinya atau patut
diduga merupakan hasil pembalakan liar
dan/atau hasil penggunaan kawasan hutan
secara tidak sah sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 19 huruf h; dan/atau

c. menyembunyikan atau menyamarkan asal usul


harta yang diketahui atau patut diduga berasal
dari hasil pembalakan liar dan/atau hasil
penggunaan kawasan hutan secara tidak sah
sehingga seolah-olah menjadi harta kekayaan
yang sah sebagaimana dimaksud dalam Pasal
19 huruf i
dipidana dengan pidana penjara paling singkat 8
(delapan) tahun dan paling lama 15 (lima belas)
tahun serta pidana denda paling
sedikit
Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah) dan
paling banyak Rp100.000.000.000,00 (seratus
miliar rupiah).

(2) Orang perseorangan yang karena kelalaiannya:


a. memanfaatkan kayu

hasil pembalakan liar


dengan mengubah bentuk, ukuran, termasuk
pemanfaatan
limbahnya
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 huruf g;

b. menempatkan,

mentransfer,
membayarkan,
membelanjakan,
menghibahkan, menyumbangkan, menitipkan,
membawa ke luar negeri dan/atau menukarkan
uang atau surat berharga lainnya serta harta
kekayaan lainnya yang diketahuinya atau patut
diduga merupakan hasil pembalakan liar
dan/atau hasil penggunaan kawasan hutan secara
tidak sah sebagaimana dimaksud dalam Pasal
19 huruf h; dan/atau

c. menyembunyikan atau menyamarkan asal usul


harta yang diketahui atau patut diduga berasal
dari hasil pembalakan liar dan/atau hasil
penggunaan kawasan hutan secara tidak sah
sehingga seolah-olah menjadi harta kekayaan
yang sah sebagaimana dimaksud dalam Pasal
19 huruf i
dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2
(dua) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun serta
pidana denda paling sedikit Rp500.000.000,00
(lima ratus juta rupiah) dan paling banyak
Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).

(3) Korporasi yang:


a. memanfaatkan kayu

hasil pembalakan liar


dengan mengubah bentuk, ukuran, termasuk
pemanfaatan
limbahnya
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 huruf g;

b. menempatkan,

mentransfer,
membayarkan,
membelanjakan,
menghibahkan, menyumbangkan, menitipkan,
membawa ke luar negeri, dan/atau menukarkan
uang atau surat berharga lainnya serta harta
kekayaan lainnya yang diketahuinya atau patut
diduga merupakan hasil pembalakan liar
dan/atau hasil penggunaan kawasan hutan
secara tidak sah sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 19 huruf h; dan/atau

c. menyembunyikan atau menyamarkan asal usul


harta yang diketahui atau patut diduga berasal
dari hasil pembalakan liar dan/atau hasil
penggunaan kawasan hutan secara tidak sah
sehingga seolah-olah menjadi harta kekayaan
yang sah sebagaimana dimaksud dalam Pasal
19 huruf i
dipidana dengan pidana penjara paling singkat
10 (sepuluh) tahun dan paling lama seumur
hidup serta pidana denda paling
sedikit
Rp20.000.000.000,00 (dua puluh miliar rupiah)
dan paling banyak Rp1.000.000.000.000,00 (satu
triliun rupiah).

Pasal 96

(1) Orang perseorangan yang dengan sengaja:


a. memalsukan surat izin pemanfaatan hasil hutan
kayu dan/atau penggunaan kawasan hutan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 huruf a;

b. menggunakan surat izin palsu pemanfaatan


hasil hutan kayu dan/atau penggunaan kawasan
hutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24
huruf b; dan/atau

c. memindahtangankan atau menjual izin yang


dikeluarkan oleh pejabat yang berwenang
kecuali
dengan
persetujuan
Menteri
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 huruf c
dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1
(satu) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun serta
pidana denda paling sedikit Rp500.000.000,00
(lima ratus juta rupiah) dan paling banyak
Rp2.500.000.000,00 (dua miliar lima ratus juta
rupiah).

(2) Korporasi yang:


a. memalsukan surat izin pemanfaatan hasil hutan
kayu dan/atau penggunaan kawasan hutan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 huruf a;

b. menggunakan surat izin palsu pemanfaatan


hasil hutan kayu dan/atau penggunaan kawasan
hutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24
huruf b; dan/atau

c. memindahtangankan atau menjual izin yang


dikeluarkan oleh pejabat yang berwenang
kecuali
dengan
persetujuan
Menteri
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 huruf c
dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5
(lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun
serta
pidana
denda
paling
sedikit
Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah) dan
paling banyak Rp15.000.000.000,00 (lima belas
miliar rupiah).

Pasal 97

(1) Orang perseorangan yang dengan sengaja:


a. merusak sarana dan prasarana pelindungan
hutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25;
dan/atau

b. merusak, memindahkan, atau menghilangkan


pal batas luar kawasan hutan, batas fungsi
kawasan hutan, atau batas kawasan hutan
yang berimpit dengan batas negara yang
mengakibatkan perubahan bentuk dan/atau
luasan kawasan hutan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 26
dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1
(satu) tahun dan paling lama 3 (tiga) tahun serta
pidana denda paling sedikit Rp200.000.000,00
(dua ratus juta rupiah) dan paling banyak
Rp1.500.000.000,00 (satu miliar lima ratus juta
rupiah).

(2) Orang perseorangan yang karena kelalaiannya:


a. merusak sarana dan prasarana pelindungan
hutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25;
dan/atau

b. merusak, memindahkan, atau menghilangkan


pal batas luar kawasan hutan, batas fungsi
kawasan hutan, atau batas kawasan hutan
yang berimpit dengan batas negara yang
mengakibatkan perubahan bentuk dan/atau
luasan kawasan hutan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 26
dipidana dengan pidana penjara paling singkat 8
(delapan) bulan dan paling lama 2 (dua) tahun serta

pidana
denda
paling
sedikit Rp10.000.000,00 (sepuluh juta
rupiah)
dan paling banyak Rp500.000.000,00
(lima ratus juta rupiah).

(3) Korporasi yang:


a. merusak sarana dan prasarana pelindungan
hutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25;
dan/atau
b. merusak, memindahkan, atau menghilangkan
pal batas luar kawasan hutan, batas fungsi
kawasan hutan, atau batas kawasan hutan
yang berimpit dengan batas negara yang
mengakibatkan perubahan bentuk dan/atau
luasan kawasan hutan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 26
dipidana dengan pidana penjara paling singkat 4
(empat) tahun dan paling lama 15 (lima belas)
tahun serta pidana denda paling
sedikit
Rp4.000.000.000,00 (empat miliar rupiah) dan
paling banyak Rp15.000.000.000,00 (lima belas
miliar rupiah).
Pasal 98

(1) Orang perseorangan yang dengan sengaja turut


serta melakukan atau membantu terjadinya
pembalakan liar dan/atau penggunaan kawasan
hutan secara tidak sah sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 19 huruf b dipidana dengan pidana
penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling
lama 3 (tiga) tahun serta pidana denda paling
sedikit Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah)
dan paling banyak Rp1.500.000.000,00 (satu
miliar lima ratus juta rupiah).

(2) Orang perseorangan yang karena kelalaiannya


turut serta melakukan atau membantu terjadinya
pembalakan
liar
dan/atau
penggunaan
kawasan hutan secara tidak sah sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 19 huruf b dipidana dengan
pidana penjara paling singkat 8 (delapan) bulan
dan paling lama 2 (dua) tahun serta pidana
denda
paling
sedikit Rp200.000.000,00
(dua ratus juta rupiah) dan paling banyak
Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).

(3) Korporasi yang turut serta melakukan atau


membantu terjadinya pembalakan liar dan/atau
penggunaan kawasan hutan secara tidak sah
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 huruf b
dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5
(lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun
serta
pidana
denda
paling
sedikit
Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah) dan
paling banyak Rp15.000.000.000,00 (lima belas
miliar rupiah).
Pasal 99

(1) Orang

perseorangan yang dengan


sengaja
menggunakan dana yang diduga berasal dari
hasil pembalakan liar dan/atau penggunaan
kawasan hutan secara tidak sah sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 19 huruf e dipidana
dengan pidana penjara paling singkat 8 (delapan)
tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun serta
pidana
denda
paling
sedikit
Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah) dan
paling banyak Rp100.000.000.000,00 (seratus
miliar rupiah).

(2) Orang perseorangan yang karena kelalaiannya


menggunakan dana yang diduga berasal dari
hasil pembalakan liar dan/atau penggunaan
kawasan hutan secara tidak sah sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 19 huruf e dipidana
dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu)
tahun dan paling lama 3 (tiga) tahun dan pidana
denda paling sedikit Rp200.000.000,00 (dua ratus
juta
rupiah)
dan
paling
banyak
Rp1.500.000.000,00 (satu miliar lima ratus juta
rupiah).

(3) Korporasi yang menggunakan dana yang diduga


berasal dari hasil pembalakan liar dan/atau
penggunaan kawasan hutan secara tidak sah
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 huruf e
dipidana dengan pidana penjara paling singkat
10 (sepuluh) tahun dan paling lama seumur
hidup serta pidana denda paling
sedikit
Rp20.000.000.000,00 (dua puluh miliar rupiah)

dan paling banyak Rp1.000.000.000.000,00 (satu


triliun rupiah).

Pasal 100

(1) Orang perseorangan yang dengan sengaja


mencegah, merintangi, dan/atau menggagalkan
secara langsung maupun tidak langsung upaya
pemberantasan pembalakan liar dan penggunaan
kawasan hutan secara tidak sah sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 20 dipidana dengan pidana
penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling
lama 10 (sepuluh) tahun dan pidana denda paling
sedikit Rp500.000.000,00 (lima ratus juta
rupiah) dan paling banyak Rp5.000.000.000,00
(lima miliar rupiah).

(2) Korporasi yang mencegah, merintangi, dan/atau


menggagalkan secara langsung maupun tidak
langsung upaya pemberantasan pembalakan liar
dan penggunaan kawasan hutan secara tidak sah
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 dipidana
dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima)
tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun serta
pidana denda paling sedikit Rp5.000.000.000,00
(lima
miliar
rupiah) dan paling banyak
Rp15.000.000.000,00 (lima belas miliar rupiah).

Pasal 101

(1) Orang perseorangan


memanfaatkan
kayu

yang
dengan
hasil
pembalakan
dan/atau penggunaan kawasan hutan secara tidak
sah yang berasal dari hutan
konservasi
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 dipidana
dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu)
tahun dan paling lama 3 (tiga) tahun serta
pidana denda paling sedikit Rp200.000.000,00
(dua ratus juta rupiah) dan paling banyak
Rp1.500.000.000,00 (satu miliar lima ratus juta
rupiah).

(2) Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud


pada ayat (1) dilakukan oleh orang perseorangan
yang bertempat tinggal di sekitar atau di dalam
kawasan hutan dipidana dengan pidana penjara
paling singkat 3 (tiga) bulan serta paling lama 1
(satu) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit
Rp500.000,00 (lima ratus ribu rupiah) paling
banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
(3) Korporasi yang memanfaatkan kayu
hasil
pembalakan liar dan/atau penggunaan kawasan
hutan secara tidak sah yang berasal dari hutan
konservasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal
21 dipidana dengan pidana penjara paling singkat
5 (lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas)
tahun serta pidana denda paling
sedikit
Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah) dan
paling banyak Rp15.000.000.000,00 (lima belas
miliar rupiah).
Pasal 102

(1) Orang

perseorangan yang dengan


sengaja
menghalang-halangi
dan/atau
menggagalkan
penyelidikan,
penyidikan,
penuntutan,
atau
pemeriksaan di sidang pengadilan tindak pidana
pembalakan liar dan penggunaan kawasan hutan
secara tidak sah sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 22 dipidana dengan pidana penjara paling
singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 10
(sepuluh) tahun serta pidana denda paling sedikit
Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) dan
paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar
rupiah).
(2) Korporasi yang menghalang-halangi dan/atau
menggagalkan
penyelidikan, penyidikan,
penuntutan,
atau
pemeriksaan
di
sidang
pengadilan tindak pidana pembalakan liar dan
penggunaan kawasan hutan secara tidak sah
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 dipidana
dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima)
tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun serta
pidana
denda
paling sedikit
Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah) dan
paling banyak Rp15.000.000.000,00 (lima belas
miliar rupiah).

Pasal 103

(1) Orang

perseorangan yang dengan


sengaja
melakukan intimidasi dan/atau ancaman terhadap
keselamatan petugas yang melakukan pencegahan
dan
pemberantasan
pembalakan
liar
dan
penggunaan kawasan hutan secara tidak sah
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 dipidana
dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu)
tahun dan paling lama 10 (sepuluh) tahun serta
pidana
denda
paling
sedikit
Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) dan
paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar
rupiah).

(2) Korporasi yang melakukan intimidasi dan/atau


ancaman terhadap keselamatan petugas yang
melakukan pencegahan dan
pemberantasan
pembalakan liar dan penggunaan kawasan hutan
secara tidak sah sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 23 dipidana dengan pidana penjara paling
singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 15 (lima
belas) tahun serta pidana denda paling sedikit
Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah) dan
paling banyak Rp15.000.000.000,00 (lima belas
miliar rupiah).
Pasal 104
Setiap pejabat yang dengan sengaja melakukan
pembiaran terjadinya perbuatan pembalakan liar
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 sampai dengan
Pasal 17 dan Pasal 19, tetapi tidak menjalankan
tindakan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27
dipidana dengan pidana penjara paling singkat 6
(enam) bulan dan paling lama 15 (lima belas) tahun
serta pidana denda paling sedikit Rp1.000.000.000,00
(satu
miliar
rupiah)
dan
paling
banyak
Rp7.500.000.000,00 (tujuh miliar lima ratus juta
rupiah).
Pasal 105
Setiap pejabat yang:

a. menerbitkan izin pemanfaatan hasil hutan kayu


dan/atau penggunaan kawasan hutan di dalam
kawasan hutan yang tidak sesuai dengan
kewenangannya sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 28 huruf a;

b. menerbitkan izin pemanfaatan hasil hutan kayu


dan/atau izin penggunaan kawasan hutan di
dalam kawasan hutan yang tidak sesuai dengan
ketentuan
peraturan
perundang-undangan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 huruf b;

c. melindungi

pelaku pembalakan liar dan/atau


penggunaan kawasan hutan secara tidak sah
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 huruf c;

d. ikut serta atau membantu kegiatan pembalakan liar


dan/atau penggunaan kawasan hutan secara tidak
sah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 huruf
d;

e. melakukan

permufakatan
untuk
terjadinya
pembalakan liar dan/atau penggunaan kawasan
hutan secara tidak sah sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 28 huruf e;

f.

menerbitkan surat keterangan sahnya hasil hutan


tanpa hak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28
huruf f; dan/atau

g. dengan

sengaja melakukan pembiaran dalam


melaksanakan tugas sehingga terjadi tindak pidana
pembalakan liar dan/atau penggunaan kawasan
hutan secara tidak sah sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 28 huruf g

dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu)


tahun dan paling lama 10 (sepuluh)
tahun serta
pidana
denda
paling
sedikit Rp1.000.000.000,00 (satu miliar
rupiah) dan paling banyak Rp10.000.000.000,00
(sepuluh miliar rupiah).

Pasal 106
Setiap pejabat yang melakukan kelalaian dalam
melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 28 huruf h dipidana dengan pidana penjara
paling singkat 6 (enam) bulan dan paling lama 5 (lima)

tahun
serta
pidana
denda
paling
sedikit
Rp200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) dan paling
banyak Rp1.000.000.000,00 (satu milyar rupiah).

Pasal 107
Setiap kegiatan pembalakan liar dan/atau penggunaan
kawasan hutan secara tidak sah sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 12 sampai dengan Pasal 17 dan Pasal 20
sampai dengan Pasal
26 yang melibatkan pejabat, pidananya ditambah 1/3
(satu per tiga) dari ancaman pidana pokok.
Pasal 108
Selain penjatuhan sanksi pidana
sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 82, Pasal 84, Pasal 94, Pasal
96, Pasal 97 huruf a, Pasal 97 huruf b, Pasal 104, Pasal
105, atau Pasal 106 dikenakan juga uang pengganti,
dan apabila tidak terpenuhi, terdakwa dikenai
hukuman penjara yang lamanya tidak melebihi
ancaman maksimum dari pidana pokok sesuai
dengan ketentuan dalam Undang-undang ini dan lama
pidana sudah ditentukan dalam putusan pengadilan.

Pasal 109

(1) Dalam hal perbuatan pembalakan, pemanenan,


pemungutan, penguasaan, pengangkutan, dan
peredaran kayu hasil tebangan liar dilakukan
oleh atau atas nama suatu korporasi, tuntutan
dan/atau penjatuhan pidana dilakukan terhadap
korporasi dan/atau pengurusnya.

(2) Perbuatan

pembalakan,
pemanenan,
pemungutan,
penguasaan,
pengangkutan,
dan peredaran
kayu
hasil
tebangan liar dilakukan oleh korporasi apabila
tindak pidana tersebut dilakukan oleh orang
perorangan, baik berdasarkan hubungan kerja
maupun
hubungan
lain,
bertindak
dalam
lingkungan korporasi tersebut baik secara sendiri

maupun bersama- sama.


(3) Dalam hal tuntutan pidana dilakukan terhadap
korporasi, korporasi tersebut diwakili
oleh
pengurus.

(4) Hakim dapat memerintahkan pengurus korporasi


agar menghadap sendiri di sidang pengadilan
dan dapat pula memerintahkan agar pengurus
tersebut dibawa ke sidang pengadilan.
(5) Pidana pokok yang dapat dijatuhkan terhadap
korporasi hanya pidana denda sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 82 sampai dengan Pasal
103.
(6) Selain dapat dijatuhi pidana
sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 82 sampai dengan Pasal
103, korporasi dapat dijatuhi pidana tambahan
berupa
penutupan
seluruh
atau
sebagian
perusahaan.
BAB XI
KETENTUAN PERALIHAN
Pasal 110
Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku:

a. perkara tindak pidana perusakan hutan yang


telah dilakukan penyidikan, penuntutan, dan
pemeriksaan di pengadilan berdasarkan UndangUndang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan
(Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun
1999 Nomor 167, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 3888) sebagaimana
telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 19
Tahun
2004
tentang
Penetapan
Peraturan
Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1
Tahun 2004 tentang Perubahan atas UndangUndang Nomor
41 Tahun 1999 tentang
Kehutanan menjadi

Undang-Undang (Lembaran Negara Republik


Indonesia Tahun 2004 Nomor 86, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
4412) tetap dilanjutkan sampai memperoleh
putusan pengadilan yang memiliki kekuatan
hukum tetap; dan

b. perkara tindak pidana perusakan hutan dalam


kawasan hutan yang telah ditunjuk
oleh
Pemerintah
sebelum
Putusan
Mahkamah
Konstitusi Nomor 45/PUU-IX/2011 tanggal 12
Februari 2012 tentang Pengujian Undang- Undang
Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, berlaku
ketentuan dalam Undang- Undang ini.

BAB XII
KETENTUAN PENUTUP

Pasal 111

(1) Lembaga

pencegahan
dan
pemberantasan
perusakan hutan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 53 harus telah terbentuk paling lama 2 (dua)
tahun terhitung sejak Undang-Undang
ini
diundangkan.

(2) Sejak

terbentuknya
lembaga
sebagaimana
dimaksud pada ayat (1), penanganan semua
tindak pidana perusakan hutan yang terorganisasi
sebagaimana diatur dalam Undang- Undang ini
menjadi kewenangan lembaga pencegahan dan
pemberantasan perusakan hutan.

Pasal 112
Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku:
a. ketentuan Pasal 50 ayat (1) dan ayat (3) huruf a,
huruf f, huruf g, huruf h, huruf j, serta huruf k;
dan
b. ketentuan Pasal 78 ayat (1) mengenai ketentuan pidana
terhadap Pasal 50 ayat (1) serta ayat (2) mengenai
ketentuan pidana terhadap Pasal 50 ayat (3) huruf a
dan huruf b, ayat (6), ayat (7), ayat (9), dan ayat
(10)
dalam Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang
Kehutanan (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 1999 Nomor 167, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 3888) sebagaimana telah
diubah dengan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2004
tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang
Perubahan atas Undang- Undang Nomor 41 Tahun

1999 tentang Kehutanan menjadi Undang-Undang


(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004
Nomor 86, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4412) dicabut dan dinyatakan tidak
berlaku.

Pasal 113
Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku, semua
peraturan
perundang-undangan
yang merupakan
peraturan pelaksana dari Undang-Undang Nomor 41
Tahun 1999 tentang Kehutanan (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor
167,
Tambahan Lembaran Negara Nomor 3888) yang
mengatur tindak pidana perusakan hutan dinyatakan
masih tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan
dengan Undang-Undang ini.

Pasal 114
Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal
diundangkan. Agar setiap orang mengetahuinya,
memerintahkan pengundangan Undang-Undang ini
dengan penempatannya dalam Lembaran Negara
Republik Indonesia.

Disahkan di Jakarta
pada tanggal 6 Agustus 2013
PRESIDEN REPUBLIK
INDONESIA,

ttd.

DR. H. SUSILO BAMBANG


YUDHOYONO

Diundangkan di
Jakarta pada tanggal 6
Agustus 2013
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA,

Ttd
AMIR SYAMSUDIN

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2013


NOMOR 130
Salinan sesuai dengan aslinya
KEMENTERIAN SEKRETARIAT
NEGARA RI
Asisten Deputi Perundang-undangan
Bidang Perekonomian,

Lydia Silvanna Djaman