Anda di halaman 1dari 13

1

BAB I
PENDAHULUAN

Hifema adalah suatu keadaan dimana ditemukan darah didalam bilik mata
depan. Perdarahan dapat terjadi akibat trauma tumpul yang merobek pembuluh
darah iris atau badan siliar dan bercampur dengan humour aquoeus. Darah
didalam bilik mata depan biasa terdapat pada cedera mata, trauma bedah, discrasia
darah (hemofilia), tumor intra kranial dan banyak pada usia muda.1-4
Hifema biasanya disebabkan oleh trauma

tumpul pada mata seperti

terkena bola, batu, peluru senapan angin, dan lain-lain. Selain itu, hifema juga
dapat terjadi karena kesalahan prosedur operasi mata. Keadaan lain yang dapat
menyebabkan hifema namun jarang terjadi adalah adanya tumor mata
(contohnya retinoblastoma), dan kelainan pembuluh darah (contohnya juvenile
xanthogranuloma).5,6
Menurut salah satu studi yang di lakukan di Amerika Serikat, kejadian
hifema, terutama hifema traumatik, diperkirakan sebanyak 12 kasus per 100.000
orang populasi. Anak-anak dan usia remaja 10-20 tahun memiliki presentase
penderita terbanyak, yaitu sebesar 70%. Hifema lebih sering terjadi pada pria
dibandingkan wanita dengan perbandingan 3:1.2,11
Penderita akan memberikan gejala mata kabur dan terasa nyeri. Biasa
disertai dengan lakrimasi dan blefarospasme. Pada pemeriksaan mata dapat
ditemukan adanya darah yang mengisi bilik mata depan dan injeksi
konjungtiva.2,7,8

Penanganannya penderita istirahat tidur dengan posisi kepala elevasi 300450. Obat obat yang diberikan adalah antifibrinolitik dan analgetik.6,9,10
Penggunaan agen sikloplegik pada penderita hifema, adalah untuk
mencegah sinekia posterior, selain itu juga mengurangi rasa sakit terkait dengan
spasme otot siliar dan membantu untuk menstabilkan blood-aqueous barrier.10,15
Parasintesis atau mengeluarkan darah dari bilik mata depan dilakukan pada
pasien dengan hifema bila terlihat tanda-tanda imbibisi kornea, glaukoma
sekunder, hifema penuh atau bila setelah 5 hari tidak terlihat tanda tanda hifema
akan berkurang. Komplikasi yang dapat terjadi adalah glaukoma, uveitis dan
hemosiderosis atau imbibisi kornea.5,12
Berikut ini akan dilaporkan sebuah kasus hifema okulus dekstra yang ada di
Rumah Sakit Umum Prof. R.D. Kandou.

BAB II
LAPORAN KASUS

Seorang pasien laki-laki, usia 56 tahun, bangsa Indonesia, suku Minahasa,


agama Kristen Protestan, pendidikan terakhir SMA, alamat Kawangkoan, datang
berobat ke poliklinik mata RSU Prof. Dr. R.D. Kandou pada tanggal 10 Februari
2015 dengan keluhan utama mata kanan tidak dapat melihat.
Anamnesis pasien mengeluh penglihatan mata kanan tidak dapat melihat
dialami 2 hari yang lalu. Hal ini diakibatkan karena terkena pukulan kepalan
tangan dari arah depan dan terkena pada mata kanan penderita. Penglihatan kabur
terjadi secara tiba-tiba dan penderita sulit untuk melihat benda-benda yang cukup
jauh, selain itu mata menjadi merah. Rasa nyeri juga dirasakan oleh penderita.
Sebelum kejadian mata penderita baik. Riwayat menggunakan kaca mata tidak
ada.
Riwayat penyakit diabetes melitus, hipertensi, penyakit jantung, penyakit
ginjal disangkal oleh penderita. Riwayat alergi obat tidak ada.
Pada pemeriksaan oftalmologis subyektif ketajaman penglihatan pada mata
kanan no light perception, dan mata kiri 6/9 PH 6/6. Tekanan intra okular , mata
kanan N+1/palpasi, mata kiri Normal/palpasi. Pada pemeriksaan oftalmologis
obyektif dari inspeksi pada mata kanan, posisi bola mata normal, gerakan bola
mata baik. Terlihat palpebra hematoma, injeksi konjungtiva, kornea staining,
terdapat darah menutupi seluruh bilik mata depan, iris, pupil, lensa sulit
dievaluasi. Mata kiri dalam batas normal. Obliqus illumination mata kanan kornea
kecoklatan, COA terisi darah. Obliqus illumination mata kiri dalam batas normal.

Pemeriksaan segmen posterior mata kanan, tidak ada reflek fundus, segmen
posterior mata kiri dalam batas normal.
Pasien ini didiagnosis dengan hifema grade IV okulus dekstra. Terapi yang
dilakukan tirah baring total posisi semifowler dengan bantal setinggi 30 0 - 450,
diberikan antifibrinolitik (Asam Traneksamat 3x500 mg), sikloplegik (Sulfas
Atropin ED 2 x gtt 1 OD), kortikosteroid (Dexamethasone ED 4 x gtt 1 OD),
Timolol Maleat 2 x gtt 1 OD, dan analgetik (Paracetamol 3x500 mg)..
Prognosisnya dubia at bonam. Anjuran pemeriksaan untuk pasien ini yaitu
observasi perdarahan/hifema.

BAB III
PEMBAHASAN

Dasar diagnosa hifema pada kasus ini ditegakkan berdasarkan anamnesis,


pemeriksaan fisik dan pemeriksaan oftalmologi.
Berdasarkan anamnesis didapatkan bahwa hifema terjadi akibat trauma
tumpul pada mata kanan setelah terkena pukulan kepalan tangan yang disertai
nyeri, mata merah dan penglihatan kabur.
Pasien dengan hifema akan mengeluh sakit, disertai dengan epifora dan
blefarospasme. Pengihatan pasien akan sangat menurun. Bila pasien duduk hifema
akan terlihat terkumpul dibagian bawah bilik mata depan, dan hifema dapat
memenuhi seluruh ruang bilik mata depan. Kadang-kadang terlihat iridoplegia dan
iridodialisis.2,5,6
Berdasarkan kepustakaan beratnya hifema dinilai dari banyaknya darah
dalam bilik mata depan. Hifema ada 2 macam, yaitu :
1. Hifema primer, yaitu hifema yang langsung terjadi setelah trauma.
2. Hifema sekunder, yaitu hifema yang biasanya timbul pada hari kelima
setelah terjadi trauma
Rakusin membagi dalam 4 tingkat:
1. Grade I

: Perdarahan mengisi bilik mata depan

2. Grade II : Perdarahan mengisi 1/3- bilik mata depan


3. Grade III : Perdarahan mengisi bilik mata depan
4. Grade IV : Perdarahan mengisi seluruh bilik mata depan.

Hifema pada kasus ini termasuk hifema primer yaitu hifema yang langsung
terjadi setelah trauma. Pada kasus ini penderita berdasarkan pemeriksaan fisik
didapatkan pada inspeksi bilik mata depan tampak adanya darah mengisi seluruh
bilik mata depan sehingga berdasarkan kepustakaan pasien ini tergolong dalam
hifema grade IV dimana perdarahan mengisi seluruh bilik mata depan.5,6,12
Dari pemeriksaan oftalmikus didapati mata kanan visusnya NLP,
konjungtiva hiperemis terdapat injeksi siliaris dan terdapat juga darah yang
mengisi seluruh bilik mata depan, dan kornea staining. Sehingga pasien ini di
diagnosis dengan hifema ocullus dextra grade IV et causa trauma tumpul.
Pada gambaran klinik hifema, ditemukan adanya perdarahan pada COA
(dapat diperiksa dengan flashlight), ditemukan gangguan visus. Ditemukan
adanya tanda-tanda iritasi dari konjungtiva dan pericorneal, fotofobia (tidak tahan
terhadap sinar), penglihatan ganda, blefarospasme, edema palpebra, midriasis, dan
sukar melihat dekat,

kemungkinan disertai gangguan umum yaitu letargi,

disorientasi atau somnolen. Bila pasien duduk, hifema akan terlihat terkumpul di
bagian bawah COA, dan hifema dapat memenuhi seluruh ruang COA. Otot
sfingter pupil mengalami kelumpuhan, pupil

tetap dilatasi (midriasis), dapat

terjadi pewarnaan darah (blood staining) pada kornea, anisokor pupil.5,6


Biasanya hifema akan hilang sempurna. Bila perjalanan penyakit tidak
berjalan demikian maka sebaiknya penderita dirujuk. Walaupun perawatan
penderita hifema traumatik ini masih banyak diperdebatkan, namun pada dasarnya
adalah :
1)
2)

Menghentikan perdarahan.
Menghindarkan timbulnya perdarahan sekunder.

3)

Mengeliminasi darah dari bilik depan bola mata dengan

4)

mempercepat absorbsi.
Mengontrol glaukoma sekunder dan menghindari komplikasi yang

5)

lain.
Berusaha mengobati kelainan yang menyertainya.

Pada pasien ini dianjurkan rawat inap di rumah sakit untuk mengamati jika terjadi
perdarahan sekunder, untuk dilakukan observasi selama kurang lebih lima hari
dan untuk menghindari penyulit-penyulit yang nantinya bisa muncul seperti
glaukoma, imbibisio kornea, dan uveitis. 7
Penanganan pada pasien ini dilakukan secara konservatif. Penanganan
pada pasien yang memperlihatkan hifema grade IV yang mengisi seluruh COA
yang dilakukan antara lain tirah baring total dengan posisi kepala dielevasi 30 0
45

(posisi semi fowler) kepala difiksasi dengan bantal pada kedua sisi supaya

tidak bergerak, dimaksudkan untuk melokalisir darah di bilik mata depan bawah,
supaya pupil tidak terhalang oleh darah dan memperkecil lokasi hemosiderosis.
Hal ini akan mengurangi tekanan darah pada pembuluh darah iris serta
memudahkan kita mengevaluasi jumlah perdarahannya. Ada banyak pendapat dari
banyak ahli mengenai tirah baring sempurna ini sebagai tindakan pertama yang
harus dikerjakan bila menemui kasus traumatik hifema. Bahkan beberapa
penelitian menunjukkan bahwa dengan tirah baring kesempurnaan absorbsi dari
hifema dipercepat dan sangat mengurangi timbulnya komplikasi perdarahan
sekunder. Istirahat total harus dipertahankan minimal 5 hari mengingat
kemungkinan pedarahan sekunder.5,6
Pada hifema yang baru terisi darah segar seperti pada kasus ini diberi obat
antifibrinolitik asam traneksamat diberi 3 kali 500 mg agar bekuan darah tidak

terlalu cepat diserap dan pembuluh darah diberi kesempatan untuk memperbaiki
diri dahulu sampai sembuh. Kortikosteroid pemberian dexamethasone akan
mengurangi komplikasi iritis dan perdarahan sekunder dibanding dengan
antibiotik. Pemberian antiglaukoma lokal seperti timolol atau golongan
penghambat kolinesterase apabila terjadi peningkatan tekanan intra okular.
Apabila dengan pengobatan tersebut TIO masih tetap tinggi, perlu ditambahkan
antiglaukoma sistemik seperti asetazolamid. Pemberian analgetik golongan
asetaminofen pada penderita hifema untuk menghilangkan nyeri akibat trauma
yang terjadi.5,6,10,12,13
Pada penderita diberikan terapi sikloplegik (sulfas atropin). Sikloplegik
mempunyai efek melebarkan pupil dan melumpuhkan otot siliaris, biasanya
digunakan dalam hubungannya dengan terapi lainnya untuk mengurangi
peradangan dengan menstabilkan badan siliar dan memungkinkan untuk
penyembuhan pembuluh darah dan dengan demikian mencegah sinekia posterior
dan mengurangi fotofobia. Pemberian sikloplegik dapat menstabilkan bloodaqueous barrier, meningkatkan kenyamanan pasien. Dilatasi pupil dalam jangka
waktu lama juga mencegah perkembangan sinekia posterior yang dapat
mengakibatkan disfungsi iris permanen . Studi observasional retrospektif belum
menunjukkan bahwa sikloplegik mencegah perdarahan sekunder pada pasien
dengan hifema.15
Intervensi bedah biasanya diindikasikan pada atau setelah 4 hari. Dari
keseluruhan indikasinya adalah sebagai berikut :
1. Empat hari setelah onset hifema total
2. Microscopic corneal bloodstaining (setiap waktu)

3. Total dengan dengan Tekanan Intra Okular 50 mmHg atau lebih selama 4
hari (untuk mencegah atrofi optic)
4. Hifema total atau hifema yang mengisi lebih dari COA selama 6 hari
dengan tekanan 25 mmHg (untuk mencegah corneal bloodstaining)
5. Hifema mengisi lebih dari COA yang menetap lebih dari 8-9 hari (untuk
mencegah peripheral anterior synechiae)
6. Pada pasien dengan sickle cell disease dengan hifema berapapun ukurannya
dengan tekanan Intra ocular lebih dari 35 mmHg lebih dari 24 jam. Jika
Tekanan Inta Ocular menetap tinggi 50 mmHg atau lebih selama 4 hari,
pembedahan tidak boleh ditunda. Suatu studi mencatat atrofi optic pada 50
persen pasien dengan total hifema ketika pembedahan terlambat. Corneal
bloodstaining terjadi pada 43% pasien. Pasien dengan sickle cell
hemoglobinopathy diperlukan operasi jika tekanan intra ocular tidak
terkontrol dalam 24 jam.5,6,15
Penderita yang menolak untuk rawat inap harus memperhatikan beberapa
penyulit yang dapat muncul jika penangan hifema tidak dilakukan dengan benar.
Penyulit yang harus diperhatikan pada hifema antara lain dapat terjadi perdarahan
sekunder karena pada kasus ini darah pada bilik mata depan masih merupakan
darah segar sehingga resorpsi dari bekuan darah terjadi terlalu cepat, pembuluh
darah tidak mendapat waktu yang cukup untuk regenerasi kembali. Selanjutnya
dapat terjadi hemosiderosis atau imbibisi kornea yaitu sebagian dari hifema yang
dikeluarkan setelah terurai dalam bentuk hemosidrin, bila terdapat penumpukan
dari hemosidrin ini dapat masuk ke dalam lapisan kornea yang menyebabkan
kornea menjadi berwarna kuning. Imbibisi kornea cepat terjadi dikarenakan oleh

10

hifema yang sudah penuh disertai glaukoma. Adanya darah dalam bilik mata
depan dapat menghambat aliran cairan balik mata oleh karena unsur-unsur darah
menutupi sudut bilik mata depan dan trabekula, sehingga terjadi glaukoma.
Hifema juga dapat menyebabkan uveitis yang dapat menyebabkan penurunan
visus.7
Jika penangan hifema dilakukan dengan benar maka akan tampak adanya
penurunan dari volume darah yang mengisi bilik mata depan. Berdasarkan
kepustakaan hal ini menunjukan penyerapan darah melalui trabekula dan kanal
schlemm berjalan lancar. Artinya tidak terdapat bekuan darah atau epitel yang
menyumbat saluran tersebut.4,5,7,15
Prognosis pada pasien ini adalah dubia et bonam karena hifema pada
pasien ini termasuk pada grade IV dimana darah terisi penuh di bilik mata depan.

BAB IV
PENUTUP

11

Hifema merupakan keaadaan dimana terdapat darah di dalam bilik mata


depan, yang dapat terjadi akibat trauma tumpul yang merobek pembuluh darah iris
atau badan siliar dan bercampur dengan humor aqueus yang jernih. Hifema
biasanya disebabkan oleh trauma tumpul pada mata.
Penegakan diagnosis hifema berdasarkan adanya riwayat trauma yang
mengenai mata dapat memastikan adanya hifema. Pada gambaran klinik
ditemukan adanya perdarahan pada bilik mata depan, kadang-kadang ditemui
adanya gangguan visus, adanya tanda-tanda iritasi konjungtiva dan pericorneal,
edema palpebra, midriasis, fotofobia, dan sukar melihat dekat.6
Penatalaksanaan hifema pada grade IV yaitu dengan perawatan
konservatif/tanpa operasi. Pada penderita hifema dianjurkan untuk dilakukan
rawat inap selama 5 hari. Tindakan ini bertujuan untuk menghentikan
perdarahan, menghindari timbulnya perdarahan sekunder, mengeliminasi darah
dari bilik mata depan dengan mempecepat absorbsi, mengontrol glaukoma
sekunder dan menghindari komplikasi lain, dengan berusaha mengobati kelainan
yang menyertai.7
Pada penderita diberikan terapi sikloplegik, untuk mengurangi peradangan
dengan menstabilkan badan siliar dan memungkinkan untuk penyembuhan
pembuluh darah dan dengan demikian mencegah sinekia posterior dan
mengurangi fotofobia.
Penderita hifema harus rawat inap di rumah sakit untuk mengamati jika
terjadi perdarahan sekunder, untuk dilakukan observasi selama kurang lebih lima
hari dan untuk menghindari penyulit-penyulit yang nantinya bisa muncul seperti

12

glaukoma, imbibisio kornea, dan uveitis. Jika pasien menolak untuk rawat inap
maka diberi edukasi untuk beristirahat di rumah bila tidak terjadi komplikasi dan
edukasi yang benar mengenai penanganan hifema.7

DAFTAR PUSTAKA

1.

Athur LSM, Constable IJ. Color atlas of ophthalmology. 3rd ed. World Science; 2006. p. 131,137.

13

2.

Ilyas S, Tansil M. Salamun, Ashur Z. Hifema dalam sari ilmu penyakit mata. Jakarta: FKUI; 2001.

3.
4.

p. 69-70.
Olver J, Cassidy L. Ophthalmology at a glance. London: Blackwell science; 2005. p. 27,39.
Sardegna J, Shelly S, Rutzen AR, Steidl SM. The encyclopedia of blindness and vision

5.
6.
7.
8.

impairment, 2rd ed. New york: Facts on file Inc; 2002. p. 117-8.
Vaughan D, Asbury T. Hifema dalam oftalmologi umum. Edisi 14. Jakarta: EGC; 2000. p. 384-5.
Khun F, Pieramici DJ. Ocular trauma. 1st ed. New york: Thieme; 2002. p. 132-43.
Wijana N. Ilmu penyakit mata. Edisi 6. Jakarta: EGC; 1993. p. 314 5.
Scheie HG, Albert DM. Contusion of the eyeball In textbook of ophthalmology. 9th. ed.

9.
10.
11.
12.
13.

Philadelphia: WB saunders comp; 1999. p. 568 70.


Lang G. Ophthalmology. 2nd ed. New York: Thieme Stuttgart; 2006. p. 11,215,520.
Fong DS, Law SK, Erfurth US. Drugs in ophthalmology. Germany: Springer; 2006. p. 12,120.
Ilyas S. Hifema dalam penuntun ilmu penyakit mata. Jakarta: FKUI; 2001. p. 170-1.
Khun F. Ocular traumatology. 1st ed. New york: Springer; 2008. p. 211-18.
Rhee DJ, Pyfer MF. Hyphema and microhiphema in the wills eye manual. 3rd ed. Lippincot

williams & wilkins; 1999. p. 32-7.


14. James B, Chew C, Bron A. Lecture notes oftalmologi. Edisi 9. Jakarta: Erlangga; 2005. p. 184.
15. Komaromy A, Ramsay D. Hyphema part II: Diagnosis and Treatment. Scholarly Commons,
University of Pennsylvania. No.1, Vol. 22. 2000. p. 74-9

Anda mungkin juga menyukai