Anda di halaman 1dari 13

ALIRAN FLUIDA

I.

MAKSUD DAN TUJUAN


a. Menentukan hubungan preassure drop dengan kecepatan aliran menggunakan
suatu orificemeter dan venturimeter.
b. Menggunakan efek perubahan diameter orifice terhadap diameter pipa secara seri
maupun parallel, elbow, tee, dan valves terhadap head loses ( H ).
c. Mempelajari aliran fluida dan peralatan-peralatan yang berkaitan dengan
transportai fluida.
d. Menentukan karakteristik untuk :
Karakteristik sight gage.
Karakteristik venturimeter.
Karakteristik orificemeter.
Karakteristik elbow.
Karakteristik tee.
Karakteristik gate valave.
Karakteristik pipa tungal.
Karakteristik pipa parallel.

II.

TEORI PERCOBAAN
Fluida adalah zat yang tidak dapat menahan perubahan bentuk secara permanen.
Adanya usaha mengubah bentuk suatu massa fluida, maka di dalam fluida itu akan
terbentuk lapisan-lapisan yang satu meluncur di atas lainnya sehingga mencapai
bentuk baru. Selama perubahan bentuk terdapat tegangan geser yang besarnya
tergantung viscositas dan laju luncur fluida. Jika keseimbangan tercapai semua
tegangan geser akan hilang.
Fluida dapat mengalir di dalam pipa atau saluran menurut dua cara berlainan.
Pada laju aliran rendah, penurunan tekanan di dalam fluida bertambah secara
langsung berdasarkan kecepatan fluida tersebut, sedangan pada laju aliran tinggi
maka pertambahan itu jauh lebih cepat, yaitu kira-kira menurut kuadrat kecepatan.
Perbedaan kedua jenis aliran ini pertama kali dipelajari oleh Osborne Reynolds
(1883).
Reynolds mempelajari kondisi dimana satu jenis aliran berubah menjadi aliran
jenis lain, dan menemukan bahwa kecepatan kritis, dimana aliran laminer berubah

menjadi aliran turbulen, bergantung pada empat buah besaran, yaitu : diameter
tabung, viskositas, densiti dan kecepatan linier rata-rata zat cair.
Pada pengamatan selanjutnya ditunjukkan bahwa transisi dari aliran laminer
menjadi aliran turbulen dapat berlangsung pada kisaran angka Reynolds yang cukup
luas. Aliran laminer selalu ditemukan pada angka reynolds di bawah 2100, tetapi bisa
terdapat pada angka Reynolds sampai beberapa ribu, yaitu dalam kondisi khusus
dimana lubang masuk tabung sangat baik kebundarannya, dan zat cair di dalam tangki
sangat tenang.
Pada kondisi aliran biasa, antara 2100 dan 4000, terdapat suatu daerah transisi,
dimana jenis aliran itu mungkin laminer dan mungkin pula turbulen, tergantung pada
kondisi di lubang masuk tabung dan jaraknya dari lubang masuk tersebut.
Fluida biasa ditransportasikan di dalam pipa atau tabung yang penampangnya
bundar dan terdapat di pasaran dalam berbagai ukuran, tebal dinding dan bahan
konstruksi yang penggunaannya cepat dengan kebutuhan prosesnya. Untuk
menyambung potongan-potongan pipa atau tabung bergantung antara lain pada sifat
-sifat bahan yang digunakan, tetapi ditentukan juga oleh tebalnya pipa. Bagian-bagian
tabung yang berdinding tebal biasanya dipersambungkan dengan penyambung ulir,
flens atau las. Tabung-tabung berdinding tipis disambung dengan solder atau dengan
sambungan jolak. Pipa yang terbuat dari bahan rapuh, seperti gelas atau besi cor
dipersambungkan dengan sambungan flens. Bila menggunakan pipa sambung berulir
bagian luar ujung pipa dibuat berulir dengan alat pembuat ulir. Untuk menjamin
rapatnya sambungan itu pada ujung berulir pipa itu dibalutkan terlebih dahulu oleh
pita politetraflouro etilen. Laju alir fluida merupakan fungsi dari waktu, disamping
merupakan fungsi diameter lubang dan panjang fluida, persamaan-persamaan dasar
fluida dan lain sebagainya.
SIFAT-SIFAT FLUIDA
Fluida itu dapat didefinisikan sebagai suatu benda yang tidak menahan distorsi
(perubahan bentuk) secara permanen.
Secara umum aliran fluida dapat dibedakan menjadi :
1.

Fluida Incompressible (Fluida yang tidak


dipengaruhi tekanan).

2.

Fluida Compressible ( Fluida yang


dipengaruhi tekanan ).

Fluida yang peka terhadap perubahan variable (tekanan, suhu) Bila kita mencoba
mengubah bentuk massa suatu fluida, maka di dalam fluida itu akan terbentuk lapisanlapisan dimana lapisan yang satu meluncur di atas yang lain, hingga mencapai suatu
bentuk baru. Selama perubahan bentuk itu terdapat tegangan geser (shear stress), yang
besarnya tergantung pada viskositas fluida dan laju luncur. Tetapi bila fluida itu sudah
akan mendapatkan bentuk akhirnya, semua tegangan geser itu akan hilang. Fluida yang
dalam keseimbangan itu bebas segala tegangan geser.
Pada suatu suhu dan tekanan tertentu setiap fluida mempunyai densitas tertentu,
yang dalam praktek keteknikan biasa diukur dalam kilogram per-meter kubik. Walupun
densitas fluida bergantung pada suhu dan tekanan, perubahan karena variabel itu mungkin
besar dan mungkin kecil.
Fluida biasanya diangkut di dalam pipa dan tabung dengan penampang lingkaran
bundar dan tersedia dalam berbagai macam ukuran, ketebalan dinding dan bahannya.
Tidak ada perbedaan antara pipa

dengan tabung. Pada umumnya, pipa mempunyai

panjang yang sedang dari 20 ft - 40 ft. Tabung pada umumnya berdinding tipis dan
sering dijumpai sebagai lilitan (coils) dengan panjang beberapa ratus feet. Pipa logam
dapat dibuat ulir, sementara tabung biasanya tidak. Dinding pipa biasanya besar, tabung
mempunyai dinding

yang sangat halus. Pipa disambung dengan ulir, flange atau

sambungan las. Tabung disambung dengan sambungan tekan, fitting, flare fitting atau
soldered fitting.
Pipa dan tabung dapat dibuat dari berbagai macam bahan yang meliputi logam
dan logam paduan, plastik, karet, kayu, keramik, beton, asbes.
Pengukuran aliran fluida perlu dilakukan agar dapat melakukan pengendalian atas prosesproses industri.
Berbagai jenis meteran digunakan untuk industri termasuk diantaranya :
1.

Meteran yang didasarkan atas penimbangan langsung atau pengukuran volume.

2.

Meteran dengan tinggi tekan variabel .

3.

Meteran penampang aliran.

4.

Meteran Arus.

5.

Meteran anjakan positip.

6.

Meteran magnetik.

7.

Meteran Ultrasonik.

Meteran yang menyangkut penimbangan langsung dan penggunaan volume sederhana


sekali tidak akan dibahas. Meteran arus seperti anemometer mangkuk atau anemometer sudu,
menggunakan elemen yang berputar pada kecepatan yang ditentukan oleh kecepatan aliran
fluida dimana meteran itu ditempatkan. Meteran anjakan-positif meliputi berbagai jenis pompa
pengukur, yang prinsipnya sama dengan pompa putar dan pompa bolak-balik. Meteran aliran
magnetik bergantung pada timbulnya potensial listrik karena gerakan fluida yang bersifat
menghantar melalui medan magnet yang seragam yang dibangkitkan dari luar. Menurut Faraday
tentang induksi elektromagnetik, tegangan listrik (voltase) yang dibangkitkan berbanding lurus
dengan kecepatan aliran fluida. Meteran aliran magnetik yang terdapat dalam perdagangan dapat
dipergunakan untuk mengukur kecepatan pada hampir semua jenis fluida, kecuali hidrokarbon
karena konduktivitas (kehantaran) listriknya terlalu kecil. Oleh karena itu tegangan hasil induksi
itu hanya bergantung pada kecepatan saja, perubahan viskosiatas atau density tidak mempunyai
pengaruh terhadap bacaan meteran itu. Meteran ultrasonik menggunakan pergeseran frekuensi
Doppler daripada sinyal-sinyal (isyarat) listrik yang dipantulkan dari diskontinuitas seperti
gelembung atau partikel zat padat di dalam arus zat cair. Alat ini tidak mempunyai bagian yang
bergerak, tidak menyebabkan bertambahnya penurunan tekanan dan tidak pula mengganggu pola
aliran fluida.
Yang paling banyak digunakan untuk mengukur aliran fluida adalah beberapa jenis
meteran tinggi tekan variabel dan meteran venturi, meteran orifice, tabung pitot, dalam
kelompok meteran penampang aliran tercakup rotameter dengan berbagai rancangan. Pada
prakteknya yaitu dilakukan untuk mengukur laju alir fluida dengan menggunakan orifice.

METERAN ORIFICE

Meteran Orifice mempunyai kelemahan tertentu dalam praktek pabrik pada umumnya.
Alat ini cukup mahal, mengambil tempat cukup besar, dan diameter leher terhadap diameter pipa
tidak dapat diubah-ubah. Untuk meteran tertentu dengan sistem manometer tertentu pula, laju
aliran maksimum yang dapat diukur terbatas sehingga apabila laju aliran berubah, diameter leher
mungkin menjadi terlalu besar untuk memberikan bacaan yang teliti, atau terlalu kecil untuk
dapat menampung laju aliran maksimum yang baru. Meteran Orifice dapat mengatasi keberatankeberatan terhadap venturi, tetapi konsumsi dayanya lebih tinggi.
Prinsip meteran orifice identik dengan prinsip venturi, Penurunan penampang arus aliran
melalui orifice itu menyebabkan tinggi tekan kecepatan meningkat tetapi tinggi tekan menurun,
dan penurunan tekanan antara kedua titik sadap diukur dengan manometer.
Persamaan Bernoulli memberikan dasar untuk mengkorelasikan peningkatan tinggi tekan
kecepatan dengan penurunan tinggi tekan tekanan.
Ada satu kesulitan pokok yang terdapat pada meteran orifice yang tidak terdapat pada
venturi. Oleh karena orifice itu tajam, arus fluida itu memisah disebelah hilir, disitu terbentuk
vena kontrakta.
Jet itu tidak dipengaruhi oleh dinding padat, seperti halnya pada venturi, dan luas
penampang jet itu bervariasi antara besarnya lubang orifice dan vena kontrakta. Luas penampang
pada setiap titik tertentu, umpamanya pada posisi sadap hilir tidak mudah ditentukan, sedangkan
kecepatan jet pada lokasi sadap hilir tidak dapat dihubungkan dengan mudah dengan diameter
orifice. Koefisien orifice lebih empirik sifatnya daripada venturi, dan pengolahan kuantitatif
untuk meteran orifice harus dimodifikasikan berhubungan dengan itu.
Persamaan untuk aliran orifice adalah sebagai berikut :

Co
Uo =
Dimana :

1 4

2 gc Pa Pb

Uo

= kecepatan fluida melalui orifice.

= rasio diameter orifice terhadap diameter pipa.

Pa-Pb

= tekanan pada titik A dan titik B.

Co

= koefisien orifice.

Pada persamaan di atas Co adalah koefisien orifice, tanpa termasuk kecepatan datang.
Koefisien ini memberikan koreksi atas kontraksi jet fluida antara orifice dan vena kontrakta ,
Juga terhadap gesekan dan terhadap Pa dan Pb. Nilai Co selalu ditentukan d5ari percobaan.
Nilainya cukup bervariasi sesuai dengan b dan Bilangan Reynolds pada orifice, persamaan
Bilangan Reynolds sebagai berikut :

NRe =
Dimana :

Do U
4m

Do

Nre = Bilangan Reynold

= Viskositas

Do = Diameter Orifice
m = Laju alir massa
U

= Kecepatan fluida melalui orifice

= Densitas

Perbedaan Orificemeter dengan Venturimeter :

Gambar: Orifice Meter

Gambar: Venturi Meter

Perbedaannya:

Orifice: plat tipis yang diflens antara dua buah flens pipa. Bentuknya sederhana, sehingga
harganya murah dan mudah untuk dipasang. Kekurangan orifice adalah kerugian headnya tinggi
dan kapasitas pengukuran rendah.
Venturi : dibuat langsung dengan pengecoran dan dihaluskan untuk memperoleh ketentuan
sesuai standar. Harganya mahal karena berat dan kapasitas pengukurannya juga tinggi, serta
kerugian headnya rendah.
III.

ALAT DAN BAHAN PERCOBAAN


Alat percobaan :
a. Satu set system perpipaan
b. Stopwatch
c. Gelas ukur
Bahan percobaan : air sebagai fluida

IV.

PROSEDUR PERCOBAAN
1) Sambungkan aliran listrik, isikan air pada tabung sampai penuh kemudian
tamping air ke dalam beaker glass 1000 ml untuk menentukan debit air pada
waktu tertentu.
2) Lakukan kalibrasi pada orificemeter dengan membuka valve 21 dan 22,
kemudian pada venturimeter dengan membuka valve 19 dan 20, lalu kalibrasi
pada elbow dengan membuka valve 17 dan 18, pada tee dengan membuka
valve 16 dan 17, pada pipa seri dengan membuka valve 13 dan 14, dan pada
pipa parallel dengan membuka valve 10 dan 14. Catat ketinggian yg terlihat
pada manometer dan catat juga volume yang didapat pada waktu yang
ditentukan.

V.

DATA PENGAMATAN
Q = debit fluida
volume (m3)
Q=
Rumus :
waktu (s)

No.

Variable

Waktu (s)

Volume (m3)

2
4
6
Rata-rata

0,25 x 10-3
0,7 x 10-3
0,95 x 10-3
0,63 x 10-3

t (s)

No.

(m3)

valve
1.

21
22
21
22
21
22

2
Orifice
Meter

4
6

2.

2
Venture
Meter

4
6

3.

2
Elbow

4
6

4.

Volume

0,265
0,285
0,245
0,269
0,218
0,240

Q=

volume (m )
waktu (s)

1,25 x 10-4
1,75 x 10-4
1,58 x 10-4
1,57 x 10-4

Q=

volume (m3)
waktu (s)

3 x 10-4

1,5 x 10-4

6,75 x 10-4

1,7 x 10-4

9,8 x 10-4

1,6 x 10-4

19
20
19
20
19
20

0,089
0,122
0,049
0,062
0,033
0,049

4 x 10-4

2 x 10-4

6,75 x 10-4

1,7 x 10-4

9,60 x 10-4

1,6 x 10-4

18
17
18
17
18
17

0,071
0,045
0,008
0,039
0,054
0,02

0,25 x 10-4

1,625 x 10-4

6,75 x 10-4

3,375 x 10-4

4,4 x 10-4

1,56 x 10-4

16
17

0,01
0,064

3,50 x 10-4

1,75 x 10-4

H
0,515
0,334
0,494
0,518
0,467
0,490
0,298
0,349
0,221
0,248
0,195
0,221
0,266
0,212
0,260
0,197
0,232
0,141
0,1
0,253

Rata-rata

0,425
0,507
0,478
0,324
0,235
0,416
0,239
0,229
0,136
0,176

Tee

4
6

5.

2
Seri

4
6

6.

2
Parallel

4
6

16
17
16
17

0,024
0,098
0,037
0,108

6,60 x 10-4

1,65 x 10-4

9,25 x 10-4

1,5 x 10-4

13
14
13
14
13
14
10
14
10
14
10
14

0,05
0,08
0,018
0,019
0,029
0,032
0,027
0,033
0,01
0,02
0,018
0,025

3,5 x 10-4

1,75 x 10-4

6,5 x 10-4

1,63 x 10-4

9 x 10-4

1,5 x 10-4

3,5 x 10-4

1,75 x 10-4

6 x 10-4

1,5 x 10-4

9 x 10-4

1,5 x 10-4

Perhitungan Orifiemeter dan Venturimeter.


A=

1
2
Do =
4

B=

Do
Dp

1
2
x 3,14 x (1,725) = 2,336 m2
4

1,725
2,865

= 0,602

gc = 9,81 m/s2

Co=

4
Ko 1 4 0,013 1(0,602)
=
= 1,1704 x 10-3
A
2 gc 2,337
2 x 9,81

Vo=

Co
2 gc H
4

1.

t = 2s,

V21

V22

2.

t = 4s,

V21

1,1704 x 103
2 x 9,81 x 0,265
x
4
1
1( 0,602)

= 2,863 x 10-3
1,1704 x 103
2 x 9,81 x 0,285
x
4
=
1
1( 0,602)

= 2,969 x 10-3
1,1704 x 103
2 x 9,81 x 0,245
x
4
=
1
1( 0,602)

0,155
0,313
0,192
0,329

0,229

0,224
0,183
0,134
0,138
0,170
0,720
0,164
0,182
0,1
0,141
0,134
0,138

0,104

0,136

0,136
0,175
0,73
0,121
0,146

= 2,753 x 10-3
1,1704 x 103
2 x 9,81 x 0,269
x
4
=
1
1( 0,602)

V22

3.

t = 6s,

= 2,885 x 10-3
1,1704 x 103
2 x 9,81 x 0,218
x
4
=
1
1(0,602)

V21

= 2,597 x 10-3
1,1704 x 103
2 x 9,81 x 0,240
x
4
=
1
1(0,602)

V22

= 2,725 x 10-3
Perhitungan Venturimeter

4
Kv 1 0,001 1( 0,5323)
Cv=
=
= 1,186 x 10-4
A 2 gc 1,825
2 x 9,81

Vv=

Cv
2 gc H
4

1.

t = 2s,

t = 3s = 3,95 x 10-5

V19

3,5051 x 105
2 x 9,81 x 0,089
x
4
1
1(0,5323)

= 4,83 x 10-5
V20

2.

t = 4s,

V19

V20

3,5051 x 105

1(0,5323)

2 x 9,81 x 0,122
1

= 5,65 x 10-5
3,5051 x 105
2 x 9,81 x 0,049
x
4
=
1
1(0,5323)

= 3,58 x 10-5
3,5051 x 105
2 x 9,81 x 0,062
x
4
=
1
1(0,5323)

= 4,03 x 10-5
3.

t = 6s,

V19

3,5051 x 105
2 x 9,81 x 0,038
x
4
1
1(0,5323)

V20

= 3,15 x 10-5
3,5051 x 105
2 x 9,81 x 0,049
x
4
=
1
1(0,5323)

= 3,58 x 10-5
Menghitung Karakteristik Pipa
o

Ko H

= 0,2095
Maka

o = p
o = Ko H
Kp =

o
H

1. Pipa Elbow
Kp

Kp

Kp

2 =

o
H

0,2095
0,239

= 0,4287

o
H

0,2095
0,229

= 0,4379

o
H

0,2095
0,186

= 0,486

o
H

0,2095
0,176

= 0,499

o
H

0,2095
0,234

= 0,433

o
H

0,2095
0,186

= 0,486

2. Pipa Tee
Kp

Kp

Kp

4 =

3. Pipa Paralel

Kp

Kp

Kp

4 =

6 =

o
H

0,2095
0,173

= 0,304

o
H

0,2095
0,121

= 0,603

o
H

0,2095
0,146

= 0,548

4. Pipa Seri
Kp

Kp

Kp

o
H

0,2095
0,146

= 0,416

o
H

0,2095
0,136

= 0,568

o
H

0,2095
0,175

= 0,501