Anda di halaman 1dari 37

LAPORAN RESMI

PRAKTIKUM DASAR TEKNIK KIMIA II

Materi :
KARBOHIDRAT
Oleh :
Kelompok

: 6 / Selasa Siang

1. Abdullah Malik Islam Filardli


2. Ahmad Dzulfikar Fauzi
3. Inaya Yuliandaru

NIM : 21030114120008
NIM : 21030114120030
NIM : 21030114130134

LABORATORIUM DASAR TEKNIK KIMIA II


JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2015

ii

LAPORAN RESMI
PRAKTIKUM DASAR TEKNIK KIMIA II

Materi :
KARBOHIDRAT
Oleh :
Kelompok

: 6 / Selasa Siang

1. Abdullah Malik Islam Filardli


2. Ahmad Dzulfikar Fauzi
3. Inaya Yuliandaru

NIM : 21030114120008
NIM : 21030114120030
NIM : 21030114130134

LABORATORIUM DASAR TEKNIK KIMIA II


JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2015

ii

KARBOHIDRAT
HALAMAN PENGESAHAN
1. Judul Praktikum
:
Kesetimbangan Fasa
2. Kelompok
:
6 / Selasa Siang
3. Anggota
1. Nama Lengkap
: Abdullah Malik Islam Filardli
NIM
: 21030114120008
Jurusan
: Teknik Kimia
Universitas/Institut/Politeknik : Universitas Diponegoro
2. Nama Lengkap
NIM
Jurusan
Universitas/Institut/Politeknik

: Ahmad Dzulfikar Fauzi


: 21030114120030
: Teknik Kimia
: Universitas Diponegoro

3. Nama Lengkap

: Inaya Yuliandaru

NIM
: 21030114130134
Jurusan
: Teknik Kimia
Universitas/Institut/Politeknik : Universitas Diponegoro

Semarang, Mei 2015


Asisten Laboratorium PDTK II

Luthfi Choiruly
NIM 21030112130055

PRAKATA
Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa oleh karena
berkat dan rahmat-Nya praktikan dapat menyelesaikan Laporan Resmi Praktikum
Dasar Teknik Kimia II. Oleh karena berkat dan rahmat-Nya pula praktikan dapat
LABOLATORIUM DASAR TEKNIK KIMIA II

iii

KARBOHIDRAT
menyelesaikan delapan materi praktikum dengan baik dan lancar tanpa suatu
hambatan yang berarti.
Pada kesempatan ini praktikan ingin mengucapkan terima kasih kepada dosen
yang membimbing selama Proses Praktikum Dasar Teknik Kimia II dan kesediaan
para dosen untuk memberi pretest materi sebelum praktikum. Praktikan
mengucapkan terima kasih kepada Dr. Ir Sribudiyati MT selaku penanggung jawab
Labolatorium Dasar Teknik Kimia, Wahyu Arga Utama selaku koordinator
assisten,dan Luthfi Choiruly selaku assisten laporan resmi ini yang dengan tulus dan
setia mendampingi dan membantu praktikan dalam proses Praktikum Dasar Teknik
Kimia II dari awal hingga akhir.
Laporan resmi praktikum dasar teknik kimia II ini berisi materi Analisa
Kesetimbangan Fasa. Laporan ini berisi hasil dari praktikum yang praktikan lakukan
di Praktikum Dasar Teknik Kimia II.
Praktikan berharap semoga laporan ini dapat berkenan di hati pembaca dan
bisa bermanfaat bagi pembaca serta memohon maaf apabila ada salah kata ataupun
hal-hal yang kurang berkenan di hati pembaca.

Semarang, Mei 2015

Penyusun

DAFTAR ISI
Halaman
ii
iii
iv
vi

HALAMAN JUDUL
HALAMAN PENGESAHAN
PRAKATA
DAFTAR ISI
LABOLATORIUM DASAR TEKNIK KIMIA II

iv

KARBOHIDRAT
DAFTAR TABEL
vi
DAFTAR GAMBAR
vii
INTISARI
vii
SUMMARY
ix
BAB I PENDAHULUAN
1
I.1. Latar Belakang
1
I.2. Tujuan Percobaan
1
I.3. Manfaat Percobaan
1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2
II.1. Pengertian
2
II.2. Hukum Raoult
2
II.3. Sifat Fisis Dan Kimia Reagen
4
III.3.1. Sifat Fisis Dan Kimia Reagen Air
4
III.3.2. Sifat Fisis Dan Kimia Reagen Etanol
5
III.3.3. Sifat Fisis Dan Kimia Reagen Metanol
6
BAB III METODE PERCOBAAN
8
III.1. Alat dan Bahan
8
III.1.1. Bahan
8
III.1.2. Alat
8
III.2. Gambar Rangkaian Alat
8
III.3. Cara Kerja
9
BAB IV HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN
10
IV.1. Hasil Percobaan
10
IV.1.1 Hasil Massa Jenis Dan Titik Didih Aquadest Dan Etanol
10
IV.1.2 Hasil Indeks Bias Etanol Pada %W Tetentu
10
IV.1.3 Hasil Titik Didih,Indeks Bias Residu Dan Destilat
10
IV.2. Pembahasan
11
IV.2.1. Hubungan Antara Komposisi Etanol Dengan Indeks Bias
11
IV.2.2. Hubungan Komposisi Etanol Pada Destilat Dan Residu Dengan
Titik Didihnya
12
IV.2.3. Hubungan Antara Volume Penambahan Air Terhadap Titik Didih
Praktis Dan Teoritis
13
BAB V PENUTUP
14
V.1. Kesimpulan
14
V.2. Saran
14
DAFTAR PUSTAKA
15

LAMPIRAN
Data Hasil Praktikum
Lembar Perhitungan
LABOLATORIUM DASAR TEKNIK KIMIA II

A-1
B-1
v

KARBOHIDRAT
Lembar Perhitungan Grafik
Lembar Perhitungan Reagen
Lembar Kuantitas Reagen
Refferensi

C-1
D-1
E-1
F-1

DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 4.1. Massa Jenis Dan Titik Didih Aquadest Dan Etanol
Tabel 4.2. Indeks Bias Etanol Pada %W Tertentu
LABOLATORIUM DASAR TEKNIK KIMIA II

10
10
vi

KARBOHIDRAT
Tabel 4.3. Titik Didih,Indeks Bias Residu Dan Indeks Bias Destilat

10

DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 2.1 Diagram Suhu Komposisi Asam Formiat-Air

Gambar 2.2. Diagram Suhu Komposisi Ethanol-Air

LABOLATORIUM DASAR TEKNIK KIMIA II

vii

KARBOHIDRAT
Gambar 2.3. Molekul Air

Gambar 2.4. Molekul Etanol

Gambar 2.5. Molekul Metanol

Gambar 3.1. Gambar Rangkaian Alat

Gambar 4.1. Grafik Komposisi Etanol Vs Indeks Bias

11

Gambar 4.2. Grafik %W Vs Titik Didih Pada Destilat Dan Residu

12

Gambar 4.3. Grafik Volume Air Vs Titik Didih

13

INTISARI

Larutan adalah fase homogen yang mengandung lebih dari satu komponen
sementara larutan biner adalah larutan yang terdiri dari dua zat. Jika larutan
diuapkan sebagian, maka mol fraksi dari masing-masing penyusunnya larutan tidak
LABOLATORIUM DASAR TEKNIK KIMIA II

viii

KARBOHIDRAT
sama karena volatilitas masing-masing peyusunnya berbeda. Pada praktikum ini
dipelajari kesetimbangan fasa uap dan fase cair dari suatu larutan. Adapun tujuan
dari praktikum ini yaitu agar mahasiswa mampu memahami kesetimbangan fasa
antara dua fasa dan mampu mampu membuat diagram komposisi vs suhu.
Pada percobaan ini, bahan yang digunakan adalah etanol dan aquadest.
Metode yang digunakan adalah destilasi. Langkah-langkah yang dilakukan adalah
menentukan densitas dari etanol dan air, membuat larutan etanol air pada berbagai
komposisi, menentukan indeks bias dan membuat kurva hubungan antara komposisi
vs indeks bias. Selanjutnya membuat kurva hubungan suhu dengan etanol-air
dengan cara menghitung titik didih tiap penambahan volume. Indeks bias residu dan
destilat juga ditentukan.
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, terjadi penyimpangan saat
menentukan hubungan antara komposisi etanol dengan indeks biasnya pada
konsentrasi 60%-84% dikarenakan minimnya pencahayaan. Sementara pada
percobaan untuk menentukan hubungan komposisi etanol pada destilat dan residu
dengan titik didihnya juga terjadi penyimpangan dikarenakan sifat etanol yang
volatile. Titik didih yang didapat juga berbeda dengan titik didih teoritis
dikarenakan perbedaan tekanan atmosfer. Agar hasil yang didapat maksimal,
usahakan saat melakukan proses distilasi dalam ruang tertutup agar tidak ada zat
yang menguap, lakukan pengukuran indeks bias dengan pencahayaan yang cukup
dan simpan etanol ditempat tertutup karena sifatnya volatile.

SUMMARY
The solution is a homogeneous phase which contains more than one
component while the binary solution is a solution consisting of two substances. If the
solution is evaporated in part, the mole fraction of each constituent solution is not
the same due to the volatility of each components different. At this experiment have
LABOLATORIUM DASAR TEKNIK KIMIA II

ix

KARBOHIDRAT
studied equilibrium vapor phase and liquid phase of a solution. The purpose of this
experiment are that students are able to understand the phase equilibrium between
the two phases and able to create a diagram of temperature vs. composition.
In this experiment, the materials used are ethanol and distilled water. The
method used is distillation. Measures undertaken is determining the density of
ethanol and water, make a solution of ethanol water in various compositions,
determining the refractive index and make the curve relationship between the
composition vs. refractive index. Next to create curves with ethanol-water
temperature by counting the boiling point of each additional volume. The refractive
index residue and distillate also determined.
Based on the experiments that have been carried out, there is an irregularities
while determining the relationship between the composition of the refractive index of
ethanol at a concentration of 60% -84% because of lack of lighting. While the
experiment to determine the relationship of ethanol in distillate composition and
residue with boiling point deviation occurs also due to the volatile nature of ethanol.
Boiling point obtained is also different from a theoretical boiling point because of
difference in atmospheric pressure. In order to obtain maximum results, try during
the distillation process in an enclosed space so that no substances that evaporate,
perform refractive index measurements with sufficient illumination and keep it closed
because of its ethanol volatility.

LABOLATORIUM DASAR TEKNIK KIMIA II

KARBOHIDRAT
BAB I
PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang
Karbohidrat merupakan senyawa polihidroksil aldehid dan keton, tersusun atas
karbon hidrogen dan oksigen dengan rumus empiris CH2O. Karbohidrat menurut
molekulnya dibagi menjadi 3 yaitu : monosakarida,disakarida, polisakarida. Sifat
karbohidrat sendiri adalah tbisa dihidrolisis dari dari tingkat lebih tinggi ke yang lebih
rendah, sedangkan gugusnya sendiri tersusun atas gugus hidroksil, dan gugus
hemiasetal.
Salah satu jenis karbohidrat sendiri adalah Pati, pati sendiri tersusun atas
amilosa dan amilopektin. Karbohidrat banyak digunakan mulai dari manusia, hewan,
tumbuhan. Kegunaan karbohidrat sangat bermacam-macam mulai dari sumber energi,
membantu metabolisme tubuh, hingga mengoptimalkan kerja dari protein.
Karbohidrat merupakan senyawa organik yang tersusun atas C,H,O dengan
rumus molekul CnH2nOn. karbohidrat terdiri tersusun atas gugus hidroksil dan gugus
aldehid atau keton. Karbohidrat dibagi menjadi 3 macam yaitu monosakarida,
disakarida, dan polisakarida. Karbohidrat mempunyai banyak kegunaan untuk
makhluk hidup. Maka dari itu diperlukan suatu cara untuk mencari kadar karbohidrat.
Percobaan analisa karbohidrat perlu dilakukan sebab karbohidrat memiliki
peranan penting dalam memenuhi kebutuhan gizi sehari-hari. Semisal pada percobaan
kami, kami menganalisa Super Bubur (makanan instan), maka kami dapat mengetahui
kandungan karbohidrat didalamnya sehingga kami tahu jumlah konsumsi yang
dibutuhkan perharinya atau bisa dibandingkan dengan bahan makanan lain. Sehingga
analisa karbohidrat penting dilakukan. Dalam bidang industri analisa karbohidrat juga
sangat penting. Misalnya industri bio-etanol, yang berasal dari hidrolisis pati. Oleh
karena itu, berdasarkan kegunaan dari analisa karbohidrat tersebut, praktikum ini
perlu dilakukan.
I.2. Tujuan Praktikum
1. Tujuan instruksional umum
Setelah mengikuti praktikum mahasiswa mampu menyusun rangkaian alat dan
mengoperasikannya, serta memahami reaksi-reaksi yang terjadi pada bahan
organik serta cara menganalisa secara kuantitatif.
LABOLATORIUM DASAR TEKNIK KIMIA II

11

KARBOHIDRAT

2.

Tujuan instruksional khusus


Setelah mengikuti praktikum kimia organik dengan pokok bahasan analisa
karbohidrat (pati), mahasiswa akan dapat menyusun rangkaian alat analisa
karbohidrat (pati) dan mengoperasikannya, serta memahami reaksi-reaksi yang
terjadi pada senyawa karbohidrat dan cara menentukan kadar karbohidrat
(pati) pada suatu bahan sesuai dengan prosedur yang benar.

I.3. Manfaat Praktikum


1. Mahasiswa mampu merangkai dan mengoprasikan rangkaian alat uji kadar
karbohidrat
2.

Mahasiswa mampu memahami reaksi yang terjadi pada karbohidrat

3.

Mahasiswa mampu mencari kadar karbohidrat yang terkandung dalam super


bubur

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1. Karbohidrat
Karbohidrat merupakan senyawa organik yang banyak dijumpai di alam yang
terdiri dari unsure karbon, hidrogen, dan oksigen. Rumus empiris dari senyawa

LABOLATORIUM DASAR TEKNIK KIMIA II

12

KARBOHIDRAT
karbohidrat adalah CH2O. Senyawa karbohidrat merupakan polihidroksi aldehid dan
keton atau turunannya.
Menurut ukuran molekulnya, karbohidratdibagi menjadi :
1. Monosakarida : merupakan karbohidrat yang paling sederhana
Contoh : glukosa, galaktosa, fruktosa, ribosa
2. Disakarida : terdiri dari dua satuan monosakarida
Contoh : sukrosa, maltosa, selobiosa, laktosa
3. Polisakarida : terdiri dari banyak satuan (lebih dari delapan satuan)
contoh : pati, selulosa, pektin, kitin, dll.
Sifat umum karbohidrat :
1. Senyawa karbohidrat dari tingkat yang lebih tinggi dapat diubah menjadi tingkat
yang lebih rendah dengan cara menghidrolisa.
2. Gugus hemiasetal (keton maupun aldehid) mempunyai sifat pereduksi.
3. Gugus-gugus hidroksil pada karbohidrat juga bertabiat serupa dengan yang
terdapat pada gugus alkohol lain.
Fungsi karbohidrat untuk tubuh
Pada umunya, kandungan yang ada di dalam karbohidrat yang didapat melalui proses
kimiawi antara CO2 dan HO2 bersifat manis. Karbohidrat sendiri juga berperan
penting dalam menjaga sistem imun tubuh. Sedangkan untuk fungsi lain dari
karbohidrat untuk tubuh adalah:
Mempunyai peran penting untuk proses metabolisme
Karbohidrat dapat mencegah terjadinya ketidaksempurnaan proses oksidasi lemak
Fungsi karbohidrat yang utama adalah sebagai pemasok energi.
Makanan ber-karbohidrat dan serat tinggi dapat membantu memperlancar proses
pada pencernaan
Karena sifat kandungan yang ada dalam karbohidrat yang manis, maka fungsi
karbohidrat kali ini adalah sebagai pemanis alami
Fungsi karbohidrat juga berperan penting untuk mengoptimalkan kerja protein.
Karbohidrat juga berfungsi sebagai pencegah terbentuknya proses ketosis.

II.2. Hukum Raoult


LABOLATORIUM DASAR TEKNIK KIMIA II

13

KARBOHIDRAT
Pati terdiri dari 2 macam senyawa, yaitu:
II.2.1 Amilosa ( 20%)

Yang mempunyai sifat larut dalam air panas.

Amilosa merupakan polimer linier dari D glukosa yang dihubungkan


secara 1,4
CH2OH

CH2OH

CH2OH

O
O

OH

O
O

OH

OH

OH

OH

OH

Tiap molekul amilosa terdapat 250 satuan glukosa.

Hidrolisis parsial menghasilkan maltosa (dan oligomer lain) sedangkan


hidrolisis lengkap hanya menghasilkan D-glukosa.

Molekul amilosa membentuk spiral di sekitar molekul I2 dan antaraksi


keduanya akan menimbulkan warna biru. Hal ini digunakan sebagai dasar uji
Iod pada pati.

II.2.2 Amilopektin ( 80%)

Mempunyai sifat tidak larut dalam air.

Struktur bangun dari senyawa amilopektin hampir sama dengan amilosa,


perbedaannya rantai amilopektin mempunyai percabangan.

Rantai utama amilopektin mengandung 1,4D-glukosa, dan percabangan


rantai mengandung 1,6 D-glukosa. Tiap molekul mengandung 1000
satuan glukosa.

CH2OH

OH
OH

CH2OH

O
CH2

O
LABOLATORIUM
DASAR TEKNIK
~ OH
OH KIMIA II
OH

CH2OH

OH

OH

O
14

~
OH

KARBOHIDRAT

Hidrolisa parsial dari amilopektin dapat menghasilkan oligosakarida yang


disebut dekstrin, yang sering digunakan sebagai perekat (lem), pasta, dan kanji
tekstil.

Hidrolisa lanjut dari dekstrin dapat menghasilkan maltosa dan isomaltosa.

Hidrolisa lengkap amilopektin hanya menghasilkan D-glukosa.

Amilopektin

H2O , H+

Maltosa + isomaltosa

H2O , H+

dekstrin

H2O , H+

D.glukosa

LABOLATORIUM DASAR TEKNIK KIMIA II

15

KARBOHIDRAT
BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN
III.1. Alat dan Bahan yang digunakan
III.1.1 Bahan
1. Super Bubur 100 gram
2. Fehling A 80 ml
3. HCl 1N 37%, 8,361 ml
4. NaOH 2N, 0,8 gr
5. Fehling B 80 ml
6. Glukosa anhidris 250 ml 0,0025N (0,625 gr)
7. Metilen blue 3 tetes
8. Aquadest secukupnya
III.1.2 Alat
1. Timbangan
2. Buret
3. Magnetic stirrer plus heater
4. Waterbath
5. Labu leher tiga
6. Thermometer
7. Pendingin balik
8. Klem
9. Statif
10. Pipet volum

III.2 Gambar Alat


LABOLATORIUM DASAR TEKNIK KIMIA II

KARBOHIDRAT
III.2.1 Rangkaian Alat Hidrolisis
Keterangan :
1. Magnetic
6

stirrer

plus

heater
2. Waterbath

3. Labu leher tiga

4. Thermometer
4
3

5. Pendingin balik
6. Klem

7. Statif

Gambar 3.2.1 Rangkaian Alat Hidrolisis


III.2.1 Rangkaian Alat Titrasi
Keterangan :
1. Erlenmeyer
2. Stirrer
3. Buret
4. Klem
5. Statif

III.3. Cara Kerja


III.3.1 Persiapan bahan
1. Tumbuk dan haluskan super bubur 100 gr.
2. Hilangkan kadar airnya menggunakan oven sampai berat sampel menjadi
konstan.
3. Ambil seberat 10 gr.
III.3.2 Standarisasi Larutan Fehling

LABOLATORIUM DASAR TEKNIK KIMIA II

10

KARBOHIDRAT
1. Larutan fehling A sebanyak 5 ml dan larutan fehling B 5 ml dicampur, lalu
ditambah 15 ml larutan glukosa standart dari buret.
2. Campuran dididihkan selama 2 menit.
3. Tambahkan 3 tetes indikator metilen blue.
4. Larutan dititrasi dengan glukosa standar hingga warna biru hampir hilang.
5. Penambahan ini dilakukan dalam waktu 1 menit.
6. Catat volume glukosa standart yang dibutuhkan (F).
III.3.3 Penentuan kadar pati
1. 10 gr super bubur dilarutkan dalam 100 ml HCl 1 N pada labu takar.
2. Campuran dimasukkan ke dalam labu leher tiga.
3. Larutan dipanaskan pada suhu 100 0C selama 2 jam dengan skala
pengadukan 6.
4. Setelah itu didinginkan, diencerkan dengan aquades sampai 500 ml, dan
netralkan 50 ml dari sampel tadi dengan NaOH.
5. Ambil 5ml, diencerkan sampai 100 ml.
6. Kemudian diambil 5 ml sampel super bubur + 5 ml fehling A + 5 ml fehling
B + 15 ml glukosa standar.
7. Panaskan selama 2 menit sampai mendidih ditambahkan 3 tetes indikator
MB.
8. Larutan dititrasi dengan glukosa standar hingga warna berubah menjadi biru
hampir hilang.
9. Catat kebutuhan titran (M ml).
10.

Hitung kadar pati. Dengan rumus :

Dengan B = 500 ml, jika ingin diperoleh kadar pati dikalikan dengan 0,9.
Keterangan :
X = hasil glukosa, dalam bagian berat pati.
F = larutan glukosa standart yang diperlukan.
M = larutan glukose standart yang digunakan untuk menitrasi sampel.
N = gr glukose / ml larutan standart = 0,0025 gr/ml.
W = berat pati yang dihidrolisis, gram
B = volume larutan suspensi pati dalam reaktor yang dihidrolisa
BAB IV
LABOLATORIUM DASAR TEKNIK KIMIA II

11

KARBOHIDRAT
HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN
IV.1. Hasil Percobaan
IV.1.1. Hasil massa Jenis dan Titik Didih Aquadest dan Etanol
Tabel 4.1. Massa jenis dan titik didih aquadest dan etanol
Jenis
Aquadest
Etanol

Massa Jenis
0,9956479 g/ml
0,8039 g/ml

Titik Didih
100 C
78,5 C

V.1.2. Hasil indeks bias etanol pada %W tetentu


Tabel 4.2. Indeks bias etanol pada %W tertentu
% W
0
10
20
30
40
50
60
70
80
84

Vol air
10
8,6
7,2
5,9
4,7
3,5
2,4
1,3
0,3
0

Vol Etanol
0
1,4
2,8
4,1
5,3
6,5
7,6
8,7
9,7
10

Indeks Bias
1,33
1,336
1,337
1,3385
1,34
1,345
1,3392
1,3375
1,337
1,332

IV.1.3. Hasil titik didih indeks bias residu dan indeks bias destilat
Tabel 4.3. Titik didih indeks bias residu dan indeks bias destilat
Vol etanol
Vol air
Titik didih
nResidu
75
0
68
1,334
75
25
73
1,34
75
50
79
1,337
75
75
81
1,3368
75
100
83
1,3367
75
125
85
1,336
IV.2. Pembahasan
IV.2.1 Hubungan antara komposisi etanol dengan indeks biasnya

nDestilat
1,335
1,339
1,3395
1,34
1,34
1,342

Gambar 4.1. Grafik komposisi etanol vs Indeks bias

LABOLATORIUM DASAR TEKNIK KIMIA II

12

KARBOHIDRAT
Pada gambar terlihat bahwa terjadi peningkatan indeks bias dari
komposisi 0% etanol ke 50 % etanol, hal ini sesuai dengan teori dimana
semakin kental zat cair karenaa kerapatanya yang besar sehingga indeks bias
semakin besar (Ayu,2013). Namun terjadi penyimpangan pada konsentrasi
60% sampai 84% etanol, indeks bias mengalami penurunan karena
cahayayang terhalang oleh awan mendung. Hal ini menyebabkan cepat rambat
cahaya yang melewati etanol semakin besar sehingga indeks biasnya menurun.
Berdasarkan rumus mencari besarnya indeks bias, bila cepat lambat cahaayaa
yang melewati sebuah medium semakin besar maka indeks biasnya semakin
kecil.

IV.2.2. Hubungan komposisi etanol pada destilat dan residu dengan titik didihnya

Gambar 4.2. Grafik %W vs titik didih pada destilat dan residu

LABOLATORIUM DASAR TEKNIK KIMIA II

13

KARBOHIDRAT
Pada gambar dapat dilihat hubungan komposisi etanol pada residu
dengan titik dididhnya yaitu semakin sedikit konsentrasi etanolnya maka akan
semakintinggi titik didihnya. Hal ini sudah seuai denga teori dimana titik
didihnya akan semakin tinggi bila komposisi etanolnya semakin sedikit.
Semakin sedikit etanol dalam air maka titik didihnya semakin tinggi. Td
larutan = Td air. Xair + Tdetanol.Xetanol. Etanol memiliki sifat mudah
menguap dan volatile, hal ini menyebabkan hasil destilat yang didapat lebih
banya dan besar ketika pemanasan. Sehingga suhu titik didih pada destilat
lebih tinggi dari titik residu. Namun dalam praktikum ini terjadi
penyimpangan dimana %W etanol pada destilat lebih sedikit dari pada titik
didih residu. Hal ini dikarenakan tekanan rendah pada pemanasan
(Wuevo,2012).

IV.2.3. Hubungan antara volume penambahan air terhadap titik didih praktis dan
teoritis

LABOLATORIUM DASAR TEKNIK KIMIA II

14

KARBOHIDRAT

Gambar 4.3. Grafik volume air vs titik didih


Pada gambar dapat disimpulkan bahwa titik praktis lebih kecil
dibandingkan titik didih larutan teoritis. Penentuan titik didih dengan metode
perhitungan dipengaruhi oleh konsentrasi larutan, tekanan larutan, tekanan
atmosfer, kemurnian zat larut dan gaya tarik menarik antar molekul
larutan(lahaan, 2014), sehingga pada praktikum ini akibat perbedaan tekanan
menyebabkan titik didih praktis lebih kecil daripada titik didih teoritis,
perbedaan tekanan itu dipengaruhi oleh adanya ketinggian tanah di
Tembalang, Universitas Diponegoro yang ketinggiannya adalah 260 diatas
permukaan laut (Hakim,2013). Titik didih teoritis didapat pada saat tekanan
udara 1 atm sedangkan pada praktikum tekanan udaranya adalah
P=
P = 73,4 mmHg = 0,986 atm
Perbedaan tersebut menyebabkan titik didih praktis lebih kecil
darpada titik didih teoritisnya.

BAB V
PENUTUP
V.1. Kesimpulan
1. Semakin kental zat karena kerapatanya besar indeks biasnya akan semakin
besar sehingga pada percobaan untuk menentukan hubungan antara komposisi
etanol dengan indeks bias pada konsentrasi 60% sampai dengan 84%
disebabkan minimnya pencahayaan
2. Pada percobaan untuk menentukan hubungan komposisi etanol pada destilat
dan residu titik didihnya terjadi penyimpangan pada destilat dimana
seharusnya titk didih menurun seiring dengan bertambahnya konsentrasi
etanol, hal ini disebabkan oleh sifat etanol yang mudah menguap

LABOLATORIUM DASAR TEKNIK KIMIA II

15

KARBOHIDRAT
3. Percobaan titik didih praktis dan titik didih teoritis disebabkan oleh perbedaan
tekanan atmosfer
V.2. Saran
1. Proses distilasi dilakukan dalam tempat tertutup agar tidak ada zat yang
hilang karena penguapan
2. Dalam melihat indeks bias usahakan mendapat cahaya yang cukup
3. Alkahol tidak boleh dibiarkan terlalu lama diruang terbuka karena bersifat
volatile
4. Cermat dalam menentukan titik didih
5. Teliti dalam membuat kurva

DAFTAR PUSTAKA
Albert, R.A and Daniels F. 1983. Kimia Fisika, Edisi lima, Penerbit Erlangga,
Jakarta.
An La. 2007. Peta Jenis Tanah Bali. FOKUSHIMITI Ilmu Tanah, Sistem Informasi
geografi Universitas Udayana: Bali.
Ayu, Rezk Andira. 2013. Percobaan Indeks Bias. Laboratorium Kimia Analisa
Jurusan Farmasi, Fakultas Ilmu Kesehatan. Universitas Negeri Islam
Alauddin: Samata-Gowa.
Castela, G.W., 1981 Phsical Chemistr 2nd edition Toko.
Hakim, Abdul. 2013.Tembalang, Undip/Fakultas Hukum, Universitas Diponegoro:
Semarang.
Intan Parapak. 2014. Titik Leleh dan Titik didih, Jurusan Kimia, Fakultas Sains dan
Matematika, Universitas Udayana: Bali.

LABOLATORIUM DASAR TEKNIK KIMIA II

16

KARBOHIDRAT
Nuevo, Brillo. 2012. Steaming Leaves and Heated Emotions. Campbell Amazon
Journal

LABOLATORIUM DASAR TEKNIK KIMIA II

17

DATA HASIL PRAKTIKUM


LABOLATORIUM DASAR TEKNIK KIMIA
JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS DIPONEGORO
MATERI : KESETIMBANGAN FASA
I.ALAT DAN BAHAN
1.1 Bahan :
1. Etanol 120 ml
2. Air/Aquadest/Air demin 270 ml
1.2 Alat :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Labu destilasi
Thermometer
Pendingin Leibig
Thermostat
Erlenmeyer
Pipet
Refraktometer

8. Statif-klem
9. Waterbath
10 Kaki tiga
11. Heater
12 . Thermocouple
13. Adaptor

II. CARA KERJA


1. Membuat kurva standart hubungan komposisi etanol (larutan etanol-air)
versus indeks bias
a. Menentukan densitas etanol dan air dengan menggunakan piknometer.
b. Menentukan kadar etanol menggunakan tabel hubungan densitas dengan
kadar etanol.
c. Membuat larutan etanol-air pada berbagai komposisi.
d. Masing- masing larutan pada langkah d dilihat indeks biasnya dengan
refraktometer.
e. Dibuat kurva hubungan antara komposisi versus indeks bias
2. 100 ml air dimasukkan ke dalam beaker glass pirex 250 ml , dipanaskan
sampai mendidih dan dicatat titik didihnya.
3. Etanol dengan volume 75 ml dimasukkan ke dalam labu destilasi kosong,
dipanaskan menggunakan minyak yang dilengkapi dengan thermostat sampai
mendidih, kemudian dicatat suhu didihnya.
4. Labu destilasi tersebut didinginkan , lalu ditambahkan air dengan volume 25
ml ke dalam labu destilasi, selanjutnya dipanaskan sampai mencapai suhu
konstan dan catat titik didihnya , ambil cuplikan residu dan destilat untuk
diperiksa indeks biasnya masing-masing. Destilat yang telah diambil sedikit
untuk sampel dikembalikan lagi kedalam labu destilasi.
5. Prosedur 4 dilakukan berulang-ulang sampai kadar etanol teknis terpenuhi.
6. Dibuat kurva hubungan suhu dengan komposisi etanol-aquadest/air demin/air.

Catatan : Komposisi etanol-air dapat dinyatakan dalam fraksi berat atau fraksi
mol.
LABOLATORIUM DASAR TEKNIK KIMIA II

A-1

DATA HASIL PRAKTIKUM


LABOLATORIUM DASAR TEKNIK KIMIA
JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS DIPONEGORO
III. HASIL PRAKTIKUM
3.1 Tabel Pengamatan
Tabel 1. Hubungan antara Komposisi Etanol (Larutan Etanol-Air) dengan Indeks
Bias
Komposisi Etanol
Volume Etanol
Volume Air (ml)
Indeks Bias
(% berat)
(ml)
0
10
0
1,33
10
8,6
1,4
1,336
20
7,2
2,8
1,337
30
5,9
4,1
1,3385
40
4,7
5,3
1,34
50
3,5
6,5
1,345
60
2,4
7,6
1,3392
70
1,3
8,7
1,3375
80
0,3
9,7
1,337
84
0
10
1,332
Tabel 2. Pengaruh Komposisi Umpan Destilasi
Volume Etanol
Volume Air
Suhu Didih
(ml)
(ml)
(oC)
75
0
68
75
25
73
75
50
79
75
75
81
75
100
83
75
125
85
PRAKTIKAN

Indeks Bias
Residu
1,334
1,34
1,337
1,3368
1,3367
1,336

Indeks Bias
Destilat
1,335
1,339
1,3395
1,34
1,34
1,341

MENGETAHUI
ASISTEN

Abdullah Malik Islam Filardli


Ahmad Dzulfikar Fauzi
Inaya Yuliandaru

Luthfi Choiruly
NIM. 21030112130055

LABOLATORIUM DASAR TEKNIK KIMIA II

A-2

KESETIMBANGAN FASA
LEMBAR PERHITUNGAN
Titik didih air standart (Td A) = 100 C
Titik didih etanol standar (Td B) = 78,5C
Mol etanol

ne =

.v

massa etanol = .v
= 0,803 g/ml x 75 ml
= 60,225 gram
Mol etanol=

= 1,3 mol

Volume penambahan 0 ml

nA =

=0

nB =

nB =

= 1,3 mol

XA =

= 1,3

= 0,51

XB = 1- XA = 1 0,51 = 0.49
XA =

=0

XB =

=1

Td = TdA . XA + TdB . XB
Td = 100 . 0,51 + 78.5 . 0.49
= 89,5 C

Td = TdA . XA + TdB . XB
Td = 100 . 0 + 78.5 . 1
= 78.5 C

Volume penambahan 25 ml

nA =

Volume penambahan 50 ml

nA =

nB =

= 2,77

= 1,3

= 1,38

LABOLATORIUM DASAR TEKNIK KIMIA II

B-1

KESETIMBANGAN FASA

XA =

= 0,68

nB =

= 1,3

XB = 1- XA = 1 0,68= 0,32
Td = TdA . XA + TdB . XB
Td = 100 . 0,68+ 78.5 . 0,32
= 93,12 C

XA =

Td = TdA . XA + TdB . XB
Td = 100 . 0,8+ 78.5 . 0,2
= 95,7 C

= 4,15

nB =

XA =

= 1,3

= 0,76

= 0,8

XB = 1- XA = 1 0,8 = 0,2

Volume penambahan 75 ml

nA =

Volume penambahan 125 ml

nA =

nB =

= 6,9

= 1,3

XB = 1- XA = 1 0,76= 0,24
Td = TdA . XA + TdB . XB
Td = 100 . 0,76+ 78.5 . 0,24
= 94,84 C

Volume penambahan 100 ml

nA =

XA =

= 0,84

XB = 1- XA = 1 0,84 = 0,16
Td = TdA . XA + TdB . XB
Td = 100 . 0,84 + 78.5 . 0,16
= 96,56 C

5,53

LABOLATORIUM DASAR TEKNIK KIMIA II

B-2

KESETIMBANGAN FASA
LEMBAR PERHITUNGAN GRAFIK
1. Hubungan % W etanol pada destilat dengan titik didihnya
% W etanol (x)
8
40
36,5
40
40
42

206,5

Titik didih (y)


68
73
79
81
83
85
469

x2
64
1600
1332,25
1600
1600
1764
7960,25

xy
544
2920
2883,5
3240
3320
3570
16477,5

(x)2 = 42642,5
m=

=
= 0,3939
C =

=
= 64,61
y = mx + C
y = 0,3939x + 64,61

LABOLATORIUM DASAR TEKNIK KIMIA II

C-1

KESETIMBANGAN FASA

2. Hubungan % W etanol pada residu dengan titik didihnya


% W etanol (x)
6,5
32
20
17
16,5
10

Titik didih (y)


68
73
79
81
83
85

102

469

x2
42,25
1024
400
289
272,25
100

xy
442
2336
1580
1377
1369,5
850

2127,5

7954,5

(x)2 = 10404
m=

=
= - 0,047
C =

=
= 78,966
y = mx + C
y = -0,047x + 78,966

LABOLATORIUM DASAR TEKNIK KIMIA II

C-2

KESETIMBANGAN FASA

LABOLATORIUM DASAR TEKNIK KIMIA II

C-3

KESETIMBANGAN FASA
LEMBAR PERHITUNGAN REAGEN
Berat picnometer
= 16,335 gram
Berat picnometer + air = 41,852 gram
Massa air = 41,852 gr 16,335 gr
= 25,517 gram
T = 30 C = 995,647 kg/m3
= 0,995647 g/cm3

0,1 =

v et = 1,4 ml
v air = 8,6 ml
20 % etanol

v = 25,63 ml
Massa etanol = 20,557 gram
etanol =

= 0,803 g/cm3
= 803 kg/m3
Kadar etanol (x)
= 795,40
x = 0,9075
= 807,52
x = 0,7959

20% =
0,67 v et = (0,2)(9,96-0,193 v et)
0,67 v et = 1,992 0,0386 v et
0,7086 v et = 1,992
v et = 2,8 ml
v air = 7,2 ml
30 % etanol

30% =
0,67 v et = (0,3)(9,96-0,193 v et)
0,7279 v et = 2,988

x = 0,84 x 100 %
x = 84 %

v et = 4,1 ml
v air = 5,9 ml
40 % etanol

% W etanol
40% =
%W=
10 % etanol
10 % =

0,67 v et = (0,4)(9,96-0,193 v et)


0,7472 v et = 3,984
v et = 5,3 ml
v air = 4,7 ml
50 % etanol

LABOLATORIUM DASAR TEKNIK KIMIA II

D-1

KESETIMBANGAN FASA
0,8051 v et = 6,972
50% =

v et = 8,7 ml
v air = 1,3 ml

0,67 v et = (0,5)(9,96-0,193 v et)


0,7665 v et = 4,98
v et = 6,5 ml
v air = 3,5 ml

80 % etanol

80% =
60 % etanol
0,67 v et = (0,8)(9,96-0,193 v et)
0,8244 v et = 7,968
60% =
0,67 v et = (0,6)(9,96-0,193 v et)
0,7858 v et = 5,976
v et = 7,6 ml
v air = 2,4 ml

v et = 9,7 ml
v air = 0,3 ml
84 % etanol
84% =

70 % etanol
70% =
0,67 v et = (0,7)(9,96-0,193 v et)

0,67 v et = (0,84)(9,96-0,193 v et)


0,83212 v et = 3,984
v et = 10 ml
v air = 0 ml

LABOLATORIUM DASAR TEKNIK KIMIA II

D-2

DATA HASIL PRAKTIKUM


LABOLATORIUM DASAR TEKNIK KIMIA
JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS DIPONEGORO
PRAKTIKUM KE

: VI

MATERI

: Kesetimbangan Fasa

HARI/TANGGAL

: Kamis, 8 april 2015

KELOMPOK

: 6/Selasa Siang

NAMA

: 1. Abdullah Malik Islam Filardli


2. DzulfikarFauzi
3. Inaya Yuliandaru

ASISTEN

KUANTITAS REAGEN

NO
1

JENIS REAGEN

KUANTITAS

Kurva Standar

Basis 10 ml

%W Etanol
2

(0,10,20,30,. Kadar etanol)

Distilasi
Etanol

75 ml

Aquadest

(5 x 25 ml) = 125 ml

TUGAS TAMBAHAN:
Cari sifat fisis dan kimia etanol, metanol dan air

CATATAN:

Bawa milimeter block dan

kapas
% W terakhir pada kurva standar

SEMARANG, 9 APRIL 2015


ASISTEN

sesuai dengan kadar teknis


yang ditemukan
Lutfi Choiruly
NIM.

LABOLATORIUM DASAR TEKNIK KIMIA II

D-1

KESETIMBANGAN FASA
REFERENSI KESETIMBANGAN FASA
Faktor-faktor yang mempengaruhi indeks bias, yaitu: kekentalan zat cair,
dimana semakin kental zat cair, indeks biasnya semakin besar. Begitu pula
sebaliknya, semakin encer zat cair maka indeks biasnya semakin kecil; kecepatan
rambat cahaya, dimana semakin besar cepat rambat cahaya dalam medium, maka
indeks biasnya semakin besar; suhu, dimana semakin besar suhu maka indeks
biasnya semakin kecil; panjang gelombang, dimana semakin besar panjang
gelombang maka indeks biasnya semakin kecil; tekanan udara permukaan, dimana
semakin besar tekanan udara permukaan maka indeks biasnya semakin besar; dan
konsentrasi larutan, dimana semakin besar konsentrasi larutan maka indeks bias
semakin besar , sebaliknya jika semakin kecil konsentrasi larutan maka indeks
biasnya juga semakin kecil.
Ayu, Rezky Andira. 2013. Percobaan Indeks Bias. Laboratorium Kimia Analisa
Jurusan Farmasi, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Islam Negeri
Alauddin: Samata-Gowa.
Titik didih suatu cairan adalah temperatur pada tekanan uap yang
meninggalkan cairan sama dengan tekanan luar. Bila tekanan uap sama dengan
tekanan luar (tekanan yang dikenakan), mulai terbentuk gelembung-gelembung uap
dalam cairan. Karena tekanan uap dalam gelembung sama dengan tekanan udara,
maka gelembung itu dapat mendorong diri lewat permukaan dan bergerak ke fase gas
di atas cairan, sehingga cairan itu mendidih. Titik didih air (dalam cairan lain)
beraneka ragam menrut tekanan udara. Dipergunakan titik didih air kurang dari
100C, karena tekanan udara kurang dari 1 atm. Saat air berada dalam keadaan
mendidih, gelembung-gelembung besar mulai terbentuk dalam cairan akan naik ke
permukaan. Bila gelembung itu telah terbentuk, cairan yang tadinya menempati
ruang ini didorong dan permukaan cairan pada wadah dipaksa naik untuk melawan
tekanan ke bawah yang ditimbulkan oleh atmosfer. Suhu pada saat cairan mendidih
disebut titik didih. Jadi titik didih adalah temperatur dimana tekanan uap sama
dengan tekanan atmosfer.
Penambahan kecepatan panas pada cairan yang mendidih akan mempercepat
terbentuknya gelembung uap air. Cairan pun akan lebih cepat mendidih, tapi suhu
didih tidak naik. Titik didih cairan tergantung pada besarnya tekanan atmosfer. Titik
didih pada tekanan 1 atm (760 torr) dinamakan sebagai titik didih normal. Pada
tekanan yang lebih besar maka titik didihnya juga lebih tinggi, dan begitu juga
sebaliknya. Suhu yang tetap konstan dari cairan yang mendidih dapat dibuktikan bila
kita merebus makanan. Waktu air mendidih, suhu akan tetap selama ada air
disekeliling makanan tersebut berarti selama airnya belum habis makanan tak ada
yang hangus. Itu membuktikan bahwa titik didih berubah dengan berubahnya
tekanan. Titik didih dapat digunakan untuk memperkirakan secara tak langsung
berapa kuatnya
Gaya tarik antara molekul cairan. Cairan yang gaya tarik antar molekulnya
kuat, titik didihnya tinggi dan sebaliknya bila gaya tariknya lemah maka titik
didihnya rendah. Adanya ikatan hidrogen antarmolekul menyebabkan titik senyawa
relatif lebih tinggi dibandingkan dengan senyawa lain yang memilki berat molekul
sebanding.

LABOLATORIUM DASAR TEKNIK KIMIA II

F-1

KESETIMBANGAN FASA
Intan, Parapak. 2014. Titik Leleh dan Titik Didih. Jurusan Kimia, Fakultaas
Sains dan Matematika, Universitas Udayana : Bali.

Jenis tanah yang dominan adalah Regosol seluas 224.869 ha, tersebar di
bagian timur Pulau Bali mulai dari Kabupaten Badung, Gianyar, Bangli, Klungkung
dan Karangasem. Sebarannya mulai dari daerah pantai sampai ketinggian 600 m dan
ketinggian 600 1000 m di atas permukaan laut. Jenis tanah lain yang mendominasi
wilayah Provinsi Bali adalah Latosol, yang terdapat di Kabupaten Badung, Tabanan
dan Jembrana seluas 251.185 ha. Sebarannya dari pantai sampai ketinggian 1400 m
di atas permukaan laut. Di samping itu terdapat tanah Aluvial seluas 27.458 ha, tanah
Mediteran seluas 36.000 ha di daerah Bukit Jimbaran dan Nusa Penida serta tanah
Andosol seluas 27,976 ha di dataran tinggi Bedugul dan Pancasari.
An La. 2007. Peta Jenis Tanah Bali. FOKUSHIMITI, Ilmu Tanah, Sistem
Informasi Geografi, Universitas Udayana : Bali.
Tempat yang termasuk dataran rendah dengan ketinggian 260 meter dari
permukaan laut ini memang tempat yang cocok untuk wilayah perkuliahan, selain
mempunyai tanah yang luas, tembalang juga memiliki suhu udara yang bisa dibilang
tidak panas. Namun, sangat disayangkan, pernyataan seperti itu hanya pantas
diucapkan beberapa tahun yang lalu, tepatnya sebelum tahun 2009. Sekarang,
bayangkan saja di daerah yang termasuk jauh dari daerah pantai ini memiliki suhu
mencapai 23oc hingga 32oc. Sungguh angka yang tidak berbeda jauh dari wilayah
pantai. Fenomena yang telah disebutkan diatas tidak mungkin terjadi tanpa
penyebab, pasti ada hal-hal yang mendukung berkembangnya fenomena itu.
Hakim, Abdul. 20013. Tembalang UNDIP. Fakultas Hukum, Universitas
Diponegor: Semarang.
Dengan cara distilasi, komponen zat penyusun campuran yang memiliki titik
didih lebih rendah akan menguap terlebih dahulu. Uap ini, kemudian dilewatkan
melalui suatu pendingin dan selanjutnya keluar dari pendingin dalam bentuk cairan
yang disebut destilat. Komponen yang akan keluar sebagai destilat adalah air murni,
sedangkan garam dapur sebagai residunya. Secara ringkas dapat dikatakan bahwa
distilasi merupakan cara pemisahan campuran berdasarkan perbedaan titik didih
komponen-komponen zat penyusunnya. Proses distilasi digunakan juga untuk
memisahkan minyak bumi menjadi sejumlah fraksi minyak bumi, seperti bensin,
minyak tanah, solar, aspal, dan lain sebagainya.
Nuevo, Brillo. 2012. Steaming Leaves and Heated Emotions. Campbell Amazon
Journal

LABOLATORIUM DASAR TEKNIK KIMIA II

F-2

NO

DIPERIKSA
TANGGAL

LEMBAR ASISTENSI
KETERANGAN

TANDA TANGAN