Anda di halaman 1dari 18

UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA

Fakultas Kedokteran

REFERAT

Teknik Invasif Operatif pada Tonsilitis

Pembimbing :
dr. Yuswandi Affandi, Sp. THT-KL
dr. Tantri Kurniawati,Sp. THT-KL, M.Kes
Disusun Oleh :
Fransisca Hilda Carolina Pratiwi ( 112014222 )

RUMAH SAKIT BAYUKARTA KARAWANG


ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROKAN
KEPALA DAN LEHER
KEPANITERAAN KLINIK
Periode 4 Mei 2015 s/d 6 Juni 2015

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada TUHAN yang Maha Esa karena atas berkat
rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyusun referat ini dengan baik dan benar serta tepat
waktunya. Didalam referat ini, penulis akan membahaskan mengenai fraktur maxilofacial.
Referat ini telah dibuat dengan pencarian melalui buku-buku rujukan dan juga
penelusuran situs medikal serta telah mendapatkan beberapa bantuan dari pelbagai pihak
untuk membantu dalam menyelesaikan tantangan dan hambatan selama proses mengerjakan
referat ini. Oleh karena itu, penulis ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya
kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan referat ini.
Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang mendasar pada referat ini.
Oleh karena itu, penulis mengundang pembaca untuk memberikan saran dan kritik yang
dapat membangun nilai kerja penulis ini.Kritikan yang membangun dari pembaca sangat
penulis harapkan untuk penyempurnaan referat ini selanjutnya.Semoga referat ini dapat
bermanfaat bagi para pembaca dan apabila ada kata-kata yang kurang berkenan penulis
memohon maaf sebesar-besarnya. Akhir kata semoga referat ini dapat memberikan manfaat
kepada kita semua.

Karawang, 13 Mei 2015

Penulis

Daftar isi
KATA PENGANTAR ....................................................................................................................2
DAFRAT ISI .................................................................................................................................3
BAB I PENDAHULUAN .............................................................................................................4
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Definisi Tonsilektomi ....................................................................................................6
2.2 Epidemiologi..................................................................................................................6
2.3 Indikasi tonsilektomi .....................................................................................................7
2.3.1 Indikasi Absolut ..................................................................................................7
2.3.2 Indikasi Relatif ...................................................................................................8
2.4 Kontraindikasi Tonsilektomi .........................................................................................9
2.5 Pelaksanaan bedah tonsilektomi ....................................................................................10
2.5.1 Gullotine .............................................................................................................10
2.5.2 Teknik Diseksi ....................................................................................................11
2.5.3 Electrosurgery .....................................................................................................12
2.5.4 Radiofrekuensi ....................................................................................................13
2.5.5 Skalpel Harmoni .................................................................................................13
2.5.6 Coblation ............................................................................................................14
2.5.7 Intracapsular Parsial Tonsilectomy .....................................................................15
2.5.8 Laser ( CO2-KTP ) ..............................................................................................15
2.6 Adenoidektomi ..............................................................................................................16
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan ...................................................................................................................18

DAFTAR PUSTAKA ..........................................................................................................19


3

BAB I
PENDAHULUAN
Tonsilektomi merupakan tindakan pembedahan tertua, berupa tindakan
pengangkatan jaringan tonsila palatina dari fossa tonsilaris.
Teknik tonsilektomi terus mengalami perkembangan, tahun 1827 tonsil diangkat
menggunakan guillotine, pada saat itu dinamakan Primary enucleation, pertama kali
digunakan oleh Physick. Tahun 1867, Meyer menggunakan pisau berbentuk lingkaran,
mengangkat tonsila adenoid melalui cavitas nasi, pada pasien yang menderita penurunan
pendengaran dan sumbatan hidung. Pada tahun 1910 Wilis dan Pybus melaporkan
pengangkatan tonsil lengkap dengan kapsulnya. Pada tahun 1912, Sluder menemukan alat
untuk mengambil tonsil sehingga keberhasilan pengambilan tonsil lengkap dengan kapsulnya
mencapai 99,6 %. Teknik tonsilektomi lain terus dikembangkan seperti elektrokauter
ditujukan untuk mengurangi terjadinya efek yang tidak diharapkan dari tonsilektomi.1
Kontroversi seputar tonsilektomi telah lama terjadi, meskipun demikian di bidang
THT tonsilektomi merupakan tindakan terbanyak dan biasa dilakukan.
Tonsilektomi dengan atau tanpa adenoidektomi dilakukan sering dalam usaha untuk
mengendalikan penyakit faring berulang, obstruksi jalan nafas atas, dan otitis media kronis.
Indikasi absolut dilakukan tonsilektomi adalah timbulnya kor pulmonale karena
obstruksi jalan nafas yang kronis, hipertrofi tonsil atau adenoid dengan sindrome apnea
waktu tidur, hipertrofi berlebihan yang menyebabkan disfagia dengan penurunan berat badan
penyerta, abses peritonsilar berulang atau abses yang meluas pada ruang sekitarnya.diskrasia
darah, ketidakmampuan yang umum atau kegagalan untuk tumbuh, tonus otot yang lemah,
sinusitis.
Kontraindikasi untuk dilakukan tonsilektomi adalah infeksi pernafasan bagian atas
yang berulang, infeksi sistemik atau kronis, demam yang tidak diketahui penyebabnya,
pembesaran tonsil tanpa gejala-gejala obstruksi, rinitis alergika, asma,
Pengobatan tonsilitis kronik sangat sulit dan lazim dilakukan tonsilektomi.
Tonsilektomi dianggap sebagai tindakan yang kecil, namun dapat menimbulkan komplikasi
baik durante maupun postoperasi, baik berupa abses paru dan pneumonitis yang diakibatkan
aspirasi darah dan debris atau infeksi yang ada sebelumnya maupun perdarahan. Disamping
4

itu tonsilektomi dapat menimbulkan berbagai masalah dan beresiko menimbulkan nyeri pasca
tonsilektomi dan infeksi.1
Adenoidektomi adalah tindakan bedah untuk membuang hipertrofi adenoid yang
menyebabkan obstruksi. Indikasi adenoidektomi adalah obstruksi jalan nafas bagian atas
kronis dengan akibat gangguan tidur, kor pulmonale atau sindrom apne waktu tidur,
nasofaringitis purulen kronis walaupun penatalaksanaan medik adekuat, adenoiditis kronis
atau hipertrofi adenoid berhubungan dengan produksi dan persistensi cairan telinga tengah.
Frekuensi tonsilektomi dan adenoidektomi di Inggris tahun 1987-1993 telah
dilakukan 70.000 - 90.000 tonsilektomi dan adenoidektomi per tahun. Di Skotlandia antara
tahun 1990 1996 terjadi penurunan jumlah adenotonsilektomi, angka tonsilektomi pada
anak menurun dari 602 per 100 000 menjadi 511 per 100 000, 44 % perempuan dan 54%
dengan adenoidektomi. Di Amerika Serikat tonsilektomi dilakukan sampai 1.500.000 pada
tahun 1970 dan 286.000 menjalani adenotonsilektomi, sedangkan tahun 1985 dilakukan
400.000 tonsilektomi. 1

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Definisi Tonsilektomi


Tonsilektomi adalah operasi pengangkatan tonsil palatina baik unilateral maupun
bilateral. Tonsiloadenoidektomi adalah pengangkatan tonsil palatina dan jaringan limfoid di
nasofaring yang dikenal sebagai adenoid atau tonsil faringeal. 2 Adapun pengertian lain yang
menyebutkan bahwa tonsilektomi adalah pembedahan eksisi tonsil palatina untuk mencegah
tonsilitis yang berulang. Tonsilektomi merupakan prosedur operasi yang praktis dan aman,
namun hal ini bukan berarti tonsilektomi merupakan operasi minor karena tetap memerlukan
keterampilan dan ketelitian yang tinggi dari operator dalam pelaksanaannya. Di AS karena
kekhawatiran komplikasi, tonsilektomi digolongkan pada operasi mayor. Di Indonesia,
tonsilektomi digolongkan pada operasi sedang karena durasi operasi pendek dan teknik tidak
sulit.

Gambar 1.
Tonsilitis
Diunduh

dari:

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/8/84/Throat_with_Tonsils_0011J.jpeg pada
tanggal 21 Mei 2015 pukul 13.50

2.2 Epidemiologi
Pada Amerika operasi tonsilektomi masih merupakan operasi yang paling sering
dikerjakan pada anak. Pada tahun 1959, 1,4 juta tonsilektomi dikerjakan pada Amerika
Serikat. Pada tahun 1987, jumlah operasi yang dikerjakan menurun hingga 260.000.
Indikasi operasi berubah dari indikasi karena infeksi, menjadi karena obstruksi jalan
nafas.3
Di Indonesia, data nasional mengenai jumlah operasi tonsilektomi atau
tonsiladenoiktomi belum ada. Namun, data yang didapatkan dari RSUPNCM selama 5
tahun terakhir (1999-2003) menunjukkan kecenderungan penurunan jumlah operasi
tonsilektomi. Fenomena ini juga terlihat pada jumlah operasi tonsiloadenoidektomi

dengan puncak kenaikan pada tahun kedua (275 kasus) dan terus menurun sampai tahun
2003 (152 kasus).2
2.3 Indikasi Tonsilektomi
Tonsilektomi atau lebih populer dikenal dengan istilah operasi amandel, telah dikenal
oleh masyarakat awam sejak dahulu, dan sejak diperkenalkan tonsilektomi dengan cara
Guillotine (1828), kecenderungan melakukan pembedahan ini untuk menyembuhkan
berbagai penyakit saluran napas atas semakin meningkat. Tonsilektomi biasanya
dilakukan pada dewasa muda yang menderita episode ulangan tonsilitis, selulitis
peritonsilaris, atau abses peritonsilaris. Tonsilitis kronis dapat menyebabkan hilangnya
waktu bekerja yang berlebihan. Anak-anak jarang menderita tonsilitis kronis atau abses
peritonsilaris. Paling sering, mereka mengalami episode berulang tonsilitis akut dan
hipertrofi penyerta. Beberapa episode mungkin disebabkan oleh virus atau bakteri.
Diskusi kemudian mengenai kapan saat atau setelah berapa kali episode tindakan
pembedahan dibutuhkan. Pedoman-pedoman yang biasanya dapat diterima sekarang ini
ditunjukkan pada bagian ini.4
2.3.1 Indikasi Absolut
Indikasi-indikasi untuk tonsilektomi yang absolut adalah berikut ini:
1. Timbulnya kor pulmonale karena obstruksi jalan napas yang kronis
2. Hipertrofi tonsil atau adenoid dengan sindroma apnea waktu tidur yang menyebabkan:
a. Obstruksi jalan napas (sleep apnea),
b. Kesulitan menelan, dan
c. Gangguan dalam berbicara
3. Hipertrofi berlebihan yang menyebabkan disfagia dengan penurunan berat badan
penyerta
4. Biopsi eksisi yang dicurigai keganasan (limfoma), terutama pada tonsil yang
membesar secara unilateral patut dicurigai sebagai limfoma pada anak-anak dan
karsinoma epidermoid pada orang dewasa.
5. Abses peritonsilaris berulang atau abses yang meluas pada ruang jaringan sekitarnya.
Pada anak anak, tonsilektomi dilakukan 4-6 minggu setelah abses sudah diberikan
perawatan. Pada orang dewasa, serangan kedua dari abses peritonsilernya akan
menjadi indikasi yang absolut
6. Infeksi tenggorokan yang rekuren. Ini merupakan indikasi yang paling umum. Infeksi
yang rekuren didefinisikan sebagai:
a. Tujuh atau lebih episode dalam 1 tahun, atau
b. Lima atau lebih episode dalam 2 tahun, atau
c. Tiga episode per tahun dalam 3 tahun, atau
d. Dua minggu atau lebih tidak mengikuti sekolah atau bekerja dalam 1 tahun
7. Tonsilitis. Terutama tonsitis yang menyebabkan kejang demam.5,6
7

2.3.2 Indikasi Relatif


Seluruh indikasi lain untuk tonsilektomi dianggap relatif. Indikasi yang paling sering
adalah episode berulang dari infeksi streptokokus beta hemolitikus grup A. Biakan
tenggorokan standar tidak selalu menunjukkan organisme penyebab dari episode
faringitis yang sekarang. Biakan permukaan tonsil tidak selalu menunjukkan flora yang
terdapat di dalam tonsil. Demikian juga, keputusan untuk mengobati dengan antibiotik
tidak selalu bergantung pada hasil biakan saja. Sprinkle menunjukkan bahwa walaupun
sebagian besar sakit tenggorokan disebabkan oleh infeksi virus, Streptococcus
pyogenes merupakan bakteri penyebab pada 40% pasien dengan tonsilitis eksudatifa
rekurens. Streptokokus grup B dan C, adenovirus, virus EB, dan bahkan virus herpes
juga dapat menyebabkan tonsilitis eksudatifa. Ia percaya bahwa kasus-kasus tertentu
adenotonsilitis berulang disebabkan oleh virus yang dalam keadaan tidak aktif (dormant)
yang terdapat dalam jaringan tonsilaris.6
Sekarang ini, tonsilektomi mungkin hanya satu-satunya jalan untuk menetapkan lebih
banyak flora mulut normal pada pasien-pasien tertentu dengan adenotonsilitis berulang.
Keputusan akhir untuk melakukan tonsilektomi tergantung pada kebijaksanaan dokter
yang merawat pasien. Mereka sebaiknya menyadari kenyataan bahwa tindakan ini
merupakan prosedur pembedahan mayor yang bahkan hari ini masih belum terbebas dari
komplikasi-komplikasi yag serius. Sekarang ini, di samping indikasi-indikasi absolut,
indikasi tonsilektomi yang paling dapat diterima pada anak-anak adalah berikut ini:
1. Tonsilitis yang berhubungan dengan biakan streptokokus menetap dan patogenik
(keadaan karier)
2. Hiperplasia tonsil dengan obstruksi fungsional (misalnya, penelanan)
3. Hiperplasia dan obstruksi yang menetap enam bulan setelah infeksi mononukleosis
(biasanya pada dewasa muda)
4. Riwayat demam reumatik dengan kerusakan jantung yang berhubungan dengan
tonsilitis rekurens kronis dan pengendalian antibiotik yang buruk
5. Radang tonsil kronis menetap yang tidak memberikan

respons

terhadap

penatalaksanaan medis (biasanya dewasa muda)


6. Hipertrofi tonsil dan adenoid yang berhubungan dengan abnormalitas orofasial dan
gigi geligi yang menyempitkan jalan napas bagian atas
7. Tonsilitis berulang atau kronis yang berhubungan dengan adenopati servikal
persisten.5,6

Jika terdapat infeksi streptokokus yang berulang, mungkin terdapat karier pada orangorang yang tinggal serumah, dan biakan pada anggota keluarga dan pengobatan dapat
menghentikan siklus infeksi rekuren.
Pertimbangan dan pengalaman ahli dalam menilai manfaat indikasi-indikasi ini yang
akan diberikan pada pasien, tentu saja semuanya sama penting. Seperti juga indikasi
pembedahan, tentu terdapat non-indikasi dan kontraindikasi tertentu yang juga harus
diperhatikan, karena telah menjadi mode untuk melakukan jenis pembedahan ini untuk
mengatasi masalah-masalah ini.
2.4 Kontraindikasi Tonsilektomi
Terdapat beberapa keadaan yang disebutkan sebagai kontraindikasi, namun bila
sebelumnya dapat diatasi, operasi dapat dilaksanakan dengan tetap memperhitungkan
imbang manfaat dan risiko. Kontraindikasi tonsilektomi ialah, sebagai berikut:
1. Kadar hemoglobin yang kurang dari 10 g%
2. Adanya infeksi akut dari saluran napas atas, bahkan tonsilitis akut. Perdarahan dapat
semakin meyakinkan bukti infeksi akut
Anak-anak di bawah usia 3 tahun, yang memiliki risiko buruk terhadap operasi
Cleft palate yang overt atau submukosa
Kelainan perdarahan seperti leukemia, purpura, anemia aplastik atau hemofilia
Saat polio sedang bersifat epidemik
Penyakit sistemik yang tidak terkontrol, seperti diabetes, penyakit jantung, hipertensi

3.
4.
5.
6.
7.

atau asma
8. Tonsilektomi dihindari selama periode menstruasi.5

2.5 Pelaksanaan bedah tonsilektomi


Metode dan teknik pembedahan
Berbagai teknik dan instrumen untuk tonsilektomi telah dikembangkan. Sampai saat ini
teknik tonsilektomi yang optimal dengan morbiditas yang rendah masih menjadi kontroversi,
masing-masing teknik memiliki kelebihan dan kekurangan..
Di Indonesia teknik tonsilektomi yang terbanyak digunakan saat ini adalah teknik
Guillotine dan diseksi.7
2.5.1 Guillotine
Tonsilektomi cara guillotine dikerjakan secara luas sejak akhir abad ke 19, dan dikenal
sebagai teknik yang cepat dan praktis untuk mengangkat tonsil. Namun tidak ada literatur
9

yang menyebutkan kapan tepatnya metode ini mulai dikerjakan. Tonsilotom modern atau
guillotine dan berbagai modifikasinya merupakan pengembangan dari sebuah alat yang
dinamakan uvulotome. Uvulotome merupakan alat yang dirancang untuk memotong uvula
yang edematosa atau elongasi.
Greenfield Sluder pada sekitar akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 merupakan seorang
ahli yang sangat merekomendasikan teknik Guillotine dalam tonsilektomi. Beliau
mempopulerkan alat Sluder yang merupakan modifikasi alat Guillotin.
Di Indonesia, terutama di daerah tonsilektomi cara guillotine masih lazim dilakukan
dibandingkan cara diseksi.
Kepustakaan lama menyebutkan beberapa keuntungan teknik ini yaitu cepat, komplikasi
anestesi kecil, biaya kecil.7

Gambar 2. Cara tonsilektomi


Diunduh dari http://healthy2life.blogspot.com/2008/07/tonsillectomy.html pada tanggal 21
Mei 2015 pukul 14.55

2.5.2 Teknik Diseksi

10

Kebanyakan tonsilektomi saat ini dilakukan dengan metode diseksi. Hanya sedikit
ahli THT yang secara rutin melakukan tonsilektomi dengan teknik Sluder. Di negaranegara Barat, terutama sejak para pakar bedah mengenal anestesi umum dengan
endotrakeal pada posisi Rose yang mempergunakan alat pembuka mulut Davis, mereka
lebih banyak mengerjakan tonsilektomi dengan cara diseksi. Cara ini juga banyak
digunakan pada pasien anak.
Walaupun telah ada modifikasi teknik dan penemuan peralatan dengan desain yang
lebih baik untuk tonsilektomi, prinsip dasar teknik tonsilektomi tidak berubah. Pasien
menjalani anestesi umum (general endotracheal anesthesia). Teknik operasi meliputi:
memegang tonsil, membawanya ke garis tengah, insisi membran mukosa, mencari kapsul
tonsil, mengangkat dasar tonsil dan mengangkatnya dari fossa dengan manipulasi hatihati. Lalu dilakukan hemostasis dengan elektokauter atau ikatan. Selanjutnya dilakukan
irigasi pada daerah tersebut dengan salin. 7
Bagian penting selama tindakan adalah memposisikan pasien dengan benar dengan
mouth gag pada tempatnya. Lampu kepala digunakan oleh ahli bedah dan harus
diposisikan serta dicek fungsinya sebelum tindakan dimulai. Mouth gag diselipkan dan
bilah diposisikan sehingga pipa endotrakeal terfiksasi aman diantara lidah dan bilah.
Mouth gag paling baik ditempatkan dengan cara membuka mulut menggunakan jempol
dan 2 jari pertama tangan kiri, untuk mempertahankan pipa endotrakeal tetap di garis
tengah lidah. Mouth gag diselipkan dan didorong ke inferior dengan hati-hati agar ujung
bilah tidak mengenai palatum superior sampai tonsil karena dapat menyebabkan
perdarahan. Saat bilah telah berada diposisinya dan pipa endotrakeal dan lidah di tengah,
wire bail untuk gigi atas dikaitkan ke gigi dan mouth gag dibuka. Tindakan ini harus
dilakukan dengan visualisasi langsung untuk menghindarkan kerusakan mukosa
orofaringeal akibat ujung bilah. Setelah mouth gag dibuka dilakukan pemeriksaan secara
hati-hati untuk mengetahui apakah pipa endotrakeal terlindungi adekuat, bibir tidak
terjepit, sebagian besar dasar lidah ditutupi oleh bilah dan kutub superior dan inferior
tonsil terlihat. Kepala di ekstensikan dan mouth gag dielevasikan. Sebelum memulai
operasi, harus dilakukan inspeksi tonsil, fosa tonsilar dan palatum durum dan molle.7
Mouth gag yang dipakai sebaiknya dengan bilah yang mempunyai alur garis tengah
untuk tempat pipa endotrakeal (ring blade). Bilah mouth gag tersedia dalam beberapa
ukuran. Anak dan dewasa (khususnya wanita) menggunakan bilah no. 3 dan laki-laki
11

dewasa memerlukan bilah no. 4. Bilah no. 2 jarang digunakan kecuali pada anak yang
kecil. Intubasi nasal trakea lebih tepat dilakukan dan sering digunakan oleh banyak ahli
bedah bila tidak dilakukan adenoidektomi.7
Berbagai teknik diseksi baru telah ditemukan dan dikembangkan disamping teknik
diseksi standar, yaitu:
2.5.3 Electrosurgery (Bedah listrik)7
Awalnya, bedah listrik tidak bisa digunakan bersama anestesi umum, karena mudah
memicu terjadinya ledakan. Namun, dengan makin berkembangnya zat anestetik yang
nonflammable dan perbaikan peralatan operasi, maka penggunaan teknik bedah listrik
makin meluas.
Pada bedah listrik transfer energi berupa radiasi elektromagnetik (energi
radiofrekuensi) untuk menghasilkan efek pada jaringan. Frekuensi radio yang digunakan
dalam spektrum elektromagnetik berkisar pada 0.1 hingga 4 MHz. Penggunaan
gelombang pada frekuensi ini mencegah terjadinya gangguan konduksi saraf atau jantung.
Pada teknik ini elektroda tidak menjadi panas, panas dalam jaringan terbentuk karena
adanya aliran baru yang dibuat dari teknik ini. Teknik ini menggunakan listrik 2 arah
(AC) dan pasien termasuk dalam jalur listrik (electrical pathway). 7
Teknik bedah listrik yang paling paling umum adalah monopolar blade, monopolar
suction, bipolar dan prosedur dengan bantuan mikroskop. Tenaga listrik dipasang pada
kisaran 10 sampai 40 W untuk memotong, menyatukan atau untuk koagulasi. Bedah
listrik merupakan satu-satunya teknik yang dapat melakukan tindakan memotong dan
hemostase dalam satu prosedur. Dapat pula digunakan sebagai tambahan pada prosedur
operasi lain. 7
2.5.4 Radiofrekuensi7
Pada teknik radiofrekuensi, elektroda disisipkan langsung ke jaringan. Densitas baru
di sekitar ujung elektroda cukup tinggi untuk membuat kerusakan bagian jaringan melalui
pembentukan panas. Selama periode 4-6 minggu, daerah jaringan yang rusak mengecil
dan total volume jaringan berkurang. Pengurangan jaringan juga dapat terjadi bila energi
radiofrekuensi diberikan pada medium penghantar seperti larutan salin. Partikel yang
terionisasi pada daerah ini dapat menerima cukup energi untuk memecah ikatan kimia di

12

jaringan. Karena proses ini terjadi pada suhu rendah (40 0C-700C), mungkin lebih sedikit
jaringan sekitar yang rusak.
Alat radiofrekuensi yang paling banyak tersedia yaitu alat Bovie, Elmed Surgitron
system (bekerja pada frekuensi 3,8 MHz), the Somnus somnoplasty system (bekerja pada
460 kHz), the ArthroCare coblation system dan Argon plasma coagulators. Dengan alat
ini, jaringan tonsil dapat dibuang seluruhnya, ablasi sebagian atau berkurang volumenya.
Penggunaan teknik radiofrekuensi dapat menurunkan morbiditas tonsilektomi. Namun
masih diperlukan studi yang lebih besar dengan desain yang baik untuk mengevaluasi
keuntungan dan analisa biaya dari teknik ini.7
2.5.5 Skalpel harmonik7
Skalpel harmonik menggunakan teknologi ultrasonik untuk memotong dan
mengkoagulasikan jaringan dengan kerusakan jaringan minimal. Teknik ini menggunakan
suhu yang lebih rendah dibandingkan elektrokauter dan laser. Dengan elektrokauter atau
laser, pemotongan dan koagulasi terjadi bila temperatur sel cukup tinggi untuk tekanan
gas dapat memecah sel tersebut (biasanya 1500C-4000C), sedangkan dengan skalpel
harmonik temperatur disebabkan oleh friksi jauh lebih rendah (biasanya 50 0C -1000C).
Sistim skalpel harmonik terdiri atas generator 110 Volt, handpiece dengan kabel
penyambung, pisau bedah dan pedal kaki.
Alatnya memiliki 2 mekanisme memotong yaitu oleh pisau tajam yang bergetar
dengan frekuensi 55,5 kHz sejauh lebih dari 80 m (paling penting), dan hasil dari
pergerakan maju mundur yang cepat dari ujung pemotong saat kontak dengan jaringan
yang menyebabkan peningkatan dan penurunan tekanan jaringan internal, sehingga
menyebabkan fragmentasi berongga dan pemisahan jaringan. Koagulasi muncul ketika
energi mekanik ditransfer kejaringan, memecah ikatan hidrogen tersier menjadi protein
denaturasi dan melalui pembentukan panas dari friksi jaringan internal akibat vibrasi
frekuensi tinggi.
Skalpel harmonik memiliki beberapa keuntungan dibanding teknik bedah lain, yaitu:

Dibandingkan dengan elektrokauter atau laser, kerusakan akibat


panas minimal karena proses pemotongan dan koagulasi terjadi pada temperatur lebih
rendah dan charring, desiccation (pengeringan) dan asap juga lebih sedikit. Tidak seperti
elektrokauter, skalpel harmonik tidak memiliki energi listrik yang ditransfer ke atau
13

melalui pasien, sehingga tidak ada stray energi (energi yang tersasar) yang dapat
menyebabkan shock atau luka bakar.7

Dibandingkan teknik skalpel, lapangan bedah terlihat jelas karena


lebih sedikit perdarahan, perdarahan pasca operasi juga minimal.

Dibandingkan dengan teknik diseksi standar dan elektrokauter,


teknik ini mengurangi nyeri pascaoperasi.

Teknik ini juga menguntungkan bagi pasien terutama yang tidak bisa
mentoleransi kehilangan darah seperti pada anak-anak, pasien dengan anemia atau
defisiensi faktor VIII dan pasien yang mendapatkan terapi antikoagulan.7

2.5.6 Coblation7
Teknik coblation juga dikenal dengan nama plasma-mediated tonsillar ablation,
ionised field tonsillar ablation; radiofrequency tonsillar ablation; bipolar radiofrequency
ablation; cold tonsillar ablation.7
Teknik ini menggunakan bipolar electrical probe untuk menghasilkan listrik
radiofrekuensi (radiofrequency electrical) baru melalui larutan natrium klorida. Keadaan
ini akan menghasilkan aliran ion sodium yang dapat merusak jaringan sekitar. Coblation
probe memanaskan jaringan sekitar lebih rendah dibandingkan probe diatermi standar
(suhu 600C (45-850C) dibanding lebih dari 1000C). 7
National Institute for clinical excellence menyatakan bahwa efikasi teknik coblation
sama dengan teknik tonsilektomi standar tetapi teknik ini bermakna mengurangi rasa
nyeri, tetapi komplikasi utama adalah perdarahan. 7
2.5.7 Intracapsular partial tonsillectomy7
Intracapsular tonsillectomy merupakan tonsilektomi parsial yang dilakukan dengan
menggunakan mikrodebrider endoskopi. Meskipun mikrodebrider endoskopi bukan
merupakan peralatan ideal untuk tindakan tonsilektomi, namun tidak ada alat lain yang
dapat menyamai ketepatan dan ketelitian alat ini dalam membersihkan jaringan tonsil
tanpa melukai kapsulnya.7
Pada tonsilektomi intrakapsular, kapsul tonsil disisakan untuk menghindari
terlukanya otot-otot faring akibat tindakan operasi dan memberikan lapisan pelindung
biologis bagi otot dari sekret. Hal ini akan mencegah terjadinya perlukaan jaringan dan
14

mencegah terjadinya peradangan lokal yang menimbulkan nyeri, sehingga mengurangi


nyeri pasca operasi dan mempercepat waktu pemulihan. Jaringan tonsil yang tersisa akan
meningkatkan insiden tonsillar regrowth. Tonsillar regrowth dan tonsilitis kronis
merupakan hal yang perlu mendapat perhatian khusus dalam teknik tonsilektomi
intrakapsuler. Tonsilitis kronis dikontraindikasikan untuk teknik ini.7
Keuntungan teknik ini angka kejadian nyeri dan perdarahan pasca operasi lebih
rendah dibanding tonsilektomi standar. Tetapi masih diperlukan studi dengan desain yang
baik untuk menilai keuntungan teknik ini.
2.5.8 Laser (CO2-KTP)7
Laser tonsil ablation (LTA) menggunakan CO2 atau KTP (Potassium Titanyl
Phospote) untuk menguapkan dan mengangkat jaringan tonsil. Teknik ini mengurangi
volume tonsil dan menghilangkan recesses pada tonsil yang meyebabkan infeksi kronik
dan rekuren.
LTA dilakukan selama 15-20 menit dan dapat dilakukan di poliklinik dengan anestesi
lokal. Dengan teknik ini nyeri pascaoperasi minimal, morbiditas menurun dan kebutuhan
analgesia pascaoperasi berkurang. Tekhnik ini direkomendasikan untuk tonsilitis kronik
dan rekuren, sore throat kronik, halitosis berat atau obstruksi jalan nafas yang
disebabkan pembesaran tonsil.7
2.6 Adenoidektomi
Pada hipertrofi adenoid dilakukan tindakan bedah adenoidektomi dengan cara
kuretase memakai alat khusus ( adenotom ). Kontraindikasi operasi adalah celah palatum
atau insufisiensi palatum karena operasi ini dapat mengakibatkan rinoalia aperta.
Indikasi adenoidektomi sebagai berikut :
1. Sumbatan : sumbatan hidung yang menyebabkan bernapas melalui mulut, sleep
apnea, gangguan menelan, gangguan berbicara, kelainan bentuk wajah muka dan gigi
( adenoid face ).

15

Gambar 3.

Adenoid face

Diunduh dari https://www.pinterest.com/gorurtugba/adenoid-face/ pada tanggal 21 Mei 2015 pukul


15.11

2. Infeksi : adenoiditis berulang / kronik, otitis media efusi berulang / kronik, otitis
media akut berulang.
3. Kecurigaan neoplasma jinak/ ganas.
Teknik adenoidektomi terbagi atas dua cara yaitu :8
1. Eksisi melalui mulut8
Merupakan teknik yang paling banyak digunakan. Adenoid dikeluarkan melalui
mulut setelah mulut dibuka dengan menggunakan suatu alat dan menarik langitlangit mulut. Suatu cermin digunakan untuk melihat adenoid karena adenoid
terletak pada rongga hidung bagian belakang melalui pendekatan ini beberapa
instrumen dapat dimasukan.
- Cold surgical technique
Curette adenoid : merupakan patokan dan metode konvensional yang sukses
dilakukan. Alat adenoid currete mempunyai sisi yang tajam dan bengkok. Untuk
mengangkat adenoit digunakan mata pisau yang tajam setelah terlebih dahulu
memposisikan nasofaring. Perdarahan dapat dikontrol dengan elektrocauter.
Adenoid punch : penekanan pada adenoid dengan menggunakan satu instrumen
bengkok yang mempunyai celah dan ditempatkan di atas adenoid kemudia celah
itu ditutup dan pisau bedah mengangkah adenoid.
Magill forceps : adalah suatu instrumen yang berbentuk bengkok yang digunakan
untuk mencabut jaringan sisa pada adenoid
- Elektrocauter dengan suction bovie
Teknik kedua dengan menggunakan elektrocauter dengan suatu suction bovie
yang berfungsi mencabut jaringan adenoid
- Surgical microdebrider

16

Ahli bedah lain sudah menggunakan metode microdebrider, sebagian orang yang
menganggapnya lebih efektif. Perdarahan pasti terjadi pada pengangkatan tetapi
sebagian besar dilaporkan perdarahan dengan menggunakan tradisional currete.
Mikrodebrider memindahkan jaringan adenoid yag sulit di jangkau oleh teknik
lain
2. Eksisi melalui hidung8
Satu-satunya teknik bermanfaat untuk memindahkan adenoid melalui rongga hidung
dengan menggunakan alat mikrodebrider. Dengan prosedur ini, jika terjadi perdarahan
dikontrol dengan menggunakan cauter suction

BAB II
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Tonsilektomi merupakan tindakan operasi tersering pada bidang THT. Tonsilektomi
merupakan tindakan pembedahan tertua, berupa tindakan pengangkatan jaringan tonsila
palatina dari fossa tonsilaris. Tonsilektomi dapat dikerjakan dengan indikasi yang tepat
sehingga didapatkan keuntungan nyata, mengingat peranan tonsil sebagai bagian system
pertahanan tubuh.
Berbagai teknik dan instrumen untuk tonsilektomi telah dikembangkan. Sampai saat
ini teknik tonsilektomi yang optimal dengan morbiditas yang rendah masih menjadi
kontroversi, masing-masing teknik memiliki kelebihan dan kekurangan. Di Indonesia
teknik tonsilektomi yang terbanyak digunakan saat ini adalah teknik Guillotine dan
diseksi. Selain Guillotine dan diseksi juga terdapat metode dan teknik tonsilektomi yang
lain seperti electrosurgery, radiofrekuensi, skalpel harmonik, coblation, intracapsular
parsial tonsilektomy, laser ( CO2-KTP ), dari masing-masing metode dan teknik ini
memiliki kelebihan masing-masing.

17

Adenoidektomi dilakukan jika terdapat indikasi seperti obstruksi jalan napas, infeksi
adenoid dan kecurigaan neoplasma jinak maupun ganas. Terdapat 2 teknik
adenoidektomi yaitu eksisi melalui mulut atau eksisi melalui hidung, namun yang sering
digunakan adalah eksisi melalui mulut.

Daftar pusataka
1. Kajian Manfaat Tonsilektomi dalam Cermin Dunia Kedokteran diunduh dari
www.kalbefarma.com.com/cdk tanggal 21 Mei 2015 pukul 13.48
2. Bailey BJ. Tonsillectomy. In: Bailey BJ, Calhour KH, Friedman NR, Newlands SD,
Vrabec JT, editors. Atlas of Head and Neck Surgery- Otolaryngology.
Philadelphia:Lippincott Williams & Wilkins 2001.2nd edition.p.327-2- 327-6
3. Tonsillectomy. Diunduh dari : reference.medscape.com/article/872119-overview.
Pada tanggal 21 Mei 2015 pukul 14.00
4. Data operasi Tonsiloadenoidektomi tahun 1999-2003 Bagian THT FKUI-RSUPNCM.
5. Behrbohm H, Kaschke O, Nawka T, Swift A. Ear, nose, and throat diseases. 3rd ed.
Germany: Georg Thieme Verlag; 2009.p.268.
6. Adam G L, Boies L R, Higler P A (Alih bahasa : Wijaya C). Boeis buku ajar penyakit
THT edisi 6. Tonsilektomi. EGC:Jakarta; 2013. h. 337-41.
7. Sumber: Dhingra PL, Dhingra S, Dhingra D. Disease of ear, nose and throat & head
and neck surgery. 6th ed. India: Elsevier; 2014.p.428-30.
8. MaQlay J. Adenoidectomy.[online]. 2006 March 23]; Available from:
http://www.emedicine.com/oph/topic410.htm

18