Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Penyakit Tidak Menular (PTM) merupakan masalah yang sangat substansial, mengingat
pola kejadian sangat menentukan status kesehatan di suatu daerah dan juga keberhasilan
peningkatan status kesehatan di suatu negara.
Secara global WHO (World Health Organization) memperkirakan PTM menyebabkan
sekitar 60% kematian dan 43% kesakitan di seluruh dunia. Perubahan pola struktur
masyarakat dari agraris ke industri dan perubahan pola fertilitas gaya hidup dan sosial
ekonomi masyarakat diduga sebagai hal yang melatar belakangi prevalensi Penyakit Tidak
Menular (PTM), sehingga kejadian penyakit tidak menular semakin bervariasi dalam transisi
epidemiologi.
Penyakit tidak menular (PTM) merupakan penyakit kronis yang tidak ditularkan dari
orang ke orang. Data PTM dalam Riskesdas 2013 meliputi : (1) asma; (2) penyakit paru
obstruksi kronis (PPOK); (3) kanker; (4) DM; (5) hipertiroid; (6) hipertensi; (7) jantung
koroner; (8) gagal jantung; (9) stroke; (10) gagal ginjal kronis; (11) batu ginjal; (12) penyakit
sendi/rematik. Data penyakit asma/mengi/bengek dan kanker diambil dari responden semua
umur, PPOK dari umur 30 tahun, DM, hipertiroid, hipertensi/tekanan darah tinggi, penyakit
jantung koroner, penyakit gagal jantung, penyakit ginjal, penyakit sendi/rematik/encok dan
stroke ditanyakan pada responden umur 15 tahun.
Diabetes Mellitus (DM) merupakan salah satu penyakit tidak menular yang prevalensi
semakin meningkat dari tahun ke tahun. Diabetes mellitus merupakan suatu keadaan
hiperglikemia kronik disertai berbagai kelainan metabolik akibat gangguan hormonal yang
menimbulkan berbagai komplikasi kronik pada mata, ginjal, saraf, dan pembuluh darah, yang
disertai lesi pada membran basalis dalam pemeriksaan dengan mikroskop electron.
Diabetes Mellitus sering disebut sebagai the great imitator, karena penyakit ini dapat
mengenai semua organ tubuh dan menimbulkan berbagai macam keluhan. Gejalanya sangat
bervariasi dan dapat timbul secara perlahan-lahan, sehingga pasien tidak menyadari akan
adanya perubahan seperti minum yang menjadi lebih banyak, buang air kecil ataupun berat
badan yang menurun. Gejala-gejala tersebut dapat berlangsung lama tanpa diperhatikan,
sampai kemudian orang tersebut pergi ke dokter untuk memeriksakan kadar glukosa
darahnya. Pada tahun 1992, lebih dari 100 juta penduduk dunia menderita DM dan pada tahun
1

2000 jumlahnya meningkat menjadi 150 juta yang merupakan 6% dari populasi dewasa.
Amerika Serikat jumlah penderita Diabetes Mellitus pada tahun 1980 mencapai 5,8 juta orang
dan pada tahun 2003 meningkat menjadi 13,8 juta orang.
Pada tahun 2000 menurut WHO diperkirakan sedikitnya 171 orang diseluruh dunia
menderita Diabetes Melitus, atau sekitar 2.8% dari total populasi, insidennya terus meningkat
dengan cepat dan diperkirakan tahun 2030 angka ini menjadi 366 juta jiwa atau sekitar 4.4%
dari populasi dunia, Diabetes adalah suatu kondisi dengan kadar peningkatan glukosa dalam
darah (hiperglikemia) yang

dapat menimbulkan resiko pada mikrovaskular (retinoplati,

nepropati, dan neuropati). Ini berhubungan dengan usia harapan hidup, angka kesakitan jika
terjadi komplikasi antara diabetes dan microvaskular, dapat meningkatkan resiko komplikasi
makrovaskular (penyakit jantung koroner, stroke, dan penyakit kardiovaskular), dan
mengganggu kulaitas kehidupan. The American Diabetes Association (ADA) memperkirakan
kerugian akibat diabetes di USA untuk tahun 2002 sekitar 132 milyar dolar dan akan
meningkat menjadi 192 milyar di tahun 2020.
DM terdapat diseluruh dunia, 90% adalah jenis Diabetes Melitus tipe 2 terjadi di negara
berkembang, peningkatan prevalensi terbesar adalah di Asia dan di Afrika, ini akibat tren
urbanisasi dan perubahan gaya hidup seperti pola makan yang tidak sehat. Data selengkapnya
mengenai prevalensi DM di regional Asia Pasifik dapat di lihat dalam Tabel 1.
Tabel 1. Prevalensi Diabetes di Region Asia Tenggara
Negara
Bangladesh
Bhutan
Republik Korea
India
Indonesia
Maldives
Myanmar
Nepal
Sri Lanka
Thailand
Total

2000
3,196,000
35,000
367,000
31,705,000
8,426,000
6,000
543,000
436,000
653,000
1,536,000
46,903,000

2030
11,140,000
109,000
635,000
79,441,000
21,257,000
25,000
1,330,000
1,328,000
1,537,000
2,739,000
119,541,000

Indonesia menempati urutan keempat dengan jumlah penderita diabetes terbesar di


dunia setelah India, Cina dan Amerika Serikat. Dengan prevalensi 8,4% dari total penduduk,
diperkirakan pada tahun 1995 terdapat 4,5 juta pengidap diabetes dan pada tahun 2025
diperkirakan meningkat menjadi 12,4 juta penderita. Berdasarkan data Departemen Kesehatan
jumlah pasien Diabetes Mellitus rawat inap maupun rawat jalan di rumah sakit menempati
2

urutan pertama dari seluruh penyakit endokrin dan 4% wanita hamil menderita Diabetes
Gestasional.
Berdasarkan Riskesdas 2013 prevalensi diabetes melitus berdasarkan diagnosis dokter
dan gejala meningkat sesuai dengan bertambahnya umur, namun mulai umur 65 tahun
cenderung menurun. Prevalensi DM, hipertiroid, dan hipertensi pada perempuan cenderung
lebih tinggi dari pada laki-laki. Prevalensi DM, hipertiroid, dan hipertensi di perkotaan
cenderung lebih tinggi dari pada perdesaan. Prevalensi diabetes di Indonesia berdasarkan
wawancara yang terdiagnosis dokter sebesar 1,5 persen. DM terdiagnosis dokter atau gejala
sebesar 2,1 persen. Prevalensi diabetes yang terdiagnosis dokter tertinggi terdapat di DI
Yogyakarta (2,6%), DKI Jakarta (2,5%), Sulawesi Utara (2,4%) dan Kalimantan Timur
(2,3%). Prevalensi diabetes yang terdiagnosis dokter atau gejala, tertinggi terdapat di
Sulawesi Tengah (3,7%), Sulawesi Utara (3,6%), Sulawesi Selatan (3,4%) dan Nusa Tenggara
Timur 3,3 persen. Di Sumatera utara sendiri, DM yang terdiagnosis sebesar 1.8% dan yang
terdiagnosis dokter atau gejala sebesar 2.3%.
Prevalensi DM cenderung lebih tinggi pada masyarakat dengan tingkat pendidikan
tinggi dan dengan kuintil indeks kepemilikan tinggi. Prevalensi hipertensi cenderung lebih
tinggi pada kelompok pendidikan lebih rendah dan kelompok tidak bekerja, kemungkinan
akibat ketidaktahuan tentang pola makan yang baik.
Diabetes Melitus merupakan penyakit yang dapat menyebabkan penyakit lain
(komplikasi). Kejadian komplikasi Diabetes Melitus pada setiap orang berbeda-beda.
Komplikasi Diabetes Melitus dapat dibagi menjadi dua kategori mayor, yaitu komplikasi
metabolik akut dan komplikasi kronik jangka pajang. Komplikasi metabolik akut disebabkan
oleh perubahan yang relatif akut dari konsentrasi glukosa plasma. Komplikasi metabolik yang
paling serius pada diabetes tipe 1 adalah ketoasidosis diabetic (DKA). Apabila kadar insulin
sangat menurun, pasien mengalami hiperglikemia dan glukosuria berat, penurunan
lipogenesis, peningkatan lipolysis dan peningkatan oksidasi asam lemak bebas disertai
pembentukan benda keton (asetoasetat, hidroksibutirat dan aseton). Peningkatan keton dalam
plasma mengakibatkan ketosis. Peningkatan

produksi keton meningkatkan beban ion

hydrogen dan asidosis metabolik. Glukosuria dan ketonuria yang jelas juga dapat
mengakibatkan diuresis osmotik dengan hasil akhir dehidrasi dan kehilangan elektrolit. Pasien
dapat mengalami hipotensi dan syok. Akhirnya, akibat penurunan penggunaan oksigen otak,
pasien akan mengalami koma dan meninggal.

Komplikasi kronik jangka panjang atau dapat disebut juga dengan komplikasi vaskular
jangka panjang Diabetes Melitus melibatkan pembuluh-pembuluh kecil (mikroangiopati) dan
pembuluh-pembuluh sedang dan besar. Mikroangiopati merupakan lesi spesifik diabetes yang
menyerang kapiler dan arteriola retina (retinopati diabetic), glumerolus ginjal (nefropati
diabetic), dan saraf-saraf kapiler (neuropati diabetic), otot-otot serta kulit. Dipandang dari
sudut histokimia, lesi-lesi ini ditandai dengan peningkatan penimbunan glikoprotein. Selain
itu, karena senyawa kimia dari membran dasar dapat berasal dari glukosa, maka hiperglikemia
menyebabkan bertambahnya kecepatan pembentukan sel-sel membran dasar. Namun,
manifestasi klinis penyakit vaskular, retinopati atau nefropati biasanya baru timbul setelah 15
sampai 20 tahun sesudah awitan diabetes.
Risiko penyakit yang terjadi oleh penderita diabetes melitus jika dibandingkan dengan
penderita non diabetes melitus adalah dua kali lebih mudah mengalami stroke, dua puluh lima
kali lebih mudah mengalami buta, dua kali lebih mudah mengalami PJK (Penyakit Jantung
Koroner), tujuh belas kali lebih mudah mengalami gagal ginjal kronik, dan lima kali lebih
mudah mengalami selulitis atau gangrene.
Komplikasi Diabetes Melitus diakibatkan dari memburuknya kondisi tubuh, perilaku
preventif dari penderita dalam penanganan Diabetes Melitus dapat menghindari penderita dari
komplikasi diabetes jangka panjang meliputi diet, olahraga, kepatuhan cek gula darah dan
konsumsi obat.
Berdasarkan hasil penelitian (Himawan. dkk, 2007) yang dilakukan pada 39 pasien
dengan melakukan anamnesis, pemeriksaan laboratorium HbA1c, mikroalbuminuria, dan
evaluasi mata di poliklinik mata FKUI RSCM menunjukkan hasil komplikasi yang ditemukan
adalah ketoasidosis diabetik selama sakit pada 30 pasien (76,9 %) dan pada 12 minggu
terakhir pada 3 pasien (7,9%), mikroalbuminuria pada 3 pasien (7,9%).

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
4

A. Pengertian Diabetes Melitus


Diabetes Mellitus adalah suatu kumpulan gejala yang timbul pada seseorang yang
disebabkan oleh karena peningkatan kadar glukosa darah akibat penurunan sekresi insulin
yang progresif dilatar belakangi oleh resistensi insulin (Soegondo dkk, 2009).
Diabetes Mellitus adalah kondisi abnormalitas metabolisme karbohidrat yang
disebabkan oleh defisiensi (kekurangan) insulin, baik secara absolute (total) maupun sebagian
(Hadisaputro. Setiawan, 2007).
Diabetes Melitus (DM) atau disingkat Diabetes adalah gangguan kesehatan yang berupa
kumpulan gejala yang disebabkan oleh peningkatan kadar gula (glukosa) darah akibat
kekurangan ataupun resistensi insulin. Penyakit ini sudah lama dikenal, terutama dikalangan
keluarga, khususnya keluarga berbadan besar (kegemukan) bersama dengan gaya hidup
tinggi. Kenyataannya, kemudian, DM menjadi penyakit masyarakat umum, menjadi beban
kesehatan masyarakat, meluas dan membawa banyak kematian.
B. Epidemiologi Diabetes Melitus
1. Distribusi dan Frekuensi
a. Menurut Orang
Pada negara berkembang, DM cenderung diderita oleh penduduk usia 45-64 tahun,
sedangkan pada negara maju penderita DM cenderung diderita oleh penduduk usia di atas 64
tahun. Penderita DM Tipe 1 biasanya berumur < 40 tahun dan penderita DM Tipe 2 biasanya
berumur 40 tahun. Diabetes sendiri merupakan penyakit kronis yang akan diderita seumur
hidup sehingga progresifitas penyakit akan terus berjalan, pada suatu saat dapat
menimbulkan komplikasi.
Diabetes Mellitus (DM) biasanya berjalan lambat dengan gejala-gejala yang ringan
sampai berat, bahkan dapat menyebabkan kematian akibat baik komplikasi akut maupun
kronis. Dengan demikian Diabetes bukan lah suatu penyakit yang ringan. Menurut beberapa
review, Retinopati diabetika, sebagai penyebab kebutaan pada usia dewasa muda, kematian
akibat penyakit kardiovaskuler dan stroke sebesar 2-4 kali lebih besar , Nefropati diabetic,
sebagai penyebab utama gagal ginjal terminal, delapan dari 10 penderita diabetes meninggal
akibat kejadian kardiovaskuler dan neuropati diabetik, penyebab utama amputasi non
traumatic pada usia dewasa muda.

Hasil penelitian Ditjen Yanmed Depkes RI pada tahun 2002, diperoleh data bahwa DM
berada di urutan keenam dengan PMR sebesar 3,6% dari sepuluh penyakit utama yang ada
di Rumah Sakit yang menjadi penyebab utama kematian. Dan penelitian Ditjen Yanmed
Depkes pada tahun 2005 menyatakan bahwa DM menjadi penyebab kematian tertinggi pada
pasien rawat inap akibat penyakit metabolik, yaitu sebanyak 42.000 kasus dengan 3.316
kematian (CFR 7,9%).
Berdasarkan penelitian Junita L.R marpaung di RSU Pematang Siantar tahun 20032004 terdapat 143 orang (80,79 %) pasien DM yang berusia 45 tahun dan 34 orang (19,21
%) yang berusia < 45 tahun.26 Menurut penelitian Renova di RS. Santa Elisabeth tahun
2007 terdapat 239 orang (96 %) pasien DM yang berusia 40 tahun dan 10 orang (4 %)
yang berusia < 40 tahun.
b. Menurut Tempat
Di Negara berkembang, Diabetes mellitus sampai sat ini masih merupakan faktor yang
terkait sebagai penyebab kematian sebanyak 4- 5 kali lebih besar. Menurut estimasi data
WHO maupun IDF, prevalensi Diabetes di Indonesia pada tahun 2000 adalah sebesar 5,6
juta penduduk, tetapi pada kenyataannya ternyata didapatkan sebesar 8,2 juta. Tentu saja hal
ini sangat mencengangkan para praktisi, sehingga perlu dilakukan upaya pencegahan secara
komprehensif di setiap sektor terkait.
Pada Tahun 2000, lima Negara dengan jumlah penderita Diabetes mellitus terbanyak
pada kelompok 20-79 tahun adalah India (31,7 juta), Cina (20,8 juta), Amerika (17,7 juta),
Indonesia (8,4 juta), dan Jepang (6,8 juta). Berdasarkan survei lokal, prevalensi DM di Pulau
Bali pada tahun 2004, mencapai angka 7,2%. Pada tahun 2005, di DKI Jakarta telah
dilakukan survei, dan diperoleh prevalensi DM sebesar 12,8%.
Menurut laporan PERKENI tahun 2005 dari berbagai penelitian epidemiologi di
Indonesia, menunjukkan bahwa angka prevalensi DM terbanyak terdapat di kota-kota besar,
antara lain : Jakarta 12,8 %, Surabaya 1,8 %, Makassar 12,5 %,dan Manado 6,7 %.
Sedangkan prevalensi DM terendah terdapat di daerah pedesaan antara lain Tasikmalaya
sebesar 1,8 % dan Tanah Toraja sebesar 0,9 %. Adanya perbedaan prevalensi DM di
perkotaan dengan di pedesaan menunjukkan bahwa gaya hidup mempengaruhi kejadian
DM.
c. Menurut Waktu
Pada tahun 2000, terdapat 2,9 juta kematian akibat DM di dunia, dimana 1,4 juta atau
48,28% kematian terjadi pada pria, dan selebihnya 1,5 juta atau 51,72% pada wanita. Dari
6

jumlah kematian ini, 1 juta atau 34,48% kematian terjadi di negara maju dan 1,9 juta atau
65,52% kematian terjadi di negara berkembang. Pada tahun 2003, WHO menyatakan 194
juta jiwa atau 5,1% dari 3,8 miliar penduduk dunia usia 20-79 tahun menderita Diabetes
mellitus dan tahun 2007 mengalami peningkatan menjadi 7,3%.
Peningkatan angka kesakitan DM dari waktu ke waktu lebih banyak disebabkan oleh
faktor herediter, life style (kebiasaan hidup) dan faktor lingkungannya. WHO menyatakan
penderita DM Tipe 2 sebanyak 171 juta pada tahun 2000 akan meningkat menjadi 366 juta
pada tahun 2030.
Menurut laporan UKPDS, Komplikasi kronis paling utama adalah Penyakit
kardiovaskuler dan stroke, Diabeteic foot, Retinopati, serta nefropati diabetika, Dengan
demikian sebetulnya kematian pada Diabetes terjadi tidak secara Iangsung akibat
hiperglikemianya,

tetapi

berhubungan

dengan

komplikasi

yang

terjadi.

Apabila

dibandingkan dengan orang normal, maka penderita DM 5 x Iebih besar untuk timbul
gangren, 17 x Iebih besar untuk menderita kelainan ginjal dan 25 x Iebih besar untuk
terjadinya kebutaan.
2. Determinan
a. Genetik atau Faktor Keturunan
DM cenderung diturunkan atau diwariskan, dan tidak ditularkan. Faktor genetis
memberi peluang besar bagi timbulnya penyakit DM. Anggota keluarga penderita DM
memiliki kemungkinan lebih besar menderita DM dibandingkan dengan anggota keluarga
yang tidak menderita DM. Apabila ada orangtua atau saudara kandung yang menderita DM,
maka seseorang tersebut memiliki resiko 40 % menderita DM.
DM Tipe 1 lebih banyak dikaitkan dengan faktor keturunan dibandingkan dengan DM
Tipe 2. Sekitar 50 % pasien DM Tipe 1 mempunyai orang tua yang juga menderita DM, dan
lebih dari sepertiga pasien mempunyai saudara yang juga menderita DM. Pada penderita
DM Tipe 2 hanya sekitar 3-5 % yang mempunyai orangtua menderita DM juga.
Pada DM tipe 1, seorang anak memiliki kemungkinan 1:7 untuk menderita DM bila
salah satu orang tua anak tersebut menderita DM pada usia < 40 tahun dan 1:13 bila salah
satu orang tua anak tersebut menderita DM pada usia 40 tahun. Namun bila kedua orang
tuanya menderita DM tipe 1, maka kemungkinan menderita DM adalah 1:2.
b. Umur
DM dapat terjadi pada semua kelompok umur, terutama 40 tahun karena resiko
terkena DM akan meningkat dengan bertambahnya usia dan manusia akan mengalami
7

penurunan fisiologis yang akan berakibat menurunnya fungsi endokrin pankreas untuk
memproduksi insulin. DM tipe 1 biasanya terjadi pada usia muda yaitu pada usia < 40 tahun,
sedangkan DM tipe 2 biasanya terjadi pada usia 40 tahun. Di negara-negara barat
ditemukan 1 dari 8 orang penderita DM berusia di atas 65 tahun, dan 1 dari penderita berusia
di atas 85 tahun.
Menurut penelitian Handayani di RS Dr. Sardjito Yogyakarta (2005) penderita DM
Tipe 1 mengalami peningkatan jumlah kasusnya pada umur < 40 tahun (2,7%), dan jumlah
kasus yang paling banyak terjadi pada umur 61-70 tahun (48 %).32 Menurut hasil penelitian
Renova di RS. Santa Elisabeth tahun 2007 terdapat 239 orang (96%) pasien DM berusia
40 tahun dan 10 orang (4%) yang berusia < 40 tahun.
c. Jenis Kelamin
Perempuan memiliki resiko lebih besar untuk menderita Diabetes Mellitus,
berhubungan dengan paritas dan kehamilan, dimana keduanya adalah faktor resiko untuk
terjadinya penyakit DM. Dalam penelitian Martono dengan desain cross sectional di Jawa
Barat tahun 1999 ditemukan bahwa penderita DM lebih banyak pada perempuan (63%)
dibandingkan laki-laki (37%). Demikian pula pada penelitian Media tahun 1998 di seluruh
rumah sakit di Kota Bogor, proporsi pasien DM lebih tinggi pada perempuan (61,8%)
dibandingkan pasien laki-laki (38,2%).
d. Pola Makan dan Kegemukan (Obesitas)
Perkembangan pola makan yang salah arah saat ini mempercepat peningkatan jumlah
penderita DM di Indonesia. Makin banyak penduduk yang kurang menyediakan makanan
yang berserat di rumah. Makanan yang kaya kolesterol, lemak, dan natrium (antara lain
dalam garam dan penyedap rasa) muncul sebagai tren menu harian, yang ditambah dengan
meningkatnya konsumsi minuman yang kaya gula.
Kegemukan adalah faktor resiko yang paling penting untuk diperhatikan, sebab
meningkatnya angka kejadian DM Tipe 2 berkaitan dengan obesitas. Delapan dari sepuluh
penderita DM Tipe 2 adalah orang-orang yang memiliki kelebihan berat badan. Konsumsi
kalori lebih dari yang dibutuhkan tubuh menyebabkan kalori ekstra akan disimpan dalam
bentuk lemak. Lemak ini akan memblokir kerja insulin sehingga glukosa tidak dapat
diangkut ke dalam sel dan menumpuk dalam peredaran darah. Seseorang dengan IMT
(Indeks Massa Tubuh) 30 kg/m2 akan 30 kali lebih mudah terkena DM dari pada seseorang
dengan IMT normal (22 Kg/m2). Bila IMT 35 Kg/m2, kemungkinan mengidap DM
menjadi 90 kali lipat.
8

e. Aktivitas Fisik
Melakukan aktivitas fisik seperti olahraga secara teratur dapat membuang kelebihan
kalori sehingga dapat mencegah terjadinya kegemukan dan kemungkinan untuk menderita
DM. Pada saat tubuh melakukan aktivitas/gerakan, maka sejumlah gula akan dibakar untuk
dijadikan tenaga gerak. Sehingga sejumlah gula dalam tubuh akan berkurang dan kebutuhan
akan hormon insulin juga akan berkurang. Pada orang yang jarang berolah raga zat makanan
yang masuk ke dalam tubuh tidak dibakar, tetapi hanya akan ditimbun dalam tubuh sebagai
lemak dan gula. Proses perubahan zat makanan dan lemak menjadi gula memerlukan
hormon insulin. Namun jika hormon insulin kurang mencukupi, maka akan timbul gejala
DM.
f. Infeksi
Virus yang dapat memicu DM adalah rubella, mumps, dan human coxsackievirus B4.
Melalui mekanisme infeksi sitolitik (penghancur sel) dalam sel beta pankreas, virus ini
menyebabkan kerusakan atau destruksi sel. Virus ini dapat juga menyerang melalui reaksi
autoimunitas yang menyebabkan hilangnya autoimun dalam sel beta pankreas. Pada kasus
DM Tipe 1 yang sering dijumpai pada anak-anak, seringkali didahului dengan infeksi flu
atau batuk pilek yang berulang-ulang, yang disebabkan oleh virus mumps dan
coxsackievirus. DM akibat bakteri masih belum bisa dideteksi. Namun para ahli kesehatan
menduga bakteri cukup berperan menyebabkan DM.
C. Beban Diabetes Melitus
Sebagai suatu gangguan kesehatan, diabetes memberikan beban besar sebagai masalah
kesehatan dengan melihat bahwa:
1. Gejala-gejala DM sendiri cukup banyak, luas dan berat. Masing-masing gangguan
cukup memberi tantangan dalam mengatasinya. Menghadapi gangguan perasaan lapar
(polifagi) saja, misalnya, suatu bentuk gangguan yang cukup berat dihadapi oleh setiap
pasien, dimana keinginan untuk makan melebihi kemampuan penderita untuk
menahan diri untuk tidak makan.
2. DM merupakan penyakit yang sangat mudah kerjasama dengan penyakit lain. Jika
DM melakukan kerjasama antar sesama kelompok high blood sugar maka mereka
dapat membentuk suatu segitiga raja penyakit DM-cardiovaskular dan stroke. Jumlah
penderita yang sudah bergabung dalam segitiga raja penyakit dengan kadar glukosa
darah tinggi ini telah mencapai 3 juta, tersebar di lebih 50 negara di dunia.
Jika DM memasuki tahap komplikasi, komplikasi DM dapat memasuki semua jalur
sistem tubuh manusia.
9

Gambar 1. Gambaran Segitiga Raja Penyakit, Diabetes bersama dengan Kelompok High
Blood Glucose
High blood glucose

DM

Kolesterol

Hipertensi

CVDkesehatan masyarakat
Stroke
Secara umum DM merupakan beban
yang cukup berat mengingat
e

bahwa:
1. Diabetes tidak bisa disembuhkan, hanya bisa dikendalikan atau dicegat (diperlambat).
DM akan merupakan bagian keseharian seumur hidup seorang penderita.
2. Renta terhadap komplikasi. Keadaan lanjut ini bisa terjadi karena pasien merasa tidak
sakit, sehingga melalaikan pengobatan dan perawatan. Selain itu, tentu terlambat
mengunjungi dokter untuk mendapatkan diagnosis dan pengobatan.
3. Komplikasi DM berat dan bersifat terminak (diakhiri dengan kematian).
4. Bersifat autoimmune yang menurun (DM tipe I).
5. Manifestasinya pada kelompok-kelompok tertentu cukup lebih berat (misalnya pada
kelompok ibu hamil atau berat badan rendah/underweight).

D. Tanda-Tanda Diabetes
Adapun tanda - tanda diabetes mellitus dapat dilihat berdasarkan gejala gejala berikut:
1. Gejala Klinis
* Gejala khas
- Poliuria (sering kencing)
- Poliphagia (cepat lapar)
- Polidipsia (sering haus)
- Lemas
- Berat badan menurun

* Gejala Lain
- Gatal - gatal
- Mata kabur
- gatal di kemaluan (wanita)
- Impotensia
- Kesemutan

2. Gambaran Laboratorium
o
o
o
o

Gula darah sewaktu > 200 mg/dl.


Atau gula darah puasa >126 mg/dl (puasa=tidak ada masukan
Makanan/kalori sejak 10 jam terakhir)
Atau glukosa plasma 2 jam > 200 mg/dl setelah beban glukosa 75 gram.

Sebagai pedoman dalam diagnosis DM, WHO mengeluarkan panduan diagnosis DM,
sesuai Tabel 3.
10

Tabel 3. Rekomendasi WHO Kriteria Diagnosis DM Dan Hiperglikemia Intermediat


Jenis Pemeriksaan
Nilai Normal
Diabetes:
- Glukosa puasa
> 7.0 mmol/l (126 mg/dl), atau
- Glukosa 2 jam pp
> 11.1 mmol/l (200mg/dl)
Impaired Glucose Tolerance (IGT)
- Glukosa puasa
< 7.0 mmol/l (126 mg/dl), dan
- Glukosa 2 jam pp
> 7.8 mmol/l dan < 11.1 mmol/l (140
mg/dl dan 2000 mg/dl)
Impaired Fasting Glucose (IFG)
- Glukosa puasa
6.1-6.9 mmol/l (110-125 mg/dl)
- Glukosa 2 jam pp*
Dan < 7.8 mmol/l (140 mg/dl)
+ Glukosa plasma vena 2 jam setelah makan 75 gram glukosa
*Jika 2 jam pp tidak diukur, status diabetes tidak jelas, dan IGT tidak bisa dikeluarkan.
Sumber: Definition and Diagnosis of DM and Intermediate Hyperglycemia, WHO. 2006
E. Faktor Resiko Diabetes Melitus
Berbagai bentuk faktor resiko DM, seperti modified dan unmodified risk factors, risiko
sosial, ekonomi, lingkungan, genetic dan gizi.
Resiko lingkungan DM berkaitan dengan faktor-faktor:
Geographic variation (ditemukan variasi geografis di berbagai bagaian negeri di Cina).
Temporal variation
Migrant risk in new environment (ditemukan pada kelompok migrant Cina dan jewis).
DM tipe 2 adalah hasil interaksi faktor genetic dan keterpaparan lingkungan. Faktor
genetik akan menentukan individu yang suseptibel atau rentan kena DM. faktor lingkungan
disini berkaitan dengan 2 faktor utama kegemukan (obesitas) dan kurang aktivitas fisik.
Karena itu, kelak kedua faktor ini ternyata kalau dikendalikan akan memberikan hasil yang
efektif dalam pengendalian diabetes.
Bukti peran faktor genetik diperoleh dari penelitian pada anak kembar yang keduanya
beresiko terhadap DM. Pengaruh lingkungan dapat dibuktikan dengan migrant study.
Misalnya, orang Jepang yang pindah ke Hawai lebih tinggi DM-nya dibandingkan mereka
yang tetap di Jepang.
DM tipe 2 ditandai dengan 4 gangguan metabolik utama, yaitu: (1) hiperglikemia
kronik, (2) resistensi insulin, (3) reduksi respons insulin, dan (4) peningkatan pengeluaran
glukosa hepar. Tidak jelas yang mana dari keempatnya yang dulu terjadi. Namun diperkirakan
perkembangan DM 2 melalui tahapan tertentu.
Tahap-tahap perkembangan terjadi tipe 2 DM:
Tahap 1. Genetic susceptibility, sebagai prerequisite
11

Tahap 2. Insuline resistance


Tahap 3. Impaired Glucose Tolerance (IGT)
Tahap 4. DM tipe 2
Kriteria WHO untuk IGT adalah venous plasma glucose level of 7.8-11.0 mmol/l two
hours after a 75g oral glucose load.
Faktor resiko utama DM tipe 2,yaitu:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Genetic: mempunyaib orang tua/keluarga dengan DM tipe 2


Obesitas (terutama central obesity)
Physical inactivity
Pengalaman dengan diabetic intrauterine
Riwayat minum Susu formula (cow milk) pada waktu bayi
Low birth weight (LBW)
Pengalaman dengan diabetic intrauterine ditandai dengan riwayat kehamilan abnormal,
berupa abortus berulang-ulang, lahir mati, malformasi, toxwmia gravidarum, berat badan bayi
lebih 4 kg;, glusuria renal waktu hamil dan diabetics gestational.
Kalau susu sapi di curigai sebagai resiko DM, sebaliknya dengan ASI. ASI eksklusif,
minimal 2 bulan, ternyata berhubungan dengan reduksi 50% DM di kalangan dewasa.
DM tipe 2 memang mempunyai berbagai faktor resiko baik genetic maupun lingkungan.
Berbagai faktor resiko ini sangat penting diperhatikan dalam mencari upaya efektif untuk

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

menahan laju perkembangan ataupun untuk menghentikan peningkatan DM.


Dalam masyarakat, mereka yang kelompok resiko (high risk group) DM;
Usia >45 tahun.
Berat badan lebih (BBR>110% atau IMT >25kg/m).
Hipertensi (>140/90 mmHg).
Ibu dengan riwayat melahirkan bayi >4000 gram
Pernah diabetes sewaktu hamil
Riwayat keturunan DM
Kolesterol HDL <35mg/dl atau trigliserida >250 mg/dl.
Kurang aktivitas fisik.
Faktor resiko ini bervariasi menurut jenis kemungkinan resiko yang diperkirakan akan
terjadi. Resiko bisa dibedakan atas jenis resiko menderita DM dan resiko meninggal akibat
DM. resiko-resiko ini berbeda antarregion, etik dan sosial ekonomi masyarakat.
Dalam kaitannya dengan faktor resiko, dikenal istilah ABC untuk DM yang terdiri dari:
A = A1c
B = Blood pressure
C = Cholesterol
Huruf A = A1c, yakni Hb A1c, glukosa yang terkait pada sel darah merah. Kadar A1c di
dalam darah ini menggambarkan kadar gula darah rata-rata selama 3 bulan. Kadar normal
HbA1c <7%.
B = Blood pressure: 2/3 penderita DM menderita hipertensi. DM tambah hipertensi
mempertinggi resiko komplikasi (jantung, stroke, ginjal dan mata)
12

C = Cholesterol. Peningkatan kolesterol akan menyebabkan penyakit jantung dan


pembuluh darah segera mendampingi DM. kolesterol berbahaya jika tinggi >200mg% dan
HDL <=35mg%.
F. Komplikasi Diabetes Melitus
Seperti telah diungkapkan, hiperglikemia merupakan peran sentran terjadi komplikasi
pada DM. Pada keadaan hiperglikemia, akan terjadi peningkatan jalur polyol, peningkatan
pembentukan Protein Glikasi non enzimakti serta peningkatan proses glikosilasi itu sendiri,
yang menyebabkan peningkatan stress oksidatif dan pada akhirnya menyebabkan komplikasi
baik vaskulopati, retinopati, neuropati ataupun nefropati diabetika. Komplikasi kronis ini
berkaitan dengan gangguan vaskular, yaitu: (a) Komplikasi mikrovaskular; (b) Komplikasi
makrovaskular; dan (c) Komplikasi neurologis.
1. Komplikasi Mikrovaskular
a. Retinopati diabetika
Kecurigaan akan diagnosis DM terkadang berawal dan gejala berkurangnya ketajaman
penglihatan atau gangguan lain pada mata yang dapat mengarah pada kebutaan. Retinopati
diabetes dibagi dalam 2 kelompok, yaitu Retinopati non proliferatif dan Proliferatif.
Retinopati non proliferatif merupkan stadium awal dengan ditandai adanya mikroaneurisma,
sedangkan retinoproliferatif, ditandai dengan adanya pertumbuhan pembuluh darah kapiler,
jaringan ikat dan adanya hipoksia retina. Penyakit DM dapat merusak mata dan menjadi
penyebab utama kebutaan. Setelah mengidap DM selama 15 tahun, rata-rata 2 persen
penderita DM menjadi buta dan 10 persen mengalami cacat penglihatan.
Kerusakan mata akibat DM yang paling sering adalah Retinopati (Kerusakan Retina).
Glukosa darah yang tinggi menyebabkan rusaknya pembuluh darah retina bahkan dapat
menyebabkan kebocoran pembuluh darah kapiler. Darah yang keluar dari pembuluh darah
inilah yang menutup sinar yang menuju ke retina sehingga penglihatan penderita DM
menjadi kabur. Kerusakan yang lebih berat akan menimbulkan keluhan seperti tampak
bayangan jaringan atau sarang laba-laba pada penglihatan mata, mata kabur, nyeri mata, dan
buta.
Pada stadium awal retinopati dapat diperbaiki dengan kontrol gula darah yang baik,
sedangkan pada kelainan sudah lanjut hampir tidak dapat diperbaiki hanya dengan kontrol
gula darah, malahan akan menjadi lebih buruk apabila dilakukan penurunan kadar gula
darah yang terlalu singkat. Selain menyebabkan retinopati, DM juga dapat menyebabkan

13

lensa mata menjadi keruh (tampak putih) yang disebut katarak serta dapat menyebabkan
glaucoma (menyebabkan tekanan bola mata.
b. Nefropati diabetika
Nefropati diabetik (ND) merupakan komplikasi penyakit diabetes mellitus yang
termasuk dalam komplikasi mikrovaskular, yaitu komplikasi yang terjadi pada pembuluh
darah halus (kecil). Hal ini dikarenakan terjadi kerusakan pada pembuluh darah halus di
ginjal. Kerusakan pembuluh darah menimbulkan kerusakan glomerulus yang berfungsi
sebagai penyaring darah. Tingginya kadar gula dalam darah akan membuat struktur ginjal
berubah sehingga fungsinya-pun terganggu. Dalam keadaan normal protein tidak tersaring
dan tidak melewati glomerolus karena ukuran protein yang besar tidak dapat melewati
lubang-lubang glomerulus yang kecil. Namun, karena kerusakan glomerolus, protein
(albumin) dapat melewati glomerolus sehingga dapat ditemukan dalam urin yang disebut
dengan mikroalbuminuria. Nefropati diabetic ditandai dengan adanya proteinuri persisten ( >
0.5 gr/24 jam), terdapat retino pati dan hipertensi. Dengan demikian upaya preventif pada
nefropati adalah kontrol metabolisme dan kontrol tekanan darah.
Penyebab timbulnya gagal ginjal pada diabetes melitus adalah multifaktor, mencakup
faktor metabolik, hormon pertumbuhan dan cytokin, dan faktor vasoaktif. Sebuah penelitian
di Amerika Serikat menyimpulkan bahwa peningkatan mikroalbuminuria berhubungan
dengan riwayat merokok, ras India, lingkar penggang, tekanan sistolik dan diastolik, riwayat
hipertensi, kadar trigliserid, jumlah sel darah putih, riwayat penyakit kardiovaskuler
sebelumnya, riwayat neuropati dan retinopati sebelumnya. Penelitian lain di Inggris
menyimpulkan bahwa faktor risiko nefropati diabetik adalah 1) glikemia dan tekanan darah,
2) ras, 3) diet dan lipid, 4) genetik. Dari sekian banyak faktor-faktor risiko tersebut, tidak
semuanya bisa dijelaskan patofisiologinya, namun beberapa sumber pustaka dan jurnal
menulis pembahasannya kurang lebih sebagai berikut:
1) Faktor Metabolik
Faktor metabolik yang sangat mempengaruhi progresivitas komplikasi diabetes
mellitus adalah hiperglikemi. Mekanismenya secara pasti belum diketahui, namun
hiperglikemi mempengaruhi timbulnya nefropati diabetik melalui tiga jalur, yaitu glikasi
lanjut, jalur aldose reduktase, dan aktivasi protein kinase C (PKC) isoform.
2) Hormon Pertumbuhan dan Cytokin
Disebabkan efek promotif dan proliferatifnya, hormon pertumbuhan dan cytokin
dianggap berperan penting dalam progresivitas gangguan fungsi ginjal akibat diabetes
14

mellitus. Terutama growth hormone (GH) / Insuline like growth factors (IGFs), TGF-s,
dan vascular endothelial growth factors (VEGF) telah diteliti memiliki efek yang
signifikan terhadap penyakit ginjal diabetik.
3) Faktor-faktor vasoaktif
Beberapa hormon vasoaktif seperti kinin, prostaglandin, atrial natriuretik peptide,
dan nitrit oksida, memainkan peranan dalam perubahan hemodinamik ginjal dan
berimplikasi pada inisiasi dan progresi nefropati diabetik.
4) Ras
Bangsa yang paling banyak menderita nefropati diabetik adalah bangsa Asia
Selatan. Mereka memiliki resiko dua kali lipat terkena komplikasi mikroalbuminuria dan
proteinuria.
5) Diet dan Lipid
Beberapa penelitian membuktikan adanya penurunan kadar albumin urin yang
signifikan setelah dilakukan intervensi diet. Hasil penelitian ini konsisten dengan
penelitian lain yang menyatakan bahwa terjadi perubahan kadar albuminuria setelah
dilakukan koreksi glikemik pada DM tipe 2. Perubahan ini mungkin disebabkan karena
perubahan hemodinamik akibat penurunan glikemia dan juga mungkin disebabkan karena
penurunan intake protein. Hubungan antara kadar lipid plasma, albuminuria, dan
gangguan fungsi ginjal juga dilaporkan oleh sebuah penelitian dengan 585 sampel yang
melakukan diet selama 3 tahun dan berhasil menurunkan kadar albuminuria, tetapi kadar
glukosa puasa dan trigliserid bervariasi. Kadar trigliserid juga berhubungan dengan
peningkatan albuminuria dan proteinuria.
6) Genetik
Peran

gen

polimorfisme

Angiotensin

Converting

Enzime

(ACE),

dan

angiotensinogen pada pasien dengan mikroalbuminuria telah dilaporkan oleh sebuah


penelitian dengan 180 sampel. Tidak ada hubungan yang signifikan antara albuminuria
dengan insersi dan delesi dalam gen ACE tetapi kadar albuminuri meningkat pada pasien
homozigot dengan genotip DD. Tetapi penelitian ini belum cukup kuat untuk diambil
sebuah kesimpulan.
7) Riwayat penyakit kardiovaskuler sebelumnya
Nefropati diabetik, yang merupakan suatu penyakit ginjal kronis, merupakan
penyebab terjadinya gagal ginjal terminal yang juga merupakan komplikasi dari penyakit
kardiovaskuler. Mekanisme patogenesis antara penyakit kardiovaskuler dan timbulnya
15

nefropati diabetik belum diketahui dengan pasti. Faktor risiko yang sudah diketahui
menyebabkan timbulnya nefropati diabetik dan penyakit kardiovaskular adalah
hiperglikemi, hipertensi, peningkatan kadar kolesterol LDL, dan albuminuria. Sedangkan
faktor-faktor lain yang diduga merupakan faktor risiko adalah hiperhomosisteinemia,
inflamasi/stres oksidatif, peningkatan produk akhir glikasi, dimetilarginin asimetrik, dan
anemia.
2. Komplikasi Makrovaskular
Penyakit kardiovaskuler/ Stroke/ Dislipidemia, Penyakit pembuluh darah perifer,
Hipertensi timbul akibat aterosklerosis dan pembuluh-pembuluh darah besar, khususnya arteri
akibat timbunan plak ateroma. Makroangioati tidak spesifik pada diabetes, namun pada DM
timbul lebih cepat, lebih seing terjadi dan lebih serius. Berbagai studi epidemiologis
menunjukkan bahwa angka kematian akibat penyakit ,kardiovaskular dan penderita diabetes
meningkat 4-5 kali dibandingkan orang normal.
Komplikasi makroangiopati umumnya tidak ada hubungannya dengan kontrol kadar
gula darah yang balk. Tetapi telah terbukti secara epidemiologi bahwa hiperinsulinemia
merupakan suatu faktor resiko mortalitas kardiovaskular, di mana peninggian kadar insulin
menyebabkan risiko kardiovaskular semakin tinggi pula. kadar insulin puasa > 15 mU/mL
akan meningkatkan risiko mortalitas koroner sebesar 5 kali lipat. Hiperinsulinemia kini
dikenal sebagai faktor aterogenik dan diduga berperan penting dalam timbulnya komplikasi
makrovaskular.
a. Hipertensi
Penderita DM cenderung terkena hipertensi dua kali lipat dibanding orang yang tidak
menderita DM. Hipertensi bisa merusak pembuluh darah. Hipertensi dapat memicu
terjadinya serangan jantung, retinopati, kerusakan ginjal, atau stroke. Antara 35-75%
komplikasi DM disebabkan oleh hipertensi. Faktor-faktor yang dapat mengakibatkan
hipertensi pada penderita DM adalah nefropati, obesitas, dan pengapuran atau pengapuran
atau penebalan dinding pembuluh darah
b. Penyakit Jantung Koroner
DM merusak dinding pembuluh darah yang menyebabkan penumpukan lemak di
dinding yang rusak dan menyempitkan pembuluh darah. Jika pembuluh darah koroner
menyempit, otot jantung akan kekurangan oksigen dan makanan akibat suplai darah yang
kurang. Selain menyebabkan suplai darah ke otot jantung, penyempitan pembuluh darah
16

juga mengakibatkan tekanan darah meningkat, sehingga dapat mengakibatkan kematian


mendadak.
Berdasarkan studi epidemiologis, maka diabetes merupakan suatu faktor risiko
koroner. Ateroskierosis koroner ditemukan pada 50-70% penderita diabetes. Akibat
gangguan pada koroner timbul insufisiensi koroner atau angina pektoris (nyeri dada
paroksismal serti tertindih benda berat dirasakan didaerah rahang bawah, bahu, lengan
hingga pergelangan tangan) yang timbul saat beraktifiras atau emosi dan akan mereda
setelah beristirahat atau mendapat nitrat sublingual.
Akibat yang paling serius adalah infark miokardium, di mana nyeri menetap dan lebih
hebat dan tidak mereda dengan pembenian nitrat. Namun gejala-gejala ini dapat tidak timbul
pada pendenita diabetes sehigga perlu perhatian yang lebih teliti.
c. Stroke
Aterosklerosis serebri merupakan penyebab mortalitas kedua tersering pada penderita
diabetes. Kira-kira sepertiga penderita stroke juga menderita diabetes. Stroke lebih sering
timbul dan dengan prognosis yang lebih serius untuk penderita diabetes. Akibat
berkurangnya aliran atrteri karotis interna dan arteri vertebralis timbul gangguan neurologis
akibat iskemia, berupa: (a) Pusing, sinkop; (b) Hemiplegia: parsial atau total; (c) Afasia
sensorik dan motorik; dan (d) Keadaan pseudo-dementia
d. Ulkus Diabetik
Ulkus adalah luka terbuka pada permukaan kulit atau selaput lendir dan ulkus adalah
kematian jaringan yang luas dan disertai invasif kuman saprofit. Adanya kuman saprofit
tersebut menyebabkan ulkus berbau, ulkus diabetikum juga merupakan salah satu gejala
klinik dan perjalanan penyakit DM dengan neuropati perifer.
Ulkus Diabetik merupakan komplikasi kronik dari Diabetes Melllitus sebagai sebab
utama morbiditas, mortalitas serta kecacatan penderita Diabetes. Kadar LDL yang tinggi
memainkan peranan penting untuk terjadinya Ulkus Uiabetik untuk terjadinya Ulkus
Diabetik melalui pembentukan plak atherosklerosis pada dinding pembuluh darah.
Ulkus kaki Diabetes (UKD) merupakan komplikasi yang berkaitan dengan morbiditas
akibat Diabetes Mellitus. Ulkus kaki Diabetes merupakan komplikasi serius akibat Diabetes.
Faktor utama yang berperan pada timbulnya ulkus Diabetikum adalah angipati,
neuropati dan infeksi.adanya neuropati perifer akan menyebabkan hilang atau menurunnya
sensai nyeri pada kaki, sehingga akan mengalami trauma tanpa terasa yang mengakibatkan
terjadinya ulkus pada kaki gangguan motorik juga akan mengakibatkan terjadinya atrofi
17

pada otot kaki sehingga merubah titik tumpu yang menyebabkan ulsestrasi pada kaki klien.
Apabila sumbatan darah terjadi pada pembuluh darah yang lebih besar maka penderita akan
merasa sakit pada tungkainya sesudah ia berjalan pada jarak tertentu. Adanya angiopati
tersebut akan menyebabkan terjadinya penurunan asupan nutrisi, oksigen serta antibiotika
sehingga menyebabkan terjadinya luka yang sukar sembuh.
e. Penyakit pembuluh darah
Proses awal terjadinya kelainan vaskuler adalah adanya aterosklerosis, yang dapat
terjadi pada seluruh pembuluh darah. Apabila terjadi pada pembuluh darah koronaria, maka
akan meningkatkan risiko terjadi infark miokar, dan pada akhirnya terjadi payah jantung.
Kematian dapat terjadi 2-5 kali lebih besar pada diabetes disbanding pada orang normal.
Risiko ini akan meningkat lagi apabila terdapat keadaan keadaan seperti dislipidemia, obes,
hipertensi atau merokok.
Penyakit pembuluh darah pada diabetes lebih sering dan lebih awal terjadi pada
penderita diabetes dan biasanya mengenai arteri distal (di bawah lutut). Pada diabetes,
penyakit pembuluh darah perifer biasanya terlambat didiagnosis yaitu bila sudah mencapai
fase IV. Faktor-faktor neuropati, makroangiopati dan mikroangiopati yang disertai infeksi
merupakan factor utama terjadinya proses gangrene diabetik. Pada penderita dengan
gangrene dapat mengalami amputasi, sepsis, atau sebagai factor pencetus koma, ataupun
kematian.
3. Neuropati
Umumnya berupa polineuropati diabetika, kompikasi yang sering terjadi pada penderita
DM, lebih 50 % diderita oleh penderita DM. Manifestasi klinis dapat berupa gangguan
sensoris, motorik, dan otonom. Proses kejadian neuropati biasanya progresif di mana terjadi
degenerasi serabut-serabut saraf dengan gejala-gejala nyeri. Yang terserang biasanya adalah
serabut saraf tungkai atau lengan.
Neuropati disebabkan adanya kerusakan dan disfungsi pada struktur syaraf akibat
adanya peningkatan jalur polyol, penurunan pembentukan myoinositol, penurunan Na/K ATP
ase, sehingga menimbulkan kerusakan struktur syaraf, demyelinisasi segmental, atau atrofi
axonal.
Kerusakan saraf adalah komplikasi DM yang paling sering terjadi. Baik penderita DM
Tipe 1 maupun Tipe 2 bisa terkena neuropati. Hal ini bisa terjadi setelah glukosa darah terus
tinggi, tidak terkontrol dengan baik, dan berlangsung sampai 10 tahun atau lebih. Akibatnya

18

saraf tidak bisa mengirim atau menghantar pesan-pesan rangsangan impuls saraf, salah kirim,
atau terlambat dikirim.
Keluhan dan gejala neuropati tergantung pada berat ringannya kerusakan saraf.
Kerusakan saraf yang mengontrol otot akan menyebabkan kelemahan otot sampai membuat
penderita tidak bisa jalan. Gangguan saraf otonom dapat mempercepat denyut jantung dan
membuat muncul banyak keringat. Kerusakan saraf sensoris (perasa) menyebabkan penderita
tidak bisa merasakan nyeri panas, dingin, atau meraba. Kadang-kadang penderita dapat
merasakan kram, semutan, rasa tebal, atau nyeri. Keluhan neuropati yang paling berbahaya
adalah rasa tebal pada kaki, karena tidak ada rasa nyeri, orang tidak tahu adanya infeksi.
4. Gangguan Pada Hati
Banyak orang beranggapan bahwa bila penderita diabetes tidak makan gula bisa bisa
mengalami kerusakan hati (liver). Anggapan ini keliru. Hati bisa terganggu akibat penyakit
diabetes itu sendiri. Dibandingkan orang yang tidak menderita diabetes, penderita diabetes
lebih mudah terserang infeksi virus hepatitis B atau hepatitis C. Oleh karena itu, penderita
diabetes harus menjauhi orang yang sakit hepatitis karena mudah tertular dan memerlukan
vaksinasi untuk pencegahan hepatitis. Hepatitis kronis dan sirosis hati (liver cirrhosis) juga
mudah terjadi karena infeksi tau radang hati yang lama atau berulang. Gangguan hati yang
sering ditemukan pada penderita diabetes adalah perlemakan hati atau fatty liver, biasanya
(hampir 50%) pada penderita diabetes tipe 2 dan gemuk. Kelainan ini jangan dibiarkan karena
bisa merupakan pertanda adanya penimbunan lemak di jaringan tubuh lainnya.
5. Gangguan Saluran Pencernaan
Mengidap DM terlalu lama dapat mengakibatkan urat saraf yang memelihara lambung
akan rusak sehingga fungsi lambung untuk menghancurkan makanan menjadi lemah. Hal ini
mengakibatkan proses pengosongan lambung terganggu dan makanan lebih lama tinggal di
dalam lambung. Gangguan pada usus yang sering diutarakan oleh penderita DM adalah sukar
buang air besar, perut gembung, dan kotoran keras. Keadaan sebaliknya adalah kadangkadang menunjukkan keluhan diare, kotoran banyak mengandung air tanpa rasa sakit perut.
6. TB Paru
Penyebab meningkatnya insiden tuberkulosis paru pada pengidap diabetes dapat berupa
defek pada fungsi sel-sel imun dan mekanisme pertahanan pejamu. Mekanisme yang
mendasari terjadinya hal tersebut masih belum dapat dipahami hingga saat ini, meskipun telah
terdapat sejumlah hipotesis mengenai peran sitokin sebagai suatu molekul yang penting dalam
mekanisme pertahanan manusia terhadap TB. Selain itu, ditemukan juga aktivitas bakterisidal
19

leukosit yang berkurang pada pasien DM, terutama pada mereka yang memiliki kontrol gula
darah yang buruk.
Meningkatnya risiko TB pada pasien DM diperkirakan disebabkan oleh defek pada
makrofag alveolar atau limfosit T. Wang et al.11 mengemukakan adanya peningkatan jumlah
makrofag alveolar matur (makrofag alveolar hipodens) pada pasien TB paru aktif. Namun,
tidak ditemukan perbedaan jumlah limfosit T yang signifikan antara pasien TB dengan DM
dan pasien TB saja. Proporsi makrofag alveolar matur yang lebih rendah pada pasien TB yang
disertai DM, yang dianggap bertanggung jawab terhadap lebih hebatnya perluasan TB dan
jumlah bakteri dalam sputum pasien TB dengan DM.
G. Upaya Pencegahan Diabetes Mellitus
Jumlah penderita DM tiap tahun semakin meningkat (prevalensinya menunjukkan
peningkatan per tahun) dan besarnya biaya pengobatan serta perawatan penderita DM,
terutama akibat-akibat yang ditimbulkannya. Jika telah terjadi komplikasi, usaha untuk
menyembuhkan keadaan tersebut ke arah normal sangat sulit, kerusakan yang terjadi
umumnya akan menetap, maka upaya pencegahan sangat bermanfaat baik dari segi ekonomi
maupun terhadap kesehatan masyarakat.
Usaha pencegahan pada penyakit DM terdiri dari : Pencegahan primordial yaitu
pencegahan kepada orang-orang yang masih sehat agar tidak memilki faktor resiko untuk
terjadinya DM, pencegahan primer yaitu pencegahan kepada mereka yang belum terkena DM
namun memiliki faktor resiko yang tinggi dan berpotensi untuk terjadinya DM agar tidak
timbul penyakit DM, pencegahan sekunder yaitu mencegah agar tidak terjadi komplikasi
walaupun sudah terjadi penyakit, dan pencegahan tersier yaitu usaha mencegah agar tidak
terjadi kecacatan lebih lanjut walaupun sudah terjadi komplikasi.
1. Pencegahan Primordial
Pencegahan

primordial

dilakukan

dalam

mencegah

munculnya

faktor

predisposisi/resiko terhadap penyakit DM. Sasaran dari pencegahan primordial adalah orangorang yang masih sehat dan belum memiliki resiko yang tinggi agar tidak memiliki faktor
resiko yang tinggi untuk penyakit DM. Edukasi sangat penting peranannya dalam upaya
pencegahan primordial. Tindakan yang perlu dilakukan seperti penyuluhan mengenai
pengaturan gaya hidup, pentingnya kegiatan jasmani teratur, pola makan sehat, menjaga
badan agar tidak terlalu gemuk dan menghindari obat yang bersifat diabetagenik.
2. Pencegahan Primer
20

Sasaran dari pencegahan primer adalah orang-orang yang termasuk kelompok resiko
tinggi, yakni mereka yang belum terkena DM, tetapi berpotensi untuk mendapatkan penyakit
DM. pada pencegahan primer ini harus mengenal faktor-faktor yang berpengaruh terhadap
terjadinya DM dan upaya untuk mengeliminasi faktor-faktor tersebut.
Pada pengelolaan DM, penyuluhan menjadi sangat penting fungsinya untuk mencapai
tujuan tersebut. Materi penyuluhan dapat berupa : apa itu DM, faktor-faktor yang berpengaruh
terhadap timbulnya DM, usaha untuk mengurangi faktor-faktor tersebut, penatalaksanaan
DM, obat-obat untuk mengontrol gula darah, perencanaan makan, mengurangi kegemukan,
dan meningkatkan kegiatan jasmani.
a. Penyuluhan
Edukasi DM adalah pendidikan dan latihan mengenai pengetahuan mengenai DM.
Disamping kepada pasien DM, edukasi juga diberikan kepada anggota keluarganya,
kelompok masyarakat beresiko tinggi dan pihak-pihak perencana kebijakan kesehatan.
Berbagai materi yang perlu diberikan kepada pasien DM adalah definisi penyakit DM, faktorfaktor yang berpengaruh pada timbulnya DM dan upaya-upaya menekan DM, pengelolaan
DM secara umum, pencegahan dan pengenalan komplikasi DM, serta pemeliharaan kaki.
b. Latihan Jasmani
Latihan jasmani yang teratur (3-4 kali seminggu selama kurang lebih 30 menit)
memegang peran penting dalam pencegahan primer terutama pada DM Tipe 2. Orang yang
tidak berolah raga memerlukan insulin 2 kali lebih banyak untuk menurunkan kadar glukosa
dalam darahnya dibandingkan orang yang berolah raga. Manfaat latihan jasmani yang teratur
pada penderita DM antara lain:
b.1. Memperbaiki metabolisme yaitu menormalkan kadar glukosa darah dan lipid darah
b.2. Meningkatkan kerja insulin dan meningkatkan jumlah pengangkut glukosa
b.3. Membantu menurunkan berat badan
b.4. Meningkatkan kesegaran jasmani dan rasa percaya diri
b.5. Mengurangi resiko penyakit kardiovaskular
Laihan jasmani yang dimaksud dapat berupa jalan, bersepeda santai, jogging, dan
berenang. Latihan jasmani sebaiknya disesuaikan dengan umur dan status kesegaran jasmani.
c. Perencanaan Pola Makan
Perencanaan pola makan yang baik dan sehat merupakan kunci sukses manajemen DM.
Seluruh penderita harus melakukan diet dengan pembatasan kalori, terlebih untuk penderita

21

dengan kondisi kegemukan. Menu dan jumlah kalori yang tepat umumnya dihitung
berdasarkan kondisi individu pasien.
Perencanaan makan merupakan salah satu pilar pengelolaan DM, meski sampai saat ini
tidak ada satupun perencanaan makan yang sesuai untuk semua pasien, namun ada standar
yang dianjurkan yaitu makanan dengan komposisi yang seimbang dalam karbohidrat, protein,
dan lemak sesuai dengan kecukupan gizi baik sebagai berikut: Karbohidrat = 60-70 %,
Protein = 10-15 %, dan Lemak = 20-25 %.
Jumlah asupan kolesterol perhari disarankan < 300 mg/hari dan diusahakan lemak
berasal dari sumber asam lemak tidak jenuh dan membatasi PUFA (Poly Unsaturated Fatty
Acid) dan asam lemak jenuh. Jumlah kalori disesuaikan dengan pertumbuhan, status gizi,
umur, ada tidaknya stress akut dan kegiatan jasmani.
3. Pencegahan Sekunder
Pencegahan sekunder adalah upaya untuk mencegah atau menghambat timbulnya
komplikasi dengan tindakan-tindakan seperti tes penyaringan yang ditujukan untuk
pendeteksian dini DM serta penanganan segera dan efektif. Tujuan utama kegiatan-kegiatan
pencegahan sekunder adalah untuk mengidentifikasi orang-orang tanpa gejala yang telah sakit
atau penderita yang beresiko tinggi untuk mengembangkan atau memperparah penyakit.
Memberikan pengobatan penyakit sejak awal sedapat mungkin dilakukan untuk
mencegah kemungkinan terjadinya komplikasi menahun. Edukasi dan pengelolaan DM
memegang peran penting untuk meningkatkan kepatuhan pasien berobat.
a. Diagnosis Dini Diabetes Mellitus
Dalam menetapkan diagnosis DM bagi pasien biasanya dilakukan dengan pemeriksaan
kadar glukosa darahnya. Pemeriksaan kadar glukosa dalam darah pasien yang umum
dilakukan adalah :
a.1. Pemeriksaan kadar glukosa darah setelah puasa.
Kadar glukosa darah normal setelah puasa berkisar antara 70-110 mg/dl. Seseorang
didiagnosa DM bila kadar glukosa darah pada pemeriksaan darah arteri lebih dari 126 mg/dl
dan lebih dari 140 mg/dl jika darah yang diperiksa diambil dari pembuluh vena.
a.2. Pemeriksaan kadar glukosa darah sewaktu.
Jika kadar glukosa darah berkisar antara 110-199 mg/dl, maka harus dilakukan test
lanjut. Pasien didiagnosis DM bila kadar glukosa darah pada pemeriksaan darah arteri ataupun
vena lebih dari 200 mg/dl.
a.3. Test Toleransi Glukosa Oral (TTGO).
22

Test ini merupakan test yang lebih lanjut dalam pendiagnosaan DM. Pemeriksaan
dilakukan berturut-turut dengan nilai normalnya : 0,5 jam < 115 mg/dl, 1 jam < 200 mg/dl,
dan 2 jam < 140 mg/dl.
Selain pemeriksaan kadar gula darah, dapat juga dilakukan pemeriksaan HbA1C atau
glycosylated haemoglobin. Glycosylated haemoglobin adalah protein yang terbentuk dari
perpaduan antara gula dan haemoglobin dalam sel darah merah.18 Nilai yang dianjurkan oleh
PERKENI untuk HbA1C normal (terkontrol) 4 % - 5,9 %.17 Semakin tinggi kadar HbA1C
maka semakin tinggi pula resiko timbulnya komplikasi. Oleh karena itu pada penderita DM
kadar HbA1C ditargetkan kurang dari 7 %.
Ketika kadar glukosa dalam darah tidak terkontrol (kadar gula darah tinggi) maka gula
darah akan berikatan dengan hemoglobin (terglikasi). Oleh karena itu, rata-rata kadar gula
darah dapat ditentukan dengan cara mengukur kadar HbA1C. bila kadar gula darah tinggi
dalam beberapa minggu maka kadar HbA1C akan tinggi juga. Ikatan HbA1C yang terbentuk
bersifat stabil dan dapat bertahan hingga 2-3 bulan (sesuai dengan umur eritrosit). Kadar
HbA1C akan menggambarkan rata-rata kadar gula darah dalam jangka waktu 2-3 bulan
sebelum pemeriksaan.19 Jadi walaupun pada saat pemeriksaan kadar gula darah pada saat
puasa dan 2 jam sesudah makan baik, namun kadar HbA1C tinggi, berarti kadar glukosa
darah tetap tidak terkontrol dengan baik.
b. Pengobatan Segera
Intervensi fakmakologik ditambahkan jika sasaran glukosa darah belum tercapai dengan
pengaturan makanan dan latihan jasmani. Dalam pengobatan ada 2 macam obat yang
diberikan yaitu pemberian secara oral atau disebut juga Obat Hipoglikemik Oral (OHO) dan
pemberian secara injeksi yaitu insulin. OHO dibagi menjadi 3 golongan yaitu : pemicu sekresi
insulin (Sulfonilurea dan Glinid), penambah sensitivitas terhadap insulin (Metformin dan
Tiazolidindion), penambah absobsi glukosa (penghambat glukosidase alfa).
Selain 2 macam pengobatan tersebut, dapat juga dilakukan dengan terapi kombinasi
yaitu dengan memberikan kombinasi dua atau tiga kelompok OHO jika dengan OHO tunggal
sasaran kadar glukosa darah belum tercapai. Dapat juga menggunakan kombinasi kombinasi
OHO dengan insulin apabila ada kegagalan pemakaian OHO baik tunggal maupun kombinasi.
4. Pencegahan Tersier
Pencegahan tersier adalah semua upaya untuk mencegah kecacatan akibat komplikasi.
Kegiatan yang dilakukan antara lain mencegah perubahan dari komplikasi menjadi kecatatan
tubuh dan melakukan rehabilitasi sedini mungkin bagi penderita yang mengalami kecacatan.
23

Sebagai contoh, acetosal dosis rendah (80-325 mg) dapat dianjurkan untuk diberikan secara
rutin bagi pasien DM yang sudah mempunyai penyakit makroangiopati.
Dalam upaya ini diperlukan kerjasama yang baik antara pasien pasien dengan dokter
mapupun antara dokter ahli diabetes dengan dokter-dokter yang terkait dengan
komplikasinya. Penyuluhan juga sangat dibutuhkan untuk meningkatkan motivasi pasien
untuk mengendalikan penyakit DM. Dalam penyuluhan ini yang perlu disuluhkan mengenai :
a. Maksud, tujuan, dan cara pengobatan komplikasi kronik diabetes
b. Upaya rehabilitasi yang dapat dilakukan
c. Kesabaran dan ketakwaan untuk dapat menerima dan memanfaatkan keadaan hidup
dengan komplikasi kronik.
Pelayanan kesehatan yang holistik dan terintegrasi antar disiplin terkait juga sangat
diperlukan, terutama di rumah sakit rujukan, baik dengan para ahli sesama disiplin ilmu
seperti konsultan penyakit jantung dan ginjal, maupun para ahli disiplin lain seperti dari
bagian mata, bedah ortopedi, bedah vaskuler, radiologi, rehabilitasi, medis, gizi, pediatri dan
sebagainya.

24

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Diabetes Melitus (DM) atau disingkat Diabetes adalah gangguan kesehatan yang berupa
kumpulan gejala yang disebabkan oleh peningkatan kadar gula (glukosa) darah akibat
kekurangan ataupun resistensi insulin. Berbagai faktor penyebab yang dapat memicu
timbulnya penyakit ini secara umum disebabkan oleh faktor genetik dan faktor lingkungan.
Berdasarkan distribusi terjadinya penyakit ini, insidensi dan prevalensi penyakit ini terus
terjadi peningkatan dari tahun ke tahun dan di perkirakan akan terus meningkat sejalan
dengan perubahan gaya hidup masyarakan modern saat ini.
Berbagai upaya dapat dilakukan untuk menekan laju pertambahan jumlah penderita
diabetes mellitus ini, mulai dari pencegahan primordial pada masyarakat yang belum sakit,
hingga dengan upaya pengendalian dan pengawasan pada penderita diabetes mellitus agar
tidak menjadi berat dan tidak menimbulkan komplikasi. Jika pun komplikasi telah terjadi agar
penderita tetap dapat menjalani hidupnya dan penyakit tersebut tidak dapat menggaggu
kehidupan penderita lebih lanjut.
B. Saran
1. Diharapkan dengan pengetahuan yang bertambah, mahasiswa dapat menekan kejadian
diabetes mellitus ini agar tidak terus bertambah khususnya untuk diri pribadi
2. Diharapkan analisa yang dilakukan dapat memberikan kontribusi pada pembuat
kebijakan, minimal dalam skala pendidikan.
3. Diharapkan pemecahan masalah yang diberikan memberikan keuntungan pada berbagai
pihak tanpa ada unsur yang hanya memberi keuntungan hanya pada pihak tertentu.

25