Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PENDAHULUAN

KISTOMA OVARIUM

Disusun Untuk Memenuhi Laporan Profesi Departemen Maternitas


di RSUD Ngudi Waluyo Wlingi

Oleh :
Dianita Ayu Retnani
105070201131006

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2015

LAPORAN PENDAHULUAN
KISTOMA OVARIUM

1. DEFINISI
Kista adalah kantong berisi cairan, kista seperti balon berisi air, dapat tumbuh di
mana saja dan jenisnya bermacam-macam (Jacoeb, 2007).Kista adalah suatu bentukan
yang kurang lebih bulat dengan dinding tipis, berisi cairan atau bahan setengah cair
(Soemadi, 2006). Kista ovarium merupakan suatu pengumpulan cairan yang terjadi pada
indung telur atau ovarium. Cairan yang terkumpul ini dibungkus oleh semacam selaput yang
terbentuk dari lapisan terluar dari ovarium (Agusfarly, 2008).
Menurut (Winkjosastro, 2005) kistoma ovarii merupakan suatu tumor, baik yang kecil
maupun yang besar, kistik atau padat, jinak atau ganas. Dalam kehamilan, tumor ovarium
yang dijumpai yang paling sering ialah kista dermoid, kista coklat atau kista lutein. Tumor
ovarium yang cukup besar dapat menyebabkan kelainan letak janin dalam rahim atau dapat
menghalang-halangi

masuknya

kepala

ke

dalam

panggul.Kista

ovarium

adalah

pertumbuhan sel yang berlebihan/abnormal pada ovarium yang membentuk seperti kantong.
Kista ovarium secara fungsional adalah kista yang dapat bertahan dari pengaruh hormonal
dengan siklus mentsruasi. (Lowdermilk, dkk. 2005).
2. KLASIFIKASI
Prawirohardjo (2008) menyatakan bahwa berdasarkan tingkat keganasannya, kista
terbagi dua, yaitu nonneoplastik dan neoplastik. Kista nonneoplastik sifatnya jinak dan
biasanya akan mengempis sendiri setelah 2 hingga 3 bulan. Sementara kista neoplastik
umumnya harus dioperasi, namun hal itu pun tergantung pada ukuran dan sifatnya.
1) Kista ovarium non-neoplastik (fungsionil)Kista ovarium secara fungsional merupakan
jenis kista ovarium yang paling banyak ditemukan. Kista ini berasal dari sel telur dan
korpus luteum, terjadi bersamaan dengan siklus menstruasi yang normal. Kista
fungsional akan tumbuh setiap bulan dan akan pecah pada masa subur, untuk
melepaskan sel telur yang pada waktunya siap dibuahi oleh sperma. Setelah pecah,
kista fungsional akan menjadi kista folikuler dan akan hilang saat menstruasi. Kista
fungsional terdiri dari: kista folikel dan kista korpus luteum. Keduanya tidak
mengganggu, tidak menimbulkan gejala dan dapat menghilang sendiri dalam waktu 2-3
bulan.

a. Kista Follikel

Kista ini berasal dari follikel yang menjadi besar semasa proses atresia folliculi.
Setiap bulan sejumlah besar follikel menjadi mati, disertai kematian ovum,
disusul dengan degenerasi dari epitel follikel. Pada masa ini tampaknya sebagai
kista-kista kecil. Tidak jarang ruangan follikel diisi dengan cairan yang banyak,
sehingga terbentuklah kista yang besar, yang dapat ditemukan pada
pemeriksaan klinis. Biasanya besarnya tidak melebihi sebuah jeruk. Sering
terjadi pada pubertas, climacterium, dan sesudah salpingektomi.
b. Kista Lutein
Kista ini dapat terjadi pada kehamilan, lebih jarang di luar kehamilan. Kista lutein
yang sesungguhnya, umumnya berasal dari corpus luteum haematoma.
Perdarahan ke dalam ruang corpus selalu terjadi pada masa vaskularisasi. Bila
perdarahan ini sangat banyak jumlahnya, terjadilah corpus luteum haematoma,
yang berdinding tipis dan berwarna kekuning-kuningan. Secara perlahan-lahan
terjadi resorpsi dari unsur-unsur darah, sehingga akhirnya tinggallah cairan yang
jernih, atau sedikit bercampur darah. Pada saat yang sama dibentuklah jaringan
fibroblast pada bagian dalam lapisan lutein sehingga pada kista corpus lutein
yang tua, sel-sel lutein terbenam dalam jaringan-jaringan perut.
c. Stein Levental ovary
Biasanya kedua ovarium membesar dan bersifat polykistik, permukaan rata,
berwarna keabu-abuan dan berdinding tebal. Pada pemeriksaan mikroskopis
akan tampak tunica yang tebal dan fibrotik. Dibawahnya tampak follikel dalam
bermacam-macam stadium, tetapi tidak ditemukan corpus luteum. Secara klinis
memberikan gejala yang disebut Stein-Leventhal Syndrom, yaitu yang terdiri dari
hirsutisme, sterilitas, obesitas dan oligomenorrhoe. Kecenderungan virilisasi
mungkin disebabkan hyperplasi dari tunica interna yang menghasilkan zat
androgenic. Kelainan ini merupakan penyakit herediter yang autosomal
dominant.
d. Kista Inklusi Germinal
Terjadi oleh karena invaginasi dari epitel germinal dari ovarium. Biasanya terjadi
pada wanita yang lanjut usianya, dan besarnya kurang dari 1 cm. Tidak pernah
memberi gejala-gejala yang berarti.
e. Kista endometrial
Kista yang terbentuk dari jaringan endometriosis (jaringan mirip dengan selaput
dinding rahim yang tumbuh di luar rahim) menempel di ovarium dan berkembang
menjadi kista. Kista ini sering disebut juga sebagai kista coklat endometriosis
karena berisi darah coklat-kemerahan. Kista ini berhubungan dengan penyakit
endometriosis yang menimbulkan nyeri haid dan nyeri senggama. Kista ini
berasal dari sel-sel selaput perut yang disebut peritoneum.
2) Kista ovarium yang neoplastik atau proliferatif
a. Kista ovarium simpleks

Kista ini mempunyai permukaan rata dan halus, biasanya bertangkai, seringkali
bilateral, dan dapat menjadi besar. Dinding kista tipis dan cairan di dalam kista
jernih, serus, dan berwarna kuning. Pada dinding kista tampak lapisan epitel
kubik. Berhubung dengan adanya tangkai, dapat terjadi torsi (putaran tangkai)
dengan gejala-gejala mendadak. Diduga bahwa kista ini suatu jenis kistadenoma
serosum yang kehilangan epitel kelenjarnya berhubung dengan tekanan cairan
dalam kista. Terapi terdiri atas pengangkatan kista dengan reseksi ovarium,
akan tetapi jaringan yang dikeluarkan harus segera diperiksa secara histologik
untuk mengetahui apakah ada keganasan.
b. Kistadenoma Ovarii Musinosum
Asal tumor ini belum diketahui dengan pasti. Menurut Meyer, ia mungkin berasal
dari suatu teratoma di mana dalam pertumbuhannya satu elemen mengalahkan
elemen-elemen lain. Jenis ini dapat mencapai ukuran yang besar. Ukuran yang
terbesar yang pernah dilaporkan adalah 328 pound. Tumor ini mempunyai
bentuk bulat, ovoid atau bentuk tidak teratur, dengan permukaan yang rata dan
berwarna putih atau putih kebiru-biruan.
c. Kistadenoma Ovarii Serosum
Kista ini berasal dari epitel permukaan ovarium (germinal epithelium). Pada
umumnya kista jenis ini tak mencapai ukuran yang amat besar dibandingkan
dengan kistadenoma musinosum. Permukaan tumor biasanya licin, akan tetapi
dapat pula berrbagala karena kista serosum pun dapat berbentuk multilokuler,
meskipun lazimnya berongga satu. Warna kista putih keabu-abuan. Ciri khas
kista ini adalah potensi pertumbuhan papiler ke dalam rongga kista sebesar
50%, dan keluar pada permukaan kista sebesar 5%. Isi kista cair, kuning, dan
kadang-kadang coklat karena campuran darah. Tidak jarang kistanya sendiri
kecil, tetapi permukaannya penuh dengan pertumbuhan papiler (solid papilloma)
d. Kista Endometrioid
Kista ini biasanya unilateral dengan permukaan licin; pada dinding dalam
terdapat satu lapisan sel-sel, yang menyerupai lapisan epitel endometrium. Kista
ini, yang ditemukan oleh Sartesson pada tahun 1969, tidak ada hubungannya
dengan endometriosis ovarii.
e. Kista Dermoid
Sebenarnya kista dermoid ialah satu teratoma kistik yang jinak dimana strukturstruktur ektodermal dengan diferensiasi sempurna, seperti epitel kulit, rambut,
gigi dan produk glandula sebasea berwarna putih kuning menyerupai lemak
nampak lebih menonjol daripada elemen-elemen entoderm dan mesoderm.
Tentang histogenesis kista dermoid, teori yang paling banyak dianut ialah bahwa
tumor berasal dari sel telur melalui proses partenogenesis.Tidak ada ciri-ciri

yang khas pada kista dermoid. Dinding kista kelihatan putih, keabu-abuan, dan
agak tipis. Konsistensi tumor sebagian kistik kenyal, di bagian lain padat.
Sepintas lalu kelihatan seperti kista berongga satu, akan tetapi bila dibelah,
biasanya nampak satu kista besar dengan ruangan kecil-kecil dalam dindingnya.
Pada umumnya terdapat satu daerah pada dinding bagian dalam yang menonjol
dan padat.
3. ETIOLOGI
Penyebab dari kista belum diketahui secara pasti, kemungkinan dari bahan-bahan
yang bersifat karsinogen berupa zat kimia, polutan, hormonal dan lain-lain. Beberapa
literatur menyebutkan bahwa penyebab terbentuknya kista pada ovarium adalah gagalnya
sel telur (folikel) untuk berovulasi. Fungsi ovarium yang normal tergantung kepada sejumlah
hormon dan kegagalan pembentukan salah satu hormon tersebut bisa mempengaruhi fungsi
ovarium. Ovarium tidak akan berfungsi secara normal jika tubuh wanita tidak menghasilkan
hormon hipofisa dalam jumlah yang tepat. Fungsi ovarium yang abnormal kadang
menyebabkan penimbunan folikel yang berbentuk secara tidak sempurna di dalam ovarium.
Folikel tersebut gagal mengalami pematangan dan gagal melepaskan sel telur, karena itu
terbentuk kista di dalam ovarium.
Kista folikel multipel dapat terjadi setelah penggunaan klomifen atau gonadotropin
untuk menginduksi ovulasi (Llewelyn,2001). Peningkatan prevalensi kista ovarium fungsional
diperlihatkan pada wanita yang menggunakan metode progesteron saja. Mc Cann dan
Potter (1994) menyatakan bahwa hal ini dapat terjadi dengan kelanjutan pemakaian dan
membaik jika POP tidak lagi digunakan (Fraser, 2009).
Menurut Winkjosastro (2005), faktor resiko dari kista ovarium adalah sebagai berikut:
a. Faktor genetik/ mempunyai riwayat keluarga dengan kanker ovarium dan payudara.
b. Faktor lingkungan (polutan zat radio aktif)
c. Gaya hidup yang tidak sehat
d. Ketidakseimbangan hormon estrogen dan progesteron, misalnya akibat penggunaan
obat-obatan yang merangsang ovulasi dan obat pelangsing tubuh yang bersifat
diuretik.
e. Kebiasaan menggunakan bedak tabur di daerah vagina
4. PATOFISIOLOGI
Setiap hari, ovarium normal akan membentuk beberapa kista kecil yang disebut
Folikel de Graff. Pada pertengahan siklus, folikel dominan dengan diameter lebih dari 2.8 cm
akan melepaskan oosit mature. Folikel yang rupture akan menjadi korpus luteum, yang pada
saat matang memiliki struktur 1,5 2 cm dengan kista ditengah-tengah. Bila tidak terjadi
fertilisasi pada oosit, korpus luteum akan mengalami fibrosis dan pengerutan secara
progresif. Namun bila terjadi fertilisasi, korpus luteum mula-mula akan membesar kemudian
secara gradual akan mengecil selama kehamilan.

Kista ovari yang berasal dari proses ovulasi normal disebut kista fungsional dan
selalu jinak. Kista dapat berupa folikular dan luteal yang kadang-kadang disebut kista thecalutein. Kista tersebut dapat distimulasi oleh gonadotropin, termasuk FSH dan HCG. Kista
fungsional multiple dapat terbentuk karena stimulasi gonadotropin atau sensitivitas terhadap
gonadotropin yang berlebih. Pada neoplasia tropoblastik gestasional (hydatidiform mole dan
choriocarcinoma) dan kadang-kadang pada kehamilan multiple dengan diabetes, HCg
menyebabkan kondisi yang disebut hiperreaktif lutein. Pasien dalam terapi infertilitas,
induksi ovulasi dengan menggunakan gonadotropin (FSH dan LH) atau terkadang
clomiphene citrate, dapat menyebabkan sindrom hiperstimulasi ovari, terutama bila disertai
dengan pemberian HCG.
Kista neoplasia dapat tumbuh dari proliferasi sel yang berlebih dan tidak terkontrol
dalam ovarium serta dapat bersifat ganas atau jinak. Neoplasia yang ganas dapat berasal
dari semua jenis sel dan jaringan ovarium. Sejauh ini, keganasan paling sering berasal dari
epitel permukaan (mesotelium) dan sebagian besar lesi kistik parsial. Jenis kista jinak yang
serupa dengan keganasan ini adalah kistadenoma serosa dan mucinous. Tumor ovari ganas
yang lain dapat terdiri dari area kistik, termasuk jenis ini adalah tumor sel granulosa dari sex
cord sel dan germ cel tumor dari germ sel primordial. Teratoma berasal dari tumor germ sel
yang berisi elemen dari 3 lapisan germinal embrional; ektodermal, endodermal, dan
mesodermal. Endometrioma adalah kista berisi darah dari endometrium ektopik. Pada
sindroma ovari pilokistik, ovarium biasanya terdiri folikel-folikel dengan multipel kistik
berdiameter 2-5 mm, seperti terlihat dalam sonogram.
5. MANIFESTASI KLINIS
Sebagian besar kista ovarium tidak menimbulkan gejala, atau hanya sedikit nyeri
yang tidak berbahaya. Tetapi adapula kista yang berkembang menjadi besar dan
menimpulkan nyeri yang tajam. Pemastian penyakit tidak bisa dilihat dari gejala-gejala saja
karena mungkin gejalanya mirip dengan keadaan lain seperti endometriosis, radang
panggul, kehamilan ektopik (di luar rahim) atau kanker ovarium. Meski demikian, penting
untuk memperhatikan setiap gejala atau perubahan ditubuh Anda untuk mengetahui gejala
mana yang serius. Berdasarkan (Mansjoer, 2002), gejala-gejala berikut mungkin muncul bila
anda mempunyai kista ovarium:
1. Perut terasa penuh, berat, kembung
2. Tekanan pada dubur dan kandung kemih (sulit buang air kecil)
3. Haid tidak teratur
4. Nyeri panggul yang menetap atau kambuhan yang dapat menyebar ke punggung
5.
6.
7.
8.
9.

bawah dan paha.


Nyeri mendadak dibagian perut bawah
Nyeri pinggul ketika menstruasi
Menstruasi nyang datang terlambat disertai dengan nyeri
Menstruasi yang kadang memanjang dan memendek
Nyeri sanggama

10. Mual, ingin muntah, atau pengerasan payudara mirip seperti pada saat hamil.
6. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Menurut Winkjosastro (2005), pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan pada
klien dengan kista ovarium sebagai berikut:
1. Laparaskopi
Pemeriksaan ini sangat berguna untuk mengetahui apakah sebuah tumor berasal
dari ovarium atau tidak, dan untuk menentukan silat-sifat tumor itu.
2. Ultrasonografi
Pemeriksaan ini dapat ditentukan letak dan batas tumor apakah tumor berasal dari
uterus, ovarium, atau kandung kencing, apakah tumor kistik atau solid, dan
dapatkah dibedakan pula antara cairan dalam rongga perut yang bebas dan yang
tidak.
3. Foto Rontgen
Pemeriksaan ini berguna untuk menentukan adanya hidrotoraks. Selanjutnya, pada
kista dermoid kadang-kadang dapat dilihat gigi dalam tumor. Penggunaan foto
rontgen pada pictogram intravena dan pemasukan bubur barium dalam colon
disebut di atas.
4. Pap smear, untuk mengetahui displosia seluler menunjukan kemungkinan adaya
kanker atau kista.
5. Parasintesis
Pungsi ascites berguna untuk menentukan sebab ascites. Perlu diperhatikan bahwa
tindakan tersebut dapat mencemarkan kavum peritonei dengan isi kista bila dinding
kista tertusuk
7. PENATALAKSANAAN
Berdasarkan Hamylton (2005); Bobak, Lowdermilk, & Jensen

(2004); Winkjosastro

(2005) bahwa penatalaksanaan yang dapat dilakukan pada klien dengan kista ovarium
sebagai berikut:
a. Pengangkatan kista ovarium yang besar biasanya adalah melalui tindakan bedah misal
laparatomi, kistektomi atau laparatomi salpingooforektomi. Tindakan operasi pada tumor
ovarium neoplastik yang tidak ganas ialah pengangkatan tumor dengan mengadakan
reseksi pada bagian ovarium yang mengandung tumor. Akan tetapi jika tumornya besar
atau ada komplikasi, perlu dilakukan pengangkatan ovarium, bisanya disertai dengan
pengangkatan tuba (Salpingo-oovorektomi).
b. Kontrasepsi oral dapat digunakan untuk menekan aktivitas ovarium dan menghilangkan
kista.
c. Perawatan pasca operasi setelah pembedahan untuk mengangkat kista ovarium adalah
serupa dengan perawatan setelah pembedahan abdomen dengan satu pengecualian
penurunan tekanan intra abdomen yang diakibatkan oleh pengangkatan kista yang
besar biasanya mengarah pada distensi abdomen yang berat. Hal ini dapat dicegah
dengan memberikan gurita abdomen sebagai penyangga.

d. Tindakan keperawatan berikut pada pendidikan kepada klien tentang pilihan


pengobatan dan manajemen nyeri dengan analgetik atau tindakan kenyamanan seperti
kompres hangat pada abdomen atau teknik relaksasi napas dalam, informasikan
tentang perubahan yang akan terjadi seperti tanda-tanda infeksi, perawatan insisi luka
operasi.
e. Asuhan post operatif merupakan hal yang berat karena keadaan yang mencakup
keputusan untuk melakukan operasi, seperti hemorargi atau infeksi. Pengkajian
dilakukan untuk mengetahui tanda-tanda vital, asupan dan keluaran, rasa sakit dan
insisi. Terapi intravena, antibiotik dan analgesik biasanya diresepkan. Intervensi
mencakup tindakan pemberiaan rasa aman, perhatian terhadap eliminasi, penurunan
f.

rasa sakit dan pemenuhan kebutuhan emosional Ibu.


Efek anestesi umum. Mempengaruhi keadaan umum penderita, karena kesadaran
menurun. Selain itu juga diperlukan monitor terhadap keseimbangan cairan dan
elektrolit, suara nafas dan usaha pernafasan, tanda-tanda infeksi saluran kemih,
drainese urin dan perdarahan. Perawat juga harus mengajarkan bagaimana aktifitas
pasien di rumah setelah pemulangan, berkendaraan mobil dianjurkan setelah satu
minggu di rumah, tetapi tidak boleh mengendarai atau menyetir untuk 3-4 minggu,
hindarkan mengangkat benda-benda yang berat karena aktifitas ini dapat menyebabkan
kongesti darah di daerah pelvis, aktifitas seksual sebaiknya dalam 4-6 minggu setelah
operasi, kontrol untuk evaluasi medis pasca bedah sesuai anjuran.

8. KOMPLIKASI
Menurut Prawirohardjo (2008), komplikasi dari kista ovarium adalah sebagai berikut:
1). Perdarahan intra tumor
Perdarahan dalam kista biasanya terjadi sedikit demi sedikit, sehingga
berangsur-angsur menyebabkan pembesaran kista, dan hanya menimbulkan
gejala klinik yang minimal. Namun jika perdarahan terjadi secara masif, akan
terjadi distensi cepat dari kista yang menimbulkan nyeri perut mendadak.
2). Putaran tangkai
Putaran tangkai dapat terjadi pada tumor bertangkai dengan diameter >5 cm
akan tetapi belum terlalu besar sehingga terbatas gerakkannya. Kehamilan
dapat mempermudah terjadinya torsi karena pada kehamilan uterus yang
membesar dapat mengubah letak tumor, dan karena sesudah persalinan dapat
terjadi perubahan mendadak pada rongga perut.
Putaran tangkai juga dapat menyebabkan gangguan sirkulasi meskipun
jarang bersifat total. Karena vena lebih mudah tertekan, terjadi pembendungan
darah dalam tumor dengan akibat pembesaran tumor dan terjadi perdarahan
dalam tumor. Jika putaran tangkai terjadi terus, maka dapat terjadi nekrosis

hemoragik dalam tumor yang dapat menimbulkan robekan dinding kista dengan
perdarahan intraabdominal atau peradangan sekunder. Bila putaran tangkai
terjadi perlahan, tumor dapat melekat pada omentum, yang dapat melepaskan
diri dan menjadi tumor parasit.
3). Infeksi pada tumor
Hal ini terjadi jika di sekitar tumor ada sumber patogen. Kista dermoid
cenderung mengalami peradangan disusul dengan pernanahan.
4). Robek dinding kista
Terjadi pada torsi tangkai, trauma (seperti jatuh), pukulan pada perut, dan
lebih sering pada saat persetubuhan. Jika terjadi robekan pada kista disertai
hemoragi yang timbul secara akut, maka perdarahan bebas dapat berlangsung
terus ke dalam rongga peritoneum, dan menimbulkan rasa nyeri terus-menerus
disertai tanda abdomen akut. Robekan dinding pada kistadenoma musinosum
dapat menimbulkan suatu pseudomiksoma peritonii.
5). Perubahan keganasan
Perubahan keganasan dapat terjadi pada beberapa kista jinak, seperti
kistadenoma ovarii serosum, kistadenoma ovarii musinosum, dan kista dermoid.
Sehingga setelah sel-sel tumor tersebut diangkat pada operasi, perlu dilakukan
pemeriksaan mikroskopis untuk mengetahui kemungkinan terjadinya keganasan.
Adanya metastasis dapat memperkuat diagnosis keganasan.
9. ASUHAN KEPERAWATAN
a. Pengkajian
1. Identitas klien
Meliputi nama, umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, agama dan alamat, serta
data penanggung jawab
2. Keluhan klien saat masuk rumah sakit
Biasanya klien merasa nyeri pada daerah perut dan terasa ada massa di daerah
abdomen, menstruasi yang tidak berhenti-henti.
3. Riwayat Kesehatan
a. Riwayat kesehatan sekarang Keluhan yang dirasakan klien adalah nyeri pada
daerah abdomen bawah, ada pembengkakan pada daerah perut, menstruasi yang
tidak berhenti, rasa mual dan muntah.
b. Riwayat kesehatan dahulu
Sebelumnya tidak ada keluhan.
c. Riwayat kesehatan keluarga
Kista ovarium bukan penyakit menular/keturunan.
d. Riwayat perkawinan
Kawin/tidak kawin ini tidak memberi pengaruh terhadap timbulnya kista ovarium.
4. Riwayat kehamilan dan persalinan

Dengan kehamilan dan persalinan/tidak, hal ini tidak mempengaruhi untuk


tumbuh/tidaknya suatu kista ovarium.
5. Riwayat menstruasi
Klien dengan kista ovarium kadang-kadang terjadi digumenorhea dan bahkan
sampai amenorhea.
6. Pemeriksaan Fisik
Dilakukan mulai dari kepala sampai ekstremitas bawah secara sistematis.
a. Kepala
1) Hygiene rambut
2) Keadaan rambut
b. Mata
1) Sklera
: ikterik/tidak
2) Konjungtiva
: anemis/tidak
3) Mata
: simetris/tidak
c. Leher
1) pembengkakan kelenjer tyroid
2) Tekanan vena jugolaris.
d. Dada
e. Pernapasan
1) Jenis pernapasan
2) Bunyi napas
3) Penarikan sela iga
f. Abdomen
1) Nyeri tekan pada abdomen.
2) Teraba massa pada abdomen.
g. Ekstremitas
1) Nyeri panggul saat beraktivitas.
2) Tidak ada kelemahan.
h. Eliminasi, urinasi
1) Adanya konstipasi
2) Susah BAK
7. Data Sosial Ekonomi
Kista ovarium dapat terjadi pada semua golongan masyarakat dan berbagai tingkat
umur, baik sebelum masa pubertas maupun sebelum menopause.
8. Data Spritual
Klien menjalankan kegiatan keagamaannya sesuai dengan kepercayaannya.
9. Data Psikologis
Ovarium merupakan bagian dari organ reproduksi wanita, dimana ovarium sebagai
penghasil ovum, mengingat fungsi dari ovarium tersebut sementara pada klien
dengan kista ovarium yang ovariumnya diangkat maka hal ini akan mempengaruhi
mental klien yang ingin hamil/punya keturunan.
10. Pola kebiasaan Sehari-hari
Biasanya klien dengan kista ovarium mengalami gangguan dalam aktivitas, dan tidur
karena merasa nyeri
11. Pemeriksaan Penunjang
Data laboratorium
a. Pemeriksaan Hb
b. Ultrasonografi Untuk mengetahui letak batas kista.
b. Diagnosa keperawatan

Herdman (2010), kemungkinan diagnosa yang muncul pada pasien dengan kista
ovarium adalah
1)
Nyeri akut b.d agen cedera biologi
2)
Ansietas b.d perubahan status kesehatan
3)
Hambatan mobilisasi fisik b.d kelemahan fisik
4)
Kerusakan integritas jaringan b.d faktor mekanik

DAFTAR PUSTAKA
Bobak, Lowdermilk, & Jensen. 2004. Buku Ajar Keperawatan Maternitas, alih bahasa Maria
A. Wijayarini, Peter I. Anugrah (Edisi 4). Jakarta: EGC.
Fraser, D.2009. Buku Ajar Bidan Myles. Jakarta: EGC
Heardman. (2010). Diagnosa Keperawatan. Jakarta. EGC.
Hefner, Linda J. & Danny J.Schust. 2008. At a Glance Sistem Reproduksi Edisi II. Jakarta :
EMS, Erlangga Medical Series.
Hollingworth., T. Diagnosis Banding dalam Obstetri dan Ginekologi. Jakarta: EGC
Johnson, Meridian Maas, & Sue Moorhead. 2000. Nursing Outcame Clasification. Mosby.
Philadelphia.
Liewellyn-Jones, Derek. 2001. Dasar-dasar obstetri dan ginekologi. Edisi 6. Jakarta :
Hipokrates.
Mansjoer, Arif. 2002. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: Media Aesculapius.
Prawirohardjo, S. 2008. Ilmu kandungan.
Prawirohardjo.

Jakarta : PT Bina Pustaka Sarwono

Sjamjuhidayat & Wim de Jong. 2005. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 2. Jakarta : EGC.
Smelzer & Bare. 2002. Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: EGC.
Williams, Rayburn F. (2005). Obstetri dan Ginekologi. Jakarta: Widya medika.
Winkjosastro, Hanifa, (2005), Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka

c. Rencana Asuhan Keperawatan (Kriteria Hasil, Intervensi, Rasional)


DIAGNOSA
TUJUAN
Nyeri akut b.d Setelah dilakukan
agen
biologi

cedera 3x24

jam

mengontrol

tindakan

diharapkan
nyerinya,

keperawatan

pasien
nyeri

dapat

berkurang

dengan kriteria hasil:


Indikator
1. Pasien

Awal
mampu 3

mengenali

Target
5

faktor

penyebab nyeri
2. Mengenali
onset

nyeri
3. Memberikan
analgesik
(kolaborasi dengan
tim kesehatan lain)
4. Melaporkan kontrol
nyeri
5. Pasien

mampu

melaporkan
nyerinya
6. Klien mengetahui
frekuensi nyeri

INTERVENSI
NIC: Pain Management

RASIONAL
1. Mengetahui kualitas nyeri

pasien
1. Melakukan pengkajian secara komprehensif 2. Dapat mengurangi rasa
mengenai
lokasi,
karakteristik,
lamanya,
cemas dan takut sehingga
frekuensi, kualitas nyeri dan faktor presipitasi
mampu mengurangi rasa
2. Mengobservasi penyebab ketidaknyamanan
sakit
klien secara verbal dan nonverbal
3. Menurunkan nyeri
3. Menyakinkan klien akan pemberian analgesik
4. Komunikasi
terapeutik
4. Menggunakan komunikasi teraupetik untuk
mampu
menurunkan
mengetahui pengalaman nyeri pasien
kecemasan
5. Mengkaji dampak dari pengalaman nyeri (ggg
5. Mengetahui
kondisi
tidur, ggg hubungan)
ketidaknyamanan
klien
6. Mengontrol
faktor
lingkungan
yang
yang
kemungkinan
menyebabkan klien merasa tidak nyaman
(ruangan, temperatur, cahaya)
7. Instruksikan pasien untuk melakukan teknik

mampu

mengagnggu

kualitas hidupnya
6.
Meminimalkan
nyeri
relaksasi seperti bimbingan imajinasi, nafas
dengan
menciptakan
dalam
lingkungan nyaman
7. Meningkatkan relaksasi

Keterangan:
1: tidak pernah menunjukan
2: jarang menunjukan
3: kadang-kadang menunjukan
4: sering menunjukan
Kecemasan

5: konsisten menunjukan
Setelah Dilakukan Tindakan Keperawatan

b.d

3x24 Jam Diharapkan kecemasan menurun

perubahan

dengan kriteria hasil sebagai berikut:

peran
status
kesehatan

dan

Indikator
1. Klien

Awal
mampu 3

Target
5

mengidentifikasi
dan
mengungkapkan
gejala cemas
2. Mengidentifikasi,

1.

Jelaskan semua prosedur dan apa yang

2.

dirasakan selama prosedur


Temani pasien untuk memberikan keamanan

3.

dan mengurangi takut


Berikan informasi faktual mengenai diagnosis,

4.
5.

tindakan prognosis
Libatkan keluarga untuk mendampingi klien
Instruksikan pada pasien untuk menggunakan

6.
7.
8.

tehnik relaksasi
Dengarkan dengan penuh perhatian
Identifikasi tingkat kecemasan
Bantu pasien mengenal situasi

9.

menimbulkan kecemasan
Dorong
pasien
untuk

mengungkapkan
dan

menunjukkan

tehnik

mengontol cemas
3. Vital sign dalam
3

wajah, 3

batas normal
4. Postur
tubuh,
ekspresi

selama

kecemasan

tindakan

untuk

kesehatan klien
2. Mengalihkan
perhatian
dengan

berbincang-

bincang
3. Mengurangi kecemasan
4. Keluarga
dapat
memberikan kenyamanan

yang

pada pasien
5. Untuk
meningkatkan
kenyamanan

mengungkapkan

perasaan, ketakutan, persepsi

untuk

1. Mengurangi

dan

mengurangi kecemasan

bahasa tubuh dan


tingkat

aktivitas

menunjukkan
berkurangnya
kecemasan
Keterangan:
1: keluhan ekstrim
2: keluhan berat
3: keluhan sedang
4: keluhan ringan
Hambatan

5: tak ada keluhan


Setelah Dilakukan Tindakan Keperawatan

1.

Monitoring vital sign sebelm/sesudah latihan

2.

dan lihat respon pasien saat latihan


Ajarkan pasien atau tenaga kesehatan lain

3.
4.

tentang teknik ambulasi


Kaji kemampuan pasien dalam mobilisasi
Latih pasien dalam pemenuhan kebutuhan

5.

ADLs secara mandiri sesuai


kemampuan
Ajarkan pasien bagaimana merubah posisi

mobilitas fisik 3x24 Jam Diharapkan hambatan mobilitas


b.d
kelemahan
fisik

fisik dapat teratasi dengan kriteria hasil


sebagai berikut:
Indikator
1. Klien

Awal
meningkat 3

Target
5

dalam aktivitas fisik


2. Mengerti
tujuan
dari

peningkatan

mobilitas
3. Memverbalisasikan
perasaan

dalam

meningkatkan

dan berikan bantuan jika diperlukan

1. Mengetahui

status

kemampuan klien dalam


latihan ambulasi
2. Merubah posisi mencegah
dekubitus

kekuatan

dan

kemampuan
berpindah
Keterangan:
1: keluhan ekstrim
2: keluhan berat
3: keluhan sedang
4: keluhan ringan
Kerusakan

5: tak ada keluhan


Setelah Dilakukan Tindakan Keperawatan

integritas

3x24 Jam Diharapkan Integritas Jaringan

jaringan

b.d Baik Dengan Kriteria Hasil Segabai Berikut:

faktor
mekanik

Indikator
1.
Integritas

Kulit

Yang

Bisa

Baik

Awal
3

Target
5

Dipertahankan

Perfusi

4.
5.
6.
7.
8.

Hidrasi,
Jaringan

Baik
3. Menunjukan Proses 3

karakteristik,warna

1.

Mengurangi penekanan

2.
3.
4.

daerah luka
Mengurangi kelembapan
Menjaga kebersihan luka
Untuk
mempercepat

5.
6.

penyembuhan luka
Memungkinkan infeksi
Mengetahui
sejauh
mana

cairan, granulasi,

jaringan nekrotik, tanda-tanda infeksi lokal


9. Ajarkan pada keluarga tentang luka dan
perawatan luka
10. Lakukan tehnik perawatan luka

Pigmentasi)
2.

2.
3.

Anjurkan pasien untuk menggunakan


pakaian yang longgar
Hindari kerutan pada tempat tidur
Jaga kebersihan kulit agar tetap bersih
dan kering
Anjurkan pasien untuk melakukan mobilisasi
Monitor kulit akan adanya kemerahan
Monitor aktivitas dan mobilisasi pasien
Monitor status nutrisi pasien
Observasi luka : lokasi, dimensi, kedalaman
luka,

(Sensasi, Elastisitas,
Temperatur,

1.

7.

klien

dapat

melakukan mobilisasi
Protein
menyebabkan
percepatan

8.

penyembuhan luka
Mengetahui kondisi luka

9.

untuk perbaikan luka


Mempercepat granulasi
luka

Perbaikan Kulit
4.

Mempertahankan

Kelembaban Kulit
5.

Menunjukkan

Terjadinya

Proses

penyembuhan luka

Keterangan:
1: keluhan ekstrim
2: keluhan berat
3: keluhan sedang
4: keluhan ringan
5: tak ada keluhan