Anda di halaman 1dari 20

HASIL PENYULUHAN

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH CIAWI BOGOR


TAHUN 2014

Oleh:
Alita palpialy
406127128
Pembimbing:
dr. Victoria Juliana Trisno
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS TARUMANAGARA
PERIODE 28 APRIL 2014 15 JUNI 2014

KERANGKA ACUAN PENATALAKSANAAN PENYULUHAN


HERNIA NUCLEUS PULPOSUS
DI RSUD CIAWI, KABUPATEN BOGOR
A.PENDAHULUAN
Rumah sakit merupakan salah satu organisasi pemberi jasa kemasyarakatan yang semakin
dituntut untuk bekerja secara profesional sesuai dengan standar pelayanan yang telah ditentukan.
Rumah sakit juga mempunyai kewajiban terhadapat peningkatan pengetahuan kesehatan
masyarakat di sekitar rumah sakit, sebagai salah satu bagian dari usaha promotif kesehatan.
HNP adalah suatu keadaan di mana sebagian atau seluruh nukleus pulposus mengalami
penonjolan ke dalam kanalis spinalis.
Nukleus pulposus adalah gel viskus yang terdiri dari proteoglikan yang mengandung kadar air
yang tinggi. Nukleus pulposus memiliki fungsi menahan beban sekaligus sebagai bantalan.
Dengan bertambahnya usia kemampuan nukleus pulposus menahan air sangat berkurang
sehingga diskus mengerut, terjadi penurunan vaskularisasi sehingga diskus menjadi kurang
elastis. Pada diskus yang sehat, nukleus pulposus akan mendistribusikan beban secara merata ke
segala arah, namun nukleus pulposus yang mengerut akan mendistribusikan beban secara
asimetris, akibatnya dapat terjadi cedera atau robekan pada anulus sehingga timbul keluhann
nyeri yang sesuai dengan penjalaran saraf yang terkena

A. TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM (TIU)


Setelah mengikuti kegiatan penyuluhan tentang Hernia Nucleus Pulposus, diharapkan
masyarakat memahami tentang arti Tuberkulosis paru, penyebab dan pengobatan penyakit TB
paru.

B. TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS (TIK)


Setelah mengikuti kegiatan penyuluhan, diharapkan masyarakat dapat mengerti tentang:

Definisi dari Hernia Nucleus Pulposus

Penyebab dan faktor risiko dari Hernia Nucleus Pulposus

Gejala gejala yang timbul pada Hernia Nucleus Pulposus

Pengobatan dan pencegahan dari Hernia Nucleus Pulposus

C. MATERI
Terlampir

D. METODE

Ceramah

Tanya jawab

E. KEGIATAN
Kegiatan penyuluhan dilaksanakan dalam bentuk penyampaian materi melalui ceramah
oleh pembicara dan tanya jawab.
Rincian kegiatan:
1. Pelaksana

: Coass

2. Tempat: Ruang tunggu poliklinik RSUD Ciawi


3. Waktu

: 11.30 s/d 12.00 WIB

4. Pendamping

: dr. Victoria Juliana Trisno

F. CARA PELAKSANAAN KEGIATAN

Menetukan waktu dan tempat kegiatan

Menentukan tempat pembicara

Meyiapkan materi dan peralatan penyuluhan

Pelaksanaan kegiatan sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan

G. SASARAN

Terlaksananya kegiatan penyuluhan sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan


Peserta yang hadir mengerti dan memahami materi yang disampaikan pada penyuluhan
Hernia Nucleus Pulposus

H. MATERI DAN DAFTAR HADIR


Terlampir

I. TANYA JAWAB DARIPADA AUDIENCE


Terlampir

LAPORAN PENYULUHAN DI RSUD CIAWI


MATERI PENYULUHAN

: Hernia Nucleus Pulposus

HARI/TANGGAL/JAM

: Rabu/ 4 juni 2014 / PK 11.30-12.00 WIB

TEMPAT

: RUANG TUNGGU POLIKLINIK RSUD CIAWI

PESERTA

: Pasien poliklinik

PENDAMPING

: dr. Victoria Juliana Trisno

A. KEGIATAN PENYULUHAN
NO. LANGKAH KEGIATAN
1
Kegiatan Pendahulan:

WAKTU

Mengucapkan salam, memperkenalkan diri, dan menjelaskan 3 menit


2

tentang tujuan penyuluhan


Kaitan Kegiatan Pokok:
a) Menyampaikan

tentang

definisi

dari

HNP,penyebab

HNP,Faktor risiko terjadinya HNP, tanda dan gejala HNP,


Pengobatan dan pencegahan HNP.
b) Memberikan kesempatan kepada peserta untuk mengajukan
pertanyaan, akan apa yang belum dipahami dan diketahui,

20 menit

sebagai bahan evaluasi.


c) Menjawab pertanyaan dengan memberikan penjelasan terhadap
setiap pertanyaan yang diajukan.
d) Diskusi tanya jawab.
3

Kegiatan penutup:
a) Menarik kesimpulan secara lisan.

2 menit

b) Mengucapkan salam dan terima kasih.


Jumlah :

25 menit

B. EVALUASI KEGIATAN PENYULUHAN


Peserta penyuluhan tertarik mengikuti penyuluhan tentang Hernia Nucleus Pulposus
yang dapat dilihat dengan:
1. Peserta mendengarkan penyuluhan dengan seksama dan mau mengikuti jalannya
penyuluhan sampai selesai
2. Peserta banyak yang bertanya, sehingga terjadi interaksi tanya jawab antara pemberi
penyuluhan dengan peserta.
3. Peserta mengerti dan memahami tentang isi dari penyuluhan, dan mau menerapkan dalam
kehidupannya.

SOAL JAWAB :
1. bagaimana membedakan nyeri karena HNP dengan penyakit ginjal?
2. pengobatan apa yang cocok dengan pasien yang alergi dengan obat anti nyeri?
3. mengapa nyeri pada HNP hanya pada posisi yang sebelah saja?
4. berapa lama tirah baring pada pasien HN?
5. apakah HNP harus dioperasi?

Jawaban Pertanyaan
1. nyeri karena HNP terasa menggigit,terus menerus dan penjaran nyerinya sesuai
dengan arah saraf yang kejepit, kalau nyeri karena penyakit ginjal nyerinya kumatkumatan dan hilang timbul serta ada gejala di saluran kencing
2. lakukan fisioterapi dengan kombinasi olahraga dengan stress minimal seperti
berenang
3. nyeri pada HNP disebabkan karena terjepitnya saraf sehingga jika hanya satu
saraf yang terjepit maka nyeri hanya dibagian itu saja
4.tirah baring untuk pasien HNP 2-3 hari,tidak dianjurkan tirah baring yang
terlalu lama karena akan menyebabkan ulkus pada daerah yang tertekan
5. 70% HNP di obati dengan non bedah tetapi ada beberapa kondisi yang
membutuhkan

pembedahan

seperti

adanya

gangguan

neurologis

seperti

kelumpuhan or baal pada lengan atau tungkai dan terjadi gangguan BAB dan BAK
selama 1 minggu.

TINJAUAN PUSTAKA

DEFINISI
Hernia Nukleus Pulposus (HNP) adalah penyakit yang disebabkan oleh trauma atau
perubahan degeneratif yang menyerang massa nukleus pada daerah vertebra L4-L5, L5-S1, atau
C5-C6 yang menimbulkan nyeri punggung bawah yang berat, kronik dan berulang atau kambuh.
Hernia Nukleus Pulposus (HNP) adalah menonjolnya nukleus dari diskus ke dalam anulus
(cincin fibrosa sekitar diskus) dengan akibat kompresi saraf.
Hernia Nukleus Pulposus (HNP) adalah herniasi atau penonjolan keluar dari nukleus pulposus
yang terjadi karena adanya degenerasi atau trauma pada anulus fibrosus.
Herniasi adalah suatu proses bertahap yang ditandai dengan serangan-serangan penekanan akar
syaraf yang menimbulkan berbagai gejala dan periode penyesuaian anatomik.
Nukleus Pulposus adalah bantalan seperti bola dibagian tengah diskus (lempengan kartilago yang
membentuk sebuah bantalan diantara tubuh vertebra).
Diskus Intervertebralis adalah lempengan kartilago yang membentuk sebuah bantalan diantara
tubuh vertebra. Material yang keras dan fibrosa ini digabungkan dalam satu kapsul. Bantalan
seperti bola dibagian tengah diskus disebut nukleus pulposus. HNP merupakan rupturnya
nukleus pulposus.
Hernia Nukleus Pulposus bisa ke korpus vertebra diatas atau bawahnya, bisa juga langsung ke
kanalis vertebralis.
Dari beberapa pengertian diatas, penulis dapat menyimpulkan bahwa yang dimaksud dengan
Hernia Nukleus Pulposus (HNP) adalah penyakit yang disebabkan oleh proses degeneratif atau
trauma yang ditandai dengan menonjolnya nukleus pulposus dari diskus ke dalam anulus yang
menimbulkan kompresi saraf sehingga terjadi nyeri punggung bawah yang berat, kronik dan
berulang (kambuh). HNP yang sering disebut pula sebagai slipped disc adalah terjebol atau
menonjolnya nukleus pulposus dari tempatnya semula melalui bagian terlemah dari discus.

Kelainan mekanik yang berkaitan dengan LBP


kronik

ETIOLOGI
Radiculopathy merujuk pada setiap penyakit yang mengenai pusat syaraf tulang
belakang. Herniated disk adalah salah satu penyebab radiculopathy (sciatica). Kebanyakan
hernia terjadi di bagian punggung bawah (daerah lumbar) pada punggung. Lebih dari 80%
piringan yang hernia terjadi di punggung bagian bawah. Paling sering terjadi pada orang berusia
30 sampai 50 tahun. diantara usia ini, pelindung tersebut melemah. Bagian dalam, yang dibawah
tekanan tinggi, bisa menekan melalui sebuah sobekan atau bintik yang melemahkan pada
penutup dan menonjol keluar. Setelah usia 50 tahun, bagian dalam piringan tersebut mulai
mengeras, membuat hernia sedikit mungkin. Sebuah piringan bisa sobek secara tiba-tiba, luka
trauma atau luka berulang. Obesitas ataupun mengangkat benda berat, terutama mengangkat
beban dengan posisi yang tidak semestinya dapat meningkatkan resiko tersebut.
Lumbar disk herniation terjadi 15 kali lebih sering dibandingkancervical disk herniation, dan ini
adalah salah satu penyebab yang paling umum pada nyeri punggung belakang. Cervical disk
mengenai 8% setiap kali dan upper-to-mid-back disk (thoracic) hanya 1-2 % setiap kali.

Faktor Risiko
1. Faktor risiko yang tidak dapat dirubah
1.

Umur: makin bertambah umur risiko makin tinggi

2.

Jenis kelamin: laki-laki lebih banyak dari wanita

3.

Riwayat cedera punggung atau HNP sebelumnya


2. Faktor risiko yang dapat dirubah

1.

Pekerjaan dan aktivitas : duduk yang terlalu lama, mengangkat atau menarik barang-barang
berat, sering membungkuk atau gerakan memutar pada punggung, latihan fisik yang berat,
paparan pada vibrasi yang konstan seperti supir.

2.

Olahraga yang tidak teratur, mulai latihan setelah lama tidak berlatih, latihan yang berat
dalam jangka waktu yang lama.

3.

Merokok. Nikotin dan racun-racun lain dapat mengganggu kemampuan diskus untuk
menyerap nutrien yang diperlukan dari dalam darah.

4.

Berat badan berlebihan, terutama beban ekstra di daerah perut dapat menyebabkan strain
pada punggung bawah.

5.

Batuk lama dan berulang

KLASIFIKASI
a. Hernia Lumbosacralis
Penyebab terjadinya lumbal menonjol keluar, bisanya oleh kejadian luka posisi fleksi, tapi
perbandingan yang sesungguhnya pada pasien non trauma adalah kejadian yang berulang. Proses
penyusutan nukleus pulposus pada ligamentum longitudinal posterior dan annulus fibrosus dapat
diam di tempat atau ditunjukkan/dimanifestasikan dengan ringan, penyakit lumbal yang sering
kambuh.
Bersin, gerakan tiba-tiba, biasa dapat menyebabkan nucleus pulposus prolaps, mendorong
ujungnya/jumbainya dan melemahkan anulus posterior. Pada kasus berat penyakit sendi, nucleus
menonjol keluar sampai anulus atau menjadi extruded dan melintang sebagai potongan bebas
pada canalis vertebralis. Lebih sering, fragmen dari nucleus pulposus menonjol sampai pada
celah anulus, biasanya pada satu sisi atau lainnya (kadang-kadang ditengah), dimana mereka
mengenai menimpa sebuah serabut atau beberapa serabut syaraf. Tonjolan yang besar dapat
menekan serabut-serabut saraf melawan apophysis artikuler.

b. Hernia Servikalis
Keluhan utama nyeri radikuler pleksus servikobrakhialis. Penggerakan kolumma vertebralis
servikal menjadi terbatas, sedang kurvatural yang normal menghilang. Otot-otot leher spastik,
kaku kuduk, refleks biseps yang menurun atau menghilang Hernia ini melibatkan sendi antara
tulang belakang dari C5 dan C6 dan diikuti C4 dan C5 atau C6 dan C7. Hernia ini menonjol
keluar posterolateral mengakibatkan tekanan pada pangkal syaraf. Hal ini menghasilkan nyeri
radikal yang mana selalu diawali gejala-gejala dan mengacu pada kerusakan kulit.

c. Hernia Thorakalis
Hernia ini jarang terjadi dan selalu berada digaris tengah hernia. Gejala-gejalannya terdiri dari
nyeri radikal pada tingkat lesi yang parastesis. Hernia dapat menyebabkan melemahnya anggota
tubuh bagian bawah, membuat kejang paraparese kadang-kadang serangannya mendadak dengan
paraparese.
Penonjolan pada sendi intervertebral toracal masih jarang terjadi (menurut love dan schorm 0,5
% dari semua operasi menunjukkan penonjolan sendi). Pada empat thoracal paling bawah atau
tempat yang paling sering mengalami trauma jatuh dengan posisi tumit atau bokong adalah
faktor penyebab yang paling utama.
PATOGENESIS
HNP dapat terjadi tiba-tiba ataupun perlahan-lahan. Empat langkah terjadinya HNP adalah:
1)

degenerasi discus: perubahan kimia yang terkait dengan usia menyebabkan discus
menjadi lemah.

2)

Prolapse: bentuk ataupun posisi dari diskus dapat berubah yang ditunjukkan dengan
adanya penonjolan ke spinal canal.
Hal ini sering pula disebut dengan bulge atau protrusion.

3)

Extrusion: nucleus pulposus keluar melalui robekan dari annulus fibrosus.

4)

Sequestration atau Sequestered Disc: nucleus pulposus keluar dari annulus fibrosus dan

menempati sisi luar dari discus yaitu pad


Lokasi HNP dapat bermanifestasi pada keadaan klinis yang berbeda tergantung dari arah ekstrusi
dari nucleus pulposus:

1.

Bila menjebolnya nukleus ke arah anterior, hal ini tidak mengakibatkanya munculnya
gejala yang berat kecuali nyeri.

2.

Bila menonjolnya nukleus ke arah dorsal medial maka dapat menimbulkan penekanan
medulla spinalis dengan akibatnya gangguan fungsi motorik maupun sensorik pada
ektremitas, begitu pula gangguan miksi dan defekasi yang bersifat UMN.

3.

Bila menonjolnya ke arah lateral atau dorsal lateral, maka hal ini dapat menyebabkan
tertekannya radiks saraf tepi yang keluar dari sana dan menyebabkan gejala neuralgia
radikuler.

4.

Kadangkala protrusi nukleus terjadi ke atas atau ke bawah masuk ke dalam korpus
vertebral dan disebut dengan nodus Schmorl.

PATOFISIOLOGI
Hernia Nukleus Pulposus (HNP) dapat disebabkan oleh proses degeneratif dan trauma yang
diakibatkan oleh ( jatuh, kecelakaan, dan stress minor berulang seperti mengangkat benda berat)
yang berlangsung dalam waktu yang lama. Diskus intervertebralis merupakan jaringan yang
terletak antara kedua tulang vertebra, yang dilingkari oleh anulus fibrosus yang terdiri atas
jaringan konsentrik dan fibrikartilago dimana didalamnya terdapat substansi setengah cair.
Substansi inilah yang dinamakan dengan Nukleus Pulposus yang mengandung berkas-berkas
serat kolagenosa, sel jaringan ikat, dan sel tulang rawan. Bahan ini berfungsi sebagai peredamkejut (shock absorver) antara korpus vertebra yang berdekatan, dan juga berperan penting dalam
pertukaran cairan antara diskus dan kapiler. Diskus intervertebra ini membentuk sekitar
seperempat dari panjang keseluruhan kolumna vertebralis. Diskus paling tipis terletak di regio
lumbalis. Seiring dengan bertambahnya usia, kandungan air diskus berkurang (dari 90% pada
masa bayi menjadi 70% pada lanjut usia) dan diskus menjadi lebih tipis sehingga resiko
terjadinya HNP menjadi lebih besar. Kehilangan protein polisakarida dalam diskus menurunkan
kandungan air nukleus pulposus.
Perkembangan pecahan yang menyebar di anulus melemahkan pertahanan pada herniasi
nukleus.Selain itu serat-serat menjadi lebih kasar dan mengalami hialinisasi,yang ikut berperan
menimbulkan perubahan yang menyebabkan HNP melalui anulus disertai penekanan saraf
spinalis. Dalam herniasi diskus intervertebralis, nukleus dari diskus menonjol kedalam anulus
(cincin fibrosa sekitar diskus) dengan akibat kompresi saraf. Kehilangan protein polisakarida
dalam diskus menurunkan kandungan air nukleus pulposus. Perkembangan pecahan yang
menyebar di anulus melemahkan pertahanan pada herniasi nukleus. Setelah trauma (jatuh,
kecelakaan, dan stress minor berulang seperti mengangkat beban berat dalam waktu yang lama)

kartilago dapat cedera, kapsulnya mendorong kearah medulla spinalis atau mungkin ruptur dan
memungkinkan nukleus pulposus terdorong terhadap saraf spinal saat muncul dari kolumna
spinal.
Sebagian besar herniasi diskus (proses bertahap yang ditandai serangan-serangan penekanan akar
saraf) terjadi di daerah lumbal di antara ruang lumbal IV ke V (L4 ke L5), atau lumbal kelima
(L5 ke S1), hal ini terjadi karena daerah inilah yang paling berat menerima tumpuan berat badan
kita pada saat beraktivitas. Arah tersering herniasi bahan Nukleus pulposus adalah posterolateral.
Karena akar saraf daerah lumbal miring kebawah sewaktu keluar melalui foramen saraf, herniasi
diskus antara L5 dan S1 lebih mempengaruhi saraf S1 daripada L5.
Hernia Nukleus Pulposus yang menyerang vertebra lumbalis biasanya menyebabkan nyeri
punggung bawah yang hebat, mendesak, menetap beberapa jam sampai beberapa minggu, rasa
nyeri tersebut dapat bertambah hebat bila batuk, bersin atau membungkuk, dan biasanya
menjalar mulai dari punggung bawah ke bokong sampai tungkai bawah. Parastesia yang hebat
mugkin terjadi sesudah gejala nyeri menurun, deformitas berupa hilangnya lordosis lumbal atau
skoliosis, mobilitas gerakan tulang belakang berkurang (pada stadium akut gerakan pada bagian
lumbal sangat terbatas, kemudian muncul nyeri pada saat ekstensi tulang belakang), nyeri tekan
pada daerah herniasi dan bokong (paravertebral), klien juga biasanya berdiri dengan sedikit
condong ke satu sisi.
Apabila kondisi ini berlangsung terus menerus dapat meninbulkan komplikasi antara lain berupa
radiklitis (iritasi akar saraf), cedera medulla spinalis, parestese, kelumpuhan pada tungkai bawah.
MANIFESTASI KLINIS
Gejala utama yang muncul adalah rasa nyeri di punggung bawah disertai otot-otot sekitar lesi
dan nyeri tekan. Hal ini desebabkan oleh spasme otot-otot tersebut dan spasme menyebabkan
penekanan pada saraf, neuron saraf menjadi terjepit lalu timbul reaksi zat kimia/bioaktif
(serotonin , bradikinin dan prostaglandin). Zat-zat tersebut merupakan reseptor nyeri sehingga
timbul rasa nyeri pada diri pasien.
Dimana nyeri tersebut terjadi tergantung dimana piringan tersebut mengalami herniasi dan
dimana pusat syaraf tulang punggung terkena. Nyeri tersebut terasa sepanjang lintasan syaraf
yang tertekan oleh piringan yang turun berok. Misal, piring hernia umumya menyebabkan
sciatica. Nyeri tersebut bervariasi dari ringan sampai melumpuhkan, dan gerakan memperhebat
nyeri tersebut. kaku dan kelemahan otot bisa juga terjadi. Jika tekanan pada pusat syaraf besar,
kaki kemungkinan lumpuh. Jika cauda equina (berkas syaraf melebar dari bagian bawah tali

tersebut) terkena, pengendalian kantung kemih dan isi perut bisa hilang. Jika gejala-gejala serius
ini terjadi, perawatan medis diperlukan dengan segera.
Pusat syaraf (syaraf besar yang bercabang keluar dari tali tulang belakang) bisa menjadi tertekan
mengakibatkan gejala-gejala neurological, seperti perubahan sensor atau gerak.
Manifestasi klinis HNP tergantung dari radiks saraf yang lesi. Gejala klinis yang paling sering
adalah iskhialgia (nyeri radikuler sepanjang perjalanan nervus iskhiadikus). Nyeri biasanya
bersifat tajam seperti terbakar dan berdenyut menjalar sampai di bawah lutut. Bila saraf sensorik
yang besar (A beta) terkena akan timbul gejala kesemutan atau rasa tebal sesuai dengan
dermatomnya. Pada kasus berat dapat terjadi kelemahan otot dan hilangnya refleks tendon patela
(KPR) dan Achills (APR). Bila mengenai konus atau kauda ekuina dapat terjadi gangguan miksi,
defekasi dan fungsi seksual.
Sindrom kauda equina dimana terjadi saddle anasthesia sehingga menyebabkan nyeri kaki
bilateral, hilangnya sensasi perianal (anus), paralisis kandung kemih, dan kelemahan sfingter ani.
Sakit pinggang yang diderita pun akan semakin parah jika duduk, membungkuk, mengangkat
beban, batuk, meregangkan badan, dan bergerak. Istirahat dan penggunaan analgetik akan
menghilangkan sakit yang diderita.

a. Henia Lumbosakralis
Gejala pertama biasanya low back pain yang mula-mula berlangsung dan periodik kemudian
menjadi konstan. Rasa nyeri di provokasi oleh posisi badan tertentu, ketegangan hawa dingin dan
lembab, pinggang terfikasi sehingga kadang-kadang terdapat skoliosis. Gejala patognomonik
adalah nyeri lokal pada tekanan atau ketokan yang terbatas antara 2 prosesus spinosus dan
disertai nyeri menjalar kedalam gluteus dan tungkai. Low back pain ini disertai rasa nyeri yang
menjalar ke daerah iskhias sebelah tungkai (nyeri radikuler) dan secara refleks mengambil sikap
tertentu untuk mengatasi nyeri tersebut, sering dalam bentuk skilosis lumbal.
Syndrom Perkembangan lengkap syndrom sendi intervertebral lumbalis yang prolaps terdiri :
1. Kekakuan/ketegangan, kelainan bentuk tulang belakang.
2. Nyeri radiasi pada paha, betis dan kaki
3. Kombinasi paresthesiasi, lemah, dan kelemahan refleks.
Nyeri radikuler dibuktikan dengan cara sebagai berikut :
1. Cara Kamp. Hiperekstensi pinggang kemudian punggung diputar kejurusan tungkai yang
sakit, pada tungkai ini timbul nyeri.

2. Tess Naffziger. Penekanan pada vena jugularis bilateral.


3. Tes Lasegue. Tes Crossed Laseque yang positif dan Tes Gowers dan Bragard yang positif.
Gejala-gejala radikuler lokasisasinya biasanya di bagian ventral tungkai atas dan bawah. Refleks
lutut sering rendah, kadang-kadang terjadi paresis dari muskulus ekstensor kuadriseps dan
muskulus ekstensor ibu jari.
b. Hernia servicalis
1. Parasthesi dan rasa sakit ditemukan di daerah extremitas (sevikobrachialis)
2. Atrofi di daerah biceps dan triceps
3. Refleks biceps yang menurun atau menghilang
4. Otot-otot leher spastik dan kaku kuduk.
c. Hernia thorakalis
1. Nyeri radikal
2. Melemahnya anggota tubuh bagian bawah dapat menyebabkan kejang paraparesis
3. Serangannya kadang-kadang mendadak dengan paraplegia
PEMERIKSAAN FISIK
1.

Inspeksi

Perhatikan cara berjalan, berdiri, duduk

Inspeksi daerah punggung. Perhatikan jika ada lurus tidaknya, lordosis, ada tidak jalur

spasme otot para vertebral? deformitas? kiphosis? gibus?


2.

Palpasi

Palpasi sepanjang columna vertebralis (ada tidaknya nyeri tekan pada salah satu procesus
spinosus, atau gibus/deformitas kecil dapat teraba pada palpasi atau adanya spasme otot para
vertebral)
PEMERIKSAAN NEUROLOGI
Tujuan pemeriksaan ini adalah untuk memastikan apakah kasus nyeri pinggang bawah adalah
benar karena adanya gangguan saraf atau karena sebab yang lain.
1. Pemeriksaan sensorik
Bila nyeri pinggang bawah disebabkan oleh gangguan pada salah satu saraf tertentu maka
biasanya dapat ditentukan adanya gangguan sensorik dengan menentukan batas-batasnya,
dengan demikian segmen yang terganggu dapat diketahui.

2. Pemeriksaan motorik
Dengan mengetahui segmen otot mana yang lemah maka segmen mana yang terganggu akan
diketahui, misalnya lesi yang mengenai segmen L4 maka musculus tibialis anterior akan
menurun kekuatannya.
3. Pemeriksaan reflek
Reflek tendon akan menurun pada atau menghilang pada lesi motor neuron bawah dan
meningkat pada lesi motor atas. Pada nyeri punggung bawah yang disebabkan HNP maka reflek
tendon dari segmen yang terkena akan menurun atau menghilang
4. Tes-tes
a.

Tes lasegue (straight leg raising)

Tungkai difleksikan pada sendi coxae sedangkan sendi lutut tetap lurus. Saraf ischiadicus akan
tertarik. Bila nyeri pinggang dikarenakan iritasi pasa saraf ini maka nyeri akan dirasakan pada
sepanjang perjalanan saraf ini, mulai dari pantat sampai ujung kaki.
b.

Crossed lasegue

Bila tes lasegue pada tungkai yang tidak sakit menyebabkan rasa nyeri pada tungkai yang sakit
maka dikatakan crossed lasegue positif.Artinya ada lesi pada saraf ischiadicus atau akar-akar
saraf yang membentuk saraf ini.
c.

Tes kernig

Sama dengan lasegue hanya dilakukan dengan lutut fleksi, setelah sendi coxa 900 dicoba untuk
meluruskan sendi lutut.
d.

Patrick sign (FABERE sign)

FABERE merupakan singkatan dari fleksi, abduksi, external, rotasi, extensi. Pada tes ini
penderita berbaring, tumit dari kaki yang satu diletakkan pada sendi lutut pada tungkai yang lain.
Setelah ini dilakukan penekanan pada sendi lutut hingga terjadi rotasi keluar. Bila timbul rasa
nyeri maka hal ini berarti ada suatu sebab yang non neurologik misalnya coxitis.
e.

Chin chest maneuver

Fleksi pasif pada leher hingga dagu mengenai dada. Tindakan ini akan mengakibatkan
tertariknya myelum naik ke atas dalam canalis spinalis. Akibatnya maka akar-akar saraf akan
ikut tertarik ke atas juga, terutama yang berada di bagian thorakal bawah dan lumbal atas. Jika
terasa nyeri berarti ada gangguan pada akar-akat saraf tersebut
PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK

1. Rontgen Spinal : Memperlihatkan perubahan degeneratif pada tulang belakang dan ruang
invertebratalis dan dapat digunakan untuk mengesampingkan kecurigaan patologis lain seperti
tumor atau osteomielitis.
2. MRI : untuk melokalisasi protrusi diskus kecil sekalipun terutama untuk penyakit spinal
lumbal, serta menunjukkan adanya perubahan tulang dan jaringan lunak yang dapat
memperkuat bukti adanya discus.
3. CT Scan dan Mielogram jika gejala klinis dan patologiknya tidak terlihat pada MRI.
Mielogram menentukan lokasi dan ukuran herniasi secara spesifik.
4. Elektromiografi (EMG) : untuk melokalisasi radiks saraf spinal khusus / melihat adanya
polineuropati. Pemeriksaan ini dapat melokolisasi lesi pada tingkat akar saraf spinal utama
yang terkena.
5. Venogram epidura : dilakukan pada kasus dimana keakuratan dari miogram terbatas.
6. Pungsi lumbal : mengesampingkan kondisi yang berhubungan, infeksi, adanya darah.
7. Tanda LeSeque : dengan mengangkat kaki lurus keatas,dapat mendukung diagnosa awal dari
herniasi diskus intervetebra ketika muncul nyeri pada kaki posterior.
8. Pemeriksaan urine : menyingkirkan kelainan pada saluran kencing.
9. LED : menyingkirkan adanya diagnosa banding tumor ganas, infeksi, dan penyakit Reumatik.
PENATALAKSANAAN
Setelah sekitar 2 minggu, kebanyakan orang sembuh tanpa pengobatan apapun. Memberikan
kompres dingin (seperti ice pack) untuk nyeri yang akut dan panas (seperti heating pad) untuk
nyeri yang kronik. Dapat pula menggunakan analgesik OTC bisa membantu meringankan nyeri
tersebut. kadangkala operasi untuk mengangkat bagian atau seluruh piringan dan bagian tulang
belakang diperlukan. Pada 10 % sampai 20% orang yang mengalami operasi untuk sciatica
disebabkan piringan hernia, piringan lain pecah.
Penatalaksanaan pada klien dengan Hernia Nukleus Pulposus (HNP) adalah :
1. Pemberian obat-obatan seperti analgetik, sedatif (untuk mengontrol kecemasan yang sering
ditimbulkan oleh penyakit diskus vertebra servikal), relaksan otot, anti inlamasi atau
kortikosteroid untuk mengatasi proses inflamasi yang biasanya terjadi pada jaringan penyokong
dan radiks saraf yang terkena, antibiotik diberikan pasca operasi untuk mengurangi resiko infeksi
pada insisi pembedahan .

2. Prosedur pembedahan.
a.

Laminektomi, adalah eksisi pembedahan untuk mengangkat lamina dan memungkinkan ahli

bedah spinalis, mengidentifikasi dan mengangkat patologi dan menghilangkan kompresi medulla
dan radiks, laminektomi juga berarti eksisi vertebra posterior dan umumnya dilakukan untuk
menghilangkan tekanan atau nyeri akibat HNP.
b.

Disektomi, adalah mengangkat fragmen herniasi atau keluar dari diskus intervertebral.

c.

Laminotomi, adalah pembagian lamina vertebra.

d. Disektomi dengan peleburan- graft tulang (dari krista iliaka atau bank tulang) yang
digunakan untuk menyatukan dengan prosesus spinosus vertebra ; tujuan peleburan spinal adalah
untuk menjembatani diskus defektif untuk menstabilkan tulang belakang dan mengurangi angka
kekambuhan.
e.

Traksi lumbal yang bersifat intermitten.

f.

Interbody Fusion (IF) merupakan penanaman rangka Titanium yang berguna untuk

mempertahankan dan mengembalikan tulang ke posisi semula.


3. Fisioterapi
a.

Immobilisasi

Immobilisasi dengan menggunakan traksi dan brace. Hal ini dilakukan agar tidak terjadi
pergerakan vertebra yang akan memperparah HNP.
b. Traksi
Traksi servikal yang disertai dengan penyanggah kepala yang dikaitkan pada katrol dan beban.
Hal ini dilakukan untuk menjaga kestabilan vertebra servikalis.
c. Meredakan Nyeri
Kompres hangat dapat dilakukan untuk mengurangi nyeri. Kompres hangat menimbulkan
vasodilatasi sehingga tidak terjadi kekakuan pada daerah vertebra.
Komplikasi
1. kelumpuhan pada ekstremitas bawah
2. cedera medula spinalis
3. radiklitis (iritasi akar saraf)
4. parestese
5. disfungsi seksual
6. hilangnya fungsi pengosongan VU dan sisa pencernaan.

Prognosa
Umumnya prognosa baik dengan pengobatan yang konservatif. Presentasi rekurensi dari keadaan
ini sangat kecil. Tetapi kadang-kadang pada sebagian orang memerlukan waktu beberapa bulan
sampai beberapa tahun untuk memulai lagi aktivitasnya tanpa disertai rasa nyeri dan tegang pada
tulang belakang. Keadaan tertentu (misalnya dalam bekerja) yang mengharuskan pengangkatan
suatu benda maka sebaiknya dilakukan modifikasi untuk menghindari rekurensi nyeri pada
tulang belakang. Kebanyakan pasien penderita HNP 80-90% akan membaik keadaannya kepada
aktivitas normal tanpa terapi yang agresif, dan dapat sembuh sempurna dalam hitungan kira-kira
1-2 bulan. Tetapi sebagian kecil akan berlanjut menjadi kronik nyeri punggung bawah walaupun
telah menjalani terapi. Dan bila berlanjut dengan adanya keluhan pada kontrol bowel dan
bladder maka perlu dipikirkan kembali untuk dilakukan tindakan bedah.
PENCEGAHAN
Bekerja atau melakukan aktifitas dengan aman, menggunakan teknik yang aman. Mengontrol
berat badan bisa mencegah trauma punggung atau pinggang pada beberapa orang.

PROSES PELAKSANAAN PENYULUHAN HERNIA NUCLEUS PULPOSUS