Anda di halaman 1dari 11

LABORATORIUM PENGOLAHAN LIMBAH INDUSTRI

SEMESTER GENAP TAHUN AJARAN 2014/2015

MODUL

: Pengolahan Air Limbah Secara Anaerobik

PEMBIMBING

: Herawati Budiastuti, Ph.D.

Tanggal Praktikum : 24 Maret 2015


Tanggal Penyerahan : 31 Maret 2015
(Laporan)

Oleh :
Kelompok

Nama, NIM :

Kelas

VIII (Delapan)
1. Abdussalam Topandi

,121424001

2. Pria Gita Maulana

,121424024

3. Sarah Eka Putri D

,121424030

3A

PROGRAM STUDI DIPLOMA IV TEKNIK KIMIA PRODUKSI BERSIH


JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
2015

PENGOLAHAN AIR LIMBAH SECARA ANAEROBIK


I.

Pendahuluan
1.1. Latar Belakang
Metode pengolahan air limbah secara anaerobik merupakan metode pengolahan untuk
air limbah yang mempunyai kandungan organik tinggi ( 2000 mg/L). Dengan tingginya
kandungan organik biasanya pengolahan secara aerobik tidak dapat berlangsung dengan
efisisen karena waktu yang dibutuhkan untuk dekomposisi bahanbahan organik terlalu lama
dan ukuran reaktor yang dibutuhkan terlalu besar. Pengolahan anaerobik juga ditujukan untuk
menghasilkan biogas yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi. Pengolahan anaerobik
membutuhkan bakteri anaerobik yang pertumbuhannya sangat lambatdan penjagaan kondisi
kedap oksigen bebas yang cukup ketat. Dengan demikian tahap persiapan penumbuhan
bakteri anaerobik (tahap start-up) merupakan salah satu kendala dalam implementasi
pengolahan air limbah secara anaerobik. Penjagaan kondisi kedap oksigen bebas
membutuhkan penanganan khusus dan biaya yang tidak murah. Maka dalam aplikasi di
industri pengolahan anaerobic biasanya dikombinasikan dengan pengolahan aerobik.
1.2. Tujuan

II.

Menentukan konsentrasi kandungan organik (COD) dalam efluen.


Menentukan kandungan MLVSS efluen yang mewakili kandungan mikroorganisme
dalam reaktor.

Tinjauan Pustaka
Proses pengolahan air limbah secara biologi dapat dilakukan secara aerobik dan
secara anaerobik. Pada pengolahan air limbah secara aerobik mikroorganisme
pendekomposisi bahan-bahan organik dalam air limbah membutuhkan oksigen bebas (O2)
dalam sistem pengolahannya. Dalam pengolahan air limbah secara aerobic, mikroorganisme
mengoksidasi dan mendekomposisi bahan-bahan organik dalam air limbah dengan
menggunakan oksigen yang disuplai oleh aerasi dengan bantuan enzim dalam
mikroorganisme. Pada waktu yang sama mikroorganisme mendapatkan energi sehingga
mikroorganisme baru dapat bertumbuh.
Pada dasarnya, pertumbuhan mikroba dalam peralatan pengolah air limbah terdapat
dua macam pertumbuhan mikroorganisme, yaitu pertumbuhan tersuspensi dan pertumbuhan
terlekat. Pertumbuhan tersuspensi (suspended growth) merupakan pertumbuhan dimana
mikroba pendegradasi bahan-bahan organik bercampur merata dengan air limbah dalam
peralatan pengolah limbah, sedangkan pertumbuhan terlekat (attached growth) merupakan
pertumbuhan mikroba yang melekat pada bagian pengisi yang terdapat pada peralatan
pengolah air limbah. Contoh pengolah limbah secara anaerobik yang menggunakan sistem

pertumbuhan mikroba tersuspensi diantaranya yaitu Laguna Anaerobik dan Up-Flow


Anaerobic Sludge Blanket. Sedangkan Filter Anaerobik dan Anaerobic Fluidized Bed
Reactor merupakan contoh peralatan pengolahan air limbah/reaktor yang menggunakan
sistem pertumbuhan mikroba terlekat secara anaerobik. Contoh peralatan pengolahan aerobic
diantaranya yaitu Lumpur Aktif dan Laguna Teraerasi. Sedangkan reaktor yang
menggunakan sistem pertumbuhan mikroba terlekat secara aerobik diantaranya yaitu
Trickling Filter dan Rotating Biological Contactor.
Berdasarkan jumlah tahapan reaksi daldam pengolahan secara anaerobik terdapat dua
macam sistem pengolahan yaitu Pengolahan Satu Tahap dan Pengolahan Dua Tahap. Dalam
Pengolahan Satu Tahap semua reaksi pengolahan secara anaerobik yakni hidrolisis,
asetogenesis, dan metanogenesis berlangsung dalam satu reaktor. Sedangkan dalam
Pengolahan Dua Tahap reaksi hidrolisis berlangsung daldam reaktor pertama dan reaksi
asetogenesis dan metanogenesis berlangsung daldam reaktor kedua. Reaksi hidrolisis dijaga
pada pH 5,8, reaksi asetogenesis dan metanognesis dijaga pada pH netral. Dengan pemisahan
tahapan reaksi yang berlangsung pada rentang pH yang berbeda maka Pengolahan Dua Tahap
diharapkan akan terjadi pengolahan air limbah dengan efisiensi yang lebih tinggi. Secara
skematis tiga tahapan reaksi degradasi air limbah secara anaerobic ditunjukan pada gambar
dibawah ini:

Lingkungan memiliki pengaruh besar terhadap laju pertumbuhan mikroorganisme


baik pada proses aerobik maupun anaerobik. Faktor-faktor yang mempengaruhi proses
anaerobik antara lain: temperatur, pH, konsentrasi substrat dan zat beracun.

Temperatur

Gas dapat dihasilkan jika suhu antara 4 60C dan suhu dijaga konstan. Bakteri akan
menghasilkan enzim yang lebih banyak pada temperatur optimum. Semakin tinggi
temperatur reaksi juga akan semakin cepat tetapi bakteri akan semakin berkurang. Proses
pembentukan metana bekerja pada rentang temperatur 30-40C, tapi dapat juga terjadi pada
temperatur rendah, 4C. Laju produksi gas akan naik 100-400% untuk setiap kenaikan
temperatur 12C pada rentang temperatur 4-65C. Mikroorganisme yang berjenis
thermophilic lebih sensitif terhadap perubahan temparatur daripada jenis mesophilic. Pada
temperatur 38C, jenis mesophilic dapat bertahan pada perubahan temperatur 2,8C. Untuk
jenis thermophilic pada suhu 49C, perubahan suhu yang dizinkan 0,8C dan pada
temperatur 52C perubahan temperatur yang dizinkan 0,3C.

pH (keasaman)

Bakteri penghasil metana sangat sensitif terhadap perubahan pH. Rentang pH


optimum untuk jenis bakteri penghasil metana antara 6,4 7,4. Bakteri yang tidak
menghasilkan metana tidak begitu sensitif terhadap perubahan pH, dan dapat bekerja pada
pH antara 5 hingga 8,5. Karena proses anaerobik terdiri dari dua tahap yaitu tahap
pambentukan asam dan tahap pembentukan metana, maka pengaturan pH awal proses sangat
penting. Tahap pembentukan asam akan menurunkan pH awal. Jika penurunan ini cukup
besar akan dapat menghambat aktivitas mikroorganisme penghasil metana. Untuk
meningkatkat pH dapat dilakukan dengan penambahan kapur.

Konsentrasi Substrat

Sel mikroorganisme mengandung Carbon, Nitrogen, Posfor dan Sulfur dengan


perbandingan 100 : 10 : 1 : 1. Untuk pertumbuhan mikroorganisme, unsur-unsur di atas harus
ada pada sumber makanannya (substart). Konsentrasi substrat dapat mempengaruhi proses
kerja mikroorganisme. Kondisi yang optimum dicapai jika jumlah mikroorganisme
sebanding dengan konsentrasi substrat. Kandungan air dalam substart dan homogenitas
sistem juga mempengaruhi proses kerja mikroorganisme. Karena kandungan air yang tinggi
akan memudahkan proses penguraian, sedangkan homogenitas sistem membuat kontak antar
mikroorganisme dengan substrat menjadi lebih intim.

Zat Beracun

Zat organik maupun anorganik, baik yang terlarut maupun tersuspensi dapat menjadi
penghambat ataupun racun bagi pertumbuhan mikroorganisme jika terdapat pada konsentrasi
yang tinggi. Untuk logam pads umumnya sifat racun akan semakin bertambah dengan
tingginya valensi dan berat atomnya. Bakteri penghasil metana lebih sensitif terhadap racun
daripada bakteri penghasil asam.

Air limbah beserta mikroba tersuspensi dalam air limbah tersebut biasa disebut
dengan mixed liquor. Untuk mengetahui kuantitas mikroba tersuspensi pendekomposisi atau
pendegradasi air limbah maka ditentukan dengan mengukur kandungan padatan tersuspensi
yang mudah menguap (mixed liquor volatile suspended solids/MLVSS) dalam reaktor.
III.

Metodologi Praktikum
3.1. Alat dan Bahan

Alat yang digunakan

2 buah labu erlenmeyer 250 ml


2 buah corong gelas
2 buah cawan porselen
1 buah desikator
1 buah neraca analitis
1
Bahan kimia yang digunakan
Nama bahan
Glukosa
NH4HCO3
KH2PO4
NaHCO3
K2HPO4
Trace Metal Solution
MgSO4.7H2O
Trace Metal Solution
FeCl3
CaCl2
KCl
CoCl2
NiCl2
FAS
Indikator Ferroin
Kertas saring

3.2. Prosedur Kerja

Tahap Percobaan

1 buah oven
1 buah furnacee
1 buah hach COD digester
2 buah tabung hach
buah buret , klem, dan statif
Konsentrasi
(g/L)
2,0
0,15
0,15
0,5
0,5
5,0
5,0
5,0
5,0
1,0
1,0
( 3 tetes)
-

Volume
(mL)
1
1

Lakukan
aklimatisasi
mikroba

Tentukan
konsentrasi
COD awal
reaktor

Tentukan
konsentrasi
COD umpan

Tentukan
konsentrasi
COD efluen

Lakukan
percobaan
inti

Tentukan
MVLSS

Catat total
gas
terbentuk

Penentuan COD Sampel

Dinginkan,
titrasi dengan
FAS & ferroin
Masukkan
tabung Hach
pada digester,
panaskan
150 oC
Masukkan
2.5 ml
sampel, 1.5
ml kalium
bikromat,
3.5 ml asam
sulfat

Penentuan MLVSS

Lakukan
untuk
aquadest
sebagai
blanko

Panaskan cawan pijar, T=600ooC, t=1


jam
Panaskan kertas saring, T=105ooC, t=
1 jam
Dinginkan dalam desikator
Timbang berat cawan & kertas saring
hingga konstan
Saring 40 ml air limbah
IV.

Data Praktikum

Data percobaan COD


Sampel

Volume Penitran (ml)

Reaktor 1
Reaktor 2
Blanko

1,666
1,776
2,160

Volume Penitran
(ml)
1,660
1,780
2,164

Data percobaan MLVSS


Reaktor 1
Berat cawan pijar + kertas saring sebelum dipanaskan = 34,4060 gram
Berat cawan pijar + kertas saring sesudah dipanaskan = 33,4918 gram
Reaktor 2
Berat cawan pijar + kertas saring sebelum dipanaskan = 41,4137 gram
Berat cawan pijar + kertas saring sesudah dipanaskan = 40,4919 gram

V.

Pengolahan Data

Rata-rata
(ml)
1,663
1,778
2,162

5.1. Perhitungan COD


COD reactor 1

( ab ) c x 1000 x d x p
ml sampel

( 2,1621,663 ) x 0,25 x 1000 x 8 x 20


2,5

= 7984 mg/l
COD reactor 2

( ab ) c x 1000 x d x p
ml sampel

( 2,1621,778 ) x 0,25 x 1000 x 8 x 20


2,5

= 6144 mg/l
V.2.

Perhitungan MLVSS
MLVSS reactor 1

( cd )
ml sampel

(34,406033,4918)
40

x 106

x 106

= 0,0228 x 106 mg/l


MLVSS reaktor 2=

( cd )
ml sampel
=

x 106

( 41,413740,4919 )
40

x 106

= 0,0230 x 106 mg/l


VI.

Pembahasan
Pada praktikum ini dilakukan pengolahan air limbah secara anaerobik. Proses
anaerobik merupakan proses pemecahan bahan-bahan organik oleh mikroorganisme dalam
keadaan tanpa oksigen. Bahan utama yang digunakan pada praktikum ini yaitu limbah cair
yang memiliki COD 2000 mg/L. Sementara itu peralatan utama yang digunakan pada

praktikum ini adalah dua buah reaktor anaerobik yang berfungsi sebagai reaktor tempat
terjadinya dekomposisi bahan-bahan organik yang terkandung di dalam air limbah yang
dilakukan oleh mikroorganisme. Pada praktikum ini dua buah reaktor anaerobik tersebut
disusun secara paralel, dimana kandungan organik dari efluen salah satu reaktor tidak akan
mempengaruhi kandungan organik dari efluen reaktor lainnya.
Pengolahan anaerobik merupakan pengolahan air limbah dengan mikroorganisme
tanpa menggunakan oksigen (udara). Kehadiran O2 dalam sistem pengolahan dapat
menyebabkan pertumbuhan mikroorganisme pendekomposisi bahan bahan organik dalam air
limbah terganggu. Pengolahan secara anaerobik digunakan untuk air limbah yang
mengandung bahan organik (COD) 2000 mg/L. Dalam sampel limbah, ditambahkan nutrisi
sebagai sumber makanan bagi mikroorganisme yang akan mendekomposisi bahan organik
sehingga menurunkan kandungan organik dalam sampel.
Pada percobaan, dilakukan pengukuran COD efluen masing-masing reaktor untuk
mengetahui kandungan organik dalam sampel. Pengukuran COD dilakukan untuk
mengetahui banyaknya oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi kandungan organik
dalam sampel. Semakin tinggi nilai COD, kandungan organik dalam sampel pun semakin
banyak, dan kualitas air semakin buruk. Dalam analisis COD, reaksi yang terjadi adalah
reaksi redoks dalam keadaan asam.
Sampel efluen perlu diencerkan terlebih dahulu sebanyak 20 kali agar tidak terlalu
pekat, sehingga mempermudah penentuan titik akhir titrasi. Selain itu, pengenceran
diperlukan agar Hach COD Digester dapat bekerja secara optimum. Nilai COD aquades juga
diukur sebagai blanko. Dalam tabung Hach, ditambahkan 1,5 ml larutan kalium bikromat
yang merupakan oksidator kuat sebagai sumber oksigen. Selanjutnya ditambahkan juga 3,5
ml larutan asam sulfat dengan Ag2SO4 untuk menghilangkan gangguan dari klorida dan
mempercepat reaksi. Tabung Hach dimasukkan ke dalam Hach COD Digester selama 2 jam
pada suhu 150oC secara duplo.
Efluen dari tabung Hach kemudian didinginkan dan dilakukan titrasi menggunakan
larutan FAS 0,1 N dengan indikator ferroin. Penitrasian dengan larutan FAS bertujuan untuk
mengetahui kalium bikromat yang tidak tereduksi. Blanko berfungsi sebagai faktor
pengkoreksi untuk menghindari adanya zat organik dari pelarut yang ikut teroksidasi saat
reaksi berlangsung sehingga volume titran yang diperoleh dari proses titrasi hanya volume
titran yang bereaksi dengan sampel. Dari percobaan diperoleh nilai COD reaktor 1 dan 2

secara berurutan adalah 7984 mg/L dan 6144 mg/L. Nilai COD masih terbilang tinggi
dikarenakan kondisi operasi percobaan yang belum optimum, misalnya temperatur, serta
kesalahan saat mengambil sampel dalam tabung Hach. Pada saat pengambilan sampel
sebanyak 2,5 ml, sampel yang telah diencerkan mengalami pengadukan, sehingga terdapat
kemungkinan sebagian mikroorganisme ikut masuk ke dalam tabung Hach. Selain itu, terjadi
kebocoran yang dapat mengganggu jalannya proses pengolahan anaerobik.
Pada pengolahan anaerobik, akan dihasilkan gas yang sebagian besar berupa gas
metana (CH4). Gas tersebut merupakan biogas yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber
energi alternatif. Volume gas metana yang terbentuk dari proses pengolahan limbah secara
anaerobik ini dapat ditentukan dengan mengukur volume air yang keluar dari tabung gas
collection. Gas metana yang terbentuk tersebut akan mendorong air keluar dari tabung gas
collection sehingga volume air yang keluar dari tabung gas collection tersebut sama dengan
volume gas yang metana yang terbentuk.
Praktikum ini menggunakan pengolahan satu tahap, dimana reaksi pengolahan yang
meliputi reaksi hidrolisis, asetogenesis, dan metanogenesis berlangsung dalam satu reaktor.
Secara teoritis, penurunan kadar organik relatif cepat jika produksi gas metana stabil. Namun,
kadar organik yang terlalu tinggi yang ditunjukkan dari efluen reaktor 1 dan 2 menyebabkan
produksi asam berlebih sehingga mengganggu proses metanogenesis. Fluktuasi kadar organik
dapat terjadi karena pengadukan yang kurang optimal sehingga mikroba tidak tercampur
secara merata dan tidak dapat bekerja secara optimal.
Kemudian, dilakukan pengukuran nilai MLVSS (Mixed Liquor Volatile Suspended
Solid) dari efluen reaktor 1 dan 2,dimana nilai MLVSS sama dengan nilai VSS. Nilai VSS
merupakan kandungan organik yang mudah teruapkan, yang nilainya dapat mewakili jumlah
mikroorganismeyang ada di dalamnya. Pengukuran MLVSS dilakukan untuk mengetahui
kuantitas mikroba yang mendekomposisi bahan organik. Dari percobaan tersebut diperoleh
nilai MLVSS dari reaktor 1 dan 2 masing-masing adalah 0,0228x10 6 mg/L dan 0,023x106
mg/L. Dari nilai MLVSS yang diperoleh, nilai tersebut sudah memenuhi baku mutu dan
dapat langsung dibuang ke lingkungan. Artinya, proses pengolahan anaerobik sudah optimum
untuk menurunkan nilai MLVSS. Namun, terdapat kemungkinan kesalahan pengukuran
MLVSS dikarenakan pada saat proses penyaringan, sebagian sampel bisa jadi masih
tertinggal di dinding gelas atau alat filtrasi sehingga pengukuran MLVSS kurang akurat.

VII.

VIII.

Kesimpulan

Nilai COD yang diperoleh pada praktikum ini adalah 7984 mg/L untuk reaktor 1 dan
6144 mg/L untuk reaktor 2. Nilai COD yang diperoleh pada praktikum ini masih
terbilang tinggi dikarenakan kondisi operasi percobaan yang belum optimum,
misalnya temperatur, serta kesalahan saat mengambil sampel dalam tabung Hach.

Nilai MLVSS dari reaktor 1 dan 2 pada praktikum ini masing-masing adalah
0,0228x106 mg/L dan 0,023x106 mg/L. Dari nilai MLVSS yang diperoleh, nilai
tersebut sudah memenuhi baku mutu dan dapat langsung dibuang ke lingkungan.
Artinya, proses pengolahan anaerobik sudah optimum untuk menurunkan nilai
MLVSS.

Daftar Pustaka
Budiastuti, Herawati, 2010, Buku Ajar Bioteknologi Lingkungan, Jurusan Teknik Kimia
Polban, Bandung.
Pengajar Pengolahan Limbah Industri (TIM), 2006, Petunjuk Praktikum Pengolahan Limbah
Industri, Jurusan Teknik Kimia Polban, Bandung.