Anda di halaman 1dari 11

Jurnal Ilmiah MTG, Vol. 3, No.

1, Januari 2010

MINERALISASI EMAS DAN MINERAL PENGIKUTNYA


DI DAERAH NIRMALA, BOGOR, JAWA-BARAT

Heru Sigit Purwanto


Staf Pengajar Magister Teknik Geologi, UPN Veteran Yogyakarta
email : sigitgeologi@hotmail.com

ABSTRAK
Penelitian terletak di Dusun Nirmala, Desa Malasari, Kecamatan Nanggung,
Kabupaten Bogor, Propinsi Jawa Barat. Litologi daerah telitian tersusun atas dua
satuan batuan yaitu satuan tuf lapili dan satuan breksi tuf dengan dua bentukan
lahan geomorfik yaitu perbukitan vulkanik bergelombang kuat dan perbukitan
bergelombang sedang. Alterasi hidrotermal yang terbentuk di daerah telitian
dikelompokkan menjadi dua tipe alterasi yaitu alterasi argilik dan alterasi
kloritisasi. Mineralisasi yang dijumpai di daerah telitian adalah pirit, kalkopirit,
bornit dan galena. Di daerah telitian mineralisasi dikontrol oleh struktur geologi
berupa kekar dan sesar mendatar. Mineralisasi secara dominan dan banyak
dijumpai pada uarat kuarsa yang mengisi kekar-kekar terutama shear fracture
yang secara umum berarah timur laut barat daya dan barat laut tenggara,
dengan arah tegasan pada kekar-kekar yang diukur di lapangan relatif berarah
utara-selatan.

ABSTRACT
Research located in Nirmala Orchard, Countryside Malasari, Subdistrict
Nanggung, Regency Bogor, West Java Province. Lithology of this area lapp over
for two set of the rock that is set of tuf lapili and set of breksi tuf with two notching
of farm of geomorfik that is hilly surging and strong surging vulkanik. Hidrotermal
alteration formed grouped to accurate area become two type of alteration that is
argilic alteration and clhorite altertion. Mineralisation met accurate area pursuant
are pyrit, chalcopyrite, bornit and galena. In accurate area of mineralisation
controlled by structure of geology in the form of fault and crack. Where
mineralisation abundance and a lot of met to fill crack especially shear fracture
owning trend of north-east direction - southwest and northwest - southeast, with
direction of strong force measured in field relative instruct north-south. Area to
be developed or the new area for exploration of gold and sediment of other ore,
inferential that analysis model deposit can assist in localizing area of mineralisasi
because of basically the determination of model deposit represent method of
elementary exploration in determining mineralisation model deposit of gold ore
from epitermal system.

Jurnal Ilmiah MTG, Vol. 3, No. 1, Januari 2010

1.1 Pendahuluan
Deposit emas dan mineral penyertanya terjadi di Nirmala dan sekitarnya banyak
dihubungakan dengan mineralisasi emas didaerah Gunung Pongkor. Tipe mineralisasi
emas di daerah Nirmala dan sekitarnya relatif sama dengan Tipe deposit daerah Pongkor
merupakan tipe endapan epitermal (berupa urat-urat kuarsa), termasuk dalam sistem
epitermal sulfida rendah (Aditya dan Sinambela, 1991). Mineral yang dijumpai adalah
mineral kuarsa, adularia, karbonat, barit, klorit, zeolit, mangan, dan oksida besi.
Proses pengendapan larutan hidrotermal akan mengalir melewati
permebilitas (sekunder maupun primer) batuan, sehingga terjadi proses alterasi
yang merubah komposisi kimiawi, mineralogi dan tekstur batuan asal yang
dilaluinya. Tipe alterasi dan mineralisasi pada suatu daerah mempunyai sifat dan
karakteristik tersendiri yang sering dicirikan dengan adanya himpunan mineral
tertentu. Keberadaan zona alterasi dan mineralisasi ini akan membantu dalam
perencanaan pengembangan eksplorasi mineral bijih yang mengandung emas
dan perak. Salah satu indikator yang berpengaruh terhadap kehadiran urat-urat
pembawa mineral bijih berharga adalah struktur rekahan (kekar, sesar). Jaringan
kekar yang berkembang merupakan jalan bagi larutan sisa magma (latemagmatics) untuk mengisi dan mengendapkan mineral-mineral bijih (Heru Sigit,
2002).
Endapan bijih tersebut ditemukan pada pola-pola urat (vein) yang
berarah baratlaut-tenggara dan utara-selatan. Daerah Pongkor yang terletak di
utara daerah telitian urat-urat pembawa emas di bagian utara telah hampir habis
dieksploitasi, sehingga perlu adanya penelitian untuk eksplorasi awal daerah
bagian selatan konsesi yang termasuk dalam wilayah pengembangan eksplorasi
untuk menemukan cadangan baru.
1.2 Tinjauan Pustaka
Alterasi daerah Nirmala dan sekitarnya didapatkan secara umum adalah
silisifikasi, argilisasi dan kloritisasi. Silisifikasi menempati tempat-tempat sekitar
jalur-jalur dekat urat kuarsa. Argilisasi dan kloritisasi didapatkan hampir disemua
batuan, dan juga terdapat urat kuarsa.
Mineralisasi di daerah Nirmalasari dan sekitarnya biasanya berassosiasi
dengan kehadiran urat-urat kuarsa, Mineral yang hadir biasanya pirit, sedikit
kalkopirit, galena dibeberapa tempat, hematit dan magnetit. Mineral biasanya
hadir pada zona urat kuarsa kompresi, urat kuarsa breksiasi, dan urat kuarsa
tension. Mineralisasi emas di daerah Nirmala diinterpretasikan merupakan
cebakan epithermal sulphida rendah tipe urat (kuarsa karbonat adularia),
O
O
berdasarkan suhu pembentukan urat yang berkisar antara 150 C 212 C
(Basuki, 2000). Mineralisasi pada urat-urat kuarsa diinterpretasikan sebagai hasil
dari peregangan patahan turun yang diawali oleh pergerakan samping mendatar
sepanjang sistem patahan yang saling memotong (Milesi, et.al, 1999).
Geologi daerah Pongkor tersusun atas tiga satuan batuan volkanik yang
berumur Miosen-Pliosen (Milsi, et al., 1999). Satuan paling bawah dicirikan oleh
batuan volkanik andesitik yang berafinitas calc-alkaline yang diendapkan di
bawah lingkungan laut, yang bergradasi secara lateral menjadi endapan
epiklastik. Terdapat sisipan endapan epiklastik berbutir halus sampai kasar,
seperti batupasir yang bergradasi kearah atas dan batulanau hitam diantara
andesit dan tubuh breksi. Satuan bagian tengah tersusun oleh batuan volkanik

Jurnal Ilmiah MTG, Vol. 3, No. 1, Januari 2010

eksplosif dasitik darat yang tersusun oleh tuf lapili. Batuan ini ditumpangi oleh
breksi volkanik dan tuf jatuhan piroklastik berbutir halus dan batulanau epiklastik.
Sebuah kubah riolitik mengintrusi satuan ini. Satuan bagian atas tersusun oleh
aliran lava andesitik dengan struktur kekar tiang (Warmada, 2005).
Endapan emas-perak Pongkor merupakan endapan epitermal sulfida
rendah tipe urat (kuarsa-karbonat-adularia) yang terjadi pada kala plioses (2,05
0.05 Ma) tahun. Hasil analisis inklusi fluida yang diambil baik dari kuarsa maupun
kalsit dapat diinterpretasikan bahwa suhu pembentukan urat ini berkisar antara
180-220 C, yang menurut Lindgren (1933) dapat diklasifikasikan sebagai
endapan epitermal. Pengisi rekahan berupa urat dengan sekuen paragenetik
(Milsi et al., 1999), yaitu sekuen karbonat-kuarsa yang terbentuk pada awal
pengisian, mangan karbonat-kuarsa, kuarsa berlapis, kuarsa-sulfida abu-abu,
dan kuarsa berongga (vuggy quartz), Mineral-mineral bijih potensial
terkonsentrasi pada sekuen kuarsa-sulfida abu-abu, dan Mega, F (2005)
mengelompokan menjadi empat stage mineralisasi : Stockwork ~ Brecciated
(SB), Banded Kuarsa Kalsit (BKK), Banded ~ Colloform (BC), Massive ~
Geode (MG).
Endapan emas-perak Pongkor terdiri atas 9 urat kuarsa utama kuarsaadularia-karbonat subparalel yang kaya akan oksida mangan dan limonit dan
sangat miskin akan sulfida (Warmada, et al., 2003). Urat-urat ini mempunyai
panjang antara 700 sampai 2500 m, tebal beberapa meter dan dalam lebih dari
200 m yang memotong satuan batuan volkanik.
1.3 Metode Penelitian
Penelitian ini dilakukan beberapa tahapan pendekatan, yaitu tahap
pendahuluan, tahap pengumpulan data, analisis dan interpretasi, dan
tahap penyelesaian serta penyajian data.
Metode penlitian dengan pemetaan permukaan dengan pengamatan
dan diskripsi batuan, pengukuran lintasan-lintasan struktur geologi rinci
dan pengambilan contoh batuan dan urat kuarsa. Selanjutnya dengan
mengolah dan menganalisis data-data geologi diantaranya analisis
petrografi
sayatan
batuan,
analisis
AAS
(Atomic
Absorbtion
Spectophotometric) batuan termineralisasi dan urat kuarsa, analisis XRD
(X-Ray Defraction), analisis stereografis data struktur geologi, analisis
kemenerusan urat-urat kuarsa dan tipe deposit emas.
Data yang diperoleh akan dianalisis, diinterpretasikan dan disajikan dalam
bentuk peta ataupun interpretasi pembahasan masalah. Peta yang akan
dihasilkan yaitu Peta Lokasi Pengamatan, Peta Geologi, Peta Geomorfologi,
Peta Alterasi, Peta Struktur Geologi dan Lintasan Terukur Semi-Detil. Interpretasi
pembahasan mengenai alterasi, mineralisasi dan karakteristik model deposit
daerah telitian.
Hasil analisis laboratorium akan disajikan dalam bentuk tabel, diagram dan
grafik. Hasil analisis tersebut diantaranya, hasil analisis sayatan tipis batuan,
data pengukuran kekar di lapangan dan gambar stereografis hasil analisa
struktur geologi dan uratan kuarsa (veinlets), tabel hasil analisis AAS (Atomic
Absorbtion Spectophotometric), dan hasil analisi X-RD (X-Ray Defraction).

Jurnal Ilmiah MTG, Vol. 3, No. 1, Januari 2010

1.4 Hasil Dan Pembahasan


1.4.1

Lintasan Rinci
Berdasarkan lintasan-lintasan terpilih secara umum di daerah Nirmala
dan sekitarnya di jumpai tuf, lapili tuf, breksi tuf, batupasir, napal lempungan dan
basal andesitik. Hasil pengukuran dan analisis unsur struktur kekar dan urat
kuarsa daerah Nirmala didapatkan arah umum NW SE (baratlaut tenggara)
dan NE SW (timurlaut baratdaya).
Lintasan detail Sungai Cileles dominan satuan batuan tuf, warna abuabu keputihan, gelas, klorit dan mineral lempung, kadang terdapat pirit,
dibeberapa tempat dijumpai urat-urat kuarsa ukuran kecil (quartz veinlet) antara
0.2 1 cm. Alterasi pada lintasan Sungai Cileles secara umum adalah argilisasi
dan kloritisasi. Argilisasi hadir mineral lempung, sedikit kuarsa, warna putih
kekuningan, dijumpai pada zona rekahan dan banyak dijumpai urat-urat kuarsa
kecil. Kloritisasi hadir mineral klorit, kalsit, beberapa tempat hadir epidot (Tabel
1&2). Mineralisasi dijumpai pirit, beberapa kalkopirit. Urat kuarsa yang berukuran
1-4 cm, biasanya mengisi atau bersamaan dengan kekar tension dan kekar
kompresi (quartz breccia). Berdasarkan hasil analisis struktur didapatkan arah
umum kekar dan urat kuarsa di lintasan Sungai Cileles adalah NW SE
(baratlaut tenggara) dan beberapa ada yang berarah NE SW dan E W.
Kedudukan urat kuarsa kompresi N 235OE/75O dan N 170OE/80O, tebal 2 5 cm,
warna putih kekuningan, dijumpai pirit, kalkopirit. Kedudukan urat kuarsa
tensional mempunyai kedudukan N 220OE/80O dan N 280OE/80O, terdapat juga
sesar mendatar kiri naik N 210OE/65O dan beberapa stockwork dengan quartz
veinlets di bagian hilir sungai Cileles.
Lintasan detail cabang Sungai Cisahibah dijumpai batuan tuf breksi, litik
tuf, dan tuf. Litologi breksi tuf dominan, warna abu-abu keputihan, fragmen
batuan andesit dan basalt, dijumpai klorit dan mineral lempung, kadang terdapat
pirit pada matriknya, dibeberapa tempat dijumpai urat-urat kuarsa ukuran kecil
(quartz veinlet) antara 0.2 1 cm. Alterasi pada lintasan Sungai Cisahibah
adalah kloritisasi dan argilisasi. Kloritisasi umumnya hadir mineral klorit, sedikit
kalsit dan beberapa dijumpai epidot, biasanya pada batuan litik tuf dan breksi tuf,
sedikit mineral lempung, warna abu-abu kehuijauan dan hijau keputihan,
dibeberapa tempat hadir mineral pirit dan kalkopirit. Argilisasi umumnya hadir
mineral lempung (kaolinit), sedikit kuarsa, warna putih kekuningan, dijumpai
pada zona rekahan dekat zone sesar dan urat kuarsa dan banyak dijumpai uraturat kuarsa kecil (quartz veinlets). Mineralisasi pada lintasan ini dijumpai secara
umum hadirnya pirit, beberapa kalkopirit. Urat kuarsa yang berukuran 15 30 cm
mengisi atau bersamaan dengan sheared fractures (quartz breccia), warna putih
kekuningan-kecoklatan, manganis, umumnya hancur dijumpai pirit, limonitik,
O
kedudukan N 240- 250 E/80 . Berdasarkan hasil analisis struktur didapatkan
arah umum kekar dan urat kuarsa di lintasan cabang Sungai Cisahibah adalah
dominan EW dan berarah NESW dan beberapa berarah NWSE dan NS.
Lintasan detail cabang Sungai Cibedok batuan breksi tuf dominan,
warna abu-abu keputihan, fragmen batuan andesit dan basalt, lapuk dan
mengalami alterasi, dijumpai klorit dan mineral lempung, kadang terdapat pirit
pada matriknya, dibeberapa tempat dijumpai urat-urat kuarsa ukuran kecil
(Quartz veinlet) antara 1-2 cm. Berdasarkan hasil analisis struktur didapatkan
arah umum kekar dan urat kuarsa di lintasan Sungai Cibedok adalah dominan
E W dan berarah NE SW yang merupakan kekar-kekar kompresi,
sedangkan beberapa berarah NW SE dan NS secara umum merupakan

Jurnal Ilmiah MTG, Vol. 3, No. 1, Januari 2010

kekar-kekar tension. Dijumpai bidang sesar dengan kedudukan N 010 -015 E/


O
O
O
75 , pitch 10 -15 , merupakan sesar mendatar kiri naik. Alterasi pada lintasan
Sungai Cibedok adalah kloritisasi dan argilisasi. Kloritisasi hadir mineral klorit,
sedikit kalsit dan beberapa dijumpai epidot, pada batuan litik tuf dan breksi tuf,
sedikit mineral lempung, warna abu-abu kehuijauan dan hijau keputihan,
dibeberapa tempat hadir mineral pirit dan kalkopirit. Argilisasi hadir mineral
lempung (kaolinit), sedikit kuarsa, warna putih kekuningan, dijumpai pada zona
rekahan dekat zone sesar dan urat kuarsa dan banyak dijumpai urat-urat kuarsa
kecil (quartz veinlets). Mineralisasi pada lintasan ini dijumpai secara umum
hadirnya pirit, beberapa kalkopirit. Urat kuarsa yang berukuran 05 20 cm
mengisi atau bersamaan dengan sheared fractures (quartz breccia), warna putih
kekuningan-kecoklatan, manganese, umumnya hancur dijumpai pirit, limonitik,
O
kedudukan N 240- 250 E/80 .
Lintasan detail Sungai Cirabok batuan lapili tuf dominan, warna abu-abu
kehijauan, rounded subrounded, mineral glas dan sedikit kuarsa, limonitik,
kadang terdapat pirit, sebagian dijumpai urat-urat kuarsa kecil (1 20 cm).
Beberapa tuf dijumpai diantara litik tuf dan breksi tuf, ditemukan setempatsetempat. Alterasi pada lintasan Sungai Cirabok secara umum adalah argilisasi
dan kloritisasi. Argilisasi umumnya hadir mineral lempung (kaolinit), sedikit
kuarsa, warna putih kekuningan, dijumpai pada zona rekahan dekat zone sesar
dan urat kuarsa dan banyak dijumpai urat-urat kuarsa kecil (quartz veinlets).
Kloritisasi umumnya hadir mineral klorit, beberapa dijumpai epidot, biasanya
pada batuan litik tuf dan breksi tuf, sedikit mineral lempung, warna abu-abu
kehuijauan dan hijau keputihan, dibeberapa tempat hadir mineral pirit.
Mineralisasi hadirnya pirit, beberapa kalkopirit. Urat kuarsa kompresi yang
berukuran 20 60 cm mengisi atau bersamaan dengan sheared fractures
(quartz breccia), warna putih kekuningan-kecoklatan, manganis, dijumpai pirit,
limonitik, kedudukan N 210- 230 E/70-80O. Berdasarkan hasil analisis struktur
didapatkan arah umum kekar dan urat kuarsa di lintasan Sungai Cirabok adalah
dominan berarah NE SW yang merupakan kekar-kekar kompresi, sedangkan
beberapa berarah NW SE dan N S secara umum merupakan kekar-kekar
O
O
O
tension. Dijumpai bidang sesar dengan kedudukan N 025 -030 E/ 75 , pitch
O
O
10 -15 , merupakan sesar mendatar kiri naik.
1.4.2

Alterasi
Analisis X-Ray Diffraction (XRD) untuk mengetahui kehadiran mineralmineral pada batuan alterasi, yaitu silisifikasi, argilisasi dan kloritisasi.
Berdasarkan hasil analisis XRD menunjukkan kehadiran mineral monmorilonit,
illite, kaolinit, muskovit dan kuarsa pada batuan alterasi argilisasi (Tabel 3),
sedangkan dari contoh batuan kloritisasi, menunjukkan hadirnya mineral klorit,
plogopit dan kuarsa (Tabel 1)

Tabel 1. Hasil analisis XRD dari batuan zona kloritisasi.

Jurnal Ilmiah MTG, Vol. 3, No. 1, Januari 2010

No.corak
belauan
5-0490
10-0492
16-351

Jenis

Formula Mineral

Nama Mineral

SiO2
KMg3(Si3AlO10)(OH)2
(Mg3.13Fe2)Si3(OH)8

Kuarza
Plogopit
Klorit

Tabel 2. Hasil analisis XRD dari batuan zona silisifikasi.


No.corak
belauan
5-0490

Jenis

Formula Mineral

Nama Mineral

SiO2

Kuarza

Tabel 3. Hasil analisis XRD dari batuan zona argilisasi.


No.corak
belauan
5-0490
6-0221
2-0462
7-0032
3-0016

Jenis

Formula Mineral

Nama Mineral

D
D
D
D
D

SiO2
Al2Si2O5(OH)4
KAl2(Si3AlO10)(OH)2
KAl2Si3AlO10(OH)2
Al2O3.4SiO2.H2O.xH2O

Kuarza
Kaolinit
Illit
Muskovit
Montmorillonit

Gambar 1. Grafik hasil analisa XRD pada batuan teralterasi.

Jurnal Ilmiah MTG, Vol. 3, No. 1, Januari 2010

Hasil analisa XRD 1 (contoh batuan zona argilisasi) menunjukan


hadirnya mineral kuarsa, kaolinit, illit, muskovit, montmorilonit. Hasil analisa XRD
2 dan XRD 5 (contoh batuan zona kloritisasi dan YDH II) mununjukan hadirnya
mineral kuarsa, klorit, dan plogofit. Hasil analisa XRD 4 (contoh YDH II) pada
batuan yang teralterasi argilik menunjukan hadirnya illit dan phyrophillite. Hasil
analisa XRD 3 (contoh batuan zona silisifikasi) mununjukan hadirnya mineral
kuarsa.
Hasil analisa XRD dari mineral yang hadir merupakan mineral yang
terbentuk pada temperatur tinggi seperti plogofit, didukung dengan kenampakan
asosiasi mineral di lapangan yaitu pirit, kalkopirit, dan kehadiran galena, bahwa
alterasi daerah telitian terbentuk pada temperatur yang tinggi (berdasarkan
o
o
quarzt fluid inclution pada temperatur 150 290 C). Mineral montmorilonit pada
hasil analisa XRD menunjukkan bahwa terjadi alterasi pada proses epitermal
yang ditandai adanya kontak dengan batuan vulkanik dan tuf.
1.4.3

Mineralisasi
Berdasarkan analisis AAS (Atomic Absorbtion Spectrometry) dari
beberapa contoh urat kuarsa menunjukkan bahwa urat-urat kuarsa kompresi
lebih tinggi mengandung unsur bijih, terutama emas dibandingkan dengan urat
kuarsa tarikan (tentional) lebih rendah mengandung unsur bijih. Unsur emas (Au)
pada contoh urat HS 19-04 menunjukkan kecenderungan hasil yang sama tinggi
yaitu antara 5.48 ppm (Tabel 4).

Tabel 4. Hasil analisis urat kuarsa dengan AAS dalam ppm di daerah telitian
No
01
02
03
04
05
06
07
08
09

No.SAMPEL
HS 19-01
HS 19-02a
HS 19-02b
HS 19-03
HS 19-04
HS 20-05
HS 20-06
HS 20-07
HS 20-08

Au
(Pongkor)
0.27
0.19
0.06
5.48
0.15
0.14
0.15
0.14

Ag

Cu

Pb

Zn

15.52
12.97
13.82
50.65
13.25
26.28
2.21

17.23
19.57
19.57
14.88
08.9
15.40
32.06

46.57
12.05
08.21
50.41
50.41
08.21
27.39

55.53
10.16
11.66
26.21
14.01
11.87
27.28

Tipe mineralisasi di daerah Nirmalasari, menunjukan banyak kesamaan


dengan endapan bijih epitermal khususnya tipe mineral temperatur tinggi dan
sulfidasi rendah yang terdapat pada beberapa tempat seperti yang telah
dirangkum oleh White dan Hedenquist (1990, 1995) serta Evans 1993. Asosiasi
mineral ubahan dan mineral bijih seperti klorit,kalkopirit, galena dan spalerit,
serta ketidakhadiran enargit-luzonit pada hasil analisa geokimia, mendukung
bahwa lingkungan mineralisasi di daerah penelitian adalah tipe epitermal
sulfidasi rendah dengan suhu tinggi. Hal ini didukung oleh pola dan tekstur
mineralisasi yang didominasi oleh breksiasi, stockwork, urat kuarsa, tekstur
vuggy dan comb structure.

Jurnal Ilmiah MTG, Vol. 3, No. 1, Januari 2010

Mineralisasi pada daerah telitian pada umumnya terjadi pada urat


kuarsa, batuan dinding, sekitar batuan intrusi, dan pada batuan intrusi itu sendiri.
Mineral emas dan asosiasinya, biasanya terdapat pada urat kuarsa dengan
asosiasi mineral adalah pirit, kalkopirit, galena dan spalerit. Mineralisasi di
daerah telitian didominasi oleh mineral asosiasi dari emas, untuk mengetahui
karakteristik deposit serta hubungannya dengan kontrol struktur geologi di
kawasan penelitian. Urat kuarsa di lokasi pengamatan, dijumpai mineral perak,
galena dan spalerit dan berdasarkan analisa AAS, emas berasosiasi dengan
perak dan galena.
Kenampakan endapan bijih di daerah Nirmala dan sekitarnya dapat
digambarkan tabel 5 sebagai berikut :
Tabel 5. Kenampakan endapan bijih di daerah Nirmala
Batuan samping
Macam mineralisasi
Mineral ubahan
Pola mineralisasi
Tekstur
Kontrol mineralisasi
Perkiraan temperatur

Tuf, breksi vulkanik


Pirit, kalkopirit, galena, spalerit,
emas, perak
Kuarsa, lempung, klorit, epidot,
adularia, illit, montmorilonit,
kaolinit, plogofit
Mengisi ruang kosong (open space
filling), sebaran (disseminated)
Comb structure, vuggy, stockwork,
breksiasi, urat (veint)
Struktur (kekar, sesar), porositas
batuan
Sekitar 160o 250oC

Foto 1. Tension Quartz Vein lokasi Sungai Cisahibah, N 130OE/85O.

Jurnal Ilmiah MTG, Vol. 3, No. 1, Januari 2010

1.5 Kesimpulan
a. Batuan yang menyusun secara umum daerah Nirmala adalah tuf, lapili tuf,
breksi tuf, batupasir, napal lempungan dan basal andesitik. Hasil pengukuran
dan analisis unsur struktur kekar dan urat kuarsa daerah Nirmala dengan
arah umum NW SE (baratlaut tenggara), NE SW (timurlaut
baratdaya) dan N S (Utara Selatan).
b. Secara umum memperlihatkan bagian utara dominan teralterasi argilik kuat,
dan ke bagian selatan dominan alterasi silisifikasi kuat. Penyebaran zona
argilik setempat, mengumpul dan relatif dipermukaan, sedangkan zona
kloritisasi menyebar di bawah permukaan sampai permukaan dengan
mengisi rekahan. Penyebaran zona silisifikasi mengisi di dekat zona sesar,
semakin kebawah permukaan semakin mengecil. Zona sesar merupakan
koredor utama alterasi, yang diinterpretasikan berarah NE-SW dan ENE
WSW
c. Mineralisasi yang hadir adalah pirit, kalkopirit, beberapa tempat galena ,
bornit biasanya pada urat-urat kuarsa.
d. Model tepe deposit emas daerah Nirmala merupakan tipe urat kuarsa pada
zona epitermal temperatu tinggi, dengan mineralisasi mengikuti arah struktur
o
o
o
o
kekar dengan arah N353 E/70 dan N258 E/75 , dan struktur sesar dengan
o
o
arah N210 E/75 .
1.6 Daftar Pustaka
Corbett,G.J & Leach,T.M.1995. S.W.Pacific Rim Au/Cu Systems : Structure,,
Alteration and Mineralization. Short Course, Vancouver, Canada.
Heru Sigit Purwanto, 2002. Kontrol Struktur pada Mineralisasi Emas di daerah
Penjom dan Lubuk Mandi Semenanjung Malaysia. (Desertasi S3, tidak
dipublikasikan).
Heru Sigit Purwanto, Herry Riswandi & Arfan Parmuhunan, 2007, Prospeksi
Cebakan Emas Berdasarkan Kontrol Struktur Untuk Penentuan Titik Bor
Nirmala Dan Sekitarnya Kabupaten Bogor Propinsi Jawa Barat. Laporan
Penelitian P.T. Aneka Tambang. Jakarta (Tidak
Dipublikasikan).
Leach, T.M., Umali, D.U., Del Rosario, R.C., 1985: Epithermal mineral zonation
in an Active
Island arc: The Bacon-Manito geothermal system
Philippines, Proceedings of the 7th Annual Geothermal Workshop,
Auckland University: 109 114.
Nahrowi,T., Suratman,Y & Hidayat, S. 1978. Geologi Pegunungan Selatan Jawa
Timur. Laporan Eksplorasi PPTMGB,Lemigas Cepu.
Nekrasov,I.Y. 1996. Geochemistry, mineralogy and genesis of gold deposits.
Brookfield.USA : A.A.Balkema Publishers.
Pirajno, F. 1992. Hydrothermal Mineral Deposit. Berlin Heiderberg : SpringerVerlag.

Jurnal Ilmiah MTG, Vol. 3, No. 1, Januari 2010

Jurnal Ilmiah MTG, Vol. 3, No. 1, Januari 2010