Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN
Menjaga agar volume cairan tubuh tetap relatif konstan dan komposisinya tetap stabil
adalah penting untuk hemostatis. Beberapa masalah paling penting dalam pengobatan klinis
timbul akibat abormalitas dalam sistem pengaturan yang mempertahankan kekonstanan
cairan tubuh. Total jumlah volume cairan tubuh dan total jumlah yang terlarut, demikian juga
konsentrasinya, relatif konstan selama kondisi steady-state, seperti yang dibutuhkan untuk
hemostatis. Kekonstanan ini sangat hebat karena adanya pertukaran cairan dan zat terlarut
yang terus-menerus dengan lingkungan eksternal, seperti juga dalam berbagai kompartemen
tubuh lainnya. Cairan ditambahkan ke dalam tubuh dari dua sumber utama yaitu berasal dari
larutan atau cairan makanan yang dimakan dan dari sintesis dalam tubuh sebagai hasil
oksidasi karbohidrat. Asupan cairan sangat bervariasi pada masing-masing orang dan bahkan
pada orang yang sama pada hari berbeda, bergantung pada cuaca, kebiasaan dan tingkat
aktivitas.1
Cairan dan elektrolit di dalam tubuh merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan.
Komposisi cairan dan elektrolit di dalam tubuh diatur sedemikian rupa agar fungsi organ vital
dapat dipertahankan. Keseimbangan distribusi cairan dan elektrolit diatur melalui mekanisme
pengaturan yang beraneka ragam yang terjalin dalam satu kesatuan. Apabila terjadi gangguan
keseimbangan, segera akan diikuti oleh mekanisme kompensasi untuk mempertahankan
kondisi optimal sehingga fungsi organ vital dapat dipertahankan. Agar keseimbangan cairan
dan elektrolit dapat dipertahankan secara optimal terus-menerus, diperlukan sistem irigasi
yang memadai, maksudnya ada masukan, pendistribusian, pengolahan dan keluaran yang
masing-masing diatur melalui mekanisme tersendiri satu sama lain saling berkaitan.2
Dengan alasan tersebut, maka referat ini disusun dengan harapan dapat memberikan
tambahan pengetahuan mengenai fisiologi cairan tubuh pada manusia. Dengan demikina,
diharapkan penulis dan pembaca dapat memberikan terapi yang tepat dan sesuai pada pasien
dengan gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit dengan mempertahankan jenis terapi
cairan dan elektrolit yang sesuai dengan gangguan yang dialami pasien.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Air merupakan bagian terbesar pada tubuh manusia, persentasenya dapat berubah
tergantung pada umur, jenis kelamin dan derajat obesitas seseorang. Pada bayi usia < 1 tahun
cairan tubuh adalah sekitar 80-85% berat badan dan pada bayi usia > 1 tahun mengandung air
sebanyak 70-75 %. Seiring dengan pertumbuhan seseorang persentase jumlah cairan terhadap
berat badan berangsur-angsur turun yaitu pada laki-laki dewasa 50-60% berat badan,
sedangkan pada wanita dewasa 50 % berat badan. Hal ini terlihat pada tabel berikut :

Seluruh cairan tubuh didistribusikan diantara 2 kompartemen utama : cairan


ekstraseluler dan intraseluler. Kemudian cairan ekstraseluler dibagi menjadi cairan interstisial
dan plasma darah. Ada juga kompartemen cairan yang lebih kecil yang disebut sebagai cairan
transeluler. Kompartemen ini meliputi cairan dalam rongga sinovial, peritoneum, perikardial,
intraokuler dan cairan serebrospinal. Kompartemen ini juga biasanya dipertimbangkan
sebagai jenis cairan ekstraseluler khusus, walaupun pada beberapa kasus komposisinya dapat
berbeda dengan yang di plasma atau cairan interstisial. Cairan transeluler seluruhnya
berjumlah sekitar 1 sampai 2 liter.
II.1 Kompartemen cairan intraseluler
Sekitar 28 dari 42 liter cairan tubuh ada dalam 75 triliun sel dan keseluruhannya disebut
cairan intraseluler. Jadi, cairan intraseluler merupakan 40% dari berat badan total pada pria. 1
Pada orangdewasa, sekitar duapertiga dari cairan dalam tubuhnya terdapat di intraselular
(sekitar 27 liter rata-rata untuk dewasa laki-laki dengan berat badan sekitar 70 kilogram),
sebaliknya pada bayi hanya setengah dari berat badannya merupakan cairan intraselular.3
2

II.2 Kompartemen cairan ekstrseluler


Seluruh cairan di luar sel disebut cairan ekstraseluler. Cairan ini merupakan 20% dari
berat badan atau sekitar 14 liter pada orang dewasa normal dengan berat badan 70 kg. Dua
kompartemen terbesar dari cairan ekstraseluler adalah cairan interstisial (yang merupakan
tiga perempat cairan ekstrseluler atau sekitar 11-12 liter pada orang dewasa) dan plasma
darah (merupakan cairan ekstraseluler atau sekitar 3 liter pada orang dewasa).1

II.3 Elektrolit dan non-elektrolit


Selain air, cairan tubuh mengandung dua jenis zat yaitu elektrolit dan
non elektrolit :
1. Elektrolit
Merupakan Merupakan zat yang terdisosiasi dalam cairan dan menghantarkan arus
listrik.Elektrolit dibedakan menjadi ion positif (kation) dan ion negatif (anion). Jumlah
kation dan anion dalam larutan adalah selalu sama (diukur dalam miliekuivalen).

Kation
Kation utama dalam cairan ekstraselular adalah sodium (Na+), sedangkankation
utama dalam cairan intraselular adalah potassium (K+). Suatu sistem pompa
terdapat di dinding sel tubuh yang memompa keluar sodium dan potassium ini.

Anion
Anion utama dalam cairan ekstraselular adalah klorida (Cl-) danbikarbonat
(HCO3-), sedangkan anion utama dalam cairan intraselular adalah ion fosfat (PO43-).

2. Non-elektrolit

Merupakan zat seperti glukosa dan urea yang tidak terdisosiasi dalam cairan. Zatlainnya
termasuk penting adalah kreatinin dan bilirubin.

II.4 Proses pergerakan cairan tubuh


Cairan tubuh umumnya berpindah antara kedua kompartemen atau ruang utama untuk
mempertahankan keseimbangan nilai cairan. Pergerakan cairan yang normal melalui dinding
kapiler ke dalam jaringan tergantung pada kenaikan tekanan hidrostatik (tekanan yang
dihasilkan oleh cairan pada dinding pembuluh darah) pada kedua ujung pembuluh arteri dan
vena. Perpindahan cairan dan elektrolit tubuh terjadi dalam 3 fase, yaitu :
1. Fase I
Plasma darah pindah dari seluruh tubuh ke dalam sistem sirkulasi, nutrisi dan oksigen
diambil dari paru-paru dan traktus gastrointestinal.
2. Fase II
Cairan interstisial dengan komponennya pindah dari darah kapiler dan sel
3. Fase III
Cairan substansi yang ada didalamnya berpindah dari cairan interstisial masuk ke
dalam sel.
Pembuluh darah kapiler dan membran sel relatif impermeabel terhadap kebanyakan zat
terlarut tapi sangat permeabel terhadap air (permeabel selektif) sehingga perpindahan air dan
zat terlarut diantara bagian-bagian tubuh melibatkan mekanisme transport pasif dan aktif.

Mekanisme transport pasif tidak membutuhkan energi sedangkan mekanisme transport aktif
membutuhkan energi. Difusi dan osmosis adalah mekanisme transport pasif. Sedangkan
mekanisme transport aktif berhubungan pompa Na-K yang memerlukan ATP.
a. Difusi
Difusi adalah proses bergeraknya molekul melalui pori-pori. Larutan akan bergerak
dari konsentrasi tinggi menuju larutan berkonsentrasi rendah. Tekanan hidrostatik
pembuluh darah juga mendorong air masuk berdifusi melalui pori-pori tersebut.
Kecepatan difusi suatu zat melewati sebuah membram sel tergantung pada :

Permeabilitas air terhadap membran

Perbedaan konsentrasi antar dua sisi

Perbedaan tekanan antara masing-masing sisi karena tekanan akan memberikan


energi kinetik yang lebih besar.

Potensial listrik yang menyeberangi membran akan memberi muatan pada zat
tersebut.

Difusi dibagi lagi menjadi 2 jenis, yaitu :


1) Difusi melalui membran sel
Difusi antara cairan interstisial dan cairan intraseluler dapat terjadi melalui
beberapa mekanisme, yaitu :
Secara langsung melewati lapisan lemak pada membran sel
Melalui kanal protein dalam membran sel
Melalui ikatan dengan protein karier yang reversibel yang dapat
melewati membran (difusi yang terfasilitasi)
2) Difusi melalui endotel kapiler
Dinding kapiler mempunyai ketebalan 0,5 m terdiri dari satu lapis sel
endotel dengan dasar membran. Celah interseluler mempunyai jarak 6-7 nm,
memisahkan masing-masing sel dari sel di dekatnya. Hanya substansi
dengan berat molekul rendah yang larut dalam air seperti natrium, klorida,
kalium dan glukosa yang dapat melewati celah intersel.substansi dengan
molekul yang besar seperti plasma sangat sulit untuk menembus celah
endotel (kecuali pada hati dan paru-paru)
b. Osmosis
Osmosis adalah bergeraknya molekul (zat terlarut) melalui membran semipermeabel
(permeabel selektif) dari larutan berkadar lebih rendah menuju larutan yang berkadar
5

lebih tinggi hingga kadarnya sama. Seluruh membran sel dan kapiler permeabel
terhadap air sehingga tekanan osmotik cairan tubuh seluruh kompartemennya sama.
c. Pompa Na-K
Pompa Na-K merupakan suatu proses transpor yang memompa ion natrium keluar
melalui membran sel dan pada saat bersamaan memompa ion kalium dari luar ke
dalam.
II.5 Keseimbangan cairan dan elektrolit
Cairan tubuh yang terbagi menjadi kompartemen-kompartemen cairan dalam keadaan
normal relatif konstan. Antara kompartemen satu dengan yang lainnya dibatasi oleh membran
yang semipermeabel. Masing-masing kompartemen cairan mengandung elektrolit yang
sangat berperan dalan mempertahankan keseimbangan cairan pada masing-masing
kompartemen tersebut. Ada beberapa macam mekanisme pengaturan keseimbangan cairan
dan elektrolit antara masing-masing kompartemen, sebagai berikut :
1) Keseimbangan Donnan
Apabila 2 macam cairan, air dan larutan NaCl ditempatkan pada masing-masing sisi
dari suatu membran yang permeabel terhadap ion Na dan Cl, maka keduanya akan
melewati membran tersebut sehingga konsentrasi dikedua sisi membran sama.
Apabila pada suatu sisi dari membran terdapat NaCl sedang di sisi lain garam Na
dari suatu protein (Na-R) sedangkan membran tersebut tidak permeabel terhadap ion
R (protein) tetapi permeabel terhadap ion lain, maka NaCl akan bergerak menuju sisi
ion R tersebut.
2) Osmolalitas dan osmolaritas
Osmolalitas suatu cairan adalah jumlah osmol dari solut per kilogram solven.
Osmolaritas suatu cairan adalah jumlah osmol dari salute per liter cairan.
Faktor determinan yang menentukan osmolalitas cairan ekstraseluler ialah kadar ion
Na. Bila kadar ion Na naik maka osmolaritas naik, air akan ditarik dari sel untuk
mempertahankan kembali osmolalitas tetap isotonis. Bila terjadi hiponatremi akut
maka akan menyebabkan penambahan jumlah air seluler tanpa memandang seluruh
cairan tubuh total. Perubahan kadar ion Na lebih sering disebabkan oleh perubahan
volume air. Sedangkan faktor determinan osmolalitas cairan intraseluler adalah
kadar ion K.

3) Tekanan koloid osmotik


Koloid merupakan molekul protein dengan BM lebih dari 20.000-30.000. walaupun
hanya merupakan 0,5% dari osmolalitas plasma total, namun mempunyai arti yang
sangat penting. Hal ini disebabkan karena permeabilitas kapiler terhadap koloid
sangat kecil, sehingga mempunyai efek menahan air dalam komponen plasma serta
mempertahankan air antar kompartemen cairan dalam tubuh. Bila tekanan koloid
osmotik turun akan merupakan faktor penyebab dalam timbulnya edema paru.
Tekanan ini sebagian besar dipengaruhi oleh plasma protein.
4) Kekuatan starling
Tekanan koloid osmotik plasma kira-kira 25 mmHg sedang tekanan darah 36 mmHg
pada ujung arteri dari kapiler darah dan 15 mmHg pada ujung vena. Keadaan ini
menyebabkan terjadinya difusi air dan ion-ion yang dapat berdifusi keluar dari
kapiler masuk ke cairan interstisial pada akhir arteri.
5) Pompa natrium
Pompa intrasel yang tidak dapat berdifusi cenderung menarik air ke dalam sel.
Natrium masuk ke dalam sel dengan cara difusi dari kadar ekstrasel yang tinggi ke
intrasel yang rendah. Keadaan ini diimbangi dengan pompa natrium yang ada dalam
sel ke cairan ekstraseluler. Pompa natrium tergantung dari persediaan ATP.
II.6 Faktor-faktor yang mempengaruhi keseimbangan cairan dan elektrolit
Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi keseimbangan cairan dan elektrolit,
diantaranya adalah :
1) Usia
2) Jenis kelamin
3) Stres
4) Sel-sel lemak
5) Kondisi sakit
6) Diet
7) Pengobatan
8) Tindakan medis
9) Pembedahan

II.7 Masukan dan keluaran cairan


Dalam keadaan normal masukan cairan dipenuhi melalui minum atau makanan yang
masuk kedalam tubuh secara per-oral. Selanjutnya proses metabolisme di dalam tubuh juga
akan memberikan kontrbusi terhadap air tubuh total. Keluaran cairan tubuh dalam keadaan
normal dapat terjadi melalui urin, insensibel dan melalui saluran cerna. Pada keadaan
patologis, kehilangan cairan bisa melalui gastrointestinal (muntah dan mencret), insensibel
yang berlebihan, poliuri, trauma dan lainnya. Kebutuhan air setiap hari dapat ditentukan
dengan berbagai cara, antara lain :
1) Berdasarkan umur

0-1 th memerlukan air sekitar 120 ml/kgbb

1-3 th memerlukan air sekitar 100 ml/kgbb

3-6 th memerlukan air sekitar 90 ml/kgbb

7 th memerlukan air sekitar 70 ml/kgbb

Dewasa, memerlukan air sekitar 40-50 ml/kgbb

2) Berdasarkan berat badan

0-10 kg

= 100 ml/kgbb

10-20 kg

= 1000 ml + 50 ml/kgbb (diatas 10 kg)

Di atas 20 kg = 1500 ml + 20 ml/kgbb (di atas 20 kg)

Dewasa

= 40-50 ml/kgbb

3) Mengukur perbedaan masukan dan keluaran


Ukur perbedaan tersebut (termasuk urin, muntah, insensible water loss, dll) serta
kebutuhan minimum perhari. Perbedaan ini sebaiknya tidak lebih besar dari 200-400
ml/hari insensible water loss kira-kira 15 ml/kgbb/hari. Kehilangan akibat suhu
(derajat Celcius) kurang lebih 10% dari kebutuhan perhari.
4) Hitung perbedaan berat badan sebelum dan sesudah sakit
Selisih berat sebelumnya dan sekarang, kemudian kurangi dengan hasil katabolisme
normal selama puasa (0,5 kg/hari).
5) Menghitung kelebihan atau kekurangan elektrolit
Untuk mengetahui imbang masukan dan keluaran cairan tubuh, dilakukan penilaian
klinis non-invasif, bahkan kalau perlu dilakukan penilaian invasif dengan memasang kanul
vena sentral.
8

a. Penilaian non-invasif
Dilakukan penilaian pencatatan perubahan tanda dan gejala klinis sebelum dilakukan
terapi cairan, selama terapi dan sampai terapi dinyatakan terapi.
Parameter yang dinilai :

Perubahan tingkat perubahan

Perubahan hemodinamik

Perubahan kimia darah dari pemeriksaan laboratorium (misalnya asam basa


dan elektrolit).

Perubahan perfusi perifer atau turgor kulit

Produksi urin, diusahakan produksi urin paling sedikit 0,5 ml/kgbb/jam

b. Penilaian invasif
Dilakukan pemasangan kateter vena sentral melalui vena di lengan atas, vena
subklavia atau vena jugularis. Kanulasi ini disamping untuk mengukur tekanan vena
sentral juga digunakan untuk jalur infus jangka panjang dan nutrisi parenteral.
Apabila dilakukan kanulasi vena sentral, bisa digunakan sebagai penuntun dalam
program terapi cairan, terutama pada pasien kritis yang memerlukan terapi cairan.

BAB III
KESIMPULAN
Menjaga agar volume cairan tubuh tetap relatif konstan dan komposisinya tetap stabil
adalah penting untuk hemostatis. Cairan ditambahkan ke dalam tubuh dari dua sumber utama
yaitu berasal dari larutan atau cairan makanan yang dimakan dan dari sintesis dalam tubuh.
Asupan cairan sangat bervariasi pada masing-masing orang dan bahkan pada orang yang
sama pada hari berbeda. Keseimbangan distribusi cairan dan elektrolit diatur melalui
mekanisme pengaturan yang beraneka ragam yang terjalin dalam satu kesatuan.
Cairan tubuh normalnya berpindah antara kedua kompartemen atau ruang utama untuk
mempertahankan keseimbangan nilai cairan. Proses pergerakan cairan tubuh antar
kompartemen dapat berlangsung secara osmosis, difusi dan pompa Na-K. Keseimbangan
cairan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Penilaian kebutuhan cairan dan elektrolit dapat
dinilai dengan mengetahui besar masukan dan keluaran cairan.

10

DAFTAR PUSTAKA
Guyton, Arthur C ; Hall, John E. 1997. Buku Ajar : Fisiologi Kedokteran, Edisi 9, cetakan
I. EGC. Jakarta. Hal.375.
Mangku, Gde ; Senapati, Tjokorda gde agung. 2009. Buku Ajar : Ilmu Anestesi dan
Reanimasi. PT.Macanan Jaya Cemerlang. Jakarta. Hal.
272.
Yaswir, Risnawati. 2012. Fisiologi dan Gangguan Keseimbangan Natrium, Kalium dan
Klorida serta Pemeriksaan Laboratorium. Diakses dari
http://jurnal.fk.unand.ac.id/articles/vol_1no_2/
80-85.pdf
Irawan, M. Anwari. 2007. Cairan Tubuh, Elektrolit dan Mineral. Diakses dari
http://www.pssplab.com/journal/01.pdf

11