Anda di halaman 1dari 6

SKENARIO 7

Gigi Protesa Goyang tidak Harus Dicabut


Penderita perempuan usia 40 tahun datang ke praktik dokter gigi dengan keluhan
gusi di sekitar gigi geraham belakang kiri bawah sering berdarah. Pada
pemeriksaan intra oral ditemukan bahwa gigi 36 telah terpasang protesa implant,
dengan goyang derajat satu, jaringan ging5va Nampak kemerahan dan mudah
berdarah, pada pmeneriksaan kedalaman probing 4mm juga diregio tersebut
didapatkan banyak sekali debris dan plak. Menurut dokter gigi terjadi kelainan
keradangan di sekitar implant gigi, sehingga perlu pemeriksaan penunjang dan
tindakan perawatan secara khusus.

STEP 1
Identifikasi Kata Sulit
Protesa implant yaitu:
Suatu alat yang ditanam secara bedah ke dalam jaringan lunak atau tulang
rahang sehingga dapat berfungsi sebagai akar pengganti untuk menahan gigi
tiruan maupun jembatan.

STEP 2
Identifikasi Permasalahan Dalam Skenario
1. Apa diagnose pada kasus diskenario?
Pemeriksaan klinis
Pemeriksaan penunjang dan tujuan dilakukan pemeriksaan tersebut?
2. Apa etiologi dari kelaianan yang ada pada kasus di scenario?
3. Apa yang menjadi pertimbangan dokter gigi untuk melakukan perawatan di
scenario?
4. Apa rencana perawatan pada kasus di scenario?

STEP 3
Brainstrorming
1. Diagnose pada kasus di scenario adalah
Diagnosis yang terdapat pada kasus diskenario adalah peri implantitis dengan
jenis mild periimplantitis. Periimplantitis sendiri merupakan peradangan yang
terjadi pada daerah periodontal di sekitar implant gigi. Mild peri implantitis
sendiri merupakan jenis kedangan implant yang masih dalam skala ringan.
Tanda tanda klinis:
Terjadinya mild periimplantitis dapat diketahui dari tanda-tanda klinis
yaitu:

Adanya pembengkakan
Adanya kemerahan pada gingival disekitar daerah implant
BOP positif
Adanya fistule
Tanda awal dari periimplan mukositis dan merupakan tanda

awal dari periimplantitis osseotitis.


Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan pada kasus di scenario
adalah radiografi. Radiografi yang digunakan dapat menggunakan
periapikal, panoramic, oklusal, lateral, sefalometri, dll. Selain itu,
dapat pula digunakan radiografi jenis tiga dimensi seperti, CT scan,
danj

dental

phanoramic

tophografi.

Kelebihannya

dalam

menggunakan radiografi jenis tiga dimensi ini lebih akurat dari pada
yang dua dimensi. Namun kekurangannya adalah hasil gambar
pemeriksaan

biasanya

mengalami

pembesaran.

Pemeriksaan

radiografi bertujuan untuk:


Untuk memperoleh informasi kondisi tulang
Untuk mengetahui kualitas dan kuantitas tulang
Untuk mengetahui daerah jaringan periodontal pada periapikal
Untuk mengetahui fixture implant
Sebagai pedoman untuk menentukan rencana perawatan
2. Etiologi dari peri implantitis adalah
Etiologi utama
Bakteri dan plak
Periimpalntitis sendiri terjadi akibat akumulasi bakteri dan
plak yang berlebih pada sekitar implant gigi yang kemudian
menimbulkan keradangan periodontal disekitar implant.
2

Bakteri dan plak sendiri biasanya yang sering terjadi akibat


kurang sterilnya implant ketika dimasukkan ke dalam rongga
mulut. Selain itu, juga bisa didapat dari pasien sendiri yang
kurang dalam menjaga OH rongga mulutnya. Mikroflora pada
pasien perimplantitis hamper sama dengan pasien yang
memiliki

kealinan

penyakit

periodontal,

seperti

mikroorganisem gram negative, motile, dan an aerob. Jenis


bakteri yang sering ditemukan pada periimplantitis adalah
Prevotella intermedia dan Phorphyromonas ginggivalis.
Factor biomekanikal
Penurunan proses osteointegrasi atau tidak terjadinya
osteointegrasi

dapat

terjadi

akibat

dari

adanya

gaya

biomekanikal yang memicu adanya peningkatan stress atau


mikrofraktur antara tulang dengan implant. Factor factor yang
mempengaruhi kegagalan atau penurunan osseointegrasi
adalah:
o Implant yang ditempatkan pada tulang dalam kondisi
yang buruk atau rendah
o Superstruktur gigi protesa tidak sesuai dengan implant
yang digunakan
o Pasien memiliki beban oklusi yang besar, misalnya
pasien dengan kelainan parafungsional
o Posisi implant atau jumlah implant yang ditempatkan
secara

keseluruhan

tidak

memadai

untuk

mentransmisikan beban secara ideal ke atas permukaan

implant.
Etiologi predisposisi
Reaksi alergi
Reaksi alergi yang timbul pada pasien pengguna implant
dikarenakan

karena

bahan

yang

digunakan

tidak

biokompatibel sehingga timbul suatu reaksi penolakan pada


tubuh. Reaksi alergi pada pemasangan dental implant ini
biasanya terjadi pada era tahun 90-an. Pada era sekarang ini,
sangat minimal atau bahkan tidak ada yang timbul reaksi alergi
pada pasien karena teknologi dan bahan yang digunakan lebih

mengarah pada terbentuknya proses osseointegritas sehingga


jauh lebih aman.
Penyakit sistemik
Adanya penyakit

sistemik

pada

pasien

maka

akan

memperparah kondisi pasien. Misalnya saja diabetes milletus


dan osteoporosis yang akan menurunkan kualitas tulang.
Factor social
Factor social yang memicu kegagalan osseointegritas tulang
antara laian merokok, oral hygine pasien yang sangat buruk,
penyalahgunaan narkoba, dan bruxism.
3. Pertimbangan dokter gigi dalam melakukan perawatan adalah
Kondisi sistemik dari pasien
Motivasi dan kooperativ dari pasien. Hal ini dilakukan untuk
mendukung lancaranya perawatan yang akan dijalani
Kondisi intraoral dari pasien
Berdasakan keparahan yang di derita, misalnya: kedalaman poket,
BOP, jumlah kehilangan tulang, dan morfologi cacat
Etiologi yang menjadi penyebab, karena akan mempengaruhi dalam
melakukan tidakan perawatan nantinya.
Perlu adanya pemeriksaan penunjang

4. Rencana perawatan pada kasus diskenario adalah


Rencana perawatan dalam melakukan suatu tindakan berdasarkan etiologi
penyakit tersebut. Karena di scenario tidak dijelaskan dengan begitu detail,
maka rencana yang dilakukan, yaitu:
a. Tindakan konservatif
Tindakan konservatif ini dilakukan apabila tidak terjadi kehilangan
tulang. Tindakan konservatif ini dapat meliputi:
Manual treatment
Manual treatment yang dimaksud adalah melakukan scaling.
Scaling yang digunakan menggunaka alat scaling dari plastic.
Hal ini dilakukan untuk mengurangi kerjadinya kerusakan
pada implant itu sendiri.
Medikasi
Dapat digunakan terapi chlorhexidine sebagai terapi tambahan.
Chlorhexidine dalam badan implant dapat memiliki efek

membunuh mikroorganisme. Selain itu, juga berfungsi


menghambat pembentukan plak gigi.
Inovatif
Dapat menggunakan laser ataupu foto dinamik. Laser yang
digunakan biasanya adalah cahaya daro karbondioksida atau
dioxe.
b. Tindakan bedah
Tahap tahap dalam melakukan tindakan periimplantitis, yaitu:
Pemberian antibiotic secara sistemik selama tiga hari sebelum
operasi yang setara dengan metronidazol 400mg
Pemebrian obat kumur 0,2 % chlorhexidine 1 menit sebelum
operasi
Melakukan insisi dan flap full thickness disekitar daeraha yang
terinfeksi
Melakukan kuretase pada tulang dan jaringan lunak dengan
menggunakan kuret serat karbon
Menempelkan kasa yang telah dicelupkan pada larutan
chlorhexidine 0,2 % ditempat yang terinfeksi dan biarkan
selama lima menit
Mengambil kasa dan melakukan irigasi dengan saline steril
yang telah dicampur dengan satu gram tetrasiklin
Membubuhkan bone graf pada daerah yang terflap jika jumlah
tulang yang hilang atau terbuang terrlalu besar
Memberi membrane kolagen
Dilakukan penjahitan
Dilakukan pemberian periodontal dressing

Peri-implantitis
STEP 4
Mapping
Pemeriksaan klinis

Pemeriksaan penunjang

Rencana perawatan
5

Penatalaksanaan

STEP 5
PR
1. Pengukuran kehilangan tulang
2. Perawatan implant tanpa menggunakan foto radiologi
LO
Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan
1. Pemeriksaan klinis dan pemeriksaan penunjang pada peri-implantitis
2. Penatalaksanaan peri-implantitis