Anda di halaman 1dari 10

Reaksi penyabunan (saponifikasi) dengan menggunakan alkali adalah adalah

reaksi trigliserida dengan alkali (NaOH atau KOH) yang menghasilkan sabun dan
gliserin. Reaksi penyabunan dapat ditulis sebagai berikut :
C3H5(OOCR)3 + 3NaOH ->C3H5(OH)3 + 3NaOOCR
Reaksi pembuatan sabun atau saponifikasi menghasilkan sabun sebagai produk
utama dan gliserin sebagai produk samping. Gliserin sebagai produk samping
juga memiliki nilai jual. Sabun merupakan garam yang terbentuk dari asam
lemak dan alkali. Sabun dengan berat molekul rendah akan lebih mudah larut
dan memiliki struktur sabun yang lebih keras. Sabun memiliki kelarutan yang
tinggi dalam air, tetapi sabun tidak larut menjadi partikel yang lebih kecil,
melainkan larut dalam bentuk ion.
Adanya perbedaan komposisi pada lemak dan minyak menyebabkan sifat fisik
berbeda dan hasil lemak serta sabun berbeda pula. Untuk itu, perlu upaya
mencoba pembuatan sabun dengan penambahan zat aditif berupa TiO2 dan
EDTA dengan bahan dasar minyak kemasan, dibandingkan dengan campuran
minyak kelapa dan minyak goreng gurah tanpa kemasan dengan prosedur yang
berbeda.
Saat ini, telah ditemukan berbagai macam jenis dari daun-daun, akar, kacangkacangan atau biji-bijian yang bisa digunakan untuk membentuk sabun yang
mudah larut dan membawa kotoran dari pakaian. Umumnya sekarang ini
memakai dasar material yang disebut sebagai saponin yang mengandung
pentasiklis triterpena asam karboksilat, seperti asam oleonat atau asam ursolat,
zat kimia berkombinasi dengan molekul gula. Asam ini juga terlihat dalam
keadaan tanpa kombinasi. Saponin lebih dikenal sebagai sabun.
Setiap minyak dan lemak mengandung asam-asam lemak yang berbeda-beda.
Perbedaan tersebut menyebabkan sabun yang terbentuk mempunyai sifat yang
berbeda. Minyak dengan kandungan asam lemak rantai pendek dan ikatan tak
jenuh akan menghasilkansabun cair. Sedangkan rantai panjang dan jenuh
mengahasilkan sabun yang tak larut pada suhu kamar.
Air keras adalah air yang mengandung ion dari Mg, Ca dan Fe. Namun
kelemahan ini bisa diatasi dengan menambahkan ion fosfat atau karbonat
sehingga ion-ion ini akan mengikat Ca dan Mg pembentuk garam. Untuk
memperoleh sabun yang berfungsi khusus, perlu ditambahkan zat aditif, antara
lain: asam lemak bebas, gliserol, pewarna, aroma, pengkelat dan antioksidan,
penghalus, serta aditif kulit (skin aditif).
Titanium dioksida (TiO2) ditambahkan ke dalam sabun berfungsi sebagai
pemutih sabun dan kulit. Pada konsentrasi kecil (<0,8>). TiO2 ada dalam tiga
bentuk kristal: anatase, brookite, dan rutile. Biasanya diperoleh secara sintetik.
Rutile adalah bentuk yang stabil terhadap perubahan suhu apabila diperoleh
secara luas sebagai monokristal yang transparan.
Titanium dioksida digunakan dalam elektrolit, plastik dan industri keramik karena
sifat listriknya. Selain itu, ia sangat stabil terhadap perubahan suhu dan resisten

terhadap serangan kimia. Ia tereduksi sebagian oleh hydrogen dan karbon


monoksida. Pada 20000 dan vakum, ia tereduksi oleh karbon membentuk
titanium karbida. Jika ada agen pereduksi, ia akan terklorinasi.
Titanium oksida murni dipreparasi dari titanium tetraklorida yang dimurnikan
dengan destilasi ulang. Kegunaan titanium dioksida antara lain dalam vitreus
enamel, industri elektronik, katalis dan pigmen zat warna. TiO2 adalah zat warna
putih yang dominan di usaha karena mempunyai sifat: indek refraksi tinggi, tidak
menyerap sinar tampak, mudah diproduksi sesuai keinginan, stabilitas tinggi dan
non toksik.
EDTA ditambahkan dalam sabun untuk membentuk kompleks (pengkelat) ion
besi yang mengkatalis proses degradasi oksidatif. Degradasi oksidatif akan
memutuskan ikatan rangkap pada asam lemak membentuk rantai lebih pendek,
aldehid dan keton yang berbau tidak enak.
Tags: cetakan sabun, jenis sabun, Kimia Lingkungan, pembuatan sabun, reaksi
penyabunan, reaksi saponifikasi, Sabun, Sabun mandi, sifat sabun

http://majarimagazine.com/2009/07/bahan-pembuatan-sabun/
Sabun adalah salah satu senyawa kimia tertua yang pernah dikenal. Sabun
sendiri tidak pernah secara aktual ditemukan, namun berasal dari
pengembangan campuran antara senyawa alkali dan lemak/minyak.
Bahan pembuatan sabun terdiri dari dua jenis, yaitu bahan baku dan bahan
pendukung. Bahan baku dalam pembuatan sabun adalah minyak atau lemak dan
senyawa alkali (basa). Bahan pendukung dalam pembuatan sabun digunakan
untuk menambah kualitas produk sabun, baik dari nilai guna maupun dari daya
tarik. Bahan pendukung yang umum dipakai dalam proses pembuatan sabun di
antaranya natrium klorida, natrium karbonat, natrium fosfat, parfum, dan
pewarna.
Sabun dibuat dengan reaksi penyabunan sebagai berikut:
Reaksi penyabunan (saponifikasi) dengan menggunakan alkali adalah adalah
reaksi trigliserida dengan alkali (NaOH atau KOH) yang menghasilkan sabun dan
gliserin. Reaksi penyabunan dapat ditulis sebagai berikut :
C3H5(OOCR)3 + 3 NaOH -> C3H5(OH)3 + 3 NaOOCR
Reaksi pembuatan sabun atau saponifikasi menghasilkan sabun sebagai produk
utama dan gliserin sebagai produk samping. Gliserin sebagai produk samping
juga memiliki nilai jual. Sabun merupakan garam yang terbentuk dari asam
lemak dan alkali. Sabun dengan berat molekul rendah akan lebih mudah larut
dan memiliki struktur sabun yang lebih keras. Sabun memiliki kelarutan yang
tinggi dalam air, tetapi sabun tidak larut menjadi partikel yang lebih kecil,
melainkan larut dalam bentuk ion.

Sabun pada umumnya dikenal dalam dua wujud, sabun cair dan sabun padat.
Perbedaan utama dari kedua wujud sabun ini adalah alkali yang digunakan
dalam reaksi pembuatan sabun. Sabun padat menggunakan natrium
hidroksida/soda kaustik (NaOH), sedangkan sabun cair menggunakan kalium
hidroksida (KOH) sebagai alkali. Selain itu, jenis minyak yang digunakan juga
mempengaruhi wujud sabun yang dihasilkan. Minyak kelapa akan menghasilkan
sabun yang lebih keras daripada minyak kedelai, minyak kacang, dan minyak biji
katun.
Bahan Baku: Minyak/Lemak
Minyak/lemak merupakan senyawa lipid yang memiliki struktur berupa ester dari
gliserol. Pada proses pembuatan sabun, jenis minyak atau lemak yang digunakan
adalah minyak nabati atau lemak hewan. Perbedaan antara minyak dan lemak
adalah wujud keduanya dalam keadaan ruang. Minyak akan berwujud cair pada
temperatur ruang ( 28C), sedangkan lemak akan berwujud padat.
Minyak tumbuhan maupun lemak hewan merupakan senyawa trigliserida.
Trigliserida yang umum digunakan sebagai bahan baku pembuatan sabun
memiliki asam lemak dengan panjang rantai karbon antara 12 sampai 18. Asam
lemak dengan panjang rantai karbon kurang dari 12 akan menimbulkan iritasi
pada kulit, sedangkan rantai karbon lebih dari 18 akan membuat sabun menjadi
keras dan sulit terlarut dalam air. Kandungan asam lemak tak jenuh, seperti
oleat, linoleat, dan linolenat yang terlalu banyak akan menyebabkan sabun
mudah teroksidasi pada keadaan atmosferik sehingga sabun menjadi tengik.
Asam lemak tak jenuh memiliki ikatan rangkap sehingga titik lelehnya lebih
rendah daripada asam lemak jenuh yang tak memiliki ikatan rangkap, sehingga
sabun yang dihasilkan juga akan lebih lembek dan mudah meleleh pada
temperatur tinggi.
Jenis-jenis Minyak atau Lemak
Jumlah minyak atau lemak yang digunakan dalam proses pembuatan sabun
harus dibatasi karena berbagai alasan, seperti : kelayakan ekonomi, spesifikasi
produk (sabun tidak mudah teroksidasi, mudah berbusa, dan mudah larut), dan
lain-lain. Beberapa jenis minyak atau lemak yang biasa dipakai dalam proses
pembuatan sabun di antaranya :
Tallow. Tallow adalah lemak sapi atau domba yang dihasilkan oleh industri
pengolahan daging sebagai hasil samping. Kualitas dari tallow ditentukan dari
warna, titer (temperatur solidifikasi dari asam lemak), kandungan FFA, bilangan
saponifikasi, dan bilangan iodin. Tallow dengan kualitas baik biasanya digunakan
dalam pembuatan sabun mandi dan tallow dengan kualitas rendah digunakan
dalam pembuatan sabun cuci. Oleat dan stearat adalah asam lemak yang paling
banyak terdapat dalam tallow. Jumlah FFA dari tallow berkisar antara 0,75-7,0 %.
Titer pada tallow umumnya di atas 40C. Tallow dengan titer di bawah 40C
dikenal dengan nama grease.

Lard. Lard merupakan minyak babi yang masih banyak mengandung asam lemak
tak jenuh seperti oleat (60 ~ 65%) dan asam lemak jenuh seperti stearat (35 ~
40%). Jika digunakan sebagai pengganti tallow, lard harus dihidrogenasi parsial
terlebih dahulu untuk mengurangi ketidakjenuhannya. Sabun yang dihasilkan
dari lard berwarna putih dan mudah berbusa.
Palm Oil (minyak kelapa sawit). Minyak kelapa sawit umumnya digunakan
sebagai pengganti tallow. Minyak kelapa sawit dapat diperoleh dari pemasakan
buah kelapa sawit. Minyak kelapa sawit berwarna jingga kemerahan karena
adanya kandungan zat warna karotenoid sehingga jika akan digunakan sebagai
bahan baku pembuatan sabun harus dipucatkan terlebih dahulu. Sabun yang
terbuat dari 100% minyak kelapa sawit akan bersifat keras dan sulit berbusa.
Maka dari itu, jika akan digunakan sebagai bahan baku pembuatan sabun,
minyak kelapa sawit harus dicampur dengan bahan lainnya.
Coconut Oil (minyak kelapa). Minyak kelapa merupakan minyak nabati yang
sering digunakan dalam industri pembuatan sabun. Minyak kelapa berwarna
kuning pucat dan diperoleh melalui ekstraksi daging buah yang dikeringkan
(kopra). Minyak kelapa memiliki kandungan asam lemak jenuh yang tinggi,
terutama asam laurat, sehingga minyak kelapa tahan terhadap oksidasi yang
menimbulkan bau tengik. Minyak kelapa juga memiliki kandungan asam lemak
kaproat, kaprilat, dan kaprat.
Palm Kernel Oil (minyak inti kelapa sawit). Minyak inti kelapa sawit diperoleh dari
biji kelapa sawit. Minyak inti sawit memiliki kandungan asam lemak yang mirip
dengan minyak kelapa sehingga dapat digunakan sebagai pengganti minyak
kelapa. Minyak inti sawit memiliki kandungan asam lemak tak jenuh lebih tinggi
dan asam lemak rantai pendek lebih rendah daripada minyak kelapa.
Palm Oil Stearine (minyak sawit stearin). Minyak sawit stearin adalah minyak
yang dihasilkan dari ekstraksi asam-asam lemak dari minyak sawit dengan
pelarut aseton dan heksana. Kandungan asam lemak terbesar dalam minyak ini
adalah stearin.
Marine Oil. Marine oil berasal dari mamalia laut (paus) dan ikan laut. Marine oil
memiliki kandungan asam lemak tak jenuh yang cukup tinggi, sehingga harus
dihidrogenasi parsial terlebih dahulu sebelum digunakan sebagai bahan baku.
Castor Oil (minyak jarak). Minyak ini berasal dari biji pohon jarak dan digunakan
untuk membuat sabun transparan.
Olive oil (minyak zaitun). Minyak zaitun berasal dari ekstraksi buah zaitun.
Minyak zaitun dengan kualitas tinggi memiliki warna kekuningan. Sabun yang
berasal dari minyak zaitun memiliki sifat yang keras tapi lembut bagi kulit.
Campuran minyak dan lemak. Industri pembuat sabun umumnya membuat
sabun yang berasal dari campuran minyak dan lemak yang berbeda. Minyak
kelapa sering dicampur dengan tallow karena memiliki sifat yang saling
melengkapi. Minyak kelapa memiliki kandungan asam laurat dan miristat yang

tinggi dan dapat membuat sabun mudah larut dan berbusa. Kandungan stearat
dan dan palmitat yang tinggi dari tallow akan memperkeras struktur sabun.
Bahan Baku: Alkali
Jenis alkali yang umum digunakan dalam proses saponifikasi adalah NaOH, KOH,
Na2CO3, NH4OH, dan ethanolamines. NaOH, atau yang biasa dikenal dengan
soda kaustik dalam industri sabun, merupakan alkali yang paling banyak
digunakan dalam pembuatan sabun keras. KOH banyak digunakan dalam
pembuatan sabun cair karena sifatnya yang mudah larut dalam air. Na2CO3 (abu
soda/natrium karbonat) merupakan alkali yang murah dan dapat menyabunkan
asam lemak, tetapi tidak dapat menyabunkan trigliserida (minyak atau lemak).
Ethanolamines merupakan golongan senyawa amin alkohol. Senyawa tersebut
dapat digunakan untuk membuat sabun dari asam lemak. Sabun yang dihasilkan
sangat mudah larut dalam air, mudah berbusa, dan mampu menurunkan
kesadahan air. Sabun yang terbuat dari ethanolamines dan minyak kelapa
menunjukkan sifat mudah berbusa tetapi sabun tersebut lebih umum digunakan
sebagai sabun industri dan deterjen, bukan sebagai sabun rumah tangga.
Pencampuran alkali yang berbeda sering dilakukan oleh industri sabun dengan
tujuan untuk mendapatkan sabun dengan keunggulan tertentu.
Bahan Pendukung
Bahan baku pendukung digunakan untuk membantu proses penyempurnaan
sabun hasil saponifikasi (pegendapan sabun dan pengambilan gliserin) sampai
sabun menjadi produk yang siap dipasarkan. Bahan-bahan tersebut adalah NaCl
(garam) dan bahan-bahan aditif.
NaCl. NaCl merupakan komponen kunci dalam proses pembuatan sabun.
Kandungan NaCl pada produk akhir sangat kecil karena kandungan NaCl yang
terlalu tinggi di dalam sabun dapat memperkeras struktur sabun. NaCl yang
digunakan umumnya berbentuk air garam (brine) atau padatan (kristal). NaCl
digunakan untuk memisahkan produk sabun dan gliserin. Gliserin tidak
mengalami pengendapan dalam brine karena kelarutannya yang tinggi,
sedangkan sabun akan mengendap. NaCl harus bebas dari besi, kalsium, dan
magnesium agar diperoleh sabun yang berkualitas.
Bahan aditif. Bahan aditif merupakan bahan-bahan yang ditambahkan ke dalam
sabun yang bertujuan untuk mempertinggi kualitas produk sabun sehingga
menarik konsumen. Bahan-bahan aditif tersebut antara lain : Builders, Fillers
inert, Anti oksidan, Pewarna,dan parfum.

Segala puji bagi Allah Azza Wa Jalla, shalawat dan salam semoga selalu
terlimpah kepada Nabi Muhammad Shalallahu alayhi Wassalam, keluarganya,
sahabatnya dan orang-orang yg mengikuti beliau hingga hari kiamat.
Alhamdulillah,Saya akhirnya menyempatkan untuk mem-postingkan artikel
berikut :

Merupakan moleku besar yang terbentuk dari molekul-molekul kecil yang


terangkai secara berulang. Molekul-molekul kecil penyusun polimer disebut
monomer. Reaksi pembentukan polimer disebut reaksi polimerisasi
http://jejaringkimia.blogspot.com/2010/03/polimer.html
Dua jenis polimerisasi:
1. Polimerisasi adisi: polimer yang terbentuk melalui reaksi adisi dari berbagai
monomer
Contoh polimer adisi:

Yang termasuk ke dalam


polimer adisi adalah polistirena (karet ban), polietena (plastik), poliisoprena
(karet alam), politetraflouroetena (teflon), PVC, dan poliprepilena (plastik).

2. Polimerisasi kondensasi: polimer yang terbentuk karena monomer-monomer


saling berikatan dengan melepaskan molekul kecil.
Contoh: pembentukan plastik stirofoam tersusun dari dua monomer berbeda
yaitu urea dan metanal. Dua molekul metanal bergabung dengan satu molekul
urea menjadi suatu molekul disebut dimer. Dimer-dimer ini selanjutnya
berpolimerisasi.

Yang termasuk ke dalam


polimer kondensasi adalah bakelit, poliuretan, poliamida, (melamin), poliester
(nilon), teteron, dan protein.
Perbedaan antara polimerisasi adisi dan kondensasi adalah bahwa pada
polimerisasi kondensasi terjadi pelepasan molekul kecil seperti H2O dan NH3,

sedangkan pada polimerisasi adisi tidak terjadi pelepasan molekul.


Penggolongan polimer
Berdasarkan asal polimer:
1. Polimer alam: polimer yang tersedia secara alami di alam. Contoh: karet alam
(dari monomer-monomer 2-metil-1,3-butadiena/isoprena), selulosa (dari
monomer-monomer glukosa), protein (dari monomer-monomer asam amino),
amilum
2. Polimer sintetik: polimer buatan hasil sintetis indukstri/pabrikan. Contoh: nilon
(dari asam adipat dengan heksametilena), PVC (dari vinil klorida), polietilena,
poliester (dari diasil klorida dengan alkanadiol)
Berdasarkan jenis monomer:
1. Homopolimer: terbentuk dari monomer-monomer sejenis. Contoh: polisterina,
polipropilena, selulosa, PVC, teflon.
2. Kopolimer: terbentuk dari monomer-monomer yang tak sejenis. Contoh: nilon
66, tetoron, dakron, protein (dari berbagai macam asam amino), DNA (dari
pentosa, basa nitrogen, dan asam fosfat), bakelit (dari fenol dan formaldehida),
melamin (dari urea dan formaldehida)
Berdasarkan penggunaan polimer:
1. Serat: polimer yang dimanfaatkan sebagai serat. Misalnya: untuk kain dan
benang. Contoh: poliester, nilon, dan dakron.
2. Plastik: polimer yang dimanfaatkan untuk plastik. Contoh: bakelit, polietilena,
PVC, polisterina, dan polipropilena.
Berdasarkan sifatnya terhadap panas:
1. Polimer termoplas/termoplastis: polimer yang melunak ketika dipanaskan dan
dapat kembali ke bentuk semula. Contoh: PVC, polietilena, polipropilena
2. Polimer termosetting: polimer yang tidak melunak ketika dipanaskan dan tidak
dapat kembali ke bentuk semula. Contoh: melamin, selulosa
Beberapa polimer disajikan dalam tabel berikut:

faktor-faktor yang mempengaruhi sifat-sifat polimer


FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI SIFAT-SIFAT POLIMER
Diposkan oleh Chelonia Mydas Sabtu, 15 Januari 2011 di 07:59
Jejaring Kimia - Sebagian makromolekuL (termasuk diantaranya karbohidrat,
protein, dan lemak) mempunyai struktur yang lebih teratur, yakni tersusun dari
unit-unit terkecil dengan struktur yang karakteristik berulang, mulai dari 50
sampai ribuan unit. Makromolekul yang dimekian disebut dengan polimer dan
unit-unit terkecilnya disebut dengan monomer. Berikut analogi suatu polimer
beserta monomer-monomer penyusunnya.

Contoh homopolimer adalah polietilena dengan 1 jenis monomer yaitu etena,


sedangkan contoh kopolimer adalah SBR dengan monomer stirena dan
butadiene.
A. SIFAT-SIFAT POLIMER

Sebelum membahas tentang faktor yang mempengaruhi sifat-sifat polimer,


berikut akan dijelaskan terlebih dahulu tiga sifat polimer yang harus kita ketahui.
1. Termoplas
Termoplas bersifat lunak jika dipanaskan dan dapat dicetak kembali menjadi
bentuk lain. Hal ini dikarenakan termoplas memiliki banyak rantai panjang yang
terikat oleh gaya antar molekul yang lemah. Contoh polimer yang memiliki sifat
termoplas adalah PVC, polietena, nilon 6,6 dan polistirena
2. Termoset
Termoset mempunyai bentuk permanen dan tidak menjadi lunak jika dipanaskan.
Penyebabnya adalah termoset memiliki banyak ikatan kovalen yang sangat kuat
diantara rantai-rantainya. Ikatan kovalen akan terputus serta terbakar jika
dilakukan pemanasan yang tinggi. Polimer yang memiliki sifat termoset adalah
bakelit
3. Elastomer

Elastomer merupakan polimer yang elastic atau dapat mulur jika ditarik, tetapi
kembali ke awal jika gaya tarik ditiadakan. Penyebabnya adalah tumpang tindih
antara polimer yang memungkinkan rantai-rantai ditarik, dan ikatan silang yang
akan menarik kembali rantai-rantai tersebut ke susunan tumpang tindihnya.
Contoh elastomer adalah karet sintetis SBR.
B. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI SIFAT POLIMER
Sifat-sifat polimer seperti yang dipaparkan di atas ditentukan oleh beberapa
faktor, yaitu sebagai berikut:
1. Panjang rantai/jumlah monomer
Kekuatan polimer akan bertambah dengan semakin panjangnya rantai/jumlah
monomer karena terdapat semakin banyak gaya antar molekul antara rantairantai penyusunnya.
2. Susunan rantai satu terhadap lainnya
Susunan rantai satu terhadap lainnya dapat bersifat teratur membentuk daerah
kristalin dan acak membentuk daerah amorf. Polimer yang membentuk daerah
kristalin akan lebih kuat karena rantai-rantainya tersusun rapat, meski kurang
fleksibel. Sedangkan polimer yang membentuk daerah amorf akan bersifat
lemah dan lunak.
3. Tingkat percabangan pada rantai
Ketidakteraturan rantai-rantai polimer disebabkan oleh banyak cabang sehingga
akan mengurangi kerapatan dan kekerasan polimer itu sendiri, namun akan
menaikkan fleksibilitasnya. Terdapat dua contoh polimer yang dibedakan
berdasarkan fleksibilitasnya yaitu LDPE (low density polyethene) dan HDPE (high
density polyethene). Sesuai dengan namanya LDPE lebih fleksibel tapi kurang
tahan panas dengan titik didih 105oC, sendangkan HDPE lebih kaku, tetapi kuat
dan tahan panas pada kisaran suhu 135oC.
4. Gugus fungsi pada monomer
Adanya gugus fungsi polar seperti hidroksida - OH dan amina - NH2 pada
monomer dalam polimer akan mengakibatkan terbentuknya ikatan hydrogen.
Akibatnya, kekuatan gaya antar molekul polimer meningkat dan akan menaikkan
kekerasan polimer.
5. Ikatan silang (cross linking) antar rantai polimer
Termoplas tidak memiliki cross linking, hanya gaya antar molekul yang lemah
sehingga bersifat lunak. Sebaliknya termoset memiliki cross linking yang kuat
berupa ikatan kovalen sehingga bersifat keras dan sulit meleleh. Sementara itu
sifat elestomer dipengaruhi selain oleh tumpang tindih rantai, juga cross
linking yang lebih sedikit disbanding termoset.
6. Penambahan zat aditif

Sangat sedikit polimer yang digunakan dalam bentuk murninya, kebanyakan


ditambah zat aditif untuk memperbaiki atau memperoleh sifat yang diinginkan.
Zat plastis (plasticizer) yang digunakan untuk melunakkan polimer pada jenis
polimer termoset; zat pengisi/penguat untuk menaikkan kekuatan polimer;
stabilitator untuk menaikkan ketahanan terhadap dekomposisi oleh panas, sinar
UV, dan oksidator; pigmen untuk pewarnaan; dan penghambat nyala api yang
digunakan untuk mengurangi sifat mudah terbakar dan materi.