Anda di halaman 1dari 4

Uji Kepekaan Antimikroba dengan Metode Delusi

Konsentrasi hambat minimun 9 minimum inhibitori konsentrasi , MIC ) suatu obat


antimikroba adalah konsentrasi terendah obat tersebut yang masih mampu mengahambat
pertumbuhan organisme ( yang tampak baik dengan mata atau instrumen). Pengetahuan
tentang MIC suatu antimikroba, proto pemberian, dan kadar antimikroba yang dapat dicapai
secara klinis ditempat infeksi memungkinkan kita mengklasifikasi organisme sebagai rentan (
S ) , intermediat (I), atau resisten ( R) terhadap antimikroba yang diperiksa .
MIC suatu obat antimikroba yang dapat ditentukna dengan penggunaan serangkaian
tabung reaksi, yang masing-masing mengandung medium pertumbuhan ditambah
antimikroba dengan konsentrasi meningkat bertahap.

Selain itu, MIC dapat ditentukan

dengan menggunakan prinsip yang sama dalam format miniatur ( misal, sumur pada baki
mikroliter, atau ruang-ruang kecil disebuah kartu plastik jernih) .
Menggunakan 1 seri tabung reaksi yang diisi media cair dan jumlah zat tertentu sel
mikroba yang di uji. Kemudian masing masing atbung di isi dengan bahan yang telah di
encerkan secara serial. Selanjutnya seri tabung di inkubasi pada suhu 37 C selama 18-24 jam
dan diamati terjadinya kekeruhan pada tabung. Konsentrasi yang rendah bahan pada tabung
yang ditunjukan dengan hasil biakan yang mulai tampak jernih ( tidak ada pertumbuhan
mikroba) adalah KHM dari bahan uji. Konsentrasi terendah pada obat pada biakan padat yang
ditunjukan dengan tidak adanya pertumbuhan koloni mikroba adalah KBM dari bahan
terhadap bakteri uji.
Resistensi bakteri adalah suatu sifat tidak terganggunya kehidupan sel bakteri oleh
antimikrobia. Secara umum resistensi di bagi dalam 3 kelompok:
A. Resistensi genetic
Terjadi mutasi spontan pada gen bakteri sehingga terjadi perubahanpada bakteri yang
semula sensitive terhadap suatu antimikrobia menjadi resisten. Bakteri dapat berubah menjadi
resisten akibatmemperoleh suatu elemen pembawa factor resisten. Cara transformasifactor
resisten bakteri terjadi dengan jalan bekteri menginporlasi factorresisten langsung dari media
sekitarnya (lingkungan).
B. Resisten non genetic
Bakteri dalam keadaan istirahat, biasanya tidak dipengaruhi oleh antimikrobia bakteri.
Bakteri ini dikenal sebagai persistem. Bila berubah menjadi aktif kembali, bakteri kembali
bersifat sensitiveterhadap antimikroba semula
C. Resistensi silang
Resistensi silang adalah keadaan resisten terhadap antimikrobayang juga
memperlihatkan sifat resisten terhadap antimikroba yanglain. Pada resisten silang, sifat
resistensi ditentukan oleh suatu lokusgenetic. Resistensi silang biasanya terjadi antara
antimikrobia denganstruktur yang hamper sama, misalnya antara beberapa derivatetetrasiklin.
Mekanisme resisten kuman terhadap antimikroba ada 5 yaitu :

1. Perubahan tempat kerja obat pada mikroba.


2. Mikroba menurunkan permeabilitasnya sehingga obat sulitmasuk ke dalam sel.
3. Mikroba membentuk jalan pintas untuk menghindari tahapyang dihambat oleh mikroba.
4. Meninggkatkan produk enzim yang dihambat oleh antimikroba.
5. Inaktivasi oleh mikroba
Terbentuknya resistensi dapa dikurangi dengan cara:
1. Mencegah pemakaian antibiotic tanpa pembedaan kasus-kasusyang tidak membutuhkan
antibiotik.
2. Menghentikan penggunaan antibiotic pada infeksi biasa atausebagai obat luar.
3. Mengguanakan antibiotic yang tepat dengan dosis agar infeksicepat sembuh
4. Menggunakan kombinasi antibiotic yang telah terbuktikeefektifannya.
5. Menggunakan antibiotic yang lain bila ada tanda-tanda bahwasuatu organisme akan menjadi
resisten terhadap antibiotic yang digunakan semula.
Penyebab mikroorganisme resisten terhadap antibiotic adalah
1. Pemakaian antibiotic yang tidak tepat.
2. Pengobatan yang tidak tuntas antau penghentian antibiotic sebelumbakteri benar-benar mati.
3. Pemakaian dosis obat antibiotic dibawah dosis terapi.
4 Bakteri bersifat resisten karena mutasi
.
DILUSI PADAT ATAU CAIR
Pada prinsipnya antibiotik diencerkan hingga beberapa konsentrasi. Pada delusi cair, masingmasing konsentrasi obat ditambah suspensi kuman dalam media. Sedangkan pada delusi pada tiap
konsentrasi obat dicampur dengan media agar, lalu ditambah kuman. (Lay, 1994)
Metode yang dapat dijadikan alternatif untuk menentukan konsentrasi hambat tumbuh
minimum ekstrak tanaman adalah metode dilusi yang mencakup makrodilusi dan mikrodilusi.
Metode mikrodilusi sedang dikembangkan karena memiliki sensitivitas yang lebih tinggi
dibandingkan dengan teknik difusi agar. Sensitivitas mikrodilusi mencapai 30 kali lebih
sensitif. Teknik mikrodilusi dapat digunakan untuk beberapa sampel yang berbeda dengan
jumlah sampel yang sedikit. Hal ini sangat berguna jika jumlah senyawa antibakteri yang
didapatkan sedikit dan terbatas. Teknik mikrodilusi juga dapat membedakan antara efek
bakteriostatik dan bakterisidal serta dapat menentukan nilai konsentrasi hambat tumbuh
minimum (KHTM).
Mikrodilusi tidak membutuhkan waktu yang lama karena pengujian dilakukan dalam
waktu satu kali pada satu microplate dengan jumlah sumur yang banyak. Metode mikrodilusi
ini dapat digunakan untuk berbagai macam mikroorganisme, murah, dan menghasilkan hasil
dapat diulang. Mikrodilusi menggunakan sampel yang diencerkan secara berseri. Volume
kultur bakteri yang dimasukkan ke dalam sumur seragam. Ukuran inokulum yang biasa
digunakan yaitu 106 sampai 108 CFU/mL.

a. Metode Dilusi
Cara ini digunakan untuk menentukan kadar hambat minimum (KHM) dan kadar bunuh
minimal (KBM) dari obat antimikroba. Prinsip dari metode dilusi ini adalah menggunakan

satu seri tabung reaksi yang diisi media cair dan sejumlah tertentu sel mikroba yang diuji.
Setelah itu, masing-masing tabung diuji dengan obat yang telah diencerkan secara serial. Seri
tabung diinkubasi pada suhu 3610C selama 18-24 jam dan diamati terjadinya kekeruhan
pada tabung. Konsentrasi terendah obat pada tabung yang ditunjukkan dengan hasil biakan
yang mulai tampak jernih (tidak ada pertumbuhan mikroba) adalah KHM dari obat.
Konsentrasi terendah obat pada biakan padat yang ditunjukkan dengan tidak adanya
pertumbuhan koloni mikroba adalah KBM dari obat terhadap bakteri uji. Uji kepekaan cara
dilusi agar memakan waktu dan penggunaannya dibatasi pada keadaan tertentu saja. Uji
kepekaan cara dilusi cair menggunakan tabung reaksi ataupun microdilution plate.
Keuntungan uji mikrodilusi cair adalah bahwa uji ini memberi hasil kuantitatif yang
menunjukkan jumlah antibakteri yang dibutuhkan untuk mematikan bakteri.
b. Metode difusi
Prinsip dari metode difusi ini adalah sebagai berikut: Obat dijenuhkan ke dalam kertas saring
(cakram kertas). Cakram kertas yang mengandung obat tertentu tersebut ditanam pada media
pembenihan agar padat yang telah dicampur dengan mikroba uji, kemudian diinkubasi pada
suhu 3610C selama 18-24 jam. Selanjutnya diamati adanya daerah jernih di sekitar cakram
kertas yang menunjukkan tidak adanya pertumbuhan mikroba (7).
c.
Metode turbidimetri
Metode turbidimetri dilakukan berdasarkan hambatan pertumbuhan mikroba dalam media
cair yang mengandung obat antimikroba. Hambatan pertumbuhan mikroba ditentukan dengan
mengukur serapannya dengan menggunakan spektrofotometer pada panjang gelombang 530
nm (11).
Daftar Pustaka
1.
Anonim, 2000, Widmans Clinical Interpretation of Laboratory Tests II/E, F.A Davis
Company, U.S.A
2.
Anonim,
2011,
Prinsip
Metode
Dilusi,
available
at
http:
//
repository.usu.ac.id/bistream/123456789/19639.../chapter%2011.pdf
3.
Jawetz, Melnick & Adelbergs, 2011, Mikrobiologi Kedokteran, Penerjemah Bagian
Mikrobiologi Fakultas Kedokteran UNAIR, Salemba Medika, Jakarta.
4. W. Lay, Bilbiana, 1994, Analisis Mikroba di Laboratorium, Raja Gravindo Persada, Jakarta.
5.
Langfield RD, Scarano FJ, Heitzman ME, Kondo M, Hammond GB, Neto CC. 2004.Use of
a modified microplate bioassay method to investigate antibacterial activity in the Peruvian
medicinal plant Peperomia galiodes. J. Ethnopharmacol. 94: 279-281.
6.
Baris O, Gulluce M, Sahin F, Ozer H, Kilic H, Ozkan H, Sokmen M, Ozbek T .2006.
Biological activities of the essential oil and methanol extract of Achillea Biebersteinii Afan.
(Asteraceae). Turk. J. Biol. 30: 65-73.
DAFTAR PUSTAKA
1)
Setiabudy, 1995, Antimikroba Golongan Tetrasiklin dan Kloramfenikol dalam Farmakologi
dan Terapi, Edisi IV, Bagian Farmakologi dan Terapi FKUI, Jakarta, 651-657.
2)
Ganiswarna, 1995, Farmakologi dan Terapi, Edisi 4, Fakultas Kedokteran, Universitas
Indonesia, Jakarta, 73.
3)
Brander, 1991, Veterinary Applied Pharmacology and Therapeutics, 5nd Ed, ELBS, Ballere
Tindall, 45-50.

4)

Pelczar, M. J., dan E. C. S., Chan, 1986, Dasar-dasar Mikrobiologi, UI Press, Jakarta160165
5)
Jawetz, Melnick., dan Adelberg, 2001, Mikrobiologi Kedokteran Buku 1, Salemba Medika,
Surabaya132-139.
6)
Istiantoro, 1995, Penisilin, Sefalosporin dan Atibiotik Betalaktam Lainnya dalam
Farmakologi dan Terapi, Edisi IV, Bagian Farmakologi dan Terapi FKUI, Jakarta, 563.
7)
Wattimena, 1987, Diktat Zat Pengatur Tumbuh Tanaman, Lab Kultur Jaringan Tanaman
PAU Bioteknologi IPB, Bogor, 122-125.
8)
Dwidjoseputro, 2005, Dasar-Dasar Mikrobiologi, Cetakan ke-16, Djambatan, Jakarta,3543.
9)
W. Lay., Bibiana, 1994, Analisis Mikroba di Laboratorium, Raja Gravindo Persada, Jakarta
69-97.
10) Chatim, 1994, Sterilisasi dan Disininfeksi dalam Buku Ajar Mikrobiologi Kedoteran, Edisi
Revisi, Bina rupa Aksara, Jakarta,85-103.
11) Ditjen POM, 1995, Farmakope Indonesia, Edisi IV, Departemen Kesehatan Republik
Indonesia, Jakarta, 189.
12) Jawelz, M. A. 1995, Mikrobiologi Kedokteran(Medical Microbiology) Edisi2, EGC, Jakarta
13) Tjay, T.H. Rahardja, K., 2007, Obat-Obat Penting, Elex Media Komputindo, Jakarta