Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PENDAHULUAN

CORPUS ALIENUM
Oleh : M. Syaiful Islam, S.Kep

A. Tinjauan Teori
1. Pengertian
Corpus alienum adalah benda asing. Istilah ini sering digunakan dalam
istilah medis. Merupakan salah satu penyebab cedera mata yang paling sering
mengenai sclera, kornea, dan konjungtiva. Trauma mata adalah cidera mata
yang dapat mengakibatkan kelainan mata atau kerusakan jaringan pada mata
(Widodo, 2002).
Meskipun kebanyakan bersifat ringan, tetapi beberapa cedera bisa
berakibat serius . Apabila suatu korpus alienum masuk ke dalam bola mata maka
biasanya terjadi reaksi infeksi yang hebat serta timbul kerusakan dari isi bola
mata dan terjadi iridocylitis serta panophthmitis. Karena itu perlu cepat
mengenali benda asing tersebut dan menentukan lokasinya di dalam bola mata
untuk kemudian mengeluarkannya.
Beratnya kerusakan pada organ organ di dalam bola mata tergantung
dari besarnya corpus alienum, kecepatannya masuk, ada atau tidaknya proses
infeksi dan jenis bendanya sendiri. Bila ini berada pada segmen depan dari bola
mata, hal ini kurang berbahaya jika dibandingkan dengan bila benda ini terdapat
di dalam segmen belakang. Jika suatu benda masuk ke dalam bola mata maka
akan terjadi salah satu dari ketiga perubahan berikut :

1) Mecanical Effect
Benda yang masuk ke dalam bola mata hingga melalui kornea ataupun
sclera. Setelah benda ini menembus kornea maka ia masuk ke dalam
kamera oculi anterior dan mengendap ke dasar. Bila kecil sekali dapat
mengendap di dalam sudut bilik mata. Bila benda ini terus, maka ia akan
menembus iris dan kalau mengenai lensa mata akan terjadi catarack,
traumatic. Benda ini bisa juga tinggal di dalam corpus vitreus. Bila benda
ini melekat di retina biasanya kelihatan sebagai bagian yang dikelilingi oleh
eksudat yang berwarna putih serta adanya endapan sel sel darah merah,
akhirnya terjadi degenerasi retina.

2) Permulaan Terjadinya Proses Infeksi


Dengan masuknya benda asing ke dalam bola mata kemungkinan akan
timbul infeksi. Corpus vitreus dan lensa dapat merupakan media yang baik

untuk pertumbuhan kuman sehingga sering timbul infeksi supuratif. Juga


kita tidak boleh melupakan infeksi kuman tetanus.

3) Terjadi perubahan perubahan spesifik pada jaringan mata karena proses


kimiawi (reaction of ocular tissue)
Jenis Benda Asing pada Mata:

Benda logam
Terbagi menjadi benda logam magnit dan bukan magnit Contoh :
emas, perak, timah hitam, seng, nikel, aluminium, tembaga, besi.

Benda bukan logam


Contoh : batu, kaca, porselin, karbon, bahan pakaian dan bulu mata.

Benda Insert
Adalah benda yang terdiri atas bahan bahan yang tidak
menimbulkan reaksi jaringan mata, ataupun jika ada reaksinya
sangat ringan dan tidak mengganggu fungsi mata.
Contoh : emas, perak, platina, batu, kaca, porselin, plastik tertentu

2. Etiologi
Trauma mata dapat terjadi secara mekani dan non mekanik

1. Mekanik, meliputi :
a. Trauma oleh benda tumpul, misalnya :
1) Terkena tonjokan tangan
2) Terkena lemparan batu
3) Terkena lemparan bola
4) Terkena jepretan ketapel, dan lain-lain
b. Trauma oleh benda tajam, misalnya:
1) Terkena pecahan kaca
2) Terkena pensil, lidi, pisau, besi, kayu
3) Terkena kail, lempengan alumunium, seng, alat mesin tenun.
c. Trauma oleh benda asing, misalnya:
Kelilipan pasir, tanah, abu gosok dan lain-lain

2. Non Mekanik, meliputi :


a. Trauma oleh bahan kimia:
1) Air accu, asam cuka, cairan HCL, air keras
2) Coustic soda, kaporit, jodium tincture, baygon

3) Bahan pengeras bakso, semprotan bisa ular, getah papaya, miyak


putih

3. Trauma Termik (Hipermetik)


1) Terkena percikan api
2) Terkena air panas
4. Trauma Radiasi
1) Sinar ultra violet
2) Sinar infra merah
3) Sinar ionisasi dan sinar X (Ilyas, 2004)
Gangguan-gangguna trauma pada mata

1. Trauma Mata Karena Benda Tajam


a. Plasits
b. Gangguan pergerakan bola mata
c. Ketajaman penglihatan buruk
d. Perdarahan didalam bola mata
e. Lensa yang pecah
f. Rusaknya susunan jaringan bola mata
g. Terlihat bintik mata yan dangkal karena perforasi kornea
h. Bentuk pupil yang lonjong / terjadi perubahan bentuk pupil akibat
perlengkapan iris dengan bbir luka kornea

i. Tekanan bola mata akan rendah akibat cairan mata keluar melalui luka
2. Trauma Mata Oleh Benda Asing
a. Mata terasa mengganjal dan ngeres
b. Mendadak merasa tidak enak jika mengedikan mata
c. Bila tertanam dalam kornea nyeri sangat hebat
d. Fototobia
e. Gangguan gerak bola mata dan lain-lain
3. Trauma karena bahan kimia
a. Trauma Akali
1). Dapat menyebabkan pecah atau rusaknya jaringan
2). Meningkatkan tekanan infra akuler

3). Karena keruh dalam beberapa menit


4). Pembentukan jaringan parut pada kelenjar asesari air mata, yang
mengakibatkan mata menjadi kering

5). Lensa keruh diakibatkan kerusakan kaps lensa

b. Trauma Asam
1). Terjadi koogulasi protein epitel kornea yang mengakibatkan
kekerutan pada kornea

2). Akibat koogulasi kadang seluruh kornea terkelupas


3). Bila terjadi penetrasi jaringan yang lebih dalam akan terjadi
edema kornea dan iris

4). Keadaan terburuk apabila terkena trauma asam berupa


vaskularisasi berat pada kornea

4. Trauma Mata Mekanik (hipertemik)


a. Bila siperficila dan bulu mata hangus kulit palpebra hipermis dan
terjadi edema palpebra

b. Bila lebih berat terjadi nekrosis sehingga dapat kehilangan sebagian


palpebra

c. Bila kornea terkena dapat terjadi erosi karena adanya reflek menutup
pada kelopak umumnya kornea tidak terkena

5. Trauma Mata karena radiasi


3. Klasifikasi
Berdasarkan keparahannya trauma mata diklasifikasi sebagai berikut:

a. Trauma Ringan
1) Trauma disembuhkan tanpa tindakan atau pengobatan yang berarti
2) Kekerungan ringan pada kornea
3) Pragnosis baik
b. Trauma sedang
1) Kekeruhan kornea sehingga detail iris tidak dapat dilihat, tapi pupil
masih tampak

2) Iskemik mekrosis pada konjungtiva dan sklera


3) Pragnosis Sedang

c. Trauma berat
1) Kekeruhan kornea sehingga pupil tidak dapat dinilai
2) Konjungtiva dan sklera sangat pucat karena istemik nekrosis berat
3) Pragnosis buruk

4. Tanda Dan Gejala


a. Ekstra Okular
1. Mendadak merasa tidak enak ketika mengedipkan mata
2. Ekskoriasi kornea terjadi bila benda asing menggesek kornea, oleh
kedipan bola mata.

3. Lakrimasi hebat.
4. Benda asing dapat bersarang dalam torniks atas atau konungtiva
5. Bila tertanam dalam kornea nyeri sangat hebat
b. Infra Okuler
1. Kerusakan pada tempat masuknya mungkin dapat terlihat di kornea,
tetapi benda asing bisa saja masuk ke ruang posterior atau limbus melalui
konjungtiva maupun sklera.

2. Bila menembus lensa atau iris, lubang mungkin terlihat dan dapat terjadi
katarak.

3. Masalah lain diantaranya infeksi skunder dan reaksi jaringan mata


terhadap zat kimia yang terkandung misalnya dapat terjadi siderosis.

5. Patofisiologi
Trauma mata bisa disebabkan oleh karena mekanik dan non mekanik,
semua ini menciderai organ-organ mata yang menyebabkan terjadinya trauma
mata. Trauma mata yang diakibatkan oleh cedera mekanik pada jaringan bola
mata akan menimbulkan suatu atau berbagai akibat klasik seperti: rasa sakit

akibat trauma, gangguan penglihatan berupa penglihatan kabur, perabengkalan,


perdarahan atau luka terbuka dan bentuk mata berubah.
Trauma yang diakibatkan oleh cidera non mekanik pada bola mata akan
menimbulkan berbagai akibat seperti : erosi epitel kornea, kekeruhan kornea.
Bila pada cidera radiasi juga terjadi efek kumulasi. Bila radiasi berkurang maka
lesi terimis yang ditimbulkan sinar red (irivisible rays) dapat berupa kekeruhan
kornea, atratosi iris, katarak. (Mangunkusumo, 1988)

6.

Pathway

Mekanik
Trauma tumpul
Trauma tajam
Trauma benda asing

Non Mekanik
Trauma kimia
Trauma termik (hipertemik)
Trauma radiasi

Trauma organ mata inflamasi pengeluaran media kimia

Kerusakan jaringan
Rangsang nosi receptor
Kerusakan sudut titik mata depan
Perdarahan mecembes sepanjang
*Edema
orbitaretina
Erosi kornea
*Perdarahan
Spriral cora
Penaikan tekanan bola mata
*Ablasia retiria
(penaikan
Laseransi kornea bag.
sentral tia)
Informasi kortex cerebsi
Hematam kelopak mata
Penurunan visus

Kerusakan kornea

Glaukomia traumatikaNyeri

Perubahan persepsi sensorik


Penglihatan kabur Perawatan diri

Mual muntah
Resiko nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

Terputusnya N. II optikus

Resiko enjury

Perdarahan iris

Gangguan kelopak mata


Prognase buruk penglihatan
Kelumpuhan N.VII

hifema

Hifema tidak mengurang dalam

Kelopak mata tidak membuka / menutup dengan sempurna


Mual muntah
7.
Arsietas
Resiko terinfeksi

Tes Diagnostik
a. Pemeriksaan umum
Pemeriksaan pada kasus trauma mata dilakukan baik subyektf maupun
obyektif.

1) Pemeriksaan subyektif
Pemeriksaan ketajaman penglihatan. Hal ini berkaitan dengan
pembutatan visum et repertum. Pada penderita yang ketajamannya
menurun, dilakukan pemeriksaan retraksi untuk mengetahui bahwa
penurunan penglihatan mungkin bukan disebabkan oleh trauma tetapi
oleh kelainan retraksi yang sudah ada sebelum trauma (Widodo, 2000)

2) Pemeriksaan Obyektif
Saat penderita kita inspeksi sudah dapat diketahui adanya kelainan di
sekitar mata seperti adanya perdarahan sekitar mata. Pembengkakan di
dahi, pipi, hidung dan lain-lain yang diperiksa pada kasus trauma mata
ialah: keadaan kelopak mata kornea, bilik mata depan, pupil, lensa dan
tundus, gerakan bola mata dan tekanan bola mata.
Pemeriksaan segmen anterior dilakukan dengan sentotop, loupe slit
lamp dan atlalmoskop. (Widodo, 2000).

b. Pemeriksaan Khusus
i. Pembiakan kuman dari benda yang merupakan penyebab trauma untuk
menjadi petunjuk pemberian obat antobiotik pencegah infeksi.

ii. Pemeriksaan radiology foto orbita


iii. Untuk melihat adanya benda asing yang radioopak, bila ada dilakukan
pemeriksaan dengan lensa kontak combrang dan dapat ditentukan
apakah benda asing intra okuler atau ektra okuler.

iv. Pemeriksaan ERG : untuk mengetahui fungsi retina yang rusak atau
v. yang masih ada.
vi. Pemeriksaan VER : untuk melihat fungsi jalur penglihatan pusat
vii. penglihatan
8. Penatalaksaan
a. Trauma Mata Benda Tumpul
Penanganan ditekankan pada utama yang menyertainya dan penilaian
terhadap ketajaman penglihatan. Setiap penurunan ketajaman penglihatan
tanda mutlak untuk melakukan rujukan kepada dokter ahli mata.
(mangunkusumo, 2000)

Pemberian pertolongan pertama berupa:

a. Obat-obatan analgetik : untuk mengurangi rasa sakit. Untuk


pemeriksaan mata dapat diberikan anesteshi local: Pantokain 0,5% atau
tetracain 0,5% - 1,0 %.

b. Pemberian obat-obat anti perdarahan dan pembengkakan


c. Memberikan moral support agar pasien tenang
d. Evaluasi ketajaman penglihatan mata yang sehat dan mata yang terkena
trauma

e. Dalam hal hitema ringan (adanya darah segar dala bilik mata depan)
tanpa penyulit segera ditangani dengan tindakan perawatan:

1). Tutup kedua bola mata


2). Tidur dengan posisi kepala agar lebih tinggi
3). Evaluasi ketajaman penglihatan
4). Evaluasi tekanan bola mata
f. Setiap penurunan ketajaman penglihatan atau keragu-raguan mengenai
mata penderita sebaiknya segera di rujuk ke dokter ahli mata.

b. Trauma mata benda tajam


Keadaan trauma mata ini harus segera mendapat perawatan khusus karena
dapat menimbulkan bahaya; infeksi, siderosis, kalkosis dan atlalmia dan
simpatika.
Pertimbangan tindakan bertujuan :

i. Mempertahankan bola mata


ii. Mempertahankan penglihatan
Bila terdapat benda asing dalam bola mata, maka sebaiknya dilakukan usaha
untuk mengeluarkan benda asing tersebut.
Pada penderita diberikan:

a. Antibiotik spectrum luas


b. Analgetik dan sedotiva
c. Dilakukan tindakan pembedahan pada luka yang terbuka
c. Trauma mata benda asing
4. Ekstra Okular
1). Tetes mata
2). Bila benda asing dalam forniks bawah, angkat dengan swab.
3). Bila dalam farniks atas, lipat kelopak mata dan angkat

4). Bila tertanam dalam konjungtiva, gunakan anestesi local dan angkat
dengan jarum

5). Bila dalam kornea, geraka anestesi local, kemudian dengan hat-hati
dan dengan keadaan yang sangat baik termasuk cahaya yang baik,
angkat dengan jarum.

6). Pada kasus ulerasi gunakan midriatikum bersama dengan antibiotic


local selama beberapa hari.

7). Untuk benda asing logam yang terlalu dalam, diangkat dengan
jarum, bisa juga dengan menggunakan magnet.

5. Intra okuler
1).

Pemberian antitetanus

2).

Antibiotic

3).

Benda yang intert dapat dibiarkan bila tidak menybabkan iritasi

d. Trauma mata bahan kimia


a. Trauma akali
1)

Segera lakukan irigasi selama 30 menit sebanyak 2000 ml; bila


dilakukan irigasi lebih lama akan lebih baik.

2)

Untuk mengetahui telah terjadi netralisasi bisa dapat dilakukan


pemeriksaan dengan kertas lokmus; pH normal air mata 7,3

3)

Diberi antibiotic dan lakukan debridement untuk mencegah infeksi


oleh kuman oportunie.

4)

Diberi sikoplegik karena terdapatnya iritis dan sineksis posterior

5)

Beta bloker dan diamox untuk mengatasi glukoma yang terjadi

6)

Steroid diberikan untuk menekan radang akibat denoturasi kimia


dan kerusakan jaringan kornea dan konjungtiva namun diberikan
secara hati-hati karena steroid menghambat penyembuhan.

7)

Kolagenase intibitor seperti sistein diberikan untuk menghalangi


efek kolagenase.

8)

Vitamin C diberikan karena perlu untuk pembentukan jaringan


kolagen.

9)

Diberikan bebat (verban) pada mata, lensa kontak lembek.

10) Karataplasti dilakukan bila kekerutan kornea sangat menganggu


penglihatan.

b. Trauma Asam

1). Irigasi segera dengan gara fisiologis atau air.


2). Control pH air mata untuk melihat apakah sudah normal
3). Selanjutnya pertimbangan pengobatan sama dengan pengobatan
yang diberikan pada trauma alkali.

e. Trauma Mata Radiasi


Bila panas merusak kornea dan konjungtiva maka diberi pada mata

B.

Lokal anastesik

Kompres dingin

Antibiotika lokal

Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian

1) Data biografi (meliputi identitas pasien seperti : Nama, Jenis kelamin,


pekerjaan, agama)

2) Riwayat kesehatan
Riwayat kesehatan pendahuluan diambil untuk menentukan masalah primer
pasien seperti: kesulitan membaca, pandangan kabur, rasa terbakar pada
mata, mata basah, pandangan ganda, bercak dibelakang mata dan lain-lain.

3) Riwayat penyakit apa yang terakhir di derita oleh pasien


a) Masa anak
b) Dewasa

: Strabismus, ambliopia, cedera


: Glausoma, katarak, cidera / trauma mata.

c) Penyakit keluarga : Adakah riwayat kelainan mata pada keluarga


2. Pemeriksaan fisik
1)

Pemeriksaan bagian luar mata

a) Posisi mata : dikaji simetris / tidak. Apakah exaptalamus


b) Alis mata bulu mata dan kelopak mata. Respon tutup mata dan
berkedip.

c) Inspeksi area antara kelopak mata bawah dan atas apakah bebas
ederma.

d) Inspeksi sclera dan konjugtiva: melihat warna, perubahan tekstur dan


lain-lain.

e) Iris dan pupil diinspeksi normalnya saat diberikan cahaya. Iris


kontraksi dan nervus optikus terstimulasi.

2)

Tes Diagnostik
Untuk menilai :

a. Ketajaman serta fungsi penglihatan


b. Pemeriksaan keadaan organ mata
c. Penggolongan keadaan trauma
3. Diagnosa Keperawatan
1) Nyeri akut berdasarkan dengan inflamasi
2) Resiko injuri berdasar dengan peningkatan Tekanan Infra Okuler (TIO)
3) Ansietas berdasar dengan proses pembedahan
4) Resiko nutrisi kurang dari kebutuhan berdasarka dengan mual, muntal
(anoveksie)

5) Perubahan persepsi sensori (penglihatan) berdasar dengan penurunan virus


6) Defisit perawatan diri berdarkan kebutuhan

4. Rencana Tindakan
a. Nyeri akut berdasarkan dengan infeksi
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1X 24 jam diharapkan nyeri
hilang atau berkurang.
Krikteria Hasil:

a. Menyatakan nyeri berkurang / hilang


b. Pasien mendemonstrasikan penggunaan teknik relaksasi
c. Menunjukkan menurunnya tegangan relak
Intervensi

a. Kaji skala nyeri (P, Q, R, S, T)


Rasional :

Mengidentifikasi intervensi yang tepat dan menganalisa

keaktitan analgesia

b. Pantau tanda-tanda vital


Rasional : Mengidentifikasi raa sakit dan ketidaknyamanan

c. Berikan tindakan nyaman seperti kompres pada daerah edema


Rasional : Mengurangi rasa ketidaknyamanan

d. Kolaborasi : berikan analgetik


Rasional : Mengontrol mengurangi nyeri

b. Resiko injuri berdasarkan peningkatan tekanan infra okuler (TIO)


Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1X 24 jam diharapkan tidak
terjadi resiko injuri.
Krikteria Hasil:

a. Menyatakan

pemahaman

factor

yang

terlibat

akibat

dalam

kemungkinan cidera

b. Menunjukkan perubahan untuk menurunkan factor resiko dan


melindungi diri dari cidera
Intervensi :

a. Batasi aktivitas seperti menggerakan kepala tiba-tiba, menggaruk mata,


membongkok
Rasional : Menurunkan Tekanan Infra Okuler (TIO)

b. Anjurkan menggerakkan teknik manajemen stress seperti: bimbingan


imajinasi
Rasional : Meningkatkan relaksasi dan koping, menurunkan TIO

c. Pertahankan perlindungan mata sesuai indikasi


Rasional : Melindungi dari cidera kecelakaan dan menurunkan gerakan
mata.

d. Kolaburasi : berikan asetazolamid (diamox)


Rasional : Menurunkan TIO bila terjadi peningkatan

c. Ansietas berdasarkan Proses Pembedahan


Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1X 24 jam diharapkan tidak
Klien sudah tidak ansietas lagi
Krikteria Hasil:

a. Menyatakan keadaan perasaan ansietas


b. Menunjukkan relaksasi
Intervensi :

a. Pantau respon fisik seperti takikardi, gelisah


Rasional : Membantu menentukan derajad cemas

b. Berikan tindakan kenyamanan seperti : perubahan posisi


Rasional :Meningkatkan relaksasi dan kemampuan koping

c. Anjuran pasien melakukan teknik relaksasi


Rasional :Memberikan arti penghilangan respon ansietas

d. Libatkan orang terdekat dalam rencana perawatan


Rasional :Membantu mefokuskan penglihatan pasien

d. Resiko nutrisi kurang dari kebutuhan berdasarkan Anoreksia


Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1X 24 jam diharapkan tidak
tidak terjadi anoreksia.
Krikteria Hasil:

a. Pasien mendapat nutrisi yang adekuat

b. Pasien mengkonsumsi nutrisi yang adekuat


c. Pasien tidak mengalami penurunan berat badan
d. Menunjukkan nafsu makan pasien meningkat
Intervensi :

a. Tentukan ketajaman penglihatan, catat apakah satu / kedua mata


Rasional :Untuk diperbaiki prosedur

b. Orientasi pasien terhadap lingkungan


Rasional :Memberikan peningkatan kenyamanan dann kekeluargaan

c. Observasi tanda-tanda dan gejala-gejala disosientasi


Rasional :Menurukan resiko jatuh bila pasien bingung

d. Dorong orang terdekat tinggal dengan pasien


Rasional :Memberikan rangsangan sensori tepat terhadap isolasi

e. Defisit perawatan diri berdasarkan kebutuhan


Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1X 24 jam diharapkan
deficit perawatan diri dapat teratasi.
Krikteria Hasil:

a. Mengidentifikasi kebersihan optimal setelah bantuan dalam perawatan


diberikan.

b. Berpartisipasi secara fisik / verbal dalam melakukan ADL


Intervensi :

a. Kaji faktor penyebab terjadinya kebutaan


Rasional :Untuk menentukan intervensi yang tepat

b. Tingkatkan partisipasi optimal


Rasional :Meningkatkan kemampuan pasien dalam melakukan ADL

c. Bantu dalam melakukan ADL


Rasional :Meringankan beban pasien dalam melakukan ADL

Daftar Pustaka
Doenges, Marlyn E. (2000).Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 3, EGG Jakarta.
Ilyas, Sdarta. (2004). Ilmu Penyakit Mata Edisi III, Cetakan I Fakultas
Kedokteran UI. Jakarta : Balai Penerbit Kedokteran Universitas Indonesia
Ramali, Ahmad. (2005). Kamus Kedokteran, Jakarta: Djambatan.
Widodo, Purbo S. (2002). Ilmu Penyakit Mata Untuk Dokter Umum dan
Mahasiswa Kedokteran. Jakarta : Sagung Seto