Anda di halaman 1dari 36

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Anak usia sekolah dapat disebut sebagai akhir masa kanak-kanak sejak usia 6
tahun atau masuk sekolah dasar kelas satu, ditandai oleh kondisi yang sangat
mempengaruhi penyesuaian pribadi dan penyesuaian sosial anak. Masalah-masalah yang
sering terjadi pada anak usia sekolah meliputi bahaya fisik dan psikologis. Bahaya fisik
meliputi kegemukan, kecelakaan, kesederhanaan, kecanggungan. Sedangkan bahaya
psikologi meliputi bahaya dalam berbicara, emosi, bermain, konsep diri, moral,
menyangkut minat, penggolongan peran seks, perkembangan kepribadian, serta
hubungan keluarga. (Suprajitno, 2004). Masalah-masalah yang timbul tersebut dapat
menyebabkan anak mengalami gangguan pemusatan perhatian atau gangguan
konsentrasi.
Gangguan pemusatan perhatian atau gangguan konsentrasi dewasa ini menjadi
permasalahan yang cukup rumit dan serius. Biasanya gangguan ini mulai tampak menjadi
masalah bagi anak setelah memasuki usia sekolah, dan sangat mempengaruhi prestasi
belajar anak. Angka kejadian gangguan ini adalah sekitar 3-10%, di Amerika Serikat
sekitar 3-7%, sedangkan di negara Jerman, Kanada dan Selandia Baru sekitar 5-10%.
Diagnosis and Statistic Manual (DSM IV) menyebutkan prevalansi kejadian pada anak
usia sekolah berkisar antara 3-5%. Di Indonesia angka kejadiannya masih belum
menunjukkan angka yang pasti, meskipun tampaknya sudah cukup banyak terjadi.
Banyaknya angka kejadian masalah kesehatan pada anak usia sekolah seringkali
disebabkan oleh interaksi dalam keluarga yang kurang akibat dari ketidakmampuan
orangtua dalam membagi waktu antara pekerjaan dengan anak. Dampak utama dari anak
yang mendapatkan waktu serta perhatian yang kurang dari kedua orangtua yakni
pertumbuhan dan perkembangan anak menjadi tidak terkontrol dengan baik oleh
orangtua.
KEMENKES RI masih giat dalam upaya penanggulangan masalah kesehatan
anak usia sekolah di Indonesia. Upaya yang dikembangkan oleh FK-PPAI (Forum
Komunikasi Pembinaan dan Pengembangan Anak) dalam memprakarsai Dasa Warsa
Anak Indonesia terbentuknya Pola Pembinaan dan Pengembangan Anak Indonesia untuk

25 tahun, panduan Idola Citra Anak Indonesia yang salah satunya berisi Asta Citra Anak
Indonesia yang kemudian diadopsi oleh pemerintah dalam GBHN 1994. Sehingga
sebetulnya sudah sejak tahun 1993 pemerintah secara serius menangani masalah anak.
Pada akhirnya semua itu kembali lagi pada kita (baik pemerintah, masyarakat, LSM,
anak, serta terutama orangtua) untuk membina SDM sejak usia dini agar pertumbuhan
dan perkembangan anak berkualitas.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Bagaimana asuhan keperawatan dengan masalah kesehatan pada tahap perkembangan
keluarga dengan anak usia sekolah ?
1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Menggambarkan asuhan keperawatan keluarga pada tahap perkembangan keluarga dengan
anak usia sekolah.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Mengidentifikasi data : keluarga dan individu dalam keluarga pada tahap pengkajian.
2. Menentukan diagnose keperawatan sesuai data pada pengkajian.
3. Menyusun rencana keperawatan.
1.4 Manfaat
Agar mahasiswa dapat mengetahui tentang asuhan keperawatan pada tahap perkembangan
keluarga dengan anak usia sekolah.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1
2.1.1

Konsep Keluarga
Definisi keluarga

Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga
dan beberapa orang yang terkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah satu atap dalam
keadaan saling ketergantungan (Effendi, 2004).
Keluarga merupakan sekumpulan orang yang dihubungkan oleh ikatan
perkawinan, adopsi, kelahiran yang bertujuan untuk meningkatkan dan mempertahankan
budaya yang umum, meningkatkan perkembangan fisik, mental, emosional dan sosial
dari tiap anggota (Sudhiarto, 2007).
Keluarga adalah kumpulan dua orang atau lebih individu yang bergabung karena
hubungan darah, perkawinan, atau adopsi, hidup dalam satu rumah tangga, saling
berinteraksi satu sama lainnya dalam perannya dan menciptakan dan mempertahankan
suatu budaya (Bailon dan Maglaya, 1989 dalam Mubarak 2002).
2.1.2

Struktur Keluarga
Menurut Murwani (2007), struktur keluarga terdiri atas:
1. Pola dan proses komunikasi
Pola interaksi keluarga yang berfungsi :
a. Bersifat terbuka dan jujur
b. Selalu menyelesaikan konflik keluarga
c. Berpikiran positif
d. dan, tidak mengulang - ulang isu dan pendapat sendiri.
Karakteristik komunikasi keluarga berfungsi untuk :
a. Karakteristik pengirim : yakin dalam mengemukakan sesuatu atau pendapat, apa yang
disampaikan jelas dan berkualitas, selalu meminta dan menerima umpan balik.
b. Karakteristik penerima : siap mendengarkan, memberi umpan balik, melakukan
validasi.
2. Struktur peran
Peran adalah serangkaian perilaku yang diharapkan sesuai dengan posisi sosial
yang diberikan.Yang dimaksud dengan posisi atau status adalah posisi individu dalam
masyarakat misalnya sebagai suami, istri, anak dan sebagainya.
Tetapi kadang peran ini tidak dapat dijalankan oleh masing-masing individu
dengan baik.Ada beberapa anak yang terpaksa mencari nafkah untuk memenuhi
kebutuhan anggota keluarga yang lain sedangkan orang tua mereka entah kemana atau
malah berdiam diri dirumah.
3. Struktur kekuatan

Kekuatan merupakan kemampuan (potensial dan aktual) dari individu untuk


mengendalikan atau mempengaruhi untuk merubah perilaku orang lain kearah positif.
4. Nilai-nilai keluarga
Nilai merupakan suatu sistem, sikap dan kepercayaan yang secara sadar atau tidak,
mempersatukan anggota keluarga dalam satu budaya. Nilai keluarga juga merupakan
suatu pedoman bagi perkembangan norma dan peraturan.Norma adalah pola perilaku
yang baik, menurut masyarakat berdasarkan sistem nilai dalam keluarga. Budaya adalah
kupulan dari pola perilaku yang dapat dipelajari, dibagi, dan ditularkan dengan tujuan
untuk menyelesaikan masalah (Murwani, 2007).
2.1.3

Tipe atau Bentuk Keluarga


Beberapa tipe atau bentuk keluarga menurut Sudiharto (2007), antara adalah sebagai

berikut:
1. Keluarga inti (Nuclear Family)
Keluarga yang dibentuk karena ikatan perkawinan yang direncanakan yang terdiri dari
suami, istri, dan anak-anak, baik karena kelahiran (natural) maupun adopsi.

2. Keluarga besar (Extended Family)


Keluarga inti ditambah keluarga yang lain (karena hubungan darah), misalnya kakek,
nenek, bibi, paman, sepupu termasuk keluarga modern, seperti orang tua tunggal,
keluarga tanpa anak, serta keluarga pasangan sejanis (guy/lesbian families).
3. Keluarga Campuran (Blended Family)
Keluarga yang terdiri dari suami, istri, anak-anak kandung dan anak-anak tiri.
4. Keluarga menurut hukum umum (Common Law Family): Anak-anak yang tinggal
bersama.
5. Keluarga orang tua tinggal
Keluarga yang terdiri dari pria atau wanita, mungkin karena telah bercerai, berpisah,
ditinggal mati atau mungkin tidak pernah menikah, serta anak-anak mereka yang tinggal
bersama.
6. Keluarga Hidup Bersama (Commune Family)
4

Keluarga yang terdiri dari pria, wanita dan anak-anak yang tinggal bersama berbagi hak
dan tanggung jawab, serta memiliki kepercayaan bersama.
7. Keluarga Serial (Serial Family)
Keluarga yang terdiri dari pria dan wanita yang telah menikah dan mungkin telah punya
anak, tetapi kemudian bercerai dan masing-masing menikah lagi serta memiliki anak
anak dengan pasangannya masing-masing, tetapi semuanya mengganggap sebagai satu
keluarga.
8. Keluarga Gabungan (Composite Family)
Keluarga yang terdiri dari suam dengan beberapa istri dan anak-anaknya (poligami) atau
istri dengan beberapa suami dan anak-anaknya (poliandri).
9. Hidup bersama dan tinggal bersama (Cohabitation Family)
Keluarga yang terdiri dari pria dan wanita yang hidup bersama tanpa ada ikatan
perkawinan yang sah.
2.1.4

Fungsi Keluarga
Fungsi keluarga menurut Friedman (1998) dalam Sudiharto, (2007), antara adalah

sebagai berikut:
1. Fungsi Afektif (the affective function)
Fungsi keluarga yang utama untuk mengajarkan segala sesuatu untuk mempersiapkan
anggota keluarga berhubungan dengan orang lain, fungsi ini dibutuhkan untuk
perkembangan individu dan psikososial keluarga.
2. Fungsi Sosialisasi dan penempatan sosial (socialisation and social placement fungtion)
Fungsi pengembangan dan tempat melatih anak untuk berkehidupan sosial sebelum
meninggalkan rumah untuk berhubungan dengan orang lain di luar rumah.
3. Fungsi Reproduksi (reproductive function)
Fungsi untuk mempertahankan generasi menjadi kelangsungan keluarga.
4. Fungsi Ekonomi (theeconomic function)
Keluarga berfungsi untuk memenuhi kebutuhan keluarga secara ekonomi dan tempat
untuk mengembangkan kemampuan

individu meningkatkan penghasilan

untuk

memenuhi kebutuhan keluarga.


5. Fungsi Perawatan atau pemeliharaan kesehatan (the healty care function)
5

Fungsi untuk mempertahankan keadaan kesehatan anggota keluarga agar tetap memiliki
produktivitas tinggi.Fungsi ini dikembangkan menjadi tugas keluarga di bidang
kesehatan.

2.1.5

Tugas Perkembangan Keluarga


Siklus kehidupan setiap keluarga mempunyai tahapan-tahapan. Seperti individu-individu
yang mengalami tahap pertumbuhan dan perkembangan yang berturut-turut, keluarga
juga mengalami tahap perkembangan yang berturut-turut. Adapun tahap-tahap
perkembangan keluarga berdasarkan konsep Duvall dan Miller (Friedman, 1998) adalah
Tahap IV: keluarga dengan anak usia sekolah dimulai ketika anak pertama berusia 6
tahun dan mulai masuk sekolah dasar dan berakhir pada usia 13 tahun, awal dari masa
remaja.

2.2
2.2.1

Konsep Anak Usia Sekolah


Pengertian Anak Usia Sekolah
Menurut UU No. 4 Tahun 1979 tentang kesejahteraan anak dikutip dari Suprajitno
(2004), anak sekolah adalah anak yang memiliki umur 6 sampai 12 tahun yang masih
duduk di sekolah dasar dari kelas 1 sampai kelas 6 dan perkembangan sesuai usianya.
Anak usia sekolah adalah anak dengan usia 7 sampai 15 tahun (termasuk anak cacat)
yang menjadi sasaran program wajib belajar pendidikan 9 tahun.

2.2.2

Ciri Ciri Anak Usia Sekolah


Menurut Suprajitno (2004) akhir masa kanak-kanak memiliki beberapa ciri antara lain:
1. Label yang di gunakan oleh orang tua
a. Usia yang menyulitkan dimana suatu masa ketika anak tidak mau lagi menuruti
perintah dan ketika anak lebih dipengaruhi oleh teman sebaya dari pada oleh
orang tua dan anggota keluarga lain.
b. Usia tidak rapi, suatu masa ketika anak cenderung tidak memperdulikan dan
ceroboh dalam penampilan.
c. Usia bertengkar, suatu masa ketika banyak terjadi pertengkaran antara keluarga
dan suasana rumah yang tidak menyenangkan bagi semua anggota keluarga.
2. Label yang digunakan pendidik atau guru
6

a. Usia sekolah dasar adalah suatu masa ketika anak diharapkan memperoleh dasar
pengetahuan yang dianggap penting untuk keberhasilan penyesuaian diri.
b. Periode kritis dalam berprestasi merupakan suatu masa ketika anak mencapai
sukses, tidak sukses atau sangat sukses.
3. Label yang digunakan oleh ahli psikologi
a. Usia berkelompok merupakan suatu masa ketika perhatian utama tertuju pada
keinginan diterima oleh teman sebaya sebagai anggota kelompok.
b. Usia penyesuaian diri adalah suatu masa ketika anak ingin menyesuaikan dengan
standar yang disetujui oleh kelompok dalam penampilan, berbicara dan perilaku.
c. Usia kreatif merupakan suatu masa ketika akan ditentukan apakah anak akan
menjadi konfimis.
d. Usia bermain merupakan suatu masa ketika besarnya keinginan bermain karena
luasnya minat dan kegiatan untuk bermain.
2.2.3

Perkembangan Anak Usia Sekolah (Suprajitno, 2004)


1. Perkembangan biologis
Saat usia dasar pertumbuhan rata-rata 5 cm per tahun untuk tinggi badan dan
meningkat 2 sampai 3 kg per tahun untuk berat badan. Pada usia ini pembentukan
jaringan lemak lebih cepat perkembangannya dari pada otot.
2. Perkembangan psikososial
Menurut Ericson perkembangan psikososialnya berada dalam tahap industri inferior.
Dalam tahap ini anak mampu melakukan dam menguasai ketrampilan yang bersifat
teknologi dan sosial. Tahap ini sangat dipegang faktor instrinsik (motivasi,
kemampuan, tanggung jawab untuk memiliki, interaksi dengan lingkungan dan teman
sebaya) dan faktor ekstrinsik (penghargaan yang didapat, stimulus dan keterlibatan
orang lain).
3. Temperamen
Sifat temperamen yang dialami sebelumnya merupakan faktor terpenting dalam
perilaku pada masa ini. Pada usia ini temperamen sering muncul sehingga peran
orang tua dan guru sangat besar untuk mengendalikannya, yang perlu diperhatikan
orang tua adalah menjadi figur dalam sehari.
4. Perkembangan kognitif

Menurut Peaget usia ini berada dalam tahap operasional konkret yaitu anak
mengekspresikan apa yang dilakukan dengan verbal dan simbol. Selama periode ini
kemampuan anak belajar konseptual mulai meningkat dengan pesat dan memiliki
kemampuan belajar dari benda, situasi dan pengalaman yang dijumpai.
5. Perkembangan moral
Pada masa akhir kanak-kanak perkembangan moralnya dikategorikan oleh Kohlberg
berada dalam tahap konvensional.Pada tahap ini anak mulai belajar tentang peraturanperaturan yang berlaku, menerima peraturan.
6. Perkembangan spiritual
Anak usia sekolah menginginkan segala sesuatu adalah konkret atau nyata dari pada
belajar tentang agama. Mereka lebih tertarik terhadap surga dan mereka sehingga
cenderung akan melakukan atau mematuhi peraturan, karena takut bila masuk neraka.
7. Perkembangan bahasa
Pembicaraan yang dilakukan dalam hidup ini lebih terkendali dan terseleksi karena
anak menggunakan pembicaraan sebagai komunikasi.
8. Perkembangan sosial
Akhir masa kanak-kanak sering disebut usia berkelompok yang ditandai dengan
adanya minat terhadap aktivitas teman-teman dan meningkatnya keinginan yang kuat
untuk diterima sebagai anggota kelompok.
9. Perkembangan seksual
Masa ini anak mulai

belajar

tentang

seksualnya

dan

teman-temannya,

mengembangkan minat-minat sesuai dengan dirinya.


10. Perkembangan konsep diri
Perkembangan konsep diri sangat dipengaruhi oleh mutu hubungan dengan orang tua,
saudara dan sanak keluarga lainnya. Saat ini anak-anak membentuk konsep diri yang
ideal.
2.2.4

Masalah Anak Usia Sekolah


Menurut Suprajitno (2004) masalahmasalah yang sering terjadi pada anak usia
ini meliputi bahaya fisik dan psikologi antara lain:
1. Bahaya fisik
a. Penyakit

Penyakit infeksi pada usia ini jarang sekali terjadi, penyakit yang sering ditemui
adalah penyakit yang berhubungan dengan kebersihan diri anak.
b. Kegemukan
Kegemukan terjadi bukan karena adanya perubahan pada kelenjar tapi akibat
banyaknya karbohidrat yang dikonsumsi sehingga anak kesulitan mengikuti kegiatan
bermain, sehingga kehilangan kesempatan untuk mencapai ketrampilan yang penting
untuk keberhasilan sosial.
c. Kecelakaan
Kecelakaan terjadi akibat keinginan anak untuk bermain yang menghasilkan
ketrampilan tertentu.
d. Kecanggungan
Pada masa ini anak mulai membandingkan kemampuannya dengan teman sebaya bila
muncul perasaan tidak mampu dapat menjadi dasar untuk rendah diri.
e. Kesederhanaan
Kesederhanaan sering dilakukan oleh anak-anak pada masa apapun. Orang yang lebih
dewasa memandangnya sebagai perilaku yang kurang menarik, sehingga anak
menafsirkan sebagai penolakan yang dapat mempengaruhi perkembangan konsep diri
pada anak.
2. Bahaya Psikologi
a. Bahaya dalam berbicara
Kesalahan dalam berbicara seperti salah ucap dan kesalahan bahasa, cacat dalam
bicara seperti gagap atau pelat, akan membuat anak menjadi sadar diri sehingga anak
hanya berbicara bila perlu saja.
b. Bahaya emosi
Anak masih menunjukkan pola-pola ekspresi emosi yang kurang menyenangkan
seperti marah yang meledak-ledak, cemburu sehingga kurang disenangi orang lain.
c. Bahaya bermain
Anak yang kurang memiliki dukungan sosial akan merasa kekurangan kesempatan
untuk mempelajari permainan dan olahraga yang penting untuk menjadi anggota
kelompok. Anak yang dilarang berkhayal karena membuang waktu atau dilarang
melakukan kegiatan kreatif dan bermain akan mengembangkan kebiasaan penurut
yang kaku.
d. Bahaya konsep diri
Anak mempunyai konsep diri yang ideal, biasanya merasa tidak puas pada diri sendiri
dan pada perlakuan orang lain. Anak cenderung berprasangka dan bersikap
diskriminatif dalam memperlakukan orang lain.
9

e. Bahaya moral
Ada enam bahaya umumnya dikaitkan dengan perkembangan sikap moral dan
perilaku anak-anak :
1) Perkembangan kode moral berdasarkan konsep teman-teman atau berdasarkan
konsep-konsep media masa tentang benar dan salah yang tidak sesuai dengan
kode orang dewasa.
2) Tidak berhasil mengembangkan suara hati sebagai pengawas dalam terhadap
perilaku.
3) Disiplin yang tidak konsisten membuat anak tidak yakin akan apa yang sebaiknya
dilakukan.
4) Hukuman fisik merupakan contoh agresivitas anak.
5) Menganggap dukungan teman terhadap perilaku yang salah begitu memuaskan
sehingga perilaku menjadi kebiasaan.
6) Tidak sabar terhadap perbuatan orang lain yang salah.
f. Bahaya yang menyangkut minat
Tidak minat pada hal-hal yang dianggap penting oleh teman sebaya dan
mengembangkan.
g. Bahaya dalam penggolongan peran seks
Ada dua bahaya yang umum dalam penggolongan peran seks: kegagalan untuk
mempelajari organ seks, dan ketidakmampuan untuk melakukan peran seks yang
disetujui.
h. Bahaya dalam perkembangan kepribadian
Ada dua bahaya yang serius dalam perkembangan kepribadian periode ini. Pertama,
perkembangan konsep diri yang buruk yang mengakibatkan penolakan diri, dan
kedua, egosentrisme yang merupakan lanjutan dari awal masa kanak-kanak.
Egosentrisme merupakan hal yang serius karena memberikan rasa penting diri yang
i. Bahaya hubungan keluarga
Pertentangan dengan anggota-anggota keluarga mengakibatkan dua hal: melemahkan
ikatan keluarga dan menimbulkan kebiasaan pola penyesuaian yang buruk, serta
masalah-masalah yang dibawa keluar rumah.

2.2.5

Konsep Perilaku Anak Usia Sekolah


Menurut Soekidjo Notoatmojo (2003), usia 6-12 tahun anak sudah memiliki dunia
sekolah yang lebih serius walaupun ia tetap seorang anak dengan dunia yang khas, masa
ini ditandai dengan perubahan dalam kemampuan dan perilaku. Pertumbuhan dan
10

perkembangan anak membuatnya lebih siap untuk belajar dibanding sebelumnya, anak
jiga mengembangkan keinginan untuk melakukan berbagai hal dengan baik bahkan bila
mungkin enggan sempurna. Karakteristik anak usia sekolah jelas berbeda dengan anak
prasekolah sehingga orang tua perlu melakukan pendekatan yang berbeda dibanding
sebelumnya ketika anak masih duduk di Taman Kanak-Kanak. Karena waktu anak
sekarang lebih banyak dilewatkan diluar rumah sehingga orang tua khwatir anak tercemar
pengaruh yang tidak diinginkan. Perkembangan anak sekolah meliputi perkembangan
kognitif dan sosial emosi.
1. Perkembangan Kognitif
Anak usia 10-12 tahun atau praremaja sudah mulai menggunakan logikanya
Karen amereka sudah mahir berhitung dan kemampuan ini dapat diterapkan dalam
kehidupan setiap hari. Mereka juga mulai bisa diberi pengertian untuk menghemat
dengan memberitahukan secara garis besar pemasukan dan pengeluaran keluarga
setiap bulan anak juga semakin mamapu merencanakan perilaku yang terorganisir,
temasuk menerima rencana atau tujuan beraktivitas dan menghubungkan pengetahuan
serta tindakan dalam rencana tesebut. Perkembangan kognitif pada akhir usia sekolah
adalah pencapaian prestasi dan sebagian anak juga memiliki motivasi yang amat
tinggi untuk mencapai sukses dan berusaha keras untuk mencapainya.
2. Perkembangan Sosial Emosi
Akhir usia sekolah anak sudah memiliki kemampuan untuk mengontrol dirinya
dalam berempati dan merefleksi dirinya terhadap perilaku dan interaksinya. Menurut
piaget anak usia praremaja mulai belajar melihat dunia luar dari kacamata mereka
sendiri karena masalah yang dihadapi saat anak duduk dikelas 4-6 Sekolah Dasar
pada umumnya adalah kesulitan berhubungan dengan orang dewasa selain anggota
keluarganya. Persaingan dapat memberi pengaruh positif bagi perkembangan sosial
ekonomi anak karena saat anak duduk dikelas 4-6 SD anak telah memandang
kegagalan atau keberhasilannya dengan penuh percaya diri.
2.3

Asuhan Keperawatan pada Tahap Perkembangan Keluarga dengan Anak Usia


Sekolah

11

Asuhan keperawatan keluarga merupakan proses yang kompleks dengan


menggunakan pendekatan sistematik untuk bekerjasama dengan keluarga dan individu
sebagai anggota keluarga.
1. Pengkajian
a. Pengkajian yang berhubungan dengan keluarga (sesuai dengan materi askep
keluarga).
b. Pengkajian yang berhubungan dengan anak usia sekolah
1) Identitas anak.
2) Riwayat kehamilan dan persalinan.
3) Riwayat kesehatan bayi sampai saat ini.
4) Kebiasaan saat ini (pola perilaku dan kegiatan sehari-hari).
5) Pertumbuhan dan perkembangannya saat ini (termasuk kemampuan yang telah
dicapai).
6) Pemeriksaan fisik.
7) Lengkapi dengan pengkajian fokus
a) Bagaimana karakteristik teman bermain.
b) Bagaimana lingkungan bermain.
c) Berapa lama anak menghabiskan waktunya disekolah.
d) Bagaimana stimulasi terhadap tumbuh kembang anak dan adakah sarana yang
e)
f)
g)
h)
i)
j)
k)
l)
m)
n)
o)

dimilikinya.
Bagaimana temperamen anak saat ini.
Bagaiman pola anak jika menginginkan sesuatu barang.
Bagaimana pola orang tua menghadapi permintaan anak.
Bagaimana prestasi yang dicapai anak saat ini.
Kegiatan apa yang diikuti anak selain di sekolah.
Sudahkah memperoleh imiunisasi ulangan selama disekolah.
Pernahkah mendapat kecelakaan selama disekolah atau dirumah saat bermain.
Adakah penyakit yang muncul dan dialami anak selama masa ini.
Adakah sumber bacaan lain selain buku sekolah dan apa jenisnya.
Bagaimana pola anak memanfaatkan waktu luangnya.
Bagaimana pelaksanaan tugas dan fungsi keluarga.

2. Diagnosa dan Intervensi Keperawatan


a. Diagnosa keperawatan yang muncul terdapat dua sifat, yaitu :
1) Berhubungan dengan anak, dengan tujuan agar anak dapat tumbuh dan
berkembang secara optimal sesuai usia anak.
2) Berhubungan dengan keluarga, dengan etiologi berpedoman pada lima tugas
keluarga

yang

bertujuan

agar

keluarga

memahami

dan

memfasilitasi

perkembangan anak.

12

b. Masalah yang dapat digunakan untuk perumusan diagnosa keperawatan yaitu :


1) Masalah aktual/risiko
a) Gangguan pemenuhan nutrisi: lebih atau kurang dari kebutuhan tubuh.
b) Menarik diri dari lingkungan sosial.
c) Ketidakberdayaan mengerjakan tugas sekolah.
d) Mudah dan Sering marah.
e) Menurunnya atau berkurangnya minat terhadap tugas sekolah yang
f)
g)
h)
i)
j)

dibebankan.
Berontak/menentang terhadap peraturan keluarga.
Keengganan melakukan kewajiban agama.
Ketidakmampuan berkomunikasi secara verbal.
Gangguan komunikasi verbal.
Gangguan pemenuhan kebersihan diri (akibat banyak waktu yang digunakan
untuk bermain).

2) Potensial atau sejahtera


a) Meningkatnya kemandirian anak.
b) Peningkatan daya tahan tubuh.
c) Hubungan dalam keluarga yang harmonis.
d) Terpenuhinya kebutuhan anak sesuai tugas perkembangannya.
e) Pemeliharaan kesehatan yang optimal
3. Rencana Asuhan Keperawatan
a. Aktual
Perubahan hubungan keluarga yang berhubungan dengan ketidakmampuan
keluarga merawat anak yang sakit
Tujuan : Hubungan keluarga meningkat menjadi harmonis dengan dukungan yang
adekuat.
Intervensi :
1) Diskusikan tentang tugas keluarga.
2) Diskusikan bahaya jika hubungan keluarga tidak harmonis saat anggota
keluarga sakit.
3) Kaji sumber dukungan keluarga yang ada disekitar keluarga.
4) Ajarkan anggota keluarga memberikan dukungan terhadap upaya pertolongan
yang telah dilakukan.
5) Ajarkan cara merawat anak dirumah.
6) Rujuk ke fasilitas kesehatan yang sesuai kemampuan keluarga
b. Resiko/resiko tinggi
Resiko tinggi hubungan keluarga tidak harmonis berhubungan

dengan

ketidakmampuan keluarga mengenal masalah yang terjadi pada anaknya.


Tujuan : ketidakharmonisan keluarga menurun.
13

Intervensi :
1) Diskusikan faktor penyebab ketidak harmonisan keluarga.
2) Diskusikan tentang tugas perkembangan keluarga.
3) Diskusikan tentang tugas perkembangan anak yang harus dijalani.
4) Diskusikan cara mengatasi masalah yang terjadi pada anak.
5) Diskusikan tentang alternatif mengurangi atau menyelesaikanmasalah.
6) Ajarkan cara mengurangi atau menyelesaikan masalah.
7) Beri pujian bila keluarga dapat mengenali penyebab atau mampu membaut
alternatif.
c. Potensial atau sejahtera
Meningkatnya hubungan yang harmonis antar anggota keluarga.
Tujuan : dipertahankanya hubungan yang harmonis.
Intervensi :
1) Anjurkan untuk mempertahankan pola komunikasi terbuka pada keluarga.
2) Diskusikan cara-cara penyelesaian masalah dan beri pujian atas
kemampuannya.
3) Bantu keluarga mengenali kebutuhan anggota keluarga (anak usia sekolah).
4) Diskusikan cara memenuhi kebutuhan anggota keluarga tanpa menimbulkan
masalah.
BAB 3
PEMBAHASAN
ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA TN. A DAN NY. B PADA TAHAP
PERKEMBANGAN KELUARGA DENGAN ANAK USIA SEKOLAH
3.1 Pengkajian
1. Identitas Umum Keluarga
a. Identitas Kepala Keluarga
Nama
: Tn. A
Umur
: 31 tahun
Alamat
: Jalan Kutilang
Agama
: Islam
Suku
: Melayu
Pekerjaan
: Swasta
Pendidikan
: SMA
2. Komposisi Keluarga

14

No.

Nama anggota

Jenis Kelamin

keluarga

Hub. dgn

Umur (th)

Pend. terakhir

Pekerjaan

Keluarga

1.

Tn. A

Suami

31

SMP

Swasta

2.

Ny. B

Istri

30

SMP

Swasta

3.

An. C

Anak

SD

Pelajar

3. Genogram :
Bapak Tn. A

Ibu Tn. A

58
Thn

Bapak Ny. B
60
Thn

56
Th
n

Tn.A

Ibu Ny. B
56
Th
n

Ny. B
31
Thn

29
Th
n

35
Th
n

26
Th
n

An. C

30
Th
n

6
Thn

Keterangan :
: Laki-laki

: Perempuan

15

4. Tipe Keluarga
Jenis Type Keluarga : keluarga Nuclear Family.
Masalah yang terjadi dengan type tersebut : keluarga saat ini belum bisa sepenuhnya
mengajarkan anak bagaimana cara bersosialisai dengan lingkungan dan membantu anak
menyelesaikan tugas sekolahnya.
5. Suku Bangsa
a. Asal Suku Bangsa : Tn. A dan Ny. B sama-sama berasal dari suku melayu. Mereka
bisa menerima kebiasaan mereka satu sama lain dan mempunyai kebiasaan yang
hampir sama jadi tidak ada perbedaan yang terlalu mencolok untuk memicu
perselisihan.
b. Budaya Yang berhubungan dengan Kesehatan : ketika sakit keluarga percaya tidak
boleh untuk potong kuku.
6. Agama dan Kepercayaan yang Mempengaruhi Kesehatan
Agama Tn. A dan Ny. B adalah Islam, Tn. A dan Ny. B selalu berusaha untuk
memenuhi shalat 5 waktu dan mereka selalu berjamaah di rumah dengan anak mereka
An. C, yang sebelumnya sudah di masukkan ke TPA untuk belajar agama, seperti sholat
dan baca tulis Al-Quran, kecuali jika Tn. A dan Ny. B sedang kerja, mereka melakukan
shalat sendiri-sendiri di tempat kerja.
7. Status Sosial Ekonomi Keluarga
a. Anggota yang keluarga yang mencari nafkah : Tn. A dan Ny. B
b. Penghasilan : Rp. 1.500.000,00 Rp 3.000.000,00 / bulan.
c. Upaya lain : tidak ada.
d. Harta benda yang dimiliki ( perabotan, transportasi, dll ) : motor 2 buah.
e. Kebutuhan yang dikeluarkan tiap bulan : kebutuhan setiap bulannya sekitar 2 juta,
sudah termasuk untuk kebutuhan makan sehari hari,dan jajan An. C juga pembayaran
sekolah An. C.
8. Aktivitas Rekreasi Keluarga
Keluarga kadang-kadang berekreasi diakhir pekan, dengan mengunjungi rumah
orang tua yang berbeda kota, dari Mempawah ke Pontianak.
9. Riwayat dan Tahap Perkembangan Keluarga
a. Tahap perkembangan keluarga saat ini : keluarga Tn. A dan Ny. B memiliki satu
orang anak berumur 6 tahun yang baru masuk SD tahun ini, dan berencana untuk
16

memiliki anak lagi, jadi keluarga Tn. A dan Ny. B berada pada tahap perkembangan
keluarga dengan anak usia sekolah.
b. Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi dan kendalanya : saat ini
keluarga Tn. A dan Ny. B sebagai keluarga yang memiliki satu anak yang baru saja
masuk SD belum tahu bagaimana cara yang tepat dalam mengajarkan anak bergaul,
karena Ny. B selalu khawatir jika anaknya ingin bermain diluar rumah, dan Ny. B
serta Tn. A juga jarang sekali memiliki waktu untuk membantu anak dalam
mengerjakan PR dari sekolah, karena waktu kerja mereka yang kadang jika lembur
sampai larut malam. kadang anak dititipkan dirumah tetangga yang sudah dianggap
sebagai keluarga jika Tn. A dan Ny. B ada kerja lembur yang kadang pulangnya pukul
21.00.
c. Riwayat kesehatan keluarga inti.
1) Riwayat kesehatan keluarga saat ini :
Tn. A, Ny. B serta An. C tidak ada yang menderita penyakit berat, hanya kadang
terkena flu, atau pusing kepala biasa.
2) Riwayat penyakit keturunan
Menurut pengakuan keluarga, tidak pernah mengalami sakit berat yang
memerlukan perawatan di Rumah Sakit ataupun perawatan di rumah yang lama.
Dari riwayat kesehatan keluarga Tn. A dan Ny. B tidak ada yang memilki penyakit
kronis maupun penyakit keturunan.
3) Riwayat kesehatan masing-masing anggota keluarga
No. Nama

1.

Tn. A

BB

55 kg

Umur

31th

Keadaan

Imunisasi

Masalah

Tindakan

Kesehatan

(BCG/Polio

kesehatan

yang telah

dilakukan
Minum

Tn. A

/DPT/HB/campak)
Lengkap

mengatakan

vitamin dan

bahwa

susu

biasanya dia
merasa lelah
setelah
berkerja
dengan jam
2.

Ny. B 50 kg

30th

lembur.
Ny. B kadang

Lengkap

Minum
17

merasa sangat

susu

lelah jika
setelah pulang
kerja harus
membereskan
3.

An. C 24 kg

6th

rumah lagi
Ny. B

Lengkap

mengatakan

Berobat ke
dokter

anaknya
jarang sakit,
kalaupun sakit
hanya seperti
flu namun
tidak sering
4) Sumber pelayanan kesehatan yang dimanfaatkan : menurut Ny. A jika dirinya
sakit dan keluarga sakit, mereka langsung berobat ke dokter, selain tempat praktek
dokter yang tidak jauh, juga jarak rumah sakit yang tidak jauh.
5) Riwayat kesehatan keluarga sebelumnya :
Tn. A : menurutnya selama ini dirinya jarang sakit dan hanya lelah saja.
Ny. B : menurutnya selama ini dirinya jarang sakit dan hanya lelah.
An. C : jarang sakit, kalau pun sakit hanya flu biasa.
10. Pengkajian Lingkungan
a. Karakteristik rumah
1) Luas rumah : 8 x 7 meter
2) Type rumah : permanen
3) Kepemilikan : pribadi
4) Jumlah dan ratio kamar/ruangan : 2 buah kamar tidur.
Ventilasi/jendela : ada 8 ventilasi yang terdapat di dalam rumah.
5) Pemanfaatan ruangan : ruang tamu, ruang tengah/ keluarga, dapur, wc/toilet, 2
kamar tidur.
6) Septic tank : ada, letak dibelakang rumah berjarak 1,5 meter dari rumah
7) Sumber air minum : air galon yang dibeli dari toko penyedia minuman isi ulang.
8) Kamar mandi/WC : memiliki satu buah kamar mandi yang bersatu dengan WC,
dengan kloset jongkok.
9) Sampah limbah RT : dibuang ditempat pembuangan sampah sejauh 600 meter.
18

10) Kebersihan lingkungan : keadaan kebersihan lingkungan selalu terjaga karena


setiap

bulannya

masyarakat

selalu

mengadakan

gotong

royong

untuk

membersihkan lingkungan.
11) Keadaan didalam rumah : keluarga Ny. B dan Tn. A tinggal dirumah sendiri.
Rumah yang mereka tempati merupakan rumah permanen dengan status
kepemilikan milik pribadi Tn. A. Luas rumah kurang lebih 56 m2. Lantai rumah
menggunakan marmer kecuali dapur yang masih menggunakan papan. Rumah
memiliki ventilasi tetapi jarang dibuka. Pada ruangan dalam rumah seperti kamar,
dapur, ruang tamu cukup gelap karena jendela-jendelanya tidak dibuka setiap hari,
hanya waktu-waktu tertentu saja jika ada orang di rumah. Menurut Ny. B karena
mereka sering keluar kerja sampai sore jadi jendela jarang dibuka. Penerangan di
malam hari menggunakan listrik. Secara umum ventilasi dan pencahayaan di
dalam rumah kurang akibat ventilasi yang tidak dimanfaatkan secara optimal.
Secara umum kebersihan rumah baik, hanya penataan perabotan rumah yang
kurang teratur terutama untuk bagian dalam rumah dan dapur.
12) Keadaan diluar rumah : rumah memiliki pekarangan yang cukup luas dan
ditanami pohon kelapa, mangga, dan bunga bunga. Kebersihan pekarangan secara
umum baik. Keluarga memanfaatkan PDAM untuk sumber air bersih. Keluarga
memiliki kamar mandi dengan saluran pembuangan ke selokan perumahan yang
mengalir diparit. Keluarga juga telah memiliki jamban jenis leher angsa yang
dipergunakan setiap hari dengan septic tank di ujung rumah dengan jarak lebih
dari 10 m dari sumur gali. Kebersihan kamar mandi dan jamban cukup. Dalam
pengelolaan sampah rumah tangga keluarganya memiliki tempat penampungan
berupa lobang yang terdapat di pekarangan samping rumah dan jika sudah penuh
biasanya di bakar. Lubang dalam keadaan terbuka. Secara umum kebersihan
rumah cukup.
13) Denah rumah

19

b. Karakteristik tetangga dan komunitas RW


1) Kebiasaan : setiap bulan biasanya mengadakan arisan RT dan pengajian setiap
seminggu sekali.
2) Aturan/kesepakatan : apabila ada kerabat atau teman yang menginap harus lapor
RT/RW.
3) Budaya : di lingkungan budaya yang mayoritas adalah melayu.
4) Mobilitas geografis keluarga : menurut Ny. B selama ini keluarganya sering
mengunjungi sanak saudara.
5) Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat : menurut Ny. B dalam
keluarganya ataupun keluarga suaminya tidak terdapat perkumpulan atau
pertemuan-pertemuan khusus dan biasanya berkumpul hanya di waktu-waktu
tertentu seperti lebaran dan kadang pergi ke pesta ulang tahun teman anaknya jika
An. C diundang kepesta ulang tahun.
6) System pendukung keluarga : saat ini dalam keluarga tidak terdapat anggota
keluarga yang sakit, An. C sebagai penyemangat jika merasa lelah bekerja.
Hubungan satu anggota keluarga dengan yang lainnya cukup baik dan sudah
terbiasa saling tolong menolong.
11. Struktur Keluarga
a. Pola/cara komunikasi keluarga : menurut Ny. B dalam keluarganya berkomunikasi
biasa menggunakan bahasa melayu, dan An. C juga terbiasa dengan bahasa melayu.
b. Struktur kekuatan keluarga : dalam pengambilan keputusan keluarga Tn. A dan Ny. B
selalu memutuskan secara bersama-sama atau musyawarah. An. C jarang diikut
20

sertakan jika memang itu menyangkut masalah keluarga, karena An. C dianggap mash
trlalu kecil. Perbedaan-perbedaan pendapat yang ada selalu bisa di atasi jika mereka
bermusyawarah.
c. Struktur peran (peran masingmasing anggota keluarga ) : dalam keluarga Ny. B, Tn.
A sebagai kepala keluarga berkewajiban mencari nafkah untuk keluarga dan dibantu
oleh Ny. B yang turut bekerja membantu suaminya tetapi dirinya juga tetap
melakukan perannya sebagai istri yang harus menyiapkan semua keperluan suaminya
dan anaknya di rumah. An. C sebagai seorang anak yang saat ini tugasnya hanya
belajar.
d. Nilai dan norma keluarga : sebagai bagian dari masyarakat melayu dan beragama
islam keluarga memiliki nilai-nilai dan norma yang dianut seperti sopan santun
terhadap orang tua, suami terhadap isteri. Selama ini dirinya anak dan suaminya
makan bersama kalau malam hari, An. C sudah tidur saat Tn. A pulang kerja.
12. Fungsi Keluarga
a. Fungsi Afektif : Tn. A dan Ny. B, juga An. C, belum bisa melakukan peran mereka
masing masing secara sempurna, Tn. A dan Ny. B belum bisa membagi waktu untuk
peran sebgai orang tua anak usia sekolah.
b. Fungsi sosialisasi : hubungan antara dirinya dengan suaminya serta anaknya sampai
sejauh ini baik hanya saja Ny. B sering mendapat laporan dari sekolah maupun tempat
TPA kalau An. C kurang aktif dan terlihat takut jika bermain bersama temantemannya.
c. Fungsi perawatan kesehatan
1) Menurut keluarga, masalah kesehatan apa yang sedang dihadapi keluarga
(pengertian, tanda dan gejala, faktor penyebab, persepsi keluarga terhadap
masalah) : menurut Ny. B keluarga jarang terkena sakit yang parah, hanya
masalah flu biasa dan kelelahan saja yang biasa dialami keluarga.
2) Apa yang dilakukan keluarga dalam menghadapi masalah kesehatan yang sedang
dialami : Sejauh ini keluarga hanya membawa anggota keluarga yang sakit ke
dokter ataupun rumah sakit, dan minum vitamin juga susu untuk mengatasi lelah.
3) Kemana keluarga meminta pertolongan apabila ada anggota keluarga yang
mengalami masalah kesehatan : ke tempat praktek dokter dan juga kerumah sakit.

21

4) Tindakan apa yang dilakukan keluarga untuk mencegah timbulnya masalah


kesehatan : menurut keluarga makan teratur dan istirahat yang cukup banyak
membantu dalam menjaga kesehatan dan mencegah penyakit.
d. Fungsi reproduksi
1) Perencanaan jumlah anak : keluarga berencana untuk memiliki satu anak lagi.
2) Keterangan lain : Saat ini Ny. B menggunakan alat kontrasepsi, suntikan setiap 3
bulan sekali, perencanaan memiliki anak secepatnya karena An. C juga sudah
besar, dan berencana memiliki 2 anak saja.
e. Fungsi ekonomi
Ny. B mengatakan penghasilannya dan suaminya sudah cukup untuk memenuhi
kebutuhan sandang, pangan dan papan keluarga Tn. A dan kebutuhan An. C
13. Stress dan Koping Keluarga
a. Stressor jangka pendek :
Menurut Ny. B dirinya tidak tahu dari pihak suaminya apakah sedang mengalami
beban pikiran atau tidak, tetapi dari dirinya yang jadi stressor adalah takut kalau An.
C sering ditinggal sendirian dirumah, takut jika salah pergaulan.dan An. C juga sering
mengatakan susah mengerjakan tugas sekolah, dan tidak bisa menyelesaikannya
b. Stressor jangka panjang
Ny. B mengatakan takut jika masalah ini berlarut larut akan membuat anak mereka
merasa tidak disayang oleh ke dua orang tuanya.
c. Respons keluarga terhadap stressor : jika terdapat masalah selalu diselesaikan dengan
diskusi.
d. Strategi koping : untuk menghadapi stressor Ny. B lebih banyak bertanaya pada guru
An. C bagaimana perkembangan anaknya, dan selalu meminta bantuan tetangga agar
melihatkan anaknya dan menghubunginya jika terjadi apa apa pada anaknya ketika
dia sedang bekerja.
14. Keadaan Gizi Keluarga
Pemenuhan gizi : biasanya Ny. B selalu memasak sayur dan lauk pauk serta menyukai
makanan yang pedas, dan ayam goreng kesukaan An. C.
15. Harapan Keluarga
a. Terhadap masalah kesehatan
Keluarga berharap anggota keluarga tidak ada yang sakit dan selalu dalam keadaan
sehat.
b. Terhadap petugas kesehatan yang ada

22

Dengan adanya petugas kesehatan yang datang ke rumahnya keluarga mengharapkan


supaya petugas kesehatan bisa memberikan pengetahuan kepada masyarakat dengan
penyuluhan-penyuluhan seperti saat ini diharapkan dapat membantu dirinya
mempersiapkan bagaimana sebenarnya untuk mendidik anaknya agar bisa
bersosialisasi dengan lingkungan.
3.2 Pemeriksaan Fisik
No
1.

Pemeriksaan
Tn. A

Nama Anggota Keluarga


Ny. B

An. C

55kg

50kg

24kg

TB
Kepala :

165cm

155cm

120cm

Rambut

Ikal, hitam, dan bersih

Fisik
KeadaanUmum
BB

2.

Mata

Hidung

Mulut

Lurus, hitam, halus

Lurus, hitam, halus

dan bersih

dan bersih

Konjungtiva

Konjungtiva

Konjungtiva

ananemis, sclera

ananemis, sclera

ananemis, sclera

anikterik, penglihatan

anikterik, penglihatan

anikterik, penglihatan

baik

baik

baik

Sinusitis (-), polip (-),

Sinusitis (-), polip (-),

Sinusitis (-), polip (-),

penciuman baik

penciuman baik

penciuman baik.

Mulut bersih, mukosa


lembab, lidah bersih,
gigi cukup.

Telinga

Pendengaran baik,
serumen (-)

Mulut bersih, mukosa


lembab, lidah bersih,

Mulut bersih.

gigi cukup.

Pendengaran baik,
serumen (-)

23

3.

Leher
JVP

Kelenjar Tiroid
4.

Tidak ada pembesaran

Tidak ada

Tidak ada

vena jugularis

pembesaran vena

pembesaran vena

jugularis

jugularis

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

pembengkakan

pembengkakan

pembengkakan

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

pembengkakan,simetri

pembengkakan,simetr pembengkakan,simetr

s antara kiri dan

is antara kiri dan

is antara kiri dan

kanan.

kanan.

kanan.

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

pembengkakan.

pembengkakan.

pembengkakan.

Saat bernafas tidak

Saat bernafas tidak

Saat bernafas tidak

menggunakan otot

menggunakan otot

menggunakan otot

bantuan pernafasan.

bantuan pernafasan.

bantuan pernafasan.

Tidak ada bengkak, Tidak ada bengkak,

Tidak ada bengkak,

lesi (-).

lesi (-).

Dada
Mamae
Inspeksi

Palpasi

Paru
Inspeksi

Palpasi

Perkusi

Auskultasi

lesi (-).

Tidak ada penimbunan Tidak ada

Tidak ada

cairan.

penimbunan cairan.

penimbunan cairan.

Bunyi nafas vesikuler, Bunyi nafas


RR normal.

Bunyi nafas

vesikuler, RR normal. vesikuler, RR normal.

Letak normal ics 2 dan Letak normal ics 2

Letak normal ics 2


24

3 5dan 6.

dan 3 5dan 6.

dan 3 5dan 6.

Jantung
Palpasi

Ictus

cordis

normal Ictus cordis normal

yaitu ics 5 dan 6.


Perkusi

5.

yaitu ics 5 dan 6.

Irama teratur, suara Irama teratur, suara Irama teratur, suara


tambahan tidak ada

tambahan tidak ada

tambahan tidak ada

TD : 120/70 mmHg.

TD : 120/70 mmHg.

TD : 120/70 mmHg.

Simetris, warna

Simetris, warna

Simetris, warna

normal,asites (-)

normal,asites (-)

normal,asites (-)

Tidak ada nyeri tekan,

Tidak ada nyeri

Tidak ada nyeri

tidak ada benjolan.

tekan, tidak ada

tekan, tidak ada

benjolan.

benjolan.

Bising usus (+)

Bising usus (+)

Bising usus (+)

Organ pada abdomen

Organ pada abdomen

Organ pada abdomen

normal.

normal.

normal.

Abdomen
Inspeksi

Palpasi

Auskultasi

Perkusi
6.
7.

yaitu ics 5 dan 6.

Ictus cordis normal

Genetalia
Ekstremitas
atas dan bawah
Inspeksi

Berfungsi

dengan

baik.

Berfungsi

dengan Berfungsi

dengan

baik.

baik.

Reflek patella (+)

Reflek patella (+)

Perkusi
Reflek patella (+)

3.3 Tipologi Masalah Kesehatan


NO

DAFTAR MASALAH KESEHATAN

25

1. AKTUAL :
Ketidakberdayaan mengerjakan tugas sekolah
2. KURANG/TIDAK SEHAT :
Kurangnya peran orang tua dalam menemani anak belajar
3. DIFISIT
3.4 Masalah Yang Muncul
a. Daftar Masalah Pengkajiaan Khusus Berdasarkan 5 Tugas Keluarga Dengan Diagnosa
Kurangnya Pengetahuan Tentang Tugas Perkembangan Keluarga Anak Usia Sekolah.
NO
KRITERIA
PENGKAJIAN
1. Mengenal Masalah
Keluarga belum bisa mengenal masalah.
2. Mengambil Keputusan yang Keluarga belum bisa mengambil keputusan yang
tepat
3. Merawat anggota keluarga

tepat.
Dalam hal ini tugas dalam merawat anggota

yang sakit ataupun punya

keluarga yang sakit dilakukan oleh pasangan yang

masalah

tidak sakit serta merawatnya hingga sembuh. Dan


jika anak yang sakit ke dua orang tua ini merawat

4. Memodifikasi lingkungan

anaknya.
Keluarga sudah menyediakan tempat belajar

5. Memanfaatkan sarana

untuk anak
Jika ada keluarga yang sakit keluarga langsung

kesehatan

berobat ke dokter.

b. Daftar Masalah Pengkajian Khusus Berdasarkan

5 Tugas Keluarga Dengan

Diagnosa Ketidakberdayaan Mengerjakan Tugas Sekolah.


NO
KRITERIA
1. Mengenal Masalah

PENGKAJIAN
Tn. A dan Ny. B mampu mengenal masalah
ketika anaknya sulit dalam menyelesaikan tugas
sekolah, karena sering diungkapkan kepada

mereka.
2. Mengambil Keputusan yang Tn. A dan Ny. B sudah mengambil keputusan
26

tepat

untuk meluangkan waktu menemani anak belajar

3. Merawat anggota keluarga


yang sakit ataupun punya

dirumah
Tn. A dan Ny. B sudah merawat anggota keluarga
yang sakit ataupun punya masalah

masalah

4. Memodifikasi lingkungan

Ny. B memodifikasi lingkungan dengan cara


menempatkan meja belajar anaknya di ruang

5. Memanfaatkan sarana
kesehatan

kumpul keluarga.
Jika ada keluarga yang sakit keluarga langsung
berobat ke dokter.

3.5 Diagnosa Keperawatan


1. Analisa dan Sintesa Data
NO

DATA

KEMUNGKINAN MASALAH/DIAGNOSA
PENYEBAB

1.

Ds :
Ny. B mengatakan tidak

Ketidakmampuan

tahu apa-apa saja tugas yang keluarga mengenal


masalah tugas
harus dipenuhi untuk
keluarganya

perkembangan

Kurang pengetahuan
tentang tugas
perkembangan keluarga
dengan anak usia sekolah

keluarga dengan anak berhubungan dengan


Do :

usia sekolah.

ketidakmampuan keluarga

Saat dilakukan pengkajian

mengenal masalah tugas

ibu klien tampak bingung

perkembangan keluarga

ketika ditanya peran apa

dengan anak usia sekolah.

yang dilakukannya.
2. Ds :
An.C mengatakan bahwa
tidak bisa mengerjakan

Disfungsi tugas
Ketidakberdayaan
mengerjakan tugas

perkembangan keluarga
pada anak usia sekolah.
27

pekerjaan rumah yang

sekolah

diberikan guru sekolah.


Ny. B mengatakan tidak
pernah menemani anak
belajar.
Do :
Ny B tampak menyesal saat
dilakukan pengkajian

2. Perumusan Diagnosa Keperawatan


No.
1.

Diagnosa keperawatan (P,E,S)


Kurang pengetahuan tentang tugas perkembangan keluarga dengan anak usia sekolah
b.d ketidakmampuan keluarga mengenal masalah tugas perkembangan keluarga dengan
anak usia sekolah.

2.

Ketidakberdayaan mengerjakan tugas sekolah b.d disfungsi tugas perkembangan


keluarga dengan anak usia sekolah.

3.6 Skoring Prioritas Diagnosa Keperawatan Keluarga dengan Anak Usia Sekolah
1. Kurang pengetahuan tentang tugas perkembangan keluarga dengan anak usia sekolah b.d
ketidakmampuan keluarga mengenal masalah tugas perkembangan keluargadengan anak
usia sekolah.

KRITERIA
SIFAT MASALAH

SKOR

Hasil Skoring

BOBOT

Pembenaran
Sifat masalah ini termasuk

28

Ancaman kesehatan

situasi mengancam
3/3 x 1 = 1

kesehatan, karena jika


dibiarkan terus menerus
perkembangan keluarga

KEMUNGKINAN

akan terhambat.
Latar belakang pendidikan

MASALAH DAPAT

Tn. A dan Ny. B adalah

DIUBAH

SMA, sehingga
memudahkan untuk

Dengan Mudah

2/2 x 2 = 1

menerima informasi dan


penjelasan

POTENSIAL

Karena Tn. A dan Ny. B

MASALAH DAPAT

sering mengunjungi orang

DICEGAH

tua dan keluarga yang


sudah berpengalaman

Tinggi

3/3 x 1 = 1

memiliki anak sehingga


keluarga dapat bertanya
apa yang seharusnya
dilakukan.

MENONJOLNYA
MASALAH
Ada masalah, tapi tidak
perlu segera ditangani

Masalah memang perlu


x1=

ditangani. Tapi sifat


masalah ini tidak gawat,
dan bisa diselesaikan
secara bertahap.

29

Total Skor

1+1+1+1/2 = 3,5

2. Ketidakberdayaan mengerjakan tugas sekolah bd. disfungsi tugas perkembangan keluarga


pada anak usia sekolah.
Kriteria
SIFAT MASALAH

Skor

Hasil Skoring

Bobot

Alasan
Sifat masalah ini termasuk
situasi mengancam

Ancaman kesehatan

3/3 x 1 = 1

kesehatan, karena jika


dibiarkan terus menerus
anak akan merasa bahwa
dia gagal dan tidak seperti
teman sebayanya

KEMUNGKINAN
MASALAH DAPAT

Karena orang tua sangat

DIUBAH

menyesal dengan
perbuatan mereka

Dengan Mudah

2/2 x 2 = 1

POTENSIAL MASALAH
DAPAT DICEGAH
Karena orang tua disini
Tinggi

3/3 x 1 = 1

seharusnya lebih banyak


berinteraksi dengan anak

MENONJOLNYA
MASALAH
Ada masalah, tapi tidak
perlu segera ditangani.

Masalah memang perlu


x1=

ditangani. Tapi sifat


masalah ini tidak gawat,
dan bisa diselesaikan
secara bertahap.

30

Total Skor

1+1+1+ = 3,5

3.7 Diagnosa Keperawatan Keluarga Prioritas


Dx 1 : Kurang pengetahuan tentang tugas perkembangan keluarga Tn. A dengan anak usia
sekolah

b.d

ketidakmampuan

keluarga

mengenal

masalah

tugas

perkembangan

keluarga dengan anak usia sekolah.


RENCANA TINDAKAN
No Dx keperawatan
Tujuan dan
1

Intervensi Keperawatan
Tindakan keperawatan

Rasional

Kurang

kriteria hasil
Keluarga memahami Kaji tingkat pengetahuan Untuk mengetahui

pengetahuan

tentang tugas

keluarga tentang tugas

tentang tugas

perkembangan

perkembangan keluarga pengetahuan keluarga

perkembangan

keluarga anak usia

dengan anak usia

dalam menjalankan

keluarga Tn. A

sekolah dengan

sekolah.

perannya masing-

dengan anak usia kriteria hasil :

Jelaskan tentang tugas

masing.

sekolah b.d

perkembangan keluarga Agar keluarga lebih

Keluarga

ketidakmampuan mengetahui tugas

dengan anak usia

sampai dimana

mengetahui tentang

keluarga mengenal perkembangan pada sekolah.

tugas

masalah tugas

perkembangannya

perkembangan

usia sekolah.

masing-masing

keluarga dengan
anak usia sekolah.
Ds :
31

An. C mengatakan
bahwa tidak bisa
mengerjakan
pekerjaan rumah
yang diberikan
guru sekolah.
Ds :
Ny. B mengatakan
tidak pernah
menemani anak
belajar.
Do :
Ny. B tampak
menyesal saat
dilakukan
pengkajian

Dx 2 : Ketidakberdayaan An. C mengerjakan tugas sekolah pada keluarga Tn. A dengan tahap
perkembangan keluarga usia sekolah b.d disfungsi tugas perkembangan keluarga dengan anak
usia sekolah.
RENCANA TINDAKAN
No Dx keperawatan
Tujuan dan
1

Ketidakberdayaan

Intervensi Keperawatan
Tindakan

Rasional

kriteria hasil
keperawatan
Perilaku kesehatan Kaji apa penyebab Agar perawat dapat

mengerjakan tugas ancaman berkurang terjadinya masalah.

menetapkan intervensi

sekolah b.d

yang tepat atas masala

dengan kriteria hasil Diskusikan kepada

kurangnya interaksi :

keluarga apa yang menggali lebih dalam

interpersonal

menjadi kendala

Anak bisa

32

ditandai dengan

mengerjakan tugas utama yang dirasakan permasalahan


sekolah.

keluarga hingga

Ds :

Orang tua ada waktu permasalahan muncul

An.C mengatakan

untuk menemani bantu kelurga dengan

bahwa tidak bisa

anak belajar.

mendiskusian kepada

mengerjakan

keluarga cara cara

pekerjaan rumah

untuk memanajemen Membantu mengatasi

yang diberikan guru

waktu agar kebutuhan masalah keluarga

sekolah.

akan perhatian
tercukupi

Ny.B mengatakan
tidak pernah
menemani anak
belajar.
Do :
Ny. B tampak
menyesal saat
dilakukan
pengkajian.

PELAKSANAAN DAN EVALUASI


No

Pelaksanaan

Evaluasi

Dx

33

Kaji tingkat pengetahuan keluargaKeluarga mengatakan belum mengetahui kalau


dan tentang

tugas

perkembanganada tugas keluarga untuk anak usia sekolah.

keluarga dengan tingkat usia sekolah Keluarga tampak serius.


Pengetahuan keluarga tentang tugas keluarga tidak
ada.
Merencanakan untuk mendiskusikan tentang tugas
perkembangan keluarga.
Keluarga mengatakan bahwa selama ini banyak
sekali tugas keluarga yang belum terpenuhi.

Diskusikan dengan keluarga tentangKeluarga tampak antusias.


tugas perkembangan keluarga

Pengetahuan

keluarga

tentang tugas

perkembangan keluarga meningkat.


Rencanakan pertemuan berikutnya untuk evaluasi.
Minta keluarga untuk menjelaskanKeluarga mampu mengulangi informasi yang
kembali

informasi

disampaikan

yang

telahtelah disampaikan oleh perawat pada pertemuan


sebelumnya, dan berencana untuk konsultasi
dengan baik dengan perawat maupun keluarga
untuk menjalankan tugasnya.
Keluarga tampak antusias.
Pengetahuan keluarga meningkat.
Rencanakan untuk pertemuan berikutnya evaluasi
dan terminasi.

Kaji
masalah

apa

penyebabterjadinya Keluarga mengatakan hal itu terjadi karena


keluarga tidak mampu untuk membagi waktu, dan
tidak memikirkan hal itu bisa menjadi berbahaya.
Keluarga tampak menyesal, Ny B menangis.
Keluarga mengambil keputusan untuk berubah.
Kontrak untuk mendiskusikan kepada keluarga,
34

bagaimana cara untuk memanajemen waktu.


Merasa terbantu, dan mendapatkan gambaran
untuk mengatasi masalah.

Mengajarkan

cara

memanajemen

Keluarga akan melakukan cara memanjemen


waktu.

waktu
Dampingi

keluarga

saat

mendampingi anak belajar dirumah

Merasa senang karena bisa membatu anak


mengerjakan tugas sekolah.
Keluarga akan selalu mendampingi anak belajar
dirumah.
Hentikan tindakan.

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Keluarga merupakan suatu perkumpulan orang yang terdiri dari suami, istri dan anakanaknya baik anak kandung maupun adopsi, Keluarga juga merupakan pusat perkembangan
anak untuk dapat berkembang dengan baik atau tidak, keluarga yang baik dapat mendukung
anak dapat berkembangan baik pula.
Keluarga

dengan

tahap

perkembangan

anak

usia

sekolah

mempunyai

tugas

perkembangan, yaitu : mensosialisasikan anak untuk dapat meningkatkan prestasi sekolahnya,


meningkatkan kominikasi terbuka agar anak mau bercerita tentang pengalaman yang dialaminya,

35

selain itu orang tua juga harus bisa melepaskan anak-anaknya utuk bisa bergaul dan bermain
dengan teman sebayanya.
Pada tahap ini anak sering sekali tidak berada dirumah mereka lebih senang untuk
bermain dengan teman-temannya, sehingga orang tua berpisah dengan anaknya untuk sementara
waktu.
Penerapan proses keperawan keluarga memerlukan keterampilan yang baik dalam
berkomunikasi, skill keperawatan dan pemilihan pertanyaan yang tepat sehingga proses
keperawatan dapat diterapkan dengan baik.
4.2 Saran
1. Dalam melakukan pengkajian diharapkan mahasiswa dapat menyimpulkan apakah
keluarga sudah mampu memenuhi tugas perkembangan anak usia sekolah atau belum.
2. Mahasiswa adalah seoarang calon perawat yang salah satu kliennya adalah keluarga,
maka diharapkan mahasiswa dalam memberikan asuhan keperawatan tidak melangkahi
profesionalitas berkerja dan selalu menghormati privasi yang klien miliki.
3. Dalam melakukan pengkajian, perawat harus membina trust terlebih dahulu untuk
melakukan rencana asuhan keperawatan.

DAFTAR PUSTAKA
Christeinsen, paula J. 2009. Proses keperawatan : aplikasi model konseptual edisi 4 (alih bahasa:
yuyun yuningsih, yasmin asih). Jakarta : EGC
Drs. E.B. surbakti M.A. 2008. Sudah siapkah menikah.Jakarta : PT Elex Media Komputindo
Efendi, ferry makhfudli. 2009. Keperawatan kesehatan komunitas : teori dan praktik dalam
keperawatan. Jakarta : salemba medika
Friedman, marilyn M. 1998. Keperawatan Keluarga : Teori dan Praktik. Jakarta : EGC
Potter & Perry. 2009. Fundamental keperawatan. Jakarta : Salemba Medika
Suprajitno. 2004. Asuhan keperawatan keluarga : aplikasi dalam praktik. Jakarta : EGC

36