Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH RISET OPERASI

PENDISTRIBUSIAN PRODUK AIR MINUM DENGAN


MENGGUNAKAN VOGEL APPROXIMATION METHOD (VAM)

DISUSUN OLEH :
AHMAD IHSAN ADI K
06.11.1020

JURUSAN TEKNIK INFORMATIKA


SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN INFORMATIKA DAN KOMPUTER

STMIK AMIKOM YOGYAKARTA


2012

Abstraksi
Sejak diperkenalkan manajemen sains, metode riset kuantitatif dalam
mengoptimalkan kegiatan operasional perusahaan terus berkembang. Berbagai riset
dan penemuan semakin menyempurnakan metode-metode yang telah ditemukan
sebelumnya. Dalam perjalanannya, perusahaan selalu berusaha untuk menggunakan
sumber daya yang dimilikinya seefisien mungkin. Dengan sumber daya yang efisien
tersebut, diharapkan tujuan akhir perusahaan dapat tercapai dengan efektif.

METODE TRANSPORTASI
1. PENDAHULUAN
Tujuan dari metode transportasi adalah menentukan pola pengiriman yang
paling baik dari beberapa supplier (sumber) ke beberapa tujuan (demand) sehingga
meminimalkan total biaya produksi dan transportasi.
Salah satu fungsi dalam dunia usaha adalah guna tempat. Penyebaran produksi
air minum dari pabrik air minum Narmada,Lombok (Jelantik) dan NTB(Lombok
Barat) ke daerah Mataram,Praya, dan Masbagek. Dalam hal ini alat transportasi
merupakan fungsi yang menambah nilai pada hasil produksi tersebut.

Manajemen Operasi bertugas untuk memilih sarana dan sistem transportasi


yang paling efisien. Cara penyelesaian kasus semacam ini dikenal dengan metode
transportasi.
Metode transportasi dapat digunakan untuk menyelesaikan beberapa persoalan
optimasi. Persoalan transportasi berkenaan dengan pemilihan route (jalur)
pengangkutan yang mengakibatkan biaya total dari pengangkutan itu minimum.

Menghitung Biaya Peluang Dengan Vogel Approximation Method (VAM)


Vogel Approximation Method (VAM) yang dikembangkan oleh Vogel pada

prinsipnya mencari opportunity cost (biaya peluang). Untuk setiap baris dan kolom,
dibandingkan dan dihitung selisih antara biaya terendah dengan yang lebih tinggi.
Pengiriman dilakukan dari kota asal ke kota tujuan dengan memilih selisih biaya
terbesar dan terendah. Selisih biaya dihitung dengan cara mengurangkan biaya
terendah pada biaya satu tingkat di atasnya.

Daftar biaya, kapasitas produksi dan kapasitas gudang terlihat sepeerti table di bawah
ini

Dari(nama
pabrik)
ke
Narmada(Rp)

Mataram(Rp)

Praya(Rp)

Masbagek(Rp

Kapasitas

(x1000)

(x1000)

Pabrik

310

(x1000)
270

(kotak)
1900

250

(x1000)
Lombok(Rp)

Selisih

270250=20

360

400

250

2000

(x1000)

360250=110

NTB(Rp)

270

320

350

(x1000)
Kapasitas

1300

1300

3000

270-250=20

320-

270-250=20

1700

320270=50

Gudang
(kotak)
Selisih

310=10
2000x250
Tabel I menunjukkan biaya transportasi, Berdasarkan tabel tersebut Vogel
membuat perhitungan untuk masing-masing baris dan kolom perbedaan biaya yang
termurah dengan biaya yang lebih mahal.
Pada baris Narmada, selisih dari 2 biaya terendah adalah 270-250=20. Pada
baris Lombok, selisih dari 2 biaya terendah adalah 360-250=110. Pada baris NTB,
selisih dari 2 biaya terendah adalah 320-270=50.

Kemudian pada kolom Mataram, selisih dari 2 biaya terendah adalah 270250=20. Pada kolom Praya, selisih dari 2 biaya terendah adalah 320-310=10. Pada
kolom Masbagek, selisih dari 2 biaya terendah adalah 270-250=20.
Selisih biaya menunjukkan penghematan yang bisa dilakukan pada baris atau
kolom. Semua perhitungan selisih biaya pada baris dan kolom terlihat pada table 1
Dari selisih-selisih di atas, kemudian dicari selisih terbesar dari masingmasing biaya. Selisih tersebut dikalikan dengan biaya pengiriman terendah dari
baris/kolom tersebut.
Dari seluruh perhitungan tersebut terlihat bahwa selisih terbesar terdapat pada
baris Lombok (110). Hal itu berarti perusahaan akan menghemat 110 satuan biaya
kalau mengirim pertama ke baris Lombok (110). Pada baris Lombok (110) tersebut
kita pilih kotak dengan biaya terendah dalam hal ini adalah Masbagek. Sebagai
percobaan awal semua kebutuhan Lombok dikirim dari Masbagek sejumlah 2000
kotak.
Untuk mengisi kotak yang lain, diulangi cara yang sama, yaitu dengan
menghitung biaya peluang berdasarkan baris dan kolom, kemudian pilih biaya
peluang terbesar dan alokasikan pada kotak dengan biaya terendah, dengan
mempertimbangkan supply dan demand.

Mengisi Kotak lain Pada VAM

Dalam permasalahan transportasi, Opportunity cost (biaya peluang) antara


baris supply dan kolom demand dimengerti sebagai selisih antara biaya terendah dan
biaya terendah berikutnya. Langkah-langkah Vogel Approximation method adalah
sebagai berikut.
1. Pada setiap baris dan kolom, pilih biaya terendah dan alternatif biaya
terendah berikutnya pada kotak yang belum terpakai. Selisih
antara biaya terendah dan altiernatif biaya terendah berikutnya
merupakan opportunity cost (biaya peluang) bagi baris atau
kolom.
2. Pilihlah opportunity cost yang tertinggi di antara baris dan kolom
3. Alokasikan sebanyak mungkin unit pada baris atau kolom pada kotak
dengan biaya terendah.
Untuk mengisi kotak kosong yang lain, dihitung kembali biaya berdasarkan
baris dan kolom. Baris Lombok yang kapasitasnya sudah habis digunakan, tidak
diperhitungkan dalam proses perhitungan biaya. Perhitungan biaya berdasarkan baris
dan kolom dapat dilihat pada tabel berikut.

Dari(nama
pabrik)
ke
Narmada
NTB
Jumlah
Permintaan
Selisih

Mataram

Praya

Masbagek

250
270
1300

310
320
1300

270
350
3000-

270-250=20

320-310=10
1000x270

Jumlah

Selisih

Produksi
1900
1700

270-250=20
320-270=50

2000=1000
350-270=80

Dari perhitungan biaya peluang tersebut, terlihat bahwa selisih biaya terbesar
terletak pada kolom Masbagek, yaitu sebesar 80. Oleh karena itu kita akan
mengalokasikan pada kolom Masbagek dengan memilih kotak dengan biaya
terendah, yaitu kotak Narmada Masbagek. Untuk menentukan berapa yang harus
dialokasikan ke kotak tesebut, perlu mempertimbangkan kapasitas Pabrik dan
Gudang . karena permintaan pada Masbagek 1000 sementara kapasitas Pabrik
Narmada 1900, maka kita alokasikan sebesar 1000, sehingga kapasitas Pabrik
Narmada masih tersisa 900 unit yang bisa dialokasikan ke gudang lainnya.

Dari
ke

Mataram

Praya

Jumlah

Selisih

Narmada

250

310

Produksi
1900-

310-250=60

320

1000=900
1700

320-270=50

NTB

270

Jumlah

1300

Permintaan
Selisih

270-250=20

1300
320-310=10
900x250

Perhitungan biaya peluang (opportunity cost) pada baris dan kolom tersebut
diulangi lagi untuk baris dan kolom yang masih terdapat kapasitas sisa.
Dari
ke

Mataram

NTB
Jumlah

270
1300-

Permintaan

900=400

Praya
320
1300
400x270

Dari
ke

Praya

Jumlah

NTB

320

Produksi
1700400=1300

Jumlah

1300

Permintaan
1300x320

Jumlah
Produksi
1700

Dari tabel-tabel di atas, kita memperoleh biaya peluang minimum, yaitu


sebesar :
(2000x250) + (1000x270) + (900x250) + (400x270) + (1300x320) = 1.421.000
Jadi, biaya minimum untuk pendistribusian produk air minum ke darerah
Mataram, Praya dan Masbagek adalah Rp. 1.421.000.

PENUTUP & RANGKUMAN


1. Rangkuman
Vogel Approximation Method mendasarkan pada konsep opportunity cost
(selisih antara biaya terendah dengan biaya satu tingkat di atasnya), untuk setiap baris
dan kolom. Untuk melakukan alokasi ke setiap kotak dipilih biaya peluang terbesar,
kemudian pilih kotak yang mempunyai biaya terendah.
2. Penutup
Demikianlah makalah yang dapat kami sampaikan semoga ada manfaatnya
khususnya bagi penulis dan umumnya bagi pembaca. Dan kami mengucapkan mohon
maaf yang sebesar-besarnya atas kesalahan dan kekurangan dalam pembuatan
makalah ini

DAFTAR PUSTAKA

Toha, Hamdy A. (1997). Operation Research: an introduction, Prentice Hall, NJ.


Levin,Richard I., et al. (1992). Quantitative Approaches tomanagement, 8th edition,
New York,McGraw-Hill International Editions.