Anda di halaman 1dari 13

TUGAS BIOPROSES : SIKLUS KARBON

Disusun oleh:
CINTIYA SEPTA HASSANNAH (14/373616/PTK/09969)
CYRILLA OKTAVIANANDA (14/376450/PTK/10153)

MAGISTER TEKNIK PENGENDALIAN PENCEMARAN LINGKUNGAN


JURUSAN TEKNIK KIMIA
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS GAJAH MADA
2015

1. Pendahuluan

Karbon merupakan unsur kedua yang paling berlimpah dalam organisme hidup, hadir
dalam semua molekul organik. Perannya dalam struktur makromolekul adalah
kepentingan utama bagi organisme hidup. Senyawa karbon mengandung bentuk tinggi
energi, yang manusia digunakan sebagai bahan bakar. Sejak tahun 1800-an (awal
Revolusi Industri), jumlah negara yang menggunakan sejumlah besar bahan bakar fosil
meningkat, sehingga menimbulkan tingkat karbon dioksida di atmosfer melimpah.
Peningkatan karbon dioksida telah dikaitkan dengan perubahan iklim dan gangguan lain
dari ekosistem bumi. Ini merupakan masalah utama lingkungan di seluruh dunia.
2. Siklus karbon
2.1 Siklus Karbon di Alam
Karbon merupakan senyawa yang sangat penting keberadaannya di bumi. Manusia
sangat membutuhkan senyawa ini dari mulai bahan bakar, makanan, barang sehari-hari
bahkan kita sendiri terbentuk dari karbon. Dalam siklus karbon, tumbuhan mendapatkan
sumber karbon dalam bentuk CO2 dari atmosfer yang kemudian digunakan dalam proses
fostosintesis. Tumbuhan tersebut kemudian menjadi sumber karbon bagi konsumen.
Respirasi oleh konsumen mengembalikan CO2 ke atmosfer. Tumbuhan dan konsumen
yang mati selanjutnya mengalami biodegradasi, diuraikan oleh mikroorganisme. Pada
gambar 1 dapat dilihat siklus karbon antara atmosphere, daratan dan lautan.
Siklus karbon sendiri dibagi menjadi 2 yaitu siklus lambat dan siklus cepat. Siklus
lambat terjadi melalui reaksi kimia dan aktifitas tektonik. Karbon membutuhkan waktu
sekitar 100 200 juta tahun untuk berpindah dari batuan, tanah, lautan dan atmosphere.
Siklus cepat terjadi pada bentuk kehidupan organisme di bumi atau biosphere. Karbon
memerankan peranan penting pada proses biologi karena sifatnya yang dapat membentuk
ikatan yang besar. Pada siklus cepat bakteri (organisme) menggunakan karbon untuk
menghasilkan energi maupun menghasilkan senyawa yang mengandung karbon.

Gambar 1. Siklus Karbon di Alam


Bagian terbesar dari karbon yang berada di atmosfer bumi adalah gas karbon
dioksida (CO2). Meskipun jumlah gas ini merupakan bagian yang sangat kecil dari
seluruh gas yang ada di atmosfer (hanya sekitar 0,04% dalam basis molar, meskipun
sedang mengalami kenaikan), namun ia memiliki peran yang penting dalam menyokong
kehidupan. Gas-gas lain yang mengandung karbon di atmosfer adalah metan dan
kloroflorokarbon atau CFC (CFC ini merupakan gas artifisial atau buatan). Gas-gas
tersebut adalah gas rumah kaca yang konsentrasinya di atmosfer telah bertambah dalam
dekade terakhir ini, dan berperan dalam pemanasan global.

2.2 Siklus Karbon dalam Mikroorganisme (Siklus Karbon Biologi)

Gambar 2. Siklus Karbon dalam Mikroorganisme


2.2.1

Carbon Dioxide Fixation


Carbon fixation adalah sintesis dari anorganik karbon (karbon dioksida)

menjadi senyawa organik oleh mikroorganisme. Contoh carbon fixation yang paling
banyak terjadi adalah fotosintesis. Diperkirakan hampir 258 milliar ton CO 2/ tahun
diubah menjadi senyawa organic pada proses fotosintesis. Mayoritas carbon fixation
terjadi di lingkungan laut.
Autotroph merupakan mikroorganisme yang tumbuh menggunakan karbon.
Contoh mikroorganisme jenis autotroph antara lain:
1. Photoautotrophs yang mensintesis senyawa organic menggunakan sumber sinar
matahari.
2. Lithoautotrophs yang mensintesis senyawa organic menggunakan energy dari
oksidasi anorganik.
Heterotrophs adalah mikroorganisme yang tumbuh menggunakan hasil fixation
oleh mikroorganisme autotroph. Senyawa organic yang dikonsumsi oleh heterotroph
digunakan untuk menghasilkan energy dan membangun struktur selnya.
Contoh proses carbon fixation adalah fotosintesis. Fotosintesis merupakan
salah satu jenis carbon fixation yang menggunakan sinar matahari dan oksigen untuk

prosesnya. Fotosintesis biasanya terjadi pada makhluk hidup yang memiliki pigmen
klorofil seperti tumbuhan, algae dan cyanobacteria. Dengan proses sebagai berikut:
2H2O 4e- + 4H+ + O2
CO2 + 4e- + 4H+ CH2O + H2O
Pada langkah pertama, air diuraikan menjadi elektron, proton, dan oksigen
bebas. Air digunakan sebagai donor elektron. Langkah ini menggunakan energi sinar
matahari untuk mengoksidasi air menjadi O2 yang kemudan digunakan untuk
menghasilkan ATP.
ADP + Pi

ATP + H2O

Dan reduktor, NADPH,


NADP+ + 2e- + 2H+

NADPH + H+

Langkah kedua atau yang disebut siklus Calvin, merupakan tahap dimana
carbon fixation terjadi. Pada tahap ini ATP dan NADPH dikonsumsi untuk mengubah
karbondioksida menjadi gula berupa triase fosfat (TP).
CO2 + 12 e- + 12 H+ + Pi TP + 4 H2O
2.2.2

Fermentation and Anaerobic Respiration


Sel hidup membutuhkan energi dari sumber luar agar dapat melakukan kerja.

Energi yang tersimpan dalam molekul organik pada makanan berasal dari matahari.
Energi mengalir ke dalam ekosistem sebagai cahaya dan meninggalkan ekosistem
sebagai panas. Sebaliknya, unsur kimia yang penting bagi hidup di-recycled.
Fotosintesis menghasilkan oksigen dan molekul organik yang digunakan oleh
mitokondria sel eukariot sebagai bahan bakar dalam respirasi sel. Proses respirasi
memecah bahan bakar tersebut dan menghasilkan ATP. Produk buangan respirasi yaitu
CO2 dan air, merupakan bahan mentah untuk fotosintesis. Pada proses ini, akan
diuraikan bagaimana sel memanen energi kimia yang tersimpan di dalam molekul
organik dan menggunakannya untuk menghasilkan ATP, yaitu suatu molekul yang
4

mengendalikan sebagian besar kerja sel. Untuk setiap satu molekul glukosa yang
diurai menjadi karbon dioksida dan air melalui respirasi, sel memproduksi sekitar 38
molekul ATP. Respirasi merupakan fungsi kumulatif dari tiga tingkatan metabolisme
(1) Glikolisis, (2) Siklus asam sitrat, dan (3) Fosforilasi oksidatif terdiri dari transport
elektron dan chemiosmosis.
Kata glikolisis memiliki arti pemisahan gula dan inilah yang terjadi
selama glikolisis. Glukosa (gula berkarbon enam) dipisahkan menjadi dua buah gula
berkarbon tiga. Gula yang lebih kecil ini kemudian teroksidasi dan atom-atom yang
tersisa membentuk dua molekul piruvat (piruvat merupakan bentuk ion dari asam
piruvat).
Siklus asam sitrat disebut juga siklus asam trikarboksil atau siklus Krebs.
Siklus ini berfungsi sebagai pengoksidasi bahan bakar organik yang berasal dari
piruvat.
Pada tingkat ketiga respirasi sel, rangkaian transport elektron menerima
elektron dari produk yang telah terurai pada kedua tingkatan sebelumnya (sebagian
besar melalui NADH) dan meneruskan elektronelektron ini dari satu molekul ke
molekul yang lainnya. Pada akhir dari rantai transpot elektron, elektron bergabung
dengan molekul oksigen dan ion hidrogen (H+) membentuk air. Energi yang
dilepaskan dari tiap tahapan dalam rangkaian tersebut disimpan dalam bentuk dimana
mitokondria dapat menggunakannya untuk membuat ATP. Model pembuatan ATP
yang demikian disebut fosforilasi oksidatif karena dikendalikan oleh rekasi redoks
dari rangkaian transport elektron.
Fermentasi Dan Respirasi Anaerob
Karena sebagian besar ATP yang dihasilkan melalui respirasi sel adalah hasil
dari proses fosforilasi oksidatif, maka ATP yang dihasilkan dari respirasi aerobik
bergantung pada suplai oksigen dalam sel. Tanpa adanya oksigen yang bersigat

elektronegatif untuk menarik elekton dari rangkaian TE (Transport Electron),


fosforilasi oksidatif akan berhenti. Namun demikian, terdapat dua mekanisme umum
dimana sel-sel tertentu mampu mengoksidasi bahan bakar organik (materi organik)
dan menghasilkan ATP tanpa menggunakan oksigen yaitu: respirasi anaerobik dan
fermentasi. Perbedaan dari keduanya terletak pada ada tidaknya rangkaian TE.
Anaerobik respirasi berlangsung pada organisme prokariot yang hidup pada
lingkungan tanpa oksigen. Organisme-organisme ini memiliki rangkaian TE tetapi
tidak menggunakan oksigen sebagai penangkap elektron terakhir pada akhir rangkaian
TE. Oksigen mampu menangkap elektron dengan sangat baik karena sifatnya yang
elektronegatif, tetapi substansi lainpun memiliki kemampuan menangkap elektron
walaupun tidak sebaik oksigen; dan substansi ini berfungsi sebagai penangkap
elektron terakhir dalam respirasi anaerobik. Sebagai contoh, bakteria sulfat
menggunakan ion sulfate (SO42-) pada akhir rangkaian TE. Rangkaian TE membentuk
proton-motive force yang digunakan untuk menghasilkan ATP dan sebagai byproduct-nya dihasilkan H2S (bukan H2O).
2.2.3 Siklus Karbon biogeokimia
Pergerakan karbon melalui tanah, air, dan udara adalah kompleks dan, dalam
banyak kasus, hal itu terjadi jauh lebih lambat dari siklus karbon biologis. Karbon
disimpan untuk waktu yang lama yang dikenal sebagai cadangan karbon, yang
meliputi atmosfer, wilayah perairan (sebagian besar lautan), sedimen laut, tanah,
sedimen tanah (termasuk bahan bakar fosil), dan didalam bumi.
2.2.3.1 Karbon di atmosfer
Karbon diambil dari atmosfer dengan berbagai cara:
1. Ketika matahari bersinar, tumbuhan melakukan fotosintesa untuk mengubah
karbon dioksida menjadi karbohidrat, dan melepaskan oksigen ke atmosfer.

Proses ini akan lebih banyak menyerap karbon pada hutan dengan tumbuhan yang
baru saja tumbuh atau hutan yang sedang mengalami pertumbuhan yang cepat.
2. Pada permukaan laut ke arah kutub, air laut menjadi lebih dingin dan CO 2 akan
lebih mudah larut. Selanjutnya CO2 yang larut tersebut akan terbawa oleh
sirkulasi termohalin yang membawa massa air di permukaan yang lebih berat ke
kedalaman laut atau interior laut (lihat bagian solubility pump).
3. Di laut bagian atas (upper ocean), pada daerah dengan produktivitas yang tinggi,
organisme membentuk jaringan yang mengandung karbon, beberapa organisme
juga membentuk cangkang karbonat dan bagian-bagian tubuh lainnya yang keras.
Proses ini akan menyebabkan aliran karbon ke bawah (lihat bagian biological
pump).
4. Pelapukan batuan silikat. Tidak seperti dua proses sebelumnya, proses ini tidak
memindahkan karbon ke dalam reservoir yang siap untuk kembali ke atmosfer.
Pelapukan batuan karbonat tidak memiliki efek netto terhadap CO2 atmosferik
karena ion bikarbonat yang terbentuk terbawa ke laut dimana selanjutnya dipakai
untuk membuat karbonat laut dengan reaksi yang sebaliknya (reverse reaction).

Karbon dapat kembali ke atmosfer dengan berbagai cara pula, yaitu:

1. Melalui pernapasan (respirasi) oleh tumbuhan dan binatang. Hal ini merupakan
reaksi eksotermik dan termasuk juga di dalamnya penguraian glukosa (atau
molekul organik lainnya) menjadi karbon dioksida dan air.
2. Melalui pembusukan binatang dan tumbuhan. Fungi atau jamur dan bakteri
mengurai senyawa karbon pada binatang dan tumbuhan yang mati dan mengubah
karbon menjadi karbon dioksida jika tersedia oksigen, atau menjadi metana jika
tidak tersedia oksigen.
3. Melalui pembakaran material organik yang mengoksidasi karbon yang
terkandung menghasilkan karbon dioksida (juga yang lainnya seperti asap).
Pembakaran bahan bakar fosil seperti batu bara, produk dari industri perminyakan
(petroleum), dan gas alam akan melepaskan karbon yang sudah tersimpan selama
jutaan tahun di dalam geosfer. Hal inilah yang merupakan penyebab utama
naiknya jumlah karbon dioksida di atmosfer.
4. Produksi semen. Salah satu komponennya, yaitu kapur atau gamping atau
kalsium oksida, dihasilkan dengan cara memanaskan batu kapur atau batu
gamping yang akan menghasilkan juga karbon dioksida dalam jumlah yang
banyak.
5. Di permukaan laut dimana air menjadi lebih hangat, karbon dioksida terlarut
dilepas kembali ke atmosfer.
6. Erupsi vulkanik atau ledakan gunung berapi akan melepaskan gas ke atmosfer.
Gas-gas tersebut termasuk uap air, karbon dioksida, dan belerang. Jumlah karbon
dioksida yang dilepas ke atmosfer secara kasar hampir sama dengan jumlah
karbon dioksida yang hilang dari atmosfer akibat pelapukan silikat; Kedua proses
8

kimia ini yang saling berkebalikan ini akan memberikan hasil penjumlahan yang
sama dengan nol dan tidak berpengaruh terhadap jumlah karbon dioksida di
atmosfer dalam skala waktu yang kurang dari 100.000 tahun.
Sebagaimana dinyatakan, penyimpanan utama karbon dalam bentuk karbon dioksida,
sangat penting untuk proses fotosintesis. Tingkat karbon dioksida di atmosfer sangat
dipengaruhi oleh penyimpanan karbon di lautan. Pertukaran karbon antara atmosfer
dan air mempengaruhi berapa banyak karbon yang ditemukan di setiap lokasi;
masing-masing mempengaruhi yang lain secara timbal balik.
2.2.3.2 Karbon di air laut
Laut mengandung sekitar 36.000 gigaton karbon, dimana sebagian besar
dalam bentuk ion bikarbonat. Karbon anorganik, yaitu senyawa karbon tanpa ikatan
karbon-karbon atau karbon-hidrogen, adalah penting dalam reaksinya di dalam air.
Pertukaran karbon ini menjadi penting dalam mengontrol pH di laut dan juga dapat
berubah sebagai sumber (source) atau lubuk (sink) karbon. Karbon siap untuk saling
dipertukarkan antara atmosfer dan lautan. Pada daerah upwelling, karbon dilepaskan
ke atmosfer. Sebaliknya, pada daerah downwelling karbon (CO2) berpindah dari
atmosfer ke lautan. Pada saat CO2 memasuki lautan, asam karbonat terbentuk:
CO2 + H2O H2CO3
Reaksi ini memiliki sifat dua arah, mencapai sebuah kesetimbangan kimia.
Reaksi lainnya yang penting dalam mengontrol nilai pH lautan adalah pelepasan ion
hidrogen dan bikarbonat. Reaksi ini mengontrol perubahan yang besar pada pH:
H2CO3 H+ + HCO3
Karbon dioksida (CO2) dari atmosfer larut dalam air, bergabung dengan
molekul air membentuk asam karbonat. Kemudian mengionisasi untuk karbonat dan
ion bikarbonat.

Karbon dioksida bereaksi dengan air untuk membentuk ion bikarbonat dan karbonat.
Lebih dari 90 persen dari karbon di laut ditemukan berupa ion bikarbonat.
Beberapa ion ini bergabung dengan kalsium air laut untuk membentuk kalsium
karbonat (CaCO3), komponen utama dari cangkang organisme laut. Organisme ini
akhirnya membentuk sedimen di dasar laut. Seiring waktu geologi, kalsium karbonat
membentuk kapur, yang merupakan penyimpan karbon terbesar di bumi.
Di darat, karbon disimpan dalam tanah sebagai penguraian organisme hidup atau
pelapukan batuan terestrial dan mineral. Karbon ini dapat tercuci ke dalam waduk air
dengan aliran permukaan. kedalaman bawah tanah, di darat dan di laut, adalah bahan
bakar fosil: sisa-sisa anaerobik- tanaman yang membusuk dan membentuk fosil dalam
jangka waktu jutaan tahun untuk membentuk. Bahan bakar fosil dianggap sebagai
sumber daya yang tidak terbarukan karena penggunaannya jauh melebihi tingkat
pembentukan mereka. Sebuah sumber daya non-terbarukan yang regenerasi sangat
lambat atau tidak sama sekali. Cara lain untuk karbon memasuki atmosfer dari tanah
adalah akibat letusan gunung berapi dan sistem panas bumi lainnya. Sedimen karbon
dari dasar laut yang diambil jauh di dalam bumi dengan proses subduksi: pergerakan
satu lempeng tektonik di bawah yang lain. Karbon dilepaskan sebagai karbon dioksida
ketika gunung berapi meletus atau dari ventilasi hidrotermal gunung berapi.
Karbon dioksida juga ditambahkan ke atmosfer oleh pembibitan dan peternakan.
Sejumlah besar hewan darat dibangkitkan untuk memberi makan hasil pertumbuhan

10

populasi bumi meningkat kadar karbon dioksida di atmosfer akibat praktek pertanian,
respirasi, dan produksi metana. Ini adalah contoh lain bagaimana aktivitas manusia
secara tidak langsung mempengaruhi siklus biogeokimia secara signifikan. Meskipun
banyak perdebatan tentang dampak masa depan peningkatan karbon di atmosfer pada
perubahan iklim berfokus pada bahan bakar fosil, para ilmuwan mengambil proses
alam, seperti gunung berapi dan respirasi.
Seluruh siklus karbon yang telah dijabarkan memiliki pengaruh yang penting
terhadap lingkungan, dimana apabila salah satu siklus tersebut mengalami gangguan
maka keseimbangan siklus yang lain akan terganggu dan berdampak langsung
terhadap lingkungan. Namun, dari berbagai macam siklus karbon diatas, siklus yang
paling signifikan mampu menjaga lingkungan adalah siklus karbon biologi, pada
siklus tersebut mampu mengkonsumsi karbon menjadi energi yang dibutuhkan pada
siklus yang lainnya. Dalam konteks limbah, kandungan limbah yang paling banyak
adalah karbon yang dihasilkan dari zat organik karbon tersebut secara siklus biologi
mampu diubah menjadi energi yang digunakan pada siklus lainnya.
3. Peran Bioproses Dalam Siklus Karbon
Peran bioproses dalam siklus karbon adalah mengurangi emisi karbon di
atmosfer, salah satunya adalah dengan cara pembuatan biofuels.
Biofuels dapat mengurangi ketergantungan terhadap fossil fuels dan
memperkecil dampak terhadap lingkungan. Bioethanol dan biodiesel adalah biofuels
yang saat ini diproduksi secara komersil. Keduanya dapat dikombinasikan dengan petrol,
diesel, dan aviation kerosene sebagai bahan bakar transportasi. Biodiesel saat ini
diproduksi dengan ekstraksi minyak dari soybean (USA), oilseed rape dan oil palm
(Europe), lalu diubah menjadi biodiesel. Sedangkan bioethanol diproduksi dari sugar
11

beet, sugar cane, dan corn. Fermentasi menjadi etanol dilakukan oleh mikroorganisme
yeast. Biofuels yang diproduksi dari edible crops disebut tradisional, atau firstgeneration biofuels. Biofuels jenis ini dianggap kurang sustainable karena sumbernya
dari hasil pertanian yang merupakan bahan makanan.
Second- dan third-generation biofuels diproduksi dari non-food crops.
Mikroba berperan penting dalam perkembangan biofuels jenis ini. Second- dan thirdgeneration biofuels ini lebih sustainable daripada first-generation biofuels karena yields
lebih tinggi, mengurangi greenhouse gas dan tidak berkompetisi dengan crops sebagai
bahan makanan. Penelitian yang berkembang adalah mengenai lignocellulosic biofuels
and algae.
Lignocellulosic

biofuels

diproduksi

melalui

perusakan

carbohydrates

(celluloses) dalam dinding sel tanaman yang kemudian fermentasi oleh yeast atau microorganisme lain. Lignocellulosic biomass jumlahnya setengah dari total biomassa si dunia
dan merupakan non-edible parts dari crops seperti stalks, chaff (sekam), sawdust and
wood chip.
Algae merupakan mikroorganisme fotosintesis. Mereka menggunakan energi
matahari dan CO2 untuk menghasilkan biomassa termasuk minyak yang dapat dikonversi
menjadi biodiesel. Algae-based biofuels memiliki beberapa kelebihan. Microalgae dapat
menghasilkan minyak per acre 100 kali lebih banyak daripada tumbuhan lain. Selain itu,
algae dapat tumbuh di tanah yang kurang baik. Perkembangan algae-based biofuels
masih dalam tahap eksperimen. Produksi dalam skala besar cukup mahal, sekitar 10-30
kali lebih besar daripada biaya produksi tradisional biofuels.

12