Anda di halaman 1dari 29

TUGAS #1 PETROGRAFI

PTROGRAFI BATUAN METAMORF DAN BATUAN

KARBONAT

DI SUSUN OLEH :

I GUSTI BAGUS WAHANA YASA


410013115

JURUSAN TEKNIK GEOLOGI


SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NASIONAL
YOGYAKARTA
2015
1| PETROGRAFI | 410013115

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat,
karunia, serta taufik dan hidayah-Nya lah kami dapat menyelesaikan makalah ini sebatas
pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki.
Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan
serta pengetahuan kita mengenai PETROGRAFI BATUAN KARBONAT DAN
BATOAN METAMORF . Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam tugas ini
terdapat kekurangan-kekurangan dan jauh dari apa yang kami harapkan. Untuk itu, kami
berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan di masa yang akan datang,
mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa sarana yang membangun.
Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya.
Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang yang
membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang
kurang berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang membangun demi perbaikan di
masa depan.

Yogyakarta ,8 april 2015

Penyusun

2| PETROGRAFI | 410013115

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ............................................................................................................... i


KATA PENGANTAR ............................................................................................................ ii
DAFTAR ISI .......................................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
I.I. Latar Belakang .................................................................................................... 4
BAB II PEMBAHASAN
II.I. Petrografi ............................................................................................................. 5
II.2. Petrografi batuan metamorf .............................................................................. 6
II.3. Petrografi batuan karbonat.............................................................................. 18
BAB III PENUTUP
III.I. Kesimpulan ...................................................................................................... 27
DAFTAR PUSTAKA

3| PETROGRAFI | 410013115

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Petrografi adalah Ilmu yang mempelajari tentang komposisi batuan secara mikro,
sehingga ilmu ini terasa lebih detail daripada petrologi. Petrografi akan menjawab
berbagai pertanyaan yang muncul saat kita belajar mengenai batuan dengan petrologi.
Petrografi mengidentifikasi suatu batuan dengan bantuan mikroskop polarisator. Kita
dapat mengamati komposisi batuan dengan lebih jelas dan menghilangkan segala keraguraguan, karena keterbatasan penglihatan saat kita mengidentifikasi batuan dengan
petrologi. Belajar mengenai petrografi memang butuh perhatian ekstra karena jika kita
melihat suatu mineral di bawah mikroskop polarisator, saat kita memutar sedikit saja meja
objek maka ciri-ciri suatu mineral akan berubah. Selain itu, tubuh mineral dengan jenis
yang sama dengan butir yang berbeda dalam pengamatan, dapat membuat ciri-ciri
mineral tersebut akan berbeda. Analisis petrografi rinci menggunakan mikroskop
polarisasi untuk mengidentifikasi karakteristik batuan, baik dari aspek mineralogi, tekstur
pengendapan, serta perkembangan proses-proses diagenesa yang telah berlangsung.
Ketiga aspek tersebut tahap selanjutnya dipakai sebagai acuan untuk mengevaluasi sejauh
mana pengaruhnya terhadap perkembangan kualitas batuan reservoar yang terdapat di
daerah tersebut.

4| PETROGRAFI | 410013115

BAB 11
PEMBAHASAN
II.I. PETROGRAFI
Jadi mineralogi optis atau petrografi adalah suatu metode yang sangat mendasar yang
berfungsi untuk mendukung analisis data geologi. Untuk dapat melakukan pengamatan secara
optis atau petrografi diperlukan alat yang disebut mikroskop polarisasi. Hal itu berhubungan
dengan teknik pembacaan data yang dilakukan melalui lensa yang mempolarisasi obyek
pengamatan. Hasil polarisasi obyek tersebut selanjutnya dikirim melalui lensa obyektif dan
lensa okuler ke mata (pengamat). Analisis sayatan tipis batuan dilakukan karena sifat-sifat
fisik, seperti tekstur, komposisi dan perilaku mineral-mineral penyusun batuan tersebut tidak
dapat dideskripsi secara megaskopis di lapangan. Contoh batuan-batuan tersebut adalah:
1.
2.

Batuan beku yang bertekstur afanitik atau batuan asal gunungapi


Batuan sedimen klastika berukuran halus, seperti batugamping, batupasir,
napal, lanau, fragmen batuan dan lain-lain
3.
Batuan metamorf: sekis, filit, gneis dan lain-lain
Mikroskop yang dipergunakan untuk pengamatan sayatan tipis dari batuan, pada
prinsipnya sama dengan mikroskop yang biasa dipergunakan dalam pengamatan biologi.
Keutamaan dari mikroskop ini adalah cahaya (sinar) yang dipergunakan harus sinar
terpolarisasi. Karena dengan sinar itu beberapa sifat dari kristal akan nampak jelas sekali.
Salah satu faktor yang paling penting adalah warna dari setiap mineral, karena setiap mineral
mempunyai warna yang khusus. Untuk mencapai daya guna yang maksimal dari mikroskop
polarisasi maka perlu difahami benar bagian-bagiannya serta fungsinya di dalam penelitian.
Setiap bagian adalah sangat peka dan karenanya haruslah dijaga baik-baik. Kalau mikroskop
tidak dipergunakan sebaiknya ditutup dengan kerudung plastik. Bagian-bagian optik haruslah
selalu dilindungi dari debu, minyak dan kotoran lainnya. Perlu kiranya diingat bahwa buttr
debu yang betapapun kecilnya akan dapat dibesarkan berlipat Banda sehingga akan
mengganggu jalannya pengamatan.

5| PETROGRAFI | 410013115

6| PETROGRAFI | 410013115

Gambar mikroskop polarisasi

II.2. PETROGRAFI BATUAN METAMORF


Pengertian Batuan Metamorf
Batuan metamorf adalah batuan yang berasal dari batuan induk (batuan beku,
sedimen, maupun batuan metamorf) yang telah mengalami perubahan minerologi, tekstur dan
struktur akibat pengaruh temperatur dan tekanan yang tinggi.
Kata metamorf berasal dari Yunani, META = perubahan, MORPH = bentuk,
jadi metamorf adalah perubahan bentuk. Dalam ilmu geologi, metamorf khusus menjelaskan
perubahan kumpulan dan tekstur mineral dimana hasilnya berasal dari inti batuan berupa
tekanan dan perbedaan temperature dari bentuk batuan dasar. Diagenesis juga menjelaskan
perubahan bentuk dari batuan sediment. Didalam geologi proses diagenesa terbentuk pada
temperature kurang lebih 2000 C, dan tekanan kurang dari 300Mpa standard Mpa berupa
mega pascal dengan eqivalen tekanan berkisar 3000 atm. Metamorfisme terbentuk pada
temperature dan tekanan minimal lebih dari 200 0 C dan lebih dari 300 Mpa. Batuan dapat
juga terbentuk pada temperature dan tekanan yang tinggi, seperti halnya batuan yang berada
dibawah pada suatu kedalaman di dalam bumi. Burial biasanya berada pada suatu tempat
seperti hasil dari proses tektonik, misalnya tumbukan benua ( Subduksi ). Batas tertinggi dari
metamorfisme terjadi pada tekanan dan temperature yang menyebabkan Partial melting.
Petrogenesa atau Metamorfisme terbentuk pada temperature dan tekanan minimal lebih dari
2000 C dan lebih dari 300 Mpa.Metamorfisme adalah proses perubahan struktur dan
mineralogy batuan yang berlangsung pada fase padatan, sebagai tanggapan atas kondisi kimia
dan fisika yang berbeda dari kondisi batuan tesebut sebelumnya. Metamorfosa tidak temasuk
pada proses pelapukan dan diagenesa. Wilayah proses berada antara suasana akhir proses
diagenesa dan permulaan proses peleburan batuan menjadi tubuh magma.

Gambar penampang yang memperlihatkan lokasi batuan metamorf (Gillen, 1982).


7| PETROGRAFI | 410013115

Gambar Klasifikasi Batuan Metamorf berdasarkan tekanan dan suhu (ODunn


dan Sill,1986).
Metamorfisme
Metamorfisme adalah proses perubahan struktur dan mineralogy batuan yang
berlangsung pada fase padatan, sebagai tanggapan atas kondisi kimia dan fisika yang berbeda
dari kondisi batuan tesebut sebelumnya. Metamorfosa tidak temasuk pada proses pelapukan
dan diagenesa. Wilayah proses berada antara suasana akhir proses diagenesa dan permulaan
proses peleburan batuan menjadi tubuh magma.
Berdasarkan penyebabnya batuan metamorf dibagi menjadi empat yaitu
(1) Metamorfisme kontak/ termal, pengaruh T dominan
Terjadi pada batuan terpanasi leh intrusi magma yang besar. Pancaran panas tersebut
akan semakin menurun bila semakin jauh dari tubuh intrusinya.
(2) Metamorfisme dinamo/ kataklastik/dislokasi/kinematik, pengaruh P dominan,
Terbatas pada sekitar sesar, dengan penghancuran mekanik dan tekanan shear
menyebabkan perubahan fabric batuan. Batuan hasil kataklastik seperti breksi sesar,
milonit, filonit, dinamai berkaitan dengan ukuran butirnya.
(3) Metamorfisme regional, terpengaruh P & T, serta daerah luas. Sering dikaitkan
dengan jalur orogenesa, berlangsung berkaitan dengan gerak gerak penekanan. Hal ini
dibuktikan dengan struktur siskositas.
(4) Metamorfisme Regional Beban, Metamorfisme ini tidak berkaitan dengan orogenesa
atau intrusi magma. Suatu sediment pada cekungan yang dalam akan terbebani material
8| PETROGRAFI | 410013115

diatasnya. Suhunya hingga pada kedalaman yang besar yang berkisar antara 400 0C
4500C.

Gambar Diagram skematik yang memperlihatkan hubungan antara T & P untuk jenis-jenis
metamorfosa yang berbeda (Winkler, 1967).
Tekstur Secara Petrografi
Secara umum kandungan mineral didalam batuan metamorf akan mencerminkan
tekstur, contoh melimpahnya mika akan memberikan tekstur skistose pada batuannya.
Dengan demikian tekstur dan minerologi memegang peranan penting di dalam penamaan
batuan metamorf. Dengan munculnya konsep fasies, penamaan batuan kadang kadang
rancu dengan pengertian fasies. Mineral dalam batuan metamorf disebut mineral
metamorfisme yang terjadi karena kristalnya tumbuh dalam suasana padat dan batuan
mengkristal dalam lingkungan cair. Tekstur yang berkembang selama proses metamorfisme
secara tipikal penamaanya
mengikuti kata-kata yang mempunyai akhiran -blastik.
Contohnya, batuan metamorf yang berkomposisi kristal-kristal berukuran seragam disebut
dengan granoblastik. Secara umum satu atau lebih mineral yang hadir berbeda lebih besar
dari rata-rata; kristal yang lebih besar tersebut dinamakan porphiroblast.
Atau juga menunjukkan batuan asalnya misal awalan meta untuk memberikan
nama suatu batuan metamorfisem apabila masih dapat dikenali sifat dari batuan asalnya
contoh : metasedimen, metaklastik, metagraywacke, metavolkanik,dan lain- lain.Jika batuan
masih terlihat tekstur sisa maka tekstur diakhiri akhiran Blasto misal blasto porfiritik, dan
memakai akhiranblastik apabila ataun asal maupan sisa bataun sudah tidak kelihatan lagi
karena telah mengalami proses rekristalisasi contoh Granolobastik dan lain lain.
Bentuk

9| PETROGRAFI | 410013115

Idioblastik, merupakan suatu Kristal asal metamorfisme yang dibatasi oleh muka
Kristal itu sendiri
Xenoblastik, merupakan suatu Kristal asal metamorfisme yang dibatasi bukan oleh
muka kristalnya sendiri, ini ekivalen dan anhedral.
Orientasi
Orientasi yang tidak kuat
Batuan equigranuler yaitu batuan dengan butiran butiran mineral yang hampir
sama ukurannya.
Tekstur mosaik : kristalnya eqiudimensional, pada umumnya berbentuk polygonal dengan
batas batas Kristal lurus atau melengkung.
Tekstur suture : kristalnya equidimensional atau lentikuler, mempunyai batas batas tak
teratur, banyak diantaranya saling menembus terhadap butir butir disampingnya. Jika
batuan xenoblastik sangat interlocking disebut suture.
Tekstur mylenitik : suatu penghancuran mekanik, berbutir amat halus tanpa rekristalisasi
mineral mineral primer dan beberapa batuannya memperlihatkan kenampakan berarah
sebagai lapisan lapisan tipis material terhancurkan dapat terlitifikasi oleh proses sementasi
larutan hidrotermal.
Tekstur hornfelsik : suatu jenis yang berkembang dalam batuan sedimen pelitik oleh
metamorfisme termal. Shale dan batuan karbonat berubah secara luas tetapi batupasir
memperlihatkan sedikit menjadi kuarsit. Perwujudan nyata berupa pembentukan mika dan
klorit yang terlihat sebagai bintik bintik.
Tekstur kristaloblastik : suatu tekstur kristalin yang terbentuk oleh kristalisasi
metamorfisme
Xenonoblstik, bila kristalnya subhedral dan unhedral.
Idioblastik, bila kristalnya euhedral.
Lepidoblastik, bila orientasi mineral - mineral pipih atu tabular
menunjukkan hampir paralel atau paralel.
Nematoblastik, bila susunan paralel atu hampir parallel merupakan mineral
mineral prismatik atau fibrous.
Tekstur porfiriblastik : merupakan tekstur kristoblastik yang tersusun oleh 2 mineral atau
lebih. Berbeda ukuran butirnya dan ekivalen dengan tekstur porfiritik dalam batuan beku,
kristal kristal yang besar yang besar (tunggal) disebut porfiroblast.

Gambar : Tekstur Porfiroblast

10 | P E T R O G R A F I | 4 1 0 0 1 3 1 1 5

Tekstur poikiloblastik : istilah lain dari tekstur saringan sieve yang dicirakan oleh
porfiroblast porfiroblast yang mengandung sejumlah butiran butiran yang lebih kecil
(inklusi).

Gambar Tekstur poikiloblastik


Tekstur Porphyroklas: tekstur batuan metamorf yang dicirikan oleh adanya kristal besar
(umumnya K-feldspar) dalam massa dasar mineral yang lebih halus. Bedanya dengan
porphyroblastik adalah, porphyroklastik tidak tumbuh secara in-situ, tetapi sebagai fragment
sebelum mineral-mineral tersebut hancur / terubah saat prosesn metamorfisme, contoh:
blastomylonit dalam gniss granitik.

Gambar VI.18. Tekstur porfiroklastik


Tekstur Retrogradasi eklogit: tekstur batuan metamorf yang dibentuk oleh adanya mineral
amfibol (biasanya horenblende) yang berreaksi dengan mineral lain. Dalam
Gambar VI.19 adalah retrogradasi klinopirosen amfibole pada sisi kanan atas.

Gambar VI.19. Tekstur retrogradasi eklogit


Tekstur Schistose: foliasi sangat kuat, atau terdapat penjajaran butiran, terutama mika, dalam
batuan metamorf berbutir kasar.

11 | P E T R O G R A F I | 4 1 0 0 1 3 1 1 5

Gambar VI.20. Tekstur schistose


Tekstur Phyllitik: foliasi kuat dalam batuan metamorf berbutir halus.

Gambar VI.21. Tekstur phylitik


Tekstur Granoblastik: massive, tak-terfoliasi, tekstur equigranular dalam batuan metamorf.

Gambar VI.22. Tekstur granoblastik pada batuan metamorf


Tekstur dedussate : merupakan tekstur kristoblastik pada batuan polimineral yang tidak
menunjukkan butiran butir terorientasi. Biotit melimpah dalam hornfels dan umumnya
tersusun sembarangan.
Tekstur kataklastik atau autoklastik : dihasilkan oleh penghancuran mekanik tanpa disertai
proses rekristalisasi yang esensial. Batuan dapat atau tanpa memperlihatkan kenampakan
berarah.
Tekstur mortal : suatu tekstur yang terdiri dari fregmen mineral lebih besar di dalam masa
dasar material terhancurkan dan tersusun oleh Kristal Kristal yang sama. Setiap individu
mineral mineral sering memperlihatkan pembengkokan mekanik, bagian tepi terhancur.
Struktur mortar berkembang sebagai tekstur kataklastik dalam batuan quartztose atau quartz
feldspar.

12 | P E T R O G R A F I | 4 1 0 0 1 3 1 1 5

Gambar Tekstur batuan metamorf (Compton, 1985).


A. Tekstur Granoblastik, sebagian menunjukkan tekstur mosaik; B. Tekstur Granoblatik
berbutir iregular, dengan poikiloblast di kiri atas; C. Tekstur Skistose dengan porpiroblast
euhedral; D. Skistosity dengan domain granoblastik lentikuler; E. Tekstur Semiskistose
dengan meta batupasir di dalam matrik mika halus; F. Tekstur Semiskistose dengan klorit
dan aktinolit di dalam masa dasar blastoporfiritik metabasal; G. Granit milonit di dalam
proto milonit; H. Ortomilonit di dalam ultramilonit; I. Tekstur Granoblastik di dalam
blastomilonit.
Struktur
Struktur dalam batuan metamorf adalah kenampakan pada batuan yang tediri dari
bentuk, ukuran dan orientasi kesatuan banyak butir mineral. Secara umum dapat dibedakan
menjadi : struktur foliasi dan struktur non foliasi.
Struktur Foliasi

Struktur Skistose: struktur yang memperlihatkan penjajaran mineral pipih (biotit,


muskovit, felspar) lebih banyak dibanding mineral butiran.
Struktur Gneisik: struktur yang memperlihatkan penjajaran mineral granular, jumlah
mineral granular relatif lebih banyak dibanding mineral pipih.
13 | P E T R O G R A F I | 4 1 0 0 1 3 1 1 5

Struktur Slatycleavage: sama dengan struktur skistose, kesan kesejajaran


mineraloginya sangat halus (dalam mineral lempung).
Struktur Phylitic: sama dengan struktur slatycleavage, hanya mineral dan
kesejajarannya sudah mulai agak kasar.

Gambar : Diagram yang mempersentasikan variasi unsur-unsur kemas untuk mendefinisikan


foliasi (Hoobs et al.1976)

Gambar : Sayatan tipis batuan metamorf yang memperlihatkan struktur foliasi (penjajaran
mineral pipih) pada kuarsit
Struktur Non Foliasi

Struktur Hornfelsik: struktur yang memperlihatkan butiran-butiran mineral relatif


seragam.
Struktur Kataklastik: struktur yang memperlihatkan adanya penghancuran terhadap
batuan asal.
Struktur Milonitik: struktur yang memperlihatkan liniasi oleh adanya orientasi
mineral yang berbentuk lentikuler dan butiran mineralnya halus.
Struktur Pilonitik: struktur yang memperlihatkan liniasi dari belahan permukaan
yang berbentuk paralel dan butiran mineralnya lebih kasar dibanding struktur
milonitik, malah mendekati tipe struktur filit.
14 | P E T R O G R A F I | 4 1 0 0 1 3 1 1 5

Struktur Flaser: sama struktur kataklastik, namun struktur batuan asal berbentuk
lensa yang tertanam pada masa dasar milonit.
Struktur Augen: sama struktur flaser, hanya lensa-lensanya terdiri dari butir-butir
felspar dalam masa dasar yang lebih halus.
Struktur Granulose: sama dengan hornfelsik, hanya butirannya mempunyai ukuran
beragam.
Struktur Liniasi: struktur yang memperlihatkan adanya mineral yang berbentuk jarus
atau fibrous.

Gambar : Sayatan Tipis batuan metamorf yang memperlihatkan non foliasi pada
Gneiss.

15 | P E T R O G R A F I | 4 1 0 0 1 3 1 1 5

Gambar Berbagai struktur pada migmatit dengan leukosom (warna terang) (Compton,
1985).

e. Klasifikasi
Jenis batuan metamorf penamaannya hanya berdasarkan pada komposisi mineral,
seperti: Marmer disusun hampir semuanya dari kalsit atau dolomit; secara tipikal bertekstur
granoblastik. Kuarsit adalah batuan metamorfik bertekstur granobastik dengan komposisi
utama adalah kuarsa, dibentuk oleh rekristalisasi dari batupasir atau chert/rijang.
Secara umum jenis batuan metamorfik yang lain adalah sebagai berikut:

Amphibolit: Batuan yang berbutir sedang sampai kasar komposisi utamanya adalah
ampibol (biasanya hornblende) dan plagioklas.
Eclogit: Batuan yang berbutir sedang komposisi utama adalah piroksin klino
ompasit tanpa plagioklas felspar (sodium dan diopsit kaya alumina) dan garnet kaya
pyrop. Eclogit mempunyai komposisi kimia seperti basal, tetapi mengandung fase
yang lebih berat. Beberapa eclogit berasal dari batuan beku.

16 | P E T R O G R A F I | 4 1 0 0 1 3 1 1 5

Granulit: Batuan yang berbutir merata terdiri dari mineral (terutama kuarsa, felspar,
sedikit garnet dan piroksin) mempunyai tekstur granoblastik. Perkembangan struktur
gnessiknya lemah mungkin terdiri dari lensa-lensa datar kuarsa dan/atau felspar.
Hornfels: Berbutir halus, batuan metamorfisme thermal terdiri dari butiran-butiran
yang equidimensional dalam orientasi acak. Beberapa porphiroblast atau sisa fenokris
mungkin ada. Butiran-butiran kasar yang sama disebut granofels.
Milonit: Cerat berbutir halus atau kumpulan batuan yang dihasilkan oleh pembutiran
atau aliran dari batuan yang lebih kasar. Batuan mungkin menjadi protomilonit,
milonit, atau ultramilomit, tergantung atas jumlah dari fragmen yang tersisa.
Bilamana batuan mempunyai skistosity dengan kilap permukaan sutera, rekristralisasi
mika, batuannya disebut philonit.
Serpentinit: Batuan yang hampir seluruhnya terdiri dari mineral-mineral dari
kelompok serpentin. Mineral asesori meliputi klorit, talk, dan karbonat. Serpentinit
dihasilkan dari alterasi mineral silikat feromagnesium yang terlebih dahulu ada,
seperti olivin dan piroksen.
Skarn: Marmer yang tidak bersih/kotor yang mengandung kristal dari mineral kapursilikat seperti garnet, epidot, dan sebagainya. Skarn terjadi karena perubahan
komposisi batuan penutup (country rock) pada kontak batuan beku.

Tabel Klasifikasi Batuan Metamorf (ODunn dan Sill, 1986).

Gambar Seri Metamorfisme Batuan Metamorf (ODunn dan Sill, 1986).

17 | P E T R O G R A F I | 4 1 0 0 1 3 1 1 5

18 | P E T R O G R A F I | 4 1 0 0 1 3 1 1 5

II.3. PETROGRAFI BATUAN KARBONAT


Batuan karbonat adalah batuan dengan kandungan material karbonat lebih dari 50 %
yang tersusun atas partikel karbonat klastik yang tersemenkan atau karbonat kristalin hasil
presipitasi langsung (Rejers & Hsu, 1986).Bates & Jackson (1987) mendefinisikan batuan
karbonat sebagai batuan yang komponen utamanya adalah mineral karbonat dengan berat
keseluruhan lebih dari 50 %. Sedangkan batugamping menurut definisi Reijers &Hsu (1986)
adalah batuan yang mengandung kalsium karbonat hingga 95 %. Sehingga tidak semua
batuan karbonat adalah batugamping.
secara umum batuan karbonat ini mengandung fase primer, sekunder dan butiran
reworked. Fase primer ini merupakan mineral presipitasi yang dihasilkan oleh organisme,
sementara mineral karbonat sekunder dihasilkan oleh presipitasi alami non organik
yang terjadi saat proses diagenesis berlangsung. Material reworked ini sama dengan
mekanisme yang terjadi pada batuan terigen klastik yaitu hasil abrasi pelapukan batuan
sebelumnya.
lime mud merupakan istilah untuk material karbonat dengan butiran yang sangat halus
lebih kecil dari ukuran pasir (kurang lebih kayak matrik or lempung versi karbonatlah) dibagi
dua jenis yaitu micrite yaitu butiran karbonat berukuran <0.004 mm dan microsparite
berukuran atnara 0.004 dan 0.06 mm (Raymond, 2002). Komponen - komponen lainnya ada
juga semen karbonat yang genetiknya lebih kearah diagenesis (sementasi) karbonat dan
fragmen yang lebih kasar dalam batuan karbonat dikenal sebagai allochem (memliki jenis
yang macam-macam. Secara umum dibagi dua , yaitu: yang berasal dari cangkang fosil atau
skeletal grain dan fragmen yang bukan dari tubuh fosil atau murni hasil presiptasi).
Tekstur Batuan Karbonat
Kalsit bisa hadir dalam tiga bentuk tekstural:
1. Butiran karbonat (carbonate grain) seperti ooid dan skeletal grain, yang berukuran silt
sampai yang kasar berupa agregat kristal kalsit,
2.
Mikrokistalin kalsit atau carbonate mudy ang secara tekstural analog dengan mud di batuan
sedimen silisiklastik namun lebih kecil lagi,
3.
Sparry calcite, yang mengandung kristal kalsit yang lebih kasar hanya terlihat dibawah
mikroskop.

19 | P E T R O G R A F I | 4 1 0 0 1 3 1 1 5

KOMPONEN DALAM BATUAN KARBONAT

Gambar 1 Diagram yang memperlihatkan hubungan antara zona-zona mineral karbonat


terhadap lingkungan pengendapan pada laut modern.
Komponen tersebut tersusun oleh mineral-mineral karbonat yang berbeda. Komponen
penyusun batuan karbonat secara garis besar dibagi menjadi 3 (tiga) bagian yaitu:
a. Butiran
Butiran atau grain adalah semua komponen dalam batuan karonat yang berkomposisi
kalsium karbonat (CaCO3) baik yang berasal dari proses biologi seperti terumbu maupun dari
proses biokimia. Butiran ini merupakan komponen yang menunjukkan kesan berbutir dengan
batas-batas antar butir. Komponen tersebut dapat berupa hasil rombakan batuan karbonat itu
sendiri atau batuan karbonat yang telah terbentuk sebelumnya (luar lingkungan
pengendapan), fragmen-fragmen organisme ataupun hasil aktifitas organisme dan presipitasi
mineral-mineral karbonat atau hasil diagenesis.
Jika dianalogikan terhadap batuan silisiklastik, butiran merupakan fragmen yang berada
dalam massa matriks dan semen. Butiran dibagi menjadi dua kelompok yaitu yang berasal
dari organisme atau skeletal dan yang berasal dari non-organisme atau non-skeletal.
1. Skeletal Grain (butiran cangkang)
butiran ini berasal dari fragmen tubuh (cangkang) fosil organisme. apapun itu bisa foram
besar, foram kecil (planktonik dan bentonik) dan cangkang invertebrata lainnya. menurut
beberapa penulis (Nichols, Raymond, Boggs, dan Tucker) cangkang pada batuan karbonat
kebanyakan disusun oleh aragonit (polymorf dari kalsit) yang mana menurut dunham dapat
saja terubah menjadi kalsit selama proses diagensis terjadi.

20 | P E T R O G R A F I | 4 1 0 0 1 3 1 1 5

Tabel 1 Kelompok utama pembentuk reef sepanjang sejarah geologi (sejak Archaean
Cenozoic) (Heckel, 1974).

Gambar 2 Jenis-jenis skeletal yang umum dijumpai pada batuan karbonat. Sketsa organisme
yang hidup sekarang berupa algae (A), koral (B), dan Sponge (C).
21 | P E T R O G R A F I | 4 1 0 0 1 3 1 1 5

Gambar 3 Kenampakan singkapan dari koral yang dijumpai pada lower teras batugamping
Selayar di daerah Bira, Kab. Bulukumba (A). Foto sayatan tipis yang memperlihatkan fosil
foraminifera besar (B) yang juga tersebar luas dalam batuan karbonat.

Gambar 4 Komponen batuan karbonat berupa fragmen-fragmen algae merah (Corallinaceae)


(A), Foram besar (B) dan koral (C). A dan B dalam sayatan tipis, C dalam bentuk poles.
Lokasi batugamping Selayar, Bira.

Gambar 5 Komponen batuan karbonat berupa koral soliter dari skerattinian dalam hand
specimen (A), sayatan tipi yang memperlihatkan fragmen Halimeda, tanda panah (B). Lokasi
batugamping Selayar, Bira.

2. Non-Skeletal
Komponen Non-skeletal adalah material penyusun batuan karbonat yang berasal dari
non organisme. Material tersebut terakumulasi pada suatu cekungan atau lingkungan
pengendapan dengan proses yang berbeda-beda. Komponen-komponen tersebut adalah
lithoklas (intraklas dan ekstraklas), ooids, peloids dan coated grain. Sedangkan yang berasal
dari organisme dengan proses tertentu misalnya onkoliths, rhodoliths.

22 | P E T R O G R A F I | 4 1 0 0 1 3 1 1 5

Lithoklas.
Lithoklas dalam beberapa literatur dikenal sebagai lime-clast atau intraclast. Dalam
buku ini peristilahan lithoklas diambil dari Tucker & Wright (1990) yang mencakup intraklas
& ekstraklas (Gambar 2.11). Intraklas adalah komponen karbonat yang merupakan hasil
rombakan batuan karbonat dalam lingkungan pengendapan yang sama, sedangkan ekstraklas
adalah komponen karbonat hasil rombakan dari batuan karbonat yang telah ada di luar
lingkungan pengendapannya.
Ooid (oolit)
Ooid (atau oolite) adalah butiran yang berbentuk bulat, lonjong dan memperlihatkan
struktur dalam baik secara konsentris maupun tangensial dengan suatu inti (nuclei) yang
komposisinya bervariasi. Cortex tersebut adalah halus dan terlaminasi secara rata pada bagian
luarnya, tetapi laminae individu mungkin lebih tipis pada titik-titik sudut tajam intinya.
Bentuk nucleus tersebut tipikal spheroid atau elipsoid dengan derajat sphericity meningkat
kearah luar (Gambar 6).

Gambar 6 Komponen dalam batuan karbonat berupa lithoklas jenisnya belum diketahui
dengan pasti. Contoh setangan (hand speciment) berupa slab dari batugamping Selayar (A),
sayatan tipis yang menunjukkan beberapa ukuran dan batas butir yang tegas (Kendall, 2005)
(B).

Gambar 7 Fotograf dari ooid (bulat putih bersih) dan mineral terrigenous (kuarsa) warna
bening (A), ooid dalam bentuk sayatan tipis yang memperlihatkan struktur dalam dan
beberapa ooid intinya telah melarut (B). (Sumber: An Overview of Carbonates, Kendall,
2005).
Peloid (Pellet)
Peloid merupakan suatu komponen karbonat berukuran pasir, dengan ukuran rata-rata
100-500m yang tersusun oleh kristal-kristal karbonat. Peloid umumnya berbentuk rounded
23 | P E T R O G R A F I | 4 1 0 0 1 3 1 1 5

subrounded, spherical, ellipsoid hingga tak beraturan dan tidak mempunyai struktur dalam.
Istilah tersebut murni deskriptif yang dikemukakan oleh McKee & Gutschick (1969). Istilah
Pellet juga umum digunakan tetapi mempunyai konotasi untuk peloid yang berasal dari
aktifitas organisme atau faecal pellet (Gambar 9).
Peloid merupakan komponen penting didalam batuan karbonat dangkal. Seperti pada Great
Bahama bank bagian barat dari P. Andros, dimana pelet menutupi kurang lebih 10.000 km2.
Peloid menyusun lebih dari 30% total sedimen dan 75% pasir. Pada daerah-daerah berenergi
rendah seperti sedimen-sedimen lagun di daerah Balize, peloid juga umum dijumpai pada
batugamping berenergi rendah di daerah laut dangkal, atau pada lingkungan laut yang
tertutup.

Gambar 9 (A) kenampakan butiran peloid modern, (B) kenampakan peloid dalam bentuk
sayatan tipis yang tidak memperlihatkan struktur dalam.
Coated grains
Sejumlah carbonated-coated grains kadang tidak konsisten dalam penggunaan
terminologinya sehingga kadang memunculkan masalah dalam interpretasinya. Memang
hampir semua ahli petrografi batuan karbonat nampaknya mempunyai defenisi sendirisendiri. Coated grains terjadi secara poligenetik dengan perbedaan proses yang membentuk
tipe butiran sama dan banyak dari proses ini belum dimengerti. Selanjutnya coated grain
sama dapat terjadi pada lingkungan yang berbeda sama sekali yang menjadikan
penggunaannya dalam interpretasi lingkungan pengendapan sangat susah.
Beberapa ahli masih memberikan istilah yang berbeda pada obyek yang sama. Istilah-istilah
tersebut misalnya macro-oncoid, pisovadoid, cyanoid, bryoid, turberoid, putroid dan
walnutoid (Peryt, 1983a). Peristilahan ini sudah terlalu jauh dan barangkali istilah yang
membingungkan tersebut tidak akan dibahas dalam buku ini. Penjelasan yang paling baru
mengenai istilah coated grain yakni yang dilakukan oleh Peryt (1983b) yang mengajukan
klasifikasi lain yang menggunakan sistem genetik dan generik untuk pengklasifikasian
butiran ini.

Gambar 10 Kenampakan sayatan tipis oncoid dimana intinya merupakan ooid yang
mengalami perkembangan membentuk oncoid. (Sumber: An Overview of Carbonates,
Kendall, 2005).
24 | P E T R O G R A F I | 4 1 0 0 1 3 1 1 5

b. MATRIKS (MIKRIT)
Matriks adalah komponen batuan karbonat yang secara teoritis berukuran halus (<4
mm). Matriks atau mikrit (Folk, 1962) atau mud (Dunham, 1962) adalah komponen batuan
karbonat yang terbentuk bersama butiran dan bertindak sebagai matriks. Komponen ini
sangat umum dijumpai dalam batuan karbonat dan diinterpretasi terbentuk pada lingkungan
berenergi rendah. Matriks harus dibedakan dengan mikrit yang terbentuk melalui proses
diagenesis (mikritisasi). Mikrit yang terbentuk dengan proses tersebut bisa berasal dari
komponen lain seperti butiran atau semen. Jika dianalogikan dengan batuan sedimen
silisiklastik, matriks disamakan dengan lempung yang terendapkan pada lingkungan
berenergi rendah. Konsekwensinya adalah warnanya menjadi relatif lebih gelap baik dalam
bentuk outcrop (Gambar 2.17B) maupun dalam bentuk sayatan tipis .

Gambar 11 Endapan mikrit atau matrik yang terperangkap pada sea grass di daerah
dangkalan (A). Outcrop yang menunjukkan mikrit (warna abu-abu) dengan tekstur
wackestone (B). Internal sedimen yang terdiri atas mikrit (panah) (C). (Sumber: An Overview
of Carbonates, Kendall, 2005).

3 SEMEN
Semen merupakan komponen batuan karbonat yang mengisi pori-pori dan merupakan
hasil diagenesis atau hasil presipitasi dalam pori batuan dari batuan yang telah ada. Semen
sering disamakan dengan sparit hasil neomorphisme, padahal sparit hasil neomorphisme
adalah perubahan (rekristalisasi) dari komponen karbonat yang telah ada. Beberapa jenis
semen yang dikenal dalam batuan karbonat moderen adalah fibrous, botroidal, isophaceous,
mesh of needles dll (Gambar 12). Jenis semen tersebut tergantung pada lingkungan
pembentuk semen yang dikenal sebagai lingkungan diagenesis. Penjelasan lebih lengkap
tentang semen dibahas pada bab diagenesis batuan karbonat. Kenampakan lapangan dari
semen adalah bening seprti kaca, sedangkan dibawah mikroskop memperlihatkan warna
tranparan. Semen dapat terbentuk pada ruang antar komponen dan dapat juga terbentuk pada
ruang dalam komponen atau ruang hasil pelarutan (Gambar 12).

25 | P E T R O G R A F I | 4 1 0 0 1 3 1 1 5

Gambar 12 Kenampakan jenis-jenis semen dan jenis mineral pembentuk semen pada batuan
karbonat. Jenis semen yang umum dijumpai pada laut dangkal menurut James & Choquette,
1990.

Beberapa contoh semen dalam batuan karbonat yang banyak dijumpai pada karbonat modern
khususnya pada daerah terumbu adalah fibrous dan botryoidal. Jenis semen tersebut dapat
dijumpai pada batugamping Selayar yang memperlihatkan beberapa jenis (Gambar 12) yaitu
fibrous, granular dan bladed.

Gambar 13 Semen jenis fibrous dan granular yang dijumpai pada batugamping Selayar.
Radial fibrous cement yang menyemen fragmen Halimeda (A) dan stratigrafi semen dengan
tiga fase pekembangan (B).

Selain tinjauan morfologi semen, semen juga dapat dianalisis melalui bentuk kristalnya
seperti granular (equant), bladed, dan menjarum (fibers). Bentuk kristal semen tersebut
dibedakan dengan memperhatikan perbandingan panjang sumbu-sumbu kristalnya. Bentuk
equant memiliki sumbu kristal yang sama panjang antara sumbu a, b, dan c atau 2 : 1.
Sedangkan bentuk kristal blades adalah semen dengan panjang sumbu kristal yang tidak sama
dimana perbandingannya antara 1 : 2 sampai 1:6 antara sumbu a, b dengan sumbu c. Bentuk
kristal menjarum (fibers) jika panjang sumbu c-nya lebih besar dari 1:6.

26 | P E T R O G R A F I | 4 1 0 0 1 3 1 1 5

Gambar 14 Bentuk kristal semen karbonat yang terdiri atas granular (equants), melembar
(blades) dan menjarum (fibers). Sumber Tucker & Wright (1990).
Selain dari bentuk kristalnya jenis semen juga dapat dibedakan berdasarkan morfologi
semennya seperti blade rim cement, granular cement, meniscus cement dan microstalactitic
cement gambar dibawah ini.

Gambar 15 Morfologi semen seperti bladed cement (A), meniscus cements (B), granular
cements (C) dan microstalactitic cements (D). Bar adalah 1 mm.

27 | P E T R O G R A F I | 4 1 0 0 1 3 1 1 5

BAB III
PENUTUP
III.I. Kesimpulan
1.

Petrografi adalah Ilmu yang mempelajari tentang komposisi batuan secara


mikro, sehingga ilmu ini terasa lebih detail daripada petrologi. Petrografi akan
menjawab berbagai pertanyaan yang muncul saat kita belajar mengenai batuan dengan
petrologi. Petrografi mengidentifikasi suatu batuan dengan bantuan mikroskop
polarisator. petrografi adalah suatu metode yang sangat mendasar yang berfungsi
untuk mendukung analisis data geologi.
2. Batuan metamorf adalah batuan yang berasal dari batuan induk (batuan beku,
sedimen, maupun batuan metamorf) yang telah mengalami perubahan minerologi,
tekstur dan struktur akibat pengaruh temperatur dan tekanan yang tinggi. Berdasarkan
penyebabnya batuan metamorf dibagi menjadi empat yaitu Metamorfisme kontak/
termal; pengaruh T dominan; Metamorfisme Regional Beban; Metamorfisme
regional, terpengaruh P & T, serta daerah lua;. Metamorfisme dinamo/
kataklastik/dislokasi/kinematik, pengaruh P dominan. Tekstur batuan metamorf ada
beberapa macam yaitu A. Tekstur Granoblastik, sebagian menunjukkan tekstur
mosaik; B. Tekstur Granoblatik berbutir iregular, dengan poikiloblast di kiri atas; C.
Tekstur Skistose dengan porpiroblast euhedral; D. Skistosity dengan domain
granoblastik lentikuler; E. Tekstur Semiskistose dengan meta batupasir di dalam
matrik mika halus; F. Tekstur Semiskistose dengan klorit dan aktinolit di dalam masa
dasar blastoporfiritik metabasal; G. Granit milonit di dalam proto milonit; H.
Ortomilonit di dalam ultramilonit; I. Tekstur Granoblastik di dalam blastomilonit.
sedangkan srtukturnya Secara umum dapat dibedakan menjadi : struktur foliasi dan
struktur non foliasi.
3. Batuan karbonat adalah batuan dengan kandungan material karbonat lebih dari 50 %
yang tersusun atas partikel karbonat klastik yang tersemenkan atau karbonat kristalin
hasil presipitasi langsung (Rejers & Hsu, 1986).Bates & Jackson (1987)
mendefinisikan batuan karbonat sebagai batuan yang komponen utamanya adalah
mineral karbonat dengan berat keseluruhan lebih dari 50 %. Sedangkan batugamping
menurut definisi Reijers &Hsu (1986) adalah batuan yang mengandung kalsium
karbonat hingga 95 %. Sehingga tidak semua batuan karbonat adalah batugamping.

28 | P E T R O G R A F I | 4 1 0 0 1 3 1 1 5

DAFTAR PUSTAKA
http://mandeleyev-rapuan.blogspot.com/2012/10/batuan-karbonat.html
http://id.scribd.com/doc/199636846/Laporan-Resmi-PetrografiPakwo#scribd
http://id.scribd.com/doc/22907987/petrografi#scribd

29 | P E T R O G R A F I | 4 1 0 0 1 3 1 1 5