Anda di halaman 1dari 13

4.

PENGOPERASIAN DAN
PEMELIHARAAN TRAFO TENAGA

TUJUAN
PELAJARAN

Setelah mengikuti pelajaran ini peserta


mampu menjelaskan dengan baik dan
benar Pengoperasian dan Pemeliharaan
Trafo Tenaga sesuai standar perusahaan.

DURASI

2 JP

PENYUSUN

Anton Suranto

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal

PENGOPERASIAN DAN PEMELIHARAAN


TRAFO TENAGA

1.

Pengoperasian Trafo Tenaga

Transformator tenaga dapat dioperasikan setelah ada pernyataan tertulis dari pihak
yang berwenang bahwa trafo tenaga tersebut dalam keadaan aman dan memenuhi
semua persyaratan yang sudah ditetapkan.
Pada prinsipnya pengoperasian trafo tenaga dilakukan melalui dua tahap yaitu tahap
memasukan PMS diikuti tahap memasukan PMT. Sedangkan untuk membebaskan
trafo tenaga dari tegangan dilakukan dengan mengeluarkan PMT diikuti PMS. Proses
memasukan atau mengeluarkan PMT / PMS dapat dilakukan dengan beberapa cara,
diantaranya secara supervisory (diremote oleh dispatcher), remote (melalui panel
control) dan local (manual diswitchyard).
Berikut ini adalah langkah-langkah manuver pembebasan dan pemberian tegangan
suatu trafo tenaga (perhatikan Gambar 1)

Gambar 1. Contoh Single Line Diagram Bay Trafo Tenaga

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal

Langkah-langkah manuver pembebasan tegangan bay trafo tenaga :


1. PMT sisi 20 kV Trafo di keluarkan
2. PMS rel 1 sisi 20 kV Trafo di keluarkan
3. PMT sisi 150 kV Trafo di keluarkan
4. PMS rel 2 sisi 150 kV Trafo di keluarkan
Langkah-langkah manuver pemberian tegangan bay trafo tenaga :
1. PMS rel 1 sisi 150 kV Trafo di masukan
2. PMT sisi 150 kv Trafo kV masukan
3. PMS rel 1 sisi 20 kV Trafo di masukan
4. PMT sisi 20 kV Trafo di masukan
Sedangkan langkah-langkah manuver pembebasan dan pemberian tegangan trafo
tenaga pada sistem 1,5 CB adalah sebagai berikut (lihat Gambar 2)

Gambar 2. Contoh SLD Trafo Tegangan pada Sistem 1,5 CB

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal

Langkah-langkah manuver pembebasan tegangan bay trafo tenaga :


1.
2.

PMT 150 kV Dikeluarkan


PMS REL 150 kV Dikeluarkan

3.
4.

PMT AB IBT 1 DIkeluarkan


PMT A IBT 1 Dikeluarkan

5.
6.
7.

PMS PENGAPIT A Dikeluarkan


PMS PENGAPIT AB Dikeluarkan
PMS IBT 1 Dikeluarkan

Langkah-langkah manuver pembebasan tegangan bay trafo tenaga :


1. PMS IBT 1 Dimasukan
2. PMS PENGAPIT AB Dimasukan
3. PMS PENGAPIT A Dimasukan
4. PMT A IBT 1 Dimasukan
5. PMT AB Dimasukan
6. PMS 150 kV Dimasukan
7. PMT 150 kV Dimasukan

2.

Pemeliharaan Trafo Tenaga

Pemeliharaan trafo tenaga bertujuan untuk mempertahankan kondisi atau menjaga


agar trafo tenaga selalu berfungsi dengan baik dan mencegah terjadinya gangguan
atau kerusakan.
Pemeliharaan trafo tenaga digolongkan menjadi dua kegiatan yaitu:
2.1

In Service Inspection

In Service inspection adalah kegiatan inspeksi yang dilakukan pada saat transformator
dalam kondisi bertegangan / operasi. Tujuan dilakukannya in service inspection adalah
untuk mendeteksi secara dini ketidaknormalan yang mungkin terjadi didalam trafo
tanpa melakukan pemadaman.
Subsistem trafo yang dilakukan in service inspection adalah sebagai berikut:

a.
b.
c.
d.

Electromagnetic circuit
Dielektrik
Struktur Mekanik
Bushing

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal

e. OLTC
f. Pendingin
Selain subsistem di atas terdapat bagian-bagian lain yang dapat dilakukan in service
inspection, antara lain:
a. NGR Neutral grounding Resistor
b. Fire Protection
c. Sistem monitoring (meter suhu dan on-line monitoring)
2.2

In Service Measurement

In Service Measurement adalah kegiatan pengukuran / pengujian yang dilakukan pada


saat transformator sedang dalam keadaan bertegangan / operasi (in service). Tujuan
dilakukannya in service measurement adalah untuk mengetahui kondisi trafo lebih
dalam tanpa melakukan pemadaman. Kegiatan In Service Measurement terdiri dari :
a. Thermovisi/ Thermal Image
Suhu yang tidak normal pada trafo dapat diartikan sebagai adanya
ketidaknormalan pada bagian atau lokasi tersebut. Metoda pemantauan suhu
trafo secara menyeluruh untuk melihat ada tidaknya ketidaknormalan pada
trafo dilakukan dengan menggunakan thermovisi/ thermal image camera.

Gambar 3. Salah satu contoh kamera thermovisi/thermal image camera

Lokasi-lokasi pada trafo yang dipantau dengan thermovisi / thermal image


camera adalah sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Maintank
Tangki OLTC
Radiator
Bushing
Klem-klem pada setiap bagian yang ada
Tangki konservator
NGR

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal

b. Dissolved Gas Analysis (DGA)


Trafo sebagai peralatan tegangan tinggi tidak lepas dari kemungkinan
mengalami kondisi abnormal, dimana pemicunya dapat berasal dari internal
maupun external trafo. Ketidaknormalan ini akan menimbulkan dampak
terhadap kinerja trafo. Secara umum, dampak/ akibat ini dapat berupa
overheat, corona dan arcing.
Salah satu metoda untuk mengetahui ada tidaknya ketidaknormalan pada trafo
adalah dengan mengetahui dampak dari ketidaknormalan trafo itu sendiri.
Untuk mengetahui dampak ketidaknormalan pada trafo digunakan metoda
DGA (Dissolved gas analysis).
c. Pengujian Kualitas Minyak Isolasi (Karakteristik)
Oksidasi dan kontaminan adalah hal yang dapat menurunkan kualitas minyak
yang berarti dapat menurunkan kemampuannya sebagai isolasi. Untuk
mengetahui adanya kontaminan atau proses oksidasi didalam minyak,
dilakukan pengujian oil quality test (karakteristik).
Pengujian oil quality test melingkupi beberapa pengujian yang metodanya
mengacu pada standar IEC 60422. Adapun jenis pengujiannya berupa:

Pengujian Kadar Air

Pengujian Tegangan Tembus

Pengujian Kadar Asam

Pengujian Tegangan Antarmuka

Pengujian Warna Minyak

Pengujian Sediment

Pengujian Titik Nyala Api

Tangen Delta Minyak

Metal in Oil
d. Pengujian Furan
Isolasi kertas merupakan bagian dari sistem isolasi trafo. Isolasi kertas
berfungsi sebagai media dielektrik, menyediakan kekuatan mekanik dan
spacing. Panas yang berlebih dan by-product dari oksidasi minyak dapat
menurunkan kualitas isolasi kertas. Proses penurunan kualitas isolasi kertas
merupakan proses depolimerisasi. Pada proses depolimerisasi, isolasi kertas
yang merupakan rantai hidrokarbon yang panjang akan terputus / terpotong
potong dan akhirnya akan menurunkan kekuatan tensile dari isolasi kertas itu
sendiri. Proses depolimerisasi akan selalu diiringi oleh terbentuknya gugus
furan. Nilai furan yang terbentuk akan sebanding dengan penurunan tingkat DP
(degree of polimerization).
e. Pengujian Corrosive Sulfur

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal

Corrosive sulfur adalah senyawa sulfur yang bersifat tidak stabil terhadap suhu
yang berada di minyak isolasi yang dapat menyebabkan korosi pada
komponen tertentu dari trafo seperti tembaga.Korosi pada tembaga akan
membentuk lapisan konduktif (copper sulfide) di permukaan tembaga. Hal ini
akan mengakibatkan partial discharge.

Gambar 4. Tingkatan corrosive sulfur

Metoda pengujian corrosive sulfur mengacu kepada standar ASTM D 1275 /


1275 b. Tingkatan korosif suatu minyak ditunjukan dengan perubahan warna
f.

pada media uji berupa tembaga (Cu).


Pengujian Partial Discharge
Partial discharge (peluahan parsial) adalah peristiwa pelepasan / loncatan
bunga api listrik yang terjadi pada suatu bagian isolasi (pada rongga dalam
atau permukaan) sebagai akibat adanya beda potensial yang tinggi dalam
isolasi tersebut. PD pada akhirnya dapat menyebabkan kegagalan isolasi
(breakdown).
Partial Discharge hanya bisa terjadi saat dipenuhi dua kriteria yakni adanya
medan listrik yang melebihi nilai breakdown dan adanya elektron bebas.
Fenomena ini dapat terjadi pada isolasi padat, cair, dan gas. Pada isolasi padat
kegagalan bersifat permanen sementara pada isolasi cair dan gas bersifat
sementara. Mekanisme kegagalan pada bahan isolasi padat meliputi
kegagalan asasi (intrinsik), elektro mekanik, streamer, thermal dan kegagalan
erosi. Kegagalan pada bahan isolasi cair disebabkan adanya kavitasi, adanya
butiran pada zat cair dan tercampurnya bahan isolasi cair. Pada bahan isolasi
gas mekanisme townsend dan mekanisme streamer merupakan 2 mekanisme
kegagalan isolasi.
Parameter-parameter yang diukur pada PD antara lain:
Tegangan Insepsi
Tegangan insepsi adalah nilai tegangan maksimum sebelum mulai terjadi
fenomena Partial Discharge
Muatan (q)

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal

Merupakan ukuran besarnya arus dan waktu PD. Interpretasinya berdasarkan


dari fakta bahwa muatan PD adalah integral dari arus selama satu siklus
penuh. Interpretasi lain adalah besarnya energy PD yang sebanding kuadrat
muatan PD.
Sudut fasa terjadinya PD ()
Menjelaskan sifat fisis dari partial discharge. Partial Discharge hanya bisa
terjadi saat ada electron bebas yang mengakibatkan avalanche dan sudut fasa
akan menunjukkan sifat stokastik ini.
Banyaknya kejadian (n) persiklus
Menyatakan tingkat aktivitas Partial Discharge. Berkaitan dengan umur dan
kondisi isolasi.
Pengujian Partial Discharge dengan Accoustic Sensor dan HFCT
Pengujian Partial Discharge dilakukan dengan menggabungkan dua metode,
yaitu metode akustik dan metode listrik. Metode akustik dilakukan dengan
mendeteksi sinyal suara gangguan dari dalam trafo. Sinyal suara tersebut
ditangkap oleh 4 buah acoustic emission (AE) sensor yang ditempelkan pada
keempat sisi dinding trafo. Metode listrik dilakukan dengan mendeteksi arus
trafo yang mengalir pada bagian grounding trafo. Arus trafo ini dideteksi
dengan menggunakan 1 buah high frequency current transformer (HFCT)
sensor yang dipasangkan pada bagian pentanahan trafo.
g. Noise
Noise pada trafo dikarenakan adanya fenomena yang disebut magnetostriction.
Arti sederhananya adalah jika sebuah lapisan baja diberi medan magnet maka
akan membuat lapisan tersebut memuai, namun pada saat medan tersebut
dihilangkan, maka lapisan tersebut akan kembali kepada ukuran yang
sebenarnya.
Adapun alat yang dipakai untuk mengukur tingkat noise yang muncul adalah
Sound level meter/Noise detector.
h. Pengukuran Sound Pressure Level
Posisi pengukuran:

Jika pada saat pengukuran pendinginan udara (kipas/fan) dimatikan, maka


pengukuran dilaksanakan jarak 0,3 m dari permukaan trafo, kecuali untuk
alasan keamanan pengukuran dapat dilakukan pada jarak 1 m.

Untuk trafo dengan kondisi kipas dinyalakan, jarak pengukuran 2 m dari


permukaan trafo.

Pada trafo dengan ketinggian tangki kurang dari 2,5 m maka posisi
pengukuran dilakukan pada bagian tengah dari ketinggin tangki.Untuk trafo
dengan tinggi tangki lebih dari 2,5 m maka pengukuran dilakukan pada 2

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal

ketinggian, yaitu sepertiga tinggi dari bawah dan dua pertiga tinggi dari
bawah.

Titik penempatan mikrofon pada saat pengukuran maksimal berjarak 1 m


dengan titik pengukuran yang lain di sekeliling trafo. Minimal pengukuran
dilakukan pada 6 titik.

Pelaksanaan pengujian dilakukan dalam kondisi trafo sebagai berikut:

2.3

Trafo beroperasi, peralatan pendingin dan pompa minyak tidak beroperasi

Trafo beroperasi, peralatan pendingin dan pompa minyak beroperasi

Trafo beroperasi, peralatan pendingin tidak beroperasi dan pompa minyak


beroperasi

Trafo tidak beroperasi, peralatan pendingin dan pompa minyak beroperasi.

Shutdown Testing

Shutdown testing / measurement adalah pekerjaan pengujian yang dilakukan pada


saat transformator dalam keadaan padam. Pekerjaan ini dilakukan pada saat
pemeliharaan rutin maupun pada saat investigasi ketidaknormalan. Kegiatan
shutdown testing meliputi:
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.
l.
m.
n.
o.
p.
2.4

Pengukuran Tahanan Isolasi


Pengukuran Tangen Delta
Pengukuran SFRA (Sweep Frequency Response Analyzer)
Ratio Test
Pengukuran Tahanan DC (Rdc)
HV Test
Pengukuran Kadar Air Pada Kertas
Pengukuran Arus Eksitasi
Pengujian OLTC
Pengujian Rele Bucholz
Pengujian Rele Jansen
Pengujian Sudden Pressure
Kalibrasi indikator suhu
Motor Kipas Pendingin
Tahanan NGR
Fire Protection

Shutdown Function Check

Shutdown function check adalah pekerjaan yang bertujuan menguji fungsi dari rele
rele proteksi maupun indikator yang ada pada transformator yang terdiri dari:
a. rele bucholz
b. rele jensen
Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal

c. rele sudden pressure


d. rele thermal
e. oil level.
2.5

Treatment

Treatment merupakan tindakan korektif yang dilakukan berdasrkan hasil in service


inspection, in service measurement, shutdown measurement dan shutdown function
check, meliputi:
a. Purification
Proses purification/ filter ini dilakukan apabila berdasarkan hasil kualitas
minyak diketahui bahwa pengujian kadar air dan tegangan tembus berada
pada kondisi buruk.
b. Reklamasi
Hampir sama dengan proses purification/ filter, proses reklamasi dilengkapi
dengan melewatkan minyak pada fuller earth yang berfungsi untuk menyerap
asam dan produk-produk oksidasi pada minyak. Reklamasi dilakukan apabila
berdasarkan hasil kualitas minyak diketahui bahwa pengujian kadar asam
berada pada kondisi buruk.
c. Ganti Minyak
Penggantian minyak dilakukan berdasarkan rekomendasi hasil pengujian
kualitas minyak dan diperhitungkan secara ekonomis.
d. Cleansing
Merupakan pekerjaan untuk membersihkan bagian peralatan/ komponen yang
kotor. Kotornya permukaan peralatan listrik khususnya pada instalasi tegangan
tinggi dapat mengakibatkan terjadinya flash over pada saat operasi atau
mengganggu konektivitas pada saat pengukuran. Adapun alat kerja yang
dipakai adalah majun, lap, aceton, deterjen, sekapen hijau, vacuum cleaner,
minyak isolasi trafo.

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal

10

Gambar 5. Proses pembersihan (cleansing) NGR

e. Thightening
Vibrasi yang muncul pada trafo dapat mengakibatkan baut - baut pengikat
kendor. Pemeriksaan secara periodik perlu dilakukan terhadap baut - baut
pengikat. Peralatan kerja yang diperlukan dalam melakukan pekerjaan ini

f.

adalah kunci - kunci. Pelaksanaan tightening atau pengencangan harus


dilakukan dengan menggunakan kunci momen dengan nilai yang sesuai
dengan spesifikasi peralatan
Replacing Parts
Merupakan tindakan korektif yang dilakukan untuk mengganti komponen
transformer akibat kegagalan fungsi ataupun berdasarkan rekomendasi

pabrikan.
g. Greasing
Akibat proses gesekan dan suhu, grease - grease yang berada pada peralatan
dapat kehilangan fungsinya. Untuk mengembalikan fungsinya dilakukan
penggantian grease / greasing. Penggantian grease harus sesuai dengan
spesifikasi grease yang direkomendasikan pabrikan. Adapaun jenis jenis
grease berdasarkan jenisnya adalah sebagai berikut:
i.

Ceramic/ glass cleaner grease grease yang digunakan untuk


membersihkan isolator yang berbahan dasar keramik atau kaca.

ii.

Roller bearing grease (Spray type) grease yang digunakan pada


kipas trafo dan sambungan tuas penggerak OLTC

iii.

Electrical jointing compound / contact grease grease yang


digunakan pada terminal grounding dan bushing

iv.

Minyak pelumas SAE 40 pelumas yang digunakan pada gardan


penggerak OLTC

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal

11

3.

FMEA dan FMECA

3.1 Failure Mode and Effect Analysis (FMEA)


FMEA merupakan suatu metode untuk menganalisis penyebab kegagalan pada suatu
peralatan. Pada buku pedoman pemeliharaan ini FMEA menjadi dasar untuk
menentukan komponen komponen yang akan diperiksa dan dipelihara.
FMEA atau Failure Modes Effects Analysis dibuat dengan cara :
a. Mendefinisikan sistem (peralatan) dan fungsinya
b. Menentukan sub sistem dan fungsi tiap subsistem
c. Menentukan functional failure tiap subsistem
d. Menentukan failure mode tiap subsistem
3.1.1

Mendefinisikan Sistem (Peralatan) Dan Fungsinya

Definisi : kumpulan komponen yang secara bersama sama bekerja membentuk satu
fungsi atau lebih.
3.1.2

Menentukan Sub Sistem Dan Fungsi Tiap Subsistem

Definisi : peralatan dan/atau komponen yang bersama sama membentuk satu


fungsi. Dari fungsinya subsistem berupa unit yang berdiri sendiri dalam suatu sistem.

3.1.3 Menentukan Functional Failure Tiap Subsistem


Functional Failure adalah ketidakmampuan suatu asset untuk dapat bekerja sesuai
fungsinya berdasarkan standar unjuk kerja yang dapat diterima pemakai.

3.1.4 Menentukan Failure Mode Tiap Subsistem


Failure Mode adalah setiap kejadian yang mengakibatkan functional failure.
3.2

Failure Mode and Effect Critical Analysis (FMECA)

FMECA (Failure mode and effect critical analysis) merupakan metoda untuk
mengetahui resiko kegagalan sebuah subsistem pada sebuah sistem peralatan.
Dengan mengkombinasikan data gangguan dengan FMEA maka akan diketahui
peluang peluang kegagalan pada setiap sub sistem dalam FMEA. Hal ini dapat

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal

12

dijadikan acuan dalam menerapkan metoda pemeliharaan yang optimal dengan


tingkat kegagalan yang bervariasi.

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal

13

Anda mungkin juga menyukai