Anda di halaman 1dari 144

DOKTRIN KRISTUS: Christology

CREDO YANG BENAR &


AJARAN-AJARAN SESAT TENTANG DIRI
KRISTUS
I) Credo yang benar tentang diri Kristus.
Pada tahun 325 Masehi ada sidang gereja di kota Nicea yang melahirkan
Nicene Creed (= Pengakuan Iman Nicea), yang meneguhkan doktrin tentang
Allah Tritunggal. Pengakuan iman ini direvisi dalam Sidang Gereja di
Constantinople pada tahun 381 Masehi, dan lalu disebut dengan nama
Pengakuan Iman Nicea-Constantinople, yang bunyinya adalah sebagai
berikut:
Aku percaya kepada satu Allah Bapa yang mahakuasa,
Pencipta langit dan bumi, dan segala yang kelihatan dan
yang tidak kelihatan.
Dan kepada satu Tuhan Yesus Kristus, satu-satunya Anak
Allah yang diperanakkan, diperanakkan dari Bapa sebelum
alam semesta, Allah dari Allah, terang dari terang, Allah
yang sejati dari Allah yang sejati, diperanakkan, bukan
dicipta, sehakekat dengan Sang Bapa, oleh siapa segala
sesuatu dicipta;
Yang untuk kita manusia dan untuk keselamatan kita telah
turun dari sorga, dan diinkarnasikan oleh Roh Kudus dari
anak dara Maria, dan dijadikan manusia; Ia telah disalibkan,
juga bagi kita, di bawah pemerintahan Pontius Pilatus. Ia
menderita dan dikuburkan; dan pada hari ketiga Ia bangkit
kembali, sesuai dengan Kitab Suci, dan naik ke sorga; dan
duduk di sebelah kanan Bapa. dan Ia akan datang kembali
dengan kemuliaan untuk menghakimi orang yang hidup dan
yang mati; yang kerajaanNya takkan berakhir.
Dan aku percaya kepada Roh Kudus, Tuhan dan Pemberi
kehidupan, yang keluar dari Bapa dan Anak, yang bersamasama dengan Bapa dan Bnak disembah dan dimuliakan, yang
telah berfirman dengan perantaraan para nabi.
Dan aku percaya satu gereja yang am dan rasuli, aku
mengakui satu baptisan untuk pengampunan dosa, dan aku
menantikan kebangkitan orang mati, dan kehidupan di
dunia yang akan datang.
Amin.

Sekalipun dalam Pengakuan Iman ini juga ditegaskan akan keilahian Kristus,
dan bahwa Ia telah menjadi manusia, tetapi Pengakuan Iman ini tidak
menyatakan apa-apa tentang hubungan antara keilahian dan kemanusiaan
Kristus, sehingga akhirnya muncul banyak ajaran sesat dalam Kristologi.
Credo (= pengakuan iman) yang paling penting dalam Kristologi, khususnya
dalam persoalan hubungan antara keilahian dan kemanusiaan Yesus, adalah
Chalcedonian Creed (= Pengakuan Iman Chalcedon), yang diciptakan dalam
sidang gereja di kota Chalcedon pada tahun 451 Masehi.
Chalcedonian Creed / Pengakuan Iman Chalcedon:
We all with one accord teach men to acknowledge one and
the same Son, our Lord Jesus Christ, at once complete in
Godhead and complete in manhood, truly God and truly
man ... one and the same Christ, Son, Lord, only begotten,
recognized in two natures, without confusion, without
change, without division, without separation ... the
characteristics of each nature being preserved and coming
together to form one person ... (= Kami semua, dengan
suara bulat, mengajar manusia untuk mengakui Anak yang
satu dan yang sama, Tuhan kita Yesus Kristus, pada saat
yang sama sempurna / lengkap dalam keilahian dan
sempurna / lengkap dalam kemanusiaan, sungguh-sungguh
Allah dan sungguh-sungguh manusia ... Kristus, Anak, Tuhan
yang satu dan yang sama, satu-satunya yang diperanakkan,
dikenali dalam 2 hakekat, tanpa kekacauan / percampuran,
tanpa perubahan, tanpa perpecahan, tanpa perpisahan ...
sifat-sifat setiap hakekat dipertahankan dan bersatu
membentuk 1 pribadi ...).
Ada 2 hal yang perlu disoroti dari Pengakuan Iman Chalcedon ini:
1) Without confusion / without
percampuran / tanpa perubahan).

change

(=

tanpa

kekacauan

Ini menunjukkan bahwa:

human nature (= hakekat manusia) dan divine nature (= hakekat


ilahi) tetap berbeda, dan mempunyai sifat-sifatnya sendiri-sendiri.

human nature (hakekat manusia) tidak menjadi divine (= ilahi), dan


sebaliknya divine nature (= hakekat ilahi) tidak menjadi human (=
manusia).

human nature (= hakekat manusia) dan divine nature (= hakekat


ilahi) tidak bercampur dan membentuk nature (= hakekat) yang ke 3.

2) Without division / without separation (= tanpa perpecahan / tanpa


perpisahan).
Ini menunjukkan bahwa LOGOS tidak pernah terpisah dari human nature
(= hakekat manusia).
Catatan: kata nature oleh banyak orang diterjemahkan sifat. Tetapi ini
jelas merupakan terjemahan yang salah! Menurut Websters New World
Dictionary of the American Language (College Edition) kata nature
mempunyai 10 arti dan yang nomer 1 adalah:
The essential character of a thing; quality or qualities that
make something what it is; essence (= Sifat-sifat yang
hakiki dari suatu benda; kwalitas yang membuat sesuatu itu
dirinya; hakekat).
Dalam Kristologi, istilah nature itu harus diterjemahkan hakekat,
bukan sifat!
William G. T. Shedd, seorang ahli Theologia Reformed pada abad 19,
mengatakan:
When we speak of a human nature, a real substance having
physical, rational, moral and spiritual properties is meant
(= Pada waktu kita berbicara tentang human nature, maka
yang dimaksud adalah suatu zat yang nyata yang memiliki
sifat-sifat fisik, rasio, moral dan rohani) - Shedds Dogmatic
Theology, vol II, hal 289.
Charles Hodge mengatakan hal yang serupa, yang terlihat dari beberapa
kutipan di bawah ini:

By nature, in this connection is meant substance. In


Greek the correspond-ing words are PHUSIS and OUSIA;
in Latin, NATURA and SUBSTANTIA (= yang dimaksud
dengan nature dalam persoalan ini adalah zat / bahan /
hakekat. Dalam bahasa Yunani kata yang cocok / sama
ialah PHUSIS dan OUSIA; dalam Latin NATURA dan
SUBSTANTIA) - Systematic Theology, vol II, hal 387.

... we are taught that the elements combined in the


constitution of his person, namely, humanity and divinity,
are two distinct natures, or substances (= ... kita diajar
bahwa elemen-elemen yang disatukan / digabungkan

dalam pembentukan pribadiNya, yaitu kemanusiaan dan


keilahian, adalah dua natures atau zat / bahan / hakekat
yang berbeda) - Systematic Theology, vol II, hal 388.

... the elements united or combined in his person are two


distinct substances, humanity and divinity; that He has in
his constitution the same essence or substance which
constitutes us men, and the same substance which makes
God infnite, eternal, and immutable in all his
perfections (= elemen-elemen yang disatukan atau
digabungkan dalam pribadiNya adalah dua zat / bahan /
hakekat yang berbeda, kemanusiaan dan keilahian;
sehingga dalam pembentukanNya Ia mempunyai hakekat
atau zat / bahan yang sama yang membentuk kita menjadi
manusia, dan zat / bahan yang sama yang membuat Allah
itu tidak terbatas, kekal, dan tetap / tidak berubah dalam
semua kesempurnaanNya) - Systematic Theology, vol II, hal 389.

That in his person two natures, the divine and the


human, are inseparably united; and the word nature in
this connection means substance (= Bahwa dalam
pribadiNya
dua
natures,
ilahi
dan
manusiawi,
dipersatukan secara tak terpisahkan; dan dalam hal ini
kata nature berarti zat / bahan / hakekat) - Systematic
Theology, vol II, hal 391.

II) Ajaran-ajaran sesat tentang diri Kristus.


1) Adoptionism.
Dalam buku-buku sejarah maupun Theologia, biasanya Adoptionism ini
tidak dimasukkan dalam perdebatan Kristologi / ajaran-ajaran sesat
tentang diri Kristus, mungkin karena ajaran ini ada pada abad 3 Masehi,
yaitu sebelum musim perdebatan / kesesatan tentang Kristologi itu
muncul (abad 4-7 Masehi).
Tetapi kalau dilihat ajarannya, maka ini jelas juga termasuk ajaran sesat
dalam Kristologi.
Tokohnya yang paling terkenal bernama Paul of Samosata, yang adalah
seorang bishop (= uskup) dari Antiokhia.
Ajaran ini mengatakan bahwa Kristus adalah manusia biasa, yang pada
saat baptisan (Catatan: ada yang mengatakan bukan pada saat baptisan,

tetapi setelah kebangkitan Kristus) menerima kuasa ilahi dan diangkat ke


suatu posisi ilahi. Jadi, ada perkembangan dalam diri Kristus, dari
manusia biasa menjadi semacam Allah (bukan betul-betul Allah, tetapi
lebih rendah dari Allah).
2) Apollinarianism.
Ajaran ini mendapatkan namanya dari tokohnya yang bernama
Apollinarius / Apollinaris, yang adalah seorang bishop (= uskup) di kota
Laodicea, Syria.
Apollinarius ini mempunyai kepercayaan yang disebut Psychological
Trichotomy yang mempercayai bahwa manusia itu terdiri dari tubuh
(Yunani: SOMA), jiwa (Yunani: PSUCHE), dan rational spirit / mind (= roh
yang rasionil / pikiran; Yunani: PNEUMA atau NOUS).
Dan tentang diri Yesus Kristus, ia berpendapat bahwa Yesus mempunyai
tubuh (SOMA) dan jiwa (PSUCHE), tetapi tidak punya rational spirit / roh
yang rasionil atau mind / pikiran (PNEUMA atau NOUS), karena
pikiranNya adalah dari Logos dan bersifat ilahi. Jadi, Kristus bukan
manusia sepenuhnya, karena Ia tidak mempunyai pikiran manusia.
Ajaran ini terlalu menekankan keilahian Kristus sehingga mengorbankan
kemanusiaanNya.
Dasar Kitab Suci yang ia pakai adalah Yoh 1:14 yang secara hurufiah
berbunyi And the Word became flesh (= Dan Firman itu telah menjadi
daging). Catatan: anehnya, kalau ia memang menekankan kata daging
dalam Yoh 1:14 ini, mengapa ia tidak berpendapat bahwa Kristus hanya
mempunyai tubuh manusia saja? Mengapa ada jiwa?
Ajaran ini ditentang oleh Gregory Nazianzus yang mengatakan bahwa
Kristus harus mempunyai semua elemen manusia, karena kalau tidak, Ia
tidak bisa menebus elemen tersebut dalam diri kita. Ia juga mengatakan
bahwa daging dalam Yoh 1:14 itu merupakan suatu synecdoche (= gaya
bahasa dimana yang sebagian mewakili seluruhnya) dan menunjuk pada
seluruh hakekat manusia (termasuk jiwa / rohnya).
Pada tahun 362 Masehi Sidang gereja di kota Alexandria sudah
menentang ajaran ini (tanpa menyatakan siapa pengajarnya) dan
menyatakan bahwa Kristus mempunyai reasonable soul (= jiwa yang bisa
berpikir).
Apolinarius tidak melepaskan diri dari gereja, dan ia membentuk sebuah
sekte, sampai tahun 375 Masehi.

Pada tahun 381 Masehi sidang gereja di Constantinople kembali


mengecam ajaran ini beserta pengajarnya.
3) Nestorianism.
Ajaran ini mendapatkan namanya dari nama tokohnya yaitu Nestorius,
yang pada tahun 428 Masehi menjadi bishop di kota Constantinople.
Ajaran ini mengatakan bahwa Kristus terdiri dari 2 pribadi (yaitu pribadi
Allah dan pribadi manusia), tetapi LOGOS menguasai manusia Yesus
sepenuhnya sehingga Yesus menginginkan, menghendaki dan berbicara
seperti Allah. Kristus disembah bukan karena Dia adalah Allah, tetapi
karena Allah ada di dalam Dia.
Nestorius menentang istilah THEOTOKOS (= Bunda Allah), dan
mengusulkan istilah CHRISTOTOKOS (= Bunda Kristus) untuk Maria,
karena ia berpendapat bahwa Maria tidak melahirkan Allah, tetapi hanya
melahirkan tempat dimana Allah diam / tinggal.
Ajaran ini dikecam oleh Sidang gereja di kota Efesus pada tahun 431
Masehi, yang sekaligus mempertahankan istilah Bunda Allah untuk
Maria.
Catatan: Perlu ditekankan bahwa istilah bunda Allah itu dipertahankan
oleh sidang gereja di Efesus itu, bukan untuk meninggikan / memuliakan
Maria, tetapi untuk menunjukkan persatuan yang tidak terpisahkan
antara hakekat ilahi dan hakekat manusia dalam diri Kristus. Jadi kalau
setelah itu gereja Roma Katolik menggunakan istilah bunda Allah itu
untuk meninggikan / memuliakan Maria, maka itu adalah sesuatu yang
salah, yang sama sekali tidak dimaksudkan oleh sidang gereja di Efesus
itu.
4) Eutychianism.
Ajaran ini mendapat namanya dari tokohnya yang bernama Eutyches
[artinya adalah the Fortunate (= si untung / mujur). Para penentangnya
mengatakan bahwa ia seharusnya dinamakan Atyches yang berarti the
Unfortunate (= si sial)].
Ajaran ini mengatakan bahwa pada saat inkarnasi, divine nature /
hakekat ilahi menghisap / menyerap (absorb) human nature / hakekat
manusia, sehingga Kristus hanya mempunyai 1 nature / hakekat saja,
yaitu divine nature / hakekat ilahi.
Eutyches ini mempunyai teman-teman yang berkuasa sehingga akhirnya
dalam Sidang gereja di kota Efesus pada tahun 449 Masehi ada ancaman

dan siksaan terhadap para penentangnya, sehingga para penentangnya


tidak berani berkata apa-apa. Akhirnya Sidang gereja ini justru membela
ajaran sesat ini, dan sidang ini dikenal dengan nama The Council of
Robbers (= Sidang gereja perampok).
Baru pada tahun 451 Masehi Sidang gereja di kota Chalcedon mengecam
ajaran ini, dan sekaligus menciptakan Chalcedonian Creed (= Pengakuan
Iman Chalcedon).
5) Monophysitism.
Istilah Monophysitism berasal dari kata bahasa Yunani MONO, yang berarti alone (= sendiri) atau one (= satu), dan PHUSIS yang berarti
nature / essence (= hakekat).
Mereka beranggapan bahwa ajaran tentang adanya 2 natures / hakekat
(seperti yang dinyatakan oleh Chalcedonian Creed) dalam diri Kristus
tidak bisa tidak akan menyebabkan adanya 2 pribadi dalam diri Kristus,
seperti yang diajarkan Nestorianism. Karena itu maka mereka mengajar
bahwa Kristus hanya mempunyai 1 nature / hakekat saja, yang bukan
divine / ilahi maupun human / manusia, tetapi kedua-duanya (both
divine and human).
Ajaran ini dikecam oleh Sidang gereja di Constantinople pada tahun 553
Masehi.
6) Monothelitism.
Ajaran ini mengatakan bahwa Kristus mempunyai 2 natures / hakekat,
yaitu divine / ilahi dan human / manusia, tetapi hanya 1 kehendak
(Yunani: THELEMA) yang adalah divine - human / ilahi - manusia
(campuran).
Ajaran ini dikecam oleh Sidang gereja di kota Constantinople pada tahun
680 / 681 Masehi.
Bahwa dalam Kristologi ada begitu banyak ajaran sesat yang muncul,
menunjukkan betapa pentingnya pengertian tentang Kristologi ini. Kalau
ini bukan sesuatu yang penting untuk iman kita, setan tidak akan
menyerangnya dengan menggunakan begitu banyak ajaran sesat.
Kalau kita melihat dalam scope / ruang lingkup yang lebih luas, maka kita
bisa melihat bahwa dalam dunia ini agama yang mempunyai paling
banyak aliran (baik yang termasuk aliran yang benar maupun yang sesat),
adalah agama kristen. Semua agama yang lain hanya mempunyai sedikit /
beberapa aliran saja, tetapi kristen mempunyai puluhan atau mungkin

ratusan aliran. Orang sering meninjau hal ini secara negatif dengan
menganggap ini sebagai hal yang jelek. Tetapi sebetulnya hal ini bisa
ditinjau secara positif, yaitu dengan menyadari bahwa setan tentu paling
senang untuk menyerang ajaran yang benar / membawa keselamatan.
Kalau suatu ajaran / agama adalah salah / tidak membawa keselamatan,
untuk apa setan menyerangnya lagi?
Karena itu, adanya banyak aliran dan penyesatan dalam kekristenan
seharusnya justru membuat kita makin sungguh-sungguh dalam mengikut
Kristus, dan adanya banyak ajaran sesat dalam Kristologi seharusnya
membuat kita makin sungguh-sungguh dalam belajar Kristologi!

CHRIST: THE GOD-MAN


I) Kristus adalah sungguh-sungguh Allah.
Bukti-bukti keilahian Kristus:
1) Kitab Suci secara explicit mengatakan demikian (Yes 9:5 Yoh 1:1 Ro 9:5
Fil 2:5b-7 Titus 2:13 Ibr 1:8 2Pet 1:1 1Yoh 5:20).
Beberapa dari ayat-ayat ini saya jelaskan di bawah ini:
a) Yoh 1:1 - Pada mulanya adalah Firman; Firman itu
bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah
Allah.
Kata Firman (bahasa Yunani: LOGOS) di sini jelas menunjuk kepada
Yesus. Ini terlihat dari Yoh 1:14a yang mengatakan bahwa Firman itu
telah menjadi manusia dan dari Yoh 1:14b yang menyebutNya
sebagai Anak Tunggal Allah.
Dan Yoh 1:1 ini secara explicit mengatakan bahwa Firman / Yesus itu
adalah Allah.
Tetapi Saksi-Saksi Yehuwa mengatakan bahwa kata God / Allah yang
ditujukan kepada Yesus dalam Yoh 1:1 ini dalam bahasa Yunaninya
tidak mempunyai definite article / kata sandang (Inggris: the ) dan
karena itu harus diterjemahkan sebagai a god (= suatu allah), dan
diartikan bahwa Yesus adalah allah kecil yang lebih rendah dari
YEHOVAH / YAHWEH, yang adalah Allah yang sesungguhnya.

Sebagai jawaban bisa kita katakan bahwa dalam Kitab Suci ada
sedikitnya 7 ayat dimana Yesus disebut the God.
Ayat-ayat itu adalah:
1. Yoh 20:28 - Tomas menjawab Dia: Ya Tuhanku dan
Allahku!.
2. Kis 20:28 - Karena itu jagalah dirimu dan jagalah
seluruh kawanan, karena kamulah yang ditetapkan
Roh Kudus menjadi penilik untuk menggembalakan
jemaat Allah yang diperolehNya dengan darah
AnakNya sendiri.
Ayat ini salah terjemahan karena kata Anak (yang saya coret
itu), sebetulnya tidak ada. Dengan demikian kata Nya jelas
menunjuk kepada kata Allah (yang saya garis bawahi), dan
sekaligus kata itu pasti menunjuk kepada Yesus (karena ada kata
darah). Karena itu jelas bahwa ayat ini menyatakan Yesus
sebagai Allah. Bandingkan dengan KJV di bawah ini.
KJV: Take heed therefore unto yourselves, and to all the flock,
over the which the Holy Ghost hath made you overseers, to feed
the church of God, which he hath purchased with his own blood
(= Karena itu perhatikanlah dirimu sendiri, dan seluruh kawanan,
di atas mana Roh Kudus telah menjadikan kamu penilik, untuk
memberi makan gereja Allah, yang telah dibeliNya dengan
darahNya sendiri).
Catatan: NIV dan NASB menterjemahkan seperti KJV. RSV = Kitab
Suci Indonesia, tetapi pada catatan kakinya memberikan
terjemahan seperti KJV/NIV/NASB.
3. Tit 2:13 dengan
menantikan
penggenapan
pengharapan
kita
yang
penuh
bahagia
dan
penyataan kemuliaan [Allah yang Mahabesar dan
Juruselamat kita] Yesus Kristus (tanda kurung dari saya).
4. Ibr 1:8 - Tetapi tentang Anak Ia berkata: TakhtaMu,
ya Allah, tetap untuk seterusnya dan selamanya, dan
tongkat kerajaanMu adalah tongkat kebenaran.
5. 2Pet 1:1 - Dari Simon Petrus, hamba dan rasul Yesus
Kristus, kepada mereka yang bersama-sama dengan
kami memperoleh iman oleh karena keadilan [Allah

dan Juruselamat kita], Yesus Kristus (tanda kurung dari


saya).
2Pet 1:1 (NASB): ... by the righteousness of our God and Savior,
Jesus Christ [= oleh kebenaran Allah dan Juruselamat kita, Yesus
Kristus].
Jadi di sini Yesus disebut
Juruselamat kita.

dengan

istilah

Allah

dan

6. 1Yoh 5:20 - Akan tetapi kita tahu, bahwa Anak Allah


telah datang dan telah mengaruniakan pengertian
kepada kita, supaya kita mengenal Yang Benar; dan
kita ada di dalam Yang Benar, di dalam AnakNya
Yesus Kristus. Dia adalah Allah yang benar dan
hidup yang kekal.
7. Wah 1:7-8 - (7) Lihatlah, Ia datang dengan awan-awan
dan setiap mata akan melihat Dia, juga mereka yang
telah menikam Dia. Dan semua bangsa di bumi akan
meratapi Dia. Ya, amin. (8) Aku adalah Alfa dan
Omega, firman Tuhan Allah, yang ada dan yang
sudah
ada
dan
yang
akan
datang,
Yang
Mahakuasa..
Ketujuh ayat ini secara explicit menyebut Yesus sebagai Allah, dan
dalam ketujuh ayat ini, kata Allah dalam bahasa Yunaninya
menggunakan definite article.
Untuk kata Allah dalam:
1. Yoh 20:28 digunakan kata bahasa Yunani HO THEOS.
2. Kis 20:28 digunakan kata bahasa Yunani TOU THEOU.
3. Tit 2:13 digunakan kata bahasa Yunani TOU THEOU.
4. Ibr 1:8 digunakan kata bahasa Yunani HO THEOS.
5. 2Pet 1:1 digunakan kata bahasa Yunani TOU THEOU.
6. 1Yoh 5:20 digunakan kata bahasa Yunani HO THEOS.
7. Wah 1:8 digunakan kata bahasa Yunani HO THEOS.

Dimana kata TOU dan HO adalah definite article / kata sandang


tertentu. Karena itu jelaslah bahwa dalam ketujuh ayat di atas, kita
tidak bisa menterjemahkan a god, dan secara hurufiah seharusnya
diterjemahkan the God.
Kalau Yoh 1:1 diterjemahkan a god (= suatu allah) dan diartikan
bahwa Yesus adalah allah kecil, maka itu akan bertentangan dengan
ketujuh ayat ini.
b) Ro 9:5 - Mereka adalah keturunan bapa-bapa leluhur,
yang menurunkan Mesias dalam keadaanNya sebagai
manusia, yang ada di atas segala sesuatu. Ia adalah
Allah yang harus dipuji sampai selama-lamanya.
Amin!.
c) Fil 2:5b-7 - (5b) ... Kristus Yesus, (6) yang walaupun
dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan
dengan
Allah
itu
sebagai
milik
yang
harus
dipertahankan, (7) melainkan telah mengosongkan
diriNya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba,
dan menjadi sama dengan manusia.
Ada beberapa hal yang perlu dibahas dari text ini:
1. Pertama-tama mari kita menyoroti kata-kata walaupun dalam
rupa Allah (ay 6a).
Kata-kata ini oleh KJV diterjemahkan being in the form of God
(= berada dalam bentuk Allah).
a. Kata being (= berada) itu dalam bahasa Yunani adalah
HUPARCHON dan ini ada dalam bentuk present participle.
Ini aneh dan kontras sekali dengan penggunaan bentuk-bentuk
aorist (= past / lampau) pada kata-kata setelahnya, seperti:

menganggap (h[ghsato / HEGESATO).

mengosongkan (e]kenwsen / EKENOSEN).

mengambil (labwn / LABON).

menjadi (genomenoj / GENOMENOS).

Bentuk present dari kata HUPARCHON ini menunjuk pada


continuance of being (= keberadaan yang terus-menerus).
Walter Martin mengatakan (hal 94) bahwa kata HUPARCHON itu
berarti remaining or not ceasing to be (= tetap
atau tidak berhenti sebagai).
William Barclay mengatakan bahwa kata HUPARCHON itu
menggambarkan seseorang sebagaimana adanya
secara hakiki dan hal itu tak bisa berubah (It
describes that which a man is in his very essence
and which cannot be changed) - hal 35.
Karena itu, kalau dikatakan bahwa Yesus itu being in the form
of God, maka itu berarti bahwa Yesus adalah Allah, dan Ia
tetap adalah Allah, dan ini tidak bisa berubah.
b. Kata form (= bentuk).
Dalam bahasa Yunani ada 2 kata yang bisa diterjemahkan
bentuk / rupa, yaitu MORPHE dan SKHEMA.
William Hendriksen: Do these two words - MORPHE
and SCHEMA - have the same meaning? At times,
throughout Greek literature, as any good lexicon
will indicate, both can have the meaning outward
appearance, form, shape. In certain contexts
they can be just about interchangable. But at
other times there is a clear difference in meaning.
The context in each separate instance must
decide (= Apakah dua kata ini - MORPHE dan
SKHEMA - mempunyai arti yang sama? Kadangkadang, dalam literatur Yunani, seperti yang
ditunjukkan oleh sembarang lexicon yang baik,
keduanya bisa mempunyai arti penampilan
lahiriah, wujud, bentuk. Dalam kontext-kontext
tertentu kedua kata itu bisa dibolak-balik. Tetapi
pada saat-saat lain ada perbedaan arti yang jelas.
Kontext
dalam
setiap
peristiwa
harus
menentukan) - hal 103 (footnote).
Dalam Fil 2:6 ini William Hendriksen menganggap bahwa kata
MORPHE itu berbeda dengan SKHEMA. Mengapa? Mari kita
melihat terjemahan dari NASB di bawah ini.
Fil 2:6-7 (NASB): (6) who, although He existed in the
form of God, did not regard equality with God a

thing to be grasped, (7) but emptied Himself,


taking the form of a bond-servant, and being
made in the likeness of men [= (6) yang,
sekalipun Ia berada dalam bentuk (MORPHE) Allah,
tidak menganggap kesetaraan dengan Allah
sebagai sesuatu untuk dipertahankan, (7) tetapi
telah mengosongkan diriNya sendiri, mengambil
bentuk (MORPHE) seorang hamba, dan dijadikan
dalam bentuk (SKHEMA) manusia].
Perhatikan kata-kata yang saya garis bawahi itu. Untuk dua
kata yang pertama digunakan kata Yunani MORPHE (Yesus
sebagai Allah dan sebagai hamba), sedangkan untuk kata yang
ketiga digunakan kata Yunani SKHEMA (Yesus sebagai manusia).
William Hendriksen menganggap adanya perubahan dari
MORPHE ke SKHEMA menunjukkan bahwa di sini ada perbedaan
arti antara kedua kata itu. Memang sebagai manusia Yesus
tidak terus sama. Ia bertumbuh makin besar, makin tua dalam
usia, sehingga tentu berubah dalam wajah / bentuk badan. Ia
bisa menjadi kurus (misalnya pada saat berpuasa), dan kembali
menjadi gemuk (setelah puasa), dsb. Karena itu di sini
digunakan SKHEMA.
Tetapi sebagai Allah, Ia tidak berubah. Karena itu digunakan
MORPHE. Juga sebagai hamba, Ia tidak berubah. Ia boleh
menjadi dewasa, tua, kurus, gemuk, dsb., tetapi Ia tetap
adalah hamba. Dan karena itu di sini juga digunakan MORPHE.
William Barclay: There are two Greek words for
form, MORPHE and SCHEMA. They must both be
translated form, because there is no other
English equivalent, but they do not mean the
same thing. MORPHE is the essential form which
never alters; SCHEMA is the outward form which
changes from time to time and from circumstance
to circumstance. ... The word Paul uses for Jesus
being in the form of God is MORPHE; that is to
say, his unchangeable being is divine. However his
outward SCHEMA might alter, he remained in
essence divine (= Ada dua kata Yunani untuk
bentuk, MORPHE dan SKHEMA. Kedua kata itu
harus diterjemahkan bentuk, karena tidak ada
kata lain dalam bahasa Inggris yang sama artinya,
tetapi kedua kata itu tidak sama artinya.
MORPHE adalah bentuk yang hakiki yang tidak

pernah berubah; SKHEMA adalah bentuk luar


yang berubah-ubah dari saat ke saat dan dari
keadaan ke keadaan. ... Kata yang digunakan oleh
Paulus untuk Yesus yang ada dalam rupa / bentuk
Allah adalah MORPHE; yang artinya adalah:
keberadaanNya yang tidak berubah adalah ilahi.
Bagaimanapun SKHEMA luarNya berubah, dalam
hakekatNya Ia tetap ilahi) - hal 35,36.
Jadi, baik penguraian tentang kata being (= ada / berada)
maupun kata form (= bentuk), menunjukkan ketidak-berubahan
Yesus sebagai Allah. Allah memang mempunyai sifat tidak bisa
berubah (Mal 3:6 Maz 102:26-28 Yak 1:17), karena kalau Ia bisa
berubah, itu menunjukkan Ia tidak sempurna!
2. Sekarang mari kita melihat text yang sedang kita bahas ini sekali
lagi.
Fil 2:5b-7 - (5b) ... Kristus Yesus, (6) yang walaupun
dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan
dengan Allah itu sebagai milik yang harus
dipertahankan, (7) melainkan telah mengosongkan
diriNya sendiri, dan mengambil rupa seorang
hamba, dan menjadi sama dengan manusia.
Kalau kata-kata dalam ay 7 yang mengatakan mengambil
rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan
manusia diartikan bahwa Yesus betul-betul menjadi manusia,
maka konsekwensinya, kata-kata dalam ay 6 yang mengatakan
bahwa Yesus ada dalam rupa Allah haruslah diartikan bahwa
Yesus betul-betul adalah Allah.
3. Sekarang kita akan membahas bagian yang sukar dari text ini,
yaitu kata-kata tidak menganggap kesetaraan dengan
Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan.
Fil 2:5b-7 - (5b) ... Kristus Yesus, (6) yang walaupun
dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan
dengan Allah itu sebagai milik yang harus
dipertahankan, (7) melainkan telah mengosongkan
diriNya sendiri, dan mengambil rupa seorang
hamba, dan menjadi sama dengan manusia.
KJV: (5) Let this mind be in you, which was also in Christ Jesus:
(6) Who, being in the form of God, thought it not robbery to be
equal with God (= Hendaknya pikiran ini ada dalam kamu, yang

juga ada dalam Kristus Yesus: Yang, ada dalam bentuk Allah,
menganggapnya bukan sebagai perampokan untuk menjadi setara
dengan Allah).
RSV: (5) Have this mind among yourselves, which is yours in
Christ Jesus, (6) who, though he was in the form of God, did not
count equality with God a thing to be grasped (= Milikilah pikiran
ini di antara kamu sendiri, yang adalah milikmu dalam Kristus
Yesus, yang sekalipun Ia ada dalam bentuk Allah, tidak
menganggap kesetaraan dengan Allah suatu hal yang harus direbut
/ dipegang erat-erat).
NIV: (5) Your attitude should be the same as that of Christ Jesus:
(6) Who, being in very nature God, did not consider equality with
God something to be grasped (= Sikapmu harus sama seperti
sikap dari Kristus Yesus: Yang, ada dalam hakekat Allah, tidak
menganggap kesetaraan dengan Allah sesuatu untuk direbut /
dipegang erat-erat).
NASB: (5) Have this attitude in yourselves which was also in
Christ Jesus, (6) who, although He existed in the form of God,
did not regard equality with God a thing to be grasped (=
Milikilah sikap ini dalam dirimu sendiri yang juga ada dalam
Kristus Yesus, yang, sekalipun Ia berada dalam bentuk Allah, tidak
menganggap kesetaraan dengan Allah sesuatu untuk direbut /
dipegang erat-erat).
Kata bahasa Inggris grasp yang digunakan oleh RSV/NIV/NASB
bisa diartikan merebut atau memegang erat-erat. Oleh KJV
kata itu diterjemahkan robbery (= perampokan). Kata bahasa
Yunaninya adalah HARPAGMON. Kalau nanti di bawah digunakan
istilah HARPAGMOS, jangan terlalu mempersoalkan perbedaan
antara HARPAGMON dengan HARPAGMOS. Perbedaan ini hanya
terjadi karena posisi kata itu dalam suatu kalimat (casenya).
William Hendriksen mengatakan bahwa kata HARPAGMOS
merupakan suatu kata benda, yang bisa diartikan secara aktif,
atau secara pasif.
Kalau diartikan secara AKTIF, maka itu menjadi an act / suatu
tindakan (suatu tindakan perampokan / perebutan kekuasaan).
Kalau diartikan secara PASIF, maka itu menjadi a thing / suatu
hal (suatu rampasan / harta / kekayaan untuk dipegang eraterat).

Arti aktif diambil oleh KJV (yang menterjemahkannya robbery /


perampokan), tetapi Hendriksen berpendapat ini tidak sesuai
dengan kontext yang mendahului ayat ini, yang menekankan
supaya kita menjadi rendah hati dan tidak berpegang pada hak
kita tetapi lebih memikirkan kepentingan orang lain. Jadi,
Hendriksen memilih arti pasif.
William Hendriksen menambahkan bahwa ada orang yang
mengatakan bahwa kata HARPAGMOS, karena berakhiran MOS,
pasti adalah kata benda yang mempunyai arti aktif. Kata yang
mempunyai arti pasif, biasanya berakhiran MA, bukan berakhiran
MOS. Tetapi Hendriksen mengatakan bahwa terhadap peraturan
tersebut, ada perkecualiannya, dan ia memberikan banyak contoh
dari Kitab Suci tentang perkecualian tersebut, yaitu:
Kata EPISITISMOS (Luk 9:12) berarti food (= makanan).
Kata THERISMOS (Luk 10:2) berarti harvest / crop (= panen /
tuaian).
Kata HIMATISMOS (Yoh 19:24) berarti vestment (= jubah).
Kata HUPOGRAMMOS (1Pet 2:21) berarti example (= teladan).
Kata PHRAGMOS (Luk 14:23) berarti hedge / fence (= pagar).
Kata KHREMATISMOS (Ro 11:4) berarti oracle (= firman Allah).
Kata PSALMOS (1Kor 14:26) berarti psalm (= mazmur).
Catatan: semua kata berakhiran MOS ini diartikan a thing /
suatu hal (arti pasif), bukan an act / suatu tindakan (arti
aktif).
Hendriksen juga mengatakan bahwa kata HARPAGMOS juga
digunakan dalam tafsiran dari Eusebius tentang Injil Lukas, dan
diartikan dalam arti pasif, yaitu rampasan.
Selanjutnya, kalau kata HARPAGMOS ini diartikan dalam arti pasif,
maka Hendriksen mengatakan bahwa itu memungkinkan 2 arti
lagi, yaitu:

Itu adalah sesuatu yang sudah dimiliki, dan dipertahankan.

Itu adalah sesuatu yang belum dimiliki, dan diusahakan / dicari


dengan sungguh-sungguh.

Lagi-lagi dalam hal ini, kontextnya yang harus menentukan, arti


mana yang diambil.
Arti yang kedua jelas bertentangan dengan kata-kata walaupun
dalam rupa / bentuk Allah dalam Fil 2:6a, yang
menunjukkan bahwa Yesus sudah adalah Allah (ini sudah dibahas
di atas).
Jadi, jelas bahwa kita harus mengambil arti pertama. Dan ini
menjadi cocok dengan terjemahan Kitab Suci Indonesia.
d) Tit 2:13 dengan
menantikan
penggenapan
pengharapan kita yang penuh bahagia dan penyataan
kemuliaan Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita
Yesus Kristus.
Bagian terakhir dari ayat ini (yang saya garis bawahi) memungkinkan
2 cara pembacaan:

(Allah yang Mahabesar) dan (Juruselamat kita Yesus


Kristus).
Kalau dipilih pembacaan yang ini, maka ayat ini membicarakan 2
pribadi, yang pertama adalah Allah yang Mahabesar, dan
yang kedua adalah Juruselamat kita Yesus Kristus.
Dengan demikian ayat ini tidak menunjukkan Yesus sebagai Allah.

(Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita), Yesus


Kristus.
Kalau dipilih pembacaan yang ini, maka ayat ini hanya
membicarakan satu pribadi, yaitu Yesus Kristus, yang digambarkan
sebagai Allah
yang
Mahabesar maupun sebagai
Juruselamat kita.

NIV memilih pilihan kedua karena NIV menterjemahkannya sebagai


berikut: while we wait for the blessed hope - the glorious appearing
of our great God and Savior, Jesus Christ (= sementara kita
menantikan pengharapan yang mulia - penampilan yang mulia dari
Allah kita yang besar dan Juruselamat kita, Yesus Kristus).
Saya sendiri memilih pembacaan kedua, karena:
Alasan pertama: Kata appearing (= penampilan / pemunculan),
yang dalam Kitab Suci Indonesia diterjemahkan penyataan,

diterjemahkan dari kata bahasa Yunani EPIPHANEIA, yang selalu


menunjuk pada kedatangan Yesus (bdk. 2Tes 2:8
1Tim 6:14
2Tim 1:10 2Tim 4:1,8), dan tidak pernah menunjuk kepada Bapa.
Alasan kedua: Pembacaan kedua ini sesuai dengan hukum bahasa
Yunani yang diberikan oleh Dana & Mantey, dan juga ahli-ahli bahasa
Yunani yang lain.
Dana & Mantey mengatakan bahwa bila kata Yunani KAI (= dan)
menghubungkan 2 kata benda dengan case / kasus yang sama, dan
jika ada kata sandang yang mendahului kata benda yang pertama,
dan kata sandang itu tidak diulangi sebelum kata benda yang kedua,
maka kata benda yang terakhir selalu berhubungan dengan pribadi /
orang yang dinyatakan / digambarkan oleh kata benda yang pertama.
Dengan kata lain, kata benda yang kedua merupakan pengambaran
lebih jauh tentang pribadi / orang itu (A Manual Grammar of the
Greek New Testament, hal 147).
Catatan: case / kasus merupakan suatu istilah dalam gramatika
bahasa Yunani.
Gresham Machen: The noun in Greek has gender, number,
and case. ... There are fve cases; nominative, genitive,
dative, accusative, and vocative. ... The subject of a
sentence is put in the nominative case. ... The object of
a transitive verb is placed in the accusative case. ... The
genitive case expresses possession. ... The dative case
is the case of the indirect object. ... The vocative case is
the case of direct address [= Kata benda dalam bahasa
Yunani mempunyai jenis kelamin (laki-laki, perempuan dan
netral), bilangan / jumlah (tunggal dan jamak), dan case /
kasus. ... Ada lima cases / kasus; nominatif, genitif,
datif, akusatif, dan vokatif. ... Subyek dari suatu
kalimat diletakkan dalam kasus nominatif. ... Obyek
dari suatu kata kerja transitif ditempatkan dalam kasus
akusatif. ... Kasus genitif menyatakan kepemilikan. ...
Kasus datif adalah kasus dari obyek tidak langsung. ...
Kasus vokatif adalah kasus dari sapaan langsung] - New
Testament Greek For Beginners, hal 23,24,25.

Tit 2:13 - Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita


Yesus Kristus.
k.b. 1

k.b. 2
pribadi yg
digambarkan

kata penghubung KAI


Di sini ada dua kata benda dengan case yang sama (Genitive Case),
yaitu Allah yang Mahabesar dan Juruselamat. Kedua kata
benda itu dihubungkan oleh kata penghubung KAI (= dan). Kata benda
yang pertama (k.b. 1), yaitu Allah yang Mahabesar
mempunyai definite article / kata sandang (TOU MEGALOU THEOU /
the great God), tetapi kata benda yang kedua (k.b. 2), yaitu
Juruselamat tidak mempunyainya (SOTEROS). Kata benda
pertama,
yaitu
Allah
yang
Mahabesar
merupakan
penggambaran dari kata Yesus Kristus. Maka kata benda kedua,
yaitu Juruselamat merupakan penggambaran lanjutan terhadap
pribadi yang sama, yaitu Yesus Kristus. Jadi, Tit 2:13 ini
menggambarkan Yesus Kristus dengan istilah Allah yang
Mahabesar maupun Juruselamat.
e) Ibr 1:8 - Tetapi tentang Anak Ia berkata: TakhtaMu, ya
Allah, tetap untuk seterusnya dan selamanya, dan
tongkat kerajaanMu adalah tongkat kebenaran.
f) 2Pet 1:1 - Dari Simon Petrus, hamba dan rasul Yesus
Kristus, kepada mereka yang bersama-sama dengan
kami memperoleh iman oleh karena keadilan Allah dan
Juruselamat kita, Yesus Kristus.
Di sini kita kembali bertemu dengan hukum bahasa Yunani yang telah
kita bahas pada pembahasan Tit 2:13 di depan.

2Pet 1:1b - Allah dan Juruselamat kita, Yesus Kristus.


k.b.1
k.b.2
pribadi yg digambarkan

kata penghubung KAI


Di sini ada dua kata benda dengan case yang sama (Genitive Case),
yaitu Allah dan Juruselamat. Kedua kata benda itu
dihubungkan oleh kata penghubung KAI (= dan). Kata benda yang

pertama (k.b.1), yaitu Allah mempunyai kata sandang (TOU THEOU


/ the God), tetapi kata benda yang kedua (k.b.2), yaitu
Juruselamat, tidak mempunyainya (SOTEROS). Kata benda
pertama, yaitu Allah merupakan penggambaran dari kata Yesus
Kristus. Maka kata benda kedua, yaitu Juruselamat
merupakan penggambaran lanjutan terhadap pribadi yang sama,
yaitu Yesus Kristus. Jadi, 2Pet 1:1b ini menggambarkan Yesus
Kristus dengan istilah Allah maupun Juruselamat.
g) 1Yoh 5:20 - Akan tetapi kita tahu, bahwa Anak Allah
telah datang dan telah mengaruniakan pengertian
kepada kita, supaya kita mengenal Yang Benar; dan
kita ada di dalam Yang Benar, di dalam AnakNya Yesus
Kristus. Dia adalah Allah yang benar dan hidup yang
kekal.
Sekalipun ada banyak ayat yang menyebut Yesus dengan sebutan Allah,
tetapi ada banyak orang yang tetap menolak keilahian Kristus. Mereka
mengatakan bahwa dalam Kitab Suci kata Allah sering digunakan untuk
yang bukan Allah.
Ada 2 hal yang bisa diberikan sebagai jawaban:
1. Sekalipun dalam Kitab Suci kata allah memang bisa digunakan untuk
malaikat, setan, dan bahkan manusia, tetapi kata-kata itu tidak
pernah digunakan sesering kata itu digunakan terhadap Yesus.
2. Pada saat Kitab Suci menyebut seseorang yang bukan Allah yang
sesungguhnya dengan sebutan allah, Kitab Suci selalu menunjukkan
secara jelas bahwa orang-orang itu disebut allah bukan dalam arti
seperti biasanya / yang sesungguhnya.
Contoh:
a. Kel 7:1 - Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: Lihat,
Aku mengangkat engkau sebagai Allah (ELOHIM) bagi
Firaun, dan Harun, abangmu, akan menjadi
nabimu.
Perhatikan bahwa sekalipun ayat ini menyebut Musa sebagai
Allah, tetapi ada tambahan kata-kata bagi Firaun. Dan ini
jelas menunjukkan bahwa Musa bukanlah Allah dalam arti yang
sesungguhnya.
b. Kel 12:12 - Sebab pada malam ini Aku akan menjalani
tanah Mesir, dan semua anak sulung, dari anak

manusia sampai anak binatang, akan Kubunuh, dan


kepada semua allah (ELOHEY = gods of / allah-allah dari) di
Mesir akan Kujatuhkan hukuman, Akulah, TUHAN.
Jelas bahwa kata allah di sini tidak menunjuk kepada Allah
yang sejati, karena dikatakan bahwa Allah yang sejati itu akan
menghukum semua allah ini. Jadi di sini kata itu menunjuk
kepada dewa-dewa sembahan Mesir, yang sering berupa binatang,
khususnya sapi. Pada saat Tuhan menghukum Mesir dengan
membunuh semua anak sulung, maka anak binatang (dewa / allah
mereka) juga ikut dibunuh / dihukum.
c. Kel 20:3 - Jangan ada padamu allah (ELOHIM) lain di
hadapanKu.
Adanya kata-kata lain dan di hadapanKu, membuat ayat
ini jelas menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan allah
bukanlah Allah yang sebenarnya.
Selain dalam ayat ini, dalam banyak ayat-ayat lain, kata allah
digunakan untuk menunjuk kepada dewa / berhala dari bangsabangsa kafir, dan kontextnya selalu menunjukkan secara jelas
bahwa yang dimaksud bukanlah Allah yang sesungguhnya, tetapi
hanya dewa / berhala yang dalam Kitab Suci dikatakan tidak
mempunyai existensi (1Kor 8:4-6).
d. Hak 5:8 - Ketika orang memilih allah (ELOHIM) baru,
maka
terjadilah
perang
di
pintu
gerbang.
Sesungguhnya, perisai ataupun tombak tidak
terlihat di antara empat puluh ribu orang di Israel.
Kata-kata dari ayat ini yang mengatakan bahwa orang
memilih allah baru, sudah menunjukkan bahwa kata allah
ini tidak digunakan dalam arti yang sebenarnya. Jadi ayat ini
menunjukkan bahwa orang-orang Israel memilih dewa / berhala
baru (sambil meninggalkan YAHWEH), dan sebagai akibatnya
terjadilah bencana seperti perang dan sebagainya.
e. 1Sam 28:13b: Perempuan itu menjawab Saul: Aku
melihat sesuatu yang ilahi (ELOHIM) muncul dari
dalam bumi..
KJV: gods (= allah-allah).
RSV/NWT: a god (= suatu allah).

NIV: a spirit (= suatu roh).


NASB: a divine being (= suatu makhluk yang ilahi).
Kata Ibrani yang dipakai adalah ELOHIM.
Ada 2 penafsiran tentang bagian ini:

Kata
ELOHIM
menunjuk
supranatural / gaib.

Kata ELOHIM digunakan karena arwah itu boleh dikatakan


merupakan allah dari si dukun yang memanggilnya.

kepada

penampilan

yang

Tidak peduli mana arti yang benar, yang jelas ayat itu sendiri
secara menyolok menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan
ELOHIM di sini bukanlah Allah yang sesungguhnya. Ada yang
menganggap bahwa ini betul-betul adalah roh Samuel, tetapi saya
yakin bahwa itu salah, dan bahwa ini hanyalah setan yang
menyamar sebagai roh Samuel. Jika saudara mau mempelajari hal
ini secara mendetail, bacalah buku saya yang berjudul
Penginjilan Terhadap Orang Mati.
f. Maz 82:1-8 - (1) Mazmur Asaf. Allah berdiri dalam
sidang ilahi, di antara para allah (Ibrani: ELOHIM) Ia
menghakimi:
(2)
Berapa
lama
lagi
kamu
menghakimi dengan lalim dan memihak kepada
orang fasik? Sela (3) Berilah keadilan kepada orang
yang lemah dan kepada anak yatim, belalah hak
orang sengsara dan orang yang kekurangan! (4)
Luputkanlah orang yang lemah dan yang miskin,
lepaskanlah mereka dari tangan orang fasik! (5)
Mereka tidak tahu dan tidak mengerti apa-apa,
dalam kegelapan mereka berjalan; goyanglah segala
dasar bumi. (6) Aku sendiri telah berfirman: Kamu
adalah allah (Ibrani: ELOHIM), dan anak-anak Yang
Mahatinggi kamu sekalian. - (7) Namun seperti
manusia kamu akan mati dan seperti salah seorang
pembesar kamu akan tewas. (8) Bangunlah ya Allah,
hakimilah bumi, sebab Engkaulah yang memiliki
segala bangsa.
Yang disebut ELOHIM (allah-allah) dalam ay 1 dan ay 6 itu
jelas adalah hakim-hakim yang lalim / tidak adil pada saat itu.
Sekalipun mereka disebut allah-allah (ELOHIM), tetapi mereka

jelas bukan Allah dalam arti yang sesungguhnya, dan itu terlihat
dari:

mereka ini bukan satu orang tetapi sekelompok orang,


sehingga tidak mungkin mereka adalah Allah semua, karena
akan menimbulkan polytheisme.

mereka dihakimi oleh Allah (ay 1).

mereka menghakimi dengan tidak adil (ay 2-4), dan hidup


dalam kegelapan (ay 5).

mereka akan mati sebagai manusia (ay 7).

g. Maz 95:3 - Sebab TUHAN adalah Allah yang besar, dan


Raja yang besar mengatasi segala allah (ELOHIM).
Dalam ayat ini yang disebut allah (ELOHIM) juga adalah
sekelompok orang. Ada yang menganggap mereka ini sebagai
dewa-dewa, dan ada juga yang menganggap mereka ini sebagai
malaikat-malaikat. Bahwa mereka ini sekelompok, bukan tunggal,
dan bahwa TUHAN dikatakan mengatasi mereka semua, jelas
menunjukkan bahwa pada saat kata allah (ELOHIM) diterapkan
kepada mereka, kata itu tidak digunakan dalam arti yang
sebenarnya.
h. Maz 96:4-5 - Sebab TUHAN maha besar dan terpuji
sangat, Ia lebih dahsyat dari pada segala allah
(ELOHIM). Sebab segala allah (ELOHIM) bangsa-bangsa
adalah hampa, tetapi Tuhanlah yang menjadikan
langit.
Ayat ini dengan jelas menunjukkan bahwa yang disebut allah di
sini adalah berhala-berhala / dewa-dewa.
i. Maz 138:1 - Aku hendak bersyukur kepadaMu dengan segenap
hatiku, di hadapan para allah (ELOHIM) aku akan bermazmur
bagiMu.
Calvin menganggap bahwa kata ELOHIM di sini menunjuk atau
kepada malaikat-malaikat atau kepada raja-raja; Calvin lebih
condong pada arti pertama. Siapapun yang disebut sebagai
ELOHIM di sini, jelas sekali bahwa mereka bukanlah Allah dalam
arti sesungguhnya, karena dalam ayat ini Allah yang sesungguhnya
disebut Mu, kepada siapa Daud bersyukur dan bermazmur.

j. 1Kor 8:5-6 - (5) Sebab sungguhpun ada apa yang


disebut allah (THEOI = gods / allah-allah), baik di sorga,
maupun di bumi - dan memang benar ada banyak
allah (THEOI) dan banyak tuhan yang demikian - (6)
namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu
Bapa, yang dari padaNya berasal segala sesuatu dan
yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja,
yaitu Yesus Kristus, yang olehNya segala sesuatu
telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup.
Apakah yang disebut dengan allah dalam ay 5 itu, malaikat
atau berhala, tidak jadi soal. Yang jelas kata-kata tambahan
dalam ay 6nya menunjukkan bahwa allah dalam ay 5 itu bukan
betul-betul Allah.
k. Kis 12:22 - Dan rakyatnya bersorak membalasnya: Ini
suara allah (THEOU) dan bukan suara manusia!.
Jelas bahwa ini tidak menunjuk kepada Allah yang benar, karena
kata-kata ini ditujukan kepada Herodes.
l. 2Kor 4:4 - yaitu orang-orang yang tidak percaya, yang
pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini,
sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil tentang
kemuliaan Kristus, yang adalah gambaran Allah.
Kata Yunani yang diterjemahkan ilah di sini adalah HO THEOS (=
the God / sang Allah)! Jelas bahwa di sini kata itu tidak menunjuk
kepada Allah yang sejati, tetapi menunjuk kepada setan.
m. 2Tes 2:4 - yaitu lawan yang meninggikan diri di atas
segala yang disebut atau yang disembah sebagai
Allah (THEON). Bahkan ia duduk di Bait Allah dan mau
menyatakan diri sebagai Allah (TOU THEOU).
Kontext menunjukkan bahwa ini sama sekali tidak menunjuk
kepada Allah yang sebenarnya, tetapi mungkin ini menunjuk
kepada Antikristus.
Tetapi pada waktu kata Allah digunakan untuk Yesus, Kitab Suci
tidak memberi petunjuk apapun bahwa kata itu digunakan bukan
dalam arti yang sesungguhnya, tetapi sebaliknya bahkan memberikan
keterangan yang menunjukkan bahwa Ia memang adalah Allah yang
sejati.

A. H. Strong: It is sometimes objected that the ascription


of the name God to Christ proves nothing as to his
absolute deity, since angels and even human judges are
called gods, as representing Gods authority and
executing his will. But we reply that, while it is true
that the name is sometimes so applied, it is always with
adjuncts and in connections which leaves no doubt of
its fgurative and secondary meaning. When, however,
the name is applied to Christ, it is, on the contrary,
with adjuncts and in connections which leaves no doubt
that it signifes absolute Godhead (= Kadang-kadang
diajukan keberatan yang mengatakan bahwa pemberian
nama Allah kepada Kristus tidak membuktikan apaapa berkenaan dengan keilahianNya yang mutlak,
karena malaikat-malaikat dan bahkan hakim-hakim
manusia disebut allah-allah, karena mewakili otoritas
Allah dan melaksanakan kehendakNya. Tetapi kami
menjawab bahwa sekalipun memang benar bahwa nama
itu kadang-kadang diterapkan seperti itu, itu selalu
disertai dengan tambahan / keterangan dan dalam
hubungan yang membuang semua keragu-raguan
tentang arti kiasan dan arti sekundernya. Tetapi pada
waktu nama itu diterapkan kepada Kristus, sebaliknya
itu disertai dengan tambahan / keterangan dan dalam
hubungan yang membuang semua keragu-raguan
bahwa itu menunjukkan keAllahan yang mutlak) Systematic Theology, hal 307.
Contoh:

Yoh 1:1c, yang mengatakan bahwa Firman (Yesus) itu adalah


Allah, didahului oleh kata-kata Pada mulanya adalah
Firman, yang menunjukkan kekekalan dari Firman itu, dan lalu
dilanjutkan dengan Yoh 1:3, yang menunjukkan bahwa Firman /
Yesus itu adalah Pencipta segala sesuatu!

Ro 9:5, yang menyatakan Yesus sebagai Allah, juga menambahkan


bahwa Ia ada di atas sesuatu, dan harus dipuji selama-lamanya.

Ibr 1:8, selain menyebut Anak sebagai Allah, juga mengatakan


bahwa Ia mempunyai takhta yang kekal, dan masih disusul lagi
oleh Ibr 1:10-12 yang menyatakan Anak sebagai Tuhan, dan
sebagai Pencipta, yang kekal dan yang tidak pernah berubah.

Wah 1:8, selain menyebut Yesus sebagai Tuhan Allah, juga

menyebutNya dengan sebutan Yang Mahakuasa dan Alfa


dan Omega.
2) Kitab Suci memberikan nama-nama ilahi untuk Yesus (Yes 9:5 Yer 23:5-6
Mat 1:23 2Tim 1:10 Ibr 1:8,10).
a) Yes 9:5 - Sebab seorang anak telah lahir untuk kita,
seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang
pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya
disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa,
Bapa yang Kekal, Raja Damai.
Ayat ini jelas merupakan suatu nubuat tentang Kristus, dan dalam
ayat ini Ia disebut sebagai Allah yang perkasa (Ibrani: EL
GIBOR).
Tetapi Saksi-Saksi Yehuwa justru menyerang keilahian Kristus
menggunakan ayat ini dengan berkata bahwa Kristus hanya disebut
sebagai Allah yang perkasa, sedangkan YAHWEH / YEHOVAH
disebut sebagai Allah yang mahakuasa (Ibrani: EL SHADDAI)
seperti dalam Kel 17:1.
Untuk menjawab serangan ini kita bisa melihat Yes 10:21 yang
menyebut Allah / YAHWEH / YEHOVAH dengan sebutan Allah yang
perkasa. Dalam bahasa Ibraninya digunakan istilah yang persis
sama dengan dalam Yes 9:5 yaitu EL GIBOR.
b) Yer 23:5-6 juga jelas merupakan nubuat tentang Kristus, dan dalam
ayat-ayat itu Kristus disebut sebagai TUHAN keadilan, dimana
kata TUHAN semua hurufnya ditulis dengan huruf besar. Ini
menunjukkan bahwa dalam bahasa Ibraninya digunakan kata
YAHWEH / YEHOVAH.
Ini adalah ayat-ayat yang sangat penting dalam menghadapi SaksiSaksi Yehuwa karena dalam ayat-ayat ini Yesus Kristus disebut
dengan sebutan YAHWEH / YEHOVAH.
Perlu diketahui bahwa dalam Kitab Suci kata Ibrani ADONAY (=
Tuhan / Lord - hanya huruf pertama yang menggunakan huruf besar)
bisa digunakan untuk seseorang yang bukan Allah (Misalnya dalam Yes
21:8). Demikian juga dengan kata Ibrani ELOHIM [= Allah / God(s)],
atau kata Yunani THEOS (= Allah), bisa digunakan untuk menunjuk
kepada dewa, manusia, dan bahkan setan (Misalnya: Kel 4:16 Kel 7:1
Kel 12:12 Kel 20:3,23 Hak 16:23-24 1Raja 18:27 Maz 82:1,6 Kis
28:6 2Kor 4:4).

Tetapi sebutan YAHWEH / YEHOVAH (= TUHAN / LORD) tidak pernah


digunakan untuk siapapun selain Allah, karena YAHWEH adalah
nama Allah (Kel 3:15 Yes 42:8)!
Maz 83:19 - supaya mereka tahu bahwa Engkau sajalah
yang bernama TUHAN, Yang Mahatinggi atas seluruh
bumi.
NIV menterjemahkan secara berbeda.
NIV: Let them know that you, whose name is the LORD - that you
alone are the Most High over all the earth (= Biarlah mereka
mengetahui bahwa Engkau, yang namaNya adalah TUHAN - bahwa
Engkau saja adalah Yang Maha Tinggi atas seluruh bumi).
Tetapi KJV/RSV/NASB menterjemahkan seperti Kitab Suci Indonesia.
KJV: That men may know that thou, whose name alone is JEHOVAH,
art the most high over all the earth (= Supaya manusia bisa
mengetahui bahwa Engkau sendiri yang namaNya adalah Yehovah,
adalah yang maha tinggi atas seluruh bumi).
RSV: Let them know that thou alone, whose name is the LORD, art
the Most High over all the earth (= Biarlah mereka mengetahui
bahwa Engkau saja, yang namanya adalah TUHAN, adalah Yang Maha
Tinggi atas seluruh bumi).
NASB: That they may know that Thou alone, whose name is the
LORD, Art the Most High over all the earth (= Supaya mereka bisa
mengetahui bahwa Engkau saja, yang namanya adalah TUHAN, adalah
Yang Maha Tinggi atas seluruh bumi).
Karena itu, kalau Yesus disebut dengan istilah YAHWEH / YEHOVAH,
itu jelas menunjukkan bahwa Yesus adalah Allah sendiri.
c) Dalam Mat 1:23 Yesus disebut dengan istilah Immanuel, yang artinya
adalah God with us (= Allah dengan kita).
d) 1Kor 8:4-6 menyatakan Yesus sebagai Tuhan.
1Kor 8:4-6 - (4) Tentang hal makan daging persembahan
berhala kita tahu: tidak ada berhala di dunia dan tidak
ada Allah lain dari pada Allah yang esa. (5) Sebab
sungguhpun ada apa yang disebut allah, baik di sorga,
maupun di bumi - dan memang benar ada banyak
allah dan banyak tuhan yang demikian - (6) namun

bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang
dari padaNya berasal segala sesuatu dan yang untuk
Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus
Kristus, yang olehNya segala sesuatu telah dijadikan
dan yang karena Dia kita hidup.
Orang-orang yang menolak keilahian Yesus sering menggunakan katakata hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa (ay 6) untuk
mengatakan bahwa Yesus bukan Allah. Tetapi ini merupakan suatu
argumentasi yang bodoh, karena kalau dari kata-kata tersebut
disimpulkan bahwa hanya Bapa yang adalah Allah, dan Yesus bukan
Allah, maka konsekwensinya adalah: dari kata-kata dalam ay 6b dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, kita harus
menyimpulkan bahwa hanya Yesus yang adalah Tuhan, dan Bapa
bukan Tuhan! Tentu tidak ada orang yang waras yang mau menerima
konsekwensi ini!
Jadi, penafsiran yang benar tentang text ini adalah sebagai berikut:

memang hanya ada satu Allah yaitu Bapa, tetapi karena Yesus (dan
Roh Kudus) satu dengan Bapa, maka Yesus (dan Roh Kudus) juga
adalah Allah.

memang hanya ada satu Tuhan, yaitu Yesus, tetapi karena Bapa
(dan Roh Kudus) satu dengan Yesus, maka Bapa (dan Roh Kudus)
juga adalah Tuhan.

Sekalipun Kristen mempercayai bahwa Bapa adalah Allah / Tuhan,


Yesus adalah Allah / Tuhan, dan Roh Kudus adalah Allah / Tuhan,
tetapi Kristen tidak percaya adanya 3 Allah / Tuhan!
Bandingkan dengan Pengakuan Iman Athanasius, no 7-19, yang
berbunyi sebagai berikut:
7. What the Father is, the same is the Son, and the
Holy Ghost.
8. The Father is uncreated, the Son
uncreated, the Holy Ghost uncreated. 9. The Father is
immense, the Son immense, the Holy Ghost immense.
10. The Father is eternal, the Son eternal, the Holy
Ghost eternal. 11. And yet there are not three eternals,
but one eternal. 12. So there are not three (beings)
uncreated, nor three immense, but one uncreated, and
one immense.
13. In like manner the Father is
omnipotent, the Son is omnipotent, the Holy Ghost is
omnipotent.
14. And yet there are not three
omnipotents, but one omnipotent. 15. Thus the Father

is God, The Son is God, the Holy Ghost is God. 16. And
yet there are not three Gods, but one God. 17. Thus
The Father is Lord, the Son is Lord, the Holy Ghost is
Lord. 18. And yet there are not three Lords, but one
Lord.
19. Because as we are thus compelled by
Christian verity to confess each person severally to be
God and Lord; so we are prohibited by the Catholic
religion from saying that there are three Gods or
Lords (= 7. Apa adanya Bapa itu, demikian juga
dengan Anak, dan juga Roh Kudus.
8. Bapa tidak
diciptakan, Anak tidak diciptakan, Roh Kudus tidak
diciptakan. 9. Bapa itu maha besar, Anak itu maha
besar, Roh Kudus itu maha besar. 10. Bapa itu kekal,
Anak itu kekal, Roh Kudus itu kekal. 11. Tetapi tidak
ada tiga yang kekal, tetapi satu yang kekal.
12. Demikian juga tidak ada tiga (makhluk) yang tidak
dicipta, juga tidak tiga yang maha besar, tetapi satu
yang tidak dicipta, dan satu yang maha besar.
13. Dengan cara yang sama Bapa adalah maha kuasa,
Anak adalah maha kuasa, Roh Kudus adalah maha
kuasa. 14. Tetapi tidak ada tiga yang maha kuasa,
tetapi satu yang maha kuasa. 15. Demikian juga Bapa
adalah Allah, Anak adalah Allah, Roh Kudus adalah
Allah. 16. Tetapi tidak ada tiga Allah, tetapi satu Allah.
17. Demikian pula Bapa adalah Tuhan, Anak adalah
Tuhan, dan Roh Kudus adalah Tuhan. 18. Tetapi tidak
ada tiga Tuhan, tetapi satu Tuhan.
19. Karena
sebagaimana kami didorong seperti itu oleh kebenaran
Kristen untuk mengakui setiap pribadi secara
terpisah / individuil sebagai Allah dan Tuhan; demikian
pula kami dilarang oleh agama Katolik / universal / am
untuk mengatakan bahwa ada tiga Allah atau Tuhan) A. A. Hodge, Outlines of Theology, hal 117-118.
Ada banyak sekali ayat-ayat lain yang menyatakan Yesus sebagai
Tuhan.
1. Ada orang yang berkata bahwa dalam kitab Kisah Rasul, yang
menekankan penginjilan, sehingga seharusnya menekankan Yesus
sebagai Juruselamat, ternyata hanya ada 2 x sebutan
Juruselamat untuk Yesus, yaitu dalam Kis 5:31 dan 13:23.
Tetapi Yesus disebut Tuhan sebanyak 92 x, disebut Tuhan
Yesus sebanyak 13 x, dan disebut Tuhan Yesus Kristus
sebanyak 6 x!

2. Kata Yunani KURIOS yang biasanya diterjemahkan Tuhan,


memang bisa diterjemahkan tuan. Kitab Suci bahasa Inggris
(KJV/RSV/NIV/NASB) kadang-kadang menterjemahkan Sir (=
Tuan), misalnya dalam Yoh 4:11, padahal kata itu ditujukan
kepada Yesus. Mengapa diterjemahkan demikian? Karena
kontextnya menunjukkan bahwa perempuan Samaria itu baru
bertemu dengan Yesus dan sebelumnya tidak pernah mendengar
ataupun mengenal Yesus. Jadi tidak mungkin ia tahu-tahu
menyebut Yesus dengan sebutan Tuhan.
3. Tetapi ada banyak ayat yang menyatakan Yesus betul-betul
sebagai Tuhan dan tidak mungkin diterjemahkan tuan,
seperti: Mat 7:21-22 12:8 25:37,44 Luk 2:11 5:8 6:46 Yoh 11:27
20:28
Kis 2:20,21,25,36
4:33
7:59,60
8:16
9:1,2,5,10,11,13,15,17,31 10:13,36 11:16,20,21,24 15:11,26
16:15,31
18:8,25
19:5,9,13,17
20:21,24,35
21:13
22:4,5,8,10,16 24:14 26:15 28:31 Ro 1:4,7 4:24 5:1,11,21 6:23
7:25
8:39
10:9,13
13:14
14:14
15:6,30
16:18,20,24
1Kor 1:2,3,7,8,9,10 2:8 4:4,5 5:5 6:11,14 9:1 11:23,26,27,29
12:3,5 15:31,57,58 16:23 2Kor 1:2,3,14 4:5,14 8:9 11:31
13:13 Gal 1:3,19 6:14,18 Ef 1:2,3,15,17 3:11 4:1,5 5:20
6:23,24 Fil 2:11,19 3:20 4:23 Kol 2:6 3:17 1Tes 1:1,3 2:15,19
3:11,13
4:1,2,15,16,17
5:2,9,23,28
2Tes 1:1,2,7,8,12
2:1,2,8,14,16 3:6,12,18 1Tim 1:2,12 6:3,14 2Tim 1:2,8,12,19
4:8 Filemon 3,5,25 Ibr 1:10 7:14 13:20 Yak 1:1 2:1 5:7
1Pet 1:3
3:15
2Pet 1:2,8,14,16,20
3:2,10,18 Yudas 21,25
Wah 1:8,10 14:13 22:20,21.
4. Sebutan Tuhan bagi Yesus dikontraskan dengan hamba /
budak.
Hal ini terlihat dalam banyak tempat, misalnya dalam Ro 1:1,4 (1) Dari Paulus, hamba Kristus Yesus, yang
dipanggil menjadi rasul dan dikuduskan untuk
memberitakan Injil Allah. ... (4) dan menurut Roh
kekudusan dinyatakan oleh kebangkitanNya dari
antara orang mati, bahwa Ia adalah Anak Allah yang
berkuasa, Yesus Kristus Tuhan kita. Bdk. Yak 1:1 2Pet
1:1-2 Yudas 1,4.
5. Ingat juga bahwa yang menyebut Yesus dengan sebutan Tuhan
adalah orang-orang Yahudi yang adalah bangsa monotheist,
sehingga tidak mungkin begitu sering menyebut Yesus dengan
sebutan Tuhan, seandainya Yesus bukan betul-betul Tuhan
dalam arti yang setinggi-tingginya.

W. E. Vine: The full signifcance of this association of


Jesus with God under the one appellation, Lord, is
seen when it is remembered that these men
belonged to the only monotheistic race in the world.
To associate with the Creator one known to be a
creature, however exalted, though possible to Pagan
Philosophers, was quite impossible to a Jew (= Arti
sepenuhnya dari persatuan Yesus dengan Allah di
bawah satu sebutan Tuhan ini, terlihat pada waktu
diingat bahwa orang-orang ini termasuk dalam satusatunya bangsa monotheist dalam dunia ini.
Menyatukan / menggabungkan sang Pencipta
dengan seseorang yang diketahui sebagai ciptaan,
bagaimanapun
ditinggikannya
dia,
sekalipun
merupakan sesuatu yang memungkinkan bagi ahliahli filsafat kafir, adalah mustahil bagi seorang
Yahudi) - An Expository Dictionary of New Testament Words,
hal 689.
Catatan: bangsa Yahudi memang adalah satu-satunya bangsa
monotheist di dunia pada saat itu.
e) Dalam Perjanjian Lama, sebutan Juruselamat dan Penebus /
Penolong ditujukan kepada Allah (Yes 43:3,11 Yes 45:15 Yer 14:8
Hos 13:4), tetapi dalam Perjanjian Baru, sebutan itu ditujukan
kepada Yesus (2Tim 1:10
Tit 1:4
Tit 2:13
Tit 3:6
2Pet 1:11
2Pet 2:20 2Pet 3:18).
3) Kitab Suci menunjukkan bahwa Yesus mempunyai sifat-sifat ilahi seperti:
a) Kekal (Mikha 5:1b Yoh 1:1 Yoh 8:58 Yoh 10:10 Yoh 17:5 Ibr 1:11-12
Wah 1:8,17-18 Wah 22:13).

Mikha 5:1b, yang jelas merupakan suatu nubuat tentang Kristus,


mengatakan yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala.

Yoh 1:1 mengatakan bahwa Firman / Yesus itu sudah ada pada
mulanya.

Yoh 8:58 mengatakan bahwa Yesus sudah ada sebelum Abraham,


padahal Abraham hidup lebih dari 2000 tahun sebelum Kristus
lahir.

Yoh 10:10, dan banyak ayat Kitab Suci yang lain, mengatakan

bahwa Yesus datang. Ini menunjuk pada saat kelahiran Yesus.


Tidak dikatakan dilahirkan tetapi datang, karena datang
menunjukkan bahwa Ia sudah ada sebelum saat itu.

Yoh 17:5 mengatakan bahwa Yesus memiliki kemuliaan di hadapan


hadirat Allah sebelum dunia ada.

Ibr 1:11-12.
Perhatikan kata-kata semuanya itu akan binasa, tetapi
Engkau tetap ada. ... tetapi Engkau tetap sama, dan
tahun-tahunMu tidak berkesudahan.
Bahwa bagian ini menunjuk kepada Yesus adalah sesuatu yang
jelas, karena Ibr 1:10-12 merupakan sambungan dari Ibr 1:8-9
(dihubungkan oleh kata dan pada awal Ibr 1:10), dan Ibr 1:8
berkata tentang Anak.

Wah 1:8 dan Wah 22:13 menyebut Yesus sebagai Alfa dan Omega
(huruf pertama dan terakhir dalam abjad Yunani), dan Wah 1:17
dan Wah 22:13 mengatakan bahwa Ia adalah Yang Awal dan
Yang Akhir, dan Wah 22:13 juga mengatakan bahwa Yesus
adalah Yang pertama dan Yang terkemudian, dan
semua ini jelas menunjukkan bahwa Ia ada dari selama-lamanya
sampai selama-lamanya. Lalu Wah 1:18 mengatakan bahwa Ia
hidup sampai selama-lamanya.

b) Suci / tak berdosa (2Kor 5:21 Ibr 4:15).


c) Mahakuasa.
Mujijat-mujijat yang Ia lakukan, seperti membangkitkan orang mati,
menyembuhkan orang sakit, memberi makan 5000 orang lebih dengan
5 roti dan 2 ikan, menenangkan badai, mengubah air menjadi anggur,
berjalan di atas air, mengusir setan, dsb, menunjukkan kemahakuasaanNya.
Memang nabi-nabi dan rasul-rasul tertentu juga melakukan banyak
mujijat, tetapi ada beberapa perbedaan:

Tidak ada nabi / rasul yang bisa melakukan mujijat sesuai


kehendaknya sendiri, tetapi Kristus bisa (Yoh 5:21).

Nabi melakukan mujijat bukan dengan kuasanya sendiri tetapi


dengan kuasa Allah, sedangkan rasul juga demikian karena mereka

melakukan mujijat dengan menggunakan nama Yesus. Tetapi Yesus


melakukan mujijat dengan kuasaNya sendiri (bdk. Yoh 10:18), dan
Ia tidak pernah menggunakan nama orang lain untuk melakukan
mujijat.

Tidak ada seorangpun pernah melakukan mujijat sebanyak /


sehebat yang Yesus lakukan (Yoh 15:24).

d) Mahatahu (Mat 9:4 Mat 12:25 Yoh 2:24-25 Yoh 6:64).


e) Mahaada.

Ini terlihat dari Yoh 1, yang mula-mula menyatakan bahwa


Firman / Yesus itu pada mulanya bersama-sama dengan Allah
(Yoh 1:1), tetapi lalu menunjukkan bahwa Firman / Yesus itu lalu
menjadi manusia dan diam di antara kita (Yoh 1:14). Tetapi
anehnya Yoh 1:18 mengatakan bahwa Firman / Yesus itu masih ada
di pangkuan Bapa (Yoh 1:18 NIV: ... but God the only Son, who is
at the Fathers side ...).
Catatan: kata pangkuan sebetulnya salah terjemahan. NASB:
bosom (= dada).

Kemahaadaan Yesus juga jelas terlihat dari janji yang Ia berikan


dalam Mat 18:20 dan Mat 28:20b. Dengan adanya janji seperti itu,
kalau Ia tidak mahaada, maka Ia pasti adalah seorang pendusta!

f) Tidak berubah (Ibr 13:8).


4) Kitab Suci menunjukkan bahwa Yesus melakukan pekerjaan-pekerjaan
ilahi seperti:
a) Penciptaan (Yoh 1:3,10 Kol 1:16 Ibr 1:2,10).
b) Pengampunan dosa (Mat 9:2-7).
c) Penghancuran segala sesuatu (Ibr 1:10-12).
d) Pembaharuan segala sesuatu (Fil 3:21 Wah 21:5).
e) Penghakiman pada akhir jaman (Mat 25:31-32 Yoh 5:22,27).
Bahwa Yesus akan menjadi Hakim pada akhir jaman, menunjukkan
bahwa Ia juga adalah Allah sendiri. Mengapa?

Jumlah manusia yang pernah hidup dalam dunia ini sejak jaman
Adam dan Hawa sampai kedatangan Kristus yang kedua-kalinya
adalah begitu banyak.
Kalau Kristus bukanlah Allah sendiri, bagaimana mungkin Ia bisa
menghakimi begitu banyak manusia itu dengan adil?

Karena ada begitu banyaknya faktor yang harus dipertimbangkan


dalam menjatuhkan hukuman kepada orang-orang berdosa (ingat
bahwa neraka bukanlah semacam masyarakat komunis dimana
hukuman semua orang sama), seperti:

banyaknya dosa yang dilakukan seseorang. Orang yang dosanya


sedikit tentu tidak bisa disamakan hukumannya dengan orang
yang dosanya banyak.

tingkat dosanya.
Misalnya, dosa membunuh dan mencuri tentu tidak sama
hukumannya (bdk. Kel 21:12 dan Kel 22:1).

tingkat pengetahuannya.
Makin banyak pengetahuan Firman Tuhan yang dimiliki
seseorang, makin berat hukumannya kalau ia berbuat dosa
(Luk 12:47-48).

kesengajaannya.
Dosa sengaja dan tidak
hukumannya (Kel 21:12-14).

sengaja

tentu

juga

berbeda

pengaruh dosa yang ditimbulkan.


Kalau seseorang yang mempunyai kedudukan tinggi dalam
gereja berbuat dosa, maka pengaruh negatif yang ditimbulkan
akan lebih besar dari pada kalau orang kristen biasa berbuat
dosa. Dan karena itu hukumannya juga lebih berat. Hal ini bisa
terlihat dari kata-kata Yesus yang menunjukkan bahwa para
ahli Taurat pasti akan menerima hukuman yang lebih berat
(Mark 12:40b Luk 20:47b).

apa yang menyebabkan seseorang berbuat dosa.

Seseorang yang mencuri tanpa ada pencobaan yang terlalu


berarti tentu lebih berat dosanya dari pada orang yang
mencuri karena membutuhkan uang untuk mengobati anaknya
yang hampir mati. Hal ini bisa terlihat dari ayat-ayat Kitab Suci
yang mengecam orang-orang yang melakukan dosa tanpa sebab
/ alasan, seperti dalam Maz 35:19 Maz 69:5 Maz 119:78,86.
Juga dari ayat-ayat Kitab Suci yang mengecam orang yang
mencintai / mencari dosa, seperti Maz 4:3.

Demikian juga pada saat mau memberi pahala kepada orang-orang


yang benar, pasti ada banyak hal yang harus dipertimbangkan,
seperti:

banyaknya perbuatan baik yang dilakukan.

jenis perbuatan baik yang dilakukan.

besarnya pengorbanan pada waktu melakukan perbuatan baik.


Yesus berkata bahwa janda yang memberi 2 peser memberi
lebih banyak dari semua orang kaya yang memberi
persembahan besar, karena janda itu memberikan seluruh
nafkahnya (Luk 21:1-4).

motivasinya dalam melakukan perbuatan baik itu, dsb.

Untuk bisa melakukan semua hal-hal di atas ini dengan benar /


adil, maka Hakim itu haruslah seseorang yang maha tahu, maha
bijaksana dan maha adil, dan karena itu Ia harus adalah Allah
sendiri!
Charles Hodge: As Christ is to be the judge, as all men are
to appear before him, as the secrets of the hearts are to
be the grounds of judgment, it is obvious that the
sacred writers believed Christ to be a divine person, for
nothing less than omniscience could qualify any one
for the office here ascribed to our Lord (= Karena
Kristus akan menjadi Hakim, karena semua orang akan
menghadap di hadapanNya, karena rahasia dari hati
adalah dasar penghakiman, jelaslah bahwa penulispenulis sakral / kudus percaya bahwa Kristus adalah
Pribadi ilahi, karena hanya kemaha-tahuan yang bisa
memenuhi syarat bagi siapapun untuk jabatan / tugas
yang di sini dianggap sebagai milik Tuhan kita) - I & II
Corinthians, hal 501.

Karena itu adalah sesuatu yang aneh kalau ada orang-orang yang
percaya bahwa Yesus akan menjadi Hakim pada akhir jaman,
tetapi tidak mempercayai bahwa Yesus adalah Allah sendiri!
5) Kitab Suci memberikan kehormatan ilahi kepada Yesus seperti:
a) Penghormatan (Yoh 5:23).
b) Kepercayaan (Yoh 14:1).
c) Pengharapan (1Kor 15:19).
d) Penyejajaran namaNya dengan pribadi-pribadi
Tritunggal (Mat 28:19 2Kor 13:13).

lain

dari Allah

6) Daud menyebut Yesus, yang adalah keturunannya, sebagai Tuhan.


Mat 22:41-46 - (41) Ketika orang-orang Farisi sedang
berkumpul, Yesus bertanya kepada mereka, kataNya: (42)
Apakah pendapatmu tentang Mesias? Anak siapakah
Dia? Kata mereka kepadaNya: Anak Daud. (43) KataNya
kepada mereka: Jika demikian, bagaimanakah Daud oleh
pimpinan Roh dapat menyebut Dia Tuannya, ketika ia
berkata: (44) Tuhan telah berfirman kepada Tuanku:
duduklah di sebelah kananKu, sampai musuh-musuhMu
Kutaruh di bawah kakiMu. (45) Jadi jika Daud menyebut
Dia Tuannya, bagaimana mungkin Ia anaknya pula? (46)
Tidak ada seorangpun yang dapat menjawabNya, dan
sejak hari itu tidak ada seorangpun juga yang berani
menanyakan sesuatu kepadaNya.
Text yang dimaksudkan oleh Yesus adalah Maz 110:1 - Mazmur
Daud. Demikianlah firman TUHAN kepada tuanku:
Duduklah di sebelah kananKu, sampai Kubuat musuhmusuhmu menjadi tumpuan kakimu..
Catatan: dalam Maz 110:1, RSV menterjemahkan lord (= tuhan / tuan),
tetapi KJV/NIV/NASB menterjemahkan Lord (= Tuhan). Sedangkan
dalam Mat 22:43,44,45, KJV/RSV/NIV/NASB semua menterjemahkan
Lord (= Tuhan).
Jelas bahwa terjemahan yang benar adalah Lord (= Tuhan), karena
dalam Mat 22:41-46 itu jelas bahwa Yesus sedang berusaha untuk
membuktikan keilahianNya kepada orang-orang Yahudi.

H. P. Liddon: Davids Son is Davids Lord. ... David describes


his great descendant Messiah as his Lord (Psa. 110:1). ...
He is Davids descendant; the Pharisees knew that truth.
But He is also Davids Lord. How could He both if He was
merely human? The belief of Christendom can alone
answer the question which our Lord addressed to the
Pharisees. The Son of David is Davids Lord because He is
God; the Lord of David is Davids Son because He is God
incarnate [= Anak dari Daud adalah Tuhan dari
Daud. ... Daud menggambarkan keturunannya yang
agung, Mesias, sebagai Tuhannya (Maz 110:1). ... Ia
adalah
keturunan
dari
Daud;
orang-orang
Farisi
mengetahui kebenaran itu. Tetapi Ia juga adalah Tuhan
dari Daud. Bagaimana Ia bisa adalah keduanya jika Ia
hanya manusia semata-mata? Hanya kepercayaan dari
orang-orang kristen yang bisa menjawab pertanyaan yang
ditujukan oleh Tuhan kita kepada orang-orang Farisi.
Anak dari Daud adalah Tuhan dari Daud karena Ia
adalah Allah; Tuhan dari Daud adalah Anak dari Daud
karena Ia adalah Allah yang berinkarnasi / menjadi
manusia] - The Divinity of the Lord and Saviour Jesus Christ, hal 43.
7) KesatuanNya dengan Bapa seperti yang dinyatakan oleh ayat-ayat seperti
Yoh 10:30 dan Yoh 14:7-11, jelas menunjukkan keilahian Yesus.
Penafsiran Saksi Yehovah, yang mengatakan bahwa ayat-ayat ini hanya
memaksudkan kesatuan pikiran atau tujuan, merupakan penafsiran yang
tidak sesuai dengan kontex, karena kalau kita lihat Yoh 10:31 terlihat
bahwa orang-orang Yahudi itu lalu mau merajam Yesus dengan batu.
Mengapa? Jelas karena mereka mengerti bahwa maksud Yesus bukannya
menyatakan kesatuan pikiran / tujuan, tetapi kesatuan hakekat. Ini
mereka anggap sebagai penghujatan terhadap Allah, dan karenanya
mereka mau merajam Yesus. Ini terlihat dengan lebih jelas dari
Yoh 10:33 dimana mereka mengatakan: Bukan karena suatu
pekerjaan baik maka kami mau melempari Engkau,
melainkan karena Engkau menghujat Allah dan karena
Engkau,
sekalipun
hanya
seorang
manusia
saja,
menyamakan diriMu dengan Allah.
Dalam tafsirannya tentang Yoh 17:10 (dan segala milikKu adalah
milikMu dan milikMu adalah milikKu), Calvin memberikan
suatu penerapan yang indah tentang kesatuan Bapa dan Anak dalam
hidup / iman kita.
Calvin: All these things are spoken for the confrmation of
our faith. We must not seek salvation anywhere else than

in Christ. But we shall not be satisfed with having Christ,


if we do not know that we possess God in him. We must
therefore believe that there is such unity between The
Father and the Son as makes it impossible that they shall
have anything separate from each other (= Semua halhal ini dikatakan untuk meneguhkan iman kita. Kita tidak
boleh mencari keselamatan di tempat lain manapun juga
selain di dalam Kristus. Tetapi kita tidak akan puas
dengan memiliki Kristus, jika kita tidak mengetahui
bahwa kita memiliki Allah dalam Dia. Karena itu kita
harus percaya bahwa ada suatu kesatuan sedemikian rupa
antara Bapa dan Anak sehingga membuatnya mustahil
bahwa yang satu mempunyai apapun terpisah dari yang
lainnya) - hal 174.
8) Yesus sendiri mengakui bahwa Ia adalah Allah / Anak Allah (Yoh 5:23
Yoh 10:30 Yoh 14:7-10 Yoh 15:23 Mat 26:63-64).
Catatan: Pengakuan Yesus sebagai Anak Allah, tidak perlu dan tidak boleh
dibedakan dengan pengakuan sebagai Allah. Untuk itu lihat Yoh 5:18 yang
berbunyi: Sebab itu orang-orang Yahudi lebih berusaha
lagi untuk membunuhNya, bukan saja karena Ia
meniadakan hari Sabat, tetapi juga karena Ia mengatakan
bahwa Allah adalah BapaNya sendiri dan dengan
demikian menyamakan diriNya dengan Allah.
Memang kalau seseorang mengaku bahwa dirinya adalah Allah / Anak
Allah, itu tidak / belum berarti bahwa ia memang betul-betul adalah
Allah. Bisa saja bahwa ia adalah seorang pendusta. Tetapi Yesus bukan
hanya mengaku bahwa diriNya adalah Allah / Anak Allah, tetapi Ia juga
rela mati demi pengakuan tersebut!
Ada seorang penulis buku yang menggunakan hal ini untuk membuktikan
keilahian Yesus dengan cara sebagai berikut:
Yesus = Allah / Anak Allah

Tidak benar
Benar

Tahu
Tidak tahu

Pendusta

Orang gila

Orang tolol

Allah

Anak Allah

Keterangan: Yesus mengaku sebagai Allah / Anak Allah, dan Ia mau mati
untuk pengakuan itu.
Ada 2 kemungkinan tentang pengakuan itu, yaitu: TIDAK BENAR atau
BENAR.
Kalau pengakuan itu TIDAK BENAR, maka ada 2 kemungkinan lagi yaitu:
Yesus TAHU bahwa pengakuanNya tidak benar, atau Yesus TIDAK TAHU
bahwa pengakuanNya tidak benar.
Kalau Yesus tahu bahwa pengakuannya tidak benar, maka Ia pasti adalah
seorang PENDUSTA, bahkan ORANG TOLOL (karena Ia mau mati untuk
suatu dusta).
Kalau Yesus tidak tahu bahwa pengakuanNya tidak benar, maka Ia pasti
adalah ORANG GILA, karena hanya orang gila yang tidak mengerti apa
yang Ia sendiri katakan.
Kalau pengakuan Yesus tersebut adalah BENAR, maka Yesus adalah ALLAH
/ ANAK ALLAH.
Jadi sekarang, hanya ada beberapa pilihan untuk saudara:
(1) Yesus adalah pendusta / orang tolol.
(2) Yesus adalah orang gila.
(3) Yesus betul-betul adalah Allah / Anak Allah.
Yang mana yang menjadi pilihan saudara?
C.S. Lewis berkata: A man who was merely a man and said
the sort of things Jesus said wouldnt be a great moral
teacher. Hed either be a lunatic ... or else hed be the
Devil of Hell. You must make your choice. Either this man
was, and is, the Son of God, or else a madman or
something worse (= seseorang yang adalah semata-mata
seorang manusia dan mengucapkan hal-hal seperti yang
Yesus katakan, bukanlah seorang guru moral yang agung.
Atau ia adalah seorang gila ... atau ia adalah Iblis dari
Neraka. Kamu harus menentukan pilihanmu. Atau orang

ini adalah Allah, baik dulu maupun sekarang, atau ia


adalah orang gila atau sesuatu yang lebih jelek lagi).
Banyak orang yang mempercayai Yesus hanya sebagai nabi, orang yang
baik / saleh, dsb, tetapi mereka tidak mempercayai bahwa Yesus
adalah Allah. Tetapi penjelasan di atas ini menunjukkan bahwa tidak
ada kemungkinan bahwa Ia adalah nabi atau orang baik. Atau Ia
adalah Allah sendiri, atau Ia adalah orang yang sangat brengsek!
9) Setan mengakui bahwa Yesus adalah Allah / Anak Allah dan setan tunduk
kepada Yesus (Mat 8:28-32).
10)Kitab Suci memerintahkan penyembahan terhadap Yesus.
Dalam Ibr 1:6 Allah sendiri berkata bahwa malaikat-malaikat harus
menyembah Anak / Yesus.
Yesus sendiri mau disembah dan disebut Tuhan / Allah (Mat 14:33 Mat
28:9,17 Yoh 9:38 Yoh 20:28), padahal Yesus sendiri berkata bahwa kita
hanya boleh menyembah Allah (Mat 4:10).
Perhatikan juga bahwa:

rasul-rasul menolak sembah (Kis 10:25-26 Kis 14:14-18).

malaikatpun menolak sembah, dan berusaha mengalihkan sembah itu


kepada Allah (Wah 19:10 Wah 22:8-9).

Herodes dihukum mati oleh Tuhan karena menerima penghormatan


ilahi (Kis 12:20-23).

Karena itu, kalau Yesus menerima sembah, dan bahkan menerima


sebutan Tuhan / Allah bagi diriNya, maka hanya ada 2 pilihan: atau Dia
adalah orang yang kurang ajar / nabi palsu, atau Dia adalah Allah
sendiri! Yang mana yang saudara pilih?

II) Kristus adalah sungguh-sungguh manusia.


Bukti-bukti kemanusiaan Kristus:
1) Ia disebut orang / seorang manusia (Yoh 8:40 Kis 2:22 Ro 5:15 1Kor
15:21).
2) Ia menyebut diriNya sendiri Anak Manusia (Mat 24:44).

3) Kitab Suci mengatakan bahwa Ia telah menjadi manusia / daging


(Yoh 1:14 1Tim 3:16 Ibr 2:14 1Yoh 4:2).
Semua ayat-ayat ini sebetulnya terjemahan hurufiahnya menggunakan
kata daging. Ini merupakan suatu synecdoche (= gaya bahasa dimana
yang sebagian mewakili seluruhnya), dan karena itu kata daging ini
bukan hanya menunjuk pada daging / tubuh manusia, tetapi pada
seluruh manusia. Dengan demikian ayat-ayat tersebut tidak boleh
diartikan bahwa Kristus hanya mempunyai tubuh manusia tetapi tidak
mempunyai jiwa / roh manusia.
4) Kitab Suci menggambarkan Kristus sebagai seseorang yang:
a) Mempunyai tubuh (darah, daging, dan tulang) dan jiwa / roh.

Bahwa Kristus betul-betul mempunyai tubuh (darah, daging,


tulang) ditunjukkan oleh ayat-ayat seperti Mat 26:26,28
Luk 24:39 Ibr 2:14.

Bahwa Kristus mempunyai jiwa / roh ditunjukkan oleh:

ayat-ayat seperti Mat 26:38 Mat 27:50 Luk 23:46 Yoh 11:33
Yoh 12:27 Yoh 13:21 1Yoh 3:16.
Dalam Mat 26:38 kata hati seharusnya adalah jiwa (bahasa
Yunani: PSUCHE).
Dalam Mat 27:50 dan Luk 23:46, kata nyawa seharusnya
adalah roh (bahasa Yunani: PNEUMA).
Dalam Yoh 11:33 kata hati seharusnya adalah roh.
Dalam Yoh 12:27 Kitab Suci Indonesia memberikan terjemahan
yang benar, yaitu jiwaKu.
Dalam Yoh 13:21 terjemahan hurufiahnya adalah:
troubled in spirit (= terganggu / susah dalam roh).

was

Dalam 1Yoh 3:16 kata nyawa seharusnya adalah jiwa.

adanya pikiran manusia (Mat 24:36 Luk 2:40,52), perasaan


manusia (Mat 8:10 Mat 9:36 Mat 26:37,38 Mark 3:5 Mark 6:6
Luk 7:9 Yoh 11:33,35 Yoh 12:27), dan kehendak manusia
(Mat 26:39). Ini semua jelas menunjukkan adanya jiwa / roh

manusia.
b) Mengalami pertumbuhan / perkembangan (Luk 2:40,52).
c) Mengalami segala sesuatu yang dialami oleh manusia-manusia yang
lain (kecuali dalam hal melakukan dosa), seperti: lahir (Luk 2:7),
lapar (Mat 4:2), haus (Yoh 4:7 Yoh 19:28), letih (Yoh 4:6), tidur
(Mat 8:24), penderitaan (Ibr 2:10,18 Ibr 5:8), dan mati (Yoh 19:30).
5) Ayat-ayat seperti Ro 8:3 Fil 2:7-8 Ibr 2:14-17 jelas menunjukkan bahwa
Yesus sungguh-sungguh adalah manusia.
Keberatan terhadap kemanusiaan Yesus dan jawabannya:
1) Ada orang yang mengatakan bahwa kalau Yesus adalah manusia yang
suci, maka sebetulnya Ia bukan manusia, karena semua manusia
berdosa. Untuk ini perlu diketahui bahwa dosa tidak termasuk dalam
hakekat manusia. Sebelum jatuh ke dalam dosa, Adam dan Hawa sudah
adalah manusia!
2) Ada juga yang mengatakan bahwa Yesus bukanlah manusia yang sama
seperti kita karena dalam pembuahannya tidak digunakan air mani lakilaki. Untuk menjawab serangan ini, kita bisa menunjuk pada Adam dan
Hawa, yang dalam pembentukannya juga tidak menggunakan air mani
laki-laki. Bahkan boleh dikatakan bahwa dalam pembentukan mereka
tidak ada pembuahan apapun. Tetapi mereka tetap adalah manusia
sungguh-sungguh, sama seperti kita.
Seseorang pernah berkata bahwa Allah bisa dan pernah mencipta
manusia dengan 4 cara:
a) Tanpa menggunakan laki-laki ataupun perempuan - yaitu pada waktu
Ia menciptakan Adam.
b) Tanpa menggunakan perempuan, tetapi menggunakan laki-laki - yaitu
pada waktu Ia menciptakan Hawa.
c) Tanpa menggunakan laki-laki, tetapi menggunakan perempuan - yaitu
pada waktu Ia menciptakan manusia Yesus.
d) Dengan menggunakan laki-laki dan perempuan - yaitu pada waktu Ia
menciptakan semua manusia selain Adam, Hawa, dan manusia Yesus.
Jadi kesimpulannya adalah: bahwa manusia Yesus diciptakan oleh Allah
hanya dengan menggunakan seorang perempuan, tidak menyebabkan Ia
bukanlah manusia yang sejati.

Catatan: Sesuatu yang penting sekali untuk diwaspadai / diperhatikan


adalah: Ada banyak ayat yang menunjukkan keilahian Kristus, dan ada
banyak ayat yang menunjukkan kemanusiaan Kristus. Kita tidak boleh
menggunakan ayat-ayat yang menunjukkan keilahian Kristus untuk
membuktikan bahwa Ia bukanlah manusia, dan kita juga tidak boleh
menggunakan ayat-ayat yang menunjukkan kemanusiaan Kristus untuk
membuktikan bahwa Ia bukanlah Allah!
Orang-orang Saksi Yehovah sering melakukan kesalahan ini dimana mereka
menggunakan ayat-ayat yang menunjukkan kemanusiaan Kristus untuk
membuktikan bahwa Kristus bukanlah Allah.
Misalnya:

Mat 24:36 yang menunjukkan pikiran manusia yang terbatas dalam diri
Yesus, dipakai sebagai bukti bahwa Yesus bukanlah Allah.

Yoh 14:28 yang jelas juga menekankan Yesus sebagai manusia (pikiran
manusialah yang saat itu timbul) dipakai untuk membuktikan bahwa
Yesus bukanlah Allah, atau bahwa Yesus lebih rendah dari pada Allah.

Ibr 5:8 yang mengatakan bahwa Yesus telah belajar menjadi taat dari
apa yang telah dideritaNya, yang jelas juga menunjukkan Yesus sebagai
manusia, dipakai untuk menunjukkan bahwa Yesus bukanlah Allah,
karena Allah tak perlu belajar.

Mat 4:1-11 yang menunjukkan bahwa Yesus dicobai, dipakai sebagai


dasar untuk mengatakan bahwa Yesus bukanlah Allah, karena Allah tidak
bisa dicobai (bdk. Yak 1:13).

Ayat-ayat yang menunjukkan bahwa Yesus berdoa, juga mereka pakai


untuk membuktikan bahwa Ia bukanlah Allah, karena Allah tidak perlu
berdoa.

Illustrasi: Saya adalah seorang pendeta, tetapi pada saat yang sama saya
juga adalah seorang olahragawan. Kadang-kadang saya memakai toga dan
memimpin Perjamuan Kudus, sehingga saya terlihat sebagai pendeta. Tetapi
kadang-kadang saya memakai celana pendek, kaos, dan sepatu olah raga,
sehingga saya terlihat sebagai olahragawan. Tidak ada orang yang pada
waktu melihat saya memakai toga, menganggap itu sebagai bukti bahwa
saya bukan olahragawan, dan sebaliknya, pada waktu melihat saya memakai
pakaian olah raga, menganggap itu sebagai bukti bahwa saya bukan
pendeta!

Analoginya, karena Yesus adalah Allah dan manusia, maka kita tidak boleh
menggunakan ayat-ayat yang menunjukkan keilahian Yesus untuk
membuktikan bahwa Ia bukan manusia, atau menggunakan ayat-ayat yang
menunjukkan kemanusiaan Yesus untuk membuktikan bahwa Ia bukan Allah!
Herschel H. Hobbs: It is just as great a heresy to deny His
humanity
as
to
deny
His
deity
(=
Menyangkal
kemanusiaanNya adalah sama sesatnya dengan menyangkal
keilahianNya) - The Epistles of John, hal 21.

III) Pentingnya keilahian Kristus.


1) Supaya Ia bisa taat sempurna kepada BapaNya.
Ini penting karena kalau Ia jatuh ke dalam dosa 1 x saja, maka Ia tidak
mungkin menebus dosa kita.
2) Supaya pengorbanan / kematianNya mempunyai nilai penebusan yang
tak terbatas.
Logikanya, kalau Ia hanya seorang manusia biasa, maka paling-paling
kematianNya hanya bisa menebus seorang manusia. Bahkan sebetulnya
tidak ada manusia bisa menebus manusia yang lain. Hal ini dinyatakan
dalam Maz 49:8-9. Tetapi karena dalam Kitab Suci bahasa Indonesia ada
kesalahan penterjemahan, maka di sini saya memberikan terjemahan
NIV.
Ps 49:6-7 (NIV): No man can redeem the life of another, or give to God
a ransom for him; the ransom for a life is costly, no payment is ever
enough (= tidak seorang manusiapun bisa menebus nyawa orang lain,
atau memberikan kepada Allah tebusan untuk dia; tebusan untuk suatu
nyawa sangat mahal, tidak ada pembayaran yang bisa mencukupi).
Charles Hodge: This perfection of the satisfaction of Christ,
as already remarked, is not due to his having suffered
either in kind or in degree what the sinner would have
been required to endure; but principally to the infnite
dignity of his person. He was not a mere man, but God
and man in one person (= Kesempurnaan dari penebusan
Kristus, seperti yang telah dinyatakan, tidak berkaitan
dengan penderitaanNya baik dalam macam atau tingkatan
yang
seharusnya
orang
berdosa
dituntut
untuk
memikulnya, tetapi secara prinsip berkaitan dengan
martabat pribadiNya yang tak terbatas. Dia bukan sesosok

manusia belaka tetapi Allah dan manusia dalam satu


pribadi) - Systematic Theology, vol II, hal 483.
3) Supaya pada waktu Allah menimpakan hukuman umat manusia kepada
Yesus, Ia tidak bertindak tidak adil.
Kalau Yesus hanya seorang manusia biasa, dan Allah menimpakan
hukuman umat manusia kepada Yesus, maka Allah jelas telah bertindak
tidak adil, karena Ia menghukum seseorang karena dosa orang lain.
Tetapi karena Yesus adalah Allah sendiri, maka Allah tetap adil, karena
pada waktu Ia menimpakan hukuman umat manusia kepada Yesus, pada
hakekatnya Ia menimpakan hukuman itu kepada diriNya sendiri.

IV) Pentingnya kemanusiaan Yesus.


1) Yang berbuat dosa adalah manusia, dan karena itu hukumannya harus
ditanggung oleh seorang manusia. Karena itulah Kristus harus menjadi
seorang manusia yang sama seperti kita (Ro 8:3 Ibr 2:14-17) yang
mempunyai tubuh dan jiwa / roh (pikiran, perasaan, kehendak).
Gregory Nazianzus: For that which is not taken up is not
healed (= karena apa yang tidak diambil, tidak
disembuhkan).
Cyril of Alexandria: That which is not assumed is not saved
(= apa yang tidak diambil, tidak diselamatkan).
Tetapi Kristus haruslah menjadi seorang manusia yang suci, karena kalau
Ia sendiri berdosa, Ia tidak bisa menebus dosa kita (Ibr 7:26-27).
2) Supaya bisa menjadi pengantara antara Allah dan manusia (1Tim 2:5).
3) Supaya Ia bisa merasakan pencobaan dan penderitaan yang dialami oleh
manusia. Dengan demikian Ia bisa bersimpati terhadap manusia yang
menderita dan dicobai dan bisa menolong mereka (Ibr 2:17-18 Ibr 4:15).
William G.T. Shedd: Previous to the assumption of a human
nature, the Logos could not experience a human feeling
because he had no human heart, but after the assumption
he could; previous to the incarnation, he could not have a
fnite perception because he had no fnite intellect, but
after this event he could; ... The unincarnate Logos could
think and feel only like God; he had only one form of
consciousness. The incarnate Logos can think and feel
either like God, or like man; he has two modes or forms of

consciousness (= sebelum mengambil hakekat manusia,


Logos tidak bisa mengalami perasaan manusia karena Ia
tidak mempunyai hati manusia, tetapi setelah mengambil
hakekat manusia Ia bisa; sebelum inkarnasi, Ia tidak bisa
mempunyai pengertian yang terbatas karena Ia tidak
mempunyai pikiran yang terbatas, tetapi setelah peristiwa
itu Ia bisa; ... Logos yang tidak / belum berinkarnasi bisa
berpikir dan merasa hanya sebagai Allah; Ia hanya
mempunyai satu bentuk kesadaran. Logos yang berinkarnasi bisa berpikir dan merasa, atau seperti Allah, atau
seperti manusia; Ia mempunyai dua bentuk kesadaran) Shedds Dogmatic Theology, vol II, hal 267.
Matthew Poole memberikan komentar tentang Ibr 2:18 sebagai berikut:
He had the mercies of God before, and as if that were not
enough, the tempted nature of man, to soften his heart to
pity his brethren in their suffering and temptations (=
sebelumnya Ia sudah mempunyai belas kasihan Allah, dan
seakan-akan itu belum cukup, sekarang Ia mempunyai
hakekat manusia yang telah dicobai, untuk melunakkan /
melembutkan hatiNya supaya Ia mengasihani saudarasaudaraNya dalam penderitaan dan pencobaan mereka).
4) Supaya Ia bisa menjadi teladan bagi manusia (Mat 11:29 Yoh 13:14-15
Fil 2:5-8 Ibr 12:2-4 1Pet 2:21).
Kalau Ia tetap sebagai Allah, maka bagaimanapun sucinya Ia hidup, Ia
tidak bisa menjadi teladan bagi manusia, karena manusia tidak bisa
melihat Dia. Tetapi dengan Ia sudah menjadi manusia, maka manusia
bisa melihat kehidupanNya yang suci dan meneladaninya.

V) Kristus: 1 person / pribadi dengan 2 natures / hakekat.


A) Istilah Person dan Nature.
1) Mengapa digunakan istilah-istilah seperti person (= pribadi) dan
nature (= hakekat), padahal istilah-istilah tersebut tidak ada dalam
Kitab Suci?
Calvin (pada waktu ia berbicara tentang Allah Tritunggal dalam Yoh
1:1-2) menjawab pertanyaan tersebut sebagai berikut:
And yet the ancient writers of the Church were
excusable, when, fnding that they could not in any

other way maintain sound and pure doctrine in


opposition
to
the
perplexed
and
ambiguous
phraseology of the heretics, they were compelled to
invent some words, which after all had no other
meaning than what is taught in the Scriptures. They
said that there are three Hypostases, or Subsistences,
or Persons, in the one and simple essence of God (=
dan penulis-penulis kuno dari gereja bisa dibenarkan,
karena pada waktu mereka melihat bahwa tidak ada
jalan lain untuk mempertahankan doktrin yang sehat
dan murni untuk menentang penyusunan kata yang
membingungkan dan berarti dua dari orang-orang
sesat, maka mereka terpaksa menciptakan beberapa
kata-kata, yang sebetulnya tidak mempunyai arti lain
dari pada apa yang diajarkan dalam Kitab Suci. Mereka
berkata bahwa ada tiga pribadi dalam hakekat Allah
yang satu dan sederhana).
Herman Bavinck mengatakan sebagai berikut:
It is of course self-evident that this confession of
Nicea and Chalcedon may not lay claim to infallibility.
The terms of which the church and its theology make
use, such as person, nature, unity of substance, and the
like, are not found in Scripture, but are the product of
reflection which Christianity gradually had to devote to
this mystery of salvation. The church was compelled to
do this reflecting by the heresies which loomed up on
all sides, both within the church and outside of it. All
those expressions and statements which are employed
in the confession of the church and in the language of
theology are not designed to explain the mystery which
in this matter confronts it, but rather to maintain it
pure and unviolated over against those who would
weaken or deny it (= Jelaslah bahwa pengakuan iman
Nicea dan Chalcedon tidak bisa dianggap infallible /
tak bisa salah. Istilah-istilah yang digunakan oleh
gereja dan theologinya, seperti pribadi, hakekat,
kesatuan hakekat / zat, dan sebagainya, tidak
ditemukan dalam Kitab Suci, tetapi merupakan hasil
pemikiran yang secara bertahap / perlahan-lahan harus
diberikan oleh kekristenan kepada misteri tentang
keselamatan ini. Gereja dipaksa untuk melakukan
pemikiran ini oleh bidat-bidat yang muncul dan
mengancam dari semua sisi, baik di dalam maupun di
luar gereja. Semua istilah dan pernyataan yang

digunakan dalam pengakuan iman gereja dan dalam


bahasa
theologia,
tidak
dimaksudkan
untuk
menjelaskan misteri yang dihadapi, tetapi untuk
menjaganya supaya tetap murni dan tak terganggu dari
mereka yang ingin melemahkan atau menyangkalnya) Our Reasonable Faith, hal 321-322.
Bavinck melanjutkan lagi:
There have been many, and there still are many, who
look down upon the doctrine of the two natures from a
lofty vantage point, and try to supplant it by other
words and phrases. What differences does it really
make, they begin by saying, whether we agree with this
doctrine or not? What matters is that we ourselves
possess the person of Christ, He who stands high and
exalted above this awkward confession. But before long
these same persons begin introducing words and terms
themselves in order to describe the person of Christ
whom they accept. ... And then history has taught that
the terms of the attackers of the Doctrine of the Two
Natures are far poorer in worth and force, and that
they often, indeed, involve doing injustice to the
incarnation as Scripture explains it to us (= pernah
ada banyak orang, dan sampai sekarang masih ada
banyak orang, yang dari tempat yang tinggi dan
menguntungkan, meremehkan / memandang rendah
doktrin tentang 2 hakekat ini, dan mencoba untuk
menggantinya
dengan kata-kata
dan ungkapanungkapan yang lain. Mereka memulainya dengan
berkata: apa bedanya apakah kami menyetujui doktrin
ini atau tidak? Yang penting adalah bahwa kami
memiliki pribadi Kristus, yang berdiri jauh di atas
pengakuan yang aneh ini. Tetapi sebentar lagi, orangorang ini sendiri mulai memperkenalkan kata-kata dan
istilah-istilah untuk menggambarkan pribadi Kristus
yang mereka terima. ... Dan sejarah telah mengajar
bahwa istilah-istilah dari para penyerang doktrin
tentang 2 hakekat ini, jauh lebih jelek dalam nilainya
dan kekuatannya, dan bahwa mereka bahkan sering
terlibat dalam perlakuan yang tidak benar terhadap
inkarnasi seperti yang dijelaskan oleh Kitab Suci
kepada kita) - Our Reasonable Faith, hal 322.
Apa yang dikatakan oleh Bavinck ini terbukti dalam buku sesat dari
Pdt. Yohanes Bambang, yang berjudul Tuhan, Ajarlah Aku. Dalam
hal 131, ia berkata sebagai berikut:

Jadi karena hakikat Alkitab berfungsi sebagai pewartaan iman maka dalam kesaksiannya tidak pernah
berspekulasi juga mengenai masalah sebagaimana
yang dikemukakan oleh Tertullianus. Alkitab tidak
pernah membuat hipotesa tentang Allah Bapa, Allah
Anak dan Roh Kudus dengan kategori-kategori 'UNA
SUBSTANTIA, TRES PERSONAE' (satu zat yang
memiliki tiga pribadi). Cara berpikir Tertullianus
adalah cara berpikir yang filsafati ketimbang cara
berpikir teologis-alkitabiah. Bila demikian, identitas
Roh Kudus bukan dalam pengertian ZAT ILAHI yang
memiliki kepribadian sendiri. Alkitab tidak pernah
mengenal atau mempergunakan istilah dan pengertian
ZAT ILAHI.
Jadi terlihat bahwa ia menolak ajaran Tertullian ini dengan alasan
bahwa istilah zat ilahi itu tidak ada dalam Kitab Suci. Tetapi
anehnya dalam bagian lain dari bukunya ia berkata:

Secara matematis memang berjumlah tiga. Tetapi


dari penghayatan iman dan materi Allah: ketigaNya
adalah YANG TUNGGAL (hal 109).

Jadi Allah dan Yesus adalah satu, tapi bukan satu


dalam arti matematis, juga bukan dalam arti satu
zat. Allah dan Yesus adalah satu dalam ciri hakiki
ilahi dan karya (pekerjaan)Nya (hal 110).

... sehingga dalam diri Yesus Kristus


seluruh ciri hakiki Allah sendiri (hal 135).

nampak

Perhatikan bahwa sekarang ia menggunakan istilah-istilah materi


Allah, ciri hakiki ilahi, dan ciri hakiki Allah. Bukankah istilahistilah itu juga tidak ada dalam Kitab Suci? Jadi terlihat kebenaran
kata-kata Bavinck di atas. Orang ini baru saja mencela penggunaan
istilah zat ilahi, tetapi lalu menciptakan istilahnya sendiri, yang
juga tidak ada dalam Kitab Suci, dan jelas lebih jelek nilainya dari
istilah zat ilahi yang ia cela.
2) Arti dari person dan nature.
Pada waktu LOGOS / Anak Allah berinkarnasi, Ia tidak mengambil
pribadi manusia, tetapi hakekat manusia (yang lalu mendapat
kepribadiannya dari LOGOS).

Kalau demikian, bisakah kita berkata bahwa Yesus tidak mengambil


seluruh manusia, karena yang Ia ambil adalah manusia tanpa
kepribadian? Kalau memang LOGOS tidak mengambil seluruh
manusia, bukankah itu berarti bahwa Ia tidak menebus seluruh
manusia? Kalau Ia tidak mengambil kepribadian manusia, bukankah
itu berarti bahwa kepribadian kita tidak ditebus?
Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, kita perlu mengerti
tentang arti / definisi dari istilah person / pribadi dan nature /
hekekat.
a) Human nature adalah substance / essence (= hakekat) dari
manusia. Tidak ada perbedaan antara human nature yang satu
dengan human nature yang lain. Semua manusia mempunyai
human nature yang sama.
b) Human nature sudah merupakan seluruh manusia, tidak ada
sedikitpun yang kurang.
c) Human person (= pribadi manusia) adalah human nature yang
sudah dipribadikan. Karena itu, human person yang satu berbeda
dengan human person yang lain.
Beberapa kutipan kata-kata William G. T. Shedd:

Personality is not an integral and essential part of a


nature, but is, as it were, the terminus to which it
tends (= Kepribadian bukanlah merupakan bagian
yang perlu untuk melengkapi dan bukan bagian yang
pokok / hakiki dari suatu hakekat, tetapi merupakan
terminal yang dituju oleh hakekat itu) - Shedds
Dogmatic Theology, vol II, hal 287.

When we
speak of a human nature, a real
substance having physical, rational, moral and
spiritual properties is meant. This human nature is
capable of becoming a human person but as yet is
not one. It requires to be personalized, in order to
be a self-conscious individual man. A human person
is a fractional part of a specifc human nature or
substance which has been separated from the
common mass, and formed into a distinct and
separate individual, by the process of generation.
Prior to this separation and formation, this
fractional portion of the common human nature has
all the qualities of the common mass of which it is a

part, but it is not yet individualized. It is potentially,


not actually personal. It has all the properties that
subsequently appear in the particular individual
formed of it [= Pada waktu kita berbicara tentang
suatu hakekat manusia, maka yang dimaksud adalah
suatu zat yang nyata yang memiliki sifat-sifat fisik,
ratio, moral dan rohani. Hakekat manusia ini bisa
(mempunyai kemampuan) menjadi pribadi manusia
tetapi belum / bukan merupakan pribadi manusia.
Hakekat manusia itu perlu dipribadikan supaya
menjadi seorang manusia tersendiri yang sadar.
Seorang pribadi manusia adalah sebagian kecil dari
hakekat atau zat manusia tertentu yang telah
dipisahkan dari seluruh massa, dan dibentuk
menjadi pribadi tersendiri yang berbeda dan
terpisah, oleh proses kelahiran. Sebelum pemisahan
dan pembentukan ini, bagian kecil dari seluruh
hakekat manusia itu, mempunyai semua sifat-sifat
dari seluruh massa dari mana ia merupakan bagian,
tetapi ia belum dipribadikan. Ia berpotensi untuk
menjadi pribadi, tetapi ia tidak / belum sungguhsungguh merupakan pribadi. Ia mempunyai semua
sifat-sifat yang sesudah itu muncul dalam pribadi
tertentu yang dibentuk darinya] - Shedds Dogmatic
Theology, vol II, hal 289-290.

A lump of clay has all the properties of matter that


belong to the vessel of honor and dishonor. But it
has not as yet the individual form of the vessel. An
act of the potter must intervene, whereby a piece of
clay is separated from the lump and moulded into a
particular vase having its own peculiar shape and
fgure. In like manner, human nature as an entire
whole existing in Adam possessed all the elementary
properties that are requisite to personality, though it
was not yet personalized (= segumpal tanah liat
mempunyai semua sifat-sifat dari bahan / zat yang
dimiliki oleh bejana yang terhormat dan tak
terhormat. Tetapi gumpalan tanah liat itu belum
mempunyai bentuk dari bejana itu. Suatu tindakan
dari penjunan harus ikut campur, dengan mana
segumpal tanah liat itu dipisahkan dari seluruh
gumpalan dan dibentuk menjadi suatu jambangan
tertentu yang mempunyai bentuknya yang khas.
Demikian juga, hakekat manusia sebagai suatu

keseluruhan yang ada di dalam Adam mempunyai


semua sifat-sifat dasar yang diperlukan untuk
kepribadian, sekalipun hakekat manusia itu belum
dipribadikan) - Shedds Dogmatic Theology, vol II, hal 290291.

The difference, then, between nature and person is


virtually that between substance and form (= Jadi,
perbedaan sebenarnya antara hakekat dan pribadi
adalah perbedaan antara zat dan bentuk) - Shedds
Dogmatic Theology, vol II, hal 291.

Still another point of difference between a nature


and a person is the fact that a nature can not be
distinguished from another nature, but a person can
be from another person (= perbedaan lain lagi
antara hakekat dan pribadi adalah fakta bahwa
suatu hakekat tidak bisa dibedakan dari hakekat
yang lain, sedangkan suatu pribadi bisa dibedakan
dari pribadi yang lain) - Shedds Dogmatic Theology, vol II,
hal 294.

Kesimpulan dari semua ini:


Karena person / pribadi adalah nature / hakekat yang sudah
dibentuk / dipribadikan, maka sebetulnya person / pribadi tidak
memiliki kelebihan zat dibandingkan dengan nature / hakekat.
Ingat bahwa pembentukan bukanlah penambahan zat!
Sama seperti segumpal tanah liat, yang sudah dibentuk menjadi
jambangan / gelas, tidak mempunyai kelebihan zat dibandingkan
dengan saat gumpalan tanah liat itu belum dibentuk, demikian
juga person / pribadi tidak mempunyai kelebihan zat dibandingkan
dengan nature / hakekat.
Illustrasi:

Common Mass

Nature

tanah liat

Person

Dari illustrasi gambar ini terlihat dengan jelas bahwa perbedaan


antara nature dan person, tidak terletak pada perbedaan zat /
hakekat, tetapi pada pembentukan (nature - belum dibentuk; person
- sudah dibentuk).
Dengan demikian, pada waktu Yesus mengambil human nature /
hakekat manusia, Ia sebetulnya sudah mengambil seluruh manusia,
tanpa ada yang kurang sedikitpun.
B) Hypostatical / Personal Union (= persatuan pribadi).
1) Yesus Kristus adalah sungguh-sungguh Allah dan sungguh-sungguh
manusia. Tetapi Ia hanya merupakan 1 pribadi.
Dasar dari pandangan ini:
Dalam Kitab Suci sering ditunjukkan akan adanya lebih dari 1 pribadi
dalam diri Allah. Misalnya:
a) Penggunaan kata ganti orang bentuk jamak (Kej 1:26).
b) Pembicaraan antara satu pribadi dengan pribadi yang lain (Maz
2:7).
c) Adanya saling kasih-mengasihi antara pribadi-pribadi itu (Mat 3:17
Yoh 17:23-24).
d) Pribadi yang satu mengutus pribadi yang lain (Yoh 14:26 Yoh 15:26
Yoh 17:3).
Tetapi hal-hal tersebut tidak pernah terjadi pada waktu Kitab Suci
menggambarkan Yesus Kristus. Jadi jelaslah bahwa berbeda dengan
Allah Tritunggal yang memiliki lebih dari 1 pribadi, Yesus Kristus
hanya memiliki 1 pribadi saja!

2) Sebelum inkarnasi, Yesus adalah Allah Anak yang jelas merupakan


seseorang yang berpribadi. Jadi pada saat itu Ia adalah 1 pribadi
dengan 1 hakekat, yaitu hakekat ilahi. Pada saat Ia berinkarnasi, Ia
tidak mengambil pribadi manusia karena ini akan menimbulkan
adanya 2 pribadi seperti yang diajarkan oleh Nestorianism. Yang
diambil olehNya adalah hakekat manusia. Hakekat manusia dan
hakekat ilahi bersatu dalam pribadi Anak Allah sehingga setelah
inkarnasi, Yesus adalah 1 pribadi dengan 2 hakekat (ilahi dan
manusia).
Ada yang beranggapan bahwa yang diambil oleh Logos bukanlah
hakekat manusia tetapi pribadi manusia, karena yang diambil itu
terdiri dari tubuh dan jiwa / roh, yang mencakup pikiran, perasaan,
dan kehendak, dan ketiga hal ini merupakan ciri-ciri dari seorang
pribadi. Tetapi ini tidak benar, karena sekalipun Logos itu mengambil
tubuh manusia dan jiwa / roh manusia, yang mempunyai pikiran,
perasaan dan kehendak, tetapi semua itu belum dipribadikan,
sehingga sifatnya belum / tidak specific (= tertentu).
Jadi, pikirannya belum tertentu (pandai atau bodoh), perasaannya
belum tertentu (halus atau kasar), kehendaknya belum tertentu
(keras atau tidak). Bahkan tubuhnyapun belum tertentu (tinggi atau
pendek, berkulit putih atau kuning atau hitam, bermata biru atau
coklat, berambut pirang atau hitam, dsb). Dengan demikian ini bukan
pribadi manusia, tetapi hakekat manusia.
Tetapi pada saat pertama Logos mengambil hakekat manusia itu,
maka hakekat manusia itu mendapat kepribadiannya dari Logos,
sehingga menjadi manusia tertentu.
3) Hakekat manusia itu tidak pernah ada terpisah dari pribadi Allah
Anak. Hakekat manusia itu mendapat kepribadiannya dari pribadi
Allah Anak dan selalu ada di dalam pribadi Allah Anak itu. Bahkan
antara kematian dan kebangkitan Yesuspun, hakekat manusia itu tak
terpisah dengan LOGOS / Allah Anak, karena sekalipun hakekat
manusia itu terpecah (roh pisah dengan tubuh), tetapi LOGOS / Allah
Anak yang maha ada itu tetap bersatu baik dengan tubuh (yang ada di
kuburan) maupun dengan roh (yang ada di surga).
4) Dalam Personal Union (= persatuan pribadi) ini terjadi suatu
persatuan, bukan suatu percampuran (mixture / confusion), antara
hakekat manusia dan hakekat ilahi. Jadi, baik hakekat manusia
maupun hakekat ilahi tetap mempunyai / mempertahankan sifatsifat-nya sendiri-sendiri. Mereka berbeda, tetapi bersatu dalam diri
Yesus Kristus.

5) Akibat adanya 2 hakekat dalam pribadi Yesus Kristus ini maka:


a) Kristus mempunyai 2 macam kesadaran, yaitu ilahi dan manusia.
Kadang-kadang Ia berpikir dan merasa sebagai Allah, dan kadangkadang sebagai manusia.
Contoh:
kesadaran ilahi: Mat 8:26 Yoh 8:58 Yoh 11:44.
kesadaran manusia: Mat 24:36 Mat 26:37-38 Yoh 11:35 Yoh
19:28.
Tetapi harus diingat bahwa dalam setiap contoh-contoh itu,
adalah pribadi yang sama yang berpikir / mempunyai kesadaran.
b) Kristus mempunyai 2 kehendak, ilahi dan manusia. Tetapi karena
kehendak manusia yang ada dalam diri Yesus adalah suci, maka
tidak ada pertentangan / konfrontasi antara kehendak ilahi dan
kehendak manusia dalam diri Yesus. Karena itu, sekalipun ada 2
kehendak, selalu hanya menghasilkan satu tindakan (bdk. Mat
26:36-46).
Illustrasi / analogi:
Illustrasi / analogi yang paling cocok untuk menjelaskan Personal
Union ini adalah persatuan antara tubuh dan jiwa pada manusia
(Catatan: ini hanya berlaku untuk orang yang percaya pada
Dichotomy, bukan pada Trichotomy!).

Pada manusia, tubuh dan jiwa membentuk 1 pribadi.


Pada Yesus Kristus, hakekat manusia dan Allah Anak membentuk 1
pribadi.

Pada manusia, kepribadian terletak pada jiwa, bukan pada tubuh.


Pada Yesus Kristus, kepribadian terletak pada Allah Anak, bukan
pada hakekat manusia.

Pada manusia, tubuh berbeda dengan jiwa; mereka tidak


bercampur, dan masing-masing mempertahankan sifat-sifatnya
sendiri-sendiri.
Pada Yesus Kristus, hakekat manusia berbeda dengan hakekat
ilahi;
mereka
tidak
bercampur
dan
masing-masing
mempertahankan sifat-sifatNya sendiri-sendiri.

C) Akibat dari Personal Union.


1) Communicatio Idiomatum [communication of properties
pemberian sifat-sifat / sama-sama memiliki sifat-sifat)].

(=

Catatan: Istilah Communicatio Idiomatum ini adalah istilah bahasa


Latin, yang begitu populer dalam Kristologi, sehingga dalam bukubuku Theologia sering digunakan begitu saja tanpa diberikan
terjemahannya.
a) Arti istilah ini:

kata Idiomatum / properties berarti sifat dasar.


Dalam diri manusia, sifat-sifat seperti pemarah, sombong,
pelit, tidak termasuk sifat dasar, karena tidak semua orang
mempunyai sifat seperti itu.
Contoh sifat dasar dalam diri manusia adalah: terbatas, dicipta
/ tidak ada dengan sendirinya, tidak maha tahu, bisa berdosa,
bisa mati, dsb. Sifat-sifat ini dimiliki oleh semua manusia.
Catatan: Perhatikan bahwa dalam sepanjang pembahasan
tentang Communicatio Idiomatum ini, yang dimaksud dengan
sifat adalah sifat dasar.

Dalam bahasa Yunani istilah Communicatio diterjemahkan


dengan istilah KOINONIA.
Kata Yunani KOINONIA bisa berarti:
1. fellowship (= persekutuan).
2. a close mutual relationship (= hubungan timbal balik yang
dekat).
3. participation (= partisipasi).
4. sharing in (= sama-sama menikmati / memiliki).
5. partnership (= persekutuan).
6. contribution (= sumbangan).
7. gift (= pemberian).

Jadi, kalau dikatakan bahwa terjadi Communicatio Idiomatum


dari A kepada B, maka itu berarti bahwa sifat-sifat A diberikan
kepada B, atau bahwa B sama-sama memiliki sifat-sifat yang
dimiliki oleh A (dari ke 7 arti di atas, mungkin yang paling
ditekankan adalah arti ke 4 dan ke 7).
b) Dalam hal Communicatio Idiomatum ini, ajaran Reformed
bertentangan dengan Lutheran.

Ajaran Reformed:
Sifat-sifat dari hakekat manusia tidak diberikan kepada
hakekat ilahi / tidak menjadi sifat-sifat dari hakekat ilahi, dan
sebaliknya, sifat-sifat dari hakekat ilahi tidak diberikan kepada
hakekat manusia / tidak menjadi sifat-sifat dari hakekat
manusia. Tetapi, baik sifat-sifat dari hakekat manusia maupun
sifat-sifat dari hakekat ilahi diberikan kepada pribadi Kristus /
menjadi sifat-sifat dari pribadi Kristus.
Charles Hodge: Hence, inconsistent, or apparently
contradictory affirmations may be made of the
same person (= Karena itu, ketidak-konsistenan,
atau pernyataan-pernyataan yang kelihatannya
kontradiksi / bertentangan bisa dibuat tentang
pribadi yang sama) - Systematic Theology, vol II, hal
379.

X
HM
X

HI

Keterangan gambar:
P = Pribadi Kristus; HM = Hakekat Manusia; HI = Hakekat Ilahi.
Catatan: Jangan membayangkan bahwa diri Kristus betulbetul seperti gambar di atas! Gambar ini hanya untuk
membantu saudara untuk melihat dimana terjadi pemberian
sifat-sifat dan dimana tidak terjadi pemberian sifat-sifat.

Penjelasan:
Hakekat manusia mempunyai sifat terbatas, sedangkan
hakekat ilahi mempunyai sifat tidak terbatas. Sifat terbatas
dari hakekat manusia tidak diberikan kepada hakekat ilahi /
tidak menjadi sifat dari hakekat ilahi, dan sifat tidak terbatas
dari hakekat ilahi tidak diberikan kepada hakekat manusia /
tidak menjadi sifat dari hakekat manusia. Tetapi baik sifat
terbatas dari hakekat manusia, maupun sifat tidak terbatas
dari hakekat ilahi, sama-sama diberikan kepada pribadi Kristus
/ menjadi sifat dari pribadi Kristus. Jadi, pribadi Kristus
mempunyai sifat terbatas dan tidak terbatas sekaligus.
Dengan cara yang sama bisa kita dapatkan bahwa pribadi Yesus
bisa dikatakan terbatas pengetahuannya maupun maha tahu,
lemah / terbatas kekuatannya maupun maha kuasa.
Karena itu jangan heran kalau melihat bahwa Kitab Suci
kadang-kadang menggambarkan Yesus itu terbatas pengetahuannya (Mat 24:36), tetapi juga sering menggambarkan Yesus
itu mahatahu (Mat 9:4 Mat 12:25 Yoh 2:24-25 Yoh 6:64). Juga
jangan heran kalau Kitab Suci kadang-kadang menggambarkan
Yesus lemah / terbatas kekuatannya, sehingga bisa lelah,
membutuhkan istirahat / tidur (Yoh 4:6 Mat 8:24), tetapi juga
sering menggambarkan Yesus itu mahakuasa, dimana Ia bisa
membangkitkan orang mati, menghentikan badai, memberi
makan 5000 orang dengan menggunakan 5 roti dan 2 ikan,
mengusir setan, dsb.

Ajaran Lutheran:
Mereka mengatakan:

ada pemberian sifat-sifat dari kedua hakekat kepada


pribadi. Dengan kata lain, pribadi memiliki sifat-sifat dari
kedua hakekat. Ini sesuai dengan ajaran Reformed.

juga ada pemberian sifat-sifat antar kedua hakekat


tersebut.
Dengan kata lain, hakekat yang satu juga memiliki sifatsifat dari hakekat yang lain. Ini tidak sesuai dengan ajaran
Reformed.

HM

HI

Perkembangan ajaran tentang


dalam kalangan Lutheran:

Communicatio

Idiomatum

(1) Luther dan orang-orang Lutheran yang mula-mula


mengajarkan adanya pemberian sifat-sifat, baik dari hakekat manusia kepada hakekat ilahi, maupun dari hakekat
ilahi kepada hakekat manusia.
(2) Orang-orang Lutheran selanjutnya hanyalah menekankan
pemberian sifat-sifat dari hakekat ilahi kepada hakekat
manusia. Ini mereka lakukan untuk menghindarkan hakekat
ilahi menjadi terbatas karena pemberian sifat dari hakekat
manusia.
(3) Dalam perkembangan selanjutnya, orang-orang Lutheran
membedakan antara operative attributes / sifat-sifat
operative (seperti maha kuasa, maha ada, maha tahu)
dengan quiescent attributes / sifat-sifat diam (seperti tak
terbatas, kekal) dari Allah, dan mereka mengatakan bahwa
hanya operative atrributes sajalah yang diberikan dari
hakekat ilahi kepada hakekat manusia. Ini mereka lakukan
untuk menghindarkan hakekat manusia menjadi tak
terbatas dan kekal karena pemberian sifat dari hakekat
ilahi.
Catatan: Doktrin Lutheran yang salah tentang diri Kristus ini,
dimana mereka menganggap bahwa hakekat manusia Yesus itu
maha ada, menyebabkan mereka bisa percaya bahwa dalam
Perjamuan Kudus, Yesus hadir secara jasmani.
Keberatan / sanggahan terhadap ajaran Lutheran ini:
(a) Ajaran ini menunjukkan adanya pembauran / percampuran
antara hakekat ilahi dan hakekat manusia dalam diri
Kristus. Hakekat manusia yang mempunyai sifat-sifat ilahi
seperti maha ada, maha tahu dsb, tidak lagi bisa disebut
sebagai hakekat manusia (perhatikan kutipan dari Charles
Hodge di bawah). Jadi jelas bahwa ajaran ini berbau ajaran

Eutychianism dan jelas bahwa ajaran ini bertentangan


dengan Chalcedonian Creed yang mengatakan without
confusion, without change (= tanpa percampuran, tanpa
perubahan).
Charles Hodge: ... the properties or attributes of a
substance constitute its essence, so that if they
be removed or if others of a different nature be
added to them, the substance itself is
changed. ... If divine attributes be conferred on
man, he ceases to be man; and if human
attributes be transferred to God, he ceases to
be God. (= sifat-sifat dari suatu zat / bahan
membentuk
hakekatnya,
sehingga
kalau
mereka disingkirkan atau kalau sifat-sifat yang
lain ditambahkan kepada mereka, maka zat /
bahan itu sendiri berubah. ... Kalau sifat-sifat
ilahi diberikan kepada manusia, ia berhenti
menjadi manusia; dan kalau sifat-sifat manusia
diberikan kepada Allah, ia berhenti menjadi
Allah) - Systematic Theology, vol II, hal 390.
(b) Ajaran ini tidak konsekwen, karena kalau sifat-sifat ilahi
diberikan kepada hakekat manusia, maka sifat-sifat
manusia juga harus diberikan kepada hakekat ilahi.
Yoh 3:13 menggunakan sebutan / gelar manusia (Anak
Manusia), tetapi memberikan predikat ilahi (turun dari
sorga). Ayat ini dipakai sebagai dasar (secara salah) oleh
orang Lutheran untuk mengatakan bahwa sifat-sifat dari
hakekat ilahi diberikan kepada hakekat manusia.
Tetapi anehnya, kalau mereka melihat ayat seperti
1Kor 2:8, yang menggunakan sebutan / gelar ilahi (Tuhan
yang mulia / The Lord of glory ), tetapi memberikan
predikat manusia (menyalibkan), mereka tidak mau
memakainya sebagai dasar untuk mengatakan bahwa sifatsifat dari hakekat manusia diberikan kepada hakekat ilahi.
Ketidak-konsekwenan yang lain ialah bahwa mereka hanya
memberikan sebagian sifat-sifat ilahi kepada hakekat
manusia. Kalau beberapa sifat hakekat ilahi diberikan
kepada hakekat manusia, maka konsekwensinya adalah
bahwa semua sifat-sifat ilahi harus diberikan kepada
hakekat manusia.

(c) Ajaran ini tidak sesuai dengan gambaran tentang diri


Kristus dalam Kitab Suci, karena dalam Kitab Suci Kristus
tidak pernah digambarkan sebagai manusia yang maha tahu
/ maha ada / maha kuasa. Sebaliknya, Kitab Suci
menggambarkan Yesus sebagai manusia yang terbatas
pengetahuannya (Mat 24:36), terbatas keberadaannya
(tidak bisa ada di lebih dari satu tempat pada saat yang
sama), dan lemah (bisa lelah, butuh istirahat, tidur, dsb.
Bdk. Yoh 4:6 Mat 8:24).
(d) Ajaran ini tidak bisa menjelaskan Luk 2:40,52 yang
mengatakan bahwa Kristus bertumbuh dalam hikmat dan
kekuatan.
Ingat bahwa orang Lutheran beranggapan bahwa Communicatio Idiomatum ini terjadi pada saat yang sama dengan
inkarnasi. Dengan demikian, seharusnya manusia Yesus itu
sudah maha tahu dan maha kuasa sejak lahir, dan kalau
demikian, Ia tidak mungkin bertumbuh dalam hikmat
maupun kekuatan.
2) Communicatio Operationum / Apotelesmatum [communication of
acts (= pemberian tindakan-tindakan)].
Semua tindakan / perbuatan Kristus, baik yang bersifat:
a) ilahi, seperti penciptaan, pemeliharaan.
b) manusia, seperti makan, minum.
c) gabungan ilahi dan manusia, seperti penebusan.
adalah tindakan / perbuatan dari seluruh pribadi Kristus.
Jadi, pada waktu melihat Kristus makan, kita tidak perlu berkata
hakekat manusiaNya makan, tetapi kita bisa berkata Kristus
makan. Pada waktu kita mau mengatakan bahwa Kristus mencipta
dan mengatur alam semesta, kita tidak perlu berkata hakekat
ilahiNya mencipta dan mengatur alam semesta, tetapi kita bisa
berkata Kristus mencipta dan mengatur alam semesta.
Illustrasi:
Manusia terdiri dari tubuh + jiwa.
Ada tindakan dari jiwa, seperti berpikir, marah, benci.

Ada tindakan dari tubuh, seperti mencerna makanan.


Ada tindakan dari gabungan tubuh dan jiwa, seperti membaca,
menulis, berbicara dsb.
Tetapi adalah seluruh pribadi manusia yang marah, mencerna
makanan, membaca dsb.
Karena itu kalau kita melihat seseorang (si A) sedang makan /
berpikir, kita tidak mengatakan tubuhnya makan tetapi Dia / si A
makan. Kita tidak mengatakan jiwanya berpikir, tetapi Dia / si A
berpikir.
3) Communicatio Charismatum / Gratiarum [communication of gifts (=
pemberian karunia-karunia)].
Hakekat manusia dari Kristus, sejak saat pertama keberadaannya,
telah diberi bermacam-macam karunia yang mulia.
Misalnya:
a) Dipersatukannya hakekat manusia itu dengan LOGOS, dengan
mana hakekat manusia itu ditinggikan melebihi semua ciptaan
dan, menurut Louis Berkhof, menjadi object penyembahan
(Systematic Theology, hal 324).
Tetapi G. C. Berkouwer menentang pandangan ini dengan
mengatakan:
Reformed theology resisted every form of the
deifcation of the human nature of Christ (=
theologia Reformed menentang setiap bentuk
pendewaan terhadap hakekat manusia Kristus) Studies in Dogmatics: The Person of Christ, hal 295.
Memang pada waktu seseorang bertemu dengan Kristus pada
waktu Ia hidup dalam dunia ini, tentu saja orang itu boleh
menyembahNya. Tetapi yang disembah adalah pribadi Kristusnya,
atau hakekat ilahinya, bukan hakekat manusianya. Hal-hal ini
memang tidak bisa dipisahkan tetapi bisa dibedakan.
John Owen: Hence the human nature of Christ, in his
divine person and together with it, is the object of
all divine adoration and worship (= ) - The Works of
John Owen, vol I, hal 241.

b) Karunia-karunia Roh, khususnya dalam hal intelek, kehendak dan


kuasa, dengan mana hakekat manusia itu ditinggikan melebihi
makhluk-makhluk ciptaan yang lain. Menurut Louis Berkhof,
termasuk di sini ketidak-mungkinannya untuk berbuat dosa
(impeccability / non posse peccare).
Catatan: Communicatio Charismatum / Gratiarum ini tidak mengubah
hakekat manusia itu menjadi Allah!

D) Ayat-ayat Kitab Suci yang berhubungan dengan Personal


Union.
Ada 4 golongan ayat-ayat Kitab Suci:
1) Ayat-ayat yang menggunakan sebutan bagi Kristus dengan sebutan
yang berlaku untuk seluruh pribadi Kristus, tetapi tidak cocok /
berlaku baik untuk hakekat manusia saja maupun untuk hakekat ilahi
saja.
Contoh:

Yoh 1:29 - Anak Domba Allah.

Yoh 5:21-23 - Hakim.

Yoh 9:5 - Terang dunia.

Yoh 10:9,11 - Pintu, Gembala.

Yoh 15:1 - Pokok anggur yang benar.

Ro 8:34 - Pembela.

Ef 4:15 - Kepala Gereja.

Sebutan-sebutan ini tidak ditujukan kepada Kristus sebagai Allah Anak


/ LOGOS, juga tidak kepada Kristus sebagai manusia, tetapi kepada
seluruh pribadi Kristus (The God- man).
Calvin: Let this, then, be our key to right
understanding: those things which apply to the office
of the Mediator are not spoken simply either of the
divine nature or of the human (= Biarlah ini menjadi
kunci bagi kita untuk mendapatkan pengertian yang
benar: hal-hal yang berhubungan dengan jabatan dari

Pengantara, tidak dikatakan hanya tentang hakekat


ilahi atau manusia) - Institutes of the Christian Religion, Book
II, chapter XIV, 3.
2) Ayat-ayat yang sebetulnya hanya cocok untuk hakekat ilahi / LOGOS,
tetapi ditujukan kepada seluruh pribadi Kristus.
Contoh:

Yoh 8:58.
Sebetulnya kata-kata sudah ada sebelum Abraham jadi hanya
berlaku untuk hakekat ilahi, bukan untuk hakekat manusia. Tetapi
sekalipun demikian, Yesus tidak berkata sebelum Abraham jadi,
hakekat ilahiKu sudah ada, tetapi Ia berkata sebelum Abraham
jadi, Aku (menunjuk pada pribadiNya) sudah ada.

Yoh 17:5.
Sebetulnya kata-kata memiliki kemuliaan di hadirat Allah
sebelum dunia dijadikan hanya berlaku untuk hakekat ilahi,
bukan untuk hakekat manusia. Tetapi Yesus lagi-lagi menggunakan
kata Aku, yang menunjukkan bahwa kata-kata itu Ia tujukan
untuk pribadi-Nya.

3) Ayat-ayat yang sebetulnya hanya cocok untuk hakekat manusia,


tetapi ditujukan kepada seluruh pribadi Kristus.
Contoh:

Mat 24:36.
Sebetulnya tidak tahu akan hari Tuhan hanya berlaku untuk
hakekat manusia, bukan untuk hakekat ilahi. Tetapi ayat ini
menujukan kata-kata itu untuk Anak, yang menunjuk pada seluruh
pribadi Yesus.

Mat 26:37-38.
Sebetulnya yang bisa merasa sedih dan gentar, seperti mau mati,
dsb, hanyalah hakekat manusia, bukan hakekat ilahi. Tetapi ayatayat ini menujukannya untuk seluruh pribadi Yesus.

Hal yang sama bisa saudara jumpai dalam Luk 2:40,52 Luk 24:3943 Yoh 11:35.

4) Ayat-ayat yang menggunakan sebutan / gelar yang hanya cocok untuk


hakekat yang satu, tetapi menggunakan predikat yang hanya cocok
untuk hakekat yang lain.
Ini terbagi dalam 2 golongan:
a) Ayat-ayat yang menyebut Kristus dengan sebutan / gelar ilahi,
tetapi menggunakan predikat yang hanya cocok untuk hakekat
manusia.
Contoh:

Kis 20:28 (NIV) - ... the church of God, which he bought with
his own blood (= ... jemaat / gereja Allah, yang Ia beli
dengan darahNya sendiri).
Catatan: dalam ayat ini TB1 - LAI salah terjemahan karena
menterjemahkan darah AnakNya. Ini dibetulkan dalam TB2 LAI yang menterjemahkan darahNya (menghapus kata Anak
yang memang sebetulnya tidak ada dalam bahasa aslinya).
Ayat ini menggunakan sebutan / gelar ilahi (Allah), tetapi
predikatnya berbicara tentang darah, yang sebetulnya hanya
cocok untuk hakekat manusia Yesus.

1Kor 2:8.
Ayat ini menggunakan sebutan / gelar ilahi (Tuhan yang mulia
/ The Lord of glory), tetapi menggunakan predikat
menyalibkan yang sebetulnya hanya cocok untuk hakekat
manusia Yesus.

1Yoh 1:1.
Ayat ini menggunakan sebutan / gelar ilahi (Firman /
LOGOS), tetapi menggunakan predikat telah kami lihat
dengan mata kami dan telah kami saksikan dan yang telah
kami raba dengan tangan kami, yang sebetulnya hanya cocok
untuk hakekat manusia Yesus.

Wah 11:8 - Dan mayat mereka akan terletak di atas


jalan raya kota besar, yang secara rohani disebut
Sodom dan Mesir, di mana juga Tuhan mereka
disalibkan.

Ayat ini menggunakan sebutan / gelar ilahi (Tuhan), tetapi


menggunakan predikat disalibkan yang sebetulnya hanya
cocok untuk hakekat manusia Yesus.

Ibr 7:14 - Sebab telah diketahui semua orang,


bahwa Tuhan kita berasal dari suku Yehuda dan
mengenai
suku
itu
Musa
tidak
pernah
mengatakan suatu apapun tentang imam-imam.
Ayat ini menggunakan sebutan / gelar ilahi (Tuhan), tetapi
menggunakan predikat berasal dari suku Yehuda, yang tentu
saja hanya cocok untuk hakekat manusia Yesus.

b) Ayat-ayat yang menyebut Kristus dengan sebutan / gelar manusia,


tetapi menggunakan predikat yang hanya cocok untuk hakekat
ilahi.
Contoh:

Mat 9:6.
Ayat ini menggunakan sebutan / gelar manusia (Anak
Manusia), tetapi menggunakan predikat berkuasa mengampuni dosa yang hanya cocok untuk hakekat ilahi.

Mat 12:8.
Ayat ini menggunakan sebutan / gelar manusia (Anak
Manusia), tetapi menggunakan predikat Tuhan atas hari
Sabat yang hanya cocok untuk hakekat ilahi.

Hal yang sama bisa saudara lihat dalam ayat-ayat seperti:


Mat 13:41 Luk 19:10 Yoh 3:13-15 Yoh 6:62 1Kor 15:47b.

Calvin menjelaskan mengapa hal itu dilakukan dalam Kitab Suci


dengan berkata sebagai berikut:
And they (Scriptures) so earnestly express this
union of the two natures that is in Christ as
sometimes to interchange them [= dan mereka
(Kitab-kitab
Suci)
begitu
sungguh-sungguh
mewujudkan kesatuan dari dua hakekat yang ada di
dalam Kristus sehingga kadang-kadang menukar /
membolak-balik mereka] - Institutes of the Christian
Religion, book II, chapter XIV, 1.

Because the selfsame one was both God and man,


for the sake of the union of both natures he gave to
the one what belonged to the other (= karena orang
yang sama adalah Allah dan manusia, demi kesatuan
dari kedua hakekat, ia memberikan kepada yang
satu apa yang termasuk pada yang lain) - Institutes of
the Christian Religion, book II, chapter XIV, 2.

KESUCIAN KRISTUS
I) Kesucian hidup Kristus.
Hal-hal yang menunjukkan kesucian hidup Kristus:
1) Ayat-ayat seperti 2Kor 5:21
1Yoh 3:5.

Ibr 4:15

Ibr 7:26

1Pet 2:22

1Pet 3:18

2) Sebutan Yang Kudus dari Allah dalam Luk 4:34 dan Yoh 6:69, sebutan
Yang Kudus dan Benar dalam Kis 3:14, sebutan HambaMu yang Kudus
dalam Kis 4:27,30.
3) Yoh 10:36 mengatakan bahwa Yesus dikuduskan oleh Bapa.
4) Berbeda dengan semua orang lain yang mengaku dosa pada waktu
dibaptis oleh Yohanes Pembaptis (Mat 3:6), Yesus tidak mengakui dosa
pada saat dibaptis oleh Yohanes Pembaptis (Mat 3:13-17).
Bahkan dalam sepanjang hidupNya kita tidak pernah melihat Yesus
mengaku dosa atau memberi persembahan / korban penghapus dosa.
Kalau dalam Mat 6:12 (Doa Bapa Kami) Ia mengatakan dan ampunilah
kami akan kesalahan kami jelas bahwa Ia bukannya mengakui dosa,
tetapi Ia sedang mengajarkan doa Bapa Kami itu untuk murid-muridNya.
Ini terlihat dari Mat 6:9 yang berbunyi Karena itu berdoalah demikian
yang jelas menunjukkan bahwa saat itu Ia sedang mengajarkan doa itu
kepada murid-muridNya.
5) Bahwa Yesus itu suci / benar, diakui oleh:
a) Allah Bapa (Mat 3:17).
Bahwa Allah Bapa berkenan kepada Yesus, jelas menunjukkan
kesucian Yesus.

b) Yesus sendiri (Yoh 8:29,46).


c) Pontius Pilatus (Luk 23:4,14-15,22 Yoh 18:38b Yoh 19:4).
d) Istri Pontius Pilatus (Mat 27:19).
e) Herodes (Luk 23:15).
f) Yudas Iskariot (Mat 27:4).
g) Kepala Pasukan Romawi yang menyalibkan Yesus (Luk 23:47).
6) Ia berhasil menggagalkan 3 x pencobaan setan (Mat 4:1-11 Luk 4:1-13).
Perlu juga dijelaskan bahwa sekalipun dalam Ibr 4:15 dikatakan bahwa
sama dengan kita, Ia telah dicobai, tetapi itu hanya berhubungan
dengan pencobaan dari luar. Kesucian Kristus menyebabkan Ia tidak
mungkin mengalami pencobaan dari dalam seperti yang sering dialami
manusia yang lain (seperti berpikir untuk berzinah, dsb), karena dalam
hal ini pencobaan itu sendiri sudah merupakan dosa.
Karena itu Yesus sendiri bisa berkata bahwa penguasa dunia ini (yaitu
setan), tidak berkuasa sedikitpun atas diriNya (Yoh 14:30).
7) Lembu / domba / kambing untuk korban penebus dosa, dan domba
Paskah, yang merupakan TYPE / gambaran dari Kristus (bdk. Yoh 1:29
1Kor 5:7) selalu digambarkan sebagai tidak bercela / tidak bercacat (Im
4:3b,23b,28b,32b Kel 12:5). Bdk. 1Pet 1:18-19.
8) Penderitaan dan kematian Yesus bisa menggantikan kita untuk menerima
hukuman Allah.
Kalau Yesus tidak suci, maka pada saat Ia mati di kayu salib Ia mati
untuk dosaNya sendiri, sehingga Ia tidak mungkin bisa menggantikan kita
untuk memikul hukuman dosa kita. Bahwa Ia bisa menjadi pengganti,
menunjukkan bahwa Ia suci. Dengan demikian terlihat bahwa kesucian
Kristus merupakan hal yang sangat vital dalam kekristenan, karena tanpa
hal itu, seluruh penebusan hancur.

II) Serangan terhadap kesucian Kristus.


1) Ayat-ayat yang menunjukkan Yesus marah seperti Mat 21:12-13 Mark 3:5
Yoh 2:14,15.
Penjelasan:

a) Marah tidak mesti dianggap sebagai dosa, dan hal ini terlihat dari
Ef 4:26 dan Maz 4:5.
b) Kemarahan terhadap dosa justru harus ada dalam diri orang yang
dikuasai Roh Kudus (Kel 32:19 1Sam 11:6).
Dalam Wah 2:2 ketidak-sabaran terhadap orang-orang yang jahat,
justru merupakan sesuatu yang dipuji dari gereja / jemaat Efesus.
Sebaliknya, dalam 2Kor 11:4 kesabaran orang Korintus terhadap nabinabi palsu, justru dikecam oleh Paulus. Demikian juga dalam
Wah 2:20, jemaat Tiatira yang membiarkan nabi palsu, juga dikecam.
c) Kemarahan Yesus adalah kemarahan yang suci, yang ditujukan kepada
dosa, sehingga jelas bukan dosa.
Penerapan:
Orang Kristen harus berani marah pada saat yang tepat, misalnya pada
waktu melihat ada nabi palsu atau korupsi dalam gereja.
2) Tuduhan bahwa Yesus melanggar peraturan Sabat (Mat 12:9-14 Luk 14:16 Yoh 5:1-18 Yoh 9:14,16).
Untuk ini perlu diketahui bahwa:
a) Yesus adalah Tuhan atas hari Sabat (Mat 12:8).
b) Yesus berkata bahwa hari Sabat diciptakan untuk manusia dan bukan
manusia untuk hari Sabat (Mark 2:27).
c) Yesus berkata bahwa kita boleh berbuat baik pada hari Sabat (Mat
12:11-12 bdk. Yoh 7:22-23).
Yesus bukan bekerja pada hari Sabat, tetapi menyembuhkan /
menolong orang / berbuat baik pada orang lain pada hari Sabat. Ini
jelas bukan dosa.
d) Yang dilanggar oleh Yesus bukanlah peraturan / hukum Tuhan tentang
hari Sabat, tetapi penafsiran yang salah dari ahli-ahli Taurat dan
orang-orang Farisi tentang peraturan Sabat.
3) Yesus dibaptis oleh Yohanes Pembaptis, padahal baptisan Yohanes adalah
baptisan untuk pengampunan dosa (Mark 1:4).
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam persoalan ini:

a) Berbeda dengan semua orang lain, yang mengaku dosa pada saat
dibaptis oleh Yohanes Pembaptis, Yesus tidak mengaku dosa (Mat
3:6,13-17).
b) Yohanes Pembaptis sendiri, yang mengenali Yesus sebagai Anak Allah /
Mesias, mula-mula menolak untuk membaptis Yesus, dan bahkan
beranggapan bahwa ialah yang seharusnya dibaptis oleh Yesus
(Mat 3:14).
c) Yesus menjawab keberatan Yohanes Pembaptis itu dengan berkata
bahwa Ia harus dibaptis oleh Yohanes, untuk menggenapkan seluruh
kehendak Allah (Mat 3:15).
Mat 3:15 (NIV): to fulfil all righteousness (= untuk menggenapkan
seluruh kebenaran).
Jadi jelas bahwa
pengampunan dosa!

Yesus

tidak

dibaptis

untuk

mendapatkan

4) Yesus dianggap bersikap tidak hormat kepada Maria / ibuNya, misalnya:


a) Kitab Suci tidak pernah menyebutkan bahwa Yesus memanggil /
menyebut Maria dengan sebutan ibu / mama. Kalau dalam Kitab
Suci Indonesia ada ayat-ayat dimana Yesus menyebut / memanggil
Maria dengan sebutan ibu (seperti dalam Yoh 2:4 dan Yoh 19:26),
maka perlu diketahui bahwa itu diterjemahkan dari kata Yunani
GUNAI yang sebetulnya berarti perempuan.
b) Sikap / kata-kata Yesus terhadap / tentang Maria dalam:

Mat 12:46-50.

Luk 2:48-49.

Yoh 2:4.

Untuk ini perlu diperhatikan bahwa Yesus adalah Allah dan manusia
dalam satu pribadi. Sebagai manusia, Ia harus hormat dan tunduk
kepada orangtuaNya, tetapi sebagai Allah, Ia justru berkuasa atas
orang tuaNya, dan bahkan seharusnya orang tuanyalah yang mentaati
Dia, menghormati Dia, dan menyembah Dia!
Illustrasi: Kalau ada seorang majikan dan pegawainya yang samasama menjadi majelis dari suatu gereja, maka:

dalam pekerjaan, pegawai itu harus tunduk pada majikannya.

dalam urusan gereja, pegawai itu tidak harus tunduk kepada


majikannya itu, karena ia mempunyai pangkat / jabatan yang
sama dengan majikannya. Dan kalau hal ini terjadi, kita pasti
tidak akan mengatakan bahwa pegawai itu kurang ajar kepada
majikannya!

Hal yang sama terjadi kalau ada seorang pendeta yang mempunyai
orang tua atau mertua sebagai jemaatnya.
5) Yesus takut dan gentar (Mat 26:37-38 Mark 14:33 Luk 22:44).
Mat 26:37: sedih dan gentar. Ini salah terjemahan!
NIV: to be sorrowful and troubled (= sedih dan susah).
NASB: to be grieved and distressed (= sedih dan susah).
Jadi, dari ayat ini hanya terlihat bahwa Yesus sedih, tetapi tidak terlihat
bahwa Ia takut.
Sekarang mari kita perhatikan ayat-ayat paralel dari Mat 26:37 itu:

Luk 22:44: Ia sangat ketakutan. Ini juga salah terjemahan!


NIV: being in anguish (= ada dalam kesedihan).
NASB: being in agony (= ada dalam penderitaan).
Jadi dari ayat inipun tak terlihat bahwa Yesus takut.

Mark 14:33: sangat takut dan gentar.


NIV/NASB: deeply / very distressed and troubled (= sangat sedih
dan susah).
Tetapi di sini terjemahan NIV/NASB juga salah, karena kata yang
diterjemahkan distressed (= sedih) itu di dalam bahasa Yunaninya
adalah EKTHAMBEISTHAI yang berasal dari kata EKTHAMBEOMAI, yang
sebetulnya berarti be greatly alarmed (= sangat takut).
Jadi, dari ayat ini kita bisa melihat bahwa Yesus bukan hanya sedih
tetapi juga takut.

Hal-hal lain yang menunjukkan bahwa pada saat itu Yesus memang takut:

Doa Yesus dalam Mat 26:39 secara implicit menunjukkan bahwa Ia


takut terhadap cawan (simbol dari murka / hukuman Allah) itu.

Luk 22:44b mengatakan bahwa ia mencucurkan peluh seperti darah.


Ada yang menganggap bahwa ini betul-betul adalah darah, dan orangorang ini mengatakan bahwa hal seperti ini memang bisa terjadi (dan
pernah terjadi) pada orang yang mengalami ketakutan yang luar
biasa.

Ibr 5:7 (KJV): ... he had offered up prayers and supplications with
strong crying and tears unto him that was able to save him from
death, and was heard in that he feared (= Ia menaikkan doa dan
permohonan dengan tangisan keras dan air mata kepada Dia yang bisa
melepaskanNya dari maut, dan didengarkan dalam hal yang Ia
takuti).
Catatan: Kata-kata yang oleh KJV diterjemahkan in that He feared
(= dalam hal yang Ia takuti), diterjemahkan secara berbeda oleh
Kitab Suci bahasa Inggris yang lain.
NIV: because of His reverent submission (= karena ketundukanNya
yang penuh hormat / takut).
NASB: because of His piety (= karena kesalehanNya).
NKJV: because of His godly fear (= karena rasa takutNya yang saleh).
RSV: for his godly fear (= karena rasa takutNya yang saleh).
Sekalipun demikian ada banyak penafsir tetap mempertahankan arti
yang diberikan oleh KJV.

Bahwa Yesus sedih, itu bukan sesuatu yang aneh, karena saat itu Ia
sedang dikhianati oleh Yudas, akan ditinggal oleh murid-muridNya, akan
disangkal oleh Petrus, akan ditolak oleh orang-orang Yahudi, dan akan
terpisah dari Allah. Dan kesedihan itu juga bukan dosa karena ayat
seperti Fil 4:4 memang tidak boleh dimutlakkan (bdk. Mat 5:4 Luk
6:21b)!
Tetapi bagaimana dengan rasa takut yang dialami oleh Yesus? Apakah ini
bukan dosa?
a) Pertama-tama perlu diketahui bahwa Ia bukan takut pada kematian
atau penderitaan, tetapi takut pada murka Allah (Catatan: takut

pada murka Allah jelas bukan merupakan sesuatu yang salah!) yang
akan menimpaNya pada saat Ia menanggung hukuman umat manusia.
William Hendriksen: Did he, perhaps, here in Gethsemane
see this tidal wave of God's wrath because of our sin
coming? [= Mungkinkah Ia, di sini di Getsemani,
melihat datangnya gelombang pasang (= tsunami)
murka Allah karena dosa kita?] - The Gospel of Mark, hal
586.
Renungkan: bahwa Yesus, yang biasanya tidak pernah takut itu, bisa
takut melihat murka Allah itu, menunjukkan secara jelas betapa
hebatnya dan mengerikannya murka Allah atas dosa-dosa kita itu!
Bdk. Wah 6:15-17. Karena itu, kalau saudara belum betul-betul
percaya kepada Yesus sebagai Juruselamat dan Tuhan, cepatlah
percaya, sebelum saudara harus menghadapi / mengalami murka
Allah yang menakutkan itu!
b) Apakah rasa takut Yesus di sini adalah dosa?

Kitab Suci jelas menunjukkan bahwa Yesus tidak pernah berbuat


dosa dalam bentuk apapun (Ibr 4:15 2Kor 5:21). Karena itu jelas
bahwa rasa takut di sini tidak bisa disebut sebagai dosa. Kita tidak
boleh menafsirkan ayat Kitab Suci yang satu sehingga bertentangan dengan ayat yang lain.

1Yoh 4:18 kelihatannya menunjukkan bahwa rasa takut adalah


dosa, tetapi kalau kita membaca mulai 1Yoh 4:17 maka akan
terlihat bahwa rasa takut yang dimaksudkan di sini adalah rasa
takut terhadap hukuman Allah pada akhir jaman. Ayat ini hanya
menunjukkan bahwa orang kristen sejati, yang cinta kepada Allah,
pasti tidak akan mempunyai rasa takut terhadap hukuman Allah
pada akhir jaman. Mengapa? Karena ia percaya bahwa semua
hukumannya sudah ditanggung oleh Kristus sehingga ia tidak
mungkin dihukum (Ro 8:1). Jadi jelas bahwa ayat ini tidak bisa
diterapkan terhadap rasa takut Kristus pada saat ini.

Dalam tafsirannya tentang Mat 26:39, Calvin mengatakan:


In the present corruption of our nature it is
impossible to fnd ardour of affections accompanied
by moderation, such as existed in Christ; but we
ought to give such honour to the Son of God, as not
to judge him by what we fnd in ourselves (= Dalam
keadaan kita yang berdosa sekarang ini, tidak
mungkin untuk mendapatkan perasaan yang tidak

berlebihan, seperti yang ada dalam Kristus; tetapi


kita harus menghormati Anak Allah dengan tidak
menghakimiNya dengan apa yang kita dapatkan
dalam diri kita sendiri).
When Christ was struck with horror at the divine
curse, the feeling of the flesh affected him in such a
manner, that faith still remained frm and unshaken.
For such was the purity of his nature, that he felt,
without being wounded by them, those temptations
which pierce us with their stings (= Ketika Kristus
takut pada kutuk ilahi, perasaan dari daging
mempengaruhiNya dengan cara sedemikian rupa,
sehingga iman tetap teguh dan tak tergoyahkan.
Karena begitu murninya hakekatNya, sehingga Ia
merasa tanpa terluka oleh pencobaan-pencobaan
yang akan menusuk kita dengan sengatnya).
Jadi dengan kata-kata ini Calvin memaksudkan bahwa:

kita sebagai manusia yang berdosa, sangat berbeda dengan


Kristus yang suci murni itu.

karena itu kita tak boleh menghakimi Kristus dengan apa yang
ada dalam diri kita, karena Ia memang berbeda dengan kita.

pada saat Kristus takut, Ia bisa tetap beriman (kita tidak bisa
seperti ini), dan karena itu Ia tetap tidak berdosa.

6) Ibr 5:8 mengatakan bahwa Yesus belajar menjadi taat dari apa yang
telah dideritaNya.
Ini dijadikan dasar untuk mengatakan bahwa ada saat dimana Yesus tidak
taat.
Penjelasan:
a) Calvin mengatakan bahwa ayat ini jelas tidak berarti bahwa dulunya
Yesus tidak taat, dan lalu Ia mengalami penderitaan yang membuat
Dia taat, seakan-akan Yesus adalah kuda / bagal yang baru mau
menurut setelah dikendalikan dengan kekang, cambuk, dsb (bdk. Maz
32:9). Setiap orang kristen akan mengalami ketaatan seperti ini,
tetapi Yesus tidak!

b) John Owen mengatakan bahwa belajar ketaatan bisa diartikan 3


macam:

dari tidak tahu lalu menjadi tahu tentang apa yang harus ditaati.
Tentu bukan ini yang dimaksud di sini.

belajar untuk melakukan ketaatan.


Kita semua perlu belajar ketaatan dalam arti ini, dimana kita
jatuh bangun berkali-kali, sampai akhirnya kita bisa mengatasi
dosa tertentu. Tentu bukan ini yang dimaksud di sini.

mendapat pengalaman ketaatan.


Inilah arti yang dimaksudkan di sini.

John Owen juga mengatakan bahwa ketaatan yang dimaksud di sini


adalah ketaatan dalam mengalami penderitaan, bahkan kematian
untuk menebus dosa manusia (bdk. Yes 50:5-6 Yes 53:7 Yoh 10:17-18
Fil 2:8).
Dengan mengalami semua itu Ia mengalami dalam diriNya sendiri
betapa sukarnya ketaatan dalam penderitaan itu, dan betapa besar
kasih karunia yang dibutuhkan untuk taat. Dengan demikian Ia bisa
mempunyai belas kasihan dan simpati terhadap kita yang menderita.
Kalau yang dimaksud dengan belajar ketaatan itu adalah
mengalami ketaatan dalam penderitaan, maka jelaslah itu tidak
menunjukkan bahwa tadinya Kristus tidak taat!
c) Tyndale Commentary mengutip Griffith Thomas yang berkata:
This is the difference between innocency and virtue.
Innocency is life untested, while virtue is innocency
tested and triumphant. The Son had always possessed
the disposition of obedience, but for Him to possess the
virtue of obedience, testing was necessary (= Inilah
perbedaan antara ketidak-bersalahan dan kebaikan /
kebajikan. Ketidak-bersalahan adalah hidup yang
tidak / belum diuji, sedangkan kebaikan / kebajikan
adalah ketidakbersalahan yang telah diuji dan menang.
Anak selalu mempunyai kecondongan pada ketaatan,
tetapi supaya Ia mempunyai kebaikan / kebajikan
dalam ketaatan, Ia harus diuji).

Kalau kita melihat kata-kata ini, maka terlihat bahwa ia beranggapan


bahwa sebelum Yesus belajar ketaatan Ia mempunyai innocency (=
ketidak-bersalahan), tetapi setelah Yesus belajar ketaatan, Ia
mempunyai virtue (= kebaikan / kebajikan). Ini lagi-lagi
menunjukkan bahwa sebelum Yesus belajar ketaatan, Ia bukannya
tidak taat.
7) Ibr 5:9 mengatakan sesudah Ia mencapai kesempurnaanNya, Ia menjadi
pokok keselamatan yang abadi ....
NASB: And having been made perfect, He became ... (= Dan setelah
disempurnakan, Ia menjadi ...).
Ayat ini dijadikan dasar untuk mengatakan bahwa ada satu saat dimana
Yesus itu tidak / belum sempurna.
Penjelasan:
Kontex (Ibr 4:14-5:10) berbicara tentang Yesus sebagai Imam Besar, dan
karena itu istilah sempurna di sini harus dihubungkan dengan hal itu.
Jadi artinya adalah: Ia jadi cocok sempurna untuk menjadi Imam Besar.
8) Mark 10:17-18 menceritakan dialog antara Yesus dengan pemuda kaya,
dimana ketika pemuda kaya menyebut Yesus dengan istilah / sebutan
Guru yang baik, Yesus menjawab dengan berkata: Mengapa
kaukatakan Aku baik? Tak seorangpun yang baik selain dari pada Allah
saja.
Ini sering dianggap sebagai pengakuan Yesus sendiri yang menyatakan
bahwa Ia bukan Allah, dan Ia tidak baik.
Penjelasan:
a) Kita tidak boleh menafsirkan satu ayat sehingga bertentangan dengan
ayat yang lain. Penafsiran bahwa Mark 10:17-18 berarti bahwa Yesus
bukan Allah dan Yesus tidak baik, bertentangan dengan banyak ayat
Kitab Suci yang menunjukkan keilahian dan kesucian Yesus.
b) Pemuda kaya itu menyebut Yesus dengan istilah guru yang baik. Dari
istilah guru jelaslah bahwa ia menganggap Yesus hanyalah manusia
biasa. Dengan menambahkan istilah baik, sebetulnya ia
menggunakan sebutan yang kontradiksi, karena tidak ada manusia
biasa yang baik (Maz 14:1-3 Maz 53:2-4 Ro 3:10-12).
Kata-kata Yesus dalam Mark 10:18 itu dimaksudkan untuk
membetulkan ketidakbenaran / kontradiksi dalam sebutan pemuda

kaya itu. Yesus mau bahwa pemuda itu tidak hanya mengakui Dia
sebagai baik, tetapi juga sebagai Allah.

III) Ketidak-bisa-berdosaan Kristus.


Semua orang yang Injili dan Alkitabiah setuju bahwa bahwa dalam faktanya
Kristus tidak pernah berbuat dosa.
Tetapi yang dibicarakan sekarang, adalah: secara teoritis, adakah
kemungkinan bagi Yesus untuk jatuh ke dalam dosa pada waktu Ia hidup
sebagai manusia dalam dunia ini?
Dalam hal ini tidak ada kesatuan pendapat, bahkan dalam kalangan
Reformedpun tidak ada keseragaman pendapat.
Sekarang mari kita menyoroti macam-macam pandangan yang ada:
A) Kristus tidak bisa berdosa (non posse peccare).
Ini merupakan pandangan Calvin dan orang-orang Reformed pada
umumnya (Catatan: sepanjang yang saya tahu, dari para ahli theologia
Reformed, hanya Charles Hodge yang tidak setuju dengan pandangan
ini).
Hal-hal yang dijadikan dasar untuk mengatakan bahwa Kristus tidak bisa
berbuat dosa:
1) Ibr 13:8 berkata bahwa Kristus tidak berubah. Kalau Ia bisa berdosa,
maka itu berarti Ia bisa berubah (dari suci menjadi berdosa).
2) Ibr 10:7,9 mengatakan bahwa Kristus datang ke dunia untuk
melakukan kehendak Allah. Tujuan ini tidak mungkin tidak tercapai!
3) Kata-kata Kristus dalam Yoh 14:30 dimana Ia berkata bahwa Penguasa
dunia ini (yaitu setan) tidak berkuasa sedikitpun atas diriNya,
menunjukkan ketidak-mungkinanNya untuk berbuat dosa.
4) Penebusan oleh Kristus sudah ada sejak semula dalam Rencana Allah
dan Rencana Allah tidak mungkin berubah atau gagal.
a) Bahwa Rencana Allah sudah ada sejak semula terlihat dari ayatayat seperti 2Raja-raja 19:25 Maz 139:16 Yes 37:26 Yes 46:10.
Kalau manusia membuat rencana, maka manusia membuatnya
secara bertahap. Misalnya pada waktu kita ada di SMP kita

merencanakan untuk masuk SMA tertentu, dan pada waktu di SMA


baru kita merencanakan untuk masuk perguruan tinggi tertentu.
Setelah lulus dari perguruan tinggi, baru kita merencanakan untuk
bekerja di tempat tertentu, dsb. Tidak ada manusia yang dari
lahir lalu bisa merencanakan segala sesuatu dalam seluruh hidupnya! Mengapa? Karena manusia tidak maha tahu sehingga ia tidak
mampu melakukan hal itu. Manusia membutuhkan penambahan
pengetahuan untuk bisa membuat rencana lanjutan.
Tetapi Allah yang maha tahu dan maha bijaksana, merencanakan
seluruh RencanaNya sejak semula!
b) Penebusan dosa umat manusia oleh Kristus sudah termasuk dalam
Rencana Allah (Kis 2:23 Kis 4:27-28 1Pet 1:20).
c) Rencana Allah tidak mungkin berubah atau gagal (Ayub 42:2 Maz
33:10-11 Yes 14:24,26,27 Yes 46:10-11).
Orang Arminian / non Reformed percaya bahwa Allah bisa
mengubah RencanaNya, dan percaya bahwa Rencana Allah bisa
gagal. Sebetulnya ini suatu penghinaan bagi Allah karena ini
menyamakan Allah dengan manusia, yang sering harus mengubah
rencananya dan gagal dalam mencapai rencananya!
Ada banyak hal yang tidak memungkinkan Allah mengubah
rencanaNya / gagal dalam mencapai rencanaNya:

ayat-ayat dalam point c di atas secara jelas menunjukkan


bahwa Rencana Allah tak mungkin berubah atau gagal!

kemahatahuan Allah.
Pada waktu Allah merencanakan, bukankah Ia sudah tahu
apakah rencanaNya akan berhasil atau gagal? Kalau Ia sudah
tahu bahwa RencanaNya akan gagal, lalu mengapa Ia tetap
merencanakannya?

kemahabijaksanaan Allah.
Kebijaksanaan Allah menyebabkan Ia pasti membuat rencana
yang terbaik. Kalau rencana ini diubah, maka akan menjadi
bukan yang terbaik. Ini tidak mungkin!

kemahakuasaan Allah.

Manusia sering gagal mencapai rencananya atau terpaksa


mengubah rencananya karena ia tidak maha kuasa. Tetapi
Allah yang maha kuasa tidak mungkin gagal mencapai
rencanaNya atau terpaksa harus mengubah rencanaNya!

kedaulatan Allah tidak memungkinkan Ia untuk mengubah


rencanaNya, karena perubahan rencana berarti Ia menjadi
tergantung pada situasi dan kondisi (tidak lagi berdaulat).
Kalau Kristus berdosa, maka Ia harus mati untuk dosaNya
sendiri, sehingga Ia tidak bisa menebus dosa umat manusia.
Jadi kalau ada kemungkinan bagi Kristus untuk berdosa, maka
itu berarti ada kemungkinan bagi Rencana Allah (tentang
Penebusan) untuk gagal.

5) Dilihat dari hakekat-hakekat yang ada dalam diri Kristus:

hakekat manusia mempunyai sifat bisa berdosa (posse peccare).

hakekat ilahi mempunyai sifat tidak bisa berdosa (non posse


peccare).

Berdasarkan Communicatio Idiomatum, maka semua sifat dari


hakekat manusia maupun hakekat ilahi diberikan kepada pribadi
Kristus. Jadi seharusnya pribadi Kristus mempunyai sifat bisa
berdosa dan tidak bisa berdosa. Tetapi kesimpulan ini ditolak oleh
orang-orang Reformed pada umumnya.
a) Pandangan Louis Berkhof.
Adanya Communicatio Charismatum dimana hakekat manusia
dari Kristus ditinggikan melebihi makhluk-makhluk ciptaan yang
lain melalui pemberian karunia-karunia Roh dalam hal intelek,
kehendak dan kuasa, terutama dalam hal ketidak-mungkinannya
untuk berbuat dosa.
Jadi, Louis Berkhof beranggapan bahwa hakekat manusia Kristus
itu sendiri sudah tidak bisa berbuat dosa. Dan ini menyebabkan
pribadi Kristus tidak bisa berdosa.
b) Pandangan W.G.T. Shedd.
Shedd beranggapan bahwa hakekat manusia dari Kristus bisa
berdosa (posse peccare), tetapi dalam persatuan antara hakekat
manusia dan hakekat ilahi dalam satu pribadi, hakekat ilahilah
yang menguasai dan mengontrol hakekat manusia, dan bukan

sebaliknya. Jadi kekuatan pribadi Kristus untuk melawan godaan /


serangan setan setara dengan kekuatan dari hakekat ilahi untuk
melawan godaan / serangan setan. Dengan demikian, apa yang
bisa dilakukan oleh hakekat manusia Kristus kalau hakekat
manusia itu terpisah dari hakekat ilahi (yaitu bisa berbuat dosa),
tidak bisa dilakukan oleh persatuan dari hakekat manusia dan
hakekat ilahi dalam pribadi Kristus.
Jadi doktrin Shedd tentang Communicatio Idiomatum adalah
bahwa semua sifat dari hakekat ilahi diberikan kepada pribadi
Kristus, tetapi untuk hakekat manusia, ada 1 sifat yang tidak bisa
diberikan kepada pribadi Kristus, yaitu sifat bisa berdosa.
Alasan Shedd adalah: dalam persoalan dosa, hakekat ilahi tidak
bisa membiarkan hakekat manusia pada keterbatasannya. Kalau
hakekat ilahi melakukan hal itu, hakekat ilahi sendiri sudah
berdosa:
In this latter instance, the divine nature cannot
innocently and righteously leave the human nature
to its own fniteness without any support from the
divine, as it can in other instances (= Dalam hal
yang terakhir ini, hakekat ilahi tidak bisa secara tak
berdosa dan secara benar, meninggalkan hakekat
manusia pada keterbatasannya tanpa pertolongan
dari hakekat ilahi, seperti yang bisa dilakukan oleh
hakekat ilahi dalam hal-hal lain) - Shedds Dogmatic
Theology, vol II, hal 333-334.
c) Pandangan R.L. Dabney.
Persatuan 2 hakekat itu adalah suatu perisai bagi hakekat manusia
terhadap kesalahan:
It is impossible that the person constituted in
union with the eternal and immutable Word, can sin;
for this union is an absolute shield to the lower
nature, against error (= Adalah tidak mungkin
bahwa pribadi yang terbentuk / terdapat dalam
persatuan dengan Firman yang kekal dan yang tak
berubah, bisa berdosa; karena persatuan ini adalah
suatu perisai yang mutlak bagi hakekat yang lebih
rendah, terhadap kesalahan) - Lectures in Systematic
Theology, hal 471.
Dalam persatuan hakekat manusia dengan LOGOS, hakekat
manusia itu dikuasai sepenuhnya oleh Roh Kudus:

This lower nature, upon its union with the Word,


was imbued with the full influence of the Holy
Ghost (= Hakekat yang lebih rendah ini, dalam
persatuannya dengan Firman, dikaruniai dengan
pengaruh penuh dari Roh Kudus) - Lectures in
Systematic Theology, hal 471.
Dabney juga memberikan dasar-dasar Kitab Suci yang
menunjukkan peranan Roh Kudus dalam diri Kristus, yaitu:
Maz 45:8 Yes 11:2,3 Yes 61:1 (bdk. Luk 4:21) Luk 4:1 Yoh 1:32
Yoh 3:34.
Ini kelihatannya sesuai dengan pandangan Calvin, karena dalam
komentarnya tentang Mat 4:1 (dimana Kristus dipenuhi oleh Roh
Kudus sebelum Ia dicobai oleh setan) ia berkata sebagai berikut:
Christ was fortifed by the Spirit with such power
that the darts of Satan could not pierce him (=
Kristus
dibentengi
oleh
Roh
dengan
kuasa
sedemikian rupa sehingga panah-panah Setan tidak
bisa menusukNya).
d) G. C. Berkouwer mengutip seseorang yang berkata:
The inner incapacity for sin results from the fact
that the I of the human nature is the Logos (=
Ketidak-mampuan untuk berbuat dosa merupakan
akibat dari fakta bahwa Aku dari hakekat manusia
itu adalah Logos) - Studies in Dogmatics: The Person of
Christ, hal 258.
Perlu ditambahkan kata-kata Herman Hoeksema sebagai berikut:
My person is that which I know to be the subject of
all my actions, ... It is not my nature, my body or my
soul, my brain, my eye, my ear, my mouth, my feet,
that acts, thinks, sees, hears, speaks, runs; but it is
my person. I act, I think, I see, and I hear and speak
and run, in and through my nature. ... Now in Christ
this person is the Son of God, the Second Person of
the Holy Trinity (= Pribadiku adalah apa yang aku
ketahui
merupakan
subyek
dari
semua
tindakanku, ... Bukanlah hakekatku, tubuhku atau
jiwaku, otakku, mataku, telingaku, mulutku, kakiku,
yang bertindak, berpikir, melihat, mendengar,
berbicara,
lari;
tetapi
pribadikulah
yang
melakukannya. Aku bertindak, aku berpikir, aku
melihat, dan aku mendengar dan berbicara dan
berlari, di dalam dan melalui hakekatku. ... Dalam

hal Kristus, pribadiNya adalah Anak Allah, pribadi


yang kedua dari Tritunggal yang Kudus) - Reformed
Dogmatics, hal 359-360.
Karena pribadi merupakan subyek dari semua tindakan, maka
jelaslah bahwa Kristus tidak bisa berbuat dosa, karena pribadiNya
adalah Allah Anak / LOGOS sendiri!
e) G. C. Berkouwer juga memberikan pandangan Abraham Kuyper
(yang kelihatannya merupakan gabungan dari pandangan c) dan
d). Berkouwer berkata sebagai berikut:
Kuyper says that owing to the human nature of
Christ there was in him the possibility of sin (as it
existed in Adam before the Fall). But since Jesus did
not assume a human person, a homo, but human
nature, and since there was in him no human ego (to
realize this possibilitas) but, on the contrary, the
human nature remained eternally united to the
second person of the Trinity, therefore the control of
this divine person makes it absolutely impossible for
the possibilitas to become reality [= Kuyper
mengatakan
bahwa
hakekat
manusia
Kristus
menyebabkan dalam Dia ada kemungkinan untuk
berbuat dosa (seperti yang ada dalam Adam sebelum
Kejatuhan dalam dosa). Tetapi karena Yesus tidak
mengambil seorang pribadi manusia, seorang
manusia, tetapi hakekat manusia, dan karena
dalam
Dia
tidak
ada
ego
manusia
(untuk
mewujudkan kemungkinan ini) tetapi, sebaliknya,
hakekat manusia itu tetap bersatu secara kekal
dengan pribadi kedua dari Trinitas, karena itu
kontrol
dari
pribadi
ilahi
ini
menyebabkan
ketidakmungkinan
mutlak
untuk
terwujudnya
kemungkinan tersebut] - Studies in Dogmatics: the Person
of Christ, hal 259.
Sekalipun pandangan-pandangan tersebut di atas (a - e) berbeda satu
sama lain, tetapi kesimpulannya adalah sama, yaitu: pribadi Kristus
tidak bisa berdosa.
B) Kristus bisa berdosa (posse peccare).
1) Charles Hodge berkata:
The sinlessness of our Lord, however, does not amount
to absolute impeccability. ... If He was a true man He
must have been capable of sinning. ... Temptation

implies the possibility of sin. If from the constitution of


his person it was impossible for Christ to sin, then his
temptation was unreal and without effect, and He
cannot sympathize with his people (= Tetapi, ketidakberdosaan Tuhan kita, tidak berarti ketidak-bisaberdosaan yang mutlak. ... Jika Ia adalah seorang
manusia
yang
sungguh-sungguh
Ia
pasti
bisa
berdosa.
...
Pencobaan
secara
tak
langsung
menunjukkan kemungkinan untuk berbuat dosa. Jika
pembentukan pribadiNya menyebabkan Kristus tidak
mungkin berbuat dosa, maka pencobaanNya tidak
nyata dan tidak berguna, dan Ia tidak bisa bersimpati
dengan umatNya) - Systematic Theology, vol II, hal 457.
Jadi, alasan yang diberikan oleh Charles Hodge untuk mendukung
pandangan ini adalah:

Kalau Kristus menjadi manusia yang sama seperti kita (Ibr 2:1417), maka Ia juga harus bisa berbuat dosa, sama seperti kita.
Jawab:
Ini bisa dijawab dengan point A no 5 di atas.

Kalau Kristus tidak bisa berbuat dosa, Ia tidak bisa dicobai.


Dengan kata lain, fakta bahwa Kristus dicobai, menunjukkan
bahwa Ia bisa berbuat dosa.
Jawab:
Pandangan ini tidak benar, karena bahwa suatu pasukan tidak bisa
dikalahkan, tidak berarti bahwa pasukan itu tidak bisa diserang.
Jadi analoginya adalah: bahwa Kristus tidak bisa berdosa, tidak
berarti Ia tidak bisa dicobai.

Kalau Kristus tidak bisa berbuat dosa, maka pencobaan yang Ia


alami tidak nyata dan tidak berguna, dan Ia tidak bisa bersimpati
dengan umatNya.
Jawab:

Sekalipun Kristus tidak bisa berbuat dosa, ini tidak berarti


bahwa pencobaan yang dialami oleh Kristus adalah sepele /
ringan (bdk. Mat 26:36-46 Ibr 2:18 Ibr 4:15 Ibr 5:7-8).

Tentang hal ini Berkouwer berkata:


Christs sinlessness does not nullify the
temptation
but
rather
demonstrates
its
superiority in the teeth of temptation (= ketidakberdosaan Kristus tidak meniadakan pencobaan
tetapi sebaliknya menunjukkan kesuperiorannya
dalam gigitan pencobaan) - Studies in Dogmatics: the
Person of Christ, hal 263.

Pada waktu membahas tentang pencobaan di padang gurun


dalam Injil Lukas, Norval Geldenhuis (NICNT) mengutip
Westcott yang mengomentari Ibr 2:18 dengan kata-kata
sebagai berikut:
Sympathy with the sinner in his trial does not
depend on the experience of sin, but on the
experience of the strength of the temptation to
sin, which only the sinless can know in its full
intensity. He who falls yields before the last
strain (= Simpati dengan orang berdosa dalam
pencobaannya tidak tergantung pada pengalaman
tentang dosa, tetapi pada pengalaman tentang
kekuatan pencobaan kepada dosa, yang hanya
orang yang tak berdosa bisa mengetahuinya
dalam intensitasnya sepenuhnya. Ia yang jatuh,
menyerah sebelum tekanan terakhir) - hal 157.
Geldenhuis juga mengutip Plummer yang berkata:
... a righteous man, whose will never falters for a
moment, may feel the attractiveness of the
advantage more keenly than the weak man who
succumbs; for the latter probably gave way before
he recognised the whole of the attractiveness
(= ... orang yang benar, yang tidak pernah goyah
sesaatpun, bisa merasakan daya tarik dari
keuntungan dengan lebih hebat / keras dari pada
orang lemah yang menyerah / mengalah; karena
yang terakhir ini mungkin menyerah sebelum ia
mengenal seluruh daya tarik itu) - hal 157.
Dari 2 kutipan di atas ini Geldenhuis menyimpulkan:
If we bear these considerations in mind we shall
realise that the Saviour experienced the violence
of the attacks of temptation as no other human
being ever did, because all others are sinful and
therefore not able to remain standing until the

temptations have exhausted all their terrible


violence in assailing them (= Jika kita mengingat
pertimbangan-pertimbangan
ini,
kita
akan
menyadari bahwa sang Juruselamat mengalami
hebatnya serangan pencobaan yang tidak pernah
dialami oleh orang lain, karena semua yang lain
adalah orang berdosa dan karena itu tidak bisa
tetap berdiri sampai pencobaan-pencobaan itu
menghabiskan
seluruh
kekuatannya
dalam
menyerang mereka) - hal 157.
Illustrasi dan contoh:
o Kalau seorang petinju yang tidak terlalu tahan pukul
menghadapi Mike Tyson, maka mungkin sekali bahwa baru
satu kali terkena pukulan Mike Tyson ia sudah KO, sehingga
ia tidak merasakan seluruh kekuatan Mike Tyson. Tetapi
petinju lain yang betul-betul tahan pukulan, tidak jatuh
sekalipun terkena banyak pukulan Tyson, sehingga ia betulbetul merasakan seluruh kekuatan Tyson.
o Orang yang mengalami godaan sex. Kalau begitu ada
godaan ia langsung menyerah, maka jelas bahwa ia tidak
merasakan seluruh kekuatan godaan itu. Tetapi kalau ia
bertahan, maka orang yang menggodanya itu akan
menggunakan bermacam-macam cara dan taktik untuk
menjatuhkannya, sehingga ia akan merasakan seluruh
kekuatan godaan itu.
2) Ada juga yang membuktikan bahwa Kristus bisa berbuat dosa dengan
menggunakan Mat 26:53 dimana Yesus berkata: Atau kausangka,
bahwa Aku tidak dapat berseru kepada BapaKu, supaya
Ia segera mengirim lebih dari dua belas pasukan
malaikat membantu Aku?.
Ayat ini dijadikan dasar untuk mengatakan bahwa saat itu Yesus ada
di persimpangan jalan. Ia bisa memilih untuk tunduk pada kehendak
Allah, dengan membiarkan diriNya ditangkap dan dibunuh. Tetapi Ia
bisa juga memilih untuk tidak tunduk pada kehendak Allah, dengan
berdoa kepada BapaNya supaya BapaNya mengirim lebih dari 12
pasukan malaikat membantu Dia. Sekalipun akhirnya / dalam faktanya Ia memilih untuk taat pada kehendak Allah, tetapi ayat ini
dianggap sebagai dasar untuk menunjukkan bahwa sebetulnya Ia bisa
saja tidak tunduk pada kehendak Allah.
Jawab:

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:

Yesus mengucapkan Mat 26:53 ini hanya untuk meluruskan


pemikiran / tindakan dari Petrus yang berusaha menolong Yesus
dengan membacok telinga hamba Imam Besar.

Calvin beranggapan bahwa dalam Mat 26:53 ini Yesus hanya


mengandaikan.
Jadi maksudnya adalah sebagai berikut: Andaikata saja hal itu
tidak bertentangan dengan kehendak Allah, maka dari pada
dibantu oleh Petrus menggunakan pedangnya, Yesus mempunyai
cara yang lebih baik, yaitu berdoa kepada Bapa untuk mengirim
lebih dari 12 pasukan malaikat.

Mat 26:53 tidak boleh dipisahkan dari Mat 26:54 yang berbunyi:
Jika begitu, bagaimanakah mungkin akan digenapi
yang tertulis dalam Kitab Suci, yang mengatakan
bahwa harus terjadi demikian?.
Kata harus menunjukkan bahwa penangkapan terhadap Kristus
dan kematianNya, tidak bisa tidak terjadi!

kita juga harus mengingat doa Yesus dalam taman Getsemani


dimana Ia berdoa: Ya BapaKu, jikalau sekiranya
mungkin, biarlah cawan itu lalu dari padaKu
(Mat 26:39a).
Tetapi
karena
kesucianNya,
yang
tidak
memungkinkan Dia untuk menentang kehendak Allah, Ia lalu
menambahkan: Tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki
(Mat 26:39b).
Karena itu, andaikatapun Yesus di sini berdoa meminta Bapa
mengirim pasukan malaikat, tidakkah Ia juga akan menambahkan
kata-kata dalam Mat 26:39 itu?

C) Kristus bisa tidak berdosa (posse non peccare).


Pandangan ini berkata bahwa Kristus bukannya tidak bisa berdosa (non
posse peccare), juga bukannya bisa berdosa (posse peccare), tetapi
bisa tidak berdosa (posse non peccare).
Jawab:

Pandangan ini juga tidak logis, karena memiliki sifat bisa tidak berdosa
tanpa memiliki sifat bisa berdosa adalah sama dengan memiliki sifat
tidak bisa berdosa.
PNP

PNP

PP

NPNP

NPP

PP

Keterangan gambar:
PP = posse peccare = possible to sin = bisa berdosa.
PNP = posse non peccare = possible not to sin = bisa tidak berdosa.
NPNP = non posse non peccare = not possible not to sin = tidak bisa tidak
berdosa.
NPP = non posse peccare = not possible to sin = tidak bisa berdosa.
A = Adam dan Hawa sebelum jatuh ke dalam dosa. Mereka bisa berdosa
dan bisa tidak berdosa.
B = orang dalam dosa yang masih di luar Kristus. Mereka tidak bisa tidak
berdosa.
C = orang yang ada dalam Kristus. Mereka dikembalikan kepada kondisi
Adam dan Hawa sebelum jatuh ke dalam dosa, yaitu bisa berdosa dan
bisa tidak berdosa.
D = orang kristen di surga. Mereka tidak bisa berdosa.
Sekarang perhatikan hanya bagian C dan D saja. Pada waktu ada di C,
manusia bisa berdosa dan bisa tidak berdosa. Pada waktu masuk ke D,
bisa berdosa hilang, tetapi yang tertinggal bukanlah bisa tidak
berdosa, melainkan berubah menjadi tidak bisa berdosa.
Dari sini jelas bahwa bisa tidak berdosa tanpa disertai bisa berdosa,
menjadi tidak bisa berdosa.

THE HUMILIATION OF CHRIST


(PERENDAHAN KRISTUS)

Ada 5 tahap perendahan yang dialami oleh Kristus:

I) Inkarnasi.
A) Arti kata inkarnasi.
Kata ini berasal dari kata bahasa Latin IN [= in (= dalam)] + CARO /
CARNIS [= flesh (= daging)]. Jadi, inkarnasi bisa diartikan masuk ke
dalam daging. Tentu saja yang dimaksud dengan daging bukan hanya
tubuh, tetapi seluruh manusia.
Catatan: Jangan menyamakan inkarnasi dengan reinkarnasi.
Kekristenan mempercayai inkarnasi, yaitu waktu Yesus, yang adalah
Allah, menjadi manusia. Tetapi kekristenan menolak reinkarnasi, yang
merupakan ajaran agama Hindu / Buddha, karena bertentangan dengan
Kitab Suci, khususnya Ibr 9:27, yang mengatakan bahwa manusia
ditetapkan untuk mati hanya satu kali dan sesudah itu dihakimi.
B) Subyek dari inkarnasi.
Bukan Allah Tritunggal, tetapi Allah Anaklah yang berinkarnasi dan
mengambil hakekat manusia. Tetapi juga harus diingat bahwa setiap
pribadi dalam Allah Tritunggal ikut aktif dalam inkarnasi (Mat 1:20
Luk 1:35 Yoh 1:14 Kis 2:30 Ro 8:3 Gal 4:4 Fil 2:5-7).
Bahwa yang berinkarnasi adalah Allah Anak, merupakan sesuatu yang
perlu diingat / dicamkan, untuk menghadapi ajaran sesat yang disebut
Modalistic Monarchianism / Patripassianism / Sabellianism, yang
mengatakan bahwa Allah Bapa sendirilah yang berinkarnasi sebagai Anak.
Penerapan:
Banyak orang kristen berdoa secara salah dengan berkata: Yesus, Bapa
yang di surga, .... Atau: Kami bersyukur kepadaMu Bapa, karena
Engkau telah rela menjadi manusia dan mati bagi dosa kami. Ini doa
yang salah secara theologis karena mengacau-balaukan Yesus dengan
Bapa / menganggap bahwa Bapa berinkarnasi menjadi Yesus / Anak.
C) Inkarnasi dan kelahiran.
Inkarnasi berbeda dengan kelahiran karena:
1) Inkarnasi menunjukkan tindakan
menunjukkan pada tindakan pasif.

aktif,

sedangkan

kelahiran

Karena itu Yesus selalu berkata Aku datang (misalnya: Luk 19:10
Yoh 9:39
Yoh 10:10 dsb) - yang menunjukkan tindakan aktif,
bukannya Aku dilahirkan - yang menunjukkan tindakan pasif.
(Catatan: memang dalam Yoh 18:37b Yesus berkata: Untuk itulah
Aku lahir, tetapi Ia langsung menyambung dengan kata-kata dan
untuk itulah Aku datang ke dalam dunia ini).
Ini menunjukkan bahwa Yesus bukan sekedar manusia biasa, tetapi
juga adalah Allah sendiri, karena tidak ada orang biasa yang
kelahirannya merupakan tindakan aktif.
2) Inkarnasi menunjukkan bahwa Yesus mempunyai Pre-existence /
keberadaan sebelumnya (Yoh 1:1 6:38 8:58 2Kor 8:9 Fil 2:6-7).
Kalau sekedar dikatakan bahwa Yesus dilahirkan, maka itu
menunjukkan bahwa sebelum Ia dilahirkan, Ia tidak ada. Tetapi kalau
dikatakan bahwa Yesus berinkarnasi, karena inkarnasi merupakan
tindakan aktif, maka itu menunjukkan bahwa Ia sudah ada sebelum
saat itu.
Ini lagi-lagi menunjukkan bahwa Yesus bukan hanya sekedar manusia
biasa, tetapi juga adalah Allah sendiri.
D) Perlunya inkarnasi.
Upah dosa adalah maut / kematian (Ro 6:23 Kej 2:16-17 Kej 3:19).
Untuk menebus dosa manusia, Allah harus mengalami kematian itu.
Karena Allah tidak bisa mati, maka Ia harus menjadi manusia lebih dulu,
baru Ia bisa mati untuk menebus dosa manusia.
Tetapi ada ajaran yang mengatakan bahwa Yesus tetap harus menjadi
manusia sekalipun manusia tidak jatuh ke dalam dosa.
Alasannya:

inkarnasi pasti ada dalam Rencana Allah.


Rencana Allah tidak mungkin gagal, dan pasti akan dilaksanakan.
Karena itu, tidak jadi soal apakah manusia jatuh ke dalam dosa atau
tidak, Yesus tetap harus menjadi manusia.

pekerjaan Kristus bukan hanya penebusan dan penyelamatan.


Ia adalah Pengantara, tetapi juga adalah Kepala. Karena itu,
andaikatapun manusia tidak jatuh ke dalam dosa, Yesus tetap harus

menjadi manusia supaya Ia bisa menjadi Kepala bagi Gereja.


Bantahan terhadap ajaran ini:
a) Kitab Suci menunjukkan bahwa inkarnasi ada karena adanya dosa
(Luk 19:10 Yoh 3:16 Yoh 10:10 Gal 4:4-5 1Tim 1:15 1Yoh 3:8).
b) Rencana Allah hanya satu dan dalam Rencana ini sudah termasuk dosa
maupun inkarnasi, bahkan dalam Rencana Allah, inkarnasi itu ada
karena adanya dosa.
Banyak orang kristen tidak mau menerima bahwa dalam Rencana
Allah, dosa juga sudah ditetapkan. Anehnya, biasanya mereka tetap
percaya bahwa penebusan dosa oleh Kristus sudah direncanakan oleh
Allah sebelum dunia dijadikan (bdk. 1Pet 1:18-20). Padahal
penebusan dosa oleh Kristus hanya bisa terjadi kalau ada dosa yang
ditebus. Bagaimana mungkin penebusannya ditetapkan tetapi
dosanya tidak? Disamping itu, pembunuhan terhadap Kristus, yang
memungkinkan penebusan itu terjadi, juga adalah dosa. Dan itupun
terjadi karena telah ditetapkan oleh Allah (Kis 2:23 Kis 4:27-28).
Catatan: kalau saudara mau tahu lebih banyak tentang dosa dalam
Rencana Allah, bacalah buku saya yang berjudul The Providence of
God.
Jadi kesimpulannya: inkarnasi ada karena adanya dosa. Tetapi sekalipun
ada dosa, Allah melakukan inkarnasi dan penebusan dosa bukan sebagai
kewajiban / keharusan, tetapi karena kasihNya dan karena itulah yang Ia
kehendaki.
E) Apa yang terjadi pada saat inkarnasi.
1) Firman / LOGOS menjadi manusia (Yoh 1:14).
Ini tidak berarti bahwa:
a) LOGOS kehilangan seluruh atau sebagian keilahianNya.
b) LOGOS setelah
inkarnasi.

inkarnasi

berbeda

dengan

LOGOS

sebelum

Seseorang berkata: Incarnation does not mean that the


LOGOS ceased to be what He was before (= inkarnasi
tidak berarti bahwa LOGOS itu berhenti menjadi apa
adanya Dia sebelum saat itu).

Kalau kita menyoroti kata menjadi dalam Yoh 1:14, maka kita
perlu ingat bahwa kata ini bisa digunakan dalam 2 arti:

kalau kita berkata nasi sudah menjadi bubur, maka itu berarti
bahwa mula-mula hanya ada nasi, dan setelah itu hanya ada
bubur, sedangkan nasinya hilang / tidak ada lagi.

kalau saya berkata tahun 1993 saya menjadi pendeta, maka itu
berarti mula-mula ada saya, dan pada tahun 1993 itu saya tetap
ada / tidak hilang, tetapi lalu ditambahi dengan jabatan pendeta.

Kalau kita berbicara tentang Firman / Allah yang menjadi


manusia, maka kita harus mengambil arti ke 2 dari kata
menjadi tersebut! Jadi, pada waktu Allah menjadi manusia,
keilahian Yesus tidak hilang / tidak berkurang sedikitpun, tetapi Ia
justru ketambahan hakekat manusia pada diriNya.
2) Firman / LOGOS menjadi manusia berarti bahwa LOGOS mengambil
hakekat manusia (tubuh & jiwa):
a) Tanpa mengalami perubahan dalam hakekatNya.
b) Tanpa kehilangan sifat-sifatNya.
c) Tanpa menghentikan / mengurangi kegiatanNya.
Beberapa kutipan penting tentang ketidak-berubahan LOGOS pada
saat inkarnasi:

Christ was lowered not by losing but rather by


taking (= Kristus direndahkan bukan dengan
kehilangan tetapi dengan mengambil).
Ini bisa diilustrasikan sebagai berikut: kita bisa merendahkan
seorang yang kaya bukan dengan mengambil kekayaannya, tetapi
dengan memakaikan / menambahkan kepadanya pakaian yang
buruk. Jadi orang itu direndahkan bukan dengan kehilangan
apapun, tetapi sebaliknya dengan ketambahan sesuatu.

Leon Morris: When the Word became flesh His cosmic


activities did not remain in abeyance (= Ketika
Firman menjadi daging, kegiatan-kegiatan alam
semestaNya tidaklah dibiarkan terkatung-katung).

Leon Morris: We must surely hold that the incarnation

meant the adding of something to what the Word


was doing, rather than the cessation of most of His
activites (= Kita harus berpegang / percaya bahwa
inkarnasi berarti penambahan terhadap sesuatu
yang sedang dilakukan oleh Firman, dan bukannya
penghentian
dari
sebagian
besar
kegiatankegiatanNya).

Calvin: For even if the Word in his immeasurable


essence united with the nature of man into one
person, we do not imagine that he was confned
therein. Here is something marvelous: the Son of
God descended from heaven in such a way, that
without leaving heaven, he willed to be borne in the
virgins womb, to go about the earth, and to hang
upon the cross, yet he continuously flled the world
even as he had done from the beginning (= Karena
bahkan ketika Firman dalam hakekatNya yang tak
terbatas, bersatu dengan hakekat manusia dalam
satu pribadi, kami tidak membayangkan bahwa Ia
dibatasi di dalamnya. Ini adalah sesuatu yang
menakjubkan: Anak Allah turun dari surga dengan
cara sedemikian rupa, sehingga tanpa meninggalkan
surga, Ia mau dikandung dalam kandungan perawan,
berjalan-jalan di bumi, dan tergantung di kayu salib,
tetapi Ia secara terus-menerus meme-nuhi alam
semesta seperti yang Ia sudah lakukan dari semula) Institutes of the Christian Religion, Book II, Chapter XIII, no 4.
Kata-kata Calvin ini didasarkan atas Yoh 1:18. Kalau kita melihat
kontex Yoh 1 itu maka akan terlihat bahwa mula-mula
digambarkan bahwa LOGOS itu bersama-sama dengan Allah (ay 1:
pada mulanya). Setelah itu digambarkan bahwa LOGOS itu
berinkarnasi dan diam di antara manusia (ay 14). Tetapi dalam
ay 18 tetap digambarkan bahwa LOGOS itu ada di pangkuan (Lit:
dada) Bapa di surga!

Selanjutnya, dalam membahas ketidakberubahan LOGOS baik dalam


hakekat, sifat, maupun kegiatanNya pada saat berinkarnasi ini, kita
perlu membahas suatu ajaran yang disebut Teori Kenosis (= teori
pengosongan diri). Teori Kenosis ini merupakan suatu ajaran yang
sangat populer, tetapi salah / sesat!
Teori Kenosis ini, berdasarkan Fil 2:6-7, mengatakan bahwa Anak
Allah mengesampingkan sebagian / seluruh sifat-sifat ilahiNya supaya

Ia bisa menjadi manusia yang terbatas


menunjukkan Yesus tidak maha tahu).

(Contoh:

Mat 24:36

Kesalahan dari Teori Kenosis ini:


a) Yesus adalah Allah dan karena itu Ia tidak bisa berubah (bdk.
Maz 102:26-28 Mal 3:6 Yak 1:17). Allah tidak bisa berhenti
menjadi Allah, sekalipun hanya untuk sementara!
b) Kalau Teori Kenosis itu benar, maka pada saat Yesus menjadi
manusia, Allah Tritunggal bubar!
c) Kalau Teori Kenosis itu benar, maka Kristus bukanlah sungguhsungguh Allah dan sungguh-sungguh manusia! Ia hanya manusia
biasa, tanpa keilahian! Dan kalau ini benar, maka Ia tak bisa
menjadi Pengantara antara Allah dan manusia dan penebusanNya
tidak bisa mempunyai nilai yang tidak terbatas.
Dalam tafsirannya tentang Fil 2:7, Calvin mengatakan bahwa istilah
mengosongkan diri itu tidak berarti bahwa Kristus melepaskan
keilahianNya, tetapi menyembunyikannya dari pandangan manusia.
Calvin: Christ, indeed, could not divest himself of
Godhead; but he kept it con-cealed for a time, that it
might not be seen, under the weakness of the flesh.
Hence, he laid aside his glory in the view of men, not by
lessening it, but by concealing it (= Kristus tidak bisa
melepaskan dirinya sendiri dari keilahianNya; tetapi
menyembunyikannya untuk sementara waktu, supaya
tak kelihatan, di bawah kelemahan daging. Jadi, Ia
mengesampingkan kemuliaanNya dalam pandangan
manusia, bukan dengan mengurangi-nya, tetapi dengan
menyembunyikannya).
Herman Hoeksema menambahkan bahwa sekalipun pada saat
inkarnasi itu kemuliaan Kristus disembunyikan, tetapi kadang-kadang
tetap bisa terlihat sekilas, misalnya pada waktu Ia melakukan
mujijat:
This does not mean that the Son of God temporarily
laid aside the divine nature, in order to exchange it
with the human nature. This would be impossible, for
the divine nature is unchangeable. ... But it certainly
means that He entered into the state of man in such a
way that before man His divine glory and majesty was
hid, although even in the state of humiliation it flashed
out occasionally, as, for instance, in the performance of

His wonders (= Ini tidak berarti bahwa Anak Allah


untuk sementara waktu mengesampingkan hakekat
ilahi, untuk menukarnya dengan hakekat manusia. Ini
mustahil, karena hakekat ilahi tidak bisa berubah. ...
Tetapi itu berarti bahwa Ia masuk ke dalam keadaan
manusia sedemikian rupa sehingga di depan manusia
kemuliaan dan keagungan ilahiNya tersembunyi,
sekalipun bahkan dalam saat perendahanpun itu
kadang-kadang memancar keluar, seperti misalnya
dalam pelaksanaan / pertunjukan keajaibanNya) Reformed Dogmatics, hal 399.
F) Inkarnasi menjadikan Kristus manusia yang sama dengan kita.
Ajaran Anabaptist mengatakan bahwa Kristus membawa hakekat
manusiaNya dari surga (berdasarkan 1Kor 15:47b) dan bahwa Maria hanya
merupakan saluran melalui mana Ia datang ke dunia. Jadi hakekat
manusiaNya betul-betul merupakan ciptaan yang baru, yang serupa /
mirip dengan kita tetapi secara organic tidak berhubungan dengan kita.
Kalau ini benar, maka boleh dikatakan bahwa Kristus adalah semacam
bayi tabung yang dimasukkan ke dalam kandungan Maria!
Ajaran Reformed menentang ajaran Anabaptist tersebut di atas, dan
mengajarkan bahwa Kristus mendapatkan hakekat manusiaNya dari
ibuNya / Maria. Dengan kata lain, sebagai manusia, Yesus berasal dari sel
telur Maria. Dasar Kitab Suci pandangan ini:
1) Fil 2:7 mengatakan bahwa Ia menjadi sama dengan
manusia, bukan menjadi seperti manusia. Ibr 2:14-17 juga
mengatakan bahwa dalam segala hal Ia harus disamakan
dengan saudara-saudaraNya.
2) Kalau hakekat manusia Kristus tidak diturunkan dari Maria, dan
Kristus hanya serupa / mirip dengan kita, maka sebetulnya tidak ada
hubungan antara Kristus dengan kita sehingga Ia tidak bisa menjadi
Pengantara antara kita dengan Allah dan Ia juga tidak bisa menjadi
Penebus kita (bdk. Ibr 2:14-17).
3) Yesus disebut tunas Daud, tunas yang keluar dari
tunggul Isai, taruk dari pangkal Isai (Yes 11:1,10 Yes 4:2
Yes 53:2 Yer 23:5 Wah 5:5 Wah 22:16). Perlu diingat bahwa tunas
menunjukkan bahwa Ia betul-betul adalah keturunan Daud, dan
mempunyai hubungan organic dengan Daud.

4) Ibr 7:14 mengatakan bahwa Tuhan kita berasal dari suku


Yehuda [Lit: out of / keluar dari (Yunani: EX) Judah]. Kalau Yesus
adalah bayi dari surga yang dimasukkan ke dalam kandungan Maria,
maka Ia tidak bisa dikatakan keluar dari Yehuda ataupun
berasal dari suku Yehuda. Kalau Ia memang adalah bayi dari
surga yang dimasukkan ke dalam kandungan Maria, maka sebetulnya
Ia bahkan bukan orang Israel / Yahudi.
5) Ibr 2:11.
a) Ia yang menguduskan (= Yesus) dan mereka yang dikuduskan
(manusia yang ditebus) semua berasal dari satu (Ibr 2:11a).
Ibr 2:11a: Ia yang menguduskan dan mereka yang
dikuduskan, mereka semua berasal dari Satu.
TB2-LAI hampir sama dengan TB1.
NASB: are all of one Father (= semua dari satu Bapa).
Kitab Suci Indonesia (TB1 maupun TB2) dan NASB salah, karena
kata satu diartikan menunjuk kepada Allah.
NIV: are of the same family (= semua dari satu keluarga).
RSV: have all one origin (= semua mempunyai satu asal mula).
KJV: are all of one (= semua dari satu).
Terjemahan-terjemahan ini lebih benar karena kata satu
sebetulnya bukan menunjuk kepada Allah, tetapi menunjuk
kepada Adam, karena maksud bagian ini adalah untuk
menunjukkan bahwa Yesus betul-betul telah menjadi manusia
yang sama dengan kita.
Ini menunjukkan bahwa Yesus betul-betul berasal dari benih
Maria! Yesus bukanlah semacam bayi tabung made in heaven (=
buatan surga) yang lalu dimasukkan ke dalam kandungan Maria!
Sekalipun ada orang yang berpendapat bahwa kata satu di sini
menunjuk kepada Allah, tetapi Calvin, John Owen, dsb,
menganggap bahwa kontex menunjukkan kalau kata satu ini
menunjuk kepada Adam, atau kepada satu hakekat,
karena tujuan kontex ini memang menunjukkan bahwa Yesus
betul-betul menjadi manusia yang sama dengan kita (baca Ibr 2
itu terus sampai ay 17).

Kalau Yesus adalah bayi dari surga yang dimasukkan ke dalam


kandungan Maria, maka kata satu dalam Ibr 2:11 harus diganti
dengan dua!
b) Itu menyebabkan Ia tidak malu menyebut mereka saudara (Ibr
2:11b).
Kalau Yesus tidak berasal dari sel telur Maria, maka Ia tidak bisa
menyebut kita sebagai saudara.
c) Bandingkan juga dengan Ibr 2:14-17 yang menunjukkan bahwa
untuk bisa menjadi Penebus kita, Ia harus menjadi manusia yang
sama dengan kita!
6) Yesus disebut sebagai:

keturunan perempuan / Hawa (Literal: seed of the woman) - Kej


3:15.

keturunan Abraham [Literal: your seed (= benihmu)] - Kej 22:18


(bdk. Kis 3:25).

keturunan Daud (Literal: seed of David) - 2Tim 2:8.

Istilah seed / benih jelas menunjukkan adanya hubungan organic!


7) Dalam Luk 1:42, Elisabet menyebut Yesus sebagai buah rahim
dari Maria (NASB / Literal: the fruit of your womb). Ini jelas
menunjukkan bahwa Yesus memang berasal dari benih / sel telur
Maria.
8) Dalam Luk 1:34 Maria bertanya bagaimana mungkin ia bisa
mengandung padahal ia belum bersuami. Kalau Yesus memang adalah
ciptaan baru yang dimasukkan ke dalam perut Maria (semacam bayi
tabung), maka dalam Luk 1:35 seharusnya Gabriel akan menjawab
bahwa Roh Kudus akan memasukkan bayi dari surga ke dalam
kandungan Maria. Tetapi ternyata Gabriel tidak menjawab begitu
melainkan ia berkata bahwa:

Roh Kudus akan turun ke atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi
akan menaungi engkau. Ini menunjukkan bahwa Maria sendiri
dipakai oleh Roh Kudus dalam menjadikan / mencipta janin Yesus
itu.

anak yang akan dilahirkan itu akan disebut kudus.


Ini menunjukkan bahwa Yesus bisa lahir kudus karena pekerjaan
Roh Kudus dalam pembuahan tersebut. Padahal kalau Yesus adalah
bayi tabung dari surga, maka tentu tidak dibutuhkan pengudusan
seperti itu. Tetapi karena Yesus memang berasal dari benih Maria
(yang juga adalah orang berdosa), maka dibutuhkan pengudusan
dari Roh Kudus supaya Yesus bisa lahir suci.

Bahwa ini memang ajaran Reformed terlihat jelas karena hal ini masuk
dalam Westminster Confession of Faith pasal 8 ayat 2 yang berbunyi:
being conceived by the power of the Holy Ghost in the
womb of the virgin Mary, of her substance (= dikandung
oleh kuasa Roh Kudus dalam rahim perawan Maria, dari
zatnya / Maria).
Pandangan ini juga didukung oleh Athanasian Creed / Pengakuan Iman
Athanasius:
28. It is, therefore, true faith that we believe and confess
that our Lord Jesus Christ is both God and man. 29. He is
God, generated from eternity from the substance of the
Father; man, born in time from the substance of his
mother. (= 28. Karena itu adalah iman yang benar bahwa
kita percaya dan mengaku bahwa Tuhan kita Yesus
Kristus adalah Allah dan manusia. 29. Ia adalah Allah,
diperanakkan dari kekekalan dari zat Sang Bapa;
manusia, dilahirkan dalam waktu dari zat ibuNya.) - A. A.
Hodge, Outlines of Theology, hal 117-118.
Bahwa manusia Yesus / hakekat manusia Yesus itu berasal dari Maria,
juga menunjukkan bahwa manusia Yesus / hakekat manusia Yesus itu
adalah makhluk ciptaan, dan jelas tidak kekal, atau mulai ada di dalam
waktu.
Perlu diingat bahwa kata-kata begotten, not made (=
diperanakkan, bukan dicipta) dalam Pengakuan Iman Nicea Konstantinople, tidak menunjuk kepada kemanusiaan / hakekat manusia
Yesus, tetapi menunjuk kepada keilahianNya.
Perhatikan beberapa kutipan pendukung di bawah ini.
John Owen: The framing, forming, and miraculous
conception of the body of Christ in the womb of the
blessed Virgin was the peculiar and especial work of the
Holy Ghost. ... The act of the Holy Ghost in this matter
was a creating act; not, indeed, like the frst creating act,

which produced the matter and substance of all things


out of nothing, causing that to be which was not before,
neither in matter, nor form, nor passive disposition; but
like those subsequent acts of creation, whereby, out of
matter before made and prepared, things were made that
which before they were not, and which of themselves they
had no active disposition unto nor concurrence in. So man
was created or formed of the dust of the earth, and
woman of a rib taken from man. There was a previous
matter unto their creation, but such as gave no assistance
nor had any active disposition to the production of that
particular kind of creature whereinto they were formed by
the creating power of God. Such was this act of the Holy
Ghost in forming the body of our Lord Jesus Christ; for
although it was effected by an act of infnite creating
power, yet it was formed or made of the substance of the
blessed Virgin [= Penyusunan, pembentukan, dan
pembuahan yang bersifat mujijat dari tubuh Kristus di
dalam kandungan Perawan yang diberkati merupakan
pekerjaan yang khas dan khusus dari Roh Kudus. ...
Tindakan Roh Kudus dalam persoalan ini merupakan
tindakan penciptaan; memang tidak seperti tindakan
penciptaan pertama, yang menghasilkan bahan dan zat
dari segala sesuatu dari tidak ada, menyebabkannya ada
padahal tadinya tidak ada, baik dalam bahannya,
bentuknya, maupun penyusunan / kecondongan pasif (?);
tetapi
seperti
tindakan-tindakan
penciptaan
yang
berikutnya, dengan mana, dari bahan yang sudah dibuat
dan dipersiapkan sebelumnya, benda-benda / hal-hal yang
sebelumnya tidak ada dibuat / dicipta, dan yang dari
dirinya sendiri mereka tidak mempunyai kecondongan
aktif kepada hal itu maupun persetujuan. Demikianlah
manusia / orang laki-laki diciptakan atau dibentuk dari
debu tanah, dan perempuan dari tulang rusuk laki-laki.
Disana sudah ada bahan untuk penciptaan mereka, tetapi
sedemikian rupa sehingga tidak memberikan bantuan
atau mempunyai kecondongan aktif pada produksi dari
jenis ciptaan tertentu ke dalam mana mereka dibentuk
oleh kuasa penciptaan Allah. Demikian jugalah tindakan
Roh Kudus dalam membentuk tubuh dari Tuhan Yesus
Kristus; karena sekalipun itu dihasilkan oleh tindakan
dari kuasa penciptaan yang tak terbatas, tetapi itu
dibentuk atau dibuat dari zat dari sang Perawan yang
diberkati] - The Works of John Owen, vol 3, The Holy Spirit, hal
162,163-164.

John Owen: the creating act of the Holy Ghost, in forming


the body of our Lord Jesus Christ in the womb, ... the
conception of Christ in the womb, being the effect of a
creating act, was not accomplished successively and in
process of time, but was perfected in an instant (=
tindakan penciptaan dari Roh Kudus, dalam membentuk
tubuh dari Tuhan kita Yesus Kristus dalam kandungan, ...
pembuahan Kristus dalam kandungan, yang merupakan
hasil dari tindakan penciptaan, tidak dicapai secara
berturutan
dan
dalam
proses
waktu,
tetapi
disempurnakan dalam sesaat) - The Works of John Owen, vol 3,
The Holy Spirit, hal 165.
Herman Bavinck:

Even though Christ has assumed a human nature


which is fnite and limited and which began in time, as
person, as Self, Christ does not in Scripture stand on
the side of the creature but on the side of God (=
Sekalipun Kristus telah mengambil suatu hakekat
manusia yang terbatas dan yang dimulai dalam waktu,
tetapi sebagai pribadi, sebagai Diri / Ego, dalam Kitab
Suci Kristus tidak berdiri di pihak makhluk ciptaan
tetapi di pihak Allah) - Our Reasonable Faith, hal 317.

The relationship is that of Creator and creature, and


the creature from the nature of his being can never
become Creator, nor have the signifcance and worth
for us human beings of the Creator (= Hubungan itu
adalah hubungan Pencipta dan makhluk ciptaan, dan
makhluk ciptaan sesuai dengan keadaan alamiah
keberadaannya tidak pernah bisa menjadi Pencipta,
atau mempunyai arti dan nilai dari sang Pencipta bagi
kita manusia) - Our Reasonable Faith, hal 323.

That human nature did not exist beforehand. ... But in


the incarnation, also, Scripture holds to the goodness
of creation and to the Divine origin of matter (=
Hakekat manusia itu tidak ada sebelumnya. ... Tetapi
juga dalam inkarnasi, Kitab Suci berpegang pada
kebaikan penciptaan dan pada asal usul ilahi dari zat /
bahan) - Our Reasonable Faith, hal 325.

Just as the human nature of Christ did not exist before

the conception in Mary, so it did not exist for sometime


before, nor some time after, in a state of separation
from Christ (= Sebagaimana hakekat manusia Kristus
itu tidak ada sebelum pembuahan di dalam Maria,
begitu juga hakekat manusia itu tidak ada sebelumnya,
ataupun setelahnya, dalam keadaan terpisah dari
Kristus) - Our Reasonable Faith, hal 326.

In short, to one and the same subject, one and the


same person, Divine and human attributes and works,
eternity and time, omnipresence and limitation,
creative omnipotence and creaturely weakness are
ascribed (= Singkatnya, subyek yang satu dan yang
sama, pribadi yang satu dan yang sama, dianggap
mempunyai sifat-sifat dasar dan pekerjaan-pekerjaan
Ilahi dan manusia, kekekalan dan waktu / terbatas
waktu, kemahaadaan dan keterbatasan, kemahakuasaan yang bersifat mencipta dan kelemahan
makhluk ciptaan) - Our Reasonable Faith, hal 326.

Calvin tentang kata-kata seperti anak manusia dalam Daniel 7:13:


We must now see why he uses the word like the Son of
man; ... the Prophet says, He appeared to him as the
Son of man, as Christ had not yet taken upon him our
flesh. And we must remark that saying of Pauls: When the
fulness of time was come, God sent his Son, made of a
woman. (Gal. 4:4). Christ then began to be a man when he
appeared on earth as Mediator, for he had not assumed
the seed of Abraham before he was joined with us in
brotherly union. This is the reason why the Prophet does
not pronounce Christ to have been man at this period, but
only like man; for otherwise he had not been that Messiah
formerly promised under the Law as the son of Abraham
and David. For if from the beginning he had put on human
flesh, he would not have been born of these progenitors. It
follows, then, that Christ was not a man from the
beginning, but only appeared so in a fgure. ... This was a
symbol, therefore, of Christs future flesh, although that
flesh did not yet exist (= Kita mesti sekarang melihat
mengapa dia memakai kata seperti Anak manusia;
sang Nabi berkata, Dia tampak baginya seperti Anak
manusia, karena Kristus belum mengambil bagiNya
tubuh kita. Dan kita mesti mengamati bahwa ucapan dari
Paulus: Ketika genap waktunya, Allah mengutus AnakNya,
yang lahir dari seorang perempuan. (Gal 4:4). Kristus lalu

mulai menjadi seorang manusia ketika Ia tampil di dunia


sebagai Perantara, karena Ia belum mengambil benih
Abraham sebelum bergabung bersama kita dalam
persekutuan persaudaraan. Inilah alasan mengapa sang
Nabi tidak menyatakan Kristus sudah menjadi manusia
pada masa ini, tetapi hanya seperti manusia; karena
sebaliknya Ia bukanlah Mesias yang dahulu dijanjikan di
bawah hukum Taurat sebagai anak Abraham dan Daud.
Karena jika dari semula Ia sudah mengambil tubuh
manusia, Ia tidak akan dilahirkan dari para leluhur
tersebut. Ini berlanjut, kemudian, bahwa Kristus bukan
seorang manusia dari semula, tetapi hanya tampil dalam
sesosok tokoh. ... Ini adalah sebuah simbol, oleh karena
itu, dari tubuh masa depan Kristus, meskipun tubuh
tersebut belum ada) - hal 41.
Dan dalam tafsirannya tentang Mikha 5:1, Calvin berkata sebagai
berikut:
others bring a new refnement, - that the Prophet uses
plural number, his goings forth, to designate the twofold
nature of Christ: but there is in this an absurdity; for the
Prophet could not properly nor wisely mention the human
nature of Christ with the divine, with reference to
eternity. The Word of God, we know, was eternal; and we
know, that when the fulness of time came, as Paul says,
Christ put on our nature, (Gal. 4:4.) Hence the beginning
of Christ as to the flesh was not so old, if his existence be
spoken of: to set them together then would have been
absurd (= yang lain membawa suatu perbaikan baru, bahwa sang Nabi memakai jumlah jamak, permulaanpermulaanNya, untuk menunjukkan hakekat ganda dari
Kristus; tetapi ada di dalamnya suatu kemustahilan;
karena sang Nabi tidak dapat dengan tepat dan bijak
menyebutkan hakekat manusia dari Kristus bersama yang
Ilahi, berkenaan dengan kekekalan. Firman Tuhan, kita
tahu, adalah kekal; dan kita tahu, bahwa ketika genap
waktunya, seperti Paulus berkata, Kristus mengambil
hakekat kita, (Gal 4:4). Karenanya permulaan dari Kristus
terhadap tubuh tidaklah terlalu lama, jika keberadaanNya
dibicarakan: untuk menggabungkan mereka maka akan
menjadi mustahil) - hal 299.
Philip Schaff: The Son, as man, is produced; as
unproduced or uncreated; he is begotten from
the unbegotten Father. To this Athanasius
passage concerning the Only-begotten who

God, he is
eternity of
refers the
is in the

bosom of the Father [= Anak, sebagai manusia,


dihasilkan / diciptakan; sebagai Allah, Ia tidak dihasilkan
atau tidak diciptakan; Ia diperanakkan dari kekekalan
dari Bapa yang tidak diperanakkan. Untuk ini Athanasius
menunjuk
pada
text
tentang
Satu-satunya
yang
diperanakkan, yang ada di dada Bapa (Yoh 1:18)] - History of
the Christian Church, vol III, hal 658.
Robert M. Bowman Jr.: In his Prologue John contrasts the
Word, which was (EN, third person imperfect form of
EIMI) in the beginning, with his bringing into existence
(EGENETO, the third person singular indicative form of
GENESTHAI) of all things (John 1:1-3). ... to say that the
Word was continuing to exist at the beginning of created
time is simply another way of saying that the Word was
eternal. By going on to say that this uncreated Logos
became (EGENETO) flesh (1:14), John draws another
contrast between the two natures of Christ. To put it in
the classic terminology of orthodox incarnational
theology, Christ was uncreated (EN) with respect to his
deity, but created (EGENETO) with respect to his
humanity
[=
Dalam
Pendahuluannya
Yohanes
mengkontraskan Firman, yang was / telah ada (EN, orang
ketiga, bentuk imperfect dari EIMI) pada mulanya,
dengan pembuatan / penciptaan (EGENETO, orang ketiga
tunggal, bentuk indikatif dari GENESTHAI) dari segala
sesuatu (Yoh 1:1-3). ... mengatakan bahwa Firman terus
ada pada permulaan dari waktu yang diciptakan hanyalah
merupakan cara lain untuk mengatakan bahwa Firman itu
kekal. Dengan mengatakan selanjutnya bahwa Logos yang
tidak diciptakan ini became / menjadi (EGENETO)
daging (1:14), Yohanes membuat kontras yang lain antara
kedua hakekat Kristus. Untuk mengatakannya dalam
ungkapan klasik dari theologia inkarnasi yang ortodox,
Kristus tidak diciptakan (EN) berkenaan dengan
keallahanNya, tetapi diciptakan (EGENETO) berkenaan
dengan kemanusiaanNya] - Jehovahs Witnesses, Jesus Christ,
and the Gospel of John, hal 114.
G) Peranan Roh Kudus dalam inkarnasi.
1) Roh Kuduslah yang menjadikan Maria mengandung (Mat 1:18-20 Luk
1:34-35).
Yang dilahirkan oleh Maria bukanlah pribadi manusia, tetapi pribadi
Anak Allah [Luk 1:32,35 bdk. Luk 1:43 dimana Elizabeth menyatakan

Maria sebagai ibu Tuhanku / the mother of my Lord


(NIV)].
Karena itu Maria secara tepat disebut THEOTOKOS (= bunda Allah),
bukan sekedar CHRISTOTOKOS (= bunda Kristus).
2) Roh Kudus menguduskan hakekat manusia dari Kristus sejak dari saat
pertama pembuahan dan menjagaNya dari polusi dosa (bdk. Yoh 3:34
Ibr 9:14).
Jadi, bahwa Maria mengandung bukan dari seorang laki-laki, masih
belum cukup untuk menyebabkan Yesus itu lahir suci, karena Maria
juga adalah orang berdosa. Masih dibutuhkan pekerjaan Roh Kudus
untuk menyucikan bayi Yesus sejak dari saat pertama pembuahan
supaya Yesus betul-betul suci.
Calvin: For we make Christ free from all stain not just
because he was begotten of his mother without
copulation with man, but because he was sanctifed by
the Spirit that the generation might be pure and
undefled as would have been true before Adams fall
(= Karena kita membuat Kristus bebas dari segala
noda / kekotoran bukan hanya karena Ia diperanakkan
dari ibuNya tanpa hubungan sex dengan laki-laki,
tetapi karena Ia dikuduskan oleh Roh sehingga
kelahiranNya bisa murni dan tidak tercemar seperti
sebelum kejatuhan Adam) - Institutes of the Christian
Religion, Book II, Chapter XIII, No 4.
Ada beberapa hal yang perlu dibahas di sini:
a) Adanya pekerjaan Roh Kudus yang menyucikan bayi Yesus ini,
menyebabkan Yesus tidak membutuhkan ibu yang suci supaya bisa
lahir dan hidup suci.
Karena itu doktrin Immaculate Conception dari Roma Katolik,
yang menyatakan bahwa Maria dilahirkan dan hidup suci tanpa
dosa, sama sekali tidak dibutuhkan di dalam gereja.
Catatan:

Doktrin Immaculate Conception ini baru muncul pada tahun


1854. Karena itu perlu dipertanyakan: kalau doktrin ini
memang ada dalam Kitab Suci / berasal dari Kitab Suci,
mengapa dibutuhkan waktu 18 abad untuk menemukannya?

Doktrin ini bukan hanya tidak punya dasar Kitab Suci sama
sekali, tetapi juga bertentangan dengan banyak ayat Kitab
Suci, seperti:

Ro 3:10-12,23 Pengkhotbah 7:20 Ayub 4:17 Ayub 25:4.


Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa semua manusia berdosa.
Satu-satunya orang yang dikecualikan dalam Kitab Suci
hanyalah Yesus saja (Ibr 4:15 2Kor 5:21). Kitab Suci tidak
pernah mengecualikan Maria!

Luk 1:46,47 menunjukkan bahwa Maria menyebut Allah


sebagai Juruselamatnya. Kalau memang ia suci murni,
mengapa ia membutuhkan Juruselamat?

Luk 2:22-24 (bdk. Im 12:1-8) menunjukkan bahwa Maria


disebut najis (Im 12:2), karena melahirkan anak. Ini
menyebabkan ia harus mempersembahkan korban bakaran
dan korban penghapus dosa sebagai pendamaian (Im 12:8),
supaya bisa ditahirkan. Sekalipun kenajisan di sini
bukanlah suatu dosa moral, tetapi rasanya sukar
diharmoniskan dengan suci murni.

Doktrin ini mempunyai konsekwensi logis sebagai berikut:


kalau Maria harus suci supaya Yesus bisa suci, maka demikian
juga kedua orang tua Maria harus suci supaya Maria bisa suci,
dan keempat kakek nenek Maria harus suci supaya kedua
orang tua Maria bisa suci, dan kalau ini diterukan maka
akhirnya Adam dan Hawapun harus suci. Ini jelas merupakan
pandangan yang tidak Alkitabiah, yang orang Roma Katolikpun
tidak akan mau menerimanya!

b) Kalau memang fakta bahwa Yesus dilahirkan oleh seorang perawan


itu belum cukup untuk menyebabkan Yesus lahir suci, dan masih
dibutuhkan penyucian dari Roh Kudus, lalu untuk apa Yesus harus
dilahirkan dari seorang perawan / perempuan yang mengandung
tanpa hubungan sex dengan laki-laki? Mengapa tidak menggunakan
kelahiran biasa saja dan ditambah dengan penyucian dari Roh
Kudus?
Jawab:

Sekalipun kelahiran dari perawan masih belum cukup untuk


membuat Yesus lahir suci, tetapi setidaknya dengan cara ini
bisa ditambahkan penyucian dari Roh Kudus sehingga Yesus

lahir suci. Tetapi kalau digunakan kelahiran biasa, sekalipun


ditambahkan penyucian dari Roh Kudus, tetap tidak mungkin
Yesus lahir suci.

Calvin: Tidak terlalu cocok bahwa pribadi yang adalah Allah


dan manusia itu dilahirkan dengan cara yang sama seperti kita.
Harus dengan cara yang berbeda supaya cocok dengan
kewibawaan pribadiNya.
Catatan: jawaban yang kedua ini tidak mempunyai dasar Kitab
Suci.

II) Penderitaan Kristus.


A) Kristus menderita sepanjang hidupNya.
1) Ia menderita karena Ia yang suci harus hidup ditengah-tengah orangorang berdosa (bandingkan dengan Lot dalam 2Pet 2:7-8).
Penerapan:
Adalah sesuatu yang aneh kalau ada orang kristen yang bukannya
menderita tetapi sebaliknya justru merasa senang kalau bergaul /
berkumpul dengan orang-orang yang brengsek! Apakah saudara
termasuk orang seperti itu?
2) KetaatanNya menyebabkan Ia menderita (bdk. Yoh 3:19-20).
Ada banyak ketaatan yang bisa menyebabkan penderitaan bahkan
penganiayaan. Misalnya kalau kita mau hidup dan berkata jujur, atau
kalau kita menegur orang yang berbuat dosa, dsb. Kristus rela
menderita demi mentaati Firman Tuhan; bagaimana dengan saudara?
3) Ia menderita karena serangan setan (bdk. Luk 4:1-13, khususnya
ay 13).
Ingat bahwa ke-tidak-bisa-berdosa-an Kristus tidak berarti bahwa Ia
tidak menderita pada waktu mengalami serangan setan (bdk. Ibr 2:18
- Ia sendiri telah menderita karena pencobaan)!
4) Ketidak-percayaan / kebencian orang-orang
memberikan penderitaan kepadaNya.
Ketidakpercayaan ini datang dari:

di

sekitarNya

dunia (Yoh 1:10).

bangsanya (Yoh 1:11 Yoh 10:20).

orang-orang sekampungnya (Mat 13:53-57).

keluarganya (Yoh 7:3-5 Mark 3:21).

Yudas Iskariot.

murid-muridNya yang lain.

Hal tersebut lebih-lebih terasa menyakitkan karena Yesus mencintai


manusia dan Ia bahkan datang ke dunia dengan maksud
mengorbankan diriNya untuk menyelamatkan manusia. Tetapi
ternyata manusia memberikan balasan yang begitu jelek.
Kalau saudara pernah tidak dipercayai oleh orang yang saudara
cintai, seperti orang tua saudara, suami / istri / pacar saudara, maka
saudara tentu bisa merasakan sakitnya hal itu.
Penerapan:
Demi melayani saudara, Yesus pernah mengalami hal seperti itu.
Kalau dalam saudara melayani Dia, saudara harus menghadapi hal
seperti itu, maukah saudara terus melayani Dia?
5) PenderitaanNya makin lama makin hebat dan mencapai puncaknya di
kayu salib.
Untuk bisa lebih menyadari penderitaan Kristus di sekitar salib,
khususnya pada saat pencambukan dan penyaliban, perhatikan
kutipan-kutipan di bawah ini:
a) Tentang pencambukan:
Leon Morris (NICNT): Scourging was a brutal affair. It
was inflicted by a whip of several thongs, each of
which was loaded with pieces of bone or metal. It
could make pulp of mans back (= Pencambukan
adalah suatu peristiwa yang brutal. Hal itu diberikan
dengan sebuah cambuk yang terdiri dari beberapa
tali kulit, yang masing-masing diberi potonganpotongan tulang atau logam. Itu bisa membuat
punggung orang menjadi bubur).

Leon Morris (NICNT): ... Josephus tells us that a certain


Jesus, son of Ananias, was brought before Albinus
and flayed to the bone with scourges ... Eusebius
narrates that certain martyrs at the time of Polycarp
were torn by scourges down to deep-seated veins
and arteries, so that the hidden contents of the
recesses of their bodies, their entrails and organs,
were exposed to sight ... Small wonder that men not
infrequently died as a result of this torture (=
Josephus
menceritakan
bahwa
seorang
Yesus
tertentu, anak dari Ananias, dibawa ke depan
Albinus dan dikuliti sampai tulangnya dengan
cambuk ... Eusebius menceritakan bahwa martirmartir tertentu pada jaman Polycarp dicabik-cabik
oleh cambuk sampai pada pembuluh darah dan
arteri yang ada di dalam, sehingga bagian dalam
yang tersembunyi dari tubuh mereka, isi perut dan
organ-organ mereka, menjadi terbuka dan kelihatan
... Tidak heran bahwa tidak jarang orang mati
sebagai akibat penyiksaan ini).
William Hendriksen: The Roman scourge consisted of a
short wooden handle to which several thongs were
attached, the ends equipped with pieces of lead or
brass and with sharply pointed bits of bone. The
stripes were laid especially on the victim's back,
bared and bent. Generally two men were employed to
administer this punishment, one lashing the victim
from one side, one from the other side, with the
result that the flesh was at times lacerated to such
an extent that deep-seated veins and arteries,
sometimes even entrails and inner organs, were
exposed. Such flogging, from which Roman citizens
were exempt (cf Acts 16:37), often resulted in death
[= Cambuk Romawi terdiri dari gagang kayu yang
pendek yang diberi beberapa tali kulit, yang
ujungnya dilengkapi dengan potongan-potongan
timah atau kuningan dan potongan-potongan tulang
yang
diruncingkan.
Pencambukan
diberikan
terutama pada punggung korban, yang ditelanjangi
dan dibungkukkan. Biasanya 2 orang dipekerjakan
untuk melaksanakan hukuman ini, yang seorang
mencambuki dari satu sisi, yang lain mencambuki
dari sisi yang lain, dengan akibat bahwa daging yang

dicambuki itu kadang-kadang koyak / sobek


sedemikian rupa sehingga pembuluh darah dan
arteri yang terletak di dalam, kadang-kadang
bahkan isi perut dan organ bagian dalam, menjadi
terbuka / terlihat. Pencambukan seperti itu, yang
tidak boleh dilakukan terhadap warga negara
Romawi (bdk. Kis 16:37), sering berakhir dengan
kematian].
William Barclay: Roman scourging was a terrible
torture. The victim was stripped; his hands were tied
behind him, and he was tied to a post with his back
bent double and conveniently exposed to the lash.
The lash itself was a long leather thong, studded at
intervals with sharpened pieces of bone and pellets
of lead. Such scourging always preceded crucifxion
and it reduced the naked body to strips of raw flesh,
and inflamed and bleeding weals. Men died under it,
and men lost their reason under it, and few
remained conscious to the end of it
[=
Pencambukan Romawi adalah suatu penyiksaan yang
hebat.
Korban
ditelanjangi,
tangannya
diikat
kebelakang, lalu ia diikat pada suatu tonggak
dengan
punggungnya
dibungkukkan
sehingga
terbuka terhadap cambuk. Cambuk itu sendiri
adalah suatu tali kulit yang panjang, yang ditaburi
dengan potongan-potongan tulang dan butiranbutiran timah yang runcing. Pencambukan seperti
itu selalu mendahului penyaliban dan pencambukan
itu menjadikan tubuh telanjang itu menjadi carikancarikan daging mentah, dan bilur-bilur yang
meradang dan berdarah. Ada orang yang mati
karenanya, dan ada orang yang kehilangan akalnya
(menjadi gila?) karenanya, dan sedikit orang bisa
tetap sadar sampai akhir pencambukan].
Saudara adalah orang berdosa dan karena itu sebetulnya
saudaralah yang seharusnya mengalami hukuman cambuk itu.
Tetapi Kristus sudah mengalami pencambukan itu supaya
saudara bebas dari hukuman Allah, asal saudara mau percaya
dan menerima Dia sebagai Juruselamat dan Tuhan saudara.
Sudahkah saudara menerima Dia?
b) Tentang penyaliban:

Pulpit Commentary: Nails were driven through the


hands and feet, and the body was supported partly
by these and partly by a projecting pin of wood
called the seat. The rest for the feet, often seen in
picture, was never used (= Paku-paku menembus
tangan dan kaki, dan tubuh disangga / ditopang
sebagian oleh paku-paku ini dan sebagian lagi oleh
sepotong kayu yang menonjol yang disebut tempat
duduk. Tempat pijakan kaki, yang sering terlihat
dalam gambar, tidak pernah digunakan).
William Barclay: When they reached the place of
crucifxion, the cross was laid flat on the ground.
The prisoner was stretched upon it and his hands
nailed to it. The feet were not nailed, but only
loosely bound. Between the prisoners legs projected
a ledge of wood called the saddle, to take his weight
when the cross was raised upright - otherwise the
nails would have torn through the flesh of the hands.
The cross was then lifted upright and set in its
socket - and the criminal was left to die ... Sometimes prisoners hung for as long as a week, slowly
dying of hunger and thirst, suffering sometimes to
the point of actual madness [= Ketika mereka
sampai di tempat penyaliban, salib itu ditidurkan di
atas tanah. Orang hukuman itu direntangkan di
atasnya, dan tangannya dipakukan pada salib itu.
Kakinya tidak dipakukan, tetapi hanya diikat secara
longgar. Di antara kaki-kaki dari orang hukuman itu
(diselangkangannya), menonjol sepotong kayu yang
disebut sadel, untuk menahan berat orang itu pada
waktu salib itu ditegakkan - kalau tidak maka pakupaku itu akan merobek daging di tangannya. Lalu
salib itu ditegakkan dan dimasukkan di tempatnya dan kriminil itu dibiarkan untuk mati ... Kadangkadang, orang-orang hukuman tergantung sampai
satu minggu, mati perlahan-lahan karena lapar dan
haus, menderita sampai pada titik dimana mereka
menjadi gila].
Catatan: Barclay menganggap bahwa yang dipaku hanyalah tangan
saja. Kaki hanya diikat secara longgar, tetapi tidak di paku.
Ini ia dasarkan pada:

tradisi.

Yoh 20:25,27 yang tidak menyebut-nyebut tentang bekas paku


pada kaki.

Tetapi saya berpendapat bahwa Yesus dipaku bukan hanya


tanganNya, tetapi juga kakiNya.
Alasan saya:
Penulis-penulis lain ada yang mengatakan bahwa tradisinya tak
selalu seperti yang dikatakan oleh Barclay. Misalnya penulis
dari Pulpit Commentary yang saya kutip di atas. Dan juga
Barnes Notes, dalam tafsirannya tentang Mat 27:32, berkata
sebagai berikut:
The feet were fastened to this upright piece,
either by nailing them with large spikes driven
through the tender part, or by being lashed by
cords. To the cross-piece at the top, the hands,
being extended, were also fastened, either by
spikes or by cords, or perhaps in some cases by
both. The hands and feet of our Saviour were both
fastened by spikes (= Kaki dilekatkan pada tiang
tegak, atau dengan memakukannya dengan pakupaku besar yang dimasukkan melalui bagianbagian yang lunak, atau dengan mengikatnya
dengan tali. Pada bagian salib yang ada di atas,
tangan, yang direntangkan, juga dilekatkan, atau
dengan paku-paku atau dengan tali, atau
mungkin dalam beberapa kasus oleh keduanya.
Tangan dan kaki dari Tuhan kita keduanya
dilekatkan dengan paku-paku).
Juga ada penafsir yang berkata bahwa tentang pemakuan kaki
ini caranya tidak selalu sama. Kadang-kadang kedua kakinya
dipaku menjadi satu, dan kadang-kadang kedua kakinya dipaku
secara terpisah.
Maz 22, yang adalah mazmur / nubuat tentang salib (baca
seluruh mazmur itu dan perhatikan ay 2,8-9,16,17b,19),
berkata pada ay 17b: mereka menusuk tangan dan
kakiku.
Dalam Luk 24:39-40, Tuhan Yesus menunjukkan tangan dan
kakiNya! Pasti karena ada bekas pakunya!

Selanjutnya Barclay mengutip Klausner sebagai berikut:


The criminal was fastened to his cross, already a
bleeding mass from the scourging. There he hung to
die of hunger and thirst and exposure, unable even
to defend himself from the torture of the gnats and
flies which settled on his naked body and on his
bleeding wounds (= Kriminil itu dilekatkan /
dipakukan pada salib; pada saat itu ia sudah penuh
dengan darah karena pencambukan. Disana ia
tergantung untuk mati karena lapar, haus dan
kepanasan, bahkan tidak bisa membela dirinya
sendiri dari siksaan dari nyamuk dan lalat yang
hinggap pada tubuhnya yang telanjang dan pada
luka-lukanya yang berdarah).
Barclay lalu mengatakan:
It is not a pretty picture but that is what Jesus
Christ suffered - willingly - for us (= Itu bukanlah
suatu gambaran yang bagus, tetapi itulah yang
diderita oleh Yesus Kristus - dengan sukarela - bagi
kita).
Saya masih ingin menambahkan komentar dari Barnes Notes
tentang Mat 27:35 yang makin memperjelas penderitaan orang
yang disalib. Ia berkata sebagai berikut:
The manner of the crucifxion was as follows: - After
the criminal had carried the cross, attended with
every possible jibe and insult, to the place of
execution, a hole was dug in the earth to receive the
foot of it. The cross was laid on the ground; the
persons condemned to suffer was stripped, and was
extended on it, and the soldiers fastened the hands
and feet either by nails or thongs. After they had
fxed the nails deeply in the wood, they elevated the
cross with the agonizing sufferer on it; and, in order
to fx it more frmly in the earth, they let it fall
violently into the hole which they had dug to receive
it. This sudden fall must have given to the person
that was nailed to it a most violent and convulsive
shock, and greatly increased his sufferings. The
crucifed person was then suffered to hang,
commonly, till pain, exhaustion, thirst, and hunger
ended his life (= Cara penyaliban adalah sebagai
berikut: - Setelah kriminil itu membawa salib,
disertai dengan setiap ejekan dan hinaan yang

dimungkinkan, ke tempat penyaliban, sebuah lubang


digali di tanah untuk menerima kaki salib itu. Salib
diletakkan di tanah; orang yang diputuskan untuk
menderita itu dilepasi pakaiannya, dan direntangkan
pada salib itu, dan tentara-tentara melekatkan
tangan dan kaki dengan paku atau dengan tali.
Setelah mereka memakukan paku-paku itu dalamdalam ke dalam kayu, mereka menaikkan /
menegakkan salib itu dengan penderita yang sangat
menderita padanya; dan, untuk menancapkannya
dengan lebih teguh di dalam tanah, mereka
menjatuhkan salib itu dengan keras ke dalam lubang
yang telah digali untuk menerima salib itu. Jatuhnya
salib dengan mendadak itu pasti memberikan
kepada orang yang disalib suatu kejutan yang keras,
dan meningkatkan penderitaannya dengan hebat.
Orang yang disalib itu lalu menderita tergantung,
biasanya, sampai rasa sakit, kehabisan tenaga,
kehausan, dan kelaparan mengakhiri hidupnya).
Barnes Notes melanjutkan:
As it was the most ignominious punishment known,
so it was the most painful. The following
circumstances make it a death of peculiar pain: (1.)
The position of the arms and the body was
unnatural, the arms being extended back and almost
immovable. The least motion gave violent pain in the
hands and feet, and in the back, which was lacerated
with stripes. (2.) The nails, being driven through the
parts of the hands and feet which abound with
nerves and tendons, created the most exquisite
anguish. (3.) The exposure of so many wounds to the
air brought on a violent inflammation, which greatly
increased the poignancy of the suffering. (4.) The
free circulation of the blood was prevented. More
blood was carried out in the arteries than could be
returned by the veins. The consequence was, that
there was a great increase in the veins of the head,
producing an intense pressure and violent pain. The
same was true of other parts of the body. This
intense pressure in the blood vessels was the source
of inexpressible misery. (5.) The pain gradually
increased. There was no relaxation, and no rest. [=
Itu adalah hukuman yang paling hina / memalukan
yang dikenal manusia, dan itu juga adalah hukuman

yang paling menyakitkan. Hal-hal berikut ini


menyebabkan penyaliban suatu kematian dengan
rasa sakit yang khusus: (1.) Posisi lengan dan tubuh
tidak alamiah, lengan direntangkan ke belakang dan
hampir tidak bisa bergerak. Gerakan yang paling
kecil memberikan rasa sakit yang hebat pada tangan
dan kaki, dan pada punggung, yang sudah dicabikcabik dengan cambuk. (2.) Paku-paku, yang
dimasukkan melalui bagian-bagian tangan dan kaki
yang penuh dengan syaraf dan otot, memberikan
penderitaan yang sangat hebat. (3.) Terbukanya
begitu banyak luka terhadap udara menyebabkan
peradangan yang hebat, yang sangat meningkatkan
kepedihan / ketajaman penderitaan. (4.) Peredaran
bebas dari darah dihalangi. Lebih banyak darah
dibawa keluar oleh arteri-arteri dari pada yang bisa
dikembalikan oleh pembuluh-pembuluh darah balik.
Akibatnya ialah, terjadi peningkatan yang besar
dalam pembuluh darah balik di kepala, yang
menghasilkan tekanan dan rasa sakit yang hebat.
Hal yang sama terjadi dengan bagian-bagian tubuh
yang lain. Tekanan yang hebat dalam pembuluh
darah adalah sumber penderitaan yang tidak
terlukiskan. (5.) Rasa sakit itu naik secara bertahap.
Tidak ada pengendoran, dan tidak ada istirahat].
Sekali lagi saya tekankan seperti diatas. Saudara adalah orang
berdosa, dan sebetulnya saudaralah yang mengalami
penyaliban yang mengerikan ini. Tetapi Kristus sudah
mengalami penyaliban ini supaya saudara bebas dari hukuman
Allah, asal saudara mau percaya dan menerima Dia sebagai
Juruselamat dan Tuhan saudara. Sudahkah saudara percaya dan
menerimaNya?
Satu hal yang harus dihindari dalam menanggapi apa yang
Kristus lakukan / alami bagi kita ialah: sekedar / hanya merasa
kasihan kepada Dia. Pada waktu Yesus memikul salib keluar
kota, terjadi peristiwa yang diceritakan dalam Luk 23:27-32,
dimana banyak perempuan menangisi dan meratapi Dia, tetapi
lalu justru ditegur oleh Yesus.
Pulpit Commentary mengomentari bagian ini dengan berkata:
He does not want our pity. This would be a wasted
and mistaken sentiment (= Ia tidak membutuhkan /
menghendaki belas kasihan kita. Ini adalah suatu
perasaan yang sia-sia dan salah).

Kalau saudara mempunyai perasaan kasihan kepada Kristus,


tetapi tidak percaya kepada Kristus, saudara sudah ditipu oleh
setan. Dengan adanya perasaan kasihan itu saudara seakan-akan
adalah orang yang pro Yesus, tetapi ketidakpercayaan saudara
membuktikan bahwa saudara tetap anti Yesus! Karena itu
janganlah sekedar merasa kasihan kepada Yesus, tetapi
datanglah kepadaNya dan percayalah dan terimalah Dia sebagai
Tuhan dan Juruselamat saudara!
Karena Kristus telah menderita dalam sepanjang hidupNya, jangan
merasa heran kalau di dalam mengikut Kristus saudarapun menderita
dalam sepanjang hidup saudara. Kristus berkata: seorang hamba
tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya (Yoh 15:20)!
Penderitaan seperti ini statusnya bukanlah hukuman dari Allah (bdk.
Ro 8:1), tetapi memikul salib / menderita bagi Kristus (bdk. Mat 16:24).
Karena Kristus sudah rela mengalami semua penderitaan itu demi
saudara, maka saudarapun harus rela mengalami penderitaan demi
Kristus!
B) Kristus menderita tubuh dan jiwa.
Seluruh manusia (tubuh dan jiwa) jatuh ke dalam dosa dan seluruh
manusia dipengaruhi secara negatif oleh dosa. Karena itu Kristus harus
mengalami penderitaan dalam tubuh dan jiwaNya, barulah Ia bisa
menebus kita secara lengkap.
Pada waktu Ia dicambuki dan disalibkan, itu jelas merupakan
penderitaan jasmani. Pada waktu Ia dihina, diludahi, nyaris ditelanjangi
di depan umum, dan terutama ditinggalkan oleh BapaNya, itu merupakan
penderitaan jiwa / rohani.
C) Penderitaan Kristus adalah unik.
1) Karena kesucianNya, Kristus mengalami penderitaan akibat dosa di
sekelilingNya dengan suatu perasaan yang tidak bisa dialami oleh
orang lain.
2) Allah menumpahkan kepada Kristus kejahatan kita sekalian (Yes
53:6,10). Ini tidak pernah dialami oleh siapapun juga.
Herman Hoeksema berkata:
No one, therefore, even in hell, can even suffer what
Christ suffered during His entire life and especially on the
cross. For, in the frst place, no one can possibly taste the
wrath of God as the Sinless One. And, in the second place,

no one could possibly bear the complete burden of the


wrath of God against the sin of the world. Even in hell
everyone will suffer according to his personal sin and in
his personal position in desolation. But Christ bore the
sin of all His own as the Sinless One [= karena itu, tak
seorangpun, bahkan dalam neraka, bisa menderita apa
yang diderita oleh Kristus dalam sepanjang hidupNya dan
terutama di kayu salib. Karena, yang pertama, tak
seorangpun bisa merasakan murka Allah sebagai orang
yang tak berdosa. Dan, yang kedua, tak seorangpun bisa
memikul seluruh beban murka Allah terhadap dosa dunia.
Bahkan dalam neraka setiap orang akan menderita sesuai
dengan dosa pribadinya dan dalam posisi pribadinya
dalam kesendirian. Tetapi Kristus memikul dosa dari
semua milikNya sebagai Orang yang Tidak Berdosa] Reformed Dogmatics, hal 401.

III) Kematian Kristus.


A) The extent of His death (= luas kematianNya).
Kematian yang dialami oleh Kristus mencakup:
1) Kematian jasmani: yaitu perpisahan tubuh dengan jiwa.
2) Kematian rohani: perpisahan dengan Allah.
Ini terjadi pada saat Kristus
SABAKHTANI? (Mat 27:46).

berkata:

ELI,

ELI,

LAMA

Ada beberapa pandangan tentang arti kalimat ini:


a) Yesus tidak sungguh-sungguh ditinggal / mengalami keterpisahan
dengan Allah, karena kata-kata yang Ia ucapkan itu hanyalah:

perasaan Yesus saja (bahasa Jawa: Yesus kroso-krosoen), atau,

doa Yesus sambil mengutip Maz 22, atau,

perenungan Yesus tentang firman Tuhan dalam Maz 22.

Keberatan terhadap pandangan ini:

Kalau demikian Yesus tidak sungguh-sungguh memikul hukuman


dosa kita, karena keterpisahan dengan Allah merupakan hukuman
dosa! Bdk. Yes 59:1-2 2Tes 1:9.
b) Allah Anak meninggalkan Yesus sebagai manusia.
Alasannya: Biasanya Yesus selalu menyebut Allah dengan sebutan
Bapa, tetapi kali ini Yesus berkata AllahKu, bukan BapaKu. Ini
dianggap menunjukkan bahwa saat itu Yesus betul-betul berbicara
sebagai manusia biasa kepada AllahNya.
Keberatan terhadap pandangan ini:

Dalam Luk 23:34,46 Yesus tetap menyebut Bapa, padahal ini


adalah kalimat pertama dan terakhir di kayu salib.

Dalam inkarnasi, Anak Allah mengambil hakekat manusia, yang


lalu mendapatkan kepribadiannya dalam diri Anak Allah itu.
Kalau terjadi perpisahan antara Allah Anak dan manusia Yesus,
ini berarti bahwa Hypostatical / Personal Union hancur, maka
yang tertinggal di atas kayu salib hanyalah hakekat manusia
itu. Ini tidak mungkin!

Andaikata Yesus memang mati sebagai manusia saja, maka


penebusan yang Ia lakukan tidak bisa mempunyai kuasa yang
tidak terbatas!
Maz 49:8-9 (NIV - Ps 49:6-7): No man can redeem the
life of another, or give to God a ransom for him;
the ransom for a life is costly, no payment is ever
enough (= tak seorang manusiapun bisa
menebus nyawa orang lain, atau memberikan
kepada Allah tebusan untuk dia; tebusan untuk
suatu nyawa sangat mahal, tak ada pembayaran
yang bisa mencukupi).
Adam Clarke tentang Mat 27:46: Some suppose that
the divinity had now departed from Christ, and
that his human nature was left unsupported to
bear the punishment due to men for their sins.
But this is by no means to be admitted, as it
would deprive his sacrifce of its infnite merit,
and consequently leave the sin of the world
without an atonement. Take deity away from any
redeeming act of Christ, and the redemption is

ruined (= Sebagian orang menganggap bahwa


keilahian sekarang telah pergi dari Kristus, dan
bahwa hakekat manusiaNya ditinggalkan tanpa
dukungan
untuk
memikul
hukuman
yang
seharusnya
bagi
manusia
untuk
dosa-dosa
mereka. Tetapi ini sama sekali tidak boleh
diterima,
karena
itu
akan
mencabut
/
menghilangkan manfaat yang tak terbatas dari
pengorbananNya, dan sebagai akibatnya dosa dari
dunia ditinggalkan tanpa penebusan. Ambillah
keilahian dari tindakan penebusan Kristus, dan
penebusan itu dihancurkan).
c) Allah Bapa meninggalkan Yesus sebagai Allah dan manusia.
Keberatan terhadap pandangan ini:
Terjadi perpisahan dalam diri Allah Tritunggal.
Jawaban atas keberatan ini:

Ini memang merupakan misteri yang tidak bisa kita mengerti


sepenuhnya.

Perpisahan Allah Bapa dengan Allah Anak bukan bersifat lokal,


seakan-akan yang satu ada di sini dan yang lain ada disana.
Perpisahan secara lokal ini tidak mungkin terjadi karena baik
Bapa maupun Anak adalah Allah yang mahaada. Jadi
perpisahan ini hanyalah dalam persoalan hubungan /
persekutuan saja.
Perlu diingat bahwa kalau nanti orang berdosa masuk ke
neraka, ia bukannya berpisah secara lokal dengan Allah,
karena Allah yang mahaada itu ada dimanapun juga termasuk
di neraka. Jadi, perpisahan yang terjadi antara orang berdosa
dengan Allah di neraka, adalah rusaknya hubungan /
persekutuan antara mereka secara kekal. Dan hukuman inilah
yang dipikul oleh Kristus pada saat itu!
Penerapan:
Karena Kristus sudah mengalami keterpisahan derngan Allah,
maka orang yang sudah percaya kepada Yesus dipersatukan /
diperdamaikan kembali dengan Allah, dan tidak akan pernah
berpisah dengan Allah / ditinggal oleh Allah, baik dalam hidup
ini maupun dalam kekekalan! (Bdk. Yoh 14:16 Ibr 13:5).

Bagusnya pandangan ini:


Kristus betul-betul memikul hukuman dosa.
Karena Kristus memikul hukuman dosa itu sebagai Allah dan
manusia, maka penebusannya mempunyai kuasa / nilai yang
tak terbatas!
Catatan: Ini tidak bertentangan dengan doktrin Limited
Atonement (= penebusan terbatas) dari Calvinisme, karena
dalam doktrin Limited Atonement itu, yang dianggap terbatas
bukanlah kuasa / nilai penebusan Kristus, tetapi design (=
rencana / tujuan) penebusan Kristus.
Hypostatical / Personal Union tetap terjaga.
d) William G.T. Shedd menggabungkan pandangan b) dan c).
Ia berkata sebagai berikut:
The Logos at this moment did not support and
comfort the human soul and body of Jesus. This may
be regarded equally as desertion by the Father or by
the Logos, because of the unity of essence. ... God
the Father deserted the human nature, and God the
Logos also deserted it (= Pada saat ini Logos tidak
menopang dan menghibur jiwa dan tubuh manusia
dari Yesus. Ini bisa dianggap secara sama sebagai
ditinggal oleh Bapa atau ditinggal oleh Logos,
karena adanya kesatuan hakekat. ... Allah Bapa
meninggalkan hakekat manusia, dan Allah Logos
juga meninggalkannya) - Shedds Dogmatic Theology, vol
II, hal 278.
Keberatan terhadap pandangan Shedd ini sama dengan keberatan
pada pandangan b) di atas, point ke 2 dan 3.
Penerapan:
Bagi orang yang tidak percaya, kematian Yesus secara jasmani maupun
rohani ini tak ada gunanya. Mereka akan mengalami kematian jasmani
dan rohani (dalam neraka).
Sedangkan orang yang percaya hanya akan mengalami kematian jasmani,
dan itupun bukan lagi sebagai hukuman dosa, tetapi sebagai jalan masuk

ke surga! Karena itulah orang kristen yang sejati tidak perlu, bahkan
tidak boleh, takut pada kematian. Sama seperti Paulus, kitapun bisa
berkata: Bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah
keuntungan (Fil 1:21).
B) The judicial character of His death (= sifat hukum kematianNya).
1) Kristus tidak boleh mati wajar atau akibat kecelakaan / pembunuhan
(bdk. Yoh 7:1,19,25-26,30,44 Yoh 8:59 Mat 12:14-15a).
2) Kristus harus mati karena hukuman mati yang dijatuhkan oleh
pengadilan. Ia harus diperhitungkan / dianggap sebagai pelanggar
hukum dan dihukum sebagai seorang kriminil.
3) Allah mengatur sehingga Kristus diadili oleh pemerintah Roma,
dinyatakan tidak bersalah, tetapi toh dijatuhi hukuman mati (Luk
23:4,14,15,22,24).
Dengan demikian terlihat bahwa Ia mati / dihukum bukan karena
dosaNya sendiri, tetapi untuk menebus orang lain.
4) Hukuman dari Pontius Pilatus juga adalah hukuman dari Allah, tetapi
dasarnya berbeda. Allah memberikan hukuman mati kepada Yesus,
supaya manusia berdosa bisa ditebus, tetapi Pontius Pilatus
memberikan hukuman mati kepada Yesus, karena ia takut kepada
orang-orang Yahudi.
Karena itu jangan pernah berpikir bahwa Pontius Pilatus berjasa
karena membantu terlaksananya rencana Allah tentang penebusan
dosa.
5) Hukuman mati yang dijatuhkan bukanlah pemenggalan / perajaman
dengan batu, tetapi penyaliban. Ini adalah cara Romawi yang paling
hina.
Dengan kematian semacam itu Kristus memenuhi tuntutan hukum
Taurat, dan Ia menjadi terkutuk karena kita (Ul 21:23 Gal 3:13).
Alasan lain mengapa Kristus harus mati melalui penyaliban adalah
karena Ia harus mencurahkan darahNya untuk menebus dosa manusia
(bdk. Ibr 9:22) dan untuk menggenapi TYPE korban dosa dalam
Perjanjian Lama.
Kalau hanya untuk menggenapi Ul 21:23 (bdk. Gal 3:13), maka bisa
saja Kristus dihukum mati dengan hukuman gantung, karena itu juga
merupakan kematian terkutuk.

Tetapi perlu diingat bahwa hukuman gantung tidak menyebabkan Ia


mencurahkan darah, dan karenanya tidak mungkin Kristus mati
melalui hukuman gantung.

IV) Penguburan Kristus.


A) Kematian bukanlah tahap terakhir dari perendahan Kristus. Kata-kata
sudah selesai tak berhubungan dengan perendahan tetapi dengan
penderitaan aktif dalam memikul hukuman dosa.
B) Penguburan adalah suatu tahap perendahan.
Ini terlihat dari:
1) Kuburan merupakan tempat dimana tubuh itu hancur / membusuk.
2) Kembalinya manusia kepada debu adalah sebagian dari hukuman dosa
(Kej 3:19).
3) Maz 88:5-6 dan Kis 2:31 menunjukkan bahwa penguburan merupakan
perendahan.
C) Penguburan Kristus tidak hanya menunjukkan bahwa Ia betul-betul sudah
mati tetapi juga untuk menghilangkan kengerian terhadap kuburan
dalam diri orang yang percaya.
Karena itu, kalau saudara betul-betul adalah orang kristen, saudara tidak
boleh takut lagi pada kuburan. Ingat bahwa Kristus sudah pernah masuk
ke sana dan bahkan mengalahkanNya!
Catatan:

Calvin menggabungkan kematian dan penguburan Kristus dalam satu


tahap perendahan saja.

Disamping itu Calvin juga berpendapat bahwa penguburan terhadap


Kristus menunjukkan bahwa kutuk sudah mulai disingkirkan.
Calvin: Christ should be buried, that it might be more fully
attested that he suffered real death on our account. But
yet it ought to be regarded as the principal design, that in
this manner the cursing, which he had endured for a
short time, began to be removed; for his body was not

thrown into a ditch in the ordinary way, but honourably


laid in a hewn sepulcher [= Kristus harus dikuburkan,
supaya itu bisa membuktikan secara lebih penuh bahwa Ia
mengalami kematian yang sungguh-sungguh karena kita.
Tetapi harus dianggap sebagai tujuan utama, bahwa
dengan cara ini kutuk, yang Ia alami untuk waktu yang
singkat, mulai disingkirkan; karena tubuhNya tidak
dibuang di got (?) dengan cara biasa, tetapi dengan
hormat diletakkan di suatu kuburan galian] - hal 330.

V) Turun ke neraka / HADES.


A) Arti SHEOL / HADES.
Kata bahasa Ibrani SHEOL / kata bahasa Yunani HADES (dalam Kitab Suci
Indonesia biasanya diterjemahkan dunia orang mati atau alam maut)
tidak selalu mempunyai arti yang sama.
1) Kadang-kadang SHEOL / HADES tidak menunjuk pada suatu tempat
tertentu, tetapi dipakai dalam arti yang abstrak untuk menunjuk
pada keadaan kematian / the state of death atau keadaan
terpisahnya tubuh dengan jiwa / roh. Misalnya: Hos 13:14.
2) Kalau menunjuk pada tempat, maka SHEOL / HADES berarti:
a) Kuburan (Kej 37:35).
b) Neraka (Maz 9:18 Maz 49:15 Amsal 15:24 Luk 16:23).
Perhatikan bahwa dalam ayat-ayat ini ada ancaman kepada orang
berdosa. Kalau dalam ayat-ayat ini SHEOL / HADES diartikan
sebagai tempat netral kemana setiap orang akan pergi setelah
mati, maka ayat-ayat itu kehilangan ancamannya! Jadi, dalam
ayat-ayat ini SHEOL / HADES harus diartikan sebagai neraka!
B) Turun ke neraka / kerajaan Maut dalam 12 Pengakuan Iman Rasuli.
12 Pengakuan Iman Rasuli
1) Aku percaya kepada Allah, Bapa yang mahakuasa, Khalik langit dan
bumi.
2) Dan kepada Yesus Kristus, AnakNya yang tunggal, Tuhan kita.
3) Yang dikandung daripada Roh Kudus, lahir dari anak dara Maria.

4) Yang menderita sengsara dibawah pemerintahan Pontius Pilatus,


disalibkan, mati dan dikuburkan, turun ke dalam neraka / kerajaan
maut.
5) Pada hari yang ketiga bangkit pula dari antara orang mati.
6) Naik ke surga, duduk di sebelah kanan Allah, Bapa yang mahakuasa.
7) Dan dari sana Ia akan datang, untuk menghakimi orang yang hidup
dan yang mati.
8) Aku percaya kepada Roh Kudus.
9) Gereja yang Kudus dan Am, persekutuan orang kudus.
10)Pengampunan dosa.
11)Kebangkitan orang mati / daging.
12)Dan hidup yang kekal. Amin.
Hal-hal yang perlu diketahui tentang kalimat turun ke dalam neraka /
kerajaan maut ini:
1) Kata-kata ini tidak ada dalam 12 Pengakuan Iman Rasuli yang mulamula, dan baru muncul pada tahun 390 M.
2) Berbeda dengan bagian-bagian yang lain dari 12 Pengakuan Iman
Rasuli, kata-kata ini tidak ada dalam Kitab Suci dan tidak didasarkan
pada suatu pernyataan yang explicit / jelas dalam Kitab Suci.
3) Ayat-ayat Kitab Suci yang sering dipakai (secara salah) sebagai dasar
dari doktrin ini:
a) Ef 4:9.
Bagian bumi yang paling bawah sering diartikan sebagai HADES.
Tetapi penafsiran ini sangat meragukan karena dalam Ef 4:9 ini
Paulus hanya berargumentasi bahwa Kristus bisa naik karena Ia
telah turun (bandingkan dengan Yoh 3:13). Jadi bagian bumi yang
paling bawah harus diartikan sebagai bumi (seperti dalam Maz
139:15). Dengan demikian Ef 4:9 berarti: Kristus bisa naik ke
surga karena Ia sudah berinkarnasi. Karena itu Ef 4:9 ini
sebetulnya tidak berbicara tentang turunnya Kristus ke HADES /
neraka.
b) 1Pet 3:18-20.
Bagian ini sering dianggap sebagai bagian yang menunjukkan
bahwa Kristus memang turun ke HADES dan bagian ini juga
dianggap memberi penjelasan tentang tujuan Kristus pergi ke
HADES, yaitu memberitakan Injil kepada orang-orang yang sudah
mati. Tetapi tafsiran seperti ini bertentangan dengan Maz 88:12

yang jelas menunjukkan bahwa tidak ada pemberitaan Injil dalam


dunia orang mati!
Disamping itu, Roh (ay 19) = Roh (ay 18). Dan kata-kata
menurut Roh (ay 18) seharusnya adalah oleh Roh / by the
Spirit, dan jelas menunjuk kepada Roh Kudus.
Penafsiran Reformed yang umum tentang ayat ini adalah: dalam
Roh / oleh Roh, Kristus berkhotbah (memberitakan Injil) melalui
Nuh kepada orang-orang yang tidak taat yang hidup sebelum air
bah. Orang-orang ini masih hidup pada saat diinjili, tetapi disebut
roh-roh yang ada dalam penjara karena pada waktu Petrus
menulis suratnya mereka sudah mati (Louis Berkhof).
Herman Hoeksema, seorang ahli theologia Reformed, mempunyai
pandangan / penafsiran yang lain tentang 1Pet 3:18-20 ini. Ia
berpendapat bahwa arti ayat ini adalah:

Kristus memang pergi kepada roh-roh yang ada dalam penjara


(atau kepada roh-roh orang jahat yang menunggu
penghakiman), tetapi:

Ia tidak pergi secara pribadi, tetapi melalui Roh Kudus.

Ia pergi bukan antara kematian dan kebangkitanNya, tetapi


setelah kebangkitan dan kenaikanNya ke surga.

Kristus memang memberitakan Injil kepada roh-roh yang ada


dalam penjara itu, tetapi ini bukanlah pemberitaan Injil yang
memungkinkan suatu pertobatan. Ini hanya merupakan
pengumuman / proklamasi tentang kemenangan yang telah Ia
dapat-kan.

Yang manapun arti yang benar, tetap tidak menunjukkan bahwa


1Pet 3:18-20 ini berhubungan dengan kata-kata turun ke neraka
dalam 12 Pengakuan Iman Rasuli.
c) Maz 16:10.
Ini diartikan: Roh / jiwa Kristus ada di neraka / HADES sebelum
kebangkitanNya. Tetapi ini jelas merupakan penafsiran yang salah, karena apa yang diajarkan oleh ayat ini hanyalah bahwa
Kristus tidak dibiarkan dalam kuasa maut (bdk. Kis 2:30-31 dan
Kis 13:34-35 dimana Maz 16:10 ini dikutip untuk membuktikan
kebangkitan Kristus).

Jadi lagi-lagi terlihat bahwa ayat inipun tidak ada hubungannya


dengan turunnya Kristus ke HADES / neraka.
4) Macam-macam penafsiran tentang turun ke HADES:
a) Berdasarkan arti dari kata HADES di atas, dimana HADES bisa
menunjuk pada keadaan kematian atau kuburan, maka ada orang
yang beranggapan bahwa turun ke HADES berarti turun ke
dalam keadaan kematian atau turun ke kuburan.
Keberatan terhadap penafsiran ini:
Penafsiran ini tak cocok dengan kontex dari 12 Pengakuan Iman
Rasuli. Dalam 12 Pengakuan Iman Rasuli itu sudah dikatakan
bahwa Kristus menderita di bawah pemerintahan Pontius Pilatus,
disalibkan, mati dan dikuburkan. Kalau kalimat selanjutnya yaitu
turun ke neraka diartikan turun ke dalam keadaan kematian
atau turun ke kuburan, maka ini merupakan suatu pengulangan
yang tidak perlu. Lebih dari itu, kalimat yang tadinya sudah jelas,
sekarang diulangi secara kabur / tidak jelas.
b) Ada juga yang beranggapan bahwa Kristus benar-benar turun ke
neraka untuk mengalami siksaan neraka untuk menebus dosa kita.
Keberatan terhadap penafsiran ini:

antara kematian dan kebangkitanNya, tubuh Kristus ada dalam


kuburan dan roh / jiwaNya ada di surga (Luk 23:43,46). Karena
itu, baik tubuh maupun jiwa / roh dari manusia Yesus Kristus
tidak mungkin turun ke neraka untuk mengalami siksaan
neraka tersebut.

sesaat sebelum kematianNya, Yesus berkata Sudah selesai


(Yoh 19:30). Ini menunjukkan bahwa penderitaanNya untuk
menanggung hukuman dosa umat manusia sudah selesai,
sehingga tidak ada lagi penderitaan yang harus Ia alami untuk
menebus dosa kita.

c) Roma Katolik:
Sesudah mati, Kristus pergi ke LIMBUS PATRUM (= tempat
penantian dimana orang-orang suci jaman Perjanjian Lama
menantikan kebangkitan Kristus), menyampaikan Injil kepada
mereka dan lalu membawa mereka ke surga.

Dasar Kitab Suci yang dipakai adalah Maz 107:16 Zakh 9:11.
Keberatan terhadap ajaran ini:

ayat-ayat itu ditafsirkan out of context (= keluar dari


kontexnya). Bacalah seluruh kontex dari ayat-ayat itu dan
saudara akan melihat bahwa baik Maz 107:16 maupun
Zakh 9:11 menunjuk pada pembebasan / pertolongan yang
Allah lakukan terhadap orang yang tadinya mengalami
penderitaan sebagai hukuman dosa mereka. Jadi, ayat-ayat ini
sama sekali tak ada hubungannya dengan Kristus turun ke
neraka / Hades / Limbus Patrum.

orang suci jaman Perjanjian Lama itu adalah orang percaya;


lalu mengapa mesti diinjili lagi?

pandangan ini bertentangan dengan 2Raja-raja 2:11 yang


menyatakan bahwa Elia naik ke surga, bukan pergi ke LIMBUS
PATRUM.

apa perlunya Kristus pergi ke sana? Kalau hanya untuk


membebaskan mereka, Kristus tidak perlu pergi ke sana.

d) Lutheran:
Turun ke HADES merupakan tahap pertama dari pemuliaan
Kristus. Kristus turun ke HADES untuk menyelesaikan
kemenanganNya atas setan dan untuk menyampaikan hukuman
mereka.
Keberatan terhadap ajaran ini:

tidak ada dasar Kitab Sucinya.

pemuliaan Kristus baru dimulai pada saat Kristus bangkit.

agak sukar membayangkan bahwa kata turun bisa menunjuk


pada pemuliaan Kristus.

e) The Church of England:


Tubuh Kristus ada di kuburan, tetapi roh / jiwaNya pergi ke
HADES, atau, lebih khusus lagi, ke Firdaus, tempat penantian dari
roh orang-orang benar dan memberi penjelasan tentang
kebenaran.

Keberatan terhadap ajaran ini:

tak ada dasar Kitab Sucinya.

orang benar yang sudah mati tak perlu diajar lagi.

Firdaus bukanlah tempat penantian orang benar, tetapi Firdaus


jelas adalah surga. Hal ini bisa terlihat dari:

membandingkan Luk 23:43 dengan Luk 23:46.

membandingkan 2Kor 12:2 dengan 2Kor 12:4.

membandingkan Wah 2:7 dengan Wah 22:2,14,19.

f) Calvin:
Turun ke neraka menunjukkan penderitaan rohani yang dialami
oleh Kristus. Calvin berkata bahwa 12 Pengakuan Iman Rasuli itu
mula-mula menunjukkan penderitaan Kristus yang terlihat oleh
manusia (yaitu menderita, disalibkan, mati, dikuburkan), dan
setelah itu 12 Pengakuan Iman Rasuli itu melanjutkan dengan
menunjukkan penderitaan Kristus secara rohani, yang tidak
terlihat oleh manusia. Ini terjadi pada saat Ia berteriak: ELI,
ELI, LAMA SABAKHTANI? (Mat 27:46).
Dengan demikian jelas bahwa Calvin tidak mempercayai bahwa
antara kematian dan kebangkitanNya, Kristus betul-betul turun ke
neraka atau HADES atau tempat manapun. Antara kematian dan
kebangkitanNya, roh / jiwa dari manusia Yesus pergi ke surga
(sesuai dengan kata-kataNya dalam Luk 23:43,46), sedangkan
tubuh manusia Yesus ada di kuburan.
g) Ada juga orang Reformed yang menganggap bahwa turun ke
neraka / Kerajaan Maut berarti bahwa Yesus ada dalam kuasa
maut sampai hari yang ke 3.
Westminster Confession of Faith, chapter VIII, 4 berbunyi
sebagai berikut:
... was crucifed, and died, was buried, and
remained under the power of death, yet saw no
corruption. On the third day He arose from the
dead ... (= ... disalibkan, dan mati, dan dikuburkan,
dan tetap ada di bawah kuasa kematian, tetapi tidak

menjadi rusak / busuk. Pada hari ketiga Ia bangkit


dari antara orang mati ...).
Sama seperti penafsiran Calvin, pandangan yang inipun tidak
mempercayai bahwa Yesus betul-betul turun ke neraka / HADES.
Catatan: Ada keberatan terhadap ajaran yang mengatakan bahwa
antara kematian dan kebangkitanNya Yesus tidak turun kemana-mana
tetapi naik ke surga, karena setelah kebangkitanNya, dalam
Yoh 20:17 Yesus berkata kepada Maria: Janganlah engkau
memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa.
Ini dijadikan dasar untuk mengatakan bahwa antara kematian dan
kebangkitanNya, Yesus tidak pergi ke surga.
Jawaban terhadap keberatan ini:
a) Yoh 20:17 ini tidak boleh ditafsirkan bertentangan dengan Luk
23:43,46 yang jelas menunjukkan bahwa antara kematian dan
kebangkitanNya, Yesus naik ke surga.
b) Adalah sesuatu yang tidak masuk akal kalau Yesus melarang Maria
memegang (dalam arti menyentuh) Dia, karena dalam Mat 28:9
dan Yoh 20:27 Ia mengijinkan diriNya untuk dipegang. Karena itu,
kata memegang dalam Yoh 20:17 seharusnya diartikan
memegang erat-erat / menahan / nggandoli. Bandingkan dengan
terjemahan NASB yang mengatakan Stop clinging to Me (=
berhentilah berpegang teguh kepadaKu), dan juga terjemahan NIV
yang mengatakan Do not hold on to Me (= jangan berpegang
erat-erat kepadaKu).
c) Selanjutnya, kata-kata Aku belum pergi kepada Bapa
dalam Yoh 20:17a itu, tidak menunjuk pada saat antara kematian
dan kebangkitan Yesus, tetapi menunjuk pada hari kenaikanNya ke
surga. Ini terlihat dengan jelas karena dalam Yoh 20:17b yang
berbunyi sekarang Aku akan pergi kepada BapaKu dan Bapamu,
kepada AllahKu dan Allahmu, kata pergi ini jelas menunjuk pada
kenaikanNya ke surga.
Jadi kesimpulannya, arti dari Yoh 20:17 adalah: jangan nggandoli /
menahan Aku, karena Aku harus pergi kepada Bapa / naik ke surga.
Rupa-rupanya Yesus tahu akan isi hati Maria yang begitu mencintai
Dia, sehingga ingin menahan Dia terus menerus dan tidak mau
berpisah lagi dengan Yesus. Karena itulah Ia lalu mengucapkan Yoh
20:17 ini.

Dengan demikian jelaslah bahwa Yoh 20:17 ini tidak bisa dijadikan
dasar untuk mengatakan bahwa antara kematian dan kebangkitanNya
Yesus tidak naik ke surga.

THE EXALTATION OF CHRIST


(PEMULIAAN KRISTUS)
Ada 4 tahap pemuliaan Kristus:

I) Kebangkitan.
A) Hal-hal yang terjadi pada saat kebangkitan.
1) Tubuh dan jiwa Kristus bersatu kembali dan Kristus hidup kembali.
Tetapi bukan hanya itu yang terjadi, karena kalau hanya itu yang
terjadi, maka dalam Kis 26:23 1Kor 15:20,23 Kol 1:18 Wah 1:5 Yesus
tidak bisa dikatakan sebagai yang sulung / yang pertama bangkit dari
antara orang mati, karena ada banyak orang yang pernah
dibangkitkan sebelum kebangkitan Kristus, yaitu:

anak janda di Sarfat yang dibangkitkan oleh Elia (1Raja 17:17-24).

anak perempuan Sunem yang dibangkitkan oleh Elisa (2Raja 4:1837).

mayat yang terkena tulang Elisa (2Raja 13:21).

anak Yairus yang dibangkitkan oleh Yesus (Mark 5:21-43).

anak janda di Nain yang dibangkitkan oleh Yesus (Luk 7:11-17).

Lazarus yang dibangkitkan oleh Yesus (Yoh 11:1-44).

mayat-mayat orang kudus yang bangkit pada waktu Yesus mati


(Mat 27:52-53).

2) Terjadi perubahan pada tubuh Kristus dimana Ia diangkat ke suatu


posisi yang lebih tinggi. Dengan demikian ada perbedaan kwalitet
antara tubuh Yesus sebelum dan sesudah kebangkitan.
Perhatikan ayat-ayat di bawah ini:

Luk 24:16 Yoh 20:14,15 Yoh 21:4 menunjukkan bahwa setelah


kebangkitanNya Yesus sering tidak dikenali.

Mark 16:12 mengatakan bahwa setelah kebangkitanNya, Yesus


menampakkan diri dalam rupa yang lain.
Catatan: perlu diingat bahwa Mark 16:9-20 termasuk bagian Kitab
Suci yang diperdebatkan keasliannya.

Luk 24:31,36
Yoh 20:19,26
menunjukkan
bahwa
setelah
kebangkitanNya Yesus bisa muncul dan lenyap dengan tiba-tiba.

1Kor 15:35-44 menunjukkan perbedaan kwalitet antara tubuh


sekarang dan tubuh kemuliaan.

Fil 3:21 menunjukkan bahwa Yesus mempunyai tubuh yang


mulia.

B) Arti kebangkitan Kristus.


1) Musuh (Iblis dan maut) sudah dikalahkan (Kej 3:15 1Kor 15:57).
a) Baik Iblis maupun maut sebetulnya sudah dikalahkan pada waktu
Yesus bangkit dari antara orang mati. Tetapi sekarang Iblis dan
maut masih diberi kesempatan untuk menakut-nakuti / menggoda
manusia. Pada kedatangan Kristus yang kedua, barulah maut
dihancurkan selama-lamanya (1Kor 15:53-55 Wah 21:4) dan Iblis
dibuang ke dalam neraka (2Tes 2:8 Wah 20:10), sehingga tidak
lagi bisa menggoda kita. Ini adalah sesuatu yang sudah pasti akan
terjadi, dan hal ini bahkan diketahui dan diakui oleh setan sendiri
(Mat 8:29).
b) Karena itu orang kristen tidak boleh takut kepada setan maupun
kepada kematian. Bagi orang kristen kematian bukan lagi
hukuman dosa, tapi merupakan pintu gerbang menuju surga.
2) Hutang dosa telah dibayar lunas dan pembayarannya telah diterima
oleh Allah.
a) Yesus membayar hutang dosa kepada Allah, bukan kepada setan!
Ini perlu ditekankan karena adanya ajaran yang mengatakan
bahwa pada waktu manusia jatuh ke dalam dosa, manusia

menjadi milik setan. Karena itu Yesus mati untuk membayar


kepada setan supaya bisa mendapatkan manusia kembali.
Ini adalah ajaran yang salah / sesat, karena pada waktu manusia
berbuat dosa, manusia berbuat dosa kepada Allah, bukan kepada
setan. Karena itu pembayaran hutang dosa jelas harus ditujukan
kepada Allah. Setan sama sekali tidak berhak menerima
pembayaran hutang dosa itu!
b) Kalau pembayaran itu tidak diterima oleh Allah, atau kalau hutang
dosa itu belum lunas, maka Yesus harus tetap ada di dalam
kematian yang merupakan upah dosa (Ro 6:23). Bahwa Ia bisa
bangkit, menunjukkan bahwa pembayaran hutang itu telah
diterima oleh Allah, dan hutang dosa manusia (elect / orang
pilihan) sudah betul-betul lunas. Karena itu, fakta bahwa Yesus
sudah bangkit dari antara orang mati menjamin keselamatan kita!
3) Menunjukkan apa yang akan dialami oleh orang-orang yang percaya
kepada Kristus. Kebangkitan Kristus merupakan pola yang akan diikuti
oleh orang yang percaya kepadaNya (Ro 6:4,5,8 1Kor 6:14 1Kor
15:20-23 2Kor 4:14 Fil 3:21 Kol 2:12 1Tes 4:14).
4) Menunjukkan bahwa Yesus adalah Anak Allah (Ro 1:4).
C) Yang membangkitkan Kristus.
1) Allah Bapa (Gal 1:1).
2) Kristus sendiri (Yoh 2:19-21 Yoh 10:18 Yoh 11:25).
3) Roh Kudus (Ro 8:11).
Kesimpulan: kebangkitan Kristus adalah pekerjaan dari Allah Tritunggal.
D) Penyangkalan terhadap kebangkitan Yesus.
1) Yesus sebetulnya tidak bangkit, tetapi mayatNya dicuri oleh muridmuridNya (Mat 28:11-15).
Pandangan ini tidak masuk akal, sebab:
a) Adanya batu besar yang menutup kubur, meterai, dan penjagaan
yang ketat (Mat 27:62-66).
Perlu diingat bahwa pada jaman itu penjaga yang lalai dalam
tugasnya menghadapi hukuman mati (bdk. Kis 12:19 Kis 16:27).

Karena itu tidak mungkin para penjaga kubur Yesus itu lalai dalam
menjaga kubur sehingga mayat Yesus bisa dicuri.
b) Kain kapan tetap ada dalam kuburan (Yoh 20:5-7).
Kalau murid-murid mencuri mayat Tuhan Yesus, pasti mereka tidak
akan berlama-lama di dalam kubur. Mereka pasti tidak akan
membuka kain kapan itu di dalam kuburan, tetapi akan membawa
mayat Yesus beserta kain kapannya.
c) Selama 40 hari, berulang-ulang Yesus menampakkan diri.
d) Murid-murid mati syahid untuk Yesus.
Kalau murid-murid mencuri mayat Yesus, mereka pasti tahu
bahwa Yesus adalah seorang pendusta, dan tidak mungkin mereka
mau mati untuk seorang pendusta.
e) Kalau memang ada pencuri yang mencuri mayat Yesus pada waktu
penjaga-penjaga sedang tertidur, dari mana para penjaga itu tahu
bahwa yang mencuri adalah murid-murid Yesus? Dan kalaupun dari
penyelidikan mereka akhirnya bisa tahu hal itu, mengapa mereka
tidak berusaha menangkap murid-murid Yesus untuk mendapatkan
mayat Yesus kembali?
2) Yesus tidak bangkit, tapi mayatNya dicuri oleh tentara Romawi / para
pemimpin agama.
Pandangan ini juga tidak masuk akal, sebab:
a) Pada saat murid-murid mengatakan bahwa Yesus sudah bangkit,
pencuri mayat itu dengan mudah bisa menunjukkan mayat Yesus,
dan membuktikan bahwa Yesus tidak bangkit. Tetapi ternyata hal
ini tidak pernah mereka lakukan.
b) Selama 40 hari, berulang-ulang Yesus menampakkan diri.
3) Yesus tidak bangkit, tetapi sadar dari pingsanNya.
Pandangan ini juga tidak masuk akal, sebab:
a) Yesus mengalami luka-luka berat, baik karena pencambukan,
penyaliban, maupun penusukan tombak.
b) Yesus ada dalam kubur seorang diri, tanpa makanan, minuman,
obat-obatan, dan tak ada dokter atau
perawat yang

menolongNya. Dalam situasi seperti ini, bagaimana mungkin Yesus


justru menjadi sembuh setelah hari yang ke tiga?
4) Yesus tidak bangkit, tetapi keluar dari persembunyianNya, sedangkan
yang mati disalib adalah orang lain.
Pandangan ini juga tidak masuk akal, sebab:
a) Orang-orang yang membenci Yesus tidak mungkin keliru
menyalibkan orang lain, karena orang yang benci pada seseorang
pasti mengingat wajah musuhnya.
b) Murid-murid yang mencintai Yesus juga tidak mungkin keliru
mengenali Guru mereka, sehingga mereka menjadi takut setelah
Yesus mati.
c) Waktu Yesus keluar dari persembunyianNya, mayat Yesus palsu
seharusnya tetap ada di dalam kubur. Tetapi kenyataannya adalah:
kubur itu kosong.
5) Yesus tidak bangkit, murid-murid hanya mengalami halusinasi.
Pandangan ini juga tidak masuk akal, sebab:
a) Murid-murid tidak pernah mengharapkan kebangkitan Yesus.
b) Halusinasi itu bisa dilihat oleh banyak orang sekaligus.
c) Dalam halusinasi itu Yesus bisa bercakap-cakap dan bisa
dipegang, dan juga bisa makan (Luk 24:36-43).
6) Yesus bangkit, bukan secara jasmani, tetapi secara rohani.
Ini adalah pandangan dari Saksi Yehovah.
Pandangan ini juga tidak masuk akal, sebab:
a) Apa gerangan yang dimaksud dengan kebangkitan rohani? Roh
Yesus tidak pernah mati! Ia memang pernah mengalami kematian
rohani, yaitu pada waktu Ia ditinggal oleh Bapanya (Mat 27:46).
Tetapi dalam arti sebenarnya roh tidak bisa mati!
b) Kubur Yesus kosong, dan ini menunjukkan bahwa Yesus pasti
bangkit secara jasmani.

c) Setelah kebangkitan, Yesus bisa makan (Luk 24:41-43), bisa dilihat


/ dipegang (Mat 28:9 Luk 24:38-40 Yoh 20:27).
E) Pentingnya kepercayaan pada kebangkitan Yesus.
Kepercayaan akan kebangkitan Yesus adalah sesuatu yang sangat
penting, sebab:
1) Tidak percaya pada kebangkitan Yesus berarti sama dengan tidak
percaya pada Kitab Suci / Firman Tuhan.
2) Orang yang tidak percaya pada kebangkitan Yesus, tidak akan selamat
(Ro 10:9). Karena itu, Paulus dalam penginjilannya sangat
mementingkan berita tentang kebangkitan Yesus (1Kor 15:3-4).
F) Hubungan antara kematian dan kebangkitan Kristus.
Salib, kematian dan penguburan Kristus menunjukkan kelemahan dan
kekalahan. Tetapi kebangkitan Kristus betul-betul menunjukkan
kemenanganNya, dan kebangkitanNya ini menyebabkan kematianNya
mempunyai kuasa dan manfaat dalam hidup kita (1Kor 15:14,17).
Karena itu, kematian dan kebangkitan Kristus tidak boleh dipisahkan.
Kitab Suci dalam banyak bagian menyebutkan kematian dan kebangkitan
Kristus sekaligus (Ro 4:25 Ro 6:4 2Kor 13:4 Fil 3:10).
Memang ada bagian-bagian Kitab Suci yang hanya berbicara tentang
kematian atau kebangkitan saja. Pada saat kita melihat bagian yang
hanya berbicara tentang kematian Kristus, kita harus juga mengingat
kebangkitanNya. Sebaliknya, pada saat kita melihat bagian yang hanya
berbicara tentang kebangkitan Kristus, kita juga harus mengingat
kematianNya.
Calvin: So then, let us remember that whenever mention is
made of His death alone, we are to understand at the
same time what belongs to His resurrection. Also, the
same synecdoche applies to the word resurrection:
whenever it is mentioned separately from death, we are to
understand it as including what has to do especially with
His death (= Jadi, marilah kita mengingat bahwa kalau
hanya disebutkan tentang kematianNya, kita harus
mengartikan pada saat yang sama, apa yang termasuk
dalam kebangkitanNya. Juga synecdoche yang sama
berlaku terhadap kata kebangkitan: kalau kata itu
disebutkan
terpisah
dari
kematian,
kita
harus
menafsirkan kata itu beserta apa yang termasuk dalam

kematianNya) - Institutes of the Christian Religion, Book II,


Chapter XVI, No 13.
Contoh:

Ro 10:9 mengatakan bahwa orang yang percaya bahwa Yesus sudah


bangkit dari antara orang mati, akan diselamatkan. Ini tentu tak
boleh diartikan bahwa orang itu tidak perlu percaya tentang
kematian Kristus untuk menebus dosanya.

Ibr 2:14 mengatakan bahwa oleh kematianNya Yesus memusnahkan


Iblis. Ini rasanya tidak cocok, dan karenanya kata kematian di sini
harus diartikan mencakup juga akan kebangkitan Yesus.

II) Kenaikan ke surga.


A) Hal-hal yang terjadi pada waktu Kristus naik ke surga.
1) Perpindahan tempat.
Perlu dicamkan bahwa surga bukanlah sekedar merupakan suatu
kondisi, tetapi betul-betul suatu tempat (baca Yoh 14:2-3 dan
perhatikan bahwa kata tempat muncul berulang-ulang).
Tentang ascension / kenaikan Kristus ke surga, Charles Hodge
berkata sebagai berikut:
It was a local transfer of his person from one place to
another; from earth to heaven. Heaven is therefore a
place. ... If Christ has a true body, it must occupy a
defnite portion of space. And where Christ is, there is
the Christians heaven (= Itu merupakan perpindahan
tempat dari pribadiNya dari satu tempat ke tempat
lain; dari bumi ke surga. Karena itu, surga adalah
suatu tempat. ... Jika Kristus mempunyai tubuh yang
sungguh-sungguh, tubuh itu harus menempati suatu
ruangan / tempat tertentu. Dan dimana Kristus ada, di
situlah surga orang kristen) - Systematic Theology, Vol II,
hal 630, 631.
Herman Hoeksema: This ascension must be conceived as
consisting defnitely in a change of place. In His human
nature Christ departed from the earth and went into
heaven both in body and soul. After His ascension He is
according to His human nature no longer on earth, but

in heaven only. This must be emphasized especially


over against the Lutherans, who teach what is called
the ubiquity of the human nature of Christ after His
resurrection and ascension into heaven (= Kenaikan
ini harus dipahami sebagai perubahan tempat. Dalam
hakekat manusiaNya, Kristus meninggalkan bumi dan
pergi ke surga baik tubuh dan jiwaNya. Setelah
kenaikanNya maka menurut hakekat manusiaNya Ia
tidak lagi di bumi tetapi hanya di surga. Ini harus
ditekankan khususnya menghadapi golongan Lutheran,
yang mengajarkan apa yang disebut kemahaadaan dari
hakekat manusia Kristus setelah kebangkitan dan
kenaikanNya ke surga) - Reformed Dogmatics, hal 420.
Herman Hoeksema: Heaven is a defnite place, and not
merely a condition (= Surga adalah tempat yang
tertentu, dan bukan semata-mata merupakan suatu
kondisi / keadaan) - Reformed Dogmatics, hal 422.
2) Perubahan / pemuliaan lebih lanjut pada hakekat manusia Kristus.
Perubahan / pemuliaan itu dimulai pada saat kebangkitanNya dan
disempurnakan pada waktu kenaikanNya ke surga.
Untuk ini perhatikan ayat-ayat di bawah ini:

Yoh 7:39 - kata dimuliakan di sini jelas menunjuk pada kenaikan


ke surga (bdk. Yoh 16:7).

Kis 9:3-5 Kis 22:6-8 Kis 26:12-15 Wah 1:12-16 menunjukkan


bahwa pada waktu Paulus dan Yohanes melihat Yesus (ini terjadi
setelah Yesus naik ke surga), Yesusnya jauh lebih mulia dari pada
waktu Ia sudah bangkit tetapi belum naik ke surga.

B) Fungsi kenaikan Kristus ke surga.


1) Untuk menunjukkan bahwa misiNya untuk menebus dosa kita sudah
selesai (Yoh 17:4-5).
Bapa, yang mengutus Yesus untuk turun ke dunia dan membereskan
dosa manusia, pasti tidak akan mau menerima Yesus kembali di surga,
kalau misi Yesus itu belum selesai. Bahwa Bapa menerima Yesus
kembali di surga, menunjukkan bahwa misi penebusan dosa manusia
itu memang sudah selesai.

Jadi, sama seperti kebangkitan, maka kenaikan Yesus ke surga juga


merupakan fakta / faktor yang menjamin keselamatan orang
percaya.
2) Untuk mempersiapkan tempat di surga bagi kita yang percaya
kepadaNya (Yoh 14:2).
3) Untuk menunjukkan bahwa kita yang percaya kepadaNya juga akan
naik ke surga (Yoh 14:2-3 Yoh 17:24 Ef 2:6).
Sama seperti kebangkitanNya, demikian juga kenaikanNya ke surga
merupakan pola yang akan diikuti oleh semua orang yang percaya
kepadaNya.
Herman Hoeksema mengomentari Ef 2:4-6 dengan berkata sebagai
berikut:
We must remember that Christ is our head, both in
the juridical and in the organic sense of the word. ...
His ascension is of central signifcance. He is the head
of the body, the church. As such He represents all the
elect. As the head of His own in the forensic sense of
the word, He entered into death, bore all our iniquities
on the accursed tree, blotted out all our sins, and
obtained eternal righteousness. His righteousness is
our righteousness; His death is our death; His
resurrection is our resurrection. And so in that legal
sense of the word His ascension is our ascension. ...
But He is also the head of the body in the organic
sense. We are members of His body; and we can never
be separated from Him, our head. That He went to
heaven means that centrally we are in heaven. He will
not return to us, but He will draw us unto Himself, that
we may also be where He is. And so we look up toward
heaven by faith in the consciousness of our inseparable
union with Christ our head, and confess that we have
our flesh in heaven as a sure pledge that He as the
head will also take up to Himself us His members (=
Kita harus ingat bahwa Kristus adalah kepala kita, baik
dalam arti yuridis / hukum maupun dalam arti
organik. ... KenaikanNya mempunyai arti yang pokok /
utama / dasar. Ia adalah kepala dari tubuh, yaitu
gereja. Sebagai kepala Ia mewakili semua orang
pilihan. Sebagai kepala dari milikNya dalam arti
hukum, Ia mengalami kematian, memikul semua
kesalahan kita pada salib yang terkutuk, menghapus
semua dosa kita, dan mendapatkan kebenaran kekal.

KebenaranNya adalah kebenaran kita; kematianNya


adalah
kematian
kita;
kebangkitanNya
adalah
kebangkitan kita. Dan dengan demikian dalam arti
hukum kenaikanNya adalah kenaikan kita. ... Tetapi Ia
juga adalah kepala dari tubuh dalam arti organik. Kita
adalah anggota-anggota dari tubuhNya; dan kita tidak
pernah bisa dipisahkan dari Dia, kepala kita. Bahwa Ia
pergi ke surga berarti bahwa secara dasari kita ada di
surga. Ia tidak akan kembali kepada kita, tetapi Ia
akan menarik kita kepada diriNya sendiri, supaya kita
bisa berada dimana Ia ada. Dan dengan demikian kita
melihat ke atas ke surga dengan iman dalam kesadaran
akan kesatuan yang tak terpisahkan antara kita dengan
Kristus, kepala kita, dan mengaku bahwa kita
mempunyai daging kita di surga sebagai suatu jaminan
yang pasti bahwa Ia sebagai kepala juga akan
mengumpulkan
kita
anggota-anggotaNya
kepada
diriNya sendiri) - Reformed Dogmatics, hal 425-426.
Calvin: the Lord by his ascent to heaven opened the way
into the Heavenly Kingdom, which had been closed
through Adam (John 14:3). Since he entered heaven in
our flesh, as if in our name, it follows, as the apostle
says, that in a sense we already sit with God in the
heavenly places in him (Eph. 2:6), so that we do not
await heaven with a bare hope, but in our Head already
possess it [= Tuhan oleh kenaikanNya ke surga
membuka jalan ke dalam Kerajaan Surgawi, yang telah
ditutup melalui Adam (Yoh 14:3). Karena Ia masuk ke
surga dalam daging kita, seakan-akan dalam nama
kita, akibatnya, seperti dikatakan oleh sang rasul,
bahwa dalam arti tertentu kita sudah duduk dengan
Allah dalam tempat-tempat surgawi dalam Dia (Ef 2:6),
sehingga kita tidak menantikan surga dengan suatu
harapan semata-mata, tetapi sudah memilikinya dalam
Kepala kita] - Institutes of the Christian Religion, Book II,
chapter XVI, 16.
Catatan: Ef 2:6 (KJV): And hath raised us up together, and made us
sit together in heavenly places in Christ Jesus (= Dan telah
membangkitkan kita bersama-sama, dan mendudukkan kita bersamasama di tempat-tempat surgawi dalam Kristus Yesus).
Calvin: Hence arises a wonderful consolation: that we
perceive judgment to be in the hands of him who
already destined us to share with him the honor of

judging (cf. Matt. 19:28)! Far indeed is he from


mounting his judgment seat to condemn us! How could
our most merciful Ruler destroy his people? How could
the Head scatter his own members? How could our
Advocate condemn his clients? For if the apostle dares
exclaim that with Christ interceding for us there is no
one who can come forth to condemn us (Rom. 8:34,33),
it is much more true, then, that Christ as Intercessor
will not condemn those whom he has received into his
charge and protection. No mean assurance, this - that
we shall be brought before no other judgment seat
than that of our Redeemer, to whom we must look for
our
salvation!
[=
Karenanya
muncul
suatu
penghiburan yang sangat indah: bahwa kita memahami
bahwa penghakiman ada di tanganNya yang telah
mentakdirkan kita untuk bersama dengan Dia
melakukan
kehormatan
penghakiman
(bdk.
Mat 19:28)! Jauhlah dari padaNya untuk naik ke kursi
penghakimanNya untuk menghukum kita! Bagaimana
Pemerintah kita yang paling berbelaskasihan itu bisa
menghancurkan rakyatNya? Bagaimana Kepala bisa
menyebarkan / menyemburatkan anggota-anggotaNya
sendiri? Bagaimana Pengacara kita bisa menghukum
kliennya? Karena jika sang rasul berani menyerukan
bahwa dengan Kristus membela kita maka tidak ada
orang yang akan menggugat / menghukum kita
(Ro 8:34,33), maka lebih benar lagi, bahwa Kristus
sebagai Pembela tidak akan menghukum mereka yang
telah Ia terima ke dalam tanggung jawab dan
perlindunganNya. Ini bukanlah keyakinan yang tak
berarti bahwa kita tidak akan dibawa ke depan kursi
penghakiman dari siapapun selain kursi penghakiman
Penebus kita, kepada siapa kita harus memandang
untuk keselamatan kita] - Institutes of the Christian
Religion, Book II, chapter XVI, 18.
4) Supaya Roh Kudus turun (Yoh 16:7).
Jadi Kristus tidak lagi menyertai orang percaya secara jasmani, tapi
secara rohani (Mat 26:11 Yoh 14:16,18,19).
Dengan demikian Ia bisa menggenapi janjiNya dalam ayat-ayat
seperti Mat 18:20 Mat 28:20b.
C) Mungkinkah manusia Yesus yang sudah naik ke surga itu kembali ke dunia
dan menampakkan diri di dunia, sebelum kedatanganNya yang
keduakalinya?

Dalam tafsirannya tentang Ef 4:10, Calvin berkata:


as respects his body, the saying of Peter holds true, that
the heaven must receive him until the times of
restitution of all things, which God hath spoken by the
mouth of all his holy prophets since the world began.
(Acts 3:21) [= berkenaan dengan tubuhNya, kata-kata
Petrus tetap benar bahwa surga harus menerimaNya
sampai saat pemulihan segala sesuatu, yang telah
difirmankan Allah oleh mulut dari semua nabi-nabi
kudusNya sejak dunia ada. (Kis 3:21)] - hal 276.
Kis 3:21 - Kristus itu harus tinggal di sorga sampai waktu
pemulihan segala sesuatu, seperti yang difirmankan Allah
dengan perantaraan nabi-nabiNya yang kudus di zaman
dahulu.
Perlu diketahui bahwa kata yang diterjemahkan tinggal seharusnya
artinya adalah receive (= menerima).
NASB: whom heaven must receive until the period of restoration of all
things ... (= yang harus diterima di surga sampai masa pemulihan segala
sesuatu ...).
Dan di sini saya ingin memberi banyak komentar dari para penafsir
tentang Kis 3:21 ini.
F. F. Bruce (NICNT): Jesus, their Messiah, ... had been
received up into the divine presence, and would remain
there until the consummation of all that the prophets,
from the earliest days, had foretold (= Yesus, Mesias
mereka, ... telah diterima ke dalam hadirat ilahi, dan akan
tinggal di sana sampai penyempurnaan dari semua yang
sudah dinubuatkan oleh nabi-nabi sejak semula) - The Book
of the Acts, hal 91.
Adam Clarke: he has ascended unto heaven, ... and there he
shall continue till he comes again to judge the quick and
the dead (= Ia telah naik ke surga, ... dan Ia akan terus
di sana sampai Ia datang lagi untuk menghakimi orang
yang hidup dan yang mati) - hal 707.
J. A. Alexander: In the mean time, i.e. until God shall send
Christ and the times of refreshing from his presence, he
is committed to the heavens ... Till this great cycle has
achieved its revolution, and this great remedial process

has accomplished its design, the glorifed body of the


risen and ascended Christ not only may but must, as an
appointed means of that accomplishment, be resident in
heaven, and not on earth (= Sementara itu, yaitu sampai
Allah mengirim Kristus dan saat penyegaran dari
hadiratNya, Ia dibatasi di surga ... Sampai siklus yang
besar ini telah mencapai siklus lengkap, dan proses
penyembuhan yang besar ini telah menyelesaikan
tujuannya, tubuh yang dimuliakan dari Kristus yang telah
bangkit dan naik ke surga itu bukan hanya bisa / boleh,
tetapi harus, sebagai suatu cara yang ditetapkan untuk
penyelesaian itu, tinggal di surga, dan bukan di bumi) - hal
116,118.
Matthew Poole: Whom heaven must receive; that is,
contain after it hath received him, as a real place doth a
true body; for such Christs body was, which was received
into heaven: and heaven is the place and throne of this
King of kings and Lord of lords, where he shall reign until
he hath put all his enemies under his feet, 1Cor. 15:25 (=
Yang surga harus menerima; artinya, menahan setelah
surga menerimaNya, sebagai suatu tempat yang nyata
menerima suatu tubuh yang sungguh-sungguh; karena
begitulah tubuh Kristus itu, yang diterima di dalam surga:
dan surga merupakan tempat dan takhta dari Raja dari
segala raja dan Tuhan dari segala tuhan, dimana Ia akan
memerintah
sampai
Ia
telah
meletakkan
semua
musuhNya di bawah kakiNya, 1Kor 15:25) - hal 393.

III) Duduk di sebelah kanan Allah.


A) Arti kalimat ini.
Kata-kata ini tidak boleh diartikan secara hurufiah. Kata- kata ini
berarti:
1) Kristus menduduki / mendapat tempat terhormat / mulia di surga.
2) Kristus ikut memerintah atas Gereja dan alam semesta.
Kata duduk tidak boleh diartikan bahwa Kristus beristirahat /
bermalas-malasan di surga. Ini terlihat dari Kitab Suci yang tidak selalu
mengatakan bahwa Kristus duduk di sebelah kanan Allah.

Ro 8:34 (NIV): is at the right hand of God (= ada di sebelah kanan


Allah).

1Pet 3:22 (NIV): is at God's right hand (= ada di sebelah kanan


Allah).

Kis 7:56 - berdiri di sebelah kanan Allah.

B) Pekerjaan yang dilakukan oleh Kristus di surga ialah:


1) Memerintah sebagai Raja.
2) Berfungsi sebagai Imam / Pengantara (Ibr 4:14 Ibr 7:24,25 Ibr 8:1-6
1Yoh 2:1).
3) Berfungsi sebagai Nabi melalui Roh Kudus dan hamba-hambaNya
(Yoh 16:7-15 Yoh 14:26).
C) Penampakan jasmani dari Kristus di dunia.
Ada yang mempertanyakan apakah mungkin pada jaman ini, sebelum
kedatanganNya yang keduakalinya, Kristus menampakkan diri di dunia
secara jasmani? Ada kemungkinan bahwa ini harus dijawab dengan
tidak, berdasarkan Kis 3:21 - Kristus itu harus tinggal di
sorga sampai waktu pemulihan segala sesuatu, seperti
yang difirmankan Allah dengan perantaraan nabi-nabiNya
yang kudus di zaman dahulu.
F. F. Bruce (NICNT): Jesus, their Messiah, ... had been
received up into the divine presence, and would remain
there until the consummation of all that the prophets,
from the earliest days, had foretold (= Yesus, Mesias
mereka, ... telah diterima ke dalam hadirat ilahi, dan akan
tinggal di sana sampai penyempurnaan dari semua yang
sudah dinubuatkan oleh nabi-nabi sejak semula) - The Book
of the Acts, hal 91.
Catatan:

penampakan Yesus kepada Saulus (Kis 9), dan kepada rasul Yohanes
(Wah 1), mungkin merupakan penampakan ilahi atau sekedar suatu
penglihatan (bdk. Kis 26:19 Wah 1:19 Wah 9:17).

tidak semua orang setuju dengan F. F. Bruce dalam penafsiran Kis


3:21 ini. Ini saya berikan hanya sebagai pertimbangan, bukan sebagai

suatu kepastian.

IV) Kedatangan Kristus yang keduakalinya.


A) Kedatangan Kristus yang keduakalinya adalah suatu tahap pemuliaan.
Ada orang yang berpendapat bahwa:

kedatanganNya yang keduakalinya bukanlah suatu tahap pemuliaan.

duduknya Kristus di sebelah kanan Allah adalah puncak / tahap


terakhir pemuliaan Kristus.

Tetapi ini salah. Titik tertinggi pemuliaan Kristus belum tercapai sampai
Ia, yang menderita oleh tangan manusia, kembali sebagai Hakim, dan
menghakimi / menghukum orang berdosa yang menolakNya.
Disamping itu, ayat-ayat di bawah ini menunjukkan bahwa kedatangan
Kristus yang keduakalinya itu adalah suatu pemuliaan.
Yoh 5:22-23 menunjukkan bahwa Penghakiman (ini terjadi pada
kedatanganNya yang keduakalinya) diberikan oleh Bapa kepada Anak
supaya orang menghormati Anak, sama seperti mereka menghormati
Bapa.
Fil 2:9-11 menunjukkan bahwa ada satu saat semua lutut akan
bertelut dan semua lidah akan mengaku bahwa Yesus Kristus adalah
Tuhan. Ini akan terjadi pada kedatangan Yesus yang keduakalinya dan
ini jelas merupakan suatu pemuliaan.
2Tes 1:10 menyatakan secara explicit bahwa Yesus datang pada hari
itu untuk dimuliakan di antara orang-orang kudusNya dan untuk
dikagumi oleh semua orang percaya. Ini jelas menunjukkan suatu
pemuliaan.
B) Istilah-istilah Kitab Suci yang menunjuk pada kedatangan Kristus yang
keduakalinya.
1) PAROUSIA yang berarti:

kehadiran (presence), atau,

kedatangan yang mendahului kehadiran (a coming preceding a


presence).

Kata ini digunakan dalam Mat 24:3,27,37,39 1Kor 15:23 1Tes 2:19
1Tes 3:13 1Tes 4:15 1Tes 5:23 2Tes 2:1 Yak 5:7-8 2Pet 3:4.
2) APOCALUPSIS yang menekankan fakta bahwa kedatangan kedua itu
akan menyatakan sesuatu yang sebelumnya tersembunyi dalam diri
Kristus.
Kata ini digunakan dalam 2Tes 1:7 1Pet 1:7,13 1Pet 4:13.
3) EPIPHANEIA yaitu penampilan yang mulia dari Tuhan (the glorious
appearing of the Lord).
Kata ini digunakan dalam 2Tes 2:8 1Tim 6:14 2Tim 4:1,8 Tit 2:13.
C) Cara kedatangan kedua.
1) Secara jasmani.
2) Bisa dilihat.
Bdk. Mat 24:30 Kis 1:11 Wah 1:7.
D) Tujuan kedatangan kedua.
1) Menghakimi dunia.
2) Menyempurnakan keselamatan orang percaya.
Bdk. Mat 25:31-46.
E) Saat kedatangan kedua.
Dari ayat-ayat seperti Mat 24:36,42-44 dan 2Pet 3:10, jelaslah bahwa
kita tidak bisa mengetahui kapan hari kedatangan kedua itu akan
terjadi.
Karena itu, kalau ada orang yang berani meramalkan tanggal atau bulan
atau tahun kedatangan Yesus yang keduakalinya, itu pasti adalah nabi
palsu atau orang yang sangat kacau pengertian Kitab Sucinya!
Dari banyaknya tanda-tanda akhir jaman yang sudah terjadi, kita palingpaling bisa berkata bahwa kedatangan Kristus yang kedua itu sudah
dekat dan bisa terjadi setiap saat.

Perlu juga diingat bahwa bagi Tuhan satu hari sama dengan seribu tahun,
dan seribu tahun sama dengan satu hari (2Pet 3:8), sehingga, apa yang
dekat bagi Tuhan bisa saja masih lama bagi kita. Tetapi mengingat bahwa
Yesus berkata bahwa Ia akan datang pada saat yang tidak kita duga,
maka kita semua harus mempersiapkan diri setiap saat, sehingga kapanpun Ia datang, kita ada dalam keadaan siap sedia (Mat 24:44)!
Catatan: Tentang kedatangan Kristus yang keduakalinya ini hanya dibahas
secara singkat, karena sebetulnya ini termasuk dalam Eschatologi (= doktrin
tentang akhir jaman).