Anda di halaman 1dari 24

PRODUKSI POLIETILEN DI INDONESIA

(Diajukan untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Proses Industri Kimia)

Oleh :
Afin Nurdiansyah

21030112130117

Esti Rahmawati

21030112130098

Ghatika Pawitra T 21030112110092


Rian Aditia

21030112140178

Taufik Nuraziz

21030112140179

Yoyoh Rokayah

21030112140160

JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK


UNIERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2013
KATA PENGANTAR
0

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan nikmat serta hidayahNya terutama nikmat kesempatan dan kesehatan sehingga dapat diselesaikannya
makalah mata kuliah Proses Industri Kimia. Kemudian shalawat beserta salam
dicurahkan kepada Nabi besar Muhammad SAW yang telah memberikan pedoman
hidup yakni al-quran dan sunnah untuk keselamatan umat di dunia.
Makalah ini merupakan salah satu tugas mata kuliah Proses Industri Kimia
di program studi Teknik Kimia Fakultas Teknik pada Universitas Diponegoro.
Selanjutnya diucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Ir. Slamet
Priyanto, MS selaku dosen pembimbing mata kuliah Proses Industri Kimia dan
kepada segenap pihak yang telah memberikan bimbingan serta arahan selama
penulisan makalah ini.
Disadari bahwa banyak terdapat kekurangan-kekurangan dalam penulisan
makalah ini, maka dari itu diharapkan kritik dan saran yang konstruktif dari para
pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

Semarang, 8 September 2013

Penulis

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR ...................................................................................... 1
DAFTAR ISI .................................................................................................... 2
DAFTAR TABEL.............................................................................................
DAFTAR GAMBAR........................................................................................
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................ 3
1.1 Sejarah .................................................................................................. 3
1.2 Definisi ................................................................................................. 3
1.3 Kebutuhan Produksi Plastik...................................................................
BAB II PERMASALAHAN ........................................................................... 4
BAB III PEMBAHASAN
3.1 Sifat Fisik.............................................................................................. 5
3.2 Cara Pembuatan.................................................................................... 8
3.3 Katalis .................................................................................................. 9
3.4 Reaktor yang Digunakan...................................................................... 15
BAB IV Penutup .............................................................................................. 16
4.1 Kesimpulan .......................................................................................... 16
4.2 Saran .................................................................................................... 17
Daftar Pustaka .................................................................................................. 18

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.

Sejarah
Polietilena pertama kali disintesis oleh ahli kimia Jerman bernama Hans
von Pechmann yang melakukannya secara tidak sengaja pada tahun 1989
ketika

sedang

memanaskan

diazometana.

Ketika

koleganya,

Eugen

Bamberger dan Friedrich Tschirner mencari tahu tentang substansi putih,


berlilin, mereka mengetahui bahwa yang ia buat mengandung rantai panjang
-CH2- dan menamakannya polimetilena.
Kegiatan sintesis polietilena secara industri pertama kali dilakukan, lagilagi, secara tidak sengaja, oleh Eric Fawcett dan Reginald Gibson pada tahun
1933 di fasilitas ICI di Northwich, Inggris. Ketika memperlakukan campuran
etilena dan benzaldehida pada tekanan yang sangat tinggi, mereka
mendapatkan substansi yang sama seperti yang didapatkan oleh Pechmann.
Reaksi diinisiasi oleh keberadaan oksigen dalam reaksi sehingga sulit
mereproduksinya pada saat itu. Namun, Michael Perrin, ahli kimia ICI
lainnya, berhasil mensintesisnya sesuai harapan pada tahun 1935, dan pada
tahun 1939 industri LDPE pertama dimulai.
1.2.

Kebutuhan Produksi Plastik di Indonesia


a. Meningkatnya penggunaan produk dari plastik
Industri produk plastik maupun produk dengan bahan baku plastik di

Indonesia telah meningkat pesat baik pada skala regional maupun nasional.
Pada skala regional, perdagangan produk plastik dan barang kimia organik
telah berkembang dengan pesat. Perkembangan ekspor produk industri ke
negara matahari terbit Jepang meningkat pesat. Hal serupa dialami pada
ekspor ke pasar Amerika Serikat, Jerman dan negara-negara Eropah
lainnya. Total ekspor petroleum products tahun 1995 mencapai 7,95 milyar
dollar AS; dan 4,55 milyar dollar AS untuk barang kimia organik, dan 3.07
3

milyar dollar AS untuk produk plastik pada tahun yang sama. Terlihat dari
kasus tiga negara utama di dunia, terdapatnya kecenderungan meningkatnya
perdagangan produk plastik antar negara disekitar wilayah regionalnya
masing-masing. Dari gambaran ketiga kasus tersebut, dapat disimpulkan telah
dan akan berkembangnya gejala globalisasi perdagangan industri produk
plastik antar kawasan di Asia Pasifik dan Asia Tenggara serta kawasan Eropa.
b. Struktur Pasar Bahan Baku Plastik
Bahan baku plastik yang utama, yaitu polyethylene (PE), polypropylene
(PP), polystyrene (PS), dan polyvinyl chloride (PVC resin) sudah dapat
diproduksi di Indonesia. Polyethylene (PE) hingga saat ini diproduksi oleh PT
Petrokimia Nusantara Interindo (PEN), dan PT Chandra Asri Petro chemical
Center. Petrokimia Nusantara Interindo merupakan pabrik polyethylene
pertama di Indonesia yang sudah beroperasi pada tahun 1993. Proyeknya
berkapasitas produksi 400.000 ton pertahun berlokasi di Cilegon, Jawa Barat.
Perusahaan tersebut sudah beroperasi sejak tahun 1993 dengan kapasitas
produksi sebesar 200.000 ton per tahun, dan pada tahun 1995 kapasitas nya
ditingkatkan menjadi 400.000 ton per tahun. Perusahaan lainnya yang
memproduksi polyethylene adalah PT Chandra Asri Petrochemical Center,
merupakan satu project olefin terpadu.Proyek olefin center PT Chandra Asri
berlokasi di Cilegon, Jawa Barat memiliki kapasitas produksi polyethylene
500.000 ton per tahun. PT Chandra Asri selain memproduksi polyethylene
juga menghasilkan ethylene sebesar 663.000 ton sebagai bahan baku
polyethylene, propylene 297.000 ton, dan polypropylene 100.000 ton per
tahun.
Berkaitan dengan beroperasinya pabrik polyethylene PT Chandra Asri
Petrochemical Center, maka kapasitas produksi polyethylene Indonesia pada
tahun 1995 mencapai 900.000 ton per tahun.Polypropylene (PP) hingga saat
ini diproduksi tiga pabrik yaitu PN Pertamina, PT Tripolyta Indonesia, dan PT
Chandra Asri Petrochemical Center.

c. Produksi Bahan Baku Plastik Domestik


Produksi bahan baku plastik di dalam negeri cenderung meningkat sejalan
dengan berkembang nya industri pemakainya, terutama industri barang
plastik, industri elektronika dan peralatan listrik. Menurut Departemen
Perindustrian dan Perdagangan, produksi polypropylene menunjukan kenaikan
50%, polythylene 79,8%, polystyrene 43,9%, dan PVC resin 13,7% setiap
tahun. Pada tahun 1992 produksi polypropylene melonjak menjadi 133.000
ton, dan PT Tri Polyta mulai beroperasi pada tahun 1995. Produksi
polyethylene pertama kali diproduksi oleh PT Petrokimia Nusantara Interindo
(PENI) pada tahun 1993 lalu. Produksi polythylene pertama pada tahun 1993
itu sebesar 91.000 ton dan kini telah meningkat menjadi 280.000 pada tahun
1995. Produksi polystyrene Indonesia juga terus meningkat, meski salah satu
pabrik menghentikan produksinya, yaitu PT Bentala Agung Pradana. Produksi
polystyrene pada tahun 1995 mencapai 85.300 ton atau mengalami
peningkatan 63% dibandingkan tahun sebelumnya. Produksi PVC resin
Indonesia juga terus meningkat. Pada tahun 1990 produksinya tercatat
sebanyak 161.902 ton kemudian meningkat menjadi 290.274 ton pada tahun
1995. Dalam lima tahun terakhir produksinya meningkat rata-rata sekitar
16,7% setiap tahunnya.
1.3.

Peluang Didirikan Pabrik Polietilen


Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) kebutuhan produk polietilena
dari tahun 2001 hingga tahun 2006 terus menerus meningkat. Sementara itu,
produksi polietilena dalam negeri masih kurang untuk memenuhi kebutuhan
polietilena sehingga pemerintah Indonesia masih mengimpor polietilena.
Berdasarkan data dari Inaplas, kebutuhan polietilena di Indonesia
masih cukup besar, mengingat selama periode tahun 2005 2011 permintaan
polietilen tumbuh rata-rata sebesar 6,8% per tahun.

Mengutip pernyataan Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin


Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas) Fajar Budiono, memperkirakan
permintaan bahan baku plastik bakal tumbuh antara 5% - 10% di kuartal
ketiga tahun ini. Artinya, permintaan Polietilena diproyeksi bakal mencapai
315.000 ton - 330.000 ton di periode tersebut.
Inaplas memprediksi konsumsi plastik nasional akan tumbuh 7%
tahun ini. Sehingga konsumsi plastik 2012 akan mencapai 3 juta ton. Tahun
lalu, konsumsi plastik masih 2,8 juta ton. Fajar Budiono menyatakan bahwa
permintaan plastic hilir yang tumbuh otomatis membuat permintaan bahan
baku menjadi lebih besar. Oleh karena itu, kemungkinan bertambahnya
permintaan produk polietilena tiap tahunnya, maka peluang untuk mendirikan
pabrik polietilena di Indonesia sangat besar.
Adapun hal-hal yang perlu di perhatikan saat membangun pabrik,
antara lain :
1.

Perkiraan kebutuhan pasar dalam negeri.


Sementara ini kekurangan kebutuhan polietilena untuk industri di
Indonesia masih diimpor dari Timur Tengah, Amerika Selatan, dan
Afrika. Sedangkan produksi polietilendalam negeri yang disuplai
oleh PT Chandra Asri Petrochemical Centre (CAPC) dan PT Titan
Petrokimia Nusantara (TPN) kurang mencukupi.
Semakin menigkatnya kebutuhan polietilenasebagai bahan baku
industry plastic di Indonesia, dengan pertumbuhan kebutuhan rata
rata 3-4 % per tahun (Sumber : Inaplas). Sedangkan sampai saat ini
produksi polietilenadi

Indonesia hanya berkapasitas 750.000

ton/tahun.Oleh karena itu harus direncanakan produksi Polietilen


dengan kapasitas besar yang mampu menutupi kekurangan di dalam
negeri dan mampu mengekspor ke Negara-negara lain.

2.

Ketersediaan Bahan Baku.


Bahan baku polietilen adalah etilena, diperoleh dari PT Chandra
Asri yang merupakan produsen pengolahan Etilen terbesar Indonesia
dengan kapasitas 550.000 ton/tahun, yang berada di daerah Serang
Banten. Dengan demikian ketersediaan bahan baku tidak menjadi
masalah karena cukup tersedia dan mudah diperoleh.

3.

Penentuan Lokasi Pabrik


Pemilihan lokasi merupakan hal yang penting dalam perancangan
suatu pabrik sehingga diperlukan pertimbangan yang matang. Hal ini
dikarenakan lokasi pabrik sangat mempengaruhi kedudukan pabrik
dalam

persaingan,

penentuan

kelangsungan

produksi

dan

eksistensinya di masa datang serta meminimalisasi biaya produksi


dan

distribusi.

Adapun

lokasi

pendirian

pabrik

Polietilena

direncanakan di Kawasan Industri Serang Balaraja Timur Kabupaten


Serang Provinsi Banten dengan pertimbangan sebagai berikut:
a. Ketersediaan bahan baku
Lokasi pabrik di Serang ini cukup tepat mengingat sumber
bahan baku Etilena diperoleh dari PT Chandra Asri. Dengan
lokasi pabrik yang dekat bahan baku dapat juga mengurangi
biaya transportasi.
b.

Pemasaran
Daerah ini berdekatan dengan Jakarta, Bogor, dan Tangerang
yang merupakan daerah yang potensial sebagai daerah
pemasaran. Selain itu Serang Banten berada di kawasan industri
yang padat dengan industri industri kimia baik menengah

maupun besar, yang merupakan pasar potensial untuk pemasaran


Polietilena.
c. Sistem transpotasi
Sistem transportasi di daerah ini, meliputi jalan raya, kereta api,
bandara dan pelabuhan, relatif mudah dan sudah tersedia bagi
kepentingan umum sehingga juga memudahkan distribusi
produk.
d. Sarana pendukung utilitas
Fasilitas pendukung berupa air, listrik dan bahan bakar tersedia
cukup memadai karena merupakan kawasan industri.
e. Ketersediaan tenaga kerja
Tenaga kerja baik baik yang berpendidikan tinggi, menengah
maupun tenaga kerja terampil tersedia dalam jumlah yang
cukup.
f. Stabilitas kondisi daerah
Di daerah Serang Banten masih tersedia lahan yang cukup luas,
dengan fasilitas penunjang seperti listrik, air, dan bahan bakar
yang cukup baik. Kondisi daerah cukup stabil dan keadaan
iklimnya normal. Bencana alam seperti banjir dan gempa bumi
jarang sekali terjadi. Hal ini sangat menunjang operasional
pabrik agar dapat berjalan dengan lancar.

BAB II
PERMASALAHAN

Permasalahan yang akan dibahas di makalah ini antara lain:


2.1.

Apa pengertian polietilena dan bagaimana struktur molekulnya?

2.2.

Bagaimana karakteristik polietilena?

2.3.

Bagaimana reaksi pembentukan polietilena?

2.4.

Bagaimana operasi produksi polietilena dan reaktor apa yang digunakan?

2.5.

Apa manfaat polietilena?

BAB III
PEMBAHASAN
3.1.

Pengertian Polietilena
Polietilena (disingkat PE) (IUPAC: Polietena) adalah termoplastik
yang digunakan secara luas oleh konsumen produk sebagai kantong
plastik. Sekitar 80 juta metrik ton plastik ini diproduksi setiap
tahunnya.Polietilena adalah polimer yang terdiri dari rantai panjang
monomer etilena (IUPAC: etena). Di industri polimer, polietilena ditulis
dengan singkatan PE, perlakuan yang sama yang dilakukan oleh
Polistirena (PS) dan Polipropilena (PP).Molekul etena C2H4 adalah
CH2=CH2. Dua grup CH2 bersatu dengan ikatan ganda. Polietilena
dibentuk melalui proses polimerisasi dari etena.
Polietilena terdiri dari berbagai jenis berdasarkan kepadatan dan
percabangan molekul. Sifat mekanis dari polietilena bergantung pada tipe
percabangan, struktur kristal, dan berat molekulnya.

Polietilena bermassa molekul sangat tinggi (Ultra high molecular weight


polyethylene) (UHMWPE)

Polietilena bermassa molekul sangat rendah (Ultra low molecular weight


polyethylene) (ULMWPE atau PE-WAX)

Polietilena bermassa molekul tinggi (High molecular weight polyethylene)


(HMWPE)

Polietilena berdensitas tinggi (High density polyethylene) (HDPE)

Polietilena cross-linked berdensitas tinggi (High density cross-linked


polyethylene) (HDXLPE)

Polietilena cross-linked (Cross-linked polyethylene) (PEX atau XLPE)


10

Polietilena berdensitas menengah (Medium density polyethylene) (MDPE)

Polietilena berdensitas rendah (Low density polyethylene) (LDPE)

Polietilena linier berdensitas rendah (Linear low density polyethylene)


(LLDPE)

Polietilena berdensitas sangat rendah (Very low density polyethylene)


(http://id.wikipedia.org/wiki/Polietilena)

3.2.

Struktur Molekul
Polietilenamerupakan hasil polimerisasi dari etena (C2H4), sehingga rumus
molekulnya (C2H4)n, dan rumus bangun polietilena, sebagai berikut,

(http://en.wikipedia.org/wiki/Polyethylene)
3.3.

Karakteristik Polietilen
Polietilena memiliki sifat sifat yang dapat dibedakan dengan sifat sifat
polimer lainnya. Sifat sifat tersebut antara lain sifat fisika dan kimia.
Berikut adalah sifat sifat fisika dari polietilena. Sifat fisika polietilen,
dibedaka menjadi 2, yaitu:

11

1. Sifat fisika bahan baku


Sifat Fisika
Berat Molekul : 28,05

Cara Ukur
Dengan menghitung massa

g/mol

jenis, kemudian didapat massa

Alat Ukur
Neraca

lalu dimasukan ke dalam


persamaan mol, hingga ditemukan
jumlah Berat Molekul.
-

Warna : Putih

Indera

Specific Gravity : 0,57- Dengan mencelupkan

Penglihatan
Alkoholmeter

102/4
Fase : Gas

alcoholmeter ke dalam larutan.


-

Indera

Cara mengukur dengan

Penglihatan
Alat Destilasi

Destilasi
Proses konduksi dari logam

Melting

untuk penghantaran panas.

Block

Titik Didih : -103,9 C


o

Titik Leleh : -169 C

Pada alat ini terdapat dua


lubang di bagian atas yang
digunakan untuk menaruh pipa
kapiler dan termometer,
sementara dua lubang
disamping digunakan untuk
mengamati keadaan padatan
yang akan berubah menjadi
Temperatur kritis :

cairan.
-

9,15 oC
Tekanan kritis : 50,4

12

bar
Volume kritis : 131

cm3/mol
(Wenny, 2012)
(Feryanto, 2007)
(Isroi, 2009)
(Linhofa, 2010)
2. Sifat fisika polietilen
Sifat Fisika

Cara Ukur

Alat Ukur

Fase : Padat

Warna : Putih

Titik lebur kristal : 109 Proses konduksi dari logam

Melting

183 C

Block

untuk penghantaran panas.


Pada alat ini terdapat dua
lubang di bagian atas yang
digunakan untuk menaruh pipa
kapiler dan termometer,
sementara dua lubang
disamping digunakan untuk
mengamati keadaan padatan
yang akan berubah menjadi
cairan.

Koefisien fraksi : 0,06

Kristalinitas : 55

Akurasi pengukuran kristalinitas

Difraktometer

85%

dengan metode XRD dilakukan

sinar-X

0,3

dengan menggunakan serbuk


etilen sebagai standar internal
dan goniometer berkecepatan
dan interval tertentu. Hasilnya
menunjukkan bahwa posisi

13

intensitas-maksimum bahan.
Kekuatan tarik : 1250 Benda yang diuji tarik diberi

Mesin uji

4100 psi

tarik

pembebanan pada kedua arah


sumbunya. Pemberian beban
pada kedua arah sumbunya
dengan berat yang sama besar.
Beban yang diberikan pada
bahan yang diuji ditransmisikan
pada pegangan bahan yang diuji.
Dimensi dan ukuran benda
yangdiuji disesuaikan dengan
ketentuan baku.

Konduktivitas termal : menggunakan "Fourier's Law for


2,3 3,4 Btu in/hr ft

heat conduction"

(www.lp.itb.ac.id)
(sersasih.wordpress.com)
(www.scribd.com)
Selain sifat fisika yang telah dijabarkan, beberapa sifat kimia polietilena
antara lain :
1. Tidak larut dalam pelarut apa pun pada suhu kamar tetapi mengendap oleh
hidrokarbon dan karbon tetraklorida.
2. Tahan terhadap asam dan basa.
3. Dapat dirusak oleh asam sulfat pekat.
4. Tidak tahan terhadap cahaya dan oksigen.

5. Bila dipanasi secara kuat akan membentuk cross linkyang diikuti dengan
pembelahan ikatan secara acak pada suhu lebih tinggi, tetapi
dipolimerisasi tidak terjadi
6. Larutan dari suspense polietilena dengan karbon tetraklorida pada suhu
sekitar 60 C dapat direaksikan dengan Cl membentuk produk lunak dan

14

kenyal. Pemasukan atom Cl secara acak ke dalam rantai dapat


menghancurkan kekristalan polietilena
7. Polietilena termoplastik dapat diubah menjadi elastomer tervulkanisir yang
mengandung sekitar 30% Cl dan 1,5% belerang melalui
pengklorosulfonan.
8. Vulkanisir pada umumnya dilakukan melalui pemanasan dengan oksida
logam tertentu. Hasil akhir berupa hipalon yang tahan terhadap bahan
kimia dan cuaca
3.4.

(Kirk Othmer, et al,1968)


Reaksi Pembentukan
Pada umumnya, semua polimer dibentuk dari proses polimerisasi.
Begitu pula dengan Polietilena, Polietilena dibentuk dari proses
polimerisasi etena. Berikut adalah proses pembentukan Polietilena.
Reaksi polimer adisi adalah reaksi yang sering dilakukan dalam
pembentukan Polietilena. Reaksi ini terdiri dari tiga tahapan, yaitu inisiasi,
propagasi dan terminasi.
1. Inisiasi
Untuk tahap pertama ini dimulai dari penguraian inisiator dan adisi
molekul monomer pada salah satu radikal bebas yang terbentuk. Bila
kita nyatakan radikal bebas yang terbentuk dari inisiator sebagai R,
dan molekul monomer dinyatakan dengan CH2= CH2, maka tahap
inisiasi dapat digambarkan sebagai berikut:

2. Propagasi
Dalam tahap ini terjadi reaksi adisi molekul monomer pada radikal
monomer yang terbentuk dalam tahap inisiasi.

15

Bila proses dilanjutkan, akan terbentuk molekul polimer yang besar,


dimana ikatan rangkap C= C dalam monomer etilena akan berubah
menjadi ikatan tunggal CC pada polimer polietilena.
3. Terminasi
Terminasi dapat terjadi melalui reaksi antara radikal polimer yang
sedang tumbuh dengan radikal mula-mula yang terbentuk dari
inisiator (R) CH2 CH2+ R

CH2 CH2-R atau antara radikal

polimer yang sedang tumbuh dengan radikal polimer lainnya,


sehingga akan membentuk polimer dengan berat molekul tinggi
R-(CH2)n-CH2+ CH2-(CH2)n-R
3.5.

R-(CH2)n-CH2CH2-(CH2)n-R

Jenis Jenis Operasi Produksi Polietilena


Dalam dunia industri, produksi polietilena telah dikembangkan
berbagai macam cara, tergantung pada fase reaksi, penggunaan katalis,
jenis reaktor serta kondisi operasinya. Berbagai macam jenis produksi
polietilena tersebut antara lain :
A. Solution process(proses cair)
Merupakan proses produksi polietilena dalam fase cair. Bahan baku
etena dilarutkan dalam suatu diluent(misalnya sikloheksana) dan
dipompa ke reaktor CSTR pada tekanan 10 MPa, reaksi yang terjadi
bersifat adiabatis dengan suhu 200 300 C. Umpan mengandung
25% berat dan 95% dikonversikan menjadi polietilena. Setelah keluar
dari reaktor, larutan polietilena ditreatment dengan deactivating agent
dan dilewatkan bed alumina untuk mengabsorbsi katalis yang masih
ada dalam polietilena.
B. Gas process(proses gas)
Merupakan proses produksi polietilena dalam fase gas, menggunakan
reaktor fluidized bed dengan tekanan tinggi sehingga biaya operasi
lebih rendah. Katalis yang digunakan adalah katalis Ziegler-Natta,
TiCl4dan (C3H5)3Al. Gas etilen diumpankan ke dalam reaktor dan
ditambahkan katalis secara terpisah. Reaksi terjadi pada tekanan 21
atm dan suhu 80 100 C tergantung pada densitas produk yang

16

diinginkan. Granular polietilena hasil reaksi ditampung dalam suatu


discharge system. Sedangkan etilena yang tidak bereaksi didaur
ulang. Polietilena dicuci dengan gas nitrogen atau gas inert lain.
Polietilena dari hasil proses gas ini memiliki densitas antara 0,89
0,97 g/cm.
(Kirk Othmer, et al, 1998)
C. Slurry process(suspensi)
Produksi polietilena dalam fase suspensi ini menggunakan diluent
hidrokarbon menggunakan katalis Ziegler dan katalis Philips. Pada
dasarnya proses produksi ini dibagi menjadi dua proses, yaitu :
a. Autoclave process
Merupakan proses produksi polietilena dengan tekanan 0,5 1,0
MPa dalam reaktor CSTR pada suhu 80 90 C. Diluent yang
digunakan adalah hidrokarbon dengan titik didih rendah seperti
heksana. Katalis dicampurkan ke dalam diluentpada tangki
pencampur katalis sebelum diumpankan ke dalam reaktor.
Reaksi dipercepat dengan memisahkan diluentyang akan
direcycleke reaktor. Polimer yang terbentuk dikeringkan dalam
fluidized bed dryerdengan nitrogen secara kontinyu.
b. Loop reactor process
Merupakan produksi polietilen dalam reaktor loopdengan suhu
85 C dan tekanan 35 atm. Diluentyang digunakan adalah
isobutana. Katalis diumpankan ke dalam reaktor bersama
diluentdari tangki slurry katalis. Setelah keluar dari reaktor,
isobutana diuapkan dalam flash tank, dikondensasikan dan
direcycle.
D. ICI
Merupakan produksi polietilen bertekanan tinggi dengan oksigen
sebagai katalisnya. Reaktor yang digunakan dapat berupa
autoclaveatau jacketed tube / tubular. Polimerisasi ini merupakan
jenis polimerisasi radikal bebas. Etilena dengan kemurnian 99,95%
dimasukan ke dalam reaktor dengan suhu 70 C dan tekanan 15 atm.
(http://etd.eprints.ums.ac.id/16672/2/Bab_I.pdf)
3.6.

Reaktor yang Digunakan

17

Dari penjelasan di atas, reaktor yang baik digunakan untuk produksi


polietilena adalah Fluidized Bed Reactor. Hal ini dikarenakan reaktor ini
dapat digunakan untuk mereaksikan bahan dalam keadaan banyak fasa.
Reaktor jenis ini menggunakan fluida yang dialirkan melalui katalis
padatan sehingga katalis akan tertolak sedemikian rupa dan akhirnya
katalis tersebut dapat dianalogikan sebagai fluida juga. Kelebihan lain dari
penggunaan fluidized bed reaktoradalah :
a. Reaktor mempunyai kemampuan untuk memproses fluida dalam
jumlah yang besar,
b. Pengendalian temperatur lebih baik,
c. Pencampuran (mixing) yang bagus untuk katalis dan reaktan,
d. Operasi bekerja optimal pada suhu 70 C dan tekanan 15 atm
sehingga mudah dikontrol,
e. Konversi yang dihasilkan di atas 97% overall,
f. Isobutana yang digunakan sebagai komoner dapat direcycle sehingga
menghemat biaya,
g. Tidak ada produk samping pada polimerisasi.
Sedangkan kerugian dari reaktor ini adalah:
a. Partikel mengalami keausan yang dapat menyebakan mengecilnya
ukuran partikel yang berada di dalam reaktor dan ikut mengalir
bersama aliran gas sehingga perlu digunakan alat cyclone separators
dan aliran listrik yang disambungkan pada garis antara reaktor dan
generator.
b. Adanya peningkatan keabrasivan dimana penyebabnya adalah
partikel padat di dalam proses cracking pada fluidized bed
c. Tidak mempunyai fleksibilitas terhadap perubahan panas.
Gambar. Proses Produksi Polietilen dengan Fluidized Bed Reactor

18

3.7.

Katalis yang Digunakan


1. Katalis M-1
Katalis M-1 terdiri dari metal aktif Titanium yang di-support dengan
silika dan aluminium. Berdiameter 700-900m.
Karaktristik :
a. Memiliki distribusi berat molekul (MWD) terbatas,
b. Harga Melt Index tinggi dan densitas yang cukup luas,
c. Aktivitas yang baik (2-4 ppm Ti),
d. Produktivitas Katalis 3000-5000 kg resin/kg katalis,
Penggunaan : untuk memproduksi LLDPE.
2. Katalis S-2
Katalis S-2 terdiri dari chrome aktif yang di-support dengan silika dan
aluminium. Berdiameter 500-600m.
Karaktristik:
a. Memiliki distribusi berat molekul (MWD) sangat luas,
b. Harga Melt Indekx rendah dan densitas tinggi,
c. Aktivitas yang baik (kurang dari1ppm Cr),
d. Produktivitas Katalis 6000-8000 kg resin/kg katalis,
e. Polimerisasi baik, sturtur molekul produk yang lebih luas.
Penggunaan : untuk memproduksi HDPE, tipe blow molding, film,
pipa, geomembran.
3. Katalis F-3
Katalis F-3 merupakan katalis yang tergolong katalis chrome.
Berdiameter

500-600m.

Karaktristik:
a. Memiliki distribusi berat molekul (MWD) produk yang luas,
b. Produktivitas Katalis 15000 kg resin/kg katalis.
Penggunaan : untuk memproduksi HDPE.
3.8.

Manfaat

19

1. LDPE digunakan sebagai container yang agak kuat dan dalam aplikasi
film plastik seperti sebagai kantong plastik dan plastik pembungkus.
2. LDPE dipergunakan untuk memperbaiki mampu cetak dengan
mencampur atau dipakai untuk membuat kertas tahan air, kain tanpa
tenunan, pelapis, dan seterusnya dengan jalan pelapisan. Dipakai juga
untuk membebaskan cetakan, permolisan, dsb.
3. HDPE digunakan sebagai bahan pembuat botol susu, botol/kemasan
deterjen, kemasan margarin, pipa air, dan tempat sampah.
4. untuk polietilen yang memiliki densitas tinggi, polimernya lebih keras,
namun masih mudah untuk dibentuk sehingga banyak dipakai sebagai
alat dapur misal ember, panci, juga untuk pelapis kawat dan kabel

BAB IV
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
1. Polietilena adalah polimer yang terdiri dari rantai panjang monomer
etilena
2. Polietilena terdiri dari berbagai jenis berdasarkan kepadatan dan
percabangan molekul. Sifat mekanis dari polietilena bergantung pada
tipe percabangan, struktur kristal, dan berat molekulnya. Namun yang
lebih dikenal adalah HDE dan LDPE.
3. LDPE (Low Density Polyethylena) yang mempunyai rantai cabang

20

4. HDPE (High Density Polyethylene) yang tidak mempunyai cabang


5.

tetapi merupakan rantai utama yang lurus


Sifat fisikanya aaantara lain : tidak tahan panas, fleksibel
permukaannya licin, tidak tembus cahaya (buram) dan ada yang tembus
cahaya, titik lelehnya 115c, tidak berbau, berbentuk padatan,

transparan, putih, massa jenis 916-965 kg/m3, tidak larut dalam air.
6. Sifat kimianya antara lain : cukup stabil tahan berbagai bahan kimia
kecuali halida dan oksida kuat, Polietilen larut dalam hidrokarbon
aromatik dan larutan hidrokarbon yang terklorinasi di atas suhu 70C.,
bersifat non polar, Polietilen tidak mudah diolah dengan merekat dan
mencap, perlu perlakuan tambahan tertentu seperti oksidasi pada
permukaan atau pengubahan struktur permukaannya oleh sinar elektron
yang kuat, kalau dipanaskan tanpa berhubungan dengan oksigen, hanya
mencair sampai 300C, kemudian terurai karena termal jika melampaui
suhu tersebut, jika dipanaskan dengan disertai adanya oksigen akan
teroksidasi walaupun baru 50C, Polietilen lemah terhadap sinar UV,
Polietilen akan retak di bawah pengaruh tegangan apabila berhubungan
dengan berbagai surfaktan, minyak mineral, alkali, alcohol, dsb.
7. LDPE dipergunakan untuk memperbaiki mampu cetak dengan
mencampur atau dipakai untuk membuat kertas tahan air, kain tanpa
tenunan, pelapis, dan seterusnya dengan jalan pelapisan. Dipakai juga
untuk membebaskan cetakan, permolisan, dsb.
8. HDPE digunakan sebagai bahan pembuat botol susu, botol/kemasan
deterjen, kemasan margarin, pipa air, dan tempat sampah.
3.2 Saran
1.
Untuk produsen supaya melakukan penambahan kapasitas produksi
Polietilena karena kebutuhan dalam negeri masih belum tercukupi
2.

dengan kapasitas produksi sekarang


Untuk konsumen produk Polietilena supaya lebih memperhatikan kode
produksi, karena polietilena dibagi menjadi 5 yaitu: PET, HDPE,

3.

MDPE, LDPE, dan LLDPE


Untuk Ilmu Pengetahuan dan Teknologi supaya dapat membuat
penelitian

tentang

Polietilena

ramah

lingkungan

dan

dapat

diaplikasikan dalam produksi Polietilena.


21

4.

Untuk pabrik, supaya memilih proses produksi yang ramah


lingkungan.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2011. Pengolahan Plastic (Polyethylene) Pada Pembuatan Wadah
Makanan

Dan

Perabot

Rumah

dalam

http://ukhticha.blogspot.com/2011/08/pengolahan-plastic-polyethylenepada.html?m=1 diakses tanggal 07/09/13


Anonim,2011.

Mengenal

plastik

polietilen

dalam

http://polimerabduh.wordpress.com/2011/03/15/mengenal-plastikpolietilena/ diakses tanggal 07/09/13


Anonim,

2012.

Polyetilen

dalam

http://teknologibahanalam.blogspot.com/2012/04/poly-etilen.html diakses
tanggal 07/09/13
Anonim, 2012. Polietilena dalam http://id.wikipedia.org/wiki/Polietilena diakses
tanggal 07/09/13

22

Anonim,

2012.

Polietilena

dalam

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/25569/4/Chapter%20II.pdf
diakses tanggal 07/09/13
Anonim, 2012. Bahan pembuat plastik, bagaimana cara membuat plastik dalam
http://www.amazine.co/14515/bahan-pembuat-plastik-bagaimana-caramembuat-plastik/ diakses tanggal 07/09/13
Ratna dkk, 2010. Jenis jenis utama plastik dan cara pembuatan plastik dalam
http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/kimia-smk/kelas_xi/jenis-jenisutama-plastik-dan-cara-pembuatan-plastik/ diakses tanggal 07/09/13
Zulfikar,

2010.

Polimer

di

sekeliling

kita

dalam

http://www.chem-is-

try.org/materi_kimia/kimia-kesehatan/makromolekul/polimer-disekeliling-kita/ diakses tanggal 07/09/13

23