Anda di halaman 1dari 7

BAB I

PENDAHULUAN

Pecah ketuban secara spontan paling sering terjadi sewaktu-waktu pada


persalinan aktif. Pecah ketuban secara khas tampak jelas sebagai semburan cairan
yang normalnya jernih atau sedikit keruh, hampir tidak berwarna dengan jumlah
yang bervariasi. Selaput ketuban yang masih utuh sampai bayi lahir lebih jarang
ditemukan. Jika kebetulan selaput ketuban masih utuh sampai kelahiran, janin
yang dibungkus oleh selaput ketuban ini dan bagian yang membungkus kepala
bayi yang baru lahir kadangkala disebut sebagai caul. Pecah ketuban sebelum
persalinan mulai pada tahapan kehamilan manapun disebut sebagai ketuban pecah
dini (1).
Ketuban pecah dini merupakan penyebab penting morbiditas dan
mortalitas perinatal serta berhubungan dengan infeksi perinatal dan kompresi
umbilical cord akibat oligohidramnion. Infeksi koriodesidual memiliki peranan
penting dalam etiologi terjadinya ketuban pecah dini terutama pada usia gestasi
awal.
Penanganan ketuban pecah dini memerlukan pertimbangan usia gestasi,
adanya infeksi pada komplikasi ibu dan janin adanya tanda-tanda persalinan.
Dilema sering terjadi pada pengelolaan KPD dimana harus segera bersikap aktif
terutama pada kehamilan yang cukup bulan atau harus menunggu sampai
terjadinya proses persalinan, sehingga masa tunggu akan memanjang. Sifat
konservatif ini sebaiknya dilakukan pada KPD kehamilan kurang bulan dengan
harapan tercapainya pematangan paru dan berat badan janin yang cukup.

BAB II
PEMBAHASAN

1. Definisi
Ketuban Pecah Dini atau premature rupture of the membrane (PROM)
adalah ketuban yang pecah spontan yang terjadi pada sembarang usia kehamilan
sebelum persalinan di mulai (1).
Ketuban Pecah Dini (KPD) atau premature rupture of the membrane
(PROM) adalah pecahnya ketuban sebelum in partu (2).
Volume cairan ketuban pada setiap minggu gestasi cukup berbeda-beda.
Secara umum volume meningkat 10 ml per minggu pada minggu ke 8 dan
meningkat sampai 60 ml per minggu pada minggu 21, dan kemudian berkurang
secara bertahap hingga minggu ke 33. Dengan demikian volume cairan ketuban
biasanya meningkat dari 50 ml pada minggu 12 menjadi 400 ml pada pertengahan
kehamilan dan 1000 ml pada kehamilan aterm (1).
Cairan

ketuban

berfungsi

sebagai

bantalan

bagi

janin,

yang

memungkinkan perkembangan sistem musculoskeletal dan melindungi janin dari


trauma luar. Cairan ini juga mempertahankan suhu dan memiliki fungsi nutrisi
yang minimal. Ingesti cairan ketuban ke dalam paru dan saluran cerna mungkin
meningkatkan pertumbuhan dan diferensiasi jaringan-jaringan ini melalui gerakan
inspirasi dan menelan cairan ketuban. Namun fungsi yang paling penting adalah
mendorong pertumbuhan serta perkembangan normal paru dan saluran cerna dan
melindungi suhu tubuh janin.

Volume cairan ketuban yang lazim

Minggu
gestasi

Janin (g)

Plasenta (g)

Cairan
amnion (ml)

Persen
caian

16

100

100

200

50

28

1000

200

1000

45

36

2500

400

900

24

40

3300

500

800

17

Dari Queenan (1991), dengan izin (1)


2. ETIOLOGI
Walaupun banyak publikasi tentang KPD, namun penyebabnya masih
belum diketahui dan tidak dapat ditentukan secara pasti. Beberapa laporan
menyebutkan faktor-faktor yang berhubungan erat dengan KPD, namun faktorfaktor mana yang lebih berperan sulit diketahui. Kemungkinan yang menjadi
faktor predesposisi adalah:
1. Infeksi yang terjadi secara langsung pada selaput ketuban maupun asenderen
dari vagina atau infeksi pada cairan ketuban bisa menyebabkan terjadinya
KPD.
2. Serviks yang inkompetensia, kanalis sevikalis yang selalu terbuka oleh karena
kelainan pada serviks uteri (akibat persalinan, curetage).
3. Tekanan intra uterin yang meninggi atau meningkat secara berlebihan
(overdistensi uterus) misalnya trauma, hidramnion, gemelli. Trauma oleh
beberapa ahli disepakati sebagai faktor predisisi atau penyebab terjadinya
KPD. Trauma yang didapat misalnya hubungan seksual, pemeriksaan dalam,

maupun amnosintesis menyebabakan terjadinya KPD karena biasanya disertai


infeksi.
4. Keadaan sosial ekonomi
3. Faktor Risiko
Faktor risiko ketuban pecah dini persalinan preterm : 1) kehamilan
multipel : kembar dua (50%) atau kembar tiga (90%); 2) riwayat persalinan
preterm sebelumnya; 3) perdarahan pervaginam; 4) pH vagina di atas 4.5; 5)
kelainan atau kerusakan selaput ketuban; 6.) flora vagina abnormal; 8) kadar CRH
(corticotropin releasing hormone) maternal tinggi misalnya pada stress psikologis
dapat menjadi stimulasi persalinan preterm; 9) Inkompetensi serviks (leher
rahim); 10) Polihidramnion (cairan ketuban berlebih); 11) Riwayat KPD
sebelumya; 12) Trauma; 13) servix tipis / kurang dari 39 mm, Serviks yang
pendek (<25mm) pada usia kehamilan 23 minggu; 14) infeksi pada kehamilan
seperti bakterial vaginosis.
4. Patofisiologi
Ketuban pecah dini berhubungan dengan kelemahan menyeluruh membran
fetal akibat kontraksi uteri dan peregangan berulang. Membran yang mengalami
ruptur premature ini tampak memiliki defek fokal dibanding kelemahan
menyeluruh. Daerah dekat tempat pecahnya membran yang ditandai dengan
adanya pembengkakan dan kerusakan jaringan kolagen fibrilar pada lapisan
kompakta, fibroblast maupun spongiosa. Daerah ini akan muncul sebelum
ketuban pecah dini dan merupakan daerah breakpoint awal. Patogenesis terjadinya
ketuban pecah dini secara singkat ialah akibat adanya penurunan kandungan
kolagen dalam membran sehingga memicu terjadinya ketuban pecah dini dan
ketuban pecah dini preterm terutama pada pasien risiko tinggi.

5. Diagnosis
Diagnosis ketuban pecah dini ditegakkan dari anamnesis, permeriksaan
fisis dan studi laboratorium. Pasien sering kali mengeluhkan adanya cairan yang
keluar mendadak akibat adanya kebocoran yang berkelanjutan. Klinisi harus
menanyakan apakah pasien mengalami kontraksi , perdarahan pervaginam atau
riwayat hubungan seksual atau ada tidaknya deman. Hal ini penting untuk
verifikasi karena akan berhubungan dengan penatalaksanaan yang akan diberikan.
Adanya cairan yang keluar dari vagina atau kebocoran dari servikal
terutama saat pasien batuk atau saat diberikan fundal pressure dapat membantu
menegakan

diagnosis

ketuban

pecah

dini.

Metode

diagnostik

dengan

menggunakan nitrazine papper dan penentuan ferning memiliki tingkat


sensitivitas mencapai 90%. pH vagina normal berkisar 4,5 dan 6 , sedangkan pH
cairan amnion lebih alkali dengan pH 7,2 hingga 7,3 . Nitrazine paper akan
berubah menjadi biru bila pH berada diatas 6 sehingga mengubah nitrazine paper
menjadi biru dan memberikan hasil positif palsu tetapi pada vaginosis bakterial
juga dapat mengakibatkan hal yang sama.
Jika usia gestasi kurang dari 34 minggu dan tidak ada indikasi ibu dan
janin untuk melakukan pelahiran, ibu tersebut harus diamati ketat dan harus
dipantau frekuensi denyut jantung janin untuk mencari bukti kompresi tali pusat,
khususnya bila persalinan sedang berlangsung juga. Tetapi jika usia gestasi di atas
34 minggu lengkap dan bila persalinan belum mulai setelah pemeriksaan
secukupnya, persalinan diinduksi dengan oksitosin intravena bila tidak ada kontra
indikasi. Kalau induksi gagal segera dilakukan seksio sesarea.

6. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan kehamilan dengan komplikasi ketuban pecah dini perlu
mempertimbangkan morbiditas dan mortalitas immaturitas neonatal yang
berhubungan dengan persalinan dan risiko infeksi terhadap ibu dan janin.

Kortikosteroid : Pemberian kortikosteroid dapat menekan morbiditas dan


mortalitas perinatal pasca ketuban pecah dini preterm. Kortikosteroid juga
menekan risiko terjadinya sindrom distress pernafasan ( 20 -35,4% ),
hemoragi intraventrikular ( 7,5 15,9% ), enterokolitis nekrotikans ( 0,8
4,6% ). Rekomendasi sebagian besar menggunakan betamethason ( celestone )
intramuscular 12 mg setiap 24 jam selama 2 hari. National Institute of Health
merekomendasikan pemberian kortikosteroid sebelum masa gestasi 30 23
minggu, dengan asumsi viabilitas fetus dan tidak ada infeksi intra amniotik.
Pemberian kortikosteroid setelah masa gestasi 34 minggu masih kontroversial
dan tidak direkomendasikan kecuali ada bukti immaturitas paru melalui
pemeriksaan amniosentesis.

Antibiotik : Pemberian antibiotik pada pasien ketuban pecah dini dapat


menekan infeksi neonatal dan memperpanjang periode latensi. Sejumlah
antibiotik yang digunakan meliputi ampisilin 2 gram dengan kombinasi
eritromisin 250 mg setiap 6 jam selama 48 jam, diikuti pemberian amoxicilin
250 mg dan eritromisin 333 mg setiap 8 jam untuk lima hari. Pasien yang
mendapat kombinasi ini dimungkinkan dapat mempertahankna kandungan
selama 3 minggu setelah penghentian pemberian antibiotik setelah 7 hari.

Tokolitik : Pemberian agent tokolitik diharapkan dapat memperpanjang


periode latensi namun tidak memperbaiki luaran neonatal. TIdak banyak data
yang tersedia mengenai pemakaian agen tokolitik untuk ketuban pecah dini.

7. Komplikasi
Morbiditas ketuban pecah dini menjadi kurang serius bila terjadi pada
kehamilan yang mendekati aterm dibandingkan kehamilan yang lebih awal. Pada
kasus ketuban pecah dini biasanya 80-90% akan mengalami partus dalam kurun
waktu 24 jam.
Ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan pada ketuban pecah dini
yaitu: 1) ketuban pecah dini merupakan penyebab pentingnya persalinan prematur
dan prematuritas janin; 2) resiko terjadinya ascending infection akan lebih tinggi
jika persalinan dilakukan setelah 24 jam onset; 3) insiden prolaps tali pusat ( cord
prolapse ) akan meningkat bila dijumpai adanya malpresentasi; 4) pengeluaran
cairan ketuban untuk waktu yang akan lama akan menyebabkan dry labour atau
persalinan kering; 5) hipoplasia pulmonal janin sangat mengancam janin,
khususnya pada kasus oligohidramnion.
8. Prognosa
Bila jarak pecahnya ketuban dengan partus :

24 jam -> kematian perinatal 2x

48 jam -> kematian perrinatal meningkat 3x