Anda di halaman 1dari 8

PERAWATAN PULPOTOMI VITAL PADA GIGI SULUNG DAN

EVALUASI KEBERHASILANNYA

DISUSUN OLEH
NAMA : VIDYAVATI A/P KRISHNAN KUMARAN
NIM : 080600130
FKG, MANDIRI

DOSEN PEMBIMBING
ESSIE OCTIARA, drg, Sp.KGA

DEPARTEMEN ILMU KEDOKTERAN GIGI ANAK


FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2012

Pendahuluan
Pulpotomi adalah pembuangan pulpa vital dari kamar pulpa kemudian diikuti oleh
penempatan obat di atas orifis yang akan menstimulasikan perbaikan atau memumifikasikan sisa
jaringan pulpa vital di akar gigi. Pulpotomi disebut juga pengangkatan sebagian jaringan pulpa.
Biasanya jaringan pulpa di bagian korona yang cedera atau mengalami infeksi dibuang untuk
mempertahankan vitalitas jaringan pulpa dalam saluran akar. Pulpotomi dapat dipilih sebagai
perawatan pada kasus yang melibatkan kerusakan pulpa yang cukup serius namun belum saatnya
gigi tersebut untuk dicabut, pulpotomi juga berguna untuk mempertahankan gigi tanpa
menimbulkan simtom-simtom khususnya pada anak-anak.
Saat ini para dokter gigi banyak menggunakan formokresol untuk perawatan pulpotomi.
Formokresol merupakan salah satu obat pilihan dalam perawatan pulpa gigi sulung dengan karies
atau trauma. Obat ini diperkenalkan oleh Buckley pada tahun 1905 dan sejak saat itu telah
digunakan sebagai obat untuk perawatan pulpa dengan tingkat keberhasilan yang tinggi.
Beberapa tahun ini penggunaan formokresol sebagai pengganti kalsium hidroksida untuk
perawatan pulpotomi pada gigi sulung semakin meningkat. Bahan aktif dari formokresol yaitu
19% formaldehid, 35% trikresol ditambah 15% gliserin dan air. Trikresol merupakan bahan aktif
yang kuat dengan waktu kerja pendek dan sebagai bahan antiseptik untuk membunuh
mikroorganisme pada pulpa gigi yang mengalami infeksi atau inflamasi sedangkan formaldehid
berpotensi untuk memfiksasi jaringan.
Sweet mempelopori penggunaan formokresol untuk perawatan pulpotomi. Awalnya perawatan
pulpotomi dengan formokresol ini dilakukan sebanyak empat kali kunjungan namun saat ini
perawatan pulpotomi dengan formokresol dapat dilakukan untuk satu kali kunjungan.
Beberapa studi telah dilakukan untuk membandingkan formokresol dengan kalsium hidroksida
dan hasilnya memperlihatkan bahwa perawatan pulpotomi dengan formokresol pada gigi sulung
menunjukkan tingkat keberhasilan yang lebih baik daripada penggunaan kalsium hidroksida.
Formokresol tidak membentuk jembatan dentin tetapi akan membentuk suatu zona fiksasi
dengan kedalaman yang bervariasi yang berkontak dengan jaringan vital.
Zona ini bebas dari bakteri dan dapat berfungsi sebagai pencegah terhadap infiltrasi mikroba.
Keuntungan formokresol pada perawatan pulpa gigi sulung yang terkena karies yaitu
formokresol akan merembes melalui pulpa dan bergabung dengan protein seluler untuk

menguatkan jaringan. Penelitian-penelitian secara histologis dan histokimia menunjukkan bahwa


pulpa yang terdekat dengan kamar pulpa menjadi terfiksasi lebih ke arah apikal sehingga
jaringan yang lebih apikal dapat tetap vital. Jaringan pulpa yang terfiksasi kemudian dapat
diganti oleh jaringan granulasi vital.
Perawatan pulpotomi formokresol hanya dianjurkan untuk gigi sulung saja, diindikasikan untuk
gigi sulung yang pulpanya masih vital, gigi sulung yang pulpanya
terbuka karena karies atau trauma pada waktu prosedur perawatan.
Indikasi Pulpotomi Vital
I.

Gigi sulung dan gigi tetap muda vital, tidak ada tanda tanda gejala peradangan pulpa
dalam kamar pulpa

II.

Terbukanya pulpa saat ekskavasi jaringan karies / dentin lunak prosedur pulp capping
indirek yang kurang hati hati, faktor mekanis selama preparasi kavitas atau trauma gigi
dengan terbukanya pulpa.

III.

Gigi masih dapat dipertahankan / diperbaiki dan minimal didukung lebih dari 2/3
panjang akar gigi.

IV.

Tidak dijumpai rasa sakit yang spontan maupun terus menerus.

V.

Tidak ada kelainan patologis pulpa klinis maupun rontgenologis.

Kontraindikasi Pulpotomi Vital


I.
II.
III.

Rasa sakit spontan.


Rasa sakit terutama bila diperkusi maupun palpasi.
Ada mobiliti yang patologi.

IV.

Terlihat radiolusen pada daerah periapikal, kalsifikasi pulpa, resorpsi akar interna
maupun eksterna.

V.

Keadaan umum yang kurang baik, di mana daya tahan tubuh terhadap infeksi sangat
rendah.

VI.

Perdarahan yang berlebihan setelah amputasi pulpa.

Prosedur Perawatan Pulpotomi


Prosedur pulpotomi meliputi pengambilan seluruh pulpa bagain korona gigi dengan pulpa
terbuka karena karies yang sebagaian meradang, diikuti dengan peletakkan obat-obatan tepat di
atas pulpa yang terpotong. Setelah penempatan obat, selanjutnya dapat dilakukan penumpatan
permanen. Pada gigi sulung, prosedur pulpotomi dapat dilakukan dalam satu kali kunjungan jika
dibantu dengan penggunaan anastesi lokal. Dalam hal ini tekniknya merupakan amputasi pulpa
vital (Kennedy, 1992). Prinsip dasar perawatan endodontik gigi sulung dengan pulpa non vital
adalah untuk mencegah sepsis dengan cara membuang jaringan pulpa non vital, menghilangkan
proses infeksi dari pulpa dan jaringan periapikal, memfiksasi bakteri yang tersisa di saluran akar
(Mathewson & Primosch,1995). Berikut adalah langkah-langkah perawatan pulpotomi vital
formokresol satu kali kunjungan untuk gigi sulung:
1) Siapkan instrumen dan bahan. Pemberian anestesi lokal untuk mengurangi rasa sakit saat
perawatan
2) Isolasi gigi.
Pasang rubber dam, jika rubber dam tidak bisa digunakan isolasi dengan kapas dan saliva
ejector dan jaga keberadaannya selama perawatan.
3) Preparasi kavitas.
Perluas bagian oklusal dari kavitas sepanjang seluruh permukaan oklusal untuk
memberikan jalan masuk yang mudah ke kamar pulpa.

4) Ekskavasi karies yang dalam.


5) Buang atap pulpa.
Dengan menggunakan bor fisur steril dengan handpiece berkecepatan rendah. Masukkan
ke dalam bagian yang terbuka dan gerakan ke mesial dan distal seperlunya

untuk

membuang atap kamar pulpa.


6) Buang pulpa bagian korona.
Hilangkan pulpa bagian korona dengan ekskavator besar atau dengan bor bundar
kecepatan rendah.
7) Cuci dan keringkan kamar pulpa.
Semprot kamar pulpa dengan air atau saline steril, syringe disposible dan jarum steril.
Penyemprotan akan mencuci debris dan sisa-sisa pulpa dari kamar pulpa. Keringkan dan
kontrol perdarahan dengan kapas steril.
8) Aplikasikan formokresol.
Celupkan kapas kecil dalam larutan formokresol, buang kelebihannya dengan
menyerapkan pada kapas dan tempatkan dalam kamar pulpa, menutupi pulpa bagian akar
selama 4 sampai dengan 5 menit.
9) Berikan bahan antiseptik.
Siapkan pasta antiseptik dengan mencampur eugenol dan formokresol dalam bagian yang
sama dengan zinc oxide. Keluarkan kapas yang mengandung formokresol dan berikan
pasta secukupnya untuk menutupi pulpa di bagian akar. Serap pasta dengan kapas basah
secara perlahan dalam tempatnya. Dressing antiseptik digunakan bila ada sisa-sisa
infeksi.
10) Restorasi gigi.
Tempatkan semen dasar yang cepat mengeras sebelum menambal dengan amalgam atau
penuhi dengan semen sebelum preparasi gigi untuk mahkota stainless steel.

Gambar B. Langkah-langkah Perawatan Pulpotomi Vital Formokresol Satu Kali Kunjungan.


1. Ekskavasi karies,
2. Buang atap kamar pulpa,
3. Buang pulpa di kamar pulpa dengan ekskavator,
4. Pemotongan pulpa di orifis dengan bor bundar kecepatan rendah,
5. Pemberian formokresol selama 5 menit,
6. Pengisian kamar pulpa dengan campuran zinc oxide dengan formokresoleugenol,
7. Gigi yang telah di restorasi.

Evaluasi Keberhasilan
Perawatan pulpotomi dinyatakan berhasil apabila kontrol setelah 6 bulan tidak ada keluhan, tidak
ada gejala klinis, tes vitalitas untuk pulpotomi vital (+) dan pada gambaran radiografik lebih baik
dibandingkan dengan foto awal. Tanda pertama kegagalan perawatan adalah terjadinya resorpsi
internal pada akar yang berdekatan dengan tempat pemberian obat. Pada keadaan lanjut diikuti
dengan resorpsi eksternal (Budiyanti, 2006).
Pada molar sulung, radiolusensi berkembang di daerah apeks bifurkasi atau trifurkasi, sedangkan
pada gigi anterior di daerah apeks atau di sebelah lateral akar (Camp et al., 2002). Apabila infeki
pulpa sampai melibatkan benih gigi pengganti, atau gigi mengalami resopsi internal atau
eksternal yang luas, maka sebaiknya dicabut (Whitworth & Nunn, 1997).
Hobson (1970) mendapatkan bahwa rata-rata keberhasilan selama 3 tahun dari metode pulpotomi
mortal adalah 66%.

Daftar Pustaka
1)
2)
3)
4)
5)

http://chakraproject.blogspot.com/2012/03/file-08-perawatan-pulpa-dengan.html
http://www.nature.com/bdj/journal/v198/n1/full/4811946a.html
http://dentosca.wordpress.com/2011/04/06/perawatan-pulpotomi-pada-gigi-sulung/
http://dentalresource.org/topic58pulpotomypulpectomy.html
http://www.rcseng.ac.uk/fds/publications-clinicalguidelines/clinical_guidelines/documents/pulptherapy.pdf

6) http://www.docstoc.com/docs/44595531/Pulpotomy-Access-Technique