mei

mei--juni
juni2015
2015

PMMC

News

www.pmmc.or.id

media komunikasi penjual & pembeli farmasi

TAJUK UTAMA

24 Tahun

PT Dian Cipta Perkasa
Momentum Alih Kepemimpinan Bisnis

Dasar pertama yang dikenalkan adalah bidang penjualan dan administrasi.
Dua bidang ini, menurutnya, merupakan dua bidang ujung tombak dalam
bisnis. Dalam tataran lebih tinggi, penjualan adalah penguasaan pasar.
Sedangkan administrasi adalah manajemen perusahaan.

Tanggal 24 April 2015 lalu, suasana kantor PT Dian Cipta
Perkasa tampak beda. Sejumlah karangan bunga ucapan
selamat menghiasi pelataran kantor yang berloksi di Puri
Sentra Niaga, Blok B No. 25, JL. Wiraloka, Cipinang Melayu,
Kalimalang, Jakarta Timur. Tata ruang kantor yang semula
biasa saja, kini tampak lebih keren dan elegan.
Perusahaan yang bergerak di bidang perdagangan,
impor dan distribusi bahan baku untuk makanan, pakan

ternak, farmasi, dan kimia ini memang tengah merayakan
hari jadinya yang ke 24. Hari jadi ini juga menjadi momen
penting dalam sejarah PT Dian Cipta Perkasa.
Pendiri sekaligus President Director PT Dian
Cipta Perkasa, Rudy Ismanto, memberikan tongkat
kepemimpinan jajaran direksi perusahaan ini kepada
generasi penerusnya, yakni Cynthia Dian Ayuningtyas dan
Pascal Sormin. Keduanya kini memegang peranan penting
bersambung halaman 2

Pharma Materials Management Club

PMMCNEWS I

1

mei - juni 2015
lanjutan halaman 1

di perusahaan ini.
Menurut Rudy, ada dua alasan pentingnya regenerasi
dalam bisnisnya. Pertama, bisnis butuh kesinambungan.
Sebagai pendiri, dia tidak ingin bisnisnya hanya bertahan
satu generasi saja. Alasan kedua, bisnis yang dia jalani
selama 24 tahun tersebut, ke depan masih memiliki
prospek yang menjanjikan. “Karena itu, sejak empat tahun
lalu saya mengajak anak-anak saya untuk mencintai bisnis
ini,” ujarnya.
Rudy bilang, saat awal melibatkan anak-anaknya
dia tidak memberikan perlakuan khusus. Dia justru
memberikan ruang agar anak bisa menguasai dasar bisnis
secara langsung dari posisi paling bawah, yakni staf.
Dasar pertama yang dikenalkan adalah bidang

penjualan dan administrasi. Dua bidang ini, menurutnya,
merupakan dua bidang ujung tombak dalam bisnis. Dalam
tataran lebih tinggi, penjualan adalah penguasaan pasar.
Sedangkan administrasi adalah manajemen perusahaan.
Kepada PMMC News, Pascal menuturkan, di awalawal bergabung dengan bisnis orang tua istrinya itu,
dia menempatkan diri setara dengan karyawan lainnya.
Dengan demikian, tak ada kecanggungan hubungan kerja
antara dirinya dan karyawan lainnya.
Secara bertahap, Pascal mempelajari semua divisi yang
ada di perusahaan milik mertuanya itu. Mulai dari divisi
legal, penjualan, divisi sumber daya manusia, sampai
bagian gudang. Karena memiliki latar belakang hukum,
ia memilih bidang kontrol peraturan perusahaan dan
legalitas perusahaan. “Saya belajar betul di setiap divisi ini.
Hasilnya, saya sudah mulai menguasai seluk beluk setiap
divisi,” ujarnya.

Dari nol

Perjalanan bisnis PT Dian Cipta Perkasa bisa menjadi
inspirasi bagi pebisnis lainnya di bidang apapun. Rudy
mengaku, mendirikan bisnis ini berangkat dari modal
hanya Rp 20 juta pada tahun 1991.

2

I PMMCNEWS

Meski dengan kesederhaan, bersama tim, Rudy
secara perlahan membangun kepercayaan kepada
para konsumen dan mitra bisnisnya. Meski sudah
berpengalaman bekerja di perusahaan sejenis dan
jaringan pasar di tangannya, toh Rudy tetap melakukan
pola marketing sistem acak pasar.
Rupanya, pria berpembawaan tenang ini ingin
membangun pasar yang lebih solid dari nol. Hasilnya,
seiring perjalanan waktu, bisnis PT Dian Cipta Perkasa
kian berkembang. Jaringan pasar lokal mulai dalam
genggamannya. Dan yang lebih penting, hubungan dengan
para produsen bahan baku dari luar negeri, khususnya
China, kian kuat terjalin. Bisnisnya pun kian tangguh.
Kini, PT Dian Cipta Perkasa menjadi salah satu
perusahaan terkemuka dan dicari perusahaan kimia dalam
pemasaran dan distribusi bahan makanan, aditif pakan,
bahan baku farmasi, dan bahan kimia untuk berbagai
industri manufaktur di Indonesia. Perusahan ini memiliki
kemampuan lebih untuk menawarkan kepada pelanggan
dalam konsep "One-Stop-Shop, Just in time deliveries",
solusi untuk bahan kimia atau kebutuhan bahan baku.
(A.Kholis)

Pharma Materials Management Club

mei
mei--juni
juni2015
2015

sumber: http://www.pom.go.id

PENJELASAN BADAN POM
TENTANG KEJADIAN TIDAK DIINGINKAN
YANG SERIUS TERKAIT INJEKSI BUVANEST SPINAL

Sehubungan dengan adanya kejadian
tidak diinginkan yang serius pada
penggunaan obat injeksi Buvanest Spinal
0,5% Heavy (Bupivacaine HCl) produksi
Industri Farmasi PT Kalbe Farma, Tbk. di
Siloam Hospital Lippo Village Karawaci,
berikut ini penjelasan dari Badan POM
terkait kasus tersebut:
1. Bahwa Sabtu 14 Februari 2015, Badan
POM menerima informasi dari Sekretaris
Jenderal Kementerian Kesehatan
mengenai kejadian tidak diinginkan yang
serius dan mengakibatkan meninggalnya
pasien setelah penggunaan obat injeksi
Buvanest Spinal 0,5% Heavy (Bupivacaine
HCl) produksi Industri Farmasi PT Kalbe
Farma, Tbk. di Siloam Hospital Lippo

Village Karawaci;
2. Bahwa guna melindungi kesehatan dan
keselamatan masyarakat dari potensi
risiko yang membahayakan, atas
informasi sebagaimana dimaksud dalam
angka 1, Badan POM telah melakukan
langkah-langkah regulatory actionssesuai
ketentuan Peraturan Perundangundangan, sebagai berikut:
14 Februari 2015, Badan POM
membentuk Tim Inspeksi Investigasi
yang telah melakukan inspeksi pada
sarana pelayanan kesehatan tempat
terjadinya kejadian yang tidak
diinginkan tersebut, yaitu Siloam
Hospital Lippo Village Karawaci;
15 dan 16 Februari 2015, Badan POM

telah melakukan pemeriksaan
terkait pemenuhan Cara Pembuatan
Obat yang Baik (CPOB) dan Cara
Distribusi Obat yang Baik (CDOB)
terhadap produsen injeksi Buvanest
Spinal 0,5% Heavy, yaitu Industri
Farmasi PT Kalbe Farma, Tbk. dan
jalur distribusinya, yaitu Pedagang
Besar Farmasi (PBF) PT. Enseval Putra
Megatrading, Tbk. serta melakukan
monitoring farmakovigilans ke Siloam
Hospital Lippo Village Karawaci;
3. Bahwa berdasarkan hasil inspeksi dan
pemeriksaan sebagaimana dimaksud
dalam angka 2, dan dalam rangka kehatihatian, Badan POM pada 16 Februari
2015 telah mengirimkan laporan, surat
bersambung halaman 4

Pharma Materials Management Club

PMMCNEWS I

3

mei - juni 2015

lanjutan halaman 3

peringatan (safety alert letter), dan/atau
surat perintah kepada:
a. Menteri Kesehatan Republik
Indonesia berupa laporan tindakan
regulatory Badan POM terkait injeksi
Buvanest Spinal 0,5% Heavy produk
Industri Farmasi PT Kalbe Farma, Tbk
dan injeksi Asam Traneksamat produk
Industri Farmasi PT Hexpharm Jaya
Laboratories;
b. Perhimpunan Rumah Sakit
Seluruh Indonesia (PERSI) dengan
tembusan kepada Menteri Kesehatan
dan Perhimpunan Dokter Anestesiologi
dan Terapi Intensif Indonesia (Perdatin)
untuk tidak menggunakan injeksi
Buvanest Spinal 0,5% Heavy produksi
Industri Farmasi PT Kalbe Farma, Tbk.
sampai investigasi dan pemeriksaan
yang dilakukan oleh Badan POM selesai
dilakukan;
c. Perhimpunan Rumah Sakit
Seluruh Indonesia (PERSI) dengan
tembusan kepada Menteri Kesehatan
dan PB. Ikatan Dokter Indonesia (PB. IDI),
untuk tidak menggunakan injeksi Asam
Traneksamat, kemasan Dus 10 ampul @
5 ml, nomor bets 629668 dan 630025
dari Industri Farmasi PT Hexpharm Jaya
Laboratories yang diproduksi oleh PT
Kalbe Farma, Tbk., sampai investigasi dan
pemeriksaan yang dilakukan oleh Badan
POM selesai dilakukan;
d. Pimpinan/Apoteker Penanggung
Jawab Industri Farmasi PT Kalbe Farma,
Tbk. untuk melakukan penghentian
distribusi dan melakukan penarikan
kembali injeksi Buvanest Spinal 0,5%
Heavy seluruh bets serta melaporkan
hasilnya kepada Badan POM;
e. Pimpinan/Apoteker Penanggung
Jawab Industri Farmasi PT Hexpharm
Jaya Laboratories untuk melakukan
penghentian distribusi dan melakukan
penarikan kembali injeksi Asam
Traneksamat, kemasan Dus 10 ampul @
5 ml, Nomor bets 629668 dan 630025
serta melaporkan hasilnya kepada Badan
POM; dan
f. Kepala Balai Besar/Balai POM
di seluruh Indonesia untuk melakukan
verifikasi dan monitoring pelaksanaan
penarikan injeksi Buvanest Spinal 0,5%
Heavy produksi Industri Farmasi PT
Kalbe Farma, Tbk dan injeksi Asam
Traneksamat produk Industri Farmasi PT
Hexpharm Jaya Laboratories, kemasan
Dus 10 ampul @ 5 ml, Nomor bets
4

I PMMCNEWS

629668 dan 630025.
4. Bahwa pada 17 Februari 2015,
berdasarkan hasil investigasi
sebagaimana dimaksud dalam angka 2,
Badan POM telah menetapkan sanksi
administratif sebagai berikut:
a. Menerbitkan Surat Perintah
Penghentian Sementara Kegiatan
Fasilitas Produksi Larutan Injeksi
Volume Kecil Nonbetalaktam Industri
Farmasi PT Kalbe Farma, Tbk. Hal ini
berarti dilakukan penyegelan terhadap
ruangan, peralatan di line 6 serta
seluruh produk injeksi yang masih ada
di pabrik. Selain itu, PT Kalbe Farma,
Tbk., diwajibkan untuk:
- Melakukan investigasi secara
menyeluruh terhadap dugaan terjadinya
mix-up produk Buvanest Spinal 0,5%
Heavy Injeksi dan Asam Traneksamat
Injeksi yang kemungkinan terjadi
pada kegiatan pembuatan obat untuk
mendapatkan akar masalah dan
menetapkan tindakan perbaikan dan
tindakan pencegahan; dan
- Membuat kajian dan manajemen
risiko;
b. Menerbitkan Surat Keputusan Kepala
Badan POM tentang pembekuan izin
edar Injeksi Buvanest Spinal 0,5%
Heavy produksi Industri Farmasi PT
Kalbe Farma, Tbk. Hal tersebut karena
melanggar:
- Peraturan Kepala Badan Pengawas
Obat dan Makanan Nomor
HK.03.1.33.12.12.8195 Tahun 2012
tentang Penerapan Pedoman Cara
Pembuatan Obat yang Baik, khususnya
ketentuan Pasal 3 Ayat 1 yang
menyatakan bahwa “Industri Farmasi
dalam seluruh aspek dan rangkaian
kegiatan pembuatan obat dan/ atau
bahan obat wajib menerapkan Pedoman
CPOB”.
- Peraturan Kepala Badan
Pengawas Obat dan Makanan No.
HK.04.1.33.12.11.09938 Tahun 2011
tentang Kriteria dan Tata Cara Penarikan
Obat yang Tidak Memenuhi Standar dan/
atau Persyaratan, khususnya ketentuan
Pasal 8 yang menyatakan bahwa
"Penarikan obat yang tidak memenuh
standar dan/atau persyaratan harus
dilaporkan pelaksanaannya kepada
Kepala Badan".
5. Bahwa industri farmasi PT Kalbe Farma,
Tbk., melalui surat nomor 010/QO/KF/
II/2015 tanggal 25 Februari 2015 perihal

Tanggapan terhadap Surat Penghentian
Sementara Kegiatan Fasilitas
Produksi Larutan Injeksi Volume Kecil
Nonbetalaktam, telah menyampaikan
hasil investigasi terhadap dugaan
terjadinya mix-up produk Buvanest
Spinal 0,5% Heavy Injeksi dan Asam
Traneksamat Injeksi yang kemungkinan
terjadi pada kegiatan pembuatan obat
serta menyampaikan hasil kajian dan
manajemen risiko;
6. Bahwa Badan POM telah melakukan
evaluasi atas hasil investigasi terhadap
dugaan terjadinya mix-up produk
Buvanest Spinal 0,5% Heavy Injeksi dan
Asam Traneksamat Injeksi serta hasil
kajian dan manajemen risiko PT Kalbe
Farma, Tbk., sebagaimana dimaksud
pada angka 5, dengan kesimpulan
bahwa hasil investigasi internal dan
kajian manajemen risiko tersebut
belum menggambarkan akar masalah
terjadinya dugaan mix-up produk Injeksi
Buvanest Spinal 0,5% Heavy, sehingga
PT Kalbe Farma tidak dapat memberikan
Corrective Action and Preventive Action
(CAPA) yang tepat;
7. Bahwa berdasarkan hal sebagaimana
dimaksud dalam angka 6, pada tanggal
2 Maret 2015 Badan POM telah
memberikan sanksi administratif dengan
menerbitkan Surat Keputusan Kepala
Badan POM tentang pembatalan izin
edar Injeksi Buvanest Spinal 0,5% Heavy
produksi Industri Farmasi PT Kalbe
Farma, Tbk. dan diinstruksikan untuk
memusnahkan semua persediaan
obat yang ada dalam penguasaan dan
hasil penarikan dengan disaksikan oleh
Petugas Balai Besar/Balai POM di seluruh
Indonesia dengan membuat Berita
Acara Pemusnahan, dengan catatan
obat tersebut sudah tidak digunakan lagi
sebagai barang bukti yang terkait dengan
masalah hukum sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan;
Peraturan Kepala Badan Pengawas
Obat dan Makanan Nomor
HK.03.1.23.10.11.08481 Tahun 2011
tentang Kriteria dan Tata Laksana Registrasi
Obat sebagaimana telah diubah dengan
Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat
dan Makanan Nomor 3 Tahun 2013 (Berita
Negara Republik Indonesia Tahun 2013
Nomor 540) khususnya Pasal 57 ayat (2)
huruf d

Pharma Materials Management Club

mei - juni 2015

Menabur Kasih,

Panti Asuhan ST. Yusup,
Sindanglaya-Cipanas

“We make a living by what we get. We make a life by what we give.”
― Sir Winston Leonard Spencer-Churchill, Kalimat mutiara yang pernah
disampaikan oleh mantan Perdana Menteri Inggris legendaris di era
tahun 1940-an ini sangatlah benar adanya. Kehidupan seseorang akan
lebih bermakna pada saat kita berbagi dengan orang lain.
Dinamika kehidupan suatu
organisasi juga akan terasa lebih
bermakna ketika organisasi tersebut
turut berperan serta menabur
kebaikan dengan memberi bagi yang
memerlukan. PMMC bukan hanya
organisasi yang didirikan untuk
kepentingan bisnis semata namun
juga untuk memiliki peran sosial
dalam membangun masyarakat dan
berbagi untuk masyarakat yang tidak
mampu.
Pada kesempatan yang baik kali ini
PMMC berbagi dengan anak-anak
yang kurang beruntung yang berada
di Panti Asuhan St. Yusup, Cipanas.
Panti asuhan yang sudah berdiri sejak
68 tahun yang lalu tepatnya tanggal
30 Desember 1947 ini menampung
190 anak dari berbagai suku dan
agama, dari usia TK, SD, SMP dan
SMK. Mereka datang dari berbagai
daerah di pelosok Indonesia :
Bogor, pinggiran Cianjur, Sukabumi,
Pharma Materials Management Club

Rangkasbitung, Serang, Tangerang,
Jakarta, Jawa Tengah, bahkan dari
Atambua, Flores, Manado dan Papua.
Diperhadapkan dengan segala
keterbatasan, situasi kondisi
perekonomian yang tidak stabil dan
tuntutan lembaga pendidikan yang
ada, para staff panti yang dipimpin
oleh RP. Stanislaus Agus Suhariyanta,
OFM selaku Direktur Panti Asuhan St.
Yusup, berusaha sekuat tenaga untuk
mencukupi kebutuhan sosial, kasih
sayang, pendidikan dan kesehatan
anak-anak asuh mereka. Hal inilah
yang semakin menggerakan PMMC
yang diwakili oleh Kendrariadi
Suhanda selaku Ketua Umum, untuk
memberikan sedikit bantuan donasi
berupa suplemen dan multivitamin
yang diharapkan akan dapat
membantu menjaga kesehatan semua
anak asuh yang ada di Panti Asuhan
St. Yusup.
Tentunya aksi sosial semacam ini

akan terus dilakukan oleh PMMC
dimanapun dan kapanpun tanpa
memandang denominasi. Selama
masih diberikan kesempatan untuk
menabur kebaikan, PMMC dengan
kemampuan yang ada akan berusaha
menjadi jawaban bagi mereka yang
membutuhkan.

PMMCNEWS I

5

mei - juni 2015

Keluhan,

Industri Farmasi

Terhadap Nilai Rupiah

Pelemahan nilai rupiah membuat biaya produksi
membengkak dan semua industri farmasi mengeluhkan
hal tersebut.

Akibat dari pelemahan nilai tukar
rupiah terhadap dollar, biaya produksi
membengkak. Dari 90-95 persen bahan
baku obat masih diimpor dari sejumlah
negara seperti Cina, India, Jepang dan
beberapa negara di Eropa.
Sejak awal bulan ini nilai tukar
rupiah terus melemah, bahkan sempat
menembus level Rp 13 ribu per dolar
AS. Minggu ini, rupiah tercatat berada di
level Rp 12.944 atau melemah 24 basis
poin dari perdagangan kemarin. Pelaku
industri farmasi berharap rupiah bisa
kembali ke level Rp 12 ribu.
Kendati demikian, pelemahan rupiah
ini dapat diantisipasi dengan mencari
produsen bahan baku farmasi ke negaranegara lain yang harganya lebih murah.
6

I PMMCNEWS

Pembelian bahan baku dari India, China
dan beberapa negara di Asia merupakan
target industri farmasi .
Dari dalam negeri belum mampu
untuk memproduksi bahan baku untuk
memenuhi kebutuhan industri farmasi.
Untuk mengatasi pelemahan rupiah
yang dilakukan pelaku industri farmasi
adalah dengan menerapkan sistem
natural hedging. Salah satu industri
farmasi terbesar di Indonesia menyiapkan
cadangan dana valas sebesar 40 sampai
50 juta dolar yang cukup untuk digunakan
membeli bahan baku, produksi untuk
tiga sampai empat bulan kedepan. Untuk
memenuhi kebutuhan impor bahan baku,
perusahaan harus menyiapkan dana lebih
dari US$ 200 juta.

Turunnya rupiah, memukul industri
farmasi dari sisi biaya produksi, tetapi
kondisi ini juga di sisi lain masih
menguntungkan untuk industri farmasi,
kalau perusahaan farmasi berorientasi
ekspor, tutur bapak Vidjontius Direktur
PT. Kalbe Farma dalam wawancara
dengan wartawan.
PT. Kalbe Farma Tbk, kapasitas
ekspor baru mencapai 5 persen
dari total penjualan per tahun, tapi
pertumbuhannya cukup tinggi. Kalbe
memiliki sejumlah negara tujuan ekspor
yang tersebar di wilayah Afrika bagian
barat dan selatan serta Asia Tenggara.
Nilai ekspor ke Afrika pertumbuhan
penjualannya bisa lima belas sampai
dua puluh persen per tahun. Sedangkan,
untuk Asia Tenggara pertumbuhan
penjualannya lebih besar yakni 20 sampai
25 persen. (tph/dbs)

Pharma Materials Management Club

mei - juni 2015

Produk Farmasi

Tak Khawatir

Tergeser Herbal

Pemerintah segera meresepkan obat-obatan herbal
di rumah sakit. Pamor herbal akan naik lagi seiring
dengan kebijakan ini. Di sisi lain, industri farmasi
berbahan baku kimia tidak merasa terusik pasarnya.
Tak ada yang menyangkal, bahwa
Indonesia merupakan lumbung herbal
sejak dulu. Ragam tanaman obat tersedia
di negeri yang dilintasi garis Katulistiwa
ini. Pemanfaatannya pun sudah teruji
sejak zaman nenek moyang kita.
Namun sayangnya, pamor obat herbal
kerap mengalami pasang surut. Di tengah
gencarnya iklan produk-produk obat
berbahan kimia, pamor obat herbal
terus meredup. Konsumsinya pun hanya
dilakukan secara ‘sukarela’ dan ala
kadarnya bagi yang mau.
Kini, Pemerintah berencana
mengangkat kembali derajat obat-obatan
herbal. Melalui Kementerian Kesehatan,
herbal akan ‘diresmikan’ dalam resep
dokter di rumah sakit-rumah sakit. Obat
herbal akan menjadi pilihan bebas bagi
pasien di setiap rumah sakit.
Kebijakan ini tentu saja menjadi angin
segar bagi para pelaku bisnis farmasi yang
menjual produk herbal. Rudy Ismanto,
misalnya, direktur PT Dian Cipta Perkasa
ini mengaku gembira dengan rencana
Pemerintah tersebut.
Menurutnya, dengan diresepkannya
obat herbal, pertanda Pemerintah
memiliki keinginan untuk
mengembangkan sektor yang selama ini
terabaikan.
“Padahal, herbal di Indonesia masih
sangat murah dan peluangnya sungguh
sangat menakjubkan,” ujar Rudy.
Melimpahnya ragam tanaman herbal
di Indonesia, menurut Rudy, sangat
memungkinkan industri farmasi dalam
negeri memproduksi ekstrak herbal
dalam jumlah besar. Hanya saja, yang
menjadi persoalan adalah teknologi
dan infrastrukutur hingga saat ini belum

Pharma Materials Management Club

menunjang. Teknologi ekstrak herbal
masih harus bergantung dari asing.
Teknologi untuk mengolah bahan dasar
herbal agar menghasilkan produk yang
memiliki nilai tambah berupa ekstrak,
hingga kini masih jauh dari harapan.
“Jadi, tanaman yang sudah dipanen
harus diolah agar menjadi ekstrak.
Teknologi ini yang di Indonesia masih
minim,” ujarnya.
Akibatnya, banyak perusahaan bahan
baku herbal masih mengandalkan impor
dari asing untuk memenuhi pasar dalam
negeri. Rudy mengaku, untuk memenuhi
pasar lokal yang sangat besar, hingga saat
ini perusahaannya masih mengimpor
ekstrak herbal dari India dan China.
Sekalipun demikian, Rudy tetap
optimistis, dengan adanya kebijakan
meresepkan herbal, ke depan kebutuhan
teknologi pengolahan herbal akan
dipikirkan oleh Pemerintah. Meski butuh
waktu lama, ia yakin hal ini akan makin
meningkatkan pamor herbal di masa
mendatang.

Tak Khawatir

Rencana meresepkan obat herbal di
rumah sakit-rumah sakit ternyata tak
mengusik para pelaku bisnis industri
farmsi yang berbahan baku kimia. Mereka
mengaku tak khawatir porsi pasaranya
akan terganggu.
“Saya yakin, tidak ada kekhawatiran
akan tergusur secara pasar. Justru kami
saling mendukung,” ujar Adhi Nugroho,
Deputy Director Business Development
PT Mersifarma Tirmaku Mercusana,
kepada varia.id, di Sukabumi, Jawa Barat,
27 Maret 2015.
Adhi berpendapat, suplemen herbal

hanyalah bersifat prefentif, bukan untuk
menyembuhkan secara cepat. Secara
fungsi, tidak sama antara obat berbahan
baku kimia dengan herbal.
PT Mersifarma Tirmaku Mercusana
merupakan produsen obat-obat modern
berbahan baku kimia. Perusahan farmasi
ini memiliki 69 item produk dengan
berbagai merek. Namun, menurut Adhi,
seluruhnya merupakan obat resep dokter.
Selain itu, perusahaan ini juga
memproduksi obat generik. Dalam
setahun kapasitas produksinya mencapai
Rp4,2 miliar untuk produk tablet. Karena
ini merupakan obat resep dokter, maka
semuanya terserap di pasar.
Untuk kebutuhan bahan baku, menurut
Adhi, PT Mersifarma Tirmaku Mercusana
masih mengandalkan impor. Hanya
sebagian kecil saja yang menggunakan
bahan baku lokal.
“Bahan baku lokal itu kami gunakan
sorbitol. Bahan baku lokal ini terbuat dari
singkong yang sudah diolah sedemikian
rupa,” ujar dia. (A.Kholis)
PMMCNEWS I

7

mei - juni 2015

ISPE INDONESIA AFFILIATE
ANNUAL CONFERENCE 2015
"Managing Compliance Through
Effective And Efficient Operation”

The quality compliance adalah
tantangan untuk industri farmasi
di seluruh dunia, perlu ditinjau
terus menerus dan perbaikan
mempertimbangkan tujuan penggunaan
produk obat, yang menyelamatkan hidup,
memulihkan kesehatan dan menjaga
kesehatan serta meningkatkan kualitas
hidup.
Industri farmasi harus mematuhi

8

I PMMCNEWS

peraturan dan prosedur yang buruk
tidak dapat ditoleransi, sehingga tidak
menempatkan pasien pada risiko dan
bahkan fatal karena tidak memperhatikan
keselamatan, kualitas atau efektivitas.
Hal ini akan membutuhkan komitmen
penuh dari manajemen teratas mengenai
kepatuhan terhadap GMP dan regulasi,
meninjau semua sistem dan pengukuran
kepatuhan.
Namun kepatuhan dan semua upaya
untuk mencapai sub-sequence, selalu
dianggap sebagai biaya operasi yang
tinggi, terutama dalam era persaingan
yang ketat dalam dekade ini. Oleh

Pharma Materials Management Club

mei - juni 2015

karena itu manajemen juga harus mampu
untuk meninjau struktur biaya mereka dan
melaksanakan prosedur yang efektif dan efisien
tanpa mengorbankan kualitas, dan memahami
bahwa sebenarnya upaya kepatuhan adalah
pengurangan biaya kualitas.
Beberapa cara untuk mencapai tujuan
ini antara lain, dengan menerapkan konsep
LEAN dengan proses yang handal & kuat
dan meningkatkan produktivitas di seluruh
perusahaan.
Acara
ISPE Conference yang diadakan di hotel
Holiday Iin, Kemayoran, 19 - 20 Mei 2015. Acara
konferensi ini memberikan informasi untuk
peserta dengan pengetahuan tentang langkahlangkah kepatuhan, review dan rencana
perbaikan produktivitas dalam operasi serta
pentingnya Tinjauan Manajemen. Konferensi
ISPE 2015 ini mengusung tema "Managing
Compliance Through Effective And Efficient
Operation” . Peserta yang mengikuti acara ini
diikuti sekitar 250 peserta dan 30 perusahaan
yang ikut berpartisipasi.
Acara dibuka oleh Kementerian Kesehatan
yang diwakili oleh ibu Dirjen Binfar Dra. Maura
Linda Sitanggang, Ph.D.,sekaligus memberikan
presentasi mengenai "Improvement of
Accessibility of Quality Medicine for Universal
Health Coverage". Kepala BPOM RI diwakili oleh
ibu Dra. Togi J. Hutadjulu MHA, memberikan
presentasi dengan tema "Regulatory Control
Perspective on Pharmaceutical Industry
Compliance". Pembicara dari IMS Health
Indonesia, mr. Wiwy Sasongko, membawakan
tema "Current Indonesian Pharmaceutical
Market Landscape". Mr. Shigehiro Tahara,
Director of CM Plus Corporation, Japan,
membawakan tema presentasi seputar "Lean
Qualification".
Dan acara terpenting di konferensi ISPE 2015
"Election of ISPE Indonesia Affiliate President"
dan ibu Heny Prasetya terpilih kembali sebagai
Ketua Umum ISPE Indonesia.

Pharma Materials Management Club

ISPE Conference 2015 Program
1. Opening Ceremony & Keynote by Head of
National Agency of Drug and Food Control
of Republic of Indonesia, Tuesday, 19th
May 2015
2. Conference, Tuesday & Wednesday, 19th &
20th May 2015
3. Exhibition, Tuesday & Wednesday, 19th –
20th May 2015
4. Election of ISPE Indonesia Affiliate
President, Tuesday, 19th May 2015

PMMCNEWS I

9

mei - juni 2015

ISPE INDONESIA AFFILIATE
ANNUAL CONFERENCE
2015
19 - 20 Mei 2015

10

I PMMCNEWS

Pharma Materials Management Club

mei - juni 2015

Pharma Materials Management Club

PMMCNEWS I

11

mei - juni 2015

"HUT ke 24"

PT. Dian Cipta Perkasa
24 April 2015

"Bhakti Sosial"

Panti Asuhan St. Yusup
Cipanas
24 April 2015

12

I PMMCNEWS

Pharma Materials Management Club

mei - juni 2015

"openingceremony"
CPHI SEA 2015

8 - 10 April 2015

Pharma Materials Management Club

PMMCNEWS I

13

mei - juni 2015

Keberhasilan

CPhI SEA 2015
di Indonesia

Pada acara CPhl SEA 2015 Christopher
Eve, selaku President Director PT
UBM Pameran Niaga Indonesia
mengatakan “kami bangga dapat
kembali mempersembahkan sebuah
platform untuk badan pemerintah,
asosiasi perdagangan, dan lembaga
regulator dalam mendapatkan
update mengenai pasar bahan baku
farmasi,mensosialisasikan kebijakan baru,
program mendatang untuk industri dan
terhubung langsung dengan industry
untuk memahami peluang nyata dan
tantangan yang mereka hadapi di MEA”.
Event CPhl SEA 2015 tercatat lebih
dari 260 peserta dari 25 negara di
dunia serta 5 paviliun Negara dan grup
termasuk Negara baru seperti Bahrain,
Brazil, Kolombia, Lituania dan Yordania
yang menampilkan produk bahan baku
farmasi unggulan serta mesin-mesin,
perlengkapan dan produk –produk
kemasan, pameran yang akan digelar tiga
hari ini diharapkan akan mempertemukan
para pengambil keputusan dari

14

I PMMCNEWS

perusahaan menufaktur dan professional
dibidang R&D dengan para supplier
internasional dalam industri bahan baku,
layanan, dan solusi outsourcing
Selain bahan baku farmasi, CPhl
SEA 2015 juaga menghadirkan
pameran P-MEC dan InnoPack, P-MEC
menghadirkan peralatan farmasi
terbaik dari eropa, India dan China
yang menyajikan teknologi terbaru
dalam produk mesin farmasi dan proses
manufaktur bahan baku farmasi guna
meningkatkan control kualitas, keamanan
dan efesiensi produksi, sedangkan
InnoPack membawa penyedia solusi
kemasan global dan inovasi terbaru
mengenai pengemasan dan system
pengiriman obat-obatan, labeling,
serta track & trace pada masyarakat
farmasi ASEAN dengan menawarkan
pengembangan bisnis, networking,
promosi brand, dan edukasi.
Highlight lainnya dari CPhl SEA 2015
kali ini adalah CPhl Supplier Finder Desk
dan peluncuran perdana Indonesia

Pharmaceuticals 2015 Reports. Supplier
Finder Desk memudahkan buyers
menemukan produk dan layanan,
sedangkan Indonesia Pharmaeuticals
2015 Reports adalah kolaborasi CPhl
dan global Business Report untuk
menerbitkan analisa, fakta, dan data
komprehensif mengenai industry farmasi
di Indonesia sehingga dapat memberikan
perspektif mendalam mengenai isu dan
tantangan dalam menghadapi sektor
farmasi Indonesia dan pasar global.
Harapan dengan adanya Indonesia
Pharmaceuticals 2015 Reports, P-MEC,
dan InnoPack di CPhl SEA 2015 dapat
melengkapi semua kebutuhan industri
farmasi dan menarik perhatian sekitar
6500 pengunjung, membawa semua
rantai pasokan farmasi dalam satu atap
pameran dan menjadikannya acara ini
pemeran yang koperhensif untuk solusi
pharma ASEAN dan berkontribusi dalam
meningkatkan kualitas industry farmasi
Indonesia sehingga akan lebih siap
menghadapi MEA “ tutup Christopher Eve

Pharma Materials Management Club

mei - juni 2015

Supplier of Raw Materials of
Chemicals, Pharmaceutical,
Food Additives and Feed Additives

Puri Sentra Niaga, Blok B No. 25
JL. Wiraloka, Cipinang Melayu,
Kalimalang, Jakarta 13620
Ph. +62 21 8660 7760 / 62
F. +62 21 8660 7761

PT Avesta Continental Pack
Jl. Raya Bekasi, Km. 28,5
PO. Box 152, Bekasi 17133
Tel. (62-21) 884 1088
Fax. (62-21) 884 1545, 889 3625

NAGANO SCIENCE
IS THE ONLY COMPANY IN THE BUSINESS
THAT OFFERS A FULL RANGE OF PRODUCTS, SERVICES
AND TOTAL SOLUTIONS FOR

PHARMACEUTICAL STORAGE STABILITY TESTING.

PT. MERINDO MAKMUR
Perkantoran Kencana Niaga

Pharma Materials Management Club

Jl. Taman Aries Blok D1 - 2K & L, Kembangan Jakarta 11620 Indonesia
T +62 21 5858581 (hunting), 58906030, F +62 21 585 8570

PMMCNEWS I

15

mei - juni 2015

delivering the goods
supplying market ideas

16

I PMMCNEWS

Pharma Materials Management Club

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful