Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PENDAHULUAN

KLIEN DENGAN ASTHMA

Oleh
SHOFI KHAQUL ILMY
NIM. 105070200131010
KELOMPOK. 9

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN K3LN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2012

1. Definisi Asma
Menurut

GINA

(Global

Initiative

For

Asthma)

2002,

Asma

didefinisikan sebagai gangguan inflamasi kronik saluran nafas dengan


banyak sel yang berperan, khususnya sel eosinofil dan limfosit T. Pada
orang yang rentan inflamasi ini menyebabkan episode mengi berulang,
sesak nafas, rasa dada tertekan dan batuk, terutama pada malam atau dini
hari. Gejala ini biasanya berhubungan dengan penyempitan jalan nafas
yang luas namun bervariasi, biasanya bersifat reversible baik secara
spontan maupun dengan pengobatan.
Asma adalah penyakit yang memiliki karakteristik dengan sesak
napas dan wheezing, dimana keparahan dan frekuensi dari tiap orang
berbeda. Kondisi ini akibat kelainan inflamasi dari jalan napas di paru-paru
dan mempengaruhi sensitivitas saraf pada jalan napas sehingga mudah
teriritasi. Pada saat serangan, alur jalan napas membengkak karena
penyempitan jalan napas dan pengurangan aliran udara yang masuk ke
paru-paru (WHO, 2011).
Asma adalah penyakit jalan nafas obstruktif intermiten, reversibel
dimana trakea dan bronchi berspon dalam secaa hiperaktif terhadap stimuli
tertentu (Smeltzer, C. Suzanne,2002).
Asma adalah suatu penyakit dengan ciri meningkatnya respon
trakea dan bronkhus terhadap berbagai rangsangan dengan manifestasi
adanya penyempitan jalan nafas yang luas dan derajatnya dapat berubahubah secara spontan maupun sebagai hasil pengobatan (Soeparman,
1990).

2. Klasifikasi Asma
Klasifikasi asma mencakup empat kategori antara lain:
1) Mild intermittent (ringan intermiten), dimana kondisi klien asma ringan
yang sebentar
2) Mild persistent,dimana kondisi klien dengan asma ringan yang terus
menerus atau menetap
3) Moderate persistent,dimana kondisi klien dengan asma sedang yang
terus menerus atau menetap
4) Severe persistent, dimana kondisi klien dengan asma berat yang terus
menerus atau menetap.

Asma terbagi atas :


Asma alergi ; disebabkan oleh allergen misalnya serbuk sari, binatang,
amarah, makanan, dan jamur.
Asma idiopatik atau non alergik ; misalnya common cold, infeksi traktus
respiratorius,

latihan,

emosi,

dan

polutan

lingkungan

yang

dapat

menimbulkan serangan, agen farmakologis : aspirin dan agens anti


inflamasi nonsteroid lain, pewarna rambut, antagonis beta-adrenergik, dan
agens sulfit.
Asma gabungan ; merupakan bentuk asma yang paling umum. Asma ini
mempunyai karakterisstik dari bentuk alergik maupun bentuk idiopatik atau
nonalergik.
Tingkatan pada penderita asma:
1) Tingkat I Secara klinis normal, tanpa kelainan pemeriksaan fisik maupun
fungsi paru. Pafa penderita ini timbul gejala bila ada faktor pencetus

2) Tingkat II Penderita tanpa keluhan dan kelainan pada pemeriksaan fisisk


tetapi fungsi paru menunjukan obstruksi jalan nafas dan sering ditemukan
setelah sembuh dari asma.
3) Tingkat III Pada penderita tanpa keluhan tetapi pada pemeriksaan fisik dan
fungsi paru menunjukan kelainan yaitu obstruksi jalan nafas, biasanya
pasien yang telah sembuh dari asma tetapi tidak berobat secara teratur
4) Tingkat IV Penderita sesak nafas, butuh, nafas berbunyi pada pemeriksaan
fisik dan obstruksi jalan nafas
5) Tingkat V Penderita pada stadium status asmatikus dimana keadaan asma
berat dan perlu pertolongan medis darurat.

3. Epidemiologi Asma
Di Indonesia prevalensi asma belum diketahui secara pasti, namun
hasil penelitian pada anak sekolah usia 13-14 tahun dengan menggunakan
kuesioner ISAAC (Internationla Study on Asthma and Allergy in Children)
tahun 1995 prevalensi asma masih 2,1%, sedangkan pada tahun 2003
meningkat menjadi 5,2%. Hasil survei asma pada anak sekolah di
beberapa kota di Indonesia (Medan, Palembang, Jakarta, Bandung,
Semarang, Yogyakarta, Malang dan Denpasar) menunjukkan prevalensi
asma pada anak SD (6 sampai 12 tahun) berkisar antara 3,7%-6,4%,
sedangkan pada anak SMP di Jakarta Pusat sebesar 5,8% tahun 1995 dan
tahun 2001 di Jakarta Timur sebesar 8,6%. Berdasarkan gambaran
tersebut di atas, terlihat bahwa asma telah menjadi masalah kesehatan
masyarakat yang perlu mendapat perhatian secara serius.
Pada tahun 2002, sekitar 21,9 juta penduduk Amerika yang terjangkit
penyakit asma menyerang anak-anak lebih dari 8 juta anak yang umumnya
berusia dibawah 18 tahun.
Di Amerika, penyakit asma masuk dalam peringkat 10 besar yang
memiliki jumlah pasien rawat inap paling banyak. pada tahun 1980-1994,
terdapat 160 % terjadi peningkatan para pengidap asma hingga menyerang
pada balita. Sekitar 20 juta dari total penduduk Amerika menderita asma
dan 70 % diantaranya disebabkan oleh alergi.

4. Etiologi Asma

Sebagian besar penyempitan pada saluran nafas disebabkan oleh


semacam

reaksi alergi. Alergi adalah reaksi tubuh normal terhadap

allergen, yakni zat-zat yang tidak berbahaya bagi kebanyakan orang yang
peka. Alergen menyebabkan alergi pada orang-orang yang peka. Alergen
menyebabkan otot saluran nafas menjadi mengkerut dan selaput lendir
menjadi menebal. Selain produksi lendir yang meningkat, dinding saluran
nafas juga menjadi membengkak. Saluran nafas pun menyempit, sehingga
nafas terasa sesak. Alergi yang diderita pada penderita asma biasanya
sudah ada sejak kecil. Asma dapat kambuh apabila penderita mengalami
stres dan hamil merupakan salah satu stress secara psikis dan fisik,
sehingga daya tahan tubuh selama hamil cenderung menurun, daya tahan
tubuh yang menurun akan memperbesar kemungkinan tersebar infeksi dan
pada keadaan ini asma dapat kambuh.
1) Faktor intrinsik
Infeksi
Fisik

: Para influenza virus, pneumonia, micoplasmal


: cuaca dingin, perubahan temperatur, iritan kimia,

polusi udara (CO, asap rokok dan parfum)


Emosional : takut, cemas, dan tegang
Aktivitas berlebihan
2) Faktor ekstrinsik
Reaksi antigen dan antibody, karena inhalasi allergen (debu, serbukserbuk, bulu binatang).

5. Faktor Resiko Asma


Faktor-faktor yang dapat menimbulkan serangan asma

atau sering

disebut sebagai faktor pencetus adalah:


Alergen
Alergen adalah sat-zat tertentu bila dihisap atau di makan dapat
menimbulkan serangan asma, misalnya debu rumah, tungau debu
rumah (Dermatophagoides pteronissynus) spora jamur, serpih kulit
kucing, bulu binatang, beberapa makanan laut dan sebagainya.
Infeksi Saluran Nafas
Infeksi saluran nafas terutama oleh virus seperti influenza merupakan
salah satu faktor pencetus yang paling sering menimbulkan asma.
Diperkirakan dua pertiga penderita asma dewasa serangan. asmanya
ditimbulkan oleh infeksi saluran nafas (Sundaru, 1991).
Stress

Adanya stressor baik fisik maupun psikologis akan menyebabkan suatu


keadaan stress yang akan merangsang HPA axis. HPA axis yang
terangsang akan meningkatkan adeno corticotropic hormon (ACTH) dan
kadar kortisol dalam darah. Peningkatan kortisol dalam darah akan
mensupresi immunoglobin A (IgA). Penurunan IgA menyebabkan
kemampuan untuk melisis sel radang menurun yang direspon oleh
tubuh sebagai suatu bentuk inflamasi pada bronkhus sehingga
menimbulkan asma.
Olahraga/ kegiatan jasmani yang berat
Sebagian penderita asma akan mendapatkan serangan asma bila
melakukan olahraga atau aktifitas fisik yang berlebihan. Lari cepat dan
bersepeda paling mudah menimbulkan serangan asma. Serangan asma
karena kegiatan jasmani (Exercise induced asthma /EIA) terjadi setelah
olahraga atau aktifitas fisik yang cukup berat dan jarang serangan
timbul beberapa jam setelah olah raga.
Obat obatan
Beberapa pasien asma sensitif atau alergi terhadap obat tertentu seperti
penicillin, salisilat, beta blocker, kodein dan sebagainya.
Polusi udara
Pasien asma sangat peka terhadap udara berdebu, asap pabrik /
kendaraan, asap rokok, asap yang mengandung hasil pembakaran dan
oksida fotokemikal, serta bau yang tajam.
Lingkungan Kerja
Diperkirakan 2 15% pasien asma pencetusnya adalah lingkungan
kerja.

6. Manifestasi Klinis Asma


o Wheezing
o Dyspnea dengan lama ekspirasi; penggunaan otot-otot asesoris
tambahan pernafasan cuping hidung, retraksi dada, dan stridor.
o Batuk kering (tidak produktif) karena sekresi kental dan lumen jalan
nafas.
o Tachipnoe, ortopnea
o Gelisah
o Diaphorosis
o Nyeri abdomen karena terlibatnya otot abdomen dalam pernafasan

o Fatigue
o Tidak toleran terhadap aktivitas, makan, bermain, berjalan bahkan
bicara.
o Kecemasan , labil, dan perubahan tingkat kesadaran
o Meningkatnnya ukuran diameter anteroposterior (barrel chest)
o Serangan yang tiba-tiba atau berangsur-angsur
Berikut tanda atau pola perilaku pada anak atau balita yang menderita
asma dilihat dari tingkat keparahan asma yang diderita, sebagai berikut :
1) Jika mengalami serangan asma ringan, anak memiliki ciri atau pola
perilaku, seperti :
o Anak tampak sesak saat berjalan.
o Pada bayi: menangis keras.
o Posisi anak: bisa berbaring.
o Kesadaran: mungkin irritable.
o Tidak ada sianosis (kebiruan pada kulit atau membran mukosa).
o Mengi sedang, sering hanya pada akhir ekspirasi.
o Biasanya tidak menggunakan otot bantu pernafasan.
o Retraksi interkostal dan dangkal.
o Frekuensi nafas: cepat (takipnea).
o Frekuensi jalannya urat nadi: normal.
o Tidak ada pulsus paradoksus (< 10 mmHg)
o SaO2 % > 95%.
o PaO2 normal, biasanya tidak perlu diperiksa.
o PaCO2 < 45 mmHg
2) Jika mengalami serangan asma sedang, dengan ciri perilaku, seperti :
o Anak tampak sesak saat berbicara.
o Pada bayi: menangis pendek dan lemah, sulit menyusu/makan.
o Posisi anak: lebih suka duduk.
o Kesadaran: biasanya irritable.
o Tidak ada sianosis (kebiruan pada kulit atau membran mukosa).
o Mengi nyaring, sepanjang ekspirasi inspirasi.
o Biasanya menggunakan otot bantu pernafasan.
o Retraksi interkostal dan suprasternal, sifatnya sedang.
o Frekuensi nafas: cepat (takipnea).
o Frekuensi nadi: cepat (takikardi).
o Ada pulsus paradoksus (10-20 mmHg)
o SaO2 % sebesar 91-95%.
o PaO2 > 60 mmHg.
o PaCO2 < 45 mmHg
3) Jika mengalami serangan asma berat tanpa disertai napas yang tibatiba berhenti :

o
o
o
o
o
o
o

Anak tampak sesak saat beristirahat.


Pada bayi: tidak mau minum/makan.
Posisi anak: duduk bertopang lengan.
Dapat berbicara dengan kata-kata.
Kesadaran: biasanya irritable.
Terdapat sianosis (kebiruan pada kulit atau membran mukosa).
Mengi sangat nyaring, terdengar tanpa stetoskop sepanjang

ekspirasi dan inspirasi.


o Menggunakan otot bantu pernafasan.
o Retraksi interkostal dan suprasternal, sifatnya dalam, ditambah
nafas cuping hidung.
o Frekuensi nafas: cepat (takipnea).
o Frekuensi nadi: cepat (takikardi).
o Ada pulsus paradoksus (> 20 mmHg)
o SaO2 % sebesar < 90 %.
o PaO2 < 60 mmHg.
o PaCO2 > 45 mmHg
4) Jika mengalami serangan asma berat yang disertai ancaman henti
nafas:
o Kesadaran: kebingungan.
o Nyata terdapat sianosis (kebiruan pada kulit atau membran
mukosa).
o Mengi sulit atau tidak terdengar.
o Penggunaan otot bantu pernafasan: terdapat gerakan paradoks
o
o
o
o

torakoabdominal.
Retraksi dangkal/hilang.
Frekuensi nafas: lambat (bradipnea).
Frekuensi nadi: lambat (bradikardi).
Tidak ada pulsus paradoksus; tanda kelelahan otot nafas.

7. Patofisiologi Asma
Intrinsik (infeksi, psikososial,
stress)
Ekstinsik (inhaled
alergi)

Bronchial mukosa menjadi


sensitif oleh Ig E
Peningk mast cell
pd

Stimulasi reflek
reseptor syarat
parasimpatis pd
mukosa

Pelepasan
histamin tjd
stimulasi pd
bronkial smooth

Penurunan stimuli reseptor


terhadap iritan pd

Hiperaktif non specifik stimuli


penggerak dari cell mast

Perangsang reflek reseptor


tracheobronchial

Peningk
permiabilitas
vaskuler akibat
kebocoran protein
+ cairan dlm jar

Stimuli bronchial smooth


+ kontraksi otot
bronchiolus

Perubahan jaringan, pening Ig E dalam


serum
Respon dinding
bronkus
bronkospasme

edema mukosa

wheezing

Bronkus
menyempit

Gg pola
nps

Gg
cema
pertuk
aran

Ventilasi
terganggu

hiperkapnea
Supai
Suplai o2
8. Pemeriksaan
diagnostik
Asma
jar
O2 ke

Hipersekresi
mukosa
Penumpukan
sekret kental
Sekret tak keluar

Bernapas

Batuk tdk menunjukkan


mlll mulutdada dapat
1) Foto rontgen; menurun
selama episode
akut rontgen
otak
hipoksemi
hiperinflasi
a

efektif

dan pendatarankoma
diafragma.

2) Pemeriksaan
alergi; test kulit + yang menyebabkanketidakefekt
reaksi melepuh dan
gelisah
ifan jalan
hebat yang dapaat mengidentifikasikan allergen spesifik.
napas

3) Pulse oximetry ; ditemukan saturasi O2 perifer menurun ( cyanosis )


4) Analisa gas darah; menunjukkan hipoksia selama serangan akut,
awalnya terdapat hipokapnea dan respirasi alkalosis, PCO2 yang
rendah.

5) Tes fungsi paru. Spirometri dapat dilakukan pada anak usia 5 atau 6
tahun,dan setiap anak usia 1-2 tahun dilakukan pengkajian fungsi jalan
napas rutin. Dalam spirometri akan mendeteksi:

Penurunan forced expiratory volume (FEV)


Penurunan peak expiratory flow rate (PEFR)
Kehilangan forced vital capacity (FVC)
Kehilangan inspiratory capacity (IC)

6) Laboratorium darah lengkap,menunjukan terjadi perubahan sel darah


putih selama fase asma akut,perubahan sel darah putih lebih dari
12.000/mm3 atau peningkatan presentasi ikatan sel yang mungkin
mengindikasikan terjadi infeksi.
7) X-ray dada. Frontal dan lateral foto x-ray menunjukan infiltrate dan
hiperekspansi jalan napas dengan peningkatan usuran diameter
anteroposterior dan pemeriksaan fisik,diduga barrel chest.

9. Penatalaksanaan Asma
Tatalaksana pasien asma adalah manajemen kasus untuk meningkatkan
dan mempertahankan kualitas hidup agar pasien asma dapat hidup normal
tanpa hambatan dalam melakukan aktivitas sehari-hari (asma terkontrol).
Tujuan :
o Menghilangkan dan mengendalikan gejala asma
o Mencegah eksaserbasi akut
o Meningkatkan dan mempertahankan faal paru seoptimal mungkin
o Mengupayakan aktivitas normal termasuk exercise
o Menghindari efek samping obat
o Mencegah terjadinya keterbatasan aliran udara (airflow limitation)
ireversibel
o Mencegah kematian karena asma
o Khusus anak, untuk mempertahankan tumbuh kembang anak sesuai
potensi genetiknya.
Dalam penatalaksanaan asma perlu adanya hubungan yang baik antara
dokter dan pasien sebagai dasar yang kuat dan efektif, hal ini dapat
tercipta apabila adanya komunikasi yang terbuka dan selalu bersedia
mendengarkan keluhan atau pernyataan pasien, ini merupakan kunci
keberhasilan pengobatan.
Ada 5 (lima) komponen yang dapat diterapkan dalam penatalaksanaan
asma, yaitu:

KIE dan hubungan dokter-pasien


Identifikasi dan menurunkan pajanan terhadap faktor risiko;
Penilaian, pengobatan dan monitor asma;
Penatalaksanaan asma eksaserbasi akut, dan
Keadaan khusus seperti ibu hamil, hipertensi, diabetes melitus, dll
Pada prinsipnya penatalaksanaan asma klasifikasikan menjadi:
1) Penatalaksanaan asma akut/saat serangan
Serangan akut adalah episodik perburukan pada asma yang harus
diketahui oleh pasien. Penatalaksanaan asma sebaiknya dilakukan
oleh pasien di rumah dan apabila tidak ada perbaikan segera ke
fasilitas

pelayanan

kesehatan.

Penanganan

harus

cepat

dan

disesuaikan dengan derajat serangan. Penilaian beratnya serangan


berdasarkan riwayat serangan termasuk gejala, pemeriksaan fisik dan
sebaiknya pemeriksaan faal paru, untuk selanjutnya diberikan
pengobatan yang tepat dan cepat.
Pada serangan asma obat-obat yang digunakan adalah :
bronkodilator (2 agonis kerja cepat dan ipratropium bromida)
kortikosteroid sistemik
Pada serangan ringan obat yang digunakan hanya 2 agonis kerja
cepat yang sebaiknya diberikan dalam bentuk inhalasi. Bila tidak
memungkinkan dapat diberikan secara sistemik. Pada dewasa dapat
diberikan kombinasi dengan teofilin/aminofilin oral. Pada keadaan
tertentu (seperti ada riwayat serangan berat sebelumnya) kortikosteroid
oral (metilprednisolon) dapat diberikan dalam waktu singkat 3- 5 hari.
Pada serangan sedang diberikan 2 agonis kerja cepat dan
kortikosteroid oral. Pada dewasa dapat ditambahkan ipratropium
bromida inhalasi, aminofilin IV (bolus atau drip). Pada anak belum
diberikan ipratropium bromida inhalasi maupun aminofilin IV. Bila
diperlukan dapat diberikan oksigen dan pemberian cairan IV. Pada
serangan berat pasien dirawat dan diberikan oksigen, cairan IV, 2
agonis kerja cepat ipratropium bromida inhalasi, kortikosteroid IV, dan
aminofilin IV (bolus atau drip). Apabila 2 agonis kerja cepat tidak
tersedia dapat digantikan dengan adrenalin subkutan. Pada serangan
asma yang mengancam jiwa langsung dirujuk ke ICU. Pemberian obat-

obat bronkodilator diutamakan dalam bentuk inhalasi menggunakan


nebuliser. Bila tidak ada dapat menggunakan IDT (MDI) dengan alat
bantu (spacer).
2) Penatalaksanaan asma jangka panjang
Penatalaksanaan asma jangka panjang bertujuan untuk mengontrol
asma dan mencegah serangan. Pengobatan asma jangka panjang
disesuaikan dengan klasifikasi beratnya asma.

Prinsip pengobatan

jangka panjang meliputi: 1) Edukasi; 2) Obat asma (pengontrol dan


pelega); dan Menjaga kebugaran.
o Edukasi
Edukasi yang diberikan mencakup :

Kapan pasien berobat/ mencari pertolongan

Mengenali gejala serangan asma secara dini

Mengetahui obat-obat pelega dan pengontrol serta cara dan


waktu penggunaannya

Mengenali dan menghindari faktor pencetus

Kontrol teratur

Alat edukasi untuk dewasa yang dapat digunakan oleh dokter dan
pasien adalah pelangi asma, sedangkan pada anak digunakan
lembaran harian.
o Obat asma
Obat asma terdiri dari obat pelega dan pengontrol. Obat pelega
diberikan pada saat serangan asma, sedangkan obat pengontrol
ditujukan untuk pencegahan serangan asma dan diberikan dalam
jangka panjang dan terus menerus. Untuk mengontrol asma
digunakan anti inflamasi (kortikosteroid inhalasi). Pada anak,
kontrol

lingkungan

mutlak

dilakukan

sebelum

diberikan

kortikosteroid dan dosis diturunkan apabila dua sampai tiga bulan


kondisi telah terkontrol.

Obat asma yang digunakan sebagai

pengontrol antara lain :

Inhalasi kortikosteroid

2 agonis kerja panjang

antileukotrien

teofilin lepas lambat

Terapi asma kronik adalah sebagai berikut :


1) Asma ringan : agonis 2 inhalasi perlu atau agonis 2 oral

sebelum

exercise atau terpapar alergen.


2) Asma sedang : antiinflamasi setiap hari dan agonis 2 inhalasi bila
perlu.
3) Asma berat : steroid inhalasi setiap hari, teofilin slow release atau
agonis 2 long acting, steroid oral selang sehari atau dosis tunggal
harian dan agonis 2 inhalasi sesuai kebutuhan.

Jenis Obat Asma


Jenis obat

Golongan

Nama generik

Bentuk/kemasan
obat

Pengontrol
(Antiinflamasi)

Steroid inhalasi

Flutikason
propionat
Budesonide

IDT
IDT, turbuhaler

Antileukokotrin

Oral(tablet)
Zafirlukast

Kortikosteroid
sistemik
Agonis beta-2
kerjalama

kombinasi
steroid dan
Agonis beta-2
kerjalama
Pelega
(Bronkodilator
)

Metilprednisolon
Prednison
Prokaterol
Formoterol
Salmeterol
Flutikason +
Salmeterol.
Budesonide +
formoterol

Agonis beta-2
kerja cepat
Salbutamol

Terbutalin

Oral(injeksi)
Oral
Oral
Turbuhaler
IDT
IDT
Turbuhaler

Oral, IDT, rotacap


solution
Oral, IDT,
turbuhaler,
solution, ampul
(injeksi)
IDT

Prokaterol
Antikolinergik
Metilsantin

Kortikosteroid
sistemik

Fenoterol
Ipratropium
bromide
Teofilin
Aminofilin
Teofilin lepas
lambat
Metilprednisolon
Prednison

IDT, solution
IDT, solution
Oral
Oral, injeksi
Oral
Oral, inhaler
Oral

10. Diagnosa keperawatan


1) Ketidakefektifan

bersihan

jalan

napas

berhubungan

dengan

hipersekresi sekret
2) Gangguan pola napas berhubungan dengan obstruksi bronkus
3) Cemas berhubungan dengan perubahan status kesehatan

11.

Intervensi Keperawatan

Ketidakefektifan

bersihan

jalan

napas

berhubungan

bronkospasme, peningkatan produksi sekret, sekret kental.


Tujuan: bersihan jalan nafas kembali efektif
Kriteria Hasil :
Bunyi nafas bersih
Batuk efektif/mengeluarkan dahak

dengan

Gangguan pola napas berhubungan dengan obstruksi bronkus


Tujuan: pola nafas kembali efektif dalam 2x24 jam
Kriteria hasil:
-

Sesak berkurang atau hilang

RR 18-24x/menit

Tidak ada retraksi otot pernapasan

Cemas berhubungan dengan perubahan status kesehatan


Tujuan : cemas berkurang/ hilang
Kriteria Hasil :
-

Klien tampak rileks

Klien menyatakan sesak berkurang

Intervensi
Rasional
Kaji tingkat ansietas yang dialami Mengetahui tingkat kecemasan
klien

untuk

memudahkan

dalam

perencanaan tindakan selanjutnya


Kaji

kebiasaan

keterampilan Menilai mekanisme koping yang

koping

telah dilakukan serta menawarkan


alternatif

koping

gunakan
Beri dukungan emosional untuk Dukungan
kenyamanan

dan

di

dapat

tujuan yang sama


Relaksasi merupakan salah satu
metode

setiap

emosional

bisa

ketentraman memantapkan hati untuk mencapai

hati
Implementasikan teknik relaksasi

Jelaskan

yang

menurunkan

dan

menghilangkan kecemasan
prosedur Pemahaman terhadap prosedur

tindakan yang akan dilakukan

akan memotifasi klien untuk lebih


kooperatif

12. Evaluasi
Hasil yang diharapkan, klien dapat mempertahankan kebersihan jalan
nafas atas, mempertahankan oksigenasi atau ventilasi adekuat. Membantu
tindakan untuk mempermudah pertukaran gas, meningkatkan masukan
nutrisi, dapat beraktivitas tanpa bantuan, memberikan informasi tentang
proses penyakit atau prognosis dan program pengobatan.

DAFTAR PUSTAKA
Halim Danukusantoso. 2000. Buku Saku Ilmu Penyakit Paru. Jakarta : Penerbit
Hipokrates.
Smeltzer, C. Suzanne, dkk. 2000. Buku Ajar keperawatan Medikal Bedah, Edisi 8
Vol 1. Jakarta : EGC.

Ngastiyah. 1997. Perawatan Anak Sakit. Jakarta : EGC.


Hudak & Gallo. 2001. Keperawatan Kritis. Edisi VI,Vol I. Jakarta : EGC.
Tucker S. Martin. 1998. Standart Perawatan Pasien. Jilid 2. Jakarta : EGC.
Price, Sylvia & Wilson Lorraine. 2006. Buku Patofisiologi Konsep Klinis ProsesProses Penyakit Edisi 6. Jakarta : EGC
Prawirohardjo, Sarwono. 2008. Ilmu Kebidanan. Revisi 20. Jakarta : PT. Bina
Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
Arifin,

Laily.

12

Juni

2007.

Pregnancy

and

Tuberculosis.

http://lely-

nursinginfo.blogspot.com/2007/06/Pregnancy-and-tuberculosis/html
Soedarto. 2007. Sinopsis Kedokteran Tropis. Surabaya : Airlangga University
Press.
Frieri, Marianne.

Management of Asthma in Women.

402-412 WOMENS

HEALTH IN PRIMARY CARE. Volume 7 Number 8 September 2004.


Baratawidjaja, K. 1990. Asma Bronchiale, dikutip dari Ilmu Penyakit Dalam.
Jakarta : FK UI.
Brunner & Suddart. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah. Jakarta:EGC.
Doenges, M. E., Moorhouse, M. F. & Geissler, A. C. 2000. Rencana Asuhan
Keperawatan. Jakarta : EGC.
Staff Pengajar FK UI. 1997. Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta : Info Medika.
Sundaru, H. 1995. Asma ; Apa dan Bagaimana Pengobatannya. Jakarta : FK UI.
Mansjoer, Arif, dkk. 1999. Kapita Selekta Kedokteran Edisi II. Jakarta: Fakultas
Kedokteran UI Media Aescullaplus.