Anda di halaman 1dari 5

PATOFISIOLOGI KERATITIS

a. Keratitis
Karena kornea bersifat avaskuler, maka mekanisme pertahanan pada waktu
peradangan tidak segera berlangsung, seperti pada jaringan lain yang mengandung banyak
vaskularisasi. Maka badan kornea, wandering cell dan sel-sel lain yang terdapat dalam stroma
kornea, segera bekerja sebagai makrofag, baru kemudia disusun dengan dilatasi pembuluh
darah yang terdapat di limbus dan tampak sebagai injeksi perikornea. Sesudahnya baru terjadi
infiltrasi dari sel-sel mononuclear, sel plasma, polimorfonuklear (PMN) yang mengakibatkan
timbulnya infiltrat, yang tampak sebagai bercak bewarna kelabu, keruh dengan batas-batas
tak jelas dan permukaan tidak licin, kemudian dapat terjadi kerusakan epitel dan timbulah
ulkus kornea (V aughan, 2009).
Kornea mempunyai banyak serabut saraf maka kebanyakan lesi pada kornea baik
superfisial maupun profunda dapat menimbulkan rasa sakit dan fotofobia. Rasa sakit juga
diperberat dengan adanya gesekan palpebra (terutama palpebra superior) pada kornea dan
menetap sampai sembuh. Kontraksi bersifat progresif, regresi iris, yang meradang dapat
menimbulkan fotofobia sedangkan iritasi yang terjadi pada ujung saraf kornea merupakan
fenomena reflek yang berhubungan dengan timbulnya dilatasi pada pembuluh iris. Fotofobia
yang berat pada kebanyakan penyakit kornea minimal pada keratitis herpes karena hipestesi
terjadi pada penyakit ini, yang juga merupakan anda diagnostik berharga. Meskipun berair
mata fotofobia umumnya menyertai penyakit kornea, umumnya tidak ada tahi mata kecuali
pada ulkus bakteri purulen (V aughan, 2009).
Karena kornea berfungsi sebagai jendela bagi mata dan membiasakan bekas cahaya,
lesi kornea umumnya agak mengaburkan penglihatan, terutama kalau letaknya di pusat (V
aughan, 2009).

PATHWAY KERATITIS

Faktor eksternal; virus,

faktor internal; hipersensitivitas,

jamur,bakteri

gangguan Nervus, trigeminus,


idiopatik

mengenai lapisan
kornea mata

gangguan sensilibilitas &


metabolisme kornea

inflamasi
kekeringan pada
terbentuknya infiltrasi,

permukaan kornea

sel plasma, pada konjungtiva


dan kornea

abrasi pada lapisan kornea

penimbunan infiltrat

kerusakan epitel mata

pada kornea

kerusakan epitel sel kornea

ulserasi pada kornea

KERATITIS

Peradangan

meransang kejernihan
& kelengkungan kornea

Pelepasan mediator
kimia (bradikinin,

prostaglandin, serotin,
histamine)

merangsang pembiasan
cahaya ke retina

Meransang nosiseptor
serabut nyeri( delta C)

pandangan kabur

Meransang spinal

penurunan fungsi pengelihatan

thalamus di hipotalamus
penurunan ketajaman pengelihatan
RESIKO CEDERA

cortek serebri
NYERI

perubahan status kesehatan

kurang pengetahuan

dapat menularkan pada orang lain / orang sehat

RESIKO INFEKSI

DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Gangguan persepsi sensori: penglihatan berhubungan dengan inflamasi pada kornea
2. Nyeri berhubungan dengan proses inflamasi: iritasi atau infeksi pada mata
3. Resiko tinggi cidera berhubungan dengan penurunan ketajaman penglihatan

RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN


No.
1

Diagnosa
keperawtan
Gangguan persepsi
sensori:
penglihatan
berhubungan
dengan inflamasi
pada kornea

NOC
a. Vision
compensation
behaviour
Penglihatan
meningkat

NIC

a. Eye Care
Monitor adanya kemerahan dan
adanya eksudat.
Tentukan derajat penurunan
penglihatan atau tes tajam
penglihatan.
Intruksikan pasien untuk tidak
menyentuh mata.
monitor reflek kornea.
Anjurkan pasien untuk
menggunakan kaca mata
katarak.
Lakukan tindakan untuk
membantu pasien menangani
keterbatasan penglihatan.
Dorong pasien untuk
mengekspresikan perasaan
tentang kehilangan penglihatan.
Nyeri berhubungan a. Pain level
a. Pain management
Nyeri berkurang
Lakukan pengkajian nyeris
dengan proses
Mampu
ecara komperhensif termasuk
inflamasi: iritasi
mengenali nyeri
lokasi, karakteristik, durasi,
atau infeksi pada
(skala, intensitas,
frekuensi, kualitas dan faktor
mata
frekuensi dan
presifitasi
Observasi reaksi nonverbal dari
tanda nyeri).
Mampu
ketidaknyamanan
Kontrol lingkungan yang dapat
mengontrol nyeri
b. Comfrot level
mempengaruhi nyeri seperti
Menyatakan rasa
suhu ruangan, pencahayaan dan
nyaman setelah
kebisingan.
nyeri berkurang
Kurangi faktor presipitasi nyeri
Tanda vital dalam
Anjurkan tentang teknik non
rentang normal
farmakologi
b. Analgesic administrasion
Tentukan lokasi, karakteristik
kualitas. Dan derajat nyeri
sebelum pemberian obat.
Cek intruksi dokter tentang
jenis obat, dosis, dan frekuensi
Cek riwayat alergi
Monitor vital sign sebelum dan

Resiko tinggi
a. Risk kontrol
Klien terbatas
cidera berhubungan
dari cidera
dengan penurunan
Klien mampu
ketajaman
menjelaskan cara
penglihatan
atau metode
untuk mencegah
injuri atau cidera
Klien mampu
menjelaskan
faktor resiko dari
lingkungan atau
perilaku personal

sesudah pemberian analgetik


pertamakali
a. Environment management
(management lingkungan)
Sediakan lingkungan yang
aman untuk pasien
Menghindarkan lingkungan
yang berbahaya (misalkan
memindahkan perabotan).
Memasang side rail tempat
tidur
Menyediakan tempat tidur yang
nyaman dan bersih.