Anda di halaman 1dari 45

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Para lanjut usia, dikhawatirkan akan menjadi persoalan besar bagi
Indonesia. Sebab, dilihat dari jumlahnya pada tahun 2020 diperkirakan akan
meningkat sebesar 414 persen (Biro Pusat Statistik, 2006 dalam Iswanto 2011).
Padahal upaya penyejahteraan termasuk peningkatan kualitas kesehatan kelompok
ini masih belum memadai. Secara alamiah, proses menjadi tua mengakibatkan
kemunduran kemampuan fisik dan mental. Secara umum, lebih banyak gangguan
organ tubuh dikeluhkan oleh para warga senior baik pria maupun wanita, lebih
banyak pula yang menderita penyakit kronis (Astawan M, 2007 dalam Iswanto,
2011).
Seiring dengan perjalanan usia, khususnya bagi pria usia lanjut harus
meningkatkan kewaspadaan pada kondisi kesehatan tubuhnya. Sebab, semakin
bertambahnya usia, fungsi organ-organ tubuh terus menurun. Salah satu gangguan
kesehatan yang kerap dialami pria berusia lanjut adalah gangguan prostat. Yang
lebih parah adalah kanker prostat karena kanker prostat merupakan kanker
pembunuh nomor dua pada pria setelah kanker paru-paru. Baik gangguan prostat
maupun kanker prostat harus sama-sama diwaspadai karena dampak negatif yang
ditimbulkannya cukup mengerikan. Pria yang terkena gangguan prostat misalnya,
dapat mengalami gangguan seksual, sedangkan kanker prostat dapat menyebabkan
kematian (Siswono, 2003 dalam Iswanto, 2011).
Risiko terjadinya kanker prostat ditentukan oleh dua hal yaitu faktor
genetik dan faktor lingkungan. Faktor risiko lain yang tidak kalah penting adalah
usia di atas 50 tahun, pembesaran prostat jinak, infeksi virus, riwayat kanker
prostat dalam keluarga, pola hidup, dan pola makan. Salah satu faktor risiko
tersebut yaitu pola makan, menurut Umbas Rainy (2002) diet tinggi lemak dan
pola makan berkalsium tinggi (Notrou P, 2007) merupakan faktor yang
mempunyai kaitan erat dengan meningkatnya risiko kanker prostat.

1.2 RUMUSAN MASALAH


Berikut ini adalah rumusan masalah dalam makalah ini :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Apa definisi dari kanker prostat?


Apa etiologi dan faktor risiko kanker prostat?
Bagaimana tanda dan gejala kanker prostat?
Bagaimana patofisiologi dari kanker prostat?
Apa komplikasi dari kanker prostat?
Bagaimana pemeriksaan pada kanker prostat?
Bagaimana stadium yang digunakan pada kanker prostat?
Bagaimana penanganan untuk kanker prostat?
Bagaimana asuhan keperawatan pada klien dengan kanker prostat?

1.3 TUJUAN PENULISAN


Tujuan penulisan makah ini adalah untuk :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Mengetahui definisi kanker prostat


Mengetahui etiologi dan faktor risiko kanker prostat
Mengetahui tanda dan gejala kanker prostat
Mengetahui patofisiologi kanker prostat
Mengetahui komplikasi kanker prostat
Mengetahui pemeriksaan pada kanker prostat
Mengetahui stadium pada kanker prostat
Mengetahui penanganan untuk kanker prostat
Mengetahui asuhan keperawatan pada klien dengan kanker prostat

BAB II
TINJAUAN TEORI
2.1 DEFINISI
Kanker prostat adalah penyakit kanker yang berkembang di prostat,
sebuah kelenjar dalam sistem reproduksi lelaki. Hal ini terjadi ketika sel
prostat mengalami mutasi dan mulai berkembang di luar kendali. Sel ini dapat
menyebar secara metastasis dari prostat ke bagian tubuh lainnya, terutama
tulang dan lymph node. Kanker prostat adalah biasanya diderita pria berusia
lanjut dengan kejadian puncak pada usai 65 - 75 tahun.
Beberapa dokter mempercayai bahwa kanker prostat dimulai dengan
perubahan sangat kecil dalam ukuran dan bentuk sel-sel kelenjar prostat.
Perubahan ini dikenal sebagai PIN (prostatic intraepithelial neoplasia).
Hampir setengah dari semua orang yang memiliki PIN setelah berusia di atas
50 tahun. Orang yang mengalami PIN mengalami perubahan tampilan sel-sel
kelenjar prostat pada mikroskop. Perubahan ini dapat berupa tingkat rendah
(hampir normal) atau bermutu tinggi (abnormal). Lebih dari 95 % kanker
prostat bersifat adenokarsinoma. Selebihnya didominasi transisional sel
karsinoma. (Presti, J. C, 2008). Penelitian menunjukkan bahwa 60 - 70%
kasus kanker prostat terjadi pada zona perifer sehingga dapat diraba sebagai
nodul nodul keras irregular. Nodul nodul ini memperkecil kemungkinan
terjadinya obstruksi saluran kemih atau uretra yang berjalan tepat di tengah
prostat. Sebanyak 10 20 % kanker prostat terjadi pada zona transisional,
dan 5 10 % terjadi pada zona sentral (Siregar, 2012)
2.2 ETIOLOGI DAN FAKTOR RISIKO KANKER PROSTAT
Penyebab kanker prostat belum diketahui dengan pasti, tetapi ada
beberapa hal yang dapat meningkatkan risiko seseorang untuk terkena kanker
prostat, diantaranya:
1. Faktor usia : resiko menderita kanker prostat dimulai saat usia 50 tahun
pada pria kulit putih, dengan tidak ada riwayat keluarga menderita kanker
prostat. Sedangkan pada pria kulit hitam

pada usia 40 tahun dengan

riwayat keluarga satu generasi sebelumnya menderita kanker prostat. Data


yang diperoleh melalui autopsi di berbagai negara menunjukkan sekitar 15
3

30% pria berusia 50 tahun menderita kanker prostat secara samar. Pada
usia 80 tahun sebanyak 60 70% pria memiliki gambaran histology
kanker prostat. (William et al, 2000 dalam Siregar, 2012).
2. Riwayat keluarga : kanker prostat didiagnosa pada 15% pria yang
memiliki ayah atau saudara lelaki yang menderita kanker prostat, bila
dibandingkan dengan 8% populasi kontrol yang tidak memiliki kerabat
yang terkena kanker prostat. Pria yang satu generasi sebelumnya menderita
kanker prostat memiliki resiko 2 - 3 kali lipat lebih besar menderita kanker
prostat dibandingkan dengan populasi umum. Sedangkan untuk pria yang
2 generasi sebelumnya menderita kanker prostat memiliki resiko 9 - 10
kali lipat lebih besar menderita kanker prostat (Haas & Wael, 1997 dalam
Siregar 2012).
3. Pola makan : Lemak dari makanan, terutama lemak hewan dari daging
merah, dapat meningkatkan kadar hormon laki-laki. Dan ini mungkin
bahan bakar pertumbuhan sel kanker prostat. Sebuah diet yang terlalu
rendah dalam buah-buahan dan sayuran juga mungkin memainkan peran.
Perbedaan konsumsi makanan pada rasa atau suku yang berbeda, bangsa,
tempat tinggal, status ekonomi.
4. Mitos : berikut adalah beberapa hal yang tidak akan menyebabkan kanker
prostat yaitu terlalu banyak seks, vasektomi, dan masturbasi (Manajemen
Modern dan Kesehatan Masyarakat, 2010).
5. Toksin juga disebut-sebut sebagai faktor risiko kanker prostat walaupun
kaitannya belum jelas.
6. Adanya perubahan keseimbangan antara hormon testosteron dan estrogen
pada usia lanjut.
7. Peranan dari growth factor ( faktor pertumbuhan ) sebagai pemacu
pertumbuhan stroma kelenjar prostat.
8. Meningkatnya lama hidup sel-sel prostat karena berkurangnya sel yang
mati
9. Teori sel stem menerangkan bahwa terjadinya proliferasi abnormal sel
stem sehingga menyebabkan produksi sel stroma dan sel epitel kelenjar
prostat menjadi berlebihan.
2.3 TANDA DAN GEJALA
4

Secara medik, kanker prostat umumnya tidak menunjukkan gejala khas.


Karena itu sering terjadi keterlambatan diagnosa. Gejala kanker prostat
umumnya sama dengan gejala BPH. Berikut ini beberapa gejala yang sering
ditemui pada penderita kanker prostat :

Tahap awal (early stage) yang mengalami kanker prostat umumnya

tidak menunjukkan gejala klinis atau asimptomatik.


Pada tahap berikutnya (locally advanced) didapati obstruksi sebagai
gejala yang paling sering ditemukan. Biasanya ditemukan hematuria
yakni urin yang mengandung darah, infeksi saluran kemih, serta rasa
nyeri saat berkemih, gangguan seksual seperti sulit ereksi/nyeri saat
ejakulasi, aliran air seni lemah dan kadang aliran air seni berhenti
sendiri, merasa kandung kencing tidak kosong sempurna, kesulitan

memulai/menahan air kencing, sering BAK pada malam hari


Pada tahap lanjut (advanced) penderita yang telah mengalami
metastase di tulang sering mengeluh sakit tulang dan sangat jarang
mengalami kelemahan tungkai maupun kelumpuhan tungkai karena
kompresi korda spinalis, merasa nyeri/kaku pada punggung bawah,
pinggul, paha atas.

2.4 PATOFISIOLOGI
Penyebab Ca Prostat hingga kini belum diketahui secara pasti, tetapi
beberapa hipotesa menyatakan bahwa Ca Prostat erat hubungannya dengan
hipotesis yang diduga sebagai penyebab timbulnya Ca Mammae adalah
adanya perubahan keseimbangan antara hormon testosteron dan estrogen
pada usia lanjut, hal ini akan mengganggu proses diferensiasi dan proliferasi
sel. Diferensiasi sel yang terganggu ini menyebabkan sel kanker, penyebab
lain yaitu adanya faktor pertumbuhan yang stroma yang berlebihan serta
meningkatnya lama hidup sel-sel prostat karena berkurangnya sel-sel yang
mati sehingga menyebabkan terjadinya perubahan materi genetik. Perubahan
prolife sehingga menyebabkan produksi sel stroma dan sel epitel kelenjar
prostat menjadi berlebihan sehingga terjadi Ca Prostat (Price, 1995)
Kanker akan menyebakan penyempitan lumen uretra pars prostatika dan
akan menghambat aliran urin,. Keadaan ini menybabkan penekanan
5

intraavesikal,

untuk

dapat

mengeluarkan

urinbuli-buli

harus

dapat

berkontraksi kuat guna melawan tahanan itu. Kontraksi yang terus-menerus


menyebabkan perubahan anatomik dari buli-buli berupa hipertrofi detrusor,
trabekulasi, terbentuknya selula, sakula, dan divetikel buli-buli. Fase
penebalan ototdetrusor ini disebut fase kompensasi (Purnomo,2000)
Perubahan struktur pada buli-buli dirasakan oleh pasien sebagai keluhan
pada saluran kemih sebelah bawah atau lower urinary track symptom (LUTS)
yang dahulu dikenal dengan gejal-gejal prostatismus, dengan semakin
meningkatnya

retensi uretra, otot detrusor masuk ke dalam fase

dekompensaasi dan akhirnya tidak mampu lagi untuk berkontraksisehingga


terjadi retensi urin. Tekanan intravsikal yang semakin tinggi akan diteruskan
ke seluruh bagian buli-buli ke ureter atau terjadi refluk vesico-ureter. Keadaan
ini

jika

berlangsung

terus

akan

mengakibatkan

hidroureter,

hidronefrosis,bahkan akhirnya akan dapat jatuh kedalam gagal ginjal (Price,


1995).
Berkemgangnya tumor yang terus menerus dapat terjadi perluasan
langsung ke uretra, leher kandung kemih dan vesika semmininalis. Ca Prostat
dapat juga menyebar melalui jalur hematogen yaitu tulang tulang pelvis
vertebra lumbalis, femur dan kosta. Metastasis organ adalah pada hati dan
paru (Purnomo,2000)
Proses patologis lainnya adalah penimbunan jaringan kolagen dan elastin
diantara otot polos yang berakibat melemahnya kontraksi otot. Selain tu
terdapat degenerasi sel syaraf yang mempersarafi otot polos. Hal ini dapat
mengakibatkan

terjadinya

hipersensitivitas

pasca

fungsional,

ketidakseimbangan neurotransmiter, dan penurunan input sensorik, sehingga


otot detrusor tidak stabil. Karena fungsi otot vesika tidak normal, maka
terjadi peningkatan residu urin yang menyebabkan hidronefrosis dan
disfungsi saluran kemih atas. (Purnomo,2000)
2.5 KOMPLIKASI
Komplikasi yang dapat terjadi pada hipertropi prostat adalah. Retensi
kronik dapat menyebabkan refluks vesiko-ureter, hidroureter, hidronefrosis,
6

gagal ginjal, proses kerusakan ginjal dipercepat bila terjadi infeksi pada
waktu miksic. Hernia / hemoroid karena selalu terdapat sisa urin sehingga
menyebabkan terbentuknya batu. Hematuriaf. Sistitis dan Pielonefritis.
2.6 PEMERIKSAAN KANKER PROSTAT
1. Inspeksi buli-buli : ada/ tidaknya penonjolan perut di daerah supra pubik
( buli-buli penuh / kosong )
2. Palpasi

buli-buli : Tekanan didaerah supra pubik menimbulkan

rangsangan ingin kencing bila buli-buli berisi atau penuh. Terasa massa
yang kontraktil dan Ballottement.
3. Perkusi : Buli-buli yang penuh berisi urin memberi suara redup.
4. Colok dubur : pemeriksaan colok dubur dapat memberi kesan keadaan
tonus sfingter anus, mukosa rektum, kelainan lain seperti benjolan di
dalam rektum dan prostat. Pada perabaan melalui colok dubur harus di
perhatikan

konsistensi

prostat

(pada

pembesaran

prostat

jinak

konsistensinya kenyal), adakah asimetris adakah nodul pada prostat , apa


batas atas dapat diraba. Dengan colok dubur besarnya prostat dibedakan :

Grade 1 : Perkiraan beratnya sampai dengan 20 gram.

Grade 2 : Perkiraan beratnya antara 20-40 gram.

Grade 3 : Perkiraan beratnya lebih dari 40 gram.

Nilai prediksi colok dubur untuk mendeteksi kanker prostat 21,53%.


Sensitifitas colok dubur tidak memadai untuk mendeteksi kanker prostat
tapi spesifisitasnya tinggi, namun bila didapatkan tanda ganas pada colok
dubur maka hampir semua kasus memang terbukti kanker prostat karena
nilai prediktifnya 80% (Umar dan Agoes, 2002 dalam Siregar 2012).
5. Laboratorium

Darah lengkap sebagai data dasar keadaan umum penderita


Gula darah dimaksudkan untuk mencari kemungkinan adanya penyakit
diabetus

militus yang dapat menimbulkan kelainan persarafan pada

buli-buli (buli-buli nerogen).

Faal ginjal (BUN, kreatinin serum) diperiksa untuk mengetahui


kemungkinan adanya penyulit yang mengenai saluran kemih bagian

atas .
Analisis urine diperiksa untuk melihat adanya sel leukosit, bakteri, dan

infeksi atau inflamasi pada saluran kemih.


Pemeriksaan kultur urine berguna dalam mencari jenis kuman yang
menyebadkan infeksi dan sekligus menentukan sensitifitas kuman
terhadap beberapa anti mikroba yang diujikan

6. Flowmetri adalah alat kusus untuk mengukur pancaran urin dengan satuan
ml/detik. Penderita dengan sindroma protalisme perlu di periksa dengan
flowmetri sebelum dan sesudah terapi
7. Radiologi

Foto polos abdomen, dapat dilihat adanya batu pada traktus urinarius,
pembesaran ginjal atau buli-buli, adanya batu atau kalkulosa prostat
dan kadang kadang dapat menunjukkan bayangan buli-buli yang penuh

terisi urine, yang merupakan tanda dari suatu retensi urine.


Pielografi intra vena, dapat dilihat supresi komplit dari fungsi renal,
hidronefrosis, dan hidroureter, fish hook appearance ( gambaran ureter
berkelok kelok di vesikula ) inclentasi pada dasar buli-buli, divertikel,

residu urine atau filling defect divesikula.


Ultrasonografi (USG), dapat dilakukan secara transabdominal atau
trasrektal (Trasrectal Ultrasound Scanning = TRUSS) adalah
pemeriksaan yang digunakan untuk menentukan lokasi kanker prostat
yang lebih akurat, mengukur besarnya volume prostat yang diduga
terkena kanker prostat, merupakan panduan klinisi untuk melakukan
biopsi prostat sehingga TRUSS juga sering dikatakan sebagai a

biopsy guidence.
Cystoscopy (sistoskopi) pemeriksaan dengan alat yang disebut dengan
cystoscop. Pemeriksaan ini untuk memberi gambaran kemungkinan
tumor dalam kandung kemih atau sumber perdarahan dari atas bila
darah datang dari muara ureter, atau batu radiolusen didalam vesika.
Selain itu dapat juga memberi keterangan mengenahi besarprostat
8

dengan mengukur panjang uretra pars prostatika dan melihat

penonjalan prostat kedalam uretra.


Endorectal Magnetic Resonance Imaging (MRI)
Axial Imaging (CT-MRI), pemeriksaan ini digunakan untuk melihat
apakah pasien penderita kanker prostat menderita metastase ke tulang
pelvis atau kelenjar limfe sehingga klinis bisa menetukan terapi yang
tepat bagi pasien. Namun perlu diingat juga bahwa pencitraan ini
cukup memakan biaya dan sensitivitasnya juga terbatas hanya sekitar
30 40% (Siregar, 2012).

8. Kateterisasi dengan mengukur rest urine Yaitu mengukur jumlah sisa


urine setelah miksi sepontan dengan cara kateterisasi . Sisa urine lebih dari
100 cc biasanya dianggap sebagai batas indikasi untuk melakukan
intervensi pada hipertropi prostat.
9. Pemeriksaan PSA : PSA adalah enzim proteolitik yang dihasilkan oleh
epitel kelenjar prostat dan berfungsi mengencerkan cairan ejakulasi untuk
memudahkan pergerakan sperma. Pada keadaan normal, hanya sedikit
PSA yang masuk ke dalam aliran darah. Namun, apabila terjadi infeksi
saluran kemih, BPH, kanker prostat maka kadar PSA dalam darah
meningkat.

Untuk

membedakan

apakah

peningkatan

kadar PSA

disebabkan oleh BPH atau kanker prostat, maka dianjurkan pemeriksaan


rasio free-PSAPSA total atau rasio c-PSAPSA total yang nilainya
bergantung pada umur penderita, terutama bagi mereka yang memiliki
kadar PSA totalnya antara 2,610 ng/ ml. Pasien yang memiliki kadar
PSA > 10ng/ml biasanya menderita kanker prostat.
10. Biopsi Prostat, merupakan gold standart untuk menegakkan diagnose
kanker prostat. Pemeriksaan biopsi prostat menggunakan panduan
transurectal ultrasound scanning (TRUSS) sebagai sebuah biopsi standar
(Jefferson & Natasha, 2009 dalam Siregar, 2012).
11. Metode AS (Active Surveillance), untuk menghindari over-diagnosa
maupun over-treatment dari kanker prostat, maka telah dilakukan riset
yang bernama START (Surveillance Therapy Against Radical Treatment),
yang dipimpin oleh Dr. Laurence Klotz (Chief Urologist dari Sunnybrook
Health

Sciences

Center,

Toronto,

Kanada). Metode

AS

(active
9

surveillance) adalah kondisi dimana pria dengan tanda-tanda pra kanker


prostat dan secara aktif melakukan pemantauan atas perkembangan
kankernya. Pasien ini tidak perlu menjalani pengobatan medis apa pun,
seperti operasi atau radioterapi selama parameter masih terkendali.
Namun, apabila terjadi peningkatan PSA, baru kemudian dilakukan
tindakan

medis.

Ciri-ciri pasien yang dapat melakukan metode AS antara lain sebagai


berikut :

Nilai PSA kurang atau sama dengan 10 ng/ml.


Biopsi menunjukkan low-volume cancer dengan nilai tes Gleason 6
atau

kurang

* Gleason score adalah pemeringkat kanker dari 2 sampai 10 yang


menunjukkan agresivitas kankernya. Semakin tinggi angka, maka

semakin agresif kankernya.


Pasien divonis mengidap kanker prostat grade antara T1c dan T2a.
* T1 dan T2 adalah stadium kanker paling rendah, yaitu ketika selsel kanker masih terbatas hanya ada di dalam kelenjar prostat.

Pasien yang mengikuti metode AS ini baru mendapat tindakan medis


seperti operasi atau radioterapi apabila nilai PSA meningkat drastis, hasil
biopsi menunjukkan peningkatkan volume kanker, atau pun keberadaan
sel-sel kanker yang lebih ganas. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa
pasien kanker prostat yang melakukan metode AS, sekitar 65%-nya akan
tetap berada pada kondisi kanker yang tidak mengganas.
2.7 STADIUM KANKER PROSTAT
Tabel Stadium Kanker Prostat
Stadium Keterangan
I

Sangat awal dan tanpa gejala; sel kanker terbatas pada


prostat
Sel kanker terbatas pada prostat, tapi terlihat jelas

II

(terdeteksi oleh pemeriksaan colok dubur dan/atau hasil


test PSA yang tinggi)

III

Sel-sel kanker ditemukan di luar kantung prostat (membran

10

yang menutupi prostat); menyebar terbatas pada jaringan


sekitarnya dan/atau vesikula seminalis (kelenjar yang
memproduksi cairan mani)
Sel-sel kanker telah menyebar (metastasis) ke kelenjar
IV

getah bening regional, tulang, ataupun organ jauh


(misalnya, hati, paru-paru)

2.8 PENANGANAN KANKER PROSTAT


Penangangan kanker prostat di tentukan berdasarkan penyakitnya apakah
kanker prostat tersebut terlokalisasi, penyakit kekambuhan atau sudah
mengalami metastase. Hingga saat ini pengobatan yang tepat untuk penderita
kanker prostat masih diperdebatkan. Secara umum, pilihan pengobatan
penderita kanker prostat tergantung pada stadium kankernya.
1. Kanker prostat stadium awal biasanya dilakukan

prostatektomi

(pengangkatan prostat) dan terapi penyinaran.


2. Kanker yang telah menyebar biasanya dilakukan terapi hormon,
pengangkatan testis, atau kemoterapi.
Berikut ini beberapa pengobatan yang biasa dilakukan untuk penderita kanker
prostat:

PEMBEDAHAN untuk KANKER PROSTAT


Salah satu jenis pembedahan yang biasa dilakukan adalah prostatektomi

radikal. Prostatektomi radikal adalah operasi yang dilakukan untuk mengobati


kanker prostat. Cara ini paling sering digunakan untuk kanker yang belum
menyebar ke luar kelenjar prostat. Dalam operasi ini, ahli bedah melakukan
pengangkatan seluruh kelenjar prostat disertai beberapa jaringan di
sekitarnya, termasuk vesikula seminalis. Berikut ini jenis-jenis prostatektomi
radikal :
1. Prostatektomi Radikal Retropubik : pendekatan pengobatan yang paling
umum dengan cara dibuat sayatan di bagian bawah perut. Dokter akan
mengangkat sedikit kelenjar getah bening dekat prostat dan diteliti di
bawah mikroskop. Jika kanker telah menyebar ke getah bening, maka
11

dokter mungkin menghentikan operasi. Perlu diketahui bahwa saraf


pengendali ereksi sangat dekat dengan prostat. Sebisa mungkin dokter
akan menghindari pengangkatan saraf ini untuk menghindari risiko
impotensi setelah operasi (disebut prosedur nerve-sparing). Namun, jika
kanker telah menyebar, dokter harus mengangkatnya. Bahkan jika saraf
terhindar, diperlukan setidaknya waktu beberapa bulan setelah operasi
untuk dapat ereksi.
2. Pendekatan Radikal Perineal : dalam pendekatan perineal, ahli bedah
membuat irisan pada kulit antara anus dan skrotum. Karena operasi ini
seringkali lebih pendek, mungkin akan digunakan untuk laki-laki yang
tidak memerlukan prosedur nerve-sparing dan yang tidak perlu melakukan
pengangkatan kelenjar getah bening.
3. Laparoskopi Radikal Prostatektomi (LRP) : bila kedua pendekatan di
atas, retropubik atau pun perineal seorang dokter perlu membuat sayatan
panjang untuk mengangkat prostat (open approach), maka pada metode
LRP merupakan sebuah metode baru yang melibatkan pembuatan
beberapa sayatan kecil dan penggunaan instrumen khusus yang panjang
untuk menghapus prostat. Keunggulan metode LRP adalah rasa sakit
berkurang, pasien tidak terlalu banyak kehilangan darah, periode rawat
inap yang lebih singkat, serta waktu pemulihan lebih cepat. Prosedur
nerve-sparing juga dimungkinkan dengan LRP.
4. Robotic Assisted Laparoskopi Radikal Prostatektomi (RoboticAssisted
LRP)
Robotic Assisted LRP adalah pendekatan baru yang lebih canggih adalah
penggunaan robot untuk melakukan operasi LRP. Yang dibutuhkan disini
adalah keterampilan dan pengalaman dokter bedah Anda.
5. Reseksi Transurethral Prostat (TURP)
Merupakan prosedur yang dilakukan untuk mengurangi gejala, seperti
sulitnya mengalirkan urine pada pria yang tidak dapat menjalani operasi di
atas. Hal ini tidak dilakukan untuk menyembuhkan penyakit atau
mengangkat kankernya. Operasi ini lebih sering digunakan untuk
meredakan gejala PIN. Operasi TURP memakan waktu sekitar satu jam.

12

Anda biasanya dapat meninggalkan rumah sakit setelah 12 hari dan


dapat bekerja kembali dalam waktu 12 minggu.

RADIOTERAPI untuk KANKER PROSTAT

Radiasi sinar eksternal untuk membunuh sel kanker dapat digunakan sebagai
pengobatan pertama atau setelah operasi kanker prostat. Hal ini juga dapat
membantu meredakan nyeri tulang dari penyebaran kanker. Dalam
brakiterapi, pelet radioaktif kecil seukuran sebutir beras yang dimasukkan ke
dalam prostat. Kedua metode dapat mengganggu fungsi ereksi. Kelelahan,
masalah kencing, dan diare adalah kemungkinan efek samping lainnya.
Apabila risiko pembedahan terlalu tinggi, biasanya dilakukan radioterapi.
Jenis radioterapi yang biasa dilakukan dapat berupa.
1. Radioterapi eksternal, merupakan radioterapi yang dilakukan di rumah
sakit secara rawat jalan. Biasanya dilakukan sebanyak lima kali seminggu
selama 68 minggu.
2. Pencangkokan butiran yodium, emas, atau iridium radioaktif secara
langsung pada jaringan prostat. Keuntungan terapi ini adalah efek radiasi
terhadap kerusakan jaringan di sekitar jaringan prostat menjadi minimal

TERAPI HORMON untuk KANKER PROSTAT

Tujuan dari terapi hormon (disebut juga terapi penekanan androgen) adalah
untuk menurunkan kadar hormon pria (androgen). Androgen, yang sebagian
besar dibuat di testis, menyebabkan berkembangnya sel-sel kanker prostat.
Menurunkan kadar androgen sering membuat kanker prostat mengecil atau
tumbuh lebih lambat. Terapi hormon dapat mengontrol, tetapi tidak dapat
menyembuhkan kankernya. Terapi hormon sering digunakan dalam
pengobatan kanker prostat apabila :
1. Pria yang tidak memilih pembedahan atau pun radiasi untuk pengobatan
kankernya.
2. Kasus dimana kanker telah menyebar ke organ lain atau pada kasus kanker
kambuhan.
3. Pria yang memiliki risiko tinggi untuk mengalami kekambuhan biasanya
bersamaan dengan radioterapi.

13

4. Kadang digunakan sebelum tindakan dilakukan pembedahan atau


radioterapi dengan tujuan untuk mengecilkan kankernya.
Contoh obat-obatan terapi hormon untuk kanker prostat antara lain leuprolide,
goserelin, dan buserelin. Obat tersebut diberikan dalam bentuk suntikan setiap
3 bulan sekali. Efek sampingnya adalah mual dan muntah, anemia,
osteoporosis, dan impotensi. Obat lainnya yang digunakan sebagai terapi
hormon adalah zat yang menghambat aktivitas androgen (misalnya flutamide
atau nilutamide). Efek sampingnya adalah impotensi, gangguan hati, diare,
dan ginekomastia (pembesaran payudara). Selain itu, ada obat yang mencegah
kelenjar adrenalin untuk membuat androgen, antara lain ketoconazole dan
aminoglutethimide.

KEMOTERAPI untuk KANKER PROSTAT


Kemoterapi membunuh sel-sel kanker di seluruh tubuh, termasuk yang di

luar prostat, sehingga digunakan untuk mengobati kanker lebih parah dan
kanker yang tidak dapat disembuhkan dengan terapi hormon. Pengobatan
biasanya intravena dan diberikan dalam siklus berlangsung 3-6 bulan. Karena
kemoterapi membunuh sel-sel lain dalam tubuh, yang tumbuh dengan cepat,
Anda mungkin memiliki rambut rontok dan sariawan. Efek samping lain
meliputi mual, muntah, dan kelelahan. Tindakan kemoterapi pada pengobatan
kanker prostat biasanya dilakukan apabila kanker tersebut bersifat resisten
terhadap terapi pengobatan lainnya. Obat-obatan yang biasa dilakukan untuk
mengobati kanker prostat diantaranya, mitoxantronx, prednison, paclitaxel,
dosetaxel, estramustin, dan adriamycin.

CRYOTHERAPY untuk KANKER PROSTAT


Cryotherapy membekukan dan membunuh sel-sel kanker dalam prostat

(seperti sel-sel yang sangat diperbesar ditampilkan di sini.) Hal ini tidak
banyak digunakan karena sedikit yang diketahui tentang efektivitas jangka
panjang nya. Itu kurang invasif daripada operasi, dengan waktu pemulihan
lebih pendek. Karena kerusakan saraf beku, sebanyak 80% laki-laki menjadi
impoten setelah cryosurgery. Dapat menjadi sakit sementara dan sensasi
terbakar di kandung kemih dan usus.
14

VAKSIN untuk KANKER PROSTAT


Vaksin ini dirancang untuk mengobati, bukan mencegah, kanker prostat

dengan memacu sistem kekebalan tubuh Anda untuk menyerang sel-sel kanker
prostat. Sel kekebalan akan diambil dari darah Anda, diaktifkan untuk
melawan kanker, dan ditanamkan kembali ke dalam darah Anda. Tiga siklus
terjadi dalam bersamaan. Ini digunakan untuk kanker prostat ganas yang tidak
lagi merespon terapi hormon. Efek samping ringan dapat terjadi seperti
kelelahan, mual, dan demam (Manajemen Modern dan Kesehatan Masyarakat,
2010).
2.9 PENCEGAHAN KANKER PROSTAT
1. Minum air putih 8 sampai 12 gelas setiap hari. Air putih membantu tubuh
memperlancar pembuangan air kecil (urination) sehingga saluran kemih
tetap bersih.
2. Minum jus delima sebagai asupan tambahan harian, Selain dapat
mencegah, jus delima juga dapat menyembuhkan kanker prostat. Minum 8
0z jus delima setiap hari dapat menurunkan tingkat PSA pria penderita
kanker prostat.
3. Lakukan diet sehat kanker prostat. Hindari mengkonsumsi daging merah,
dari penelitian diketahui bahwa ada korelasi yang kuat antara konsumsi
daging merah dengan kanker prostat. Konsumsilah makanan sereal seperti
gandum, oat dan dedak untuk mempertahankan asupan protein yang
berkualitas di dalam tubuh.
4. Makan banyak sayuran seperti brokoli, kubis brussel, kol, dan kembang
kol. Jenis buah-buahan tertentu dapat menurunkan resiko kanker prostat
seperti apel, buah beri, melon dan semangka yang mengandung banyak
fruktosa yang merupakan makanan pencegah kanker prostat. Tomat juga
terbukti dapat menyembuhkan gangguan-gangguan pada prostat karena
mengandung zat lycopene yang dapat mencegah kanker prostat dan
mengecilkan ukuran tumor prostat.
5. Tingkatkan asupan zinc. Kelenjar prostat menggunakan seng lebih banyak
daripada bagian tubuh lainnya. Seng mengubah metabolisme hormon

15

steroid, sehingga mengurangi pembesaran prostat. Konsumsilah minyak


gandum dan biji labu kaya yang kaya mineral seng.
6. Perbanyak konsumsi vitamin yang dapat menyehatkan prostat seperti
vitamin D dan vitamin E yang merupakan antioksidan yang dapat
menghambat pertumbuhan kanker.
7. Konsumsilah makanan pelindung prostat dalam diet anda seperti kedelai
dan bawang putih. Kedelai mengandung genisten yang diyakini dapat
menghambat pertumbuhan kanker. Bawang putih memiliki senyawa yang
mengandung sulfur yang membantu melawan kanker.

16

BAB III
KASUS
3,1

PENGKAJIAN

Waktu

: 30 April 2015

Tempat

: Ruang OK GBPT Rumah Sakit Umum Daerah Dr.

Soetomo Surabaya .
1. IDENTITAS PASIEN
Nama

: Tn. R

Umur

: 54 Tahun

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Suku/Bangsa

: Jawa/Indonesia.

Agama

: Katolik.

Pekerjaan

: PNS

Pendidikan

:S1

Alamat

: Pemda II R 5 Kotaraja Jayapura Papua.

Tanggal MRS

: 29 April 2002.

Cara Masuk

: Lewat Poliklinik RSUD Dr. Soetomo Surabaya

Diagnosa Medis

: Benigne Prostat Hyperplasia Grade II

Alasan Dirawat

: Akan dioperasi/tidak dapat buang air kecil

Keluhan Utama

: Sulit buang air kecil

2. RIWAYAT KEPERAWATAN (NURSING HISTORY)


a. Riwayat Penyakit Sekarang
Karena susah buang air kecil sejak 2 minggu yang lalu kemudian berobat
ke poliklinik di Rumah Sakit Jayapura, dilakukan pemeriksaan ternyata
ditemukan pembesaran prostat kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Umum
Daerah dr Soetomo Surabaya untuk menunggu rencana operasi tanggal
30 April 2002.
b. Riwayat Penyakit Dahulu

17

Klien sebelumnua tidak pernah mengalami kelainan seperti yang


dideritanya sekarang ini. Hipertensi (+). DM (-), Sesak (-), Asma (-).
c. Riwayat Kesehatan Keluarga
Klien mengatakan bahwa tidak ada keluarganya yang mengalami
penyakit seperti yang dideritanya sekarang ini
d. Keadaan Kesehatan Lingkungan
Klien mengatakan bahwa Lingkungan rumah tempat tinggal cukup bersih
f. Riwayat Kesehatan Lainnya
Alat bantu yang dipakai Kaca mata
3. OBSERVASI DAN PEMERIKSAAN FISIK
1)

Keadaan Umum : baik

2)

Tanda-tanda vital

3)

Suhu
Nadi
Tekanan darah
Respirasi

: 36 0C
: 92 X/menit. Kuat dan teratur
: 130/90 mmHg.
: 16 x/menit

Body Systems :

Pernafasan (B 1 : Breathing) : Frekuensi napas 16 x/menit, Irama teratur,


tidak terlihat gerakan cuping hidung, tidak terlihat Cyanosis, tidak terlihat

keringat pada dahi, hasil thorax foto : Tidak didapatkan kelainan (normal).
Cardiovascular (B 2 : Bleeding) : Nadi 92 X/menit kuat dan teratur,
tekanan darah 130/90 mmHg, Suhu 36 0C, perfusi hangat. Cor S1 S2
tunggal reguler, ekstra sistole/murmur tidak ada. Hasil ECG : Tidak

didapatkan kelainan (normal).


Persyarafan (B 3 : Brain)
- Tingkat kesadaran (GCS) Membuka mata : Spontan (4)
- Verbal : Orientasi baik (5)
- Motorik : Menurut perintah (6)
- Compos Mentis : Pasien sadar baik
Perkemihan-Eliminasi Uri (B.4 : Bladder) : Jumlah urine 2000 cc/24
jam, warna urine kuning pekat. Genital Hygiene cukup bersih. Hasil BOF :
Tidak didapatkan kelainan (normal).

18

Pencernaan-Eliminasi Alvi (B 5 : Bowel) : Peristaltik normal, tidak


kembung, tidak terdapat obstipasi maupun diare, klien buang air besar 1

X/hari
Tulang-Otot-Integumen (B 6 : Bone) :Tidak terdapat kontraktur maupun
dikubitus. Hasil BOF : Tidak didapatkan kelainan (normal).

Head To Toe
a. Kepala : bentuk normal, ukuran normal, posisi simetris, kulit kepala bersih
b. Rambut
: kebersihan cukup
c. Mata : sklera tak icteric, konjunctiva tak anemis, pupil isokor, refleks
cahaya ada, tidak memakai alat bantu
d. Hidung
: tidak ada benda asing, tidak epistaksis, tidak ada polip,
e. Telinga: tidak ada kelainan.
f. Mulut dan gigi: bibir kering, agak kering mukosa mulut stomatatitis tidak,
g.
h.
i.
j.
k.
l.
m.

peradangan faring tidak


Leher : Tak ada pembesaran kelenjar getah bening, tak ada kaku kuduk
Thorax : pernafasan dada, simetris, Ronchi & whezing tidak ada
Abdomen
: asites tidak ada, umbilikus datar,
Genetalia
: bersih
Anus : bersih, Bab. terakhir tgl. 30 04-2002
Extremitas
: atas dan bawah tak ada kelainan
Integumen
: keadaan kulit bersih, tonus baik, turgor baik, akral hangat.

Pola aktivitas sehari-hari


1. Pola Persepsi Dan Tata Laksana Hidup Sehatan : Klien jarang
menggunakan fasilitas pelayanan kesehatan, kecuali bila sangat terpaksa
Klien terbiasa meminum jamu-jamuan dan obat-obat tradisional.
2. Pola Nutrisi dan Metabolisme : Klien dirumah biasa makan 3 X/hari
dengan lauk yang cukup.Klien tidak alergi makanan tertentu. Saat ini klien
selalu menghabiskan porsi makanan yang diberikan dan minum air putih
sekitar 2 3 liter perhari.
3. Pola Eliminasi : Klien buang air besar 1 X/hari. Klien buang air kecil saat
ini dengan menggunakan polly kateter, Jumlah urine 1200 cc/24 jam,
warna urine kuning pekat.
4. Pola tidur.dan Istirahat : Klien kurang tidur baik pada waktu siang
maupun malam hari. Klien tampak terganggu dengan kondisi ruang
perawatan yang ramai.

19

5. Pola Aktivitas dan latihan : Klien biasanya bekerja diluar rumah, tapi
saat ini klien hanya beristirahat di Rumah Sakit sambil menunggu rencana
operasi.
6. Pola Hubungan dan Peran : Hubungan dengan keluarga, teman kerja
maupun masyarakat di sekitar tempat tinggalnya biasa sangat baik dan
akrab.
7. Pola Sensori dan Kognitif : Klien mampu melihat dan mendengar dengan
baik, klien tidak mengalami disorientasi.
8. Pola Persepsi Dan Konsep Diri : Klien mengalami cemas karena
Kurangnya pengetahuan tentang sifat penyakit, pemeriksaan diagnostik
dan tujuan tindakan yang diprogramkan.
9. Pola Seksual dan Reproduksi : Selama dirawat Klien tidak dapat
melakukan hubungan seksual seperti biasanya.
10. Pola mekanisme/Penanggulangan Stress dan koping : Klien merasa
sedikit stress menghadapi tindakan operasi. karena kurangnya pengetahuan
tentang Type pembedahan dan Jenis anesthesi.
11. Pola Tata Nilai dan Kepercayaan : Terpasangnya kateter memerlukan
adaptasi klien dalam menjalankan ibadahnya.
Personal Higiene
Kebiasaan di rumah klien mandi 2 X/hari, gosok gigi 2 X/hari, dan cuci
rambut 1 X/minggu.

Ketergantungan
Klien tidak perokok, tidak minum-minuman yang mengandung alkohol.
Aspek Psikologis
Klien terkesan takut akan penyakitnya, merasa terasing dan sedikit stress
menghadapi tindakan operasi.
Aspek Sosial/Interaksi

20

Hubungan dengan keluarga, teman kerja maupun masyarakat di sekitar


tempat tinggalnya biasa sangat baik dan akrab. Saat ini klien terputus dengan
dunia luar, kehilangan pencari nafkah (bagi keluarganya), biaya mahal.
Aspek Spiritual
Klien dan keluarganya sejak kecil memeluk agama katolik, ajaran agama
dijalankan setiap saat. Klien sangat aktif menjalankan ibadah dan aktif
mengikuti kegiatan agama yang diselenggarakan oleh gereja di sekitar rumah
tempat tinggalnya maupun oleh masyarakat setempat.
Saat ini klien merasa tergangguan pemenuhan kebutuhan spiritual
3. DIAGNOSTIC TEST
Laboratoriun
Darah lengkap:
-

HCT
: 40,6
(L 40 47
P 38 42)%
Hb
:14,6 mg/dl (L 13,5 18,0 P 11,5 16,0 mg/dl)
LED
: 29 52
(L 0 15/jam P 0 20/jam
Leukosit
: 7.720
Gula darah 4000 11.000
Glukosa Puasa
: 108 mg/dl ( 126 mg/dl)
Glukosa 2 jam pp : 128 mg/dl ( 140 mg/dl)

Faal Hati
-

Bilirubin Direk

: 0,21

( 0,25)

Bilirubin Total

: 1,08

( 1,00)

SGOT

: 18,4

(L < 37 P < 31)

U/L

SGPT

: 10,7

(L < 40 P < 31)

U/L

Faal Ginjal
-

Ureum/BUN

: 8,8

mg/dl (10 45)

Serum Creatinin

: 1,48 mg/dl (L : 0,9 1,5 P : 0,7

1,3)
Elektrolit
-

Natrium

: 137,8 mmol/l (135 145 mmol/l)


21

Kalium

: 4,27 mmol/l (3,5 5,5 mmol/l)

22

2.2 PRE-OPERATIF
ANALISA DATA
Nama Klien : Tn. R
Ruang

: OK GBPT LT 4

Register

: 10157280

No. Data
Penyebab
S. DS : Klien mengatakan semalam
Situasi/lngkungan operasi

Masalah
Ansietas

saya tidur sering terbangun ,


saya membayangkan bagaimana
operasi nanti, klien bertanya di

Stressor

ruang premedikasi apakah ini


ruang operasinya, dimana ruang
operasinya, berapa lama saya

Hypothalamus
(adrena,pituitary)

dioperasi
Medulla Adrenal
O. DO : Klien kelihatan tegang saat
diruang premedikasi, TD :
130/90 mmHg, nadi 92 x/menit,

Peningkatan adrenalin, histamine,


katekolamin

RR: 16 x/menit
Peningkatan nadi, tekanan darah,
palpitasi
Ansietas/takut

Diagnosa Keperawatan
Cemas berhubungan dengan situasi/lingkungan ruang premedikasi dan operasi,
ditandai dengan klien mengatakan tidur malam sering terbangun membayangkan operasi,
klien kelihatan tegang, bertanya saat di ruang premedikasi apakah ini ruang operasinya

23

dimana kamar operasinya, berapa lama saya dioperasi. Nadi 92 x/menit, tekanan darah
130/90 mmHg. RR. 16 x/menit.

24

RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN


Nama Klien : Tn. R
Ruang

: OK GBPT LT 4

No. Register: 10157280


Diagnosa Keperawatan
Cemas berhubungan dengan

Tujuan dan Kriteria Hasil


Klien menunjukan rasa cemas

situasi/lingkungan ruang

berkurang dalam waktu 30 menit

premedikasi dan operasi,

sebelum operasi dengan kriteria :

ditandai dengan klien

Klien mampu

mengatakan tidur malam

mengungkapkan pasrah

sering terbangun

kepada Tuhan YME.


Klien mampu

membayangkan operasi,

Intervensi
1. Mandiri :
2. Beri penjelasan dengan
singkat dan jelas tentang
ruang premedikasi dan OK.
3. Kaji tingkat kecemasan
klien.
4. Berikan penetraman hati dan

klien kelihatan tegang,

mengungkapkan siap di

tindakan kenyamanan:
a. Temani klien selama

bertanya saat di ruang

operasi.
Klien dapat beradaptasi

di ruang premedikasi
b. Berikan kesempatan

premedikasi apakah ini ruang

operasinya dimana kamar


operasinya, berapa lama saya
dioperasi. Nadi 92 x/menit,

saat di ruang premedikasi

pada klien

maupun di OK.
Ekspresi wajah rileks
Tanda-tanda vital stabil

mengungkapkan

tekanan darah 130/90 mmHg.

(TD 120/80 mmHg, Nadi

RR. 16 x/menit.

60-100X/menit, RR: 1620X/menit)

perasaannya
c. Kenalkan kembali
pada kenyataan yang
ada
5. Kurangi stimulus sensori

Rasional
Dengan penjelasan
diharapkan klien dapat
mengerti
Tingkat kecemasan sebagai
dasar perencanaan perawatan

Mengurangi rasa takut


Eksplorasi perasaan dapat
mengurangi ketegangan
Suport untuk koping yang
positip
Mengurangi ketegangan
25

a. Berikan ketenangan
b. Gunakan kalimat

Menenangkan jiwa
Mengurangi kebingungan

pendek dan
sederhana
c. Berikan petunjuk
singkat.
d. Pusatkan pada saat
ini dan disini.

Mengurangi kebingungan
Penyelesaian terfokus
diharapkan mengurangi
kecemasan
Mengurangi

6. Ajak klien untuk


mengadakan pendekatan

ketakutan/kecemasan.upaya
menenangkan jiwa.

spritual sesuai dengan


kemampuan dan situasi
7. Perjelas informasi dokter
tentang rencana tindakan

Harapan klien sesuai dengan


kenyataan dan tidak
menimbulkan kekecewaan.

operasi dan kemungkinankemungkinannya.


8. Orientasikan klien pada

Mengurangi kecemasan

ruang operasi dan


peralatannya.
9. Minimalkan keributan dan
lalu-lalang di ruang
premedikasi &OK.
10. Tinggalah dengan pasien

Mengurangi kecemasan.
Mengurangi kecemasan.
Mengurangi kecemasan
26

selama induksi
11. Tunjukan perhatian dan

Mengurangi kecemasan

sikap mendukung
12. Tetap matikan lampu sampai
pasien tertidur
13. Catat respon yang tak

Mengurangi ketegangan

terduga
14. Kolaborasi, pemberian
premedikasi: Morfin 5 mg.
Dormicum 2,5 mg. SA. 0,25
mg. IM

27

TINDAKAN DAN EVALUASI PREOPERASI


Nama Klien : Tn. R
Ruang

: OK GBPT LT 4

No. Register: 10157280


Diagnosa Keperawatan
Tanggal/Hari/Jam
Cemas
30-04-2002
Jam
07.30

Implementasi

Tanggal/hari/jam

Evaluasi

1. Memberikan penjelasan tentang ruang

Selasa, 30-04-2002 S : Klien mengatakan siap untuk

premedikasi dan OK
2. Mengkaji tingkat kecemasan klien
3. Memberi kesempatan untuk mengungkapkan

Jam 08.05

perasaannya
4. Menemani klien di ruang premedikasi
5. Menjelaskan keadaan , tempat sekarang
6. Mengajak klien untuk mendekatkan diri
kepada Tuhan YME, dengan cara berdoa dan
pasrah.
7. Memperjelas penjelasan dokter tentang rencana
pengangkatan batu pada ginjal kanannya
8. Mengukur tanda-tanda vital : nadi, 92X/menit,

dilakukan operasi, pasrah dan


menyerahkan sepenuhnya pada Tuhan,
klien tahu ruang persiapan untuk operasi
O : wajah tenang, Nadi 88X/menit, RR,
16X/menit, Tekanan Darah 120/90
mmHg.
A : Cemas berkurang
P : Rencana No. 7, 9,10,11 dan 12
dilanjutkan di ruang OK, sampai pasien
diinduksi.

RR. 16X/menit
9. Memasang sketzel agar tenang, meminimalkan
melihat kesibukan pasien lain
10. Memberikan obat premedikasi sesuai dengan
28

catatan di status: Morfin 5 mg, Dormicum 2,5


08.00

mg, SA. 0,25 mg.

29

2.3

INTRA-OPERATIF

Pengkajian Intra Operatif


Jenis Operasi

: TUR P

Tanggal

: 30 April 2002

Pre Medikasi

: Sudah diberikan: Morfin5 mg, Dormicum 2,5 mg, SA. 0,25


mgIM.

Jenis Anestesi

: General Anestesi

Golongan Operasi

: Besar

Ronde

:I

Urgensi Operasi

: Elektif

Waktu Operasi

Operator

: Dr. ...

Persiapan Operasi
Linen Set, terdiri dari :
1.
2.
3.
4.

Doek Besar berlubang


Doek kecil
Baju Operasi
Sarung penutup meja instrumen

: 1 buah
: 6 buah
: 1 buah
: 1 buah.

Alat Operasi Set Dasar Endourologi, terdiri dari :


1.
2.
3.
4.

Doek klem 2 buah


Desinfeksi klem
sarung tangan/Globe 2 pasang
Mangkok kecil 2 buah, satu untuk larutan desinfektan, mangkok yang kedua diisi

larutan campuran lidocain dan jelly.


5. Kocker 1 buah untuk mengambil chips di luar elik.
6. Saringan air untuk menyaring chips
7. cairan irigan : aquades dan glisin.
8. Kasa secukupnya
9. Spuit 20 cc/Syringe uretra.
10. Katheter Three Way 24 F.
11. Infus set (Blood Tranfustion Set)
12. Jelly steril
Penunjang yang lain
1. Tempat sampah
2. Tempat penampung air.
3. Standart infus.
30

4. Standart irigan.
5. Diatermie elektrode.
Teknik Pelaksanaan Trans Urethral Resection Prostatic :
1. Pasang foto-foto pada light box.
2. Setelah dilakukan anestesi regional atau general klien diletakkan dalam posisi
lithotomi.
3. Dilakukan desinfeksi dengan povidone jodine di daerah penis scrotum dan sebagian
dari kedua paha, perut sebatas umbilikus.
4. Persempit lapangan operasi dengan memasang sarung kaki dan doek kecil di bawah
scrotum, doek besar berlubang sehingga penis dan perut kelihatan.
5. Kabel fiber optik di pasang pada cold light fountin standar dan slang irigasi pada
resevoir/tabung air atau pada glisin.
6. Dilatasi uretra dengan bougie roser dari 21 sampai 29 F.
7. Seath 24 F atau 27 F dengan obturator dimasukkan lewat uretra sampai masuk bulibuli.
8. Evaluasi buli-buli apakah ada tumor, batu dan vertikel buli.
9. Working elemen ditarik keluar untuk mengevaluasi prostat (panjangnya prostat yang
menutupi uretra dan leher buli).
10. Selanjutnya dilakukan reseksi prostat sambil merawat perdarahan.
11. Waktu reseksi paling lama 60 menit (bila menggunakan irigan aquades). Dan waktu
bisa lebih lama bila menggunakan irigan glisin. Hal ini untuk menghindari terjadinya
Sindroma TUR.
12. Chips prostat dikeluarkan dengan menggunakan elik evakuator sampai bersih,
selanjutnya dilakukan perawatan perdarahan.
13. Kateter Tree Way disiapkan no 24 F tetapi sebelum dipasang balon kateter diisi air 30
40 cc untuk mengetahui balon kateter bocor atau tidak.
14. Setelah selesai kateter Tree Way no 24 F terpasang, balon kateter diisi 30 sampai 40
cc kemudian dilakukan traksi kateter pada paha klien dengan menggunakan plaster.
15. Dipasang Spoel Natrium Klorida (PZ) atau Aquades pada kateter Tree Way dengan
menggunakan slang infus (blood tranfution set) dan bag urine.
16. Posisi klien dikembalikan pada posisi semula (sebelum posisi lithotomi).
17. Chips prostat ditimbang untuk mengetahui berat prostat tersebut.
18. Alat sistoskopi dan endourologi dibereskan
19. Klien dirapihkan, dipindahkan ke ruang pemulihan anestesi.lantai III
Data tambahan lain

: Klien puasa sudah kurang lebih 9 jam, tanda-tanda vital pada monitor

: RR.20X/menit, Nadi 104X/menit, tekanan darah. 110/80 mmHg, perdarahan selama operasi.
200CC., produksi urine: selama operasi 1300CC.

31

Analisa Data Intra Operatif


Nama Klien : Tn. Robertus
Ruang : OK
No. Data
1 S : tak terkaji, klien dalam

Penyebab
Tindakan operasi

pembiusan
O : Klien dilakukan operasi

Masalah
Resiko terjadi cedera
(corpus alienum)

Membuka jaringan

menggunakan instrumen dasar


ditambah instrumen operasi
TUR P

Menggunakan alat-alat
instrument & perlengkapan lain
Resiko tertinggal/cedera

S : Tak terkaji
O : Perdarahan 200 CC, pasien

Perdarahan selama operasi & Resiko kekurangan


puasa

cairan

puasa kurang lebih 9 jam,


Tekanan darah 110/80 mmHg,
nadi 104 x/menit, RR 20
3.

x/menit
S : Tak terkaji

Pemasangan alat diatermi

O : Klien menggunakan alat

Resiko cedera luka


bakar

diatermi di pasang pada


daerah betis.

Aliran listrik

Permukaan tubuh

4. S : Tak terkaji

Cedera luka bakar


Intubasi

Resiko aspirasi

O : Narkose dihentikan Klien


dilakukan ekstubasi, terdapat

Peningkatan sekresi sekunder

banyak lendir.
Prioritas dan Diagnosa Keperawatan
32

1. Resiko terjadi cedera (corpus alienum) berhubungan dengan penggunaan instrumen


dan pelengkapan lain selama operasi TUR P.
2. Resiko terjadi kekurangan cairan berhubungan dengan pasien puasa kurang lebih 9
jam, perdarahan selama operasi kurang lebih 200cc. Produksi urine 1300cc (selama
operasi)
3. Resiko terjadi cedera luka bakar berhubungan dengan penggunaan alat diatermi
selama operasi TUR P.
4. Resiko terjadi aspirasi berhubungan dengan peningkatan sekresi sekunder terhadap

intubasi

33

RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN INTRA OPERATIF


Nama Klien : Tn. R
Ruang

: OK GBPT LT 4

Reg.

: ...

No Diagnosa
Tujuan - Kriteria Hasil
1. Resiko terjadi cedera Klien tidak mengalami
(corpus alienum)

cedera (corpus alienum)

berhubungan dengan selama tindakan operatif.


penggunaan

Kriteria Hasil :

imstrumen dan

Jumlah, jenis, bentuk alat

perlengkapan lain

sesuai dengan persiapan

selama operasi TURP. sebelum dilakukan


operasi.

Intervensi
Rasional
1. Hitung dan amati perlengkapan alat-alat instrumen,
Mengetahui jumlah,
kain kasa, depers sedang, depers kacang, jarum dan

bentuk dan kualitas alat

benang, kateter ureter, kateter nelaton dan

yang digunakan untuk

perlengkapan lain, sebelum operasi dimulai


2. Atur alat-alat secukupnya pada meja instrumen

operasi.
Meminimalkan cedera

sesuai dengan urutan kerja pelaksanaan operasi


TUR P.
3. Simpan kain kasa atau alat yang yang sudah tidak
digunakan lagi pada tempat yang telah tersedia.
4. Kalau perlu minta bantuan perawat umloop
(sirkulasi) untuk mencatat alat atau bahan yang

sekaligus memudahkan

cara kerja.
Memudahkan

menghitung.
Menghindarkan
tertinggalnya

dipakai dalam tubuh pasien saat operasi


berlangsung
5. Hitung kembali perlengkapan alat, amati bentuk
2. Resiko terjadi
kekurangan cairan

Risiko kekurangan cairan


tidak terjadi.

sesudah operasi selesai.


1. Kaji perubahan tanda vital melalui monitor.
2. Kaji turgor kulit, kelembaban membran mukosa

alat./bahan.
Koreksi ulang.

Deteksi perubahan tanda

vital
Evaluasi/observasi
34

berhubungan dengan kriteria Hasil :


pasien puasa kurang - Turgor kulit baik
lebih 9 jam,

- Membra mukosa

perdarahan selama

lembab.

operasi 200cc

- Tanda vital stabil (RR:

(bibir dan lidah)


3. Pantau masukan dan haluaran, catat warna dan
karakter urine.
4. Berikan cairan RL 20 tetes/menit sesuai dengan

kekurangan cairan
Menjaga keseimbangan
Menjaga keseimbangan
cairan

program dr. anestesi..

16-20X/menit, Nadi: 60100 X /menit, tekanan


darah 120/80 mmHg)
3 Resiko terjadi cedera Klien tidak mengalami
luka bakar

cedera luka bakar dengan

berhubungan dengan Kriteria Hasil :


penggunaan alat

Jaringan kulit yang

diatermi pada betis.

tertempel plat diatermi


tidak terbakar

4 Resiko terjadi aspirasi Klien tidak mengalami


berhubungan dengan aspirasi.
peningkatan sekresi

Kriteria Hasil :

terhadap sekunder

Bunyi nafas terdengar

intubasi.

bersih.
Ronchi tidak terdengar
Tracheal tube bebas

1. Pastikan bahwa alat diatermi dapat berfungsi


dengan baik, (cek & recek)
2. Tentukan daerah bagian tubuh yang akan
dipasang diatermi
3. Pastikan aliran darah jangan sampai terganggu.
4. Hindari cairan membasahi lokasi diaterm
5. Observasi alat diatermi 10-15 menit sekali.
6. Lepaskan perhiasan dari loga dan bahan dari
1.
2.
3.
a.

nilon.
Auskultasi suara napas
Observasi tanda vital
Lakukan penghisapan dengan cara :
Perhatikan tehnik aseptik, gunakan sarung

tangan steril, kateter penghisap steril


b. Berikan oksigenasi dengan O2 100%, sebelum

Menghindari cedera
Pemasangan yang tepat,
dapat berfungsi dengan

baik
Cairan sebagai salah
asatu bahan penghantar

listrik
Penghantar arus listrik
Data dasar dalam

intervensi
Mencegah infeksi

nosokomial.
Memberi cadangan O2,

dilakukan penghisapan dan minimal

untuk menghindari

penghisapan 4 - 5X.

hipoksia.
35

hambatan.

c. Masukan kateter kedalam slang endotracheal

tube dalam keadaan tidak menghisap (ditekuk)

Aspirasi lama dapat


menimbulkan hipoksia

lama penghisapan tidak lebih dari 10 detik.


d. Atur tekanan penghisap tidak lebih dari 100-120

karena tindakan

mmHg.
e. Lakukan penghisapan berulang-ulang sampai

mengeluarkan sekret

suara nafas bersih. Lepaskan endotracheal tube


dengan mengempiskan balon terlebih dahulu
f. Kalau perlu lakukan suction kembali. 10 - 15
menit sekali

penghisapan akan

dan O2.
Tekanan negatif yang
berlebihan dapat
merusak mukosa jalan
nafas, Menjamin
kefektifan jalan nafas.

36

TINDAKAN DAN EVALUASI INTRA OPERATIF


Nama Klien : Tn. Robertus
Ruang

: OK

Diagnosa
NO. keperawatan
1.

TGl/jam
Diagnosa 1
30-04-2002
08.20

Implementasi

Tanggal /Jam

1. Menyiapkan alat dan

30-04-2002

S : Tidak dapat dikaji

perlengkapan operasi
2. Menghitung dan

10.20

O : Alat lengkap baik


jumlah, maupun

mengamati, memeriksa

bentuknya.

perlengkapan alat-alat

A : Resiko cedera

operasi.
3. Mengatur alat pada

(corpus alienum) tidak


terjadi.alat lengkap

meja operasi.
4. Menyimpan kain kasa

sesuai dengan

dan alat-yang tidak

persiapan waktu

terpakai pada tempat

operasi.

yang tersedia
5. Menghitung kembali
10.20
2

Diagnosa 2
08.40
07.30
09.00

P : Rencana dihentikan.

perlengkapan alat,
mengamati bentuk.
1. Memonitor tandatanda vital
2. Mengkaji turgor kulit
dan membran mukosa.
3. Memberi cairan RL. 4
kolf sesuai dengan
instruksi dr. Anestesi

10.00

Evaluasi

(20tetes/menit
4. Menghitung cairan

10.25

S : Tidak dapat dikaji


O : TD 110/80 mmHg,
nadi 104 x/menit
RR 20 x/menit,
mukosa membran bibir
agak kering, mulut
lembab, turgor kulit
baik.

keluar,urine (urobag)

RL 2000 cc, Urine

1300 cc

1300 cc.
A : Resiko
keseimbangan cairan
tetap dipantau.
37

P : Perencanaan
diteruskan.

Diagnosa 3
07.45
07.40
08.10

1. Mengecek alat

10.20

diatermi
2. Memeriksa barang

O : Alat diatermi
terpasang dan

logam atau bahan nilon

berfungsi baik

pada tubuh pasien


3. Memasang plat

Pada area pemasangan


plat tidak terjadi tanda-

diatermi pada bagian

tanda luka bakar.

betis
4. Memasang fiksasi,

A : Cedera luka bakar

pada plat diatermi


08 40

S : Tidak dapat dikaji

tidak terjadi

(tidak terlalu kuat)


5. Menjaga lokasi

P : Rencana dihentikan.

diatermi tetap kering.


6. Memeriksa alat
diatermi setiap 10 - 15
4.

Diagnosa 4

menit
1. Melakukan

10.30

S : Tidak dapat dikaji

10.20

penghisapan/suction

O : Bunyi nafas bersih

10.25

pada endotracheal tube


2. Melepaskan

ronchi -/-, tracheal tube

endorakheal tube
(ekstubasi)
3. Memberikan oksigen
6L/menit, sampai nafas
spontan dan pasien
dipindah ke ruang
pemulihan anestesi.

bebas hambatan.
A : Resiko aspirasi
tidak terjadi
P : Perencanaan
dilanjutkan/observasi
sampai pasien ke ruang
pemulihan anestesi.

38

2.4

PASCA ANESTESI

Pengkajian Pemulihan Pasca Anestesi


Nama Klien : Tn. R
Ruang

:Pemulihan Anestesi/Jam ..

Jam/tanggal : 30 April2002/

Keadaan Umum ;
Klien dalam keadaan lemah, kesadaran samnolen, GCS:3-4-6 sudah dilakukan
ekstubasi di OK. menggunakan oksigen 6l/menit, tidur terlentang dengan kepala

ekstensi, terpasang infus RL( sisa dari OK.), terpasang dower kateter.
Body System:
a. Breathing :
Pernafasan spontan, pergerakan dada simetris, tidak sianotik,
RR:20X/menit(monitor ), teratur, suara nafas bersih, tidak terdengar ronchi
ataupun wheezing.
b. Kardiovaskuler
Bentuk precordium simetris, bunyi jantungS1, dan S2 tunggal, reguler, tidak
terdengar bising jantung TD: 110/80mmHg., nadi 88X/menit,akral hangat
c. Persyarafan
Kesadaran samnolen,GCS: 3-4-6, klien belum merasakan nyeri pada daerah
operasi.
d. Eliminasi urine
Produksdi urine 1350 CC
e. Muskuloskeletal
Tangan kanan terpasang infus, klien belum mampu bergerak atif, turgor baik
f. Sistem digestif
Bising usus positip, klien masih puasa, bibir agak kering.
g. Integumen
Tidak terdapat tanda perdarahan.

39

ANALISA DATA
No
1.

Data
S : Tidak terkaji.

Penyebab
Efek Genaral anestesi

Masalah
Resiko terhadap

O : Klien post operasi TUR P,

perubahan fungsi

dengan general anestesi

pernafasan dan

( Pentotal, N2O, Halothan dan

sirkulasi..

Norcuron ) kesadaran samnolen,


GCS: 3-4-6, TD 110/80 mmHg.
Nadi 88 X/menit, RR 20
X/menit) nafas spontan.
Diagnosa keperawatan
Resiko terhadap perubahan fungsi pernafasan dan sirkulasi berhubungan dengan efek general
anestesi

40

RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN


Nama Klien

: Tn. R

Ruang

: RR

Diagnosa
Resiko terjadi

Tujuan-Kriteria
Setelah dilakukan tindakan

perubahan fungsi keperawatan resiko perubahan


pernafasan dan

fungsi kardiopulmonal tidak

sirkulasi

terjadi.

berhubungan

Kriteria :

dengan efek

a. Klien sadar, GCS 4-5-6


b. Tanda-tanda vital stabil

narkose (GA)

(Tekanan darah; 110-120/8090 mmHg., Nadi 60100X/menit. RR1620X/menit,


c. Nafas spontan
d. Akral hangat
e. Klien tidak sianotik

Intervensi
1. Atur posisi dan berikan posisi
ekstensi pada kepala, sampai
pasien sadar.
2. Monitor vital sign (Tekanan
darah, nadi RR, dan suhu)
3. Monitor tingkat kesadaran.
4. Berikan O2 masker 6l/menit.
(sesuai dengan program terapi

Rasional
Mencegah aspirasi pada waktu
muntah
Deteksi dini perubahan patologis.
Berkurangnya efek narkose.
Membantu oksigenasi

dr.anestesi)
5. Kaji patency jalan nafas dengan
meletakan tangan diatas mulut

Perubahan pernafasan sebagai tanda

atau hidung
depresi narkotic
6. Kaji keadekuatan ekspansi paru.,
pergerakan dinding dada,
Retraksi sternal efek anestesi yang
penggunaan otot bantu pernafsan
7. Kaji sirkulasi darah, nadi, dan
berlebihan.
suara jantung.
8. Kaji sirkulasi perifer (kualitas

Penurunan tekanan darah, nadi dan


41

denyut, warna dan temperatur)

kelainan suara jantung sebagai tanda


depresi miokard.
Perubahan sirkulasi perifer sebagai
tanda gangguan sirkulasi.

42

TINDAKAN DAN EVALUASI PASCA PEMULIHAN ANESTESI


Nama Klien : Tn. R
Ruang

: OK

Reg.

: ...

Diagnosa Kep.
Resiko terjadi

Jam/Implementasi
Tanggal/jam
10.40 : Mengkaji patency jalan
30-04-2002

Evaluasi
S : Klien mengeluh agak

perubahan pada

nafas dan memberikan oksigen

pusing.

11.45

fungsi pernafasan 6 l/menit s/d program terapi.

O : Klien sadar GCS4-5-6,

dan sirkulasi

10.45 : Mempertahankan posisi

Tekanan darah

berhubungan

ekstensi pada kepala.

110/80mmHg.

dengan efek

10.50 : memonitor vital sign

Nadi 88 X/menit, RR

narkose umum.

(tekanan darah, nadi, suhu, dan

16X/menit, suhu 36.8 C,

RR.)

akral hangat, klien tidak

11.00 : Inspeksi & auskultasi

sianotik, nafas spontan.

pada rongga dada

A : Resiko perubahan pada

11.20 : Memantau sirkulasi

pernafasan dan sirkulasi

perifer

tidak terjadi

11.45 : Monitor tingkat

P : Rencana diteruskan

kesadaran(klien sadar)

no.5,6 7 dan 8 sampai pasien


benar-benar sadar .

43

BAB IV
PENUTUP
4.I KESIMPULAN
Kanker prostat adalah penyakit kanker yang berkembang di prostat, sebuah kelenjar
dalam sistem reproduksi lelaki. Penyebab kanker prostat adalah faktor usia , riwayat keluarga.
Toksin, adanya perubahan keseimbangan antara hormon testosteron dan estrogen pada usia
lanjut, peranan dari growth factor ( faktor pertumbuhan ) sebagai pemacu pertumbuhan
stroma kelenjar prostat., meningkatnya lama hidup sel-sel prostat karena berkurangnya sel
yang mati. Tanda dan gejala seperti sering ingin buang air kecil, terutama pada malam hari,
kesulitan untuk memulai buang air kecil atau menahan air seni, aliran air seni lemah atau
terganggu, adanya darah pada air seni atau air mani, gangguan seksual lain, seperti sulit
ereksi atau nyeri saat ejakulasi, sering nyeri atau kaku pada punggung bawah, pinggul, atau
paha atas, merasa kandung kencing tidak kosong sempurna, kadang-kadang,aliran air seni
berhenti sendiri dll. Penatalaksanaan pada kanker prostat yang biasa dilakukan yaitu melelui
operasi, radioterapi, terapi hormon, kemoterapi.
4.2 SARAN
Penulis menyarankan bagi pembaca untuk melakukan pencegahan terhadap kanker
prostat dengan melakukan gaya hidup sehat khususnya pada laki-laki seperti banyak minum
air dan mengkonsumsi makanan yang sehat.

44

DAFTAR RUJUKAN

Guyton, A & Hall, J. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 9. Jakarta: EGC.
Iswanto, R.H. 2011. Makalah Kanker Prostat, (Online), (http://hasanuddinnudi.blogspot.com/), diakses pada 21 Mei 2015.
Maajemen Modern dan Kesehatan Masyarakat. 2010. Kanker Prostat-Gambaran, Gejala,
Pengobatan, (Online), (www.itokindo.org), diakses pada 21 Mei 2015.
Notrou, P. 2007. Tingkat Kalsium Tinggi dapat Naikkan Risiko Kanker Prostat. Antara News.
Siregar, SV. 2012. Kanker Prostat, (Online),
(http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/31128/4/Chapter%20II.pdf), diakses
pada 2 Mei 2015.

45