Anda di halaman 1dari 6

ANALISA PROSES INTERAKSI

Identitas Klien
Bangsal
Sasaran Komunikasi
Lingkungan
Deskripsi Klien
Tujuan komunikasi
Hari/ Tanggal/ Jam

: Tn. K
: Agathis
: Pasien (Tn. K)
: Di dalam ruang Agathis, suasana sepi
: Pasien dapat berkomunikasi, interaksi dengan orang lain kurang, kontak mata (<), klien lebih sering menunduk. Klien
menggunakan pakaian seragam RSJ Sambang Lihum, duduk menyendiri di kursi teras ruangan Agatis.
: Membina hubungan saling percaya, melatih pasien untuk bisa berinteraksi dengan 1 orang.
: Sabtu/ 28 September 2013/ 13.00 WITA

P: Perawat
K: Klien
Komunikasi Verbal
(1)

P : Assalamualaikum pak
K, selamat siang

Komunikasi non Verbal


(2)
P : Kontak mata (+), memandang
pasien dengan ramah, badan
condong ke depan, tersenyum

Analisa Berpusat Pada


Perawat
(3)
Perawat senang atas
tanggapan pasien

Analisa Berpusat Pada


Klien
(4)
Pasien terlihat tenang,
pasien sedang duduk di
kursi yang ada di teras
ruangan.

Perawat tenang dan

Pasien terlihat menerima

K : Kontak mata (<), memandang P


tersenyum kepada P kemudian
menunduk

K : Walaikumsalam

P : masih ingat lah pak

P : Tersenyum, mengulurkan tangan

Rasional
(5)
Memulai percakapan
dengan kalimat pembuka
salah satu cara yang
efektif untuk BHSP. Pada
fase orientasi diperlukan
dimensi responsive yang
mencakup kesejatian,
hormat, pegertian, empati
dan kekongkritan untuk
membina rasa percaya
dan komunikasi terbuka
serta memungkinkan
klien mencapai
pemahaman.
Identitas merupakan

ngaran ulun?

untuk berjabat tangan

K : Ingat, Mutia

K : Kontak mata (+), mengulurkan


tangan dan berjabat tangan dengan
perawat

P : Kayapa kabar pian hari


ini?

P : Kontak mata (+), badan


condong ke depan

K : Baik ja

K : Kontak mata (<), menunduk

P : Seperti janji ulun


kemarin hari ini kita bertemu
lagi gasan bepanderan dan
juga melatih bapak nyaman
kawa bekawanan atau
berkenalan dengan 1 orang,
kayapa pak, pian mau lah?

P : Kontak mata (+), badan


condong ke depan

K : iya, mau ai

K : Kontak mata (<), menunduk

P : Inggih pak lah, kita


bepanderannya sekitar 10

P : Kontak mata (+), badan


condong ke depan

berkomunikasi dengan
lancar

perawat dengan terbuka

Perawat tenang

Pasien terlihat tenang

Perawat tenang dan


berkomunikasi dengan

Pasien tampak tenang

tindakan keperawatan
yang penting untuk
BHSP. Pada fase orientasi
diperlukan dimensi
responsive yang
mencakup kesejatian,
hormat, pegertian, empati
dan kekongkritan untuk
membina rasa percaya
dan komunikasi terbuka
serta memungkinkan
klien mencapai
pemahaman.
Perhatian merupakan
tindakan untuk
meningkatkan BHSP dan
menandakan
kesungguhan perawat.
Pada fase orientasi
diperlukan dimensi
responsive yang
mencakup kesejatian,
hormat, pegertian, empati
dan kekongkritan untuk
membina rasa percaya
dan komunikasi terbuka
serta memungkinkan
klien mencapai
pemahaman.
Kontrak pertemuan
merupakan hal yang

menit di sini, kayapa, mau


lah pian?

lancar

K : Iya

K : Kontak mata (<), pasien tampak


menunduk dan kadang memandangi
wajah perawat

P : Pian masih ingat lah


cara melakukan berkenalan
dengan orang lain kaya yang
ulun ajarkan kemarin?

P : Kontak mata (+), badan


condong ke depan

K : Ingat ai

K : Kontak mata (+), pasien tampak


tenang

P : Sekarang pian coba lagi


pak lah berkenalan dengan
kawan baru

P : Kontak mata (+), badan


condong ke depan

K : Iya. (Mempraktekkan
cara berkenalan dengan 1
orang teman)

K : Kontak mata (+), pasien tampak


tenang

P : Nah, bagus pak lah, pian


sudah bisa,bagus banar tadi

P : Kontak mata (+), badan


condong ke depan

Perawat tenang dan


berkomunikasi dengan
lancar

Pasien tampak tenang

Pasien masih terlihat


tenang
Perawat tenang dan
berkomunikasi dengan
lancar

Pasien masih terlihat


tenang

Perawat tenang dan


berkomunikasi dengan

Pasien masih terlihat


tenang

penting dalam BHSP.


Pada fase orientasi
diperlukan dimensi
responsive yang
mencakup kesejatian,
hormat, pegertian, empati
dan kekongkritan untuk
membina rasa percaya
dan komunikasi terbuka
serta memungkinkan
klien mencapai
pemahaman.
Mengajarkan cara
berkenalan dengan 1
orang lain.
Pada fase kerja
diperlukan dimensi
tindakan yang mencakup
komunikasi kesegaran,
pengungkapan diri
perawat, dan bermain
peran yang dalam
pelaksanaannya harus
diimplementasikan dalam
konteks kehangatan,
penerimaan dan
pengertian yang dibentuk
oleh dimensi responsive
Hal ini membantu
kemajuan hubungan
terapeutik dengan

lancar

pak K sudah berani


mencoba.
K : (Diam)
P : Sekarang pian bekisah
lah, kenapa masih kada mau
bekawanan, bepanderan
dengan kawan?.

K : Kontak mata (<), menunduk


P : Kontak mata (+), badan
condong ke depan

K: Malas

K : Kontak mata (<), memandang


wajah P.

P: Kenapa jadi kaitu? Kan


kita sudah bepanderan jua
kemaren, bila bekawanan tu
kan rami pak bisa bekisahan,
bisa saling membantu, kada
merasa sepi. Jangan malas
lagi pak lah, bekawan
dengan semua yang ada di
ruangan ini, yang semangat
pak lah, pian bagus banar
tadi sudah bisa
mempraktekkan cara
berkenalan.

P : Kontak mata (+), badan


condong ke depan

K :Iya
P :Ayu ja pak lah, sudah 15
menit kita bepanderannya,
cukup sekian dulu ya pak,

K : Kontak mata (<), memandang


wajah perawat, menganggukanggukkan kepala
P : Kontak mata (+), badan
condong ke depan

Perawat tenang dan


berkomunikasi dengan
lancar. P mengharapkan K
menceritakan masalahnya
lebih banyak

Pasien masih terlihat


tenang, dan menjawab
seadanya

Perawat tenang dan


berkomunikasi dengan
lancar

Pasien masih terlihat


tenang

Perawat tenang dan


berkomunikasi dengan
lancar

Pasien tampak tenang

mengidentifikasi
hubungan pertumbuhan
pasien dan tidak hanya
memperhitungkan
kebutuhan akan
pengertian atau
pemahaman internal,
tetapi juga tindakan
eksternal dan perubahan
perilaku.

Kontrak selanjutnya
diperlukan untuk
mengingatkan pasien

esok kita sambung lagi


bepanderannya gasan belajar
dan berlatih lagi berkenalan
dengan 1 orang, kayapa pak,
mau aja kalo?
K : Iya, mau ja

K : Kontak mata (+), memandang


wajah perawat

P : Di sini ja tempatnya
pak lah, jam 10 pagi kaya ini
jua

P : Kontak mata (+), badan


condong ke depan

K : Iya

K : Kontak mata (+), memandang


wajah perawat

P : Terima kasih ya pak,


ulun permisi dulu,
Assalamualaikum.

P : Kontak mata (+), badan


condong ke depan, tersenyum

K : Iya, walaikumsalam

K : Kontak mata (+), memandang


wajah perawat, tersenyum

Perawat tenang dan


berkomunikasi dengan
lancar

Perawat tenang dan


berkomunikasi dengan
lancar

Pasien masih terlihat


tenang

Pasien masih terlihat


tegang

mengenai tindakan yang


akan dilakukan
selanjutnya dan
meningkatkan BHSP.
Dimensi responsive
diperlukan pada fase
terminasi dimana pada
fase ini mencakup
kesejatian, hormat,
pegertian, empati dan
kekongkritan untuk
membina rasa percaya
dan komunikasi terbuka
serta memungkinkan
klien mencapai
pemahaman.