Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PENDAHULUAN

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Profesi Departemen Surgical


di R19 RSU Saiful Anwar Malang
BATU URETER

Oleh
Yananda Maulina
105070200111007

Jurusan Ilmu Keperawatan


Fakultas Kedokteran
Universitas Brawijaya
2015

RENCANA KEGIATAN MINGGUAN


Nama Mahasiswa

: Yananda Maulina

Program

: A (Reguler)

NIM

: 105070200111007

Ruangan

: R.19

Kelompok

:7

Minggu

:5

A. Target yang ingin dicapai


Dapat memberikan asuhan keperawatan selama 1 minggu (9-14 Maret 2015):
1. Dapat melakukan pengkajian pada pasien
2. Mampu menganalisis data yang didapat
3. Mampu membuat prioritas masalah pada pasien
4. Mampu menentukan tujuan dan kriteria hasil dari prioritas masalah
5. Mampu membuat rencana intervensi
6. Mampu mengimplementasikan renpra, yaitu:
- Pengkajian patologi dan histologi
- Menentukan stadium penyakit
- Memasang infuse
- Mengambil darah intra vena
- Melakukan transfusi darah
- Melakukan kateterisasi urin
- Melakukan pemasangan alat bantu pernafasan
- Memberikan cairan makanan via NGT dan parenteral
- Melakukan penghisapan (suctioning)
- Mengajarkan teknik napas dalam dalam mengontrol nyeri pasien
- Memonitaring dan menyiapkan pasien dalam pemeriksaan diagnostik dan terapi
kemoterapi
- Menghitung balance cairan dan melakukan monitoring cairan
- Melakukan monitoring pemberian obat kemoterapi
- Melakukan nebulizer
- Memberikan pendidikan kesehatan
- Melakukan kolabrasi dengan tim medis dalam pemberian resep pengobatan
7. Mampu melakukan evaluasi dari tindakan keperawatan

B. Rencana Kegiatan
N
o
1

Jenis Kegiatan
Komunikasi terapeutik
Pengkajian pada pasien

Waktu

Kriteria Hasil

Hari 1 - Bina hubungan saling percaya


- Prioritas
masalah
sesuai
dengan masalah yang aktual

Analisa data

dari pasien
- Melakukan tindakan

sesuai

dengan prosedur yang telah


ditetapkan (SOP)

Membuat prioritas masalah pada


pasien
Membuat tujuan dan kriteria hasil

dari prioritas masalah


Membuat renpra
Implementasi meliputi:
Pengkajian patologi dan histologi
Menentukan stadium penyakit
Memasang infus
Mengambil darah intra arteri
Mengambil darah vena
Melakukan transfusi darah
Melakukan kateterisasi urin
Melakukan pemasangan alat bantu

pernafasan
- Memberikan cairan via NGT dan
parenteral
- Melakukan

pengisapan

lendir

(suction)
- Mengajarkan teknik napas dalam
dalam megontrol nyeri pasien
- Memonitoring
dan
menyiapkan
pasien

dalam

pemeriksaan

diagnosis dan terapi kemoterapi


- Menghitung balance cairan dan
melakukan monitoring cairan
- Melakukan monitoring pemberian
obat kemoterapi
- Melakukan nebuizer
- Memberikan pendidikan kesehatan
- Melakukan kolaborasi dengan tim
medis dalam pemberian resep
2

pengobatan
Membuat catatan perkembangan

Hari 13

Evaluasi

Hari 3

Dokumentasi perkembangan
keadaan

klien

setelah

tindakan yang dilakukan


Evaluasi tindakan yang telah
dilakukan

dengan

perkembangan keadaan klien


C. Evaluasi Pelaksanaan Kegiatan

D. Evaluasi Diri Praktikan

E. Rencana Tindak Lanjut

Mengetahui
Preceptor Klinik R.19

Malang, 9 Maret 2015


Mahasiswa

Yananda Maulina

1. Anatomi Fisiologi

Ureter adalah suatu saluran muskuler berbentuk silinder yang menghantarkan urin
dari ginjal menuju kandung kemih. Panjang ureter adalah sekitar 20-30 cm dengan
diameter maksimum sekitar 1,7 cm di dekat kandung kemih dan berjalan dari hilus ginjal
menuju

kandung

kemih.

Ureter

dibagi

menjadi

pars

abdominalis,

pelvis,dan

intravesikalis. Dindingnya terdiri atas mukosa yang dilapisi oleh sel-sel transisional, otototot polos sirkuler dan longitudinal yang dapat melakukan gerakan peristaltik
(berkontraksi) guna mengeluarkan urine ke buli-buli. Secara anatomis terdapat beberapa
tempat yang ukuran diameternya relative lebih sempit daripada di tempat lain Sehingga
batu atau benda-benda lain yang berasal dari ginjal seringkali tersangkut. Tempattempat penyempitan itu antara lain adalah :
a. Pada perbatasan antara pelvis renalis dan ureter atau pelvi-ureter junction
b. Tempat ureter menyilang arteri iliaka di rongga pelvis
c. Pada saat ureter masuk ke buli-buli
Sistem perdarahan ureter bersifat segmental dan berasal dari pembuluh arteri
ginjal, gonad, dan buli-buli dengan hubungan kolateral kaya sehingaa umumnya
perdarahan tidak terancam pada tindak bedah ureter. Persyarafan ureter bersifat
otonom
2. Definisi
Ureterolithiasis adalah kalkulus atau batu di dalam ureter (Sue Hinchliff, 1999 Hal
451). Batu ureter pada umumnya berasal dari batu ginjal yang turun ke ureter. Batu
ureter mungkin dapat lewat sampai ke kandung kemih dan kemudian keluar bersama
kemih. Batu ureter juga bisa sampai ke kandung kemih dan kemudian berupa nidus
menjadi batu kandung yang besar. Batu juga tetap bisa tinggal di ureter sambil
menyumbat dan menyebabkan obstruksi kronik dengan hidroureter yang mungkin
asimtomatik. Tidak jarang hematuria yang didahului oleh serangan kolik (R.
Samsuhidajat, 1998)

3. Etiologi
Berikut ini beberapa teori pembentukan batu ginjal:
a. Teori Pembentukan Inti
Teori ini mengatakan bahwa pemebentukan batu berasal dari kristal atau
benda asing yang berada dalam urin yang pekat. Teori ini ditentang oleh beberapa
argumen, dimana dikatakan bahwa batu tidak selalu terbentuk pada pasien dengan
hipereksresi atau mereka dengan resiko dehidrasi. Teori inti matrik dimana
pembentukan batu saluran kemih membutuhkan adanya substansi organik terutama
muko protein A mukopolisakarida yang akan mempermudah kristalisasi dan
agregasi substansi pembentuk batu.
b. Teori Supersaturasi
Peningkatan dan kejenuhan substansi pembentukan batu dalam urin seperti
sistin, xastin, asam urat, kalsium oksalat mempermudah terbentuknya batu.
Kejenuhan ini juga sangat dipengaruhi oelh pH dan kekuatan ion.
c. Teori Presipitasi-kristalisasi
Perubahan pH urin akan mempengaruhi solubilitas susbstansi dalam urin. Di
dalam urin yang asam akan mengendap sistin, zastin, asam urat, sedangkan
didalam urin yang basa akan mengendap garam-garam fosfat.
d. Teori Berkurangnya Faktor Penghambat
Tidak adanya atau berkurangnya substansi penghambat pembentukan batu
seperti fosfopeptida, pirofosfat, polifosfat, asam mukopolisakarida dalam urin akan
mempermudah pembentukan batu urin. Akan tetapi teori ini tidaklah benar secara
absolut, karena banyak orang yang kekurangan zat penghambat tak pernah
menderita batu, dan sebaliknya mereka yang memiliki faktor penghambat malah
membentuk batu.
e. Teori Lain
Berkurangnya volume urin. Dimana kekurangan cairan akan menyebabkan
peningkatan konsentrasi zat terlarut (misal kalsium, natrium, oksalat dan protein)
yang mana ini dapat menimbulkan pembentukan kristal urin.

Selain itu juga terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi pembentukan batu ureter,
yaitu:
a. Genetik
Anggota keluarga penderita batu urin lebih banyak kemungkinan menderita
penyakit yang sama dibanding dengan keluarga bukan penderita batu urin. Lebih
kurang 30% sampai 40% penderita batu kalsium oksalat mempunyai riwayat famili
yang positif menderita batu.
b. Jenis Kelamin
Pria lebih banyak menderita batu saluran kemih dibanding wanita (3-4:1).
Disebabkan oleh anatomis saluran kemih pada laki-laki lebih panjang dibandingkan

perempuan, secara alamiah didalam air kemih laki-laki kadar kalsium lebih tinggi
dibanding perempuan. Dan pada air kemih perempuan kadar sitrat (inhibitor) lebih
tinggi, laki-laki memiliki hormon testosteron yang dapat meningkatkan produksi
oksalat endogen di hati, serta adanya hormon estrogen pada perempuan mampu
mencegah agregasi garam kalsium.
c. Pekerjaan
Kejadian batu kemih lebih banyak terjadi pada orang-orang yang banyak duduk
dalam melakukan pekerjaannya.
d. Air
Banyak minum air meningkatkan diuresis sehingga mencegah pembentukan batu.
Kurang minum dapat mengurangi diuresis, kadar substansi dalam urin meningkat,
mempermudah pembentukan batu.
e. Diet
Konsumsi makanan tinggi protein yang akan meningkatkan resiko terjadinya
batu. Konsumsi makanan tinggi protein yang berlebihan dan garam atau antasida
yang mengandung kalsium, produk susu, makananan yang mengandung oksalat
(misalnya teh, kopi instan, coklat, kacang-kacang, bayam), vitamin C, atau vitamin D
akan meningkatkan pembentukan batu kalsium. Pemakaian vitamin D akan
meningkatkan absobsi kalsium diusus dan tubulus ginjal sehingga dapat
menyebabkan hiperkalsemia dan penumpukan kalsium di ginjal dan untuk konsumsi
vitamin D ini harus digunakan dengan perawatan. Makan makanan dan minuman
yang mengandung purin yang berlebihan (kerangkerangan, anggur) akan
menyebabkan pembentukan batu asam urat Makanan makanan yang banyak
mengandung serat dan protein nabati mengurangi resiko batu urin, sebaliknya
makanan yang mengandung lemak dan protein hewani akan meningkatkan resiko
f.

batu urin.
Infeksi
Hampir terbentuknya batu jenis struvit didahului oleh infeksi saluran kemih yang
disebabkan oleh bakteri pemecah urea, namun jenis batu lain tidak jelas apakah

batu sebagai penyebab infeksi atau infeksi sebagai penyebab batu


g. Obat-obatan
Penggunaan obat anti hipertensi (Dyazide) berhubungan dengan peningkatan
frekuensi batu urin, begitu juga penggunaan antasida yang mengandung silica
berhubungan dengan perkembangan batu silica.
4. Tanda Gejala
Gejala klinis yang dirasakan yaitu:
a. Nyeri
Batu yang berada di ureter dapat menyebabkan nyeri yang luar biasa, akut
dan kolik. Nyeri ini dapat menjalar hingga ke perut bagian depan, perut sebelah
bawah, daerah inguinal, dan sampai ke kemaluan. Penderita sering ingin merasa

berkemih, namun hanya sedikit urine yang keluar, dan biasanya air kemih disertai
dengan darah, maka penderita tersebut mengalami kolik ureter
b. Hematuri
Penderita sering mengeluh hematuria atau urin berwarna seperti teh. Namun
lebih kurang 10-15% penderita batu saluran kemih tidak menderita hematuria.
c. Infeksi
Biasanya dengan gejala-gejala menggigil, demam, nyeri pinggang, nausea
serta muntah dan disuria. Secara umum infeksi pada batu struvit (batu infeksi)
berhubungan dengan infeksi dari Proteus sp, Pseudomonas sp, Klebsiella sp, dan
jarang dengan E.colli.
d. Demam
Hubungan batu urin dengan demam adalah merupakan kedaruratan medik
relatif. Tanda-tanda klinik sepsis adalah bervariasi termasuk demam, takikardi,
hipotensi dan vasodilatasi perifer. Demam akibat obstruksi saluran kemih
memerlukan dekompresi segera.
e. Mual dan Muntah
Obstruksi saluran kemih bagian atas (ginjal dan ureter) seringkali menyebabkan
mual dan muntah

5. Klasifikasi
Berikut ini beberapa klasifikasi batu saluran kemih:
a. Batu Kalsium
Kalsium adalah jenis batu yang paling banyak menyebabkan BSK yaitu
sekitar 70%-80% dari seluruh kasus BSK. Batu ini kadang-kadang di jumpai dalam
bentuk murni atau juga bisa dalam bentuk campuran, misalnya dengan batu kalsium
oksalat, batu kalsium fosfat atau campuran dari kedua unsur tersebut. Terbentuknya
batu tersebut diperkirakan terkait dengan kadar kalsium yang tinggi di dalam urine
atau darah dan akibat dari dehidrasi. Batu kalsium terdiri dari dua tipe yang
berbeda, yaitu:
a. Whewellite (monohidrat) yaitu , batu berbentuk padat, warna cokat/ hitam
dengan konsentrasi asam oksalat yang tinggi pada air kemih.
b. Kombinasi kalsium dan magnesium menjadi weddllite (dehidrat) yaitu batu
berwarna kuning, mudah hancur daripada whewellite.
b. Batu Asam Urat
Lebih kurang 5-10% penderita BSK dengan komposisi asam urat. Pasien
biasanya berusia > 60 tahun. Batu asam urat dibentuk hanya oleh asam urat.
Kegemukan, peminum alkohol, dan diet tinggi protein mempunyai peluang lebih
besar menderita penyakit BSK, karena keadaan tersebut dapat meningkatkan
ekskresi asam urat sehingga pH air kemih menjadi rendah. Ukuran batu asam urat
bervariasi mulai dari ukuran kecil sampai ukuran besar sehingga membentuk

staghorn (tanduk rusa). Batu asam urat ini adalah tipe batu yang dapat dipecah
dengan obat-obatan. Sebanyak 90% akan berhasil dengan terapi kemolisis.
c. Batu Struvit
Batu struvit disebut juga batu infeksi, karena terbentuknya batu ini
disebabkan oleh adanya infeksi saluran kemih. Kuman penyebab infeksi ini adalah
golongan kuman pemecah urea atau urea splitter yang dapat menghasilkan enzim
urease dan merubah urine menjadi bersuasana basa melalui hidrolisis urea menjadi
amoniak. Kuman yang termasuk pemecah urea di antaranya adalah : Proteus spp,
Klebsiella, Serratia, Enterobakter, Pseudomonas, dan Staphiloccocus. Ditemukan
sekitar 15-20% pada penderita BSK
Batu struvit lebih sering terjadi pada wanita daripada laki-laki. Infeksi saluran
kemih terjadi karena tingginya konsentrasi ammonium dan pH air kemih >7. Pada
batu struvit volume air kemih yang banyak sangat penting untuk membilas bakteri
dan menurunkan supersaturasi dari fosfat.
d. Batu Sistin
Batu Sistin terjadi pada saat kehamilan, disebabkan karena gangguan ginjal.
Merupakan batu yang paling jarang dijumpai dengan frekuensi kejadian 1-2%.
Reabsorbsi asam amino, sistin, arginin, lysin dan ornithine berkurang, pembentukan
batu terjadi saat bayi. Disebabkan faktor keturunan dan pH urine yang asam. Selain
karena urine yang sangat jenuh, pembentukan batu dapat juga terjadi pada individu
yang memiliki riwayat batu sebelumnya atau pada individu yang statis karena
imobilitas. Memerlukan pengobatan seumur hidup, diet mungkin menyebabkan
pembentukan batu, pengenceran air kemih yang rendah dan asupan protein hewani
yang tinggi menaikkan ekskresi sistin dalam air kemih.
6. Patofisiologi
Komposisi batu saluran kemih yang dapat ditemukan adalah dari jenis urat, asam
urat, oksalat, fosfat, sistin, dan xantin. Batu oksalat kalsium kebanyakan merupakan
batu idiopatik. Batu campuran oksalat kalsium dan fosfat biasanya juga idiopatik; di
antaranya berkaitan dengan sindrom alkali atau kelebihan vitamin D. Batu fosfat dan
kalsium (hidroksiapatit) kadang disebabkan hiperkalsiuria (tanpa hiperkalsemia). Batu
fosfat amonium magnesium didapatkan pada infeksi kronik yang disebabkan bakteria
yang menghasilkan urease sehingga urin menjadi alkali karena pemecahan ureum.
Batu asam urin disebabkan hiperuremia pada artritis urika. Batu urat pada anak
terbentuk karena pH urin rendah (R. Sjamsuhidajat, 1998 Hal. 1027). Pada kebanyakan
penderita batu kemih tidak ditemukan penyebab yang jelas. Faktor predisposisi berupa
stasis, infeksi, dan benda asing. Infeksi, stasis, dan litiasis merupakan faktor yang saling
memperkuat sehingga terbentuk lingkaran setan atau sirkulus visiosus. Jaringan

abnormal atau mati seperti pada nekrosis papila di ginjal dan benda asing mudah
menjadi nidus dan inti batu. Demikian pula telor sistosoma kadang berupa nidus batu
(R. Sjamsuhidajat, 1998 Hal. 1027).
Pathway terampir
7. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan Fisik
1. Inspeksi : Terlihat pembesaran pada daerah pinggang atau abdomen sebelah
atas. Pembesaran ini mungkin karena hidronefrosis
2. Palpasi : Ditemukan nyeri tekan pada abdomen sebelah atas. Bisa kiri, kanan
atau dikedua belah daerah pinggang. Pemeriksaan bimanual dengan memakai
dua tangan atau dikenal juga dengan tes Ballotement, ditemukan pembesaran
ginjal yang teraba disebut Ballotement positif.
3. Perkusi : Ditemukan nyeri ketok pada sudut kostovertebra yaitu sudut yang
dibentuk oleh kosta terakhir dengan tulang vertebra.
b. Pemeriksaan Diagnostik
1. Air kemih
- Mikroskopis endapan: sedimen urin yang menunjukkkan adanya leukosituria,
hematuria, kristal-kristal pembentuk batu.
Makroskopis: didapatkan gross hematuri
Biakan: menunjukkan adanya pertumbuhan kuman pemecah urea.
Sensitivitas kuman
2. Faal Ginjal
Pemeriksaan ureum dan kreatinin adalah untuk melihat fungsi ginjal baik atau
-

tidak. Pemeriksaan elektrolit untuk memeriksa factor penyebab timbulnya batu


antara lain kadar kalsium, oksalat, fosfat maupun urat di dalam urin.
3. Radiologis
Foto BNO-IVP untuk melihat lokasi batu, besarnya batu, apakah terjadi
bendungan atau tidak. Pada gangguan fungsi ginjal maka IVP tidak dapat
dilakukan; pada keadaan ini dapat dilakukan retrograd pielografi atau dilanjutkan
dengan antegrad pielografi, bila hasil retrograd pielografi tidak memberikan
informasi yang memadai. Pada foto BNO batu yang dapat dilihat disebut sebagai
batu radioopak, sedangkan batu yang tidak tampak disebut sebagai batu
radiolusen, berikut ini adalah urutan batu menurut densitasnya, dari yang paling
opaq hingga yang paling bersifat radiolusent; calsium fosfat, calsium oxalat,
magnesium amonium fosfat, sistin, asam urat, xantine.
Foto polos perut (90% batu kemih radioopak)
Foto pielogram intravena (adanya efek obstruksi)
Ultrasonografi ginjal (Hidronefrosis)
Foto Kontras Khusus
Retrograd dan perkerutan
8. Analisis biokimia batu
9. Pemeriksaan kelainan metabolik
10. Pemeriksaan kimiawi
4.
5.
6.
7.

Ditemukan pH urin lebih dari 7,6 menunjukkan adanya pertumbuhan kuman


pemecah urea dan kemungkinan terbentuk batu fosfat. Bisa juga pH urin lebih
asam dan kemungkinan terbentuk batu asam urat.
11. Pemeriksaan darah lengkap
Dapat ditemukan kadar hemoglobin yang menurun akibat terjadinya
hematuria. Bisa juga didapatkat jumlah lekosit yang meningkat akibat proses
peradangan di ureter.
8. Penatalaksanaan
a. Medikamentosa
Ditujukan untuk batu yang ukurannya < 5 mm, karena batu diharapkan dapat
keluar spontan. Terapi yang diberikan bertujuan mengurangi nyeri, memperlancar
aliran urine dengan pemberian diuretikum, dan minum banyak supaya dapat
mendorong batu keluar.
b. ESWL (Extracorporeal Shockwave Lithotripsi)
Alat ESWL adalah pemecah batu yang diperkenalkan pertama kali oleh
Caussy pada tahun 1980. Alat ini dapat memecah batu ginjal, batu ureter proksimal,
atau batu buli-buli tanpa melalui tindakan invasif atau pembiusan. Batu dipecah
menjadi fragmen-fragmen kecil dengan menggunakan gelombang kejut sehingga
mudah dikeluarkan melalui saluran kemih.
Terdapat 3 teknik yang digunakan untuk membangkitkan gelombang kejut,
yaitu elektrohidrolik, pizoelektrik dan energi elektromagnetik.
1. Energi elektrohidrolik. Teknik ini paling sering digunakan untuk membangkitkan
gelombang kejut. Pengisian arus listrik voltase tinggi terjadi melintasi sebuah
elektroda spark-gap yang terletak dalam kontainer berisi air. Pengisian ini
menghasilkan gelembung uap, yang membesar dan kemudian pecah,
membangkitkan gelombang energi bertekanan tinggi.
2. Energi pizoelektrik. Pada teknik ini, ratusan sampai ribuan keramik atau kristal
pizo dirangsang dengan denyut listrik energi tinggi. Ini menyebabkan vibrasi atau
perpindahan cepat dari kristal sehingga menghasilkan gelombang kejut.
3. Energi elektromagnetik. Aliran listrik di alirkan ke koil elektromagnet pada silinder
berisi air. Lapangan magnetik menyebabkan membran metalik di dekatnya
bergetar sehingga menyebabkan pergerakan cepat dari membran yang
menghasilkan gelombang kejut.
Indikasi:
- Ukuran batu antara 1-3 cm atau 5-10 mm dengan gejala yang mengganggu
- Lokasi batu di ginjal atau ureter
- Tidak adanya obstruksi ginjal distal dari batu
- Kondisi kesehatan pasien memenuhi syarat

Kontraindikasi Absolut:

Kontraindikasinya adalah infeksi saluran kemih akut, gangguan perdarahan yang


tidak terkoreksi, kehamilan, sepsis serta obstruksi batu distal.
Kontraindikasi Relatif:
- Status mental : Meliputi kemampuan untuk kerja sama dan mengerti
-

prosedur
Berat badan

: >150 kg tidak memungkinkan gelombang kejut mencapai

batu, karena jarak antara F1 dan F2 melebihi spesifikasi lothotriptor. Pada


-

penderita seperti ini sebaiknya dilakukan simulasi lithotriptor terlebih dahulu


Penderita dengan deformitas spinal atau orthopedik, ginjal ektopik dan atau
malformasi ginjal (meliputi ginjal tapal kuda) mungkin mengalami kesulitan
dalam pengaturan posisi yanng sesuai untuk ESWL. Selain itu, abnormalitas
drainase intrarenal dapat menghambat pengeluaran fragmen yang dihasilkan

oleh eSwl
Masalah paru dan jantung yang sudah ada sebelumnya dan dapat diatasi

dengan anastesi
Pasien dengan pacemaker (alat pacu jantung) aman diterapi dengan ESWL,

tetapi dengan perhatian dan pertimbangan khusus.


Pasien dengan riwayat hipertensi, karena telah ditemukan peningkatan

insidens hematom perirenal pasca terapi.


Pasien dengan gangguan gastrointestinal,

karena

dapat

mengalami

eksaserbasi pasca terapi walaupun jarang terjadi


Persiapan sebelum ESWL:
-

harus melalui serangkaian pemeriksaan laboratorium baik darah maupun urin

untuk melihat fungsi ginjal, jenis batu, dan kesiapan fisik pasien
Pemeriksaan yang paling penting adalah rontgen atau USG untuk menentukan

lokasi batu dan kemungkinan jenisnya.


meminum antibiotik untuk mencegah infeksi dan puasa minimal 4 jam

sebelumnya.
hidrasi yang baik untuk memperlancar keluarnya batu yaitu minimal 2 liter air

sehari.
c. Endourologi
Tindakan Endourologi adalah tindakan invasif minimal untuk mengeluarkan
batu

saluran

kemih

yang

terdiri

atas

memecah

batu,

dan

kemudian

mengeluarkannya dari saluran kemih melalui alat yang dimasukkan langsung ke


dalam saluran kemih. Alat itu dimasukkan melalui uretra atau melalui insisi kecil
pada kulit (perkutan). Proses pemecahan batu dapat dilakukan secara mekanik,
dengan memakai energi hidraulik, energi gelombang suara, atau dengan energi
laser. Beberapa tindakan endourologi antara lain:
PNL (Percutaneous Nephro Litholapaxy) : mengeluarkan batu yang berada di
saluran ginjal dengan cara memasukkan alat endoskopi ke sistem kaliks melalui
insisi kulit. Batu kemudian dikeluarkan atau dipecah terlebih dahulu.

Litotripsi : memecah batu buli-buli atau batu uretra dengan memasukkan alat
pemecah batu (litotriptor) ke dalam buli-buli. Pecahan batu dikeluarkan dengan

evakuator Ellik.
Ureteroskopi atau uretero-renoskopi : memasukkan alat ureteroskopi per
uretram guna melihat keadaan ureter atau sistem pielokaliks ginjal. Dengan
memakai energi tertentu, batu yang berada di dalam ureter maupun sistem
pelvikalises dapat dipecah melalui tuntunan ureteroskopi atau uretero-renoskopi

ini.
Ekstraksi Dormia : mengeluarkan batu ureter dengan menjaringnya dengan

keranjang Dormia.
d. Bedah Laparoskopi
Pembedahan laparoskopi untuk mengambil batu saluran kemih saat ini
sedang berkembang. Cara ini banyak dipakai untuk mengambil batu ureter.
9. Komplikasi
Obstruksi urine dapat terjadi di sebelah hulu dari batu dibagian mana saja di
saluran kemih. Obstruksi diatas kandung kemih dapat menyebabkan hidroureter,
yaitu ureter membengkak oleh urine. Hidoureter yang tidak diatasi, atau obstruksi
pada atau atas tempat ureter keluar dari ginjal dapat menyebabkan hidronefrosis
yaitu pembengkakan pelvis ginjal dan sistem duktus pengumpul. Hidronefrosis
dapat menyebabkan ginjal tidak dapat memekatkan urine sehingga terjadi

ketidakseimbangan elektrolit dan cairan.


Obstruksi menyebabkan peningkatan tekanan hidrostatistik intersium dan dapat
menyebabkan penurunan GFR. Obstruksi yang tidak diatasi dapat menyebabkan
kolapsnya nefron dan kapiler sehingga terjadi iskemia nefron karena suplai darah

terganggu. Akhirnya dapat terjadi gagal ginjal jika kedua ginjal terserang.
Komplikasi batu saluran kemih biasanya obstruksi, infeksi sekunder, dan iritasi
yang berkepanjangan pada urothelium yang dapat menyebabkan tumbuhnya

keganasan yang sering berupa karsinoma epidermoid.


Sebagai akibat obstruksi, khususnya di ginjal atau ureter, dapat terjadi
hidronefrosis dan kemudian berlanjut dengan atau tanpa pionefrosis yang
berakhir dengan kegagalan faal ginjal yang terkena. Bila terjadi pada kedua
ginjal, akan timbul uremia karena gagal ginjal total. Hal yang sama dapat juga
terjadi akibat batu kandung kemih, lebih-lebih bila batu tersebut membesar
sehingga juga mengganggu aliran kemih dari kedua orifisium ureter. Khusus
pada batu uretra, dapat terjadi diverticulum uretra. Bila obstruksi berlangsung
lama, dapat terjadi ekstravasasi kemih dan terbentuklah fistula yang terletak
proksimal dari batu ureter (Corwin, 2009).

10. Asuhan Keperawatan

A. Pengkajian

Pengkajian keperawatan pada ureterolithiasis tergantung pada ukuran, lokasi, dan etiologi
kalkulus (Doenges, 1999 Hal 672).
a. Aktivitas / istirahat
Gejala : pekerjaan monoton, pekerjaan di mana klien terpajan pada lingkungan bersuhu
tinggi, keterbatasan aktivitas / mobilitas sehubungan kondisi sebelumnya.
b. Sirkulasi
Tanda : peningkatan TD / nadi, (nyeri, obstruksi oleh kalkulus) kulit hangat dan
kemerahan, pucat.
c. Eliminasi
Gejala : riwayat adanya ISK kronis, penurunan haluaran urine, distensi vesica urinaria,
rasa terbakar, dorongan berkemih, diare.
Tanda : oliguria, hematuria, piuruia, perubahan pola berkemih
d. Makanan / cairan
Gejala : mual / muntah, nyeri tekan abdomen, diet tinggi purin, kalsium oksalat / fosfat,
ketidakcukupan intake cairan
Tanda : Distensi abdominal, penurunan / tidak ada bising usus , muntah
e. Nyeri / kenyamanan
Gejala : episode akut nyeri berat, lokasi tergantung pada lokasi batu, nyeri dapat
digambarkan sebagai akut, hebat, tidak hilang dengan perubahan posisi atau tindakan lain
Tanda : melindungi, prilaku distraksi, nyeri tekan pada area abdomen
f. Keamanan
Gejala : pengguna alkohol, demam, menggigil
g. Penyuluhan dan Pembelajaran
Gejala : riwayat kalkulus dalam keluarga, penyakit ginjal, ISK, paratiroidisme, hipertensi,
pengguna antibiotik, antihipertensi, natrium bikarbonat, allopurinol, fosfat, tiazid,
pemasukan berlebihan kalsium dan vitamin
h. Pemeriksaan diagnostik
Urinalisis, urine 24 jam, kultur urine, survey biokimia, foto Rontgen, IVP,
sistoureteroskopi, scan CT, USG
B. Masalah Keperawatan
- Nyeri akut
- Gangguan Eliminasi Urin
- Defisit pengetahuan

- Ansietas
C. Rencana Asuhan Keperawatan
1. Nyeri Akut
Tujuan
: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam skala
nyeri pasien menurun
KH
: Nadi 60-100x/menit, RR 16-20 x/menit, skala nyeri 1-3, pasien
tampak rileks, keluhan pasien tentang nyeri menurun.
INTERVENSI
Catat lokasi, karakteristik, durasi,
frekuensi, kualitas, skala nyeri (0-10),
penyebaran dan faktor presipitasi.
Perhatikan tanda non verbal, contoh
peninggian TD dan nadi, gelisah,
merintih

Jelaskan
penyebab
nyeri
dan
pentingnya melaporkan ke staf terhadap
perubahan karakteristik nyeri
Bantu atau dorong penggunaan napas
berfokus, bimbingan imajinasi, dan
aktivitas terapeutik
Tingkatkan istirahat
Kolaborasi:
-berikan obat sesuai indikasi:
Narkotik, contoh meperidin (Demerol),
morfin
Antispasmodik,
contoh
(Uripas); oksibutin (Ditropan)
Kortikosteroid

flavoksat

RASIONALISASI
Membantu
mengevaluasi
tempat
obstruksi
dan
kemajuan
gerakan
kalkulus. Nyeri panggul sering menyebar
ke punggung, lipat paha, genitalia
sehubungan dengan proksimitas saraf
pleksus dan pembuluh darah yang
menyuplai area lain. Nyeri tiba-tiba dan
hebat dapat mencetuskan ketakutan,
gelisah
Memberikan
kesempatan
untuk
pemberian analgesik sesuai waktu dan
mewaspadakan staf akan kemungkinan
lewatnya batu/terjadi komplikasi
Mengarahkan kembali perhatian dan
membantu dalam relaksasi otot
Mengurangi
kuantitas
nyeri
yang
dirasakan
Biasanya diberikan selama periode akut
untuk menurunkan kolik uretral dan
meningkatkan relaksasi otot/mental

Menurunkan reflek spasme


menurunkan kolik dan nyeri

dapat

Mungkin digunakan untuk menurunkan


edema jaringan untuk membantu
gerakan batu

2. Defisit Pengetahuan
Tujuan
: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam skala
nyeri pasien menurun
KH
: Tidak mengalami tanda obstruksi, Jumlah dan konsistensi urin
normal, Tidak ada peningkatan kalsium pada urin
INTERVENSI
Awasi pemasukan dan pengeluaran serta
karakteristik urin

RASIONALISASI
Memberikan informasi tentang fungsi ginjal
dan adanya komplikasi

Dorong meningkatkan pemasukan cairan

Periksa semua urin. Catat adanya keluaran


batu dan kirim ke laboratorium untuk
dianalisa
Selidiki kandung kemih penuh: palpasi untuk
distensi suprapubik. Perhatikan penurunan
keluaran
urin,
adanya
edema
periorbital/tergantung
Observasi perubahan status mental, perilaku
atau tingkat kesadaran
Kolaborasi:
- Awasi pemeriksaan laboratorium, contoh
elektrolit, BUN, kretinin
- Ambil urine untuk kultur dan sensitivitas
- Pielolitotomi terbuka atau perkutaneus,
nefrolitotomi, ureterolitotomi
-

ESWL

Peningkatan hidrasi membilas bakteri,


darah, dan debris serta dapat membantu
lewatnya batu
Penemuan batu memungkinkan identifikasi
tipe batu dan mempengaruhi pilihan terapi
Retensi urin dapat terjadi, menyebabkan
distensi jaringan (kandung kemih/ginjal) dan
potensial risiko infeksi, gagal ginjal
Akumulasi
sisa
uremik
dan
ketidakseimbangan elektrolit dapat menjadi
toksik pada SSP
-peningkatan BUN, elektrolit, kreatinin
mengindikasikan disfungsi ginjal
-menentukan adanya ISK, penyebab/gejala
komplikasi
-pembedahan untuk membuang batu yang
terlalu besar untuk melewati ureter
-prosedur non invasif dimana batu ginjal
dihancurkan dengan syok gelomabang dar
luar tubuh.

3. Defisit Pengetahuan
Tujuan
: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam gangguan
eliminasi pasien dapat teratasi
KH
: Pasien mampu mengenali tanda dan gejala penyakit dan faktor
penyebabnya, Pasien mampu mengetahui faktor resiko dan yang memperberat
penyakitnya, Pasien mampu mengetahui tindakan pencegahan terhadap kondisi
buruk penyakitnya
Intervensi
Berikan penilaian tentang tingkat
pengetahuan pasien tentang proses
penyakit yang spesifik

Rasional
Untuk mengetahui seberapa besar
tingkat pemahaman pasien akan
kondisi yang dialami

Jelaskan patofisiologi dari penyakit


dan bagaiman hal ini berhubungan
dengan anatomi dan fisiologi

Pasien mengetahui proses bagaimana


penyakitnya
bisa
dialami
dan
menyerang organ vital (ginjal)nya

Gambarkan tanda dan gejala yang


biasa muncul pada penyakit

Pasien dapat waspada akan tanda dan


gejala yang bisa muncul saat kondisi
serangan penyakit
Pasien tahu agen penyebab penyakit
(aktivitas, konsumsi vit. D berlebih dan
sedikit minum)
Pasien bisa tahu tindakan dan aktivitas

Identifikasi kemungkinan penyebab


dengan cara yang tepat
Diskusikan pilihan terapi

Diskusikan perubahan gaya hidup


(tidak konsumsi vit D terlalu sering
dan tidak minum air terlalu sedikit)
untuk mencegah komplikasi di masa
yang akan datang dan atau proses
pengontrolan penyakit

apa yang harus dilakukan secara


individu
maupun
medis
untuk
memulihkan kondisinya
Perubahan
gaya
hidup
dapat
menurunkan resiko keparahan penyakit
dan mempercepat pemulihan kondisi

Patofisiologi

DAFTAR PUSTAKA

Sjamsuhidajat, R. & Jong,


Wim de. 2005. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta:
EGC
Susanne, C Smelzer. 2002.
Keperawatan

Medikal

Bedah

(Brunner

&Suddart) , Edisi VIII,


Volume

2,

Jakarta,

EGC,
Pramod PR, Barrieras DJ, Bagli DJ, et al. 1999. Initial experience with endoscopic
Holmium laser lithotripsy for pediatric urolithiasis. J Urol 162:1714-1716.
Wehle MJ, Segura JW. In : Belman AB., Eds. 2002. Clinical pediatric urology. Martin
Dunitz.:1241.
Basuki B. Purnomo. 2000. Dasar-Dasar Urologi. Malang, Fakultas kedokteran Brawijaya
Franzoni DF, Decter RM. 1999. Percutaneous vesicolithotomy: an alternative to open
bladder surgery in patients with an impassable or surgically ablated urethra. J
Urol;162:777-778.
Doenges E. Marilynn. 2000 Rencana Asuhan keperawatan : Pedoman Untuk
Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, Jakarta. EGC