Anda di halaman 1dari 48

WRAP UP SKENARIO 2

BLOK KEDOKTERAN KOMUNITAS


KEJADIAN PENYAKIT DAN PELAYANAN KESEHATAN MASYARAKAT

KELOMPOK A 8
Ketua

Gammarida Magfirah

1102011113

Sekretaris

Jayanti Dwi Cahyani

1102011129

Anggota

Afdhalul Mahfud

1102010008

Akbar Purnadiputra

1102011017

Anisa Rahmayati

1102010025

Galuh Kresna Bayu

1102011112

Gladya Utami

1102011114

Hafiz Arqursoy

1102011115

Jody Reviyanto

1102011130

Joko Wijanarko

1102011131

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS YARSI
2013-2014

Skenario 2
Kejadian Penyakit dan Pelayanan Kesehatan Masyarakat

Pada tahun 2011, ditetapkan KLB (Kejadian Luar Biasa) Demam Berdarah Dengue di
Kota Pekanbaru. Pernyataan resmi ini disampaikan pejabat Wali Kota Pekanbaru setelah
mendengar laporan Kepala Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru dalam rapat koordinasi. Pada bulan
Februari tahun 2010 terdapat sebanyak 202 kasus dan bulan Februari tahun 2011 mencapai 450
kasus. Hal ini menunjukkan peningkatan sebesar kurang lebih dua kali lipat dari periode tahun
sebelumnya. IR (Incidence rate) DBD menurut WHO di Indonesia adalah sebesar < 50 per
100.000 penduduk dengan CFR (Case Fatality Rate) 0,2. Kematian yang terjadi pada kasus DBD
disebabkan masih kurangnya pengetahuan dan pemahaman masyarakat terhadap gejala DBD.
Sering kali pasien datang ke puskesmas dalam stadium lanjut, dimana terdapat perdarahan
spontan dan syok. Pada stadium demam terdapat kebiasaan masyarakat yang cenderung untuk
mengobati diri sendiri dengan cara membaluri badan dengan bawang merah yang dicampur
minyak goreng terlebih dahulu kemudian membeli obat penurun panas di warung atau took obat.
Masyarakat tidak mengerti kalau pada saat mulai demam harus segera dibawa ke puskesmas.
Karena adanya KLB tersebut, puskesmas melakukan penyelidikan epidemiologi (PE) ke
lapangan untuk mengetahui penyebab terjadinya KLB. Berdasarkan hasil penyelidikan
epidemiologi tersebut, puskesmas melakukan tindakan yang diperlukan untuk menanggulangi
KLB.
Banyaknya penderita DBD di puskesmas membutuhkan obat-obatan dan cairan infuse
bagi pasien yang jumlahnya sangat banyak, sementara persediaan di puskesmas juga terbatas.
Untuk mengatasi hal tersebut, puskesmas melakukan rujukan kesehatan masyarakat ke Dinas
Kesehatan Kota Pekanbaru.
Program penanggulanan DBD yang berjalan seharusnya bukan hanya dikerjakan oleh
puskesmas sendiri secara lintas program, tetapi juga dikerjakan secara lintas sektoral demi untuk
meningkatkan mutu pelayanan. Pada saat yang bersamaan, terjadi ledakan kasus Campak dalam
3 tahun terakhir selalu berada pada kisaran <50%.
Dalam pertemuan lintas sektoral, tokoh agama juga terlibat dalam ikut urun rembuk
penyelesaian masalah kesehatan di masyarakat. Tokoh agama menyampaikan, bahwa dalam
pandangan Islam menciptakan kemaslahatan insane yang hakiki adalah merupakan salah satu
tujuan syariat Islam dan hukum menjaga kesehatan dan berobat adalah wajib.

KATA SULIT
1. KLB
2. Incidence rate
3. CFR
4. Lintas program
5. Lintas sektoral
6. Rujukan kesehatan masyarakat
7. PE
8. Dinas kesehatan kota
9. Tujuan syariat islam

PERTANYAAN
1. Bagaimana suatu daerah dapat ditetapkan sebagai KLB?
2. Apa saja factor-faktor yang mempengaruhi KLB?
3. Apa saja yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya KLB?
4. Apa saja program-program puskesmas?
5. Apa saja syarat-syarat dilakukannya rujukan kesehatan masyarakat?
6. Apakah tujuan dilakukannya penyelidikan epidemiologi (PE) ?
7. Siapa yang bertugas melakukan PE ?
8. Bagaimana cara penyelidikan epidemiologi (PE) ?
9. Apa saja program-program imunisasi?
10. Bagaimana cara untuk meningkatkan cakupan imunisasi dalam suatu wilayah ?
11. Apakah tujuan syariat islam?
12. Bagaimana cara menjaga kesehatan dan berobat dalam islam?
13. Bagaimana hukum berobat dalam islam ?

JAWABAN
1.
2.
3.
4.
5.
6.

A
A
A
A
A
A

7. A
8. A
9. A
10. A
11. A
12. A
13. A

HIPOTESIS

SASARAN BELAJAR

LI 1.

Mempelajari Kejadian Luar Biasa (KLB)

LI 2.

Mempelajari perilaku kesehatan individu dan masyarakat (pola pencarian pengobatan)


serta aspek social budaya dalam pemanfaatan pelayanan kesehatan

LI 3.

Mempelajari cakupan dan mutu pelayanan kesehatan dan imunisasi

LI 4.

Mempelajari sistem rujukan kesehatan masyarakat

LI 5.

Mempelajari tujuan syariat islam dan konsep darurat KLB

LI 1. Mempelajari Kejadian Luar Biasa (KLB)


Definisi KLB dan wabah
KLB

KLB adalah timbulnya atau meningkatnya kejadian kesakitan / kematian yang bermakna secara
epidemiologis dalam kurun waktu dan daerah tertentu.
Wabah
a. Wabah merupakan kejadian terjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat yang
jumlah penderitanya meningkat secara nyata melebihi keadaaan lazim pada waktu dan
daerah tertentu serta dapat menimbulkan malapetaka (UU NO 4 TAHUN 1984).
b. Wabah adalah penyakit menular yang terjangkit dengan cepat, menyerang sejumlah besar
orang didaerah luas (KBBI : 1989).
c. Wabah adalah peningkatan kejadian kesakitan atau kematian yang telah meluas secara
cepat, baik jumlah kasusnya maupun daerah terjangkit (Depkes RI, DirJen P2MPLP :
1981).
Kriteria KLB
Untuk mempermudah penetapan diagnosis KLB, pemerintah Indonesia melalui Keputusan
Dirjen PPM&PLP No. 451-I/PD.03.04/1999 tentang Pedoman Penyelidikan Epidemiologi dan
Penanggulangan KLB telah menetapkan kriteria kerja KLB yaitu :
Suatu kejadian penyakit atau keracunan dapat dikatakan KLB apabila memenuhi kriteria sebagai
berikut :
1. Timbulnya suatu penyakit / kesakitan yang sebelumnya tidak ada / tidak diketahui.
2. Peningkatan kejadian penyakit / kematian terus menerus selama 3 kurun waktu berturutturut menurut jenis penyakitnya (jam, hari, minggu,...)
3. Peningkatan kejadian penyakit / kematian 2 kali atau lebih dibandingkan periode
sebelumnya (jam, hari, minggi, bulan, tahun)
4. Jumlah penderita baru dalam satu bulan menunjukkan kenaikan 2 kali lipat atau lebih bila
dibandingkan dengan angka rata-rata per bulan dalam tahun sebelumnya.
5. Angka rata-rata perbulan selama satu tahun menunjukkan kenaikan 2 kali lipat atau lebih
dibandingkan dgn angka rata-rata perbulan dalam tahun sebelumnya
6. Case fatality rate dari suatu penyakit dalam kurun waktu tertentu menunjukkan 50% atau
lebih dibandingkan CFR dari periode sebelumnya
7. Proporsional rate (PR) penderita baru dari periode tertentu menunjukkan kenaikan 2 kali
lipat atau lebih dibandingkan periode yg sama dalam kurun waktu/tahun sebelumnya
8. Beberapa penyakit khusus : kholera,DHF/DSS,SARS,avian flu,tetanus neonatorum
- setiap peningkatan kasus dari periode sebelumnya (pd daerah endemis)
- terdapat satu atau lebih penderita baru dimana pada periode 4 minggu sebelumnya
daerah tersebut dinyatakan bebas dari penyakit yang bersangkutan
9. Beberapa penyakit yang dialami 1 (satu) atau lebih penderita :
- keracunan makanan
- keracunan pestisida

Klasifikasi KLB
Menurut penyebabnya
1. Toxin
- enterotoxin
Sebagai contoh yang dihasilkan Staphylococcus aureus, Vibrio cholerae, Shigella,
Eschorichia
- exotoxin (bakteri)
Sebagai contoh yang dihasilkan Costridium botulinum, Clostridium perfringens
- endotoxin
2. Infeksi (virus, bakteri, protozoa,cacing)
3. Toxin biologis (racun jamur, afla toxin, plankton, racun ikan, racun tumbuh2an)
4. Toxin kimia
- zat kimia organik :logam berat (air raksa, timah), sianida, nitrit, pestisida
- gas beracun : CO, CO2, HCN
Menurut sumber KLB
a. Manusia : jalan nafas,tenggorokan, tangan, tinja, air seni, muntahan seperti : salmonela,
shigela, hepatitis, Staphylococcus, Streptococcus.
b. Kegiatan manusia : toxin biologis dan kimia (pembuatan tempe bongkrek, penyemprotan,
pencemaran lingkungan, penangkapan ikan dengan racun)
c. Binatang seperti binatang peliharaan, rabies, binatang mengerat Leptospira, Salmonella,
Vibrio, Cacing dan parasit lainnya, keracunan ikan/plankton
d. Serangga (lalat, kecoa, dll. ) mis :salmonella, staphylococcus, streptococcus
e. Udara misal : Staphyloccoccus, Streptococcus, Virus, pencemaran udara
f. Permukaan benda2/alat2 mis :salmonella
g. Makanan / minuman mis :keracunan singkong, jamur, makanan dlm kaleng

Menurut Penyakit wabah


Beberapa penyakit dari sumber di atas yang sering menjadi wabah:
a. Kolera
b. Pes
c. Demam Berdarah Dengue
d. Campak
e. Polio
f. Difteri

g.
h.
i.
j.
k.
l.
m.
n.
o.
p.
q.

Pertusis
Rabies
Malaria
Avian Influenza H5N1
Antraks
Leptospirosis
Hepatitis
Influenza A baru (H1N1)/Pandemi 2009
Meningitis
Yellow Fever
Chikungunya

Klasifikasi wabah
Menurut sifatnya :
1. Common Source Epidemic
Adalah suatu letusan penyakit yang disebabkan oleh terpaparnya sejumlah orang
dalam suatu kelompok secara menyeluruh dan terjadi dalam waktu yang relatif singkat. Adapun
Common Source Epidemic itu berupa keterpaparan umum, biasa pada letusan keracunan
makanan, polusi kimia di udara terbuka, menggambarkan satu puncak epidemi, jarak antara satu
kasus dengan kasus, selanjutnya hanya dalam hitungan jam,tidak ada angka serangan ke dua
2. Propagated/Progresive Epidemic
Bentuk epidemi dengan penularan dari orang ke orang sehingga waktu lebih lama dan
masa tunas yang lebih lama pula. Propagated atau progressive epidemic terjadi karena adanya
penularan dari orang ke orang baik langsung maupun melalui vector, relatif lama waktunya dan
lama masa tunas, dipengaruhi oleh kepadatan penduduk serta penyebaran anggota masya yang
rentan serta morbilitas dari pddk setempat, masa epidemi cukup lama dengan situasi peningkatan
jumlah penderita dari waktu ke waktu sampai pada batas minimal abggota masyarakat yang
rentan, lebih memperlihatkan penyebaran geografis yang sesuai dengan urutan generasi kasus.

Pelacakan Kejadian Luar Biasa


1. Garis
Besar
Pelacakan
Wabah/Kejadian
Luar
Biasa
Keberhasilan pelacakan wabah sangat ditentukan oleh berbagai kegiatan khusus.
Pengumpulan data dan informasi secara seksama langsung di lapangan atau tempat
kejadian, yang disusul dengan analisis data yang teliti dengan ketajaman pemikiran
merupakan landasan dari suatu keberhasilan pelacakan.

2.

Analisis
Situasi
Awal
Pada tahap awal pelacakan suatu situasi yang diperkirakan bersifat wabah atau kejadian
luar biasa, diperlukan tiga kegiatan awal, yaitu :
a. Penentuan
/
penegakan
diagnosis
Untuk kepentingan diagnosis maka diperlukan penelitian/pengamatan klinis dan
pemeriksaan laboratorium. Harus diamati secara tuntas apakah laporan awal yang
diperoleh sesuai dengan keadaan yang sebenarnya (perhatikan tingkat kebenarannya).
Selain itu, harus pula ditetapkan kapan seseorang dapat dinyatakan sebagai kasus.
Dalam hal ini sangat tergantung pada keadaan dan jenis masalah yang dihadapi.
b. Penentuan
adanya
wabah
Untuk menentukan apakah situasi yang dihadapi adalah wabah atau tidak, maka perlu
diusahakan melakukan perbandingan keadaan jumlah kasus sebelumnya untuk
melihat apakah terjadi kenaikan frekuensi yang istimewa atau tidak.
c. Uraian
keadaan
wabah
Bila keadaan dinyatakan wabah harus dilakukan penguraian keadaan wabah
bedasarkan tiga unsur utama yaitu waktu, tempat dan orang.

Gambaran
wabah
berdasarkan
waktu
Kurva
Epidemi
Adalah gambar perjalanan suatu letusan, berupa histogram dari jumlah kasus berdasarkan
waktu timbulnya gejala pertama. Untuk membuatnya dibutuhkan informasi tentang waktu
timbulnya gejala pertama. Misalnya, tanggal timbulnya gejala pertama, jam timbulnya
gejala
pertama,
untuk
masa
inkubasi
sangat
pendek
Manfaat kurva epidemic
Mendapatkan Informasi tentang perjalanan wabah dan kemungkinan
kelanjutan
Bila penyakit dan masa inkubasi diketahui, dapat memperkirakan kapan
pemaparan terjadi dengan memusatkan penyelidikan pada periode tersebut.
Kesimpulan pola kejadian -- apakah bersumber tunggal, ditularkan dari orang
ke orang, atau campuran keduanya

Perjalanan Wabah

kurve menanjak: jumlah kasus terus bertambah, wabah sedang memuncak, akan ada
kasus-kasus baru
Puncak kurve sudah dilalui: kasus yang terjadi semakin berkurang, wabah akan segera
berakhir.Mencari Periode pemaparan
Pada point source epidemic -- penyakit dan masa inkubasi diketahui, kurve epidemic
dapat digunakan untuk mencari periode pemaparan -- penting menanyakan sumber
letusan

Gambaran wabah berdasarkan tempat


Memberikan informasi tentang luasnya wialyah yang terserang
Menggambarkan pengelompokkan atau pola lain ke arah penyebab
Berupa: Spot map atau area map

Spot map: peta sederhana yang berguna untuk menggambarkan tempat para
penderita tinggal, bekerja, atau kemungkinan terpapar
Area map: menunjukkan insidens atau distribusi kejadian pada wilayah
dengan kode/ arsiran
Mencantumkan angka serangan (rate) untuk masing-masing wilayah

Gambaran wabah berdasarkan orang


Umur
Umur merupakan salah satu faktor yang menentukan penyakit, karena
mempengaruhi:
- Daya tahan tubuh
- Pengalaman kontak dengan penyakit
- Lingkungan pergaulan yang memungkinkan kontak dengan sumber penyakit

Jenis Kelamin; Ras/ suku; dsb.


Faktor-faktor ini digambarkan apabila diduga ada perbedaan risiko diantara
golongan-golongan dalam faktor tsb.Di negara-negara multirasial, gambaran
penderita berdasarkan ras sering ditampilkan. Adanya perbedaan cara hidup,
tingkat sosial ekonomi, kekebalan, dsb.

Berdasarkan pemaparan: Pekerjaan, Rekreasi, Penggunaan obat-obatan

3. Analisis
Lanjutan
Setelah melakukan analisis awal dan menetapkan adanya situasi wabah, maka selain
tindak pemadaman wabah, perlu dilakukan pelacakan lanjut serta analisis
berkesinambungan yaitu :

Usaha penemuan kasus tambahan


Ditelusuri kemungkinan adanya kasus yang tidak dikenal dan kasus yang tidak
dilaporkan. Dengan cara mengadakan pelacakan ke rumah sakit dan ke dokter praktek
umum setempat dan pelacakan yang itensif adanya gejalaatau yang kontak dengan
penderita.

Analisis data
Melakukan analisis data secara berkesinambungan sesuai tambahan informasi yang
didapatkan dan laporkan hasil intrepesi data tersebut.

Menegakkan hipotesis
Hasil analisis dari seluruh kegiatan dibuat keputusan yang bersifat hipotesis tentang
keadaan yang diperkirakan. Kesimpulan dari semua fakta yangditemukan harus sesui
dengan apa yang tercantum dalam hipotesis.

Tindak pemadaman wabah dan tindak lanjut


Tindakan diambil berdasarkan hasil analisis dan sesuai dengan keadaan wabah yang
terjadi. Setiap tindakan pemadaman wadah harus disertai dengan berbagai tindak
lanjut (follow up) sampai keadaan sudah normal kembali. Biasanya kegiatan tindak

lanjut dan pengamatan dilakukan sekurang-kurangnya 2 kali masa tunas penyakit


yang mewabah.
Penanggulangan KLB
Penanggulangan KLB dikenal dengan nama Sistem Kewaspadaan Dini (SKD-KLB), yang dapat
diartikan sebagai suatu upaya pencegahan dan penanggulangan KLB secara dini dengan
melakukan kegiatan untuk mengantisipasi KLB. Kegiatan yang dilakukan berupa pengamatan
yang sistematis dan terus-menerus yang mendukung sikap tanggap/waspada yang cepat dan tepat
terhadap adanya suatu perubahan status kesehatan masyarakat. Kegiatan yang dilakukan adalah
pengumpulan data kasus baru dari penyakit-penyakit yang berpotensi terjadi KLB secara
mingguan sebagai upaya SKD-KLB. Data-data yang telah terkumpul dilakukan pengolahan dan
analisis data untuk penyusunan rumusan kegiatan perbaikan oleh tim epidemiologi (Dinkes
Kota Surabaya, 2002).

Berdasarkan Undang-undang No. 4 tahun 1984 tentang wabah penyakit menular serta Peraturan
Menteri Kesehatan No. 560 tahun 1989, maka penyakit DBD harus dilaporkan segera dalam
waktu kurang dari 24 jam. Undang-undang No. 4 tahun 1984 juga menyebutkan bahwa wabah
adalah kejadian berjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat, yang jumlah
penderitanya meningkat secara nyata melebihi dari keadaan yang lazim pada waktu dan daerah
tertentu serta dapat menimbulkan malapetaka. Dalam rangka mengantisipasi wabah secara dini,
dikembangkan istilah kejadian luar biasa (KLB) sebagai pemantauan lebih dini terhadap kejadian
wabah. Tetapi kelemahan dari sistem ini adalah penentuan penyakit didasarkan atas hasil
pemeriksaan klinik laboratorium sehingga seringkali KLB terlambat diantisipasi (Sidemen A.,
2003).

Badan Litbangkes berkerja sama dengan Namru 2 telah mengembangkan suatu sistem surveilans
dengan menggunakan teknologi informasi (computerize) yang disebut dengan
Early Warning Outbreak Recognition System (EWORS). EWORS adalah suatu sistem jaringan
informasi yang menggunakan internet yang bertujuan untuk menyampaikan berita adanya
kejadian luar biasa pada suatu daerah di seluruh Indonesia ke pusat EWORS secara cepat (Badan
Litbangkes, Depkes RI). Melalui sistem ini peningkatan dan penyebaran kasus dapat diketahui
dengan cepat, sehingga tindakan penanggulangan penyakit dapat dilakukan sedini mungkin.
Dalam masalah DBD kali ini EWORS telah berperan dalam hal menginformasikan data kasus
DBD dari segi jumlah, gejala/karakteristik penyakit, tempat/lokasi, dan waktu kejadian dari
seluruh rumah sakit DATI II di Indonesia (Sidemen A., 2003)

KEGIATAN POKOK PENANGGULANGAN KLB


Penetapan populasi rentan thd KLB berdasarkan waktu, tempat pd klp masy
Langkah-langkah penetapan populasi rentan :
a) Memperkirakan adanya pop rentan KLB berdasar informasi dan data serta mempelajari
gambaran klinis (gejala,cara penularan,cara pengobatan) dan gambaran epid
(sumber&cara penularan, klp masy yg sering terserang, jml kasus,kematian, faktor ling,
budaya yg berpengaruh thd KLB)
b) Pengumpulan data (laporan rutin, data penyelidikan epid, laporan rutin data
kesakitan&kematian dr puskesmas/RS yg teratur & lengkap, data lab yg memberikn
infoms penyebab peny, data faktor risiko
c) Pengolahan dan penyajian data (tabel, grafk, peta)
d) Analisis dan interpretasi
e) Deseminasi informasi
f) Melakukan upaya pencegahan melalui perbaikan faktor risiko yg menyebabkan
timbulnya kerentanan dlm suatu pop
Upaya penanggulangan ditujukan pd:
-

Kuman penyakit dr sumber penularan


Memutus mata rantai penularan
Memperkuat sistem pelayanan kesh

g) Memantapkan pelaksanaan sistem kewaspadaan dini KLB penyakit


h) Memantapkan keadaan kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan tjd KLB
i) Penyelidikan dan penanggulangan pd saat tjd KLB

LANGKAH-LANGKAH DLM PENYELIDIKAN EPIDEMIOLOGI


Konfirmasi/menegakkan diagnosa (suspect cases, confirmed cases)
Memastikan adanya suatu KLB (dibandingkan periode sebelumnya), pastikan surveilans
berjln baik, informasi vektor,lingk,perilaku pddk
Rumusan hipotesis

Pengumpulan data epid (primer & sekunder)


PRIMER :kuesioner berdasar variabel epid 5W 1 H, pengambilan spesimen;
sekunder:jml kasus periode sblmnya ( min 1 th), pola penykt, vektor, dt lingk
Pengolahan data, analisis data dan interpretasi data
Rumusan kesimpulan
Tindakan penanggulangan

Pencegahan terjadinya wabah/KLB


a. Pencegahan tingkat pertama
Menurunkan faktor penyebab terjadinya wabah serendah mungkin dengan
cara desinfeksi, pasteurisasi, sterilisasi yang bertujuan untuk menghilangkan
mikroorganisme penyebab penyakit dan menghilangkan sumner penularan.
Mengatasi/modifikasi lingkungan melalui perbaikan lingkungan fisik seperti
peningkatan air bersih, sanitasi lingkungan, peningkatan lingkungan biologis
seperti pemberntasan serangga dan binatang pengerat serta peningkatan
lingkungan sosial seperti kepadatan rumah tangga.
Meningkatkan daya tahan pejamu meliputi perbaikan status gizi,kualitas hidup
penduduk, pemberian imunisasi serta peningkatan status psikologis.
b. Pencegahan
tingkat
kedua
Sasaran pencegahan ini terutama ditunjukkan pada mereka yang menderita atau dianggap
menderita (suspek) atau yang terancam akan menderita (masa tunas) dengan cara
diagnosis dini dan pengobatan yang tepat agar dicegah meluasnya penyakit atau untuk
mencegah timbulnya wabah serta untuk segera mencegah proses penyakit lebih lanjut
serta mencegah terjadinya komplikasi.
c. Pencegahan
tingkat
ketiga
Bertujuan untuk mencegah jangan sampai penderita mengalami cacat atau kelainan
permanen, mencegah bertambah parahnya suatu penyakit atau mencegah kematian akibat
penyakit tersebut dengan dilakukannya rehabilitasi.
d. Strategi
pencegahan
penyakit
Dilakukan usaha peningkatan derajad kesehatan individu dan masyarakat, perlindungan
terhadap ancaman dan gangguan kesehatan, pemeliharaan kesehatan, penanganan dan
pengurangan gangguan serta masalah kesehatan serta rehabilitasi lingkungan.
Faktor penyebab KLB

Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi timbulnya KLB/Wabah adalah Herd
Immunity. Secara umum dapat dikatakan bahwa herd immunity ialah kekebalan yang dimiliki

oleh sebagian penduduk yang dapat menghalangi penyebaran. Hal ini dapat disamakan dengan
tingkat kekebalan individu yaitu makin tinggi tingkat kekebalan seseorang, makin sulit terkena
penyakit tersebut. Demikian pula dengan herd immunity, makin banyak proporsi penduduk yang
kebal berarti makin tinggi tingkat herd immunity-nya hingga penyebaran penyakit menjadi
semakin
sulit.
Setelah terjadi wabah, jumlah penduduk yang kebal bertambah hingga herd immunity
meningkat hingga penyebaran penyakit berhenti. Setelah beberapa waktu jumlah penduduk yang
kebal menurun demikian pula dengan herd immunity-nya dan wabah penyakit tersebut datang
kembali, demikianlah seterusnya.

Kekebalan Kelompok (Herd Immunity)


Adalah tingkat kemampuan atau daya tahan suatu kelompok penduduk tertentu terhadap
serangan atau penyebaran unsur penyebab penyakit menular tertentu berdasarkan tingkat
kekebalan sejumlah tertentu anggota kelompok tersebut.
Herd Immunity merupakan faktor utama dalam proses kejadian wabah di masyarakat
serta kelangsungan penyakit pada suatu kelompok penduduk tertentu.
Wabah terjadi karena 2 keadaan :

Keadaan kekebalan populasi yakni suatu wabah besar dapat terjadi jika agent penyakit
infeksi masuk ke dalam suatu populasi yang tidak pernah terpapar oleh agen tersebut atau
kemasukan suatu agen penyakit menular yang sudah lama absen dalam populasi tersebut.
Bila suatu populasi tertutup seperti asrama, barak dimana keadaan sangat tertutup dan
mudah terjadi kontak langsung, masuknya sejumlah orang-orang yang peka terhadap
penyakit tertentu dalam populasi tsb. Ex: Asrama mahasiswa/tentara.

Pengukuran epidemiologi
Proporsi: Proporsi adalah perbandingan yang pembilangnya merupakan bagian dari
penyebut. Proporsi digunakan untuk melihat komposisi suatu variabel dalam populasi
Rumus:
Proporsi : x / (x+y) x k
Contoh:

Proporsi Mhs wanita =

Jumlah Mahasiswa wanita


------------------------------------------ k
Jumlah Mahasiswa wanita + pria

Proporsi Mahasiswa berprestasi


Proporsi Mahasiswa hafal Al Quran
Ratio: Ratio adalah perbandingan dua bilangan yang tidak saling tergantung. Ratio
digunakan untuk menyatakan besarnya kejadian
Rumus:
Ratio: (x/y) k

Ratio dapat juga dinyatakan sebagai perbandingan


Ratio x : y = 1 : 2
Contoh:

jumlah pria
---------------------- k
jumlah wanita
Pria : Wanita = x : y

Dependency ratio =

Juml usia (0 - <14th) + (>65 th)


------------------------------------------- k
Jumlah usia (15 64 th)
Contoh: Jumlah Mahasiswa Stikes = 100, ratio pria : wanita = 2 : 3. Berapa jumlah masing2
mahasiswa?

Rate : Rate adalah perbandingan suatu kejadian dengan jumlah penduduk yang mempunyai
risiko kejadian tersebut. Rate digunakan untuk menyatakan dinamika dan kecepatan kejadian
tertentu dalam masyarakat
Rumus:
Rate: (x/y) k
X: angka kejadian
Y: populasi berisiko
K: konstanta (angka kelipatan dari 10)
Contoh:

Campak berisiko pada balita


Diare berisiko pada semua penduduk
Ca servik berisiko pada wanita

PENGUKURAN ANGKA KESAKITAN/ MORBIDITAS


INCIDENCE RATE
Incidence rate adalah frekuensi penyakit baru yang berjangkit dalam masyarakat di suatu
tempat / wilayah / negara pada waktu tertentu

Incidence Rate (IR):

Jumlah penyakit baru


--------------------------------- k
Jumlah populasi berisiko
PREVALENCE RATE
Prevalence rate adalah frekuensi penyakit lama dan baru yang berjangkit dalam
masyarakat di suatu tempat/ wilayah/ negara pada waktu tertentu. PR yang ditentukan pada
waktu tertentu (misal pada Juli 2000) disebut Point Prevalence Rate. PR yang ditentukan pada
periode tertentu (misal 1 Januari 2000 s/d 31 Desember 2000) disebut Periode Prevalence Rate

Prevalence Rate (PR):

Jumlah penyakit lama + baru


--------------------------------------- k
Jumlah populasi berisiko
ATTACK RATE
Attack Rate adalah jumlah kasus baru penyakit dalam waktu wabah yang berjangkit
dalam masyarakat di suatu tempat/ wilayah/ negara pada waktu tertentu

Attack Rate (AR):

Jumlah penyakit baru


--------------------------------- k
Jumlah populasi berisiko

(dalam waktu wabah berlangsung)

PENGUKURAN MORTALITY RATE

CRUDE DEATH RATE


CDR adalah angka kematian kasar atau jumlah seluruh kematian selama satu tahun dibagi
jumlah penduduk pada pertengahan tahun

Rumus: CDR (Crude Death Rate)

Jumlah semua kematian


--------------------------------- k
Jumlah semua penduduk
SPECIFIC DEATH RATE
SDR adalah jumlah seluruh kematian akibat penyakit tertentu selama satu tahun dibagi
jumlah penduduk pada pertengahan tahun

Rumus: SDR (Specific Death Rate

Jumlah kematian penyakit x


----------------------------------- k
Jumlah semua penduduk
CASE FATALITY RATE
CFR adalah persentase angka kematian oleh sebab penyakit tertentu, untuk menentukan
kegawatan/ keganasan penyakit tersebut

CFR (Case Fatality Rate):

Jumlah kematian penyakit x


------------------------------------ x 100%
Jumlah kasus penyakit x
MATERNAL MORTALITY RATE
MMR = AKI = Angka kematian Ibu adalah jumlah kematian ibu oleh sebab kehamilan/
melahirkan/ nifas (sampai 42 hari post partum) per 100.000 kelahiran hidup

MMR (Maternal Mortality Rate):

Jumlah kematian Ibu


------------------------------ x 100.000
Jumlah kelahiran hidup
INFANT MORTALITY RATE
IMR = AKB = angka kematian bayi adalah jumlah kematian bayi (umur <1tahun) per
1000 kelahiran hidup

IMR (Infant Mortality Rate):

Juml kematian bayi


----------------------------- x 1000
Juml kelahiran hidup

NEONATAL MORTALITY RATE


NMR = AKN = Angka Kematian Neonatal adalah jumlah kematian bayi sampai umur < 4
minggu atau 28 hari per 1000 kelahiran hidup

NMR (Neonatal Mortality Rate):

Jumlah kematian neonatus


------------------------------------ x 1000
Jumlah kelahiran hidup
PERINATAL MORTALITY RATE
PMR = AKP = angka Kematian Perinatal adalah jumlah kematian janin umur 28 minggu
s/d 7 hari seudah lahir per 1000 kelahiran hidup

PMR (Perinatal Mortality Rate):

Jumlah kematian perinatal


---------------------------------- -x 1000
Jumlah kelahiran hidup

LI 2. Mempelajari perilaku kesehatan individu dan masyarakat (pola pencarian


pengobatan) serta aspek social budaya dalam pemanfaatan pelayanan kesehatan
Perilaku manusia adalah semua kegiatan atau aktivitas manusia, baik yang diamati langsung,
maupun yang tidak dapat diamati oleh pihak luar (Notoatmodjo, 2003).
Menurut Skinner, seperti yang dikutip oleh Notoatmodjo (2003), merumuskan bahwa perilaku
merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus atau rangsangan dari luar. Oleh
karena perilaku ini terjadi melalui proses adanya stimulus terhadap organisme, dan kemudian
organisme tersebut merespons, maka teori Skinner ini disebut teori S-O-R atau Stimulus
Organisme Respon.
Dilihat dari bentuk respon terhadap stimulus ini, maka perilaku dapat dibedakan menjadi dua
(Notoatmodjo, 2003) :
a. Perilaku tertutup (convert behavior). Perilaku tertutup adalah respon seseorang
terhadap stimulus dalam bentuk terselubung atau tertutup (convert). Respon atau
reaksi terhadap stimulus ini masih terbatas pada perhatian, persepsi, pengetahuan,
kesadaran, dan sikap yang terjadi pada orang yang menerima stimulus tersebut, dan
belum dapat diamati secara jelas oleh orang lain.
b. Perilaku terbuka (overt behavior).Respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk
tindakan nyata atau terbuka. Respon terhadap stimulus tersebut sudah jelas dalam
bentuk tindakan atau praktek, yang dengan mudah dapat diamati atau dilihat oleh
orang lain.
PENDIDIKAN KESEHATAN MASYARAKAT
Prinsip pendidikan kesehatan masyarakat

a. Pendidikan kesehatan bukan hanya pelajaran di kelas tetapi merupakan kumpulan


pengalaman dimana saja dan kapan saja sepanjang dapat mempengaruhi pengetahuan sikap
dan kebiasaan sasaran pendidikan
b. Pendidikan kesehatan tidak dapat secara mudah diberikan oleh seseorang kepada orang lain
karena pada akhirnya sasaran pendidikan itu sendiri yang dapat mengubah kebiasaan dan
tingkah lakunya sendiri.
c. Bahwa yang harus dilakukan oleh pendidik adalah menciptakan sasaran agar individu
keluarga, kelompok dan masyarakat dapat mengubah sikap dan tingkah lakunya sendiri.
d. Penddikan kesehatan dikatakan berhasil bila sasaran pendidikan ( individu),keluarga,
kelompok, dan masyarakat) sudah mengubah sikap dan tingkah lakunya sesuai dengan tujuan
yang telah ditetapkan.
Ruang Lingkup Pendidikan kesehatan masyarakat.
Dimensi sasaran
Pendidikan kesehatan individu dengan sasaran individu
Pendidikan kesehatan kelompok dengan sasaran kelompok masyarakat tertentu
Pendidikan kesehatan masyarakat dengan sasaran masyarakat luas
Dimensi tempat pelaksanaan
Pendidikan kesehatan dirumah sakit dengan sasaran pasien dan keluarga
Pendidikan kesehatan di sekolah dengan sasaran pelajar
Pendidikan kesehatan di masyarakat atau tempat kerja dengan sasaran masyarakat
atau pekerja
Dimensi tingkat pelayanan kesehhatan
Pendidikan kesehatan promosi kesehatan ( health promotion) missal ; Peningkatan
gizi, perbaikan sanitasi lingkungan , gaya hidup dan sebagainya
Pendidikan kesehatan untuk perlindungan khusus ( specific Protection) missal :
imunisasi
Pendidikan kesehatan untuk diagnosis dini dan pengobatan tepat (early diagnostic and
promt treatment ) missal : dengan pengobatan layak dan sempurna dapat menghindari
dari resiko kecacatan
Pendidikan kesehatan untuk rehabilitasi missal : dengan memulihkan kondisi cacat
melalui latihan latihan tertentu
METODE PENDIDIKAN KESEHATAN MASYARAKAT
a. Metode pendidikan individual ( perorangan)
Bimbingan dan penyuluhan ( guidance and counseling) yaitu ; kontak antara klien
dengan petugas lebih intensif, setiap masalah yang dihadapi oleh klien dapat
dikoreksi dan dibantu penyelesaianya, akhirnya klien tersebut akan dengan sukarela
dan bedasarkan kesadaran penuh pengertian akan menerima perilaku tersebut
( mengubah prilaku)
Interview ( wawancara);Yaitu merupakan bagian dari bimbingan dan penyuluhan dan
menggali informasi mengapa ia tidak atau belum menerima perubhan untuk
mengetahui apakah perilaku yang sudah atau yang akan diadopsi itu mempunyai

b.

c.

d.

e.

dasar pngertian dan kesadara yang kuat apabila belum maka peru penyuluhan yang
lebih mendalam lagi.
Metode pendidikan kelompok
Kelompok Besar : Ceramah, seminar
kelompok Kecil
: diskusi kelompok , Curah pendapat ( brain storming),
Bola salju ( snow balling), kelompok kecil kecil ( buzz group), Memainkan
peranan ( role play), Permainan simulasi ( simulation game ).
Metode pendidikan massa
Ceramah umum ( public speaking)
Pidato pidato diskusi tentang kesehatan melalui media elektronik baik TV maupun
radio, pada hakikatnya adalah merupakan bentuk pendidikan kesehatan massa
Simulasi dialog atar pasien dengan dokter atau petugas kesehatan lainnya tentang
suatu penyakit atau masalah kesehatan melalui tv atau radio
Tulisan tulisan di majalah / Koran baik dalam bentuk artikel maupun Tanya jawab /
konsultasi tentang kesehatan
Bill board yang dipasang dipinggir jalan ,spanduk dan poster
Alat bantu dan media pendidikan kesehatan masayarakat
Alat bantu (peraga) Alat alat yang digunakan oleh peserta didik dalam
menyampaikan bahan pendidikan /pengajaran. Macam macam alat bantu
pendidikan : Alat bantu lihat ( visual body) seperti Slide , film, film
strip
Alat bantu dengar ( audio aids) seperti piringan hitam, radio, pita suara
Alat bantu lihat dengar seperti : Televisi
Media Pendidikan Kesehatan
Media pendidikan kesehatan pada hakikatnya adalah alat bantu pedidikan ( audio visual
aids) disebut media pendidikan karena alat alat tersebut merupakan alat saluran ( channel)
untuk menyampaikan kesehatan karena alat alat tersebut digunakan untuk mempermudah
penerimaan pesan pesan kesehatan bagi masyarakat atau klien . berdasarkan fungsinya
sebagai penyaluran pesan pesa kesehatan ( media) media ini dibagi menjadi 3 : Cetak ,
elektronik. Media papan ( billboard)

ILMU PERILAKU DAN PERILAKU KESEHATAN


Konsep perilaku
Skinner ( 1938 ) seorang ahli perilaku mengemukakakn bahwa perilaku adalah merupakan hasil
hubungan antara perangsang ( stimulus) dan tanggapan ( respon) ia membagi menjadi 2 yaitu ;
a. Respondent respons reflexive respons ialah yang ditimbulkan oleh rangsangan tertentu
.perangsangan semacam ini disebut elicting stimuli, karena menimbulkan respon respons
yang relative tetap misalnya : makanan lezat menimbulkan keluarnya air liur , cahaya yang
kuat akan menimbulkan mata tertutup dll. Respondent respons ini mencakup juga emosi
respons atau emotional behavior. Emotional respons ini timbul karena hal yang kurang
mengenakan organism yang ersangkutan. Misalnya menangis karena sedih / sakit . muka
merah sebaliknya hal hal yang mengenakan pun dapat menimbulkan perilaku emosinal
misalnya tertawa, berjingkat jingkat karena senang.

b. Operant respons atau instrumental respons adalah respons yang timbul dan berkembang
diikuti oleh perangsangan tertentu. Perangsangan semacam ini disebut reinforcing stimuli
atau reinforce, karena perangsangan perangsangan tersebut memperkuat respons yang telah
dilakukan oleh organism. Oleh karena itu perangsangan yang demikian itu mengikuti atau
memperkuat sesuatu perilaku tertentu yang telah dilakukan . Contoh : apabila memperoleh
hadiah maka ia akan menjadi lebih giat belajar atau akan lebih baik lagi melakukan perbuatan
tersebut. Dengan kata lain respons nya akan lebih intensif atau lebih kuat lagi.
PERILAKU KESEHATAN
Yaitu respon seseorang terhadap stimulus yang berkaitan dengan sakit dan penyakit , system
pelayanan kesehatan makanan serta lingkungan .perilaku kesehatan mencangkup 4 yaitu :
a. Perilaku seseorang terhadap sakit dan penyakit yaitu bagaimana manusia merespon baik pasif
maupun aktif perilaku terhadap sakit dan penyakit ini dengan sendirinya sesuai dengan
tingkatan tingkatan pencegahan penyakit misalnya : Perilaku pencegahan penyakit ( health
prevention behavior) respon utuk melaakukan pencegahan penyakit misalnya tidur dengan
kelambu untuk mencegah gigitan nyamuk malaria .imunisasi
b. Perilaku terhadap pelayanan kesehatan , baik pelayanan kesehatan tradisional maupun
modern. Perilaku ini mencakup respons terhadap fasillitas pelayanan cara pelayanan, petugas
kesehatan, dan obat obatan yang terwjud dalam pengetahuan , persepsi, sikap dan
penggunaan fasilitas ,petugas dan obat obatan
c. Perilaku terhadap makanan ( nutrition behavior) yaitu respons seseorang terhadap makanan
sebagai kebutuhan vital bagi kehidupan , meliputi pengetahuan ,persepsi, sikap dan praktek
kita terhadap makanan serta unsure unsure yang terkandung didalamnya
d. Perilaku terhadap lingkungan kesehatan ( environmental health behavior) adalah respon
seseorang terhadap lingkungan sekitarnya sebagai determinan kesehatan manusia. Lingkup
perilaku ini seluas lingkup kesehatan lingkungan itu sendiri dengan bersih , pembuangan air
kotor dengan limbah dengan rumah yang sehat dengan pembersihan sarang saranng nyamuk
( vector) dll.

KLASIFIKASI PERILAKU
a. Perilaku kesehatan ( health behavior) yaitu hal hal yang berkaitan dengan memelihara ,
meningkatkan dan mencegah penyakit dengan tindakan tindakan perorangan seperti sanitasi,
memilih makanan dn kebersihan
b. Perilaku sakit ( illness behavior) yaitu tindakan seseorang dalam menyikapi sakit dan
kemampuan individu untuk mengidentifikasi penyakit ,penyebab penyakit serta usaha usaha
mencegah penyakit tersebut.
c. Perilaku peran sakit (the sick role behavior) yaitu tindakan seseorang yang sedang sakit
untuk memperoleh kesembuhan . perilaku ini disamping berpengaruh terhadap kesehatan
/kesakitanya sendiri juga berpengaruh terhadap kesehatan/kesakitanya sendiri juga
berpengaruh terhadap orang lain terutama anak anak yang belm mempunyai kesadaran dan
tanggung jawab terhadap kesehatanya.

RESPON PERILAKU TERHADAP PENYAKIT


a. Bentuk pasif
: respon internal yang terjadi di dalam diri manusia dan tidak secara
langsung dapat terlihat oleh orang lain missal tanggapan atau sikap batin dan pengetahuan.
b. Bentuk Aktif
: yaitu perilaku itu jelas dapat diobservasi secara langsung misalnya pada
kedua contoh diatas si ibu sudah membawa anaknya ke puskesmas untuk imunisasi
FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
a. Faktor predisposing berupa pengetahuan , sikap , kepercayaa, tradisi, nilai dll
b. Faktor enabling /pemungkin berupa ketersediaan sumber sumber / fasilitas peraturan
peraturan
c. Faktor reinforcing/ mendorong/memperkuat berupa tokoh agama , tokoh masyarakat.
PERUBAHAN PERILAKU
a. Teori Stimulus dan Transformasi
b. Teori teori belajar social ( social searching )
Tingkah laku sama ( same behavior )
Tingkah laku tergantung ( matched dependent behavior 0
Tingkah laku salinan ( copying behavior )
e. Teori belajar social dari bandara dan walter
Efek modeling ( modeling effect ) yaitu peniru melakukan tingkah laku baru melalui
asosiasi sehingga sesuai dengan tingkah laku model
Efek menghambat ( inhibition) dan menghapus hambatan ( dishinbition ) dimana tingkah
laku yang tidak sesuai dengaan model dihambat timbulnya, sedangkan tingkah laku yang
sesuai dengan tingkah laku model dihapuskan hambatannya sehingga timbul tingkah laku
yang dapat menjadi nyata
Efek kemudahan ( facilitation effect ) yaitu tingkah laku yang sudah pernah dipelajari
oleh peniru lebih mudah muncul kembali dengan mengamati tingkah laku model.
Pengetahuan, Sikap dan Perilaku Mengobati
Mayoritas masyarakat dengan pengetahuan kurang dan sedang (78%), sikap yang sedang
(8%) cenderung akan berobat ke puskesmas jika mereka telah menderita atau merasakan
matanya sakit seperti gatal, mata merah, belekan, jika telah mengalami kebutaan, bila sudah
tidak dapat bekerja , tidak dapat mengenali seseorang dalam jarak dekat maupun jauh, dan tidak
bisa berjalan dengan baik. Mereka biasanya akan mengeluh sakit pada matanya sehingga mereka
baru memeriksakan sakitnya ke puskesmas. Berdasarkan teori perilaku pencarian pelayanan
kesehatan disebutkan bahwa perilaku orang yang sakit untuk memperoleh penyembuhan
mencakup tindakan- tindakan seperti perilaku pencarian dan penggunaan fasilitas/tempat
pelayanan kesehatan (baik tradisional maupun modern). Tindakan ini dimulai dari mengobati
sendiri sampai mencari pengobatan di luar negeri

Masyarakat jika menderita sakit cenderung mengobati sendiri terlebih dahulu dengan
membeli obat di warung seperti tetes mata, salep di apotik tanpa resep dari dokter, mereka hanya
menanyakan kepada penjaga apotik obat mana yang biasa digunakan untuk mata merah, padahal
dengan mereka membeli obat tanpa resep dokter belum tentu itu baik buat kesehatan mata, dan
belum tentu obat tersebut tidak menimbulkan efek samping jika mengabaikan aturan pemakaian.
Dan ada juga yang mengobati secara tradisional yaitu dengan mengompres mata dengan air
hangat, air sirih, air teh, daun kelor dan air bambu. Di sisi lain masyarakat dengan pengetahuan
baik (22%) dan bersikap baik (92%) berperilaku langsung mengobati ke puskesmas atau rumah
sakit. Hal ini dikarenakan mereka mengetahui apa yang akan terjadi jika terlambat dalam
melakukan pengobatan, dan juga mereka memiliki dasar pengetahuan yang baik tentang
kesehatan, khususnya kesehatan mata. Sehingga jika mengalami gangguan pada mata mereka
langsung mengobati dengan rasional.

Pelayanan Kesehatan Modern


1. Polindes.
Polindes adalah salah satu program pembangunan oleh pemerintah RI bidang kesehatan
yang berangkat dari persoalan tingginya angka kesakitan dan kematian ibu karena hamil dan
bersalin. Program ini merupakan program penyediaan fasilitas layanan kesehatan di desa
yang jauh dari fasilitas kesehatan yang memadai. Tiga tujuan utama program adalah:
sebagai tempat pelayanan kesehatan ibu, anak dan KB.
sebagai tempat pemeriksaan kehamilan dan pertolongan persalinan.
sebagai tempat konsultasi, penyuluhan dan pendidikan kesehatan bagi masyarakat,
dukun bayi dan kader kesehatan.
Secara institusi dan gagasan, polindes merupakan representasi sistim medis modern yang
dalam proses intervensi di masyarakat sasaran akan bertemu dengan sistim medis lokal
tradisional. Dinamika dan proses komunikasi yang terjadi antara keduanya menghasilkan
adopsi parsial program oleh masyarakat sasaran. Hal yang menarik dari data temuan
lapangan adalah terdapat perbedaan perspektif antara program dan nilai-nilai lokal dalam
menginterpretasi kehamilan dan persalinan dan etiologi tentang sehat sakit. Program
beroperasi atas dasar prinsip-prinsip fisiologis dan model-model biomedis serta bekerja atas
diktum preventif.
Hal ini konsisten dengan cara kerja sistem medis modern (dalam hal ini program KIA di
polindes) yaitu mencegah lebih baik dari pada mengobati. Bagi pengetahuah lokal,
kehamilan dan persalinan lebih dijelaskan dalam kerangka religius dan transendental
sehingga campur tangan manusia dianggap minimal dan pasif. Dalam konteks pemikiran ini,
pemeliharaan dan perawatan dengan makna mencegah resiko sebalum terjadi tidak dikenal
dan dianggap mendahului takdir yang memberi rasionalisasi rendahnya angka kunjungan
konsultasi ibu selama kehamilan hingga paska bersalin. Pada gilirannya hal ini menghambat

deteksi dini resiko pada kehamilan ibu dan menghalangi upaya-upaya untuk mengatasinya.
Pendekatan program yang cendrung tekhnikal medis membuat program menjadi keras dan
impersonal bagi ibu. Memperhatikan dan mengadopsi sistim kognisi lokal, etiologi setempat
dan pola keterlibatan individu-individu dalam sistim sosial setempat kedalam program dapat
memberi keuntungan pada program dalam jangka panjang hingga program dapat
menyediakan layanan yang lebih sesuai dengan kondisi dan pengetahuan lokal. Upaya
memahami nilai-nilai budaya dan sistim sosial setempat memberi pemahaman tentang faktorfaktor yang menghambat diadopsinya program dan merancang strategi yang dapat
mendukung program. Kata kunci: Polindes, pelayanan kesehatan ibu hamil bersalin, faklor
sosial budaya.
2. Holistik Modern
Sudah saatnya bagi masyarakat untuk beralih ke layanan kesehatan holistik modern.
Dalam situasi biaya pelayanan kesehatan umum sekarang ini sangat tinggi dan kadangkadang terasa mencekik dan sulit dijangkau oleh sebagian besar masyarakat, maka untuk
mendapatkan konsultasi dan pengobatan berbagai penyakit secara maksimum dengan akurat
dan hemat, sudah saatnya masyarakat memanfaatkan layanan kesehatan Holistik Modern.
DR.ASVIAL RIVAI, M.D (M.A) sang pelopor dan pengembang layanan kesehatan
holistik modern itu di Indonesia sejak tahun 1997, menjelaskan. Di bawah ini, kami
tampilkan wawancara Kris Sadipun dari Bekasi Ekspres (BE) dengan DR.ASVIAL RIVAI
(AR) di Kantor Pusat Holistik Moderen, Mall Belannova, Sentul City, Bogor, dalam bentuk
tanya-jawab menyangkut keunggulan layanan kesehatan Holistik Moderen
BE: Apa yang dimaksud dengan layanan kesehatan Holistik Modern?
AR: Itu hanya sebuah nama. Apalah arti sebuah nama, banyak orang berkata begitu.
Tapi sebenarnya holistik modern merupakan sebuah sebutan terhadap satu sistem
pelayanan terpadu dalam memenuhi berbagai kebutuhan untuk pemeliharaan dan
perbaikan tingkat kesehatan yang mungkin sudah rusak yang disebut sakit-sakitan.
Layanan kesehatan holistik modern dalam arti yang sangat dalam, meliputi
berbagai pelayanan termasuk layanan pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh,
konsultasi kesehatan secara menyeluruh (baik fisik, emosional dan juga kejiwaan),
perawatan / pengobatan penyakit-penyakit secara menyeluruh (juga fisik, emosional
dan kejiwaan), pemberian nasehat dan anjuran-anjuran kesehatan secara menyeluruh
(berlaku juga untuk kesehatan fisik, emosional dan kejiwaan), kontrol ulang serta
bimbingan / tuntunan selama penyakit-penyakitnya belum sembuh atau selama masih
dibutuhkan oleh sipenderita. Itu dilakukan secara terpadu oleh satu tenaga praktisi
yang sudah dilatih untuk menekuni profesi itu, tanpa harus rujuk kesana sini, tanpa
harus ambil darah, tanpa suntikan, tanpa melukai dan malah tanpa buka-buka pakaian
sangat etis.
Dalam melakukan pemeriksaan kesehatan menyeluruh, digunakan berbagai metode yang
megacu pada ilmu pengetahuan kesehatan dengan benar, sebagai satu pandangan lain
nonmedis, yang merupakan terobosan baru dalam bidang kesehatan yang sangat sederhana
tapi sangat efektif, yaitu ilmu iridology yang berasal atau ditemukan oleh seorang dokter
medis di Eropa (yaitu satu ilmu pengetahuan bagaimana mendeteksi penyakit malalui tanda-

tanda yang terjadi pada mata akibat adanya gangguan penyakit itu), Ilmu kinesiology yang
berasal atau ditemukan oleh seorang ahli saraf di Amerika (yaitu ilmu pengetahuan
bagaimana mengetahui tingkat kesehatan organ-organ dan sistem tubuh melalui kelemahan
yang terjadi pada otot lengan) dan ilmu phytobiophysics yang berasal atau ditemukan oleh
seorang dokter juga di Inggris (yaitu bagaimana mengetahui dan memperbaiki tingkat
penyakit dan kelemahan tubuh seseorang melalui perobahan energy yang terjadi pada tubuh
yang ditest dengan energy bunga-bungaan berbagai warna). Dan ada juga berbagai cara
pendeteksian dan perawatan yang lain, seperti heart lock, jump leading, universal
energy, podorachidian dan lain-lain.
3. Pelayanan Kesehatan Tradisional
Sekalipun pelayanan kesehatan moderen telah berkembang di Indonesia, namun jumlah
masyarakat yang memanfaatkan pengobatan tradisional tetap tinggi. Menurut Survei Sosial
Ekonomi Nasional, 2001 ditemukan sekitar 57,7% penduduk Indonesia melakukan
pengobatan sendiri, sekitar 31,7% menggunakan obat tradisional serta sekitar 9,8%
menggunakan cara pengobatan.
Adapun yang dimaksud dengan pengobatan tradisional disini adalah cara pengobatan atau
perawatan yang diselenggarakan dengan cara lain diluar ilmu kedokteran atau ilmu
keperawatan yang lazim dikenal, mengacu kepada pengetahuan, pengalaman dan
keterampilan yang diperoleh secara turun temurun, atau berguru melalui pendidikan, baik asli
maupun yang berasal dari luar Indonesia, dan diterapkan sesuai norma yang berlaku dalam
masyarakat (UU No 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan).

Banyak faktor yang berperan, kenapa pemanfatan pengobatan tradisional masih tinggi di
Indonesia. Beberapa diantaranya yang dipandang penting adalah:
1. Pengobatan tradisional merupakan bagian dari sosial budaya masyarakat.
2. Tingkat pendidikan, keadaan sosial ekonomi dan latar belakang budaya masyarakat
menguntungkan pengobatan tradisional.
3. Terbatasnya akses dan keterjangkauan pelayanan kesehatan moderen.
4. Keterbatasan dan kegagalan pengobatan modern dalam mengatasi beberapa penyakit tertentu.
5. Meningkatnya minat masyarakat terhadap pemanfaatan bahan-bahan (obat) yang berasal dari
alam (back to nature).
6. Meningkatnya minat profesi kesehatan mempelajari pengobatan tradisional.
7. Meningkatnya modernisasi pengobatan tradisional.
8. Meningkatnya publikasi dan promosi pengobatan tradisional.
9. Meningkatnya globalisasi pelayanan kesehatan tradisional.
10. Meningkatnya minat mendirikan sarana dan menyelenggarakan pelayanan kesehatan
tradisional.

Pengobatan alternatif bias dilakukan dengan menggunakan obat-obat tradisional, yaitu bahan
atau ramuan bahan yang berasal dari tumbuhan, hewan, mineral, sediaan sarian (galenik), atau
campuran dari bahan-bahan tersebut yang turun-temurun telah digunakan untuk pengobatan
berdasarkan pengalaman. Pengobatan alternatif merupakan bentuk pelayanan pengobatan yang
menggunakan cara, alat atau bahan yang tidak termasuk dalam standar pengobatan kedokteran
moderen (pelayanan kedoteran standar) dan digunakan sebagai alternatif atau pelengkap
pengobatan kedokteran moderen tersebut.
Berbagai istilah telah digunakan untuk cara pengobatan yang berkembang di tengah
masyarakat. WHO (1974) menyebut sebagai traditional medicine atau pengobatan tradisional.
Para ilmuwan lebih menyukai traditional healding. Adapula yang menyebutkanalternatif
medicine. Ada juga yang menyebutkan dengan folk medicine, ethno medicine, indigenous
medicine (Agoes, 1992;59).
Dalam sehari-hari kita menyebutnya pengobatan dukun. Untuk memudahkan penyebutan maka
dalam hal ini lebih baik digunakan istilah pengobatan alternatif, karena dengan istilah ini apat
ditarik garis tegas perbedaan antara pengobatan moderen dengan pengobatan di luarnya dan juga
dapat merangkum sistem-sistem pengobatan oriental (timur) seperti pengobatan tradisional atau
sistem penyembuhan yang berakar dari budaya turun temurun yang khas satu etnis (etno
medicine).
Pengobatan alternatif sendiri mencakup seluruh pengobatan tradisional dan pengobatan alternatif
adalah pengobatan tradisional yang telah diakui oleh pemerintah. Pengobatan yang banyak
dijumpai adalah pengobatan alternatif yang berlatar belakang akar budaya tradisi suku bangsa
maupun agama. Pengobat (curer) ataupun penyembuh (healer) dari jasa pengobatan maupun
penyembuhan tersebut sering disebut tabib atau dukun. Pengobatan maupun diagnosa yang
dilakukan tabib atau dukun tersebut selalu identik dengan campur tangan kekuatan gaib ataupun
yang memadukan antara kekuata rasio dan batin.
Salah satu cirri pengobatan alternatif adalah penggunaan doa ataupun bacaan-bacaan.
Doa atau bacaan dapat menjadi unsur penyembuh utama ketika dijadikan terapi tunggal dalam
penyembuhan.Selain doa ada juga ciri yang lain yaitu adanya pantangan pantangan.
Pantangan berarti suatu aturan-aturan yang harus dijalankan oleh pasien. Pantangan-pantangan
tersebut harus dipatuhi demi kelancaran proses pengobatan, agar penyembuhan dapat selesai
dengan cepat.
Dimana pantanganpantangan tersebut sesuai dengan penyakit yang diderita pasien.
Seperti misalnya penyakit patah tulang maupun terkilir, biasanya dilarang unutk mengkonsumsi
minum es dan kacang-kacangan. Makanan-makanan tersebut menurutnya dapat mengganggu
aliran syaraf-syaraf yang akan disembuhkan.

LI 3. Mempelajari cakupan dan mutu pelayanan kesehatan dan imunisasi


Mutu pelayanan
Syarat pokok pelayanan kesehatan yang dimaksud adalah (Azwar, 1996) adalah :
a. Tersedia dan berkesinambungan
Syarat pokok pertama pelayanan kesehatan yang baik adalah pelayanan tersebut harus
tersedia di masyarakat (available) serta bersifat berkesinambungan (continuous). Artinya
semua jenis pelayanan kesehatan yang dibutuhkan oleh masyarakat dan mudah dicapai
oleh masyarakat.
b. Dapat diterima dan wajar
Syarat pokok kedua pelayanan kesehatan yang baik adalah apa yang dapat diterima
(acceptable) oleh masyarakat serta bersifat wajar (appropriate). Artinya pelayanan
kesehatan tersebut tidak bertentangan dengan adat istiadat, kebudayaan, keyakinan,
kepercayaan masyarakat dan bersifat wajar.
c. Mudah dicapai
Syarat pokok ketiga pelayanan kesehatan yang baik adalah yang mudah dicapai
(accessible) oleh masyarakat. Pengertian ketercapaian yang dimaksud disini terutama dari
sudut lokasi. Dengan demikian untuk mewujudkan pelayanan kesehatan yang baik, maka
pengaturan sarana kesehatan menjadi sangat penting.
d. Mudah dijangkau
Syarat pokok pelayanan kesehatan yang ke empat adalah mudah dijangkau (affordable)
oleh masyarakat. Pengertian keterjangkauan di sini terutama dari sudut biaya. Pengertian
keterjangkauan di sini terutama dari sudut jarak dan biaya. Untuk mewujudkan keadaan
seperti ini harus dapat diupayakan pendekatan sarana pelayanan kesehatan dan biaya
kesehatan diharapkan sesuai dengan kemampuan ekonomi masyarakat.
e. Bermutu
Syarat pokok pelayanan kesehatan yang kelima adalah yang bermutu (quality).Pengertian
mutu yang dimaksud adalah yang menunjuk pada tingkat kesempurnaan pelayanan
kesehatan yang diselenggarakan, yang disatu pihak dapat memuaskan para pemakai jasa
pelayanan, dan pihak lain tata cara penyelenggaraannya sesuai dengan kode etik serta
standar yang telah ditetapkan.

Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Mutu Pelayanan Kesehatan


Faktor-faktor tersebut antara lain :

a. Pergeseran masyarakat dan konsumen


Hal ini sebagai akibat dari peningkatan pengetahuan dan kesadaran konsumen terhadap
peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit dan upaya pengobatan. sebagai masyarakat
yang memiliki pengetahuan tentang masalah kesehatan yang meningkat, maka mereka
mempunyai kesadaran yang lebih besar yang berdampak pada gaya hidup terhadap
kesehatan. akibatnya kebutuhan masyarakat akan pelayanan kesehatan meningkat.
b. Ilmu pengetahuan dan teknologi baru.
Pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di sisi lain dapat meningkatkan
pelayanan kesehatan karena adanya peralatan kedokteran yang lebih canggih dan
memadai walau di sisi yang lain juga berdampak pada beberapa hal seperti meningkatnya
biaya pelayanan kesehatan, melambungnya biaya kesehatan dan dibutuhkannya tenaga
profesional akibat pengetahuan dan peralatan yang lebih modern.
c. Issu legal dan etik.
Sebagai masyarakat yaang sadar terhadap haknya untuk mendapatkan pelayanan
kesehatan dan pengobatan , issu etik dan hukum semakin meningkat ketika mereka
menerima pelayanan kesehatan. Pemberian pelayanan kesehatan yang kurang memadai
dan kurang manusiawi maka persoalan hukum kerap akan membayanginya.
d. Ekonomi
Pelayanan kesehatan yang sesuai dengan harapan barangkali hanya dapat dirasakan oleh
orang-orang tertentu yang mempunyai kemampuan untuk memperoleh fasilitas pelayanan
kesehatan yang dibutuhkan, namun bagi klien dengan status ekonomi rendah tidak akan
mampu mendapatkan pelayanan kesehatan yang paripurna karena tidak dapat
menjangkau biaya pelayanan kesehatan.
e. Politik
Kebijakan pemerintah dalam sistem pelayanan kesehatan akan berpengaruh pada
kebijakan tentang bagaimana pelayanan kesehatan yang diberikan dan siapa yang
menanggung biaya pelayanan kesehatan
Dimensi Mutu Pelayanan
a. Dimensi Kompetensi Teknis; berhubungan dengan bagaimana pemberi layanan kesehatan
mengikuti standar layanan kesehatan yang telah disepakati, yang meliputi ketepatan,
kepatuhan, kebenaran dan konsistensi.
b. Dimensi Keterjangkauan; artinya layanan kesehataan yang diberikan harus dapat dicapai
oleh masyarakat, baik dari segi geografis, sosial, ekonomi, organisasi, dan bahasa.
c. Dimensi Efetivitas; layanan kesehatan yang diberikan harus mampu mengobati atau
megurangi keluhan masyarakat/pasien dan mampu mencegah meluasnya penyakit yang
diderita olehnya.
d. Dimensi Efisiensi; dengan adanya layanan kesehatan yang efisiens maka masyarakat atau
pasien tidak perlu menunggu terlalu lama yang dapat mengakibatkan masyarakat/pasien
tersebut membayar terlalu mahal.
e. Dimensi Kesinambungan; masyarakat/pasien dilayanai secara terus menerus sesuai
dengan kebutuhannya, termasuk rujukan yang tidak perlu mengulangi prosedur.
f. Dimensi Keamanan; layanan kesehatan harus aman dari resiko cidera, infeksi, efek
samping, atau bahaya lainnya, sehingga prosedur yang akan menjamin pemberi dan
penerima pelayan disusun.

g. Dimensi Kenyamanan; layanan kesehatan yang diberikan akan terasa nyaman bagi
masyarakat/pasien jika dapat mempengaruhi kepuasan dan menimbulkan kepercayaan
untuk datang kembali.
h. Dimensi Informasi; layanan kesehatan ini sangat perlu diberikan oleh petugas puskesmas
dan rumah sakit kepada masyarakat, yang mana dapat mempengaruhi perubahan perilaku.
i. Dimensi Ketepatan Waktu; layanan kesehatan harus dilakukan dalam waktu dan cara
yang tepat, oleh pemberi layanan yang tepat, menggunakan peralatan dan obat yang tepat,
serta biaya yang tepat (efisien).
j. Dimensi Hubungan Antarmanusia; hubungan antarmanusia yang baik akan menimbulkan
kepercayaan dan kredibilitas dengan cara saling menghargai, menjaga rahasia, saling
menghormati, responsif, memberi perhatian, dan lain-lain.
IMUNISASI
Imunisasi adalah suatu prosedur rutin yang akan menjaga kesehatan anak anda. Kebanyakan dari
imunisasi ini adalah untuk memberi perlindungan menyeluruh terhadap penyakit-penyakit yang
berbahaya dan sering terjadi pada tahun-tahun awal kehidupan seorang anak. Walaupun
pengalaman sewaktu mendapatkan vaksinasi tidak menyenangkan untuk bayi anda (karena
biasanya akan mendapatkan suntikan), tapi rasa sakit yang sementara akibat suntikan ini adalah
untuk kesehatan anak dalam jangka waktu panjang.

Waktu dan Jadwal Pemberian imunisasi dasar pada bayi dan imunisasi TT pada ibu hamil
Imunisasi Aktif adalah kekebalan tubuh yang di dapat seorang karena tubuh yangsecara
aktif membentuk zat antibodi, contohnya: imunisasi polio atau campak. Imunisasi aktif
juga dapat di bagi 2 macam:
1. Imunisasi aktif alamiah adalah kekebalan tubuh yang secara otomatis di peroleh sembuh
dari suatu penyakit.
2. Imunisasi aktif buatan adalah kekebalan tubuh yang di dapat dari vaksinasi yang
diberikan untuk mendapatkan perlindungan dari sutu penyakit.
Imunisasi Pasif adalah kekebalan tubuh yang di dapat seseorang yang zat kekebalan
tubuhnya di dapat dari luar. Contohnya Penyuntikan ATC (Anti tetanusSerum). Pada orang
yang mengalami luka kecelakaan. Contah lain adalah terdapat pada bayi yang baru lahir
dimana bayi tersebut menerima berbagi jenis antibodi dari ibunya melalui darah plasenta
selama masa kandungan, misalnya antibodi terhadap campak. Imunisasi pasif ini dibagi
yaitu:
1. Imunisai pasif alamiah adalah antibodi yang didapat seorang karena diturunkan oleh ibu
yang merupakan orang tua kandung langsung ketika berada dalam kandungan.
2. Imunisasi pasif buatan. adalah kekebalan tubuh yang di peroleh karena suntikan
serumuntuk mencegah penyakit tertentu.

Lima macam Vaksin imunisasi dasar pada bayi yang wajib :


Vaksin Polio;
Bibit penyakit yang menyebabkan polio adalah virus, vaksin yang digunakan oleh banyak
negara termasuk Indonesia adalah vaksin hidup (yang telah diselamatkan) vaksin
berbentuk cairan. pemberian pada anak dengan meneteskan pada mulut. Kemasan
sebanyak 1 cc / 2 cc dalam 1 ampul.
Vaksin Campak;
Bibit penyakit yang menyebabkan campak adalah virus. Vaksin yang digunakan
adalah vaksin hidup. Kemasan dalam flacon berbentuk gumpalan yang beku dan
kering untuk dilarutkan dalam 5 cc pelarut. Sebelum menyuntikkan vaksin ini,
harus terlebih dahulu dilarutkan dengan pelarut vaksin (aqua bidest). Disebut
beku kering oleh karena pabrik pembuatan vaksin ini pertama kali membekukan
vaksin tersebut kemudian mengeringkannya. Vaksin yang telah dilarutkan
potensinya cepat menurun dan hanya bertahan selama 8 jam.
Vaksin BCG;
Vaksin BCG adalah vaksin hidup yang berasal dari bakteri. Bentuknya vaksin beku
kering seperti vaksin campak berbentuk bubuk yang berfungsi melindungi anak terhadap
penyakit tuberculosis (TBC). Dibuat dari bibit penyakit hidup yang telah dilemahkan,
ditemukan oleh Calmett Guerint. Sebelum menyuntikkan BCG, vaksin harus lebih dulu
dilarutkan dengan 4 cc cairan pelarut (NaCl 0,9%). Vaksin yang sudah dilarutkan harus
digunakan dalam waktu 3 jam. Vaksin akan mudah rusak bila kena sinar matahari
langsung. Tempat penyuntikan adalah sepertinya bagian lengan kanan atas.
Vaksin Hepatitis B;
Bibit penyakit yang menyebabkan hepatitis B adalah virus. Vaksin hepatitis B dibuat dari
bagian virus yaitu lapisan paling luar (mantel virus) yang telah mengalami proses
pemurnian. Vaksin hepatitis B akan rusak karena pembekuan dan pemanasan. Vaksin
hepatitis B paling baik disimpan pada temperatur 2,8C. Biasanya tempat penyuntikan di
paha 1/3 bagian atas luar.
Vaksin DPT;
Terdiri toxoid difteri, bakteri pertusis dan tetanus toxoid, kadang disebut triple vaksin.
Berisi vasin DPT, TT dan DT. Vaksin DPT disimpan pada suhu 2,8C kemasan yang
digunakan : Dalam - 5 cc untuk DPT, 5 cc untuk TT, 5 cc untuk DT. Pemberian
imunisasi DPT, DT, TT dosisnya adalah 0,5 cc. Dalam pemberiannya biasanya berupa
suntikan pada lengan atau paha.
Imunisasi yang disarankan :
Imunisasi
DT
Imunisasi DT memberikan kekebalan aktif terhadap toksin yang dihasilkan oleh kuman

penyebab difteri dan tetanus. Imunisasi diberikan bagi anak dengan kebutuhan khusus,
misalnya sudah mendapat suntikan DPT.
Imunisasi
TT
Imunisasi tetanus (TT, tetanus toksoid) memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit
tetanus. ATS (Anti Tetanus Serum) juga dapat digunakan untuk pencegahan (imunisasi
pasif) maupun pengobatan penyakit tetanus. Jenis imunisasi ini minimal dilakukan lima
kali seumur hidup untuk mendapatkan kekebalan penuh.
Imunisasi
Hib
Imunisasi Hib membantu mencegah infeksi oleh Haemophilus influenza tipe b.
Organisme ini bisa menyebabkan meningitis, pneumonia dan infeksi tenggorokan berat
yang bisa menyebabkan anak tersedak. Sampai saat ini, imunisasi HiB belum tergolong
imunisasi wajib, mengingat harganya yang cukup mahal. Dua jenis vaksin yang beredar
di Indonesia, yaitu Act Hib dan Pedvax.
Imunisasi
Meningitis
Imunisasi ini belum diwajibkan pemerintah karena biayanya masih cukup besar.
Imunisasi dilakukan bagi bayi dibawah usia satu tahun hingga balita. Imunisasi ini
mencegah terjadinya infeksi meningitis atau lapisan otak yang banyak terjadi pada bayi
dan balita.
Imunisasi
Varisella
Imunisasi varisella memberikan perlindungan terhadap cacar air.
Imunisasi
HBV
Imunisasi HBV memberikan kekebalan terhadap hepatitis B. Hepatitis B adalah infeksi
hati yang bisa menyebabkan kanker hati dan kematian. Karena itu imunisasi hepatitis B
termasuk yang wajib diberikan. Jadwal pemberian imunisasi ini sangat fleksibel,
tergantung kesepakatan dokter dan orangtua. Bayi yang baru lahir pun bisa
memperolehnya. Imunisasi ini pun biasanya diulang sesuai petunjuk dokter.
Imunisasi
Pneumokokus
Konjugata
Imunisasi pneumokokus konjugata melindungi anak terhadap sejenis bakteri yang sering
menyebabkan infeksi telinga. Bakteri ini juga dapat menyebabkan penyakit yang lebih
serius, seperti meningitis dan bakteremia (infeksi darah).
Imunisasi
Tipa
Imunisasi tipa diberikan untuk mendapatkan kekebalan terhadap demam tifoid (tifus atau
paratifus). Kekebalan yang didapat bisa bertahan selama tiga-lima tahun dan harus
diulang kembali. Imunisasi ini dapat diberikan dalam 2 jenis: imunisasi oral berupa
kapsul yang diberikan selang sehari selama 3 kali. Biasanya untuk anak yang sudah dapat
menelan kapsul.
Imunisasi
Hepatitis
A
Penyakit ini sebenarnya tidak berbahaya dan dapat sembuh dengan sendirinya. Tetapi bila
terkena penyakit ini penyembuhannya memerlukan waktu yang lama, yaitu sekitar 1- 2
bulan. Jadwal pemberian yang dianjurkan tak berbeda dengan imunisasi hepatitis B.
Vaksin hepatitis A diberikan dua dosis dengan jarak 6 - 12 bulan.

Imunisasi dasar untuk bayi


Vaksinasi

Jadwal

Booster/Ulanga

pemberian-usia

BCG

Waktu lahir

--

Hepatitis

Waktulahir-dosis

1 tahun-- pada Hepatitis B

bayi yang lahir

1bulan-dosis 2

Tuberkulosis

dari ibu dengan


hep B.

6bulan-dosis 3
DPT dan 3 bulan-dosis1

18bulan-

Dipteria,

Polio

booster1

pertusis,

4 bulan-dosis2
5 bulan-dosis3

6tahun-booster 2

tetanus,dan
polio

12tahunbooster3
campak

9 bulan

--

Campak

Imunisasi yang dianjurkan


Vaksinasi

Jadwal

Booster/Ulangan

pemberian-usia
MMR

1-2 tahun

Imunisasi untuk
melawan

12 tahun

Measles,
meningitis,
rubella

Hib

3bulan-dosis 1

18 bulan

Hemophilus
influenza tipe B

4bulan-dosis 2
5bulan-dosis 3
Hepatitis A

12-18bulan

--

Hepatitis A

Cacar air

12-18bulan

--

Cacar air

Yang harus diperhatikan, tanyakan dahulu dengan dokter anda sebelum imunisasi jika bayi anda
sedang sakit yang disertai panas; menderita kejang-kejang sebelumnya ; atau menderita penyakit
system saraf.

Jadwal imunisasi adalah informasi mengenai kapan suatu jenis vaksinasi atau imunisasi harus
diberikan kepada anak. Jadwal imunisasi suatu negara dapat saja berbeda dengan negara lain
tergantung kepada lembaga kesehatan yang berwewenang mengeluarkannya

Keterangan:
Rekomendasi imunisasi berlaku mulai 1 Januari 2014.
1. Vaksin Hepatitis B. Paling baik diberikan dalam waktu 12 jam setelah lahir dan
didahului pemberian injeksi vitamin K1. Bayi lahir dari ibu HBsAg positif, diberikan
vaksin hepatitis B dan imunoglobulin hepatitis B (HBIg) pada ekstremitas yang berbeda.
Vaksinasi hepatitis B selanjutnya dapat menggunakan vaksin hepatitis B monovalen atau
vaksin kombinasi.
2. Vaksin Polio. Pada saat bayi dipulangkan harus diberikan vaksin polio oral (OPV-0).
Selanjutnya, untuk polio-1, polio-2, polio-3 dan polio booster dapat diberikan vaksin
OPV atau IPV, namun sebaiknya paling sedikit mendapat satu dosis vaksin IPV.
3. Vaksin BCG. Pemberian vaksin BCG dianjurkan sebelum 3 bulan, optimal umur 2 bulan.
Apabila diberikan sesudah umur 3 bulan, perlu dilakukan uji tuberkulin.
4. Vaksin DTP. Vaksin DTP pertamadiberikan paling cepat pada umur 6 minggu. Dapat
diberikan vaksin DTwP atau DTaP atau kombinasi dengan vaksin lain. Untuk anak umur
lebih dari 7 tahun DTP yang diberikan harus vaksin Td, di-booster setiap 10 tahun.
5. Vaksin Campak. Campak diberikan pada umur 9 bulan, 2 tahun dan pada SD kelas 1
(program BIAS).
6. Vaksin Pneumokokus (PCV). Apabila diberikan pada umur 7-12 bulan, PCV diberikan
2 kali dengan interval 2 bulan; pada umur lebih dari 1 tahun diberikan 1 kali. Keduanya
perlu dosis ulangan 1 kali pada umur lebih dari 12 bulan atau minimal 2 bulan setelah
dosis terakhir. Pada anak umur di atas 2 tahun PCV diberikan cukup satu kali.

7. Vaksin Rotavirus. Vaksin rotavirus monovalen diberikan 2 kali, vaksin rotavirus


pentavalen diberikan 3 kali. Vaksin rotavirus monovalen dosis I diberikan umur 6-14
minggu, dosis ke-2 diberikan dengan interval minimal 4 minggu. Sebaiknya vaksin
rotavirus monovalen selesai diberikan sebelum umur 16 minggu dan tidak melampaui
umur 24 minggu. Vaksin rotavirus pentavalen: dosis ke-1 diberikan umur 6-14 minggu,
interval dosis ke-2, dan ke-3 4-10 minggu, dosis ke-3 diberikan pada umur kurang dari 32
minggu (interval minimal 4 minggu).
8. Vaksin Varisela. Vaksin varisela dapat diberikan setelah umur 12 bulan, namun terbaik
pada umur sebelum masuk sekolah dasar. Bila diberikan pada umur lebih dari 12 tahun,
perlu 2 dosis dengan interval minimal 4 minggu.
9. Vaksin Influenza. Vaksin influenza diberikan pada umur minimal 6 bulan, diulang setiap
tahun. Untuk imunisasi pertama kali (primary immunization) pada anak umur kurang dari
9 tahun diberi dua kali dengan interval minimal 4 minggu. Untuk anak 6 <36 bulan,
dosis 0,25 mL.
10. Vaksin Human papiloma virus (HPV). Vaksin HPV dapat diberikan mulai umur 10
tahun. Vaksin HPV bivalen diberikan tiga kali dengan interval 0, 1, 6 bulan; vaksin HPV
tetravalen dengan interval 0, 2, 6 bulan.

LANGKAH-LANGKAH KEGIATAN :
b. Petugas Imunisasi menerima kunjungan bayi sasaran Imunisasiyang telah membawa Buku
KIA / KMS di Ruang Imunisasi setelahmendaftar di loket pendaftaran.
c. Petugas memriksa status Imunisasi dalam buku KIA / KMS danmenentukan jenis imunisasi
yang akan diberikan.
d. Petugas menanyakan keadaan bayi kepada orang tuanya( keadaan bayi yang memungkinkan
untuk diberikan imunisasi atau bilatidak akan dirujuk ke Ruang Pengobatan ).
e. Petugas menyiapkan alat ( menyeteril alat suntik dan kapas airhangat ).
f. Petugas menyiapkan vaksin ( vaksin dimasukkan ke dalamtermos es ).
g. Petugas menyiapkan sasaran ( memberitahukan kepada orangbayi tentang tempat
penyuntikan.
h. Petugas memberikan Imunisasi ( memasukkan vaksin ke dalamalat suntik, desinfeksi tempat
suntikan dengan kapas air hangat, memberikansuntikan vaksin / meneteskan vaksin sesuai
dengan jadwal imunisasi yangakan diberikan.
i. Petugas melakukan KIE tentang efek samping pasca imunisasikepada orang tua bayi sasaran
imunisasi.
j. Petugas memberikan obat antipiretik untuk imunisasi DPT,dijelaskan cara dan dosis
pemberian.

k. Petugas memberitahukan kepada orang tua bayi mengenai jadwalimunisasi


berikutnya.Petugas mencatat hasil imunisasi dalam Buku KIA / KMS dan Buku Catatan
Imunisasiserta rekapitulasi setiap akhir bulannya
IMUNISASI TT UNTUK IBU HAMIL
Program Imunisasi TT Ibu Hamil

Program Imunisasi bertujuan untuk menurunkan angka kesakitan, kecacatan dan


kematian dari penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I).Untuk mencapai
hal tersebut, maka program imunisasi harus dapat mencapai tingkat cakupan yang tinggi dan
merata di semua wilayah dengan kualitas pelayanan yang memadai.
Pelaksanaan kegiatan imunisasi TT ibu hamil terdiri dari kegiatan imunisasi rutin dan
kegiatan tambahan. Kegiatan imunisasi rutin adalah kegiatan imunisasi yang secara rutin dan
terus-menerus harus dilaksanakan pada periode waktu yang telah ditetapkan. yang
pelaksanaannya dilakukan di dalam gedung (komponen statis) seperti puskesmas, puskesmas
pembantu, rumah sakit, rumah bersalin dan di luar gedung seperti posyandu atau melalui
kunjungan rumah. Kegiatan imunisasi tambahan adalah kegiatan imunisasi yang dilakukan atas
dasar ditemukannya masalah dari hasil pemantauan atau evaluasi. (Depkes RI, 2005).

Manfaat imunisasi TT ibu hamil


a. Melindungi bayinya yang baru lahir dari tetanus neonatorum (BKKBN, 2005; Chin, 2000).
Tetanus neonatorum adalah penyakit tetanus yang terjadi pada neonatus (bayi berusia kurang
1 bulan) yang disebabkan oleh clostridium tetani, yaitu kuman yang mengeluarkan toksin
(racun) dan menyerang sistim saraf pusat (Saifuddin dkk, 2001).
b. Melindungi ibu terhadap kemungkinan tetanus apabila terluka (Depkes RI, 2000)
Kedua manfaat tersebut adalah cara untuk mencapai salah satu tujuan dari program
imunisasi secara nasional yaitu eliminasi tetanus maternal dan tetanus neonatorum (Depkes,
2004)

Jadwal Imunisasi TT ibu hamil


k. Bila ibu hamil sewaktu caten (calon penganten) sudah mendapat TT sebanyak 2 kali, maka
kehamilan pertama cukup mendapat TT 1 kali, dicatat sebagai TT ulang dan pada kehamilan
berikutnya cukup mendapat TT 1 kali saja yang dicatat sebagai TT ulang juga.

l. Bila ibu hamil sewaktu caten (calon penganten) atau hamil sebelumnya baru mendapat TT 1
kali, maka perlu diberi TT 2 kali selama kehamilan ini dan kehamilan berikutnya cukup
diberikan TT 1 kali sebagai TT ulang.
m. Bila ibu hamil sudah pernah mendapat TT 2 kali pada kehamilan sebelumnya, cukup
mendapat TT 1 kali dan dicatat sebagai TT ulang.
Cara pemberian dan dosis
a. Sebelum digunakan, vaksin harus dikocok terlebih dahulu agar suspensi menjadi homogen.
b. Untuk mencegah tetanus/tetanus neonatal terdiri dari 2 dosis primer yang disuntikkan secara
intramuskular atau subkutan dalam, dengan dosis pemberian 0,5 ml dengan interval 4 minggu.
Dilanjutkan dengan dosis ketiga setelah 6 bulan berikutnya. Untuk mempertahankan
kekebalan terhadap tetanus pada wanita usia subur, maka dianjurkan diberikan 5 dosis. Dosis
ke empat dan ke lima diberikan dengan interval minimal 1 tahun setelah pemberian dosis ke
tiga dan ke empat. Imunisasi TT dapat diberikan secara aman selama masa kehamilan bahkan
pada periode trimester pertama.
c. Di unit pelayanan statis, vaksin TT yang telah dibuka hanya boleh digunakan selama 4
minggu dengan ketentuan :
Vaksin belum kadaluarsa
Vaksin disimpan dalam suhu +2 - +8C
Tidak pernah terendam air.
Sterilitasnya terjaga
VVM (Vaccine Vial Monitor) masih dalam kondisi A atau B.
d. Di posyandu, vaksin yang sudah terbuka tidak boleh digunakan lagi untuk
hari berikutnya.

Efek Samping
Efek samping jarang terjadi dan bersifat ringan, gejalanya seperti lemas dan kemerahan pada
lokasi suntikan yang bersifat sementara dan kadang-kadang gejala demam. (Depkes RI, 2005).
Vaksin TT (Tetanus Toxoid)
Deskripsi Vaksin jerap TT ( Tetanus Toxoid ) adalah vaksin yang mengandung toxoid tetanus
yang telah dimurnikan dan terabsorbsi ke dalam 3 mg/ml aluminium fosfat. Thimerosal 0,1
mg/ml digunakan sebagai pengawet. Satu dosis 0,5 ml vaksin mengandung potensi sedikitnya 40
IU. Dipergunakan untuk mencegah tetanus pada bayi yang baru lahir dengan mengimunisasi
Wanita Usia Subur (WUS) atau ibu
hamil, juga untuk pencegahan tetanus pada ibu bayi. (Depkes RI, 2005).

Kemasan Vaksin
Kemasan vaksin dalam vial. 1 vial vaksin TT berisi 10 dosis dan setiap 1 box vaksin terdiri dari
10 vial. Vaksin TT adalah vaksin yang berbentuk cairan.

Kontraindikasi Vaksin TT
Ibu hamil atau WUS yang mempunyai gejala berat (pingsan) karena dosis pertama TT. (Depkes
RI, 2005).

Sifat Vaksin
Vaksin TT termasuk vaksin yang sensitif terhadap beku (Freeze Sensitive=FS) yaitu golongan
vaksin yang akan rusak bila terpapar/terkena dengan suhu dingin atau suhu pembekuan. (Depkes
RI, 2005).

Kerusakan Vaksin
Keterpaparan suhu yang tidak tepat pada vaksin TT menyebabkan umur vaksin menjadi
berkurang dan vaksin akan rusak bila terpapar /terkena sinar matahari langsung.
LI 4. Mempelajari sistem rujukan kesehatan masyarakat
Tabel . Bentuk pelayanan kesehatan
Pelayanan
kesehatan
(tingkat)
Pertama
(primary
care)

Diperlukan untuk

- Masyarakat sakit ringan


health - Promosi kesehatan

Sifat pelayanan

Bentuk pelayanan

Basic health services


Primary health care

Puskesmas
Puskesmas pembantu
Puskesmas keliling
Balkesmas

Kedua
(Secondary
health services)

Ketiga
(tertiary
services)

- Masyarakat yang perlu Memerlukan


RS tipe C
- rawat inap
tersedianya tenaga-Tidak dapat ditangani tenaga spesialis
oleh pelayanan kesehatan
primer

Sudah
tidak
dapat Pelayanan
sudah RS tipa A dan B
health ditangani oleh pelayanan kompleks
kesehatan sekunder
Memerlukan tenagatenaga super spesialis

Dalam suatu sistem pelayanan kesehatan, ketiga jenis pelayanan tersebut tidak berdiri sendirisendiri, melainkan berada dalam suatu sistem dan saling berhubungan. Apabila pelayanan
kesehatan primer tidak dapat melakukan tindakan medis tingkat primer, maka ia menyerahkan
tanggung jawab tersebut ke tingkat pelayanan di atasnya, demikian seterusnya. Penyerahan
tanggung jawab dari satu pelayanan kesehatan ke pelayanan kesehatan yang lain disebut rujukan.
Sistem rujukan ialah suatu sistem penyelenggaraan pelayanan yang melaksanakan
pelimpahan tanggung jawab timbal balik terhadap satu kasus penyakit atau masalah kesehatan
secara vertical (dari unit yang lebih mampu menangani), atau secara horizontal (antara unit-unit
yang setingkat kemampuannya).
Secara garis besar rujukan dibedakan menjadi dua :
a. Rujukan medis
Rujukan yang berkaitan dengan upaya penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan
pasien. selain itu, juga mencakup rujukan pengetahuan (konsultasi medis), dan bahanbahan pemeriksaan
b. Rujukan kesehatan masyarakat
Rujukan yang berkaitan dengan upaya pencegahan penyakit (preventif) dan peningkatan
kesehatan (promotif). Rujukan ini mencakup rujukan teknologi, sarana, dan operasional.
Sebagai contoh :
Survey epidemiologi dan pemberantasan penyakit atas kejadian luar biasa atau
berjangkitnya penyakit menular
Pemberian pangan atas terjadinya kelaparan di suatu wilayah
Penyidikan sebab keracunan, bantuan teknologi penanggulangan keracunan dan
bantuan obat-obatan atas terjadinya keracunan masal

Pemberian makanan, tempat tinggal dan obat-obatan untuk pengungsi atas


terjadinya bencana alam
Saran dan teknologi untuk penyediaan air bersih atas masalah kekurangan air
bersih bagi masyarakat umum
Pemeriksaan spesimen air di laboratorium kesehatan dan sebagainya.

Tujuan Sistem Rujukan Upaya Kesehatan


a. Umum:
Dihasilkannya pemerataan upaya pelayanan kesehatan yang didukung mutu pelayanan
yang optimal dalam rangka memecahkan masalah kesehatan secara berdaya guna dan
beerhasil guna
b. Khusus:
Dihasilkannya upaya pelayanan kesehatan klinik yang bersifat kuratif dan
rehabilitatif secara berhasil guna dan berdaya guna
Dihasilkannya upaya kesehatan masyarakat yang bersifat preventif dan promotif
secara berhasil guna dan berdaya guna.

Jalur Rujukan berlangsung sebagai berikut:


a.
b.
c.
d.
e.
f.

Intern antar petugas Puskesmas


Antara Puskesmas Pembantu dengan Puskesmas
Antara masyarakat dengan Puskesmas
Antara satu Puskesmas dengan Puskesmas yang lain
Antara Puskesmas dengan RS, Laboratorium atau fasilitas kesehatan lainnya
Upaya kesehatan Rujukan

Langkah-langkah dalam meningkatkan rujukan:


a. Meningkatkan mutu pelayanan di Puskesmas dalam menampung rujukan dari Puskesmas
Pembantu dan Pos Kesehatan dari masyarakat
b. Mengadakan Pusat Rujukan Antara dengan mengadakan ruangan tambahan untuk 10
tempat tidur perawatan penderita gawat darurat pada lokasi yang strategis
c. Meningkatkan sarana komunikasi antara unit-unit pelayanan kesehatan dengan
perantaraan telpon atau radio komunikasi pada setiap unit pelayanan kesehatan
d. Menyediakan puskesmas keliling pada setiap kecamatan dalam bentuk kendaraan roda 4
atau perahu bermotor yang dilengkapi dengan radio komunikasi
e. Menyediakan sarana pencatatan dan pelaporan yang memadai bagi sistem rujukan, baik
rujukan medik maupun rujukan kesehatan
f. Meningkatkan dana sehat masyarakat untuk menunjang pelayanan rujukan
Keuntungan system rujukan
1. Pelayanan yang diberikan sedekat mungkin ke tempat pasien, berarti bahwa pertolongan
dapat diberikan lebih cepat, murah, dan secara psikologi member rasa aman pada pasien
dan keluarganya
2. Dengan adanya penataran yang teratur diharapkan pengetahuan dan keterampilan petugas
daerah makin meningkat sehingga semakin banyak kasus yang dapat dikelola di daerah
masing-masing.
3. Masyarakat desa dapat menikmati tenaga ahli

LI 5. Mempelajari tujuan syariat islam dan konsep darurat KLB


Islam menetapkan tujuan pokok kehadirannya untuk memelihara agama, jiwa, akal, jasmani,
harta, dan keturunan.Setidaknya tiga dari yang disebut berkaitan dengankesehatan. Tidak
heran jika ditemukan bahwa Islam amat kayadengan tuntunan kesehatan.
Paling tidak ada dua istilah literatur keagamaan yang digunakan untuk menunjuk
tentang pentingnya kesehatan dalampandangan Islam.
1. Kesehatan, yang terambil dari kata sehat;

2. Afiat.
Keduanya dalam bahasa Indonesia, sering menjadi kata majemuk sehat afiat. Dalam
Kamus Besar Bahasa Indonesra, kata "afiat" dipersamakan dengan "sehat". Afiat diartikan
sehat dan kuat,sedangkan sehat (sendiri) antara lain diartikan sebagai keadaan baik segenap
badan serta bagian-bagiannya (bebas dari sakit).Kalau sehat diartikan sebagai keadaan baik
bagi segenap anggota badan, maka agaknya dapat dikatakan bahwa mata yang sehat adalah
mata yang dapat melihat maupun membaca tanpa menggunakan kacamata. Tetapi, mata yang
afiat adalah yang dapat melihat dan membaca objek-objek yang bermanfaat serta
mengalihkan pandangan dari objek-objek yang terlarang, karena itulah fungsi yang diharapkan
dari penciptaan mata. Dalam konteks kesehatan fisik, misalnya ditemukan sabda Nabi

Muhammad Saw.:
Sesungguhnya badanmu mempunyai hak atas dirimu.

Demikian Nabi Saw. menegur beberapa sahabatnya yang bermaksud melampaui batas
beribadah, sehingga kebutuhan jasmaniahnya terabaikan dan kesehatannya terganggu.
Pembicaraan literatur keagamaan tentang kesehatan fisik, dimulai dengan meletakkan
prinsip:
Pencegahan lebih baik daripada pengobatan.
Karena itu dalam konteks kesehatan ditemukan sekian banyak petunjuk Kitab Suci
dan Sunah Nabi Saw. yang pada dasarnya mengarah pada upaya pencegahan.
Salah satu sifat manusia yang secara tegas dicintai Allah adalah orang yang menjaga
kebersihan. Kebersihan digandengkan dengan taubat dalam surat Al-Baqarah (2): 222:
Sesungguhnya Allah senang kepada orang yang bertobat,dan senang kepada orang yang
membersihkan diri. Tobat menghasilkan kesehatan mental, sedangkan kebersihan lahiriah
menghasilkan kesehatan fisik.Wahyu kedua (atau ketiga) yang diterima Nabi Muhammad Saw.
adalah: Dan bersihkan pakaianmu dan tinggalkan segala macam kekotoran (QS Al-Muddatstsir
[74]: 4-5).
ISLAM MEMERINTAHKAN UMATNYA UNTUK BEROBAT

Berobat pada dasarnya dianjurkan dalam agama islam sebab berobat termasuk upaya memelihara
jiwa dan raga, dan ini termasuk salah satu tujuan syariat islam ditegakkan, terdapat banyak
hadits dalam hal ini, diantaranya;
1. Dari Abu Darda berkata, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

Sesungguhnya Alloh menurunkan penyakit beserta obatnya, dan Dia jadikan setiap penyakit
ada obatnya, maka berobatlah kalian, tetapi jangan berobat dengan yang haram. (HR.Abu
Dawud 3874, dan disahihkan oleh al-Albani dalam Shahih wa Dhaif al-Jami 2643)
2. Dari Usamah bin Syarik berkata, ada seorang arab baduwi berkata kepada Nabi
shallallahu alaihi wa sallam:
: ( ) :
( ) :
Wahai Rosululloh, apakah kita berobat?, Nabi bersabda,berobatlah, karena sesungguhnya
Alloh tidak menurunkan penyakit, kecuali pasti menurunkan obatnya, kecuali satu penyakit
(yang tidak ada obatnya), mereka bertanya,apa itu ? Nabi bersabda,penyakit tua.
(HR.Tirmidzi 2038, dan disahihkan oleh al-Albani dalam Sunan Ibnu Majah 3436)
1. Menjadi wajib dalam beberapa kondisi:
a.Jika penyakit tersebut diduga kuat mengakibatkan kematian, maka menyelamatkan jiwa adalah
wajib.
b.Jika penyakit itu menjadikan penderitanya meninggalkan perkara wajib padahal dia mampu
berobat, dan diduga kuat penyakitnya bisa sembuh, berobat semacam ini adalah untuk perkara
wajib, sehingga dihukumi wajib.
c.Jika penyakit itu menular kepada yang lain, mengobati penyakit menular adalah wajib untuk
mewujudkan kemaslahatan bersama.
d.Jika penyakit diduga kuat mengakibatkan kelumpuhan total, atau memperburuk penderitanya,
dan tidak akan sembuh jika dibiarkan, lalu mudhorot yang timbul lebih banyak daripada
maslahatnya seperti berakibat tidak bisa mencari nafkah untuk diri dan keluarga, atau
membebani orang lain dalam perawatan dan biayanya, maka dia wajib berobat untuk
kemaslahatan diri dan orang lain.
2. Berobat menjadi sunnah/ mustahab

Jika tidak berobat berakibat lemahnya badan tetapi tidak sampai membahayakan diri dan orang
lain, tidak membebani orang lain, tidak mematikan, dan tidak menular , maka berobat menjadi
sunnah baginya.
3. Berobat menjadi mubah/ boleh
Jika sakitnya tergolong ringan, tidak melemahkan badan dan tidak berakibat seperti kondisi
hukum wajib dan sunnah untuk berobat, maka boleh baginya berobat atau tidak berobat
4. Berobat menjadi makruh dalam beberapa kondisi
a. Jika penyakitnya termasuk yang sulit disembuhkan, sedangkan obat yang digunakan diduga
kuat tidak bermanfaat, maka lebih baik tidak berobat karena hal itu diduga kuat akan berbuat sissia dan membuang harta.
b.Jika seorang bersabar dengan penyakit yang diderita, mengharap balasan surga dari ujian ini,
maka lebih utama tidak berobat, dan para ulama membawa hadits Ibnu Abbas dalam kisah
seorang wanita yang bersabar atas penyakitnya kepada masalah ini.
c.Jika seorang fajir/rusak, dan selalu dholim menjadi sadar dengan penyakit yang diderita, tetapi
jika sembuh ia akan kembali menjadi rusak, maka saat itu lebih baik tidak berobat.
d.Seorang yang telah jatuh kepada perbuatan maksiyat, lalu ditimpa suatu penyakit, dan dengan
penyakit itu dia berharap kepada Alloh mengampuni dosanya dengan sebab kesabarannya.
Dan semua kondisi ini disyaratlkan jika penyakitnya tidak mengantarkan kepada kebinasaan, jika
mengantarkan kepada kebinasaan dan dia mampu berobat, maka berobat menjadi wajib.
5. Berobat menjadi haram
Jika berobat dengan sesuatu yang haram atau cara yang haram maka hukumnya haram, seperti
berobat dengan khomer/minuman keras, atau sesuatu yang haram lainnya.

Memahami KLB dalam pandangan Islam

Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu
sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu). (Q.s. As-Syura: 30)

Dalam sudut pandang wahyu Allah terakhir, musibah dan bencana ada kaitannya dengan dosa
atau maksiat yang dilakukan oleh manusia-manusia pendurhaka.Bencana alam berupa letusan
gunung api, banjir bandang, wabah penyakit, kekeringan, kelaparan, kebakaran, dan lain
sebagainya, dalam pandangan alam Islam (Islamic worldview), tidaklah sekedar fenomena alam.
Al-Quran menyatakan dengan lugas bahwa segala kerusakan dan musibah yang menimpa umat
manusia itu disebabkan oleh perbuatan tangan mereka sendiri. Tentu saja kata tangan sebatas
simbol perbuatan dosa/maksiat, karena suatu perbuatan maksiat melibatkan panca indera, dan
juga dikendalikan dan diprogram sedemikian rupa oleh otak, kehendak dan hawa nafsu manusia.
Maksiat, sebagaimana taat, ada yang bersifat menentang tasyri Allah seperti melanggar perkara
yang haram, dan ada yang bersifat menentang takwin Allah (sunnatullah) seperti melanggar dan
merusak alam lingkungan

Bahkan sebelum dunia mengenal karantina, Nabi Muhammad Saw. telah menetapkan
dalam salah satu sabdanya,

Apabila kalian mendengar adanya wabah di suatu daerah,janganlah mengunjungi daerah itu,
tetapi apabila kalian berada di daerah itu, janganlah meninggalkannya

Prof. Dr. Soekidjo Notoatmodjo. Prinsip-Prinsip Dasar Ilmu Kesehatan Masyarakat. Cet. ke-2,
Mei. Jakarta : Rineka Cipta. 2003.
http://freyadefunk.wordpress.com/2012/12/19/wabah-epidemiologi/
http://epidemiolog.wordpress.com/2009/04/14/wabah/