Anda di halaman 1dari 37

BAB I

PENDAHULUAN

Presbikusis adalah penurunan pendengaran alamiah yang terjadi sejalan dengan proses
penuaan dan umumnya dimulai pada umur 65 tahun. Presbikusis terjadi pada nada tinggi dan pada
pemeriksaan audiometri nada murni terlihat berupa penurunan pendengaran jenis sensorineural
yang bilateral pada kedua telinga Dan simetris yang disebabkan oleh perubahan degeneratif telinga
bagian dalam. 1
Angka insidensi dari gangguan pendengaran akibat prebikusis pada lansia di Amerika
Serikat dilaporkan sebesar 25-30% untuk kelompok umur 65-70 tahun, sedangkan angka insidensi
untuk umur lebih dari 75 tahun sebesar 50%. Menurut hasil survei, jumlah pemakai alat bantu
dengar sampai saat ini di Amerika mencapai 20 juta orang.2
Pada tahun 1998, penelitian telah dilakukan oleh Dadang Candra mengenai prevalensi dan
pola penurunan pendengaran penderita presbikusis di Kodya Dan Kabupaten Bandung. Penelitian
ini memperoleh hasil prevalensi presbikusis untuk Kodya dan Kabupaten Bandung sebesar 62%.
Jumlah prevalensi ini mungkin akan bertambah pada tahun-tahun mendatang dikarenakan
peningkatan oleh jumlah lansia itu sendiri. Jumlah lansia di Indonesia menurut hasil perhitungan
Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2008 adalah sebanyak 19.500.000 jiwa. 1,2

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Page
1

2.1

ANATOMI DAN FISIOLOGI TELINGA


Telinga adalah organ penginderaan dengan fungsi ganda dan kompleks (pendengaran dan
keseimbangan). Indera pendengaran berperan penting pada partisipasi seseorang dalam aktivitas
kehidupan sehari-hari. Sangat penting untuk perkembangan normal dan pemeliharaan bicara, dan
kemampuan berkomunikasi dengan orang lain melalui bicara tergantung pada kemampuan
mendengar.1,3

Gambar 2.1: Anatomi Telingan Manusia


Telinga terdiri dari tiga bagian yaitu telinga bagian luar, telinga bagian tengah dan telinga
bagian dalam. Telinga bagian luar terdiri dari; pinna (daun telinga) dan meatus auditory eksterna.
Telinga bagian tengah merupakan rongga timpani yang berisi tiga tulang pendengaran yaitu
malleus, inkus dan stapes. Sementara telinga bagian dalam terdapat labirin oseus yang didalamnya
terdapat cairan endolimf dan labirin membran yang diidalamnya terdapat cairan perilimf. Kedua
cairan tersebut berperan sebagai media penghantar agar terjadi proses mendengar dan untuk
keseimbangan. 1,3

1. Anatomi Telinga Luar (Auris Eksterna)

Page
2

Telinga luar terdiri dari aurikula (atau pinna) dan kanalis auditorius eksternus, dipisahkan
dari telinga tengah oleh membrana timpani. Telinga terletak pada kedua sisi kepala kurang lebih
setinggi mata. Aurikulus melekat ke sisi kepala oleh kulit dan tersusun terutama oleh kartilago,
kecuali lemak dan jaringan bawah kulit pada lobus telinga. Aurikulus membantu pengumpulan
gelombang suara dan perjalanannya sepanjang kanalis auditorius eksternus. Tepat di depan meatus
auditorius eksternus adalah sendi temporal mandibular.
a. Aurikula/Pinna/Daun Telinga
Menampung gelombang suara datang dari luar masuk ke dalam telinga. Suara yang
ditangkap oleh daun telinga mengalir melalui saluran telinga ke gendang telinga. Gendang
telinga adalah selaput tipis yang dilapisi oleh kulit, yang memisahkan telinga tengah dengan
telinga luar.
b. Meatus Akustikus Eksterna/External Auditory Canal (Liang Telinga)
Saluran penghubung aurikula dengan membrane timpani panjangnya 2,5 3 cm yang
terdiri tulang rawan dan tulang keras, saluran ini mengandung rambut, kelenjar sebasea dan
kelenjar keringat, khususnya menghasilkan sekretsekret berbentuk serum. Kulit dalam kanal
mengandung kelenjar khusus, glandula seruminosa, yang mensekresi substansi seperti lilin yang
disebut serumen. Mekanisme pembersihan diri telinga mendorong sel kulit tua dan serumen ke
bagian luar tetinga. Serumen mempunyai sifat antibakteri dan memberikan perlindungan bagi
kulit. MAE ini juga berfungsi sebagai buffer terhadap perubahan kelembaban dan temperature
yang dapat mengganggu elastisitas membrane timpani. Fungsi dari daun telinga dan liang
telinga adalah mengumpulkan bunyi yang berasal dari sumber bunyi.1,3
c. Membran Timpani
Membran timpani merupakan selaput gendang telinga penghubung antara telinga luar
dengan telinga tengah, berupa jaringan fibrous tempat melekat os malleus. Terdiri dari jaringan
fibrosa elastic, bentuk bundar dan cekung dari luar. Membran timpani berbentuk bundar dan
cekung bila dilihat dari arah liang telinga dan terlihat oblik terhadap sumbu liang telinga.
Bagian atas disebut Pars Flaksida (Membran Shrapnell), sedangkan bagian bawah Pars Tensa
(Membran Propia). Pars flaksida hanya berlapis dua, yaitu bagian luar ialah lanjutan epitel kulit
liang telinga dan bagian dalam dilapisi oleh sel kubus bersilia, seperti epitel mukosa saluran
napas. Pars tensa mempunyai satu lapis lagi ditengah, yaitu lapisan yang terdiri dari serat
kolagen dan sedikit serat elastin yang berjalan secara radier dibagian luar dan sirkuler pada
bagian dalam. Bayangan penonjolan bagian bawah maleus pada membrane timpani disebut
Page
3

umbo. Di membran timpani terdapat 2 macam serabut, sirkuler dan radier. Serabut inilah yang
menyebabkan timbulnya reflek cahaya yang berupa kerucut.
Membran timpani dibagi dalam 4 kuadran dengan menarik garis searah dengan
prosesus longus maleus dan garis yang tegak lurus pada garis itu di umbo, sehingga didapatkan
bagian atas-depan, atas-belakang, bawah depan serta bawah belakang, untuk menyatakan
letak perforasi membrane timpani. Membran timpani berfungsi menerima getaran suara dan
meneruskannya pada tulang pendengaran. 4,5

2.

Anatomi Telinga Bagian Tengah (Auris Media)


Telinga tengah merupakan rongga berisi udara merupakan rumah bagi osikuli (tulang telinga
tengah) dihubungkan dengan nasofaring melalui tuba eustachii, dan berhubungan dengan beberapa
sel berisi udara di bagian mastoid tulang temporal. 3,4
Telinga tengah merupakan rongga udara diisi dengan tulang temporal yang terbuka ke udara
luar melalui tuba eustachius ke nasofaring dan melalui nasofaring ke lingkungan luar. Tuba
Eustachius ini biasanya tertutup, tetapi selama menelan, mengunyah, dan menguap ia akan
membuka, untuk menjaga tekanan udara pada kedua sisi gendang telinga tetap sama. Tuba juga
berfungsi sebagai drainase untuk sekresi.3,4
Page
4

Tiga tulang pendengaran, maleus, inkus, dan stapes, terletak di telinga tengah. Manubrium
(pegangan maleus) adalah melekat pada belakang membran timpani. Kepala dari maleus melekat
pada dinding telinga tengah, dan bagian pendeknya melekat pada inkus, yang pada akhirnya
berartikulasi dengan kepala stapes. Plat kaki pada stapes terpasang oleh ligamentum melingkar pada
dinding jendela oval. Dua otot kerangka kecil, tensor timpani dan stapedius, juga terletak di telinga
tengah. Kontraksi membrane timpani akan menarik manubrium maleus medial dan mengurangi
getaran dari membran timpani; kontraksi terakhir menarik kaki stapes dari stapes keluar dari jendela
oval.4,5
a. Kavum Timpani
Rongga timpani adalah bilik kecil berisi udara. Rongga ini terletak sebelah dalam
membrane timpani atau gendang telinga yang memisahkan rongga itu dari meatus auditorius
exsterna. Rongga itu sempit serta memiliki dinding tulang dan dinding membranosa, sementara
pada bagian belakangnya bersambung dengan antrum mastoid dalam prosesus mastoideus pada
tulang temporalis, melalui sebuah celah yang disebut aditus. Prosesus mastoideus adalah bagian
tulang temporalis yang terletak di belakang telinga, sementara ruang udara yang berada pada
bagian atasnya adalah antrum mastoideus yang berhubungan dengan rongga telinga tengah.
Infeksi dapat menjalar dari rongga telinga tengah hingga antrum mastoid dan dengan demikian
menimbulkan mastoiditis. 4,5
b. Antrum Timpani
Merupakan rongga tidak teratur yang agak luas terletak di bagian bawah samping dari
kavum timpani. Dilapisi oleh mukosa yang merupakan lanjutan dari lapisan mukosa kavum
timpani. Rongga ini berhubungan dengan beberapa rongga kecil yang disebut sellula mastoid
yang terdapat dibelakang bawah antrum di dalam tulang temporalis.
c. Tuba Eustachius
Tuba Eusthacius bergerak ke depan dari rongga telinga tengah menuju nasofaring, lantas
terbuka. Dengan demikian tekanan udara pada kedua sisi gendang telinga dapat diatur
seimbang melalui meatus auditorius externa, serta melalui tuba Eustachius (faring timpanik).
Celah tuba Eustachius akan tertutup jika dalam keadaan biasa, dan akan terbuka setiap kali kita
menelan. Dengan demikian tekanan udara dalam ruang timpani dipertahankan tetap seimbang
dengan tekanan udara dalam atmosfer, sehingga cedera atau ketulian akibat tidak seimbangnya
tekanan udara dapat dihindarkan. Adanya hubungan dengan nasofaring ini, memungkinkan
infeksi pada hidung atau tenggorokan dapat menjalar masuk ke dalam rongga telinga tengah. 4,5
d. TulangTulang Pendengaran
Page
5

Tulangtulang pendengaran merupakan tiga tulang kecil (osikuli) yang tersusun pada
rongga telinga tengah seperti rantai yang bersambung dari membran timpani menuju rongga
telinga dalam. Ketiga tulang tersebut adalah malleus, incus dan stapes. Osikuli dipertahankan
pada tempatnya oleh persendian, otot dan ligament yang membantu hantaran suara. Ada dua
jendela kecil (jendela oval dan bulat) di dinding medial jendela tengah, yang memisahkan
telinga tengah dengan telinga dalam. Bagian dataran kaki stapes menjejak pada jendela oval,
dimana suara dihantarkan ke telinga tengah. Jendela bulat memberikan jalan ke luar getaran
suara
Malleus, merupakan tulang pada bagian lateral, terbesar, berbentuk seperti martil dengan
gagang yang terkait pada membran timpani, sementara kepalanya menjulur ke dalam

ruang timpani.
Incus, atau landasan adalah tulang yang terletak di tengah. Sendi luarnya bersendi dengan
malleus, berbentuk seperti gigi dengan dua akar, sementara sisi dalamnya bersensi dengan

sebuah tulang kecil, yaitu stapes.


Stapes, atau tulang sanggurdi, adalah tulang yang dikaitkan pada inkus dengan ujungnya
yang lebih kecil, sementara dasarnya yang bulat panjang terkait pada membran yang
menutup fenestra vestibule.
Rangkaian tulangtulang ini berfungsi untuk mengalirkan getaran suara dari gendang

telinga menuju rongga telinga dalam. 4,4


3. Anatomi Telinga Dalam (Auris Interna)
Telinga dalam tertanam jauh di dalam bagian tulang temporal. Organ untuk pendengaran
(koklea) dan keseimbangan (kanalis semisirkularis), begitu juga kranial VII (nervus fasialis) dan
VIII (nervus koklea vestibularis) semuanya merupakan bagian dari komplek anatomi. Koklea dan
kanalis semisirkularis bersama menyusun tulang labirint. Ketiga kanalis semisi posterior, superior
dan lateral terletak membentuk sudut 90 derajat satu sama lain dan mengandung organ yang
berhubungan dengan keseimbangan. Organ akhir reseptor ini distimulasi oleh perubahan kecepatan
dan arah gerakan seseorang. 3,4,5
Labirin terdiri dari dua bagian, yang satu terletak dalam yang lainnya. Labirin tulang adalah
serangkaian saluran kaku sedangkan didalamnya terdapat labirin membran. Di dalam saluran ini,
dikelilingi oleh cairan yang disebut perilymph, adalah labirin membran. Struktur membran lebih
kurang serupa dengan bentuk saluran tulang. Bagian ini diisi dengan cairan yang disebut
endolymph, dan tidak ada hubungan antara ruang yang berisi endolymph dengan ruangan yang
dipenuhi dengan perilymph.
Page
6

Koklea berbentuk seperti rumah siput dengan panjang sekitar 3,5 cm dengan dua setengah
lingkaran spiral dan mengandung organ akhir untuk pendengaran, dinamakan organ Corti. Di dalam
tulang labirin, labirin membranosa terendam dalam cairan yang dinamakan perilimfe, yang
berhubungan langsung dengan cairan serebrospinal dalam otak melalui aquaduktus koklearis.
Labirin membranosa tersusun atas utrikulus, sakulus, dan kanalis semisirkularis, duktus koklearis,
dan organ korti. Labirin membranosa berisi cairan yang dinamakan endolimfe. Terdapat
keseimbangan yang sangat tepat antara perilimfe dan endolimfe dalam telinga dalam.
Banyak kelainan telinga dalam terjadi bila keseimbangan ini terganggu. Percepatan angular
menyebabkan gerakan dalam cairan telinga dalam di dalam kanalis dan merangsang sel-sel rambut
labirin membranosa. Akibatnya terjadi aktivitas elektris yang berjalan sepanjang cabang vestibular
nervus kranialis VIII ke otak. Perubahan posisi kepala dan percepatan linear merangsang sel-sel
rambut utrikulus. Ini juga mengakibatkan aktivitas elektris yang akan dihantarkan ke otak oleh
nervus kranialis VIII.
Di dalam kanalis auditorius internus, nervus koklearis (akustik), yang muncul dari koklea,
bergabung dengan nervus vestibularis, yang muncul dari kanalis semisirkularis, utrikulus, dan
sakulus, menjadi nervus koklearis (nervus kranialis VIII). Yang bergabung dengan nervus ini di
dalam kanalis auditorius internus adalah nervus fasialis (nervus kranialis VII). Kanalis auditorius
internus mem-bawa nervus tersebut dan asupan darah ke batang otak. 3,4,5

a.

Koklea
Page
7

Bagian koklea dari labirin adalah tabung melingkar yang pada manusia berdiameter 35 mm.
Sepanjang panjangnya, membran basilaris dan membran Reissner's membaginya menjadi tiga
kamar (scalae). Skala vestibule dan skala timpani berisi perilymph dan berkomunikasi satu sama
lain pada puncak koklea melalui lubang kecil yang disebut helicotrema. Skala vestibule berakhir
pada jendela oval, yang ditutup oleh kaki stapes dari stapes. Skala timpani berakhir pada jendela
bulat, sebuah foramen di dinding medial dari telinga tengah yang ditutup oleh membran timpani
fleksibel sekunder. Skala media, skala koklea ruang tengah, kontinu dengan labirin membran dan
tidak berkomunikasi dengan dua scalae lainnya. Skala ini berisi endolymph.
b.
Organ Korti
Organ korti yang terletak di membran basilaris, merupakan struktur yang berisi sel-sel
rambut yang merupakan reseptor pendengaran. Organ ini memanjang dari puncak ke dasar koklea
dan memiliki bentuk spiral. Ujung dari sel-sel rambut menembus lamina, membran retikuler yang
didukung Rod of Corti. Sel-sel rambut yang diatur dalam empat baris: tiga baris sel rambut luar
lateral ke terowongan dibentuk oleh Rod of Corti, dan satu baris sel rambut dalam medial
terowongan. Ada 20.000 sel rambut luar dan sel-sel rambut 3500 masing-masing bagian dalam
koklea manusia. Meliputi sel rambut adalah membran tectorial tipis, kental, tapi elastis di mana
ujung rambut luar tertanam.
Pada koklea terdapat sambungan yang erat di antara sel-sel rambut dan sel-sel phalangeal
berdekatan. Sambungan ini mencegah endolymph dari mencapai dasar sel. Namun, membran
basilaris relatif permeabel untuk perilymph dalam skala timpani, dan akibatnya, terowongan dari
organ Corti dan dasar sel-sel rambut terendam perilymph. Karena sambungan ketat yang serupa, hal
ini juga sama dengan sel-sel rambut di bagian lain dari telinga bagian dalam, yaitu endolymph
dibagian tengah, sedangkan basis mereka terendam perilymph. 4,5,6
c. Vestibulum
Vestibulum merupakan bagian tengah labirintus osseous pada vestibulum ini membuka
fenestra ovale dan fenestra rotundum dan pada bagian belakang atas menerima muara kanalis
semisirkularis. Vestibulum telinga dalam dibentuk oleh sakulus, utrikulus, dan kanalis
semisirkularis. Utrikulus dan sakulus mengandung macula yang yang diliputi oleh sel sel rambut.
Yang menutupi sel sel rambut ini adalah suatu lapisan gelatinosa yang ditembus oleh silia, dan
pada lapisan ini terdapat pula otolit yang mengandung lapisan kalsium dan dengan berat jenis yang
lebih besar daripada endolimfe. Karena pengaruh gravitasi maka gaya dari otolit akan
membengkokan silia sel sel rambut dan menimbulkan rangsangan pada reseptor.
Page
8

d. Jalur Saraf
Dari inti koklea, impuls pendengaran keluar melalui berbagai jalur ke colliculi inferior,
pusat refleks pendengaran, dan melalui corpus geniculate medial di thalamus ke korteks
pendengaran. Informasi dari kedua telinga menyatu, dan pada semua tingkat yang lebih tinggi
sebagian besar neuron menanggapi input dari kedua belah pihak. Korteks pendengaran primer,
daerah Brodmann's 41, adalah di bagian superior lobus temporal. Pada manusia, itu terletak di celah
sylvian dan tidak terlihat pada permukaan otak. Dalam korteks pendengaran primer, neuron yang
paling menanggapi masukan dari kedua telinga, tetapi ada juga strip dari sel-sel yang dirangsang
oleh masukan dari telinga kontralateral dan dihambat oleh masukan dari telinga ipsilateral.
Ada beberapa tambahan daerah menerima pendengaran, seperti ada daerah menerima
beberapa sensasi kutan. Daerah asosiasi pendengaran berdekatan dengan area penerima primer
pendengaran yang luas. Bundel olivocochlear adalah bundel serat eferen terkemuka di setiap saraf
pendengaran yang timbul dari kedua ipsilateral dan kompleks olivary kontralateral unggul dan
berakhir terutama di sekitar basis dari luar sel-sel rambut organ Corti.4,5,6
e. Kanalis Semisirkularis
Di setiap sisi kepala, kanal-kanal semisirkularis tegak lurus satu sama lain, sehingga mereka
berorientasi pada tiga ruang. Di dalam tulang kanal, kanal-kanal membran tersuspensi dalam
perilymph. Struktur reseptor, yang ampullaris crista, terletak di ujung diperluas (ampula) dari
masing-masing kanal selaput. crista Masing-masing terdiri dari sel-sel rambut dan sel sustentacular
diatasi oleh sebuah partisi agar-agar (cupula) yang menutup dari ampula. Proses dari sel-sel rambut
yang tertanam di cupula, dan dasar sel-sel rambut dalam kontak dekat dengan serat-serat aferen dari
divisi vestibular dari syaraf vestibulocochlear.
f. Utrikulus dan Sakulus
Dalam setiap labirin membran, di lantai utrikulus, ada organ otolithic (makula). Makula lain
terletak pada dinding sakulus dalam posisi semivertical. Macula mengandung sel-sel sustentacular
dan sel rambut, diatasi oleh membran otolithic di mana tertanam kristal karbonat kalsium, otoliths.
Otoliths, yang juga disebut otoconia atau telinga debu, mempunyai panjang berkisar 3 - 19 .
Prosesus dari sel-sel rambut yang tertanam di dalam membran. Serat saraf dari sel-sel rambut
bergabung yang berasal dari krista di divisi vestibular dari syaraf vestibulocochlear.
g. Sel Rambut
Page
9

Sel-sel rambut yang di telinga bagian dalam memiliki struktur umum. Setiap tertanam
dalam epitel terdiri dari pendukung atau sel sustentacular, dengan bagian akhirnya berhubungan
dengan neuron aferen. Memproyeksikan dari ujung apikal adalah proses 30-150 berbentuk batang,
atau rambut. Kecuali dalam koklea, salah satu, kinocilium, adalah silia benar tetapi nonmotile
dengan sembilan pasang mikrotubulus keliling lingkaran dan sepasang pusat mikrotubulus.
Kinocilium ini hilang dalam sel-sel rambut dalam koklea pada mamalia dewasa. Namun,
proses lainnya, yang disebut stereocilia, yang hadir di semua sel-sel rambut. Mereka memiliki inti
yang terdiri dari filamen aktin paralel. aktin ini dilapisi dengan berbagai isoform myosin. Dalam
rumpun proses pada setiap sel, ada struktur yang teratur. Sepanjang sumbu terhadap kinocilium itu,
peningkatan stereocilia semakin tinggi; sepanjang sumbu tegak lurus, semua stereocilia memiliki
ketinggian yang sama.
h. Elektrik
Potensi selaput sel-sel rambut adalah sekitar -60 mV. Ketika stereocilia didorong ke arah
kinocilium, potensi membran menurun menjadi sekitar -50 mV. Ketika bundel proses didorong
dalam arah yang berlawanan, sel hyperpolarized. Menggusur proses dalam arah tegak lurus
terhadap sumbu ini tidak memberikan perubahan potensial membran, dan menggusur proses dalam
arah yang pertengahan antara kedua arah menghasilkan depolarisasi atau hyperpolarization yang
proporsional dengan sejauh mana arah yang menuju atau jauh dari kinocilium. Dengan demikian,
rambut proses menyediakan mekanisme untuk menghasilkan perubahan potensial membran yang
proporsional dengan arah dan jarak bergerak rambut.
i. Pembentukan Potensial Aksi pada Serabut Saraf Aferen
Seperti disebutkan di atas, proses proyeksi sel-sel rambut ke endolymph sedangkan basis
bermandikan perilymph. Pengaturan ini diperlukan untuk produksi normal potensi generator.
perilymph ini terbentuk terutama dari plasma. Di sisi lain, endolymph terbentuk di media skala oleh
vascularis stria dan memiliki konsentrasi tinggi K + dan konsentrasi rendah Na +. Sel di vascularis
stria memiliki konsentrasi tinggi Na +-K + ATPase. Selain itu, tampak bahwa ada K electrogenic
unik + pompa di vascularis stria, yang menjelaskan kenyataan bahwa media skala yang elektrik
positif sebesar 85 mV relatif terhadap vestibule skala dan skala timpani.
Sangat halus proses yang disebut link ujung mengikat ujung stereocilium setiap sisi tetangga
yang lebih tinggi, dan di persimpangan di sana tampaknya saluran kation mekanis sensitif dalam
proses yang lebih tinggi. Ketika stereocilia pendek didorong ke arah yang lebih tinggi, waktu buka
dari kenaikan saluran. K+ kation yang paling berlimpah di endolymph-dan Ca 2+ masuk melalui
Page
10

saluran tersebut dan menghasilkan depolarisasi. Masih ada ketidakpastian yang cukup tentang
peristiwa berikutnya. Namun, satu hipotesis adalah bahwa motor molekul di tetangga yang lebih
tinggi langkah berikutnya saluran menuju dasar, melepaskan ketegangan di link ujung. Ini
menyebabkan saluran untuk menutup dan memungkinkan pemulihan keadaan istirahat. Motor
ternyata adalah berbasis myosin
Depolarisasi sel rambut menyebabkan mereka untuk merilis neurotransmitter, mungkin
glutamin, yang memulai depolarisasi dari tetangga neuron aferen. K + yang masuk ke sel-sel rambut
melalui saluran kation mekanis sensitif didaur ulang. Memasuki sel sustentacular dan kemudian
melewati ke sel sustentacular lain dengan cara sambungan ketat. Pada koklea, akhirnya mencapai
vascularis stria dan dikeluarkan kembali ke endolymph, melengkapi siklus. 4,5,6

4.

Fisiologi Pendengaran
Proses mendengar diawali dengan ditangkapnya energy bunyi oleh daun telinga dalam bentuk
gelombang yang dialirkan melalui udara atau tulang kekoklea. Getaran tersebut menggetarkan
membran timpani diteruskan ketelinga tengah melalui rangkaian tulang pendengaran yang akan
mengimplikasi getaran melalui daya ungkit tulang pendengaran dan perkalian perbandingan luas
membran timpani dan tingkap lonjong. Energi getar yang telah diamplifikasi ini akan diteruskan ke
stapes yang menggerakkan tingkap lonjong sehingga perilimfa pada skala vestibule bergerak.
Getaran diteruskan melalui membrane Reissner yang mendorong endolimfa, sehingga akan
menimbulkan gerak relative antara membran basilaris dan membran tektoria. Proses ini merupakan
rangsang mekanik yang menyebabkan terjadinya defleksi stereosilia sel-sel rambut, sehingga kanal
ion terbuka dan terjadi penglepasan ion bermuatan listrik dari badan sel. Keadaan ini menimbulkan
proses depolarisasi sel rambut, sehingga melepaskan neurotransmiter ke dalam sinapsis yang akan
menimbulkan potensial aksi pada saraf auditorius, lalu dilanjutkan ke nucleus auditorius sampai ke
korteks pendengaran (area 39-40) di lobus temporalis.

Page
11

2.2.

PRESBIKUSIS
2.2.1 Definisi
Presbikusis adalah tuli sensorineural pada usia lanjut akibat proses degenerasi organ
pendengaran, simetris (terjadi pada kedua sisi telinga) yang terjadi secara progresif lambat, dapat

Page
12

dimulai pada frekuensi rendah atau tinggi serta tidak ada kelainan yang mendasari selain proses
menua secara umum. 1,7
2.2.2 Etiologi
Schuknecht menerangkan bahwa penyebab kurang pendengaran akibat degenerasi ini
dimulai terjadinya atrofi di bagian epitel dan saraf pada organ corti. Lambat laun secara progresif
terjadi degenerasi sel ganglion spiral pada daerah basal hingga ke daerah apeks yang pada akhirnya
terjadi degenerasi sel-sel pada jaras saraf pusat dengan manifestasi gangguan pemahaman bicara.
Kejadian presbikusis diduga mempunyai hubungan dengan factor-faktor herediter, metabolisme,
aterosklerosis, bising, gaya hidup atau bersifat multifaktor. 1,7
2.2.3 Faktor Resiko
Presbikusis diduga berhubungan dengan faktor herediter, metabolisme, aterosklerosis,
bising, gaya hidup, dan pemakaian beberapa obat. Berbagai faktor risiko tersebut dan hubungannya
dengan presbikusis adalah sebagai berikut.
a. Usia dan jenis kelamin
Presbikusis rata-rata terjadi pada usia 60-65 tahun ke atas. Pengaruh usia terhadap
gangguan pendengaran berbeda antara laki-laki dan perempuan. Laki-laki lebih banyak
mengalami penurunan pendengaran pada frekuensi tinggi dan hanya sedikit penurunan pada
frekuensi rendah bila dibandingkan dengan perempuan. Perbedaan jenis kelamin pada
ambang dengar frekuensi tinggi ini disebabkan laki-laki umumnya lebih sering terpapar
bising di tempat kerja dibandingkan perempuan Sunghee et al. menyatakan bahwa
perbedaan pengaruh jenis kelamin pada presbikusis tidak seluruhnya disebabkan perubahan
di koklea.
Perempuan memiliki bentuk daun dan liang telinga yang lebih kecil sehingga dapat
menimbulkan efek masking noise pada frekuensi rendah. Penelitian di Korea Selatan
menyatakan terdapat penurunan pendengaran pada perempuan sebesar 2 kHz lebih buruk
dibandingkan lakilaki. Pearson

menyatakan sensitivitas pendengaran lebih baik pada

perempuan daripada laki-laki.


b. Hipertensi
Hipertensi yang berlangsung lama dapat memperberat resistensi vaskuler yang
mengakibatkan disfungsi sel endotel pembuluh darah disertai peningkatan viskositas darah,
penurunan aliran darah kapiler dan transpor oksigen. Hal tersebut mengakibatkan kerusakan
Page
13

sel-sel auditori sehingga proses transmisi sinyal mengalami gangguan yang menimbulkan
gangguan komunikasi. Kurang pendengaran sensori neural dapat terjadi akibat insufisiensi
mikrosirkuler pembuluh darah seperti emboli, perdarahan, atau vasospasme.
c. Diabetes mellitus
Pada pasien dengan diabetes melitus (DM), glukosa yang terikat pada protein dalam
proses glikosilasi akan membentuk advanced glicosilation end product (AGEP) yang
tertimbun

dalam

jaringan

dan

mengurangi

elastisitas

dinding

pembuluh

darah

(arteriosklerosis). Proses selanjutnya adalah dinding pembuluh darah semakin menebal dan
lumen menyempit yang disebut mikroangiopati.
Mikroangiopati pada organ koklea akan menyebabkan atrofi dan berkurangnya sel
rambut, bila keadaan ini terjadi pada vasa nervus VIII, ligamentum dan ganglion spiral pada
sel Schwann, degenerasi myelin, dan kerusakan axon maka akan menimbulkan neuropati.
National Health Survey USA melaporkan bahwa 21% penderita diabetik menderita
presbikusis terutama pada usia 60-69 tahun. Hasil audiometri penderita DM menunjukkan
bahwa frekuensi derajat penurunan pendengaran pada kelompok ini lebih tinggi bila
dibandingkan penderita tanpa DM.
d. Hiperkolesterol
Hiperkolesterolemia adalah salah satu gangguan kadar lemak dalam darah
(dislipidemia) di mana kadar kolesterol dalam darah lebih dari 240 mg/dL. Keadaan tersebut
dapat menyebabkan penumpukan plak /atherosklerosis pada tunika intima. Patogenesis
atherosklerosis adalah arteroma dan arteriosklerosis yang terdapat secara bersama.
Arteroma merupakan degenerasai lemak dan infiltrasi zat lemak pada dinding
pembuluh nadi pada arteriosklerosis atau pengendapan bercak kuning keras bagian lipoid
dalam tunika intima arteri sedangkan arteriosklerosis adalah kelainan dinding arteri atau
nadi yang ditandai dengan penebalan dan hilangnnya elastisitas/ pengerasan pembuluh nadi.
Keadaan tersebut dapat menyebabkan gangguan aliran darah dan transpor oksigen.
Teori ini sesuai dengan penelitian Villares yang menyatakan terdapat hubungan antara
penderita hiperkolesterolemia dengan penurunan pendengaran.
e. Merokok
Rokok mengandung nikotin dan karbonmonoksida yang mempunyai efek
mengganggu peredaran darah, bersifat ototoksik secara langsung, dan merusak sel saraf
organ koklea. Karbonmonoksida menyebabkan iskemia melalui produksi karboksihemoglobin (ikatan antara CO dan haemoglobin) sehingga hemoglobin menjadi tidak efisien
Page
14

mengikat oksigen. Seperti diketahui, ikatan antara hemoglobin dengan CO jauh lebih kuat
ratusan kali dibanding dengan oksigen. Akibatnya, terjadi gangguan suplai oksigen ke organ
korti di koklea dan menimbulkan efek iskemia. Selain itu, efek karmonmonoksida lainnya
adalah spasme pembuluh darah, kekentalan darah, dan arteriosklerotik.
Insufisiensi sistem sirkulasi darah koklea yang diakibatkan oleh merokok menjadi
penyebab gangguan pendengaran pada frekuensi tinggi yang progresif. Pembuluh darah
yang menyuplai darah ke koklea tidak mempunyai kolateral sehingga tidak memberikan
alternatif suplai darah melalui jalur lain. Mizoue et al. meneliti pengaruh merokok dan
bising terhadap gangguan pendengaran melalui data pemeriksaan kesehatan 4.624 pekerja
pabrik baja di Jepang. Hasilnya memperlihatkan gambaran yang signifikan terganggunya
fungsi pendengaran pada frekuensi tinggi akibat merokok dengan risiko tiga kali lebih besar.
f. Riwayat Bising
Gangguan pendengaran akibat bising adalah penurunan pendengaran tipe
sensorineural yang awalnya tidak disadari karena belum mengganggu percakapan seharihari. Faktor risiko yang berpengaruh pada derajat parahnya ketulian ialah intensitas bising,
frekuensi, lama pajanan per hari, lama masa kerja dengan paparan bising, kepekaan
individu, umur, dan faktor lain yang dapat berpengaruh. Berdasarkan hal tersebut dapat
dimengerti bahwa jumlah pajanan energi bising yang diterima akan sebanding dengan
kerusakan yang didapat. Hal tersebut dikarenakan paparan terus menerus dapat merusak selsel rambut koklea.7,8,9
2.2.4 Patogenesis
Presbikusis dapat dijelaskan dari beberapa kemungkinan patogenesis, yaitu degenerasi
koklea, degenerasi sentral, dan beberapa mekanisme mokuler, seperti faktor gen, stress oksidatif,
dan gangguan transduksi sinyal.7,8,9
a. Degenerasi Koklea
Presbikusis terjadi karena degenerasi stria vaskularis yang berefek pada nilai potensial
endolimfe yang menurun menjadi 20mV atau lebih. Pada presbikusis terlihat gambaran khas
degenerasi stria yang mengalami penuaan, terdapat penurunan pendengaran sebesar 40-50 dB
dan potensial endolimfe 20 mV (normal-90 mV).
b. Degenerasi Sentral
Perubahan yang terjadi akibat hilangnya fungsi nervus auditorius meningkatkan nilai ambang
dengar atau compound action potensial (CAP). Fungsi input-output dari CAP terefleksi juga
Page
15

pada fungsi input-output pada potensial saraf pusat, memungkinkan terjadinya asinkronisasi
aktifitas nervus auditorius dan penderita mengalami kurang pendengaran dengan pemahaman
bicara buruk.
c. Mekanisme Molekuler
i. Faktor Genetik
Strain yang berperan terhadap presbikusis, yaitu C57BL/6J merupakan protein pembawa
mutasi dalam gen cadherin 23 (Cdh23), yang mengkode komponen ujung sel rambut
koklea. Pada jalur intrinsik sel mitokondria mengalami apoptosis pada strain C57BL/6J
ii.

yang dapat mengakibatkan penurunan pendengaran.


Stres oksidatif
Seiring dengan pertambahan usia kerusakan sel akibat stress oksidatif bertambah dan
menumpuk selama bertahun-tahun yang akhirnya menyebabkan proses penuaan. Reactive
oxygen species (ROS) menimbulkan kerusakan mitokondria mtDNA dan kompleks protein

iii.

jaringan koklea sehingga terjadi disfungsi pendengaran.


Gangguan Transduksi Sinyal
Ujung sel rambut organ korti berperan terhadap transduksi mekanik, merubah stimulus
mekanik menjadi sinyal elektrokimia Gen famili cadherin 23 (CDH23) dan protocadherin
15 (PCDH15) diidentifikasi sebagai penyusun ujung sel rambut koklea yang berinteraksi
untuk transduksi mekanoelektrikal. Terjadinya mutasi menimbulkan defek dalam interaksi
molekul ini dan menyebabkan gangguan pendengaran.7,8,9

2.2.5 Patofisiologi
Penurunan sensitivitas ambang suara pada frekuensi tinggi merupakan tanda utama
presbikusis. Perubahan dapat terjadi pada dewasa muda, tetapi terutama terjadi pada usia 60 tahun
keatas. Terjadi perluasan ambang suara dengan bertambahnya waktu terutama pada frekuensi
rendah. Kasus yang banyak terjadi adalah kehilangan sel rambut luar pada basal koklea. Presbikusis
sensori memiliki kelainan spesifik, seperti akibat trauma bising. Pola konfigurasi audiometri
presbikusis sensori adalah penurunan frekuensi tinggi yang curam, seringkali terdapat notch (takik)
pada frekuensi 4kHz (4000 Hz).
Faktor lain seperti genetik, usia, ototoksis dapat memperberat penurunan pendengaran.
Perubahan usia yang akan mempercepat proses kurang pendengaran dapat dicegah apabila paparan
bising dapat dicegah. Goycoolea dkk, menemukan kurang pendengaran ringan pada kelompok
penduduk yang tinggal di daerah sepi (Easter Island) lebih sedikit jika dibandingkan kelompok
penduduk yang tinggal di tempat ramai dalam jangka waktu 3-5 tahun.

Page
16

Kesulitan mengontrol efek bising pada manusia yang memiliki struktur dan fungsi yang
sama dengan mamalia, Mills dkk, menyatakan bahwa terdapat kurang pendengaran lebih banyak
akibat usia pada kelompok hewan yang tinggal di tempat bising. Interaksi efek bising dan usia
belum dapat dimengerti sepenuhnya, oleh karena kedua faktor awalnya mempengaruhi frekuensi
tinggi pada koklea. Bagaimanapun, kerusakan akibat bising ditandai kenaikan ambang suara pada
frekuensi 3-6 kHz, walaupun awalnya dimulai pada frekuensi tinggi (biasanya 8 kHz). 1,7,8
Proses degenerasi telinga dalam pada lansia

Faktor herediter, hipertensi, penyakit sistemik, multifaktor

Perubahan struktur koklea dan nervus akustik

mbut penunjang pada organ corti, perubahan vaskular pada stria vakularis, jumlah dan ukuran sel ganglion s

Pendengaran berkurang secara perlahan, progresif, dan simetris pada kedua telinga

Telinga berdenging, pasien dapat mendengar tapi sulit memahami

Bila intensitas suara tinggi dapat timbul nyeri, disertai tinitus dan vertigo

2.2.6 Klasifikasi
Schuknecht membagi klasifikasi presbikusis menjadi 4 jenis: Sensori (outer hair-cell),
neural (ganglion-cell), metabolik (strial atrophy), dan koklea konduktif (stiffness of the basilar
membrane). Schuknecht menambahkan dua kategori: mixed dan indeterminate, terdapat 25% kasus,
dimana terjadi akibat perubahan patologi yang bermacama-macam. Prevalensi terbanyak menurut
Page
17

penelitian adalah jenis metabolic 34,6%, jenis lainnya neural 30,7%, mekanik 22,8% dan sensorik
11,9%.
1. Sensori
Tipe ini menunjukkan atrofi epitel disertai hilangnya sel-sel rambut dan sel
penyokong organ corti. Proses berasal dari bagian basal koklea dan perlahan-lahan menjalar
ke daerah apeks. Perubahan ini berhubungan dengan penurunan ambang frekuensi tinggi,
yang dimulai setelah usia pertengahan. Secara histologi, atrofi dapat terbatas hanya beberapa
millimeter awal dari basal koklea dan proses berjalan dengan lambat. Beberapa teori
mengatakan perubahan ini terjadi akibat akumulasi dari granul pigmen lipofusin. Ciri khas
dari tipe sensory presbyacusis ini adalah terjadi penurunan pendengaran secara tiba-tiba
pada frekuensi tinggi (slooping). (Gambar 2.3a.) Gambaran konfigurasi menurut
Schuknecht, jenis sensori adalah tipe noise-induced hearing loss (NIHL). Banyak terdapat
pada laki-laki dengan riwayat bising. 1,7,8

Gambar 2.3a. Audiogram sensory presbyacusis; 2.3b. Audiogram neural presbyacusis


2. Neural
Tipe ini memperlihatkan atrofi sel-sel saraf di koklea dan jalur saraf pusat. Atrofi
terjadi mulai dari koklea, dengan bagian basilarnya sedikit lebih banyak terkena dibanding
sisa dari bagian koklea lainnya. Tidak didapati adanya penurunan ambang terhadap
frekuensi tinggi bunyi. Keparahan tipe ini menyebabkan penurunan diskriminasi kata-kata
yang secara klinik berhubungan dengan presbikusis neural dan dapat dijumpai sebelum
terjadinya gangguan pendengaran. Efeknya tidak disadari sampai seseorang berumur lanjut
sebab gejala tidak akan timbul sampai 90% neuron akhirnya hilang. Pengurangan jumlah
Page
18

sel-sel neuron ini sesuai dengan normal speech discrimination. Bila jumlah neuron ini
berkurang di bawah yang dibutuhkan untuk tranmisi getaran, terjadilah neural presbyacusis.
Menurunnya jumlah neuron pada koklea lebih parah terjadi pada basal koklea. Gambaran
klasik: speech discrimination sangat berkurang dan atrofi yang luas pada ganglion spiralis
(cookie-bite).(Gambar 2.3b.)
3. Metabolik (Strial presbyacusis)
Tipe presbikusis yang sering didapati dengan ciri khas kurang pendengaran yang
mulai timbul pada dekade ke-6 dan berlangsung perlahan- lahan. Kondisi ini diakibatkan
atrofi stria vaskularis. Histologi: Atrofi pada stria vaskularis, lebih parah pada separuh dari
apeks koklea. Stria vaskularis normalnya berfungsi menjaga keseimbangan bioelektrik,
kimiawi dan metabolik koklea. Proses ini berlangsung pada seseorang yang berusia 30-60
tahun. Berkembang dengan lambat dan mungkin bersifat familial. Dibedakan dari tipe
presbikusis lain yaitu pada strial presbyacusisini gambaran audiogramnya rata, dapat mulai
frekuensi rendah, speech discrimination bagus sampai batas minimum pendengarannya
melebihi 50 dB (flat). Penderita dengan kasus kardiovaskular (heart attacks, stroke,
intermittent claudication) dapat mengalami prebikusis tipe ini serta menyerang pada semua
jenis kelamin namun lebih nyata pada perempuan
.(Gambar 2.4a.)

Gambar 2.4a. Audiogram metabolic presbyacusis; 2.4b. Audiogram mechanical presbyacusis

Page
19

4. Koklea konduktif
Tipe kekurangan pendengaran ini disebabkan gangguan gerakan mekanis di
membrane basalis. Gambaran khas audiogram yang menurun dan simetris (ski-sloop).
Histologi: Tidak ada perubahan morpologi pada struktur koklea ini. Perubahan atas respon
fisik khusus dari membran basalis lebih besar di bagian basal karena lebih tebal dan jauh
lebih kurang di apikal, di mana disini lebih lebar dan lebih tipis. Kondisi ini disebabkan
oleh penebalan dan kekakuan sekunder membran basilaris koklea. Terjadi perubahan
gerakan mekanik dari duktus koklearis dan atrofi dari ligamentum spiralis. Berhubungan
dengan tuli sensorineural yang berkembang sangat lambat. (Gambar 2.4b.) 1,7,8
2.2.7 Diagnosis
a. Anamnesis
Gejala yang timbul adalah penurunan ketajaman pendengaran pada usia lanjut,
bersifat sensorineural, simetris bilateral dan progresif lambat. Umumnya terutama terhadap
suara atau nada yang tinggi. Tidak terdapat kelainan pada pemeriksaan telinga hidung
tenggorok, seringkali merupakan kelainan yang tidak disadari. Penderita menjadi depresi
dan lebih sensitif. Kadang-kadang disertai dengan tinitus yaitu persepsi munculnya suara
baik di telinga atau di kepala.
Faktor risiko presbikusis adalah: 1) Paparan bising, 2) merokok, 3) obat-obatan, 4)
hipertensi, dan 5) riwayat keluarga. Orang dengan riwayat bekerja di tempat bising, tempat
rekreasi yang bising, dan penembak (tentara) akan mengalami kehilangan pendengaran pada
frekuensi tinggi. Penggunaan obat-obatan antibiotik golongan aminoglikosid, cisplatin,
diuretik, atau anti inflamasi dapat berpengaruh terhadap terjadinya presbikusis.1,7,9
b. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik pada telinga biasanya normal setelah pengambilan serumen, yang
merupakan problem pada penderita usia lanjut dan penyebab kurang pendengaran terbanyak.
Pemberian sodium bicarbonat solusi topikal 10%, sebagai serumenolitik. Pada membran
timpani normal tampak transparan. 7,9
c. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan misalnya pemeriksaan audiometri
nada murni, menunjukkan tuli saraf nada tinggi, bilateral dan simetris. Penurunan yang
tajam (slooping) pada tahap awal setelah frekuensi 2000 Hz. Gambaran ini khas pada
presbikusis sensorik dan neural. Kedua jenis presbikusis ini sering ditemukan. Garis ambang
Page
20

dengar pada audiogram jenis metabolik dan mekanik lebih mendatar, kemudian pada tahap
berikutnya berangsur-angsur terjadi penurunan. Semua jenis presbikusis tahap lanjut juga
terjadi penurunan pada frekuensi yang lebih rendah. Audiometri tutur menunjukkan adanya
gangguan diskriminasi wicara (speech discrimination) dan biasanya keadaan ini jelas terlihat
pada presbikusis jenis neural dan koklear. Variasi nilai ambang audiogram antara telinga
satu dengan lainnya pada presbikusis ini dapat terjadi sekitar 5-10 dB. Manusia sebenarnya
sudah mempunyai strain DNA yang menyandi terjadinya presbikusis. Sehingga dengan
adanya penyebab multifaktor risiko akan memperberat atau mempercepat presbikusis terjadi
lebih awal.
Pemeriksaan audiometri tutur pada kasus presbikusis sentral didapatkan pemahaman
bicara normal sampai tingkat phonetically balanced words dan akan memburuk seiring
dengan terjadinya overstimulasi pada koklea ditandaidengan adanya roll over. Penderita
presbikusis sentral pada intensitas tinggi menunjukkan penurunan dalam nilai ambang tutur
sebesar 20% atau lebih. 1,7,9
d. Skrining pendengaran
Skrining pendengaran dilakukan pada pemeriksaan fisik rutin atau pada penderita
dengan usia diatas 60 tahun. Pertanyaan yang diberikan adakah masalah dengan
pendengaran? Sangat efektif dan disertai penggunaan alat sensitif untuk mendeteksi
presbikusis.Sepuluh item dari Hearing handicap inventory for the elderly-short (HHIE-S)
banyak digunakan untuk skrining. Penilaian klinis seperti, tes bisik dan isyarat seringkali
tidak jelas dan tidak efektif dalam skrining. Audiometri yang dilakukan oleh perawat atau
seorang asisten merupakan pemeriksaan praktis untuk mendeteksi kurang pendengaran yang
signifikan. Pemeriksaan yang dibutuhkan untuk skrining audiometri harus jelas, biaya murah
dan dapat diterima oleh penderita.
Standar tes skrining audiometri pada level frekuensi 1 kHz, 2 kHz, dan 3 kHz dan
level intensitas 25 dB, 40 dB, dan 60 dB. Kelainan pada frekuensi 25 dB bagi penderita
dewasa muda atau 40 dB bagi usia lanjut merupakan penilaian yang tepat. Indikasi
pemeriksaan metabolik dilakukan pada penderita yang belum pernah melakukan
pemeriksaan kesehatan terutama dengan riwayat diabetes, disfungsi renal, hipertensi, dan
hiperlipidemi. 1,7,9

2.2.8 Penatalaksanaan

Page
21

Presbiakusis tidak dapat disembuhkan. Gangguan dengar pada presbiakusis adalah tipe
sensorineural

dan

tujuan

penatalaksanaanya

adalah

untuk

memperbaiki

kemampuan

pendengarannya dengan menggunakan alat bantu dengar. Alat ini berfungsi membantu penggunaan
sisa pendengaran lebih dari 40 dB. Selain itu dapat juga digunakan assistive listening devices, alat
ini merupakan amplifikasi sederhana yang mengirimkan signal pada ruangan dengan menggunakan
headset.10,11
Pada presbiakusis dimana terjadi penurunan pendengaran bersifat progresif perlahan yang
mulai terjadi pada nada tinggi, pada awalnya tidak terasa pendengaran menurun. Umumnya
gangguan dengar baru disadari jika kegiatan sehari-hari mengalami kesulitan. Pada orang tua
penurunan pendengaran sering disertai juga dengan penurunan diskriminasi bicara akibat perubahan
SSP oleh proses menua yang kemudiaan mengakibatkan perubahan watak yang bersangkutan
seperti mudah tersinggung, penurunan perhatian, penurunan konsentrasi, cepat emosi, dan
berkurangnya daya ingat.
Dengan demikian tidak semua penderita presbiakusis dapat diatasi dengan baik
menggunakan alat bantu dengar terutama pada presbiakusis tipe neural. Pada keadaan dimana tidak
dapat diatasi dengan bantuan dengar, penderita merasa adanya pennolakkan dari teman atau saudara
yang selanjutnya akan mengakibatkan hubungan jadi tidak baik sehingga penderita akan menarik
diri, terjadi pengurangan sosialisasi, penurunan fisik, penurunan aktifitas mental sehingga merasa
kesepian, dan akhirnya dapat terjadi depresi dan paranoid.
Untuk mengatasi hal ini dapat dicoba dengan cara latihan mendengar atau lip reading yaitu
dengan cara membaca gerakan mulu orang yang menjadi lawan bicaranya. Penting juga dilakukan
physiologic counseling yaitu memperbaiki mental penderita. Disini harus dijelaskan pada
keluarganya bagaimana memperlakukan atau menghadapi penderita presbiakusis. 10,11
Penderita yang mengalami perubahan kohlear tetapi ganglia spiralis dan jaras sentral masih
baik dapat digunakan kohlear implant. Rehabilitasi perlu sesegera mungkin untuk memperbaiki
komunikasi. Hal ini akan memberikan kekuatan mental karena orang tua dengan gangguan dengar
dianggap menderita senilitas, yaitu suatu hal yang biasa terjadi pada orang tua dan dianggap tidak
perlu diperhatikan.
Rehabilitasi pada penderita presbiakusis membutuhkan waktu dan kesabaran. Dibutuhkan
gabungan ahli THT, audiologi, neurologi, dan psikologi untuk menangani penderita ini.

Alat Bantu Dengar


Page
22

Pemasangan alat bantu dengar merupakan salah satu bagian yang penting dalam
penatalaksanaan gangguan dengar pada presbiakusis agar dapat memanfaatkan sisa pendengaran
semaksimal mungkin. Fungsi utamanya adalah untuk memperkuat (amplifikasi) bunyi sekitar
sehingga dapat:
1.
2.
3.
4.

Mendengar percakapan untuk berkomunikasi


Mengatur nada dan volume suaranya sendiri
Mendengar atau menyadari adanya tanda bahaya
Mengenal lingkungan

Yang penting adalah bunyi untuk berkomunikasi antara manusia sehingga alat ini harus
dapat menyaring dan memperjelas suara percakapan manusia yang berkisar antara 30-60 dB pada
frekuensi 500-2.000 Hz
Alat bantu dengar terdiri dari mikrofon (penerima suara), amplifer (pengeras suara), receiver
(penerus suara), cetakan telinga/ ear mold (menyumbat liang telinga dan pengaruh suara ke telinga
tengah), batere. 10,11
Alat bantu dengar dibedakan menjadi beberapa jenis :
a. Jenis saku (pocket type, body worn type)
Termasuk ABD terbesar. Mikrofon Dan amplifier berada dalam satu unit berbentuk
kotak; sedangkan receiver terpisah Dan berada diliang telinga. Antara kotak dengan
receiver dihubungkan melalui kabel (cord). Jenis ABD ini diperlukan oleh penderita
tuli berat atau sangat berat.
b. Jenis belakang telinga (BTE = behind the ear)
ABD ini dipasang pada lekukan daun telinga bagian belakang, dengan mikrofon
menghadap kedepan. Kemampuan amplifikasinya cukup besar, tersedia jenis super
power. Dalam hal mencegah bunyi feed back masih sedikit dibawah jenis saku.
c. Jenis ITE (In The Ear)
Dipasang pada bagian concha daun telinga. Komponen ABD menyatu denga ear
mould. Karena ukurannya yang relative kecil berarti jarak antara mikrofon dan
receiver juga lebih pendek, akibatnya kemampuan amplifikasinya terbatas sehingga
hanya cocok untuk ketulian derajat sedang.
d. Jenis ITC (In The Canal)
Pemasangan sampai setengah bagian luar liang telinga. Perkeraan suara (amplifikasi)
baik untuk frekuensi tinggi, karena dipasang cukup dalam pada liang telinga. Hanya
bermanfaat untuk tuli derajat sedang.
e. Jenis CIC (Completely In the Canal)
Merupakan ABD terkecil Dan dipasang disisi dalam liang telinga, jadi lebih dekat
dengan gendang telinga.
Page
23

BAB III
KESIMPULAN

Presbikusis adalah tuli sensorineural pada usia lanjut akibat proses degenerasi organ
pendengaran, simetris (terjadi pada kedua sisi telinga) yang terjadi secara progresif lambat, dapat
dimulai pada frekuensi rendah atau tinggi serta tidak ada kelainan yang mendasari selain proses
menua secara umum.
Kejadian presbikusis diduga mempunyai hubungan dengan factor-faktor herediter,
metabolisme, aterosklerosis, bising, gaya hidup atau bersifat multifaktor. Berbagai faktor risiko
tersebut dan hubungannya dengan presbikusis yaitu usia dan jenis kelamin, hipertensi, diabetes
mellitus, hiperkolesterol, dan merokok.
Presbikusis dapat dijelaskan dari beberapa kemungkinan patogenesis, yaitu degenerasi
koklea, degenerasi sentral, dan beberapa mekanisme mokuler, seperti faktor gen, stress oksidatif,
dan gangguan transduksi sinyal.
Klasifikasi presbikusis menjadi 4 jenis: Sensori (outer hair-cell), neural (ganglion-cell),
metabolik (strial atrophy), dan koklea konduktif (stiffness of the basilar membrane). Diagnose
ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.
Presbiakusis tidak dapat disembuhkan. Gangguan dengar pada presbiakusis adalah tipe
sensorineural

dan

tujuan

penatalaksanaanya

adalah

untuk

memperbaiki

kemampuan

pendengarannya dengan menggunakan alat bantu dengar. Alat ini berfungsi membantu penggunaan
sisa pendengaran lebih dari 40 dB.

DAFTAR PUSTAKA
Page
24

1. Soesilorini, M. 2011. Presbikusis. Diunduh dari: eprints.undip.ac.id/31380/2/.pdf. [Diakses


pada 10 Februari 2015]
2. Anonim. 2012. Presbikusis. Diunduh dari: http://www.scribd.com/doc/141952966/ReferatPresbikusis. [Diakses pada 10 Februari 2015 ]
3. Setiadi. 2007. Anatomi dan Fisiologi Manusia. Yogyakarta: Graha Ilmu.
4. Suwento, Ronny et Hendarmin, Hendarto. 2011. Gangguan Pendengaran Pada Geriatri.
Dalam Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga, Hidung, Tengorok dan Leher.Edisi 6.Jakarta :
FKUI
5. Sherwood, lauralee. 2001. Fisiologi Manusia Dari Sel ke Sistem edisi 2. Jakarta: EGC
6. Yati.
2012.
Anatomi
dan
Fisiologi
Telinga.
Diunduh
dari:
http://udayatimade.blogspot.com/2012/06/anatomi-dan-fisiologi-telinga.html. [Diakses pada
12 Februari 2015]
7. Muyassaroh, M. 2013. Faktor Risiko Presbikusis - Health Science Journals. Diunduh dari:
indonesia.digitaljournals.org/index.php/.../1187. [Diakses pada 11 Februari 2015]
8. Dipa dkk, 2012. Gangguan Pendengaran pada Lansia. Diunduh

dari:

http://muhammadananggadipa.wordpress.com/2012/01/12/gangguan-pendengaran-padalansia/. [Diakses pada 14 Februari 2015]


9. Anonim.
2012.
Presbikusis.

Diunduh

dari:

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/30607/4/Chapter%20II.pdf. [Diakses pada


12 Februari 2015]
10. Dewi, Afriani. 2011.

Presbiakusis.

Diunduh

dari:

http://pustaka.unpad.ac.id/wp-

content/uploads/2009/05/presbiakusis.pdf. [Diakses pada 12 Februari 2015]


11. Shohet J.A, Talavera F, Pharm D, Gianoli G, Slack, dkk. Inner ear, Presbycusis. 2005.
Diunduh dari: http/www/emedicine.com. [Diakses pada 16 Februari 2015]

Catatan
FISIOLOGI TELINGA: PENDENGARAN
Secara umum, kenyaringan suara berhubungan dengan amplitudo gelombang suara dan nada
suara dengan berhubungan frekuensi (jumlah gelombang per unit waktu). Semakin besar amplitudo,
makin keras suara, dan semakin besar frekuensi, semakin tinggi nada suaranya. Namun, pitch juga
Page
25

ditentukan oleh faktor-faktor kurang dipahami lain selain frekuensi, dan frekuensi mempengaruhi
kenyaringan, karena ambang pendengaran lebih rendah di beberapa frekuensi dari yang lain.
Amplitudo dari gelombang suara dapat dinyatakan dalam perubahan tekanan maksimum
pada gendang telinga, tetapi skala relatif lebih nyaman. Skala desibel adalah skala tertentu.
Intensitas suara dalam satuan bels adalah logaritma rasio intensitas suara itu dan suara standar.
Sebuah desibel (dB) adalah 0,1 bel. Oleh karena itu, intensitas suara adalah sebanding dengan
kuadrat tekanan suara.
Tingkat referensi standar suara yang diadopsi oleh Acoustical Society of America sesuai
dengan 0 desibel pada tingkat tekanan 0,000204 dyne/cm2, nilai yang hanya di ambang
pendengaran bagi manusia rata-rata. Penting untuk diingat bahwa skala desibel adalah skala log.
Oleh karena itu, nilai 0 desibel tidak berarti tidak adanya suara tapi tingkat intensitas suara yang
sama dengan yang standar. Lebih jauh lagi, 0 140 decibel dari ambang tekanan sampai tekanan
yang berpotensi merusak organ Corti sebenarnya merupakan 107 (10 juta) kali lipat tekanan suara.
Frekuensi suara yang dapat didengar untuk manusia berkisar antara 20 sampai maksimal
20.000 siklus per detik (cps, Hz). Ambang telinga manusia bervariasi dengan nada suara,
sensitivitas terbesar berada antara 1000 - 4000-Hz. Frekuensi dari suara pria rata-rata dalam
percakapan adalah sekitar 120 Hz dan bahwa dari suara wanita rata-rata sekitar 250 Hz. Jumlah
frekuensi yang dapat dibedakan dengan individu rata-rata sekitar 2000, namun musisi yang terlatih
dapat memperbaiki angka ini cukup. Pembedaan dari frekuensi suara yang terbaik berkisar antara
1000 - 3000-Hz dan lebih buruk pada frekuensi yang lebih tinggi atau lebih rendah.
Masking
Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa kehadiran satu suara menurunkan kemampuan
individu untuk mendengar suara lain. Fenomena ini dikenal sebagai masking. Hal ini diyakini
karena perangsangan reseptor pendengaran baik secara relatif ataupun secara absolut terhadap
rangsangan lain. Tingkat dimana nada memberikan efek masking terhadap nada lain tergantung dari
frekuensinya.
Transmisi Suara
Telinga mengubah gelombang suara pada lingkungan luar menjadi potensial aksi pada sarafsaraf pendengaran. Getaran diubah oleh gendang telinga dan tulang-tulang pendengaran menjadi
energi gerak yang menggerakkan kaki dari stapes. Pergerakan ini akan memberikan gelombang

Page
26

pada cairan di telinga dalam. Getaran pada organ korti akan menghasilkan potensial aksi di sarafsaraf pendengaran
Fungsi dari Membran Timpani dan Tulang-tulang Pendengaran
Dalam menanggapi perubahan tekanan yang dihasilkan oleh gelombang suara pada
permukaan eksternal, membran timpani bergerak masuk dan keluar. Membran itu berfungsi sebagai
resonator yang mereproduksi getaran dari sumber suara. Membran akan berhenti bergetar segera
ketika berhenti gelombang suara. Gerakan dari membran timpani yang diteruskan kepada
manubrium maleus. Maleus bergerak pada sumbu yang melalui prosesus brevis dab longusnya,
sehingga mentransmisikan getaran manubrium ke inkus. Inkus bergerak sedemikian rupa sehingga
getaran ditransmisikan ke kepala stapes. Pergerakan dari kepala stapes mengakibatkan ayunan ke
sana kemari seperti pintu berengsel di pinggir posterior dari jendela oval. Ossicles pendengaran
berfungsi sebagai sistem tuas yang mengubah getaran resonansi membran timpani menjadi gerakan
stapes terhadap skala vestibuli yang berisi perilymph di koklea. Sistem ini meningkatkan tekanan
suara yang tiba di jendela oval, karena tindakan tuas dari maleus dan inkus mengalikan gaya 1,3
kali dan luas membran timpani jauh lebih besar daripada luas kaki stapes dari stapes. Terdapat
kehilangan energi suara sebagai akibat dari resistensi tulang pendengaran, tetapi dalam penelitian
didapatkan bahwa pada frekuensi di bawah 3000 Hz, 60% dari insiden energi suara pada membran
timpani diteruskan ke cairan di dalam koklea
Refleks Timpani
Saat otot-otot telinga tengah berkontraksi (m.tensor tympani dan m.stapedius), mereka akan
menarik manubrium mallei kedalam dan kaki-kaki dari stapes keluar. Hal ini akan menurukan
transmisi suara. Suara keras akan menginisiasi refleks kontraksi dari otot-otot ini yang dinamakan
refleks tympani. Fungsinya adalah protektif, yang akan memproteksi dari suara keras agar tidak
menghasilkan stimulasi yang berlebihan dari reseptor auditori. Tapi, refleks ini memiliki waktu
reaksi untuk menghasilkan refleks selama 40-160 ms, sehingga tidak akan memberikan
perlindungan pada stimulasi yang cepat seperti tembakan senjata.
Konduksi Tulang dan Konduksi Udara
Konduksi gelombang suara ke cairan di telinga bagian dalam melalui membran timpani dan
tulang pendengaran, sebagai jalur utama untuk pendengaran normal, disebut konduksi tulang
pendengaran. Gelombang suara juga memulai getaran dari membran timpani sekunder yang
Page
27

menutup jendela bulat. Proses ini, penting dalam pendengaran normal, disebut sebagai konduksi
udara. Jenis ketiga konduksi, konduksi tulang, adalah transmisi getaran tulang tengkorak dengan
cairan dari telinga bagian dalam. konduksi tulang yang cukup besar terjadi ketika garpu tala atau
benda bergetar lainnya diterapkan langsung ke tengkorak. Rute ini juga memainkan peranan dalam
transmisi suara yang sangat keras
Perjalanan Gelombang
Pergerakan dari kaki stapes menghasilkan serangkaian perjalanan gelombang di perilymph pada
skala vestibuli. Sebagai gelombang bergerak naik koklea, yang tinggi meningkat menjadi
maksimum dan kemudian turun dari cepat. Jarak dari stapes ke titik ketinggian maksimum
bervariasi dengan frekuensi getaran memulai gelombang. suara bernada tinggi menghasilkan
gelombang yang mencapai ketinggian maksimum dekat pangkal koklea; suara bernada rendah
menghasilkan gelombang yang puncak dekat puncak. Dinding tulang dari skala vestibule yang
kaku, tapi membran Reissner adalah fleksibel. Membran basilaris tidak di bawah ketegangan, dan
juga siap tertekan ke dalam skala timpani oleh puncak gelombang dalam skala vestibule.
Perpindahan dari cairan dalam skala timpani yang hilang ke udara pada jendela bundar. Oleh karena
itu, suara menghasilkan distorsi pada membran basilaris, dan situs di mana distorsi ini maksimum
ditentukan oleh frekuensi gelombang suara. Bagian atas sel-sel rambut pada organ Corti diadakan
kaku oleh lamina retikuler, dan rambut dari sel-sel rambut luar tertanam dalam membran tectorial.
Ketika bergerak stapes, kedua membran bergerak ke arah yang sama, tetapi mereka bergantung
pada sumbu yang berbeda, sehingga ada gerakan geser yang lengkungan bulu. Rambut dari sel-sel
rambut batin tidak melekat pada membran tectorial, tetapi mereka tampaknya dibengkokkan oleh
fluida bergerak antara membran tectorial dan sel-sel rambut yang mendasarinya.
Fungsi dari Sel Rambut
Sel-sel rambut dalam, sel-sel sensoris primer yang menghasilkan potensial aksi pada saraf
pendengaran, dirangsang oleh pergerakan cairan pada telinga dalam.
Sel-sel rambut luar, di sisi lain, memiliki fungsi yang berbeda. Ini menanggapi suara, seperti
sel-sel rambut dalam, tapi depolarisasi membuat mereka mempersingkat dan hiperpolarisasi
membuat mereka memperpanjang. Mereka melakukan ini lebih dari bagian yang sangat fleksibel
dari membran basal, dan tindakan ini entah bagaimana meningkatkan amplitudo dan kejelasan
suara. Perubahan pada sel rambut luar terjadi secara paralel dengan perubahan prestin, protein
membran, dan protein ini mungkin menjadi protein motor sel-sel rambut luar.
Page
28

Sel-sel rambut luar menerima persarafan kolinergik melalui komponen eferen dari saraf
pendengaran, dan asetilkolin hyperpolarizes sel. Namun, fungsi fisiologis dari persarafan ini tidak
diketahui.
Potensial Aksi pada Saraf-saraf Pendengaran
Frekuensi potensial aksi dalam satu serat saraf pendengaran adalah proporsional dengan
kenyaringan dari rangsangan suara. Pada intensitas suara yang rendah, melepaskan setiap akson
suara hanya satu frekuensi, dan frekuensi ini bervariasi dari akson ke akson tergantung pada bagian
dari koklea dari serat yang berasal. Pada intensitas suara yang lebih tinggi, debit akson individu
untuk spektrum yang lebih luas dari frekuensi suara khususnya untuk frekuensi rendah dari yang di
mana simulasi ambang terjadi.
Penentu utama dari pitch yang dirasakan ketika sebuah gelombang suara pemogokan telinga
adalah tempat di organ Corti yang maksimal dirangsang. Gelombang perjalanan yang didirikan oleh
nada menghasilkan depresi puncak membran basilaris, dan stimulasi reseptor akibatnya maksimal,
pada satu titik. Seperti disebutkan di atas, jarak antara titik dan stapes berbanding terbalik dengan
nada suara, nada rendah menghasilkan stimulasi maksimal pada puncak koklea dan nada tinggi
memproduksi stimulasi maksimal di pangkalan. Jalur dari berbagai bagian koklea ke otak yang
berbeda. Sebuah faktor tambahan yang terlibat dalam persepsi pitch pada frekuensi suara kurang
dari 2000 Hz mungkin pola potensi aksi pada saraf pendengaran. Ketika frekuensi cukup rendah,
serat-serat saraf mulai merespon dengan dorongan untuk setiap siklus gelombang suara. Pentingnya
efek volley, bagaimanapun, adalah terbatas; frekuensi potensial aksi dalam serabut saraf diberikan
pendengaran menentukan terutama kenyaringan, bukan lapangan, dari suara.
Walaupun pitch suara tergantung terutama pada frekuensi gelombang suara, kenyaringan
juga memainkan bagian; nada rendah (di bawah 500 Hz) tampaknya nada rendah dan tinggi (di atas
4000 Hz) tampak lebih tinggi dengan meningkatnya kekerasan mereka. Jangka waktu juga
mempengaruhi pitch sampai tingkat kecil. Pitch dari nada tidak dapat dirasakan kecuali itu
berlangsung selama lebih dari 0,01 s, dan dengan jangka waktu antara 0,01 dan 0,1 s, naik pitch
dengan meningkatnya durasi. Akhirnya, nada suara kompleks yang mencakup harmonisa dari
frekuensi yang diberikan masih dirasakan bahkan ketika frekuensi primer (hilang pokok) tidak ada.
Respon Saraf-saraf Pendengaran di Medula Oblongata
Respon dari neuron kedua dalam inti koklea terhadap suara rangsangan adalah seperti pada
serat saraf pendengaran. Frekuensi dengan intensitas rendah membangkitkan tanggapan yang
Page
29

bervariasi dari unit ke unit, dengan peningkatan intensitas suara, dan frekuensi yang respon terjadi
menjadi lebih luas. Perbedaan utama antara respon dari neuron pertama dan kedua adalah adanya
"cut off" lebih tajam di sisi frekuensi rendah di neuron meduler. Kekhususan ini lebih besar dari
neuron orde kedua mungkin karena semacam proses penghambatan di batang otak, tapi bagaimana
hal itu dicapai tidak diketahui.
Korteks Pendengaran Primer
Jalur impuls naik dari nukleus koklea bagian dorsal dan ventral melalui kompleks yang
unilateral maupun kontralateral. Pada hewan, ada pola yang terorganisasi pada lokalisasi tonal
dalam korteks pendengaran primer (area 41). Pada manusia, nada rendah yang di arahkan pada
daerah anterolateral dan nada tinggi pada posteromedial di korteks pendengaran.
Area Lain yang Berhubungan dengan Pendengaran
Meningkatnya ketersediaan PET scanning dan MRI menyebabkan peningkatan pesat dalam
pengetahuan tentang daerah asosiasi auditori pada manusia. Jalur pendengaran di korteks
menyerupai jalur visual bahwa semakin kompleks pengolahan informasi pendengaran bersama
mereka. Hal yang menarik adalah bahwa meskipun daerah pendengaran terlihat sangat sama pada
kedua sisi otak, tetapi ada spesialisasi pada masing-masing hemisfer. Sebagai contoh, daerah
Brodmann's 22 berkaitan dengan pemrosesan sinyal pendengaran yang berkaitan dengan
pembicaraan. Selama pemrosesan bahasa, jauh lebih aktif di sisi kiri daripada sisi kanan. Area 22 di
sisi kanan lebih peduli dengan melodi, nada, dan intensitas suara. Ada juga plastisitas besar dalam
jalur pendengaran, dan, seperti jalur visual dan somastatik, mereka dimodifikasi oleh pengalaman.
Contoh plastisitas pendengaran pada manusia adalah bahwa pada individu-individu yang menjadi
tuli sebelum kemampuan bahasa sepenuhnya dikembangkan, melihat bahasa isyarat mengaktifkan
daerah asosiasi pendengaran. Sebaliknya, orang yang menjadi buta dalam awal hidup akan
menunjukkan lokalisasi suara yang lebih baik dibandingkan orang dengan penglihatan normal.
Musisi memberikan contoh-contoh tambahan plastisitas pada kortikal. Pada individu, ada
peningkatan ukuran daerah pendengaran diaktifkan oleh nada musik. Selain itu, pemain biola telah
merubah somatosensori representasi dari wilayah yang jari-jari mereka gunakan dalam memainkan
instrumen mereka. Musisi juga memiliki cerebellums lebih besar dari nonmusicians, mungkin
karena belajar dalam gerakan jari yang tepat.
Mekanisme Pusat Pendengaran
Page
30

Di perlihatkan bahwa serabut saraf dari ganglion spiralis organ Corti masuk ke nuklei
koklearis yang terletak pada bagian atas medula oblongata. Pada tempat ini, semua serabut
bersinaps. Kemudian sebagian isyarat dihantar ke atas ke batang otak sisi yang sama, tetapi
sebagian besar menuju sisi yang berlawanan dan dihantarkan ke atas melalui rangkaian neuron di
dalam nukleus olivaris superior, kolikulus inferior dan nucleus genikulatum mediale, akhirnya
berakhir di dalam korteks pendengaran yang terletak di dalam girus superior lobus temporalis.
Beberapa tempat penting harus dicatat dalam hubungannya dengan lintasan pendengaran.
Pertama, implus dari masing masing telinga dihantarkan melalui lintasan pendengaran kedua sisi
batang otak hanya dengan sedikit lebih banyak penghantaran pada lintasan kontralateral.
Kedua, banyak serabut kolateral dari traktus auditorius berjalan langsung ke dalam sistem
retikularis batang otak. Sehingga bunyi dapat mengaktifkan keseluruhan otak.
Ketiga, orientasi ruang derajat tinggi dipertahankan dalam serabut traktus yang berasal dari koklea
yang semuanya menuju korteks. Ternyata, terdapat tiga representasi ruang frekuensi suara pada
kolikulus inferior, satu representasi sangat tepat bagi frekuensi suara diskret pada korteks
pendengaran dan beberapa representasi yang kurang tepat pada daerah asosiasi pendengaran.
Diskriminasi Arah Asal Suara
Seseorang menentukan arah asal suara paling sedikit dengan 2 mekanisme: (1) dengan
selisih waktu antara masuknya suara ke dalam satu telinga dan ke telinga sisi lainnya dan (2)
dengan membedakan antara intensitas suara dalam kedua telinga. Mekanisme pertama berfungsi
paling baik bagi frekuensi di bawah 3000 siklus per detik, dan mekanisme intensitas bekerja paling
baik pada frekuensi yang lebih tinggi karena kepala bekerja sebagai sawar suara dengan frekuensi
tersebut. Mekanisme selisih waktu membedakan arah yang jauh yang lebih tepat daripada
mekanisme intensitas, karena mekanisme selisih waktu tidak tergantung pada faktor faktor luar
tetapi hanya tergantung pada interval waktu yang sebenarnya antara dua isyarat pendengaran. Bila
seseorang melihat langsung pada suara, suara mencapai kedua telinga tepat pada saat yang sama,
sedangkan bila telinga kanan lebih dekat ke suara daripada telinga kiri, isyarat suara dari telinga
kanan dirasakan lebih dahulu daripada isyarat suara dari telinga kiri.
Mekanisme Saraf untuk Deteksi Arah suara
Destruksi korteks pendengaran pada kedua sisi otak baik pada manusia atau pada mamalia
yang lebih rendah menyebabkan kehilangan sebagian besar kemampuannya mendeteksi arah asal
suara. Namun, mekanisme untuk deteksi ini berlangsung mulai pada nuklei ovaris superior,
Page
31

walaupun memerlukan semua lintasan saraf dari nuklei ini ke korteks untuk interpretasi isyarat.
Mekanisme ini diduga sebagai berikut :
Bila suara masuk satu telinga segera sebelum ia masuk telinga lainnya, isyarat dari telinga
pertama menghambat neuron neuron pada nukleus olivaris superior ipsilateral, dan penghambatan
ini berlangsung selama kurang dari satu milidetik. Oleh karena itu, beberapa saat setelah suara
mencapai telinga pertama, lintasan untuk isyarat eksitasi dari telinga sisi yang lain berada dalam
keadaan terhambat. Selanjutnya, neuron neuron tertentu dari nuklei olivaris superior medialis
mempunyai waktu penghambatan yang lebih lama daripada neuron lainnya. Oleh karena itu, bila
isyarat suara dari telinga yang lain masuk ke nukleus olivaris superior yang dihambat, isyarat tidak
dapat mendaki lintasan pendengaran melalui beberapa neuron tetapi tidak melalui neuron lainnya.
Dan neuron tertentu tempat isyarat lewat ditentukan oleh selisih waktu suara antar kedua teling.
Jadi, timbul corak ruang perangsangan saraf, dengan suara yang selisihnya pendek merangsang satu
set neuron secara maksimum dan suara dengan selisih lama merangsang kelompok neuron lainnya
secara maksimum. Orientasi ruang isyarat ini kemudian dihantarkan semua ke korteks pendengaran
tempat arah suara ditentukan oleh tempat dalam korteks yang dirangsang maksimum.
Mekanisme deteksi arah suara ini sekali lagi menunjukkan bagaimana informasi dalam
isyarat sensoris dipisahkan sebagai isyarat yang melalui berbagai tingkat aktivitas neuron. Dalam
hal ini, kualitas arah suara dipisahkan dari kualitas nada suara pada tingkat nuklei olivaris
superior.
Lokalisasi Suara
Penentuan arah dari mana suara berasal di bidang horizontal tergantung dari pendeteksian
perbedaan waktu antara datangnya stimulus dalam dua telinga dan perbedaan konsekuensi dalam
tahap gelombang suara pada kedua sisi, dan juga tergantung pada kenyataan bahwa suara itu lebih
keras di sisi paling dekat dengan sumbernya. Perbedaan terdeteksinya waktu tiba suara, yang dapat
lebih kecil dari 20 s, dikatakan menjadi faktor yang paling penting pada frekuensi di bawah 3000
Hz dan perbedaan kenyaringan yang paling penting pada frekuensi di atas 3000 Hz. Neuron di
korteks pendengaran yang menerima masukan dari kedua telinga merespon maksimal atau minimal
ketika waktu kedatangan stimulus pada satu telinga tertunda oleh periode tertentu relatif terhadap
waktu kedatangan di telinga yang lain. Periode ini tetap bervariasi dari neuron ke neuron.
Suara yang datang dari langsung di depan individu berbeda dalam kualitas dari mereka yang
datang dari belakang karena masing-masing pinna dihadapkan sedikit ke depan. Selain itu, pantulan
dari gelombang suara akibat tidak ratanya permukaan pinna sebagai suara bergerak ke atas atau
Page
32

bawah, dan perubahan dalam gelombang suara merupakan faktor utama dalam mencari suara di
bidang vertikal. Lokalisasi suara yang terganggu secara mencolok diakibatkan oleh lesi pada
korteks pendengaran.
Audiometri
Ketajaman pendengaran biasanya diukur dengan sebuah audiometer. Perangkat ini
menyajikan subjek dengan nada murni dari berbagai frekuensi melalui earphone. Pada masingmasing frekuensi, intensitas ambang ditentukan dan diplot pada sebuah grafik sebagai persentase
dari pendengaran normal. Ini memberikan pengukuran yang objektif derajat ketulian dan gambar
dari berbagai tone yang paling terpengaruh.
Tuli
Tuli biasanya dibagi dalam dua jenis ; pertama, yang disebabkan oleh gangguan koklea atau
saraf pendengaran, yang biasanya dimasukkan dalam tuli saraf dan, kedua ,yang disebabkan
oleh gangguan mekanisme telinga tengah untuk menghantarkan suara ke koklea, yang biasanya
dinamakan tuli hantaran . Sebenarnya, bila koklea atau saraf pendengaran dirusak total, orang
tuli total. Akan tetapi, bila koklea dan saraf masih utuh tetapi sistem osikular rusak atau mengalami
ankilosis ( kaku karena fibrosis atau kalsifikasi ), gelombang suara tetap dapat dihantarkan ke
koklea dengan cara konduksi tulang ( seperti penghantaran bunyi dari ujung garpu tala yang
bergetar, yang ditempelkan langsung pada tengkorak . Orang dengan beberapa jenis tuli konduksi
dapat dibuat mendengar lagi yang hamper normal dengan operasi untuk membuang stapes dan
menggantikannya dengan protesa logam atau Teflon kecil dapat menghantarkan suara dari inkus ke
foramen ovale.
Tuli klinis mungkin disebabkan gangguan transmisi suara di telinga eksternal atau tengah
(tuli konduksi) atau kerusakan pada sel-sel rambut atau jalur saraf (tuli saraf). Kedua dapat
dibedakan oleh sejumlah tes sederhana dengan garpu tala. Tes ini dinamakan sesuai dengan nama
untuk individu yang mengembangkannya. Pada tes Weber dan tes Schwabach menunjukkan
pentingnya efek masking dari kebisingan lingkungan pada ambang pendengaran.
Di antara penyebab tuli konduksi adalah penyumbatan pada saluran pendengaran eksternal
akibat serumen atau benda asing, kerusakan tulang pendengaran, penebalan gendang telinga dan
juga infeksi telinga tengah berulang, serta kekakuan abnormal dari stapes yang berhubungan dengan
jendela oval. Antibiotik golongan aminoglikosida, seperti streptomisin dan gentamisin menghambat
saluran mechanosensitive di stereocilia sel rambut dan dapat menyebabkan sel berdegenerasi,
Page
33

menghasilkan tuli saraf dan abnormalitas fungsi vestibular. Kerusakan pada sel rambut luar akibat
kontak yang terlalu lama dengan kebisingan juga berhubungan dengan gangguan pendengaran.
Penyebab lainnya termasuk tumor dari saraf vestibulocochlear dan sudut cerebellopontine (CPA),
dan kerusakan pembuluh darah dalam medula. Presbycusis, gangguan pendengaran yang berkaitan
dengan penuaan, mempengaruhi lebih dari sepertiga dari orang-orang yang berusia lebih dari 75 dan
mungkin karena kehilangan kumulatif bertahap dari sel-sel rambut dan neuron.
Tuli karena mutasi genetik terjadi pada sekitar 0,1% dari bayi yang baru lahir. Dalam 30%
kasus, dikaitkan dengan adanya kelainan pada sistem lainnya (tuli sindromik), tetapi dalam 70%
sisanya itu adalah kelainan-satunya yang jelas (tuli nonsyndromic). Ada bukti bahwa ketulian
nonsyndromic karena beberapa mutasi dapat muncul lebih sering pada orang dewasa daripada anakanak, sehingga insiden lebih tinggi dari 0,1% dan diperkirakan 16% dari seluruh orang dewasa yang
memiliki gangguan pendengaran signifikan. Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah besar mutasi
yang menyebabkan tuli telah diuraikan. Hal ini tidak hanya telah menambah pengetahuan tentang
patofisiologi dari ketulian, namun karakterisasi produk normal dari gen telah memberikan informasi
berharga tentang fisiologi pendengaran. Sekarang diperkirakan sekitat 100 atau lebih gen yang
penting untuk pendengaran normal, dan lokus dari ketulian telah ditemukan dalam semua kecuali
lima dari 24 kromosom manusia.
Contoh menarik gen yang bemutasi pada kasus tuli adalah connexon 26. Defek ini
mempengaruhi fungsi connexons, yang diperkirankan mencegah daur ulang normal dari ion K +
melalui sel-sel sustenacular. Mutasi dalam tiga miosin nonmuscle menyebabkan ketulian. Miosin
yang dimaksud adalah adalah myosin-VIIA, terkait dengan aktin dalam proses rambut sel; myosinIb, yang mungkin bagian dari "adaptasi motor" yang menyesuaikan ketegangan pada ujung sel
rambut, dan myosin-VI, yang penting dalam pembentukan silia normal. Tuli juga berhubungan
dengan bentuk mutan dari -tectin, salah satu protein utama dalam membran tectorial.
Contoh tuli sindromik adalah sindrom Pendred, di mana protein transport sulfat mutan
menyebabkan tuli dan gondok. Contoh lain adalah salah satu bentuk dari sindrom QT yang panjang
dimana ada mutasi dari salah satu protein pengatur channel K +, KVLQT1. Dalam striae vascularis,
bentuk normal dari protein ini sangat penting untuk menjaga K + konsentrasi tinggi di endolymph,
dan di jantung membantu mempertahankan interval QT yang normal. Individu yang homozigot
untuk KVLQT1 mutan akan tuli dan cenderung mengalami aritmia ventrikel dan kematian
mendadak yang menjadi ciri dari sindrom QT yang memanjang. Membran protein yang baru
ditemukan, membran Barttin yang bermutasi dapat menyebabkan tuli dan kelainan pada ginjal
sebagai manifestasi sindrom Bartter's.
Page
34

MEKANISME PENDENGARAN
Mekanisme sampainya suara pendengaran dapat melalui 2 cara yaitu dengan air condaction dan
bone condaction.
1. Air conduction.
Gelombang suara dikumpulkan oleh telinga luar, lalu disalurkan ke liang telinga , menuju gendang
telinga dan kemudian gendang telinga bergetar untuk merespon gelombang suara yang
menghantamnya kemudian getaran ini mengakibatkan 3 tulang pendengaran( malleus, stapes,
incus ) yang secara mekanis getaran dari gendang telinga akan disalurkan menuju cairan yang ada
di koklea. Getaran yang sampai ke koklea akan menghasilkan gelombang sehingga rambut sel di
koklea bergerak. Gerakan ini merubah energy mekanik menjadi energy elektrik ke saraf
pendengaran (auditory nerve, saraf VIII ( saraf akustikus ) yang nantinya akan menuju ke pusat
pendengaran di otak bagian lobus temporal sehingga diterjemahkan menjadi suara yang dapat
dikenal di otak
2. Bone conduction
Getaran suara berjalan melalui penghantar tulang yang menggetarkan tulang kepala, kemudian akan
menggetarkan perylimph pada skala vestibuli dan skala tympani dan akhirnya getaran itu dikirim
dalam bentuk impuls saraf ke saraf-saraf pendengaran.
Penghantaran melalui tulang dapat dilakukan dengan percobaaan rine, sedangkan penghantaran
bunyi melalui tulang kemudian dilan-jutkan melalui udara dapat dilakukan dengan percobaan weber
Kecepatan penghantaran suara terbatas, makin tambah usia makin berkurang daya tangkap suara
atau bunyi yang dinyatakan antara 30 20.000 siklus/detik

Secara singkat proses pendengaran dapat dijelaskan sebagai berikut:


Proses mendengar diawali dengan ditangkapnya energy bunyi oleh daun telinga
dalambentuk gelombang yang dialirkan melalui udara atau tulang kekoklea. Getaran
tersebutmenggetarkan membran timpani diteruskan ketelinga tengah melalui rangkaian tulang
pendengaran yang akan mengimplikasi getaran melalui daya ungkit tulang pendengaran dan
perkalian perbandingan luas membran timpani dan tingkap lonjong. Energi getar yang telah
diamplifikasi ini akan diteruskan ke stapes yang menggerakkan tingkap lonjong sehingga perilimfa
pada skala vestibule bergerak. Getaran diteruskan melalui membrane Reissner yang mendorong
endolimfa, sehingga akan menimbulkan gerak relative antara membran basilaris dan membran
tektoria. Proses ini merupakan rangsang mekanik yang menyebabkan terjadinya defleksi stereosilia
Page
35

sel-sel rambut, sehingga kanal ion terbuka dan terjadi penglepasan ion bermuatan listrik dari badan
sel. Keadaan ini menimbulkan proses depolarisasi sel rambut, sehingga melepaskan neurotransmiter
ke dalam sinapsis yang akan menimbulkan potensial aksi pada saraf auditorius, lalu dilanjutkan ke
nucleus auditorius sampai ke korteks pendengaran (area 39-40) di lobus temporalis.
2.1.2 Fisiologi
Defleksi stereosilia (rambut) sel sensori seperti gelombang travelling mekanik yang mengawali
proses transduksi. Gelombang sepanjang membran basilaris bergerak daridasar apeks koklea, mirip
dengan gerakan piston stapes pada telinga tengah. Gelombang ini memiliki puncak yang tajam
menimbulkan suara frekuensi tinggi kemudian bergerak ke arah apeks sehingga suara berangsurangsur menurun. Defleksi stereosilia dengan cara terbuka dan tertutupnya kanal ion, menyebabkan
aliran ion K+
menuju sel sensori. Perubahan ion potassium dari nilai positif 80-90 mV di skala media menjadi
potensial negatif pada sel rambut luar dan dalam. Hasil depolarisasi ini akan menghasilkan enzim
cascade, melepaskan transmiter kimia dan kemudian mengaktivasi serabut saraf pendengaran
B. Pemeriksaan fisik dan penunjang
Pemeriksaan fisik telinga biasanya normal dan tes penala didapatkan tuli sensorineural.2
Pemeriksaan timpanometri tipe A (normal), audiometri nada murni, menunjukkan tuli saraf nada
tinggi, bilateral dan simetris, terdapat penurunan yang
tajam (sloping) setelah frekuensi 2000 Hz dan berangsurangsur terjadi pada frekuensi yang rendah.2
Variasi nilai ambang audiogram antara telinga satu dengan lainnya pada presbikusis ini dapat terjadi
sekitar 5-10 dB.17 Otoacoustic emission (OAE) dapat menunjukkan fungsi koklea, Presbikusis
merupakan degenerasi koklea sehingga hasil yang didapatkan refer (emisi tidak muncul).
Pemeriksaan BERA pada presbikusis diperlukan apabila kondisi pasien dengan kesadaran menurun
atau terdapat kecurigaan tuli saraf retrokoklear.

Arteriosklerosis dapat menyebabkan berkurangnya perfusi dan oksigenasi kohlea.


Hipoperfusi menyebabkan terjadinya formasi metabolit oksigen reaktif dan radikal bebas, yang
dapat menimbulkan kerusakan secara langsung DNA mitikondrial dan struktur telinga dalam

Derajat presbikusis
Page
36

Derajat kurang pendengaran dihitung dengan menggunakan indeks Fletcher yaitu:


Ambang dengar (AD) = AD 500 Hz (Hertz) + AD 1000 Hz + AD 2000 Hz
3
Menentukan derajat kurang pendengaran yang dihitung hanya ambang dengan hantaran udaranya (AC/
Air Conduction) saja
Derajat menurut Jerger
20 dB (desibel) : Normal
> 20- 40dB : Tuli ringan
> 40-55 dB : Tuli sedang
> 55-70 dB : Tuli sedang berat
> 70-90 dB : Tuli berat
> 90 dB : Tuli sangat berat

Page
37