Anda di halaman 1dari 3

A.

Epidemiologi
Disentri amoeba atau amoebiasis terjadi di seluruh dunia, namun
sebagian besar terlihat di daerah tropis dan negara berkembang yang memiliki
higienitas dan sanitasi yang buruk. Dari populasi dunia, 10% diperkirakan
terinfeksi oleh parasit (4% di USA) dengan perkiraan kematian 40.00070.000 pertahun. Namun, 90% dari populasi yang terinfeksi tidak
menunjukkan gejala. Penyebaran dari amoebiasis sebagian besar melalui
fecal oral, dimana kista tertelan bersama sayuran yang terkontaminasi
maupun tangan yang tidak bersih. Lalat juga berperan dalam transmisi
penyebaran penyakit ini. Disentri amoeba jarang terjadi pada anak-anak
dibawah 5 tahun (Tilak, 2013).
Dapus :
Tilak, KVGK. 2013. Infectious Disease Amoebiasis. Available at:
http://www.apiindia.org/medicine_update_2013/chap01.pdf.

Diakses

pada 28 Mei 2015.


B. Patogenesis
Entamoeba hystolitica dalam bentuk trofozit menginvasi ke sel epitel
mukosa usus. Di dalam mukosa usus, protozoa ini memproduksi enzim
fosfoglukomutase dan lisozim yang menyebabkan kerusakan dan nekrosis
jaringan pada dinding usus. Kerusakan ini menyebabkan terjadinya ulkus
amoeba dan

saat ulkus

melebar, terjadi malabsorpsi. Malabsorbsi

menyebabkan peningkatan massa intraluminal yang ditandai dengan


terjadinya diare osmotik (Adi, 2012).
Dapus:
Adi,
Hernanda.
2012.

Disentri.

Available

at:

http://www.academia.edu/7674168/DISENTRI. Diakses pada 28 Mei


2015.

C. Penegakan diagnosis
Penegakan diagnosis disentri amoeba dapat dilihat dari anamnesis,
pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang yaitu (Permenkes RI, 2014) :
1. Anamnesis
a) Sakit perut terutama sebelah kiri dan feses encer secara terus
menerus bercampur lendir dan darah.

b) Muntah-muntah
c) Sakit kepala
2. Pemeriksaan Fisik
a) Nyeri perut pada penekanan di bagian sebelah kiri
b) Terdapat tanda-tanda dehidrasi
c) Tenesmus
d) Febris
e) Lemas
3. Pemeriksaan Penunjang
a) Pada pemeriksaan tinja ditemukan trofozoit dari Entamoeba
hystolitica dan tinja berbau busuk bercampur darah dan lendir.
b) Pada foto rontgen kolon, tampak ulkus disertai spasme otot.
c) Pada pemeriksaan sigmoidoskopi dan kolonoskopi didapatkan ulkus
yang khas dengan tepi menonjol tertutup eksudat kekuningan.
Dapus:
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia. 2014. Panduan Praktik
Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer. Jakarta:
Permenkes RI.
D. Gambaran histopatologi
Entamoeba hystolitica menginvasi kriptus kelenjar kolon dan terbenam
di dalam submukosa. Organisme lalu menyebar ke lateral untuk
menyebabkan ulkus berbentuk botol dengan leher sempit dan dasar lebar. Di
dalam ulkus mungkin terdapat sedikit infiltrat peradangan. Pada daerah
submukosa tampak bagian nekrosis disertai pembentukan fibrin, disertai
sebukan limfosit, leukosit pmn. Di antaranya tampak bentuk vegetatif amoeba
berupa sel yang besar bulat dengan inti eksentrik, sitoplasma eosinofilik.
Pada sekitar 40% pasien disentri amoeba, parasit menembus pembuluh porta
dan membentuk embolus ke hati sehingga terbentuk abses hati diskret
soliter(kadang-kadang multiple). sebagian abses memiliki garis tengah lebih
dari 10cm. Beberapa pasien mungkin datang dengan abses hati amuba tanpa
riwayat klinis disentri amuba (Kumar et al, 2007).

Gambar .... Disentri Amoeba (Kumar et al, 2007)


Dapus:
Kumar, V., Cotran, R.S., & Robbins, S.L. 2007. Robbins Buku Ajar patologi
Volume 2. Edisi 7. Jakarta: EGC.

E. Komplikasi
Beberapa komplikasi yang dapat ditimbulkan disentri amoeba yaitu
(Permenkes RI, 2014) :
1. Haemolytic uremic syndrome (HUS)
2. Hiponatremia berat
3. Hipoglikemia berat
4. Sususan saraf pusat sampai terjadi ensefalopati
5. Komplikasi intestinal seperti toksik megakolon, prolaps rektal,
peritonitis, dan perforasi.
6. Hemoroid
7. Amebiasis hati