Anda di halaman 1dari 19

BAB 1

PENDAHULUAN
Dalam kondisi fisiologis, kulit normal manusia akan menjadi tempat
kolonisasi bagi sejumlah mikroorganisme komensal. Kolonisasi ini bahkan telah
dimulai segera setelah lahir. Saat berlangsungnya persalinan pervaginam, terjadi
inokulasi dari kuman Staphylococcus epidermidis, segera setelah lahir kulit
neonatus juga mendapat kolonisasi Coryneform bacteria. Dalam beberapa minggu
komposisi flora normal pada kulit bayi akan menyerupai kulit orang dewasa.1
Pioderma merupakan istilah untuk menyebut semua penyakit infeksi pada
kulit yang disebabkan oleh kuman Staphylococcus, Streptococcus maupun
keduanya. Infeksi ini mencakup infeksi superfisial yang hanya mengenai lapisan
epidermis kulit, hingga infeksi yang bersifat profunda, karena meluas hingga
lapisan subkutis. Penyebab tersering dari penyakit infeksi pada kulit ini adalah
Staphylococcus aureus dan Stresptococcus B hemolyticus.2
Furunkel merupakan salah satu jenis pioderma yang banyak dijumpai di
masyarakat. Penyakit ini didefinisikan sebagai peradangan pada folikel rambut
dan jaringan disekitarnya. Infeksi Staphylococcus aureus merupakan penyebab
tersering dari penyakit ini. Bila dalam satu area tubuh ditemukan lebih dari satu
lesi furunkel maka keadaan itu disebut sebagai furunkulosis, sedangkan bila
ditemukan beberapa furunkel yang menyatu dengan beberapa puncak pada
permukaan lesinya, maka kondisi tersebut dinamakan karbunkel.1,2
Gejala utama yang dikeluhkan pasien adalah rasa nyeri. Lesi kulitnya
sendiri berupa nodul eritematosa yang berbentuk kerucut, dimana pada bagian
tengahnya akan dijumpai adanya puncak (core) yang biasanya berupa pustul
(central necrotic). Bagian tubuh yang sering bergesekan, seperti: aksila dan
bokong merupakan tempat predileksi dari penyakit ini.2,3
Secara umum pengobatan yang diberikan berupa: (1) pengobatan topikal
pada lesi dengan kompres dan pemberian salep atau krim antibiotik. Pada kasus
dengan lesi yang sedikit, biasanya pengobatan topikal saja sudah cukup. Pada
kasus-kasus dengan jumlah lesi yang banyak, pengobatan topikal biasanya perlu
dikombinasi dengan (2) pengobatan sistemik berupa pemberian antibiotika oral.4
1

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi dan Terminologi


Furunkel adalah peradangan pada folikel rambut dan jaringan sekitarnya.
Lesi ini ditandai oleh adanya nodul eritematosa berbentuk kerucut. Pada bagian
tengahnya lesi terdapat puncak (core) yang biasanya berupa pustul (central
necrotic). Furunkel biasanya diawalai oleh infeksi yang lebih superfisial, seperti
folikulitis (peradangan pada ostium folikel rambut) yang seringkali berkembang
menjadi suatu abses.1,2
Bila pada satu area tubuh ditemukan lebih dari satu lesi furunkel, maka
keadaan tersebut disebut furunkulosis. Biasanya terdapat faktor predisposisi yang
membuat seseorang rentan mengalami penyakit ini, misalnya: pasien-pasien yang
sedang menjalani pengobatan glukokortikoid jangka panjang dan pengobatan
sitotoksik, pasien dengan defisiensi imun (misalnya: HIV AIDS), malnutrisi,
diabetes mellitus. Peranan faktor predisposisi ini terutama terjadi pada kasuskasus furunkulosis yang berulang.1,3
Karbunkel adalah gabungan dari beberapa furunkel yang membentuk lesi
infiltratif yang lebih luas dan dalam. Karaktersitik dari lesi ini adalah adanya
beberapa puncak pada permukaan lesinya. Karbunkel sangat mungkin terbentuk
bila terjadi supurasi pada kulit yang tebal dan tidak elastis.1,2
2.2 Etiologi dan Patogenesis
Penyakit infeksi ini terutama disebabkan oleh bakteri Staphylococcus
aureus. Proses infeksi bakteri pada kulit manusia, melibatkan tiga faktor utama,
yaitu: (1) tersedianya jalan masuk bagi bakteri; (2) adanya mekanisme pertahanan
host dan respon inflamasi terhadap invasi bakteri; serta (3) patogenesitas bakteri.
a. Tersedianya Jalan Masuk Bagi Bakteri :
Kulit khususnya lapisan epidermis memiliki peran yang sentral
dalam fungsi proteksi yang dimiliki oleh kulit. Lapisan epidermis yang
intak akan menjadi barier alamiah bagi tubuh manusia terhadap gangguan
2

fisis dan mekanis, gangguan kimia, panas serta infeksi dari luar terutama
oleh bakteri dan jamur. Kulit normal juga menghasilkan sejumlah protein
yang memiliki sifat antimikrobial yang turut mencegah infeksi bakteri.
Sebagian besar infeksi muncul setelah terjadi ketidak utuhan barier kulit.1,2
Pada kasus-kasus infeksi staphylococcal, adanya riwayat cedera
atau inflamasi pada jaringan kulit (misalnya: luka pasca operasi, trauma,
luka bakar, dermatitis) menjadi pintu masuk bagi infeksi bakteri. Secara
spesifik, furunkel dapat timbul sebagai penyulit dari lesi kulit yang telah
ada sebelumnya, seperti: dermatitis atopik, ekskoriasi, abrasi, scabies
maupun pedikulosis, namun sebagian besar kasus furunkel terjadi tanpa
adanya faktor predisposisi lokal sebelumnya. 1,3
b. Mekanisme Pertahanan Host :
Innate Imune Response yang diperankan oleh neutrofil adalah
mekanisme pertahanan tubuh yang paling besar peranannya dalam infeksi
staphylococcal. Sejumlah peptida yang tersedia secara lokal di kulit
(seperti: dermicidin, LL-37, protegrin, -defensins, -defensins, lactoferin,
cascocidin) adalah komponen utama dari respon imun ini.1
Mekanisme pertahanan tubuh ini akan bekerja dengan baik apabila
setiap komponennya ada pada kondisi optimal. Sejumlah faktor host
berhubungan dengan terjadinya infeksi staphylococcal, seperti: kondisi
imunosupresif, terapi glukokortikoid, dan adanya riwayat atopik. Kondisikondisi ini menurunkan fungsi dari komponen-komponen innate immune
response, sehingga tidak dapat memainkan peranannya secara optimal
dalam mencegah infeksi mikroorganisme.1,3
c. Patogenesitas Bakteri :
Salah satu faktor virulensi penting dari bakteri Staphylococcus
aureus adalah kemampuannya untuk menghasilkan adhesin yang akan
memfasilitasi ikatannya dengan permukan sel epidermis kulit. Sejumlah
strain staphylococcus juga akan menghasilkan satu atau lebih eksoprotein,
meliputi: staphylococcal enterotoxins, TSST toxins-1, exvoliative toxins,
3

serta leukocidin. Toksin yang dilepaskan oleh bakteri akan bekerja pada
sejumlah komponen penting dari sistem imun, sehingga tidak dapat
berfungsi secara efektif.1
Sekitar

60%

strain

staphylococcus

aureus

mensekresikan

chemotaxis inhibitory protein yang berperan menghambat kemotaksis


neutrofil. Bakteri ini juga melepaskan protein A, staphylokinase, capsular
polysaccharide, fibrinogen binding protein, serta clumping protein A yang
mencegah opsonisasi dan fagositosis bakteri. Staphylokinase dan
aureolysin berikatan dengan peptida antimikrobial yang terdapat pada
kulit, kemudian memecahnya sehingga menjadi tidak aktif.1
2.3 Manifestasi Klinis
a. Furunkel dan Furunkulosis :
Area tubuh yang menjadi daerah predileksi lesi adalah area tubuh
yang berambut, sering mengalami gesekan, oklusi dan berkeringat, seperti:
leher, wajah, ketiak dan bokong. Bila lesi timbul pada daerah segitiga yang
dibentuk oleh kedua sudut mata bagian lateral dan kedua sudut bibir, maka
lesi disebut sebagai furunkel maligna.4
Lesi kulit awalnya berupa nodul eritematous berbentuk kerucut,
dimana pada bagian tengahnya dijumpai adanya puncak (core) yang
biasanya berupa pustul (central necrotic). Nodul ini keras dan teras nyeri
bila diraba. Setelah beberapa hari lesi akan bertambah besar dan nyeri,
diikuti oleh pembentukan abses yang berisi pus dan jaringan nekrotik, lalu
pecah membentuk fistula. Keadaan ini biasanya akan diikuti oleh semakin
berkurangnya rasa nyeri. Edema dan kemerahan yang terjadi, secara
perlahan juga akan berkurang, biasanya hilang secara spontan dalam
beberapa hari atau minggu.2
b. Karbunkel :
Secara klinis karbunkel adalah lesi inflamatorik yang jauh lebih
besar dan lebih serius dibandingkan furunkel. Pada beberapa kasus,
karbunkel sering disertai dengan gejala konstitusi seperti demam dan
4

malaise. Karakteristiknya ialah nodul eritematous dengan dasar lesi yang


letaknya lebih dalam (dibandingkan furunkel). Pada permukaan lesi
dijumpai beberapa puncak (core) yang berupa pustul. Lesi karbunkel
biasanya sangat nyeri, muncul terutama di tengkuk, punggung dan paha.1,2
Daerah yang terkena tampak kemerahan dan mengalami indurasi.
Beberapa pustul yang ada di permukaan lesi dengan cepat akan pecah, dan
mengalirkan isinya (berupa pus) disekitar folikel rambut, menyisakan
lubang-lubang ireguler berwarna kuning keabu-abuan pada permukaan
lesi. Penyembuhan lesi biasanya berlangsung lambat, dan umumnya akan
meninggalkan bekas berupa jaringan parut.1

Gambar 1. Furunkel 1

Gambar 2. Furunkulosis 1

Gambar 3. Karbunkel 1

2.4 Diagnosis
Diagnosis ditegakkan terutama berdasarkan temuan klinis dari hasil
anamnesis dan pemeriksaan fisik. Pasien pada umumnya datang dengan keluhan
munculnya nodul pada kulit yang keras dan terasa nyeri bila disentuh. Awalnya
nodul muncul di satu tempat, tapi kemudian dapat muncul lagi di tempat yang
lain. nodul tersebut tampak mengandung nanah, yang kadang-kadang dapat pecah
secara spontan. Daerah predileksi adalah area tubuh yang berambut, sering
mengalami gesekan, oklusi dan berkeringat, seperti:

leher, wajah, ketiak,

punggung, bokong dan paha.1,2


Furunkel atau furunkulosis biasanya tidak disertai dengan gejala
konstitusi. Karbunkel dapat diikuti gejala konstitusi berupa demam atau malaise.
Pada beberapa kasus sering dijumpai adanya kondisi-kondisi yang memudahkan
terjadinya penyakit ini atau memperberat manifestasi klinisnya. Sejumlah faktor
predisposisi tersebut, antara lain: higienitas yang buruk, malnutrisi, kondisi
defisiensi imun, adanya penyakit kronis atau keganasan (seperti: diabetes mellitus,
kanker), serta adanya penyakit atau peradangan kulit sebelumnya (seperti: trauma,
luka bakar, dermatitis, folikulitis). Maka pada anamnesis juga perlu digali tentang
higienitas pasien, status nutrisi, riwayat penyakit kronis, serta riwayat penggunaan
obat-obat

imunosupresan

(seperti:

glukokortikoid

atau

obat

sitotoksik).

Pertanyaan seputar faktor predisiposisi ini semakin penting untuk ditanyakan pada
6

kasus-kasus yang kronis dan berulang. Meskipun demikian, harus diingat bahwa
sebagian besar kasus furunkel timbul secara spontan tanpa adanya faktor
predisposisi lokal sebelumnya. 1,2
Pada pemeriksaan fisik dilakukan evaluasi terhadap lesi kulit, ditentukan
lokasi dan effloresensinya. Hampir semua kasus furunkel/karbunkel dapat
ditegakkan diagnosisnya berdasarkan gambaran klinis yang dijumpai.1,2
Pemeriksaan penunjang hanya dikerjakan pada kasus-kasus dengan
manifestasi klinis yang berat atau kasus-kasus rekuren. Beberapa pemeriksaan
penunjang yang dapat dikerjakan, meliputi 1,2,3:
a. Pemeriksaan gram :
merupakan pemeriksaan penunjang standar yang paling sering dikerjakan.
Karena penyebab tersering dari infeksi kulit ini adalah bakteri
Staphylococcus aureus, maka pada sediaan gram akan dapat dijumpai
bakteri coccus (bulat) gram positif.
b. Pemeriksaan darah lengkap :
Kasus-kasus furunkulosis atau karbunkel yang ekstensif sering disertai
dengan leukositosis.
c. Pemeriksaan kultur dan tes sensitivitas :
Tidak rutin dikerjakan, biasanya hanya dilakukan pada kasus-kasus yang
kronis dan rekkuren, yang tidak memberikan respon baik terhadap
pengobatan biasa.
d. Pemeriksaan gula darah :
Untuk menemukan faktor predisposisi (diabetes mellitus) pada kasus yang
berulang.
2.5 Penatalaksanaan
Berdasarkan prosedur tetap yang dimiliki oleh Bagian/SMF Ilmu Penyakit
Kulit

dan

Kelamin

FK

Unud/RSUP Sanglah,

pada

prinsipnya

terapi

furunkel/furunkulosis/karbunkel dibedakan menjadi 2 tipe, yaitu 4:


a. Pengobatan topikal :
-

Pada lesi yang kering diberikan salep/krim yang mengandung asam


fusidat atau mupirosin atau kombinasi neomisin-basitrasin.
7

Bila terbentuk abses, dilakukan insisi dan drainase, lalu lesi dikompres
terbuka dengan rivanol 0,1% atau kalium permanganas 1/5000 atau
larutan povidone iodine 7,5% yang dilarutkan 10x.

b. Pengobatan Sistemik :
-

Pemberian antibiotik sistemik berupa :

Kloksasilin 3 x 500 mg p.o/hari selama 5-7 hari, atau

Sefadroksil 2 x 500 mg p.o/hari selama 5-7 hari

Bila pasien alergi terhadap penisilin, antibiotik dapat diganti dengan:

Eritromisin 4 x 500 mg p.o/hari selama 5-7 hari, atau

Linkomisin 3 x 500 mg p.o/hari selama 5-7 hari, atau

Klindamisin 3 x 300 mg p.o/hari selama 5-7 hari

Indikasi pemberian terapi topikal antara lain: furunkel yang tidak disertai
penyulit seperti selulitis, serta tidak ada gejala konstitusi seperti demam. Indikasi
terapi sistemik antara lain: karbunkel, furunkel yang disertai penyulit seperti
selulitis, furunkulosis, atau terdapat gejala konstitusi seperti demam. Selain
pemberian antibiotik, sebagai terapi simptomatis dapat diberikan analgetik atau
antipiretik sesuai kebutuhan.1,4
Pada kasus furunkel maligna, dimana lesi dianggap muncul pada area
yang berbahaya, perlu dilakukan tindakan agresif berupa 4:
o Pasien harus MRS
o Diberikan sefotaksim 1 gram iv/8 jam selama 7-10 hari, atau
o Diberikan penisilin G prokain 1,2 juta IU im 1x/hari selama 10 hari
o Bila pasien alergi terhadap penisilin dapat diberikan :
- siprofloksasin 2 x 400 mg iv selama 7 hari( hanya untuk usia > 13 tahun )
- klindamisin 2 x 600 mg iv selama 7 hari.
o Diberikan analgetik/antipiretik berupa asam mefenamat 3 x 500 mg.
2.6 Prognosis

Masalah utama dari lesi furunkulosis atau karbunkel adalah bakteremia


dan infeksi yang rekuren. Lesi yang terdapat disekitar mulut dan hidung dapat
menyebar ke dalam darah melalui vena emisari angular dan fasial, yang akan
bermuara ke sinus kavernosus. Penyebaran kuman ke aliran darah dapat terjadi
kapan saja, tanpa dapat diramalkan sebelumnya. Kuman yang masuk ke aliran
darah selanjutnya dapat menimbulkan infeksi baru pada host seperti:
osteomyelitis, endokarditis akut, hingga abses otak. Tindakan memanipulasi lesi
berbahaya, karena dapat meningkatkan risiko terjadinya bakteremia. Untungnya
segala komplikasi yang disebutkan tadi sangat jarang terjadi. Pada kasus
furunkulosis yang berulang perlu digali sejumlah faktor predisposisi, misalnya
diabetes mellitus di keluarga.1

BAB 3
LAPORAN KASUS

3.1 Identitas Pasien


Nama

: I Wayan Edi

Umur

: 46 tahun

Jenis kelamin

: Laki-laki

Alamat

: Batuan, Gianyar.

Suku bangsa

: Bali

Agama

: Hindu

Tempat Pemeriksaan

: Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUD Sanjiwani

3.2 Anamnesis
Keluhan Utama :
Bentol berisi nanah di sekitar alat kelamin
Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien datang ke poliklinik kulit dan kelamin RSUD Sanjiwani sendirian,
dengan keluhan adanya bentol berisi nanah di sekitar alat kelamin . Keluhan
dirasakan sejak 1 minggu SMRS. Menurut pasien bentol ini ukuran awalnya
kecil. Pasien mengaku bentol tersebut tidak gatal namun akan terasa nyeri bila
diraba. Sejak 2 hari SMRS beberapa bentol yang semula berwarna kemerahan,
berubah warna menjadi agak keputihan seperti terisi nanah. Selama
munculnya keluhan, pasien tidak pernah menggaruk maupun memencet bentol
di daerah alat kelaminnya. Riwayat panas badan (-).
Riwayat pengobatan :
Pasien belum pernah menggunakan obat apapun untuk mengatasi keluhannya
ini. Tindakan yang telah dilakukan hanya sebatas melakukan kompres dengan
air hangat, namun keluhannya dirasakan tidak membaik.
10

Riwayat Penyakit Sebelumnya :


Pasien dikatakan baru pertama kali mengalami keluhan semacam ini. Riwayat
penyakit asthma, gizi buruk, kencing manis atau penyakit kronis lain
disangkal. Riwayat alergi obat atau makanan tertentu seperti telur atau daging
disangkal.
Riwayat Penyakit dalam Keluarga :
Tidak ada anggota keluarga pasien dalam satu rumah yang mengalami keluhan
serupa.
Riwayat Sosial Ekonomi :
Pasien tinggal bersama istri dan kedua anaknya. Pasien aktif bekerja serabutan
di sekitar tempat tinggalnya. Penderita mandi 2 kali sehari dengan air PDAM.
Tiap anggota keluarga, menggunakan handuk pribadi tiap selesai mandi. Bak
mandi dikuras seminggu 1 kali.
3.3 Pemeriksaan Fisik
Status Present :
Nadi : 84 x/menit
RR

: 18 x/menit

Tax : 36,5C
Status General :
Kesadaran

: Compos Mentis ( GCS : E4V5M6 )

Keadaan umum

: Baik

Mata

: Anemis -/-, Ikterus -/-, RP +/+ isokor (3mm)

THT

: Kesan tenang

Thoraks

: Cor

: S1S2 tunggal, reguler, murmur (-)

Pulmo

: Vesikuler +/+, Rhonki -/-, Wheezing -/-

Abdomen

: Distensi (-), BU (+) normal

Ektremitas

: Hangat +/+
+/+
11

Status Dermatologis :
Lokasi

: Pubis

Effloresensi

: Nodul eritematous, berbatas tegas, berbentuk


kerucut, soliter, dengan ukuran bervariasi antara 0,5 cm
dan tersusun secara unilateral. Di bagian puncaknya
terdapat pustul berwarna keputihan, berbatas tidak tegas,
dengan isi purulen. Kulit disekitar lesi tampak eritema.

Tampak nodul eritema, batas tegas, bentuk kerucut soliter, dengan bagian puncak lesi tampak
pustule yang berbatas tidak tegas.

3.4 Diagnosis Banding

Folikulitis
Karbunkel
3.5 Diagnosis
Furunkel
3.6 Penatalaksanaan
Penunjang Diagnosis : Terapi :
- Sefadroksil tab 2 x 500 mg

12

- Bactoderm Salep dioleskan 3x sehari pada lesi.


KIE :
- Kepada pasien untuk tidak menggaruk atau memencet lesinya.
- Untuk menjaga kebersihan diri, pakaian dan lingkungan.
- Minum obat teratur dan kontrol kembali untuk mengetahui respon
pengobatan.
3.7

Prognosis
Dubius ad bonam

13

BAB 4
PEMBAHASAN

Furunkel adalah peradangan pada folikel rambut dan jaringan sekitarnya.


Penyebab tersering dari penyakit ini adalah infeksi bakteri Staphylococcus aureus.
Bila pada satu area tubuh ditemukan lebih dari satu lesi furunkel, maka keadaan
tersebut disebut furunkulosis. Beberapa furunkel dapat menyatu membentuk
karbunkel yang ditandai dengan peradangan yang lebih luas dan dalam, dengan
bagian tengah lesi memiliki beberapa puncak (core).
Diagnosis ditegakkan terutama berdasarkan temuan klinis dari hasil
anamnesis dan pemeriksaan fisik. Pasien pada umumnya datang dengan keluhan
munculnya nodul pada kulit yang keras dan terasa nyeri bila disentuh. Awalnya
nodul muncul di satu tempat, tapi kemudian dapat muncul lagi di tempat yang
lain. nodul tersebut tampak mengandung nanah, yang kadang-kadang dapat pecah
secara spontan. Daerah predileksi adalah area tubuh yang berambut, sering
mengalami gesekan, oklusi dan berkeringat, seperti:

leher, wajah, ketiak,

punggung, bokong dan paha.


Furunkel atau furunkulosis biasanya tidak disertai dengan gejala
konstitusi. Karbunkel dapat diikuti gejala konstitusi berupa demam atau malaise.
Pada beberapa kasus sering dijumpai adanya kondisi-kondisi yang memudahkan
terjadinya penyakit ini atau memperberat manifestasi klinisnya. Sejumlah faktor
predisposisi tersebut, antara lain: higienitas yang buruk, malnutrisi, kondisi
defisiensi imun, adanya penyakit kronis atau keganasan (seperti: diabetes mellitus,
kanker), serta adanya penyakit atau peradangan kulit sebelumnya (seperti: trauma,
luka bakar, dermatitis, folikulitis). Maka pada anamnesis juga perlu digali tentang
higienitas pasien, status nutrisi, riwayat penyakit kronis, serta riwayat penggunaan
obat-obat

imunosupresan

(seperti:

glukokortikoid

atau

obat

sitotoksik).

Pertanyaan seputar faktor predisiposisi ini semakin penting untuk ditanyakan pada
kasus-kasus yang kronis dan berulang. Meskipun demikian, harus diingat bahwa
14

sebagian besar kasus furunkel timbul secara spontan tanpa adanya faktor
predisposisi lokal sebelumnya.
Pasien laki-laki, berusia 46 tahun, didiagnosis dengan furunkel, setelah
mengeluh timbulnya nodul berisi pus yang terasa nyeri di pubis. Diagnosis
ditegakkan berdasarkan temuan klinis yang didapat dari hasil anamnesis dan
pemeriksaan fisik.
Pada anamnesis diketahui bahwa pasien datang dengan keluhan utama
adanya bentol berwarna keputihan di atas kelaminnya yang tidak gatal, namun
terasa nyeri bila diraba, dirasakan sejak 1 minggu SMRS. Menurut pasien bentol
ini ukuran awalnya kecil.. Sejak 2 hari SMRS beberapa bentol yang semula
berkonsistensi padat dan berwarna kemerahan, menjadi lebih lembek dan
warnanya menjadi agak keputihan seperti terisi nanah. Selama munculnya
keluhan, pasien tidak pernah menggaruk maupun memencet bentol di wajahnya.
Riwayat panas badan (-). Keluhan ini baru pertama kali dirasakan oleh pasien.
Pasien tidak memiliki riwayat penyakit asthma, gizi buruk, diabetes mellitus atau
penyakit kronis lain. Riwayat alergi obat atau makanan tertentu seperti telur atau
daging disangkal. Tidak ada anggota keluarga pasien dalam satu rumah yang
mengalami keluhan serupa.
Berdasarkan anamnesis tersebut, terdapat kesesuaian antara gejala klinis
yang dikeluhkan pasien dengan manifestasi klinis suatu furunkel. Pasien
mengeluhkan munculnya lesi kulit yang sesuai diskripsi furunkel, yang muncul
pada daerah pubis. Kemunculan lesi ini tidak disertai dengan adanya panas badan.
Hal ini sesuai dengan perjalanan klinis furunkel/furunkulosis yang pada umumnya
tidak disertai gejala konstitusi. Pada anamnesis juga tidak didapatkan faktor
predisposisi pada pasien ini. Pada sebagian besar kasus baru, lesi dapat timbul
secara spontan tanpa adanya faktor predisposisi lokal.
Pada pemeriksaan fisik dilakukan evaluasi terhadap lesi kulit, kemudian
ditentukan lokasi dan effloresensi lesi. Pada pasien didapatkan status present dan
status general dalam batas normal. Pada status dermatologi, ditemukan pada
daerah wajah adanya lesi kulit berupa nodul eritematous, berbatas tegas,
berbentuk kerucut, soliter, dengan ukuran bervariasi antara 0,5 cm dan tersusun

15

secara unilateral. Pada bagian puncaknya terdapat pustul berwarna keputihan,


berbatas tidak tegas, dengan isi purulen. Kulit disekitar lesi tampak eritema.
Effloresensi lesi pada kulit pasien sesuai dengan effloresensi suatu
furunkel, yang berupa nodul eritematous nodul berbentuk kerucut, berbatas tidak
tegas, dimana pada bagian tengahnya akan dijumpai adanya puncak (core) yang
biasanya berupa pustul (central necrotic). Karena jumlah lesi satu maka sesuai
dengan furunkel. Jika lebih dari satu maka, gambarannya sesuai dengan
furunkulosis.
Pemeriksaan penunjang tidak rutin dikerjakan. Biasanya dilakukan pada
kasus-kasus dengan manifestasi klinis yang berat atau kasus-kasus rekuren.
Beberapa pemeriksaan penunjang yang dapat dikerjakan, meliputi: pemeriksaan
gram, darah lengkap, pemeriksaan kultur dan tes sensitivitas. Pada pasien, tidak
dikerjakan pemeriksaan penunjang.
Berdasarkan prosedur tetap yang dimiliki oleh Bagian/SMF Ilmu Penyakit
Kulit

dan

Kelamin

FK

Unud/RSUP Sanglah,

pada

prinsipnya

terapi

furunkel/furunkulosis/karbunkel dibedakan menjadi terapi topikal dan sistemik.


Indikasi pemberian terapi topikal antara lain: furunkel yang tidak disertai penyulit
seperti selulitis, serta tidak ada gejala konstitusi seperti demam. Sedangkan
indikasi terapi sistemik antara lain: karbunkel, furunkel yang disertai penyulit
seperti selulitis, furunkulosis, atau terdapat gejala konstitusi seperti demam.
Sediaan topikal khususnya antibiotik yang dipilih adalah jenis antibiotik
berspektrum luas, namun tidak digunakan sebagai antibiotik sistemik. Hal ini
dilakukan untuk menghindari terjadinya reaksi hipersensitivitas maupun resistensi
obat dikemudian hari. Sesuai dengan prinsip pengobatan dermatologi, maka: (1)
Pada lesi yang kering diberikan salep/krim yang mengandung asam fusidat atau
mupirosin atau kombinasi neomisin-basitrasin; (2) Bila terbentuk abses, dilakukan
insisi dan drainase, lalu lesi dikompres terbuka dengan rivanol 0,1% atau kalium
permanganas 1/5000 atau larutan povidone iodine 7,5% yang dilarutkan 10x.
Antibiotik sistemik yang dipilih berupa kloksasilin 3 x 500 mg p.o/hari
selama 5-7 hari, atau sefadroksil 2 x 500 mg p.o/hari selama 5-7 hari. Bila pasien
alergi terhadap penisilin, antibiotik dapat diganti dengan : eritromisin 4 x 500 mg

16

p.o/hari selama 5-7 hari, atau linkomisin 3 x 500 mg p.o/hari selama 5-7 hari, atau
klindamisin 3 x 300 mg p.o/hari selama 5-7 hari.
Pada pasien ini diberikan kombinasi antibiotik topikal dan sistemik berupa
Sefadroksil tab 2 x 500 mg serta Bactoderm Salep dioleskan 3x sehari pada lesi.
Pemberian terapi ini sudah sesuai dengan teori, dimana jika lesi kulit sudah
terbentuk pus perlu diberikan juga antibiotik sistemik, disamping antibiotik
topikal. Terapi diberikan untuk jangka waktu 5 hari, sesudah itu pasien dianjurkan
untuk kontrol kembali agar dapat dievaluasi respon pengobatannya.
Masalah utama dari suatu furunkel, furunkulosis dan karbunkel adalah
risiko terjadinya bakteremia serta rekurensi. Pada pasien risiko kedua kondisi ini
tergolong rendah. Pasien sudah mendapat terapi yang adekuat untuk mencegah
berkembangnya infeksi lokal ini menjadi suatu bakteremia. Pasien juga tidak
memiliki faktor predisposisi yang akan meningkatkan rekurensi penyakit.
Berdasarkan analisa tersebut, prognosis penyakit pasien ini tergolong baik.

17

BAB 5
SIMPULAN
Telah dilaporkan kasus furunkel pada pasien laki-laki, berusia 46 tahun.
Diagnosis furunkel ditegakkan berdasarkan gejala klinis yang digali dari
anamnesis dan pemeriksaan fisik. Keluhan utama pasien berupa munculnya nodul
berisi nanah yang terasa nyeri pada daerah sekitar kelamin. Effloresensi yang
dijumpai sesuai dengan gambaran klinis furunkel. Pemeriksaan penunjang tidak
dikerjakan. Pasien diterapi dengan kombinasi antibiotik topikal (salep bactoderm
yang mengandung mupirocin) serta antibiotik sistemik (sefadroksil tab 2 x 500
mg) selama 5 hari. Prognosis penyakit pasien baik. Terapi yang diberikan sudah
adekuat sehingga risiko berkembangnya infeksi bisa dikurangi. Pasien juga tidak
memiliki faktor predisposisi yang meningkatkan risiko rekurensi.

18

DAFTAR PUSTAKA

1. Noah C. Peter KL, Matthew TZ, Arnold NW, Morton NS, Richard AJ.
Superficial cutaneous infection and pyodermas. In: Wolf K, Goldsmith LA,
Katz S (eds). Fitzs Patrick Dermatology in General Medicine. 7 th ed. New
York: McGraw Hill; 2008. p. 1694-1710.
2. Djuanda, A. Pioderma. Dalam: Ilmu penyakit kulit dan kelamin. Edisi 5.
Jakarta: FKUI; 2007. hal. 57-63.
3. Dennis LS, Alan LB, Henry FC, Dale E, Patchen D, Ellie JC, Sherwood LG,
Jan VH, Edward LK, Jose GM, James CW. Practice guidelines for the
diagnosis and management of skin and soft-tissue infections. CID 2005; 41:
1373-1406.
4. Pedoman Diagnosis dan Terapi Penyakit Kulit dan Kelamin RSUP Sanglah
Denpasar tahun 2014.

19

Anda mungkin juga menyukai