Anda di halaman 1dari 2

NIOSOM

Pengertian Niosom adalah sistem vesikel yang mirip dengan liposom yang dapat digunakan
sebagai pembawa obat hidrofobik. Niosom dibentuk dari campuran surfaktan non ionik sebagai
pengganti fosfolipid. Pada niosom, cairan akan dilingkupi lapisan bilayer yang tersusun dari
surfaktan non ionik, dengan atau tanpa kolesterol, dan bekerja menyerupai liposom pada in vivo.
Struktur vesikel bilayer tersusun dari bagian ekor yang bersifat hidrofobik dari monomer
surfaktan yang melindungi dari lingkungan cair dan bagian kepala bersifat hidrofilik yang
bersentuhan dengan lingkungan cair. Kolesterol dapat membuat kaku lapisan bilayer sehingga
dapat mengurangi kebocoran pada niosom. Dicetylphosphat (DCP) juga diketahui dapat
meningkatkan ukuran vesikel dan menyebabkan muatan pada vesikel
Keuntungan
1. Regenerasi dari sistem liposom dikarenakan metode liposom menggunakan fosfolipid
yang harganya mahal dan pada niosom menggunakan surfakatan non ionic yang harganya
lebih murah
2. Stabilitas kimia pada metode niosom lebih baik dibandingkan pada metode liposom
3. Dibuat metode proniosom, untuk menghasilkan ukuran partikel yang lebih seragam
Kerugian
1. Berbagai metode untuk pembuatan niosom telah diteliti, tetapi metode ini memiliki
beberapa kelemahan yaitu preparasi yang rumit, waktu yang lama, dan alat-alat khusus.
2. Dalam larutan niosom dapat mengalami degradasi oleh hidrolisis dan oksidasi,
sedimentasi, agregasi, dan fusi.
Metode Pembuatan Niosom
Niosom dapat dibuat dengan metode hidrasi lapisan lemak (reverse phase evaporation) atau
perubahan pH pada bagian permukaan hingga membentuk vesikel multilamellar. Pemilihan
metode pembuatan niosom dapat didasarkan pada tujuan penggunaannya karena metode
preparasi mempengaruhi jumlah lapisan ganda, ukuran, distribusi ukuran, serta efisiensi
penjeratan fasa cair dan permeabilitas membran vesikel. Metode lain yang dapat dilakukan di
antaranya :

Metode injeksi eter


Campuran surfaktan-kolesterol, dilarutkan dalam dietil eter lalu diinjeksikan
perlahan-lahan ke fasa cair pada suhu 60`C. Setelah eter diuapkan akan dihasilkan

LUVs. Kekurangan metode ini adalah masih tersisanya sejumlah kecil eter dalam
suspensi vesikel dan sangat sulit dihilangkan.
Metode film tipis
Campuran surfaktan-kolesterol, dilarutkan dalam dietil eter pada labu alas bulat lalu
diuapkan pada suhu kamar dengan tekanan rendah. Film surfaktan kering dihidrasi
dengan fasa cair pada suhu 50-60`C sambil digoyang perlahan-lahan.
Metode sonikasi
Fasa cair ditambahkan dalam surfaktan-kolesterol pada gelas vial, lalu campiran
disonikasi dalam perioda wamtu tertentu. Vesikel yang dihasilkan adalah vesikel
unilamelar yang kecil. Dalam hal ini dihasilkan ukuran vesikel niosom yang lebih
besar daripada liposom dengan diameter >100 nm.
Metode Handjani-Villa
Sejumlah ekuivalen lipida (atau campuran lipida) dan larutan cair zat aktif dicampur
untuk memperoleh fase lamelar homogen. Homogenasi dilakukan pada suhu
terkendali dengan alat gojok atau ultrasentrifugasi.
Metode evaporasi fase balik
Surfaktan dilarutkan dalam dietileter atau kloroform dan 1/4 volume dapar fosfat.
Campuran disonikasi dalam waktu tertentu hingga terbentuk emulsi air dalam
minyak yang stabil. Setelah itu, pelarut diuapkan dengan vakum tekanan rendah
hingga terbentuk gel lalu dihidrasi. Penguapan dilannutkan hingga proses hidrasi
berlangsung sempurna.