Anda di halaman 1dari 3

HERNIA

Hernia merupakan penonjolan isi suatu rongga melalui defek


atau bagian lemah dari dinding rongga bersangkutan. Pada umumnya,
hernia

abdomen

dewasa

terjadi

melalui

defek

dari

lapisan

muskuloaponeurotik dinding perut. Berdasarkan terjadinya, hernia


dibagi

menjadi

hernia bawaan

(kongenital) dan

hernia didapat

(akuisita). Menurut sifatnya, hernia dibagi menjadi hernia reponibel dan


ireponibel. Hernia reponibel terjadi jika isi hernia bisa keluar masuk,
keluar jika berdiri atau mengejan dan masuk ketika berbaring atau
didorong masuk ke perut. Sedangkan hernia ireponibel adalah hernia
yang tidak bisa direposisikan kembali ke dalam rongga abdomen.
Hernia terjadi 6 kali lebih sering pada pria dibandingkan dengan
wanita. Tempat umum terjadinya hernia adalah lipat paha (hernia
inguinalis), umbilikus (hernia umbilikalis), linea alba, garis semilunaris
dari Spiegel, diafragma, dan insisi bedah. Tempat herniasi lain yang
sangat jarang adalah perineum, sepertiga lumbal superior Grynfelt,
segitiga lumbal inferior Petit, dan foramen obturator.
Terdapat dua faktor predisposisi utama terjadinya hernia, yaitu
peningkatan tekanan intrakavitas dan melemahnya dinding abdomen.
Peningkatan intrakavitas abdomen terjadi karena:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Mengangkat beban berat


Batuk
Tahanan saat miksi
Tahanan saat defekasi
Distensi abdomen
Perubahan isi abdomen

Sedangkan kelemahan dinding abdomen terjadi karena:


1. Usia yang semakin bertambah
2. Malnutrisi, baik makronutrien (protein dan kalori) maupun
mikronutrien (vitamin)
3. Kerusakan atau paralisis saraf motorik
4. Abnormal metabolisme kolagen
Hernia terdiri atas cincin, kantong dan isi hernia. Isi hernia yang
paling sering adalah organ dalam, yaitu usus halus dan omentum
majus.

Kemungkinan

lainnya

adalah

usus

besar

dan

apendiks,

Divertikulum Meckel, vesika urinaria, ovarium (dengan ataupun tanpa


tuba falopi), dan cairan asites.
Gejala lokal yang terjadi pada hernia antara lain benjolan yang
bervariasi ukurannya, nyeri tumpul lokal yang kadang tajam. Gejala
yang menunjukkan adanya komplikasi adalah obstruksi usus (muntah,
distensi, konstipasi) dan strangulasi (gejala obstruksi, ditambah rasa
nyeri menetap, demam, dan takikardi).
Pemeriksaan penunjang jarang dilakukan dan jarang bernilai.
Pemeriksaannya antara lain:
1. Pencitraan
a. Herniografi injeksi medium kontras ke dalam kavum
peritoneal kemudian dilakukan X-ray. Namun saat ini jarang
dilakukan.
b. USG digunakan untuk menilai hernia yang sulit dilihat
secara klinis, misalnya Spigelian hernia.
c. CT scan dan MRI berguna untuk menentukan hernia yang
jarang terjadi, misalnya hernia obturatoria.
2. Laparoskopi
3. Operasi eksplorasi
HERNIA OBTURATORIA
Hernia

obturatoria

adalah

hernia

yang

melalui

foramen

obturatorium. Foramen obturatorium sebagian besar ditutup oleh


membran obturatoria. Bagian dari foramen obturatorium sebelah
anterosuperior

tidak

ditutupi

oleh

membran

obturatoria

dan

membentuk suatu kanalis obturatoris. Kanalis obturatorium merupakan


saluran yang berjalan miring ke kaudal yang dibatasi di kranial dan
lateral oleh sulkus obturatorius os. pubis, di kaudal oleh tepi bebas
membram obturatoria, m. obturatorius internus dan eksternus. Di
dalam kanalis obturatorius, terdapat saraf, arteri, dan vena obturatoria.
Pada

kondisi

ini,

hernia

terjadi

di

sepanjang

kanalis

obturatorium, yang membawa nervus obturatorium dan pembuluh


darah keluar dari pelvis. Hernia bermula sebagai sumbatan preperitoneum

dan

secara

bertahap

membesar,

membawa

sakus

peritoneum bersamanya. Loop usus dapat masuk ke dalam sakus


peritoneum sehingga masuk bersamanya.
Hernia obturatoria dapat terjadi dalam empat tahap, yaitu:

1.
2.
3.
4.

Tonjolan lemak masuk ke kanalis obturatorium


Tonjolan peritoneum parietal
Kantong hernia dibatasi lekuk usus
Terjadi inkarserasi parsial, secara Richter atau total.
Gejala hernia obturatoria ini kebanyakan asimtomatik sampai

terjadi komplikasi karena obstruksi intestinal atau strangulasi. Sekitar


50% pasien mengeluh sakit seperti ditusuk-tusuk dan parestesi di
sepanjang sisi medial atas dari paha yang menjalar ke bawah menuju
lutut akibat tekanan nervus obturatorium (tanda Howship-Romberg)
yang patognomonik. Pada colok dubur atau pemeriksaan vaginal dapat
ditemukan tonjolan hernia yang nyeri (tanda Howship-Romberg).
Tanda-tandanya

pun

juga

jarang

didapat,

kecuali

yang

mengalami obstruksi atau strangulasi. Diagnosa dibuat saat dilakukan


laparotomi untuk obstruksi usus halus. Penekanan pada nervus
obturatorium menyebabkan pasien memegang kakinya dalam posisi
fleksi agar mengurangi rasa sakitnya.
Manajemen pada hernia obturatoria ialah dengan pembedahan
yang dilakukan dengan pendekatan transperitoneal dan preperitoneal.
Jika ditemukan saat laparotomi, usus halusnya direduksi, sakusnya
withdrawn dan defeknya ditutup.