Anda di halaman 1dari 33

BAB VII

PELURUHAN BETA
A. Kecepatan dan Energi Partikel
Bila suatu partikel bergerak dalam medan magnet yang orbitnya berupa
lingkaran dengan jari- jari r ditentukan oleh hubungan:
F Bq v
m
F Hqv
m
mv2
F
s
r

(7.1a)
(7.1b)

Persamaan (7.1a) = persamaan (7.1b)


F F
s
m
m v2
Hev
r
Her
v
m
m
karena

v2
1
c2

Her
v2
v
1
m
c2
o
maka

(7.1c)

Energi Kinetik Partikel


E E T
o
2
m c m c2 T
o
m c2
o
T
m c2
o
v2
1
c2

1
T m c2
1
o

v2
1

c2

7.2

di mana

o = massa diam dari elektron, e = muatan elektron, persamaan (7.1c):c

Her
v2
v
1
m
c2
o
v2

:c

v
e
Hr
1
c
m c
c2
o

Muatan spesifik elektron dalam satuan elektron adalah:


e
emu
1,7588 x 107
m
gr
o
cm
c 2,99793 x 1010
dt
m c v
v 2
1
Her o
e
c
c 2

1
2

(7.3)

Ada tiga macam peluruhan


1. Pemancaran elektron(-)
A X A Y 0 e
Z
Z 1 1

(7.4)

2. Pemancaran positron ( )
A X A Y 0 e
Z
Z 1 1

(7.5)

3. Penangkapan elektron
A X 0 e A Y
Z
1
Z 1

(7.6)

Ketiga gejala ini disebut transformasi isobarik, sebab nomor massa A tak
berubah.
Apabila suatu inti berada di daerah inti-inti yang tidak stabil, maka akan
meluruh sampai menjadi stabil. Jika inti tersebut berada di sebelah kiri daerah

stabil, maka ia akan memancarkan partikel (elektron) sedangkan jika inti


tersebut berada di sebelah kanan daerah stabil, maka ia akan memancarkan

partikel (positron) atau penangkapan elektron (EC) sampai mencapai


kestabilan.
B. Kestabilan Inti
N

dalam suatu inti


Perbandingan antara cacah neutron dan proton
atom sangat menentukan kestabilan inti tersebut. Dengan demikian, menentukan
apakah inti tersebut bersifat radioaktif atau tidak, dapat diperhatikan Tabel 7.1.
Tabel 7.1. Komposisi Inti Berbagai Isotop Fosfor
Isotop

28

28

15

13

29

29

15

14

14
15

30

30

15

15

15
15

31

31

15

16

16
15

Stabil

32

32

15

17

17
15

Radioaktif

p
p
p

p
p

33

33

15

18

34

34

15

19

p
p

N
Z
13
15

Sifat inti

Radioaktif

18
15
19
15

Ada isotop Fosfor yang masing-masing mempunyai 15 proton dan sejumlah


neutron yang berbeda-beda banyaknya, mulai dari 13 sampai 19 (lihat Tabel 7.1.).
Pada Tabel 7.1., tampak bahwa stabil atau tidaknya inti atom isotop-isotop Fosfor

N
N 16
N 16

tergantung pada harga Z . Harga Z 15 yang merupakan isotop stabil. Z 15


N 16

dan Z 15 bersifat radioaktif.


Pada tabel nuklida di bawah ini, nuklida - nukida tidak memenuhi seluruh tabel
melainkan hanya berada pada suatu pita yang berada di sekitar diagonal Tabel 7.2.
tersebut.
Tabel 7.2. Nuklida

Nuklida dengan N Z

N=Z

Nuklida dengan N Z

Gambar Hubungan antara Z (Jumlah Proton) dengan N (Jumlah


Neutron) dalam Nuklida.
Ternyata bahwa nuklida-nuklida stabil terletak di sekitar garis yang ada
di tengah-tengah pita yang diduduki oleh nuklida-nuklida itu. Garis ini disebut
garis kestabilan. Garis kestabilan ternyata berhenti hanya sampai nukida dengan
nomor atom 82, yaitu Bismuth. Dari sudut pandang ini, nuklida-nuklida radioaktif

N
N
adalah nuklida-nuklida yang harga Z lebih kecil atau lebih besar dari Z stabil
yaitu di atas atau di bawah garis kestabilan. Di samping itu ada juga nuklidanuklida radioaktif yang di luar garis kestabilan yaitu mempunyai nomor atom
lebih dari 83.
a.

N
N

stabil
Z
Z
Inti-inti di daerah ini tidak stabil karena mengandung terlalu banyak

neutron dibandingkan dengan cacah protonnya. Untuk menstabilkannya,


sebuah neutron (n) akan berubah menjadi proton (p +). Peluruhan ini akan diikuti

dengan pancaran partikel beta ( ) dan sebuah anti neutrino ( ). Anti neutrino (

) adalah partikel elementer yang tidak mempunyai massa diam dan tidak
bermuatan listrik sehingga sangat sukar dibuktikan keberadaannya. Anti
neutrino dipostulatkan ada agar hukum kekekalan massa dan tenaga dalam

peluruhan tetap terpenuhi.


Partikel neutrino yaitu partikel elementer yang tidak bermuatan (netral),
1
mempunyai spin 2 dan massa diamnya = 0.
1n 1p 0
0
1
1
atau
A X A Y 0
Z
Z 1
1
N
N

stabil
Z
b. Z
Nuklida-nuklida ini tidak stabil karena intinya mengandung proton
terlalu banyak dibandingkan dengan neutronnya, untuk menstabilkannya,

N
sebuah proton akan berubah menjadi neutron. Dengan demikian menaikkan Z
N
mendekati Z stabil.
Perubahan tersebut dapat melalui dua cara yaitu:

1). Peluruhan .
1p 1n 0
1
0
1
A X A Y 0
Z
Z 1
1
2). Penangkapan elektron
1p 0e 1 n
1
1
0
A X 0e A Y
Z
1
Z 1
Syarat Terjadinya Peluruhan Beta
a. Pemancaran Elektron (elctron emission)
Untuk pemancaran elektron berlaku persamaan:
A X A Y 0 e
Z
Z 1 1
Misal Mp= massa inti induk X (inti mula- mula)
Md = massa dari inti anak Y (inti yang terjadi setelah peluruhan )
me = massa elektron diam
Kp =0 (inti induk mula- mula diam)
Kd = energi kinetik dari inti anak
Ke = energi kinetik dari elektron
Menurut hukum kekekalan energi:
Ei = Ef
di mana, Ei = Kp + Mp c2, karena inti induk mula-mula diam maka Kp=0
sehingga
E i = Mp c 2

Ef = Md c2 + Kd + me c2 + Ke
maka Ei = Ef
c2 M c2 K m c2 K
d
d
e
e
K K M c2 M c2 m c 2
d
e
p
d
e
M

Oleh karena itu, energi disintegrasi Q adalah


Q K K M c2 M c2 m c2
d
e
p
d
e
Q M M m c 2
d
e
p
Untuk peluruhan spontan, maka energi disintegrasi Q harus positif.
Dari persamaan Q tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa pemancaran
elektron hanya mungkin jika massa diam inti induk lebih besar daripada massa
diam inti anak, ditambah massa diam elektron.
M

M m
d
e

maka Q = positif (pemancaran elektron)

Jika M(Z) = massa atom dari sebuah atom induk dengan nomor massa A dan
nomor atom Z , M(Z+1) = massa atom dari sebuah atom inti anak dengan
nomor atom (Z+1)
Di sini energi ikat dari elektron sangat kecil, sehingga dapat diabaikan:
M(Z) = M + m z
p
e
M = M(Z) - m z inti induk
p
e
maka dapat dituliskan
M(z+1) = M + m (z+1)
d
e
M = M(z+1) - m (z+1) Inti anak
d
e
Sehingga energi peluruhannya.

Q = (M - M - m ) c2
p
d e

= M Z - m Z - M Z+1 - m Z+1 - m c 2
e
e
e

2
= M Z - m Z - M Z+1 + m Z+1 - m c
e
e
e
= M Z - m Z - M(Z+1) + m Z + m m c2
e
e
e
e
2
= M Z - M(Z+1) c

Syarat terjadinya peluruhan partikel beta spontan dalah Q > 0. sehingga

M Z - M(z+1)

c2 > 0
M Z - M(z+1) 0
Jadi M Z > M(z+1) Syarat terjadinya pemancaran elektron,
dengan A tetap
.

b. Pemancaran positron ( )

Untuk pemancaran positron ( ) berlaku persamaan


A X A Y 0e
Z
Z-1
+1
Energi disintegrasi untuk pemancaran positron diberikan oleh
Q=K +K
d
e
= (M - M - m ) c2
p
d e
Dalam bentuk massa atomik dan energi ikat dari elektron diabaikan.
M(Z) = M + m Z
p
e
M M(Z) - m Z inti induk
p
e
M(Z-1) = M + m Z-1
d
e
M M(Z-1) - m Z-1 inti anak
d
e
Q = (M - M - m ) c2
p
d e
Sehingga energi disintegrasinya:

10

Q = M(Z) - m Z - M(Z-1) - m (Z-1) -m c 2


e
e
e

= M(Z) - m Z - M(Z-1) + m (Z-1) - m c 2


e
e
e

= M(Z) - m Z - M(Z-1) + m Z - m - m c2
e
e
e e
2
= M(Z) - M(Z-1 ) - 2 m c
e

Syarat terjadi peluruhan positron secara spontan adalah Q > 0, sehingga

M(Z) -M Z-1 - 2 me c

>0

M(Z) -M Z-1 - 2 m > 0


e

Atau M(Z) > M(Z-1) + 2 me, Syarat terjadinya pemancaran positron dengan A
tetap.
c. Penangkapan Elektron
Untuk penangkapan elektron (EC) berlaku persamaan:
A
Z

X 01 e ZA1Y
Elektron dalam kulit K ada kalanya
E l e k t r o n A u g e r masuk ke dalam inti dan ditangkap.

Elektron
L

yang

ditangkap

itu

meninggalkan lubang dalam kulit

K
In ti

K, sehingga terjadi transisi elektron


dari kulit L untuk mengisi lubang di
kulit K tersebut.

Akibat transisi itu dipancarkan sinar x yang energinya dapat dihitung dari:
h =E -E
K
K L
di mana EK= energi elektron di kulit K
EL= energi elektron di kulit L
Kadang-kadang sinar X yang dipancarkan berinteraksi dengan elektron di
kulit L atau lainnya, sehingga dipancarkanlah elektron, yang disebut elektron
Auger.
Energi kinetik elektron Auger dari kulit L dapat dihitung dari:

11

K =h -E
e
K L , karena h K = E K - E L maka Energi kinetik elektron Auger:
K E E E E 2E ,
e
K
L
L
K
L diskrit
Penangkapan elektron tak dapat dideteksi secara langsung melainkan
biasanya dengan mendeteksi elektron Auger yang dipancarkan pada saat
terjadinya penangkapan elektron.
Ei = Mp c2 + Kp+ me c2+ Ke; karena Kp= 0 (diam), maka
E i = Mp c 2 + m e c 2 + Ke
E = M c2 + K
f
d
d
Menurut hukum kekekalan energi:

Ei=Ef
Mp c2+me c2 + Ke= Md c2 + Kd
Mp c2 + me c2 + Ke= Md c2 + Kd
Mp c2 + me c2 - Md c2 = Kd -Ke
(Mp+me- Md) c2 = Kd -Ke
Q = Kd -Ke
Q = (Mp+me- Md) c2
Jika M(Z) = Mp+me Z massa atom induk
Mp= M(Z) - me Z inti induk
dan M(Z-1) = Md + me(Z-1) massa atom anak
Md = M(z-1) - me(Z-1) inti anak
Sehingga energi disintegrasi:
Q = (Mp + me - Md) c2

M(Z) - m Z + m - M(Z-1) - m (Z-1) c2

e
e
e
Q =

Q M(Z) - m Z + m - M(Z-1) - m Z + m c 2

e
e
e
e
Q=

M(Z) - me Z + me - M(Z-1) + me Z - me c

12

Q = {M(Z) - M(Z-1)} c2
Syarat terjadinya penangkapan elektron ialah Q > 0
{M(Z) - M(Z-1)} c2 > 0
M(Z) - M(Z-1) > 0
Jadi M(Z) > M(Z-1). Syarat terjadinya penangkapan elektron dengan A
tetap.

Spektrum Energi Partikel Beta.


Kecepatan atau momentum partikel beta diukur dengan pembelokan
lintasan partikel dalam suatu medan magnet.
Gaya magnet Fm= H e v
Gaya sentripetal

Fs m

v2
r

di mana r = jari-jari orbit


Fs Fm
v2
m Hev
r
v
m He
r
e
vHr
m
m
karena

mo
1

v2
c 2 maka

kecepatan

e
v2
v Hr
1 2
mo
c
Energi kinetik: K = m c2 - mo c2

moc2
1

v
c2

moc2

partikel

beta

dapat

ditulis

13

1
2

v
1 2
c

mo c
2

karena
e
1,7588107 emu
mo
c 2,997931010 cm/s 2

v Hr

e
v2
1 2
mo
c

:c

v
e
v2
Hr
1
c
m c
c2
o
1
1

2
10
2

m c v
1 v 2 2,99793. 10 v 1 v 2
Hr o
e
c
c 2
1,7588. 107 c
c 2

2
v
v 2
H r 1704,5
1
c
c 2

Energi partikel beta yang dipancarkan oleh suatu sunber mempunyai


energi tidak sama. Spektrum energi beta yang diamati selama peluruhan dari
nuklida tertentu diperoleh kontinyu, yaitu partikel beta yang dipancarkan oleh
suatu sumber mempunyai range energi dari hampir nol sampai energi maksimum
dari distribusi yang berhubungan dengan perbedaan antara massa inti induk dan
massa inti anak.
Spektrum energi dari partikel beta dapat ditunjukkan dengan memplot
energi kinetik partikel beta terhadap jumlah relatif partikel beta atau rigid
magnetik terhadap jumlah relatif partikel beta.

Suatu inti meluruh dengan memancarkan atau , spektrum energi kontinu


mempunyai karakteristik:

14

a. Di sini ada suatu nilai maksimum tertentu dalam distribusi dan berhubungan
dengan energi yang bergantung pada tipe inti di bawah peluruhan partikel .
b. Di sini ada suatu titik akhir energi tertentu yang sama dengan sumber
disintegrasi yang tersedia. Energi titik akhir maksimum adalah fungsi dari
peluruhan partikel .
Karena jumlah partikel beta yang dipancarkan adalah berbeda dengan energi yang
berbeda maka energi sering dinyatakan dalam bentuk energi rata- rata:
E0

N(E) E dE
0
E0

N(E) dE
0

N(E) dE= jumlah elektron yang mempunyai energi antara E dan (E+dE)
E

o = energi titik akhir

1
E sekitar 3 energi maksimum yang tersedia.
Karena partikel beta yang dipancarkan dari suatu inti radioisotop mempunyai
kecepatan yang mendekati kecepatan cahaya maka geraknya digambarkan dalam
teori relativitas khusus.
Dalam beberapa kasus pemancaran partikel ditemukan bahwa spektrum
kontinu dengan energi akhir adalah tunggal. Beberapa pemancaran partikel
mempunyai spektrum kompleks, di sini ada dua atau lebih spektrum dengan
energi titik akhir dan intensitas yang berbeda.
Hasil pengukuran spektrum beberapa isotop.
dari isotop 64Cu

dari 64Cu

2 ,0

0 ,2 8

1 ,6

0 ,2 4

1 ,2

0 ,2 0

0 ,8

0 ,1 6

0 ,4

0 ,0 8

0 ,2

0 ,8

1 ,0

p
1 ,4

1 ,8

0 ,3

0 ,7

1 ,1

p
1 ,5

1 ,9

15

Spektrum dari 64Cu

Spektrum dari 64Cu

dari 198Au
N

Jumlah elektron

K
40
L+M
30
20
10

1000

2000

3000

4000

Spektrum dari 198Au

Energi beta (k eV)

Menurut hipotesis Pauli: bersama-sama dengan partikel ada partikel


1
lain yang dipancarkan. Partikel ini harus netral, mempunyai spin 2 dan massa
diamnya = 0. Partikel ini sangat sukar dideteksi secara langsung, partikel ini
disebut neutrino.
Untuk memenuhi hukum kekekalan energi maka haruslah:

Q = E + Ev
di mana: E = energi partikel beta

Ev= energi partikel neutrino

16

Emaks= energi maksimum partikel


Apabila E = 0 maka Ev mencapai maksimum. Dari hipotesis ini maka
bentuk spektrum dapat diterangkan tetapi pada saat itu neutrino belum dapat
dideteksi secara langsung. Setelah ada liquid sentillator neutrino baru dapat
dideteksi secara langsung oleh Reines dan Cowan (1953)

Ketiga macam peluruhan yaitu , dan penangkapan elektron dapat
dianggap sebagai transformasi neutron menjadi proton atau sebaliknya. Proses
ini terjadi dalam inti. Maka dapat ditulis:
1n 1p 0
0
1
1
1p 1n 0
1
0
1
1p 0 e 1n
1 -1
0
= neutrino

= anti neutrino
Untuk lebih jelasnya lihat beberapa contoh sebagai berikut:
1.

Peluruhan
t
12tahun
3 H
1/2

1
Proses yang terjadi:
1n 1p 0
1
1
1

3 He 0
2
1

2. Peluruhan
t
20,5 menit
11C
1/2

6
Proses yang terjadi:
1p 1n 0
1
1
1
3. Penangkapan elektron

11B 0
5
1

17

7 Be t1/2 83,9 menit


4

7 Li e
5
K

Proses yang terjadi: 1p 0e 1n


1 1 1

Peluruhan dari neutron menjadi neutron baru ditunjukkan setelah adanya reaktor
dari
1n 56 Fe 1H 56 Mn
0
26
1
25
26 jam 56
56 Mn t1/2

Fe 0
25
26
1
1n 1H 0
0
1
1
Perbedaan dari neutrino dan anti neutrino dapat dilihat dari helisitasnya
r r
p
Helisitas= p = +1 untuk anti neutrino; = -1 untuk neutrino
= spin Pauli, p = momentum linier
p

180 o

0o

cos 1

cos 1

Neutrino

Anti Neutrino

18

Untuk menentukan apakah neutrino atau anti neutrino yang dipancarkan


dalam peluruhan beta, maka dapat digunakan hukum kekekalan lepton. Lepton
adalah partikel ringan seperti: elektron, positron dan neutron. Setiap lepton
diberi bilangan yang disebut bilangan lepton.
Bilangan lepton = +1, anti lepton = -1. partikel-partikel yang bukan termasuk
lepton mempunyai bilangan lepton = 0
Hukum kekekalan lepton: dalam suatu reaksi jumlah bilangan lepton adalah kekal.
Misal:

n p

Bilangan lepton = 0

Jumlah bilangan lepton = 0

n p

Bilangan lepton = 0

Jumlah bilangan lepton = 0


C. Teori Elementer Peluruhan Beta.

Pada tahun 1934 Fermi telah mengajukan teori peluruhan beta berdasarkan hipotesis Pauli. Asumsi yang dikemukakan dalam teori Fermi, yaitu karena
elektron/positron dan neutron tidak ada di dalam inti, maka mereka harus dibentuk
dahulu pada saat disintegrasi:
1n 1H 0
0
1
1

Menurut Fermi, ada interaksi antara neutron dengan dan menyatakan


tranformasi dari neutron ke proton. Jadi ada interaksi antara medan elektronneutron dengan nukleon.
Interaksinya adalah sangat lemah 10-13 dan berjangkauan pendek.
Probabilitas transisi per satuan waktu untuk pemancaran partikel beta dengan
range tipis momentum antara p ke (p+dp) dapat dihitung dari:
N(p)dp

2 dn
2
f | H op | i

dE

H if f | H op | i

= elemen matrik untuk transisi tersebut.

19

H if *f H op i dv
i =fungsi gelombang pada keadaan awal dari sistem inti
*f = fungsi gelombang pada keadaan akhir dari sistem inti.
N(p)dp
sehingga

2 dn
2
*

dv
f
op
i

dE

Hop= operator hamilton, operator interaksi energi yang menyebabkan transisi.


dn
dE

= faktor statistik yang menyatakan keadaan akhir per satuan energi atau rapat

energi keadaan persatuan volume.


Jumlah keadaan total yang didapat dari suatu partikel dengan momentum
antara p dan (p+dp) adalah peluruhan dengan volume suatu kulit bola dalam ruang
momentum yang jari-jarinya p dan tebal dp adalah:
p

d p

dv p 2sin d dp d

2
dv = p 2 sin d d dp
0
0
dv 4p 2dp
Menurut ketidakpastian Heisenberg, yaitu ketidakpastian posisi dari partikel
diberikan oleh:
x p h

(x y z) (pxpypz) h3
Kita asumsikan bahwa interaksi mengambil tempat dalam satu satuan volume
Ruang posisi: x y z = 1
Ruang momentum: px py pz = h3

20

dV 4p 2
3 dp
3
h
Jumlah keadaaan awal (dn) dalam kulit bola tipis h
Jumlah keadaan dari elektron yang dipancarkan dengan momentum antara p dan
(p+dp) dengan neutrino dengan momentum dari pv dan (pv+dpv)
4 p2
dp

h3
4 p2
dn =
dp

h3
dn =

Jumlah keadaan total (dn) yang diberikan dalam suatu disintegrasi suatu elektron
dengan momentum antara p dan (p+dpv) adalah:
dn = dn dnv
dn

4 2
4 2
16 2 2 2
p dp
p dp
p p dp dp
h3

h3
h6

Karena dari hukum kekekalan energi p dan pv tidak saling bergantung, tetapi
dihubungkan dengan E + Ev = Emaks

(a)

E E
E

maks

Energi elektron dari teori relativistik:


E m 2 c4 + p 2 c 2

1
m 2 c4 + p 2 c2 2

o

Sedang energi dari neutrino dengan asumsi bahwa neutrino memiliki massa diam
= 0, sehingga mov= 0 sehingga energi dari neutrino menjadi:
E = m2 c4 + p 2 c 2

E =p c

Jika persamaan (c) disubstitusikan ke dalam (a) memberikan

21

E E
E

maks

p c E
E

maks

E
E
maks

c
dE
dp

1 dp

dE
c
c

dn

16 2 2 2
p p dp dp

h6

2 E
E 2
E

maks

p2

c
c

E
E 2
16 2 2 maks

dn
p
dp

6
c
h

dE

p2
2
16 2
dp dE
dn E

3
maks


h6 c
p2
2
16 2

dp dE
karena h 2 , maka dn E

3

2 6 c maks
p2
2
16 2

dp dE
dn E

E
maks


64 6 6 c3
p2
2

E
dp dE
dn
E
maks


4 4 6 c3

22

E E E

maks
1
2 4

2 2 p c m 2c 4 p 2
c2
m c p c

o
maks
o

dari persamaan a dan c


E -E E

maks
dE
1
dE

dE dE

E
E p cp

c
dE
dE
c dp

dp
c

atau dE c dp

1
dE c dp dp dE

c
N p dp
Probabilitas transisi:

2
2
* H dv dn

f op i

dE

p2
2

E
dp dE
dn
E
maks

4 4 6 c3
karena
maka
N p dp

2 dn
2
*
f H op i dv

dE

p2
2 1
2
2

N p dp
f H op i dv
E maks E dp dE

4
6
3

dE

4 c

2
2

p 2 * H dv - E
E dp

f op i

maks

N p dp
3
7
3
2 c
N p dp

p 2 * H dv

f op i

dp

2 3 7 c3

E
maks

23

Harga ekspetasi Hif dan operator Hop diberikan:

2 H * dv
H
if f op i

Untuk menentukan Hop, Fermi telah memakai analogi dari elektrostatik. Dalam
elektrostatik, energi potensial dinyatakan dengan V e
di mana:e = muatan, = potensial
Berdasarkan analogi itu, Fermi telah mengambil:

g
op

di mana g = suatu konstanta interaksi, = fungsi gelombang elektron


Neutrino dapat dianggap suatu partikel bebas karena interaksinya lemah sekali.
Jadi
r
i q r
=e
uur
p

di mana q ;

p momentum linear neutrino

q bilangan gelombang

Elektron dipancarkan dengan kecepatan tinggi, sehingga elektrostatika (interaksi


Coulomb) dapat diabaikan maka
r
ik
e r

p
r

pr momentum linear partikel


k bilangan gelombang

24

op


i k r


i q r

op

g e


i k q r

op

maka

g e

N p dp

dp E
E
maks

3
7
3
2 c

p 2 * H dv

f op i

i k q r

p 2 * g e

dp E
E
maks

dv
i


i k q r

g2
* e

f
2 3 7 c3

*
f e

i k q r

*
f e

p 2 dp E
E
maks

dv
i

g2
2 3 7 c3

i k q r

g2
2 3 7 c3

p 2 dp E
E
maks

dv
i

2 3 7 c3

dv
i

E
maks

p 2 dp

25


i k q r

M * e
f
Misalkan

N p dp -

g2
2 3 7 c3

dv
i
sehingga

M 2 E
E
maks

p 2 dp

49 erg. cm3
Konstanta g melukiskan interaksi lemah yang besarnya g 1,4. 10
.
Perbandingan harga konstanta gandengan interaksi lemah, interaksi
elektromagnetik dan interaksi nuklir.
g2
10 13
Untuk interaksi lemah, konstanta gandengan mempunyai harga: c
e2
1

10 2

c
137,04
Untuk interaksi elektromagnetik:
f2
1
Untuk interaksi nuklir : c
.
Transisi yang diperbolehkan: (kelas 6b)
r
i k q r
Dengan meninjau bentuk eksponensial e
dan diekspansikan dengan

deret Taylor:
xn
x x2
ex
1
....
n!
1!
2!
r
r n
k q r
r
i kq r
e
1 i k q r
....
2!

Biasanya nilai k dan q kecil.


Sedang fungsi gelombang hanya mempunyai arti dalam inti, sehingga untuk


1

k q r
10

partikel beta dengan energi beberapa MeV berlaku:


r
i k q r
M f i * dv 1
e
f i
sehingga
=1
Jadi

26

di mana i dan f masing-masing adalah fungsi gelombang sistem inti awal dan
akhir. Meskipun tidak diketahui i dan f tetapi diketahui bahwa fungsi-fungsi
gelombang adalah eigen fungsi dari operator spin inti I.
Jadi M = 0. kecuali jika I i dan If tak berubah atau I = If - Ii = 0. keadaan
tersebut disebut transisi yang diperbolehkan.
Kurie Plot
Untuk transisi yang diperbolehkan berlaku:
N p dp -

2
g2 M 2

2
E maks E p dp
3
7
3

2 c

p p dan dp dp

2
g2 M 2
p 2 dp
N p dp E


2 3 7 c3 maks
2
g2 M 2
N p
E
E

p2
2 3 7 c3 maks
1
N p 2
g M
E

maks E
2

p
2 3 7 c3
gM
karena C = 1
2

N p

p2

2 3 7 c3 maka

- C E
E
maks

karena E m c2 K dan E E
maka

p
maks
E m c2 K

E
m c2 K
sehingga
maks
o
maks
E
E m c2 K
m c2 K
maks

o
maks
o

E
E K
K
maks

maks

Kmaks= energi kinetik maksimum partikel beta

27

1
2

N p

p2

N p

p2

1
2

- C E
E
maks

sehingga dapat ditulis

- C K
K
maks

1
2

N p

p2

Apabila digambarkan dalam grafik

versus K akan didapatkan grafik

yang berpotongan dengan sumbu K dan menimbulkan Kmaks.


Grafik disebut Kurie Plot. Kmaks atau Energi Kurie Plot.
1
2

N p

p2

9
8

7
6

N e u tro n

5
4
3
2
1
0

2 0 0

4 0 0

6 0 0

8 0 0

(K e V )

Gambar 2. Kurie Plot Peluruhan Neutron. Pengaruh Interaksi Coulomb


pada Peluruhan Beta.
Jika teori di atas dikoreksi, Kurie plot didapat dari nilai experimen akan
berupa garis lurus. Sebelum digunakan, teori ini perlu dites. Hal itu diperlukan
karena permakaian koreksi sesuai dengan medan Coulomb dari inti pemancaran dan +
Untuk - interaksi Coulomb menghalangi pemancaran.
Untuk + interaksi Coulomb mendorong pemancaran.
Pengaruh ini dapat dilihat dalam spektrum pancaran - dan +

28

m aks

Gambar 3. Pengaruh Interaksi Coulomb dalam


Spektrum Pancaran - dan +
Koreksi interaksi Coulomb dinyatakan dengan faktor Coulomb F(Z;p)
Ze2E
2
maks
F Z;p
di mana
1-e-2
c 2 p
Tanda (+) untuk pancaran - dan () untuk pancaran +
Maka kebolehjadian pemancaran partikel jika pengaruh interaksi Coulomb
diperhitungkan menjadi:

2
g2 M 2
N p dp
F Z,E E
E p 2 dp
maks
2 3 c3 7
Bila p p dan dp dp

Maka
2
N p dp
c2 E
E dp
maks
F Z,E p 2
2
N p
c2 E
E
maks
F Z,E p 2
1

2
N p
c E
E
maks
2

F Z,E p

atau
1
N p 2
c K
K
maks
2

F Z,E p

29

1
Np2

FZ,Ep2

12

16

20

24

K (K e V )

0 1
Gambar 4. 3H3Kurie
Plot Peluruhan
1 2He1
3H
1 .

Transisi Terlarang
Ada kalanya pemancaran partikel beta tidak memberikan Curie plot
yang lurus seperti pada transisi yang diperbolehkan. Hal ini disebabkan karena
elemen matrik yang tergantung pada energi (E). Transisi seperti ini
diklasifikasikan transisi terlarang. spektrum dari spektrum n terlarang
N (p) ~ F (Z,E) P (Emaks-E)2Sn(E)
Sn(E)= faktor shape (bentuk) dan tergantung pada tipe interaksi.
Transisi terlarang I:
S1(E)=E2-mo2c4)+(Eo-E)2
Transisi terlarang II:

2
4 10
2
S (E) E 2 -m 2c4 E E E 2 m 2c4 E E
2
o
o
o
o
3

Hal ini dapat diterangkan sebagai berikut:


r r r
i k q r
M f e
i

r r r 2
r r r
k q r
i k q r

f i f e
i f
i ....
2!

30

Misal

fi 0

. Karena kaidah seleksi tak dipenuhi ( 0) maka suku ke- 2 dan

ke- 3 belum tentu sama dengan nol, dan hal ini memungkinkan adanya transisi
walaupun menurut kaidah seleksi transisi itu terlarang.
Jadi jika suku ke- 1 = 0 sedang suku ke- 2 dan ke- 30 maka transisi tersebut
disebut transisi terlarang II
N p

1
2

p 2

Gambar 5. Curie Plot Untuk Transisi Terlarang I Tidak Hurus


seperti halnya dalam transisi yang diperbolehkan.
Laju Peluruhan Beta dan Comparative Life-Time (klas 6 a sampai di sini)
Probabilitas transisi (pemancaran partikel beta) per satuan waktu, dengan
momentum antara p dan p+d
g2 M 2
N p dp
F Z,E K
K p 2dp
maks
2 3 c3h7

Probabilitas pancaran elektron per detik dengan mengintegrasikan persamaan


tersebut di atas dari 0 sampai pmaks. Maka laju peluruhan dapat dihitung dari
p
maks
1
N p dp

0
di mana

31

g 2 M 2 m5c 4
F Z,E K
K p 2dp
maks
3
5
7
7
2 m c h
2 p 2 dp
g 2 M 2 m5c 4
N p dp
F Z,E K
K

maks
mc
mc
2 3h3
p
maks
2 p 2 dp
g 2 M 2 m5c 4
dp
F Z,E K
K

maks
mc
mc
2 3h7
0
p
2 p 2 dp
g 2 M 2 m5c 4 maks

F Z,E K
K

maks
mc
mc
2 3h7
0
g 2 M 2 m5c 4

f Z,K
maks
2 3h7
N p dp

di mana

f Z,K maks

p maks

p dp
F Z,E K maks K

mc mc
2

Dalam kasus khusus


p

maks 1 dan F E, Z 1 maka diperoleh


mc2
2
p
maks K maks K p 2 dp

f Z, K

maks

m c m c
2
mc

0
2p
K maks K
maks p 2 dp

m c2

0 mc mc
2
3
1 K maks K p maks

mc
3
m c2

karena
K
K
p
c p
maks
maks
maks
maks
c
maks 1 atau
mc

32

sehingga

2
3
3
1 K maks K maks
1 1
5

f Z, K

K K
; di mana K
maks 3 m c 2 m c 2
o maks
o 3 mc2

f Z, K
K K5
maks
o maks
1
K5
maks

Jika t
adalah waktu paruh peluruhan maka dapat dituliskan
1/2
ln 2
ln 2t

=
12
t
12
2
2
5
4
ln 2 g M m c

f
3h 7
t
2
1/2
23 h 7 ln 2
ft

1/2
g 2 M 2 m5c 4
C
ft
o disebut comparative half life time
1/2
M2
2 3h7 ln 2
di mana C
o
g 2 m5c4
f t1/2 = comparative half life-time, yakni waktu paruh yang telah dikoreksi
dengan Z dan E. f t1/2 dipakai untuk membandingkan berbagai pemancaran
partikel beta berdasarkan Z dan Kmaksnya
--------------------------selesai --------------------------

33

TUGAS BAB 7 PELURUHAN .


1. Tentukan energi maksimum beta negative pada saat isotop Ne-23 menjadi Na23, jika diketahui massa atomic masing-masing isotop adalah 22,994466 dan
22,98977 .
2. Peluruhan Cs-137 menjadi Ba-137 memiliki transisi 0,6616 MeV. Tentukan
energi elektron konversi untuk kulit K dan L. Energi ikat kulit K dan L untuk
Cs adalah 35,9 keV dan 5,7 keV, sedangkan untuk Ba adalah 37,4 keV dan 6,0
keV.
3. Hitunglah energi titik akhir spektrum beta neutron (MeV) dari massa neutron
dan Hidrogen.
4. Assumsikan bahwa inti Be-7 dalam keadaan diam sebelum terjadi tangkapan
elektron K. Tentukan kecepatan dan energi elektron setelah terjadi tangkapan
elektron K, anggap massa neutrino nol. Perbedaan massa atomik Be-7 dan Li7 adalah 0,86 MeV.
--------------------selamat mengerjakan----------------------------