Anda di halaman 1dari 5

Lumut

Tumbuhan lumut adalah tumbuhan darat sejati, walaupun masih banyak yang menyukai tempat
yang lembab dan basah (pada kulit kayu, batuan, dan tembok). Lumut yang hidup di air jarang kita
jumpai, kecuali lumut gambut (Sphagnum sp). Walaupun demikian lumut masih sangat memerlukan
air, tanpa air organ reproduksinya tidak dapat masak atau pecah (merekah). Pada lumut, akar yang
sebenarnya tidak ada, tumbuhan ini melekat dengan perantaraan Rhizoid (akar semu), oleh karena
itu tumbuhan lumut merupakan bentuk peralihan antara tumbuhan bertalus (Thallophyta) dengan
tumbuhan berkormus (Kormofita). Lumut mempunyai klorofil sehingga sifatnya autotroph
(Taylor,1960).
Lumut Merupakan jenis tumbuhan rendah yang beradaptasi dangan linkungan darat dan mempunyai
tingkay perkembangan lebih tinggi dari pada Thalophyta. Pada umumnya tumbuhan lumut
menyukai tempat-tempat lembab dan basah di dataran rendah hingga dataran tinggi. Tumbuhan
lumut berwarna hijau karena mempunyai sel-sel dengan plastida yang menghasilkan klorofil a dan
b. lumut bersifat autotrof. Lumut merupakan tumbuhan peralihan antara tumbuhan lumut berkormus
dan bertalus. Lumut dapat beradaptasi untuk tumbuh di tanah, belum mempunyai jaringan
pengangkut, sudah memiliki dinding sel yang terdiri dari selulosa (Birsyam, 1992).
Divisi Bryophyta merupakan golongan tumbuhan dianggap setingkat lebih maju dibanding dengan
kelompok Algae dan Fungi, karena mempunyai gametangium dan sporangium yang multiseluler
serta dilapisi oleh sel-sel steril. Pada umumnya mempunyai warna yang benar-benar hijau karena
danya klorifil a dan b. Dilihat dari habitatnya tumbuahn ini telah menunjukan peralihan dari tempat
aquatik menuju tumbuhan darat, sehingga tumbuhan ini telah menyesuaikan diri dengan
kehidupan sebagai tumbuhan darat (Taylor, 1960).
Tumbuhan lumut mempunyai penyebaran yang sangat luas, bersifat kosmopolit mulai dearah kutub
sampai pada daerah tropika, digunung maupaun didatarn rendah. Hidup pada batuan, cadas,
tembok, dan ada yang tumbuh diatas pohon sebagai epifit. Hampir semua lumut bersifat terestrial
namun kebanyakan lebih menyukai pada tempat-tempat yang basah (Taylor.1960).
Tumbuhan lumut (Bryophyta) termasuk tumbuhan talus.Tempat hidup di tanah yang lembab, di
pohon, di batu merah. Lumut mempunyai rhizoid yang berfungsi untuk pelekat pada substrat dan
mengangkut air dan unsur-unsur hara ke seluruh bagian tubuh. Lumut mengalami metagenesis.
Organ kelamin jantan berupa anteredium yang menghasilkan spermatozoid dan organ betina berupa
arkegonium yang menghasilkan ovum. Divisi Bryophyta dibagi menjadi

tiga classis yaituClassis Hepaticopsida (lumut hati), Classis Anthocerotopsida (lumut tanduk),
dan Classis Bryopsida (lumut sejati). Classis Hepaticopsida berbentuk lembaran, mempunyai
rhizoid, hidup di tempat lembab dan berair. Reproduksi seksual membentuk arkegonium dan
anteredium.Classis Anthocerotpsida, hidup di temat lembab, mengalami metagenesis antara fase
sporofit dan gametofit. Bryopsida hidup ditempat yang terbuka, batang tegak bercabang dan
berdaun kecil. Reproduksi vegetatif dengan membentuk kuncup pada cabang batang (Haspara,
2004).
Batang dan daun tegak memiliki susunan berbeda-beda. Batang apabila dilihat secara melintang
akan tampak susunan sebagai berikut selapis sel kulit, lapisan kulit dalam (korteks), silinder pusat
yang terdiri sel-sel parenkimatik yang memanjang untuk mengangkut air dan garam-garam mineral;
belum terdapat floem dan xilem. Sel-sel daunnya kecil, sempit, panjang, dan mengandung kloroplas
yang tersusun seperti jala. Lumut hanya dapat tumbuh memanjang tetapi tidak membesar, karena
tidak ada sel berdinding sekunder yang berfungsi sebagai jaringan penyokong. Rizoid seperti
benang sebagai akar untuk melekat pada tempat tumbuhnya dan menyerap garam-garam mineral
(Birsyam, 1992).
Struktur sporofit (sporogonium) tubuh lumut terdiri dari: vaginula, seta, apofisis, kaliptra, kolumela.
Sporofit tumbuh pada gametofit menyerupai daun. Gametofit berbentuk seperti daun dan di bagian
bawahnya terdapat rizoid yang berfungsi seperti akar. Jika sporofit tidak memproduksi spora,
gametofit akan membentuk anteridium dan arkegonium untuk melakukan reproduksi seksual
(Yulianto, 1992).
Reproduksi lumut bergantian antara fase seksual dan aseksual melalui pergiliran keturunan atau
metagenesis. Reproduksi aseksual dengan spora haploid yang dibentuk dalam sporofit. Reproduksi
seksualnya dengan membentuk gamet-gamet dalam gametofit. Ada dua macam gametangium yaitu
arkegonium (gametangium betina) bentuknya seperti botol dengan bagian lebar yang disebut perut,
yang sempit disebut leher dan anteridium (gametangium jantan) berbentuk bulat seperti gada. Jika
anteridium dan arkegonium dalam satu individu tumbuhan lumut disebut berumah satu (monoesis).
Jika dalam satu individu hanya terdapat anteridium atau arkegonium saja tumbuhan lumut disebut
berumah dua (diesis) (Yulianto, 1992).
Lumut yang sudah teridentifikasi mempunyai jumlah sekitar 16 ribu spesies dan telah
dikelompokkan menjadi 3 kelas yaitu: lumut hati, lumut tanduk dan lumut daun (Yulianto, 1992):
1.

Lumut Hati (Hepaticopsida)

Lumut hati tubuhnya berbentuk lembaran, menempel di atas permukaan tanah, pohon atau tebing.
Terdapat rizoid berfungsi untuk menempel dan menyerap zat-zat makanan. Tidak memiliki batang
dan daun. Reproduksi secara vegetatif dengan membentuk gemma (kuncup), secara generatif
dengan membentuk gamet jantan dan betina. Contohnya: Ricciocarpus, Marchantia dan lunularia.
2.

Lumut Tanduk (Anthoceratopsida)

Bentuk tubuhnya seperti lumut hati yaitu berupa talus, tetapi sporofitnya berupa kapsul memanjang.
Sel lumut tanduk hanya mempunyai satu kloroplas. Hidup di tepi sungai, danau, atau sepanjang
selokan. Reproduksi seperti lumut hati. Contohnya Anthocerros sp.
3.

Lumut Daun (Bryopsida)

Lumut daun juga disebut lumut sejati. Bentuk tubuhnya berupa tumbuhan kecil dengan bagian
seperti akar (rizoid), batang dan daun. Reproduksi vegetatif dengan membentuk kuncup pada
cabang-cabang batang. Kuncup akan membentuk lumut baru. Contoh: Spagnum fibriatum,
Spagnum squarosum.

Lumut hati (Hepaticae) merupakan suatu kelas kecil yang biasanya terdiri atas tumbuhan berukuran
relatif kecil yang dapat melakukan fotosintesis, meskipun selalu bersifat multiseluler dan tampak
dengan mata bugil. Lumut hati dapat dibedakan dalam dua bentuk utama yaitu yang bersifat tipis,
pipih, yang merayap dan cenderung membentuk percabangan berulang kali yang sama besar, dan
yang bersifat mirip kormus, terdiri atas sumbu pokok merayap yang panjangnya dapat mencapai
beberapa inci yang mempinyai bagian-bagian rumit mirip daun. Bagian-bagian yang seperti daun
itu hanya setebal satu sel dan tidak mempunyai rusuk tengah, biasanya tersusun dalam dua baris,
terletak pada kedua sisi sumbu yang biasanya berbaring, dengan biasanya terdapat deretan ketiga
yang terdiri atas cuping-cuping yang lebih kecil di sepanjang sisi bawah
sumbunya (Soeratman, 1999).
Manfaat lumut bagi kehidupan antara lain: Marchantia polymorpha untuk mengobati penyakit
hepatitis, Spagnum sebagai pembalut atau pengganti kapas, jika Spagnum ditambahkan ke tanah
dapat menyerap air dan menjaga kelembaban tanah (Yulianto, 1992).

DAFTAR PUSTAKA

Alexopoulos, C.J., C.W. Mims & M. Blackwell .1996. Introductory Mycology 4th Ed. New York:
John Wiley & Sons
Birsyam, Inge L. 1985. Botani Tumbuhan Rendah. Bandung: ITB
Birsyam, Inge L. 1992. Botani Tumbuhan Rendah. Bandung: ITB press
Campbell, N. A., Reece, J. A., Urry, L. A., Cain, M. L., Wasserman, S. A., Minorsky, P. V., et al.
2012. Biologi Edisi Kedelapan Jilid 2. Jakarta: Erlangga
Campbell, N.A. at all. 2012. Biologi Edisi 8 Jilid 2. Jakarta: Erlangga
Campbell, Neil A. 2004. Biologi Jilid 2 . Jakarta: Erlangga
Darma, I.G.K Tapa. 2000. Budidaya Jamur Kuping (Auricularia auricula (Hook) Undrew.) Dalam
Tegakan Hutan Pada Substrat Log Kayu Afrika (Maesopsis eminii Engl.). Bandung : Jurnal
Managemen Hutan Tropika. Volume VI. Nomor 1 : 25-32
Dwi, Ahmad.2000.Petunjuk Praktikum Taksonomi Praktikum (Cryptogamae). Surabaya
:Universitas Negeri Surabaya.
Edawva, Ekawatia .,Nathania Ernita. 2007. Keanekaragaman Bryophyta di Pemandian Air Panas
Taman Hutan Raya R.Soeryo Cangar Jawa Timur. Jurnal Ilmiah Surabaya
Ganesa, Mardina. 2009. Jamur. Yogyakarta: UGM Press
Gunawan AW, Agustina TW. 2009. Biologi dan bioteknologi cendawan dalam praktik. Jakarta:
Penerbit Universitas Atma Jaya
Haryono. 2000. Penyakit Tanaman Holtikutura di Indonesia. Yogyakarta: UGM Press
Hasnunidah, Neni.2009.Botani Tumbuhan Rendah. Bandarlampung: Unila press
Haspara. 2004. Biologi. Surakarta: Widya Duta
Hawksworth.1994.The Lichen-Forming Fungi.Chapmanand hall publisher.

Indah, Najmi. 2009. Taksonomi Tumbuhan Tingkat Rendah. Jember: PGRI Jember.
Kusnadi dkk. 2003. Mikrobiologi. Jakarta : JICA
Sastrahidayat, I.R. 2010. Mikologi Ilmu Jamur. Malang: UB Press
Soeratman. 1999. Penggelompokan Tumbuhan Bryophyta. Jakarta: Erlangga
Suhono, B. (2012). Ensiklopedia Biologi Dunia Tumbuhan Runjung Dan Jamur. Jakarta: Lentera
Abadi
Sulisetjono. 2008. Jamur. Malang: Jurusan Biologi UIN Malang
Taylor. 1960. Biologi. Bandung: Ganeca Exact
Tjitrosoepomo, Gembong. 1989. Taksonomi Tumbuhan. Yogyakarta: UGM press
Tjitrosoepomo, Gembong. 2003. Taksonomi Tumbuhan. Yogyakarta: UGM press
Tjitrosoepomo, Gembong. 2009. Taksonomi Tumbuhan. Yogyakarta : UGM Press
Wardani, Isnaen.2010. Budidaya Jamur Konsumsi. Yogyakarta: Lily Publishing
Yulianto, Suroso Adi. 1992. Pengantar Cryptogamae. Bandung: TARSITO

Anda mungkin juga menyukai