Anda di halaman 1dari 19

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT yang telah menolong hamba Nya menyelesaikan makal
ahini dengan penuh kemudahan. Tanpa pertolongan Allah SWT mungkin penyusun tidak
akan sanggup menyelesaikannya dengan baik.
Makalah ini disusun agar pembaca dapat mengetahui proses pemecahan dan
pengayakan yang kami sajikan berdasarkan pengamatan dari berbagai sumber. Makalah ini
disusun oleh penyusun dengan berbagai rintangan. Baik itu yang datang dari diri penyusun
maupun yang datang dari luar. Namun dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan
dari Allah SWT akhirnya makalah ini dapat terselesaikan.
Makalah ini memuat tentang Asuhan Keperawatan pada klien dengan
Labiopalatoskizis dan sengaja dipilih karena tugas pada mata kuliah Praktek Klinik
Keperawatan I untuk dicermati dan perlu mendapat dukungan dari semua pihak yang peduli
terhadap dunia kesehatan. Penyusun juga mengucapkan terima kasih kepada dosen
pembimbing yang telah banyak membantu penyusun agar dapat menyelesaikan makalah ini.
Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca.
Walaupun Makalah ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Penyusun mohon untuk saran
dan kritiknya.

Jambi, Maret 2015

Penyusun

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Labioskizis (celah bibir) dan palatoskizis (celah palatum) dapat terjadi secara
tersendiri atau dalam bentuk kombinasi. Kedua cacat ini berawal pada kehamilan bulan
kedua,ketika bagian samping dan depan wajah serta bidang palatinum (palatine shelves)
melakukan penggabungan yang tidak sempurna. Arti schisis sendiri adalah robekan belahan
di medial paramedical, yang biasanya sering didapat di paramedical, mulai dari ringan sampai
berat.
Pada dasarnya kelainan bawaan dapat terjadi pada mulut, yang
biasa disebut labiopalatoskisis. Kelainan ini diduga terjadi akibat infeksi
virus yang diderita ibu pada kehamilan trimester 1. Jika hanya terjadi
sumbing pada bibir, bayi tidak akan mengalami banyak gangguan karena
masih dapat diberi minum dengan dot biasa. Bayi dapat mengisap
dot dengan baik asal dotnya diletakan dibagian bibir yang tidak sumbing.
Kelainan bibir ini dapat segera diperbaiki dengan pembedahan. Bila
sumbing mencakup pula palatum mole atau palatum durum, bayi akan
mengalami kesukaran minum, walaupun bayi dapat menghisap namun
bahaya terdesak mengancam. Bayi dengan kelainan bawaan ini akan
mengalami gangguan pertumbuhan karena sering menderita infeksi
saluran pernafasan akibat aspirasi. Keadaan umum yang kurang baik juga
akan menunda tindakan untuk meperbaiki kelainan tersebut.
Peran perawat yakni dapat memberi asuhan keperawatan pada klien labiopalato
schisis melalui pendekatan proses keperawatan semaksimal mungkin.
B. RumusanMasalah
Dari latar belakang diatas maka rumusan masalahnya adalah bagaimana asuhan keperawatan
klien dengan labiopalatoskizis.

C. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Agar mahasiswa mampu memahami dan menerapkan asuhan keperawatan klien dengan
labiopalatoskizis
2. Tujuan Khusus
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.

Mahasiswa mampu mengetahui definisi labio, palato, labiopalatoskizis


Mahasiswa mampu mengetahui etiologi labiopalatoskizis
Mahasiswa mampu mengetahui patofisiologi labiopalatoskizis
Mahasiswa mampu mengetahui WOC labiopalatoskizis
Mahasiswa mampu mengetahui manifestasi klinis labiopalatoskizis
Mahasiswa mampu mengetahui penatalaksanaan labiopalatoskizis
Mahasiswa mampu mengetahui komplikasi dari labiopalatoskizis.
Mahasiswa mampu mengetahui asuhan keperawatan pada klien labiopalatoskizis

D. Manfaat Penulisan
Setelah mahasiswa mengetahui dan memahami bagaimana asuhan keperawatan pada klien
dengan labiopalatoskizis diharapkan mahasiswa mampu:
1. mengidentifikasikan asuhan keperawatan labiopalatoskizis
2. memberikan dan mengaplikasikan asuhan keperawatan
labiopalatoskizis di rumah sakit.

BAB II
TINJAUAN TEORI

klien

dengan

A. Definisi
Labio/plato skisis adalah merupakan kongenital anomali yang berupa adanya kelainan
bentuk pada struktur wajah. Palatoskisi adalah adanya celah pada garis tengah palato yang
disebabkan oleh kegagalan penyatuan susunan palato pada masa kehamilan 7-12 minggu.
1) Labio / Palato skisis merupakan kongenital yang berupa adanya kelainan bentuk pada
struktur wajah (Ngastiah, 2005 : 167)
2) Bibir sumbing adalah malformasi yang disebabkan oleh gagalnya propsuesus nasal
median dan maksilaris untuk menyatu selama perkembangan embriotik. (Wong,
Donna L. 2003)
3) Palatoskisis adalah fissura garis tengah pada polatum yang terjadi karena kegagalan 2
sisi untuk menyatu karena perkembangan embriotik (Wong, Donna L. 2003)
Beberapa jenis bibir sumbing :
a) Unilateral Incomplete
Apabila celah sumbing terjadi hanya di salah satu sisi bibir dan tidak memanjang
hingga ke hidung.
b) Unilateral complete
Apabila celah sumbing terjadi hanya di salah satu bibir dan memanjang hingga ke
hidung.
c) Bilateral complete
Apabila celah sumbing terjadi di kedua sisi bibir dan memanjang hingga ke hidung.
4) Labio Palato skisis merupakan suatu kelainan yang dapat terjadi pada daerah mulut,
palato skisis (subbing palatum) dan labio skisis (sumbing tulang) untuk menyatu
selama perkembangan embrio (Hidayat, Aziz, 2005:21)
Labioskizis (celah bibir) dan palatoskizis (celah palatum) dapat terjadi secara tersendiri
atau dalam bentuk kombinasi. Kedua cacat ini berawal pada kehamilan bulan kedua,ketika
bagian samping dan depan wajah serta bidang palatinum (palatine shelves) melakukan
penggabungan yang tidak sempurna. Labioskizis dengan atau tanpa Palatokizis terjadi dua
kali lebih sering pada wanita. Palatoskizis tanpa Labiokizis lebih sering dijumpai pada
wanita.

Deformitas Labiokizis dapat terjadi secara ulinateral,bilateral, atau kadang-kadang di garis


tengah. Mungkin hanya bibir yang terkena atau cacat tersebut bisa meluas hingga rahang atas

atau rongga hidung. Insidensinya ditemukan paling tinggi di antara anak-anak yang memiliki
riwayat celah bibir dalam keluarga.
Labioskizis dengan atau tanpa Palatoskizis terjadi pada sekitar 1 dari 1.000 kelahiran
dalam masyarakat kulit putih. Insidensi ini ditemukan lebih banyak pada masyarakat Asia
(1,7 dari 1000 penduduk) dan penduduk Amerika (lebih dari 3,6 dari 1.000 penduduk) tetapi
lebih rendah dalam masyarakat kulit hitam (1 dari 2500 penduduk).
B. Etiologi
Kemungkinan penyebab meliputi :
1. Sindrom kromosom atau Sindrom Mendeliam (celah bibir dikaitkan dengan lebih dari
300 sindrom)
2. Pajanan teratagen selama perkembangan janin
3. Kombinasi faktor genetik dan lingkungan
a) Faktor Herediter :
Sebagai faktor yang sudah dipastikan. Gilarsi : 75% dari faktor keturunan resesif dan
25% bersifat dominan.
a. Mutasi gen.
b. Kelainan kromosom
b) Faktor Eksternal / Lingkungan :
1. Faktor usia ibu
2. Obat-obatan Asetosal, Aspirin (SCHARDEIN-1985) Rifampisin, Fenasetin,
Sulfonamid, Aminoglikosid, Indometasin, Asam Flufetamat, Ibuprofen, Penisilamin,
Antihistamin dapat menyebabkan celah langit-langit. Antineoplastik, Kortikosteroid
3. Nutrisi
4. Penyakit infeksi Sifilis, virus rubella
5. Radiasi
6. Stres emosional
7. Trauma, (trimester pertama). (Wong, Donna L. 2003)
C. Patofisiologi
Labioskizis terjadi akibat kegagalan fusi atau penyatuan frominem maksilaris dengan
frominem medial yang diikuti disrupsi kedua bibir rahang dan palatum anterior. Masa krisis
fusi tersebut terjadi sekitar minggu keenam pascakonsepsi. Sementara itu, palatoskizis terjadi
akibat kegagalan fusi dengan septum nasi. Gangguan palatum durum dan palatum molle
terjadi pada kehamilan minggu ke-7 sampai minggu ke-12.

Selama bulan kedua kehamilan, terjadi perkembangan bagian depan dan samping wajah
serta bidang palatinum (palatine shelves). Karena kelainan kromosom, pajanan teratogen,
kelainan genetik, atau faktor lingkungan, bibir atau palatum tidak menyatu secara sempurna.
Deformitas berkaisar dari lekukan kecil biasa hingga celah bibir yang kompleks.
Platoskizis bisa terjadi parsial atau total. Labioskizis total atau lengkap meliputi daerah
palatum mole, osmaksila, dan alveolus pada satu atau kedua sisi premaksila.
Celah bibir ganda merupakan bentuk deformitas yang paling parah. Celahnya terbentuk
dari palatum mole ke depan salah satu sisi hidung. Celah bibir ganda ini memisahkan daerah
maksila dan premaksila menjadi segmen yang bergerak bebas. Lidah dan otot-otot yang lain
dapat menggeser segmen tersebut sehingga memperlebar celah bibir.
D. WOC
Insufisiensi zat
Untuk tumbuh kembang

Kegagalan fungsi palatum


Pada garis tengah

refleks mengisap Asi, yang


terganggu akibat adanya
patologis, pucat, turgor kulit
jelek, kulit kering, perut
kembung, BB menurun.

Perubahan nutrisi kurang


dari kebutuhan tubuh

toksikosis selama
kehamilan

infeksi

genetik

kegagalan fungsi palatum


dengan septum nasi

bayi rewel,
adanya sumbing adanya disfungsi adanya
menangis,
pada bibir dan
tuba eustachi
gangguan
tidak dapat
palatum
yang dapat me- pertumbuhan
beristirahat
ngakibatkan ter- anatomi naso
Dengan tenang,
jadinya otitis
faring, adanya
dan nyaman,
media serta
garis jahitan
sulit mengisap
gangguan
pada daerah
dan menelan Asi
resti
pendengaran,
mulut.
trauma
adanya sifat
sisi pembedahan kurang meresti trauma sisi
nerima,sensitif,
pembedahan
adanya sumbing gangguan rasa
pada bibir dan
nyaman nyeri
palatum.

Resti perubahan
Menjadi orangtua
Referensi :
1. Ngastinya. 2005. Perawatan anak sakit edisi 2. Jakarta : EGC
2. Doengoes Marlin. 2001. Rencana Asuhan Keperawatan, Jakarta : EGC
E. Manifestasi Klinis
Tanda dan gejala dapat meliputi:
1. Labio-atau paltoskizis yang tampak jelas
2. Kesulitan dalam pemberian makanan karena fusi palatum tidak lengkap.
3. Terjadi pemisahan bibir.
4. Berat badan tidak bertambah.
5. Pada bayi terjadi regurgitasi nasal ketika menyusui yaitu keluarnya air susu dari hidung.
6. Kesukaran dalam menghisap/makan
7. Distorsi pada hidung
8. Tampak sebagian atau keduanya
9. Adanya celah pada bibir
F. Penatalaksanaan
1. Pembedahan untuk mengoreksi labioskizies ketika bayi baru berusia beberapa hari ;
tindakan ini memungkinkan bayi untuk menghisap.
2. Pemasangan prosthesis ortodontik untuk memperbaiki kemampuan bayi untuk
3.

menghisap
Pembedahan untuk mengoreksi palatosgizies dilakukan ketika bayi berusia 12 hingga

18 bulan, sudah mengalami kenaikan berat badan dan bebas dari infeksi
4. Terapi bicara untuk mengoreksi pola bicara
5. Pengguanaan speech bulb dengan bentuk khusus yang di pasang di bagian posterior
prostesis ortodontik untuk menutup nasofaring jika terdapat celah lebar berbentuk tapal
kuda yang membuat pembedahan tidak mungkin dilakukan (untuk membantu anak
mengembangkan pola bicara yang dpat dipahami)
6. Nutrisi yang adekuat bagi tumbuh-kembang yang normal
7. Penggunaan dot yang lunak dan berukuran besar dengan lubang lebih dari satu seperti
putting susu domba untuk memperbaiki pola menyusu dan meningkatkan status gizi.
G. Komplikasi
Komplikasi dapat meliputi:

Malnutrisi karena bibir dan platum yang abnormal akan mempengaruhi asupan gizi.

Kerusakan pendengaran yang sering disebabkan oleh kerusakan atau infeksi rekuren

pada telinga tengah.


Gangguan bicara yang permanen sekalipun sudah dilakukan koreksi dengan
pembedahan.

H. Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Labiopalatoskizis


a) Pengkajian Keperawatan
1. Biodata pasien dan biodata penanggung jawab
2. Riwayat kesehatan masa lalu
Mengkaji riwayat kehamilan ibu, apakah ibu pernah mengalami trauma pada kehamilan
Trimester I. Bagaimana pemenuhan nutrisi ibu saat hamil, obat-obat yang pernah
dikonsumsi oleh ibu dan apakah ibu pernah stress saat hamil. Pasien menderita
insufisiensi zat untuk tumbuh kembang organ selama masa embrional.
3. Riwayat kesehatan sekarang
Mengkaji berat/panjang bayi saat lahir, pola pertumbuhan, pertambahan/penurunan
berat badan, riwayat otitis media dan infeksi saluran pernafasan atas.
4. Riwayat keluarga
Riwayat kehamilan, riwayat keturunan, labiopalatoskisis dari keluarga, penyakit sifilis
dari orang tua laki-laki.
5. Pemeriksaan Fisik
a) Mata
1) Keadaan konjungtiva
2) Keadaan sclera
3) Keadaan lensa pupil
b) Hidung
1) Kemampuan penglihatan kepekaan penciuman
2) Adanya polip/hambatan lain pada hidung.
c) Mulut dan Bibir
1) Warna bibir
2) Apakah ada luka
3) Apakah ada kelainan
d) Leher
1) Keadaan vena jugularis
2) Apakah ada pembesaran kelenjar.

e) Telinga
1) Bentuk telinga
2) Kepekaan pendengaran
3) Kebersihan telinga
f)

Dada
1) Bentuk dan irama napas
2) Keadaan jantung dan paru-paru
g) Abdomen
1) Ada kelainan atau tidak
2) Bentuknya supel atau tidak
h) Genitalia
1) Kebersihan daerah genetalia
2) Ada edema atau tidak
3) Keadaan alat genetalia
i) Ekstermitas atas dan bawah
1) Bentuknya normal atau tidak
2) Tonus otot kuat atau lemah
j) Kulit

1) Warna kulit
2) Turgor kulit
6) Pengkajian Pola Fungsi
a. Aktivitas / istirahat
1)

Sulit mengisap ASI

2)

Sulit menelan ASI

3)

Bayi rewel,menangis

4)

Tidak dapat beristirahat dengan tenang dan nyaman

b. Sirkulasi
1) Pucat
2) Turgor kulit jelek
c. Makanan / cairan
1) Berat badan menurun
2) Perut kembung
3) Turgor kulit jelek, kulit kering
d. Neurosensori
1) Adanya trauma psikologi pada orang tua

2) Adanya sifat kurang menerima, sensitif


e. Nyaman / nyeri
1) Adanya resiko tersedak
2) Disfungsi tuba eustachi
3) Adanya garis jahitan pada daerah mulut
b) Diagnosa Keperawatan
1. Resiko aspirasi berhubungan dengan gangguan menelan. (NANDA, 2005-2006)
2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan reflex
menghisap pada anak tidak adekuat. (NANDA, 2005-2006)
3. Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan kelainan anatomis (labiopalatoskizis)
(NANDA, 2005-2006)
4. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan insisi pembedahan. (NANDA, 20052006)
5. Resiko infeksi berhubungan dengan insisi pembedahan. (NANDA, 2005-2006)
6. Ansietas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan keluarga tentang penyakit.
(NANDA, 2005-2006)

c) Rencana Asuhan Keperawatan


N
o

Diagnosa

NOC

NIC

Aktivitas

1.

Ketidakseimbangan
nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh
berhubungan dengan
reflex menghisap
pada anak tidak

adekuat

Setelah dilakukan tindakan k


e-perawatan
selama 2x24 jam diharapkan
perubahan nutrisi dapat
teratasi dengan kriteria hasil:
tidak pucat
turgor kulit membaik
kulit lembab, perut tidak
kembung
bayi menunjukan
penambahan berat badan
yang tepat.

Manajemen Nutrisi
Pemberian ASI

1. Bantu ibu dalam menyusui, bila ini


adalah keinginan ibu. Posisikan
dan stabilkan puting susu dengan
baik di dalam rongga mulut.
2. Bantu menstimulasi refleks ejeksi
Asi secara manual / dengan
pompa payudara sebelum
menyusui
3. Gunakan alat makan khusus, bila
menggunakan alat tanpa puting.
(dot, spuit asepto) letakan formula
di belakang lidah
4. Melatih ibu untuk memberikan Asi
yang baik bagi bayinya
5. Menganjurkan ibu untuk tetap
menjaga kebersihan, apabila di
pulangkan
6. Kolaborasi dengan ahli gizi.

2.

Gangguan rasa
nyaman nyeri
berhubungan dengan
insisi pembedahan

Setelah dilakukan tindakan


keperawatan selama 2x24
jam diharapkan nyeri dapat
terkontrol dengan kriteria
hasil:
Bayi tidak rewel
Tidak menangis
Bayi mengalami tingkat
kenyamana yang optimal
Bayi tampak nyaman dan
istirahat dengan tenang.

Manajemen nyeri

1. Kaji tanda-tanda vital, perhatikan


tackikardi dan peningkatan
pernapasan.
2. Kaji penyebab ketidaknyamanan
yang mungkin selain dari prosedur
operasi
3. Kaji skala nyeri, catat lokasi,
intensitas nyeri
4. Anjurkan keluarga
untuk melakukan masase ringan
5. Jelaskan orangtua atau keluarga
untuk terlibat dalam perawatan
bayi
6. Kolaborasi, berikan analgesik /
sedatif sesuai instruksi.

d) Implementasi
Implementasi dilakukan sesuai dengan aktivitas dari intervensi yang telah direncanakan.
e) Evaluasi
1. Kebutuhan nutrisi tercukupi dan adekuat serta optimal.
2. Nyeri teratasi.

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

A. Kasus
Bayi laki-laki Ny.A berumur 2 bulan datang kerumah sakit dengan keluhan bayi sering
tersedak saat menyusu dan sulit menyusu. Ibu mengatakan bayi sering tersedak dan sulit untuk
menelan saat menyusu serta sering rewel. Setelah dilakukan pengkajian terdapat belahan pada
bibir, bayi tampak sulit menghisap dan tersedak saat menyusu, bayi tampak lemah dan kurus,
konjungtiva anemis. lingkar lengan 9,3 cm. BB anak saat lahir 3 kg, BB sekarang 3 kg. Tandatanda vital menunjukkan, S:37C, N: 130x/I, RR: 32x/I, TD: 90/60 mmHg. Ibu mengatakan selam
a masa kehamilan pada trimester I pernah minum obat penenang.Ibu juga mengatakan salah satu
di keluarganya ada yang menderita penyakit ini yakni kakaknya. Pada pemeriksaan foto rontgen
dite-mukan celah processus maxila dan processus nasalis media.
B. Pengkajian
1. Anamnesa
Identitas Klien:
Nama klien

: An.B

Umur

: 2 bulan

Jenis Kelamin

: laki-laki

Alasan Masuk RS:


Klien masuk rumah sakit keluhan keluhan bayi sering tersedak saat menyusu dan sulit
menyusu.
Riwayat Kesehatan Sekarang (RKS)
Ibu mengatakan bayi sering tersedak dan sulit untuk menelan saat menyusu serta sering
rewel. Setelah dilakukan pengkajian terdapat belahan pada bibir, bayi tampak sulit menelan
dan menyusu.
Riwayat Kesehatan Dahulu (RKD)
Ibu mengatakan selama masa kehamilan pada trimester I pernah minum obat penenang.

Riwayat Kesehatan Keluarga (RKK)


Ibu mengatakan salah satu di keluarganya ada yang menderita penyakit ini yakni kakakn
ya.
2. Pemeriksaan Fisik
TTV:
TD : 90/60 mmHg

RR : 32 x/menit
N : 140 x/menit
S : 36,5oC
Antropometri
-

BB saat lahir: 3 kg
BB sekarang: 3 kg
LILA: 9,3 cm
Inspeksi:
Terdapat belahan pada bibir,
bayi tampak sulit menelan dan menyusu
bayi tampak lemah dan kurus
konjungtiva anemis

3. Pemeriksaan Penunjang
Pada pemeriksaan foto rontgen ditemukan celah processus maxila dan processus nasali
s media.

C. Analisa Data
N
o

Data

Etiologi

Masalah Keperawatan

DS:
- Ibu mengatakan bayi sering
tersedak saat menyusu
DO:
- TD : 90/60 mmHg
- RR : 32 x/menit
- N : 130 x/menit
- S : 37oC

gangguan menelan, sulit

Resiko aspirasi

menyusu akibat kelainan


anatomis (labiopalatoskizis)

- Terdapat belahan pada bibir,


- bayi tampak sulit menghisap dan
menelan

Pada pemeriksaan foto rontgen


ditemukan celah processus maxila
dan processus nasalis media.

DS:
- Ibu mengatakan bayi sulit menyusu
DO:
- Terdapat belahan pada bibir,
- bayi tampak sulit menghisap dan
menelan
- Pada pemeriksaan foto rontgen di

Intake ASI tidak adekuat,

Ketidakseimbangan nutria kurang

reflek menghisap yag tidak

dari kebutuhan tubuh

adekuat

temukan celah processus


maxila dan processus nasalis
media.
- TD : 90/60 mmHg
- RR : 32 x/menit
- N : 130 x/menit
- S : 37oC
Bb sekarang: 3 kg
Bb saat lahir: 3 kg
Lila: 9,3 cm
Konjungtiva anemis
bayi tampak lemah dan kurus
D. Diagnosa Keperawatan

E.

1.

Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d intake asupan ASI yang tidak adekuat, reflek

2.

menghisap tidak adekuat.


Resiko aspirasi b/d gangguan menelan, sulit menyusu akibat kelainan anatomis (labiopalatoskizis).

Nursing Care Planning

Diagnosa

NOC

o
1

Ketidakseimbangan

NIC

Setelah dilakukan tindakan ke-

nutrisi kurang dari

perawatan selama 2x24 jam diharap

kebutuhan tubuh b/d

Manajemen Nutrisi
Pemberian ASI

kan status gizi baik dengan

intake asupan ASI


yang tidak adekuat,

reflek menghisap

kriteria hasil :
BB seimbang yang ditandai oleh
kenaikan berat badan bulanan

tidak adekuat

(1/2 hingga 1 kg)


- Klien tidak lagi tampak lemah
lemah dan kurus
- Konjungtiva tidak anemis

Aktivitas

1. Bantu ibu dalam menyusui,


bila ini adalah keinginan ibu.
Posisikan dan stabilkan puting
susu dengan baik di dalam
rongga mulut.
2. Bantu menstimulasi refleks
ejeksi Asi secara manual /
dengan pompa payudara
sebelum menyusui
3. Gunakan alat makan khusus,
bila menggunakan alat tanpa
puting. (dot, spuit asepto)
letakan formula di belakang
lidah
4. Latih ibu untuk memberikan
Asi yang baik bagi bayinya
5. Anjurkan ibu untuk tetap
menjaga kebersihan, apabila
di pulangkan
6. Kolaborasi dengan ahli gizi.

Resiko aspirasi

Setelah dilakukan tindakan

b/d gangguan

keperawatan selama 2x24 jam

selama proses pemberian

menelan, sulit

diharapkan tidak terjadi aspirasi

makan dan pemberian

menyusu akibat

dengan kriteria hasil :

pengobatan.

kelainan anatomis
(labiopalatoskizis).

Aspiration Precaution

- Bayi tidak tersedak saat menyusu


- Bayi tidak muntah atau keluarnya

2. Tempatkan pasien pada posisi

cairan (air susu) dari hidung


- Menunjukkan peningkatan

3.

kemampuan menelan.
- Bertoleransi thd asupan oral dan
sekresi tanpa aspirasi.
- Bertoleransi thd pemberian

semi-fowler atau fowler.


Sediakan kateter penghisap
disamping tempat tidur dan
lakukan penghisapan selama
makan, sesuai dengan
kebutuhan.

perenteral tanpa aspirasi.


F.

1. Pantau tanda-tanda aspirasi

Catatan Perkembangan

Hari / Tanggal

Jam

No.Dx

Implementasi

Evaluasi

15 April 2014

14.00 WIB

17.0 WIB

1. membantu ibu dalam menyusui,


bila ini adalah keinginan ibu.
Posisikan dan stabilkan puting susu
dengan baik di dalam rongga mulut.
2. membantu menstimulasi refleks
ejeksi Asi secara manual / dengan
pompa payudara sebelum
menyusui
3. menggunakan alat makan khusus,
bila menggunakan alat tanpa
puting. (dot, spuit asepto) letakan
formula di belakang lidah
4. melatih ibu untuk memberikan Asi
yang baik bagi bayinya
5. menganjurkan ibu untuk tetap
menjaga kebersihan, apabila di
pulangkan
6. mengkolaborasi dengan ahli gizi.

1. memantau tanda-tanda aspirasi

S:

Ibu mengatakan BB bayi nya naik,


bayi nya tidak lagi sulit menelan
dan menyusu

O:

BB sekarang: 3.500 gr
TD : 90/60 mmHg
S

: 36,5 c

RR : 32x/menit
N : 130x/menit
Klien tidak lagi tampak lemah dan
kurus
Konjungtiva ananemis
A:

Masalah teratasi

P:

- (Hentikan intervensi )

S: -

selama proses pemberian makan


dan pemberian pengobatan.

O: - tidak terjadi tersedak saat menyusu


- tidak

2. menempatkan pasien pada posisi

muntah

menelan

semi-fowler atau fowler.


Sediakan
kateter
penghisap
disamping tempat tidur dan lakukan

terjadi

A:

Masalah teratasi

P:

- (Hentikan intervensi )

penghisapan selama makan, sesuai


dengan kebutuhan.
3. menyediakan kateter

penghisap

disamping tempat tidur dan lakukan


penghisapan selama makan, sesuai
dengan kebutuhan.

BAB IV
PENUTUP

saat

A. Kesimpulan
Labio/plato skisis adalah merupakan kongenital anomali yang berupa adanya kelainan bentuk
pada struktur wajah. Palatoskisi adalah adanya celah pada garis tengah palato yang
disebabkan oleh kegagalan penyatuan susunan palato pada masa kehamilan 7-12 minggu.
Diagnosa keperawatan yang biasa muncul pada klien dengan labiopalatoskizis yaitu:
7. Resiko aspirasi berhubungan dengan gangguan menelan.
8. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan reflex
menghisap pada anak tidak adekuat.
9. Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan kelainan anatomis (labiopalatoskizis)
10. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan insisi pembedahan.
11. Resiko infeksi berhubungan dengan insisi pembedahan.
12. Ansietas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan keluarga tentang penyakit.
B. Saran

Bagi seorang perawat diperlukan pengetahuan dan pemahaman tentang konsep dan teori
penyakit dalam menerapkan asuhan keperawatan pada klien dengan labiopalatoskizis.
Informasi yang adekuat dan pendidikan kesehatan mengenai labiopalatoskizis sangat
bermanfaat baik untuk klien maupun keluarga klien, agar klien dan keluarganya
mampu mengatasi masalahnya secara mandiri.

DAFTAR PUSTAKA
Donna, L. Wong. 2003. Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik. Edisi 4. EGC : Jakarta.
Doengoes Marlin. 2001. Rencana Asuhan Keperawatan, Jakarta : EGC
Ngastinya. 2005. Perawatan anak sakit edisi 2. Jakarta : EGC

Price, S. A. Wilson, L. M. 1995. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit


(terjemahan). Edisi 4. EGC : Jakarta.
Wilkinson, Judith M..2013. Buku Saku Diagnosa Keperawatan: Diagnosis NANDA,
Intervensi NIC, Kriteria Hasil NOC, Ed 9. Jakarta: EGC

Anda mungkin juga menyukai