Anda di halaman 1dari 37

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Millennium Development Goals (MDGs) atau dalam bahasa Indonesia
diterjemahkan sebagai Tujuan Pembangunan Milenium merupakan sebuah
paradigma pembangunan global yang dideklarasikan Konferensi Tingkat
Tinggi Milenium oleh 189 negara anggota Perserikatan Bangsa Bangsa
(PBB) di New York pada bulan September 2000. Semua negara yang hadir
dalam pertemuan tersebut berkomitmen untuk mengintegrasikan MDGs
sebagai bagian dari program pembangunan nasiaonal dalam upaya
menangani penyelesaian terkait dengan masalah yang sangat mendasar
tentang pemenuhan hak asasi dan kebebasan manusia, perdamaian, keamanan
dan pembangunan.1
Satu di antara kedelapan target atau sasaran Pembangunan Milenium
atau Millenium Development Goals (MDGs) adalah menurunkan angka
kematian anak. Target yang ingin di capai pada tahun 2015 adalah
mengurangi tingkat kematian anak-anak di bawah usia 5 tahun (Balita)
hingga dua pertiganya dari kondisi tahun 1990.1

Angka kematian bayi (AKB) di Dunia tahun 2010 adalah sebesar 63/1000
kelahiran hidup. Imtiaz menyebutkan di dalam Jornal of Public Health and
Safety bahwa penyebab utama kematian neonatal disebabkan oleh asfiksia
intrapartum sebesar 21%. Menurut World Health Organization (WHO) di
dunia setiap tahunnya 3,6 juta (3%) dari 120 juta bayi mengalami asfiksia
neonatorum, dan hampir 1 juta (27,78%) bayi ini meninggal dunia.1
1
Hasil Survey Demografi dan Kesehatan
Indonesia (SDKI) tahun 2012
menunjukkan di Indonesia Angka Kematian Bayi (AKB) mencapai 32/1.000
kelahiran hidup, sedangkan di Provinsi Lampung angka kematian bayi
mencapai 30/1000 kelahiran hidup atau lebih rendah di bandingkan dengan
jumlah AKB di Dunia dan Indonesia. Data SDKI menunjukan kejadian
asfiksia neonatorum kurang lebih 40/1000 kelahiran hidup dan secara
keseluruhan 110.000 neonatus meninggal setiap tahun karena asfiksia.2,3
Bayi dengan usia di bawah 28 hari yang meninggal jumlahnya mencapai
50 persen dari angka kasus kematian bayi secara keseluruhan dan umumnya
disebabkan karena kesulitan bernapas saat lahir (asfiksia), infeksi, dan
komplikasi lahir dini serta berat badan lahir rendah.5
Bayi dengan asfiksia dapat mengganggu fungsi organ tubuhnya.
Keadaan hipoksia dan iskemia yang terjadi akibat asfiksia akan menimbulkan
gangguan pada berbagai fungsi organ. Proses terjadinya gangguan
bergantung pada berat dan lamanya hipoksia terjadi dan berkaitan dengan
proses reoksigenisasi jaringan setelah proses hipoksia tersebut berlangsung.5

Faktor yang menyebabkan asfiksia neonatorum antara lain: faktor


keadaan ibu, faktor keadaan plasenta dan faktor keadaan bayi. Faktor
keadaan ibu antar lain adalah preeklampsia dan eklampsia, plasenta previa,
solusio plasenta, partus lama atau macet, infeksi berat (malaria, sifilis, TBC,
HIV) dan kehamilan lewat waktu. Faktor keadaan plasenta antara lain adalah
lilitan tali pusat, tali pusat pendek dan simpul tali pusat. Faktor keadaan bayi
antara lain adalah prematur, persalinan sulit (letak sungsang, kembar, distosia
bahu, ekstraksi vakum, forsep), kelainan kongenital dan ketuban bercampur
mekonium.6
Berdasarkan latar belakang tersebut maka penulis tertarik untuk
meneliti

Faktor-faktor

yang

berhubungan

dengan

kejadian

asfiksia

neonatorum pada bayi baru lahir di Rumah Sakit Umum Daerah Pringsewu
Kabupaten Pringsewu Provinsi Lampung Tahun 2013.

1.2 Rumusan masalah


Berdasarkan uraian di atas, rumusan masalah dalam penelitian ini
adalah: Faktor-faktor apa sajakah yang berhubungan dengan kejadian
asfiksia neonatorum pada bayi baru lahir di Rumah Sakit Umum Daerah
Pringsewu Kabupaten Pringsewu Provinsi Lampung Tahun 2013 ?

1.3 Tujuan Penelitian


1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian


asfiksia neonatorum pada bayi baru lahir di Rumah Sakit Umum Daerah
Pringsewu Kabupaten Pringsewu Provinsi Lampung Tahun 2013

2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui distribusi frekuensi asfiksia neonatorum pada bayi
baru lahir di Rumah Sakit Umum Daerah Pringsewu Kabupaten
Pringsewu Tahun Provinsi Lampung 2013
b. Untuk mengetahui hubungan umur kehamilan dengan asfiksia
neonatorum pada bayi baru lahir di Rumah Sakit Umum Daerah
Pringsewu Kabupaten Pringsewu Provinsi Lampung Tahun 2013
c. Untuk mengetahui hubungan lama persalinan dengan asfiksia
neonatorum pada bayi baru lahir di Rumah Sakit Umum Daerah
Pringsewu Kabupaten Pringsewu Provinsi Lampung Tahun 2013
d. Untuk mengetahui hubungan ketuban pecah dini dengan asfiksia
neonatorum pada bayi baru lahir di Rumah Sakit Umum Daerah
Pringsewu Kabupaten Pringsewu Provinsi Lampung Tahun 2013
e. Untuk mengetahui hubungan preeklamsi dan eklamsi dengan asfiksia
neonatorum di Rumah Sakit Umum Daerah Pringsewu Kabupaten
Pringsewu Provinsi Lampung Tahun 2013

f. Untuk mengetahui hubungan pendarahan antepartum dengan asfiksia


neonatorum di Rumah Sakit Umum Daerah Pringsewu Kabupaten
Pringsewu Provinsi Lampung Tahun 2013
g. Untuk mengetahui hubungan berat bayi lahir rendah dengan asfiksia
neonatorum di Rumah Sakit Umum Daerah Pringsewu Kabupaten
Pringsewu Provinsi Lampung Tahun 2013
h. Untuk mengetahui hubungan Infeksi berat pada gravidarum dengan
asfiksia neonatorum di Rumah Sakit Umum Daerah Pringsewu
Kabupaten Pringsewu Provinsi Lampung Tahun 2013
i. Untuk mengetahui hubungan persalinan sulit dengan asfiksia
neonatorum di Rumah Sakit Umum Daerah Pringsewu Kabupaten
Pringsewu Provinsi Lampung Tahun 2013

1.4 Manfaat Penelitian


1. Bagi Petugas Kesehatan
Sebagai bahan referensi mengenai faktor-faktor yang dapat berhubungan
dengan kejadian asfiksia neonatorum pada bayi baru lahir.
2. Bagi Institusi Tempat Penelitian
Diharapkan dapat menjadi bahan informasi bagi petugas kesehatan di
Rumah Sakit Umum Daerah Pringsewu Kabupaten Pringsewu
3. Bagi Institusi Pendidikan
Sebagai tambahan literatur atau referensi tentang faktor-faktor yang dapat
berhubungan dengan kejadian asfiksia neonatorum pada bayi baru lahir.

4. Bagi Peneliti
Untuk mengetahui dengan jelas mengenai faktor-faktor yang dapat
berhubungan dengan kejadian asfiksia neonatorum pada bayi baru lahir.
Sehingga dapat dijadikan acuan untuk penelitian selanjutnya.

1.5 Ruang Lingkup


Penelitian mencakup program kesehatan preventif yang bertujuan untuk
mengetahui

faktor-faktor

apa

sajakah

yang

menyebabkan

asfiksia

neonatorum pada bayi baru lahir di Rumah Sakit Umum Daerah Pringsewu
Kabupaten Pringsewu Provinsi Lampung tahun 2013.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Asfiksia dan Asfiksia Neonatorum


Asfiksia adalah keadaan bayi baru lahir tidak bernafas secara spontan
dan teratur, sering kali bayi yang sebelumnya mengalami gawat janin akan
mengalami asfiksia sesudah persalinan.
Asfiksia neonatorum adalah kegagalan napas secara spontan dan teratur
pada saat lahir atau beberapa saat setelah saat lahir yang ditandai dengan
hipoksemia, hiperkarbia dan asidosis.7 Dari sumber lain menyebutkan bahwa
asfiksia neonatorum adalah keadaan gawat bayi yang tidak dapat bernafas
spontan dan teratur, sehingga dapat meurunkan oksigen dan makin
meningkatkan karbon dioksida yang menimbulkan akibat buruk dalam
kehidupan lebih lanjut.13

2.2

Klasifikasi Asfiksia

Berdasarkan nilai APGAR (Appearance, Pulse, Grimace, Activity,


Respiration) asfiksia diklasifikasikan menjadi 4, yaitu: 14
a. Asfiksia berat dengan nilai APGAR 0-3
b. Asfiksia ringan sedang dengan nilai APGAR 4-6
c. Bayi normal atau sedikit asfiksia dengan nilai APGAR 7-9
d. Bayi normal dengan nilai APGAR 10

Tabel 2.1 Penilaian APGAR SCORE15


Tanda
Frekuensi
Jantung
Usaha bernafas
Tanus otot

0
Tidak ada
Tidak ada
Lumpuh

Refleks

Tidak ada

Warna kulit

Biru/pucat

Skor APGAR
1
2
< 100 x/menit
> 100 x/menit
7

Lambat tak teratur


Ekstremitas agak
fleksi
Gerakan sedikit
Tubuh kemerahan,
ekstremitas biru

Menangis kuat
Gerakan aktif
Gerakan
kuat/melawan
Seluruh tubuh
kemerahan

2.3 Etiologi Asfiksia


Beberapa kondisi tertentu pada ibu hamil dapat menyebabkan gangguan
sirkulasi darah uteroplasenter sehingga oksigen ke bayi menjadi berkurang.
Hipoksia bayi di dalam rahim ditunjukkan dengan gawat janin yang dapat
berlanjut menjadi asfiksia bayi baru lahir.5
Beberapa faktor tertentu diketahui dapat menjadi penyebab terjadinya
asfiksia pada bayi baru lahir, diantaranya:

2.3.1 Faktor Ibu


a. Preeklampsi dan eklampsi
Pre-eklampsi adalah salah satu sindrom yang dijumpai pada ibu
hamil diatas 20 minggu berupa berkurangnya perfusi organ akibat
vasospasme dan aktivasi endotel, yang ditandai dengan peningkatan
tekanan darah dan proteinuria dengan atau tanpa edema. Preeklampsi

menyebabkan

insufisiensi

plasenta

sehingga

dapat

mengakibatkan hipoksia ante dan intrapartum. Hipoksia janin terjadi


karena gangguan pertukaran gas serta transport oksigen dari ibu ke
janin sehingga terdapat gangguan dalam persediaan oksigen dan
dalam menghilangkan karbon dioksida. Ia mengakibatkan asfiksia
neonatorum.13
b. Pendarahan antepartum

Perdarahan

antepartum

merupakan

perdarahan

pada

kehamilan diatas 22 minggu hingga menjelang persalinan yaitu


sebelum bayi dilahirkan. Komplikasi utama dari perdarahan
antepartum adalah perdarahan yang menyebabkan anemia dan syok
yang menyebabkan keadaan ibu semakin jelek. Keadaan ini yang
menyebabkan gangguan ke plasenta yang mengakibatkan anemia
pada janin bahkan terjadi syok intrauterine yang mengakibatkan
kematian janin intrauterine. Bila janin dapat diselamatkan, dapat

10

terjadi berat badan lahir rendah, sindrom gagal napas dan


komplikasi asfiksia.5
c. Usia kehamilan
Usia kehamilan atau usia gestasi (gestational age) adalah ukuran
lama waktu seorang janin berada dalam rahim. Usia janin dihitung
dalam minggu dari hari pertama menstruasi terakhir (HPMT) ibu
sampai hari kelahiran.10
1) Partus prematurus adalah persalinan pada umur kehamilan
kurang dari 37 minggu atau berat badan lahir antara 500-2499
gram. Kejadian prematuritas pada sebuah kehamilan akan di
picu oleh karakteristik pasien dengan: Status sosial ekonomi
yang rendah, termasuk didalamnya penghasilan yang rendah,
kehamilan pada usia 16 tahun dan primigravida >30 tahun,
riwayat pernah melahirkan prematur, pekerjaan fisik yang berat,
tekanan mental (stress) atau kecemasan yang tinggi dapat
meningkatkan kejadian prematur, merokok, dan penggunaan
obat

bius/kokain.

Faktor

keadaan prematuritas antara

predisposisi
lain:

infeksi

akan

menambah

saluran

kemih,

penyakit ibu seperti hipertensi dalam kehamilan, asma, penyakit


jantung, kecanduan obat, kolestatis, anemia, keadaan yang
menyebabkan distensi uterus berlebihan yaitu kehamilan
multipel, hidramnion, diabetes dan perdarahan antepartum.
Kegagalan pernafasan pada bayi premature berkaitan dengan

11

defisiensi kematangan surfaktan pada paru- paru bayi. Bayi


premature mempunyai karakteristik yang berbeda secara
anatomi maupun fisiologi jika dibandingkan dengan bayi cukup
bulan. Karakteristik tersebut adalah:10
a) Kekurangan surfaktan pada paru-paru sehingga menimbulkan
kesulitan pada saat ventilasi.
b) Perkembangan

otak

yang

imatur

sehingga

kurang

kemampuan memicu pernafasan.


c) Otot yang lemah sehingga sulit bernafas spontan.
d) Kulit yang tipis, permukaan kulit yang luas dan kurangnya
jaringan lemak kulit memudahkan bayi kehilangan panas.
e) Bayi sering kali lahir disertai infeksi.
f) Pembuluh darah otak sangat rapuh sehingga mudah
menyebabkan perdarahan pada keadaan stres.
g) Volume

darah

yang

kurang,

makin

rentan

terhadap

kehilangan darah.
h) Jaringan imatur, yang mudah rusak akibat kekurangan
oksigen.
2) Persalinan post term adalah persalinan yang terjadi pada usia
kehamilan yang berlangsung 42 minggu atau lebih (>249 hari),
istilah lainnya yaitu serotinus. Menentukan kehamilan post
term dengan menggunakan rumus Neagle dihitung dari HPHT dan
berdasarkan taksiran persalinan (280 hari atau 40 minggu) dari

12

HPHT. Pada bayi yang dilahirkan oleh ibu dengan umur kehamilan
melebihi 42 minggu kejadian asfiksia bisa disebabkan oleh fungsi
plasenta yang tidak maksimal lagi akibat proses penuaan
mengakibatkan transportasi oksigen dari ibu ke janin terganggu.
Fungsi plasenta mencapai puncaknya pada kehamilan 38 minggu
dan kemudian mulai menurun terutama setelah 42 minggu, hal ini
dapat dibuktikan dengan menurunya kadar estriol dan plasental
laktogen.10
2.3.2 Faktor plasenta
Plasenta merupakan akar janin untuk menghisap nutrisi dari ibu
dalm bentuk O2, asam amino, vitamin, mineral dan zat lain dan
membuang sisa metabolisme janin dan O2. Pertukaran gas antara ibu
dan janin dipengaruhi oleh luas kondisi plasenta. Gangguan pertukaran
gas di plasenta yang akan menyebabkan asfiksia janin. Fungsi plasenta
akan berkurang sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan O2 dan
menutrisi metabolisme janin. Asfiksia janin terjadi bila terdapat
gangguan mendadak pada plasenta.Kemampuan untuk transportasi O2
dan membuang CO2 tidak cukup sehingga metabolisme janin berubah
menjadi anaerob dan akhirnya asidosis dan PH darah turun. Dapat
terjadi pada bentuk: lilitan tali pusat, tali pusat pendek, simpul tali
pusat.6

2.3.3 Faktor Bayi

13

a. Bayi Prematur
Kriteria untuk bayi prematur adalah yang lahir sebelum 37 minggu
dengan berat lahir dibawah 2500 gram. Bayi lahir kurang bulan
mempunyai organ dan alat-alat tubuh yang belum berfungsi normal
untuk bertahan hidup diluar rahim. Makin muda umur kehamilan,
fungsi organ tubuh bayi makin kurang sempurna, prognosis juga
semakin buruk. Karena masih belum berfungsinya organ-organ tubuh
secara sempurna seperti sistem pernafasan maka terjadilah asfiksia.9
b. BBLR
Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) merupakan salah
satu akibat tidak tumbuh sempurnanya pertumbuhan
janin intrauterin. BBLR adalah bayi yang mempunyai
berat lahir < 2.500 gram. BBLR mempunyai resiko
mortalitas yang tinggi maupun kecenderungan untuk
menderita penyakit seperti infeksi saluran pernafasan,
diare,

respon

imunitas

yang

rendah,

dan

keterlambatan pertumbuhan dan perkembangan.11

2.3.4 Faktor Persalinan


Persalinan adalah suatu proses pengeluaran hasil konsepsi yang
dapat hidup dari uterus melalui vagina ke dunia luar.8
a. Persalinan pervaginam
Persalinan pervaginam dibagi 3 (tiga), yaitu:

14

1) Persalinan spontan, janin dilahirkan dengan kekuatan dan


tenaga ibu sendiri. Cara ini disebut Bracht. Pertolongan pada
tahap persalinan ini tidak boleh tergesa-gesa oleh karena
persalinan kepala yang terlalu cepat pada presentasi
sungsang dapat menyebabkan terjadinya dekompresi kepala
sehingga dapat menyebabkan perdarahan intrakranial.8
2) Manual aid (partial breech extraction), janin dilahirkan
sebagian dengan tenaga dan kekuatan ibu dan sebagian lagi
dengan tenaga penolong.8
3) Ektraksi

sungsang

(total

breech

extraction),

janin

dilahirkan seluruhnya dengan memakai tenaga penolong.8


Tahapan proses persalinan yang erat kaitannya langsung
dengan janin adalah pada kala I dan kala II. Apabila kala I dalam
persalinan berlangsung lebih lama maka akan ada kemungkinan terjadi
persalinan lama. Persalinan yang lama (partus lama) merupakan salah
satu faktor resiko intrapartum kejadian Asfiksia. Sedangkan Kala II
merupakan proses pengeluaran janin atau bayi, kontraksi akan terasa
sangat kuat pada fase ini, kontraksi yang kuat menimbulkan nyeri
hebat, nyeri biasanya menimbulkan ketakutan dan kecemasan yang
dapat meningkatakan kerja saraf simpatis dan keadaan tersebut dapat
merangsang reseptor dan , rangsangan tersebut akan mengakibatkan
oksigenasi

janin

berkurang

dan

penurunan

oksigenasi

dapat

15

memperlambat proses persalinan dan merupakan salah satu faktor


resiko asfiksia neonatorum.12
b. Persalinan Perabdominam
Sectio caesaria adalah suatu persalinan buatan dimana janin
dilahirkan melalui suatu insisi pada dinding depan perut dan
dinding rahim dengan syarat rahim dalam keadaan utuh serta berat
janin di atas 500 gram.8
c. Partus lama atau partus macet
Partus lama adalah persalinan yang berlangsung lebih dari 24
jam pada primi, dan lebih dari 18 jam pada multi. Sedangkan
partus macet adalah merupakan fase terakhir dari suatu partus yang
macet dan berlangsung terlalu lama sehingga timbul komplikasi
pada ibu dan atau janin, seperti dehidrasi, infeksi, kelelahan ibu,
serta asfiksia dan Kematian Janin Dalam Kandungan (KJDK).8
d. Ketuban Pecah Dini (KPD)
KPD adalah pecahnya ketuban sebelum inpartu, yaitu bila
pembukaan pada primi kurang dari 3cm dan pada multipara kurang
dari 5 cm. Ketuban pecah dini disebabkan oleh karena
berkurangnya kekuatan membran atau meningkatnya tekanan
intrauterin atau oleh kedua faktor tersebut. Berkurangnya kekuatan
membran disebabkan oleh adanya infeksi yang dapat berasal dari
vagina dan serviks. Ketuban Pecah Dini mempunyai peranan
penting terhadap timbulnya plasentitis dan amnionitis. Dengan

16

pecahnya ketuban terjadi oligohidramnion yang menekan tali pusat


hingga terjadi asfiksia atau hipoksia. Terdapat hubungan antara
terjadinya gawat janin dan derajat oligohidramnion, semakin
sedikit air ketuban, janin semakin gawat.8

2.4 Patofisiologi Asfiksia


a. Cara bayi memperoleh oksigen sebelum dan setelah lahir
Sebelum lahir, paru janin tidak berfungsi sebagai sumber
oksigen atau jalan untuk mengeluarkan karbondioksida.
Pembuluh arteriol yang ada di dalam paru janin dalam
keadaan konstriksi sehingga tekanan oksigen (pO2) parsial
rendah. Hampir seluruh darah dari jantung kanan tidak dapat
melalui

paru

karena

konstriksi

pembuluh

darah

janin,

sehingga darah dialirkan melalui pembuluh yang bertekanan


lebih rendah yaitu duktus arteriosus kemudian masuk ke
aorta.
Setelah lahir, bayi akan segera bergantung pada paru-paru
sebagai sumber utama oksigen. Cairan yang mengisi alveoli
akan diserap ke dalam jaringan paru, dan alveoli akan berisi
udara. Pengisian alveoli oleh udara akan memungkinkan
oksigen mengalir ke dalam pembuluh darah di sekitar alveoli.

17

Arteri

dan

menurunkan

vena

umbilikalis

tahanan

pada

akan

menutup

sirkulasi

sehingga

plasenta

dan

meningkatkan tekanan darah sistemik. Akibat tekanan udara


dan peningkatan kadar oksigen di alveoli, pembuluh darah
paru akan mengalami relaksasi sehingga tahanan terhadap
aliran darah bekurang. Keadaan relaksasi tersebut dan
peningkatan tekanan darah sistemik, menyebabkan tekanan
pada arteri pulmonalis lebih rendah dibandingkan tekanan
sistemik sehingga aliran darah paru meningkat sedangkan
aliran

pada

duktus

arteriosus

menurun.

Oksigen

yang

diabsorbsi di alveoli oleh pembuluh darah di vena pulmonalis


dan darah yang banyak mengandung oksigen kembali ke
bagian jantung kiri, kemudian dipompakan ke seluruh tubuh
bayi

baru

lahir.

Pada

kebanyakan

keadaan,

udara

menyediakan oksigen (21%) untuk menginisiasi relaksasi


pembuluh darah paru. Pada saat kadar oksigen meningkat
dan pembuluh paru mengalami relaksasi, duktus arteriosus
mulai menyempit. Darah yang sebelumnya melalui duktus
arteriosus sekarang melalui paru-paru, akan mengambil
banyak oksigen untuk dialirkan ke seluruh jaringan tubuh.
Pada akhir masa transisi normal, bayi menghirup udara dan
menggunakan paru-parunya untuk mendapatkan oksigen.
Tangisan pertama dan tarikan napas yang dalam akan

18

mendorong

cairan

dari

jalan

napasnya.

Oksigen

dan

pengembangan paru merupakan rangsang utama relaksasi


pembuluh darah paru. Pada saat oksigen masuk adekuat
dalam pembuluh darah, warna kulit bayi akan berubah dari
abu-abu/biru menjadi kemerahan.10
b. Kesulitan yang dialami bayi selama masa transisi
Bayi dapat mengalami kesulitan sebelum lahir, selama
persalinan atau setelah lahir. Kesulitan yang terjadi dalam
kandungan, baik sebelum atau selama persalinan, biasanya
akan menimbulkan gangguan pada aliran darah di plasenta
atau tali pusat. Tanda klinis awal dapat berupa deselerasi
frekuensi jantung janin. Masalah yang dihadapi setelah
persalinan lebih banyak berkaitan dengan jalan nafas dan
atau paru-paru, misalnya sulit menyingkirkan cairan atau
benda asing seperti mekonium dari alveolus, sehingga akan
menghambat udara masuk ke dalam paru mengakibatkan
hipoksia. Bradikardia akibat hipoksia dan iskemia akan
menghambat

peningkatan

tekanan

darah

(hipotensi

sistemik). Selain itu kekurangan oksigen atau kegagalan


peningkatan tekanan udara di paru-paru akan mengakibatkan
arteriol

di

paru-paru

tetap

konstriksi

sehingga

terjadi

penurunan aliran darah ke paru-paru dan pasokan oksigen ke


jaringan. Pada beberapa kasus, arteriol di paru-paru gagal

19

untuk berelaksasi walaupun paru-paru sudah terisi dengan


udara

atau

oksigen

(Persisten

Pulmonary

Hypertension

Newborn).10
c. Reaksi bayi terhadap kesulitan selama masa transisi
normal
Bayi baru lahir akan melakukan usaha untuk menghirup
udara ke dalam paru-parunya yang mengakibatkan cairan
paru keluar dari alveoli ke jaringan insterstitial di paru
sehingga oksigen dapat dihantarkan ke arteriol pulmonal dan
menyebabkan arteriol berelaksasi. Jika keadaan ini terganggu
maka arteriol pulmonal akan tetap kontriksi, alveoli tetap
terisi cairan dan pembuluh darah arteri sistemik tidak
mendapat oksigen. Pada saat pasokan oksigen berkurang,
akan terjadi konstriksi arteriol pada organ seperti usus, ginjal,
otot dan kulit, namun demikian aliran darah ke jantung dan
otak tetap stabil atau meningkat untuk mempertahankan
pasokan oksigen. Penyesuaian distribusi aliran darah akan
menolong kelangsungan fungsi organ-organ vital. Walaupun
demikian jika kekurangan oksigen berlangsung terus maka
terjadi

kegagalan

fungsi

miokardium

dan

kegagalan

peningkatan curah jantung, penurunan tekanan darah, yang


mengkibatkan aliran darah ke seluruh organ akan berkurang.
Sebagai

akibat

dari

kekurangan

perfusi

oksigen

dan

20

oksigenasi jaringan, akan menimbulkan kerusakan jaringan


otak yang irreversible, kerusakan organ tubuh lain, atau
kematian.

Keadaan

bayi

yang

membahayakan

akan

memperlihatkan satu atau lebih tanda-tanda klinis seperti


tonus otot buruk karena kekurangan oksigen pada otak, otot
dan organ lain, depresi pernapasan karena otak kekurangan
oksigen, bradikardia (penurunan frekuensi jantung) karena
kekurangan oksigen pada otot jantung atau sel otak, tekanan
darah rendah karena kekurangan oksigen pada otot jantung,
kehilangan darah atau kekurangan aliran darah yang kembali
ke plasenta sebelum dan selama proses persalinan, takipnu
(pernapasan cepat) karena kegagalan absorbsi cairan paruparu, dan sianosis karena kekurangan oksigen di dalam
darah.10

2.5 Diagnosis Asfiksia


a. Anamnesis : Gangguan/ kesulitan waktu lahir, lahir tidak bernafas atau
menangis.14
b. Pemeriksaan fisik:14
Asfiksia yang terjadi pada bayi biasanya merupakan kelanjutan dari anoksia
atau hipoksia janin. Diagnosis anoksia atau hipoksia janin dapat dibuat

21

dalam persalinan dengan ditemukannya tanda-tanda gawat janin. Tiga hal


yang perlu mendapat perhatian yaitu :14
1) Denyut jantung janin
Peningkatan kecepatan denyut jantung umumnya tidak banyak artinya,
akan tetapi apabila frekuensi turun sampai ke bawah 100 kali per menit
di luar his, dan lebih-lebih jika tidak teratur, hal itu merupakan tanda
bahaya.
2) Mekonium dalam air ketuban
Mekonium pada presentasi sungsang tidak ada artinya, akan tetapi
pada presentasi kepala mungkin menunjukkan gangguan oksigenisasi
dan harus diwaspadai. Adanya mekonium dalam air ketuban pada
presentasi kepala dapat merupakan indikasi untuk mengakhiri
persalinan bila hal itu dapat dilakukan dengan mudah.
3) Pemeriksaan pH darah janin
Dengan menggunakan amnioskop yang dimasukkan lewat serviks
dibuat sayatan kecil pada kulit kepala janin, dan diambil contoh darah
janin. Darah ini diperiksa pH-nya. Adanya asidosis menyebabkan
turunnya pH. Apabila pH itu turun sampai di bawah 7,2 hal itu
dianggap sebagai tanda bahaya gawat janin mungkin disertai asfiksia.

2.6 Pemeriksaan Penunjang Asfiksia


a. Darah
Nilai darah lengkap pada bayi asfiksia terdiri dari:11

22

1) Hemoglobin (Hb) pada bayi dengan asfiksia Hb cinderung turun karena


O2 dalam darah sedikit.
2) Leukosit pada bayi dengan asfiksia leukositnya meningkat, karena bayi
preterm imunitas masih rendah.
3) Distrosfiks pada bayi preterm dengan pos asfiksi cinderung turun karena
sering terjadi hipoglikemi.

b. Analisa gas darah


Nilai analisa gas darah pada bayi post asfiksi terdiri dari:11
1) Kadar pH cenderung turun karena terjadi asidosis metabolik.
2) Kadar pCO2 pada bayi post asfiksia cenderung naik.
3) Kadar pO2 bayi post asfiksia cenderung turun karena terjadi hipoksia
progresif.

2.7 Penatalaksanaan Asfiksia


a. Penatalaksanaan secara umum pada bayi baru lahir dengan asfiksia adalah
sebagai berikut:13

1) Pengawasan suhu
Bayi baru lahir secara relatif kehilangan panas yang diikuti oleh
penurunan suhu tubuh, sehingga dapat mempertinggi metabolisme sel
jaringan sehingga kebutuhan oksigen meningkat, perlu diperhatikan
untuk menjaga kehangatan suhu bayi baru lahir dengan:
a) Mengeringkan bayi dari cairan ketuban dan lemak.

23

b) Menggunakan sinar lampu untuk pemanasan luar.


c) Bungkus bayi dengan kain kering.
2) Pembersihan jalan nafas
Saluran nafas bagian atas segera dibersihkan dari lendir dan cairan
amnion, kepala bayi harus posisi lebih rendah sehingga memudahkan
keluarnya lendir.
3) Rangsangan untuk menimbulkan pernafasan
Rangsangan nyeri pada bayi dapat ditimbulkan dengan memukul kedua
telapak kaki bayi, menekan tendon achilles atau memberikan suntikan
vitamin K. Hal ini berfungsi memperbaiki ventilasi.13
b. Penatalaksanaan resusitasi sesuai tingkatan asfiksia adalah sebagai
berikut:13
1) Asfiksi Ringan (APGAR score 7-10)
Caranya:
a) Bayi dibungkus dengan kain hangat
b) Bersihkan jalan napas dengan menghisap lendir pada hidung
kemudian mulut
c) Bersihkan badan dan tali pusat.
d) Lakukan observasi tanda vital dan apgar score dan masukan ke
dalam inkubator.

24

2) Asfiksia sedang (APGAR score 4-6)


Caranya:
a) Bersihkan jalan napas.
b) Berikan oksigen 2 liter per menit.
c) Rangsang pernapasan dengan menepuk telapak kaki apabila belu ada
reaksi, bantu pernapasan dengan melalui masker (ambubag).
d) Bila bayi sudah mulai bernapas tetapi masih sianosis berikan natrium
bikarbonat 7,5%sebanyak 6cc. Dextrosa 40% sebanyak 4cc
disuntikan melalui vena umbilikus secara perlahan-lahan, untuk
mencegah tekanan intra kranial meningkat.
3) Asfiksia berat (APGAR skor 0-3)
Caranya:
a) Bersihkan jalan napas sambil pompa melalui ambubag.
b) Berikan oksigen 4-5 liter per menit.
c) Bila tidak berhasil lakukan Endotracheal Tube (ETT).
d) Bersihkan jalan napas melalui ETT.
f) Apabila bayi sudah mulai bernapas tetapi masih sianosis berikan
natrium bikarbonat 7,5% sebanyak 6cc. Dextrosa 40% sebanyak
4cc.13

2.8 Komplikasi Asfiksia

25

Dampak atau komplikasi dari asfiksia berat pada organ atau sistem
adalah sebagai akibat dari vasokontriksi setempat untuk mengurangi aliran
darah ke organ yang kurang vital seperti saluran cerna, ginjal, otot, dan kulit
agar penggunaan oksigen berkurang, dan aliran darah untuk organ vital seperti
otak dan jantung meningkat. Organ atau sistem yang dapat mengalami
kerusakan adalah sebagai berikut:4
a. Sistem Susunan Saraf Pusat
Pada keadaan hipoksia aliran darah ke otak dan jantung
lebih dipertahankan dari pada ke organ tubuh lainnya,
namun

terjadi

perubahan

hemodinamik

di

otak

dan

penurunan oksigenisasi sel otak tertentu yang selanjutnya


mengakibatkan

kerusakan

sel

otak.

Penelitian

Yu,

menyebutkan 8-17% bayi penderita serebral palsi disertai


dengan riwayat perinatal hipoksia. Salah satu gangguan
akibat hipoksia otak yang paling sering ditemukan pada
masa perinatal adalah ensefalopati hipoksik iskemik (EHI).
Pada bayi cukup bulan keadaan ini timbul saat terjadinya
hipoksia akut, sedangkan pada bayi kurang bulan kelainan
lebih sering timbul sekunder pasca hipoksia dan iskemia
akut. Manifestasi gambaran klinik bervariasi tergantung
pada lokasi bagian otak yang terkena proses hipoksia dan
iskemianya. Pada saat timbulnya hipoksia akut atau saat
pemulihan pasca hipoksia terjadi dua proses yang saling

26

berkaitan

sebagai

penyebab

perdarahan

peri/intraventrikular. Pada proses pertama, hipoksia akut


yang

terjadi

peninggian

menimbulkan

aliran

darah

vasodilatasi
serebral.

serebral

Keadaan

dan

tersebut

menimbulkan peninggian tekanan darah arterial yang


bersifat sementara dan proses ini ditemukan pula pada
sirkulasi

kapiler

di

daerah

matriks

germinal

yang

mengakibatkan perdarahan. Selanjutnya keadaan iskemia


dapat pula terjadi akibat perdarahan ataupun renjatan
pasca

perdarahan

yang

akan

memperberat

keadaan

penderita. Pada proses kedua, perdarahan dapat terjadi


pada fase pemulihan pasca hipoksia akibat adanya proses
reperfusi dan hipotensi sehingga menimbulkan iskemia di
daerah mikrosirkulasi periventrikular yang berakhir dengan
perdarahan. Proses yang mana yang lebih berperan dalam
terjadinya perdarahan tersebut belum dapat ditetapkan
secara pasti, tetapi gangguan sirkulasi yang terjadi pada
kedua proses tersebut telah disepakati mempunyai peran
yang menentukan dalarn perdarahan tersebut.7
b. Sistem Pernapasan
Penyebab terjadinya gangguan pernapasan pada bayi
penderita asfiksia neonatus masih belum dapat diketahui
secara pasti. Beberapa teori mengemukakan bahwa hal ini

27

merupakan akibat langsung hipoksia dan iskemianya atau


dapat pula terjadi karena adanya disfungsi ventrikel kiri,
gangguan koagulasi, terjadinya radikal bebas oksigen
ataupun penggunaan ventilasi mekanik dan timbulnya
aspirasi mekonium.7
c. Sistem kardiovaskuler
Bayi yang mengalami hipoksia berat dapat menderita
disfungsi miokardium yang berakhir dengan payah jantung.
Disfungsi miokardium terjadi karena menurunnya perfusi
yang disertai dengan kerusakan sel miokard terutama di
daerah subendokardial dan otot papilaris kedua bilik
jantung.7
d. Sistem urogenital
Pada

sistem

urogenital,

hipoksia

bayi

dapat

menimbulkan gangguan perfusi dan dilusi ginjal serta


kelainan filtrasi glomerulus. Aliran darah yang kurang
menyebabkan nekrosis tubulus dan perdarahan medula.7
e. Sistem gastrointestinal
Kelainan saluran cerna ini terjadi karena radikal bebas
oksigen yang terbentuk pada penderita hipoksia beserta
faktor lain seperti gangguan koagulasi dan hipotensi,
menimbulkan kerusakan epitel dinding usus. Gangguan

28

fungsi yang terjadi dapat berupa kelainan ringan yang


bersifat sementara seperti muntah berulang, gangguan
intoleransi makanan atau adanya darah dalam residu
lambung sampai kelainan perforasi saluran cerna.7
f. Sistem audiovisual
Gangguan pada fungsi penglihatan dan pendengaran
dapat terjadi secara langsung karena proses hipoksia dan
iskemia, ataupun tidak langsung akibat hipoksia iskernia
susunan saraf pusat atau jaras-jaras yang terkait yang
menimbulkan kerusakan pada pusat pendengaran dan
penglihatan.7
2.9 Prognosis Asfiksia
1. Asfiksia ringan: Prognosis baik
2. Asfiksia sedang: Bergantung pada kecepatan penatalaksanaan, jika
penatalaksanaan cepat prognosis baik
3. Asfiksia berat: Dapat menimbulkan kematian pada hari-hari pertama atau
kelainan syaraf permanen
Asfiksia dengan pH kurang dari 6,9 dapat menyebabkan kejang sampai koma
dan kelainan neurologis yang permanen misalnya cerebral palsy dan retardasi
mental.5
2.10 Kerangka Teori

Faktor Ibu
Faktor Plasenta
Faktor Persalinan
Waktu persalinan terjadi
pengurangan aliran oksigen
ke plasenta sebagai akibat
kontraksi dinding uterus
sehingga kekurangan
oksigen yang sudah terjadi
akan bertambah berat

Dinding dada sangat lemah


Kehilangan
nutrisi
Pada
akhir
respirasi,
volume
dan
sering
mengalami
dan
O
2 dalam
toraks
dan paru-paru
kegagalan
dalam
kandungan
mendekati
residu
menyelesaikan
pernafasan
Lahirvolume
BBLR
pertamanya

Insufisiensi
uteroplasent
a
Aspirasi
Hipoksia
Mekonium
Janin

29

Atelektasis

Paru
Kolaps
Hipoksia

Asfiksia
Neonatorum
m

Gambar 2.1 Kerangka Teori 5,10,13

2.11 Kerangka Konsep


Kerangka konsep penelitian pada dasarnya adalah kerangka hubungan
antara konsep-konsep yang ingin diamati atau diukur melalui penelitian
yang akan dilakukan.16 Pada penelitian ini peneliti ingin mengukur

30

hubungan antara variabel independen dan variabel dependen yang terlihat


pada gambar berikut:
1. Usia Kehamilan
2. Lama Persalinan
3. Ketuban Pecah
Dini
4. Preeklamsi dan
Eklamsi
5. Pendarahan
Antepartum
6. BBLR
7. Infeksi berat pada
gravidarum
8. Persalinan sulit

Asfiksia

Gambar 2.2 Kerangka Konsep

2.12

Hipotesis
a. Ada hubungan umur kehamilan dengan asfiksia neonatorum pada bayi
baru lahir di Rumah Sakit Umum Daerah Pringsewu Kabupaten
Pringsewu Provinsi Lampung Tahun 2013.
b. Ada hubungan lama persalinan dengan asfiksia neonatorum pada bayi
baru lahir di Rumah Sakit Umum Daerah Pringsewu Kabupaten
Pringsewu Provinsi Lampung Tahun 2013.
c. Ada hubungan ketuban pecah dini dengan asfiksia neonatorum pada
bayi baru lahir di Rumah Sakit Umum Daerah Pringsewu Kabupaten
Pringsewu Provinsi Lampung Tahun 2013.
d. Ada hubungan preeklamsi dan eklamsi dengan asfiksia neonatorum
pada bayi baru lahir di Rumah Sakit Umum Daerah Pringsewu
Kabupaten Pringsewu Provinsi Lampung Tahun 2013.

31

e. Ada hubungan pendarahan antepartum dengan asfiksia neonatorum


pada bayi baru lahir di Rumah Sakit Umum Daerah Pringsewu
Kabupaten Pringsewu Provinsi Lampung Tahun 2013.
f. Ada hubungan berat bayi lahir rendah dengan asfiksia neonatorum pada
bayi baru lahir di Rumah Sakit Umum Daerah Pringsewu Kabupaten
Pringsewu Provinsi Lampung Tahun 2013.
g. Ada hubungan infeksi berat pada gravidarum dengan asfiksia
neonatorum pada bayi baru lahir di Rumah Sakit Umum Daerah
Pringsewu Kabupaten Pringsewu Provinsi Lampung Tahun 2013.
h. Ada hubungan persalinan sulit dengan asfiksia neonatorum pada bayi
baru lahir di Rumah Sakit Umum Daerah Pringsewu Kabupaten
Pringsewu Provinsi Lampung Tahun 2013.

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian

32

Penelitian ini menggunakan rancangan cross sectional yaitu penelusuran


dilakukan sesaat, artinya subjek diamati hanya satu kali dan tidak ada
perlakuan terhadap responden.16

3.2 Waktu dan Tempat Penelitian


Penelitian dilakukan pada bulan Maret Tahun 2014 di Rumah Sakit Umum
Daerah Pringsewu Kabupaten Pringsewu Provinsi Lampung.

3.3 Populasi dan Sampel


3.3.1 Batasan Populasi
Populasi penelitian adalah semua bayi baru lahir di Rumah Sakit
Umum Daerah Pringsewu Kabupaten Pringsewu Provinsi Lampung pada
bulan Januari-Desember 2013.
3.3.2 Besar Sampel
Sampel adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan objek peneliti
yang dianggap mewakili seluruh populasi. Penentuan besarnya sampel
peneliti menggunakan rumus Slovin.16
n

N
1+N (d2)

Keterangan:
n = Besar sampel
N = Besar populasi

30

d = Tingkat penyimpangan yang diinginkan (0.05)

33

n=

1472
1 + 1472 (0,05)2

= 314,5 atau dibulat menjadi 315 sampel


Berdasarkan perhitungan jumlah sampel minimal yang dibutuhkan
dalam penelitian ini adalah 315 responden dengan kriteria.
a

Kriteria Inklusi:
a Semua bayi baru lahir di rumah sakit umum daerah pringsewu
kabupaten pringsewu provinsi lampung pada bulan januari
b

desember 2013
Bayi dengan asfiksia neonatorum di rumah sakit umum daerah
pringsewu kabupaten pringsewu provinsi lampung pada bulan

januari desember 2013


Kriteria Eksklusi:
a) Bayi dengan umur di atas 28 hari di rumah sakit umum daerah
pringsewu kabupaten pringsewu provinsi lampung pada bulan
januari desember 2013

3.3.3 Tehnik Sampling


Teknik pengambilan sampel ini secara acak sederhana (Random
sampling) yaitu setiap anggota atau unit dari populasi mempunyai
kesempatan yang sama untuk diseleksi sebagai sampel. Teknik
pengambilan sampel secara acak sederhana ini dilakukan dengan cara
mengundi anggota populasi (Lottery Technique).16

3.4 Variabel Penelitian

34

Variabel independen yang dibahas dalam penelitian ini adalah variabel


usia kehamilan, lama persalinan, ketuban pecah dini, preeklamsi dan eklamsi,
pendarahan antepartum, BBLR, infeksi berat pada gravidarum dan persalinan
sulit.
Variabel dependen dalam penelitian ini adalah asfiksia neonatorum.

3.5 Definisi Operasional


Definisi operasional bermanfaat untuk mengarahkan atau mengamati
variabel - variabel yang bersangkutan serta pengembangan instrument
penelitian (alat ukur).16 Definisi operasional variabel - variabel dalam
penelitian ini ialah sebagai berikut:
Tabel 3.1 Definisi Operasional
No

Variabel

Definisi Operasional

Cara
Ukur
Observasi
rekam
medis

Alat
Ukur
Lembar
Check
list

Asfiksia
Neonatorum

keadaan dimana bayi baru


lahir tidak dapat bernafas
secara spontan dan teratur

Usia
Kehamilan

Bayi prematur adalah bayi


yang lahir sebelum 37
minggu dengan berat lahir
dibawah 2500 gram.

Observasi
rekam
medis

Lembar
Check
list

Lama
Persalinan

Observasi
rekam
medis

Ketuban
Pecah Dini

Persalinan lama adalah


persalinan yang berlangsung
lebih dari 24 jam pada primi
dan lebih dari 18 jam pada
multi
KPD adalah pecahnya
ketuban sebelum inpartu,
yaitu bila pembukaan pada
primi kurang dari 3cm dan
pada multipara kurang dari
5 cm atau pecahnya ketuban
18 jam sebelum inpartu

Observasi
rekam
medis

Hasil Ukur

Skala

1. Asfiksia (jika
APGAR
SKORE < 7)
0. Tidak Asfiksia
(jika APGAR
SKORE 10)
1. Normal
0. Prematur

Nominal

Lembar
Check
list

1. Normal
0. Persalinan lama

Nominal

Lembar
Check
list

1. KPD
0. Tidak KPD

Nominal

Nominal

35

Preeklamsi
dan Eklamsi

Preeklampsia merupakan
timbulnya hipertensi
(>160/110 mmHg) disertai
proteinuria (>5 g dalam
spoesimen urin 24 jam atau
+3) dan edema akibat
kehamilan setelah usia
kehamilan 20 minggu atau
segera setelah persalinan
Eklampsia merupakan
preeklamsi yang disertai
dengan kejang dan atau
koma yang timbul bukan
akibat kelainan neurologi

Observasi
rekam
medis

Lembar
Check
list

1. Preeklamsi dan
Eklamsi
0. Tidak
Preeklamsi dan
Eklamsi

Nominal

Pendarahan
Antepartum

Perdarahan antepartum
merupakan perdarahan pada
kehamilan diatas 22 minggu
hingga menjelang persalinan
yaitu sebelum bayi
dilahirkan

Observasi
rekam
medis

Lembar
Check
list

1. Pendarahan
Antepartum
0. Tidak
Pendarahan
Antepartum

Nominal

Berat Bayi
Lahir
Rendah

Berat bayi lahir rendah


adalah Bayi yang lahir
dengan berat < 2500g

Observasi
rekam
medis

Lembar
Check
list

1. BBLR
0. Tidak BBLR

Nominal

Infeksi Berat
Pada
Gravidarum

Infeksi Berat Pada


Gravidarum adalah infeksi
berat yang terjadi pada
gravidarum yang dapat
disebabkan oleh beberapa
penyakit seperti malaria,
TBC, sivilis dan HIV

Observasi
rekam
medis

Lembar
Check
list

1. Infeksi
0. Tidak Infeksi

Nominal

Persalinan
Sulit
(Distosia)

Distosia adalah persalinan


abnormal atau sulit yang
ditandai dengan kelambatan
atau tidak adanya kemajuan
proses persalinan dalam
satuan waktu tertentu (letak
sungsang, kembar, distosia
bahu, ekstraksi vakum,
forsep)

Observasi
rekam
medis

Lembar
Check
list

1. Persalinan Sulit
0. Persalinan
Normal

Nominal

3.6 Cara Pengumpulan Data


Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan lembar check list dengan
menggunakan data rekam medis di Rumah Sakit Umum Daerah Pringsewu
Kabupaten Pringsewu bulan Januari Desember 2013.

36

3.7 Pengolahan Data


3.7.1

Editing
Editing adalah upaya untuk memeriksa kembali kebenaran data
yang diperoleh atau dikumpulkan. Pada penelitian ini melakukan
editing

dengan

cara

memeriksa

kelengkapan,

kesalahan

pengisian.17
3.7.2

Coding
Coding merupakan kegiatan pemberian kode numerik pada data
yang terdiri atas beberapa kategori. 17

3.7.3

Entry
Data entry adalah kegiatan memasukan data yang telah
dikumpulkan ke dalam master tabel atau data base komputer.17

3.7.4

Cleaning (Pembersihan data)


Data

yang

telah

di

entry

diperiksa

kelengkapan

dan

kebenarannya.17

3.8 Analisis Data


3.8.1 Analisis Univariat
Bertujuan untuk menyajikan secara deskriptif dari variabel-variabel
yang diteliti. Analisis yang bersifat univariat untuk melihat distribusi

37

frekuensi dari seluruh faktor yang terdapat dalam variabel masingmasing,

baik

mendapatkan

variabel
gambaran

bebas

maupun

jawaban

variabel

responden,

terikat,

dan

untuk

menjelaskan

karakteristik masing-masing variabel.17


3.8.2 Analisis Bivariat
Uji statistik yang digunakan adalah uji Chi Square.17
Berdasarkan hasil perhitungan statistic dapat dilihat kemaknaan
hubungan antara 2 variabel, yaitu: 17
a. Jika p value 0.05 maka bermakna/signifikan, berarti ada
hubungan yang bermakna antara variabel independen dengan
variabel dependen atau hipotesis (Ho) ditolak.
b. Jika p value > 0.05 maka tidak bermakna/signifikan, berarti tidak
ada hubungan yang bermakna antara variabel independen dengan
variabel dependen atau hipotesis (Ho) diterima.