Anda di halaman 1dari 24

Trend Dan Isu Keperawatan Keluarga

BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang

Keperawatan merupakan profesi yang dinamis dan berkembang secara terus menerus
dan terlibat dalam masyarakat yang berubah, sehingga pemenuhan dan metode keprawatan
kesehatan berubah, karena gaya hidup masyarakat berubah dan perawat sendiri juga dapat
menyesuaikan dengan perubahan tersebut. Definisi dan filosofi terkini dari keperawatan
memperlihatkan trend holistic dalam keperawatan yang ditunjukkan secara keseluruhan
dalam berbagai dimensi, baik dimensi sehat maupun sakit serta dalam interaksinya dengan
keluarga dan komunitas. Tren praktik keperawatan meliputi perkembangan di berbagai
tempat praktik dimana perawat memiliki kemandirian yang lebih besar.
Perkembangan Keperawatan di Indonesia saat ini sangat pesat, hal ini disebabkan oleh :
1.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat cepat sehingga informasi
dengan cepat dapat diakses oleh semua orang sehingga informasi dengan cepat diketahui oleh
masyarakat
2.
Perkembangan era globalisasi yang menyebabkan keperawatan di Indonesia harus
menyesuaikan dengan perkembangan keperawatan di negara yang telah berkembang
3.
Sosial ekonomi masyarakat semakin meningkat sehingga masyarakat menuntut
pelayanan kesehatan yang berkualitas tinggi, tapi di lain pihak bagi masyarakat ekonomi
lemah mereka ingin pelayanan kesehatan yang murah dan terjangkau.

Sejauh ini, bentuk-bentuk pelayanan kesehatan yang di kenal masyarakat dalam system
pelayanan kesehatan adalah pelayanan rawat inap dan rawat jalan. Pada sisi lain, banyak
anggota masyarakat yang menderita sakit dan karena berbagai pertimbangan terpaksa di
rawat di rumah dan tidak di rawat inap di institusi pelayanan kesehatan, seperti kasus-kasus
penyakit terminal, keterbatasan kemampuan masyarakat untuk membiayai pelayanan
kesehatan, manajemen rumah sakit yang berorientasi pada profit, banyak orang merasakan
bahwa di rawat inap membatasi kehidupan manusia, lingkungan di rumah yang dirasakan
lebih nyaman ( Depkes RI,2002 ). Maka dari itu dalam makalah ini kami membahas trend
dan issue kesehatan keperawatan komunitas tentang home care (Home Health Care),
perawatan keluarga dan pondok kesehatan desa.

BAB II
PEMBAHASAN
TREND DAN ISU KEPERAWATAN KELUARGA

1.

Definisi

Trend adalah sesuatu yang sedang di bicarakan oleh banyak orang saat ini dan kejadiannya
berdasarkan fakta.

Issue adalah sesuatu yang sedang di bicarakan oleh banyak namun belum jelas faktannya atau
buktinya

Kerawatan keluarga adalah serangkaian kegiatan yang diberi via praktek keperawatan kepada
keluarga untuk membantu menyelesaikan masalah kesehatan keluarga tersebut dengan
menggunakan pendekatan proses keperawatan.

Keperawatan keluarga dapat difokuskan pada anggota keluarga individu, dalam konteks
keluarga, atau unit keluarga. Terlepas dari identifikasi klien, perawat menetapkan hubungan
dengan masing-masing anggota keluarga dalam unit dan memahami pengaruh unit pada
individu dan masyarakat.

Keberhasilan keperawatan di R.S dapat menjadi sia sia jika dilanjutkan oleh keluarga di
rumah. Keluarga sebagai titik sentral pelayanan kesehatan. Keluarga yang sehat akan
mempunyai anggota yang sehat dan mewujudkan masyarakat yang sehat. Askep yang
diberikan berdasarkan pada masalah kesehatan dari setiap anggota keluarga.

Agar Pelayanan Kesehatan Yang Diberikan Dapat Diterima Oleh Keluarga :

harus mengerti dan memahami tipe dan struktur keluarga

tahu tingkat pencapaian keluarga dalam melakukan fungsinya

perlu pemahaman setiap tahap perkembangan dan tugas perkembangan

2.

Tindakan Pengkajian Yang Dilakukan

Tindakan promosi

Jika keluarga belum memenuhi seluruh tugas

Agar keluarga mampu mencegah munculnya

perkembangannya.

Tindakan prefentif

masalah pada perkembangan berikutnya.

3.

Tugas Perkembangan Keluarga

a)

Membina hubungan intim yang memuaskan.

b)

Menghubungkan jaringan persaudaraan secara harmonis.

c)

Mendiskusikan rencana memiliki anak / KB.

Beberapa trend dan Isu dalam keperawatan Keluarga diantaranya :


I.
a)

Trend dan isu Global :

Dunia tanpa batas (global village) mempengaruhi sikap dan pola perilaku kekuarga.

b)
Kemajuan dan pertukaran iptek yang semakin global sehingga penyebarannya semakin
meluas.
c)
Kemajuan teknologi di bidang transportasi sehingga tingkat mobilisasi penduduk yang
tinggi seperti migrasi yang besar-besaran yang berpengaruh terhadap interaksi keluarga yang
berubah.
d)
Standar kualitas yang semakin diperhatikan menimbulkan persaingan yang ketak serta
menumbuhkan munculnya sekolah-sekolah yang mengutamakan kualitas pendidikan.
e)
Kompetisi global dibidang penyediaan sarana dan prasarana serta pelayanan kesehatan
menuntut standar profesionalitas keperawatan yang tinggi.

II.

Trend dan Isu Nasional :

a)

Semakin tingginya tuntutan profesionalitas pelayanan kesehatan.

b)

Penerapan desentralisasi yang juga melibatkan bidang kesehatan.

c)

Peran serta masyarakat yang semakin tinggi dalam bidang kesehatan.

d)
Munculnya perhatian dari pihak pemerintah mengenai masalah kesehatan masyarakat
seperti diberikannya bantuan bagi keluarga miskin serta asuransi kesehatan lainnya bagi
keluarga yang tidak mampu.

Beberapa permasalahan mengenai trend dan isu keperawatan keluarga yang muncul di
indonesia :
Sumberdaya tenaga kesehatan yang belum dapat bersaing secara global serta belum
adanya perawat keluarga secara khusus di negara kita
Penghargaan dan reward yang dirasakan masih kurang bagi para tenaga kesehatan.
Pelayanan kesehatan yang diberikan sebagian besar masih bersifat pasif.
Masih tingginya biaya pengobatan khususnya di sarana-sarana pelayanan kesehatan yang
memiliki kualitas baik.
Pengetahuan dan ketrapilan perawat yang masih perlu ditingkatka.
Rendahnya minat perawat untuk bekerja dengan keluarga akibat system yang belum
berkembang.
Pelayanan keperawatan keluarga yang belum berkembang meskipun telah disusun telh
disusun pedoman pelayanan keluarga namun belum disosialisaikan secara umum.
Geografis Indonesia yang sangat luas namun belum di tunjang dengan fasilitas transfortasi
yang cukup.
Kerjasama program lintas sektoral belum memadai.
Model pelayanan belum mendukung peran aktif semua profesi.
Lahan praktek yang terbatas.
Sarana dan prasarana pendidikan juga terbatas.
Rasio pengajar dan mahasiswa yang tidak seimbang.
Keterlibatan berbagai profesi selama menjalani pendidikan juga kurang.

TREND DAN CURRENT ISSUE KEPERAWATAN KELUARGA


a)

Dunia tanpa batas (global vilage) mempengaruhi sikap dan pola perilaku keluarga.

b)

Kemajuan dan pertukaran IPTEK

c)

Kemajuan teknologi transportasi migrasi dan mudah interaksi keluarga berubah

d)

Kesiapan untuk bersaing secara berkualitas dan sekolah-sekolah berkualitas

e)

Kompetensi global tenaga kesehatan/ keperawatan.

Dalam Bidang Pelayanan :


o SDM belum dapat menjawab tantangan global dan belum ada perawat keluarga.
o Penghargaan / reward rendah.
o Bersikap pasif.
o Biaya pelayanan kesehatan rawat inap mahal.
o Pengetahuan dan keterampilan perawat masih rendah
o Rendahnya minat perawat untuk bekerja dengan keluarga akibat system yang belum
berkembang.
o Pelayanan keperawatan keluarga belum berkembang (DEPKES sudah mneyusun
pedoman pelayanan keperawatan keluarga dan model keperwatan keluarga di rumah & perlu
disosialisasikan).
o Keperawatan keluarga/ komunitas dianggap tidak menantang.
o Geografis luas namun tidak ditunjang dengan fasilitas.
o Kerjasama lintas program dan lintas sector belum memadai.
o Model pelayanan belum mendukung peranan aktif semua profesi

Dalam Bidang Pendidikan:


o Lahan praktik terbatas; pendirian pendidikan keperawatan cenderung mudah
o Penelitian terkait pengembangan dan uji model masih terbatas.
o Sarana dan prasarana pendidikan sangat terbatas.
o Rasio pengajar : mahasiswa belum seimbang.

o Keterlibatan berbagai profesi selama pendidikan kurang.

Dalam Bidang Profesi:


o Standar kompetensi belum disosialisasikan
o Belum ada model pelayanan yang dapat menjadi acuan
o Kompetensi berbagai jenjang pendidikan tidak berbatas.
o Mekanisme akreditasi belum berjalan dengan baik.
o Peranan profesi di masa depan dituntut lebih banyak.
o Perlu pengawalan dan pelaksanaan undang-undang praktik keperawatan.

Tujuan Perawatan Kesehatan di keluarga


Membantu klien memelihara atau meningkatkan status kesehatan dan kualitas
hidupnya.
Meningkatkan keadekuatan dan keefektifan perawatan pada anggota keluarga dengan
masalah kesehatan dan kecacatan.
-

Menguatkan fungsi keluarga dan kedekatan antar keluarga.

Membantu klien untuk tinggal atau kembali ke rumah dan mendapatkan perawatan
yang diperlukan rehabilitasi atau perawatan paliatif.

Tujuan keperawatan keluarga dari WHO di europe yang merupakan praktek


keperawatan termodern saat ini adalah :
Promoting and protecting people health. Merupakan perubahan pradigma dari cure
menjadi care melalui tindakan preventif.
-

Mengurangi kejadian dan penderitaan akibat penyakit .

BENTUK BENTUK KELUARGA


Pengertian Keluarga
Keluarga adalah salah satu kelompok atau kumpulan manusia yang hidup bersama sebagai
satu kesatuan atau unit masyarakat terkecil dan biasanya selalu ada hubungan darah, ikatan
perkawinan atau ikatan lainnya, tinggal bersama dalam satu rumah yang dipimpin oleh
seorang kepala keluarga dan makan dalam satu periuk.
Bentuk Keluarga
Keluarga dibagi menjadi beberapa bentuk berdasarkan garis keturunan, jenis perkawinan,
pemukiman, jenis anggota keluarga dan kekuasaan.

Berdasarkan Garis Keturunan


Patrilinear adalah keturunan sedarah yang terdiri dari sanak saudara sedarah dalam beberapa
generasi, dimana hubungan itu disusun melalui jalur garis ayah.
Matrilinear adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara sedarah dalam beberapa
ganerasi dimana hubungan itu disusun melalui jalur garis ibu.

Berdasarkan Jenis Perkawinan


Monogami adalah keluarga dimana terdapat seorang suami dengan seorang istri.
Poligami adalah keluarga dimana terdapat seorang suami dengan lebih dari satu istri.

Berdasarkan Pemukiman
Patrilokal adalah pasangan suami istri, tinggal bersama atau dekat dengan keluarga sedarah
suami.
Matrilokal adalah pasangan suami istri, tinggal bersama atau dekat dengan keluarga satu istri
Neolokal adalah pasangan suami istri, tinggal jauh dari keluarga suami maupun istri.

Berdasarkan Jenis Anggota Keluarga


Bentuk Keluarga menurut Goldenberg (1980) :

Pada dasarnya ada berbagai macam bentuk keluarga. Menurut pendapat Goldenberg (1980)
ada sembilan macam bentuk keluarga, antara lain :
1. Keluarga inti (nuclear family)
Keluarga yang terdiri dari suami, istri serta anak-anak kandung.
2. Keluarga besar (extended family)
Keluarga yang disamping terdiri dari suami, istri, dan anak-anak kandung, juga sanak saudara
lainnya, baik menurut garis vertikal (ibu, bapak, kakek, nenek, mantu, cucu, cicit), maupun
menurut garis horizontal (kakak, adik, ipar) yang berasal dari pihak suami atau pihak isteri.
3. Keluarga campuran (blended family)
Keluarga yang terdiri dari suami, istri, anak-anak kandung serta anak-anak tiri.
4. Keluarga menurut hukum umum (common law family)
Keluarga yang terdiri dari pria dan wanita yang tidak terikat dalam perkawinan sah serta
anak-anak mereka yang tinggal bersama.
5. Keluarga orang tua tunggal (single parent family)
Keluarga yang terdiri dari pria atau wanita, mungkin karena bercerai, berpisah, ditinggal mati
atau mungkin tidak pernah menikah, serta anak-anak mereka tinggal bersama.
6. Keluarga hidup bersama (commune family)
Keluarga yang terdiri dari pria, wanita dan anak-anak yang tinggal bersama, berbagi hak, dan
tanggung jawab serta memiliki kekayaan bersama.
7. Keluarga serial (serial family)
Keluarga yang terdiri dari pria dan wanita yang telah menikah dan mungkin telah punya anak,
tetapi kemudian bercerai dan masing-masing menikah lagi serta memiliki anak-anak dengan
pasangan masing-masing, tetapi semuanya menganggap sebagai satu keluarga.
8. Keluarga gabungan/komposit (composite family)
Keluarga terdiri dari suami dengan beberapa istri dan anak-anaknya (poliandri) atau istri
dengan beberapa suami dan anak-anaknya (poligini) yang hidup bersama.
9. Keluarga tinggal bersama (cohabitation family)
Keluarga yang terdiri dari pria dan wanita yang hidup bersama tanpa ada ikatan perkawinan
yang sah.

Berdasarkan Kekuasaan

Patriakal adalah keluarga yang dominan dan memegang kekuasaan dalam keluarga adalah
dipihak ayah.
Matrikal adalah keluarga yang dominan dan memegang kekuasaan dalam keluarga adalah
pihak ibu.
Equalitarium adalah keluarga yang memegang kekuasaan adalah ayah dan ibu.
Fungsi Keluarga
Terdapat 5 fungsi keluarga dalam tatanan masyarakat, yaitu :

Fungsi Biologis

Untuk meneruskan keturunan


Memelihara dan membesarkan anak
Memberikan makanan bagi keluarga dan memenuhi kebutuhan gizi
Merawat dan melindungi kesehatan para anggotanya
Memberi kesempatan untuk berekreasi

Fungsi Psikologis

Identitas keluarga serta rasa aman dan kasih sayang


Pendewasaan kepribadian bagi para anggotanya
Perlindungan secara psikologis
Mengadakan hubungan keluarga dengan keluarga lain atau masyarakat

Fungsi Sosial Budaya atau Sosiologi

Meneruskan nilai-nilai budaya


Sosialisasi
Pembentukan noema-norma, tingkah laku pada tiap tahap perkembangan anak serta
kehidupan keluarga

Fungsi Sosial

Mencari sumber-sumber untuk memenuhi fungsi lainnya


Pembagian sumber-sumber tersebut untuk pengeluaran atau tabungan
Pengaturan ekonomi atau keuangan

Fungsi Pendidikan

Penanaman keterampilan, tingkah laku dan pengetahuan dalam hubungan dengan fungsifungsi lain.
Persiapan untuk kehidupan dewasa.
Memenuhi peranan sehingga anggota keluarga yang dewasa
Terdapat beberapa definisi keluarga dari beberapa sumber, yaitu:
Keluarga adalah sekumpulan orang dengan ikatan perkawinan, kelahiran, dan adopsi yang
bertujuan untuk menciptakan, mempertahankan budaya, dan meningkatkan perkembangan
fisik, mental, emosional, serta sosial dari tiap anggota keluarga (Duvall dan Logan, 1986).
Keluarga adalah dua atau lebih individu yang hidup dalam satu rumah tangga karena adanya
hubungan darah, perkawinan, atau adopsi. Mereka saling berinteraksi satu dengan yang lain,
mempunyai peran masing-masing dan menciptakan serta mempertahankan suatu budaya
(Bailon dan Maglaya,1978 ).
Keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat yang terdiri dari kepala keluarga dan
beberapa orang yang berkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah satu atap dalam
keadaan saling ketergantungan (Departemen Kesehatan RI, 1988).
Suatu keluarga setidaknya memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
Terdiri dari orang-orang yang memiliki ikatan darah atau adopsi.
Anggota suatu keluarga biasanya hidup bersama-sama dalam satu rumah dan mereka
membentuk satu rumah tangga.
Memiliki satu kesatuan orang-orang yang berinteraksi dan saling berkomunikasi, yang
memainkan peran suami dan istri, bapak dan ibu, anak dan saudara.
Mempertahankan suatu kebudayaan bersama yang sebagian besar berasal dari kebudayaan
umum yang lebih luas.

Peranan Keluarga
Peranan keluarga menggambarkan seperangkat perilaku interpersonal, sifat, kegiatan yang
berhubungan dengan individu dalam posisi dan situasi tertentu. Peranan individu dalam
keluarga didasari oleh harapan dan pola perilaku dari keluarga, kelompok dan masyarakat.

Berbagai peranan yang terdapat di dalam keluarga adalah sebagai berikut :


1. Peranan Ayah : Ayah sebagai suami dari istri dan anak-anak, berperan sebagai pencari
nafkah, pendidik, pelindung dan pemberi rasa aman, sebagai kepala keluarga, sebagai
anggota dari kelompok sosialnya serta sebagai anggota dari kelompok sosialnya serta sebagai
anggota masyarakat dari lingkungannya.

2. Peranan Ibu : Sebagai istri dan ibu dari anak-anaknya, ibu mempunyai peranan untuk
mengurus rumah tangga, sebagai pengasuh dan pendidik anak-anaknya, pelindung dan
sebagai salah satu kelompok dari peranan sosialnya serta sebagai anggota masyarakat dari
lingkungannya, disamping itu juga ibu dapat berperan sebagai pencari nafkah tambahan
dalam keluarganya.

3. Peran Anak : Anak-anak melaksanakan peranan psikosial sesuai dengan tingkat


perkembangannya baik fisik, mental, sosial, dan spiritual.

Tugas-tugas Keluarga
Pada dasarnya tugas keluarga ada delapan tugas pokok sebagai berikut :
1. Pemeliharaan fisik keluarga dan para anggotanya
2. Pemeliharaan sumber-sumber daya yang ada dalam keluarga
3. Pembagian tugas masing-masing anggotanya sesuai dengan kedudukannya masing-masing
4. Sosialisasi antar anggota keluarga
5. Pengaturan jumlah anggota keluarga
6. Pemeliharaan ketertiban anggota keluarga
7. Penempatan anggota-anggota keluarga dalam masyarakat yang lebih luas
8. Membangkitkan dorongan dan semangat para anggotanya

Makalah Bentuk-Bentuk Keluarga

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Keluarga adalah lembaga yang paling dasar. Defenisi ini agaknya masih sangat luas artinya
dan belum begitu dapat memberikan gambaran kepada kita apa sebenarnya keluarga itu,
maka perlu kita sajikan pendapat Ogbrun (1979: 602) yang mengatakan bahwa : when we
think of a family we picture it a more or less durable association of husband and wife with or
without children, or of man or woman alone with childeren, yang artinya kurang lebih
sebagai berikut: Keluarga adalah persekutuan antara suami istri dengan atau tanpa anak, atau
seorang laki-laki atau seorang perempuan yang telah sendirian dengan anak-anaknya.
Dari pendapat yang kedua ini, kita lebih mendapatkan kejelasan arti dari pada keluarga,
Didalam keluarga banyak bentuk-bentuk keluarga yang belum kita ketahui.
1.2.Rumusan Masalah

Macam-macam dan bentuk keluarga

Membedakan tipe yang ada dimasyarakat

Pengaruh karakteristik keluarga terhadap pendidikan anak

1.3.Tujuan

Memenuhi Tugas Konseling Keluarga

Mengetahui Macam-macam dan bentuk keluarga

Dapat Membedakan tipe yang ada dimasyarakat

Mengetahui Pengaruh karakteristik keluarga terhadap pendidikan anak

BAB II
PEMBAHASAN
Bentuk Keluarga
Setelah kita ketahui bahwa keluarga adalah merupakan ikatan sosial yang kecil, dan
merupakan lembaga dalam masyarakat yang paling dasar, maka dapat di maklumi bahwa di
dalam masyarakat akan dapat banyak sekali keluarga, yang tentu saja tiap-tiap keluarga akan
mempunyai ciri-ciri khusus yang berlainan satu dengan yang lainya.

Agar supaya kita mempunyai pengetahuan yang luas tentang seluk beluk keluarga, maka
kita perlu mengetahui bentuk-bentuk, jenis-jenis dan tipe kelurga yang terdapat dalam
masyarakat, seperti yang telah di kemukakan oleh Horton and Hunt ( 1968:215) beliau
menjelaskan adanya tipe keluarga, antara lain sebagai berikut :
1.
Keluarga Inti (Nuclear family atau Conjugal family atau Basik family) adalah keluarga
yang terdiri suami, isteri dan anak-anak mereka.
2.
Keluarga Besar (Exentended family atau Consanguine family atau joint family) adalah
keluarga yang tidak hanya terdiri dari suami, istri, dan anak-anak mereka, melainkan
termasuk juga orang-orang yang ada hubungan darah dengan mereka, misalnya kakek,nenek,
paman, bibi, keponakan dan sebagainya.
3.
Keluarga Berantai (Serial Family) adalah keluarga yang terdiiri dari wanita dan pria
yang menikah lebih dari satu kali dan merupakan satu keluarga inti.
4.
Keluarga Duda/janda (Single Family) dalah keluarga yang terjadi karena perceraian atau
kematian.
5.
Keluarga berkomposisi (Composite) adalah keluarga yang perkawinannya berpoligami
dan hidup secara bersama.
6.
Keluarga Kabitas (Cahabitation) adalah dua orang yang terjadi tanpa pernikahan tetapi
membentuk suatu keluarga.

Adakalanya Counsenguine Family ini masih dibedakan menjadi :


1.
Consanguine family yang matrilineal yaitu bahwa yang masuk keluarga adalah
kelompok dari saudara-saudara perempuan dan laki-laki dengan anak-anak dari saudara
perempuan tersebut. Sehingga disini terdapat keadaan laki-laki yang telah kawin seakan-akan
tidak termasuk dalam keluarga si istri beserta anak-anaknya, dan suami tersebut tetap
bersama keluarganya sendiri. Sedang istri berkeluarga dengan anak-anaknya dan saudarasaudara perempuanya dan saudara-saudara laki-lakinya beserta anak-anak dari saudarasaudara perempuannya.
2.
Consanguine family yang patrilineal yang merupakan kebalikannya dari consanguine
family yang matrilinal yaitu istri tidak termasuk keluarga suaminya. Suami berkeluarga
dengan saudara-saudara perempuan dengan anak-anaknya sendiri dan saudara-saudaranya
laki-laki beserta anak-anak dari saudara-saudara laki-laki tersebut.
Semakin suatu negara itu berkembang dan semakin kompleksnya kebutuhan hidup manusia
maka akan semakin dirasa bahwa extended family kurang praktis, terlebih extended seperti
tersebut diatas mukin hanya terdapat pada suku-suku bangsa yang masih memegang teguh
adatnya.

Sedang bentuk-bentuk keluarga yang lain, yaitu pendapat MF.Kimhoff and R.middleton
dalam bukunya Types Of Family And Types Of Economic (1960:215) menyebutkan adanya
dua macam tipe keluarga :
q
1.

The family of Orientation

Yaitu bahwa setiap individu paling tidak pasti termasuk dalam suatu keluarga yaitu keluarga
di mana individu itu di suatu keluarga di lahirkan, disebarkan, di didik dan di beri bimbingan
dalam mencapai kedewasaan. Ini adalah merupakan lingkungan keluarga yang pertama, dan
setiap orang pasti pernah mengalami menjadi bagian dari keluarga di mana mereka di
lahirkan.
2.

The family of procreation

Bahwa individu itu semakin lama akan memisahkan atau melepaskan diri dari lingkungan
yang pertama, yang akan lepas dari ayah ibu karena mereka memasuki dunia perkawinan,
yang selanjutnya akan memiliki keturunan. Keluarga seperti ini adalah lingkungan keluarga
yang yang kedua bagi individu tersebut.
Pada umumnya keluarga orientasi dan keluarga prokreasi itu mempunyai hubungn yang
sangat erat, walaupun kadang-kadang dalam masyarakat keluarga tersebut sudah berdiri
sendiri, berumah tangga sendiri. Kedua pendapat tersebut diatas, merupakan bentuk keluarga
yang masih sangat umum, maka pada kesempatan berikut ini akan kami utarakan bentukbentuk keluarga lain yang mengkhusus. Mula pertama pendapat Siti Partini (2000:11)
membedakan menjadi dua yaitu :
a.
Keluarga kecil, yaitu keluarga yang terdiri atas ayah ibu dengan dua anak atau paling
banyak tiga orang anak.
b.

Keluarga besar, yaitu keluarga yang terdiri atas ayah ibu dan lebih dari tiga orang anak.

Disamping mengajukan dua tipe keluarga tersebut beliau juga mengutip dari buku
pendidikankan kependudukan proyek nasional pendidikan kependudukan, Departemen P & K
dan BKKBN Jakarta, yang mengemukakan tentang tipe keluarga sebagai berikut 1) Keluarga
batih,yaitu keluarga yang terdiri ayah, ibu dan anak-anak yang belum kawin. 2) Keluarga
bukan batih, yaitu keluarga yang terdiri satu atau lebih keluarga batih.
Dalam kehidupan keluarga memang mempunyai tipe kehidupan yang berlainan di antara satu
dengan yang lainnya. Terhadap cara mendidik anaknya dan juga berpengaruh bagi
perkembangan jiwa ank selanjutnya, bahkan dapat mempengaruhi kebahagiaan yang akan
dicapai oleh keluarga yang bersangkutan. Seperti dikemukakan oleh Danuri (1999:15) bahwa
tipe keluarga dibedakan menjadi enam tipe yaitu :
1.

Kelarga Yang Sibuk

Kehidupan kelarga yang sibuk selalu diikuti oleh kesibukan semua anggota keluarga dalam
memenuhi kebutuhan hidupmnya, ayah dan ibu bekaerja bahkan anak-anaknya juga ikut
bekerja, sehingga orang tua kurang memperhatikan anank-anaknya.

2.

Keluarga Lemah Wibawa

Orang tua yang berwibawa akan berpengaruh terhadap sikap dan perbuatan anak-anaknya,
begitu jauga sebaliknya orang tua yang tidak berwibawa atau lemah wibawa. Orang tua yang
kurang berwibawa terhadap anak-anaknya maka anak-anak tersebut akan berbuat sesuka
hatinya sehingga sering terjadinya penyimpangan-penyimpangan dari norma yang di miliki
orangtuanya. Dengan tidak adanya kewibawaan orang tua terhadap anak-anaknya maka
pendidikan di dalam keluarga oleh orang tua tidak dapat berlangsung dengan baik, karena
anak lebih pandai, sehingga tidak memperhatikan nasehat atau saran yang di beikan oleh
orang tuanya.

3.

Keluarga Yang Tegang

Susunan keluarga yang tegang dimana hubungan di antara anggota keluarga yang kurang
akrab, kurang adanya kasih sayang bahkan sering kali terjadi ketegangan hubungan antara
ayah dan ibu. Hal ini akan berakibat bagi anak-anak tertanam untuk memihak ayah atau ibu,
dan keluarga tegang ini biasanya dialami oleh keluarga besar yang ekonominya kurang.
Akibat dari keluarga tegang ini maka pendidikan terhadap anak bersifat keras, sehinga anak
akan menjadi orang yang keras kepala, suka menang sendiri dan sebagainya.

4.

Keluarga Yang Retak

di dalam suasana keluarga yang retak, sudah tidak ada keharmonisan antara ayah dan ibu,
tidak ada kesatuan pendapat, sikap dan pandangan terhadap sesuatu yang dihadapinya.
Akibatnya anak-anak akan terlantar, terutama pendidikannya dalam keluarga, karena tidak
jarang anak-anak terpaksa ikut ayah atau ibu tiri sehinga anak merasa kurang mendapat kasih
sayang dari orang tuanya.

5.

Keluarga Yang Pamer

Kehidupan keluarga yang senang pamer tidak mempunyai pegangan yang kuat atau ketetapan
hati karena mereka sudah hanyut pada suasana yang baru, mereka tidak mau dikatakan
ketingalan , tetapi yang diikuti bukan kemajuaan dari arti yang sebenarnya. Mereka menitik
beratkan kemajuan-kemajuan lahiriah yang berupa kemewahan, sedang sepi kerohaniahan
kurang diperhatikan, keluarga yang senang pamer ini biasanya iri terhadap kekayaan orang

lain, dan rasa iri inilah yang mengakibatkan keluarga jadi tidak tenteram dan menjadi sumber
ketegangan di dalam keluarga.

6.

Keluarga Yang Ideal

Disinilah terdapat suasana yang menyenangkan, biasanya dialami oleh keluarga yang tidak
terlalu besar, mutu keluarga tinggi, penghasilan cukup, mempunyai pandangan hidup
beragama yang kuat, hidup sederhana dan adanya saling pengertian di antara anggota
keluarga terutama ayah dan ibu. Dengan demikian cita-cita keluarga sejahterah lahir dan
batinakan dapat terealisir didalam keluarga.

Yang membagi tepe keluarga dengan tujuan dari berbagai sudut pandangan James (1954 :
367) yaitu:
1.

Dilihat dari sudut ukurannya (Size)

a.
keluarga besar (the large family), ialah keluarga dengan anak lebih dari tiga orng, dan
kemungkinan kedua adalah keluarga yang tidak hanya terdiri ayah, ibu dan anak dan anak
melaikan termasuk didalamnya kakek,nenek,paman,bibi, keponakan dan lain-lain
b.
keluarga kecil (extended family), yang termasuk keluarga kecil disini, ialah keluarga
dengan dua anak atau tiga orang saja, dan tidak ada anggota lainnya.

2.

Dilihat dai organisasinya (organization):

a.
keluarga bekerja sama (the cooperative family), yaitu keluarga yang mempunyai
kesadfaran untuk kerjasama antara anggota keluarga, dalam hal ini orang tua memegang
peran dalam peraturan, pembagian kerja dalam rangka kerjasama antara anggota keluarga.
a.
keluarga yang berdiri sendiri (the independent family), yaitu keluarga yang tidak
tergantung kepada keluarga atau orang lain, berarti keluarga tersebut dapat membereskan
segala urusan keluarganya sendiri, mempunyai penghasilan yang cukup memenuhi kebutuhan
keluarganya dan mampu mengurusi kebutuhan keluarganya.
b.
keluarga yang tidak lengkap (The in conplete family), yaitu keluarga yang sudah tidak
lengkap lagi, ada kemungkinan ayah atau ibu telah tiada atau cerai dan kemungkinan salah
satu atau dari suami atau istri dalam keadaan mandul, sehingga keluarga tersebut tidak
mempunyai keturunan, kecuali mereka telah mengangkat anak orang lain (adopsi).

3.

Dilihat dari segi kegiatannya (activity):

a.
Keluarga yang berpindah-pindah (The normadis family) yaitu keluarga yang karena
sesuatu hal (biasanya berhubungan dengan pekerjaan) terpaksa tidak dapat menetap dalam
suatu kota ada kemungkinan harus berpindah-pindah rumah disebabkan belum memiliki
tempat tinggal sendiri dan harus berpindah-pindah rumah apabila kontrak atau sewanya habis.
b.
Keluarga yang suka joint (The joines family), yaitu keluarga yang mempunyai kegiatan
suka bekerja sama dengan keluarga lain dalam mengerjakan sesuatu misalnya dalam bidang
usaha untuk mencari nafkah.
c.
Keluarga yang berpendidikan (The familyn of the intelligentia), yaitu keluarga yang
mementingkan masalah pendidikan atau kecerdasan bagi setiap anggotanya sehingga
keluarga tersebut mementingkan sekali sekolah bagi anggota keluarganya.
d.
Keluarga yang tinggal di batukarang, didekat pantai (The chiff-dweller family), didaerah
yang berjurang, sehingga mata pencaharian mereka mengumpulkan benda-benda disekitarnya
untuk dijadikan barang-barang kerajinan, atau peralatan, dapat juga sebagai nelayan, pencari
ikan.
e.
Keluarga yang suka berderma atau berbuat bermanfaat bagi masyarakat (The
community benefactor family ), mereka pada umumnya suka menolong, bermurah hati pada
tetangga dan orang-orang lainnya.

4.

Dilihat dari nilai dan tujuannya (Values and Goals)

a. Keluarga yang tingkat sosialnya tinggi (The social climber family) yaitu keluarga yang
mempunyai kedudukan tinggi dan terhormat dalam masyarakat, mungkin karena jabatannya,
pendidikannya, kekayaannya dan sebagainya.
b. Keluarga yang materialistik (The materialistic family), yaitu keluarga yang
mementingkan harta benda, sehiongga sikap dan tindakannya serta pandangannya pada harta
benda atau kekayaannya.
c. Keluarga yang agamanya berlebihan (Overly religious family), yakni keluarga yang
sangat mementingkan kehidupan beragama dalam suasana keluarganya.
d. Keluarga ilmiah (The The Scientific family), yaitu keluarga yang sangat mendambakan
ilmu pengetahuuan, sehingga sikap, tindakannya dan pandangannya selalu berorientasi pada
hal-hal yang ilmiah.
e. Keluarga yang suka takhayul (The superstations family), yaitu keluarga yang masih
sangat percaya kepada hal-hal yang mengandung takhayul, sehingga kehidupan keluarganya
tersebut penuh dengan tradisi yang kurang masuk akal.

f. Keluarga yang masih kuno (The conventional family), yaitu keluarga yang masih
mengikuti adat kuno, belum dapat meninggalkan kebudayaan yang tradisional dan kurang
mengikuti kebiasaan modern.

Tipe Keluarga Khususnya di indonesia

1.

Tipe keluarga bangsawan

Tipe keuarga bangsawan yaitu dimana keturunan raja-raja atau pangeran masih memegang
teguh sekali tingkat kebangsawanan yang dimiliki. Mereka masih ,merasa tidak sama dengan
masyarakat kebanyakan yang tidak memiliki titel kebangsawanan. Ada kalanya titel
kebangsawanan itu dijadikan bahan pertimbangan dalam perkawinan, perkawinan hendaknya
terdiridari calon suamimi isteri yang titel kebangsawanannya sejajar, agar supaya salahsatu
dari mereka tidak kehilangan titelnya.
Pria yang memiliki titel kebangsawanan tinggi boleh kawin dengan wanita yang titelnya lebih
rendah, dan akhirnya wanita akan terangkat oleh titel suaminya, demikianpula anak-anaknya
akan memperoleh titel sebagaimana titel ayahnya. Tetapi sebaliknya kurang disejui seorang
wanita kurang disetujui seorang wanita bertitel tinggi kawin dengan pria bertitel lebih rendah,
karena sipria tidak dapat ditingkatkan titelnya oleh si wanita, bahkan untuk selanjutnya anakanaknya pun tidak berhak memakai titel ibunya, mereka hanya memakai titel ayahnya yang
lebih rendah dari ibunya.

2. Tipe keluarga saudagar


Tipe keluarga ini bukan soal kepangkatan, gelar/titel, melainkan pada kekayaan. Pada
umumnya keluarga ini bukan pegawai negeri, melainkan sebagai orang swasta, pengusaha,
pedagang dan pemilik perindustrian dan lain-lain. Daaalam hidupnya mereka gigih berjuang
untuk mengumpulkan harta benda sebanyak-banyaknya. Kadang-kadang mereka tidak/kurang
berpendidikan, terutama pendidikan tinggi, tetapi mereka memiliki strategi yang cukup baik
dalam hal bisnis. Nmereka tidak begitu memahami akan pendidikan, gelar kesarjanaan dan
kedudukan, karena hal itu tidak menjamin dapat mendatangkan hasil yang baik. Mereka lebih
mengagumi akan orang-orang yang usahanya meningkat dana kekayaanya bertambah.
Status ekonomi sering dijadikan pertimbangan dalam perkawinan. Mereka selalu
mengusahakan agar perkawinan selalu terjadi antara tipe keluarga sejenisnya dengan maksud
agar kekayaannya tidak jauh pada orang/keluarga bukan saudagar. Sehinga banyaknya
perkawinan sering ditentukan oleh orang tua/keluarganya. Calon yang bersangkutan tinggal
menerima pilihan dari keluarganya, bahkan sering terjadi perkawinan antara keluarga dekat
(keluarga saudagar), dan efek atau akibat negatifnya sering keturunannya mengalami cacad

tubuh maupun mental dikarenakan oleh perkawinan antara orang-orang yang memiliki
hubungan darah terlalu dekat.
Tradisi seperti ini sudah dikikis oleh generasi muda dari golonannya sendiri, keturunan
mereka kadang-kadang tidak lagi mau menertima atau melakukan tradisi itu. Mereka sering
bepindah haluan untuk mencapai gelar sarjana dan tidak melanjutkan pekerjaan/profesi orang
tuanya, dan mereka memilih pasangannya berdasarkan rasa cinta dan kecocokan. Tipe
keluarga ini tidak hanya sampai taraf anak-anaknya, melainkan sampai dapa cucu-cucu,
kemenakan atau keluarga dekat lainnya. Mereka sangat bekerjasama dalam hal bisnis antara
keluarga, dalam rangka memberikan bimbingan pada keluarganya.

3.

Tipe Keluarga Petani

Tipe keluarga ini sangat mengutamakan pekerjaan bertani, pekerjaan-pekerjaan yang lain
terasa kurang sesuai dengan dirinya. Biasanya keluarga ini menghendaki keturunannya
bekerja sebagai petani, pendidikan dianggap kurang penting, sekolah dianggap menghabiskan
biaya saja, sedang buah yang dipetik dari sekolah masih sangat lama dan jauh dapat dicapai.
Mereka pada umumnya mementingkan tempat tinggal (papan), sehingga kebanyakan petani
mementingkan untuk membuat rumah yang megah, bbesar dan bagus. Tetapi kadang-kadang
tidak mementingakan sandang dan pangan, mereka lebih lebih suka untuk berpakaian dan
makan secara sederhana, tetapi memiliki rumah sedemikian rupa. Ukuran kesuksessan
mereka dilihat dari wujud rumah dan banyaknya panenan padi. Kebiasaan seperti ini telah
terkikis oleh generasi mudanya, dimana mereka bersikeras melanjutkan pelajaran sampai
tuntas dan akhirnya nanti mencari pekerjaan lain dalam masyarakat.
Kebanyakan dari pemudanya tidak tahu-menahu dalam pekerjaan sawahnya sendiri
melainkan dekerjakan oleh petugas-petugas bayaran ataupun memakai sistem bagi dua,
pemilik hanya mendapatkan hasil separohnya untuk yang mengerjakannya.

4.

Tipe Keluarga Intelek

Tipe keluarga ini jelas mendambakan intelektualitas ataupun pendidikan. Keluarga ini
menghendaki keturunananya dapat mencapai pendidikan setinggi-tingginya, gelar sarjana
menjadi batas minimum dari tingkat pendidikan bagi keluarganya. Mereka akan sangat
kecewa bilaad dari anaknya gagal dalam studinya, misalnya gagal dalam melanjutkan studi
ke perguruan tinggi, atau gagal dalam mencapai sarjana.
Tentu saja merekapun menghendaki pasangan dari anaknya juga seorang sarjana. Mereka
akan bangga apabila pembicaraan/ situiasi rumah selalau bernafaskan hal-hal ilmiah. Mereka
sangat mementingkan gengsi dan harga diri. Sebagai konskwensinya mereka selalu korek

dalam segala hal, misalnya dalam bertingkah laku dan bertutur kata, karena mereka yakin
akan selaluberusaha untuk dapat menyumbangkan pikirannya dalam masyarakat. Biasanya
mereka sangat mementingkan masalah sandang, pangan dan papan, khususnya dalam
mendidik putra putrinya, karena mereka akan sangat terkena malu apabila ada keluarganya
yang tercela dalam masyarakat.
Dan biasanya predikat intelek ini akan selalu di sangkut pautkan dengan apa saja olh
masyarakat, misalnya caranya berpakaian sangat intelek, bicaranya intelek, tata laksana
rumah tanggannya tanpak kalo orang intelek dan lain-lain. Sehingga bagi tipe ini akan sangat
memperhatikan dalam segala bidang kecuali intelektualita juga etika maupun estetika.

5.

Tipe Keluarga Pegawai Negeri

Tipe keluarga ini merasa bahagia menjadi pegawai Negri, apapun yang dijabatkan,baik yang
telah berpangkat tinggi adapun rendah. Mereka merasa hidup tentram sebagai pegawai negri,
mereka tidak Harus memutar otak untuk mendapatkan nafkah untuk hari ini atau esok.
Merasa terjamin kehidupannya, baik hidupnya sekarang ataupun yang akan datang. Mereka
sudah dapat membuat perencanaan dengan hasil yang di terimanya setiap bulan. Mereka
dapat mengusahakan atau mengetahui tentang kenaikan pangkatnya, tentang kenaikan
gajinya. Keluarganyapun mendapatkan tunjangan dari pemerintah.
Andaikata mereka berwiraswasta itu sekedar sebagai tambahan hasil saja, sehingga mereka
akan melaksanakan wiraswasta dengan hati tentram, karena itu bukan merupakan pencarian
pokok. Mereka slalu mengidam-ngidamkan anaknya pun menjadi pegaswai negriserta kawin
dengan pegawai negri. Pegawai negri menjadi tipe ideal bagi keluarga tersebut. Walaupun
kadang-kadang sebagai pegawai negri mereka harus hidup sederhana sesuai dengan
penghasilan yang di terima setiap bulannya, dan harus selalu menyesuaikan diri dengan
harga-harga yang ada.
Biasanya seorang pegawai Negri akan selalu meningkat walaupun secara lambat, mengenai
tempat tinggal terpaksa belum memiliki, pemerintah akan turun tangan untuk membantunya,
misalnya dengan adanya perumahan dinas , perumnas, dan perumahan murah yang lain.
Sehingga betul bagi keluarga yang tidak menghendaki kemewahan yang berlebihan, akan
cukup sebagai keluarga pegawai negri.
Maka dengan lima tipen keluarga yang kami ajukan ini, kami rasa telah cukup banyak tipetipe/jenis-jenis keluarga yang pada umumnya ada dalam masyarakat yang kami perkenalakan
pada segenap pembaca. Sehingga para pembaca dapat mencek dirinya sendiri termasuk tipe
keluarga yang bagaimana.

BAB III
PENUTUPAN
3.1. Kesimpulan
Setiap keluarga mempunyai ciri khusus yang berlainan antara satu dengan yang lain yaitu
keluarga yang sibuk, keluarga lemah wibawa, keluarga yang tegang, keluarga yang retak,
keluarga yang pamer, dan keluarga yang ideal, dari tipe itu akan sangat berpengaruh terhadap
cara mendidik anaknya dan juga berpengaruh bagi perkembangan jiwa anak selanjutnya,
bahkan dapat mempengaruhi kebahagiaan yang akan dicapai oleh keluarga yang
bersangkutan dan akan berpengaruh juga bagi perkembangan anak selanjutnya.

3.2. Saran
Apapun jenis dan karakteristik keluarga hendaklah mementingkan keutamaan bagi
perkembangan seorang anak, karena keluarga adalah pendidikan paling utama dan pertama
sebagai salah satu faktor terpenting dalam pembentukan karater.
Harta paling berharga adalah keluarga dan istana termegah adalah keluarga.
Keluarga seharusnya bisa memberi arahan-arahan yang baik agar terjadi hubungan yang baik
pula.

DAFTAR PUSTAKA
DR. Hj. Siti Hartinah DS, MM. 2009. Konseling Keluarga Badan Penerbitan Tagal :
Universitas Pancasakti
Riadi, Muklisin. 2012. Pengertian Keluarga. http://www.kajianpustaka.com/2012/11/definisifungsi-dan-bentuk-keluarga.html#ixzz2O4EG1HiW

Keluarga Ideal
Keluarga ideal adalah unit terkecil masyarakat Indonesia yang terdiri kepala keluarga dan
beberapa orang yang terkumpul, tinggal di suatu tempat dalam keadaan saling
ketergantungan. Di dalam keluarga ideal Indonesia terdapat lebih dari dua pribadi yang
tergabung karena hubungan darah, hubungan perkawinan hidupnya dalam satu rumah tangga,
berinteraksi satu sama lain dan didalam perannya masing-masing dan menciptakan serta
mempertahankan suatu kebudayaan.

Hal-hal yang mempengaruhi Keluarga Ideal


Kasih sayang
kasih sayang orang tua sangat di perlukan oleh seluruh anggota keluarga nya. seorang anak,
suami bahkan isteri akan merasa senang walaupun berkata dia jengkel karena di beri
perhatian lebih , kurang nya kasih sayang orang tua sering terjadi pada anak sehingga
memicu anak untuk berbuat yang tidak baik di luar,
Komunikasi yang baik
suatu komunikasi sangat penting untuk menjaga hubungan antara sesama anggota keluarga,
hal ini sangat berpengaruh juga terhadap lingkungan sekitar untuk menjaga silaturahmi antar
tetangga dan keluarga besar untuk mempererat rasa kekeluargaan.
kepercayaan
hal ini perlu di tanamkan pada setiap anggota keluarga , saling percaya satu sama lain akan
mempererat hubungan . orang tua berperan penting disini untuk memberi suatu kepercayaan
terhadap anak-anak nya agar mereka belajar dan mampu bertanggung jawab
kejujuran
kejujuran akan berdampak baik pada lingkungan sekitar juga , karena dengan kejujuran
seseorang dapat di percaya oleh orang lain .
kebersamaan
dengan kebersamaan suatu keluarga akan terjaga silaturahmi nya , seorang anak akan

terpantau bagaimana perkembangannya begitu juga dengan kebutuhan nya sebagai anak akan
terpenuhi dengan melihat keluarga nya bersama .