Anda di halaman 1dari 2

Prinsip umum terapi untuk penderita epilepsi adalah (Ikawati, 2011):

1.
2.
3.
4.
5.
6.

Terapi epilepsi disesuaikan dengan jenis epilepsi


Sebaiknya menggunakan monoterapi untuk mengurangi adverse effect
Menghindari atau mengurangi antiepilepsi yang bersifat sedatif
Diawali dengan terapi antiepilepsi non sedatif
Pemberian obat antiepilepsi diawali dengan dosis kecil
Untuk melihat respon terhadap obat, dilakukan pemantauan ketat dan penyesuaian
dosis
7. Apabila gagal mencapai terapi yang diharapkan, obat epilepsi dihentikan secara
perlahan dan dapat diganti dengan obat lain
8. Dilakukan monitoring kadar obat dalam darah sebagai dasar penyesuaian dosis
9. Jika dosis obat yang ditoleransi tidak dapat mengontrol kejang, maka obat pertama
dapat diganti.
Terapi farmakologi epilepsi dapat menggunakan obat-obat antiepilepsi yang dibagi
menjadi 3 kategori yaitu (Ikawati, 2011):
1. Obat-obat yang bekerja dengan meningkatkan inaktivasi kanal Na + sehingga memiliki
kemampuan untuk menurunkan kemampuan syaraf dalam menghantarkan listrik,
contohnya dalah fenitoin, karbamazepi, lamotrigin, okskarbazepin dan asam valproat.
2. Obat-obat yang meningkatkan transmisi inhibitori GABAnergik, dibagi menjadi 4
yaitu:
a. Obat-obat yang merupakan agonis reseptor GABA bekerja dengan meningkatkan
transmisi inhibitordan mengaktifkan kerja reseptor GABA, contohnya
benzodiasepin dan barbiturat.
b. Obat-obat yang bekerja dengan menghambat GABA transaminase sehingga
konsentrasi GABA meningkat, contohnya vigabatrin.
c. Obat-obat yang bekerja dengan menghambat GABA transporter sehingga
memperlama aksi GABA, contohnya tiagabin.
d. Obat-obat yang dapat menigkatkan konsentrasi GABA pada cairan serebrospinal
pasien, contoh gabapentin.
3. Obat-obat yang menurunkan ambang arus ion Ca2+ dengan menghambat kanai ion
Ca2+ tipe T, contoh etosuksimid.
Pentatalaksanaan terapi pada pasien dengan epilepsi tergantung pada jenis epilepsinya.
Berikut ini menunjukan pilihan obat pada pasien berdasarkan jenis epilepsinya (Iakwati,
2011):

Tipe Kejang
Kejang Parsial
Simple Partial
Complex Partial
Secondarily generalized

Terapi Lini Pertama

Terapi Lini Kedua

Karbmazepin
Fenitoin
Valproat, Lamotrigin

Vigabatrin
Klobazam
Fenobarbital,
Asetozolamid, gabapentin,

Topiramat
Kejang Umum
Tonik-klonik
Tonik
Klonik
Absence

Valproat
Karbamazepin
Fenitoin, Lamotrigin
Etosuksimid, Valproat

Atipikal Absence
Atonik

Valproat
Klonazepan, Klobazam

Myoklonik

Valproat, Klonazepam

Vigabatrin
Klobazam
Fenobarbital
Klonazepam, Lamotrigin,
Asetozolamid
Fenobarbital
Lamotrigin,
Karbamazepin, Fenitoin,
Asetozomaid
Fenobarbital,
Asetozolamid

Adapun terapi non farmakologi yang dapat dilakukan untuk penderita epilepsi melipui
(Ikawati, 2011):
1. Pembedahan, untuk pasien yang telah menerima lebih dari 3 antikonvlusan tetapi
tetap kejang, adanya abnormalitas fokal, lesi epileptik yang menjadi pusat
abnormalitas epilepsi.
2. Diet ketogenik, diet tinggi lemak, cukup protein dan rendah karbohidrat. Tubuh
akan memetabolisme lemak sebagai sumber energi sehingga menghasilkan keton.
Senyawa keton akan memodifikasi siklus asam trikarboksilat untuk meningkatkan
sintesis GABA di otak, menghambat pembentuka ROS, dan meningkatkan
produksi energi dalam jaringan otak.
3. Stmulasi nerves vagus (VNS), mengubah konsentrasi neurotransimter inhibisi dan
eksitatori pada cairan serebrospinal dan mengaktifkan area tertentu dari otak yang
menghasilakn atau mengatur aktivitas korteks melalui peningkatan aliran darah.
Zullies, Ikawati., 2011, Farmakoterapi Penyakit Sistem Syaraf Pusat, Bursa Ilmu, Yogyakarta.