Anda di halaman 1dari 27

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
A. ANATOMI DAN FISIOLOGI
I. 1. Anatomi Membran Timpani
Membran timpani yang disebut juga gendang telinga, merupakan dinding lateral
mesotimpani dan sebagian kecil epitimpani, memisahkan kavitas timpanika dengan
liang telinga luar. Dalam keadaan normal bila dilihat dari arah luar, MT berbentuk
oval, warna putih seperti mutiara, terlihat oblik membentuk sudut 550 terhadap sumbu
liang telinga.3

Gambar I. Membran Timpani.


Panjang garis tengah MT dari postero superior ke antero inferior 9-10 mm,
sedangkan panjang garis tengah vertikal yang melalui manubrium mallei 8-10 mm.
Luas seluruh MT lebih kurang 80 mm 2, tetapi yang aktif untuk mendengar sekitar 50
mm2. Tebal membran timpani pada setiap permukaan bervariasi, rata-rata 130m.
Bagian yang paling tebal terdapat pada sebagian besar tepi lingkaran, yang dibentuk
2

oleh jaringan fibrokartilago sebagai anulus timpanikus yang menempati sulkus


timpanikus. 3,4,5
Di batas superior sulkus timpanikus, anulus timpanikus menjadi jaringan fibrous
yang berjalan ke arah sentral sebagai plika maleolaris anterior dan posterior,
membentang ke prosesus lateralis maleus. Daerah segitiga kecil di atas plika
maleolaris tidak mempunyai anulus timpanikus dan melekat langsung pada tulang
petrosus dan dikenal sebagai pars flaksida atau membran shrapnel. Daerah yang
berada di bawah plika maleolaris merupakan daerah MT yang paling luas dan dikenal
sebagai pars tensa. 3,4
Pars tensa terdiri atas tiga lapisan, yaitu: 1) lapisan luar yang terdiri dari tujuh
lapisan epitel skuamus kompleks sebagai lanjutan kulit liang telinga luar, terdiri dari
stratum korneum, stratum granulosum, stratum spinosum, dan stratum basalis,
dengan ketebalan keseluruhan rata-rata 30m; 2) lamina propria yang terdiri dari
jaringan fibrous radier yang terletak di sebelah luar sedangkan lapisan jaringan ikat
longgar yang mengandung fibroblas, makrofag, serabut syaraf dan kapiler di antara
jaringan fibrous sirkuler dengan lapisan mukosa. Serabut syaraf dan kapiler tidak
menembus membran basalis dan lapisan mukosa. Lamina propria tidak terdapat pada
pars flaksida sehingga bersifat lembak (flaccid). Ketebalan lamina propria rata-rata
100m; 3) lapisan dalam atau lapisan mukosa monolayer sebagai lanjutan dari
lapisan mukosa telinga tengah. 4,6

I.2 Anatomi Kavum Timpani


Kavum Timpani terletak di dalam pars petrosa dari tulang temporal, bentuknya
bikonkaf, atau seperti kotak korek api. Diameter anteroposterior atau vertikal 15 mm,
sedangkan diameter transversal 2-6 mm. Kavum timpani mempunyai 6 dinding
yaitu : bagian atap, lantai, dinding lateral, dinding medial, dinding anterior, dinding
posterior.3

Gambar II. Anatomi Cavum Timpani


a. Atap kavum timpani.
Dibentuk oleh lempengan tulang yang tipis disebut tegmen timpani. Tegmen
timpani memisahkan telinga tengah dari fosa kranial dan lobus temporalis dari otak.
Bagian ini juga dibentuk oleh pars petrosa tulang temporal dan sebagian lagi oleh
skuama dan garis sutura petroskuama. Dinding ini hanya dibatasi oleh tulang yang
4

tipis atau ada kalanya tidak ada tulang sama sekali ( dehisensi). Pada anak-anak,
penulangan dari sutura petroskuamosa belum terbentuk pada daerah tegmen timpani,
sehingga memungkinkan terjadinya penyebaran infeksi dari kavum timpani ke
meningen dari fosa kranial media. Pada orang dewasa bahkan vena-vena dari telinga
tengah menembus sutura ini dan berakhir pada sinus petroskuamosa dan sinus
petrosal superior dimana hal ini dapat menyebabkan penyebaran infeksi dari telinga
tengah secara langsung ke sinus-sinus venosus cranial. 3,4

b. Lantai kavum timpani


Dibentuk oleh tulang yang tipis memisahkan lantai kavum timpani dari bulbus
jugularis, atau tidak ada tulang sama sekali hingga infeksi dari kavum timpani mudah
merembet ke bulbus vena jugularis. Dinding medial. Dinding medial ini memisahkan
kavum timpani dari telinga dalam, ini juga merupakan dinding lateral dari telinga
dalam. Dinding ini pada mesotimpanum menonjol kearah kavum timpani, yang
disebut promontorium Tonjolan ini oleh karena didalamnya terdapat koklea. Di dalam
promontorium terdapat beberapa saluran-saluran yang berisi saraf-saraf yang
membentuk pleksus timpanikus. 3
Di belakang dan atas promontorium terdapat fenestra vestibuli atau foramen
ovale (oval windows), bentuknya seperti ginjal dan berhubungan pada kavum timpani
dengan vestibulum, dan ditutupi oleh telapak kaki stapes dan diperkuat oleh
ligamentum anularis. Foramen ovale berukuran 3,25 mm x 1,75 mm. Di atas fenestra

vestibuli, sebagai tempat jalannya nervus fasialis. Kanalis ini didalam kavum timpan
tipis sekali atau tidak ada tulang sama sekali ( dehisensi). 3
Fenestra koklea atau foramen rotundum ( round windows), ditutupi oleh suatu
membran yang tipis yaitu membran timpani sekunder, terletak dibelakang bawah.
Foramen rotundum ini berukuran 1,5 mm x 1,3 mm pada bagian anterior dan
posterior 1,6 mm. Kedua lekukan dari foramen ovale dan rotundum berhubungan satu
sama lain pada batas posterior mesotimpanum melalui suatu fosa yang dalam yaitu
sinus timpanikus. 3
Suatu ruang secara klinis sangat penting ialah sinus posterior atau resesus fasial
yang didapat disebelah lateral kanalis fasial dan prosesus piramidal. Dibatasi sebelah
lateral oleh anulus timpanikus posterosuperior, sebelah superior oleh prosesus brevis
inkus yang melekat kefosa inkudis. Lebar resesus fasialis 4,01 mm dan tidak
bertambah semenjak lahir. Resesus fasialis penting karena sebagai pembatas antara
kavum timpani dengan kavum mastoid sehingga bila aditus antrum tertutup karena
suatu sebab maka resesus fasialis bisa dibuka untuk menghubungkan kavum timpani
dengan kavum mastoid. 3
c. Dinding posterior
Dinding posterior dekat keatap, mempunyai satu saluran disebut aditus, yang
menghubungkan kavum timpani dengan atrum mastoid melalui epitimpanum.
Dibawah aditus terdapat lekukan kecil yang disebut fosa inkudis yang merupakan
suatu tempat prosesus brevis dari inkus dan melekat pada serat-serat ligamen.
Dibawah fosa inkudis dan dimedial dari korda timpani adalah piramid, tempat
6

terdapatnya tendon muskulus stapedius, tendon yang berjalan keatas dan masuk
kedalam stapes. Diantara piramid dan anulus timpanikus adalah resesus fasialis. 3
Di belakang dinding posterior kavum timpani adalah fosa kranii posterior dan
sinus sigmoid. Di sebelah dalam dari piramid dan nervus fasialis merupakan
perluasan kearah posterior dari mesotimpani adalah sinus timpani. Perluasan sel-sel
udara kearah dinding posterior dapat meluas seperti yang dilaporkan Anson dan
Donaldson (1981), bahwa apabila diukur dari ujung piramid, sinus dapat meluas
sepanjang 9mm kearah tulang mastoid. Dinding medial dari sinus timpani kemudian
berlanjut ke bagian posterior dari dinding medial kavum timpani dimana
berhubungan dengan dua fenestra dan promontorium. 3
d. Dinding anterior
Dinding anterior kavum timpani agak sempit tempat bertemunya dinding medial
dan dinding lateral kavum timpani. Dinding anterior bawah adalah lebih besar dari
bagian atas dan terdiri dari lempeng tulang yang tipis menutupi arteri karotis pada
saat memasuki tulang tengkorak dan sebelum berbelok ke anterior. Dinding ini
ditembus oleh saraf timpani karotis superior dan inferior yang membawa serabutserabut saraf simpatis ke pleksus timpanikus dan oleh satu atau lebih cabang timpani
dari arteri karotis interna1.3
Dinding anterior terutama berperan sebagai muara tuba eustachius. Tuba ini
berhubungan

dengan

nasofaring

dan

mempunyai

dua

fungsi.

Pertama

menyeimbangkan tekanan membran timpani pada sisi sebelah dalam, kedua sebagai
drainase sekresi dari telinga tengah, termasuk sel-sel udara mastoid. Di atas tuba
7

terdapat sebeuah saluran yang berisi otot tensor timpani. Di bawah tuba, dinding
anterior biasanya tipis dimana ini merupakan dinding posterior dari saluran karotis. 3
e. Dinding lateral
Dinding lateral kavum timpani adalah bagian tulang dan membran. Bagian tulang
berada diatas dan bawah membran timpani. Dalam kavum timpani terdapat tulangtulang pendengaran yaitu :1). Malleus ( hammer / martil); 2). Inkus ( anvil/landasan);
dan 3). Stapes ( stirrup / pelana).
1. Malleus
Malleus adalah tulang yang paling besar diantara semua tulang-tulang
pendengaran dan terletak paling lateral, leher, prosesus brevis (lateral), prosesus
anterior, lengan (manubrium). panjangnya kira-kira 7,5 sampai 9,0 mm. Kepala
terletak pada epitimpanum atau didalam rongga atik, sedangkan leher terletak
dibelakang pars flaksida membran timpani. Manubrium terdapat didalam membrane
timpani, bertindak sebagai tempat perlekatan serabut-serabut tunika propria. Ruang
antara kepala dari maleus dan membran Shrapnell dinamakan Ruang Perusak. Maleus
ditahan oleh ligamentum maleus anterior yang melekat ke tegmen dan juga oleh
ligamentum lateral yang terdapat diantara basis prosesus brevis dan pinggir lekuk .4
2. Inkus
Inkus terdiri dari badan inkus ( corpus) dan 2 kaki yaitu : prosesus brevis dan
prosesus longus. Sudut antara prosesus brevis dan longus membentuk sudut lebih
kurang 100 derajat. Inkus berukuran 4,8 mm x 5,5 mm pada pinggir dari corpus,
prosesus longus panjangnya 4,3 mm-5,5 mm. Inkus terletak pada epitimpanum,
8

dimana prosesus brevis menuju antrum, prosesus longus jalannya sejajar dengan
manubrium dan menuju ke bawah. Ujung prosesus longus membengkok kemedial
merupakan suatu prosesus yaitu prosesus lentikularis. Prosesus ini berhubungan
dengan kepala dari stapes. 4
Maleus dan inkus bekerja sebagai satu unit, memberikan respon rotasi terhadap
gerakan membran timpani melalui suatu aksis yang merupakan suatu garis antara
ligamentum maleus anterior dan ligamentum inkus pada ujung prosesus brevis.
Gerakan-gerakan tersebut tetap dipelihara berkesinambungan oleh inkudomaleus.
Gerakan rotasi tersebut diubah menjadi gerakan seperti piston pada stapes melalui
sendi inkudostapedius. 4
3. Stapes
Stapes Merupakan tulang pendengaran yang teringan, bentuknya seperti
sanggurdi beratnya hanya 2,5 mg, tingginya 4mm-4,5 mm. Stapes terdiri dari kepala,
leher, krura anterior dan posterior dan telapak kaki ( foot plate), yang melekat pada
foramen ovale dengan perantara ligamentum anulare. Tendon stapedius berinsersi
pada suatu penonjolan kecil pada permukaan posterior dari leher stapes. Kedua krura
terdapat pada bagian leher bawah yang lebar dan krura anterior lebih tipis dan kurang
melengkung dari pada posterior. Kedua berhubungan dengan foot plate yang biasanya
mempunyai tepi superior yang melengkung, hampir lurus pada tepi posterior dan
melengkung di anterior dan ujung posterior. panjang foot plate 3 mm dan lebarnya
1,4 mm, dan terletak pada fenestra vestibuli dimana ini melekat pada tepi tulang dari
kapsul labirin oleh ligamentum anulare Tinggi stapes kira-kira 3,25 mm. 3,4
9

I.3. Anatomi Tuba Eustachius


Tuba eustachius disebut juga tuba auditory atau tuba faringotimpani.
bentuknya seperti huruf S. Tuba ini merupakan saluran yang menghubungkan kavum
timpani dengan nasofaring. Pada orang dewasa panjang tuba sekitar 36 mm berjalan
ke bawah, depan dan medial dari telinga tengah 13 dan pada anak dibawah 9 bulan
adalah 17,5 mm.3,4
Tuba terdiri dari 2 bagian yaitu: 1. Bagian tulang terdapat pada bagian
belakang dan pendek (1/3 bagian); 2. Bagian tulang rawan terdapat pada bagian
depan dan panjang (2/3 bagian). Bagian tulang sebelah lateral berasal dari dinding
depan kavum timpani, dan bagian tulang rawan medial masuk ke nasofaring. Bagian
tulang rawan ini berjalan kearah posterior, superior dan medial sepanjang 2/3 bagian
keseluruhan panjang tuba (4 cm), kemudian bersatu dengan bagian tulang atau
timpani. Tempat pertemuan itu merupakan bagian yang sempit yang disebut ismus.
Bagian tulang tetap terbuka, sedangkan bagian tulang rawan selalu tertutup dan
berakhir pada dinding lateral nasofaring. 3,4
Pada orang dewasa muara tuba pada bagian timpani terletak kira-kira 2-2,5
cm, lebih tinggi dibanding dengan ujungnya nasofaring. Pada anak-anak, tuba
pendek, lebar dan letaknya mendatar maka infeksi mudah menjalar dari nasofaring ke
telinga tengah. Tuba dilapisi oleh mukosa saluran nafas yang berisi sel-sel goblet dan
kelenjar mucus dan memiliki lapisan epitel bersilia didasarnya. Epitel tuba terdiri
dari epitel selinder berlapis dengan sel selinder. Disini terdapat silia dengan

10

pergerakannya ke arah faring. Sekitar ostium tuba terdapat jaringan limfosit yang
dinamakan tonsil tuba. 3,4

Gambar III. Tuba Eustachius.


I. 4. Prosesus Mastoideus
Rongga mastoid berbentuk seperti bersisi tiga dengan puncak mengarah ke
kaudal. Atap mastoid adalah fosa kranii media. Dinding medial adalah dinding lateral
fosa kranii posterior. Sinus sigmoid terletak dibawah duramater pada daerah ini. Pada
dinding anterior mastoid terdapat aditus ad antrum. 3,4
Aditus antrum mastoid adalah suatu pintu yang besar iregular berasal dari
epitimpanum posterior menuju rongga antrum yang berisi udara, sering disebut
sebagai aditus ad antrum. Dinding medial merupakan penonjolan dari kanalis
semisirkularis lateral. Dibawah dan sedikit ke medial dari promontorium terdapat
kanalis bagian tulang dari n. fasialis. Prosesus brevis inkus sangat berdekatan dengan
kedua struktur ini dan jarak rata-rata diantara organ : n. VII ke kanalis semisirkularis
1,77 mm; n.VII ke prosesus brevis inkus 2,36 mm : dan prosesus brevis inkus ke
kanalis semisirkularis 1,25 mm. 3,4

11

Gambar IV. Os Mastoideus


Antrum mastoid adalah sinus yang berisi udara didalam pars petrosa tulang
temporal. Berhubungan dengan telinga tengah melalui aditus dan mempunyai sel-sel
udara mastoid yang berasal dari dinding-dindingnya. Antrum sudah berkembang baik
pada saat lahir dan pada dewasa mempunyai volume 1 ml, panjang dari depan
kebelakang sekitar 14 mm, daria atas kebawah 9mm dan dari sisi lateral ke medial 7
mm. 3,5
Dinding medial dari antrum berhubungan dengan kanalis semisirkularis posterior
dan lebih ke dalam dan inferiornya terletak sakus endolimfatikus dan dura dari fosa
kranii posterior. Atapnya membentuk bagian dati lantai fosa kranii media dan
memisahkan antrum dengan otak lobus temporalis. Dinding posterior terutama
dibentuk oleh tulang yang menutupi sinus. Dinding lateral merupakan bagian dari
pars skumosa tulang temporal dan meningkat ketebalannya selama hidup dari sekitar
2 mm pada saat lahir hingga 12-15 mm pada dewasa. Dinding lateral pada orang
dewasa berhubungan dengan trigonum suprameatal ( Macewens) pada permukaan
luar tengkorak. Lantai antrum mastoid berhubungan dengan otot digastrik dilateral

12

dan sinus sigmoid di medial, meskipun pada aerasi tulang mastoid yang jelek,
struktur ini bisa berjarak 1 cm dari dinding antrum inferior. 3,5
Dinding anterior antrum memiliki aditus pada bagian atas, sedangkan bagian
bawah dilalui n.fasialis dalam perjalanan menuju ke foramen stilomastoid. Prosesus
mastoid sangat penting untuk sistem pneumatisasi telinga. Pneumatisasi didefinisikan
sebagai suatu proses pembentukan atau perkembangan rongga-rongga udara didalam
tulang temporal, dan sel-sel udara yang terdapat didalam mastoid adalah sebagian
dari sistem pneumatisasi yang meliputi banyak bagian dari tulang temporal. 3,5
Sel-sel prosesus mastoid yang mengandung udara berhubungan dengan udara
didalam telinga tengah. Bila prosesus mastoid tetap berisi tulang-tulang kompakta
dikatakan sebagai pneumatisasi jelek dan sel-sel yang berpneumatisasi terbatas pada
daerah sekitar antrum. 3,4
I.5. Nervus Facialis
Nervus facial meninggalkan fosa kranii posterior dan memasuki tulang temporal
melalui meatus akustikus internus bersamaan dengan N. VIII. Saraf fasial terutama
terdiri dari dua komponen yang berbeda, yaitu : 1. Saraf motorik untuk otot-otot yang
berasal dari lengkung brankial kedua (faringeal) yaitu otot ekspresi wajah, stilohioid,
posterior belly m. Digastrik dan m. Stapedius; 2. Saraf intermedius yang terdiri dari
saraf sensori dan sekretomotor parasimpatetis preganglionik yang menuju ke semua
glandula wajah kecuali parotis.3,7
Nervus kranial VII mencapai dinding medial kavum timpani melalui auditori
meatus diatas vestibula labirin tulang. Kemudian membelok kearah posterior dalam
13

tulang diatas feromen ovale terus ke dinding posterior kavum timpani. Belokan kedua
terjadi dinding posterior mengarah ke tulang petrosa melewati kanal fasial keluar dari
dasar tengkorak melewati foramen stilomastoidea. Pada belokan pertama di dinding
medial dari kavum timpani terdapat ganglion genikulatum, yang mengandung sel
unipolar palsu. Sel ini adalah bagian dari jaringan perasa dari 2/3 lidah dan palatum.
3,7

Gambar V. Nervus Fascialis


Nervus petrosa superfisial yang besar bercabang dari nervus kranial VII pada
ganglion genikulatum, masuk ke dinding anterior kavum timpani, terus ke fosa
kranial tengah. Saraf ini mengandung jaringan perasa dari palatum dan jaringan
sekremotor dari glandula atap rongga mulut, kavum nasi dan orbita. Bagian lain dari
saraf kranial VII membentuk percabangan motor ke otot stapedius dan korda timpani.
14

Korda timpani keluar ke fosa intra temporal melalui handle malleus, bergerak secara
vertikal ke inkus dan terus ke fisura petrotimpanik. Korda timpani mengandung
jaringan perasa dari 2/3 anterior lidah dan jaringan sekretorimotor dari ganglion
submandibula. Sel jaringan perasanya terdapat di ganglion genikulatum. 3,6
II. Fisiologi Telinga Tengah
Telinga tengah berfungsi dalam memindahkan getaran dari membran timpani
ke bagian telinga dalam.
1. Gendang telinga ( membran timpani), yaitu membran yang terdiri dari mukosa
yang melapisi seluruh telinga begian tengah sehinga getaran yang dihantarkan
kelembabanya dapat disesuaikan dengan kelembaban telinga dalam, dimana
gelombang bunyi yang sampai digetarkan oleh gendang telinga dan mengalirkan
getaran ke telinga dalam, sehingga tidak ada udara dari luar yang masuk kedalam
rongga telinga bagian dalam.8,9
2. Maleus, inkus, stapes merupakan tulang kecil yang berfungsi dalam
menghubungankan getaran dari telinga luar ke gendang telinga kemudian di
teruskan ke telinga dalam. 8,9
3. Tuba eustachius merupakan saluran auditory yang menyambungkan nasofaring
dengan telinag bagian tengah. Tuba eustachius berfungsi dalam menyeimbangkan
tekanan udara diluar dengan tekanan di dalam telinga tengah. 8,9

B. OTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIK (OMSK)

15

Otitis media supuratif kronik ( OMSK ) adalah peradangan kronis telinga tengah
yang ditandai dengan perforasi membran timpani dan riwayat keluarnya sekret dari
telinga lebih dari tiga bulan baik secara terus menerus maupun hilang timbul. Otitis
media akut merupakan awal dari penyakit OMSK, yang terjadi sebagai akibat invasi
organisme virulen yang umumnya berasal dari nasofaring terhadap mukoperiostium
kavitas timpani.10,11
Secara klinis OMSK dapat dibagi atas tipe Tubotimpanal dan tipe Atikoantral.
Tipe Tubotimpanal disebut juga dengan otitis media supuratif kronik tipe aman
(OMSKTA) karena jarang menimbulkan komplikasi yang berbahaya. Proses infeksi
hanya terbatas pada mukosa auris media. Bagian auris media yang terinfeksi adalah
mesotimpanum, hipotimpanum dan tuba auditoria. Perforasi tipe ini biasanya letak
sentral pada pars tensa. 10,11,12
Otitis media supuratif kronik tipe aman dibagi menjadi tipe aktif, tipe laten, dan
tipe inaktif. Tipe aktif ditandai dengan adanya otthore aktif. Pada OMSKTA yang
laten pada saat pemeriksaan kavum timpani kering setelanh mendapatkan
pengobatan, akan tetapi sebelumnya ada riwayat otore berulang. Pada OMSKTA
inaktif bila didapatkan riwayat otore dimasa lalu pada saat pemeriksaan kavum
timpani kering tanpa kemungkinan kekambuhan dalam waktu dekat. 10,11,12
Tipe Atikoanteral disebut juga otitis media kronik media tipe bahaya karena
dapat menimbulkan komplikasi yang serius dan mengancam jiwa penderita. Biasanya
dapat juga terjadi proses erosi tulang atau kolsteatoma, granulasi atau Osteitis.
Perforasi letaknya marginal atau atik. 10,11,12
16

C. ETIOLOGI DAN PATOGENESIS


Faktor predisposisi terjadinya kronisitas otitis media ini adalah: 1) disfungsi
kronik tuba auditoria yang disebabkan oleh fokal infeksi seperti sinusitis kronik,
adenoiditis kronik dan tonsilitis kronik yang menyebabkan infeksi kronik atau
berulang pada saliran nafas atas, hipertrofi adenoid, dan celah palatum; 2) Perforasi
membran timpani permanen menyebabkan mukosa auris media terpapar dengan udara
luar sehingga bakteri yang berasal dari luar termasuk dari kanalis auditorius externus
dapat masuk ke dalam auris media dan menyebabkan infeksi kronis pada mukosa
auris media; 3) Bakteri yang resisten terhadap antibiotika; 4) faktor konstitusi seperti
alergi dan penurunan daya tahan tubuh.13, 14
Penyebab terbesar otitis media supuratif kronis adalah infeksi campuran bakteri
dari meatus auditoris eksternal , kadang berasal dari nasofaring melalui tuba
eustachius saat infeksi saluran napas bagian atas. Organisme-organisme dari meatus
auditoris eksternal termasuk staphylococcus, pseudomonas aeruginosa, B.proteus,
B.coli dan aspergillus. Organisme dari nasofaring diantaranya streptococcus viridans
( streptococcus A hemolitikus, streptococcus B hemolitikus dan pneumococcus. 13,14
Suatu teori patogenesis mengatakan terjadinya otititis media nekrotikans akut
menjadi awal penyebab OMSK yang merupakan hasil invasi mukoperiusteum
organisme yang virulen, terutama berasal dari nasofaring terbesar pada masa kanakkanak, atau karena rendahnya daya tahan tubuh penderita sehingga terjadinya
nekrosis jaringan akibat toxin nekrotik yang dikeluarkan oleh bakteri kemudian

17

terjadi perforasi pada membran timpani setelah penyakit akut sembuh, membran
timpani tetap berlubang atau sembuh dengan membran atrofi. 13,15
D. DIAGNOSIS
Diagnosa dapat ditegakan dari anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan
penunjuang. Tanda dan Gejala dibagi berdasarkan tipe OMSK.
I. OMSK TIPE AMAN
Dari anamnesis pasien biasa datang dengan keluhan telinga mengeluarkan cairan
berupa discharge mukoid yang tidak terlalu berbau busuk , penurunan pendengaran
dan keluhan ini sudah terjadi sejak lama lebih dari 3 bulan. Pada pemeriksaan fisik
ketika pertama kali ditemukan bau busuk mungkin ada tetapi dengan pembersihan
dan penggunaan antibiotiklokal biasanya cepat menghilang, discharge mukoid dapat
konstan atau intermitten. Discharge terlihat berasal dari rongga timpani dan orifisium
tuba eustachius yang mukoid dan setelah satu atau dua kali pengobatan lokal bau
busuk berkurang. Cairan mukus yang tidak terlalu bau datang dari perforasi besar tipe
sentral dengan membran mukosa yang berbentuk garis pada rongga timpani
merupakan diagnosis khas pada omsk tipe aman. 10, 11, 15,16,17
Pada pemeriksaan dengan menggunakan Otoskop perforasi membran tympani
sentral sering berbentuk seperti ginjal tapi selalu meninggalkan sisa pada bagian
tepinya. Proses peradangan pada daerah timpani terbatas pada mukosa sehingga
membran mukosa menjadi berbentuk garis. Ukuran dan warna tergantung derajat
infeksi membran mukosa, dapat tipis dan pucat atau merah dan tebal, kadang suatu
18

polip didapat tetapi mukoperiosteum yang tebal dan mengarah pada meatus
menghalangi pandangan membran timpani dan telinga tengah hingga polip tersebut
diangkat. 10, 11, 15,16,17
Pemeriksaan audiometri: Pada pemeriksaan audiometri penderita OMSK
biasanya didapati tulikonduktif. Beratnya ketulian tergantung besar dan letak
perforasi membran timpani serta keutuhan dan mobilitas sistim penghantaran suara
ditelinga tengah. Gangguan pendengaran konduktif selalu didapat pada pasien dengan
derajat ketulian tergantung beratnya kerusakan tulang-tulang pendengaran dan koklea
selama infeksi nekrotik akut pada awal penyakit. 10, 15,16,17
Gangguan pendengaran dapat dibagi dalam ketulian ringan, sedang, sedang berat,
dan ketulian total, tergantung dari hasil pemeriksaan ( audiometri atau test berbisik).
Derajat ketulian ditentukan dengan membandingkan rata-rata kehilangan intensitas
pendengaran pada frekuensi percakapan terhadap skala ISO 1964 yang ekivalen
dengan skala ANSI 1969. Derajat ketulian dan nilai ambang pendengaran menurut
ISO 1964 dan ANSI 1969. 2, 14
Derajat ketulian Nilai ambang pendengaran adalah normal : -10 dB sampai 26
dB, tuli ringan : 27 dB sampai 40 dB, tuli sedang : 41 dB sampai 55 dB, tuli sedang
berat : 56 dB sampai 70 dB, tuli berat : 71 dB sampai 90 dB, tuli total : lebih dari 90
dB.14
Evaluasi audimetri penting untuk menentukan fungsi konduktif dan fungsi
kohlea. Dengan menggunakan audiometri nada murni pada hantaran udara dan tulang
19

serta penilaian tutur, biasanya kerusakan tulang-tulang pendengaran dapat


diperkirakan, dan bisa ditentukan manfaat operasi rekonstruksi telinga tengah untuk
perbaikan pendengaran.17
Untuk melakukan evaluasi ini, observasi berikut bisa membantu :1. Perforasi
biasa umumnya menyebabkan tuli konduktif tidak lebih dari 15-20 dB; 2. Kerusakan
rangkaian tulang-tulang pendengaran menyebabkan tuli konduktif 30-50 dB apabila
disertai perforasi; 3. Diskontinuitas rangkaian tulang pendengaran dibelakang
membran yang masih utuh menyebabkan tuli konduktif 55-65 dB; 4. Kelemahan
diskriminasi tutur yang rendah, tidak peduli bagaimanapun keadaan hantaran tulang,
menunjukan kerusakan koklea parah.14,17
II. OMSK TIPE BAHAYA DENGAN KOLESTEATOM
Pada anamnesis pasien datang dengan keluahan keluarnya sekret beraroma khas,
Sekret yang sangat bau dan berwarna kuning abu-abu, kotor purulen dapat juga
terlihat keeping-keping kecil, berwarna putih mengkilat. Gangguan pendengaran pasti
sudah terjadi, vertigo perifer. Pada pemeriksaan fisik dengan menggunakan otoskop
ditemukan perforasi membran timpani marginal atau pada atik. Sedangkan pada
proses yang sudah lanjut sering ditemukan fistel retroaurikular, polip, atau jaringan
granulasi di liang telinga luar yang berasal dari telinga tengah dan terdapat
kolesteotoma pada telinga tengah. 10,11,15,16
Gangguan pendengaran yang didapatkan pada OMSK tipe bahaya adalah tipe
konduktif timbul akibat terbentuknya kolesteatom bersamaan juga karena hilangnya
20

alat penghantar udara pada otitis media nekrotikans akut. Selain tipe konduktif dapat
pula tipe campuran karena kerusakan pada koklea yaitu karena erosi pada tulangtulang kanal semisirkularis akibat osteolitik kolesteatom. 10,11,15,16
Rontgen mastoid atau CT scan kepala dilakukan untuk mengetahui adanya
penyebaran infeksi ke struktur di sekeliling telinga. Biasanya mengungkap mastoid
yang tampak sklerotik, lebih kecil dengan peneumatisasi lebih sedikit dibanding
mastoid yang satunya. Erosi tulang pada daerah attic (kehilangan skutum) memberi
kesan kolestoma. Radiografi daerah mastoid pada penyakit telinga kronis nilai
diagnostiknya terbatas dibandingkan dengan manfaat otoskopi dan audiometri.
Proyeksi radiografi yang sekarang biasa digunakan adalah : 10,11,15,16
1. Proyeksi Schuller, yang memperlihatkan luasnya pneumatisasi mastoid dari arah
lateral dan atas. Foto ini berguna untuk pembedahan karena memperlihatkan posisi
sinus lateral dan tegmen. Pada keadaan mastoid yang skleritik, gambaran radiografi
ini sangat membantu ahli bedah untuk menghindari dura atau sinus lateral.6
2. Proyeksi Mayer atau Owen, diambil dari arah dan anterior telinga tengah. Akan
tampak gambaran tulang-tulang pendengaran dan atik sehingga dapat diketahui
apakah kerusakan tulang telah mengenai struktur-struktur. 6
3. Proyeksi Stenver, memperlihatkan gambaran sepanjang piramid petrosus dan yang
lebih jelas memperlihatkan kanalis auditorius interna, vestibulum dan kanalis
semisirkularis. Proyeksi ini menempatkan antrum dalam potongan. 6
E. PENATALAKSANAAN
I. OMSK TIPE AMAN TENANG
21

Keadaan ini tidak memerlukan pengobatan, dan dinasehatkan untuk jangan


mengorek telinga, air jangan masuk ke telinga sewaktu mandi, dilarang berenang dan
segera berobat bila menderita infeksi saluran nafas atas. Bila fasilitas memungkinkan
sebaiknya dilakukan operasi mastoidectomi sederhana dan operasi rekonstruktif
(miringoplasti, timpanoplasti) untuk mencegah infeksi berulang serta gangguan
pendengaran. 10, 11, 18
Mastoidektomi sederhana ( simple mastoidectomy): Operasi ini dilakukan pada
OMSK tipe aman yang dengan pengombatan konservatif tidak sembuh. Dengan
tindakan operasi ini dilakukan pembersihan ruang mastoid dari jaringan patologik.
Tujuannya adalah supaya infeksi tetap tenang. Pada operasi ini fungsi pendengaran
tidak diperbaiki.11
Operasi Miringoplasti merupakan jenis timpanoplasti yang paling ringan, dikenal
juga dengan nama timpanoplasti tipe 1. Rekonstruksi hanya dilakukan pada membran
timpani. Tujuan adalah untuk mencegah berulangnya infeksi Timpanoplasti
dikerjakan pada OMSK tipe aman dengan kerusakan lebih berat dan tidak bisa
ditenangkan dengan pengobatan medikamentosa. Tujuannya adalah menyembuhkan
penyakit dan memperbaiki fungsi pendengaran.10,11
II. OMSK TIPE AMAN AKTIF
Prinsip pengobatan OMSK adalah membersihkan liang telinga dan kavum
timpani dan pemberian antibiotika topikal antibiotik (antimikroba) maupun sistemik.
Pembersihan liang telinga dan kavum timpani (toilet telinga) bertujuan membuat

22

lingkungan yang tidak sesuai untuk perkembangan mikroorganisme, karena sekret


telinga merupakan media yang baik bagi perkembangan mikroorganisme. 10,11
Cara pembersihan liang telinga ( toilet telinga) :
1. Toilet telinga secara kering ( dry mopping): Telinga dibersihkan dengan kapas
lidi steril, setelah dibersihkan dapat di beri antibiotik berbentuk serbuk. Cara ini
sebaiknya dilakukan diklinik atau dapat juga dilakukan oleh anggota keluarga.
Pembersihan liang telinga dapat dilakukan setiap hari sampai telinga kering. 10,11
2. Toilet telinga secara basah ( syringing): Telinga disemprot dengan cairan untuk
membuang debris dan nanah, kemudian dengan kapas lidi steril dan diberi serbuk
antibiotik. Meskipun cara ini sangat efektif untuk membersihkan telinga tengah,
tetapi dapat mengakibatkan penyebaran infeksi ke bagian lain dan kemastoid.
Pemberian serbuk antibiotik dalam jangka panjang dapat menimbulkan reaksi
sensitifitas pada kulit. Dalam hal ini dapat diganti dengan serbuk antiseptik,
misalnya asam boric dengan Iodine. 10,11
3. Toilet telinga dengan pengisapan ( suction toilet): Pembersihan dengan suction
pada nanah, dengan bantuan mikroskopis operasi adalah metode yang paling
populer saat ini. Kemudian dilakukan pengangkatan mukosa yang berproliferasi
dan polipoid sehingga sumber infeksi dapat dihilangkan. Akibatnya terjadi
drainase yang baik dan resorbsi mukosa. Pada orang dewasa yang koperatif cara
ini dilakukan tanpa anastesi tetapi pada anak-anak diperlukan anastesi Pencucian
telinga dengan H2O2 3% akan mencapai sasarannya bila dilakukan dengan
displacement methode seperti yang dianjurkan oleh Mawson dan Ludmann. 10,11
23

III. OMSK TIPE BAHAYA


Pengobatan yang tepat untuk OMSK tipe bahaya adalah operasi. Pengobatan
konservatif dengan medikamentosa hanyalah merupakan terapi sementara sebelum
dilakukan pembedahan. Bila terdapat abses subperiosteal, maka insisi abses
sebaiknya dilakukan tersendiri sebelum kemudian dilakukan mastoidektomi. 10,11
Ada beberapa jenis pembedahan atau tehnik operasi yang dapat dilakukan pada
OMSK dengan mastoiditis kronis tipe bahaya, antara lain: 1.Mastoidektomi radikal:
operasi ini dilakukan pada OMSK bahaya dengan infeksi atau kolesteotoma yang
sudah meluas. Pada operasi ini rongga mastoid dengan cavum timpani dibersihkan
dari semua jaringan patologik. Dinding batas antara liang telinga luar dan telinga
tenganh dengan rongga mastoid diruntuhkan, sehingga ketiga daerah anatomi tersebut
menjadi satu ruangan. Tujuan operasi ini adalah untuk membuang semua jaringan
patologik dan fungsi pendengaran tidaak diperbaiki; 2. Mastoidektomi radikal dengan
modifikasi: operasi ini dilakukan pada OMSK dengan kolesteotoma di daerah atik,
tetapi belum merusak kavum timpani. Seluruh rongga mastoid dibersihkan dan
dinding poterior liang telinga direndahkan. Tujuan operasi ini ialah untuk membuang
semua jaringan patologik dan rongga mastoid dan mempertahankan pendengaran
yang masih ada; 3. Pendekatan ganda timpanoplasti ( Combined approach
tympanoplasty). Operasi ini merupakan teknik operasi timpanoplasti pada OMSK
dengan jaringan granulasi yang meluas. Membersihkan kolesteotoma dan jaringan
granulasi dilakukaan melalui liang telingan dan ruang mastoid tanpa meruntuhkan
seluruh dinding mastoid. Tujuan operasi adalah menghentikan infeksi secara
24

permanen, memperbaiki membran timpani yang perforasi, mencegah terjadinya


komplikasi atau kerusakan pendengaran yang lebih berat, serta memperbaiki
pendengaran. 10,11, 18
PEDOMAN TATALAKSANA OMSK
OTOREA KRONIS
OTOSKOPI
MT Utuh

MT Perforasi

OMSK

OTITIS EKSTERNA DIFUSA


OTOMIKOSIS
OMSK BENIGNA
DERMATITISKOLESTEATOM (-)
OTITIS EKSTERNA MALIGNA
MIRINGITIS GRANULOMATOSA
OMSK
TENANG

Onset progresif, predisposisi


penyakit sistemik, fokus infeksi,
riwayat pengobtan, cari
gejala/tanda komplikasi

OMSK
Komplikasi
AKTIF (-)

Komplikasi (+)

Pilihan:
Atikotomi
Stimulasi
Cuci telinga, antibiotik sistemik
Kolesteatoma
(-)
Kolesteatoma
(+)
anterior,
epitelisasi tepi
Lini 1: amoksisilin/ sesuai
omsk
benigna
omsk maligna
timpanoplasti
perforasi
kuman penyebab tipikal
Dinding Utuh,
Timpanoplasti
Lihat
Dinding
Runtuh, 2
Lihat
ALGORITMA
Stikoantroplasti,
ALGORITMA
Perforasi
Otorea1menetap
Perforasi
Timpaniplasti
menetap
>1 minggu
Menutup
Buka Tutup
Tuli
Konduktif?
TIDAK
sembuh

x-ray
mastoid

ALGORITMA 1
Tuli
konduktif
(+)
Ideal:
Timpaniplasti tanpa/dengan
mastoidectomi

Antibiotik berdasarkan
pemb.mikroorganisme

Otorea menetap
> 1 bulan

Ideal :
Mastoidectomi
+ timpanoplasti

OMSK MALIGNA
KOLESTEATOM(+)
25

KOMPLIKASI
INTRA TEMPORAL

ABSES
SUBPERIOSTEAL
LABIRINITIS
PARESE N. FACIALIS
PETROSITIS

KOMPLIKASI
INTRAKRANIAL

ABSES EKSTRA DURA


ABSES PERI SINUS
TROMBOFLEBITIS
-SINUS LATERAL
MENINGITIS
ABSES OTAK
MENINGITIS OTIKUS

ALGORITMA 2
ANTIBIOTIK DOSIS
RAWAT INAP, PERIKSA
OMSK + KOMPLIKASI
TINGGI,
SEKRET TELINGA,
MASTOIDECTOMI,
ANTIBIOTIK I.V DOSI
DEKOMPRESI N.VII,
TINGGI 7-15 HARI,
PETROSEKTOMI
KONSUL SPESIALIS
SARAF/ANAK,
MASTOIDECTOMI,
OPERASI BEDAH SARAF

26

F. KOMPLIKASI DAN PROGNOSIS


Otitis media supuratif kronik tipe aman tidak menyerang tulang sehingga jarang
menimbulkan komplikasi, tetapi jika tidak mencegah invasi organisme baru dari
nasofaring dapat menjadi otitis media supuratif kronik eksaserbsi akut dan
menimbulkan komplikasi dengan terjadinya tromboplebitis vaskuler.

Prognosis

dengan pengobatan lokal, ottorhea dapat mengering. Tetapi sisa perforasi sentral yang
berkepanjangan memudahkan infeksi dari nasofaring atau bakteri dari meatus
eksterna khususnya terbawa oleh air, sehingga penutupan membran timpani
disarankan.10,11,19
27

Komplikasi dimana terbentuknya kolesteatom berupa : 1. Erosi kanalis


semisirkularis; 2. Erosi Kanalis tulang; 3. Erosi tegmen timpani dan abses
ekstradural; 4. Erosi pada permukaan lateral mastoid dengan timbulnya abses
subperiosteal; 5. Erosi pada sinus sigmoid. 11,19
Prognosis kolesteatom yang tidak diobati akan berkembang menjadi meningitis,
abses otak, prasis fasialis atau labirintis supuratif yang semuanya fatal. Sehingga
OMSK tipe maligna harus diobati secara aktif sampai proses erosi tulang berhenti. 10,11

28