Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PENDAHULUAN

FRAKTUR PELVIS
DI RUANG INSTALASI GAWAT DARURAT (IGD)
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH ULIN BANJARMASIN

Disusun oleh:
Adi Setiawan, S. Kep
NIM. 14.NS.021

PENDIDIKAN PROGRAMPROFESI NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN SARI MULIA
BANJARMASIN
2015

FRAKTUR PELVIS

A.

Anatomi Fisiologi
1. Tulang-Tulang Panggul
Terdiri dari:
a. Os coxae, terdiri
dari:
ilium,iskium,pubis.
Coxae Terletak di
sebelah depan dan
samping dari Pelvis
wanita.

Os

Coxae

terdiri dari 3 buah


tulang
yaitu

penyusun,
OsIlium,

Ischium,

dan

Os
Os

Pubis.
1) Os Ilium

Merupakan tulang terbesar dari panggul dan membentuk


bagian atas dan belakang panggul.
Memiliki permukaan anterior berbentuk konkaf yang
disebut fossa iliaca.Bagian atasnya disebut Krista iliaca. Ujungujung disebut Spina Iliaca anterior superior dan spina Iliaca
posterior superior.Terdapat tonjolan memanjang di bagian
dalam os ilium yang membagi pelvis mayor dan pelvis minor
disebut linea innominata (linea terminalis).
2) Os Ischium
Terdapat disebelah bawah os ilium.Merupakan tulang
yang tebal dengan tiga tepi di belakang foramen obturator.
Os Ichium merupakan bagian terendah dari

Os

Coxae.Memiliki tonjolan di bawah tulang duduk yang sangat


tebal disebut Tuber Ischii berfungsi penyangga tubuh sewaktu
duduk.
3) Os Pubis

Terdapat disebelah bawah dan depan os ilium.Dengan


tulang duduk dibatasi oleh foramen obturatum.Terdiri atas
korpus (mengembang ke bagian anterior).
Os Pubis terdiri dari ramus superior (meluas dari korpus
ke asetabulum) dan ramus inferior (meluas ke belakang dan
berat dengan ramus ischium). Ramus superior os pubis
berhubungan dengan dengan os ilium, sedangkan ramus
inferior kanan dan kiri membentuk arkus pubis. Ramus inferior
berhubungan dengan os ischium.
b. Os sacrum
Tulang ini berbentuk segitiga dengan lebar dibagian atas dan
mengecil dibagian bawahnya. Tulang kelangkang terletak di antara
kedua tulang pangkal paha yang terdiri dari dan mempunyai ciri :Os
sacrum berbentuk baji, terdiri atas 5 vertebra sacralis.Vertebra
pertama paling besar, mengahadap ke depan. Pinggir atas vertebra
ini dikenal sebagai promontorium, merupakan suatu tanda penting
dalam penilaian ukuran-ukuran panggul.Di kanan dan kiri, garis
tengah terdapat lubang yang akan dilalui saraf: foramina sacralis
anterior.
c. Os koksigeus
Berbentuk segitiga dengan ruas 3 sampai 5 buah bersatu.Pada
saat persalinan, Os Coccygis dapat didorong ke belakang sehingga
dapat memperluas jalan lahir.Yang ketiganya saling berhubungan,
didepan: simfisis pubis, dibelakang artikulasio sakroiliaka, dibawah
artikulasio sakrokoksigea. Yang memungkinkan pergeseran untuk
memperbesar sedikit ukuran panggul saat persalinan.
Secara fungsional panggul terdiri dari 2 bagian:
a. Pelvis mayor/ False Pelvis: diatas linea terminalis.
b. Pelvis Minor/ True Pelvis: dibawah linea terminalis, yang bentuknya
menyerupai saluran bersumbu melengkung kedepan / sumbu carus.
Sumbu

carus

adalah

garis

yang

menghubungkan

titik-titik

persekutuan antara diameter transversa dan conjugata vera pada


Pintu Atas Panggul (PAP) dengan titik-titik sejenis di HII,III,IV.
Bidang atas saluran ini normalnya berbentuk hampir bulat
disebut Pintu Atas Panggul/ Pelvic inlet. Bidang bawah saluran ini
terdiri 2 bagian disebut Pintu Bawah Panggul/ Pelvic outlet. Diantara
kedua pintu ini terdapat ruang panggul/ Pelvic cavity; yang

menyempit dibagian tengah disebabkan oleh adanya spina iskiadika


yang kadang menonjol ke dalam ruang panggul.
Kapasitas pintu atas panggul (pelvic inlet capacity, IC) dan
pintu tengah panggul (midpelvic capacity, MC) dapat dihitung
dengan rumus :adalah kapasitas inlet panggul dihitung dalam gram
adalah 95% x 4000 g=3800 g, dan kapasitas midpelvis adalah 80%
x 4000 g=3200 g. Maka kapasitas terkecil panggul itu adalah 3200
g, karena jika lebih dari itu bayi tidak akan dapat melewati
midpelvis. Nilai ini disebut sebagai Daya Akomodasi Panggul (DAP).
Daya akomodasi panggul adalah Kemampuan suatu panggul
untuk dapat dilewati oleh anak terbesar, nilainya sama dengan
kapasitas terkecil bidang panggul tersebut.Bentuk dan ukuran
panggul pada wanita dewasa umumnya tetap seumur hidup, kecuali
jika ada pengaruh trauma, infeksi panggul, atau tumor. Begitu pula
daya akomodasi panggul wanita tersebut akan tetap. Sehingga jika
ada riwayat pemeriksaan panggul dengan radiologi (Roentgen, CT
scan

atau

ultrasonografi),

jika

tidak

ada

kecurigaan

yang

memungkinkan terjadi perubahan tersebut, pemeriksaan tidak perlu


diulangi lagi.
PINTU ATAS PANGGUL (PAP)
Pintu atas panggul adalah suatu bidang yang dibentuk oleh
promontorium, korpus vertebrae sacral 1, linea terminalis, pinggir atas
simfisis.Jarak dari pinggir atas simfisis ke promontorium (conjugata
vera) adalah 11cm.Jarak terjauh garis melintang (diameter transversa)
adalah 12,513 cm.Dari artikulasio sakroiliaka ke titik persekutuan
diameter transversa dan conjugata vera ke linea terminalis (diameter
oblique) adalah 13 cm.
Jarak bagian bawah
diagonalis)

secara

Diagonal1,5cm

statistik

Jarak

simfisis

ke

diketahui

dari

bagian

promontorium
Conjugata

dalam

(conjugata

Vera=Conjugata

tengah

simfisis

ke

promontorium (conjugata obstetrica).


Dalam obstetric dikenal 4 jenis panggul:
a. Ginekoid (45%)
Jenis yang paling baik, dimana bentuk PAP hampir bulat.
b. Android (15%)
PAP berbentuk segitiga. Umumnya bentuk ini dimiliki pria. Dimana
diameter

anterior-posterior

transversa, mendekati sakrum.


c. Antropoid (35%)

hampir

sama

dengan

diameter

PAP agak lonjong seperti telur. Panjang diameter anterior-posterior


lebih besar.
d. Platipelloid (15%)
Sebenarnya jenis ginekoid yang menyempit pada arah mukabelakang.
Untuk mengetahui ukuran pelvis secara tepat dengan pelvimetri
rontgen, namun hanya untuk indikasi tertentu seperti:
a. Feto-pelvic disproportion
b. Ada riwayat trauma
c. Penyakit tuberkulosa tulang panggul
d. Bekas SC dan rencana partus pervaginam pada letak sungsang,
presentsi muka, kelainan letak lain.
PINTUBAWAH PANGGUL (PBP)
Terdiri dari 2 bidang datar, yaitu bidang yang dibentuk oleh garis
antara kedua tuber ossis iskii dengan ujung os sacrum dan segitiga
lainnya dengan bagian bawah simfisis. Pinggir bawah simfisis berbentuk
melengkung ke bawah membentuk sudut (arkus pubis) normalnya
kurang lebih 900. Jarak antara kedua tuber ossis iskii (distansia
tuberum) kurang lebih 10,5 cm. pinggir bawah simfisis berbentuk
lengkung ke bawah dan merupakan sudut (arkus pubis).dalam keadaan
normal besarnya sudut ini 900 atau lebih sedikit. Bila kurang sekali
dari 900 ,maka kepala janin akan lebih sulit dilahirkan karna
memerlukan tempat lebih banyak ke dorsal. Dalam hal ini perlu di lihat,
apakah ujung os sacrum tidak menonjol ke depan hingga kepala janin
tidak dapat dilahirkan. Jarak antara kedua tuber ossis iskii (distansia
tuberum) tengah-tengah distansia tuberum ke ujung sacrum (diameter
sagitalis posterior) harus cukup panjang agar bayi normal dapat
dilahirkan.
RUANG PANGGUL (PELVIC CAVITY)
Di panggul tengah penyempitan dipanggul tengah setinggi spina
iskiadika (distansia interspinarum) kurang lebih 10,5 cm. Bidang terluas
pada pertengahan simfisis dengan os sacral. 2-3.
BIDANG HODGE
Kegunaannya untuk menentukan sampai mana bagian terendah
janin turun dalam panggul pada persalinan.
a. Hodge I: dibentuk oleh PAP (setinggi tepi atas simfisis sampai
promontorium)
b. Hodge II: sejajar HI dibagian bawah simfisis ( sejajar hodge
1setinggi tepi bawah simfisis)

c. H III: setinggi spina iskiadika (sejajar hodge 1setinggi spina


ischiadika)
d. H IV: setinggi os koksigeus (sejajar hodge 1setinggi tepi bawah os.
coccigys
UKURAN LUAR PANGGUL
a. conjugate veraperbatasan dari tepi atass simfisis sampai ke
promontorium tidak dapat di ukur secara klinis, ukuran normal 11
cm
b. conjugate diagonalistepi bawah simfisis sampai ke promontorium,
ukuran normal 12-13
c. diameter obliquemenyilang yaitu dari articulation saccroiliaka
sampai tuber pubicum, ukuran normal 12,5
d. Distansia intertrokanterika
e. diameter tranversaljarak antara linea terminalis kiri dan kanan,
ukuran normal 13,5
2. Bagian Lunak Jalan Lahir
Pada kala II yang ikut membentuk jalan lahir adalah segmen
bawah uterus dan vagina.
Otot dasar panggul dibagi:
a. Bagian luar: - m. Sfingter ani externus. - m.Bulbokavernosus
(mengelilingi vagina). - m. Perinei tansversus superfisialis
b. Bagian tengah: - m.Sfingter uretra, - m, iliokoksigeus,

m.Iskiokoksigeus, - m. Perinei transversus profundus


c. Bagian dalam: - diagfrahma pelvis, terutama m.levator ani.
Didalamnya berjalan n.pudendus masuk ke rongga panggul melalui
canalis Alcock (antara spina iskiadika dan tuber iskii) penting untuk
anestesi blok n.pudendus.
Otot-otot yang melingkari uretra (muskulus sfingter uretrae), otototot yang melingkar vagina bagian tengah dan anus, antara lain
profundus, dan muskulus levator ini adalah sedemikian rumah, sehingga
bagian depan muskulus coccigeous.
Patokan yang dipakai adalah ukuran panggul rata-rata perempuan
normal, yaitu:
a. Pintu atas panggul (pelvic inlet) minimal memiliki diameter 22 cm.
b. Pintu tengah panggul (mid pelvic) diameter minimalnya adalah 20
cm.
c. Pintu bawah panggul, panjang diameter normalnya rata-rata minimal
16 cm.
Bila ukuran rata-rata pintu panggul tersebut kurang, maka panggul
yang bersangkutan kurang sesuai untuk proses persalinan normal.

Namun, bisa saja dokter tetap mengusahakan agar bayi bisa keluar
secara alamiahBatas bawah pintu bawah panggul berbentuk segi empat
panjang, di sebelah anterior dibatasi oleh arkus pubis, di lateral oleh
tuber ischii, dan di posterior oleh os coccygeus dan ligamen
sacrotuberosum.
Pada panggul normal besar sudut (arkus pubis) adalah kurang
lebih 90o, lahirnya kepala janin lebih sulit karena ia memerlukan lebih
banyak tempat ke posterior.
Diameter anteroposterior pintu bawah panggul diukur dari aspeks
arkus pubis ke ujug os coccygeus.
B.

Pengertian Fraktur Pelvis


Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang yang ditandai oleh
rasanyeri, pembengkakan, deformitas, gangguan fungsi, pemendekan, dan
krepitasi. Fraktur adalah terputusnya jaringan tulang/tulang rawan yang
umumnya disebabkan oleh ruda paksa. Sehingga fraktur pelvis dapat
dikatakan sebagai trauma tulang rawan pada pelvis yang disebabkan oleh
ruda paksa, misal: kecelakaan, benturan hebat yang ditandai oleh rasa nyeri,
pembengkakan, deformitas, dan lain-lain.
Fraktur pelvis merupakan 5% dari seluruh fraktur. 2/3 trauma pelvis
terjadi akibat kecelakaan lalu lintas. 10% diantaranya disertai trauma pada
alat-alat dalam rongga panggul seperti uretra, buli-buli, rektum serta
pembuluh darah.
Fraktur pelvis berhubungan dengan injuri arteri mayor, saluran kemih
bagian bawah, uterus, testis, anorektal dinding abdomen, dan tulang
belakang. Dapat menyebabkan hemoragic (pelvis dapat menahan sebanyak
4 liter darah) dan umumnya timbul manifestasi klinis seperti hipotensi, nyeri
dengan penekanan pada pelvis, perdarahan peritoneum atau saluran kemih.
Fraktur pelvis berkekuatan-tinggi merupakan cedera yang
membahayakan jiwa. Perdarahan luas sehubungan dengan fraktur pelvis
relatif umum namun terutama lazim dengan fraktur berkekuatan-tinggi. Kirakira 1530% pasien dengan cedera pelvis berkekuatan-tinggi tidak stabil
secara hemodinamik, yang mungkin secara langsung dihubungkan dengan
hilangnya darah dari cedera pelvis. Perdarahan merupakan penyebab utama
kematian pada pasien dengan fraktur pelvis, dengan keseluruhan angka
kematian antara 6-35% pada fraktur pelvis berkekuatan-tinggi rangkaian
besar.

C.

Manifestasi Klinis

Fraktur panggul sering merupakan bagian dari salah satu trauma


multipel yang dapat mengenai organ-organ lain dalam panggul. Keluhan
berupa gejala pembengkakan, deformitas serta perdarahan subkutan sekitar
panggul. Penderita datang dalam keadaan anemia dan syok karena
perdarahan yang hebat.
Pengkajian awal yang perlu dilakukan adalah riwayat kecelakaan
sehingga luasnya trauma tumpul dapat diperkirakan. Sedangkan untuk
trauma penetrasi, pengkajian yang perlu dilakukan adalah posisi masuknya
dan kedalaman. Klien dapat menunjukkan trauma abdomen akut. Pada
kedua tipe trauma terjadi hemoragi baik baik internal maupun eksternal. Jika
terjadi rupture perineum, manifestasi peritonitis berisiko muncul,seluruh
drainase abdomen perlu dikaji untuk mengetahui isi drainase tersebut.
Bilas abdomen umumnya dilakukan untuk mengkaji adanya
perdarahan diseluruh abdomen yang mengalami luka, dengan cara
memasukkan cairan kristaloid ke dalam rongga peritoneum diikuti dengan
paracentesis (rainase isi abdomen).Catat dan dokumentasikan warna dan
jumlah drainase.
D.

Etiologi
1. Trauma langsung: benturan pada tulang dan mengakibatkan fraktur pada
tempat tersebut.
2. Trauma tidak langsung: bilamana titik tumpul benturan dengan terjadinya
fraktur berjauhan.
3. Proses penyakit: kanker dan riketsia.
4. Compresion force: klien yang melompat dari tempat ketinggian dapat
mengakibatkan fraktur kompresi tulang belakang.
5. Muscle (otot): akibat injuri/sakit terjadi regangan otot yang kuat sehingga
dapat menyebabkan fraktur (misal; elektrik shock dan tetani).

E.

Patofisiologi
Tulang bersifat rapuh namun cukup mempunyai kekuatan dan gaya
pegas untuk menahan. Tapi apabila tekanan eksternal yang datang lebih
besar dari yang dapat diserap tulang, maka terjadilah trauma pada tulang
yang mengakibatkan rusaknya atau terputusnya kontinuitas tulang. Setelah
terjadi fraktur, periosteum dan pembuluh darah serta saraf dalam korteks,
marrow, dan jaringan lunak yang membungkus tulang rusak.

Perdarahan terjadi karena kerusakan tersebut dan terbentuklah


hematoma di rongga medula tulang. Jaringan tulang segera berdekatan ke
bagian tulang yang patah. Jaringan yang mengalami nekrosis ini
menstimulasi terjadinya respon inflamasi yang ditandai dengan vasodilatasi,
eksudasi plasma dan leukosit, dan infiltrasi sel darah putih. Kejadian inilah
yang merupakan dasar dari proses penyembuhan tulang nantinya
Trauma biasanya terjadi secara langsung pada panggul karena
tekanan yang besar atau karena jatuh dari ketinggian. Pada orang tua
dengan osteoporosis dan osteomalasia dapat terjadi fraktur stress pada
ramus pubis.
F.

Klasifikasi
Menurut Marvin Tile disruption of pelvic ring dibagi :
1. Stable (Tipe A)
2. Unstable (Tipe B)
3. Miscellaneous (Tipe C)
Fraktur Tipe A: pasien tidak mengalami syok berat tetapi merasa nyeri
bila berusaha berjalan. Terdapat nyeri tekan lokal tetapi jarang terdapat
kerusakan pada visera pelvis.Fraktur Tipe B dan C: pasien mengalami syok
berat, sangat nyeri dan tidak dapat berdiri, serta juga tidak dapat kencing.
Kadang kadang terdapat darah di meatus eksternus. Nyeri tekan dapat
bersifat lokal tetapi sering meluas, dan jika menggerakkan satu atau kedua
ala ossis ilium akan sangat nyeri.

G. Pemeriksaan Penunjang
1.
Pemeriksaan radiologis:
a. Setiap penderita trauma panggul harus dilakukan pemeriksaan
radiologis dengan prioritas pemeriksaan rongent posisi AP.
b. Pemeriksaan rongent posisi lain yaitu oblik, rotasi interna dan eksterna
2.

H.

bila keadaan umum memungkinkan.


Pemeriksaan urologis dan lainnya:
a. Kateterisasi
b. Ureterogram
c. Sistogram retrograd dan postvoiding
d. Pielogram intravena
e. Aspirasi diagnostik dengan lavase peritoneal
Penatalaksanaan
1. Tindakan operatif bila ditemukan kerusakan alat alat dalam rongga
panggul
2. Stabilisasi fraktur panggul, misalnya:

a. Fraktur avulsi atau stabil diatasi dengan pengobatan konservatif


seperti istirahat, traksi, pelvic sling
b. Fraktur tidak stabil diatasi dengan fiksasi eksterna atau dengan operasi
yang dikembangkan oleh grup ASIF
Berdasarkan klasifikasi Tile:
1. Fraktur Tipe A: hanya membutuhkan istirahat ditempat tidur yang
dikombinasikan dengan traksi tungkai bawah. Dalam 4-6 minggu pasien
akan lebih nyaman dan bisa menggunakan penopang.
2. Fraktur Tipe B:
1. Fraktur tipe openbook
Jika celah kurang dari 2.5cm, diterapi dengan cara beristirahat
ditempat tidur, kain gendongan posterior atau korset elastis.Jika celah
lebih dari 2.5cm dapat ditutup dengan membaringkan pasien dengan
cara miring dan menekan ala ossis ilii menggunakan fiksasi luar
dengan pen pada kedua ala ossis ilii.
2. Fraktur tipe closebook
Beristirahat ditempat tidur selama sekitar 6 minggu tanpa fiksasi
apapun bisa dilakukan, akan tetapi bila ada perbedaan panjang kaki
melebihi 1.5cm atau terdapat deformitas pelvis yang nyata maka perlu
dilakukan reduksi dengan menggunakan pen pada krista iliaka.
3. Fraktur Tipe C
Sangat berbahaya dan sulit diterapi. Dapat dilakukan reduksi dengan
traksi kerangka yang dikombinasikan fiksator luar dan perlu istirahat
ditempat tidur sekurangkurangnya 10 minggu. Kalau reduksi belum
tercapai, maka dilakukan reduksi secara terbuka dan mengikatnya
dengan satu atau lebih plat kompresi dinamis.
I.

Komplikasi
1. Komplikasi segera
a. Trombosis vena ilio femoral : sering ditemukan dan sangat berbahaya.
Berikan antikoagulan secara rutin untuk profilaktik.
b. Robekan kandung kemih : terjadi apabila ada disrupsi simfisis pubis
atau tusukan dari bagian tulang panggul yang tajam.
c. Robekan uretra: terjadi karena adanya disrupsi simfisis pubis pada
daerah uretra pars membranosa.
d. Trauma rektum dan vagina
e. Trauma pembuluh darah besar yang akan menyebabkan perdarahan
masif sampai syok.
f.

Trauma pada saraf:

1) Lesi saraf skiatik: dapat terjadi pada saat trauma atau pada saat
operasi. Apabila dalam jangka waktu 6 minggu tidak ada perbaikan,
maka sebaiknya dilakukan eksplorasi.
2) Lesi pleksus lumbosakralis: biasanya terjadi pada fraktur sakrum
yang bersifat vertikal disertai pergeseran. Dapat pula terjadi
gangguan fungsi seksual apabila mengenai pusat saraf.
2. Komplikasi lanjut
a. Pembentukan tulang heterotrofik: biasanya terjadi setelah suatu
trauma jaringan lunak yang hebat atau setelah suatu diseksi operasi.
Berikan Indometacin sebagai profilaksis.
b. Nekrosis avaskuler: dapat terjadi pada kaput femur beberapa waktu
setelah trauma.
c. Gangguan pergerakan sendi serta osteoartritis sekunder : apabila
terjadi fraktur pada daerah asetabulum dan tidak dilakukan reduksi
yang akurat, sedangkan sendi ini menopang berat badan, maka akan
terjadi ketidaksesuaian sendi yang akan memberikan gangguan
pergerakan serta osteoartritis dikemudian hari.
d. Skoliosis kompensator
J.

Fokus Pengkajian
Pengkajian fraktur meliputi :

1. Aktivitas/istirahat
Tanda: Keterbatasan/ kehilangan fungsi pada bagian yang terkena
(mungkin segera, fraktur itu sendiri, atau trjadi secara sekunder, dari
pembengkakan jaringan, nyeri)

2. Sirkulasi
Gejala: Hipertensi (kadang-kadang terlihat sebagai respon terhadap
nyeri/ansietas), atau hipotensi (kehingan darah)

3. Neurosensori
Gejala : Hilang gerak/sensasi,spasme otot, Kebas/kesemutan (parestesis)
Tanda: Demormitas local; angulasi abnormal, pemendakan, ratotasi,
krepitasi (bunyi berderit, spasme otot, terlihat kelemahan atau hilang
fungsi).

4. Nyeri/kenyamanan

Gejala : Nyeri berat tiba-tiba pada saat cidera (mungkin terlokalisasi pada
ara jaringan/kerusakan tulang; dapat berkurang pada imobilisasi) tak ada
nyeri akibat kerusakan saraf.

5. Penyuluhan/Pembelajaran
Gejala : Lingkungan cidera
Pertimbangan : DRG menunjukkan rerata lama dirawat : femur 7-8 hari,
panggul/ pelvis 6-7 hari, lain-lainya 4 hari bila memerlukan perawatan
dirumah sakit

6. Rencana pemulangan :
Membutuhkan dengan transportasi, aktivitas perawatan diri, dantugas/
pemeliharaan rumah.
K.

Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri (biologi, kimia, fisik,
psikologis), kerusakan jaringan
2. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kehilangan integritas
struktur tulang, gangguan metabolisme sel, kerusakan muskuloskletal dan
neuromuskuler, nyeri.
3. Resiko infeksi berhubungan dengan kerusakan jaringan dan peningkatan
paparan lingkungan, prosedur infasif, pertahanan primer yang tidak
adekuat (kerusakan kulit, trauma jaringan)

L.

Intervensi Keperawatan
1. Nyeri akut (00132)
Definisi: sensori yang tidak menyenangkan dan pengalaman emosional
yang timbul dari kerusakan jaringan aktual atau potensial atau
penggambaran dari kerusakan (International association for the study of
pain); yang terjadi tiba-tiba atau secara pelan-pelan dari intensitas ringan
hingga berat dengan diantisipasi atau dapat diprediksi dan dalam waktu
kurang dari 6 bulan.
Defining characteristics :
a. Perubahan respirasi (normalnya 12-20x/menit)
b. Laporan secara verbal dari pasien
NOC (Nursing Outcome Classifications) :
a. Comfort level (tingkat kenyamanan)
Definisi : Perasaan fisik dan psikologi yang tenang
Indikator :
1) Melaporkan kesejahteraan fisik
2) Melaporkan kepuasan dengan kontrol gejala

3) Melaporkan kesejahteraan psikologis


4) Mengekspresikan kepuasan dengan kontrol nyeri
b. Pain Control (kontrol nyeri)
Definisi : Tindakan seseorang untuk mengatasi nyeri
Indikator :
1) Mengenal penyebab nyeri
2) Mengenal onset nyeri
3) Menggunakan tindakan pencegahan
4) Menggunakan pertolongan non-analgetik
5) Menggunakan analgetik dengan tepat
6) Mengenal tanda-tanda pencetus nyeri untuk mencari pertolongan
7) Menggunakan sumber-sumber yang ada
8) Mengenal gejala nyeri
9) Melaporkan gejala-gejala kepada tenaga kesehatan profesional
10) Melaporkan kontrol nyeri
c. Pain Level (Tingkat nyeri)
Definisi : Gambaran nyeri atau nyeri yang ditunjukkan
Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama 3 x 24 jam
pada pasien dengan gangguannyeri akut dapat teratasi dengan
kriteria:
1) Melaporkan nyeri berkurang
2) Tidak menununjukkan ekspersi wajah menahan nyeri
3) Mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab nyeri,

mampu

menggunakan tehnik nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri,


mencari bantuan)
4) Tidak mual
5) Tanda vital dalam rentang normal

Nursing Intervention Classification (NIC) Pain Acute


Intervensi
a. Kaji secara komphrehensif tentang nyeri, meliputi: lokasi, karakteristik
dan onset, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas/beratnya nyeri, dan
faktor-faktor presipitasi
b. Observasi isyarat-isyarat non verbal dari ketidaknyamanan, khususnya
dalam ketidakmampuan untuk komunikasi secara efektif
c. Gunakan komunikasi terapeutik agar pasien dapat mengekspresikan
nyeri
d. Tentukan dampak dari ekspresi nyeri terhadap kualitas hidup: pola
tidur, nafsu makan, aktifitas kognisi, mood, relationship, pekerjaan,
tanggungjawab peran

e. Berikan informasi tentang nyeri, seperti: penyebab, berapa lama


f.

terjadi, dan tindakan pencegahan


Kontrol faktor-faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi respon
pasien

terhadap

ketidaknyamanan

(ex:

temperatur

ruangan,

penyinaran, dll)
g. Ajarkan penggunaan teknik non-farmakologi (ex: relaksasi, guided
imagery, terapi musik, distraksi, aplikasi panas-dingin, massase,
TENS, hipnotis, terapi bermain, terapi aktivitas, akupresusure)
h. Tingkatkan tidur/istirahat yang cukup
i. Modifikasi kontrol nyeri sesuai respon pasien
j. Kolaborasi : Beri analgetik sesuai dengan indikasi
2. Gangguan mobilitas fisik (00085)
Definisi : keterbatasan pada kemandirian, pergerakan fisik dari tubuh
dengan maksud tertentu atau dari salah satu atau lebih dari ekstremitas.
Defining characteristics :
a. Keterbatasan pergerakan
b. Keterbatasan kemampuan untuk melakukan gerak yang benar
Faktor yang berhubungan :
a.
b.
c.
d.
e.

Intoleransi aktivitas
Kehilangan integritas dari struktur tulang
Gangguan musculoskeletal
Nyeri
Pembatasan bergerak sesuai medikasi dari medis

NOC (Nursing Outcome Classifications):


a.
b.
c.

Joint Movement : Active, Range of Motion pada sendi


Mobility Level : Kemampuan untuk bergerak dengan tujuan tertentu
Transfer performance
Setelah dilakukantindakan keperawatan gangguan mobilitas fisik
teratasi dengan kriteria hasil :
1) Klien meningkat dalam aktivitas fisik
2) Mengerti tujuan dari peningkatan mobilitas
3) Memverbalisasikan
perasaandalammeningkatkankekuatandankemampuanberpindah
4) Memperagakan penggunaan alat Bantu untuk mobilisasi (walker)
Nursing Intervention Classification (NIC) Gangguan Mobilitas Fisik

a.

Perawatan Bed Rest


Definisi: dukungan kenyamanan dan keamanan dan pencegahan
komplikasi pada pasien yang tidak mampu untuk turun dari tempat
tidur
Aktivitas
1) Jelaskan alasan mengapa pasien perlu bed rest
2) Jaga linen kasur tetap bersih, kering dan bebas dari kerutan

b.

3) Gunakan perlengkapan pelindung bagi pasien pada bed


4) Monitor kondisi kulit
5) Melakukan latihan rentang gerak aktif dan pasif
6) Tingkatkan kebersihan
7) Bantu aktivitas sehari-hari pasien
8) Monitor fungsi perkemihan
9) Monitor terhadap konstipasi
10) Monitor status pernafasan
Pengaturan posisi
Definisi: penentuan penempatan pasien atau bagian tubuh pasien
untuk mendukung fisik dan psikologis yang baik
Aktivitas
1) Membantu pasien dalam perubahan posisi
2) Monitor status oksigen/pernafasan sebelum
perubahan posisi dilakukan
3) Pemberian dukungan pada

bagian

dan

tubuh

setelah

yang

perlu

diimobilisasikan
4) Fasilitasi posisi yang mendukung ventilasi/perfusi
5) Lakukan latihan rentang gerak pasif dan aktif
6) Cegah penempatan pasien pada posisi yang dapat meningkatkan
nyeri
7) Minimalkan gesekan ketika positioning
8) Posisikan pasien pada posisi yang

mendukung

drainase

perkemihan
9) Posisikan pada posisi yang dapat mencegah penekanan pada luka
10) Instruksikan pasien terkait bagaimana postur yang baik
11) Atur jadwal perubahan posisi pada pasien
3. Resiko infeksi (00004)
Definisi : terjadi peningkatan resiko terhadap terjangkitnya organisme
patogenik
Faktor resiko :
a. Pertahanan primer yang inadekuat (kerusakan kulit, jaringan traumatis)
b. Prosedur invasif
c. Trauma
NOC (Nursing Outcome Classifications):
a. Immune Status : ketahanan (natural dan didapat) yang adekuat
terhadap antigen eksternal dan internal.
b. Knowledge : Infection control, Peningkatan pemahaman mengenai
pencegahan dan kontrol infeksi
c. Risk control : Tindakan untuk menghilangkan dan mengurangi
ancaman kesehatan yang aktual, personal, dan modifikasi

Setelahdilakukantindakankeperawatanpasientidakmengalamiinfeksi
dengankriteriahasil:
a.
b.
c.
d.
e.

Klien bebas dari tanda dan gejala infeksi


Menunjukkan kemampuan untuk mencegah timbulnya infeksi
Jumlah leukosit dalam batas normal
Menunjukkan perilaku hidup sehat
Status imun, gastrointestinal, genitourinaria dalam batas normal

Nursing Intervention Classification (NIC) Resiko Infeksi


a.

Kontrol Infeksi
Definisi: Meminimalkan paparan dan transmisi agen infeksi
Aktivitas

b.

1) Bersikan lingkungan secara tepat setelah digunakan oleh pasien


2) Ganti peralatan pasien setiap selesai tindakan
3) Gunakan sarung tangan steril
4) Lakukan perawatan aseptic pada semua jalur IV
5) Lakukan teknik perawatan luka yang tepat
6) Anjurkan istirahat
7) Berikan terapi antibiotik
Infection Protection (proteksi terhadap infeksi)
Definisi: Pencegahan dan deteksi dini infeksi pada pasien yang
beresiko
Aktivitas
1)
2)
3)
4)
5)

c.

Monitor tanda dan gejala infeksi sistemik dan lokal


Monitor angka granulosit, WBC dan hasil yang berbeda
Partahankan teknik aspesis pada pasien yang beresiko
Berikan perawatan kulit yang tepat pada area edematous
Inspeksi kulit dan membran mukosa terhadap kemerahan, panas,

atau drainase
6) Ispeksi kondisi luka
7) Dukungan masukkan nutrisi yang cukup
8) Dukungan masukan cairan
9) Instruksikan pasien untuk minum antibiotik sesuai resep
Skin surveillance/pengawasan terhadap kulit
Definisi:

Mengkoleksi

dan

menganalisis

data

pasien

untuk

mempertahankan integritas kulit dan membran mukosa


Aktivitas
1) Mengamati ekstremitas terhadap kemerahan, panas, bengkak,
tekanan, tekstur, edema dan ulserasi
2) Mengamati kulit dan membran mukosa terhadap kemerahan,
panas yang ekstrim, atau drainase
3) Monitor terhadap sumber penekanan dan friksi/gesekan
4) Monitor terhadap infeksi
d.

Perawatan luka

Definisi: Mencegah komplikasi luka dan meningkatkan kesembuhan


Aktivitas
1) Monitor karakteristik luka meliputi drainase, warna, ukuran dan
2)
3)
4)
5)
6)

bau
Pertahankan teknik steril dalam perawatan luka
Inspeksi luka setiap melakukan pergantian dreesing
Atur posisi untuk mencegah tekanan pada daerah luka
Tingkatkan intake cairan
Ajarkan pada pasien/anggota keluarga tentang

prosedur

perawatan luka
7) Ajarkan pada pasien/anggota keluarga tentang tanda dan gejala
infeksi
8) Dokumentasikan lokasi luka, ukuran, dan penampakannya.

DAFTAR PUSTAKA
Herdman, T. Heather.2009.Nursing Diagnoses : Definitions and Classification
2009-2011.USA : Wiley-Blackwell.
Johnson, M., Mass, M., Moorhead, S., 2000. Nursing Outcomes Classification
(NOC) second Edition. Missouri : Mosby
Dochterman, Joanne M., Bulecheck, Gloria N.2003.Nursing Intervention
classification (NIC) 4thEdition.Missouri : Mosby.

Pathway
Trauma langsung

Trauma tidak langsung

Kondisi patologis

FRAKTUR
Diskontinuitas tulang

Pergeseran fragmen tulang

Perubahan jaringan sekitar


Pergeseran fragmen tulang

Nyeri

Kerusakan fragmen tulng


Spasme otot

Laserasi kulit

Tekanan sumsum tulang > tinggi dari kapiler


Peningkatan tekanan kapiler
Terputusnya
vena/arteri
Kerusakan integritas kulit

Deformitas
Gangguan fungsi

Perdarahan
Kehilangan volume cairan

Gangguan mobilitas fisik

Reaksi stress klien

Pelepasan histamin

Melepaskan katekolamin

Protein plasma hilang

Memobilisasi asam lemak

Edema
Syok hipovolemik

Penekanan pembuluh darah Bergabung dgn teombosit

Penurunan perfusi jaringan

Emboli

Menyumbat pembuluh darah


Gangguan perfusi jaringan