Anda di halaman 1dari 17

LABORATORIUM PENGOLAHAN AIR DAN LIMBAH INDUSTRI

SEMESTER GENAP TAHUN AJARAN 2014/2015

MODUL

: Koagulasi - Flokulasi

PEMBIMBING

: Ir. Dwi Nirwantoro Nur, MT

Tanggal Praktikum : 7 April 2015


Tanggal Penyerahan :
(Laporan)

Oleh :
Kelompok

VI (Enam)

Nama

1. Nurul Fathatun

,121424023

2. Reni Swara M.

,121424026

3. Resza Diwansyah P

,121424027

4. Rinaldi Adiwiguna

,121424028

Kelas

3A

PROGRAM STUDI DIPLOMA IV TEKNIK KIMIA PRODUKSI BERSIH


JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG

2015

KOAGULASI FLOKULASI

I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sungai merupakan salah satu unsur penting dalam kehidupan manusia. Salah satu
manfaat sungai yang cukup penting adalah sebagai salah satu sumber air untuk
mendukung kebutuhan hidup manusia. Sebagai contoh, air sungai bisa dipergunakan
untuk mencuci, mandi, bahkan dapat diolah untuk menjadi air minum.
Namun dari waktu ke waktu fungsi sungai perlahan lahan berubah. Saat ini,
masyarakat cenderung membuang limbah rumah tangganya langsung ke sungai dan
menyebabkan air sungai menjadi tercemar oleh limbah domestik. Keadaan sungai yang
pada awalnya bersih berubah menjadi kotor dan keruh.
Untuk memenuhi kebutuhan air bersih bagi masyarakat diperlukan penanganan
khusus agar kualitas air sungai sesuai dengan standar. Ada beberapa contoh pengolahan
air diantaranya pengolahan secara fisis, kimiawi dan biologis. Pada pengolahan secara
fisis, cara yang bisa dilakukan adalah filtrasi dan sedimentasi. Pada pengolahan secara
biologis, biasanya dilakukan untuk membunuh mikroorganisme yang patogen yaitu
dengan pemberian bahan desinfektan. Pada pengolahan secara kimiawi, dilakukan dengan
cara menambahkan suatu senyawa kimia yang biasanya disebut dengan koagulan dan
flokulan. Saat ini, metode yang paling banyak digunakan untuk mengolah air, yaitu
metode kimiawi dan pengolahan secara fisis.
Pada dasarnya air sungai mengandung partikel-partikel koloid yang sulit untuk
mengendap dengan gaya gravitasi, sehingga diberi penambahan koagulan serta flokulan
agar partikel-partikel koloid dapat mengendap. Umumnya koagulan yang sering
digunakan adalah Alumunium Sulfat atau biasa disebut dengan tawas.
Untuk mengetahui kualitas air dalam suatu perairan, dapat dilakukan dengan
mengamati parameter kimia, fisika, biologi seperti uji oksigen terlarut (DO), kebutuhan
oksigen biokimia (BOD), kebutuhan oksigen kimia (COD), partikel tersuspensi, sulfida,
pH, bau rasa dan kekeruhan (Nur Azman, 2006). Namun pada praktikum kali ini hanya
untuk mengetahui total padatan tersuspensi (TSS), pH, dan kekeruhan air sungai tersebut.

1.2 Tujuan
a. Menentukan dosis optimum untuk koagulan dan flokulan yang digunakan
b. Mengetahui pengaruh koaagulan terhadap pengurangan kekeruhan
c. Mengetahui pengaruh penambahan flokulan pada pengendapan
II. DASAR TEORI
2.1 Air permukaan
Air permukaan aalah air yang bersumber dari air hujan yang mengalir di
permukaan bumi dan berkumpul di suatu tempat yang relatif rendah, termasuk di
dalamnya air buangan bekas aktifitas manusia (Kusumawati,2009).
Besar air baku untuk penyediaan air bersih diambil dari air permukaan seperti air
sungai dan air danau. Air permukaan banyak digunakan sebagai sumber air baku karena
ketersediaannya yang melimpah dan murah.
2.1.1

Jenis air permukaan


Menurut Hendro David P (2010) air permukaan berdasarkan jenisnya dapat dibagi

menjadi 2 (dua) yaitu:


a. perairan darat
perairan darat adalah air permukaan yang berada di atas daratan
b. perairan laut
perairan laut adalah air permukaan yang berada di lautan luas
2.1.2

Karakteristik air permukaan


Karakteristik air permukaan secara umum dapat diuraikan sebagai berikut:
1. berdasarkan kuantitas
a. dipengaruhi oleh musim
b. terpengaruh oleh sumber, sifat dan luas area
2. berdasarkan kualitas
a. mengandung zat organik dan zat anorganik
b. jenis dan kadar zat organik,anorganik tergantung pada :
- kadar pencemaran
- jenis tanah yang dilaui oleh sungai tersebut
3. sungai membawa zat padat yang berasal dari erosi dan penghancuran zat-zat
organis dan garam mineral sesuai dengan jenis tanah yang dilalui
4. pada saat melalui daerah pemukiman dan industri maka akan mengalami
pencemaran baik dari rumah tangga dan industri.

2.1.3

Pengolahan air permukaan


Teknologi pengolahan yang digunakan untuk masing-masing sumber air baku

yang memanfaatkan air permukaan agak berlainan karena karakteristik pengotor juga
berbeda. Pada umumnya air sungai banyak mengandung padatan tersuspensi yang
menyebabkan air sungai terlihat keruh sehingga teknologi yang umumnya digunakan
adalah proses koagulasi-flokulasi, sedimentasi, filtrasi, adsorbsi karbon aktif. Pengolahan

ini akan menghasilkan air bersih secara visual dan akan didistribusikan ke unit pabrik
maupun untuk keperluan warga sipil.

Pembubuhan koagulan

Pengadukan cepat Pengadukan


(koagulasi) lambat (flokulasi)

Air baku

sedimentasi

filtrasi
Gambar 2.1 skema instalasi pengolahan air dari sumber air permukaan

2.2 Koloid
koloid merupakan salah satu penyebab kekeruhan pada air. Partikel koloid yang
biasa terdapat di dalam air permukaan diantaranya adalah humus, tanah liat, silika dan
virus (Hendro David P,2010). Stabilitas koloid sangat penting dalam proses koagulasi
flokulasi untuk menghilangkan koloid-koloid yang tergantung pada ukuran partikel dan
muatan elektrik dan dipengaruhi oleh media pendispersi seperti kekuatan ion dan pH.

2.2.1

Karakteristik Koloid
Ciri penting dari suatu koloid padat yang terdispersi dalam air yaitu partikel-

partikel padat yang tidak akan mengendap karena gaya gravitasi. Ukuran partikelnya
berkisar dari 0,1 milimikron (10-10) sampai 100 mikron (10-5) (Hendro David P, 2010).
Menurut Rufiani widyawati (1983) partikel-partikel koloid dalam air baku setiap
daerah mempunyai sifat umum, diantaranya :
1. Bermuatan listrik
Sifat yang menyebabkan partikel koloid dalam keadaan stabil dimana muatan partikel
koloid saling tolak menolak dan tidak dapat membentuk partikel yang lebih besar
akibatnya partikel stabil dan sulit untuk mengendap.
2. Sifat adsorpsi

Koloid cenderung melakukan adsorpsi.Partikel koloid yang terdispersi dalam air


berukuran antara 1-10m. Karena ukurannya sangat kecil massanya pun sangat kecil
dan sulit untuk diendapkan.
3. Sifat hidrasi
Sifat ini erupakan sifat koloid yag mempunyai daya gabung terhadap media air.
2.3 Parameter kualitas air
Mengacu pada peraturan pemerintah Republik Indonesia Nomor 82 Tahun 2001
tentang pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran air bahwa setiap kriteria
mutu air sesuai dengan kriteria mutu air.Kriteria mutu air adalah tolak ukur mutu air
untuk setiap kelas air.Baku mutu air ditetapkan berdasarkan kreiteria mutu air.
Sesuai dengan ruang lingkup penulisan penelitian ini, parameter kualitas air yang
diperiksa dilakukan terhadap parameter penting yang mempengaruhi terhadap proses
koagulasi dan flokulasi. Parameter yang dikaji adalah kekeruhan dan pH
2.3.1

Kekeruhan
Kekeruhan atau turbidity adalah kondisi keberadaan partikel koloid dan suspensi

dari suatu bahan pencemar.Bahan-bahan pencemar tersebut berupa bahan organik da


bahan anorganik yang terkandung dalam perairan. Kekerhan ini disebabkan zat-zat
tersuspensi dengan ukuran partikel antar koloid sampai dengan partikel lumpur kasar
(Hendro David P,2010).
Air keruh adalah air yang banyak mengandung partikel tersuspensi yang dapat
menghalangi penetrasi sinar ke dalam air (Hendro David P,2010). Semakin banyak
partikel tersuspensi semakin sedikit sinar yang dapat melewati partikel tersebut.
Kekeruhan pada air sungai dapat disebabkan oleh adanya sedimen sehingga
menutupi substansi dasar air sungai.kekeruhan pada sungai juga tergantung pada jenis
dasar sungai, polutan, ataupun biota yang hidup di sungai.
Adapun partikel yang dapat menjadikan iar menjadi keruh adalah :
-

tanah liat
endapan
zat organik dan bukan anorganik yang terbagi dalam butir-butir halus
campuran warna organik yang bisa dilarutkan

2.3.2

plankton
jasad renik (makhluk hidup yang sangat kecil)
pH
Pembebasan pH (derajat keasaman) dilakukan karena akan mempengaryhi rasa

korosifitas air dan efisiensi penggunaan klorin. Beberapa senyawa asam dan basa kebih
toksik dalam bentuk molekuler dimana disosiasi senyawa-senyawa tersebut dipengaruhi
oleh pH. Selain itu pH air juga akan mempengaruhi efisiensi proses pengolahan air
(Hendro David P,2010).
2.4 Prinsip dasar koagulasi dan flokulasi
Koagulasi dapat didefinisikan sebagai destabilisasi muatan pada koloid dan
partikel tersuspensi. Proses koagulasi dapat disebut juga flash mixing process karena
proses berlangsung secara cepat.
Agar terjadi tumbukan antar partikel koloid maka daya tolak menolak diantara
partikel yang bermuatan negatif harus dinetralkan dengan menambahkan koagulan yang
bermuatan positif (Linvil,1965). Proses penambahan koagulan tersebut disebut dengan
proses koagulasi.

Gambar 2.2. Proses koagulasi


Proses koagulasi berintegrasi langsung dengan proses flokulasi. Kontak antar
permukaan dapat terjadi kerena proses flokulasi. Flokulasi merupakan proses kontak dan
ahdesi antara partikel sehingga membentuk partikel yang memiliki ukuran partikel yang
lebih besar. Partikel yang berada dalam keadaan tidak stabil akan cepat bergumpal. Akan
tetapi apabila semua partikel dalam keadaan tidak stabil maka proses flokulasi akan
berjalan lambat.

Cara memperkecil jarak antar partikel atau menambah frekuensi tumbukan antar
partikel adalah dengan pemberian daya atau power input sehingga air tersebut mengalami
turbulensi.

Gambar 2.3. Proses flokulasi


Secara umum proses koagulasi bertujuan untuk :
-

Mengurangi kekeruhan akibat adanya partikel koloid anorganik maupun organik

di dalam air
Mengurangi warna yang diakibatkan oleh partikel koloid yang terkandung di

dalam air.
Mengurangi jumlah bakteri patogen yang terkandung di dalam air, alga dan

organisme lain
Mengurangi rasa dan bau yang diakibatkan adanya partikel koloid di dalam air.

Faktor yang mempengaruhi proses koagulasi dan flokulasi adalah :


a. Jumlah tumbukan atau benturan
Jumlah benturan memungkinkan penggabungan flok sangat bergantung pada
diameter partikel serta besarnya gradien kecepatan.
b. Pengaruh gradien kecepatan
Gradien kecepatan rata-rata dikolerasikan dengan daya pengadukan
c. Pengaruh temperatur
Temperatur mempengaruhi besarnya viskositas. Semakin besar temperatur maka
semakin kecil nilai viskositasnya, maka kecepatan pengendapan akan semakin
tinggi.
d. Pengaruh pH
Destabilisasi partikel koloid dengan penambahan koagulan untuk menghasilkan
flok yang baik harus terjadi pada kondisi pH yang optimum.Hal ini berkaitan
dengan kelarutan koagulan tersebut di dalam air dengan pH tertentu. Besarnya

range pH dipengaruhi oleh jenis dan dosis koagulan yang digunakan serta
komposisi kimia dari air baku tersebut.
e. Pengaruh alkalinitas
Alkalinitas air seperti ion karbonat (HCO3) membantu pembentukan flok dengan
peran memproduksi ion-ion hidroksida pada reaksi hidrolisa koagulan.
f. Pengaruh kekeruhan air
Tingkat kekeruhan air berpengaruh terhadap mekanisme pembentukan flok. Pada
air dengan kekeruhan rendah proses destabilisasi partikel koloid akan semakin
sulit. Pada air dengan kekeruhan tinggi ketidakstabilan koloid akan terjadi dengan
cepat.
2.5 Prinsip Jar Test
Untuk menentukan dosis yang optimal flokulan dan nilai-nilai parameter lain
seperti

pH,jenis

flokulan

yang

digunakan

dalam

proses

flokulasi

dan

sebagainya,dilakukan proses jartest. Jartest merupakan model sederhana proses flokulasi.


Proses flokulasi sebenarnya tidak dapat terganggu (Alaerts,1987) . Namun
efisiensi proses tersebut sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti kadar dan jenis
zat tersuspensi, pH larutan, kadar dan jenis flokulan, waktu dan kecepatan pengadukan an
adanya beberapa macam ion terlarut yang tertentu ( contohnya posfat). Apabila faktor
tersebut tidak optimal dapat menghalangi proses flokulasi. Jar test dapat digunakan untuk
mencari nilai-nilai yang optimal melalui percobaan dalam laboratorium.
Sesuatu larutan kolodial yang mengandung partikel-partikel kecil dan koloid dapat
dianggap stabil bila :
a. Partikel kecil terlalu ringan untuk mengendap dalam waktu yang lama
b. Partikel tersebut tidak dapat menyatu bergabung dan membentuk partikel yang
lebih besar dan berat. Karena muatan elektris pada permukaan parikel setanda.
Sehingga adddaaa repulsi antara partikel satu dengan yang lainnya.
Dengan pembubuhan flokulan maka stabilitas partikel akan terganggu. Hal ini
disebabkan :
a. Molekul dari flokulan dapat menempel pada permukaan koloid dan mengubah
muatan elektrisnya.

b. Flokulan dapat mengendap sebagai flok yang dapat mengurung koloid dan
menarik partikel tersebut ke bawah.
2.6 Bahan kimia ntuk proses koagulasi dan flokulasi
Secara umum bahan kimia untuk proses koagulasi dan flokulasi dapat
dikategorikan menjadi:
2.6.1

Koagulan
Bahan kimia yang dignakan pada proses koagulasi disebut dengan koagulan.

Funsi dari koagulan adalah untuk mengurangi kekeruhan warna dan bau dalam air yang
mempengaruhi kualitas air.
Koagulan adalah zat kimia yang menyebabkan destabilisasi muatan negatif
partikel di dalam suspensi. Zat ini merupkan donor muatan positif yang digunakan untuk
mendestabilisasi muatan partikel ( Hendro david P,2010).
Saat ini banyak koagulan yang dapat digunakan dalam proses koagulasi,
diantaranya :
Nama
Aluminium

Formula
Al2(SO4)3.xH2O

sulfat, alum

Bentuk
Bongkah

Reaksi dengan air


Asam

pH optimum
6,0-7,8

bubuk

sulfat,salum
Sodium

NaAlO2 atau

bubuk

Basa

6,0-7,8

aluminat
Poli

Na2Al2O4
Aln(OH)mCl3n-m

Cairan,bubuk

Asam

6,0-7,8

(PAC)
Ferri sulfat
Ferri klorida

Fe2(SO4)3.9H2O
FeCl3.6H2O

Kristal halus
Bongkah,caira

Asam
Asam

4,0-9,0
4,0-9,0

Ferri sulfat

FeSO4.7H2O

aluminium
klorida

2.6.2

n
Kristal halus
Asam
Sumber : hendro david P,2010

>8,5

Flokulan
Flokulan merupakan bahan kimia yang digunakan dalam proses flokulasi yang

dapat menggumpalkan partkel-partikel kecil menjadi gumpalan. Bahan yang biasa


digunakan adalah polimer dengan molekul panjang dari bahan alami atau sintetik yang
mempunyai gugus aktif dan kemampuan untuk disosiasi.

Polimer

mahal
terdiri atas beberapa jenis :
polimer kationik, bermuatan positif,contohnya poliamin
polimer anionik,bermuatan negatif,contohnya poliakrilik, untuk
pH basa
polimer nonionik, tidak bermuatan, contohnya poliakrilamid,untuk

pH netral
bentuk : padatan,cairan emulsi,cairan kental,cairan basa
kemurnian dan kelarutan tinggi
endapan sangat sedikit
dosis rendah antara 1-3 ppm
Sumber : utilitas 1

III.METODOLOGI PERCOBAAN
3.1 Alan dan Bahan
Alat
Turbidimeter
pH meter
Peralatan jartest
Gelas kimia 1000 mL
Gelas kimia 100 mL
Gelas ukur 1000mL
Pipet Volum 10 ml
Kerucut inhoff
Bola hisap

Jumla
h
1 unit
1 unit
1 unit
8 buah
2 nuah
1 buah
1 buah
12 buah
1 buah

Bahan

Jumlah

Limbah pertanian (sungai sebrang

15 liter

POLBAN)
PAC
Flokulan quaclear

1%
0,1%

3.2 Langkah Kerja


a. Penentuan Dosis Optimum Koagulan

mengukur pH sampel

mencatat tinggi endapan


dari masing-masing
kerucut

membuat grafik
hubungan volume
koagulan terhadap
kekeruhan dan grafik
hubungan koagulan
terhadap tinggi endapan

mengukur kekeruhan
sampel

mengukur kekeruhan
masing-masing sampel

menentukan dosis
optimum koagulan

memasukkan 800 mL
sampel ke dalam gelas
kimia 1000 mL (6 buah)

menuangkan sampel ke
dalam kerucut secara
bersamaan (6 buah), dan
biarkan selama 1 jam

menambahkan koagulan
masing-masing 2 mL, 6
mL, 10 mL, 14 mL, 18
mL, 22 mL

melakukan pengadukan
dengan pengaduk
JARTEST pada
kecepatan 100 rpm
selama 1 menit

b. Penentuan Dosis Optimum Koagulan

memasukkan 800
mL sampel ke
dalam gelas kimia
1000 mL (6 buah)

mengukur pH
masing-masing
sampel

mencatat tinggi
endapan dari
masing-masing
kerucut

menambahkan
koagulan masingmasing 18 mL

mengukur
kekeruhan masingmasing sampel

membuat grafik
hubungan volume
flokulan terhadap
kekeruhan dan
grafik hubungan
flokulan terhadap
tinggi endapan

menambahkan
flokulan masingmasing 1 mL, 2 mL,
3 mL, 4 mL, 5 mL, 6
mL.

menuangkan
sampel ke dalam
kerucut secara
bersamaan (6
buah), dan biarkan
selama 1 jam

menentukan dosis
optimum flokulan

melakukan
pengadukan
dengan pengaduk
JARTEST pada
kecepatan 100 rpm
selama 1 menit

melakukan
pengadukan
dengan pengaduk
JARTEST pada
kecepatan 60 rpm
selama 10 menit

3.3 Data Pengamatan dan Pengolahan Data


3.3.1 Penentuan Koagulan Optimum
Kondisi umpan:
Kekeruhan

: 35,28 NTU

pH

: 6,68

Volume
koagulan (ml)
2
6
10
14
18
22

Kekeruhan
(NTU)
12.89
5.42
5.38
5.87
5.99
7.91

Volume
endapan (ml)
2.5
4.25
6
6.5
13
12

Konsentrasi
koagulan (ppm)
25
75
125
175
225
275

Grafik Hubungan Volume Koagulan terhadap Kekeruhan dan Tinggi


Endapan

14
12
10
8
6

Volume endapan
Kekeruhan

4
2
0
0

50

100

150

200

250

300

Konsentrasi koagulan (ppm)

3.3.2

Penentuan Flokulan Optimum


Berdasarkan Grafik yang terbentuk diatas, volume koagulan yang paling

optimum adalah 18 mL sehingga pada penentuan Flokulan optimum digunakan


volume koagulan sebesar 18 mL pada setiap sampel
Volume koagulan: 18 mL
Volume
flokulan (ml)
0
1
2
3
4
5
6

Kekeruhan
(NTU)
9.62
6.62
6.71
7.31
7.14
5.81

Volume
endapan (ml)
9.5
12
10
7.5
9
9.5

pH
6.53
4.48
4.58
4.74
4.76
4.75
4.75

Konsentrasi
flokulan (ppm)
1.25
2.5
3.75
5
6.25
7.5

Grafik Hubungan Volume Flokulan terhadap Kekeruhan dan Tinggi


Endapan
7
6
5

4.75

4
Kekeruhan
Volume Endapan
pH

3
2
1
0
0

Konsentrasi Flokulan (ppm)

Berdasarkan grafik yang terbentuk di atas didapatkan volume optimum flokulan


adalah sebesar 0 ml
IV. PEMBAHASAN
Pada praktikum ini, dilakukan penentuan kadar optimum koagulan untuk
pengolahan air sungai limbah pertanian yang berada di daerah Sarijadi, Bandung. Air
limbah memiliki kekeruhan sebesar 35,28 NTU dan pH 6,68. Koagulan Polyaluminum
Chloride (PAC) dapat bekerja pada rentang pH 6 sampai dengan 9. Sehingga,
penambahan koagulan PAC tepat apabila langsung ditambahkan pada air limbah tersebut.
Pada saat penentuan kadar koagulan, variasi konsentrasi koagulan yang
ditambahkan adalah 25 ppm, 75 ppm, 125 ppm, 175 ppm, 225 ppm, dan 275 ppm.
Penentuan dilakukan pada metoda jartest selama 1 menit dengan kecepatan 100 kali
putaran per menit. Tujuan pengadukan ini adalah untuk mempertemukan partikel koloid
dan koagulan, sehingga semakin cepat pengadukan maka akan semakin cepat berkontak.
Setelah pengadukkan, air limbah diendapkan pada imhoff cone selama 1 jam.
Dari hasil percobaan, volume endapan yang paling banyak yaitu sebesar 13 ml,
merupakan akibat dari penambahan koagulan sebesar 225 ppm. Selain itu, kekeruhannya
pun kecil. Maka, semakin tinggi kadar koagulan, semakin banyak pula endapan yang
terebentuk. Namun, apabila kadar koagulan yang ditambahkan terlalu banyak, maka
justru akan memperkeruh air limbah. Terbukti dari penambahan koagulan sebanyak 275
ppm yang memiliki kekeruhan tinggi dan volume endapan yang lebih sedikit. Koagulan
yang terlalu banyak akan membuat zat padat dalam air menjadi tersuspensi yang

terapung-apung pada badan air yang akhirnya malah mengotori. Oleh karena itu,
pemberian koagulan harus efisien dan menghasilkan produk air bersih seoptimal
mungkin.
Koagulasi memiliki kemampuan untuk menjadikan partikel koloid tidak stabil
sehingga partikel siap membentuk flok (gabungan partikel kecil). Flok dari partikelpartikel tersebut selanjutnya digabungkan menjadi ukuran dan beratnya yang lebih besar
agar mudah mengendap melalui proses flokulasi. Flokulan yang ditambahkan yaitu Poli
Akril Amida (PAA) yang merupakan cairan yang sangat viskos, sulit larut dalam air,
sehingga kadar yang ditambahkan hanya sedikit saja. Dalam pengolahan air, PAA
merupakan suatu polielektrolit yang memiliki berat molekul yang sangat tinggi sehingga
efektif untuk menggabungkan flok menjadi ukuran yang lebih besar. Untuk mengetahu
pengaruh penambahan flokulan, caranya yaitu menambahan kadar koagulan optimal dari
percobaan sebelumnya, kemudian ditambahkan dengan flokulan dengan kadar 1,25 ppm,
2,5 ppm, 3,75 ppm, 5 ppm, 6,25 ppm, dan 7,5 ppm.
Penentuan dilakukan pula dengan metoda jartest selama 10 menit dengan
kecepatan 60 kali putaran per menit. Pengadukan yang lebih lambat ini bertujuan untuk
menggumpalkan flok-flok menjadi ukuran yang lebih besar, kemudian akan beragregasi
dengan partikel-partikel tersuspensi lainnya. Pengadukan pelan akan memperpendek jarak
antar partikel sehingga gaya tarik menarik antar partikel menjadi lebih besar dan dominan
dibanding gaya tolaknya, yang menghasilkan kontak dan tumbukan antar partikel yang
lebih banyak dan lebih sering. Kontak inilah yang menggumpalkan flok-flok bmenjadi
lebih besar.
Dari hasil percobaan, penambahan flokulan tidak menurunkan kekeruhan air,
tetapi justru sebaliknya. Volume endapan yang didapatkan pun lebih kecil dari 13 ml, atau
lebih

kecil

dari

hasil

penambahan

kadar

optimum

koagulan.

Hal

tersebut

mengindikasikan bahwa penambahan flokulan tidak selalu memberikan air hasil


penjernihan yang baik karena pembentukkan flok yang terlalu besar mengakibatkan flokflok tersebut mengapung pada badan air sehingga menjadikan air menjadi keruh. Selain
itu, penambahan koagulan PAC dan flokulan PAA membuat air olahan menjadi asam (pH
sekitar 4). Hal tersebut diakibatkan karena terdapatnya ion hidrogen bebas yang
dihasilkan dari reaksi hidrolisis yaitu ketika koagulan bereaksi dengan air. Secara umum,
semakin banyak koagulan yang digunakan maka penurunan pH akan semakin tinggi.
Menurut praktikan, proses yang optimal merupakan yang memilki kekeruhan kecil
dan volume endapan yang besar. Dari hasil praktikum, hasil optimal didapatkan akibat

dari penambahan 225 ppm koagulan dan 0 ppm flokulan, menjadikan air olahan memiliki
kekeruhan 5,99 NTU. Dapat dikatakan pula untuk keefektifan koagulan dalam
menjernihkan air limbah hasil pertanian ini, berdasarkan data kekeruhan adalah sebesar
83%.

V. SIMPULAN

Air limbah yang dianalisis memiliki kekeruhan sebesar 35,28 NTU dan pH 6,68,
sehingga koagulan PAC dapat langsung digunakan karena bekerja pada rentang

pH 6-9
Pada saat penentuan kadar koagulan, variasi konsentrasi koagulan yang
ditambahkan adalah 25 ppm, 75 ppm, 125 ppm, 175 ppm, 225 ppm, dan 275

ppm. Penentuan dilakukan pada metoda jartest


Pengadukan pada penentuan koagulan bertujuan untuk mempercepat pertemuan

antar partikel sehingga lebih mudah membentuk endapan yang lebih besar.
Dengan demikian, dapat ditentukan dosis koagulan optimum, dilihat dari
banyaknya endapan, namun tidak menambah kekeruhan limbah karena
penambahan koagualan yang berlebihan. Adapun dosis koagulan optimum yang

didapatkan adalah 225 ppm


Setelah itu, dilakukan penetapan dosis flokulan optimum dengan metode jartest
namun dengan pengadukan yang lebih lambat agar endapan yang terbentuk tidak
pecah. Adapun variasi kadar flokulan adalah 1,25 ppm, 2,5 ppm, 3,75 ppm, 5

ppm, 6,25 ppm, dan 7,5 ppm.


Dari hasil percobaan, penambahan flokulan tidak menurunkan kekeruhan air,

tetapi justru sebaliknya.


Dari hasil praktikum, hasil optimal didapatkan akibat dari penambahan 225 ppm
koagulan dan 0 ppm flokulan, menjadikan air olahan memiliki kekeruhan 5,99
NTU.

DAFTAR PUSTAKA

Patar, Hendro David. 2010. Evaluasi Pemakaian Koagulan untuk menentukan kekeruhan
air baku pada mini trestment Cibeureum PDAM kota Bandung.
Bandung
Santika, Sri Sumestri. 1987. Metoda Penelitian Air. Surabaya: Usaha Nasional