Anda di halaman 1dari 10

Ion Exchange

A. Tujuan percobaan
- Praktikan diharapkan dapat memahami prinsip kerja alat ion exchange pada proses
pelunakan air dan demineralisasi air
- Praktikan dapat mengetahui aplikasi alat ion exchange pada dunia industri
B. Teori
Ion exchange adalah suatu proses untuk pemurnian air dimana ion-ion dalam suatu
larutan ditukar dengan suatu penukar ion (berupa resin), padatan, gel. Tipe-tipe penukar
ion adalah resin penukar ion, zeolite, montmorillonite, tanah liat dan humus. Penukar ion
adalah suatu penukar kation untuk anion bermuatan positf dan penukar anion untuk ion
bermuatan negatif. Pertukaran ion adalah suatu proses reversible dimana penukar ionnya
dapat diregenerasi mealui suatu pencucian dengan suatu kelebihan ion yang dapat ditukar.
Resin penukar ion adalah suatu strukur polimer yang mengandung suatu gugus aktif
yang terikat pada kerangka organik. Proses pembentukan resin terdiri dari dua tahap yaitu
pembentukan gugus aktif. Umumnya untuk pembentukan kerangka biasa dipakai cross
linked polystirene yang dibentuk dari tetesan cairan monomer yang disuspensikan dalam
air. Dari proses tersebut diperoleh butiran yang keras, transparan, tidak berwarna dan
kedap air. Butiran-butiran ini belum memiliki sifat penukar ion. Tahap selanjutnya
pembentukan gugus aktif pada butiran-butiran tersebut. Ada dua macam resin penukar
ion, yaitu:
a. Anion exchange resin (resin penukar anion), yaitu resin yang mempunyai kemampuan

menyerap/menukar anion-anion yang ada dalam air. Resin ini biasanya berupa gugus
amin aktif. Misalnya : R NH2 (primary amine), R R1NH (secondery amine), R
R21N (tertiary amine), R R31 NOH (quartenary amine). Dalam notasi diatas R
menunjukan polimer hidrokarbon dan R1 menunjukkan gugus tertentu misalnya CH2.
b. Cation exchange resin (resin penukar kation), yaitu resin yang mempunyai

kemampuan menyerap/ menukar kation-kation seperti Ca, Mg, Na dsb. Yang ada
dalam air. Contoh: Hidrogen zeolith (H2Z).
Pertukaran ion melibatkan butiran-butiran resin dengan permukaan yang bermuatan
positif (kation) atau negatif (anion). Biasanya resin-resin tersebut memiliki pori-pori kecil
untuk menambah luas permukaan kontak. Sebagai contoh gambaran, salah satu jenis resin

ion exchange adalah berupa molekul ikatan hidrokarbon kompleks yang sangat panjang
dengan ujung rantai mengikat ion H+ untuk resin kation, dan OH- untuk resin anion.
Sifat-sifat resin yang baik adalah sebagai berikut:

Mempunyai kapasitas ikatan silang yang kuat yang dapat menghilangkan

sejumlah ion tertentu


Resin dengan ukuran partikel kecil akan semakin baik, sebab dibutuhkan luas

kontak yang besar


Resin mempunyai stabilitas yang dapat digunakan dalam waktu yang lama, tidak

mudah aus/rusak dalam regenerasi


Kapasitas total yang tinggi. Maksudnya resin memiliki kapasitas pertukaran ion

yang tinggi.
Kelarutan yang rendah dalam berbagai larutan sehingga dapat berulang- ulang.
Resin akan beroperasi dalam cairan yang mempunyai sifat melarutkan, karena

yaitu resin harus tahan terhadap air


Kestabilan kimia yang tinggi. Resin diharapkan dapat bekerja pada range pH yang
luas serta tahan terhadap asam dan basa. Demikian pula terhadap oksidasi dan

radiasi.
Kestabilan fisik yang tinggi. Resin diharapkan tahan terhadap tekanan mekanis,
tekanan hidrostatis cairan serta tekanan osmosis.

Contoh resin penukar ion

Proses Pertukaran Ion


Proses pertukaran ion dalam resin dibagi menjadi 2 macam proses, yaitu:

1. Proses Softening (Pelunakan)


Proses pelunakan termasuk dalam proses pertukaran ion untuk menghilangkan
ion-ion terlarut yang tidak dapat dihilangkan melalui proses klarifikasi dan flokulasi.
Proses softening air dapat digunakan untuk menghilangkan zat-zat kimia pengeras air,
yakni ion kalsium dan magnesium.

Pertukaran Kation Pada Proses Softening Air


Jika R adalah senyawa resin, maka reaksi pertukaran ion kalsium yang terjadi
pada proses softening air adalah sebagai berikut:
2 RNa + Ca2+ R2Ca + 2 Na+
Pada proses softening air, pertukaran ion terjadi pada saat air dengan
kandungan ion kalsium (Ca2+) dan magnesium (Mg2+) melewati gugusan resin kation.
Pada awalnya molekul resin mengikat lemah ion sodium (Na +) dan karena ion
molekul resin memiliki gaya tarik-menarik yang lebih kuat dengan ion kalsium dan
magnesium, maka terjadilah proses pertukaran ion. Molekul resin melepas ion sodium
ke dalam air, diikuti dengan pengikatan ion kalsium dan magnesium ke molekul resin.
Tujuan pelunakan air adalah untuk menurunkan dan menghilangkan
kesadahan air. Dengan kandungan air saadah yang rendah dapat meminimalisasikan
terbentuknya kerak jika digunakan air umpan boiler dan air pendingin.
Tahapan Deionizer
Tahap kation exchange
Pada tahap ini kandungan garam mineral dikurangi. Kation dan garam-garam
mineral adalah Ca, Mg, Na, K. Mineral tersebut memiliki afinitas yang lebih tinggi
dari H2 sehinga pada proses kation exchange, kation-kation tersebut dapat menggeser
ion dalam persenyawaan resin. Reaksi yang terjadi adalah:
2R-SO3 + CaSO4 (R-SO3)2 C
Tahap Anion Exchange
Merupakan tahap lanjutan dari kation exchange. Prinsip kerjanya sama dengan kation
exchange hanya saja resin yang digunakan berbeda, yaitu:
Weakly basic anion exchange, hanya dapat menghilangkan klor dan nitrat,
Reaksinya RNH3 + HCl RNH3Cl + H2O

Strong basic anion exchange, dapat menghilangkan anion-anion kuat, asam silica,
sulfat dan karbonat.
Reaksi yang terjadi R4NaOH + HIO3 R4NHSIO3 + H2O
Air yang dihasilkan dari proses diatas, ditampung dalam tangki air murni (pure
water tank)
Reaksi yang digunakan selama proses pelunakan air adalah:
R- Na +

Ca++

R-Ca

Mg++

R-Mg

+ Na+

Dimana:
-

R-Ca akan terikat pada resin


Kation Na+ akan terbawa oleh air

Setelah gugus Na+ pada resin terpakai habis (tertukar seluruhnya) maka resin harus
diaktifkan kembali dengan cara regenerasi dengan menggunakan larutan NaCl.
Reaksi yang terjadi selama regenerasi
R-Ca +
R-Mg

Na+

+ R- Na+

Ca++
Mg++

R-Na merupakan resin yang siap dipakai kembali


Kation Ca 2+ dan kation Mg 2+ akan dibuang

Air yang dihasilkan dari proses pelunakan disebut soft water yang umumnya dipakai
sebagai air make-up dan air umpan boiler yang beroperasi pada tekanan rendah

Secara umum proses erjadi pada proses penukaran ion adalah:


1. Back wash
Tahap pencucian balik dilakukan jika kemampuan resin telah mencapai titik habis.
Sebagai pencuci, digunakan air produk. Pencucian balik mempunyai sasaran
sebagai berikut:
Pemecahan resin yang tergumpal
Penghilangan partikel halus yang terperangkap dalam ruang antar resin
Penghilangan kantong-kantong gas dalam reaktor, dan
Pembentukann ulang lapisan resin
Pencucian balik dilakukan dengan pengaliran air dari bawah ke atas (up flow).
2. Proses pertukaran ion (service)

Pada tahap ini terjadi reaksi pertukaran ion. Tahap service ditentukan oleh
konsentrasi ion yang dihilangkan terhadap waktu, atau volume air produk yang
dihasilkan. Hal yang penting pada tahap layanan dalah kapasitas (teoritik dan
operasi) dan beban pertukaran ion (ion exchange load). Kapasitas pertukaran
teoritik didefinisikan sebagai jumlah ion secara teoritik yang dapat dipertukarkan
oleh resin per satuan massa atau volume resin. Kapasitas pertukaran ion teoritik
ditentukan oleh jumlah gugus fungsi yang dapat diikat oleh matriks resin.
Kapasitas operasi adalah kapasitas resin aktual yang digunakan untuk reaksi
pertukaran pada kondisi tertentu. Beban pertukaran ion adalah berat ion yang
dihilangkan selama tahap layanan dan diperoleh dari hasil kali antara volume air
yang diolah selama tahap layanan dengan konsentrasi ion yang dihilangkan. Tahap
service dilakukan dengan cara mengalirkan air umpan dari atas (down flow).
3. Regenerasi (pengaktifan kembali)
Regenerasi merupakan proses dimana resin-resin sudah mengalami kejenuhan
akan ion-ion yang diikatnya baik anion dan kation. Maka ion-ion tersebut akan
dihilangkan atau dibuang dari resin-resin tersebut. Pada anion dengan cara
menghilangkan dengan NaOH, kemudian pada kation dengan cara menambahkan
dengan HCL. Aliran mengalir dari atas ke bawah
4. Rinse (pengambilan regenerant)
Proses ini bertujuan untuk menghilangkan regenerant yang masih tersisa pada
kolom.
Proses Deionisasi (Demineralisasi)

Pertukaran Ion Pada Proses Demineralisasi Air


Sedikit berbeda dengan proses demineralisasi air, pada ujung rangkaian,
molekul resin berikatan dengan ion H+ dan OH-. Pada saat air melewati gugusan
resin, akan terjadi pengikatan ion-ion mineral yang terlarut di dalam air karena

molekul resin memiliki gaya tarik-menarik lebih besar dengan ion molekul daripada
ion H+ dan OH
Pada tiap proses pertukaran ion, dilakukan regenerasi resin jika resin sudah
jenuh. Jenuh berarti keseluruhan molekul resin telah berikatan dengan ion-ion sasaran.
Pada proses softening air, resin dikatakan jenih jika keseluruhan molekul resin telah
berikatan dengan ion kalsium atau magnesium. Jenuhnya resin ditandai dengan air
output dari kolom resin masih mengandung ion-ion kalsium dan magnesium.
Untuk melakukan regenerasi, pada proses softening air dibutuhkan larutan
garam NaCl pekat yang dialirkan melewati resin. Larutan NaCl ini biasanya 1000 kali
lebih pekat dari larutan NaCl biasa.
R2Ca + 2 NaCl 2 RNa + CaCl2
Sedangkan pada proses demineralisasi digunakan larutan asam kuat seperti
H2SO4 dan juga larutan basa kuat seperti NaOH untuk meregenerasi resin
demineralisasi air.

Reaksi yang terjadi selama proses regenerasi:


1. Pertukaran Kation
R-Ca
R-Mg + H+
R-H (dipakai lagi) +
R-Na
2. Pertukaran Anion
R-HCO3 +OHR-OH + HCO3

Ca++
Mg++
Na+

Air yang dihasilkan dari proses ini disebut demin water dan banyak digunakan
sebagai air make-up atau air umpan boiler tekanan tinggiataupun tekanan rendah dan
sedang.
Kegunaan ion exchange:
1. Pada industri pemurnian air untuk menghasilkan air lunak. Hal ini terpenuhi dengan
pertukaran ion antara Ca2+ dan Mg2+ terhadap Na+ dan H+
2. Pada industri biokimia untuk memisahkan molekul, seperti protein. Proses ini
diterapkan juga pada pelunak air

3. Pada industrii makanan, hydronetarullgi, finishing metal, bahan kimia dan petrkimia,
farmasi, gyla, pemanis buatan, air, minum, air industri, nuklir, dan lain-lain
4. Untuk membuat air demin dan air lunak sebagai air umpan dan make up water pada
boiler
Keunggulan Ion Exchange:
1.
2.
3.
4.

Mengurangi / menghilangkan unsur inorganik dengan baik


Bisa diregenarasikan kembali.
Dapat digunakan untuk flowrate / debit yang berfluktuasi.
Jenis resin yang bervariasi, setiap jenis resin dapat digunakan untuk menghilangkan

unsur/kontaminan tertentu.
5. Untuk kualitas air baku dengan TDS < 500 ppm merupakan pilihan dan operasi lebih
murah.
Kekurangan Ion Exchange:
1.
2.
3.
4.
5.

Semakin tinggi TDS semakin tinggi biaya operasional.


menghilangkan partikel, bakteri dan pyrogen.
Diperlukan pretreatment untuk hampir setiap bahan baku.
Sensitif terhadap keberadaan unsur lain dengan polaritas yang hampir sama.
Media resin berpotensi menjadi tempat berkembang biak bakteri

C. Alat dan Bahan


- Alat
1. Alat ion exchange
2. Beaker glass
3. Buret
4. Pipet
5. Erlenmeyer
6. Timbangan digital

Bahan
1. CaCl2 0,05 N
2. NaCl 10%
3. Asam oksalat 0,05 N
4. NaOH 0,05 N
5. Indikator PP
6. Air 4 liter

D. Prosedur Kerja
1. SIstem dibilas dengan air sebanyak 4 liter ke dalam fest water. Nyalakan pompa 70%
dengan flowrate dengan valve
2. Katup control diatur sehingga laju alir 35-40 cm3/menit
3. Buat larutan NaOH 0,05 N dalam 4000 ml, NaOH 0,05 N dalam 200 ml, CaCl 2 0,05
N dalam 6000 ml, dan asam oksalat 0,05 N dalam 50 ml
4. Standarisasi NaOH dengan asam oksalat 5 ml dengan ditambah PP sebanyak 3 tetes
hingga didapat konsentrasi NaOH
5. Sebelum masuk ke resin, ambil sampel CaCl2 untuk ditirasi dengan NaOH. Masukan
CaCl2 ke dalam deionizer water. Tunggu 10 menit lalu CaCl2 ditampung ke beaker
glass.
6. CaCl2 yang telah melalui proses ion exchange, dititrasi kembali dengan NaOH

E. Data pengamatan

Buat larutan NaOH 0,05 N dalam 200 ml

Buat larutan CaCl2 0,05 N dalam 6000 ml

Buat larutan Asam Oksalat 0,05 N dalam 50 ml

Buat larutan NaCl 0,05 N dalam 4000 ml

Titrasi NaOH dengan asam oksalat sebelum percobaan


Vasam oksalat . Nasam oksalat = VNaOH . NNaOH
5 ml . 0.05 N = 6,5 ml . NNaOH
NNaOH = 0,04 N
Titrasi NaOH dengan CaCl2 sebelum percobaan

V CaCl2 . N CaCl2 = VNaOH . NNaOH


10 ml . N CaCl2 = 3 ml . 0,04 N
N CaCl2 = 0,012 N

Titrasi sample CaCl2 dengan NaOH setelah percobaan:


V CaCl2 . N CaCl2 = VNaOH . NNaOH

(1)

10 ml. N CaCl2 = 2,6 ml . 0,04 N


N CaCl2 = 0,0104 N

V CaCl2 . N CaCl2 = VNaOH . NNaOH

(2)

10 ml. N CaCl2 = 2,8 ml . 0,04 N


N CaCl2 = 0,0112 N
Nilai KPK

F. Pembahasan
Sebelum dilakukan proses ion exchange dilakukan terlebih dahulu proses pembilasan
resin kation dengan menggunakan air deionisasi. Pada proses kation exchange ion Ca2+
diikat oleh resin dan air melepaskan ion H+ nya. Sebelum dilakukan proses ion exchange,
juga dilakukan standarisasi larutan NaOH, asam oksalat, CaCl 2. Kemudian dilakukan
titrasi dengan NaOH. Lalu CaC2 dimasukan ke dalam alat ion exchange. Saat proses ion
exchange, terjadi proses regenerasi resin kation. Di dalam resin terdapat ion Na+ yang
kemudian dialirkan CaCl2 hingga terjadi regenari dan larutan yang keluar adalah NaCl.
Kemudian dialirkan kembali dengan NaCl. Sehingga resin tersebut terisi kembali oleh ion
Na+.
G. Kesimpulan
Ion exchange adalah suatu proses untuk pemurnian air dimana ion-ion dalam suatu
larutan ditukar dengan suatu penukar ion (berupa resin), padatan, gel. Di dalam ion

exchange, terdapat resin. Resin penukar ion adalah suatu strukur polimer yang
mengandung suatu gugus aktif yang terikat pada kerangka organik. Ada dua macam resin
penukar ion, yaitu resin anion dan resin kation. Pada percobaan ion exchange ini terdapat
4 proses, yaitu back wash, service, regenerasi dan rinse.

Daftar Pustaka
Anonimus, 2015. Modul Praktikum Operasi Teknik Kimia, Fakultas Teknik Universitas
Muhammadiyah Jakarta.

http://artikel-teknologi.com/pengertian-ion-exchange/
http://yoniarman.blogspot.com/2013/07/ion-exchanger-alat-penukar-i0n.html