Anda di halaman 1dari 5

Standardisasi Ekstrak

Ekstrak adalah sediaan pekat yang diperoleh dengan mengekstraksi zat aktif dari
simplisia nabati atau simplisia hewani menggunakan pelarut yang sesuai, kemudian
semua atau hampir semua pelarut diuapkan dan massa atau serbuk yang diperoleh
diperlukan sedemikian hingga memenuhi baku yang telah ditetapkan. Standardisasi
ekstrak tidak lain adalah serangkaian parameter yang dibutuhkan sehingga ekstrak
persyaratan produk kefarmasian sesuai dengan persyaratan yang berlaku.
Ekstrak terstandar berarti konsistensi kandungan senyawa aktif dari setiap batch yang
diproduksi dapat dipertahankan, dan juga dapat mempertahankan pemekatan
kandungan senyawa aktif pada ekstrak sehingga dapat mengurangi secara signifikan
volume permakaian per dosis, sementara dosis yang diinginkan terpenuhi, serta
ekstrak yang diketahui kadar senyawa aktifnya ini dapat dipergunakan sebagai bahan
pembuatan formula lain secara mudah seperti sediaan cair , kapsul, tablet, dan lainlain.
1.

Parameter Non Spesifik

a)

Susut Pengeringan

Susut pengeringan merupakan pengukuran sisa zat setelah pengeringan pada


temperatur 105oC selama 30 menit atau sampai konstan, yang dinyatakan dalam
porsen. Dalam hal khusus (jika bahan tidak mengandung minyak menguap/atsiri dan
sisa pelarut organik) identik dengan kadar air, yaitu kandungan air karena berada di
atmosfer/lingkungan udara terbuka (Depkes RI, 2000).
b)

Bobot Jenis

Parameter bobot jenis ekstrak merupakan parameter yang mengindikasikan spesifikasi


ekstrak uji. Parameter ini penting, karena bobot jenis ekstrak tergantung pada jumlah
serta jenis komponen atau zat yang larut didalamnya (Depkes RI, 2000).
c)

Kadar air

Kadar air adalah banyaknya hidrat yang terkandung zat atau banyaknya air yang
diserap dengan tujuan untuk memberikan batasan minimal atau rentang tentang
besarnya kandungan air dalam bahan (Depkes RI, 2000).
d)

Kadar abu

Parameter kadar abu merupakan pernyataan dari jumlah abu fisiologik bila simplisia
dipijar hingga seluruh unsur organik hilang. Abu fisiologik adalah abu yang diperoleh
dari sisa pemijaran (Depkes RI, 2000).
2.

Parameter Spesifik

a)

Identitas

Identitas ekstrak dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:


Deskripsi tata nama:
1. Nama Ekstrak (generik, dagang, paten)
2. Nama latin tumbuhan (sistematika botani)
3. Bagian tumbuhan yang digunakan (rimpang, daun, buah,)
4. Nama Indonesia tumbuhan
Ekstrak dapat mempunyai senyawa identitas artinya senyawa tertentu yang menjadi
petunjuk spesifik dengan metode tertentu. Parameter identitas ekstrak mempunyai
tujuan tertentu untuk memberikan identitas obyektif dari nama dan spesifik dari
senyawa identitas (Depkes RI, 2000).
b)

Organoleptik

Parameter oranoleptik digunakan untuk mendeskripsikan bentuk, warna, bau, rasa


menggunakan panca indera dengan tujuan pengenalan awal yang sederhana dan
seobyektif mungkin (Depkes RI, 2000).
c)

Kadar sari

Parameter kadar sari digunakan untuk mengetahui jumlah kandungan senyawa kimia
dalam sari simplisia. Parameter kadar sari ditetapkan sebagai parameter uji bahan
baku obat tradisional karena jumlah kandungan senyawa kimia dalam sari simplisia
akan berkaitan erat dengan reproduksibilitasnya dalam aktivitas farmakodinamik
simplisia tersebut (Depkes RI,1995).
d) Pola kromatogram

Pola kromatogram mempunyai tujuan untuk memberikan gambaran awal komponen


kandungan kimia berdasarkan pola kromatogram kemudian dibandingkan dengan data
baku yang ditetapkan terlebih dahulu (Depkes RI, 2000).

PEMBAHASAN

Simplisia sebagai suatu bahan yang akan mengalami proses lanjutan atau
langsung dikonsumsi harus memiliki standarisasi. Hal ini penting sebagai acuan mengenai segala
sesuatu mengenai cara penggunaan simplisia. Karena simplisia yang berasal dari bahan alam
biasanya memiliki keragaman, terutama dalam kandungan zat aktifnya. Sehingga agar
didapatkan mutu dan kualitas yang sama pada semua konsumen, standar penggunaan simplisia
sangat diperlukan.
Standarisasi merupakan hal yang penting untuk simplisia dan ekstrak yang akan digunakan
atau dikonsumsi. Parameter standar merupakan suatu metode standarisasi untuk menjaga kualitas
dari suatu simplisia maupun ekstrak. Parameter standar meliputi parameter standar spesifik dan
parameter standar non spesifik, yang diujikan terhadap simplisia dan ekstrak. Salah satu
parameter standar spesifik untuk pengujian standar simplisia adalah penetapan kadar sari pada
pelarut tertentu.
Kadar sari larut air dan etanol merupakan pengujian untuk penetapan jumlah kandungan
senyawa yang dapat terlarut dalam air (kadar sari larut air) dan kandungan senyawa yang dapat
terlarut dalam etanol (kadar sari larut etanol). (Ditjen POM, 2000)
Metode penentuan kadar sari digunakan untuk menentukan jumlah senyawa aktif yang
terekstraksi dalam pelarut dari sejumlah simplisia. Penentuan kadar sari juga dilakukan untuk
melihat hasil dari ekstraksi, sehingga dapat terlihat pelarut yang cocok untuk dapat
mengekstraksi senyawa tertentu. Prinsip dari ekstraksi didasarkan pada distribusi zat terarut
dengan perbandingan tertentu antara dua pelarut yang tidak saling campur (Ibrahim,2009).
Pada penentuan kadar sari larut air, simplisia terlebih dahulu dimaserasi selama 24 jam
dengan air. Sedangkan pada penentuan kadar sari larut etanol, simplisia terlebih dahulu
dimaserasi selama 24 jam dengan etanol (95 %). Hal ini bertujuan agar zat aktif yang ada pada
simplisia dapat terekstraksi dan tertarik oleh pelarut tersebut.
Ketika penentuan kadar sari larut air, simplisia ditambahkan kloroform terlebih dahulu,
penambahan kloroform tersebut bertujuan sebagai zat antimikroba atau sebagai pengawet.
Karena apabila pada saat masrasi hanya air saja, mungkin ekstraknya akan rusak karena air
merupakan media yang baik untuk pertumbuhan mikroba atau dikhawatirkan terjadi proses
hidrolisis yang akan merusak eksatrak sehingga menurunkan mutu dan kualitas dari ekstrak
tersebut. Sementara pada penentuan kadar sari larut etanol tidak ditambahkan kloroform, karena
etanol sudah memiliki sifat antibakteri jadi tidak perlu ditambahkan kloroform.
Dari percobaan yang telah dilakukan didapatkan hasil kadar sari larut air dari kulit kayu
manis adalah 11,48 % dan 33,5 % untuk kadar sari larut etanol. Kadar sari larut etanol yang
didapat lebih besar dibandingkan dengan kadar sari larut airnya. Hal ini karena air bersifat polar
dan etanol bersifat non polar. Jadi etanol bisa menarik senyawa yang bersifat polar dan non polar
dibandingkan air yang hanya bias menarik senyawa yang polar saja. Oleh karena itu etanol biasa
disebut pelarut universal.

Berdasarkan kelarutan dari kandungan senyawa yang terkandung dalam kulit kayu manis
yaitu minyak atsiri 1-3%, tanin, damar, lendir (mucilago/amilum), kalsium oksalat (Depkes RI,
1977) dapat diketahui sifat-sifat dari zat tersebut.
Misalnya tannin. Tanin mudah larut dalam air disebabkan karena adanya gula yang terikat.
Hal ini sama diungkapkan oleh Browning (1980) bahwa semua jenis tanin larut dalam air,
kelarutannya akan bertambah besar apabila dilarutkan adalam air panas. Markhan (1988)
mengatakan bahwa karena mempunyai sejumlah gugus hidroksil pada flavanoid (bentuk tanin
yang umum ditemukan) maka cenderung menyebabkan flavanoid mudah larut dalam air panas
atau larutan basa encer karena cara ini adalah cara yang termurah dengan perolehan ekstraksi
uang cukup besar ( Umar, 2002).Kelarutan dalam etanol 0,82gr dalam 1 ml (70oC). Kelarutan
dalam air 0,656 gr dalam 1ml (70oC) (Anonim, 2011).
Sifat damar antara lain rapuh dan mudah melekat pada tangan pada suhu kamar, mudah larut
dalam minyak atsiri dan pelarut organic nonpolar,sedikit larut dalam pelarut organic yang polar,
tidak larut dalam air, tidak tahan panas, mudah terbakar,tidak volatile apabila terdekomposisi dan
mudah berubah warna bila disimpan terlalu lama dalam tempat tertutup tanpa sirkulasi udara
yang baik (Mulyono, 2004). Sehingga damar tersebut akan lebih banyak terekstraksi oleh etanol.
Selain tanin dan damar, terdapat pula minyak atsiri 1-3%, tanin, lendir (mucilago/amilum),
kalsium oksalat. Minyak atsiri yang bersifat non polar akan lebih mudah dan lebih banyak
terekstraksi oleh etanol dibanding dengan air. Pati atau amilum adalah karbohidrat kompleks
yang tidak larut dalam air, oleh karena itu tidak akan terekstraksi oleh air.
Dilihat dari kelarutan zat-zat yang terkandung dari simplisia tersebut yang sebagian besar
tidak larut dalam air jadi kadar sari larut airnya lebih sedikit dari pada kadar sari larut etanol.
Kadar sari yang larut dalam etanol dari kulit kayu manis pada literature (MMI) tidak kurang
dari 10%. Dari data yang didapat dari percobaan kadar sari larut dari etanol telah memenuhi
persyaratan karena hasil yang didapatkan yaitu 33,5 %.
Data kadar sari dalam pelarut tertentu biasanya diperlukan untuk menentukan pelarut yang
akan digunakan untuk mengekstraksi senyawa tertentu agar zat-zat yang terekstraksi lebih
banyak yang terekstrak dari simplisia yang akan diekstrak.
Penggunaan obat tradisional yang berasal dari bahan alam telah lama dikenal dan sampai
saat ini masih terus berlangsung bahkan cenderung untuk meningkat karena
keampuhannya dalam mencegah, mengurangi dan mengobati berbagai macam penyakit.
Sehubungan dengan hal tersebut, muncul berbagai macam upaya dalam mencari dan
menemukan bahan bahan alam khususnya tanaman untuk dimanfaatkan sebagai sumber
bahan obat dan usaha meminilisasi kekurangannya, ssalah satu caranya dengan
melaskukan penelitian untuk memperoleh data- data tentang tanaman obat tradisional yang
dijadikan sebagai salah satu syarat standar resmi yang berlaku dalam pengolahan bahan
baku tanaman obat, ole\h karena itu dilakukan beberapa parameter standar mutu tanaman
dan sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah tanaman pepaya

Berdasarkan hal tersebut, untuk pemeriksaan morfologi, organoleptik dan anatomi diambil
bagian tanaman berupa akar, batang,dan daun dengan cara diambil bagian tanaman yang
masih segar dan dilakukan pengamatan, sedangkan untuk pemeriksaan ekstrabilitas, dan
identifikasi kandungan kimia dan kromatografi lapis tipis , bagian yang diambil adalah daun.
Pengamatan morfologi dilakukan dengan mengamati batangnya yang keras dan bentuk
fisik dari simplisia yakni ukuran, warna dan bentuk simplisia dan merupakan salah satu cara
dalam memperkenalkan tanaman. Dari penelitian ini diperoleh tanaman Pepaya (Carica
papaya) berupa pohon yang tingginya sekitar 5 20 meter , tumbuh disekitar halaman dan
kebun. Daun dari tanaman pepaya termasuk daun Helaian daunnya berbentuk meyerupai
telapak tangan manusia berwarna hijau, susunan tulang daun menjari (palminervis).
Dengan warna hijau, permukaan atas daun berwarna hijau tua, Merupakan tumbuhan yang
jelas berbatang, termasuk batang basah, bentuk batang bulat (teres) arah tumbuh batang
tegak lurus (erectus). Merupakan akar tunggang yang bercabang (ramosus) yang berbentuk
kerucut panjang, bercabang banyak, dan cabangnya bercabang lagi sehingga memberi
kekuatan yang besar pada batang.
Pengamatan anatomi papaya (Carica papaya) dilakukan untuk mengamati bentuk sel
dan jaringan yang diuji berupa sayatan melintang, membujur dan serbuk dari simplisia. Dari
peneltian ini diperoleh pengamatan pada permukaan daun tidak ditemukan stomata. Pada
pemeriksaan irisan melintang daun terdapat epidermis, xylem dan floem. Pada
pemeriksaan irisan membujur daun ditemukan epidermis dan floem pada daun. Susunan
jaringan pada penampang melintang batang terdiri dari epidermis, korteks, floem, xylem
dan empulur, sedangkan untuk penampang membujur batang terdiri dari epidermis,
cambium, floem dan xylem. Pada pemeriksaan penampang melintang akar terdapat
terdapat epidermis, korteks, floem, xylem, dan untuk penampang membujur akar terdapat
epidermis, xyem, floem dan emplur
Pengamatan organoleptik dari hasil pengamatan yang diperoleh maka sifat organoleptis
yang khas adalah daun berbentuk daun runcing dan pangkal daun meruncing, dengan
warna hijau.Bentuk batangnya bulat, dan basah Untuk akarnya berwarna kecokelatan,
tidak berbau dan sistem perakarannya tunggang.
Berdasarkan uji identifikasi kimia tanaman papaya ( Carica papaya) yang ditambahkan
dengan pereaksi tertentu dan reaksi warna diperoleh hasil positif yaitu terhadap katekol,
fenol alkaloid steroid dan aleuron.